Review: Beauty and the Beast (2017)

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Pic fromย here

Sebagai pecinta Princess, tentu saja saya nggak akan melewatkan nonton Beauty and the Beast. Wong, pas tinggal beberapa hari lagi lahiran saya keukeuh nonton Cinderella di bioskop, kok. Sama seperti pas nonton Mirror Mirror (Snow White) dan Cinderella yang sendirian, nonton Beauty and the Beast pun sendirian. Alasannya karena nonton sama suami, udah pastilah dia nggak suka dan nggak paham kenapa begitu merasuknya film Disney Princess ini. Jadi daripada dia nonton sambil nguap, muka datar, dan nggak dapat esensi ngayalnya lebih baik nggak usah. Nonton sama teman juga nggak jadi opsi karena belum nemuin teman yang satu frekuensi tergila-gila sama Disney Princess. Jadi, paling benar adalah nonton sendirian. Dapat fangirlingnya, dapat me-time-nya. Super menyenangkan.

I LOVE IT SO MUCH! Aaak!

Beauty and the Beast versi live action-nya beneran dibikin sama dengan versi kartunnya. That is why I love it so much. Semua yang dulu cuma bisa dilihat dan dibayangkan di film kartun, sekarang jadi kenyataan lihat orang-orangnya beneran. Menurut saya, ini yang bikin film ini jadi bagus ya karena penonton jaman dahulunya akan bisa memunculkan ingatan masa kecilnya sehingga jadinya berkesan.

The details are superb. Istananya, kostum-kostum yang cantik nan ribet, peralatan rumah tangga yang bicara, even Gaston yang mirip banget sama kartunnya. Ditambah lagi lagu-lagunya yang sama kayak versi kartun dan nggak banyak diubah. It’s like seeing your childhood dream comes true. Senang dan terharu.

Secara akting, kayaknya sih biasa aja ya Emma Watson ini. Nggak jelek, tapi ya bukan yang luar biasa banget. Tapi saya ikutan berkaca-kaca sedih, ikutan senyum lebar bahagia, dan nyanyi lagu-lagunya di bioskop. Gila, itu 2 jam masuk ke dunia masa kecil lagi dan rasanya indah banget. Makanya mau aktingnya biasa aja, tapi untuk seorang fans berasa sampai hati banget dan jadi emosional karena memori yang indah dulu.

Oh ya, paling suka banget kostum Belle pas adegan terakhir dance sama pangeran. Putih bunga-bunga cantik. Tapi tentu saja adegan favorit adalah waktu Belle dansa dengan Beast pake dress warna kuning diiringi lagu Beauty and the Beast. Saya sambil nyanyi dengan mata berbinar-binar, ikutan bahagia akhirnya mereka saling jatuh cinta aja. Dan ini cuma tokoh dongeng, lho!

Soal adegan LGBT yang dihebohin orang-orang. Well, ini pendapat saya. Di dalam film itu emang ada karakter LeFou, seorang prajurit yang agak lemah gemulai. Bukan bencong, tapi ya perasaannya cukup sensitif dan perilakunya lembut seperti perempuan. Di masyarakat banyak kok yang kayak gini. Malahan sinetron Indonesia lebih parah dalam menggambarkan cowok lemah gemulai, yang benar-benar mirip bencong. Kalau ini masih kayak cowok lah. Nah, adegan gay yang dimaksud mungkin adegan tatap-tatapan LeFou sama satu cowok. Cuma berlangsung 1 detik. Sekejap aja. Mungkin ini yang dimaksud adegan gay. Orang yang nonton bisa sadar, bisa tidak, kalau yang dimaksud adalah gay. Kalau anak kecil mungkin nggak sadar sama sekali karena ya sekelebat, nggak terlalu penting. Analoginya sama kayak para LGBT ini ada di tengah masyarakat, kita tahu preferensi mereka berbeda, tapi ya udah. Mereka nggak ganggu, nggak vulgar, dan banyakan nggak tahu keberadaan mereka. Jadi nggak perlu takut, lebay, histeris bilang film ini mengajarkan anak-anak jadi LGBT. Doh, nggak sesederhana itu untuk jadi LGBT keleus! Sip, ya!

Malah, kalau boleh menilai, saya lebih khawatir adegan berantemnya dibandingkan adegan LGBT. Ada beberapa adegan berantem yang bikin saya sampai kaget, sih. Takutnya anak-anak lebih kaget. Itu aja yang jadi concern. Selebihnya, aman banget kok filmnya buat anak-anak.

Jadi kalau ditanya reviewnya, saya sih akan super bias karena saya suka banget princess begini. But seriously, it is a good movie. :’)

 

 

#Kaleb2Tahun

YEAY! Kaleb udah 2 tahun! Welcome terrible two! Oh well, sebelum 2 tahun pun udah ada tanda-tanda terrible two, sih. #MamakKuduSetrong

Seperti biasa menyambut ulang tahun, saya selalu labil. Niat awal selalu, udahlah nggak usah rame-rame, tiup lilin bertigaan aja di rumah. Anaknya pun belum paham banget, walau udah mulai tahu nyanyi happy birthday dan tiup lilin. Tapi nggak paham kalau ulang tahun itu sesuatu yang spesial. Oke sip!

Tapi sebagai Mamak yang suka perayaan dan rempong sendiri, jadilah dari yang tiup lilin bertiga aja jadi birthday lunch kayak tahun lalu. #eaaa #labil Tentunya kalau birthday lunch, Mamak mana bisa santai. Nggak bisa ya udah yuk ngumpul di resto ini, kita makan bareng. No! Maunya spesial, dong. Untuk itulah semua kerempongan ini dimulai. :)))

Kalau tahun lalu baru coba-coba bikin table set, tahun ini meningkatkan tantangan sendiri. Tahun ini full semua dibuat sendiri, tanpa percetakan, tanpa template. Dibuat dari 0 dengan printilan lebih banyak. #MamakRempong #RibetSendiri.

Karena Kaleb lagi tergila-gila truck, tiap hari main truck, tiap hari minta nonton truck. Yasalam, anak cowok begini amat mainannya, mobil-mobilan mulu. Mamak sampai harus ngapalin jenis-jenis truck dan mengarang bebas tiap ditanyain truck yang berbeda, jadilah truck pasir, truck semen, truck bensi, truck, sampah, dsb. Maka tema tahun ini adalah: Under Construction. Alias jadi tukang di proyek dengan segala macam trucknya.

Demi menghemat biaya, tapi banyak mau, jadi saya blusukan ke pasar-pasar, dari Pasar Perniagaan (ini Kaleb kalau diajak ke sini pasti heboh dengan mainan truck yang banyak dan murah banget), Pasar Mayestik (beli kain buat taplak), Pasar Santa, Pasar Pagi Mangga Dua, dan Pasar Meruya. Bapake yang nemenin dari semangat sampai ilfil kayaknya saya bisa ngubek-ngubek pasar seharian dan nggak bosan.

Semua printilan kecilnya, saya print, gunting, dan tempelin sendiri. Nyicil banget karena ada banyak dan kalau di rumah anak bocah suka gangguin banget, kan. Jadi harus diam-diam ngerjainnya. Bapake bantuin bikin logo dan undangan untuk ultah Kaleb. Tentunya diprint sendiri aja. #hematpangkalkaya

Untuk kue ulang tahun, karena niat dari awal semua kreasi sendiri, maka mau beli kue polos dan hias sendiri aja. Kebetulan banget Rereย baru aja buka toko kue online. Rere ini kalau lihat IG-nya suka buatin makanan MPASI buat anaknya trus variasi canggih-canggih, plus tentunya suka bikin kue. Nah, pas banget dia bikin cake bolu classic. Duh, saya suka banget sama kue bolu. Tentunya langsung lah saya pesan.

PR-nya di hari-hari terakhir adalah cari abang untuk isi gas helium. Untungnya ada pasar di dekat rumah dan abangnya bisa dimintain isi balon helium. Diambil di hari H. Siip beres!

Tepat di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan khusus, nggak ada kado juga dari orang tuanya *orang tua macam apahhhhh. Hahahaha!*. Untungnya malam sebelum Kaleb ulang tahun, Opungnya tiba-tiba datang bawa kado sepeda buat Kaleb. Horee! Mayan kan pas dia bangun ada kado jadinya. Hihihi.

