Drama Tantrum Kaleb

Akhirnya masa-masa anak kicik manis penurut tergantikan juga dengan masa TANTRUM. Selamat datang anak guling-guling sambil ngamuk teriak-teriak ketika keinginannya tak terpenuhi *mamak pijat kepala*.

Kayak pagi ini, anaknya tantrum pas saya lagi mau berangkat kerja. Mana udah telat lagi karena bangunnya kesiangan *huft* Pas saya siap-siap Kaleb masih tidur nyenyak kayak malaikat. Lalu bapake selesai mandi dan mau ganti baju jadi nyalain lampu (tidur selalu dengan lampu dimatikan). Anaknya kebangun dan minta lampu dimatiin. Baiklah, bapake matiin lampu.

Kemudian datanglah saya yang gantian mau pake baju habis mandi, nyalain lampu. Anaknya nyuruh matiin lampu, tapi karena saya nggak bisa lihat apa-apa dan sebagai cewek ribet kan ya harus milih baju dulu, dandan dulu, pake softlens, dan seabrek kegiatan lain yang manalah bisa dilakukan dengan keadaan mati lampu. Akhirnya saya bujuk-bujuk, anaknya minta susu. Diambilin susu, tapi dia nggak mau. Lanjutlah dengan serial ke-cranky-annya. Ngamuk-ngamuk, saya nggak boleh dandan, minta digendong terus. Akhirnya batal lah dandan dan sisiran, udahlah entar aja. Matiin lampu kamar aja biar anaknya tenang. Tenang, dong?

Tentu tidak.

Anaknya karena udah cranky lanjut dramanya. Minta saya tidur aja nemenin dia, mamak nggak boleh kerja. Lanjut ngumpet di balik gorden, nutup pintu kamar, guling-guling marah, dibujuk apapun nggak mau. Pening!

Kalau lagi cranky gini, saya sebisa mungkin tetap tenang dan nggak terpengaruh. Karena semakin kita emosional, dia akan makin parah ngamuk-ngamuknya. Biasanya saya akan bilang, “Kalau Kaleb udah selesai ngamuknya, Kaleb datang ke Mami bilang Kaleb kenapa, ya.” trus ya udah saya biarin dia nangis aja sampe keluar semua emosinya. Tapi berhubung ini pagi-pagi, udah telat, dan dia pake tantrum segala, mau nggak mau saya bujukin. Berhasil? Ya gagal, dong.

Mau saya gendong tapi dia terus meronta-ronta jadi nggak bisa digendong. Dibujuk bapake juga gagal. Ya udah saya pura-pura mau pergi keluar, eh dia keukeuh di dalam. Kuat-kuatan aja sih kalau kayak gini. Saya bertahan di luar beberapa saat, sampai akhirnya dia ke luar juga. Pas di luar lanjut tantrumnya. Dia guling-guling di pagar depan rumah sampe diliatin tetangga. Hohoho.

Prinsip paling penting dalam menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, percaya diri, dan tidak jadi panik yang akhirnya malah bikin anaknya merasa bisa menguasai kita. Jadi saya santai aja bilang, “Mami tunggu Kaleb di mobil, ya.” Pada akhirnya bapake sih yang gendong anaknya ke mobil. Hahaha. Di mobil dia dipeluk dan lebih tenang. Huft sungguh drama pagi.

Kemarin di twitter ramai banget karena ada yang bilang kalau anak-anaknya ngamuk tolonglah diurusin karena ganggu sekitarnya. Orang yang bilang belum punya anak. Ehehehe. -_-*

Sungguh lho kalau ada pilihan ibuk-ibuk juga males banget ngadepin anak tantrum. Belum lagi kalau tantrum di tempat umum pasti lah orang-orang akan menghakimi, malu, dan panik karena sebagai orang tua kita juga merasa akan mengganggu ketenangan sekitar, nih. Pressure banget!

Tapi yang bisa kita lakukan cuma tenang dan nggak panik, abaikan tatapan menghakimi orang lain. Salah satu cara biar anak tantrum tenang adalah ya didiamin aja. Tunggu mereka tenang, barulah kita bisa ngomong. Bisa juga sih kita ajak dia ke tempat yang lebih sepi. Tapi kalau kasusnya kayak Kaleb, dia jadi susah digendong karena meronta-ronta dan menggeliat sehingga saya kehilangan keseimbangan dan bisa bikin dia jatuh. Ribet cuy mindahinnya.

Perlu dicatat, tantrum itu bukan karena anaknya bandel atau nggak diajarin, ya. Tantrum itu emang proses yang biasanya akan dialami anak seumuran Kaleb atau pas balita karena mereka nggak ngerti bagaimana harus mengekspresikan emosi yang mereka rasakan karena rasanya campur aduk, plus mereka pengen cari perhatian biar keinginannya diturutin. Masalahnya, nggak semua hal bisa diturutin, kan. Jadi janganlah menganggap anak tantrum itu nakal, atau orang tuanya nggak becus ngurusin anaknya.

Sejak punya anak dan tahu hal seperti ini, setiap melewati ibu yang lagi membujuk anak tantrumnya saya cuma akan senyum sama ibunya dan ya udah lewat aja. Nggak pasang muka terganggu. Si ibu pun akan lebih tenang menghandle anaknya sehingga tantrum anaknya akan cepat selesai.

Jadi ada yang anaknya suka tantrum juga? Tos yuk!

Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Drama Hari Pertama Kerja

Haiiii, gimana liburan Lebarannya?

Sebelumnya mau mengucapkan,

“Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf kalau ada yang salah ucap di blog ini. Kita mulai dari 0 lagi, ya.” *semacam iklan bensin*

Libur Lebaran saya nggak ke mana-mana. Memang nggak pernah ke mana-mana sih biasanya kalau Lebaran karena tiket mahal, di luar kota macyeeet, nitipin anjing susah karena pet shop penuh, dan mau menikmati Jakarta yang sepi sehingga bisa ke mana-mana. Yihaaa!

