Drama Listrik

Beberapa bulan terakhir ini kami bermasalah banget sama tagihan listrik yang membludak. Masalahnya, tidak ada pemakaian di rumah yang berbeda. Jadi tagihan harusnya nggak jauh berbeda. Tapi ini melonjaknya jauh banget. Akhirnya suami telepon ke PLN. Ternyata karena petugas PLN salah catat meteran. Mungkin karena di rumah kami kosong kalau siang. Jadi solusinya kami pasang papan meteran di depan rumah sehingga kalau petugas datang, bisa foto itu papan meteran. Dan kami minta kesalahan catat petugas yang membuat tagihan meledak, ya dicicil selama 3 bulan. Oke lah ya, masalah selesai sampai di sini.

Eh, di bulan ketiga cicilan, malah tagihannya makin meledak lagi dari sebelumnya. KOK BISA? Pasang papan meteran udah, bayar tagihan dan cicilan nggak pernah telat, tapi kenapa membludak. Akhirnya suami telepon lagi ke PLN. PLN bilangnya harusnya di bulan ketiga tagihan selesai, biar cepat dibanyakin aja tagihannya. Tapi habis itu pas kami cek, kok yang dia catat sama meteran kami beda LAGI, walau kami sudah pasang meteran?

Udah lah ya, ini mah nggak bisa diselesaikan lewat telepon karena si CS bilang akan menelepon 1×24 jam pun tidak dilakukan. Kami datangi lah itu kantor PLN. Tadinya saya minta suami aja yang maju karena kalau saya bawaannya udah pasti sewot. Soalnya 3 tahun lalu pernah kejadian kayak gini, berakhir saya ngamuk di kantor PLN. Hahahaha ngamuk karena jawabannya sungguh tidak profesional, “Namanya juga manusia, tempatnya salah?” Hah, gimana, Pak? Kalau dokter melakukan tindakan dan salah trus bilang gitu mau? Kalau pilot kecelakan dan bilang begitu, mau? Ya nggak begitu lah. Gimana caranya meminimalisir kesalahan jadi 0. Sungguh jawaban menyebalkan.

Jadi akhirnya suami yang maju, saya duduk di kursi tunggu aja. Kebetulan pagi itu belum terlalu ramai, jadi begitu kami datang langsung dilayani. Suami mulai protes sambil menunjukkan bukti-bukti meteran selama beberapa bulan terakhir yang hanya ada 2 bukti fotonya dalam tahun ini. Berarti ada 6 bulan di mana tidak ada bukti foto meteran dan petugas ngarang aja angkanya, sehingga kami kekurangan tagih.

Saya dengerin dari jauh, si Bapak jelasin mengenai kami tuh kurang tagih, jadi harus ada kekurangan yang dibayarkan. Dan bahwa di PLN tuh sebenarnya nggak ada cicilan, cuma karena dia berbaik hati maka boleh cicil. Tentu suami lebih sabar dengerin beginian. Saya? Ya nggak sabarlah. Kelihatan jelas nggak, missed-nya di mana?

Akhirnya saya maju dan minta Bapak itu jelasin ulang. Setelah dia jelasin saya tanya ke dia:

Me: “Kenapa ini bisa salah catat, Pak? Petugasnya ngarang aja angka meterannya?”
Bapak: “Oh nggak. Ini namanya kekurangan tagih. Tidak ada kesalahan.”
Me: “Tidak ada kesalahan? Kalau tidak ada kesalahan, angka di meteran saya dan angka yang ditagihkan ke saya itu sama. Ini jauh beda. Gimana caranya nggak ada kesalahan?”
Bapak: “Ini namanya kurang tagih, Bu.”
Me: “Iya, kurang tagih karena apa, Pak? Karena petugas Bapak nggak datang?”
Bapak: “Petugas kami mungkin datang. Tapi rumahnya kosong.”
Me: “Kalau rumah saya kosong, ada prosedurnya harus gimana nggak, Pak?”
Bapak: “Ada. Petugasnya harus datang lagi, berusaha ambil foto meteran.”
Me: “Kalau petugasnya nggak dapat foto?”
Bapak: “Ya berarti dia tidak akan dibayarkan gajinya oleh PLN.”
Me: “Nih ya, Pak. Setahun ini udah jalan 8 bulan. Cuma ada 2 bukti foto di komputer Bapak. Berarti sisanya 6 bulan, petugas Bapak ngarang angka meteran dan Bapak selaku PLN tidak ada pengawasan sama sekali bahwa tiap tagihan harus ada bukti fotonya.”
Bapak: “Tapi petugas ini dari vendor, bukan dari PLN. Yang salah kordinatornya.”
Me: “Saya nggak peduli mau dari vendor kek, tapi petugas ini bekerja dengan PLN. Saya sebagai customer nggak peduli dia asalnya dari mana, yang pasti dia bekerja buat PLN dan PLN nggak melakukan pengawasan yang benar”.
Bapak: “Iya, tapi Ibu kurang tagih. Ibu kayaknya kurang connect.”
Me: “Bagian mananya saya nggak connect, Pak? Gini ya kita ngomong logika aja, yang harusnya semua orang tahu. Petugas Bapak nggak punya bukti foto, input data dengan angka meteran karangan, dan akhirnya imbasnya ke saya yang tagihannya tiba-tiba membludak. Paham, Pak?”
Bapak: “Iya saya paham…”
Me: “Cobalah Bapak empati sedikit. Kalau Bapak jadi saya, Bapak marah nggak?”
Bapak: “Ya marah, tapi nggak marah-marah banget.” –> Dia bilang marah aja udah jelas salahnya ada di dia.
Me: “Gini ya Pak. Dari awal, ada nggak sih Bapak minta maaf untuk kesalahan yang diperbuat PLN? Yang ada Bapak defensif terus. Akhirnya bikin orang makin kesal. Kalau salah ya minta maaf dulu. Bukan ngeyel.”
Bapak: “Oke, sori.” Tapi bukan dengan nada menyesal, “Tapi ini kan Ibu tetap harus bayar kekurangannya.”
Me: “Emang ada dari tadi saya bilang, saya nggak mau bayar? Coba cek itu catatan Bapak, pernah saya telat bayar tagihan? Nggak pernah. Jadi Bapak bisa lihat komitmen dan disiplin saya untuk bayar tepat waktu. Sekarang saya tanya, 3 tahun lalu saya datang ke sini dengan masalah yang sama. Lalu tahun ini terulang lagi, sebenarnya ada perbaikan service nggak sih di sini? Kok untuk mengawasi gini aja nggak bisa?”