Pas Kaleb bangun langsung tiup lilin di kue kecil, lalu langsung ajak main sepeda. Oh ya, dari beberapa minggu sebelumnya kami suka nanya ke Kaleb, “Ulang tahun mau kado apa, Kaleb?” Selalu dijawab, “Kado kue cokelat”. Ciyaaan, jarang dikasih cake cokelat jadi ngidam doi. Hahahaha. Jadilah di hari spesialnya, dia dapat hadiah kue walau bukan cokelat, tapi rainbow cake.

kaleb

Selamat 2 tahun anak lanang!ย 

Kemudian, kami ajak jalan-jalan Kaleb dan sepeda barunya ke RPTRA Kalijodo. Sebulan lalu ke sini, belum ada playground buat anak-anak kecil, eh pas datang udah ada playgroundnya, banyak mainan, lapangan sepakbole, perpustakaan kecil, dan aula. Makin kece aja lah taman ini. Jangan ditanya perasaan Kaleb. Dia suka banget sama taman ini sampai pas disuruh pulang karena udah mau malam, doi ngamuk. -_____-”

IMG_20170316_175305.jpg

IMG_20170316_175029

IMG_20170316_170907.jpg

IMG_20170316_174710.jpg

Tentunya kurang lengkap kalau ulang tahun tapi belum makan bakmie panjang umur #serasacina. Jadi kami pun lanjut makan malam di Bakmi Aloi. Sebelumnya Kaleb nggak menunjukkan ketertarikan pada bakmi, suka keselek juga kalau nggak dipotong kecil-kecil, tapi hari ini dia jago banget banget bakminya, bahkan porsinya dia habis semua. Ketauan anak mami banget karena suka bakmi. :)))

Untuk birthday lunch Kaleb diadakan hari Minggu-nya. Yang diundang pun cuma keluarga inti saya dan suami aja. Karena semua dilakukan sendiri, jadi saya lumayan panik nih, takut terlambat datang dan pas tamu datang saya belum selesai mendekor. Apalagi beneran cuma saya dan suami aja yang dekor, mbak jaga Kaleb.

Kenyataannya, hampir semua dekor saya yang kerjain sendiri. Suami dikasih tugas nempel tulisan HAPPY BIRTHDAY di dinding dan karena saking ingin sempurna jadi luamaaa banget. Yo weis, meja urusan saya semua. Aku rapopo. :))

Dekor mendekor kelar tepat jam 12 siang, tapi ternyata oh ternyata… tamunya baru datang jam 1 siang. Tau gitu tadi bisa selow aja bro, sis!

Demi maksimalnya tema Under Construction ini, tentunya harus ada dress code, dong. Dress code-nya baju tukang atau denim. Beberapa tamu dibekali dengan rompi proyek juga biar makin oke oce. Untuk baju Kaleb, tadinya cari kostum tukang proyek. Tapi kok yang ada untuk anak 3 tahun ke atas, kegedean, dong. Ya udah, harus kreatif maksimalkan yang ada aja. Kebetulan banget konstumnya bisa di-mix and match baju yang udah ada di rumah. Sepatu boots udah ada. Untuk topi proyek dan alat pertukangannya, cukup beli mainan tukang seharga Rp 25.000 aja. Murah meriah oye! Begini penampakannya:

PhotoGrid_1490064242320.png

Si Mandor

Gladly, everything went okay (kecuali bagian mau tiup lilin, pasang lagu, dan lagunya nggak bisa dipasang. Zzz! Ya udah nyanyi sendiri aja, eh tiba-tiba lagunya nyala. Ngajak becanda aja).

17308851_10155817217684298_3449034627910831562_n

17264673_10155817217839298_3554742146348617057_n

17361956_10155817217444298_4643026274723027505_n

17308735_10155817217824298_2018560775120517329_n

 

17362900_10155817217499298_1447871474353193334_n

17424678_10155817218119298_5982305439694484414_n

17424630_10155817348339298_8405039647938908217_n

Mandor dan truck-nya

17424839_10155817218869298_6716909165396734078_n

Bolu ini enaaaak banget. Sukaaa!

17309274_10155817217659298_67344096231381177_n

17353487_10155817220479298_8521263809292653477_n

IMG_20170319_132615.jpg

IMG_20170319_120820.jpg

IMG_20170319_194100_554.jpg

Mandor cilik dan anak buahnya :)))

Dengan segala keribetan dan kerempongan yang ada, plus salah sendiri semuanya mau dikerjain sendiri, maka dengan ini Mamak masih mengibarkan bendera putih untuk mengadakan pesta ulang tahun penuh dengan anak-anak. Ku belum sanggup (dengan kehebohan dan keberisikan anak-anak). :))

Review: Fifty Shades Darker

fiftyshadesnew

Gambar dicomot semena-mena dari Google ๐Ÿ™‚

Pas jaman novel Fifty Shades of Grey dan bikin penasaran seluruh wanita di dunia, saya pun penasaran, dong. Bacalah sampai habis, lalu berakhir…… ADA BANGET YA CEWEK KAYAK ANA? Maksudnya, kok ya mau dikasarin sama Grey. Iya, Grey ganteng dan tajir… tapi kan dipukulin gitu sakit, kakaaak!

Tapi dasar perempuan, ada filmnya ya ditonton juga lah. Semacam Twilight yang walau suka sebel nontonnya, tapi semua seri pasti harus nonton di bioskop. *kezel apa napsu tuh?*

Begitupun pas Fifty Shades of Grey dijadikan film. Sehari sebelum melahirkan nonton itu. Sudah kuduga, bakal bosen, fast forward, dan misuh-misuh akhirnya. Nah, sekarang lanjutannya, Fifty Shades Darker keluar, ya tetap aja ditonton lagi. Gimana atuh sebel tapi ditonton? *fun fact: nontonnya 3 hari sebelum ultah Kaleb kedua — penting bener, yak! hahaha*

Adapun beginilah yang dirasakan setelah menonton *HATI-HATI PENUH SPOILER*:

  • Saya nggak paham apakah si penulis berniat bikin si Ana ini awalnya cewek kuat dan teguh, atau cewek plin plan dan lemah karena sok putus dan nggak mau sama Grey karena kelakuan Grey, tapi sekali ketemu, diajak ngobrol, dikasih Macbook dan iPhone terbaru aja kok ya langsung luluh mbaknyaaaa? Mana harga diri dan gengsimu? Susah dikit napa? *Oke baiklah, saya paham. Macbook dan iPhone juga bisa bikin saya lemah, sih. #samaaja #semuacewekmatre*
  • Ana ini sok mau take it slowly, menjalani hubungan kayak orang normal, nggak dikit-dikit ML, tapi begitu Grey santai normal, dianya yang mupeng dan godain. Yasalam, gengsi, Mbak! Gengsi!
  • Dari awal jelas, Ana putus sama Grey karena nggak mau berhubungan dengan kasar, apalagi pake alat-alat seks Grey yang aneh-aneh. Lalu dia masuk kamar Grey lihat alat-alat seks Grey dan…….mau Grey cobain ke Ana pakai alat gitu. Sungguh ku speechless dengan labilnya Ana ini.
  • Grey jatuh dari helikopter. Orang-orang udah cemas sambil nontonin TV lihat berita ke mana hilangnya Grey. Tiba-tiba Grey muncul di rumah……. NGGAK ADA LUKA. BRAVOOOOOO!! Ini Grey jelmaan superman atau malaikat jadi nggak bisa luka?
  • Paling nggak paham keberadaan Kim Basinger di film. Ya walau dia tokohnya penting dan jadi alasan kenapa Grey jadi punya gangguan psikologis, tapi scene dia antara ada dan tiada. Ngomongnya dikit, munculnya pun 2 kali doang, datar semua pulak! Ini semacam cameo doang atau apa? Kalau Meriam Bellina yang peranin kayaknya bakal lebih cihuy deh aktingnya *mata melotot, zoom in, zoom out, ngamuk-ngamuk*
  • Ana marah sama Grey, sok kabur lah. Grey sibuk cariin Ana, telepon orang-orang. Udah senang akhirnya mbake punya pendirian dan bisa keluar dari Grey. TETOT! Malamnya, doi balik ke rumah sendiri! Ciyaaan, udah betah tinggal di penthouse mewan kan you! Nggak cuma balik ke rumah aja, dikepret Grey pake kata-kata manis beberapa kalimat aja langsung luluh. Yuk, cipokan lagi! Zzz!

Inti dari film ini sederhana aja, satu cewek labil, pacaran sama cowok tajir bermasalah. Nggak mau dibawa ke psikolog atau psikiater aja tuh si Grey? Sekalian deh Ana juga.

Sumpah, bikin gregetan. Mungkin kalau saya jadi Nia Ramadhani and the gank yang udah capek-capek ke Singapore cuma demi nonton film ini di akhir film akan berteriak histeris, “BALIKIN UANG GUE PLIS!”

Sekian dan terima Macbook dan iPhone gratis.

 

 

Kenalan, Dong!

Lagi blogwalking dan judulnya semua Tak Kenal Maka Tak Sayang dari para blogger kece. Kebetulan Deaย nge-tag dan nggak ada ide banget buat ngeblog, yuk mari makan kuota gratisan dari kantor dulu buat ngerjain tag ini. Hihihi.

