Review Ellips Hair Vitamin Pro Keratin: Bye Bye Rambut Rusak!

Saya ini paling suka utak-atik rambut. Saya baru berani mewarnai rambut itu beberapa bulan sebelum hamil. Eh, tapi nggak lama hamil jadi nggak berani mewarnai rambut selama hamil. Setelah melahirkan, hal pertama yang saya lakukan adalah potong rambut dan mewarnai rambut. Pokoknya saya merasa harus berasa kece setelah melahirkan karena bentuk badan saya udah nggak karuan banget. Hiks.

Sejak itu saya jadi ketagihan banget mewarnai rambut. Tiap rambut diwarnai berbeda, saya merasa wajah saya bisa berubah sesuai dengan rambutnya. Senang banget merasa fresh dan baru lagi dengan rambut yang berbeda.

IMG_3815

Pernah pirang. Hahahaha!

Pirang

IMG_4014

Udah diwarnai, lalu dicatok setiap hari, hasilnya….. kelihatan banget kan itu rambutnya kering kerontang

Selain suka warnain rambut saya setiap hari wajib banget dicatok supaya rambut rapi. Jadi rambut asli saya itu keriting acak-acakan banget dan saya nggak tahan banget kalau harus keluar dengan rambut bak singa. Pokoknya tiap keramas saya harus ribet ngeringin rambut pake hair dryer. Setelah kering lalu dicatok. Kalau pakai hair dryer cuma pas baru keramas aja, tapi pakai catokan itu setiap hari. Kayak kemarin saya baru keramas dan lupa bawa catokan ke kantor, asli hidup rasanya resah banget. Sampai niat banget siangnya mau ke salon biar bisa diblow. Untung aja dapet pinjeman catokan jadi bisa dipakai. Huhu segitu ketergantungannya.

story_1560910880803

Setiap hari wajib catokan. Walaupun rambut udah rusak, aku tetap maksa catokan tiap hari sampai rambut patah-patah dan rapuh banget.

Akhirnya rambut saya jadi makin rusak. Kering, patah-patah, dan rontok. Beneran kayak sapu ijuk. Tapi udah rusak kayak gitu aja, saya masih tetap keukeuh nyatok tiap hari. Gila banget sih, rambut saya benaran nggak dikasih napas. Jadi tiap nyatok, rambutnya makin kres kres kres patah. Ngeri liatnya. Hahaha.

Pada saat lagi sedih-sedihnya sama kondisi rambut yang serasa hidup segan, mati pun tak mau, saya dikirimin paket lengkap Ellips. Saya langsung cobain semua rangkaian produknya. Dua kali seminggu saya hair mask rambut saya dan pakai hair vitaminnya setiap habis keramas dan sebelum dicatok. Hair vitamin Ellips ini mengandung pro keratin complex sehingga merawat dan menutrisi. Rambut jadi pulih kembali dan memberi proteksi pada rambut. Seri pro keratin complex ini bikin rambut 2 kali lebih sehat dan 2 kali lebih lembut. Rambut jadi tidak bercabang, rontok, dan kering lagi. Saya pakai yang warna pink untuk merawat rambut rusak. Tapi Ellips hari vitamin Pro Keratin ini punya 3 varian yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kalian aja.

IMG_20190527_185854_552

IMG_20190527_185854_556

Ellips hair vitamin Pro Keratin jadi andalan dan jadi penyelamat banget ini pas lagi rambut kering dan rusak

Karena kemasannya yang imut-imut jadi saya gampang bawa dan naro di setiap tas saya jadi saya nggak bakal kelupaan pakai. Cara pakainya pun gampang tinggal digunting ujungnya, taruh di telapak tangan, dan usapkan pada rambut. Dipakainya setelah habis keramas ketika rambut mulai setengah kering. Biasanya saya keramas pagi hari, rambut dibiarkan basah, baru sampai kantor ketika rambut sudah setengah kering saya pakai Ellips hair vitamin Pro Keratin. Kalau sudah kering, saya catok deh rambutnya. Teteeep ya harus dicatok mah kalau saya. Hahaha.

Dua minggu pakai seluruh rangkaian Ellips bikin rambut saya jadi tidak kering dan patah-patah lagi. Plus pointnya lagi rambut saya jadi lembut banget. Senang banget karena saya sempat hopeless banget kan sama rambut rusak, kering, patah-patah. Bahkan sampai saya babat rambut sampai pendek banget. Tapi paling benar emang harus merawat rambut dengan teratur dan jaga asupan makan ke tubuh kita supaya bikin rambut lebih kuat.

2019_0602_19363700

Kelihatan banget kan rambutku nggak rusak lagi. Nggak ada rambut kering, patah-patah, apalagi rontok. Sehat kayak baru ke salon.

2019_0602_19365600

Pokoknya sekarang kalau catokan udah nggak takut lagi. Rambut nggak kres kres kres jatuh.

Jadi kesimpulannya, apakah saya akan pakai lagi hair vitamin Ellips hair vitamin Pro Keratin. IYA BANGET. Rambut saya jadi lembut, nggak kering, dan wangi banget. Pelajaran banget buat saya kalau rajin warnain rambut dan catok setiap hari harus banget pakai hair vitamin biar rambut tetap sehat dan nggak ngambek lagi.

Karena rambut saya sudah kuat dan nggak rontok lagi sekarang, jadi mau warnain rambut lagi, deh. Kira-kira warna apa ya yang cocok buat saya? Hehehe.

Kalau mau tahu lebih banyak tentang Ellips hair vitamin Pro Keratin, bisa dicek ke sini:

Instagramย dan Facebook

 

Advertisements

Balada Mbak Nggak Balik

Haloooo ibu-ibu, gimana kabarnya?

Kabar saya sungguh lelah luar biasa karena nggak punya Mbak. *sad* Jadi Mbak saya kemarin itu Mbak kesayangan saya banget. Rajin, nggak pernah ngeluh, nggak drama sama sekali, nggak suka keluar-keluar, sayang sama Kaleb. Beuh, she’s all I’ve ever asked for. Ciyeee! Mana udah bertahan selama 3 tahun pula, kan. Gimana nggak tambah zheyeng.

Tapi di tengah hubungan yang lagi sayang-sayangnya ini, si Mbak bilang sudah pesan tiket untuk pulang Lebaran nanti. Oke, tak masalah. Seperti biasa, saya tanya kapan baliknya. Dia jawab nanti dikabari. Oke, nggak papa juga. Tiap tahun dia pulang emang begitu selalu nggak kasih tahu kapan pulangnya, tapi pasti pulang. Dia pasti nggak bawa semua bajunya ke kampung.

Tapi feeling saya kok nggak enak, ya. Jadi pas pulang saya tanya lagi langsung, “Kamu balik lagi nggak nanti?”. Trus dia jawab nggak tahu. DEG! Udah deh perasaan udah nggak enak. Setelah dikorek-korek, dia bilang dia mau bantuin ibunya dulu bangun rumah. Mungkin mau kerja di pabrik dekat rumah, tapi setelah selesai rumahnya bisa juga dia kerja di Jakarta lagi. Nggak tahu kapan. Pantang menyerah, saya tanya masalahnya apa kok tanpa angin dan hujan dia nggak mau balik, jawabnya, “Ibu baik banget kok sama saya. Saya aja yang mau bantuin ibu saya di kampung.” DUAAR! Kayak lagi putus pas sayang-sayangnya dan alasan dia adalah, “Bukan salah kamu, salah aku yang nggak pantas buat kamu.” Alasan kamoooh! Hati ini sakit banget, lho.

