#Kaleb2Tahun

YEAY! Kaleb udah 2 tahun! Welcome terrible two! Oh well, sebelum 2 tahun pun udah ada tanda-tanda terrible two, sih. #MamakKuduSetrong

Seperti biasa menyambut ulang tahun, saya selalu labil. Niat awal selalu, udahlah nggak usah rame-rame, tiup lilin bertigaan aja di rumah. Anaknya pun belum paham banget, walau udah mulai tahu nyanyi happy birthday dan tiup lilin. Tapi nggak paham kalau ulang tahun itu sesuatu yang spesial. Oke sip!

Tapi sebagai Mamak yang suka perayaan dan rempong sendiri, jadilah dari yang tiup lilin bertiga aja jadi birthday lunch kayak tahun lalu. #eaaa #labil Tentunya kalau birthday lunch, Mamak mana bisa santai. Nggak bisa ya udah yuk ngumpul di resto ini, kita makan bareng. No! Maunya spesial, dong. Untuk itulah semua kerempongan ini dimulai. :)))

Kalau tahun lalu baru coba-coba bikin table set, tahun ini meningkatkan tantangan sendiri. Tahun ini full semua dibuat sendiri, tanpa percetakan, tanpa template. Dibuat dari 0 dengan printilan lebih banyak. #MamakRempong #RibetSendiri.

Karena Kaleb lagi tergila-gila truck, tiap hari main truck, tiap hari minta nonton truck. Yasalam, anak cowok begini amat mainannya, mobil-mobilan mulu. Mamak sampai harus ngapalin jenis-jenis truck dan mengarang bebas tiap ditanyain truck yang berbeda, jadilah truck pasir, truck semen, truck bensi, truck, sampah, dsb. Maka tema tahun ini adalah: Under Construction. Alias jadi tukang di proyek dengan segala macam trucknya.

Demi menghemat biaya, tapi banyak mau, jadi saya blusukan ke pasar-pasar, dari Pasar Perniagaan (ini Kaleb kalau diajak ke sini pasti heboh dengan mainan truck yang banyak dan murah banget), Pasar Mayestik (beli kain buat taplak), Pasar Santa, Pasar Pagi Mangga Dua, dan Pasar Meruya. Bapake yang nemenin dari semangat sampai ilfil kayaknya saya bisa ngubek-ngubek pasar seharian dan nggak bosan.

Semua printilan kecilnya, saya print, gunting, dan tempelin sendiri. Nyicil banget karena ada banyak dan kalau di rumah anak bocah suka gangguin banget, kan. Jadi harus diam-diam ngerjainnya. Bapake bantuin bikin logo dan undangan untuk ultah Kaleb. Tentunya diprint sendiri aja. #hematpangkalkaya

Untuk kue ulang tahun, karena niat dari awal semua kreasi sendiri, maka mau beli kue polos dan hias sendiri aja. Kebetulan banget Rere baru aja buka toko kue online. Rere ini kalau lihat IG-nya suka buatin makanan MPASI buat anaknya trus variasi canggih-canggih, plus tentunya suka bikin kue. Nah, pas banget dia bikin cake bolu classic. Duh, saya suka banget sama kue bolu. Tentunya langsung lah saya pesan.

PR-nya di hari-hari terakhir adalah cari abang untuk isi gas helium. Untungnya ada pasar di dekat rumah dan abangnya bisa dimintain isi balon helium. Diambil di hari H. Siip beres!

Tepat di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan khusus, nggak ada kado juga dari orang tuanya *orang tua macam apahhhhh. Hahahaha!*. Untungnya malam sebelum Kaleb ulang tahun, Opungnya tiba-tiba datang bawa kado sepeda buat Kaleb. Horee! Mayan kan pas dia bangun ada kado jadinya. Hihihi.

Pas Kaleb bangun langsung tiup lilin di kue kecil, lalu langsung ajak main sepeda. Oh ya, dari beberapa minggu sebelumnya kami suka nanya ke Kaleb, “Ulang tahun mau kado apa, Kaleb?” Selalu dijawab, “Kado kue cokelat”. Ciyaaan, jarang dikasih cake cokelat jadi ngidam doi. Hahahaha. Jadilah di hari spesialnya, dia dapat hadiah kue walau bukan cokelat, tapi rainbow cake.

kaleb

Selamat 2 tahun anak lanang! 

Kemudian, kami ajak jalan-jalan Kaleb dan sepeda barunya ke RPTRA Kalijodo. Sebulan lalu ke sini, belum ada playground buat anak-anak kecil, eh pas datang udah ada playgroundnya, banyak mainan, lapangan sepakbole, perpustakaan kecil, dan aula. Makin kece aja lah taman ini. Jangan ditanya perasaan Kaleb. Dia suka banget sama taman ini sampai pas disuruh pulang karena udah mau malam, doi ngamuk. -_____-”

IMG_20170316_175305.jpg

IMG_20170316_175029

IMG_20170316_170907.jpg

IMG_20170316_174710.jpg

Tentunya kurang lengkap kalau ulang tahun tapi belum makan bakmie panjang umur #serasacina. Jadi kami pun lanjut makan malam di Bakmi Aloi. Sebelumnya Kaleb nggak menunjukkan ketertarikan pada bakmi, suka keselek juga kalau nggak dipotong kecil-kecil, tapi hari ini dia jago banget banget bakminya, bahkan porsinya dia habis semua. Ketauan anak mami banget karena suka bakmi. :)))

Untuk birthday lunch Kaleb diadakan hari Minggu-nya. Yang diundang pun cuma keluarga inti saya dan suami aja. Karena semua dilakukan sendiri, jadi saya lumayan panik nih, takut terlambat datang dan pas tamu datang saya belum selesai mendekor. Apalagi beneran cuma saya dan suami aja yang dekor, mbak jaga Kaleb.

Kenyataannya, hampir semua dekor saya yang kerjain sendiri. Suami dikasih tugas nempel tulisan HAPPY BIRTHDAY di dinding dan karena saking ingin sempurna jadi luamaaa banget. Yo weis, meja urusan saya semua. Aku rapopo. :))

Dekor mendekor kelar tepat jam 12 siang, tapi ternyata oh ternyata… tamunya baru datang jam 1 siang. Tau gitu tadi bisa selow aja bro, sis!

Demi maksimalnya tema Under Construction ini, tentunya harus ada dress code, dong. Dress code-nya baju tukang atau denim. Beberapa tamu dibekali dengan rompi proyek juga biar makin oke oce. Untuk baju Kaleb, tadinya cari kostum tukang proyek. Tapi kok yang ada untuk anak 3 tahun ke atas, kegedean, dong. Ya udah, harus kreatif maksimalkan yang ada aja. Kebetulan banget konstumnya bisa di-mix and match baju yang udah ada di rumah. Sepatu boots udah ada. Untuk topi proyek dan alat pertukangannya, cukup beli mainan tukang seharga Rp 25.000 aja. Murah meriah oye! Begini penampakannya:

PhotoGrid_1490064242320.png

Si Mandor

Gladly, everything went okay (kecuali bagian mau tiup lilin, pasang lagu, dan lagunya nggak bisa dipasang. Zzz! Ya udah nyanyi sendiri aja, eh tiba-tiba lagunya nyala. Ngajak becanda aja).

17308851_10155817217684298_3449034627910831562_n

17264673_10155817217839298_3554742146348617057_n

17361956_10155817217444298_4643026274723027505_n

17308735_10155817217824298_2018560775120517329_n

 

17362900_10155817217499298_1447871474353193334_n

17424678_10155817218119298_5982305439694484414_n

17424630_10155817348339298_8405039647938908217_n

Mandor dan truck-nya

17424839_10155817218869298_6716909165396734078_n

Bolu ini enaaaak banget. Sukaaa!

17309274_10155817217659298_67344096231381177_n

17353487_10155817220479298_8521263809292653477_n

IMG_20170319_132615.jpg

IMG_20170319_120820.jpg

IMG_20170319_194100_554.jpg

Mandor cilik dan anak buahnya :)))

Dengan segala keribetan dan kerempongan yang ada, plus salah sendiri semuanya mau dikerjain sendiri, maka dengan ini Mamak masih mengibarkan bendera putih untuk mengadakan pesta ulang tahun penuh dengan anak-anak. Ku belum sanggup (dengan kehebohan dan keberisikan anak-anak). :))

Advertisements

Naik Kuda di Branchsto

HAPPY NEW YEAR 2017!

Telat banget, woy! Ini udah mau akhir bulan Januari 2017. Duh, begitu masuk tahun baru, kerjaan langsung bak bik buk banyak banget. Nggak sempat colong waktu buat blogging, sampai rumah pastinya tepar walau diusahakan mengejar drama Korea yang lagi diikutin (Mas Gong Yoo, aku padamu banget loh!), dan weekend….sibuk. Namanya orang Batak ya, tahun baru itu jadi ajang silaturahmi ke seluruh keluarga besar dari kenal dan nggak kenal tapi disinyalir masih saudara. Jadi kegiatan setiap weekend ya membelah diri untuk acara keluarga. Ke mall pun aku belum sempat. Tidaaaak!

Tapi akhirnya kemarin nemu satu hari kosong. Hore! Walaupun badan remuk redam karena Sabtunya ada workshop di kantor sampai sore, lalu lanjut ke rumah saudara di Bekasi (yang namanya acara Batak manalah bisa sebentar, plus sambil kejar-kejar bocah yang heboh banget ketemu sepupu-sepupunya *pengsan*). Pulang langsung tepar. Pagi bangun sebentar untuk kasih instruksi ke Mbak di rumah buat masak apa, trus maunya lanjut tidur, tapi malah tergoda lanjutin nonton Goblin sambil tiduran. Baru benar-benar bangun siangan (jam 07.30 saja. Bocah nggak bisa tidur lebih siang dari itu. Zzz!).

Niat hati pengen istirahat di rumah, tapi kasian bocah yang aktivitasnya kok di rumah aja. Yo weislah, saya pun googling aktivitas bukan mall buat anak-anak, tapi jangan jauh-jauh. Akhirnya menuju Playparq Bintaro lah kita.

Begitu sampai, tempatnya sepiiii banget. Cuma ada 2 anak yang lagi main. Berasanya jadi garing banget. Krik krik krik. Si bocah pun nggak terlalu tertarik main air mancur. Jadi kami pun mengubah tujuan. Tetap masih seputaran Bintaro.

Branchsto.

Branchsto ini sebenarnya restoran, tapi ada ranch kecil di mana anak-anak bisa menaiki kuda poni dan kuda besar, main kereta-keretaan, dan memanah.

Pada waktu kami datang, parkiran penuh banget sehingga parkir agak jauh dan harus jalan kaki. Begitu masuk, langsung ada loket tiket jadi harus langsung menentukan mau main apa. Kaleb sih tujuannya langsung naik kuda poni @Rp 25.000 untuk sekali naik. Nanti di dalam bisa beli seember wortel untuk kasih makan kuda poni seharaga Rp 10.000.