Lebaran kali ini sungguh bahu-membahu sama suami dalam membereskan rumah dan jaga Kaleb. Dari yang sayang-sayangan, marah-marahan, kesal-kesalan, balik lagi ke sayang-sayangan. Sungguh ujian fisik dan mental saat bersama balita, ya. Hahaha.

Anyway, mau cerita tentang drama hari pertama masuk kerja. Jadi karena ART pulang, full deh bareng Kaleb 24 jam selama 9 hari penuh. Mayan loh. Mayan menguras emosi; pagi bangun peluk-pelukan, cium-ciuman, oh anakku paling manis sedunia. Siangnya mulai rusuh non-stop, rambut berdiri, makan susah, barang-barang diberantakin, ngomong harus pake volume maksimal, hukuman diberlakukan. Sorenya, daripada kepala butek, bau ketek nggak sempat mandi, yuk cus jalan-jalan ke luar rumah biar hati adem dan anak senang. Malam, balik peluk-pelukan lagi. Tiap hari begini. Hahaha.

Dua hari sebelum masuk udah sounding ke Kaleb nanti Mami masuk kerja, Kaleb sama Opung lagi, ya. Anaknya masa bodo. Satu hari sebelumnya, sounding lagi. Anaknya cuma bilang, “Kaleb mau ikut kerja aja”. Tapi masih santai anaknya. Oke deh.

Oh ya, Kaleb ini tipe anak yang selow santai no baper. Dari kecil ditinggal kerja, saya selalu pamitan dengan dia, jarang banget nangis, apalagi teriak-teriak. Yang ada dia malah dadah-dadah, “Dadah Mami, Dadah Papa.” trus bodo amat main lagi. Sebagai orang tua langsung hidung kembang kempis anaknya bukan tipe yang selalu nangis kalau orang tua kerja. Tenang banget lah ninggalin ke kantor jadinya.

Nah, tapi kan Kaleb mulai besar dan mulai paham. Sembilan hari penuh sama orang tuanya pasti bikin makin tak terpisahkan. Dimulai dari pagi, dia mulai merengek ketika saya lagi siap-siap. Seperti biasa, saya nyalain lampu dan matiin lampu tidur. Yang ada anaknya keukeuh lampu tidur harus nyala dan lampu kamar mati. Minta peluk, minta gendong, maunya di kamar aja.

Sampai akhirnya saya pake sepatu kerja, dia langsung tantrum.

“MAMIIII, LEPAS BAJUNYA!”

“MAMIIIII, JANGAN PAKE BAJU INI. PAKE BAJU BOBO AJA.”

Yang tadinya saya biasa aja, kan ya sedih juga. HUWAAAAA, pertahanan retak-retak juga. Akhirnya saya ikutan nangis. Anaknya makin nangis lah. Yang biasanya senang kalau diajak naik mobil, kali ini di mobil minta turun. Bahkan mau ke setir bapaknya dan minta balik terus. Diajakin mampir ke Alfa beli susu pisang, tetap nggak mau. Dikasih nenen yang biasanya berhasil, dia tolak. Tough!

Sampai akhirnya di rumah Opung, dia makin menjerit.

“NGGAK MAU KE SINI! MAU KE RUMAH KALEB AJA!”

Dia langsung ngumpet di bawah setir sambil teriak-teriak nangis. Duh, berat cuy bujuknya.

Akhirnya karena nggak sanggup gendong meronta-ronta terus, minta bapaknya yang angkat dia dari mobil. Dramanya sungguh luar biasa, di pintu rumah dia guling-guling di lantai nangis. Segala bujuk rayu gagal.

Saya pun harus pasang muka lempeng lagi pas pamitan, “Kaleb, Mami pergi kerja dulu, ya. Nanti malam Mami pulang kita main lagi.” cium keningnya, melangkah ke luar rumah like a hero! No turning back!

Padahal hati mah udah patah seribu dan rasanya pengen langsung sms bos bilang, “Bos, anak eike ngamuk nggak mau ditinggal kerja, saya nggak masuk hari ini, ya. Bhay!” Apa daya, cuti tinggal dikit cuy!

Jadi di mobil berangkat ke kantor sedih-sedihan. Eh, sejam kemudian dikirimin foto sama Opungnya, anaknya lagi main mobil-mobilan, udah mandi, sambil ketawa lebar.

Sungguh anakku drama. Trus emaknya terbawa drama anaknya pula!

Ayo sini, ibuk-ibuk yang kerja gimana hari pertama ninggalin anak lagi di rumah? Ada drama juga nggak?

 

Tentang Etika dan Bahasa Alay

Salah satu alasan saya mengajarkan Kaleb berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah di jaman sekarang saya lebih gampang nemu ABG yang nulis alay sampai saya nggak paham maksudnya, daripada berbahasa Indonesia. Saya pernah jadi anak alay sih (WHO DIDN’T? HAHAHA) yang simpan kontak di HP dengan huruf besar dan kecil. TAPI… saya nggak pernah nulis sms atau kirim surat atau apapun yang berbentuk tertulis dengan bahasa alay, bahkan ke teman sendiri dengan konteks santai. Never. Makanya saya bergidik geli lihat sebegitu ignorant-nya anak-anak ABG sekarang dengan bahasa.

Bukan cuma itu aja. Kalau situasi non formal aja suka geli lihat bahasa alay, sekarang malah ada banyak kejadian di situasi formal. Misalnya, kirim lamaran pekerjaan ke suatu perusahaan. Di body e-mail nggak ada perkenalan atau apalah, nggak ada cover letter. Blank. Kosong. Cuma attach CV. Ini diibaratkan mau minta kerja, tapi nggak sopan caranya. Yang ada e-mail lamaran kerjaan kamu langsung di-delete aja, tanpa dilihat sama sekali.

