Review: Stroller Mamas & Papas Sola 2

Ups! Sampai Kaleb umur 8,5 bulan saya belum pernah review stroller Mamas & Papas padahal dulu nyarinya heboh banget. Hihihi! Setelah 8,5 bulan memakai Mamas & Papas Sola 2, I’d say I love it!

Dari Kaleb baru lahir sampai sekarang, dia masih pakai stroller ini. Karena bentuknya yang luas jadi Kaleb nggak berasa kesempitan. Waktu newborn sampai kira-kira 3 bulan karena Kaleb masih kecil banget jadi strollernya dipakein liner biar empuk (pesan di @jojohandmade).

Stroller ini berjasa banget. Ada masanya kalau siang Kaleb cuma mau tidur di stroller dan di depan TV. Dia bisa anteng banget tidurnya, asal kita juga sambil gerakin strollernya ke depan dan ke belakang biar dia berasa digendong. Sampai sekarang pun, kalau siang dia masih sering ditaro di stroller, walau tidurnya udah nggak lama lagi.

Salah satu alasan pilih Mamas & Papas karena bentuknya yang kokoh. Niatnya kan supaya pas dibawa jalan-jalan ke luar, goyangannya nggak terlalu berasa. Bener aja, kalau jalan di permukaan yang kasar, Kaleb bisa tetap anteng karena nggak terlalu terganggu dengan jalanan kasar. Stroller ini sering banget dibawa ke jalanan berbatu yang nggak rata.

Sampai saat ini, stroller ini selalu setia menemani ke manapun kita pergi. Harus banget dibawa. Walau sekarang Kaleb mulai males di stroller, tapi tiap pergi ke mana-mana dia harus wajib awalnya duduk di stroller. Soalnya kalau dibiasain digendong, walau pakai baby carrier, lama-lama pegel juga. Biasanya kalau udah bosen, dia akan merengek-rengek minta digendong. Biasanya sih kita gendong, tapi lama-lama ditaro lagi di stroller. Hahaha, sudahlah Nak, stroller itu kan kendaraanmu.

Tapi so far, Kaleb sih suka aja di stroller. Kekurangan stroller ini cuma satu: bulky banget! Kalau bawa berat dan makan space di mobil. Tapi masih belum kepikiran buat beli yang lebih ringan, sih. Soalnya toh kalau pergi saya nggak pernah berdua doang sama Kaleb jadi selalu ada yang nolongin buat buka dan lipatin lagi. Selain itu, sebenarnya nggak ribet juga buka dan tutupnya.

Oh ya, sekarang harga stroller Sola 2 ini harganya melambung jauh banget. Beda harganya sama dulu saya beli sampai Rp 1 juta lebih *what!*. Nggak tahu deh kenapa bisa melambung mahal begitu, padahal harga Sola 1 masih stabil. Jadi kalau sekarang orang lihat mikirnya stroller ini mahal banget, padahal dulu harganya nggak segitu. Hihihi. Rejeki anak soleh! πŸ˜€

Kaleb saat usia 6 hari. Rumah boleh kedatangan banyak tamu, tapi Kaleb anteng di stroller.

Kaleb saat usia 6 hari. Rumah boleh kedatangan banyak tamu, tapi Kaleb anteng di stroller.

Kaleb pas tepat 1 bulan. Waktunya ngemol! Sepanjang di mall bobo mulu di stroller.

Kaleb pas tepat 1 bulan. Waktunya ngemol! Sepanjang di mall bobo mulu di stroller.

Kebiasaan tiap hari: bobo siang di stroller. Pakai seat pad yang tebal biar empuk berasa digendong.

Kebiasaan tiap hari: bobo siang di stroller. Pakai seat pad yang tebal biar empuk berasa digendong.

Besaran dikit, strollernya mulai setengah duduk posisinya.

Besaran dikit, strollernya mulai setengah duduk posisinya.

Sekarang udah nggak perlu pake seatpad lagi dan udah bisa duduk tegak. Tetap lega! :D

Sekarang udah nggak perlu pake seatpad lagi dan udah duduk tegak. Tetap lega! πŸ˜€

Advertisements

Jangan Kemakan Mitos

Waktu Mama hamil saya dulu, dia jadi orang yang pencemas. Maklum ya mungkin karena hamil anak pertama, plus jaman dulu nggak ada internet. Bawaannya semua mitos dipercaya mentah-mentah. Segala bawa gunting dan peniti tiap hari di tas untuk menjauhkan diri dari mahkluk halus *halah*. Belum lagi waktu itu beliau gampang stres. Alhasil, saya sekarang jadi orang yang gampang stres dan panik, walau nggak seheboh Mama ya.

Nah, pas hamil, saya janji ke diri saya sendiri untuk nggak jadi orang yang gampang panik, stres, dan berusaha untuk menikmati setiap momen kehamilan. Karena ini kehamilan pertama, jadi wajarlah awalnya ya panik, stres, dan takut juga (pernah diceritain di blog-blog sebelumnya). Pernah takut dandan karena khawatir pake make up ada zat-zat yang berbahaya, pernah mewek karena makan burger takut ada mayonaise, pernah takut tidur telentang nanti bayinya nggak bisa napas di dalam. Hayah, apaan, sik kok hamil jadi ribet banget!

Tapi itu nggak berlangsung lama, sih. Paling awal trimester pertama. Secara saya orangnya gampang khawatir, maka saya jadi hobi googling dan baca-baca artikel tentang kehamilan. Pilihannya ya artikel dari luar negeri yang ada penelitian dan sumber jelas jadi lebih ilmiah (kayaknya udah pernah diceritain juga, ya). Dari situ saya belajar bahwa…. sebagian besar mitos itu salah banget! Cuma bikin kita makin ketakutan dan nggak bisa bebas pas hamil.

Prinsipnya adalah hamil itu bukan berarti kita lagi sakit, jadi santai aja dan jangan memperlakukan diri kayak orang sakit. Karena kenyataannya kita emang sehat, tapi lagi hamil aja. Perlu lebih berhati-hati iya, tapi jangan sampai nggak bisa ngapa-ngapain. Selama hamil, saya masih naik bis sampai kandungan saya 38 minggu (dan harus stop karena udah disuruh cuti akibat zat besi drop), masih jalan-jalan, makan apa pun yang saya mau, makin suka dandan. Mood sungguh stabil, jarang banget nangis, jarang marah. Happy!

Saya berusaha untuk menerapkan kehamilan yang logis. Misal: emang ada beberapa zat di skin care yang berbahaya bagi ibu hamil. Tapi menurut penelitian, belum ada buktinya bahwa jika memakai zat itu akan cacat. Yang meningkatkan resiko adalah jika zat itu diminum (ya tentunya langsung masuk ke dalam tubuh, kan) atau dipakai dalam jumlah yang sangat banyak, misal penggunaan 30% dari seluruh tubuh. Yang paling penting lagi, kebanyakan zat yang dilarang itu adalah skin care dari dokter. Kalau skin care biasa yang dijual bebas biasanya aman. Ya masa, 9 bulan nggak cuci muka pake sabun muka, sih? Jorok dan kusam dong mukanya. Sama halnya dengan pake make up. Make up biasanya aman banget buat ibu hamil. Jadi puas-puasin deh dandan (ehm, saya pas hamil ngidamnya lisptik terus tuh. Hihihi). Pokoknya, intinya cek dulu kebenarannya. Cari artikel yang ada penelitiannya, bukan cuma yang nggak jelas sumbernya dari mana.

Kemarin saya ketemu saudara saya yang lagi hamil. Maklum hamil pertama dan nunggunya juga sekitar 3 tahunan. Wajarlah pasti berhati-hati banget, yang menjurus parnoan. Takut banget pake krim stretchmark karena katanya berbahaya (well, buanyak banget produk krim stretchmark yang bahannya aman buat ibu hamil), nggak dandan sama sekali karena takut nggak bagus kandungan di make up, dan segala ketakutan lainnya. Oh, sama nanya ke saya perlu nggak bawa peniti. Perlu, kalau bajunya ada yang robek. XD

Emang sih mitos-mitos itu sulit dilawan karena kan udah ada sejak lama. Itu juga yang bikin saya dan Mama sering cek cok. Mama percayaan banget sama mitos versus saya yang maunya logis, ilmiah, dan realistis. Ngeyelan lah saya. Apalagi pas dibilang saya nggak boleh dekat sama anjing karena lagi hamil. Duileh, saya sampai marah waktu itu. Pertama, anjing bukan lah penyebab virus toksoplasma. Dua, tugas membersihkan Β kotoran anjing bukan saya, tapi suami jadi resiko penularan virus makin kecil. Tiga, udah tanya dokter langsung apakah berbahaya memelihara anjing. Dijawab nggak bahaya asal anjing udah divaksin dan bersih. Empat, orang bule banyak yang pelihara anjing dan baik-baik aja, deh. Lima, jauh sebelum hamil saya udah cek lab dan bebas virus-virus itu. Jadi selama hamil ya saya biasa-biasa aja sama Mika. Tetap peluk-pelukin, tetap main-main sayang-sayangan. Hasilnya, baik-baik aja, tuh. Coba kalau yang langsung telan mentah-mentah. Mungkin anjingnya udah dikasih orang. Oh ya, pelihara kucing juga nggak papa, kok, asal dirawat dengan bersih. Perlu dicatat bahwa penularan tokso bukan cuma dari hewan, tapi lebih banyak dari makanan. Kenapa? Misal ada kucing yang kena tokso, pipis di tanaman seperti sayur, trus kita cucinya nggak bersih. Ya kena juga. Itu yang lebih bahaya malahan.