Kami masuk jam 11.30, langsung antri untuk naik kuda poni. Perlu diingat, arena permainan ini ada jam istirahatnya, yaitu jam 12.15-13.00. Kuda poninya asal New Zealand, terawat banget, nggak kurus, sekal dan gempal badannya. Bikin gemas banget, deh. Kaleb senang banget naik kuda dan berani tanpa dipegang.

Setelah naik kuda poni, kami membeli wortel untuk kasih makan kuda poni. Ada sekitar 5 kandang kuda poni yang semua kandangnya bersih, kudanya sehat, dan nggak kurus. Baik-baik banget kudanya.

Selesai kasih makan, kebetulan tepat arena permainan mau istirahat, jadi kami pun makan di restorannya. Sayangnya, walau pasti banyak yang datang anak-anak, mereka cuma punya baby chair 2! Harus ganti-gantian banget, nih. Sementara tempat duduknya sendiri kan dibikin ala ranch, jadi nggak ada senderannya. Untuk anak kayak Kaleb yang nggak bisa diam mah kelar banget kalau nggak ada baby chair. Akhirnya dia didudukin dulu di stroller, lalu nunggu baby chair kosong (ini juga harus inisiatif kita nyari, karena walau udah bilang petugasnya, mereka lupa. Suasana hari itu hectic banget).

Menu makanannya sih nggak terlalu mahal, range-nya Rp 30.000-50.0000, ada kids meal juga, tapi porsinya nggak besar, dan rasanya datar. Kaleb pesan kids meal french fries dan nugget. Nuggetnya keras banget kayak batu. Huhu, kasihan sih anak kecil kalau makan. Jadi ya, makanan di restonya kurang recommended. Kami makan di situ karena masih punya jatah satu tiket lagi, dan udah keburu kepotong jam istirahat. Saran saya, datang jauh sebelum jam istirahat, atau setelah jam istirahat. Trus makan di luar aja lah. Hihihi.

Habis makan, lanjut mau main kereta karena tiketnya sebenarnya main kereta gantung. Tapi karena keretanya kecil dan harus dikayuh di ketinggian, bapake nggak muat. Sementara mamak takut ketinggian. Hahaha. Untungnya tiketnya bisa dipake untuk naik kuda poni lagi. Kaleb mah malah suka banget!

Kelar naik kuda poni, kami ke kandang belakang untuk lihat kuda besarnya. Kudanya jauh lebih besar dari kuda lokal dan terawat semua. Senang banget lihat dijaga peliharaannya.

Selesai semuanya, sambil nunggu bapake ambil mobil, Kaleb main perosotan, jungkat-jungkit, dan kuda mainan di area depan. Pas pulang, berkali-kali Kaleb bilang dia senang.

Mamak juga senang banget! Tempat main yang affordable dan bukan mall. Pas di hati. Kapan-kapan balik lagi, deh!

img_20170122_114524

My brave little kid

img_20170122_114903

Family picture

img_20170122_115251

Kasih makan kuda poni

img_20170122_130223

Naik kereta gantung. Nggak jadi karena kaki bapake kepanjangan untuk ke kayuhnya hahaha

img_20170122_131712

Kuda putih paling besar, gagah, tinggi. Kuda ini sering ikut lomba dan juara, lho. Itu medalinya ada 3 dipajang

 

Natal di Bandung (2)

Lanjut lagi, ya. Saya sebenarnya nggak terlalu ngincer tempat ngopi di Bandung atau tempat yang lagi ngetrend lainnya karena bawa bocil. Ngopi-ngopi sambil bawa bocil super aktif? Yang ada mejanya berantakan karena dia bosan liatin kita ngopi. Maka dari itu skip lah semua yang lagi ngetrend.

Cafe d’Pakar
Sebelum liburan suami bilang pengen ke Tebing Keraton karena pemandangannya yang bagus. Tapi saya tolak mentah-mentah karena bawa Kaleb, rempong banget harus ke lembah, gunung, bukit. Takut nyusruk jatuh.

Tapi pagi itu kita clueless mau ke mana. Jadi iseng-iseng coba deh ke Cafe d’Pakar, toh nggak jauh juga. Ternyata Cafe d’Pakar ini satu area sama Tebing Keraton. Suami bersemangat lagi deh mau ke Tebing Keraton. Yuk ah, daripada penasaran, kan.

Jalan ke sana naik tinggi dan berbatu. Kurang nyaman, sih. Malah ada mobil yang akhirnya mogok karena nggak kuat nanjak. Sampai di ujung, kami harus parkir mobil dan melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton pake ojek. Bayarnya @Rp 50.000 bolak balik (sekitar 3 km). Ish, mahal gilak! Nggak mau ditawar pula.

Saya udah bilang ke suami dia aja yang pergi kalau penasaran karena kalau kami semua ikut, ya berarti pake 2 ojek, Rp 100.000. Kurang rela ya, bok! Plus, ada anak kecil pula, kayaknya cukup bahaya, deh. Tapi akhirnya suami nggak mau pergi sendiri, sekaligus nggak rela juga. Hahaha.

Akhirnya kami turun sedikit ke Cafe d’Pakar. Seperti yang sudah diperkirakan, masuk ke sana waiting list. Doh, padahal kan udah lapar, ya. Tapi ternyata yang paling panjang waiting list-nya yang mau duduk di outdoor. Kalau mau duduk di indoor, cuma 1 orang lagi. Tentu saja kami pilih di indoor, karena konturnya yang berbukit dan berlembah, cukup bahaya buat anak kecil nggak bisa diam duduk di tepian lembah. Lagian lumayan panas nggak ada atap, dan sebenarnya bisa aja makan indoor, baru pas foto-foto outdoor. Solusi aman banget.

Makanannya sendiri ada minimal order Rp 25.ooo per orang. Nggak mahal, sih. Tapi makanannya ya cemilan-cemilan standar yang rasanya standar pulak! Nggak ngenyangin banget. Jadi setalah makan, foto-foto, lihat pemandangan sebentar, kami pun cus pergi cari tempat makan beneran.

Kalau disuruh balik lagi sih no no lah. Soalnya tempatnya bagus, tapi makanannya biasa aja, jalan ke sananya ribet. Tipikal tempat hipster lah. Hahaha.

img_7921

Keluar numpang foto doang. Dilihat dari tempat duduknya, bahaya banget kan buat anak kicik super aktif.

img_7925

img_7935

Warung Lela (Wale)
Ini tempat wajib banget harus didatangin kalau ke Bandung karena mie yaminnya yang endeus. Saya nggak pernah skip ke tempat ini kalau ke Bandung. Apalagi habis dari Cafe d’Pakar yang nggak nendang makanannya, butuh asupan lagi, kan. Haha.

Senangnya menu makanan di sini udah nambah. Nggak cuma melulu mie ayam. Ada sop ayam dan nasi yang pas banget buat Kaleb. Duh, mamak happy lah. Tadinya mikir mau kasih Kaleb mie ayam aja, tapi kurang sehat ya karena itu kan karbo semua (MAMAK, INI LAGI LIBURAN KELEUS! –> mungkin begitu pikir Kaleb. Hahaha). Makanya nasi sup ayam ini penyelamat banget. Kaleb pun suka banget sampai habis makannya. Sedap!

Sayangnya, walau tempatnya sudah diperluas, tapi tetap nggak ada baby chair. Duh, ribet banget lah kalau bawa anak kecil yang lagi aktif-aktifnya dan nggak bisa diam kayak Kaleb. Huhuhu. Semoga semua restoran mempertimbangkan adanya baby chair. Nggak perlu yang artistik atau mahal (pernah ada yang baby chair kayu keren banget, tapi pas dipake anaknya gampang merosot), cukup baby chair murahan beli di IKEA atau informa yang pas banget buat makan. Meringankan beban stres saat kasih makan di luar. Hahaha.

Naik kuda di ITB
Sebenarnya nggak kepikiran naik kuda, tapi kebetulan lewat ITB. Eh, trus sadar Kaleb belum pernah punya pengalaman naik kuda. Waktu kecil, saya sering banget liburan ke Puncak dan pasti naik kuda. Rasanya menyenangkan, sampai suatu ketika pas lagi naik kuda di tanjakan, kudanya berdiri. MATEK! Ya ada abangnya yang megangin, sih. Tapi cukup bikin saya trauma karena saya hampir jatuh. Habis itu saya nggak mau naik kuda lagi.

Tapi kan saya nggak pengen Kaleb begitu, ya. Apalagi Kaleb suka banget sama hewan. Jadi saya tanya Kaleb, mau naik kuda nggak? Dia sih jawabnya nggak. Dih, mamak kan jadi tertantang untuk bikin dia suka naik kuda (mamak suka maksa deh, ih!). Jangan menyerah sebelum coba. #prinsip

Kami pun parkir dan langsung didatangi sama abang kuda. Tadinya dia kasih harga Rp 40.000 sekali putaran, ditawar jadi Rp 30.000. Sip! Bapaknya lah yang nemenin naik kuda, saya kan penakut. Hahaha.

Kaleb tampak senang, ketawa-ketawa, dan malah nagih. Pas putarannya selesai, dia malah nggak mau turun! Lalu dia minta saya yang nemenin naik kuda. OH NOOOOO! Demi banget ngajarin anak suka kuda, saya pun menepis ketakutan naik kuda. Pas di atas kuda, takutnya minta ampun! Keringat dingin, jantung berdebar, takut jatuh, mau nangis. Saya sampai ngomong terus ke abangnya, “Bang, ini nggak ada pengaman lain? Bang, saya takut! Ini bakal jatuh nggak, sih? Jangan lari kudanya, bang!” Saking takutnya baru beberapa langkah, saya udah merengek ke abang kuda minta turun biar digantiin Papanya aja. Hahaha, CEMEN! Tapi abangnya menyemangati bahwa semua aman. Akhirnya dikuat-kuatinlah demi anak banget nih, bok! Saya minta ke abangnya putarannya nggak jauh-jauh, yang dekat aja. Nggak sanggup.

Setelah selesai, abangnya nagih Rp 90.000 karena menurutnya kami naik 3 putaran. APAAAA! *zoom in, zoom out*. Jadi abangnya rese dan kayaknya modus nipu abang kuda tuh begini. Pas ada di belokan, dia nanya sama suami, “Mau lurus atau belok?”, karena Kaleb suka, jadi suami bilang lurus biar putarannya gede. Dia ngakunya udah bilang ke suami kalau udah ditanya kok mau 2 putaran atau 1 putaran. Tapi dia bilangnya mau lurus atau belok. BEDA BANGET ITU PERTANYAANNYA, BANG! Pas saya naik aja, dia juga nanyanya mau lurus atau belok. Saya minta belok karena nggak sanggup jauh-jauh.