Efeknya beneran kayak putus cinta. Saya ngambek dan nggak mau ngomong sama dia. Kayak terlalu perih aja setiap ngeliat dia. Saya jadi jarang panggil dia, jarang minta tolong, jarang interaksi. Terlalu sakit. Saya uring-uringan banget sampai suami juga bingung.

Di hari H dia pulang, saya pergi seharian karena saya tahu dia bakal pulang malam. Saya nggak sanggup deh lihat dia pulang. Dan benar aja pas dia pulang, saya berusaha sedingin mungkin. Kemudian saya cek kamarnya dan semua bajunya dibawa. HUWAAAA!

Dan sejak itu hariku tak pernah sama lagi. Setelah 3 tahun hidupnya dimudahkan, sejak nggak ada Mbak saya berjibaku dengan semua pekerjaan rumah tangga, masak (ini saya paling benci), dan nyuapin Kaleb. Seminggu pertama itu stres banget, lho. Ada masanya saya nangis terisak-isak karena berduaan aja di rumah sama Kaleb, sementara suami masih kerja. Tapi pas suami udah bisa libur hidup jadi lebih mudah, sih.

Sampai sekarang masih belum dapat Mbak walau udah menghubungi penyalur. Tapi nggak tahu deh hati saya udah siap belum untuk menerima Mbak baru. Membayangkan kalau bakal dapat Mbak yang sebaik kemarin aja tuh saya takut. Takut drama, takut nggak baik, takut suka nyuri, dan takut-takut yang lain. Stres banget. Drama Mbak ini sungguh efeknya nyata bagi kesehatan psikologis saya. Sepele tapi berat. Hiks!

Gimana dengan kalian apakah Mbak udah datang atau mangkir?

 

Tentang Bertengkar di Depan Anak

Sepanjang saya menjadi seorang ibu, salah satu fase di mana saya sedih banget dan merasa bukan jadi ibu yang baik karena saya bertengkar dengan suami di depan anak. Kami cuma bertengkar mulut, tapi tentunya dengan nada tinggi. Kaleb diam saja, mukanya terlihat cemas melihat kami bertengkar, tapi dia masih sok cool dengan main-main santai kayak biasanya. Yang membuat saya merasa bersalah adalah secara teori yang umum, saya tahu banget bahwa harusnya nggak boleh berantem di depan anak. Kalau berantem, orang tua harus nggak boleh ketahuan sama anak.

Dari pengalaman sebagai anak, ketika orang tua saya bertengkar, saya jadi merasa takut dan mereka akan bercerai. Padahal berantem mereka ya biasa-biasa aja, nggak kekerasan di dalamnya. Tapi karena saya hidup di dunia ideal dan orang tua saya tidak pernah membicarakan apakah konflik yang terjadi bisa diatasi atau tidak, saya jadi punya ketakutan sendiri ketika mereka bertengkar.

Saya kemudian belajar (dan didukung oleh penelitian terbaru) bahwa tidak semua argumen dan konflik yang dilakukan orang tua di depan anak akan berakibat buruk. Pasti sebagai orang tua kita berusaha banget nggak berantem di depan anak, tapi kan kadang-kadang kelepasan juga, ya. Well, after all we’re humans. Manusiawi banget. Patokannya adalah konflik dan argumen tersebut tidak boleh destruktif dan melukai.

Adam Grant, profesor Psikologi dari Wharton School of Bussiness, menjelaskan bagaimana berantem yang sehat di depan anak agar anak lebih pintar dan kreatif. Banyak anak yang diajarkan bahwa berantem itu perilaku buruk, tapi argumen atau konflik dalam keluarga jika dilakukan dengan tepat akan menghasilkan solusi yang membantu anak untuk membangun karakternya, membuat mereka siap untuk dunia sebenarnya, dan memperbolehkan mereka untuk berpikir mandiri dan mencari solusi yang kreatif ketika ada yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Saya tetap berusaha untuk tidak sering berantem sama suami depan Kaleb, tapi saya juga tidak mau menciptakan “ilusi” bahwa dunia itu sebegitu indahnya sampai tidak ada konflik yang harus diselesaikan sama sekali. Keluarga suami saya adalah tipe keluarga yang tidak pernah menunjukkan ada konflik sama sekali di depan anak-anaknya. Sehingga suami terkaget-kaget dengan tipe keluarga saya yang frontal banget kalau ada konflik bisa saling berantem, tapi pada akhirnya baikan. Sementara keluarga dia, konflik itu disimpen seolah-olah semuanya berjalan mulus yang mengakibatkan dia sulit sekali jika berhadapan dengan konflik.

Oleh karena itu, ketika kami membesarkan Kaleb, kami sepakat melakukannya dengan terbuka. Ketika kami keceplosan harus bertengkar di depan Kaleb, kami langsung berdiskusi dengan Kaleb tentang apa yang terjadi. Saya biasanya bilang, “Maaf ya Mami dan Papa berantem depan Kaleb. Keluarga kadang-kadang berantem. Kayak Kaleb kadang-kadang berantem sama Mami, kan? Habis berantem biasanya kita ngapain, Kaleb?”

Lalu dia menjawab, “Baikan, Mami.” Lalu dia menyodorkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking saya sebagai tanda baikan.

“Setelah baikan habis itu tetap saling sayang nggak?”

“Tetap sayang.”

“Nah, keluarga itu begitu. Kadang-kadang kita berantem tapi kita akan selalu baikan dan tetap saling sayang. Jadi Kaleb nggak usah sedih, ya.”

“Iya. Kaleb nggak sedih.”

Lalu biasanya saya dan suami akan menunjukkan di depan Kaleb bahwa kami sudah baikan dengan saling pelukan atau kalau dalam hal ini, saling mengaitkan jari kelingking kami berdua sebagai tanda baikan di depan Kaleb. Saya memastikan Kaleb mendapatkan closure yang tepat.

Saya ingin Kaleb paham bahwa family also argue and fight, but we always resolve the problems and love each other. Saya ingin Kaleb belajar bahwa konflik itu memang selalu ada dan bagian dari hidup, tapi yang penting bagaimana konflik itu diselesaikan dengan baik. Konflik itu sehat dan tidak perlu dihindari.

Kalau kalian ada yang dilakukan kan ketika harus bertengkar dengan pasangan?

 

 

 

 

Jalan-Jalan ke Skyworld di TMII

Long weekend kemarin sehabis saya ada pasien, tiba-tiba punya ide untuk ke TMII bareng Kaleb dan Bapake. Seingat saya pas kecil saya ke sana seru banget lihat banyak budaya Indonesia. Jadilah kami berangkat ke sana setelah makan siang.

Dan ternyata bertepatan dengan hari ulang tahun TMII sehingga tiket masuk yang dibayarkan hanya tiket mobil saja sebesar Rp 15.000. Sementara tiket per orang digratiskan. Hore, beruntung banget!

TIDAK JUGA!

Karena begitu masuk MACET TIADA TARA sampe nggak gerak. *CRY!*. Di hari weekend biasa aja mungkin TMII macet banget, nah ini ditambah gratis tiket per orang, YA MEMBLUDAKLAH. Stres abis!

Saya dan Bapake udah males aja, dong. Gila sampai tahun depan kayaknya baru dapat parkir. Hiks. Tapi Kaleb tetap mau ke TMII. Keukeuh banget lah. Sampai 30 menit kami masih stuck tidak jauh dari gerbang masuk. Udah mulai bete. Lalu kemudian saya iseng bilang ke Kaleb, “Kaleb berdoa dong biar kita cepat dapat parkir.” Doa anak kecil biasanya manjur banget, kan.