Ada yang namanya ETIKA, lho dan ini bagian yang penting.

Jadi suatu ketika ada promotor. Promotor ini tampaknya memang baru. Project-nya baru menangani beberapa event artis-artis indo semacam artis GGS untuk fanmeeting. Kemudian mereka melebarkan sayap dan berusaha mendatangkan seorang artis luar negeri. Wuidih, keren dong, ya.

Karena event fanmeeting ini belum ada sponsor, jadi mereka berusaha untuk mendekati fanbase-fanbase si artis ini di Indonesia. Beberapa fanbase punya followers puluhan ribu di Instagram dan masih aktif, yang mana akan jadi peluang untuk si promotor untuk promosi dong, ya.

Masalahnya adalah etika bisnis mereka parah! Parahnya seperti ini (mereka mengirimkan pesan via DM Instagram, padahal jelas di kontak bio fanbase ini ada e-mail resmi):

A: “Min, minta kontaknya, dong.”
–> Ujuk-ujuk datang nanya kontak. Kesel nggak bacanya? Siapa elo, udah nggak kenal, enak aja nanya kontak pribadi. Gini lho, etikanya adalah perkenalkan diri, jelaskan tujuannya dengan baik dan detil, lalu tanyakan dengan sopan adakah kontak yang bisa dihubungi (tapi sebenarnya kalau mau baca dulu, udah ada di bio, sih).
–> Akan lebih baik begini: Hai, nama saya Ani. Saya adalah bagian dari EO yang akan menyelenggarakan fanmeeting Incess pada tanggal 10 Desember 2020 di Monas. Sehubungan dengan fanmeeting ini, kami ingin meminta bantuan untuk promosi. Adakah e-mail atau nomor telepon yang dapat kami hubungi sehingga kami bisa jelaskan dengan lebih detil? Terima kasih untuk perhatiannya. Salam, Ani.

B: “Halo min, followermu ada berapa? Ada yang mau ikut fanmeeting?”
–> Banyaknya followers bisa dilihat di IG. Lah, emang si mimin cenayang tahu followersnya siapa aja yang mau ikut fanmeeting?
–> Kalimat tanya kayak gini juga nggak jelas. Mau apa nanya siapa yang ikut fanmeeting? Mau sekedar tanya aja? Mau kasih free ticket? Mau suruh promoin? Atau apa?

C: “Selamat pagi min, boleh minta bantuannya untuk promosi fanmeeting incess?”
–> Helloooo, ini sapose ujuk-ujuk datang nyuruh promosiin fanmeeting orang? Sekali lagi, kalau mau minta bantuan orang, perkenalkan diri, jelaskan maksud dan tujuan dengan detil, tanyakan kontak resmi agar bisa menulis proposal dengan resmi, dan ucapkan terima kasih.

D: “Tengkio, min.”
–> Bahasa apa itu tengkio? Kalau ngomong ke sesama teman ya suka-suka hati kalianlah. Tapi kalau ini situasi yang formal, apalagi untuk kepentingan bisnis: jangan gunakan bahasa alay. Keep it for yourself. Orang yang dituju nggak perlu tahu di kehidupan nyata kamu alay. Pakailah bahasa yang resmi dan wajar saja, seperti terima kasih. Jangan disingkat-singkat, jangan diganti pake bahasa alay, jangan dicampur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apalagi bahasa alay. NO! DON’T! NEVER!

Logikanya gini ya, kamu meminta bantuan orang, jadilah orang yang sopan. Bukan nggak punya etika langsung nodong orang melakukan sesuatu untuk kamu. PERKENALKAN DIRI itu penting! Emang kalau ada orang nggak jelas siapa dan tujuannya apa, kamu mau bantu? Males, kan?

Kalau untuk kepentingan bisnis (inget lho, promotor ini tujuannya adalah mendapatkan keuntungan materi dari menyelenggarakan fanmeeting) tawarkan imbalan, bisa berupa fee promosi, barter sesuatu, tiket gratis, voucher, diskon, atau apalah. Karena tujuannya bisnis. You HAVE TO thank properly people who help your business. Kamu dapat uangnya, sementara yang promosiin gigit jari aja? That’s unfair.

Jadi tolonglah, kalian boleh muda, kalian boleh masih belia, tapi etika itu harus ada. Apalagi kalau untuk tujuan formal, nggak ada excuse bahwa kalian masih muda, masih baru saja memulai usaha. Belajar, jangan cuek, sopan, PUNYA ETIKA.

Sungguh lho, waktu saya SMP aja, di sekolah saya ada pelajaran surat-menyurat resmi, di SMA pun ada pelajaran administrasi, yang salah satunya berhubungan dengan surat menyurat, apalagi pas kuliah..beuh, banyak banget diajarin soal berbahasa yang baik karena harus banyak praktek ke institusi, interview orang-orang dalam situasi formal, dan ditekankan banget soal beginian. Lagian, seharusnya etika dimulai dari rumah, kan?

Mulai sekarang, yuk belajar buat lebih berbahasa yang baik dan benar. Bahasa alay-mu tolong dipakai buat diri sendiri dan teman-temanmu aja. Bukan buat situasi formal lainnya, ya. Jangan karena kamu hubunginnya lewat sosmed atau e-mail jadi nggak bersikap sopan. Dengan siapapun kita berhubungan, apalagi nggak kenal, coba tolong perhatikan etika yang benar. Sip!

Jadi ada yang mau nonton Incess nggak? XD

 

 

Gosipin Aomike Dengan Pantip

IMG_20170617_200719

Ada yang kangen Aomike nggak?