Ya udah saya marah dan bilang abang nipu kalau ngomongnya gitu. Enak aja, nggak relalah saya. Akhirnya tentu saja saya nggak mau bayar Rp 90.000. Saya bilang, “Bang, mau terima nggak nih uangnya, kalau nggak saya pergi!”. Saya kasih 2 putaran saja.

Gila lo bang, gue mau ditipu! NEHI!

Jadi yang mau naik kuda di ITB hati-hati ya, abangnya suka nipu.

 

Nah, berakhir deh perjalanan kami di Bandung. Nggak banyak tempat yang dikunjungi karena ngikutin moodnya bocil dan supaya kami juga bisa istirahat di hotel, nggak terlalu kecapekan. Selanjutnya review soal hotel ya.

 

Natalan di Bandung (1)

Natal kemarin, 24-25 Desember 2016, kami memutuskan untuk liburan. Biasanya di keluarga besar kami, pas Natal nggak ada yang terlalu spesial: pergi ke gereja, makan bareng, selesai. Makanya habis itu biasanya clueless dan ujung-ujungnya ke mall. Yang paling spesial dan kumpul bareng rame-rame justru pas tahun baru kalau di Batak.

Oleh karena itu, saya punya ide gimana kalau Natalan sekalian liburan. Mumpung saya dan suami bisa cuti jadi bisa ajak Kaleb liburan. Akhirnya terpilihlah yang dekat-dekat aja: Bandung.

Oh ya, sehari sebelum berangkat ada berita kalau jembatan Cisomang di tol Cipularang retak. Matek nggak? Mobil golongan 1 masih boleh lewat sih. Tapi secara saya penakut banget, saya wanti-wanti suami untuk lewat Purwakarta ajalah. Serem kan bok, ya!

Tapi pas di hari H, suami keukeuh tetap lewat Cipularang karena di google maps lancar jaya. Untungnya hari itu jalanan emang lancar. Polisi stand by sebelum jembatan untuk memisahkan kendaraan golongan 1 dan lainnya. Jadi yang benar-benar masuk yang golongan 1. Lalu pas di jembatannya, banyak banget polisi berjaga-jaga di jembatan, di bawah jembatan juga dibikin pos penjagaan 24 jam. Karena kendaraan besar nggak boleh lewat, jalanan malah makin sepi, deh.

Pas lewat jembatan Cisomang saya yang penakut udah ketar-ketir dan komat-kamit berdoa. Ealah, jembatannya cuma 200 m, dilewatin nggak sampai 2 menit. Hahahaha! Amaaan!

Berikut ini beberapa tempat yang saya datangin di Bandung. Fokusnya adalah ngajak jalan-jalan Kaleb jadi sekiranya yang bakal Kaleb sukai:

Rumah Stroberi
Tempatnya masih sama kayak dulu, ada halamannya luas dan ada playgroundnya. Kaleb senang banget bisa lari-larian dan main. Tapi kalau soal makanan, kurang enak. Porsinya kecil, banyak lalat, dan waitressnya kebanyakan agak lambat. Apa mungkin karena cukup rame? Misal, saya pesan tisu lamaaa banget dianterinnya, sampe saya harus minta kedua kalinya. Suami minta nasi gorengnya dibikinin telor dadar, eh lupa dibikinin. Minta sambal, tapi mereka nggak paham, sambal itu kayak apa. DOENG!

img_7830

Halaman luas, Kaleb bisa lari-lari. Nggak difoto playgroundnya karena mamak sibuk makan. Hahaha.

Rumah Guguk
Penasaran banget pengen ke Rumah Guguk dan udah lama banget follow IG mereka. Kayaknya ini salah satu petshop paling menyenangkan. Beruntungnya pas kami ke sana, lagi ada perluasan area dan soft opening area yang baru. Mereka bikin mini zoo.

Untuk masuk setiap orang dan anak di atas satu tahun beli voucer seharga @Rp 30.000. Voucher itu bisa dipake untuk masuk ke petshop di mana berisi anjing-anjing kecil/ ditukar dengan makanan/ mini zoo yang berisi anjing besar, domba, dan kelinci. Tentu saja kami pilih di mini zoo karena lebih beragam pilihannya.

Mini zoo ini dibuat cantik banget areanya. Ada kolam ikan, rumah-rumah kecil berwarna-warni, jembatan mini. Bisa juga kasih makan domba (dombanya gemuk banget, rambutnya kriwil-kriwil lucu) dan kelinci dengan wortel seikat Rp 10.000. Nanti anaknya dipinjemin celemek biar bajunya nggak kena bulu. Cuamat sih!

Selain bisa kasih makan domba dan kelinci, bisa main sama anjing-anjing besar seperti Alaskan Malamute, Poodle, Labrador, dll (saya lupa apa jenisnya). Anjingnya manis minta ampun, fotogenik, ramah sama orang-orang. Boleh nggak sih dibawa pulang ini semuaaa? Kandangnya semua bersih, nggak ada kotoran berserakan, nggak bau, dan di sekitar kandang disediakan hand sanitizer. Mas-mas yang jagain juga helpful banget, bantuin foto kita, ajak main sama anjingya. Trus di tiap-tiap rumah itu, desainnya beda-beda, ada yang kayak rumah Belanda dan ada kostum yang bisa dipake gratis buat foto.

Kaleb senang banget main di sini. Dia lari-lari dari satu tempat ke tempat lain, kasih makan domba dan kelinci, main sama anjing, peluk-peluk anjing, lihat ikan, burung, dsb. Tentunya habis itu dia ngambek disuruh pulang. Hahaha!

We love Rumah Guguk so much!

img_7836

Mamak juga baru pertama kali ketemu domba. Aslik cakep banget pengen dibawa pulang. Mamak norak!

img_7844

Kelincinya gendut-gendut

img_7858

Ku tak takut

img_7866

Bermaksud foto bertiga, tapi Kaleb kabooor. Ya udah, mayan ajrang-jarang foto berdua

img_7869

img_7853

Akhirnya foto bertiga juga (males crop mas-mas yang nongol sebelah)

Braga Permai
Saya dan keluarga pernah ke sini tahun lalu dan jatuh cinta banget sama kejadulannya. Tapi suami belum pernah. Oh, I had to show him my favorite restaurant.

Untuk makan malam di malam Natal, saya pilih Braga Permai. Tempatnya di jalan Braga yang terkenal karena vintage, tapi setelah direnovasi jadi vintage romantis, banyak lampu.

Tahun lalu pas makan malam harus waiting list karena banyak banget yang mau makan di sini. Tahun ini sengaja datang agak sorean, sekitar jam 6. Untungnya nggak waiting list walau meja-meja utama udah banyak banget direservasi untuk makan malam Natal orang lain.

Sama seperti tahun lalu, tempat ini masih mengutamakan interior vintage-nya (yang memang udah ada sejak tahun 1930-an). Ada pohon Natal di pojok ruangan, hiasan Natal yang digantung, serta mengalun lagu-lagu Natal klasik yang dinyanyiin Nat King Cole dan Michael Buble. Cocok banget menjadikan tempat makan ini jadi syahdu, romantis, dan menyenangkan.

Untuk menu makanannya sendiri, bervariasi banget. Dari makanan barat, timur, sampai makanan lokal. Semua ada dan bisa memenuhi berbagai selera. Suami pesan mie ayam jamur (yang katanya rasanya otentik dan lezat banget), saya pesan beef ravioli (pas dicobain ke Kaleb, dia bilang itu bubur karena creamy banget. Kalau saya bilang, gilingan ini endang bambang lezatos banget. Nagih lagi!), dan nasi goreng untuk Kaleb (dia suka banget, nggak terlalu manis, tapi pas banget rasanya, tipikal chinese food). Jadi kita beriga dengan selera yang berbeda terpuaskan.

Nggak perlu khawatir selama nunggu makanan, mereka menyediakan air putih yang bisa direfill sampe kembung, dan roti-roti kecil untuk kita nikmati. Jadi Kaleb yang udah kelaperan banget bisa ganjel pake roti. Mana rotinya enak pula.

Selain itu, kami pesan Thai milk tea. Pas datang kok kayak teh manis biasa ya penampakannya. Kayak nggak ada campuran susunya. Tapi pas diminum, rasanya beneran thai milk tea. Jadi susunya nggak pake putih seperti biasa, entah pake apa, tapi enak banget.

Jangan khawatir, porsinya gede banget. Dijamin kenyang. Untuk makan hura-hura itu, kami cuma menghabiskan Rp 160.ooo. #dompetsenang #perutkenyang

Kami selesai makan sekitar jam 8 malam. Pas banget, mau ada live band (dulu sih nyanyiin lagu-lagu jadul favorit ijk, tapi malam itu nyanyi lagu Natal) dan waiting list udah panjang. Oh ya, pas kita ke luar, di area outdoornya, ada yang lagi melamar pacarnya. Aih, romantis amat!

Jadi, tempat ini akan jadi tempat yang wajib saya kunjungi tiap ke Bandung. Sesuai lah sama jiwa toku ijk! Hahaha!

img_7881

Jadul bener kan

img_7885

Di depan restoran, kalau malam udah antri

img_7882

Jadul boleh, tapi ada baby chair dan waitressnya catat pesanan pake tablet. Keren!

Tempat lainnya dibahas di post selanjutnya, termasuk hotel yang kami tinggali, ya. See ya.

 

#PiknikBarengKaleb: Liburan Singkat di Bogor

Weekend kemarin kami getaway ke Bogor. Sebenarnya karena ada kawinan teman, yang mana di hari Minggu malam. Setelah dipikir-pikir, capek juga kalau harus balik lagi ke Jakarta malam-malam dan jauh, dan kami juga udah lama juga nggak liburan. Jadi akhirnya mutusin buat nginep. Kebetulan teman-teman segeng juga berpikiran sama, jadi kita barengan nginep, sama keluarga masing-masing.

Kami berangkat Minggu pagi supaya belum macet. Acara pemberkatannya sendiri jam 2 siang. Namanya bawa bocah ya, jadi tentunya ada drama dululah. Belum lagi dikasih tahu teman, kamarnya full. APAAAH?! Kan udah booking jauh-jauh hari. Setelah saya telepon ke hotel, ternyata kamar untuk queen bed yang full. Untuk kamar double bed mah masih ada, tapi adanya di lantai 2 dengan pemandangan bangunan. Nggak bagus kata mbak resepsionis. Ah, sutralah, kalau udah bawa bocah pengennya begitu sampe masuk kamar buat istirahat. Nggak papalah pemandangan tembok. *ciyaaan*. Setelah beres masalah perhotelan dan drama-drama kecil lainnya, baru akhirnya benar-benar masuk tol jam 10.30. Hahaha, niat early check in jam 10 pun bubar jalan. :’)

Untungnya perjalanan cukup lancar dan nggak mengalami banyak hambatan. Kaleb pun anteng di car seat, baru setengah perjalanan agak rewel karena minta nenen udah waktunya dia tidur. Sampai di Bogor sekitar jam setengah 12-an, tapi kami memutuskan untuk nggak langsung ke hotel karena kalau dilihat dari peta, jalanan masuk ke hotel cukup ke dalam jadinya nggak dekat restoran. Daripada ribet cari makan lagi, kami pun cari makanan. McD to the rescue. Itu pun harus muter-muter dulu lihat peta. Kalo makanan Kaleb mah aman ya, doi udah disiapin dari rumah.