Jadi buat ibu-ibu hamil yang kebetulan nyasar ke blog ini, please do your research. Jangan kemakan mitos dan jangan jadi parnoan. Kalau bisa pas hamil malah makin kece, dong. Kan kata orang-orang ibu hamil itu glowing. Tapi kalau butek dan nggak ngurus diri ya nggak bakal glowing lah. The most important thing is enjoy your pregnancy and be happy. πŸ™‚

Review RS dan Obgyn

Udah 3 kali nulis postingan ini tapi selalu hilang karena kalau nggak internetnya tiba-tiba mati atau lupa disimpan di draft pas baby K bangun. Zzz! Oh ya, ternyata walaupun cuti tapi kalau udah bayi susah nemuin waktu senggang buat buka laptop. Jangankan buka laptop, lihat HP aja bisa jarang banget. Wow, aku merasa jauh lebih sibuk daripada pas kerja. Hihihi.
Kali ini mau review soal rumah sakit dan obgyn yang menemani saya selama kehamilan kemarin.
RSB Asih
Waktu itu awal Juli, saya dan suami lagi mengunjungi sepupu yang baru melahirkan di RSB Asih. Kebetulan RSB Asih ini dekat dengan kantor saya. Rumah sakitnya nggak besar, tapi cukup nyaman dan nggak menakutkan. Oh ya, paling penting juga bersih (trauma karena beberapa rumah sakit besar, toiletnya jorok. Ya masa, toilet rumah sakit bisa jorok. Kan sumber penyakit!).
Pulang dari jenguk si sepupu, saya bilang ke suami, kayaknya kalau saya hamil dan melahirkan, saya pengen di rumah sakit ini, deh. Ajaibnya, 2 minggu kemudian, saya mendapati diri kalau sedang hamil.
Tentu saja tanpa ragu saya langsung cek ke RSB Asih. Kalau secara jarak, rumah sakit ini lumayan jauh dari rumah. Harusnya kan kalau cari rumah sakit untuk melahirkan dekat dari rumah. Tapi masalahnya rumah sakit dekat rumah saya nggak ada yang khusus untuk bersalin. Semuanya rumah sakit umum. Nah, saya nggak mau. Menurut saya kalau rumah sakit bersalin pasti fokus dan perhatiannya pada ibu hamil dan melahirkan lebih baik. Selain itu, rumah sakit ini memenuhi beberapa kriteria saya:
β€’ Pro-normal: Walaupun saya akhirnya melahirkan secara caesar, tapi dari awal kontrol di sini, saya nggak pernah didorong-dorong untuk melakukan caesar. Bahkan petugas-petugas rumah sakit di sekitar saya selalu meng-encourage saya untuk bisa melahirkan secara normal dan bahwa saya pasti bisa. Ih, senang, deh.
β€’ Pro-ASI: Kalau ini jelas terpampang di temboknya bahwa rumah sakit ini mendukung pemberian ASI bagi semua bayi. Pemberian sufor HANYA kalau ada indikasi medis. Tentu saja saya senang, dong. Dari awal niat-seniatnya kalau harus kasih ASI eksklusif buat si baby. Seperti yang pernah diceritakan sebelumnya, yang sulit adalah meyakinkan si Mama bahwa bayi itu bisa hidup cuma dari ASI dan nggak papa kalau 3 hari pertama hidupnya dia belum minum. Kalau rumah sakitnya mendukung pemberian ASI, maka saya nggak perlu capek-capek meyakinkan si Mama. Sekarang si Mama udah jadi nenek ASI, lho. Hihihihi.
β€’ Rooming-in: Mau dirawat di kelas mana pun, baby bisa sekamar sama kita. Ini penting banget karena pengennya kan dekat-dekat dengan si baby dan bisa kasih ASI kapan pun. Walaupun di hari pertama, saya akhirnya nyerah mengantarkan si baby ke kamar bayi karena masih capek banget habis operasi dan luka jahitannya nyut-nyutan banget. Tapi begitu si baby nangis, langsung dikasih lagi ke saya, lho. Hari-hari berikutnya, baby full sekamar sama saya.
β€’ IMD: Walaupun saya akhirnya nggak IMD karena si baby harus langsung diobservasi dan masuk inkubator, tapi justru dokter dan perawat yang pada awalnya mengingatkan untuk IMD, kecuali ada halangan seperti saya ini. Tapi dalam keadaan normal dan ibu serta anak baik-baik saja, IMD biasanya dilakukan.
Rumah sakit ini bangunannya sudah tua, tapi sekarang mereka sedang melakukan renovasi di beberapa bagiannya. Kalau di poli kebidanan sih, bangunannya udah baru. Sepertinya mereka sedang berusaha memperbaiki manajemen serta bangunannya.
Semua petugas kesehatan di sana sangat atentif sama pasiennya. Bahkan selama dirawat, manajemen datang ke setiap pasien menanyakan ke setiap pasien, apakah ada yang kurang atau ada yang perlu diperbaiki. Saya sih nggak masalah dengan bangunan yang lama selama nggak menyeramkan dan bersih. Waktu itu kritik saya cuma wifi-nya lambat. Secara sinyal HP juga jelek, jadi hiburan satu-satunya dari HP dan berharap wifi-nya cepat. Hehehe.
It was all good experience there. πŸ˜€
RSB Asih
Jl. Panglima Polim I No 34, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp. 021-2700609
dr. Benny Johan A. Manurung, SpOG
Konsultasi ke dr. Benny ini nggak sengaja. Waktu lihat test pack positif dan mau ke obgyn, saya tahu mau ke RSB Asih. Masalahnya dengan dokter siapa? Saya buta dengan semua dokter di sana. Jadi, untuk menentukan mau konsul ke dokter siapa, saya buka web Asih dan memandangi semua wajah obgyn-nya. Serius, saya cari berdasarkan wajahnya. Habis informasi yang ada di web-nya cuma berdasarkan lulusan mana, sih. Mungkin kalau ada info mengenai IPK para dokter pas lulus, saya akan pilih berdaarkan IPK-nya biar gampang. Hahaha! Jadi saya lihat mukanya aja, deh.
Pertama, dokternya nggak boleh terlalu tua. Kalau terlalu tua, nanti saya sungkan kalau mau nanya-nanya. Trus takut ada generation gap juga. Selain itu takut ilmunya nggak up to date. Kedua, jadwal prakteknya harus sesuai dengan jadwal libur saya yang di tengah minggu. Ketiga, jangan dokter yang beken banget sehingga antriannya lama. Saya nggak tahan ngantri terlalu lama. Eike kurang sabaran orangnya. Hahaha.
Karena pusing lihatin muka-muka obgyn di web, akhirnya saya telepon aja ke rumah sakit dan nanya siapa aja dokter yang praktek di hari Kamis, hari libur saya. Disebutkanlah beberapa nama dan jadwal prakteknya. Saya prefer yang pagi hari karena kalau malam jalanan macetnya bikin pengen punya pintu ke mana saja. Pilihannya sudah mengerucut, kan? Terakhir baru deh lihat ke web-nya lagi, mana yang tampangnya masih muda. Dapatlah dr. Benny. Hehehe! Selanjutnya, tinggal ketemu dokternya. Kalau nggak sesuai, ya tinggal ganti dokter aja.
Puji Tuhan, pertama kali kontrol ke dr. Benny, orangnya sangat menyenangkan, informatif, mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya (even the most stupid one), nggak nakutin, bikin tenang, dan suka becanda. Soalnya saya pernah konsul ke obgyn yang pas saya Tanya gunanya obat yang dia kasih apa, dia malah jawab “Kamu tenang aja, saya yang mikir. Kamu tinggal makan”. HAISH! Masa saya nggak boleh tahu apa yang saya konsumsi dan efeknya apa. Nah, dr. Benny ini kasih tau obat apa yang dia kasih dan menjelaskan gunanya untuk apa, tanpa saya tanya. Jadi kesan pertama udah oke, maka yuk lanjut sampe melahirkan.
Ada momen-momen di mana saya panik dan takut, tapi dr. Benny bisa menenangkan dan bikin saya jadi nggak takut lagi. Maklum ya, saya orangnya panikan. Kalau dapet dokter yang suka nakutin bisa-bisa tensi saya tinggi mulu. Hahaha.
Yang paling saya suka adalah dia concern dengan kenaikan berat badan pasiennya selama hamil. Dari awal kehamilan, dia mengingatkan berat badan normal harusnya naik berapa kg, makannya apa aja. Eh, bener aja, waktu berat badan saya naik drastis dalam sebulan, dia complain, bok! Secara saya kerja di klinik obesitas, dokter macam gini nih yang bikin saya akhirnya perhatiin apa yang saya makan dan nggak rakus makan makanan yang nggak perlu. Maklum, anaknya perlu banget dikontrol kalau nggak bablas. Hahaha. Akhirnya kenaikan berat badan saya masih dalam range normal (tapi PR nuruninnya masih banyak banget. Zzz!).
Saya inget pas dirawat, dr. Benny hari itu belum visit sampai malam. Padahal saya kan pengen nanya apakah saya udah boleh pulang. Akhirnya saya nanya ke perawat, dokter itu harusnya visit tiap harikah? Kok dr. Benny belum visit? *demanding abis ya pasiennya. HAHAHA*. Ternyata dr. Benny hari itu lagi sibuk buanget karena ada banyak tindakan. Sampai akhirnya jam 10 malam, masih dengan baju operasi, dan saya udah ketiduran, dia visit ke kamar sambil minta maaf karena baru bisa visit malam hari karena ada banyak tindakan hari itu. Terharu bok, soalnya ada dokter yang minta maaf karena telat visit. :’)
Overall, dr. Benny perhatian dengan pasiennya, teliti dengan tindakannya, komunikatif, lucu, nggak buru-buru kalau konsul dengan dia, dan nggak pernah sekali pun tidak menepati jadwalnya. Setiap appointment sama dia selama 9 bulan, dia pasti ada. Oh ya, karena jadwalnya tiap hari ada di RSB Asih, jadi sangat mudah untuk menemui dr. Benny.
Kesimpulannya, nanti kalau hamil anak kedua ke dr. Benny lagi, dong. πŸ˜€