Setelah berdebat panjang dan bikin kesal karena si Bapak ngeyel, akhirnya didapat solusi harus nyicil lagi selama 3 bulan ke depan. Yang mana pas 3 bulan yang lalu, dia bilang harus nyicil 3 bulan saja.

Me: “Nih ya, Pak. Bapak salah hitung udah 6 bulan. Ya fair-lah kalau saya harus nyicil 6 bulan. Enak aja kalau situ boleh salah, lalu dibebankan pada customer.”
Bapak: “Saya akan pantau terus 3 bulan ke depan sehingga cicilannya kira-kira….”
Me: “Hah, kira-kira? Saya nggak suka kira-kira, Pak. Ini angka meteran jelas angkanya. Nggak pake kira-kira. Bisa dihitung. Coba dihitung sekarang.”
Bapak: *menghitung* “Jadi segini ya, Bu. Tiga bulan ke depan saya pantau sampai cicilannya selesai.”
Me: “Saya nggak mau dipantau 3 bulan ke depan. Saya mau selamanya dipantau. Yang saya butuh gimana caranya PLN nggak salah catat lagi. Palyja kalau nggak ada orang di rumah, dia kirim surat dan minta difoto meterannya kirim ke nomor yang diberikan. Tidak pernah ada kesalahan sekalipun. Ini PLN, udah tiga kali saya ke sini cuma buat ngurusin masalah yang harusnya bisa diawasi sendiri.”

Jadi begitulah ceritanya drama dengan PLN. Cuma mau bilang untuk lembaga mana pun, terutama di bagian CS. Kalau ada customer mengeluh, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah minta maaf. Mau salah atau pun nggak salah, minta maaf duluan. Berikan gestur bahwa CS memahami kekesalan customer dan mau menolong. Bukan NGEYEL, apalagi buang badan bahwa kesalahan bukan terjadi karena perusahaannya. Customer nggak peduli siapa pun pihak yang bekerja sama dengan kalian, ya itu mewakili kalian. Selesaikan masalah internal kalian, bukan nyalahin di depan customer.

Oh ya, dan informasi yang disampaikan di telepon dan di CS berbeda. Waktu saya konfrontir, jawabannya adalah “Wah, saya dan divisi customer service telepon berbeda”. YA AMPLOP, PAK! Gimana caranya masalah yang sama informasinya berbeda? Berarti kalian nggak punya SOP yang bener atau gimana? Sungguh ku ingin mengajak Hulk untuk ikutan laporan biar Hulk aja yang marah. *elus-elus dada* *semoga pahala ku nambah*

Sekian dan terima dikasih makan yang banyak habis marah-marah. XD

Advertisements

Review: Si Doel The Movie

si-doel-the-movie-410x600

Jadi kemarin saya nonton Si Doel The Movie di hari pertama penayangannya. Niat banget, ya. Hahaha. Jadi awalnya mau nonton di Blok M Square, karena lumayan dekat kantor dan murah kan, ya. Saya tadinya mau nonton jam 5 sore. Udah cek nih di IG Si Doel, bahwa mereka akan ada nobar dengan para pemain jam 18.00, yang mana saya nggak mau ikutan nobar karena pasti rame banget. Pas sampai sana…..JENG JENG JENG… asli ramenya sampe ke luar pintu bioskop. Sempat ikutan ngantri sebentar dan pas cek jadwal, udah full aja dong sampai jam 9 malam. Gile! Sia-sia dong datang ke sana.

Karena udah tanggung buru-buru ke luar kantor demi nonton, akhirnya saya cari bioskop yang jadwalnya paling dekat. Ternyata ada di CGV Pacific Place. Ya udah cus lah ke sana dan tentu saja bedanya jauh banget, ya. Di CGV walau nggak kosong-kosong amat, tapi ya nggak rame. Btw, kalau ke PP tuh ya wajib banget harus tampil kece, deh. Suka nggak paham gimana caranya pengunjung PP udah pulang kerja, masih pake baju kantor, tapi make up tetap on dan rambutnya kayak habis diblow semua. Keren pisan. Mana kemarin ada ART Jakarta, kan. Yang datang makin keren-keren aja.

Oh ya, kursi CGV di PP udah enak banget sekarang. Nggak keras lagi. Trus pas senderan, kursinya agak kedorong ke belakang, jadi kayak agak rebahan dikit. Lebih nyaman daripada kursi yang dulu, deh.

Oke, sekarang mari kita bahas filmnya.

Sinopsis: Doel dan Mandra ke Belanda diundang oleh Hans. Ternyata di sana, Doel ketemu Sarah dan anaknya Doel yang sudah 14 tahun nggak ketemu.

Review: Secara keseluruhan film ini membawa nostalgia banget buat saya. Sebagai orang yang mantengin sinetronnya dari episode pertama sampai Doel dan Sarah nikah, saya kangen banget sama serial ini. Filmnya tetap mempertahankan semua tokoh aslinya, termasuk Mak Nyak yang sakit pun tetap ada di film. Rumah Betawinya pun masih ada dan ternyata nggak banyak berubah. Ih, senang banget lihatnya. Tapi tetap menyesuaikan dengan perkembangan jaman, seperti ada taksi online, udah pake HP semua.