*lirik kiri kanan*

Banyak yang DM saya suka nanya, “Kak, kapan nulis Aomike lagiiii? Gimana kabar mereka?”. Karena project mereka lagi jarang banget, saya sekarang lebih sering tenggelam di dunia ke-Korea-an *lirik oppa Sung Hoon dan Ji Chang Wook penuh cinta*.

Oke, tapi kayaknya hidup saya nggak bisa lepas dari Aomike, sih. Hahahaha! Sebelum cerita intinya, kita update dulu ya sekarang mereka ngapain aja. Mike lagi sibuk syuting di Cina, Aom masih sibuk dengan entah apalah kerjaannya karena dia lagi nggak syuting, trus dramanya sama Peter Denmann pun nggak keluar-keluar, padahal udah selesai syuting dari tahun lalu. Oh, sama film horor Cina-nya yang tahun lalu syuting di Cina pun nggak muncul-muncul. Kayaknya tahun yang berat buat Mbake Aom karena sampai pertengahan tahun ini belum ada serialnya yang tayang padahal udah selesai syuting semua. Sejauh ini dia juga belum kelihatan lagi syuting drama baru, cuma syuting photoshoot, iklan, samaaa…sibuk sama kafe barunya, Lunar Nuna.

Tapi Aomike never dies ya, jadi sesungguhnya Aomike udah syuting mini series yang sebagian besar produksinya dikerjakan oleh Mike sendiri *uwoooww keren*, tapi lagi-lagi belum tayang karena terhalang Mbake Aom yang masih terikat kontrak eksklusif sama Ch3. Sesudah kontraknya selesai, mini series ini bisa tayang, kok. Jadi, soon!

Selain itu, mereka baru aja ke Maldives. Uwooow, apakah mereka honeymoon? Setengah benar. Karena mereka lagi photoshoot untuk majalah Honeymoon. So prepare for super sexy poses with bikinis and swim suits. Hahahaha!

Oke, segitu aja sih update-nya. Pasti masih kepo mau nanya mereka jadian nggak siiih? Hmm, menurut kalian? πŸ˜‰ Hahahaha. Bayanginnya gini aja deh, they will fight, they will do stupid things (ignore that follow-unfollow thing), they will say they don’t like each other, but they’ll end up together. Karena lihat aja tiap Mike balik ke Thai, siapa sih yang dia temui duluan? Kejawab dong, ya. :)))

Nah, hari Minggu lalu salah satu anggota fanbase @aomikesdiary_pantip, Mim yang seorang dosen, lagi berkunjung ke Indonesia. Sebenarnya tujuannya bukan tentang Aomike sih, tapi mereka, atas nama industri hiburan Thailand, sedang melakukan penelitian mengenai apa yang disukai dari drama dan film Thai dan bagaimana bisa mengembangkannya. Mereka tiap hari harus interview buanyak orang untuk penelitian tersebut. Tapi karena Mim fans Aomike jadi dia menyempatkan diri ketemu fans Aomike yang dibantu oleh @aomike_id. Jadi Mim ketemu teman-teman Aomike di Bandung dan Jakarta.

Dari Jakarta saya dan Nessia yang mewakili. Kami ngobrol di resto U-Thai SCBD. Pas kami datang, Mim langsung ngajak kami ngobrol di meja yang berbeda. Dia bilang, kita kan sesama fans Aomike jadi pasti mau gosipin Aomike. Hahahaha, tahu aja dia! FYI, Pantip ini sangat dekat dengan Aomike karena mereka udah sering ketemu. Bahkan Mim punya line pribadi Aom! So, we prepared for inside secret stories. ;))

So, we asked everything we wanted to ask all along. Kayak pertanyaan macam, “Are they dating? Why Aom always makes such drama and causes fan war? What does Sarah want? What Thai people think of Aomike? What is it with Aom and Tina?” And LOTS of other questions.

1497711331664

Me, Mim, and Nessia goofing around

We share those juicy secrets (tapi karena rahasia jadi ijk nggak bisa kasih tau dong. Hahaha) and surely had a lot of fun! Awalnya cuma suka satu drama, lalu kenal teman-teman dari berbagai kota di Indonesia, dan sekarang malah kenalan sama banyak teman di luar negeri. Seru banget. A fangirl life. Hahaha!

Until next time, Mim. Thank you for sharing those spicy secrets. πŸ˜‰

 

PENASARAN, KANNNN? Hihihi.

 

 

 

Vaksin Itu WAJIB!

Huft, tahun 2017 ternyata masih ada yang antivaksin, nih?

*menghela napas sampai sesak*

Oh ya, belajar dari kasus Jupe yang terkena kanker serviks; vaksin serviks itu udah ada lho dari dulu dan mampu mencegah kanker serviks. Idealnya perempuan umur 11 tahun sudah bisa vaksin serviks. Jadi dari masa puber lebih baik. Tapi kalau dulu nggak tahu, bisa juga dipake sebelum berhubungan seksual. Tapi kalau misalnya sudah berhubungan seksual, cek papsmear dulu, ya. Baru kalau hasil papsmearnya bersih, lanjut vaksin serviks.

Ini pengalaman saya vaksin serviks 6 tahun lalu, sebelum menikah. Permasalahannya adalah banyak yang enggan untuk papsmear atau vaksin serviks karena pertanyaan dari tenaga medis adalah, “Mbak sudah menikah atau belum?”. Err! Begini lho, vaksin serviks itu sebaiknya dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual, terlepas dia sudah menikah atau belum. Papsmear sebaiknya dilakukan 1-2 tahun kalau sudah berhubungan seksual secara aktif, lagi-lagi terlepas dia sudah menikah atau belum.