Anyway, saya belum pernah ketemu dengan teman-teman blogger, walau hampir tiap hari saya blogwalking. Kalau ada acara kopdar juga belum pernah ikutan, belum pernah daftar segala pula. Blame my introvert side. Kerjaan saya sebagai psikolog yang mengharuskan untuk ketemu berbagai macam orang dan menjadi ekstrovert ternyata menyerap energi banget. Seringnya pas weekend butuh diam, nggak diajak ngobrol, doing my own things in my own thinking. Pokoknya sendirian aja lah. Makanya punya anak yang disinyalir ekstrovert yang nggak ngebiarin mamaknya bersemedi dan harus diajak ngobrol, plus jalan-jalan ke luar, bikin saya jadi ngos-ngosan. Jadinya kalau ada ketemuan dengan orang baru lagi, saya suka mikir, “Do I have energy left for that?”. Super introvert banget, ya. Mungkin saya lebih memilih untuk ketemu beberapa orang atau sedikit orang dulu daripada sekaligus banyak biar nggak terlalu ngabisin energi. Oh well, tapi I’d be so happy to meet all the bloggers out there.

Baiklah sekian prolognya yang kepanjangan. Mari kita mulai. Here we go:

  1. Waktu kecil, rambut saya keriting banget, bikin nggak pede. Yah, macam kayak gini:
maxresdefault

Meriam Bellina tahun 80an. Doi rambut kayak gini tetap kece, kalau saya….amburadul.

Sungguh bikin drop shay! Makanya kamera bukanlah sahabat saya. Paling males kalau difoto soalnya hasilnya jelek banget gara-gara si rambut keriting. Sampe sekarang aja saya males lihatnya. Karena rambut keriting inilah, waktu kecil ngotot rambut harus panjang biar bisa diikat dan keritingnya nggak kelihatan (diikat setiap hari, bok), atau dipotong cepak biar keritingnya hilang (sumpah, ini lebih bikin ilfil lagi karena bukannya cakep, saya malah kayak anak cowok. Ampun!), sampai akhirnya dibonding (bikin ilfil pas masa-masa bondingnya hilang, jadi rambut setengah keriting dan setengah lurus. Jijay, kan?). Untungnya semakin dewasa, si keriting makin sadar diri jadi nggak lebay keriting, tapi bergelombang. Sekarang saya bersahat sama catokan kalau mau lurus dan nggak dicatok kalau mau rambut bergelombang. Yes!

2. Control freak. Mungkin karena saya anak pertama, hobinya ngatur dan semua harus sesuai rencana. Di kepala saya udah ada to-do list mau ngapain aja, lengkap dari hal printilan. Misal, kalau harus berangkat jam 11, maka jam 6 bangun, bikin makanan Kaleb, suapin Kaleb, susun baju yang akan dipake Kaleb, lalu saya mandi, pake make up, catokan, pakein baju Kaleb, ingetin suami mandi dan siap-siap, susun perlengkapan apa aja yang harus dibawa Kaleb, rapihin kamar tidur, ingetin suami masukin stroller ke mobil, milihin sepatu Kaleb, dsb. List-nya bisa panjang banget dan ada target kapan selesainya jadi nggak telat. Masalahnya, orang-orang di sekitar saya seringnya slow motion banget. Diingetin mandi, tapi masih santai di depan tv *lirik suami*, eh pas mandi bisa luaaaamaaa banget. Belum lagi ART yang inisiatifnya kurang jadi apa-apa nunggu perintah saya (well, but I don’t complain though, karena walau dia lelet, tapi dia sabar banget sama Kaleb dan persistence kalau kasih makan. Jadi bisa dimaklumi). Every day. Kebayang saya jadi gampang kesel, ngomel, bete, dan capek. Begitu pun pas liburan, bilangnya mau santai aja di sana terserah ngapain. Tapi kemudian saya pasti bikin worksheet jadwal ngapain aja di sana, lengkap dari tempat, jam, biaya, dsb. Kzl ya. Capek sendiri. Positifnya, saya jarang nggak selesai atau meleset dalam ngerjaian tugas, sih. Semua sesuai target. Yay for that.

3. Harus banget tidur minimal 8 jam. Itu sebelum punya anak. I never thought having a baby would make me have to endure lack of sleep and it was so painful. Lebay, ya. Tapi begitulah kenyataannya. Saya paling nggak bisa tidur kurang. Begitu tidur kurang, duh seharian bisa kayak zombie, bete, capek, kesel, bad mood. Orang bingung kok bisa ya jam 9 udah tidur. Bisa banget lah, target tidur kan 8 jam. Begitu masuk ke keluarga suami yang seringnya tidur malam, saya shock. Oh tidak, saya sungguh nggak kuat ngobrol ngalor ngidul sampai begadang. Pas punya anak, tidur keganggu, well sampai sekarang pun saya udah lupa apa itu tidur 8 jam secara anaknya masih suka kebangun buat nenen, akhirnya saya berasa capek dan nggak punya tenaga buat ngapa-ngapain. I need my bed. Masalah tidur keganggu ini yang bikin saya mikir-mikir lagi untuk sekarang nambah anak. Plislah, biar saya ngerasa tidur 8 jam dulu. Hihi.

4. Saya minum banyak banget air putih. Sehari kayaknya bisa minum lebih dari 4 liter. Kalau di restoran, bukannya pelit nggak mau pesan minuman selain air putih, tapi kalau nggak minum air putih berasa masih seret mau minumnya seenak apapun.

5. Saya pecinta Disney Princesses. Cinderella, Snow White, Little Mermaid, Beauty and The Beast. Saya berharap saya adalah Putri dan diperlakukan seperti Putri. Hahaha. Makanya pas ada film Cinderella di bioskop, tentu saja saya rela nonton sendirian walau tinggal menunggu waktu lahiran. Nah, sekarang bakal ada Beauty and The Beast nih, udah pasti saya bakal nonton sendirian lagi. Nggak ajak suami, karena pasti dia nggak bakal paham khayalan saya. Hahaha.

6. Berkaitan sama no 5, saya nggak masalah nonton sendirian. Buat saya itu me-time paling menyenangkan. Bebas milih film sendiri, mau se-cheesy, sekonyol apapun, dan nggak perlu khawatir teman nonton yang nggak asik. Kalau kita udah asik ngakak, terus teman nonton biasa aja kan berasa males, ya. Selain nonton, saya juga nggak masalah makan sendirian di tempat umum. Menyenangkan banget malah. Dulu waktu kuliah, saya bisa makan sendirian, ngayal sendirian, dan nggak peduli sama orang-orang sekitar.

7. Saya suka dikasih surprise. Mungkin karena terpengaruh kebanyakan ngayal nonton film Disney, saya suka tuh dibikinin surprise, diperlakukan spesial pas ulang tahun. Sayangnya, sekitar saya agak kurang kreatif, ya *lagi-lagi lirik suami* jadi bukannya dapat surprise, saya malah suka ngingetin, “Bentar lagi aku ulang tahun, lho. Jangan lupa, ya.” Ngarepnya dikasih surprise, berakhir biasa aja. Kesel sendiri. Padahal sering bilang ke diri sendiri, jangan ketinggian ekspektasinya, orangnya kan begitu. Tapi dalam hati tetap ngarep. Dear suami, kamu pasti baca ini, tolong ulang tahun nanti kasih saya surprise manis. Ada amin, saudara-saudara? Hehehe.

8. I love crafting. Kalau ada yang ulang tahun, saya bikin kartunya sendiri, saya hias sendiri, saya bungkus kadonya sendiri. Makanya pas punya anak, setiap mau bilang udahlah pas ulang tahun tiup lilin aja. Berakhir gagal, karena I want to make it special. Jadi saya bikin semua printilan ulang tahun sendiri, blusukan ke pasar, dan cari ide. Sayangnya saya nggak bisa design di komputer, ya. Jadi masih suka gangguin suami buat bikinin design. Mungkin suatu hari nanti saya harus les design.

9. Sampai sekarang, saya nggak pernah clubbing sama sekali. Saya nggak suka musik yang terlalu keras, musik heboh macam disko, rock, dll, nggak tahan asap rokok, dan nggak bisa tidur malam. Jadilah nggak pernah coba, nggak tertarik, dan nggak menyesal juga. Hihihi.

10. Walaupun saya introvert, tapi saya suka kegiatan outdoor. Saya suka pantai, suka ke taman, suka berada di alam, suka mencoba hal-hal baru kecuali mall. Walau sebagai anak Jakarta, yang paling gampang dilakukan ya lagi-lagi ke mall. Tapi sekarang lagi bikin kegiatan untuk Kaleb di mana weekend nggak ke mall.