No kidding. Lima menit kemudian, di dekat pintu keluar, kami lihat ada satu spot kosong. Bener kan, doa anak kecil itu manjur banget. Wohooo!

Ada tukang parkir yang membantu kami parkir. Kami pun hendak memberi tips tapi ditolak olah mas-nya. Wow, ku sungguh amaze karena jarang banget ada tukang parkir yang nolak tips, kan.

Setelah parkir, kami jalan kaki. Sebenarnya belum tahu mau ke mana. Sempat cek ada wahana baru namanya Skyworld, tapi letaknya di mana-nya TMII aja kami nggak tahu. Plus kami bakal jalan ngelilingin TMII. Setelah jalan melewati museum perhubungan, ternyata di sebelahnya adalah Skyworld. Lalu ada banner besar bertuliskan: Buy 1 Get 1 Free. Wah, hari keberuntungan kami!

Tentu saja kami masuk lah. Selain di luar cuaca panas banget, jadi kami butuh yang ber-AC. Saya beli 2 tiket untuk 3 orang. Satu tiket harganya Rp 70.000. Pas saya baru beli tiket tiba-tiba ada orang yang mau bayarin 1 tiket gratisan yang nggak kami pakai. Wah, keberuntungan lagi. Tentu saja kami dengan senang hati ngasihnya.

Nah, Skyworld ini agak membingungkan pintu masuknya di mana. Jadi kami masuk dari pintu keluar yang nggak dijaga orang sama sekali. Jadi kalau ada orang yang nggak beli tiket sih bisa-bisa aja masuk. Beneran deh penjagaan tiketnya nggak ketat. Apa karena hari itu hectic banget banyak orang.

Pertama kami masuk ke Planetarium yang sungguh keren banget. Saya yang orang dewasa aja excited banget lihatnya. Kaleb lebih excited lagi. Setelah dari planetarium, kami ke instalasi tentang planet-planet, astronot, roket, dll. Seru sih pengetahuannya. Apalagi di dalamnya ada satu roket besar yang keren banget. Tapi sebenarnya masih tampak kosong museumnya.

img_20190420_154436

Setelah beres di instalasi kami, kami masuk ke studio 5D. Sebenarnya ini seru banget, tapi kurang all out, ya. Kursinya goyang-goyang sesuai dengan adegan di layar, kacamatanya juga oke lah nggak bikin pusing, tapi efek angin, air, dll-nya nggak ada sama sekali. Jadi sayang banget sih kalau dibilang itu 5D. Plus, AC ruangannya panas banget. Huhu!

img_20190420_154637img_20190420_155235img_20190420_155921

Sebenarnya ada perang bintang pake laser, tapi yang ini bayar lagi per orang, minimal 3 orang. Ya tentu saja kami nggak ikut. Karena Kaleb juga masih terlalu kecil. Di luarnya ada playground. Ada waterplay (jangan lupa bawa baju renang, tapi kalau nggak bawa ada toko yang jualan), lalu ada trampolin. Ini lumayan banget, sih. Tapi Kaleb cuma main perosotannya karena nggak bawa perlengkapan mandi.

Menurut saya untuk harga Rp 70.000, sayang banget arenanya nggak dimaintain dengan baik. Kurang bersih. Bahkan WC-nya aja masa masih ada sisa alat-alat renov-nya. Kan jadi kelihatan kurang rapi.

Setelah dari Skyworld yang nggak membutuhkan waktu lama di dalamnya (jadi jangan ke TMII cuma untuk ke Skyworld aja, ya. Rugi), kami jalan kaki mau masuk ke tunjungan-tunjungan rumah adat. Seingat saya dulu ini salah satu hal yang saya suka dari TMII.

Rumah adat pertama yang kami masuki adalah Sumatera Barat yang penuh buanget sama orang-orang dan jualan emperan. Sampah di mana-mana. *nangis* ASLIK, emosih saya lihat banyak sampah.

Lalu kami ke sebelahnya rumah adat Sumatera Utara. Tentu saja kami langsung heboh karena berasa pulang kampung. Kalau di sini penjualnya lebih sedikit, tapi ada panggung yang lagi nyanyi lagu-lagu Batak. Berasa di kampung banget lah. Lalu kami masuk ke rumah adatnya, sayang juga sih kurang terawat. Suasananya gelap dan kelihatan banget debunya tebal. Sedih.

Kemudian kami ke rumah adat lainnya. Semakin ke pulau Kalimantan, rumah adatnya semakin bersih karena jarang pengunjungnya. Jadi kelihatan masih terawat. Lalu kami nggak sempat ke mana-mana lagi karena udah jam 17.00 dan kebanyakan wahana sudah tutup.

Kesimpulannya: dengan tiket masuk mobil Rp 15.000 dan per orang Rp 20.000 (kalau nggak gratis) sangat nggak worth it (Ancol juga segitu tapi JAUH LEBIH BAGUS). Pertama, SAMPAH DI MANA-MANA. Sedih banget karena tempat sampah itu ada di mana-mana juga. Kedua, penjual di mana-mana dan sesukanya aja buka jualannya. Nggak ada regulasi yang mengatur kayaknya. Ketiga, banyak arenanya yang nggak terawat, udah tua, dan butuh direnovasi lagi. Keempat, orang bisa piknik di mana-mana. Beneran di mana-mana sampe di trotoar juga bisa gelar tikar dan seenaknya tiduran ngalangin orang. Huft. Kelima, tempat parkir yang nggak memadai jadi orang-orang parkir di mana-mana dan jalanan baru nggak macet itu jam 17.00 pas bubaran.

Semoga pemerintah memberi perhatian lebih sama TMII. Sayang banget karena sebenarnya idenya menarik banget. Tapi biar pun begitu, Kaleb super senang ada di TMII. Bahkan keesokan harinya Kaleb ngajak ke TMII lagi. Monmaap Kaleb, nanti aja kalau udah bagusan, ya. Hahaha.

Kaleb Umur 4

Kembali lagi ke cerita ulang tahun Kaleb yang keempat. Wow, time really flies.

Udah sejak lama Kaleb pengen ulang tahunnya dirayakan di sekolah karena dia sering banget kasih kado ulang tahun ke teman-temannya, tapi dia sendiri nggak dapat kado. Jadi alasan dia adalah supaya dapat banyak kado. Hahaha.

Ya tentu saja saya kabulin karena dulu juga waktu sekolah saya nggak pernah dirayain ulang tahunnya di sekolah. Tentu saja saya nggak bisa banget disuruh bikin rencana pesta ulang tahun karena walau capek, tapi saya suka banget prosesnya yang cari ide, mikirin harus kasih apa, desain, gunting, dan tempel. Tema ulang tahun kali ini adalah Cars. Permintaan Kaleb sendiri.

Hal pertama yang saya lakukan adalah cari kue ulang tahun. Saya langsung pilih @cherish_cakesandsnacks karena waktu ulang tahun ke dua Kaleb pernah pesan ke Rere (yang kenalan karena suka baca blognya), jadi sekarang pun pesan lagi. Apalagi sekarang makin kece dengan hiasan-hiasannya.