Akhirnya sekitar jam 12-an sampai di hotel (btw, it is Ibis Style Bogor, baru saja dibuka 1 bulan. Letaknya sebelahan sama Novotel Bogor), check in dengan cepat, dan voilaaaaa… dapat kamar queen bed dengan pemandangan pohon-pohon hijau dan gunung. Cakeppp banget! Rejeki anak sholeh, deh. Kaleb aja hobinya berdiri depan jendela jadinya.

Quick Review of Ibis Style Bogor

Hotel Ibis Style ini baru buka sebulan. Jadi bangunannya baru, harga kamar diskon *asooy*, dan semuanya masih bersih.

Kamarnya sendiri nggak terlalu besar, tapi nggak kecil juga. Menurut saya sih pas aja. Saya pake kamar yang tempat tidurnya ukuran quenn, yang mana ternyata buat bertiga dengan anak yang tidurnya lasak jadi agak sempit, ya. Hehehe. Bantalnya empuk, tempat tidurnya bersih, semua rapi. Masih baru ya, jadi bagus semua. Oh ya, di Ibis Style ini juga dikasih bantal guling. Asik, kan? Nggak juga, karena bantal gulingnya sekeras batu. Lagian karena tempat tidurnya sempit jadi bantal guling diungsikan aja.

img_20161002_123223

img_20161002_123247

 

Bagus kan pemandangannya

Bagus kan pemandangannya

Kamar mandinya tipe yang open door. Jadi kalau dua sisi temboknya bisa dibuka jdi kelihatan toiletnya. Unik banget, sih. Kalau temboknya ditutup jadi tembok cermin buat ngaca. Toiletnya compact, tapi cukup lah. Kamar mandi dan toilet dipisah dinding kaca susu, jadi nggak kelihatan. Senang deh, toilet model beginian, jadi kalau satu mandi, satunya mau ke WC ya nggak keganggu.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Di dalam kamar disediakan gantungan, kulkas kecil, dan penyimpanan barang berharga. Cukuplah. Sayangnya tidak disediakan sendal hotel. Padahal karena lantainya tidak dilapisi karpet, kalau jalan dengan telanjang kaki jadi dingin banget. Untung kami bawa sendal jepit jadi nggak kedinginan. Kaleb pun selama di kamar tetap pake sendal atau kaus kaki biar nggak kedinginan.

Di hotel ini, ada kids corner, gratis. Tapi yah, isinya minim banget. Cuma ada satu meja bundar dengan beberapa kursi kecil. Mainannya pun cuma play station satu TV, yang tentunya Kaleb belum bisa mainin, dan balok-balok kayu. Udah itu aja. Sayang banget, ya. Soalnya anak kecil pun bosan kalau mainannya begitu doang.

Kosong melompong banget kan

Kosong melompong banget kan

Kolam renang tersedia untuk dewasa dan anak-anak. Kolamnya nggak besar. Letaknya tepat di sebelah restoran. Masalahnya adalah…. airnya dingiiiiin banget. Saya aja yang masuk ke kolam renang nggak sanggup deh lama-lama. Kaleb yang udah excited mau berenang juga jadi menggigil dan membiru bibirnya, walau dia keukeuh tetap mau berenang. Pantesan aja itu kolam renangnya sepi banget. Nggak ada yang tahan, bok. Akan lebih baik kalau kolam renangnya pake air hangat lah. Biar nggak mubazir gitu keberadaannya.

Untuk restorannya sendiri interiornya bagus, dengan warna-warna pop art. Bisa duduk di sofa atau kursi kayu biasa. Makanannya standar hotel lah, kayak nasi goreng, bihun goreng, buah, sereal, susu, roti, jus. Nggak banyak variasinya tapi cukup. Pagi-pagi kan orang juga nggak makan membabi buta, ya. Kekurangan paling utamanya adalah: nggak ada baby chair sama sekali. Untuk yang punya anak kecil kayak Kaleb, nggak bisa duduk diam di kursi biasa, nggak ada baby chair tuh macam penderitaan lah. Harus makan sambil megangin anaknya. Rempong to the max!

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

img_20161003_064619

Untuk interior hotelnya sendiri minimalis tapi berwarna warni. Saya sih suka ya dengan warna-warna yang didominasi hijau. Kece!

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Kesimpulannya, hotelnya bagus, enak buat bermalam, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki. Oh, sama akses untuk ke tempat keramaian cukup jauh, harus pake mobil karena letak hotel ini ada di dalam perumahan yang tidak dijangkau dengan kendaraan umum.

***

Setelah istirahat sebentar– errr.. nggak istirahat sih karena nyuapin Kaleb makan– saya pun siap-siap dandan, sementara bapake gantiin baju anaknya. Tepat jam 2 siang, eh hujan deras banget. Derasnya sampai pohon-pohon di jendela bergoyang kencang banget. Waduh, padahal kawinan ini outdoor pula. Hmm, Bogor, sebagai kota hujan, dan kawinan outdoor, plus di musim hujan emang cukup riskan, sih.

Akhirnya saya berangkat ke lokasi pemberkatan nikah yang jaraknya nggak sampai 5 menit naik mobil. Pernikahan belum juga dimulai sementara banyak tamu sudah datang. Akhirnya pemberkatan dipindahkan ke gazebo, yang menurut saya jadi jauh lebih indah. It was a short, yet beautiful holy matrimony. (Btw, di Klub Golf Bogor Raya, tempat pernikahan ini, ada kolam ikan dengan ikan terbesar yang pernah saya lihat. Benar-benar besar, panjangnya kurang lebih 2-3 meter, mirip ikan lele. Dahsyat, bok! Ternyata ikan ini khusus diimpor dari Sungai Amazon. Selain itu, ada ikan aligator warna putih yang juga didatangkan langsung dari Sungai Amazon. Gilaaak, Seaworld aja ikannya nggak seaneh ini. Tapi ngomong-ngomong ini bukan ikan langka kan, ya?)

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :')

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :’)

Karena mulainya udah molor sekitar sejam, akhirnya begitu selesai pemberkatan jam 4an lebih, kami pun balik ke hotel. Kasian, Kaleb belum tidur siang. Saya pikir pun saya pengen tidur bentar, deh. Tapi dengan full make up dan males copot softlens, akhirnya saya nggak tidur siang, tapi nonton drama korea #teteep. Sementara suami dan bocah bolehlah bobo.

Sementara mereka tidur nyenyak, saya pun siap-siap lagi, touch up, rapihin rambut, pake baju, siapin baju Kaleb dan suami. Sekitar jam setengah 7 malam, bangunin para lelaki, mereka siap-siap bentar dan cusss berangkat.

Resepsinya outdoor, dekornya sederhana aja, banyak lampu dan itu udah bikin indah banget. Tapi sayangnya pas datang lagi hujan gerimis. Huhuhu, kasian kan bawa bocah. Untungnya saya bawa payung. Satu-satunya tamu yang sambil ngambil prasmanan sambil megangin payung. Wakakak. Maklum bok, demi ambil makanan buat Kaleb. Untungnya di pinggir-pinggirnya beratap jadi banyak yang berteduh di sana.

Kira-kira setengah jam kemudian, hujan berhenti, acara makin seru. Karena yang menikah adalah orang Afrika (ehm, saya lupa tepatnya dari mana berasal), jadi tamu-tamu Afrikanya seru banget joged-joged pake lagu yang seru juga. Plus ngajak orang-orang ikutan joged juga. Ternyata di belahan dunia nun jauh di sana tariannya mirip poco-poco gerakannya. Saya dan suami sangat menikmati banget acara joged-joged ini karena bikin acara nggak kaku dan membosankan.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Setelah seru joged-joged sampai acaranya habis, akhirnya kami pulang juga. Tepar banget. Nggak sampe lama, langsung pada bobo semua.

Besokannya kami bangun jam 6. Leyeh-leyeh sebentar dan makan di restoran bawah. Habis itu berenang dengan air es, jadi kurang seru. Setelah itu boboin Kaleb dan mariii check out.

Tujuan pertama adalah ketemu teman-teman dari Jakarta yang kebetulan lagi piknik ke Bogor. Kami janjian di Tier Siera Cafe and Lounge. I tell you, this cafe sucks! Karena kami pilih tempat yang outdoor, jadi agak panas. Eh, ternyata sebelahnya entah sekolah, jadi suara anak-anak ribut dan guru mengajar terdengar banget. Yang paling menohok adalah, kami dikasih buku menu, tapi hampir semua menu yang kami pesan kalau nggak belum siap, habis, nggak dikeluarkan lagi. Intinya cuma tersedia sedikit menu. Mau ngamuk nggak, sih? Padahal itu udah jam 12 siang. Pas makanannya keluar pun rasanya kurang enak. Jadi, restoran ini nggak recommended sama sekali lah.

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Karena masih lapar, akhirnya saya dan suami melipir ke Kedai Soto Ibu Rahayu. Makanan lokal FTW lah! Tempatnya sederhana, tapi bersih banget, pelayannya tanggap, ramah, ada baby chair, dan wifi. Nah, gini dong kalau mau usaha kuliner. Menu sotonya bermacam-macam banget, bahkan sampe ada soto goreng rica-rica. Unik banget lah. Harganya pun affordable. Me love it!

Anak bocah banyak gaya

Anak bocah banyak gaya

Dengan kenyangnya kami habis makan soto, maka berakhirlah liburan singkat ini. Senang banget bisa sebentar keluar dari rutinitas. Tapiiii… kok ya nagih lagi mau liburan? *liat sisa cuti tinggal sedikit* XD

#AbeBirthdayTrip

Ealah, udah hampir sebulan nggak update blog. Bukan sibuk, kok, cuma lagi males aja. Males kok ya dipelihara, sih. XD

Tepat tanggal 30 Mei kemarin Pak Suami ulang tahun. Setelah merasakan serunya #KalebBirthdayTrip kemarin, jadi pas Pak Suami ultah pun mendingan kita trip lagi aja. Karena nggak punya banyak cuti, jadi kita jalan-jalan yang dekat-dekat aja: Bogor.

Pagi-pagi rayain ulang tahun Pak Suami dulu. Udah bertahun-tahun nikah dan hampir selalu barengan, dia tetap nggak nyadar kapan saya beli kue ulang tahun. Hahaha!

IMG_6052

Bapak yang berbahagia dengan Kaleb yang sibuk liatin lilin

Yuk kita mulai #AbeBirthdayTrip ini. Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Bogor. Tadinya mikir udah kesiangan, nih. Tapi ternyata berangkat jam 10 itu tepat banget karena udah nggak macet lagi akibat orang pergi ke kantor. Perjalanan ke Bogor pun lancar tanpa macet berarti.