Jadi pertanyaan sudah menikah atau belum dari tenaga medis akan jatuhnya menghakimi. Misal, dia jawab belum menikah tapi mau papsmear, yang mengindikasikan berarti sudah berhubungan seksual sebelum menikah. Lalu pandangan si tenaga medis akan berubah dan judging. Bikin pasien jadi nggak nyaman dan akhirnya enggan untuk balik lagi.

Saya sadar di Indonesia normanya adalah belum berhubungan seksual sebelum menikah. Tapi pada kenyataannya ADA yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah. Dan apakah yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah tidak boleh mendapatkan perlakuan medis yang baik, tanpa ada tatapan menghakimi?

Akan jauh lebih baik Β kalau tenaga medis tidak perlu memperhalus pertanyaan dengan “sudah menikah atau belum?”, tapi langsung straight to the point, “sudah berhubungan seksual aktif atau belum?”. Dan nggak perlu kepo jugalah kalau sudah berhubungan seksual berarti dia sudah menikah. Keep it simple, no judgment. Pasien juga pastinya lebih nyaman karena dia akan di-treat berdasarkan keluhan, bukan dihakimi moralnya.

Nah, soal antivaksin pada anak. Prinsip saya cuma satu, kalau itu terbaik untuk anak dan membuat anak saya lebih sehat, serta secara ilmiah sudah terbukti, let’s do it! Berusaha jadi alamiah, tapi habis itu mengorbankan kesehatan anak is a big NO for me. Plus, vaksin itu bukan cuma soal imunitas diri sendiri tapi imunitas kelompok. Harapannya suatu saat kalau semua anak sudah divaksin, maka penyakit tersebut punah. Nah, para dokter seluruh dunia udah gencar mau bikin punah itu penyakit, trus kucuk-kucuk orang sok tahu bilang nggak usah vaksin lalu anaknya terkena penyakit. Maleh, kapan itu penyakit punah jadinya? Kan jadi outbreak lagi. *nangis di pojokan*

Gini ya, nggak perlu sok anti kimia. Udara yang kita hirup setiap hari aja itu kimia, namanya oksigen alias O2. Gimana caranya bisa anti kimia buat anaknya kalau udara aja sudah berbentuk zat?

Jangan bilang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan. IYA emang dari Tuhan. Tapi Tuhan juga menciptakan manusia dengan akal budi jadi harus juga berusaha menjaga kesehatan dan berusaha juga untuk makan obat ketika sakit. Baru deh Tuhan yang menentukan mau disembuhin atau nggak. Kalau vaksin aja nggak mau, ya wajar aja Tuhan kasih penyakit. Lagian kalau emang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan, kalau lagi sakit nggak perlu berobat ke dokter, ya. Cukup berdoa aja. Nanti imanmu Β yang menyembuhkan. Oke sip!

Jadi jadi orang tua itu harus bijaksana. Saya termasuk yang sebisa mungkin anak nggak pakai obat kalau emang nggak perlu sakitnya, saya juga berusaha bijaksana dalam penggunaan antiobiotik, tapi saya tidak anti dengan obat dan antibiotik. Kalau misal anaknya sakit batuk pilek sampai tahap sudah tidak nyaman, nggak bisa tidur, nggak mau makan, trus saya maksa nggak pake obat dan bergantung pada minyak esensial aja, ya berarti saya egois. Tentu saja obat to the rescue lah. Tujuannya bukan soal pake obat atau nggak, tapi soal anak merasa nyaman karena ia sehat.

Jadi ibu itu harus bisa fleksibel. Tidak ada satu teori parenting yang paling benar. Semuanya cocok-cocokan dan disesuaikan dengan kondisi anaknya juga. Makanya jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, lah wong prakteknya bisa beda-beda tiap anak, kok. Tapi yang pasti, fokusnya adalah anak. Logical reasonsnya pun harus benar. Patokan saya: kalau sudah ada penelitiannya berarti valid. Jadi, antivaksin is a big no. Gunakan nalar yang benar, bukan cuma soal keyakinan membabi buta.

Yuk, barengan vaksin biar sama-sama sehat. Jangan sampai nanti nangis-nangis panik pas anaknya sakit karena nggak vaksin kayak mbake itu loh. πŸ˜€

 

 

Belajar Dari Kasus TOP Big Bang

big-bang-top

Beberapa hari lalu heboh berita TOP Big Bang dikabarkan ketahuan pakai ganja, padahal dia masih dalam masa wajib militer. Udahlah ya, langsung TOP dihujat habis-habisan. Kalau yang saya dengar, publik Korea tuh emang judgemental dan kejam banget ngritik idol-nya. Semacam idol tuh harus sempurna, nggak boleh ada cela. Bahkan kemarin saya baca berita TOP keluar dari kantor polisi sambil senyum dikit, dihujat abis-abisan, lho! Katanya kok masih bisa senyum? Nggak merasa bersalah, ya? Belum tahu aja gimana koruptor di Indonesia kalau ketangkap malah tebar pesona sambil melambaikan tangan. :)))

Setelahnya, TOP dikabarkan tak sadarkan diri setelah makan banyak obat penenang. Percobaan bunuh diri katanya. TOP dilarikan ke rumah sakit dan kesadarannya sangat menurun sampai ia tidak memberikan respon. Untungnya hari ini ia sudah lebih baik dan mulai sadarkan diri.

Walaupun saya nggak tahu siapa itu TOP Big Bang, tapi karena Kaleb suka Big Bang jadi saya suka dengerin lagunya. Makanya pas ada berita ini saya suka ikut nimbrung ngobrolin ada apa sih sama si TOP ini?