Lalu kemudian, saya sakit selama 3 minggu dan terbengkalai lah semuanya. Baru enakan banget pas akhir Februari. Dan saya mulai benar-benar bergerak 1,5 minggu sebelum hari H. Btw, saya majuin perayaan ulang tahun Kaleb sehari karena tepat di hari ulang tahunnya adalah hari Sabtu, sekolahnya libur. Akhirnya ngebut banget ngerjainnya.

Nggak bisa kayak tahun lalu yang semuanya benar-benar desain dan bikin sendiri. Tahun ini ada beberapa yang harus direlakan pake vendor karena suami pun lagi lembur terus jadi nggak bisa bantu untuk banyak desain.

Untuk goody bag, saya lagi-lagi ke Pasar Perniagaan untuk beli kantung dan botol minum. Sementara untuk isi cemilan beli di Makro (isinya cuma chiki cokelat, momogi, susu UHT, dan teeny weeny bity). Lalu saya bikin activity book supaya ada faedahnya dikit goody bag-nya. Hihihihi.

Oke lanjut ke hari perayaan di sekolah, ya.

Ulang tahun Kaleb dirayakan jam 11.30, setengah jam sebelum pulang sekolah. Senang deh ulang tahun yang nggak lama-lama gini karena sesungguhnya saya termasuk orang yang nggak tahan ke pesta ulang tahun anak-anak terutama yang musiknya kencang banget dan MC-nya kehebohan. Pusing!

Ketika lagi menyusun kue dan makanan, sungguh terharu banget karena guru-guru Kaleb menghias papan tulis dengan bunting flag bertema Cars juga. Very thoughtful. :’)

Kaleb senang banget hari itu karena dapat banyak kado (seperti harapan dia banget hahaha), semua perhatian tertuju ke dia, dan teman-temannya nyanyiin lagu buat dia. Dan lihat Kaleb bahagia tuh bikin saya jadi merasa ibu paling keren sedunia karena udah bisa mengabulkan permintaannya. :’)

img_20190316_224230_116img_20190316_224230_118img_20190316_224230_117img_20190315_113256img_20190315_111611img_20190315_111614img_20190315_112140img_20190316_085805_114img_20190316_085805_118img_20190317_093551_125img_20190317_093551_126img_20190317_093551_124img_20190317_093551_120img_20190317_093551_130img_20190317_093551_116

Oh ya, karena ulang tahunnya dirayakan sehari lebih dulu jadi semua kado yang diterima baru boleh dibuka besoknya pas tepat hari ulang tahunnya.

Nah, sekarang mau review semua vendor ulang tahun Kaleb.

  1. @cherish_cakesandsnacks. Saya pesan yang rasanya vanilla cheese. Pesanan saya datang tepat waktu dan bagus banget. Paling penting adalah: RASANYA ENAK BANGET. Lembut, tapi nggak kemanisan dan bikin eneg. Saking enaknya cake sebesar itu habis dalam waktu 2 hari aja. Saya yang nggak terlalu suka cake justru ngabisin cake ini paling banyak. Kaleb juga suka banget. Bahkan ibu-ibu teman sekolah Kaleb juga bilang rasanya enak.
  2. @komisushi_id. Saya pesan rice box berisi chicken katsu, mie goreng, dan nasi. Ownernya komunikatif dan responsif banget. Tanpa harus diingetin, pesanan datang tepat waktu. Waktu dicobain, anak-anak suka semua. Bahkan ada yang sampe pengen pesen lagi. Memuaskan banget lah service-nya.
  3. Print Paperie di Tokopedia. Pesan bunting flag (yang akhirnya dipake di rumah saja), kartu undangan, label susu, label botol air mineral di sini semua. PO-nya 1-3 hari. Setelah selesai desain, ia akan mengirimkan ke WA hasilnya dan kalau sudah oke akan langung dicetak. Senangnya pas jadi, semua pesanan saya dilebihkan. Dan yang penting lagi harganya affordable banget.
  4. Desain activity book dan sticker di snacks Kaleb dibuat oleh Bapake (kalau mau dibuatin juga bisa hubungi saya, loh).

 

Sampai jumpa di ulang tahun Kaleb ke-5! ๐Ÿ˜‰

Review: Dilan 1991

 

Walau saya udah jarang nulis blog lagi (maap sungguh Instagram mengalihkan perhatianku, hahahaha), tapi film ini wajib dapat review dari saya. Film yang udah bikin setahun terakhir nggak konsen mau ngapa-ngapain karena bikin baper. #sungguhlebaytapinyata

DILAN 1991

8289cf65dcb7c9f288e032fc074a726c

Sinopsis: Kalau di Dilan 1990 menceritakan kisah Dilan yang pdkt dengan Milea dengan segala keunikan dan kegombalannya yang bikin kita senyum-senyum sendiri bagai anak ABG lagi, di Dilan 1991 ini adalah kisah Dilan dan Milea sesudah pacaran dan konflik yang mereka alami.

Review:

Dulu saya nonton Dilan 1990 sebanyak 4 kali. Senang banget waktu itu efek keluar dari bioskop senyum-senyum bahagia berasa digombalin Dilan. Tapi jeda dari nonton pertama dan nonton berikutnya bisa berhari-hari atau semingguan. Sementara waktu nonton Dilan 1991, begitu keluar bioskop berasa udah kangen lagi dan besoknya saya nonton lagi sama suami. Dan masih kangen lagi sehingga dua hari kemudian nonton lagi. Hahaha. Jadi selama 4 hari penayangan Dilan 1991, saya udah nonton 3 kali. WOW! *tepuk tangan untuk perempuan baper satu ini*

Buat saya Dilan 1991 lebih bagus daripada Dilan 1990. Pertama, sinematografinya jauh lebih memanjakan mata. Gambarnya clear dan penempatan kameranya sungguh kece. Banyak shoot yang bikin kagum. Ada satu scene di mana Dilan Milea lagi naik motor dan berhenti di pinggir jalan. Kameranya ngambil dari belakang motor, lalu tiba-tiba melesat ke depan. Keren banget jadinya. Di 1991 juga nggak ada adegan green screen yang jelek. Semua berjalan smooth. Kekurangan di 1990 benar-benar diperbaiki di 1991.

Tadinya khalayak ramai takut chemistry Iqbaal dan Vanesha akan berubah setelah kericuhan yang terjadi setahun belakangan ini, tapi ternyata chemistry mereka masih bagus banget. Tatap-tatapan mata antara Dilan dan Milea terbaik banget. Kalau kata Ivan Gunawan, tatapannya kayak voucher listrik. Hahaha. Sungguh bikin gemes dan pengen cubit-cubit diri sendiri (ya, kalau nontonnya sendirian). Kemampuan akting Vanesha meningkat pesat. Kalau di 1990, aktingnya masih kaku, nangisnya masih nggak meyakinkan, di 1991 ini aktingnya bagus banget. Ada satu scene di mana Milea nelepon Bunda sambil nangis dan itu nangisnya sesenggukan sampai bikin rasanya pengen peluk dia. Sedih banget. Selain itu, matanya yang sembab sampai kantung matanya kelihatan banget itu sungguh keren, sih. Sementara akting Iqbaal meningkat juga. Small gesture-nya dia bikin kita bisa merasakan emosi dia. Tapiiii, sebagai pemerhati Iqbaal dan Vanesha setahun terakhir, sebenarnya di beberapa scene, saya merasa itu bukan Dilan, tapi Iqbaal karena Dilan tidak seperti itu. Ini nggak terlalu mengganggu karena kalau yang nonton orang awam dan nggak intens merhatiin mereka, nggak akan terlalu berasa juga.