Selama Proses Perawatan

Baby K masih di ruang inkubator jadi malam ini, saya dan suami tidur tanpa dia. Sesuatu yang bagus juga karena saya masih dalam masa pemulihan. Saya masih harus ada di tempat tidur 24 jam setelah operasi.

Awalnya saya bisa tidur dengan nyenyak, tapi jam 3 dini hari saya kebangun karena luka bekas operasi mulai terasa perih. Sakitnya sih luar biasa, deh. Huhuhu. Saya juga basah karena keringetan padahal AC udah dipasang 16 derajat. Sementara suami saya udah menggigil. Katanya sih pasca melahirkan emang jadi gerah banget.

Pagi-pagi jam 5, saya udah dibangunkan untuk dilap badannya oleh 2 suster, plus diganti pembalutnya. Wuih, rasanya sih perih banget waktu harus angkat kaki lah, angkat pantat lah. Nyeri bok! Jam 6, saya udah bisa minum air putih hangat dan kemudian makan regal, baru nanti boleh makan bubur. Oh ya, di saat seperti ini kentut pertama sangat berharga lho karena dokter dan suster akan nanyain terus-menerus udah kentut belum. Setelah kentut, itu perut berasa kembung dan kentut berkali-kali.

Karena nggak bisa bangun dari tempat tidur, saya dipakaikan kateter, jadi pipis langsung nggak berasa. Saya malah kira saya nggak pipis seharian.

Nah, ini bagian paling menyakitkannya. Sekitar jam 7 malam, 24 jam setelah operasi, suster melatih saya untuk belajar duduk, kemudian jalan. Katanya kalau sering jalan, lukanya akan cepat sembuh. Percayalah, duduk dan berdiri nggak pernah sesakit ini. Sakit banget! Belum lagi pas dilepas kateter dan saya harus berlatih pipis sendiri, NYERI minta ampun! Kata suster hal ini akan berlangsung sehari, kemudian berangsur-angsur nggak perih. Huhuhu, menderita!

Sekitar tengah malam saya bangunin suami mau pipis aja sampai mau nangis karena gerak dikit sakit banget. Pas pipis pun suami sampai harus masuk ke WC untuk bukain celana dalam saya karena saya nggak bisa sama sekali. Tapi harus dipaksain bergerak biar cepat sembuh, kan.

Baby K baru dibawa siang hari keesokan harinya. Dia dinyatakan sehat dan bisa langsung minum ASI dari ibunya. Hore! Pas ditanya ASI-nya udah keluar atau belum, ya saya mana tahu-lah ya. Suster membantu memencet puting saya dan ajaib lho, keluar ASI-nya. Puji Tuhan! Baby K langsung bisa disusuin.

Hari-hari selanjutnya di RS, masih disertai rasa sakit, tapi harus bergerak dan latihan jalan terus, sambil belajar nyusuin. Tamu yang datang silih berganti juga membuat saya kurang bisa istirahat. Hiks! Ya kan bok, saya lightsleeper banget. Walau disuruh tidur aja, teteeep aja kalau banyak orang ngobrol ya gimana.

Akhirnya di hari ke-3, saya merengek ke dokter supaya boleh pulang karena saya nggak bisa tidur. Toh, infus saya udah dilepas jadi sebenarnya tinggal obat minum aja. Melihat saya yang keukeuh, dokter memperbolehkan saya pulang di hari ke-4. Hore! Bahkan, baby K udah boleh pulang di hari ke-3. Lebih cepat dari saya. Cakep!

Dengan pulangnya saya dari rumah sakit, dimulailah hari-hari begadang (dan nggak punya waktu sama sekali, bahkan untuk liat HP).

Proses Kelahiran Kaleb

Akhirnya punya waktu juga buat buka komputer. *kretekin jari* Setelah kemarin teaser perkenalan baby Kaleb, sekarang mau cerita panjang lebar soal kelahirannya.

Here we go!

Hari Kamis, 12 Maret 2015, seperti biasa saya kontrol ke dokter. Kali ini sama Mama. Perut mulai besar, napas terengah-engah, vagina ngilu, tapi belum ada tanda kontraksi sedikit pun di minggu ke-38 ini. Ketemu dr. Benny, cek Hb yang akhirnya naik 1 poin dari kemarin 8, sekarang jadi 9,5. Normalnya 10 ke atas, sih. Tapi kata dokter lumayan lah. Jadi nggak perlu transfusi zat besi lagi. Horeee!

Kemudian cek USG, si baby beratnya naik dikit banget. Kira-kira 100 gr aja. Padahal trimester 3 itu tugasnya adalah naikin BB bayi dan emang biasanya BB bayi bertambah pesat. Lah, ini kok ngirit. Belum lagi air ketuban saya mulai berkurang, tapi masih dalam skala normal. Dokter minta saya banyak minum, 3 liter per hari tapi perasaan minum saya udah buanyak banget, deh. Lalu, dokter mengultimatum, kalau berat badan baby nggak naik pas kontrol Senin besok, maka bayinya harus dikeluarkan dengan induksi karena tampaknya bayinya nggak bisa dapat nutrisi dalam kandungan saya. Lagipula berat badan baby juga sudah cukup walaupun cukup kecil; 2,9 kg.

Udah lah ya bok, saya deg-degan setengah mati. Trus nanya ke dokter, diinduksi rasanya kayak apa? Sakit nggak? Dokternya bilang, “Kata orang sih sakit. Tapi kalau diliat dari muka suaminya sih sakit”. Kok lihat muka suaminya, sik? Dokter bilang lagi, “Iya, sakit karena dicakar istrinya yang kesakitan. HAHAHA!” And that’s my obgyn, everyone! πŸ˜€

Pulang ke rumah masih santai. Tiap hari masih jalan pagi karena kan niatnya normal, dong. Oh ya, nafsu makan saya bertambah besar. Tiap hari kira-kira ngabisin 6 choki-choki. Doyan amat, bu! Makan bisa nambah. Pokoknya nggak pake mikir deh kalau makan.