Yang luar biasa adalah respon banyak orang bukannya menunjukkan empati, tapi banyak yang malah judgemental, bilang, “TOP mah lemah amat sih, namanya juga di industri entertainment Korea itu berat. Gampang stres nih orangnya. Larinya malah ke ganja. Harusnya udah tahu dong resikonya. Dulu juga gosipnya dia pernah mau bunuh diri habis putus cinta sama Shin Min Ah. Masa gara-gara putus cinta aja gitu, sih.”

LIKE, WHAT?

Sedih ya, lihat komentar-komentar tidak empati seperti ini. Dianggapnya bahwa percobaan bunuh diri itu SALAH ORANGNYA karena mentalnya lemah, karena nggak tanggung jawab, masalah gitu doang.

Nggak semudah itu, lho.

Bunuh diri adalah usaha untuk membaskan diri dari perasaan menderita yang nggak bisa seseorang tahan lagi. Entah itu karena terbutakan oleh perasaan benci diri sendiri, nggak punya harapan, atau terisolasi. Orang yang mencoba bunuh diri tidak melihat cara lain untuk merasa lebih baik, kecuali kematian. Walau mereka berusaha untuk mengakhiri rasa sakitnya, sebenarnya orang yang kepikiran buat bunuh diri punya konflik tersendiri lagi apakah ia harus mengakhiri hidupnya atau nggak. Mereka berharap ada pilihan lain selain bunuh diri, tapi mereka tidak bisa melihatnya.

Yang menjadikan masalah itu besar atau nggak, itu bukan soal kenyataan seberapa besarnya masalah tersebut, tapi bagaimana seseorang mempersepsikan dan menghayati masalah tersebut. Buat A patah hati tuh semacam mainan yang dia punya hilang, besok tinggal beli lagi. Gampang lah. Buat B, ia mempersepsikan bahwa mainan tersebut satu-satunya yang ia punya dan sayang, kalau nggak ada mainan itu hidupnya hampa. Padahal mainannya sama, misalnya mobil-mobilan seharga Rp 5000. Tapi bagaimana kita melihat mainan tersebut dan hubungannya dengan kita yang membuatnya berbeda.

Setiap orang dilahirkan dengan kapasitas mental yang berbeda-beda dan kemampuan mengatasi stres yang berbeda. Kalau kita tangguh banget orangnya, belum tentu orang lain begitu. Kemampuan mengatasi masalah seseorang juga bisa sangat berbeda. Ada yang memang kurang mampu mengatasi masalah dengan baik sehingga coping-nya seringkali tidak efektif dan akhirnya menimbulkan stresor yang lain. Ada yang coping-nya efektif dan akhirnya bisa mengatasi masalah dengan baik. Semua bisa dipelajari, tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Masalah psikologis itu kompleks banget. Makanya banyak orang yang terkena gangguan butuh waktu yang lama untuk terapi atau konseling. Terkadang bisa bertahun-tahun. Karena ya tidak semudah yang dibayangkan orang-orang. But, they surely need help.

Orang yang mengalami gangguan juga bukan berarti dia satu-satunya yang patut disalahkan, karena ada orang di sekitarnya yang “seharusnya” bertanggung jawab ikut andil terhadap dirinya.

Ini yang jadi concern saya. Sebelum jadi orang yang judgemental, put yourself in other’s shoes. Kalau ada orang yang memang butuh cerita, apapun masalahnya, seremeh apapun kita menganggap masalahnya, tolong didengarkan dulu. Tempatkan dirimu jika ada di posisinya dan berempatilah. Kadang-kadang emang susah sih berempati, apalagi kalau masalahnya cetek banget dan kita mikir, “Kalau gue jadi dia, gue sih bakal bla bla bla. Nggak bakal kayak gini lah.” IYA, itu kamu. Bukan dia. Berusaha tempatkan diri jadi orang tersebut.

Tahu nggak ungkapan paling menyebalkan yang sering kita katakan kepada orang yang udah stres atau depresi adalah:

“Sabar, ya. Nanti akan baik-baik saja.” –> BASI! Apa yang dia lakukan sekarang itu sudah sampai pada tahap tidak bisa bersabar karena perasaan buruk itu sudah terlalu dalam. Dengan kita bilang sabar, kita malah mengabaikan perasaannya dan bagaimana ia mempersepsikan masalah tersebut. Kita juga menganggap enteng apa yang ia rasakan dan akhirnya ia merasa semakin terabaikan dan lebih depresi lagi.

“Bersyukur aja. Masih banyak yang lebih menderita dari kamu.”Β –>Β In times like this, bersyukur is not an option. Percayalah mungkin itu yang berusaha mereka katakan pada diri sendiri awalnya, mungkin mereka pun sudah berusaha berdoa juga. But the painful is just too big that they can’t handle it anymore.

Tolong, jangan ucapkan kata-kata klise di atas karena di dalam hati mereka sudah tahu harus melakukan hal tersbut, tapi bukan itu yang mereka butuhkan. Kadang-kadang kita merasa orang ini lebay, terlalu drama, atau ngancem mau bunuh diri padahal nggak bakalan mati juga. No. Buat kita lebay dan drama, buat mereka nggak. Kadang-kadang ungkapan selintas mau bunuh diri harusnya jadi warning buat kita bahwa apa yang mereka rasakan sudah serius.

Jadi apa sih yang bisa kita lakukan ketika kita tahu teman/keluarga kita bermasalah dan mempunyai pikiran bunuh diri?