Sebelum kita masuk ke ceritanya, bahas dulu kekurangan di film ini, ya. Pertama, scene Pak guru creepy cukup ganggu dan boleh lah yang itu nggak masuk karena nggak terlalu ngaruh ke cerita. Kedua, wig-nya Bunda kenapa masih ganggu aja, ya? Bisa kali dipilih wig yang lebih bagusan. Ketiga, penempatan product placement agak kasar: Loop belum ada pada masanya, botol Teh Sosro terlalu kekinian karena seingat saya dulu desainnya bukan begitu. Tapi kalau lagi fokus ke filmnya, ya nggak terlalu ganggu gimana juga, sih. Keempat, saya sih udah pasrah dengan pemilihan Andovi sebagai Mas Herdi, tapi mbok ya tolong saya dikasih penjelasan kenapa kancing kemeja Mas Herdi dibuka 3 kancing gitu? Serasa abang angkot banget. Kan saya jadi susah ingin mendalami kenapa Milea akhirnya mau sama Mas Herdi kalau cara berpakaiannya aja bikin kesel.

Sekarang ke ceritanya. Walau saya anaknya receh dan cinta banget sama semua yang manis-manis, tapi saya nggak suka film yang nggak ada konflik berarti. Jadi setelah dipikir-pikir, di 1990 yang bikin saya nggak cepat-cepat nonton lagi karena ya semua berjalan sungguh manis tanpa konflik berarti. Well, tapi namanya pdkt kan pasti yang ditunjukin yang manis-manis, ya. Semua terasa indah kayak di negeri dongeng.

Nah, awalnya saya pikir saya nggak akan nonton berkali-kali 1991 karena banyak konflik yang bikin sedih dan sesak (pasti tahu kalo udah baca novelnya). Tapi ternyata saya salah. Konflik itu yang bikin makin nagih buat saya. Karena perasaannya benar-benar diangkat, lalu dilempar. Saya jadi investasi emosi yang besar di film ini dan akhirnya malah pengen nonton lagi.

Buat saya 1991 lebih real. Ketika kita pacaran, mulai lah kita beradaptasi dengan sifat pacar yang mungkin di masa pdkt kita nggak tahu, berkompromi dengan value-value yang berbeda, dan berusaha mencari jalan ke luar dengan komunikasi. Bisa akhirnya hubungannya makin kuat atau malah jadi berpisah. Dan di 1991 ditunjukin semua itu. Semua konflik itu nggak bisa lagi cuma diatasi dengan sekedar gombalan. Makanya wajar sih kalau di 1991, gombalannya jadi sedikit. Karena ya segombal-gombalnya elo kalau udah pacaran ya kesel juga digombalin mulu kalau lagi serius. Ye kan?

Kalau ada yang bilang Milea kok sering banget nangis? Hm, mungkin yang dipake adalah persepsi diri kita sendiri di usia sekarang dengan pandangan yang lebih matang. Karena kalau bayangin umur 17 tahun, alat komunikasi cuma telepon rumah atau telepon umum (belum ada HP jadi nggak bisa cari tahu lewat last seen, D atau R, dan nggak ada sosmed buat stalking), lalu pacar ketangkep polisi karena tawuran dan dipenjara, paniknya kebayang deh kayak apa. Pengen langsung lihat pacar tapi nggak tahu ke mana, hubungin ke mana, harus ngapain? Yang ada frustasi sendiri dan nangis mengira-ngira apa yang harusnya dia lakukan sih saat keadaan gini. Jadi ya itu respon wajar anak ABG menghadapi konflik sebesar itu. Ngeselin emang hahahaha!

Di 1991 ini scenes favorit saya adalah: SEMUA SCENES DILAN MILEA LAGI PACARAN. Ya ampun gemesnya level pengen karungin dua anak ini dan dibawa pulang ke rumah biar kalau saya lagi bete, saya lihatin aja mereka pacaran dan langsung jadi happy lagi. Hahaha!

Kalau di 1990 saya bagi-bagi gombalan Dilan, di 1991 saya mau bagi-bagi interview promo mereka yang super gemes dan bikin saya ngulang-ngulang 1000 kali nontonnya. Hahaha.

Dan lain-lain banyak banget. Hahaha.

Jadi menurut kalian, berapa kali kah saya akan nonton Dilan 1991?

Mata Bengkak Karena Keluarga Cemara

Mengawali tahun 2019 ini dengan nonton Keluarga Cemara di bioskop. Tadinya Keluarga Cemara nggak termasuk di daftar film yang bakal saya tonton. Walau dulu suka banget nonton sinetronnya, tapi bukan yang favorit banget. Lalu, Teppy kasih skor 9,5/10 untuk film ini. Skor tertinggi yang pernah dia kasih untuk sebuah film. WOW banget, kan. Karena film tentang keluarga, saya ajak suami untuk nonton.

Sinopsis: Abah (Ringgo Agus Rahman) mengalami kebangkrutan sehingga keluarganya harus pindah ke peninggalan rumah Aki di desa bersama Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48), dan Ara (Widuri Puteri). Dari yang tadinya mapan, sekarang harus beradaptasi dengan hidup yang jauh lebih sederhana.

Review:

Buat saya film ini bagus banget nget nget. Senangnya karena awal tahun udah disuguhi film sehangat, semenyenangkan, dan penuh cinta seperti ini. Hati rasanya hangat.

Di film ini semua aktingnya pas, nggak ada yang berlebihan. Ringgo Agus Rahman yang selalu identik dengan peran-peran lucu dan konyol, di sini bisa jadi Abah yang tegar, tapi juga lembut, hangat, dan bertanggung jawab. Abah yang mau melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya. Akting Ringgo benar-benar bagus dan keluar dari peran tipikalnya yang biasanya lucu dan konyol. Saya bisa lihat di raut wajahnya ketika ia berusaha tersenyum, padahal hatinya hancur. Duh.

Nirina Zubir sebagai Emak bisa memerankan seorang ibu sebagai tiang keluarga yang bisa menghangatkan keluarga. Tanpa Emak, keluarga ini mungkin akan runtuh. Nirina mampu menggambarkan sosok Emak yang bijaksana dalam tiap mimik terkecilnya. Saya jarang banget suka akting Nirina, tapi di sini dia main bagus sekali.

Saya cuma pernah lihat akting Zara di film Dilan sebagai adik Dilan. Perannya kecil banget, tapi cukup mencuri perhatian. Di Keluarga Cemara, Zara sebagai Euis bermain bagus banget. Yang paling teringat adalah ketika Euis tersenyum getir. Berusaha senyum, tapi terpaksa dan mau nahan nangis. Hatiku hancur, Mak!

Dan, Widuri sebagai Ara adalah scene stealer banget. Perannya sangat lovable, lucu, menyenangkan, selalu membuat tertawa. Untuk film pertamanya, dia bisa berakting dengan luwes dan nggak kaku. Keren banget.

Untuk pemeran sampingan lainnya, nggak ada yang gagal. Porsinya pas, kelucuannya nggak dibuat-buat. Nggak ada yang terasa dipaksakan harus melucu. Membandingkan dengan film terakhir yang saya tonton, Milly dan Mamet, masih ada peran-peran yang menurut saya sia-sia dan dipaksakan, tanpa peran itu film akan tetap berjalan dengan baik. Nah, di film ini nggak ada peran yang sia-sia. Semuanya punya peranan penting untuk keberlangsungan film.

