Drama Kumbara Macet Jakarta

Macet dan hujan di Jakarta itu adalah 2 hal yang nggak boleh digabungkan sama sekali. Begitu digabungkan, jalanan Jakarta akan seperti neraka. Seperti beberapa hari lalu. Pagi itu Jakarta hujan tepat di saat mau berangkat ke kantor. Dalam hati komat-kamit supaya hujannya nggak lama. Ternyata nggak, hujannya lama dan malah makin deras.

Saya yang udah ketiduran di mobil, kebangun, dan ketiduran lagi masih belum sampai aja. Zzzz! Melihat hujan yang semakin deras pas mau turun, si suami kasihan sama saya yang bawa perut aja udah keberatan, apalagi ditambah harus naik bis ke kantor hujan-hujanan. Akhirnya dengan baik hati suami memutuskan untuk mengantarkan saya sampai kantor (oh, ya kantor kami berdua jauhnya dari ujung ke ujung — dia di utara, saya di selatan). Dari yang udah sarapan, sampai akhirnya kelaparan lagi dan kami harus membeli batagor dan cakwe buat dicemilin. Bayangin, itu macetnya kayak gimana. Perjalanan pagi itu 4 jam! *tepok tangan*

Baru sampai kantor dan segera makan dulu, 30 menit kemudian, saya harus berangkat lagi untuk workshop di sebuah sekolah di Lebak Bulus. Perjalanan ke sana lumayan lancar, nggak terlalu macet. Pas pulangnya, macet banget. Mobil yang penuh dan saya harus duduk tegak tanpa bisa selonjoran kaki, belum makan siang sampai jam 3 sore, dan sakit pinggang jadi teman macet Jakarta. Pantat saya sampai mati rasa dan kebas, kaki pun kram. Mau ngeluh ya isinya teman kantor yang kemacetan juga. Ya masa mau lompat dari mobil. Ya udah deh, akhirnya dirasain aja sambil ngelus-ngelus perut supaya baby-nya kuat, ya *nangis dalam hati*.

Sampai kantor langsung makan dengan nggragas dan selonjoran. Surga banget, deh. Karena sampai kantor udah mendekati jam pulang, tadinya mau langsung pulang aja. Eh, tapi hujan gerimis. Akhirnya minta suami jemput ke PS, nanti saya naik taksi ke PS ketemuan di sana. Saya mending nunggu di kantor daripada macet dan hujan di jalan.

Sempat ketiduran di sofa kantor nungguin suami, lho kok belum datang juga. Jam 6 sore, saya telepon suami, dia bahkan belum masuk tol karena daerah dekat kantornya MACET AJEGILA! Oke deh, bakal lama kayaknya. Sampai akhirnya suami jam 19.30 nelepon dia udah mulai memasuki kawasan Senayan, yang jadi pertanda saya untuk berangkat ke PS. Saya naik taksi dari kantor ke PS. Tentu ya hujan bikin macet. Mana supir taksinya salah jalan di Sudirman, jadi yang harusnya masuk jalur lambat supaya bisa belok di FX untuk ke PS, tapi malah ambil jalur cepat, yang mana jalur ke FX ditutup setengah, dibukanya setelah belokan. Itu aja udah macet banget untuk menuju ke FX. Macet total berhenti. Kalau udah lewat belokan itu, harus lurus terus sampai sebelum MPR/DPR dan muter di situ untuk ke PS. Aduh, jauh dan pasti macet lebih parah lagi. Akhirnya, saya minta diturunin di 2 halte setelah FX, yaitu di GBK.

Cuaca masih hujan dan itu halte gelap banget. Karena cuma gerimis, saya nggak pakai payung. Saya jalan sendirian sambil bawa perut yang berat, ngilu, dan kadang-kadang kencang. Nelangsa banget, deh. Sampai di depan FX, suami yang udah di PS mau jemput aja. Tapi pas saya lihat keadaan jalanan yang benar-benar nggak bergerak, saya bilang nggak usah soalnya bisa tahun depan sampainya. Mending saya jalan ke ratu plaza, lalu lewat jalan belakang masuk ke PS.

Di situ saya udah pake payung. Yang nggak saya tahu, FX ke Ratu Plaza lumayan jauh ya buat orang yang lagi hamil 35 minggu! Itu rasanya mau ngamuk, teriak, kesal, capek bercampur aduk, tapi nggak tahu bisa dilampiaskan ke siapa. Yang ada saya jalan kaki pake payung pink di tengah hujan sambil… nangis! *lalu diliatin 3 cowok India yang jalan di samping saya sambil kebingungan*. Drama kumbara banget, ya. Tapi rasanya emang menderita banget waktu itu.