Mandra adalah penyelamat film ini. Semua jokes-nya dia segar dan bikin saya terngakak-ngakak. Tanpa Mandra, film ini hanya akan jadi drama menye-menye percintaan segitiga Doel-Sarah-Zaenab. Udah lama banget Mandra nggak muncul, tapi ternyata dia masih bisa akting dan selucu itu, ya. :’)

Saya merasa terganggu sama cara Rano Karno menggambarkan Doel. Udah paham lah ya, Doel itu emang orangnya pendiam, nggak banyak ngomong, dan mukanya selalu default mengkerut. Dulu saya nggak merasa terganggu dengan karakter yang begitu, karena ya mungkin dia adalah orang yang nggak percaya diri sebagai orang miskin yang kuliah, mungkin banyak himpitan dan masalah dalam hidupnya. Ya udah lah yaa, cincai aja, mukanya emang begitu.

Tapiiii, ini kan berbeda, ya. Doel udah 14 tahun nggak ketemu Sarah. Pas nggak sengaja ketemu Sarah di tempat yang tidak terduga, reaksinya ya tetap begitu aja. Sarah udah nyerocos 1000 kata, Doel kayaknya cuma ngucapin sepatah dua patah kata. Yang saking dikitnya, saya lupa dia ngomong apa. Lebih anehnya lagi, Doel dan Sarah posisinya masih suami istri kan, ya. Sekian lama nggak ketemu, peluk kek, marah kek, ngamuk kek, kecewa kek. Ini kan peristiwa besar banget. Nah, malah sama Mandra, Sarah pelukan. Bingung sayah!

Selanjutnya, Doel ketemu anaknya yang sama sekali belum pernah dia temui. Saya mengharapkan ada ekspresi tertentu, dong. Sama istri, ekspresi biasa aja ya udah saya maklumi. Ini sama anak pasti akan ada gejolak dong dalam emosinya.

DATAR AJA DONG! *cakar tembok*

Sementara si Dul–anaknya– malah lebih kelihatan ekspresi marahnya. Pengen rasanya saya datangin si Doel dan teriak di kuping, “DOEL, INI ANAK LO! PELUK DONG!” Yah, setidaknya salam, lah. Atau apa kek. Ini mematung dan hanya bilang, “hai!” Huft!

Sebagai #TimSarah dari dulu. Begitu Sarah ngomong, saya jadi teringat kembali kenapa saya suka dia. Saya suka cara ngomongnya yang agak manja, tapi selalu ramah ke semua orang. Menyenangkan. Tapi saya terganggu banget sama rambutnya yang nutupin mukanya mulu. Aslik, pengen rasanya itu rambut dikebelakangin ke kuping biar nggak ribet lihatnya. Ternyata menurut jurnalis yang datang ke premier si Doel di Belanda, Cornelia Agatha nggak pede dengan bentuk tubuh gemuknya, sehingga dia berusaha nutupin mukanya pake rambut biar mukanya kelihatan kecil sedikit. Yah sayang banget.

Saya nggak masalah dengan bentuk badan gemuk di film. Apalagi ini 14 tahun kemudian, yah life happens, susah jaga bentuk badan. Tapi kelihatan jelas Rano Karno dengan perut buncitnya kelihatan engap banget, dan Cornelia Agatha kelihatan nggak pede sama bentuk tubuhnya. Akhirnya jadi kelihatan di gestur, sih. Jadi kalau boleh kasih saran, semoga di film selanjutnya, diet sedikit, deh. Nggak perlu langsing, kok. Tapi setidaknya sampai bikin mereka nyaman dengan bentuk tubuhnya.

Ada film selanjutnya? IYA! Hahahaha! Sangat disayangkan banget, sih. Karena saya mengharapkan nonton di bioskop tuh sekali selesai aja. Boleh bersambung, asal endingnya bukan yang terlalu kasar ngegantungnya. Kayak lagi menikmati, trus selesai. Kzl, bok!

Tapi apakah film ini nggak layak nonton? Layak, kok. Kalau kamu pecinta Si Doel dari dulu, film ini wajib banget ditonton, for the sake of nostalgic moments. Dan sungguh emang sengangenin itu, kok. Di luar beberapa kekurangannya, film ini cukup menyenangkan untuk ditonton. Bahkan ada satu scene di mana bikin mata saya berkaca-kaca. So, it’s kinda good, but it needs to be improved a lot.

Selamat kangen-kangenan sama si Doel. Kamu tim Sarah atau tim Zaenab, nih?

 

 

Mengejar Iqbaal

Kalau kalian follow Instagram saya pasti tahu banget kalau saya (masih) tergila-gila Dilan. Parah akut. Hahahaha! Sementara orang lain udah move on, saya mah masih stuck aja mantengin duo gemezz Iqbaal Sasha.

Saya tuh jarang banget pengen ketemu sama public figure, kecuali Ahok waktu itu. Nah, sama Iqbaal (dan Sasha) saya pengen banget ketemu mereka. Tapi kayaknya susah banget karena Sasha nggak banyak event sehingga jarang muncul di publik (kecuali kalau ketemu di mall, yang mana kayaknya dia akan sangat jarang ya ke mall deket rumah saya yang di Barat hahaha). Sementara Iqbaal waktu itu masuk sekolah di Amerika. Yah, cemana ketemunya. Dia live aja udah bikin senang.

Tapiiii sejauh ini saya udah ketemu dia 3 kali. Uyeaaah, kok bisa?