11. Nggak suka WC yang kotor karena gelian. Makanya lebih baik nahan pipis daripada WC-nya kotor. Traumatis adalah pas honeymoon ke Phuket, di Maya Bay ke WC, WC-nya super jorok. Gara-gara itu, memori saya tentang honeymoon jadi kurang bagus. Lupa indahnya Phuket, ketutup sama joroknya WC. Hahaha.

12. Bukan pecinta makanan. Saya tipe main aman, jarang coba makanan baru. Makanya kalau ada cafe hits, saya nggak terlalu heboh pengen coba, sih. Kalau pun coba, pasti menu yang dipesan yang aman-aman aja, yang sekiranya saya pernah coba, supaya nggak gagal di mulut. Kalau udah suka satu makanan, ya udah itu aja yang dipesan terus. Kebalikan sama suami, yang suka coba jenis makanan baru. Makanya kalau ada makanan baru, saya cicip punya dia, tapi tetap berakhir saya puas sama makanan saya yang nggak berubah. Hahaha. Makanya saya jarang foto makanan, karena ya kalau lapar, saya makan, nggak sempat pamerin ke sosmed makan apa aja. I’m not a food lover lah. Kalau pun orang upload makanannya, saya juga nggak sering ngiler kalau saya nggak tahu itu apa. Kecuali, dia upload bakso, bakwan, mie, ramen, pizza. Hmm, habis itu langsung cus pengen beli.

13. Saya nggak berani nyetir mobil. Ada masanya saya pernah bawa mobil ke kantor, udah seberani itu. Tapi kemudian nyali ciut lagi karena pengalaman saya sama nyetir mobil kurang oke. Kemampuan spasial saya yang kurang bikin saya kurang bisa memperkirakan harus sedekat apa, beloknya udah pas belum, bakal nabrak depan nggak. Makanya seringnya saya markir mundur, eh nabrak, trus mau belok, malah keserempet motor. Hfft! ย Makanya kalau yang lagi nyetir minta tolong saya lihatin sisi saya udah mepet atau masih jauh, saya susah jawabnya. Mepetnya segimana, nih? Perasaan udah mepet, sih, tapi kayaknya masih bisa lewat. Aaaah, tidaaaaak! Ku bimbang dan tak paham lah! Sungguh lho, saya pengen berani nyetir mobil. Tapi sampai sekarang belum berani. Doakan supaya keberaniannya muncul, ya.

14. Sejak rumah kemalingan dan laptop Vaio pink kesayangan saya ikut dicuri sekitar 6 tahun lalu, sampai sekarang saya nggak punya laptop sendiri. Pas kehilangan laptop itu perasaan saya numb alias tumpul banget. Nggak merasa sedih, marah, atau kesal. Pokoknya datar aja. Padahal semua data, kerjaan, hidup saya ada di situ. Tapi ya datar aja rasanya. Mungkin waktu itu saya nggak punya waktu untuk meratapi, tapi di pikiran bawah sadar, saya merasa laptop itu nggak tergantikan. Makanya saya belum punya laptop lagi (pun, merk Vaio udah nggak diproduksi lagi. Kenapa sih Sony? Itu kan merk kesukaan saya!) dan belum berniat beli. Sekarang saya pakai laptop kantor, bisa dibawa pulang tapi jarang dibawa juga karena males di rumah buka laptop. Atau pinjem laptop suami. No laptop, no worries.

15. Kalau nggak suka, saya nggak akan berbasa-basi bilang, “Wah, cantik, ya. Bajunya keren, ya.” dsb. Saya nggak jago basa-basi dan bermulut manis. Tapi ketika emang bagus, saya pasti puji dengan setulus hati dan penuh kekaguman. Kadang-kadang ini bikin jadi saya kelihatan jutek dan bukan jadi orang yang terlalu menyenangkan pastinya. Orang kan suka dipuji-puji, tapi saya males muji kalau emang biasa aja buat saya. Bahkan kadang-kadang nggak kepikiran muji karena ya nggak kepikiran. Pas orang lain muji, baru deh dalam hati mikir, kenapa sih gue nggak berbasa-basi dikit biar lebih gampang disukai orang. Ih! Sering dikira jutek juga jadinya. Padahal bener, deh, kalau diajak ngobrol saya suka banget.

Akhirnyaaaaa, udah 15 juga! *tiup kuku*

Jadi kapan ketemuan, nih?

Btw, saya nggak nge-tag siapapun karena kayaknya semua yang di dunia per-blog-an udah nulis ini. Hihihi. Feel free kalau mau ikutan nulis bagi yang belum, ya. ๐Ÿ™‚

Mas Aryo Junjunganku

Saya bukan penggemar Partai Gerindra dengan beberapa alasannya (nggak perlu disebutin karena bukan mau ngomongin politik juga. Hihihi). Waktu jamannya Pilpres Jokowi vs Prabowo, kalau nggak salah sekaligus milih anggota DPR, DPD, DPRD, dsb. Di dekat rumah seringlah tampak poster muka orang bernama Aryo Djojohadikusumo, masih muda orangnya. Keponakannya Prabowo yang juga mencalonkan diri jadi anggota DPR, kebetulan untuk wilayah Jakarta Barat (mungkin). Soalnya kantor timsesnya sih ada di dekat rumah. Waktu itu setiap lihat mukanya biasa aja. Cuma mikir, jauh amat ya pasti rumah dia sama daerah pemenangan dia di JakBar. Padahal saya nggak tahu juga rumahnya dia di mana. #sotoyabis :))))))

Fast forward, berbulan-bulan kemudian, saya lihat di postingan IG Tracy Trinita dia publish foto sama Mas Aryo ini. LAH, mereka berdua pacaran? Karena super kepo, siapa nih yang bisa menggaet hati mantan model internasional. Kepoinlah IG Mas Aryo ini. Maksud saya, kok bisa jatuh cinta sama politisi? Tracy, setahu saya, lagi giat-giatnya jadi penginjil. Makanya saya penasaran banget.

Ternyata pacaran mereka lucu dan cute banget. Mereka saling manggil satu sama lain, madu. Iyes, madu terjemahan bebas dari honey. Norak banget, kan? Tapi karena norak jadinya ai laik banget. Hahaha! Mereka bukan tipe yang lovey dovey mesra gimana gitu, tapi lebih ke yang lucu, norak-norakan, but still cute. Pacarannya bukan yang tipe mewah bergelimangan harta, tapi sederhana aja kayak orang-orang biasanya, jadi bisa relate banget. Kayak misalnya gereja bareng (dan saking antrinya masuk gereja itu, mereka nggak dapet duduk dan ya berdiri aja. Nggak ada perlakuan spesial cuma karena satunya model dan satunya politisi), naik vespa bareng (THIS IS SO CUTE), makan di pinggir jalan. Hal-hal normal membumi lah.

Sampai akhirnya mereka putus dan ya tahunya dari IG mereka berdua juga. Mereka bilang mereka putus baik-baik, tapi bakal tetap jadi teman baik. Walau kecewa mereka putus, tapi suka banget sikapnya karena putusnya pun nggak pake drama kayak para ABG yang sampai harus nangis di Youtube dan bilang, “Kamu adalah patah hati terbaikku.” #EAAAAAA

Sejak itu ya saya masih tetap follow IG Tracy dan Mas Aryo ini. Mas Aryo ini IG-nya nggak banyak soal politik, lebih banyak ke hal-hal personal yang mungkin orang nggak terlalu tahu. Kayak misalnya hobinya bikin lego, potong rambut di barber favorit, main sama keponakan, sharing makanan favorit, sering ke kantor DPR naik motor, bisa main angklung, masak di dapur. Huwooo, aku kan jadi kagum.

Tentunya karena dia politisi, pasti adalah kegiatan politiknya dia, tapi sama sekali bukan yang provokatif atau sok. Apalagi pas jaman pilkada sekarang, sebagai kader penting di Gerindra ya dia ikutan kampanye lah. Tapi postingannya selalu adem dan memilih sisi unik dan lucu yang bisa diangkat ke IG. Bahkan dia nggak segan-segan foto bareng timses paslon lawannya dan bilang bisa nggak kita adem kayak gini, beda opini tapi tetap masih jadi teman makan dan minum. Laff banget lah!

Kalau diundang tampil di TV dan disandingkan dengan timses paslon lain, dia benar-benar menjaga perkataannya untuk nggak terseret emosi lawan dan apapun topiknya berusaha untuk nggak SARA dan menjatuhkan lawan. Dia berusaha diplomatis dan ini paling penting, senyumnya nggak pernah hilang, sis. Hati ini bagai diguyur air dingin, adem bener. ๐Ÿ˜„ Ini boleh nggak semua politisi kayak dia aja. Nggak mancing emosi, tetap senyum, jualan program, dan humble bener.