Tujuan pertama kita adalah makan di restoran Lemongrass yang lagi hits. Restoran ini terletak di pinggir Jl Padjajaran. Sayangnya plang namanya ketutupan pohon jadi kurang jelas, akhirnya kita kelewatan dan harus muter balik. Untungnya pas kita sampai restorannya belum terlalu rame, karena ternyata nggak lama kemudian restorannya langsung penuh.

Kenapa sih resto ini hits banget? Interiornya instragamable, pelayannya ramah dan tanggap, bersih, makanannya afordable dan cukup enak. Jadi kita puassss banget makan di situ.

IMG_7385

Cakep banget kan interiornya. Banyak bunga-bungaaaa *tiduran di rumput ala Syahrince*

IMG_7382

Suami aja bilang ini enak banget

IMG_7402

Wajib foto di tempat yang ada tulisannya dong

IMG_7411

Jalan bak model majalah keluarga

Setelah kenyang dan puas, kita pun melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Tempatnya pun nggak jauh, tinggal lurus aja dari Lemongrass. Bogor hari itu lagi mendung dan agak hujan rintik-rintik tapi nggak papalah ya, makin adem.

Tiket masuk ke KRB Rp 14.000 per orang (anak kecil seumuran Kaleb masih gratis) dan mobil Rp 30.000. Cukup murah untuk ukuran kebon berhektar-hektar gitu. Tadinya kita mau masuk ke Istana Bogor tapi sayangnya udah tutup kalau siang gitu. Jadi kita pun bersantai di tamannya aja.

Kaleb kayaknya senang banget liat yang taman yang besaaar dan hijau, plus adem. Dia duduk anteng di strollernya *ajaib* dan menikmati banget pemandangan. Sesekali dia kita biarin main di rumput. Happy banget dia.

KRB ini emang bagus banget, ya. Koleksi tanamannya banyak, tapi sayang ada beberapa pengunjung yang bandel buang sampah sembarangan. Pengen ditoyor banget nggak, sih!

IMG_7431

IMG_7440

Aku senang di siniiii!

IMG_7416

IMG_7459

Udah cucok belum jadi model majalah, nih?

IMG_7475

IMG_7464

Ciyeeeh!

IMG_7419

Si manis yang anteng duduk di stroller. Mamas & Papas terbukti handal di medan yang naik turun, berlubang, terjal. Kece!

IMG_7444

Hijau, adem, tenang

Setelah puas berjalan jauh, tapi nggak berasa karena cuaca adem. Kita pun nyantai dulu di Grand Garden Cafe yang dulu namanya Kafe Dedaunan. Udaranya kan sejuk jadi paling enak ngemil pisang goreng dan poffertjes, plus bandrek dan bajigur. Sebenarnya rasa makanannya biasa banget, nggak istimewa, plus porsi kecil. Tapi kongkow di cafe ini emang beneran enak karena pemandangannya yang ke KRB yang hijau tenang. Duh, suka banget deh berlama-lama di sini. Oh ya, saking sejuknya Kaleb sampe ketiduran cukup lama, lho selama kita nongkrong.

Sekitar jam 4 sore pun kita pulang biar nggak kena macet. Untungnya lawan arah kemacetan jadi pulangnya pun lancar jaya. Ah, senang banget hari ini bisa refreshing sejenak. Pak Suami yang ulang tahun pun happy banget. Ulang tahun lainnya kita adain trip lagi ya Pak Suami!

Happy birthday dear hubby. May God give you what you want and may you grow as the man of God. I love you most! :*

#KalebBirthdayTrip: Bali (2)

Yuk, lanjut cerita #KalebBirthdayTrip di hari ketiga dan keempat.

Hari ketiga

Belajar dari pengalaman drama kemarin, maka kali ini persiapaannya lebih baik. Benar-benar masak dan memastikan nggak akan dingin di perjalanan (kemarin tempat makannya nggak tertutup rapat cobaaa), dan bawa Heinz yang tinggal dipanasin. Jadi kalau pun makanannya dingin dan Kaleb nggak mau, ada Heinz yang pasti enak dan tinggal minta orang restoran buat panasin. Yuk sip!

Karena masih ingin ke pantai tapi bingung ke pantai mana, tadinya ingin ke Finn’s Beach tapi karena masih banyak bebatuan di situ, kurang cucok buat Kaleb, pas kebangun tengah malam saya sibuk browsing pantai yang ada di Bali. Ketemulah satu pantai namanya Virgin Beach alias Pantai Perasi di Karangasem. Kalau baca-baca jaraknya sekitar 1,5 jam dari Sanur. Agak jauh, tapi saya pikir worth to try karena pantainya bersih dan nggak rame, plus 1,5 jam harusnya nggak lama ya karena kan di Jakarta aja ke mana-mana pasti butuh waktu segitu. Nekat! Anaknya lupa kemarin Kaleb di mobil sejam aja ngamuk. Hahaha!

Sebelum ke pantai mau ke supermarket Hardy’s dulu beli baju renang (baju renang saya dan suami belum kering dan penuh pasir) dan beli cemilan Kaleb. Tapi ternyata Hardy’s belum buka jam 9.30. Akhirnya kita mampir ke McD buat makan. Cuma saya yang makan padahal udah sarapan sebelumnya. Lalu meluncur ke Hardy’s. Niatnya cuma bentar banget langsung cus ke Virgin Beach. Kenyataannya, saya milih baju renang aja lamaaaa banget. Belum lagi belanja cemilan (ini sih cepat), trus pas ke lantai 2-nya ternyata segala perlengkapan lengkaaaaaap banget. Berakhir saya beli sendal buat Kaleb. Trus baru mau jalan ke Karangasem jam 12 siang. Terik kakaaak!

Yang saya nggak tau adalah: Karangasem beneran jauh! Supaya nggak ngamuk lagi, tepat jam 12 siang, di mobil saya kasih makan Kaleb. Setelah itu dia bablas tidur sampai setengah perjalanan, sehingga saya pun bisa tidur. Pas saya bangun, udah ada di Candidasa yang mana pemandangannya bagus banget. Masih banyak pohon-pohon, langit biru, dan pantai yang jernih. Karena sudah jam 13.30, saya minta suami cari restoran buat makan. Tapi kita nggak tau makan di mana. Akhirnya berbekal sinyal yang minim, berhasil juga googling restoran yang banyak direview orang: Lezat Beach Restaurant. Sip, yuk ke sana.

Le-Zat Beach Restaurant ini ternyata restoran di dalam hotel yang pemandangannya langsung ke tepi laut. Mata segar banget. Selain pemandangan yang bagus, makanan dan minuman yang segar, serviece-nya juara banget. Para waiternya ramah, tapi bukan lebay ramahnya. Pas lah ramahnya. Mereka ramah terhadap anak kecil (ada baby chair!), mau ajak becanda saat Kaleb mulai ribut, dan pas tau tujuan kita ke mana, mereka menggambarkan petanya buat kita dan memberitahu tempat bagus lainnya. Aku terharu! :’) Very good experience.

The view

The view

12670514_10154747582244298_4293674115193573196_n

Pusing Pala Ken! :))))

Pusing Pala Ken! :))))

Enaaaak!

Enaaaak!

Setelah kenyang makan, perjalanan masih sekitar 20 menit lagi ke Virgin Beach. Dua puluh menit yang diwarnai dengan pemandangan gunung dan laut yang kayak di kartu pos. Keren banget. Adem hati ini, Bang!

Untuk masuk ke Virgin Beach kita dikenai biaya Rp 10.000 per orang. Dari parkiran, kita harus jalan kaki melewati jalan berbatu dan menurun sekitar 10-15 menit, tergantung napas ngos-ngosan atau nggak. Hahaha! Tapi begitu sampai… MASYA AMPUN CANTIKNYA! Laut berwarna bir toska, di dekatnya ada gunung, lalu bukit, dan pasirnya bersih. Yang paling penting: SEPI banget sampai rasanya jadi pantai pribadi. Lebih banyak bule yang ke sini.

Karena masih belum tersentuh tenaga profesional, makanya masih seadanya aja. Untuk bilas pun di kamar mandi yang nggak ada lampunya dan gelap-gelapan. Makanya sebelum ke pantai sebaiknya udah ganti baju dulu. Di sana juga disewakan sunbed. Waktu itu saya dapat Rp 30.000 per dua sunbed sepuasnya. Mayan, ya.

Seperti yang kita ketahui, Kaleb loveeeeed to be here. Dia happy-nya nggak ketulungan, orang tuanya yang sebenarnya banci pantai sepi juga happy banget. Gini ya rasanya punya pantai pribadi? Hahaha!

Is it a postcard?

Is it a postcard?

12063621_10154747743439298_6329494509554067059_n

993565_10154747744814298_5007772221406122407_n

1465136_10154747742354298_4403706989189356892_n

10983384_10154747742099298_5087196599047727846_n

12472806_10154747743264298_573973632699974306_n

12821589_10154747744724298_450089939299732046_n

1476123_10154747745369298_9179079980980563170_n

995320_10154747743759298_5551353483191859977_n

PUAS banget! Karena kita datangnya sekitar jam 3 sore jadi nggak terlalu terik tapi pantulan mataharinya masih bikin lautnya bagus, plus sepi. Sekitar jam 5 sore kita pun langsung pulang karena nggak mau Kaleb kelaparan. Karena udah belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini walau wc-nya gelap kita semua bilas dan ganti baju bersih jadi Kaleb di mobil pun bisa nenen, plus sedia cemilan yang banyak. Perjalanan 1,5 jam ke hotel pun aman tenteram damai. :’)

Niatnya mau jalan lagi cari makan, tapi kasian Kaleb udah capek dan udah waktunya tidur. Sempat pesan Gojek untuk delivery babi guling tapi karena udah kemalaman semua tutup. Hiks. Jadilah kita pun delivery KFC. Hahaha, yang penting perut kenyang.

That’s a wrap for today.

Hari keempat

Karena hari ini pulang, jadi kita santai banget. Nggak punya jadwal khusus, cuma pengen ke Krisna dan makan enak aja. Jadi dimulai dengan kita bertiga berenang di kolam renang yang hangat. Diwarnai dengan Kaleb pup di kolam lagi, tapi kali ini aman karena pake diaper (ada apa sih Kaleb dan kolam renang?).

Sebelum pup di kolam

Sebelum pup di kolam

Setelah itu kita makan kenyang di hotel, packing, dan cusss!

Tujuan pertama adalah Krisna. Saya pikir saya bakal kalap di sini, tapi ternyata nggak. Saya beneran cuma beli oleh-oleh pie susu dan kacang untuk orang rumah, beberapa baju bali buat Kaleb, dan selesai! Cuma 30 menit aja. Untuk orang yang suka belanja ini prestasi. Hahaha.