Sabtu malam masih sempat jalan-jalan ke Taman Anggrek sama suami, walaupun cuma bentar. Minggunya bahkan ngemil membabi buta, makan makaroni super pedas, dan bakmi bangka. Minggu malam, saya malah nonton Fifty Shades of Grey (yang mana sering saya skip saking membosankannya).

Baru deh, pas mau tidur mulai panik dan deg-degan. Teleponan sama suami (sejak zat besi saya yang drop itu, saya ngungsi ke rumah orang tua lagi biar bisa dipantau) dan curhat berkepanjangan kalau saya takut. Besok kira-kira saya bakal melahirkan nggak, ya? Udah siap belum, sih? Kok sampai terakhir berasanya belum siap aja. Huhuhu. Belum lagi mikirin, melahirkan normal sesakit apa, sih? Nggak kebayang banget, deh. Takut banget!

Hari Senin, 16 Maret 2015. Saya beserta rombongan: suami dan orang tua pergi ke rumah sakit. Hari itu saya udah siap bawa koper melahirkan. Siapa tahu kan, ya. Suami juga udah cuti dari kantor. Udah kayak mau berangkat perang saking rempongnya kita semua. Tapi tetap dong, di kala rempong plus deg-degan, saya masih ingat bahwa penampilan saya harus kece hari itu karena kalau sampai harus melahirkan dan difoto nggak bakal kelihatan jelek. Penting banget, seus! XD

Sampai rumah sakit langsung ke ruang observasi untuk CTG. Setelah 30 menit, hasilnya jantung baby masih baik, tidak ada kontraksi sama sekali, tapi pergerakan baby sedikit sekali: cuma 4 kali dalam 30 menit. Setidaknya harus 6 kali dalam 30 menit. Kalau kata suster, baby-nya lagi tidur. Saya cuma manggut-manggut.

Pas nunggu dr. Benny, eh si baby malah heboh gerak-gerak di perut. Ya ampun, kamu ngerjain banget, sih, nak! Nah, di minggu ke-39 ini gerakan baby makin sakit. Rasanya tiap dia gerak saya bisa mengaduh.

Ketemu dr. Benny dengan diantar suami dan Mama, saya pun di-USG. Lalu kemudian dr. Benny kaget karena air ketuban saya habis! Lho, ke mana itu air ketuban? Jadi, cuma tersisa sedikiiiit banget air ketuban di bagian tengah dengan skala 2, normalnya 6. Di samping kiri kanan udah habis blas! Dicek berulang-ulang pun, tetap sama; air ketubannya habis. Matek, nggak! Ini apa saya yang nggak ngerasa airnya rembes, ya? Tapi bener deh, nggak ada tanda-tanda seperti air ketuban rembes.

Akhirnya dokter mengultimatum, “Mi, bayimu harus dikeluarkan hari ini juga, ya. Kalau air ketubannya habis dan dia pup lalu kemakan, bisa bahaya ke bayinya”. Yasalam, aku deg-degan!

Setelah di USG, saya diminta naik ke kursi yang dulu untuk cek USG transvaginal, disuruh ngangkang (tentunya buka celana, ya *wes biyasak*), lalu dimasukin semacam alat entah apa tapi bunyinya macam dongkrak. Ternyata alat itu untuk ngecek apakah air ketuban saya rembes. Hasilnya, nggak rembes sama sekali. Jadi air ketubannya habis karena kualitas plasenta saya yang sudah tua sehingga terserap dan bayi nggak bisa nerima makanan dari saya lagi. Oleh karena itu, berat badannya nggak nambah. Oh ya, setelah turun dari kursi itu, saya nengok ke arah kiri, emang bener alat itu semacam dongkrak. Syerem! Untung nggak lihat sebelumnya.

Sepanjang nganterin saya kontrol, Bapa saya nggak pernah ikutan masuk ke ruang dokter. Tiba-tiba baru kali ini dia ikut masuk. Rame pisan di dalam ruangan. Kemudian dokter menjelaskan keadaan saya dan tindakan yang harus diambil adalah caesar hari ini juga. SHOCK!

Bapa nanya, emang nggak bisa normal, dok? Kata dokter bisa saja diinduksi, tapi nggak ada yang tahu induksi itu berapa lama. Ada yang 1 hari, 2 hari, ada yang beberapa jam saja. Kemungkinan akan berakhir caesar juga tinggi, sampai 70%. Dokter nggak mau ngambil resiko si baby keminum air ketuban karena nunggu kelamaan. Yo weislah, pasrah aja. Daripada udah sakit diinduksi, berakhir caesar juga. Sakitnya tuh di sini! *nunjuk miss V*. Yang penting baby-nya bisa lahir dengan selamat. Toh, normal atau caesar cuma soal jalan keluar lahir aja.

Reaksi saya pas harus caesar adalah, “Dok, tau gitu saya nggak usah capek-capek senam hamil dan jalan pagi, deh!”. Iyes, saya anaknya emang pemalas. Hahaha!

Saat itu jam 1 siang dan operasi akan dilakukan jam 4 sore. Saya diminta puasa makan minum dan langsung menuju ruang bersalin. Rasanya super duper takut. Untuk pertama kalinya saya akan dioperasi. I didn’t prepare at all. Tekanan darah saya sampai naik saking takutnya.

Oh ya, proses bersalin dan melahirkan berarti siap-siap buka diri. Literally, buka diri alias badan kamu, termasuk payudara dan miss V, diobral aja. Semua bisa lihat sesukanya. Hahaha! Pertama, saya harus pake baju rumah sakit, semacam kimono, tanpa bra dan celana dalam! Jadi lupakan urat malu, ya. Putusin aja. Kemudian, suster yang beda-beda akan cek entah tensi lah, cek jantung lah, cek CTG lah, ambil darah lah. Pas cek jantung, dada harus dibuka karena akan ditempelin semacam kabel-kabel yang dicubitin ke beberapa bagian badan. Sakit, bok! Belum lagi tes alergi di mana disuntik tapi rasanya perih banget. Lalu, tiba-tiba datang suster mau cukur bulu miss V. Yo weis, silahkan saja. Aku pasrah! Nggak pake malu lah sekarang. Atas bawah udah dilihatin banyak orang. Hahaha! Pada akhirnya bagian yang kamu sembunyikan selama ini toh akan diperlihatkan dengan cuma-cuma juga. XD

Di RSB Asih, suami boleh masuk ke ruang operasi. Syaratnya cuma 2: nggak boleh pingsan dan nggak boleh pake video. Kalau foto mah silahkan aja. Fiuh, lega banget bisa ditemenin suami.

Tepat jam 4 sore, saya masuk ke ruang operasi. Nggak pake didorong ya, jalan sendiri. Pertama masuk, baru tahu ruang operasi itu nggak besar, tapi dinginnya kayak di kulkas. Saya sampai menggigil. Kemudian, saya diminta duduk untuk disuntik obat bius di sumsum tulang belakang. Kemudian, saya disuruh tiduran. Kaki saya mulai menghangat dari ujung telapak kaki sampai akhirnya rasanya kebas. Eh, tapi kok ini suami saya belum kelihatan? Apa jangan-jangan lupa dipanggil? Saya mulai ketakutan.

Ternyata si suami baru boleh masuk setelah semua dokter dan suster masuk. Seperti biasa dr. Benny tetap ceria, ngelucu, tapi eike udah nggak mempan lagi. Ini MENGERIKAN! Apalagi denger suara mesin tut tut tut yang kayak di film bikin makin horor. Mau dipasang musik juga saya tetap takut, dok. Huhuhu! Karena takut dan ruangan sangat dingin, saya menggigil hebat. Dr. Benny minta suami untuk cium kening saya untuk memberi support. Ngaruh nggak? Nggak. Hahaha. Kalau disuruh udahan baru takut saya ilang kali! Kemudian, suami diminta untuk melihat bahwa obat bius udah bekerja. Entah apa yang dilihat, tapi kemudian saya tahu, pas dibelek saya udah nggak berasa lagi.

Prosesnya sih cepat, paling 15 menit. Pas mau keluar, si suami diminta memfoto prosesnya. Aduh udah deg-degan aja si suami bakal ketakutan, tapi ternyata dia hebat. Bisa foto tanpa rasa takut. Saya ngerasain ada yang didorong dan ditarik dari perut saya. Tapi si baby nggak nangis. Dokter pun tidak berkomentar apa-apa. Si baby, diikuti suami, langsung dibawa ke ruang sebelah entah untuk apa. Nggak lama kemudian, si baby nangis kenceng banget. Dokter pun langsung senyum, “Tuh, baby-nya nangis”. Saya lega luar biasa!