  1. Biarkan ia tahu, bahwa kita peduli dengan mereka, bahwa ia tidak sendiri.Β 
  2. Dengarkan. Biarkan ia mengeluarkan semua unek-uneknya, perasaannya, kemarahannya, kesedihannya. Tidak peduli seberapa negatif pembicaraannya, fakta bahwa dia mau membuka diri adalah hal yang positif.
  3. Berusaha simpati, tidak judgmental, tenang, sabar, dan terima ia dengan segala keluh kesahnya. Biarkan ia bicara mengenai perasaannya.
  4. Tawarkan pertolongan. Ajak ia menemui psikolog/psikiater untuk membantunya dengan lebih baik dan bahwa perasaan bunuh diri yang ia rasakan hanya sementara. Biarkan ia tahu, bahwa hidupnya berarti untukmu.
  5. Jangan remehkan dia, anggap ia serius. Jika ia bilang, “Saya depresi, nggak bisa melanjutkan hidup lagi.” Kita bisa tanya, “Apakah kamu terpikir untuk bunuh diri?” Bukan berarti kita sedang memberi dia ide untuk bunuh diri, tapi kita sedang menunjukkan bahwa kita peduli dan bahwa menganggap masalah mereka serius. It’s okay for them to share their pain with you.

 

Namun, ada hal-hal yang juga tidak boleh kita lakukan:

  1. Membantah apa yang mereka rasakan. Hindari kata-kata, “Kamu tuh harusnya bersyukur. Kalau kamu mati itu bakal nyakitin keluarga kamu. Lihat dong hal lain yang patut disyukuri.” NO. BIG NO.
  2. Berakting kaget, lalu menguliahi bahwa hidup itu penting dan berarti, bahwa bunuh diri itu dosa. Again, NO!
  3. Berjanji bahwa kamu akan merahasiakan ini. Kalau dia bilang kamu harus merahasiakannya, tolong jangan. Hidup seseorang sedang dalam bahaya dan mungkin kamu perlu bicara pada ahlinya, seperti psikolog atau psikiater agar orang tersebut bisa lebih baik. Tapi kalau kamu sudah janji, terpaksa kamu harus melanggarnya.
  4. Menawarkan cara untuk memperbaiki masalah mereka, memberi nasehat, atau membuat mereka merasa bahwa bunuh diri itu tepat. Bukan soal seberapa parah masalahnya, tapi seberapa buruk hal tersebut mempengaruhi perasaannya.

 

 

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang bermasalah. Judging dan mengkritik, bukanlah salah satunya. Jadi seberapa pun kamu anggap teman kamu lebay, drama, hargai apa yang ia rasakan. Kalau ia sudah merasa tidak mampu lagi, anjurkan ia untuk ke psikolog/psikiater agar bisa menolongnya dengan lebih baik.

Yuk, lebih peka terhadap orang di sekitar kita. πŸ™‚

 

Love and kindness are never wasted. They always make a difference. They bless the one who receives them, and they bless you, the giver. – Barbara De Angelis

 

 

 

Review: My Secret Romance

Sejak drakor Goblin berakhir di awal Januari, hidup saya rasanya hampa. Goblin ini secara kualitas bagus banget sehingga rasanya drama lain terlihat biasa-biasa aja. Jadi kerjaan saya selama beberapa bulan kekosongan ini adalah mencoba nonton beberapa drakor yang katanya bagus, baru beberapa episode lalu nggak lanjut nonton karena bosan. Hampir nggak ada drakor yang saya tonton sampai tamat, kecuali Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Kim Bok Joo bisa saya tonton sampai habis bukan karena saya suka banget ceritanya, tapi karena yah okelah, pemeran utamanya lucu, ceritanya lumayan, beklah mari dihabiskan tontonannya daripada nggak ada.

Sampai akhirnya kehampaan ini berakhir ketika muncullah drama My Secret Romance.

my-secret-romance-poster1

Diperankan oleh Song Ji Eun dan Sung Hoon

Apakah drama ini kualitasnya menandingi atau setidaknya setara dengan Goblin? Nggak. Banget. Hahaha! Jadi ini drama super receh dengan kualitas biasa aja, setara FTV kualitas Korea (bukan FTV Indonesia yang parah banget itu, ya). Ceritanya apalagi, tipikal banget dan udah ada kira-kira sejuta drama Korea yang mengusung cerita seperti ini:

Cha Jin-Wook (Sung Hoon) is a son from a wealthy family. His family runs a large company. Cha Jin-Wook only pursues short term love. He meets Lee Yoo-Mi (Song Ji-Eun) and changes. Lee Yoo-Mi has never had a boyfriend before.

Duileh picisan banget lah: cowok kaya raya, tampan, arogan, playboy, naksir cewek miskin, cantik, polos, baik hati.

Yang bikin saya suka banget sama cerita ini ternyata ya karena ceritanya receh, gampang dicerna, chemistry mereka oke, cowoknya walau dibilang arogan tapi sama sekali nggak nyebelin juteknya karena masih kelihatan hangat, dan cowoknya yang usaha banget kejar-kejar ceweknya.

Bonus banget adalah sosok Sung Hoon yang alamak Tuhan pasti lagi bahagia banget pas nyiptain dia.

sung-hoon

15873189_1357343187619274_1251578781098459455_n

Wajar kan kalau dia didapuk jadi model underwear

AAAAAKKKKKKK!! Ada ya cowok seganteng dia yang rasanya pengen panjat dada bidangnya dan didekap. Duh, Mas! Manly abis. Menurut saya, dia tipikal cowok Korea yang nggak terlalu feminin. Masalahnya banyak cowok Korea yang menurut saya cantik, kurang cowok. Kalau Sung Hoon cowok banget!

Ya gimana nggak, dulu dia atlet renang. Berhenti karena cedera, lalu jadi aktor. Udah jadi aktor, dia bisa nyanyi, seorang DJ pula. Di film My Secret Romance, badan kecenya ini tentunya harus dieksploitasi, dong. Wakakaka! Jadi ada adegan dia berenang, pake tuxedo, baju kasual, jaket kulit. Sung Hoon mau dipakein baju jelek juga jadi bagus di dia. Duh Mas, makan apa sih kamu jadi bisa ganteng gini?