Kita langsung buru-buru ke Warung Babi Guling Pak Malen yang nggak jauh dari Krisna. Dari kemarin ngidam babi guling akhirnya hari ini kesampaian juga. Warung Pak Malen ini belum juga jam 12 siang udah penuh dan antri mobil, untungnya kita dapat tempat duduk. Nggak beberapa lama kemudian muncullah nasi dan berbagai olahan babi guling di sebuah piring. MAKNYUS! Enak banget nget. Kayaknya saya dan suami emang tipe orang yang lebih suka makanan lokal daripada internasional ya. Dari Mak Beng dan Babi Guling, dua-duanya paling membekas di sanubari *tsaaaah*. Kita juga nambah kerupuk kulit babi yang ternyata harganya Rp 30.000 dengan porsi kecil. Tapi emang itu kerupuk enaknya kayak makan kerupuk dari surga *halaah*. Pokoknya siang itu saya kenyang dan bahagia.

Setelah dari Warung Pak Malen, ada sisa waktu sekitar sejam, kita pun makan gelato di Seminyak. Ini request si suami. Dia suka banget gelato dan menurutnya paling pas makan gelato di Bali. Dia nggak mau makan gelato di Jakarta. Hahahaha. Tapi udara terik emang cocok makan dingin-dingin. Kaleb pun dibolehin coba gelato. Dasar dia nggak bisa dingin, jadi dia suka es krim tapi kalau dikasih meringis kedinginan. Hahaha.

Dengan berakhirnya gelato kita, kita pun menuju bandara Ngurah Rai yang udah kece berat untuk kembali ke Jakarta. See you soon, Bali.

Kesimpulan liburan dengan bayi: CAPEK dan rempong! But we did it! *kasih piala ke diri sendiri*

Tips liburan bareng anak 1 tahun:

  • Selalu ikuti jadwalnya si anak. Kalau emang waktunya tidur, sebisa mungkin tidur, walau itu di mobil atau di hotel. Kalau nggak cranky.
  • Makannya harus tepat waktu. Kalau emang pas jam makan lagi di mobil dan nggak ada resto yang proper, ya kasih makan di mobil. Jangan sampe kelaparan dan ngamuk. Duh, ribet.
  • Sedia air putih dan cemilan yang banyak untuk bayi.
  • Saya prefer sewa mobil tanpa supir karena kalau pake supir bisa rugi kalau bawa bayi. Flow liburannya karena ngikutin jadwal bayi jadi kadang-kadang kita balik ke hotel dulu untuk istirahat, baru habis itu jalan lagi. Kalau pake supir nanti dia magabut.
  • Pastikan restoran yang ada baby chair. Karena ribet banget kalau bayi makan sambil dipangku. Apalagi bagi Kaleb yang gratakan pengen pegang ini itu. Baby chair is a must. Kalau nggak ada baby chair maka sebisa mungkin bawa tempat duduk portable. Tapi preferensi tiap orang bisa beda-beda.
  • Nggak perlu itinerary yang padat. Buat daftar aja tempat yang ingin dikunjungi dan sesuaikan dengan situasi si bayi.
  • No stroller. Jalanan di Bali nggak memungkinkan pake stroller. Saya prefer pake gendongan. Saya pake Ergo Baby 360. Lebih praktis dan Kaleb pun nyaman.
  • Jangan maksain pergi sampai malam banget. Kasian baby-nya. Kalau udah waktunya tidur, usahakan untuk pulang ke hotel dan tidur lah kayak jadwal biasa.
  • Pilih hotel yang bersih dan nyaman karena kalau bareng baby akan ada waktu-waktu kita lebih banyak di hotel. Jadi pilih hotel yang juga bisa buat liburan. Oh, sebisa mungkin ada kolam renang karena baby suka berenang (tapi beda-beda sih tiap bayi).
  • Sebelum booking hotel, pastikan apakah sarapan di hotel bisa dimakan oleh bayi. Karena waktu itu saya nggak yakin, saya bawa makanan dan pilih hotel tipe apartemen yang ada dapur dan peralatan makan.
  • Waktu di pesawat harus bawa banyak cemilan karena bayi bosan. Kaleb pas take off dan landing sih aman-aman aja walau nggak menyusui, tampaknya dia nggak mengalami sakit kuping. Karena bosan itulah Kaleb pun pas di tengah flight milih untuk nenen dan tidur. Sementara bayi sebelah saya yang umurnya beda 2 bulan dari Kaleb merasa ngantuk dan kebosanan tapi malah nggak tidur. Jadi beda-beda tiap bayi.

Sampai ketemu di #KalebTrip lainnya! 😀

Our Christmas

MERRY CHRISTMAS 2015!

May this Christmas brings you joy and happiness! :*

Natal kali ini senang banget karena tanggal 24 Desember tanggal merah. Setidaknya nggak perlu buru-buru dari kantor untuk pulang ke rumah dan lanjut ke Gereja. Karena sekarang udah ada Kaleb (hey, it’s Kaleb’s first christmas!) jadi untuk malam natal, kita nggak ikut kebaktian yang malam jam 19.30, melainkan yang sore jam 16.30. Ini supaya selesai kebaktian Kaleb bisa langsung makan malam dan nggak cranky karena belum masuk jam tidurnya.

Anyway, untuk malam Natal kali ini kita punya tema untuk baju kita *penting gila lo, Mak! Hahaha*. Temanya rock n roll jadi kita pake baju hitam putih. Uwyeah! Sebenarnya nggak khusus beli baju untuk natal, sih. Kebetulan pas ngubek-ngubek lemari, ada satu baju Kaleb yang belum dipake dan warnanya hitam putih. Yuk, cusss orang tuanya ngikut karena warnanya gampang dicocokin. Hihihi!

Selfie dulu di gereja

Selfie dulu di gereja

Momma and son

Momma and son

Our black and white outfit. Rock n roll enough?

Our black and white outfit. Rock n roll enough?

The in-laws

The in-laws

Selesai kebaktian, kita langsung cuss ke mall terdekat untuk makan. Secara kerempongan mempersiapkan bayi yang heboh merangkak, nggak mau ditinggalin emaknya, plus harus masak makanan doi bikin kita jadi lupa (atau nggak bisa) makan seharian, apalagi harus masak. Kita makan di resto Bale Lombok dengan ganas karena lapar banget. Tepat jam 9 malam pulang ke rumah karena mata Kaleb udah kriyep kriyep minta bobo.

Paginya seperti biasa tentu heboh dengan ngurus Kaleb sampai akhirnya pas jam udah mepet, Kaleb udah rapi jali, udah makan, tapi orang tuanya belum mandi dan belum makan. Akhirnya cuma dalam waktu setengah jam kita pun selesai dan berangkat ke gereja. Teteep telat dikit dan akhirnya duduk di luar gereja.

Untuk orang yang buru-buru banget, lumayanlah muka nggak sampe ancur minah banget.

Untuk orang yang buru-buru banget, lumayanlah muka nggak sampe ancur minah banget.

Karena duduk di luar dan panas, plus biasanya habis makan itu adalah jam tidurnya Kaleb, Kaleb pun mulai cranky. Papanya harus bawa dia jalan-jalan sampai dia ketiduran. Tapi ya karena udara panas banget, tidurnya Kaleb pun nggak lama dan kebangun lagi.

Di hari Natal ada perjamuan kudus jadi jam kebaktian lumayan panjang dan sampai siang. Untungnya kita duduk di luar jadi pas perjamuan kudus maju ke depan, kita dapat urutan awal. Habis perjamuan kudus kita pun langsung pergi karena udah jam makan siangnya Kaleb. Kita makan di resto Kemangi. Ehm, Kaleb sih yang makan, orang tuanya cuma ngemil gorengan.

Oh ya, untuk Natal kali ini, temanya pink. Nggak ada baju baru sama sekali karena pas lihat lemari kok ada baju yang warnanya senada. Plus suami dan Kaleb punya kemeja kotak-kota pink. Serasi, yes!

Our pinky outfit for christmas day

Our pinky outfit for christmas day

Setelah Kaleb makan, kita langsung pulang ke rumah karena badan kita rontok, capek, laper, dan tepar, plus cuaca panas banget. Ngurus bayi emang paling tepat untuk bakar kalori. Di rumah, Kaleb malah energinya makin terkumpul, heboh merangkak sana-sini. Emak bapaknya udah mau pingsan. Akhirnya kita matiin lampu dan cuekin dia biar dia bosen dan tidur. Voilaaaa, Kaleb pun ketiduran. Lumayan banget kita bertiga bisa tidur siang 2 jam dan ngisi energi lagi.

Setelah bangun, kita pun siap-siap untuk Natalan ke rumah mertua. Pas sampai rumah mertua, yah rumahnya kosong karena lagi pada ada acara semua. Akhirnya kita ke PIM karena saya dan suami mau pingsan belum makan seharian. Help! Tentu supaya emosinya bagus, pilihlah makanan kesukaan berkalori tinggi *lah, sama aja tadi udah bakar kalori masuk lagi kalorinya hihihi*. Pilihan jatuh ke The Kitchen by Pizza Hut. Konsepnya baru, jadi langsung pesan di kasir. Slice-nya gede banget. Untuk harga ya nggak beda jauh sama Pizza Hut biasa. Untuk pizza-nya model yang tipis. Ai laik!

Taking pic with my own little santa

Taking pic with my own little santa

Waktu mau kasih makan Kaleb, eh pas buka tempat makannya tercium bau nggak enak. Uh! Kayaknya udah nggak segar lagi, deh. Hiks! Mau nggak mau jadi keluar resto, dan menuju supermarket untuk beli sereal. Setelah beli, masuk lagi cari resto lain untuk Kaleb makan. Rempong bin ribet. Tapi ya mau nggak mau anaknya harus makan karena udah jam 7 malam. Setelah Kaleb makan dan puas keliling bentar, kita pun pulang karena udah jam tidurnya Kaleb.

Kesimpulannya: Natalan pertama bersama bayi yang udah makan itu rempong banget (tapi tetap menyenangkan asal disertai kesabaran dan energi setinggi Gunung Himalaya).

Tanggal 26 Desember direncanakan kita akan menginap di Mandarin Oriental Hotel. Papa saya dapat voucher menginap di kamar tipe suite, yang mana gedeee banget kamarnya. Ada satu kamar, satu ruang tamu, dan kamar mandi yang gedenya bahkan ngalahin kamarnya. Wuih senang banget! Tapi sayang, di hotel sebesar itu kolam renangnya mini banget, plus dalam. Jadi anak-anak harus pake ban.

Christmas staycation

Christmas staycation

with the family

with the family

view ke bundaran HI

view ke bundaran HI

Happy banget dapet tempat tidur super besar

Happy banget dapet tempat tidur super besar

Kaleb seneng banget berenang. Saking senengnya dia ga suka pake ban karena gerakannya jadi terbatas.