Event pertama di @america di Pacific Place. Waktu itu nggak niat sih datang ke acara Iqbaal karena Sabtu itu saya lagi kerja. Tapi pas lagi pergi kerja, saya diingetin teman saya yang nun jauh di Surabaya sana bahwa hari itu ada event pertama Iqbaal sejak dia balik ke Indo, lho. Pas dilihat tempatnya, wah deket banget sama tempat kerja saya. Oke deh, kayaknya bisa datang. Tapi pulang kerja, saya harus jemput Kaleb dulu di Playground Kemang. Lalu setelah itu, kasih dia makan siang di PP. Dan setelah saya baca, event itu cuma boleh masuk kalau udah registrasi sebelum hari H. Lah, saya nggak bisa ikut, dong. Ya udah deh, akhirnya saya cuma makan aja di PP sama Kaleb. Tapi waktu itu saya bilang ke Kaleb, “Doain Mami ya biar ketemu Iqbaal”. Dan didoain lah sama Kaleb. *apa banget sih ini. Hahahaha!* Maksudnya siapa tahu dia lagi jalan di mall, saya bisa ketemu.

Setelah selesai makan dan event itu udah mulai beberapa saat, saya iseng lewat @america. Pas saya tanya bahwa saya belum registrasi, tapi mau ikut acaranya bisa nggak? Ternyata bisa karena kebetulan ada yang nggak datang jadi saya bisa masuk. HOREEE! Bahkan saya malah dapat tempat duduk agak depan sehingga jelas banget lihatnya.

Pertemuan pertama dengan Iqbaal. Dia di panggung dan saya duduk mengagumi dia sampe nggak berkedip. Hahahaha!

IMG_20180526_135758

Deket kan sama panggung. Terlambat membawa berkah ini namanya. :))

Pertemuan kedua adalah di bulan Juni. Waktu itu lagi bulan puasa. Jadi film Dilan mau launching DVD Dilan di KFC Kemang. Ini juga nggak niat datang. Tapi teman saya ngajak datang. Karena tempatnya pun nggak jauh dari kantor, jadi why not. Sempat drama juga, nih. Karena teman saya itu hampir aja nggak bisa datang karena nggak ada yang nganterin, sementara saya males banget datang sendirian karena nanti saya sendiri yang mamak-mamak, sementara yang lain masih abg. Ku tak mau kelihatan tua sendiri……dan kelihatan alay. Hahaha! Untungnya di detik-detik terakhir, temen saya bisa datang dan akhirnya kami jadi pergi. Yeay!

Di sini Iqbaal datang agak telat. Setelah datang pun dia masih ngendon di mobil lumayan lama. Ada kali setengah jam. Sementara teman-teman lainnya sudah datang. Acara di mulai jam 5 lewat. Press conference sebentar. Saya dan teman ada di panggung bagian kanan, karena di tengah cuma boleh diduduki oleh wartawan. Sebenarnya posisi saya nggak dekat-dekat amat sama dia, tapi yah lumayanlah bisa kelihatan. Tapiii…ternyata oh ternyata, ada sesi Iqbaal nyanyi dan itu di stage sebelah saya. Jadi pas dia nyanyi, saya berdiri tepat di depannya. OMG begitu dekat! AWWWWW!

Walau lagi-lagi hari itu nggak bisa foto bareng Iqbaal karena dia sibuk melayani wartawan dan habis itu harus ke KFC lainnya lagi (dan ya manalah mamak-mamak ngikutin dia muluk, kan), tapi lumayanlah ya. Kali ini saya udah bisa lebih dekat dan bisa lihat dia nyanyi. Ihiiy!

IMG_20180611_173243

Sedekat ini ama Iqbaal

Tahu kan rasanya orang yang udah berkali-kali ketemu, tapi kok ya susah amat foto bareng. Nah, saya tuh berasanya begitu. Penasaran banget pengen foto bareng dia. Maunya foto berdua, nggak mau rame-rame. Hahaha! Kayak ada bisul tapi belum meletus. Gemes jadinya!

Nah, seminggu lalu saya lagi lagi main fitur Questions di IG stories. Lupa pertanyaannya apa, tapi ada yang nyebut suka IG saya karena sering nyeritain soal Iqbaal. Lalu saya bilang, ulang tahun saya seminggu lagi nih, semoga ada yang kasih hadiah foto dan ngobrol sama Iqbaal, ya. Iseng aja sih bilangnya.

Nggak tahu juga kalau tiba-tiba di hari Jumat diumumkanlah ada event KFC lagi! Aaaaa! Nggak ada yang dekat rumah, sih. Tapi ada yang di Ancol Beach City, yang mana beberapa bulan terakhir ini lagi sering banget bawa Kaleb ke sana untuk terapi batuknya dia. Jadi saya pikir lumayan banget, nih. Apalagi Sasha lagi ada di Jakarta jadi saya ngarepnya sih ada Sasha juga. Makanya niat banget datang.

Menuju Ancol, saya bilang ke Kaleb doain Mami dong foto sama Iqbaal. Karena kan waktu itu Kaleb doain ketemu Iqbaal dan kejadian. Tapi emang nggak spesifik minta foto, jadi nggak kejadian. HAHAHAHA, doa anak kecil itu manjur, lho. Jadi kali ini doanya spesifik foto sama Iqbaal.

Begitu sampai di KFC, Iqbaal belum datang. Dia telat karena ada event sebelumnya. Pas lagi bengong, tiba-tiba temen saya teriak, “Itu Iqbaal! Itu Iqbaal!” Saya jinjit dong cari-cari dia, “Mana? Mana?” Nggak ngeh banget yang mana. Dan tiba-tiba lewatlah dia di depan saya. NGEFANS AJA SAYA NGGAK HAPAL MUKANYA YA! XD

Iqbaal menuju counter KFC, saya cuma nunggu di depannya. Lalu dia keluar counter dan diikuti para abg. Saya nggak ngikut lah. Ngefans sih, tapi gengsi juga kalau ngekor dia kayak abg. HAHAHA. Lalu saya tanya staff di situ, nanti foto bareng Iqbaalnya di mana? Dia bilang, “Di sini. Baris aja di belakang saya.” Ya udah saya berdiri di belakang si mas baik hati.