Sementara Ji Eun kayak boneka, polos, cantik, dan matanya bulat. Mau pake apa juga cantik dengan rambut yang walau ada angin kencang kok jatuhnya tetap bagus? WHY?

hqdefault

Jutek aja kok ya cantik, Mbak?

Untuk menambah kerecehan drama ini, semua adegan khas bikin baper kesukaan cewek-cewek tentu saja ada:

  1. Adegan one night stand ada di episode pertama. Bayangin, adegan hot di awal cerita! UWOOOWWW! *mata nggak kedip*

c9stclsuiaarkmo

 

2. Hampir di semua episode ada kissingnya. Kissingnya tuh bisa banget lah ada di kolam renang, pas masak di dapur, pas lagi duduk di sofa, dll. Pokoknya puaslah.

 

x240-s84

 

3. Cowok ganteng bawa anak kecil main di taman dan ajak date ceweknya sambil ngangon anak kecil. Coba bayangkan, udahlah ganteng, sayang anak kecil, jiwa kebapakan mencuat ke mana-mana. Sebagai wanita, hormonku langsung meluap-luap.

a32b4d0f-9691-4cb9-b0db-432a06e75889

Udahlah ganteng, sayang anak kecil. Kelar!

4. Konfliknya pun nggak panjang, paling sekitar 2-3 episode aja. Itupun nggak ribet, nggak menguras sedih berlebihan, malah menunjukkan sosok si cowok yang makin sadar cintanya udah mentok.

Jadinya sepanjang drama ini lebih dihabiskan untuk drooling kegantengan Sung Hoon, baper lihat Sung Hoon dan Ji Eun yang super cute banget dari berantem sampai pacarannya, dan selalu diakhiri dengan hati yang hangat karena happy banget nontonnya.

Jadi ternyata yang mengisi kekosongan hati setelah ditinggalkan Goblin malahan drama receh nggak penting tapi justru bikin senang dan hangat. Coba ditonton deh, nanti habis itu kasih tahu saya ya adegan yang paling kamu suka yang mana?

Ciao, mau mengagumi Sung Hoon dulu. :))))

 

*all pics are taken from Google Images

 

Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? πŸ™‚

 

Semacam Baru Dicharge Lagi

IMG_20170528_220840_434

Kemarin untuk pertama kalinya saya ke gereja setelah berbulan-bulan nggak. Sejak Kaleb umur 1 tahun, saya merasa dia udah siap untuk sekolah minggu. Ya, masih main-main dan belum bisa fokus, sih. Tapi di gereja ada kelas bayi untuk umur 0-24 bulan. Kegiatannya simple banget; nyanyi lagu-lagu sederhana, dengerin cerita Alkitab singkat paling lama 10 menit, dan udah main-main aja, maksimal 30 menit. Cukup banget buat Kaleb bersosialisasi dan dia memang senang. Ketika umur 2 tahun, Kaleb naik kelas toddler. Di sini kegiatannya lebih panjang, sekitar 1 jam; nyanyiannya lebih panjang dan banyak, khotbahnya lebih panjang, dan kegiatannya lebih banyak.

Saya selalu nemenin Kaleb masuk ke sekolah minggu karena dia belum bisa kan ditinggalin sendiri. Guru sekolah minggunya maksimal 3-4 orang. Sementara anak-anaknya bisa 30an orang. Banyak bener, kan. Makanya pendamping diharapkan ikut kalau yang masih kecil banget. Kalau yang udah 3-4 tahun bisa dilepas.

Sebenarnya bisa aja saya minta bantuan Mbak untuk ikut ke sekolah minggu jagain Kaleb, sementara saya beribadah di ibadah dewasa. Tapi, kok ya rasanya tanggung jawab bawa anak ke gereja itu tanggung jawab saya. Plus, saya juga mau tahu apa yang diajarkan di sekolah minggu, sehingga saya bisa ulang lagi di rumah. Makanya, sudah berbulan-bulan saya nggak ke ibadah dewasa. Demi anak! XD

Sampai akhirnya sebulan ini saya kok ngerasa kosong banget, ya. Kayak jiwanya butuh direcharge lagi karena udah low batt. Beberapa minggu sebelumnya sempat minta suami gantian yang jagain Kaleb. Awalnya suami yang ragu karena ya dia bakal jadi cowok sendiri yang jagain anak. Biasanya kan ibuk-ibuk atau susternya, ya. Berasa aneh kali, ya. Ya udah, balik lagi saya yang jagain Kaleb. Minggu lalu bilang lagi ke suami, gantian dong jaganya. Suami udah oke. Eh, Kalebnya yang nangis minta ditemenin Mami. Oke deh, batal lagi.

Kemarin saya lagi-lagi belum menyerah minta gantian jagain Kaleb. Suami langsung oke karena udah beberapa kali ikut saya jagain Kaleb dan nggak sulit lah, cuma perhatiin Kaleb aja, atau ambilin minum dan cemilan kalau dia mau. Kemudian, saya pamitan ke Kaleb. Eh, Kaleb langsung mau. Malah langsung paham kalau nanti dia sama Papa-nya dan cium saya. YEAY!

Dan ternyataaa rasanya luar biasa, lho! I never thought that I needed church time that much. Kayak kembang yang layu dikasih pupuk dan disiram. Segar banget. Sebelum ke gereja itu rasanya kayak badan pegal, nggak enak badan, lemas. Like I had no energy to do something. Setelah gereja langsung kayak sehat banget, hati plong, dan semangat lagi. Gila ya efeknya! πŸ˜€

Jadi sekarang udah janjian sama suami kalau tiap minggu akan gantian jagain Kaleb di sekolah minggu. Semoga Kaleb konsisten mau dijagain gantian, ya. Kalau nggak entar mamak kayak bunga layu lagi, deh. Hehehe.

Ada yang pernah merasa begini?