Kaleb seneng banget berenang. Saking senengnya dia ga suka pake ban karena gerakannya jadi terbatas.

Pagi-pagi ikut CFD. Kaleb yang lagi nggak suka pake stroller ngamuk, tapi begitu ada pengamen doi anteng dengerin pengamen nyanyi. Habis itu lanjutlah ngamuknya. Haha.

Pagi-pagi ikut CFD. Kaleb yang lagi nggak suka pake stroller ngamuk, tapi begitu ada pengamen doi anteng dengerin pengamen nyanyi. Habis itu lanjutlah ngamuknya. Haha.

Foto wajib di Bundaran HI

Foto wajib di Bundaran HI

Walau liburan kali ini nggak sempurna karena ada musibah yang terjadi sehingga Bapa dan Mama harus pulang ke rumah dan suami bolak balik antara rumah dan hotel, dan kita semua jadi nggak bisa tidur, tapi lumayan untuk menutup rangkaian Natal kali ini. Semoga musibah ini menjadi awal adanya kebaikan-kebaikan lain yang terjadi tahun depan. We’re still happy and thankful anyway!

Selamat Natal semuanya. God bless you all! :*

Ke Bandung Lagi Yuk!

Setelah trauma pergi ke Bandung dengan bocah karena sepanjang jalan ngamuk, tepat di usia 7 bulan, kami ke Bandung lagi (helloooo, mana katanya 1000 tahun lagi baru mau jalan-jalan? Hihihi). Dengan suksesnya perjalanan ke Puncak tempo hari; selama di jalan selalu tidur, malam hari anteng, anak happy; maka emaknya kembali pede membawa anaknya ke luar kota lagi. Kalau sebelumnya ke Bandung 2 hari 1 malam, maka kali ini 3 hari 2 malam dalam rangka wisudaan si adik di ITB.

Nggak kayak sebelumnya yang heboh, justru persiapan kali ini santai banget soalnya saya lagi sibuk di kantor. Nyusun baju dan peralatan perang Kaleb aja baru malam sebelumnya. Pulang kantor, mampir ke supermarket, dan malam itu juga masak makanan MPASI buat 3 hari 2 malam. Sambil masak, sambil cobain kebaya yang mau dipake, dan berakhir….nggak jadi pake kebaya karena ketat banget dada eike sekarang. Trus nanti jadi susah susuinnya (iyeee, pede aja pergi nggak bawa ASIP), jadi diputuskan pake dress aja.

Rencana awal adalah pergi pas pagi hari disesuaikan dengan jam tidur Kaleb. Apa daya karena perginya dengan orang tua dan adik, yang mana jadi triple rempongnya, plus sebelum berangkat ke salon dulu karena di sana nggak tahu salon apa yang bagus, berakhir berangkat jam 12 siang. Ngapain bangun pagi-pagi kalau gitu? Zzz!

Untungnya perjalanan dari Jakarta ke Bandung cukup lancar. Sempat mampir di rest area untuk makan. Ehm, Kaleb pun ikut makan dan kemudian berakhir ngamuk dengan suara menggelegar ke seantero KFC *tebal muka*. Tapi secara keseluruhan, walau Kaleb udah mulai aktif banget dan nggak bisa diam di mobil, perjalanan berlangsung lancar.

Halooooo Bandung!

Di Bandung istirahat sebentar untuk mandiin si bocah. Lalu kemudian ke ITB untuk mengikuti acaranya si adek. Acaranya kayak pensi gitu sih. Mungkin pelepasan untuk senior-senior yang lulus. Seperti biasa, Kaleb tebar pesona senyum sana-sini sampai akhirnya dia beredar dari satu tangan ke tangan lainnya. Anaknya mah happy aja digendong mulu, ibunya yang ketar-ketir takut ada yang sakit dan nular ke dia.

Di pertengahan acara karena perut udah meronta lapar, maka kami sekeluarga pun cus ke restoran Braga Permai. Kabarnya restoran ini menjadi semacam legenda karena udah ada dari jaman baheula dan makanannya enak. Daerah Braga sendiri jadi salah satu favorit saya karena tampilannya yang vintage. Ternyata sekarang Braga makin cantik dengan banyak bangku di trotoar sehingga bisa duduk. Malah sepertinya Braga ini makin mirip Legian.

Waktu makan sekitar jam 8 malam dan kami dapat antrian ke-5. Uwooow kenapa rame sekali? Apakah makanannya super enak? Yang pasti banyak bulai-bulai yang makan di sana juga. Untungnya untuk sampai ke giliran nggak terlalu lama, nggak sampe 30 menit.

Restorannya terlihat jadul semuanya. Bangunannya, interiornya, mejanya, peralatannya. Kayak balik ke masa lampau banget. Tapi semua dijaga dengan bersih dan rapi. Di sana kalau air putih gratis dan bisa refill. Ditambah lagi tiap meja dapat roti/cemilan gratis kalau nunggu. Senang banget lah saya dan keluarga yang tiap ke restoran pasti minum air putih dan nggak jadi bete kalau nunggu pake cemilan. Hahaha. Untuk makanan porsinya besar banget. I kid you not! Itu porsi kayaknya buat makan tengah deh, bukan untuk makan sendiri. Sampe kami pun harus bungkus banyak makanan karena porsinya kebanyakan.

Di sana waitressnya ramah banget sama anak kecil. Kaleb kan bosen duduk di baby chair jadi lumayan ribut lempar-lempar mainannya dan kemudian nangis. Tapi mbaknya malah ngajak ngobrol Kaleb, lalu ngambilin mainannya yang jatuh. Ih, aku kan jadi bahagia.

Untuk rasa makanan sendiri sebenarnya biasa aja, sih. Kayaknya kurang meninggalkan bekas di hatiku, tapi karena porsinya besar dan bikin kenyang dan total makan untuk 4 orang cuma Rp 190.000-an, dengan air putih gratis, maka kesannya manis buat resto ini. Hihihi.

Lihat betapa jadul dan otentiknya Braga Permai

Lihat betapa jadul dan otentiknya Braga Permai

Tibalah di hari wisuda. Orang tua berangkat duluan karena wisuda dimulai jam 07.30. Saya dan adik saya masih bisa sarapan dulu, Kaleb lanjut tidur lagi habis makan pagi, kemudian kami bertiga pun bobo bareng. Hahaha! Habis itu karena janjian bakal dijemput oleh temannya si adek yang wisuda jam 10.00, maka saya pun mandi jam 09.00. Eh, jam 09.30 temannya udah datang. Ya udah deh, kami pun kebutan dandan dan pake baju, plus bangunin Kaleb untuk pakein baju dia. Cranky dong ya bok anaknya lagi pules tidur dibangunin dan dipakein baju. Untungnya Kaleb gampang dihibur kalau liat orang baru jadi dia happy lagi.

Untung banget perjalanan ke Sabuga nggak macet. Mungkin karena orang-orang pada datang pagian, ya. Nah, di Sabuga sendiri udah penuh lautan manusia, dan kami nggak bisa masuk ke dalam karena undangan cuma buat orang tua. Jadi ya nunggu lah di luar panas-panasan. Yasalam banget deh, udah dandan kece, berakhir nongkrong di lantai juga. Hahaha!

Tampaknya wisuda ITB ini banyak printilannya. Jadi kalau orang tua udah keluar, masa nggak bisa masuk lagi. Plus, si wisudawan habis diwisuda langsung ada prosesi arak-arakan di kampusnya. JADI KAPAN KITA POTO-POTONYA? *buang bulu mata palsu*

Di tengah terik matahari membara, kita pun maksa si adek buat keluar dari ruangan buat foto-foto kilat. Bok, kan udah pake baju kece dan dandan ciamik harus ada foto kan, ye (walau mood sih udah berserakan di mana-mana). Belum lagi Kaleb udah cranky karena saya pake dress jadi nggak bisa susuin dia dan dengan tololnya nggak bawa ASIP. Huhuhu!

Foto kilat di tengah panas terik dan perut lapar. Mayan lah ya hasilnya.

Foto kilat di tengah panas terik dan perut lapar. Mayan lah ya hasilnya.

Setelah proses foto-fotoan kelar, saya langsung kabur beli air mineral buat Kaleb dan bener aja anaknya haus banget. Habis itu ke mobil buat ganti baju dan langsung susuin Kaleb. Lega bener deh udah ngelepas dress. Dikira habis itu bakal makan siang dong, ya. Eh si Mama pengen nonton arak-arakan wisudawan. Sementara saya udah pake yukensi dan celana dedek gemetz. Ahelah, malu amat keliaran di ITB pake baju begitu sementara yang lain pastinya berkebaya dan pake baju formal. Tapi Mama bilang nggak papa, karena dia juga udah pake baju casual. Jadilah dengan segenap sisa urat malu yang putus, saya berkeliaran di acara wisuda ITB dengan yukensi dan celana pendek. HAHAHA!

Setelah arak-arakan selesai, kami pun meluncur ke Cafe Halaman yang dekat ITB untuk makan. Udah hampir jam 3 dan Kaleb belum makan. Kasihan! Di Cafe Halaman, tempatnya outdoor semua dan semuanya area smoking. Ya bayangin aja, udah pilih tempat terpencil di ujung, eh tetep lho kecium bau rokok. Nyebelin! Jadinya makannya cepat-cepat dan habis itu langsung cus!

Kami pun beranjak ke FO di sekitar jalan Riau. Seperti biasa saya langsung meluncur ke bagian baby dan lumayan dapat beberapa kaos Kaleb dengan kualitas oke dan harga murce. Tapi dasar ibu-ibu labil, untuk belanjaan yang nggak seberapa, saya bisa lamaaaa banget di FO sampai anaknya super cranky dan minta digendong terus. Hihihi.

Habis puas belanja di FO, kembali lagi jemput si adek di ITB dan berakhir makan martabak San Fransisco yang terkenal. Emang sih endeus banget itu martabak. Nggak terlalu manis dan kulitnya crispy. Welcome, lemak-lemak di tubuh! XD

Hari terakhir di Bandung diawali dengan bangun kesiangan semua. Hahaha. Setelah itu santai-santai sarapan sambil beres-beres dan baru keluar menjelang makan siang. Mana tadinya yang bilang jam 12 harus udah menuju Jakarta. Gagal pisan, deh!

Saya yang dari hari pertama udah sounding makan di Miss Bee Providore pun keukeuh siang itu harus ke sana. Apalagi sebenarnya tempat nginep dan Miss Bee tuh deketnya nggak sampe 5 menit. Untungnya seluruh keluarga setuju.

Sampai sana, rameeee banget mobil-mobil. Pak Satpam udah mengingatkan bahwa waiting list udah 10. APAAH! Tempat apa ini sampai ramenya begini amat! Ya udahlah, karena kata Mama kalau kepengen jangan ditunda, jadi harus dijabanin.