Eh bener, itu tempat Iqbaal foto. Dan karena di KFC Ancol nggak rame orangnya, jadi bisa foto berdua dia. Nggak rame-rame. Pas saya duduk sebelah dia, Iqbaal menyapa ramah, penuh senyum, dan manisssss amat. Ampun aku mau pingsan. Terus pas di foto, dia tersenyum manis. *brb ambil oksigen*. Dan habis foto sama dia saya loncat-loncat kegirangan peluk suami dan Kaleb. Maacih doanya Kaleb. Sampai saya nggak sadar DVD saya yang ditandatangani dia ketinggalan. Trus Iqbaal panggil saya. AWWWWW!

img_20180719_073127_691

Cocok ya saya jadi Milea-nya Dilan. XD Maap senyum saya emang kelihatan banget senyum malu-malu mupeng. Hahahaha!

Mission accomplished! Foto bareng Iqbaal sudah ditangan. :’) Hadiah manis untuk ulang tahun saya. Semesta mengabulkan.

Foto sama Iqbaal udah ya. Jadi lain kali mau foto sama Sasha, yaaa. Ihihihihi!

 

Akhirnya Sekolah

c360_2018-07-16-15-41-34-225

Tanggal 16 Juli 2018 kemarin adalah hari pertama Kaleb sekolah! :’) Sungguh, anakku udah besar ya ternyata. Kaleb masuk preschool. Untuk memilih sekolah yang mana saya nggak ribet.

  • Harus dekat rumah. Ini wajib banget. Karena hampir seumur hidup saya, sekolah saya selalu jauh. Menghabiskan minimal 1 jam untuk ke sekolah. Kalau naik bis jemputan selalu dijemput paling pertama dan diantar paling terakhir. Hiks, yang ada perjalanan ke sekolah selalu capek banget. Makanya untuk Kaleb, terutama preschool dan TK, pilihannya harus dekat rumah biar dia nggak kecapekan.
  • Sekolah Katolik/Kristen. Karena disiplinnya yang tinggi banget. Saya dari TK udah sekolah di sekolah Katolik dan terbiasa banget dengan disiplin yang tinggi, plus suster-suster yang galak. Pas sekolah sih sebel, tapi lama-kelamaan malah jadi terbiasa dan menguntungkan buat saya.
  • Untuk preschool, maunya pada dasarnya main-main aja. Nggak perlu pelajaran yang sulit, nggak diforsir supaya jadi juara olimpiade, atau apalah. Benar-benar pengen Kaleb bersosialiasi, mempunyai kebiasaan yang baik, dan main-main aja. Jadi saya nggak pilih sekolah yang goal-nya terlalu akademis.

Sebulan atau dua bulan sebelum masuk sekolah, saya udah sering sounding tentang sekolah Kaleb. Kebetulan tiap ke sekolah itu, saya juga udah ajak Kaleb jadi dia tahu gimana sekolahnya dan nyaman. Supaya nggak kaget, saya kasih tahunya sedetil mungkin. Tiap hari.

Saya bilang ke dia, nanti di sekolah Mami nggak temenin di kelas, ya. Nanti di kelas ada teman-teman dan ibu guru. Kalau butuh sesuatu bilang ke ibu gurunya. Kalau mau pipis juga bilang ke ibu gurunya, ya. Jangan takut karena semua baik.

Ada beberapa rules yang saya kasih ke Kaleb:

  • Baik ke teman dan guru.
  • Nggak boleh rebut dan pukul teman duluan. Kalau kamu dipukul, boleh pukul balik sebagai self-defense. Tapi jangan pernah pukul duluan.
  • Kalau mau minjem, bilang dulu. Kalau nggak dikasih ya nggak papa, cari mainan lain.
  • Have fun at school.

Nah, mungkin karena anaknya sendiri sangat senang bersosialisasi dan ketemu orang-orang, waktu hari pertama sekolah nggak ada masalah sama sekali. He woke up excited. Senang sekali waktu pake seragam. Langsung dapat teman akrab di hari pertama. Dia masuk kelas dengan happy, nggak nangis, nggak nyariin saya, berbaur, dan mengikuti instruksi dengan baik. Lalu, ketika dia kesulitan mengambil tasnya atau mengeluarkan tempat makannya, dia ngomong ke gurunya. Ah, I’m a proud mother. :’)

Bangganya minta ampun karena waktu saya kecil, saya nggak semudah itu beradaptasi kayak dia. Waktu umur 3 tahun, saya dimasukkan preshool. Karena saya nggak siap dan takut banget harus ke sekolah ketemu orang baru, pas naik bis jemputan, saya kabur dong dari bis jemputan dan pulang ke rumah jalan kaki. Hahahaha. Intinya, he’s doing much better than me.

Semoga Kaleb selalu bersenang-senang di sekolah dan pulang dengan hati yang gembira, ya. 🙂

 

Lebaran di Anyer

Halo, sebelumnya mau ngucapin

SELAMAT IDULFITRI
MOHON MAAF LAHIR BATIN YA. 
Maafin kalau ada kata-kata atau hal-hal yang menyinggung di blog ini. Semoga libur lebarannya menyenangkan semua. 🙂

Siapa di sini yang udah masuk kerja, tapi ART-ya belum balik?

 

 

 

SAYA!

 

Cenat-cenut kepala barbie, nih. Jadi dese udah janji mau berangkat dari Sabtu malam, lalu mundur ke Minggu malam karena nunggu teman, eh lalu travelnya dicancel mulu karena orang yang berangkat kurang. HASYEM! Beberapa kali pulang kampung dia selalu balik sih kalau bilang balik, tapi ya gitu suka aja diundur. Hiks!