Nah, tadi malam saya mimpiin dia. Ceritanya dia lagi ngajak saya makan bakmi dan ngobrol-ngobrol soal kegiatan dia. Di mimpi aja dia baik banget, lho, nraktir saya. Ihihihihik! Apa sebab nih bisa mimpi Mas Aryo sambil makan bakmi?

Oalah, ternyata karena paginya saya baru lihat dia upload foto lagi duduk di meja makan dan di depannya ada 3 bakmi dari 3 restoran yang berbeda dan salah satunya dekat rumah saya. Kan saya jadi kepengen!

Ternyata saya pengen makan bakmi Agoan, toh! *tulisan panjang yang berujung ngidam bakmi doang*

PS: Nama IG-nya @aryodjojo. Selamat stalking. ๐Ÿ˜‰

 

 

 

 

Sekolah dan Ambisi Orangtua

Kalau lihat harga sekolah sekarang rasa-rasanya bikin pengen diangkat anak sama Paman Gober nggak, sih? Eh, tapi doi kan pelit, ya. Jadi sama aja bohong. Hahaha.

Untuk Kaleb sendiri, dia belum akan sekolah sih dalam waktu dekat. Dulu saya sekolah umur 3 tahun. Maklum anak pertama, pasti masih bereksperimen dan lihat anak-anak lain sekolah, ya saya disekolahin. Hasilnya, secara mental saya belum siap, tiap pagi selalu drama, kabur dari sekolah jalan kaki ke rumah, dan toh di sekolah kerjanya main-main aja. Mungkin karena itulah 2 adik saya nggak sekolah pake playgroup, langsung TK aja. Secara mental mereka lebih siap dan nggak ngambekan kayak saya lagi.

Apakah sekolah umur 3 tahun salah? Ya nggak juga. Cuma waktu itu saya belum siap dan akhirnya memori saya tentang sekolah di playgroup itu kayaknya sedih, ya. Saya cuma ingat saya kabur dari sekolah, nangis-nangis di bis jemputan. I don’t remember any good memories. Mungkin ada, cuma nggak membekas. Makanya untuk Kaleb, saya akan lihat dulu nanti anaknya gimana. Kalau saya lihat dia siap, yuk sekolah. Kalau nggak pun kita tunggu sampai TK.

Setelah jadi ibu, saya punya idealisme sendiri. Walaupun di antara kalangan saudara-saudara saya dikenal sebagai orang yang suka sekolah *LOL, dari playgroup sampai S2 dikira hobi, padahal nggak*, saya bukan orang yang gila soal nilai dan apa-apa harus jadi the best di sekolah. Buat saya karakter dan kepribadian lebih penting daripada soal nilai sekolah.

Untuk itulah saat mencari sekolah saya nggak peduli misalnya saat di preschool dibilang pengajarnya native semua (SO?! Orang Indonesia emang nggak pintar?), diajarin baca tulis, berhitung, dan segala hal ambisius lainnya, harus pakai bahasa inggris, ada tambahan bahasa mandarin. NO! I don’t care with all those things.

Kemarin saat ada pameran sekolah di mall, saya iseng nanya-nanya, dong.

Me: “Di preschool nanti ngapain aja?”
Her: “Nanti di preschool ada pelajaran nulis, baca. Kita juga gurunya semua ada Filipina dan dari preschool diajarin bahasa mandarin.”

Muka saya langsung berekspresi, “TRUS KALAU ORANG FILIPINA KENAPA?” Saya langsung nggak tertarik untuk nanya lebih jauh lagi. Nggak, saya nggak peduli gurunya dari luar negeri dan nggak perlu bangga pula.

Saya mau Kaleb benar-benar berkembang sesuai tugas perkembangan seusianya dia. Bermain. Saya nggak perlu dia jadi jago baca di umur 3 tahun (kecuali dia memang tertarik, ya), nggak perlu dia bisa menulis sebelum TK, nggak perlu jago bahasa inggris dan mandarin juga saat ini, nggak perlu kurikulum luar negeri tersohor. Sesungguhnya pun, anak TK belum perlu bisa membaca dan menulis, cuma entah kenapa sekolah-sekolah sekarang mewajibkan pas SD harus bisa baca dan tulis. Gurunya malas susah tampaknya. Hahaha. Pokoknya tugas Kaleb sekarang cuma bermain dan mengeksplor dunianya.

Makanya saya santai aja, ketika orang-orang sibuk menyekolahkan anaknya di usia sedini mungkin, Kaleb masih sibuk main tanah di kebun sebelah rumah *LOL, anak kampung doi*. Anak lain sibuk berbahasa inggris, Kaleb belajar sendiri bahasa inggris pas nonton Youtube. Mamaknya yang kaget kok anaknya bisa nyebut 1-10 dalam bahasa inggris. Hahaha. Saya mau Kaleb tumbuh senatural mungkin, sedekat mungkin dengan alam, puas-puasin hidupnya dengan bermain sehingga ketika waktunya nanti serius, dia bisa belajar dengan baik.

Saya tipe ibu kolot yang hidup di tengah gempuran sekolah internasional Jakarta Barat (spesifik, karena tampaknya di wilayah Jakarta lain akan lebih mudah mencari sekolah tradisional dibandingin di JakBar) yang berlomba-lomba taglinenya: menjadikan anak Anda sejenius profesor di usia sedini mungkin. Terima kasih, Kaleb nggak perlu jadi jenius, kok. Siapa tahu nanti dia mau jadi atlet atau musisi atau whatever he wants.

Sekolah yang saya inginkan untuk Kaleb adalah:
– Sekolah berbasis Kristen/Katolik. Bukan supaya nanti dia merasa agamanya paling keren. Ini berdasarkan pengalaman saya dan suami yang dari TK sampai SMP (untuk kasus saya, pas kuliah balik lagi ke sekolah Katolik) di sekolah Katolik dan pernah mencicipi sekolah negeri yang plural. Kedisiplinan dan ketatnya sekolah Kristen/Katolik (yang pernah ngalamin pasti tahu suster-susternya yang galak. LOL!) membentuk kepribadian jadi lebih disiplin dan tahu aturan. Pas SMA masuk negeri, orang tua mengharapkan saya bisa berbaur dengan berbagai tipe orang, agama, suku, status ekonomi, saya emang jadi shock. Yang tadinya saya mayoritas, jadi minoritas. Tapi nggak papa, saya jadi belajar banyak. Tapi yang paling saya syukuri adalah disiplin dan tahu aturannya itu beda banget nget! Jadi saya bukan pengen Kaleb belajar agama di sekolah, karena itu tugas orang tua untuk mengajarkannya, tapi lebih ke soal tingkat disiplinnya yang tinggi.
– Balik lagi ke sekolah preschool atau TK nantinya. Saya pengen TK yang punya permainan outdoor, ada perosotan, ayunan, jungkat jungkit. Back to basic alias jadul. Hahaha. Kan tugasnya bermain jadi harus ada area permainan yang cukup dan di luar. Kalau di dalam jadi terbatas, dong. Makanya sekolahnya pun nggak mau yang di apartemen, ruko, rumah, dsb.
– Karena kalau saya masukin Kaleb ke preschool lebih untuk sosialisasi aja, jadi saya nggak mau fokusnya belajar akademis serius. Maunya belajar tapi dalam bentuk permainan. Nggak perlu diharuskan bisa baca, nulis, berhitung.
– Berbahasa Indonesia. Bolehlah kalau mau diajarin bahasa Inggris sederhana, tapi tetap bahasa utama bahasa Indonesia. Walau mungkin anak-anak lain udah bisa cas-cis-cus bahasa Inggris, tapi saya akan jauh lebih bangga kalau Kaleb paham bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya rindu orang yang bisa mengenal bahasa Indonesia dengan baik, bukan dengan bahasa alay-nya. Saya ingin Kaleb mengerti literatur Indonesia dengan baik. Kenapa? Karena dia orang Indonesia, lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, harus bangga sama tanah airnya. Saya mau dia bisa bersosialisasi sama semua orang, termasuk mbaknya, tukang sayur yang lewat depan rumah, tetangga, tukang balon, supir angkot, dan banyak orang lainnya yang mungkin nggak mengerti bahasa lain selain bahasa Indonesia. Saya mau dia bisa berbaur dengan semua orang. Maka dari itulah berbahasa Indonesia lah yang baik. Di tengah gempuran bahasa inggris sekarang, Kaleb pasti bisa bahasa Inggris, bahkan mungkin bahasa lainnya. Wong, orang tuanya aja bisa, kok. Santai. :))) Harapannya, Kaleb nggak pake bahasa campur-campur. Kalau pake bahasa inggris ya pakelah bahasa inggris yang baik.
– Nggak jauh dari rumah. Yah, mungkin kalau udah TK atau SD bolehlah maksimal jarak tempuh 30 menit. Kalau masih preschool deket-deket rumah ajalah, misal 10 menit jarak tempuh. Kenapa? Karena pas TK, jarak tempuh ke sekolah butuh setidaknya 15 menit. Masih OK-lah. Pas SD pindah rumah, tapi nggak pindah sekolah. Padahal rumah saya jauh banget. Di jaman itu aja saya butuh setidaknya jam 05.45 harus berangkat dari rumah untuk sampai tepat waktu jam 07.00. Lebih dari itu, YASALAM. Siap-siap kena setrap karena terlambat. Capeknya minta ampun. Belum lagi tuntutan PR segudang. Lelah hayati, Bang! Makanya meminimalisir hal nggak perlu, lebih baik sekolah yang jarak tempuhnya nggak terlalu jauh.
– Permasalahannya: mencari sekolah Kristen/Katolik di dekat rumah itu susah, men! Nggak sampe 5 sekolah. Sekitar 3 sekolah mungkin, ya. Itu pun bukan yang dekat-dekat banget. Kalau mau yang dekat banget pilihannya sekolah internasional atau sekolah jenius lainnya. Entah kenapa dengan karakter JakBar yang ambisius anaknya jadi yang terhebat, terpintar, tercerdas, dan terjenius, serta menang Olimpiade sains. LOL! Jadi PR Mamak dan Bapake buat cari sekolah Kaleb masih panjang, sih. Mungkin akan kompromi, mungkin akan mengganti kriteria. Well who knows? Masih ada waktu, toh Kaleb belum harus sekolah sekarang.