Waktu sampai di gerbang antara Ratu Plaza dan PS, suami bilang dia akan jemput saya di situ. Saya pikir dia mau jemput saya pakai mobil. Masalahnya, antrian mobil di PS panjang banget dan macet pula. Suami bisa terjebak di dalamnya. Saya udah mulai senewen, kesakitan, ngilu, capek dan akhirnya marah-marah sambil nangis lagi di dekat satpam. Tampang satpam kayaknya udah kebingungan ada bumil histeris begitu. Akhirnya setelah dijelasin suami kalau dia akan jemput jalan kaki baru saya reda. Saya nunggu di seberang gerbang ratu plaza sambil teteep payungan pink dan nangis. Yang saya lakukan kemudian adalah……saya sms Ahok dengan nada mendramatisir, “Pak Ahok, karena kemacetan Jakarta yang menggila dan tidak bisa Anda atasi segera, seorang ibu hamil jalan kaki hujan-hujan dari GBK ke PS. Anda bisa saja membunuh ibu hamil itu!”. Oke, kebayang kan gimana dramanya saya sampai sms gubernur seperti itu.πŸ˜„

Nggak lama kemudian suami sampai dengan muka panik bawa payung dan kaki yang terseok-seok karena keseleo beberapa hari sebelumnya. Yang tadinya mau ngamuk besar (karena akhirnya ada orang yang bisa dilampiaskan), malah nggak jadi karena kasihan lihat tampang suami yang udah panik. Dia langsung pegangin tas saya dan saya berakhir nangis sambil curhat apa yang baru dialami. Bodo deh, dilihatin orang-orang.

Kemudian saya bilang mau es krim McFlurry. Boleh dong makan makanan yang disukai setelah melewati peristiwa luar biasa tadi. Kami pun take away es krim di McD. Ehm, bahkan pada akhirnya setengah es krim suami saya yang habiskan karena dia kekenyangan.

Penderitaan sudah berakhir? BELUM! Keluar dari PS, jalanan macetnya ampun-ampunan. Mau lewat Permata Hijau tapi macet total yang mana kami harus muter balik lagi ke Senayan dan memutuskan lewat tol aja. Tapi sebelum mencapai tol macetnya gila-gilaan yang entah karena apa. Dua orang kelaparan, capek di jalan, masih harus kena macet lagi. Luar biasanya kemacetan ini terus-terusan sampai ke rumah. Total perjalanan pulang hari itu: 5 jam! *kasih confetti*

Nyampe di rumah hampir jam 11 malam saja! Mau makan juga udah nggak nafsu banget. Si suami tentu harus makan dan untungnya ada makanan di rumah. Besoknya, saya ijin nggak masuk kantor karena perut kencang, ngilu, kaki kram, dan kesehatan mental tidak terjaga lagi *stres gilak!*.

Kebayang nggak kalau ada yang lagi sakit parah mau ke rumah sakit tapi harus kejebak macet selama itu? Nggak kebayang, deh. Oke, orang bisa bilang berangkat lebih cepat, dong. Tapi mau secepat apa lagi? Beberapa tahun terakhir ini saya merasa harus berangkat lebih cepat dan lebih cepat lagi dan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Lama-lama bisa nginep di kantor, deh. Bukan soal harus berangkat lebih cepat, tapi emang kemacetan Jakarta udah sangat kritis sampai akhirnya mempengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat. Apalagi pas hamil besar gini, di mana duduk berjam-jam itu merupakan penderitaan (halooo, sakit punggung dan pinggang, kram), dan kebelet pipis tiap 30 menit. Stres banget!

Pada saat ini, saya sebelum berangkat pasti lihat info jalanan Jakarta dulu. Kalau kemungkinan macetnya sampai parah, saya mendingan nggak usah masuk daripada harus terjebak berjam-jam dan kesakitan. Cuma itu jalan satu-satunya saat ini. Tapi kan jadi rugi cuti, kerjaan, dll. Mau gimana lagi?

Kesimpulannya: Jakarta kejam buat ibu hamil. So, prepare yourself.πŸ™‚

One thought on “Drama Kumbara Macet Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s