Oke, mari doakan bersama-sama semoga besok dia udah tiba di Jakarta sehingga emosi akibat ngurus rumah dan anak selama 2 minggu ini bisa reda dulu. Biar bisa ngabur ke tukang pijat, nih. Nggak mau panggil tukang pijat ke rumah karena nanti anaknya tetap ngekor dan nanya macam-macam. Wakakak, maap nak, Mamak butuh rasa damai dulu. XD

Jadi awal liburan Lebaran kemarin, saya dan keluarga pergi liburan ke Anyer. Kenapa Anyer? Karena mau pantai, tapi nggak mungkin ke Bali yang pasti lagi high season. Terakhir kali ke Anyer tuh kira-kira 10 tahun lalu. Kalau adik-adik saya malah udah jauh lebih lama dari saya. Nah, jadi kepengen tau kan Anyer sekarang gimana.

Kami pesan hotel di Aston Anyer karena setelah browsing sana-sini, Aston ini termasuk hotel yang baru dan minimalis jadi nggak menyeramkan. Soalnya dulu saya nginep di Hotel Jayakarta tuh hotelnya udah tua. Ih, malesin, lah.

Kami berangkat sekitar jam 8 pagi karena dikira bakal lama di jalan dan ada macet mudik. Ternyata lancar jaya dan kami sampai jam 10 pagi. Semua resto tutup dan sepiiii banget. Ya udah akhirnya kami langsung ke hotel. Kamar juga baru bisa masuk jam 14.00, kan.

Di lobi udah banyak orang yang mau liburan juga. Jadi setelah nitip tas, kami ke pantai privatenya yang bersih walau tidak terlalu panjang garis pantainya. Puas main di pantai, lalu kami berenang di siang bolong karena Kaleb pengen berenang.

Setelah gosong berenang dan sudah jam 12 siang, kami cari makan dulu di sekitar hotel. Nah, ada satu restoran favorit orang-orang, Pondok Lesehan Ikan Bakar BM, yang akhirnya setelah siang buka juga. Restoran seafood tentunya. Karena saya nggak terlalu favorit seafood jadi buat saya ya biasa aja, tapi kata orang tua dan adik-adik saya rasanya enak. Oke lah.

IMG-20180615-WA0003

Kami pun kembali ke hotel sekitar jam 13 lebih lah. Kami nanya ke resepsionis apakah kamarnya sudah siap. Satu kamar sudah siap, namun satu kamar lagi belum siap karena alasannya adalah tamu yang menempati teman GM yang belum check out. Hmm! Kami bilang sih, pokoknya tetap jam 14, nanti masuknya.

Kamar di Aston ini nggak terlalu besar dan karena cuma satu kamar aja yang baru dibuka, kebayang dong kami umpel-umpelannya gimana. Mau istirahat juga nggak bisa. Wong tempat tidur jadi penuh. Plus ada anak kecil kayak Kaleb.

Akhirnya jam 14 kami telepon ke resepsionis dan kamar pun belum siap. Udah mulai kesel, tapi tahan dulu. Jam 14.30 kamar belum siap juga dan alasannya adalah tidak ada kewajiban hotel bahwa orang harus masuk jam 14.00. WOW! Akhirnya saya turun ke bawah untuk bicara dengan manager on duty-nya. Pokoknya saya menegaskan bahwa saya mau kalau kami terpaksa harus late check in, ya berarti nanti bisa late check out juga. Dan nggak lama kami bisa masuk.

Setelah dapat kamar hotel lengkap, kami pun istirahat siang dulu karena cuaca ampun panasnyeee. Mana ya itu kamar yang baru dikasih AC-nya bocor. Udah panggil teknisi tapi tetap bocor jadi kalau tidur harus ditampung pake gelas biar airnya nggak bleber ke mana-mana. Sebenarnya kalau nggak ada hal-hal menjengkelkan ini, kamarnya yang walau pun nggak terlalu luas, tapi sebenarnya tempat tidurnya empuk, nyaman, kamar mandinya bersih, air hangatnya lancar.

Sorenya kami pun berenang lagi (yah, apa lagi yang bisa dilakukan di Anyer, kan). Kali ini berenang di kolam dulu, lalu berenang di pantai, yang mana airnya lagi surut. Air lautnya bersih warnanya biru toska jadi menyenangkan berenangnya, tapi ada beberapa bagian yang karangnya agak tajam tapi nggak mengganggu, kok.

Di sore hari ada atraktsi bubble shower gitu. Jadi dari atas jembatan ditembakkan busa-busa banyak amat. Buat anak-anak ini seru banget. Oh ya, petugas hotel udah memberitahu bahwa busanya tidak berbahaya buat lingkungan laut. Jadi santai aja.

Kami berenang sampai jam 6-an lebih. Itu pun Kaleb susah banget disuruh berhenti. Begitu masuk kamar, nggak ada tenaga lagi buat ke mana-mana jadi beli nasi padang. Tapi, akibat kami telat check in, pihak hotel memberikan free dinner buffet untuk 2 orang. Ah, senangnya! Jadi yang pakai voucher free dinner adalah Bapa, saya, dan Kaleb. Kaleb masih dihitung free. Makanannya cukup enak dan ada nobar Piala Dunia jadi Bapake sih senang banget.