Nggak berapa lama kemudian, bayi dibawa ke saya untuk saya cium. Tapi proses IMD nggak bisa dilakukan saat itu juga, karena keadaan bayi yang sempat keminum air ketuban jadi dia harus langsung ke ruang observasi dan dimasukin ke inkubator selama 6-7 jam. Ini saya nggak tahu saat itu juga, tapi setelahnya.

Setelah proses bayi dikeluarin, ternyata saya tidur kira-kira sejam. Pas bangun, sekitar jam 6, dokter masih menjahit perut saya dan saya masih nggak sadar saya tadi tidur. Saya langsung ngoceh panjang lebar, ngobrol sama dr Benny. Ngobrolnya pun seperti antara mimpi dan nyata. Misalnya, saya nanya dok, kalau orang melahirkannya tengah malam harus langsung datang, dong.

dr. Benny: Iya, udah resiko profesi.
Saya: *entah nanya apa*
dr. Benny: Saya pernah nonton Transformer 2 di bioskop sampai 3 kali. Yang pertama dan kedua, saya harus keluar di tengah-tengah karena ada yang mau melahirkan. Baru deh, nonton yang ke-3 kali bisa nonton sampai habis. Hahaha.

Di tengah ngalor-ngidul itu, saya bahkan bisa sampai tahu di mana rumah si dokter. Bwahahaha, sungguh di tengah operasi pun aku kepo!

Setelah dioperasi, saya dipindahkan ke ruang operasi, dipasang infus, dan dikasih selimut penghangat. Saya terus ada di situ sampai obat biusnya menghilang atau setidaknya kaki saya udah bisa digerakkan baru nanti dipindahkan ke kamar perawatan. Di situ silih berganti tensi saya dicek, jantung saya dicek, obat bius saya dicek. Oh ya ingatlah satu hal, begitu melahirkan semua perhatian akan mengarah pada si baby dan si ibu akan dicuekin begitu saja. Hahaha!

Baru malamnya keluarga saya datang dan ngecek keadaan saya. Pertanyaan pertama saya adalah “Bayinya ke mana?”. Mereka bilang sedang diobservasi di inkubator karena dia sempat keminum air ketuban jadi paru-parunya masih harus adaptasi sekarang jadi harus dibantu selang pernapasan. Kan khawatir jadinya! Pertanyaan saya berulang-ulang, “Tapi dia nggak papa, kan?”. Dijawab nggak papa.

Saya baru dipindahkan ke kamar jam 23.00 setelah saya mulai bisa mengangkat kaki saya.

Selanjutnya, dilanjutkan ke postingan berikutnya, ya. πŸ˜‰

PS: foto-foto nyusul uploadnya karena ada di HP suami semua.

Balada Zat Besi

Minggu lalu setelah senam hamil, saya cek lab darah rutin. Dokter minta hasilnya di hari Kamis. Setiap disuruh cek lab, selalu deh deg-degan. Kayak mau terima rapot aja, takut hasilnya penuh angka merah. Terakhir cek lab di trimester pertama hasilnya baik-baik aja, sih. Saya cuma takut aja gula darah naik karena akhir-akhir ini saya suka makan manis.

Hari Kamis, saya ketemu dokter. Dia udah menerima hasil lab saya. Baru aja saya duduk, dia langsung berkata dengan serius bahwa Hb saya cukup rendah; nilainya 8 dengan normalnya 12. Dokter curiga Hb yang rendah ini disebabkan zat besi yang rendah. Dengan Hb yang rendah, darah saya bisa jadi encer dan sulit untuk dihentikan nantinya. Sementara proses persalinan pasti akan berdarah, mau normal atau caesar. Takutnya saya pendarahan, susah distop, dan harus transfusi darah. Sampai sini, saya shock. OMG! Mungkin mata saya udah melotot macam di sinetron dan kamera zoom in dan zoom out mengarah ke muka saya. Jadi saya diminta untuk cek zat besi. Kalau memang rendah, saya harus transfusi zat besi supaya siap menghadapi persalinan karena udah nggak mungkin lagi kekejar dengan makanan. Oh, oke. Ngikut aja sih apa kata dokter.

Itu rasanya horor banget. Seumur-umur jarang bermasalah sama kesehatan, bahkan selama hamil ngerasanya sehat banget. Sampe 37 minggu masih gagah berani naik bis ke kantor, naik turun tangga, jalan-jalan ke mall berjam-jam, nggak pernah flu sedikit pun. Pokoknya berasa super sehat. Tapi hasil lab berkata lain. Karena dasarnya gampang panik, saya malah sibuk googling tentang zat besi dan Hb, hasilnya makin panik. Malah malamnya sampe mimpi buruk. Zzz!

Hari Sabtu, saya kontrol ke dokter lagi sekalian ambil hasil lab. Pas buka hasil lab-nya: zat besi saya 2 dengan angka normal 11. JENG JENG JENG!! Rendah banget. Shock tahap 2. Ini kenapa sama badan saya?

Begitu masuk ke ruang dokter, dokter pun terkejut dengan hasil yang rendah. Dia nanya, apakah selama ini saya merasa pusing, lemas, gampang capek? Yah, pusing sih tapi biasa aja. Bukan yang tiap saat pusing. Lalu dokter nanya, “Sering merasa lemot nggak?”. Gue, “Errr… iya, dok”. Dokter, “Nah, itu salah satu tandanya karena oksigen nggak masuk ke otak jadi lemot”. BHAY, malu amat dibilang lemot!

Zat besi yang jadi rendah itu biasanya emang dialami ibu hamil di trimester terakhir, makanya selama ini dokter kasih saya vitamin penambah zat besi tiap hari, tapi kurang mempang buat saya. Kemungkinan besar karena bayinya rakus banget jadi semua zat besi diambil si baby. Oh, dari dalam kandungan aja si baby udah bakat jadi Iron Man. Nanti kamu gantiin Robert Downey Jr ya, Nak. X)

Akhirnya saya diminta untuk transfusi zat besi 2 ampul saat itu juga. Nggak harus nginep sih, tapi prosesnya selama 5 jam dan habis itu masih harus CTG. Sementara saat itu udah mulai malam. Jadi kemungkinan kelar semua dilakukan jam 12 atau jam 1 malam. Busyet! Dokter menganjurkan untuk nginep aja biar nggak kemalaman. Tapi saya nggak mau soalnya takut. Hihihi. Oh, kemudian dokter pesan supaya jangan kecapekan dulu. Yang kemudian saya jawab, “Tapi besok saya banyak acara, dok. Ke ulang tahun keponakan dan ke mall”. Pasien suka ngeyel emang begini bikin dokternya pusing. Hahaha! Lalu yang paling utama yang saya tanyakan adalah, “Selama ditransfusi, saya bisa makan nggak sih, dok? Saya laperan.” Bwahahaha, ini penting banget.

Saya diminta mengisi informed consent, lalu di bawah ke ruang observasi. Disuruh ganti baju pake semacam baju kimono dari rumah sakit dan tiduran. Sebelum mulai prosesnya, udah telepon orang tua dan mertua buat ngabarin, yang disambut dengan kehebohan takut kenapa-kenapa. Yang mana saya malah sibuk minta dibawain cemilan. Hihihi. Mertua minta saya untuk nginep aja di rumah sakit daripada harus subuh pulang. Mendingan istirahat di RS dan dapat perhatian penuh.

Terakhir dirawat di RS adalah pas kelas 5 SD pas typhus. Nah, berpuluh tahun nggak pernah dirawat di RS, sekarang harus diinfus 2 ampul ya panik juga. Soalnya seingat saya diinfus rasanya nggak enak. Benar aja, pas dimasukin jarum ke tangan, jadi susah gerak sambil merasa sedikit nggak enak. Mana alat yang canggih banget bikin saya susah pipis ke toilet karena tiap ke toilet, alatnya berhenti saking sensitifnya dan ngeluarin bunyi alarm kencang banget. Zzz. Jadi males pipis.

Yang warnanya kayak darah itu zat besi. Prosesnya 5 jam karena harus 2 ampul

Yang warnanya kayak darah itu zat besi. Prosesnya 5 jam karena harus 2 ampul

Dini hari dicek CTG

Dini hari dicek CTG

Jadi gimana rasanya nginep di RS? Menderita, kakaaak! Saya tipe orang yang susah tidur di tempat lain kecuali di rumah. Di hotel yang bagus aja saya susah tidur, apalagi di rumah sakit. Kebayang deh, saya pasti nggak tidur. Apalagi suster bolak-balik ngecek infus, ngecek jantung baby, dan cek-cek lainnya. Makin nggak bisa istirahat, deh. Karena tangan kiri diinfus dengan selang yang nggak terlalu panjang, jadi tidur pun cuma bisa miring ke satu arah, ke kiri doang. Kebayang deh, sepanjang malam badan saya kaku dan pegel. Sementara suami yang nungguin pun nggak dapat posisi yang enak buat tidur jadi dia nggak bisa tidur nyenyak pula. Jadilah, jam 5 pagi kita malah kebangun dan makan ayam McD yang dibawain mertua. Hahaha!