Dramanya bukan dibuat untuk menye-menye, tapi karena dia berusaha banget nggak menye-menye, semuanya terasa lebih menyentuh. Mungkin buat saya ini jadi emosional banget karena sebagai orang tua, saya tahu semua yang dirasakan Abah dan Emak. Saya paham rasanya ingin selalu membahagiakan anak, tapi sebenarnya kita sendiri sedang hancur. Tahu rasanya ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak, tapi nggak mampu. Kenal dengan rasa melarang anak melakukan sesuatu, bukan karena nggak bisa, tapi karena takut ia merasa luka yang lebih dalam. Dan sampai saya nulis ini, saya masih bisa merasakan perihnya, sedihnya, dan sayangnya. Being a parent is hard, yet it’s rewarding. :’) Dan sebagai anak, saya bisa paham rasanya jadi Euis, yang seringkali harus ngalah sama adik, yang harus berusaha dewasa dan kuat padahal rasanya ingin nangis guling-guling, yang cemas banget sama keadaan orang tua tapi mau ngomong sama siapa karena nggak ingin nambah kecemasan orang tua. *nangis segerobak*

Dan belum cukup juga, soundtracknya bagus banget. Di Youtube dan iTunes baru keluar 2 soundtrack yang dinyanyiin oleh BCL. Masih ada lagu-lagu lainnya, yang sama bagusnya dengan liriknya yang bagus banget.

Cobak, gimana nggak nangis dengar suara lembut BCL nyanyi lagu Harta Yang Berharga?

Lalu dengarkan lagu ini. Saya nangis banget pas lirik:

“Di sini juga tak apa

Asalkan saling punya.

Begini juga tak apa

Karena kita bersama.

Percaya saja akhirnya

Satu hari nantinya

Semua ini akan jadi

Cerita yang indah.”

Monmaap, ini lagu dikasih bawang atau gimana, kok selalu bikin mewek?

Saya mau banget disuruh nonton film ini berkali-kali lagi. Tapi kayaknya saya perlu menetralisir emosi dulu karena sungguh habis nangis sepanjang film, terbitlah kepala pusing. Hahaha. Sebagus itu lah filmnya.

Ya udah ya, tolong ditonton filmnya di bioskop. Kalau udah kabari saya, nangis berapa ember? ๐Ÿ™‚

Bandung Lagi

Biasanya tiap akhir tahun, kami selalu menyempatkan diri ke Bandung. Buat saya Bandung itu isinya penuh kenangan manis dari kecil sampe dewasa. Selalu ada rasa kangen untuk kembali ke sana.

Karena Kaleb udah semakin besar, jadi semakin asik untuk dibawa. Dan saya pun makin santai, nggak seribet pas masih kecil dulu. Pokoknya ekspektasi nggak usah tinggi-tinggi amat lah. Makan nggak banyak? Ya ndak apa-apa. Males minum susu? Tak apa-apa. Capek? Ya udah istirahat aja di hotel. Asik lah. Selain itu, walau tentu saja nggak ada itinerary, tapi kali ini saya udah list banyak tempat yang mau dikunjungi. Mana yang akan dikunjungi, nanti tergantung mood.

Highlight untuk trip kali ini adalah:

Kota Mini, Lembang
Hal pertama yang dilakukan pas sampai Bandung adalah main-main di Kota Mini untuk nyenengin Kaleb. Tentu saja ya Floating Market di jaman liburan kayak gini penuh sesak. Huhuhu. Untung parkiran udah diperluas jadi cepat dapat parkir. Baru masuk, kita harus bayar Rp 20.000/orang untuk tiket masuk.

Jalan kaki melewati Floating Market, naik tangga tinggi banget menuju Kota Mini. Di sana, kita harus antri beli tiket lagi, Rp 25.000/orang. Untuk main wahananya bayar lagi, Rp 25.000/ wahana, atau beli tiket terusan Rp 98.000/ 5 wahana. Nanti kita dapat boarding pass dan kartu yang akan digesek di tiap wahana. Tentu saja saya beli tiket terusan dong, biar hemat mikirnya. Ternyata salah sodara-sodara, kecuali anaknya emang pengen main semuaaaanya, mending beli per wahana aja, deh. Karena lagi high season, jadi tiap wahana tuh antriannya panjang bener. Ngantri lama, anak cranky. Dan jatuhnya emang ke Kota Mini nggak murah ya, karena semua kan harus bayar.

Jadi, karena saya ibuk-ibuk medit, tentu saja saya rela bertahan untuk menghabiskan 5 wahana. Bahahaha! Jadi pertamanya saya antri di wahana Pemadam Kebakaran. Antrinya mayan deh panjang. Karena anaknya keburu cranky, jadi kami akhirnya cari wahana lain yang nggak antri. Kaleb milih baby clinic. Banyakan sih yang ke sini anak perempuan. Padahal kan yang jadi petugas medis banyak yang cowok juga, ya. Kaleb satu-satunya cowok yang main di sini. Hahaha. Gemes banget sih lihat dia pake baju dokter, trus diajarin cara merawat bayi, habis itu boleh bawa bayinya keliling pake stroller. Seru!

IMG_20190102_091401_191IMG_20190102_091401_179

Setelah selesai baby clinic, baru kami ke pemadam kebakaran lagi. Dan lumayan udah kosong antriannya. Nggak pake lama, Kaleb pun dipakaikan seragam pemadam kebakaran. Disuruh naik mobil pemadam kebakaran, lalu memadamkan api, dan menyelamatkan orang yang terjebak di dalam kebakaran. Seru banget role play-nya.

IMG_20190102_091401_177IMG_20190102_091401_189IMG_20190102_091401_204IMG_20190102_091401_208

Habis pemadam kebakaran, kami pilih ke tempat kucing. Jadi nanti ada semacam rumah kucing, yang isinya bukan cuma kucing, tapi ada juga burung hantu, monyet, sama musang kalau nggak salah. Ini dipilih karena ya nggak antri dan biar cepat aja ngabisin wahana. Yang lainnya rame.

Ngabisin 3 wahana, kami makan dulu di food court-nya. Makanan dan minuman nggak boleh masuk. Jadi mau nggak mau beli di sana. Sungguh ya, makanannya semua hambar banget. Padahal pesannya yang standar aja kayak bakwan dan nasi goreng. Cry banget! ๐Ÿ˜ฅ Beneran makan cuma supaya perut nggak kosong.

Habis makan, Kaleb main di playground. Jadi deh 4 wahana. Setelah puas di playground yang cukup lengkap, kami buru-buru keluar karena langit udah mendung banget, sebentar lagi hujan.

Waduh, masih ada 1 wahana yang harus dipake, nih. Tadinya kami mau masuk ke wahana aquarium, tapi orang tua hanya boleh masuk kalau bayar lagi. Ya Kaleb nggak mungkin masuk sendiri, karena kan di dalam gelap. Duileh, ribet deh wahananya! Jadilah pilih wahana yang sekiranya kosong, yaitu wahana kantor pos. Di sana Kaleb boleh coba pake kostum profesi atau superhero, difoto, dan dapat sertifikat. Nggak ngapa-ngapain di wahana ini, tapi lumayan boleh bawa pulang sertifikat. Hahaha.

C360_2018-12-26-15-08-41-547

Selesailah 5 wahana yang dipaksakan! Udah pokoknya lain kali beli per wahana aja, deh. Terutama karena untuk main di wahana itu harus anaknya sendiri yang masuk di dalam. Jadi kalau anaknya belum berani ya wasalam aja. Jadi mending, tes dulu ke dalam, lihat anaknya berani nggak, trus kalau dirasa oke ya udah beli yang terusan. Nggak papalah, sedikit ribet. Hehehe.