Besok paginya kami langsung nyebur ke pantai lagi dan berenang lagi. Udah lah puas-puasin aja hiburannya cuma itu hahahaha. Setelah itu kami pun breakfast. Dan entah kenapa kami dapat voucher breakfast 6. Jadi semua orang ya dapat jatah makan. Senang banget. Terutama karena makanannya enak-enak banget dan beragam. Cuma ya kayaknya sih karena tamu membludak dan staff nggak terlalu banyak, jadi ada makanan yang habis tapi diisinya lama banget. Bahkan pas mau ambil pancake, pancakenya habis. Nunggu staff ambil bahan ke dapur dan masakin. Eh, pas masakin, dia sekalian masakin telor. Jadi ya udah swadaya aja balik-balikin pancake sendiri hahaha.

img-20180616-wa0039img-20180616-wa0058img_20180616_110859img_20180616_110146

Oh ya, tentu saja kami nggak jadi late check out juga karena kan udah dapat free dinner. Kasihan juga sama yang bakal check in sesudah kami nanti telat juga. Plus, ya mau ngapain lagi di sana?

Overall sebenarnya liburannya cukup menyenangkan karena setelah sekian lama kami bisa liburan sekeluarga komplit dan hotelnya juga nggak serem. Tapi mungkin akan lebih santai kalau pas lagi low season kali ya, biar nggak pusing gitu liat orang rame benerrrr. Plus, di Anyer tuh nggak ada hiburan lain jadi beneran cuma nikmatin hotel. Kalau hotelnya nggak asik mah mati gaya beuts!

 

Main Di Luar

Bulan lalu Kaleb sakit. Demam diserta batuk dan pilek. Sebenarnya biasa aja ya anak kecil sakit demam, batuk, pilek, tapi ini benar-benar lemas, nggak ada makanan yang masuk, dan muntah. Saya tadinya mau strict ke aturan 3 hari demam baru dibawa ke dokter. Tapi pas hari kedua, Kaleb telepon dari rumah bilang, “Mami, Kaleb mau ke dokter.” Wah, mungkin anaknya udah berasa nggak enak banget, ya. Ya udah, minta tolong sama nyokap untuk anterin Kaleb ke dokter. Jadi anaknya terkena bakteri yang bikin batuk dan demam. Dikasih lah obat racikan, obat mual, dan antibiotik. Dokter saya ini kebetulan dokter yang nggak akan pernah resepin antibiotik kalau nggak perlu. Waktu dulu Kaleb sakit aja dia pernah cuma resepin madu doang. Dan bener sembuh.

Nah, karena batuk-batuk dan curiganya alergi, banyak yang nyaranin untuk bawa ke pantai pagi-pagi. Kabarnya udara pantai baik untuk pernapasan, sekaligus dijemur juga. Jadilah selama 2 minggu berturut-turut kami menghabiskan waktu di Ancol. Selain itu, kami juga jadi menerapkan lagi lebih sering main di luar daripada di mall biar bakteri dan virus yang mutar-mutar di ruangan tertutup nggak tertular ke Kaleb.

Ancol Beach City dan Ecopark
Pilih di Ancol Beach City karena pantainya paling bersih dan nggak rame. Jadi menyenangkan banget buat anak main-main. Selain itu, deket sama mall-nya dan Indomaret jadi kalau ada perlu apa-apa bisa langsung beli di situ. Oh ya, masuknya gratis dan parkirnya juga gampang di dalam mall.

Kaleb senang banget main di sini karena kalau pagi banyak anak-anak juga di sini. Jadi biasanya saya udah bawa perlengkapan buat main pasir dan biarin aja dia main entah di pasir atau di pinggir laut. Jangan lupa dipakein sunblock ya biar nggak hitam. Hihihi.

Biasanya kalau matahari udah mulai terik, saya pindah ke Ecopark untuk main di tamannya. Di sana ada penyewaan sepeda, tapi Kaleb bawa sepeda sendiri karena lebih nyaman. Bawa sepeda sendiri kena charge Rp 35.000. Lebih untung sih karena kalau sewa sepeda Rp 35.000 per jam.

Kaleb juga senang banget main di sini karena dia lagi senang-senangnya bisa main sepeda sendiri. Plus, di taman super gede gini mah dia bisa lari-lari sepuasnya. Jumpalitan juga bisa.

Nah, susahnya kalau main di Ancol adalah….anaknya nggak mau diajak pulang. XD

The Playground, Kemang
Udah mau ke The Playground dari dulu, tapi belum sempat karena nggak terlalu suka ke daerah Kemang yang macet banget. Zzz! Tapi akhirnya kesampaian karena kebetulan ada beberapa tujuan yang letaknya di Kemang semua jadi pas-lah.

Letaknya di daerah perumahan dan bukan daerah pinggir jalan. Kalau saya sih suka banget tempatnya yang masuk ke dalam ini jadi udaranya masih enak. Kalau ke The Playground jangan lupa bawa baju renang karena ada tempat untuk mainan airnya.  Tiket masuknya Rp 75.000 sepuasnya, sudah termasuk 2 orang pendamping. Enak banget kan. Biasanya pendamping cuma boleh satu aja.

Jam paling menyenangkan untuk datang adalah sore hari karena udah nggak terlalu panas. Tempatnya menyenangkan. Ada cafe kecil kalau mau makan (tapi mahal, nggak boleh bawa makanan dari luar), tempat duduk dan meja tunggu terletak di mana-mana jadi enak.

Mainannya pun beragam, ada jalur main sepeda juga jadi silahkan bawa sepeda, dan ada lapangan basket kecil untuk anak-anak. Kaleb senang banget main di sini. Nah karena mainnya pas sore dan kita nggak kepanasan, jadi Kaleb kami biarin main sepuasnya sampai dia yang minta pulang sendiri.

img_20180529_153135img_20180529_153138img_20180529_160723img_20180529_161034img_20180529_163613img_20180529_163620

Btw, di sini banyakan keluarga bule gitu yang datang. Jarang banget sih orang Indonesia-nya jadi gemes sendiri liat Kaleb main sama anak-anak bule dan saling ngobrol bahasa sendiri-sendiri tapi tetap paham. Hahaha.