Puji Tuhan, selain zat besi yang kurang (dan harus dicek lagi hari Kamis ke lab, dan kalau kurang transfusi lagi), hasil CTG masih baik: jantung dan pergerakan baby oke, belum ada kontraksi.

Karena khawatir dengan keadaan saya dan udah hamil tua banget, saya pun diminta cuti oleh Mama dan mertua. Sekarang pun udah ngungsi ke rumah Mama untuk perbaikan gizi dan kalau ada apa-apa lebih gampang monitornya. Doakan semua baik-baik saja, ya. Semoga dalam seminggu-dua minggu ini si baby udah lahir dengan sehat dan selamat. πŸ™‚

Tentang ASI dan Mama

Saat melahirkan nanti saya bakal stay di rumah Mama yang bakal bantuin saya merawat si baby. Jadi, selain suami, Mama akan jadi bagian penting banget untuk si baby. Sebagai partner, tentunya harus sevisi dan semisi dong, ya. Kalau nanti Mama maunya A, sementara saya maunya B, yang ada malah kacau balau dunia persilatan.

Salah satu yang lagi saya tekanin ke Mama adalah anak saya sebisa mungkin harus ASI eksklusif (kecuali ada kondisi medis yang nggak memungkinkan, ya). Mama yang nggak update dunia per-bayi-an selama berpuluh-puluh tahun ya kaget kalau anak bayi bisa hidup HANYA dengan ASI aja. Nggak pake tambahan air putih, sufor, apalagi nasi. Baginya itu nggak masuk akal. Dulu saya dan adik-adik saya nggak ASI eksklusif dan terbukti sehat-sehat aja (ini nih senjata pamungkas si Mama). Bahkan, masih ingat jelas di memori saya, dulu adik saya yang bungsu dibelikan sufor yang menurut Mama saya paling bagus sehingga itu membuat adik saya jadi anak paling pintar (yang mana saya yakinnya dari sananya dia udah pintar aja, sih). Jadi Mama yang udah bertahun-tahun meyakini sufor itu bagus harus dipatahkan dengan pendapat bahwa bayi itu harus minum ASI eksklusif 6 bulan pertama hidupnya. No way Jose!

Jangan ditanya segimana mulut saya berbusa memberikan penjelasan ilmiah mengenai kenapa harus ASI eksklusif. Di matanya hal itu tetap nggak masuk akal. Bahkan, dia membantahnya dengan menceritakan cucu temannya hampir mati kehausan karena ASI ibunya kurang. Yang tentu saja saya bantah, masa sih bisa begitu? Mungkin ada kondisi lainnya. Saya pun meyakinkan Mama, nanti kalau si baby lahir dan ASI saya belum keluar jangan panik karena bayi masih bisa hidup 2-3 hari pertama tanpa minum. Lalu mata Mama saya melotot, “MANA MUNGKIN!”. Mungkin dikira saya ibu yang kejam tega membiarkan anaknya nggak makan. Tapi saya keukeuh, jangan sufor kecuali ada indikasi medis dan dokternya bilang begitu. *elap ketek*

Di jaman Mama juga nggak ada yang stok ASI sampe sepenuh kulkas. Menurut Mama sih saya dikasih ASI sampai 6 bulan, tapi dia kan kerja juga dan nggak pernah stok ASI, jadi ASI-nya tentu nggak eksklusif dan dicampur sufor dong, ya. Dia bisa terkaget-kaget pas saya kasih lihat gambar stok ASI sepenuh freezer. KOK BISA? Ya kalau ibunya kerja, harus stok ASI-lah. Dan itu yang akan saya lakukan. Mama tetap bengong.

Baru deh waktu ketemu adik ipar saya yang punya anak gendut dan bilang “Ini cuma dikasih ASI, lho”, mata Mama saya mulai terbuka. Wow, ternyata bisa juga cuma minum ASI dan bikin bayi sehat. Belum lagi kalau ngumpul sama teman-temannya, ada yang bawa cucu dan heboh dengan perlengkapan perang ASI-nya, macam cooler bag, ASIP, pemanas, dll, Mama baru menyadari, oh sekarang emang udah harus ASI eksklusif ya, bukan kayak dulu. Mulai deh perlahan-lahan dia percaya kalau bayi bisa hidup dengan ASI aja *sujud syukur 7 hari 7 malam*.

Tapi yah tetap aja, mitos mah tetap dia pegang. Misalnya, temannya bilang biar ASI banyak harus minum air kacang ijo sepanjang hari. WHAT? Apa kabar saya yang nggak bisa hidup tanpa air putih? Udah dijelasin ke Mama, bahwa jumlah ASI yang banyak mungkin disebabkan oleh makanan sehat, tapi deras atau nggak-nya ASI disebabkan oleh hormon yang membuat rasa bahagia atau nggak. Percuma bok, makanannya sehat, tapi ibunya sepet. Nggak deras juga ASI-nya. Reaksi Mama, “Kamu suka nggak nurut, deh! Nanti Mama nggak mau urus anak kamu, lho!”. Capcay, deh! Diancem eike, bok!

Tapi ingat menyusui itu harus dengan keras kepala, kan? Makanya taktik saya dari awal adalah cari rumah sakit yang pro-ASI, dong. Jangan ada celah dari awal buat kasih sufor. Kebetulan Mama saya adalah tipe yang dikit-dikit ke dokter dan percaya banget apa kata dokter. Misal nih ya, saya batuk pilek dikit, itu udah disuruh ke dokter. Nah, pas banget deh ini nanti rumah sakit saya pro-ASI dan kalau melahirkan bakal diajarin juga sama dokter laktasi. Langsung nanti geret si Mama untuk sama-sama dijelasin dan diajari soal ASI ini. Hihihihi! Kata-kata dokter mana yang akan kau dustakan?

Intinya, si Mama ini adalah tipe ibu-ibu yang lebih percaya kalau udah lihat temennya atau kalau dokter udah bilang. Kalau sama anaknya belum tentu dia percaya karena dipikirnya anak kemarin sore kok ya ngajarin doi. Jadi harus pinter-pinter ngatur strategi, deh. Sekarang dia malah yang beliin saya botol kaca ASIP, lho. Trus saya titipin ke dia cooler bag saya supaya kalau dia gaul sama temannya, bisa bawa ASIP saya. Cihuy, ya!

Buat yang lagi hamil dan orang tuanya nggak sejalan, ya pelan-pelan aja kasih tahunya dari jauh hari. Partner yang sejalan menentukan banget nanti anak kita akan dirawat seperti apa. Buat saya sih suami mah udah berdiri di samping saya dan udah ngerti, nah partner penting lainnya si Mama yang juga harus sejalan. Jadi jangan nyerah untuk menyamakan pendapat, ya. Semangat, (calon) ibuk-ibuk!

Senam Hamil

Akhirnya kemarin saya senam hamil juga. Padahal dari 7 bulan saya sering nanya ke dokter kapan boleh senam hamil, nih. Eh, pas udah boleh malah bablas kelupaan. Pas kontrol Sabtu kemarin diingetin dokternya lagi untuk senam hamil. Huwoww, baiklah! Dikarenakan jadwal yang agak sulit, saya pun Sabtu masuk jadi agak susah ke sananya *banyak alasan*. Akhirnya menemukan jadwal yang cucok itu Senin jam 17.30-18.30, itu pun ngabur buru-buru dari kantor. Cita-cita ditemenin suami waktu senam hamil pun terpaksa yuk dadah byebye karena ya nggak ketemu waktunya. Nggak papalah, yang penting pulangnya dijemput.

Sebagai orang yang nggak suka olahraga, memantapkan diri untuk ikut senam hamil ini juga males-malesan. Tapi begitu googling dan buka forum ibu-ibu hamil, banyak yang bilang berguna banget, terutama teknik pernapasan untuk melahirkan, supaya nggak terlalu sakit, dll. Saya kan jadi merasa ketinggalan banget masih clueless nanti melahirkan gimana. Akhirnya memantapkan niat buat ikutan senam hamil (selain takut nanti ditanyain dokter lagi, sih).