Bakso Akung
Setelah siangnya makan makanan hambar nggak enak di Kota Mini, malamnya kami makan Bakso Akung, yang udah melegenda dan makin beken karena jadi tempat pacarannya Dilan dan Milea di film Dilan 1990.

Tempatnya udah besar, bukan kayak kios kecil di film Dilan. Waktu kami makan sekitar jam 7 malam, udah nggak lengkap lagi menunya, tinggal bakso aja. WOW, masih laku banget, ya. Saya dan suami pesan mie yamin manis dan Kaleb pesan 1/2 mie kuah, minumnya es teh. Pas duduk, eh disiapkan teh hangat gratis. Tau gitu nggak usah pesan minum lagi, deh. Hahaha.

IMG_20181226_192339_HHTIMG_20181226_192556_HHTIMG_20181226_192750_HHTIMG_20181226_192603_HHTIMG_20181226_185843_HHT

Poris mie-nya buanyak banget. Mie Kaleb yang cuma setengah aja itu sama kayak satu porsi mie di Jakarta. Aslik, buanyak banget. Dan rasanya……. ku cuma bisa bilang, pantas Milea jatuh cinta sama Dilan. Soalnya kencannya diajak makan mie yang enaknya bikin merem melek gini. Yang dahsyat itu kuahnya yang berasa banget kaldu sapinya meresap. Ya Tuhan, kayak makan mie dari surga. Dan tentu saja saya habis dong makannya. Bahkan Kaleb yang tadi siang susah makan karena makanan hambar, kali ini habis. Gila ya itu mie banyak banget dan Kaleb bisa habis. JUWARAK.

Untuk 3 mie dan 2 es teh, totalnya Rp 85.000. Terjangkau banget.

Btw, staff di sini ramah banget. Walau udah tua, tapi ngajak ngobrol dan sopan banget. Ku sampe terharu pada level keramahannya yang genuine dan nggak lebay. Pas aja.

Mie Naripan
Besokannya kayaknya Kaleb masih terngiang-ngiang sama bakmi di Bandung. Jadi pas makan siang, walau paginya kita udah membabi buta sarapan di hotel, tapi siangnya Kaleb minta makan bakmi lagi. Karena waktu itu lagi di sekitar Braga, kami cari mie enak terdekat, dan jatuh ke Mie Naripan.

Bangunannya tua, tapi bersih. Begitu masuk langsung pesan di kasir. Lagi-lagi pesannya masih sama: mie yamin buat saya dan suami, mie kuah untuk Kaleb. Kali ini kami udah belajar untuk nggak pesan minum dan benar aja dikasih teh hangat gratis.

Lagi-lagi ketika datang mie-nya porsi gede. Kali ini yang unik adalah sayurnya adalah sayur selada. Buat saya mie-nya enak, tapi masih ada rasa terlalu manis di yaminnya. Tapi itu aja saya habis walau perut kenyang. Jadi tahu kan, ini masih enak, cuma buat saya yang nggak terlalu suka manis, agak kemanisan. Dan saya baru tahu kalau Mie Naripan udah ada di Jakarta. Yeay!

Yang bikin spesial lagi ncinya baik banget. Tiba-tiba dia kasih bubur karena lihat Kaleb. Katanya supaya Kaleb makan. Ya tentu aja Kaleb nggak makan, karena anaknya kan bakmi mania ya. Hahaha. Buburnya dihabiskan suami. Tapi senang aja gitu gesturnya baik banget. Terharu, deh.

Napak Tilas Dilan
YA SIAPA LAGI KALAU BUKAN KERJAAN SAYA INI MAH. Hahaha!

Jadi kami melewati SMAN 20 yang jadi sekolah Dilan dan kemudian dadah-dadah, “Halooooo sekolah Dilan.” :)))

Kemudian nggak jauh dari situ di Jl Cibenying, kami cari rumah Dilan. Aslik sampe sekarang nggak ketemu di mana itu rumahnya, padahal udah melewati semua Jalan Cibenying, sampe nanya ke satpam, ke tukang parkir, tetap nggak ketemu. Emang nggak jodoh sama rumah Dilan.

Karena udah muter-muter ada sampe 5 kali, Kaleb pun minta naik kuda di dekat sekolah Dilan. Nah, senangnya di sekolah Dilan ini harga naik kudanya lebih murah daripada di ITB, plus ada kuda poni. Jadi Kaleb senang.

IMG-20181227-WA0028

Setelah beli oleh-oleh di Prima Rasa, pas cek google, eh kok dekat rumah Milea. Tadinya nggak mau ke rumah Milea, karena katanya kan jauh banget. Eh, ternyata nggak jauh dari Prima Rasa tadi. Rumah Milea malah gampang banget ditemukannya. Jadi rumah Milea ini ada di komplek yang lumayan mewah, soalnya masuk ke gangnya aja ada CCTV.

Pas berhenti di depan rumah Milea, eh kok ada segerombolan anak muda. Aduh, aku malu atuh kalau mau foto di situ. Suami sampe gemes banget, lho karena lihat istrinya mau foto tapi gengsi kelihatan alay. HAHAHA. Tapi akhirnya setelah kompleknya sepi, saya pun foto-foto secepat kilat. Hihihihi.

IMG_20190103_083652_837

Jadi begitulah highlight ke Bandung kemarin. Kegiatannya nggak padat, tapi ku senang banget nget, karena rindu makan mie yamin (yang nggak pernah nemuin mie yamin enak di Jakarta) akhirnya terpenuhi. Pokoknya tunggu saya makan mie yamin lagi ya di Bandung!

Review: Patra Comfort Hotel

Kemarin saya baru dari Bandung. Mendadak banget, makanya cari hotelnya sehari sebelumnya. Itu pun baru sore. Udah lah musim liburan, cari hotelnya mendadak pula. Ya udah, harga sudah selangit semua, dong.

Tadinya mau nginep di hotel-hotel hits, kayak Kollektiv yang insagtramable gitu. Tapi setelah dicek, luas kamarnya mini banget sekitar 15 m persegi. Bener-bener tempat tidur mepet tembok. Plus, suami kurang setuju karena walau ada breakfast tapi bukan buffet, jadi dia kasih pilihan makanan dan kita order. Suami maunya yang buffet soalnya dia makannya banyak. Hahaha.

Setelah browsing sampe mata jereng karena membandingkan harga dari 3 app, yaitu Traveloka, tiket.com, dan booking.com, akhirnya diputuskan lah nginep di Patra Comfort Bandung.

Kenapa Patra Comfort Bandung? Karena good deal banget dan cuma ada di tiket.com. Dengan harga Rp 500.000-an bisa dapat hotel yang ada kolam renangnya (dan kolam renangnya lumayan banget, plus ada kolam air panas), kamar minimalis dengan ukuran standar yang baru direnov, rating di 3 app tersebut selalu lebih dari 8 yang artinya bagus, dapat breakfast, dan letaknya ciamik banget ada di pinggir jalan Dago. Dekat ke mana-mana. Yeay!

Saya tadinya ragu sih mau ke Patra karena ingetnya Patra tuh hotel lama, takut jadul banget, dan spooky. Tapi ternyata setelah mantengin review yang hasilnya bagus semua, akhirnya jadi yakin.