Untungnya di sana tempatnya kece buat foto-foto. Mayan deh menyalurkan bakat supermodel terpendam *uweeek*. Tempatnya pun udah didekor dengan tema Halloween. Tentunya Kaleb diberdayakan untuk foto-foto, ya. Untung anaknya manis, punya emak gini dia sabar aja. Hahaha. Oh ya, di sana ada kandang kelinci juga. Pas lihat kelinci, Kaleb udah mau manjat aja.

IMG_2552

IMG_2553

Ada photobomb di belakang hahaha

Ada photobomb di belakang hahaha

Mommy, aku pengen manjat buat kejar kelinci itu, deh

Mommy, aku pengen manjat buat kejar kelinci itu, deh

Santai dulu kita di rumput

Santai dulu kita di rumput

Aku suka labuuu!

Aku suka labuuu!

Foto wajib depan rumah kaca

Foto wajib depan rumah kaca

Butuh kira-kira sejam untuk sampai duduk di meja makan. Nah, dari awal saya kan udah minta baby chair karena Kaleb mau makan. Tadinya bahkan pas nunggu, Kaleb mau dikasih makan aja. Tapi apa daya, baby chair kepake semua. Jadilah saya wanti-wanti begitu ada baby chair yang kosong tolong dikasih.

Sampai kami dapat tempat duduk pun baby chair-nya nggak ada karena untuk restoran sebesar itu baby chair cuma ada 3. Dengan asumsi, ada playground buat anak-anak, harusnya emang tempat itu merupakan restoran keluarga kan, ya. Ya masa baby chair cuma 3!

Akhirnya karena saya lihat di meja sebelah ada anak yang udah selesai makan, tapi masih duduk di baby chair, saya pikir nggak kepake lah ini baby chair dia. Apalagi si anak ada baby sitter yang gendongin dia mulu. Maka saya pun minta ijin untuk pake baby chair dia. Nah, ini masalah barunya. Baby chairnya terbuat dari kayu dan besar. Kalau dipandang sih kelihatan klasik, ya. Tapi sesungguhnya nggak terlalu aman buat baby. Karena terbuat dari kayu dan besar, serta nggak ada safety belt, untuk anak bayi kemungkinan buat merosot besar. Selain itu, karena terbuat dari kayu pula, Kaleb dengan suksesnya kepentok dan jadi nangis. Hufft! Ini kalau ada manajemen Miss Bee yang baca, tolong deh beli aja baby chair IKEA yang nggak mahal, tapi jelas aman. Duh!

Selain masalah baby chair, overall tempatnya oke, instagram-able, dan makanannya enak dan cukup affordable. Agak mahal untuk ukuran Bandung, tapi dibanding ukuran Jakarta jadi kelihatan murah.

Habis makan di Miss Bee, saya sempat mampir buat beli bubble tea dong, ya. Sementara padahal kita sedang menuju ke lapo untuk makan siang tahap dua. Udah, timbangannya mah dibuang aja ke laut. Hahaha! Dan bener aja, habis itu saya makan babi panggang sepiring. BEGAH! Kayaknya habis ini saya harus puasa 7 hari, deh *boong banget, malamnya sebelum tidur udah lupa dosa lemak, jadi bikin mie instan. hahaha*

Dengan perut yang membesar dan timbangan yang kira-kira naik, maka berakhirlah jalan-jalan ke Bandung ini. Kaleb lulus dengan baik lho jalan-jalan kali ini (kalau kata Mama, ini kayaknya Kaleb hobi jalan-jalan, deh)!. Yuk, beliin tiket ke Bali, dong. Hihihi.

Menuju Puncak

Weekend lalu saya dan keluarga liburan ke Puncak dalam rangka arisan keluarga besar. Untuk liburan yang dekat macam gini aja saya udah ketar-ketir dan sempat nggak mau ikut karena masih trauma dengan liburan ke Bandung waktu itu di mana Kaleb nggak bisa tidur semalaman dan cranky sepanjang perjalanan. Bukannya liburan yang ada badan encok, emosi break down!

Setelah labil antara mau ikut dan nggak ikut, akhirnya diputuskan ya udah lah ikut aja. Keinginan buat menghirup udara segar lebih besar daripada traumanya. Udah jauh-jauh hari sebelumnya saya mempersiapkan hati kalau si bocah ngamuk dan nggak tidur semalaman. Pokoknya ente ajak begadang, aye jabanin, cah!

Walaupun cuma nginep semalaman, namanya bawa bayi, plus udah makan, maka bawaannya menjadi segudang. Semuanya barang bocah, termasuk 1 koper khusus baju dan perlengkapan bocah, termasuk semua mainan kesukaannya (saya bahkan khusus beli mainan baru supaya Kaleb masih excited maininnya pas di jalanan nanti), selimut dan bantal yang biasa dia pake, baby bather, ban renang, car seat, stroller, dll. Barang saya dan suami nyempil aja karena cuma bawa backpack.

Belum lagi sehari sebelumnya, saya udah masak makanan Kaleb untuk 2 hari, dimasukin ke freezer, sehingga nanti tinggal dipanaskan aja. Tapi nggak lupa bawa sereal, jaga-jaga kalau Kaleb nggak mau makan makanan frozen. Nggak lupa bawa snack bayi untuk di jalan.

Sebanyak ini semua barangnya si bocah

Sebanyak ini semua barangnya si bocah

Dari rumah, Kaleb udah dikasih makan dulu dan langsung dimandikan. Biasanya habis mandi adalah jam tidurnya dia. Sengaja dipaskan dengan waktu berangkat supaya dia anteng di jalan tidur. Jam 07.30 berangkat dan Kaled tidur dengan nyenyaknya sepanjang jalan. Begitu keluar tol mau masuk ke Puncak, sekitar jam 09.00, eh ternyata jalurnya ditutup dan baru buka jam 09.30. Duile, nggak akurat banget ini info buka tutupnya. Untung cuma 30 menit aja nunggunya. Kaleb sempat kebangun dari tidurnya langsung saya susuin dan setelahnya saya pindahkan ke car seat untuk main-main. Kenyataannya, dia tidur lagi. Hihihi.

Tidur terus selama perjalanan

Tidur terus selama perjalanan

Ketika hampir mau masuk Puncak Pas, Kaleb terbangun dengan segarnya. Di saat inilah waktu yang tepat untuk mengeluarkan cemilan biar dia sibuk makan, plus habis itu susuin lagi. Tapi ya karena dia udah tidur selama 2 jam lebih jadi kemungkinan dia tidur lagi sih kecil. Untungnya nggak lama kemudian, kita sampai ke Villa. Total perjalanan memakan waktu 3 jam. Lama sampainya karena ada jalur buka tutup dan ada perbaikan jalan di Puncak.

Beberapa hari sebelumnya, saya udah minta ke panitia supaya kamar saya jangan digabung dengan anak kecil karena Kaleb gampang sekali kebangun, plus anaknya suka excited kalau banyak orang. Yang ada dia nggak bakal tidur.

Hari itu berjalan lancar. Kaleb banyak main dengan sepupu-sepupunya dan keluarga besar lainnya, murah senyum, nggak ngambek. Manis amat sih ini anakku! Menjelang sore, Kaleb makan sereal karena ternyata dia nggak suka frozen puree. Untung udah bawa dari rumah. Setelah makan, Kaleb nggak mandi, tapi dilap pake air hangat, dioles banyak minyak telon di seluruh tubuh, pake jumpsuit kaki tertutup, dan pake jaket. Udara Puncak makin malam makin dingin. Menjelang malam malah Kaleb ditambah pake selimut kalau digendong biar makin hangat.

Sekitar jam 9 Kaleb mulai ngantuk, jadi saya dan suami skip acara keluarga yang masih berlangsung dan nemenin Kaleb tidur. Bisa aja sih kami ikut acara keluarga tapi karena villanya lumayan besar dan kamarnya terletak di lantai 2 ujung jadi takut Kaleb kebangun tapi nggak kedengeran. Sebenarnya udah mulai deg-degan mengingat liburan sebelumnya Kaleb nggak bisa tidur semalaman. Puji Tuhan kali ini Kaleb bisa tidur nyenyak dan hanya kebangun untuk nyusu. Horee! Bahkan saking nyenyaknya tidur, dia bangun telat. Hihihi.

Hari kedua, Kaleb bangun pagi, keliling villa, sarapan, dan main-main lagi. Anaknya anteng banget sampai disukai semua orang. Ih, mami kan jadi GR! Sebelum pulang ke Jakarta, Kaleb dikasih makan sereal lagi.

Tepat jam 13.00 ada gosip kalau jalur ke Jakarta udah satu jalur jadilah kami ngesot pulang. Eh, baru keluar gerbang villa sudah ditelepon kalau jalurnya belum dibuka dan sekarang masih dua jalur. Sebenarnya saya sih keukeuh aja tetap jalan, toh masih bisa jalan karena 2 jalur. Tapi karena diteleponin terus suruh balik takut macet, plus suami ngecek google maps dan diperkirakan perjalanan memakan waktu 3 jam jadi akhirnya kita muter balik.

Daripada balik ke villa lagi, akhirnya kami mengunjungi Kampung Brasco. Di sana ada FO yang barang-barangnya biasa aja dan saya nggak beli apa-apa. Lalu kami makan di Nicole’s Kitchen and Lounge yang lagi beken itu. Kami makan di Nicole’s lounge di lantai atas. Tempatnya luas dan didominasi warna putih. Untuk makan di luar, dikenai minimum charge Rp 300.000-Rp 500.000. Secara bawa bayi dan di luar dingin, ya pastinya mending pilih makan di dalam aja. Waktu itu, kami pesan jus melon tanpa gula dan es untuk Kaleb dan pizza untuk kami berdua. Secara harga cukup reasonable. Nggak kemahalan kayak cafe di Jakarta.

Jam 14.30, kami langsung jalan menuju Jakarta karena jalur satu arah akan dibuka pukul 15.00. Harapannya jalanan lancar, ya. Kenyataannya semua orang berpikir sama kayak kami jadi pada pulang jam segitu juga. Yang ada macet! Yaelah, tau gitu mah pulang dari tadi aja nggak usah nunggu buka jalur. Zzz!

Untungnya karena udah tepar main mulu, selama perjalanan yang memakan waktu 3,5 jam itu (dih, malah lebih lama dari perkiraan google maps tadi), Kaleb tidur mulu! Senang banget karena nggak ada drama tangisan bayi meraung-raung! Akibatnya begitu sampe rumah badan nggak terlalu capek dan hati damai.

Liburan kali ini sukses banget, deh! Jadi liburan ke mana lagi kita? *lupa trauma Bandung* XD

Ada yang kesenangan main basket lagi

Ada yang kesenangan main basket lagi

Can you spot Kaleb?

Can you spot Kaleb?

Anaknya manyun aja sih?

Anaknya manyun aja sih?

Mampir ke Nicole's Lounge

Mampir ke Nicole’s Lounge

Tepar tidur 4 jam di mobil

Tepar tidur 4 jam di mobil