Ketakutan lainnya adalah sebagai orang yang introvert dan males rame-rame, dari dulu diajak Mama buat senam bareng aja males, ini malah bakal senam sendirian. Huwooow! Kan takut kalau gerakannya kaku trus dimarahin pelatihnya *lebay*. XD

Tapi karena ketakutan buat nggak tau teknik melahirkan lebih tinggi daripada ketakutan dimarahin pelatih senam, maka hayuklah ikut senam. Saya ikut senam di RSB Asih. Biayanya Rp 40.000, bayar di customer service. Setelah itu langsung bisa ikut senam di ruang auditorium di lantai 2. Ruangannya kecil, nggak spesial, banyak lemari-lemari berkas. Kalau dibandingin dengan rumah sakit besar lainnya ya jelas kalah jauh. Tapi yang penting ruangannya bersih dan dingiiiin banget karena ruangan sekecil itu AC-nya 2 (dan di luar hujan juga, sih). Kalau senam pakai baju sendiri, senyamannya aja. Jadi nggak ada seragam dari rumah sakitnya.

Kemarin ada 4 orang yang ikut senam, termasuk saya. Untungnya nggak banyak dan pada hamil besar semua kayak saya. Jadi nggak terlalu merasa bersalah kalau baru di minggu ke-36 senam. Kebetulan juga semuanya lagi mengandung anak pertama. Jadi lagi semangat-semangatnya (eh, atau lagi cemas, ya?). Di dalam ruangan ada 5 matras. Suster yang ngajarin baik banget.

Setiap gerakan yang diajari dikasih tau gunanya buat apa. Misal buat ototnya jadi lemas tapi kuat, supaya kaki nggak bengkak, supaya napas tahan lama, gerakan relaksasi sempurna, dll. Jadi kita ngerti kenapa harus melakukan itu. Gerakannya juga nggak cuma napas-napas doang, tapi ada banyak banget gerakan yang kadang susah juga dilakukan dengan perut besar. Sebenarnya semua gerakan itu harus dilakukan tiap hari, tapi maklum ya bumil kan suka short term memory jadi ya ada beberapa juga yang lupa. Oh ya, baru tau juga kalau ngeden nggak boleh tutup mata karena pembuluh mata bisa pecah. Aish, ini kalau nggak ikut senam hamil, eike nggak tau.

Yang paling penting adalah susternya menenangkan para bumils ini bahwa proses melahirkan itu nggak semenyakitkan yang kita bayangkan kalau kita rajin latihan senam hamil. Dengan senam hamil juga proses kelahiran bisa jadi lebih cepat karena ya udah siap juga badannya. Belum lagi dia kasih tau kalau bayinya segar bugar (tidak ada indikasi medis), di sini akan dilakukan IMD dan pasti ASI eksklusif. Sebagai orang yang concern banget sama soal pro-normal, pro-IMD, dan pro-ASI saya langsung berbinar-binar karena semua hal itu jadi prosedur standar rumah sakit ini. Anyway, bukan berarti saya menentang c-section, ya. Kalau ada indikasi medis yang mengharuskan ya nggak papa juga harus c-section. Intinya, sebisa mungkin melakukan yang alamiah dulu, tapi kalau Tuhan berkehendak lain apa mau dikata.

Apakah masih mau senam hamil lagi? Mau banget! Minggu depan pasti ikut lagi biar lebih termotivasi dan nggak takut lagi. Worth to try! πŸ™‚

Pregnancy: 36 Weeks

Kontrol kehamilan udah 2 minggu sekali. Jadi kemarin si baby udah 36 minggu+1 hari. Sebenarnya lebih suka kontrol di weekdays, tapi kebetulan di minggu ini Kamis libur nasional, jadi terpaksa harus kontrol hari Sabtu yang mana pasti rame banget. Udah buru-buru dari kantor, pas mau daftar ternyata dokternya lagi operasi di rumah sakit satunya lagi (nggak jauh juga, sih) dan baru mulai praktek sekitar 30 menit-1 jam lagi, sementara saya antrian ke-8. Wew! Si suster bilang saya makan aja di luar dulu, baru balik pas jam 17.30 aja biar nggak kelamaan nunggu. Tapi saya kan baru makan, begah banget cyin! Jadi memutuskan untuk nunggu aja di sana, nanti jam 17.00 baru makan.

Begitu jam 17.00, saya dan suami langsung cari makan di depan tapi sayang oh sayang, makanan yang mau dimakan belum buka. Berakhir makan batagor aja yang cuma menghabiskan waktu 15 menit. Trus balik ke dalam lagi, ruangan tunggu udah sepi aja.

Nggak berapa lama kemudian nama saya dipanggil. Kayaknya banyak yang akhirnya makan di luar dan ke-skip, deh. Hihihi, rejeki anak soleh jadi saya bisa masuk dengan cepat. Pas masuk, susternya mau panggil nama yang lain, trus saya langsung bilang, “Dokter mau skip saya, ya?” *pasien demanding*. Dokter langsung bilang sambil ketawa, “Tuh susternya, tuh. Hahaha!”

Berat badan yang naik drastis dalam 2 minggu (nggak mau nyebut, ah. Bikin shock) bikin dokternya wanti-wanti juga, sih. Tapi kali ini lebih memaklumi karena trimester 3 emang laperan banget. Pas cek USG, baby cuma naik 400gr. Eh, tapi itu udah lumayan banyak karena ternyata udah 2,6 kg. Pantes aja berat bener mau ke mana-mana, ternyata udah bawa gembolan 2,6 kg. Puji Tuhan semua baik dan sehat. Dua minggu lagi diminta kontrol dan cek lab sebelum melahirkan. Dokter pun mengingatkan jangan keseringan makan babi dan es krim. Ah, dokter tau aja kegemaran saya. Hihihi!

Karena udah mulai ngos-ngosan dan capek banget, tapi mau ngirit cuti biar bisa lamaan dengan si baby, saya pun nanya ke dokter kapan bisa mulai cuti.

Me: Dok, kapan saya bisa cuti?
Dokter: Nanti aja seminggu sebelum due date.
Me: Nanti saya kontraksi di kantor lagi.
Dokter: Nah, bagus itu. Biar cutinya pas 3 bulan. Bisa langsung ke sini. Kantornya deket kan dari sini? Lagian kalo kamu cuti nanti makan mulu lagi di rumah. Tambah gendut, deh.
Me: *JLEB*

Sebenarnya dari hati kecil yang paling dalam saya nunggu approval dokter supaya bilang minggu depan kamu cuti, ya. Tapi tampaknya si dokter ini seiya sekata sama si mama, yang mana penganut masuk kerja aja sampe titik darah penghabisan, toh masih kuat juga. Zzzz! Yang bikin dilema lagi sebenarnya kalo di rumah saya jadi moody, gampang galau karena sendirian, bosan, neror suami supaya cepat pulang, dan jadi lebih gampang merasakan sakit (misalnya ya si ngilu itu). Intinya di rumah juga lebih membosankan dan nggak bagus buat mood saya, sih. Nggak jelas ya maunya apa. Hahaha!

Di saat yang lain sudah beresin tas buat melahirkan sebulan sebelumnya, saya masih belum juga beres-beres. Tasnya udah ada, tapi belum masuk apapun. Lagian yang akan saya masukin baju saya dan suami aja, sih. Keperluan bayi si Mama yang akan masukin karena semua baju bayi udah di rumah Mama. Dilema nggak penting lainnya adalah baju yang akan dipake pulang apa, ya. Soalnya baju saya kan makin menipis, jadi yang dipake itu-itu aja. Kalau dimasukin ke tas nanti keluarin lagi untuk dipake, trus dimasukin lagi. Rempisss! Jadi kepikiran buat beli baju baru aja, deh. Sekalian khusus buat baju menyusui *selalu ada alasan untuk beli baju baru, kan?*. Yang paling bikin repot adalah catokan, alat make up belum bisa dimasukin karena masih dipake tiap hari. Hayah, ini mau melahirkan atau mau ke mana, sik? Teteeep ya bok, nanti kan banyak yang mau foto bareng pastinya *GR* jadi rambut dan muka harus lumayan kecelah, jangan pucat-pucat banget. Hahaha! Sama yang paling penting adalah.. masa baru punya bra menyusui 2 buah doang! *persiapan abal-abal*

Oh ya, nanti malam saya bakal senam hamil untuk pertama kalinya *telat*. Sebagai orang yang nggak suka olahraga, apalagi sendirian, lumayan deg-degan juga sih mau senam sendirian pulak! Semoga pelatihnya nggak galak, ya. πŸ˜€

Drama Kumbara Macet Jakarta

Macet dan hujan di Jakarta itu adalah 2 hal yang nggak boleh digabungkan sama sekali. Begitu digabungkan, jalanan Jakarta akan seperti neraka. Seperti beberapa hari lalu. Pagi itu Jakarta hujan tepat di saat mau berangkat ke kantor. Dalam hati komat-kamit supaya hujannya nggak lama. Ternyata nggak, hujannya lama dan malah makin deras.