Dan ternyata kami puas banget nginep di sana. Everything went so smooth. Dari masuk, semua staff super ramah. Parkiran cukup luas jadi nggak susah untuk cari parkir. Proses check-in cepat banget dan nggak pake ribet, cuma dimintain KTP dan tanda tangan, selesai, deh.

IMG_20181227_104138IMG_20181227_104123IMG_20181227_104051IMG_20181227_104007IMG_20181227_103937IMG_20181227_103928

Gedung barunya ada di depan, tapi karena saya minta view kolam renang, jadi kamar saya ada di gedung lama. Tapi sudah direnov semua kamarnya. Kekurangannya cuma satu, nggak ada lift kalau di gedung lama. Yah, walau pun cuma ada 2 lantai sih, jadi no big deal, sih.

Kalau kata Kaleb, “Mami, kamarnya enak buat bobo-boboan. Nggak mau pulang.” Wakakak.

IMG_1437 (1)IMG_1440 (1)IMG_1449

Nah, bagian paling menyenangkan dari hotel ini adalah kolam renangnya. Nggak terlalu besar, tapi cukup banget. Ada kolam renang anak-anak, untuk dewasa, dan kolam air hangat yang bisa juga untuk anak dan dewasa. Plus, sekitar kolam renang dibikin banyak tanaman jadi kesannya adem banget. Sukaaaa!

IMG_20181227_071641IMG_20181227_072057IMG_20181227_072046C360_2018-12-27-07-22-55-211

Selain itu, buffetnya banyak makanan Indonesia. Lidah kurang nendang kalau makanan western soalnya. Hihihi. Pilihan makanannya cukup banyak dari makanan berat (nasi, bihun, sayur), bubur ayam, bubur kacang hijau, sampe pastry (roti-rotian dan kue), lalu ada jamu (YEAY!), sereal, juice, buah potong, salad, soto sulung, egg station, kue-kue lokal seperti surabi dan pisang goreng, kopi dan teh. Enak banget.

IMG_1458IMG_1464IMG_1472

Yang paling penting mejanya luas. Tahu dong kalau kita makan buffett kan sering ambil banyak makanan, trus mejanya jadi penuh banget dan sempit. Sementara ada anak kicik yang bakal banyak gerak dan takut nyenggol piring. Hiks. Tapi di sini mejanya gede banget jadi luas dan bebas naro makanan banyak. Me likey!

IMG_20181227_093131

Oh ya karena ciamik banget di tengah kota. Jadi ke mana-mana kami dekat. Aslik, nggak bikin capek jadinya. Senang.

Jadi ku puas banget nginep di sini. Dan kami bertiga sepakat, kami mau balik lagi ke hotel ini.

Thank you, Patra Comfort. It was nice staying in your hotel.

Review: Milly & Mamet

Tiap akhir tahun, saya jadi nungguin film yang dibikin Ernest. Tahun ini makin spesial karena Ernest menyutradarai film Milly & Mamet, yang spin off dari AADC.

8e7bbde5-bceb-44d2-b139-0ddae1dbe448_34

Saya lebih suka poster yang ini daripada poster officialnya. Di sini fokus sama Milly dan Mamet dan kelihatan jelas karakternya. Kalau di foto officialnya, kurang mendeskripsikan Milly dan Mametnya. Malah ada foto Ernest-nya yang di film bukan tokoh utamanya.

Ceritanya tentang kehidupan rumah tangga Milly dan Mamet. Konflik yang terjadi pun sederhana, antara keinginan Mamet kerja di kantor ayah mertuanya atau mengikuti passionnya sebagai chef; dan dilema Milly yang ingin mengurus Sakti (bayinya) di rumah, tapi bosen banget di rumah dan ingin bekerja. Permasalahan yang dekat banget sama kita semua, kan?

Menurut saya, Milly dan Mamet ini memperbaiki kesalahan Ernest di Susah Sinyal. Terutama dalam soal cast yang bukan itu-itu aja. Dulu di Susah Sinyal, komikanya mostly yang udah main di CTS jadi untuk men-switch bahwa ini film yang berbeda cukup sulit. Sementara di Milly dan Mamet, komikanya segar-segar dan baru semua, kecuali Aci Resti, yang kayaknya jadi komika favorit Ernest karena selalu ada di 3 film terakhirnya. Ada beberapa komika yang menurut saya performanya oke banget dan tiap dia ngelucu, gesturnya dapet dan jokesnya kena: Ardit Erwandha sebagai pelayan dan Bintang Emon sebagai pekerja di konveksi. Two thumbs up buat mereka. Ada beberapa hal yang menurut saya juga terlihat sia-sia, seperti penampilan Dinda Kanya Dewi sebagai Lela, staff di konveksi, yang kurang lucu dan bikin saya pengen bilang, “Apa, sik!” tiap dia berusaha ngelucu. Dan penampilan Ernest di film ini menurut saya nggak perlu-perlu amat. Peran yang dia mainkan cukup penting, tapi sebenarnya tidak harus Ernest juga yang memainkan karena tokoh ini bukan yang akan melekat banget.

Komedinya lucu banget. Thanks to Acho Muhadly sebagai comedy consultant yang bikin jokes-jokesnya nendang banget. Scenes Acho merupakan salah satu yang saya suka. Tapi dari semuanya itu, Isyana Sarasvati yang paling mencuri perhatian banget. Ya Tuhan, lucunya bikin pengen guling-guling di lantai.

Dari segi drama, seperti biasa film-film Ernest pasti selalu ada hubungannya dengan keluarga dan membuat kita merasa hangat. Di film ini kita bisa melihat sisi Milly dan Mamet yang lebih serius, bukan yang lemot dan bodoh kayak di film AADC. Sissy sebagai Milly sungguh sangat menggemaskan, kayak boneka beruang yang pengen kita peluk terus. Tiap dia berkaca-kaca dan mau nangis tuh ya ambyar deh hatiku, pengen ku pukpuk. Sementara Dennis sebagai Mamet nggak kelihatan cupu lagi kayak pas SMA. Sebagai seorang kepala rumah tangga, kita dapat merasakan cintanya tulus. Duh! Namun, ada beberapa bagian Dennis kelihatan kaku, terutama untuk adegan yang butuh banyak emosi. Tapi overall chemistry mereka berdua bagus.

Karena konfliknya sungguh relatable banget sama saya, jadi ya scene mereka berantem aja bisa bikin saya emosional dan mau nangis. Aslik, pas nengok kiri kanan orang biasa aja padahal nontonnya. Kayak konflik ketika Milly memutuskan mau bekerja atau pas Mamet marahin Milly karena pulang malam, sementara Sakti udah rewel banget. I’ve been there and felt that! Rasa bersalah jadi ibu yang harus ninggalin anak itu sungguh membuat hatiku retak-retak.

Topik yang relatable dan Milly dan Mamet yang digambarkan orang biasa yang rumahnya biasa-biasa aja dan tinggalnya bahkan di Bekasi (ha!) bikin merasa ini film gue banget! Semua bisa mengalaminya. Bukan kayak kisah Cinta dan Rangga yang kayaknya dreamy banget dan nggak semua orang pernah ngalamin kayak gitu (secara bisa tiba-tiba enteng pergi ke New York cuma untuk bilang cinta doang. Giling!).

Jadi kesimpulannya, film ini layak banget ditonton. Lebih bagus daripada Susah Sinyal. Walau favoritku masih CTS (yaaa gimana yak, akting Dion Wiyoko dan Ardinia Wirasti gilak banget di situ).