Kadang-kadang saya mikir, kok saya jadi orang tua kurang ambisius amat, sih. Emang nggak pengen anaknya pintar? Pengen lah. Kalau Kaleb jenius siapa sih yang nggak bangga. Udah pasti nilai-nilainya saya upload di sosmed muluk *WOOOY! Nggaklah. Nggak senorak itu. Tapi saya pandangin terus itu rapot pasti. HAHAHA*.

Saya cuma pengen Kaleb tumbuh senatural mungkin. Untuk itulah saya nggak pernah beliin dia mainan sering-sering. Sebulan 1 kali. Plus, cuma mainan di abang-abang aja, kok. Apa itu mainan ratusan ribu? Kecuali dikasih, saya nggak pernah beliin dia mainan mahal. Dia toh belum paham mainan mahal dan murah, dan saya nggak perlu membuat dia harus bangga kalau punya mainan mahal. Anaknya super duper penasaran jadi semua mainan yang dibeli berakhir akan dibongkar sama dia, rusak, dan Mamak gregetan (ya, mobil-mobilan dicopotin rodanya sebelah, ride on diajak mandi sampai nggak ada bunyinya lagi, sepeda yang ada mainan robot dilepas semua batrenya jadi hilang, dan banyak tindakan kekerasan pada mainannya. Hahahaha). Jadi nggak perlulah mahal-mahal. :)))) Toh kalau nggak ada mainan, anaknya sebenarnya nggak ribet juga. Tinggal main naik turun tangga di rumah sampai Mamak sport jantung, berantakin panci, tarik-tarik anjingnya, urek-urek tanah, lempar batu, bongkar baju-baju sampai berantakan, keluarin body lotion sampe Mamak harus pelototin karena habis, patahin lipstik Mamak. He’ll be happy anyway. ๐Ÿ˜‰

Intinya saya pengen Kaleb tumbuh sesuai usianya, senatural mungkin, se-content mungkin, dan nggak mau menambah stres yang tidak perlu cuma karena ambisi orang tuanya. Saya adalah Mamak ambisius (tadinya) yang juga sedang belajar untuk tidak menjadi terlalu ambisius. Saya lebih pengen Kaleb jadi anak yang bahagia, mandiri, dan bisa memilih jalan hidupnya. Paling penting, punya karakter dan sifat yang baik. Buat apa pintar, tapi bikin sebel orang *lirik banyak politisi sekarang*. Tugas orang tuanya adalah jeli melihat mau ke mana Kaleb nanti dan mengarahkan.

Eh, tapi kalau ditanya ambisi Mamak buat Kaleb sih Mamak pengen Kaleb jadi kayak Ahok. Beuh, berat amat, Mak! :)))))

 

 

 

 

Cinta Pertama Yang Datang Lagi

the-moffatts

Dulu kala saya ngefans banget sama The Moffatts. Hah, siapa tuh The Moffatts? Yang nggak tahu The Moffatts pasti sekarang masih ABG karena pada masanya The Moffatts ini hits banget sampai gaya rambut poni blonde jadi trend ABG waktu itu *kalau ingat lagi ilfil gila itu model rambut wakakaka*. Sukanya sampai saya bikin cerpen untuk masing-masing personelnya. Tokoh utama ceweknya bukan saya, tapi gambaran dari saya, sih *YA SAMA AJA, MBAKNYA!* ๐Ÿ˜„

Kesukaan saya pada The Moffatts sampai pada ngumpulin poster, hapal mati semua lagu-lagunya, non stop talking about them, tahu semua detilnya dan beli semuaaaaa majalah tentang mereka. Sayangnya pas mereka konser di Indonesia waktu itu saya nggak bisa datang. Lupa karena apa, sepertinya karena nggak dibolehin. Tapi pedihnya minta ampun sampai malam-malam di hari konser itu saya nangis tersedu-sedu. Patah hati begini amat ya rasanya. :((( *maklum nggak punya pacar, patah hatinya sama boyband*

Sama kayak anak ABG lagi jatuh cinta, pacar berubah mah kita terima aja, ya. Begitu pun dengan The Moffatts walau album terakhir mereka penuh dengan rambut gondrong berowokan, musik rock nggak selera saya, tapi apa pun yang terjadi saya tetap cintah. Sampai akhirnya mereka tiba-tiba menghilang dan saya patah hati lagi. Ibarat pacar, mutusin nggak, tapi kok menjauh. WHYYY?

Serpihan-serpihan memori The Moffatts mulai memudar, tapi layaknya unfinished bussiness, cintanya sih masih tetap ada. #tsaaah Beberapa tahun lalu aja menemukan video mereka akustikan pas Natal bahagianya minta ampun. Duh, pacar ay sekarang begini toh tampangnya. Akhirnya ngubek-ngubek berita mereka. Clint dan Bob masih bermain musik (sempat bikin grup bikin musik Same-Same di Thai sana, sempat ganti nama beberapa kali), Scott bikin musik juga tapi solo, kayaknya tinggal di Amerika sendiri, Dave ngikutin Canada Idol dan kalah #sad, lalu membuka diri bahwa ia adalah seorang gay *patah hati*. Anyway, Clint dan Bob sama-sama udah punya pacar. Lainnya tampaknya single. Clint baru saja mengumumkan di Instagramnya kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang Bapak. Mantanku sudah dewasa! :’)

Cinta ini masih ada dibuktikan dengan mendownload seluruh lagunya dan mendengarnya di mobil tiap hari. Uh yeah! Masih bisa sing along, nggak ada yang terlupakan. Makanya waktu beberapa bulan lalu diumumkan The Moffatts mau datang ke Indonesia, I was like…………. GUE HARUS NONTON!! Deg-deg ser bok! Pas harga tiket diumumkan, ish nggak mahal. Sungguh nih harus nonton! Yea yea yea!

Tapi namanya kalau nggak jodoh, waktu itu sibuk banget dengan urusan lain sampai lupa banget mau beli tiket The Moffatts, trus diumumkan sama promotornya kalau tiketnya sold out. TIDAAAAAAAAAK! Aku kan belum beli, kenapa udah habis aja, sikkk! *nangis di depan poster The Moffatts*

Pasrah dan ikhlas aja lah. Tapi kenapa foto-foto konser mereka bertebaran di Instagram?Hatiku gremet-gremet banget ini loh, Mas. Sampai akhirnya tadi pagi di Instagram promotornya dibilang tiket untuk hari kedua masih tersisa dan bisa langsung beli di venue. Oh, inikah pertanda kita akan bertemu setelah 17 tahun terpisah? Apakah takdir berpihak pada kita? Apakah cinta ini akan berbalas?

Saya langsung bilang ke suami, “Aku nanti kayaknya mau nonton The Moffatts, deh. Masih ada sisa tiket, nih. Kamu bisa jemput Kaleb dari rumah Opung, trus boboin dia, ya.”

Suami sih no problemo, ya. Silahkan kejar cinta pertamamu. Mungkin tiba waktunya kalian harus menuntaskan asa yang tertinggal. #ciyeeee

Sampai kantor cek Instagram promotornya, jam berapa manggungnya, dan prosedur beli tiket. Kebetulan konsernya dekat banget sama kantor. 10 menit juga sampe jadi nggak masalah.