Saya yang udah ketiduran di mobil, kebangun, dan ketiduran lagi masih belum sampai aja. Zzzz! Melihat hujan yang semakin deras pas mau turun, si suami kasihan sama saya yang bawa perut aja udah keberatan, apalagi ditambah harus naik bis ke kantor hujan-hujanan. Akhirnya dengan baik hati suami memutuskan untuk mengantarkan saya sampai kantor (oh, ya kantor kami berdua jauhnya dari ujung ke ujung — dia di utara, saya di selatan). Dari yang udah sarapan, sampai akhirnya kelaparan lagi dan kami harus membeli batagor dan cakwe buat dicemilin. Bayangin, itu macetnya kayak gimana. Perjalanan pagi itu 4 jam! *tepok tangan*

Baru sampai kantor dan segera makan dulu, 30 menit kemudian, saya harus berangkat lagi untuk workshop di sebuah sekolah di Lebak Bulus. Perjalanan ke sana lumayan lancar, nggak terlalu macet. Pas pulangnya, macet banget. Mobil yang penuh dan saya harus duduk tegak tanpa bisa selonjoran kaki, belum makan siang sampai jam 3 sore, dan sakit pinggang jadi teman macet Jakarta. Pantat saya sampai mati rasa dan kebas, kaki pun kram. Mau ngeluh ya isinya teman kantor yang kemacetan juga. Ya masa mau lompat dari mobil. Ya udah deh, akhirnya dirasain aja sambil ngelus-ngelus perut supaya baby-nya kuat, ya *nangis dalam hati*.

Sampai kantor langsung makan dengan nggragas dan selonjoran. Surga banget, deh. Karena sampai kantor udah mendekati jam pulang, tadinya mau langsung pulang aja. Eh, tapi hujan gerimis. Akhirnya minta suami jemput ke PS, nanti saya naik taksi ke PS ketemuan di sana. Saya mending nunggu di kantor daripada macet dan hujan di jalan.

Sempat ketiduran di sofa kantor nungguin suami, lho kok belum datang juga. Jam 6 sore, saya telepon suami, dia bahkan belum masuk tol karena daerah dekat kantornya MACET AJEGILA! Oke deh, bakal lama kayaknya. Sampai akhirnya suami jam 19.30 nelepon dia udah mulai memasuki kawasan Senayan, yang jadi pertanda saya untuk berangkat ke PS. Saya naik taksi dari kantor ke PS. Tentu ya hujan bikin macet. Mana supir taksinya salah jalan di Sudirman, jadi yang harusnya masuk jalur lambat supaya bisa belok di FX untuk ke PS, tapi malah ambil jalur cepat, yang mana jalur ke FX ditutup setengah, dibukanya setelah belokan. Itu aja udah macet banget untuk menuju ke FX. Macet total berhenti. Kalau udah lewat belokan itu, harus lurus terus sampai sebelum MPR/DPR dan muter di situ untuk ke PS. Aduh, jauh dan pasti macet lebih parah lagi. Akhirnya, saya minta diturunin di 2 halte setelah FX, yaitu di GBK.

Cuaca masih hujan dan itu halte gelap banget. Karena cuma gerimis, saya nggak pakai payung. Saya jalan sendirian sambil bawa perut yang berat, ngilu, dan kadang-kadang kencang. Nelangsa banget, deh. Sampai di depan FX, suami yang udah di PS mau jemput aja. Tapi pas saya lihat keadaan jalanan yang benar-benar nggak bergerak, saya bilang nggak usah soalnya bisa tahun depan sampainya. Mending saya jalan ke ratu plaza, lalu lewat jalan belakang masuk ke PS.

Di situ saya udah pake payung. Yang nggak saya tahu, FX ke Ratu Plaza lumayan jauh ya buat orang yang lagi hamil 35 minggu! Itu rasanya mau ngamuk, teriak, kesal, capek bercampur aduk, tapi nggak tahu bisa dilampiaskan ke siapa. Yang ada saya jalan kaki pake payung pink di tengah hujan sambil… nangis! *lalu diliatin 3 cowok India yang jalan di samping saya sambil kebingungan*. Drama kumbara banget, ya. Tapi rasanya emang menderita banget waktu itu.

Waktu sampai di gerbang antara Ratu Plaza dan PS, suami bilang dia akan jemput saya di situ. Saya pikir dia mau jemput saya pakai mobil. Masalahnya, antrian mobil di PS panjang banget dan macet pula. Suami bisa terjebak di dalamnya. Saya udah mulai senewen, kesakitan, ngilu, capek dan akhirnya marah-marah sambil nangis lagi di dekat satpam. Tampang satpam kayaknya udah kebingungan ada bumil histeris begitu. Akhirnya setelah dijelasin suami kalau dia akan jemput jalan kaki baru saya reda. Saya nunggu di seberang gerbang ratu plaza sambil teteep payungan pink dan nangis. Yang saya lakukan kemudian adalah……saya sms Ahok dengan nada mendramatisir, “Pak Ahok, karena kemacetan Jakarta yang menggila dan tidak bisa Anda atasi segera, seorang ibu hamil jalan kaki hujan-hujan dari GBK ke PS. Anda bisa saja membunuh ibu hamil itu!”. Oke, kebayang kan gimana dramanya saya sampai sms gubernur seperti itu. XD

Nggak lama kemudian suami sampai dengan muka panik bawa payung dan kaki yang terseok-seok karena keseleo beberapa hari sebelumnya. Yang tadinya mau ngamuk besar (karena akhirnya ada orang yang bisa dilampiaskan), malah nggak jadi karena kasihan lihat tampang suami yang udah panik. Dia langsung pegangin tas saya dan saya berakhir nangis sambil curhat apa yang baru dialami. Bodo deh, dilihatin orang-orang.

Kemudian saya bilang mau es krim McFlurry. Boleh dong makan makanan yang disukai setelah melewati peristiwa luar biasa tadi. Kami pun take away es krim di McD. Ehm, bahkan pada akhirnya setengah es krim suami saya yang habiskan karena dia kekenyangan.

Penderitaan sudah berakhir? BELUM! Keluar dari PS, jalanan macetnya ampun-ampunan. Mau lewat Permata Hijau tapi macet total yang mana kami harus muter balik lagi ke Senayan dan memutuskan lewat tol aja. Tapi sebelum mencapai tol macetnya gila-gilaan yang entah karena apa. Dua orang kelaparan, capek di jalan, masih harus kena macet lagi. Luar biasanya kemacetan ini terus-terusan sampai ke rumah. Total perjalanan pulang hari itu: 5 jam! *kasih confetti*

Nyampe di rumah hampir jam 11 malam saja! Mau makan juga udah nggak nafsu banget. Si suami tentu harus makan dan untungnya ada makanan di rumah. Besoknya, saya ijin nggak masuk kantor karena perut kencang, ngilu, kaki kram, dan kesehatan mental tidak terjaga lagi *stres gilak!*.

Kebayang nggak kalau ada yang lagi sakit parah mau ke rumah sakit tapi harus kejebak macet selama itu? Nggak kebayang, deh. Oke, orang bisa bilang berangkat lebih cepat, dong. Tapi mau secepat apa lagi? Beberapa tahun terakhir ini saya merasa harus berangkat lebih cepat dan lebih cepat lagi dan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Lama-lama bisa nginep di kantor, deh. Bukan soal harus berangkat lebih cepat, tapi emang kemacetan Jakarta udah sangat kritis sampai akhirnya mempengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat. Apalagi pas hamil besar gini, di mana duduk berjam-jam itu merupakan penderitaan (halooo, sakit punggung dan pinggang, kram), dan kebelet pipis tiap 30 menit. Stres banget!

Pada saat ini, saya sebelum berangkat pasti lihat info jalanan Jakarta dulu. Kalau kemungkinan macetnya sampai parah, saya mendingan nggak usah masuk daripada harus terjebak berjam-jam dan kesakitan. Cuma itu jalan satu-satunya saat ini. Tapi kan jadi rugi cuti, kerjaan, dll. Mau gimana lagi?

Kesimpulannya: Jakarta kejam buat ibu hamil. So, prepare yourself. πŸ™‚