Masalah utamanya adalah: MANGGUNGNYA JAM 9 MALAM! Malam amat, bro! Kelar jam berapa ini? Anak masih tidur pake nenen. #masalahemakemak

Gini yah, The Moffatts kan band jadul 90an, fansnya juga pasti kebanyakan udah jadi emak-emak beranak. Anak perlu dikelonin pake tetek, cyin! Sayangnya tetek Bapak nggak ngeluarin ASI jadi anak kurang doyan. Hahaha! Plus, mulai jam 9, belum pake ngaret, trus selesai sekitar jam 11 malam atau lebih, pulang rumah udah lewat jam 12 malam. DOH, BADAN EIKE BISA RONTOK di kantor nanti! Maklum, umur mah nggak boong kan! Jam 9 malam biasanya karena waktunya nidurin anak jadinya ya ikutan tidur juga. Ini disuruh begadang sampe tengah malam, apa kabar kantong mata besok pagi? Kalah kantong mata SBY mah! Belum lagi suara serak nyanyi-nyanyi heboh plus jingkrak-jingkrakan, udah pasti pas di kantor besokannya menjelma jadi zombie. Zzz!

Tolonglah para promotor kalau mendatangkan band jadul disesuaikan sama jam tidur fans yang kebanyakan udah uzur juga. Inget, umur nggak bohong, fisik menurun, cyin!

Jadi, dengan berat hati terpaksa nggak bisa ketemu cinta pertama lagi, walau dia sudah jauh-jauh datang dan keberadaannya dekat banget sama saya. Masih galau sih sebenarnya. *duileeeh, masalah boyband doang bikin galau seharian* Tapi dear The Moffatts, cinta pertamaku, kali ini saya harus mengalah karena saya lebih milih ngelonin cinta terbesar dalam hidupku, Kaleb.

Sampai jumpa kapan-kapan, ya! Lain kali kalau mau konser, harus inget diadakan jangan kemalaman, plus siapin day care biar emak-emak yang punya anak bisa tenang hatinya kalau nggak bisa nitipin anaknya. SIP, OKE OCE!

 

PS: Tapi kalau tiba-tiba ada yang kasih tiket gratis, lain cerita ya. Saya pasti datang. *Lah, nggak konsisten #pecintagratisan*

 

 

 

Perkara Rengginang Nyangkut

Seminggu lalu saya melakukan hal bodoh. Waktu itu lagi ngemil rengginang, tapi rengginangnya keras banget. Karena saya anaknya gragas, jadi walau keras, tapi tetap saya makan. Padahal rasanya ya begitu aja, bukan yang enak-enak banget. Lapar mata aja, bok! Kemudian datanglah azab untuk orang yang rakus….

Serpihan rengginang nyangkut di gusi dinding mulut bagian atas. Nyes! Masuknya dalam pula, jadi nggak bisa dikorek pake tusuk gigi. Ganjel banget di mulut. Huhuhu! Gusi saya jadi sakit dan bengkak. Gosok gigi aja susah. Makan walau masih bisa, tapi kalau kena ya sakit. Tiap saat kerjaan saya ngorek-ngorek yang nyangkut pake lidah. Tetep loh bandel banget nggak mau keluar atau bergeser. Duh!

Akhirnya ngadu sama suami, tapi dipikir nyangkut makanan di gigi kan soal sepele, jadi nggak digubris. Tidaaaak! Padahal udah nggak nyaman banget dan akhirnya jadi ganggu karena gigi ngilu. Pfft!

Akhirnya memutuskan, sudahlah ke dokter aja. Ini udah lewat 4 hari dan nggak keluar sendiri itu rengginang walau udah diusahakan berbagai cara. Nah, saya nggak punya dokter gigi langganan. Tiap ke dokter gigi selalu ganti-ganti dokter dan ya pengalamannya nggak ada yang spesial sampe bikin saya wow!

Karena saya sering lewatin Puskesmas Kebon Jeruk yang sekarang bagus banget dengan banyak pelayanan, jadi pikir ya udah ke puskesmas aja. Toh, perkara rengginang nyangkut doang. Huhu! Mau sekalian coba BPJS juga, sih. Bisa jalan nggak nih programnya?

Sebenarnya ada puskesmas yang lebih dekat rumah, tapi kok kelihatan dari luar kayak gelap dan nggak terurus, ya. Saya kan jadi nggak yakin sama pelayanannya. Jadilah ke puskesmas Kebon Jeruk yang agak jauhan dikit.

Saya datang pagi hari, langsung ambil nomor antrian di mesin yang terletak di lobi. Untuk setiap poli di puskesmas ini juga bisa daftar online. Canggih, ya. Setelah itu naik ke lantai 2 untuk menukarkan nomor antrian di poli gigi dan dicatat nomor BPJS oleh petugas. Semua petugasnya ramah, murah senyum, dan informatif.

Setelah dapat nomor antrian baru deh nunggu di depan polinya untuk dipanggil. Nggak nunggu lama, sekitar 15 menit, saya pun dipanggil masuk. Jadi di satu ruangan ada 3 kursi untuk pemeriksaan gigi, makanya antriannya jadi nggak lama.

Sebelum diperiksa dokter menanyakan keluhannya apa. Hanya boleh satu tindakan per hari. Jadi kayak saya kemarin, keluhannya gigi bolong dan makanan nyangkut, saya disuruh milih mau ditindak yang mana. Sebenarnya ini yang bikin cepat sih karena dokter cuma boleh menangani satu tindakan, tapi jadi nggak efektif karena harus bolak balik di lain hari untuk tindakan lainnya, dong.

Setelah dokternya periksa gigi dan menjelaskan kondisi gigi, dia nanya ke saya mana yang mau dibenerin dulu. Ya, saya sih tanya aja mana yang paling urgent. Ternyata ya si rengginang nyangkut itu karena gusi saya udah bengkak dan takutnya bernanah. EUH! Pengerjaannya teliti dan sabar sih sampai benar-benar masalahnya selesai dan bersih.

Setelah selesai pemeriksaan, dokter kasih resep. Oh ya, di awal dokter menjelaskan kalau walau saya pake BPJS tapi nggak bisa gratis karena saya ke puskesmas bukan di rayon saya. Jadilah harus bayar. Oh, baiklah nggak papa, deh. Mikirnya udah mahal, dong. Secara biasanya ke dokter gigi mahal banget. Pas dikasih biayanya: biaya kuret gigi Rp 25.000 dan biaya pendaftaran Rp 2000. OMG beneran nih semurah iniiii? Nggak sampe Rp 50.000, bok! Saya sampai melongo banget.

Selesai membayar, saya kasih nomor antrian ke apotik karena ada obat yang harus dimakan. Saya udah siap-siap bayar obat lagi, dong. Di rumah sakit atau klinik kan begitu, ya. Eh, pas dikasih obatnya, nggak ada biaya lagi dong. APAAAA?! Beneran nih, cuma Rp 27.000 aja yang saya bayar dan segala perkara rengginang nyangkut dan gusi bengkak kelar? Saking murahnya sampai nggak percaya. Bahagia banget! :)))

Jadi ya wajar juga sih, udah cuma bayar murah trus besoknya disuruh balik lagi untuk tindakan lain ya nggak papa juga. HAHAHA. Toh bisa cari puskesmas yang ada poli giginya dekat kantor aja biar nggak usah bolos, kan.

Ish, senang banget deh berobat ke puskesmas ini. Pelayanannya bagus dan harganya murah. Jadi jangan takut datang ke puskesmas karena sekarang pelayanan mereka sama bagusnya dengan dokter swasta, kok. ๐Ÿ™‚

 

Jalanku Bukan Jalanmu

Terserah lah kalau mau main di genangan 😑


Sebagai orang tua, pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Kalau bisa anaknya selalu bahagia, nggak susah, kaya raya, dan sehat selalu. Pokoknya semua hal yang baik, deh. Karena orang tua hidupnya sudah lebih lama juga, jadi merasa lebih tahu cara menuju kesuksesan. Sayangnya, nggak selalu jalan hidup orang tua sesuai dengan jalan hidup anak.

Untuk hal-hal yang besar, saya bersyukur orang tua nggak pernah maksa. Ngarahin iya, ngarep-ngarepin iya, maksain kriteria orang tua ke saya juga iya, tapi selalu akhirnya saya yang harus memutuskan. Kalau kata orang tua saya, kalau saya nyesel ya tanggung jawab ada di saya, bukan nyalahin orang lain. :))) Oh oke, deh.

Begitu pun juga ke Kaleb. Sedari kecil berusaha supaya membebaskan dan nggak terlalu maksa ke Kaleb. Kayak misalnya sekarang Kaleb udah bisa milih mainan. Kalau ke toko mainan dia udah bisa bilang, “Mami, beli!” atau “Papa, bayar!” sembari mengantarkan mainannya ke kasir. Dia tahu mainan di toko nggak bisa diambil begitu saja harus dibeli dan dibayar pake uang.

Kalau di toko mainan, Kaleb udah mulai bisa milih mainan mana yang dia mau. Kadang-kadang pilihan dia bikin saya pengen bilang, “Euh, warnanya norak!” atau “Doh, itu kan jelek banget bentuknya!”. Tapi ya saya diam aja, sih. Paling maksimal yang bisa saya lakukan untuk menggoyahkan pilihannya adalah, “Bener mau yang ini? Nggak mau yang itu? Yang itu warnanya bagus, lho. Eh, besar nih, bisa dibawa main ke taman.” Selanjutnya Kaleb biasanya akan melipir ke mainan yang saya tunjuk, terkadang dia setuju, lebih banyak dia pilih yang lain lagi. Kadang-kadang saya menang, kadang-kadang harus pasrah lihat Kaleb pilih mainan yang norak. :)))

Pernah saya kesengsem banget sama mainan kompor-komporan, lengkap dengan panci, gorengan, dll. Gemes pengen punya karena waktu kecil saya nggak punya. Huhu! Waktu itu ketemu warnanya biru, pas buat cowok. Cowok kan boleh main masak-masakan, ya, biar bisa jadi chef (anyway, saya nggak pernah membatasi Kaleb harus main mainan cewek atau mainan cowok. Dia main boneka boleh, main pistol oke, main masak-masak silahkan, main truk gpp). Bujuk Kaleb beli mainan kompor-komporan, anaknya nggak tertarik, malah lihat gitar-gitaran. Ah, mungkin anaknya belum paham. Padahal kan dia suka gratakan di dapur lihat mamanya masak, pasti dia suka. Jadi saya memutuskan untuk tetap beli. Nanti kalau udah dirakit mainannya, nanti dia paham dan pasti suka. Yes!

Sampai di rumah, dirakit, Kaleb emang main lah itu kompor-komporan. Saya senang, dong. Tuh kan, emang waktu itu dia belum paham aja. Eh, tapi dia hanya bertahan main kompor-komporin 2-3 hari aja. Habis itu hampir nggak pernah disentuh, atau kalaupun disentuh cuma untuk dengerin bunyi kompornya. Jiyaaah. Gagal maning!

Makanya saya pikir, ya udah lah nggak usah maksain beli mainan yang nggak disuka lagi. Biarkan Kaleb memilih biar kalau beli mainan, mainannya awet dimainanin terus, nggak dianggurin. Biar dia juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusannya, biar nggak berat hati menjalankan keputusannya, dan tetap bahagia dengan caranya. Ish, dalem banget, ya. :)))

Saya pernah bilang ke suami saya, Kaleb boleh menjadi apapun yang dia mau kalau besar, selama itu positif. Hidup dengan doktrin harus jadi jemaat di suatu gereja, padahal hati saya sama sekali nggak pernah ada di situ (dan lumayan menyiksa karena akhirnya tiap datang ke gereja itu saya ribet harus pake baju apa, cukup oke nggak nih, udah pernah dipake sebelumnya nggak –> akibat doktrin Mama yang bilang kalau ke gereja itu harus rapi maksimal. Kalau bajunya udah pernah dipake, nggak boleh dipake dalam waktu dekat). Akibatnya saya datang sibuk dengan penampilan, di gereja ngomongin penampilan orang, dan pas khotbah ngantuk (bangun kepagian, sibuk ngeblow rambut, dandan caem). Lyfe! :)) Sampai sekarang saya pun nggak punya keberanian untuk bilang, “Saya mau keluar dari jemaat itu, dong!” Takut dirajam keluarga, bok! :)))) Padahal tiap minggu bergereja di gereja lain, hanya datang ke gereja saya tiap hari raya besar aja.

Makanya, saya nggak mau Kaleb berbeban hati kayak saya. Kalau dia sudah bisa memilih nanti, dia boleh bergereja di mana saja. Termasuk di gereja saya sekarang. Yah, kalau dia hatinya di situ ya tentu boleh. Supaya hatinya riang ketika beribadah.

Pilihan-pilihan yang kita pikir benar dan paling baik untuk anak kita, kadang-kadang justru memberatkan anak kita. Mungkin tugas orang tua itu membimbing, bukan memilihkan jalan hidupnya. Anak mungkin akan jatuh, kesasar, dan tugas orang tua adalah membimbing ke jalan yang benar. Tapi pilihan kembali ke tangan anak, karena toh akhirnya dia yang akan menjalani. Susah banget pasti. Kan serasanya kita sebagai orang tua yang paling tahu (lah wong, kalau Kaleb pilih mainan jelek aja saya suka pengen arahin ke mainan yang saya anggap bagusan). Tapi tanyain ke diri sendiri dulu, ini demi ego kita atau demi anak kita? ๐Ÿ™‚

 

 

PS: tulisan ini terinspirasi dari mas AHY yang terpaksa keluar dari militer demi ambisi SBY. Semangat terus mas AHY, semoga menemukan jalan yang pas di hati, ya. ๐Ÿ™‚

 

Pesta Batak Pertama Kaleb

img_20170211_110000

Seperti diketahui, pesta Batak itu selalu lamaaaa dan prosesnya panjang banget. Dari pagi sampai malam, nggak ada jeda. Nyos! Selama hampir 2 tahun ini, Kaleb nggak pernah ke pesta Batak. Pas di bawah setahun sih menghindari ke pesta Batak karena Kaleb masih hobi nenen, yang mana gimana pulak pake kebaya trus nenen. Jadi mendingan ijk absen dulu dari dunia perkewongan Batak.

Nah, kemarin sepupu saya menikah, yang mana pastilah harus ngikutin semua prosesinya dari awal sampai akhir. Akhirnya ya bisa pake kebaya lagi karena Kaleb udah mostly cuma nenen pas mau tidur doang. Sisanya kasih makan atau cemilan aja, beres. Apalagi pas di pesta nanti banyak sepupunya jadi dia akan sibuk main sama sepupunya.

Ternyata ke pesta dan punya anak itu double rempongnya. Bangun jam 4.30 pagi untuk mandi dan siap-siap ke salon. Seperti biasa, Kaleb kayak udah punya radar kalau Mamak bangun, dia pun ikut bangun. Hiyaaaa, langsung deh clingy ke Mamak-nya. Nggak mau digendong siapapun sampai akhirnya dibawa ke kamar mandi untuk nungguin saya mandi, dia pun tetap nangis minta dipeluk dan digendong. Gilingan, mana udah telat ke salon. Akhirnya diambil sama Opungnya dan dialihkan dengan mobil-mobilan dan dijanjiin jalan-jalan. Anak eike kalau udah denger jalan-jalan, mata langsung berbinar-binar.

Akhirnya saya cus ke salon, sambil ngingetin Mbak di rumah untuk mandiin Kaleb dan bikin makanan dan bekal dia nanti (kalau ke pesta gini, nggak yakin makan siangnya akan tepat waktu jadi paling aman bawa makanan sendiri).

Pulang ke rumah, siap-siap pake kebaya, cek barang bawaan Kaleb yang segerobak, lalu langsung berangkat. Kasih makan anaknya di mobil aja, kemudian dia ketiduran sampe tempat pesta. Baguslah ya, soalnya dia bakal beraktivitas seharian nanti.

Untungnya seharian itu anaknya pinter banget makannya. Pas makan siang cepat dan habis karena udah nggak sabar mau main sama sepupu-sepupunya. Dia juga sempat tidur siang walau nggak lama, cuma sejam. Tapi lumayan lah. Selanjutnya walau bawa si mbak, tetap minta gendongnya sama saya. Jadi Mamak Batak harus pake kebaya, high heels, dan gendong-gendong anak, sambil melayani tamu ngedarin makana. The power of emak-emak. Hahaha!

Hari ini sukses banget. Indikasi sukses saya adalah Kaleb makan teratur, tetap ada tidur siangnya, dan saya pun bisa menikmati pesta. Horeee! Anyway, Kaleb itu anaknya sangat nggak bisa diam. Nggak ada tuh namanya duduk manis. Never. Dia harus selalu bergerak ke sana, ke mari, jalan atau lari, nggak istirahat sama sekali. Dia hanya diam kalau bobo. Makanya tadinya berasa horor banget gimana ini seharian pesta sambil ngejar anak ini? Tapi ternyata sepupu-sepupunya yang udah lebih besar bisa jagain dan ajak main, jadi saya bisa bebas dikitlah. Mbaknya malah jadi enteng banget kerjaannya karena banyakan sama para sepupunya dijagain. Hihihi.

Pesta Batak? Siapa takut!

img_20170211_095253

Jarang pake make up kece, selfie dikit boleh lah yaa ๐Ÿ˜€

img-20170212-wa0003

Raising a gentleman

img_20170211_140405

Para sepupu

img-20170211-wa0004