Oh bonus, pulang dari The Playground kami ke Dia.lo.gue di Kemang juga karena ada pameran Namaku Pram, mengenai penulis Pramoedya Ananta Toer. Pamerannya gratis dan saya belajar banyak mengenai beliau. Sayangnya 3 Juni kemarin pamerannya udah selesai. Semoga banyak pameran kayak gini lagi ya karena menambah pengetahuan banget. :’)

img_20180529_1748381img_20180529_1748561img_20180529_175029img_20180529_175430img_20180529_175548_hhtimg_20180529_180223_hht

Dan tak lupa foto-foto di tangga terkenal-nya Dia.lo.gue.

Trip Seru ke Batukajang

Aloha!

Mei ini saya cukup sibuk. Sibuk dengan berbagai project, sibuk ngurusin Kaleb yang batuk lama banget karena kata dokter ada bakteri, dan sibuk mantengin dedek-dedek gemesh di Instagram. Hihihi.

Salah satu highlight bulan Mei ini adalah work trip ke Balikpapan bareng teman saya, Citra. Saya belum pernah ke Balikpapan, jadi cukup excited juga dengan perjalanan singkat ini. Terutama karena saya akan menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke site-nya.

Kami berangkat di hari Sabtu pagi melalui terminal 3 yang lagi tersohor itu karena baru. Dan tentu saja kami bagai gadis desa yang terkagum-kagum dengan desain terminal 3 yang modern dan kece banget, disertai resto-resto kenamaan. Bagus banget lah. Kekurangannya adalah….jauh amat itu sampai ke gate 17 di mana pesawat saya parkir. Udahlah jauh, travelatornya sedikit. Jadi kalau mau cepat bisa pake kayak bis golf kecil gitu (apa sih namanya ini?). Nggak tahu ini disewa atau gratis. Untungnya kami nggak lagi terburu-buru jadi ya bisa jalan aja sambil geret-geret koper, turun eskalator pulak.

Senangnya sampai di gate 17, ada Ice Hills, bubble tea kesukaan saya. Tentunya langsung saya beli untuk bekal di pesawat nanti. Harganya lebih mahal Rp 10.000 dari harga aslinya. Mana harga aslinya sebenarnya sering banget promo jadi Rp 15.000 saja. Eh, nggak tahu deh sekarang promonya masih ada nggak.

Kami menunggu di tempat duduk yang mengarah langsung ke jendela besar tempat pesawat-pesawat parkir. Saya selalu suka bandara. Buat saya, saya bisa mandangin pesawat lalu lelang terbang dan mendarat dan udah bikin senang banget. Masalahnya, saya takut terbang. Zzz!

Pesawat boarding tepat waktu. Saya udah wanti-wanti ke Citra kalau saya takut naik pesawat. Overall perjalanannya mulus tanpa turbulensi berarti. Plus, ada makanan dan entertainment di pesawat jadi ya saya lumayan bisa kedistraksi dari ketakutan saya. Itu aja saya nontstop lihat jam dan komat-kamit berdoa supaya cepat sampai. Oh ya, di pesawat saya nonton The Greatest Showman. Filmnya bagus banget nget! Dan saya menyesal nggak nonton di bioskop. :’)

Sampai di Balikpapan jam 12 siang dan kami langsung dijemput untuk langsung menuju Batukajang yang katanya terletak 3 jam perjalanan darat. Oh, untuk mencapai Batukajang, kami haru naik speed boat dulu melewati laut selama 20 menit. Seru banget!

img_20180512_131924_486img_20180513_165526img-20180512-wa0012img_20180512_155110img_20180512_155144

Mulai deh saya norak karena saya pikir Kalimantan itu, terutama pedalamannya, kayak di film Anaconda yang masih banyak hutan, hewan, dan sungai-sungai. Nyatanya, ya sama aja kayak di Pulau Jawa. Jalanannya sudah aspal mulus, hampir nggak kelihatan hutan lebat. Kelihatannya kelapa sawit aja.

Perjalanan yang katanya 3 jam, ternyata jadi 5 jam. Padahal nggak macet, dan kami cuma mampir makan sebentar dan Citra sholat. Satu jam perjalanan terakhir baru kami melewati gunung, hutan, dan air terjun. Jalannya pun mulai berkelok-kelok sampai kami pusing banget.

Sampai di Batukajang jam 6 sore dan kami sungguh tepar banget. Kami ngingep di mess yang isinya 90% cowok tambang semua. Aslik, kalau sendirian aja sih saya jiper banget. Untung berdua. Begitu sampai kamar, kami langsung tidur. Pusing dan capek banget. Plus, kondisi saya sebenarnya lagi kurang fit. Seminggu sebelumnya Kaleb sakit batuk pilek dan nular ke saya. Pas berangkat saya udah minum Panadol, sih, tapi kayaknya kurang mempan.

Kami baru bangun jam 19.30-an dan lalu dijemput untuk makan. Kami ditawari makan di luar, tapi kami terlalu capek untuk makan di luar. Plus, setelah melewati kotanya yang kecil banget, nggak ada resto atau tempat yang bikin kami mampir, sih. Udah pengennya makan doang, trus balik ke kamar istirahat karena besoknya kami harus seminar jam 8 pagi ajee. Kami pun makan di kantin mess, yang mana makanannya prasmanan dan enak-enak, kok. Jadi ya kami puas aja makan di kantin. Anaknya gampangan, asal perut kenyang aja. Hehehe.

Setelah makan, kami minta diantarkan ke Alfamart/Indomaret di kota (di Batukajang cuma ada 1 Alfa dan 1 Indomaret, letaknya bersebelahan). Kami mau beli obat Antimo buat besok dan Panadol karena pusing kami nggak hilang juga. Plus, mau beli cemilan. Tapi saya nggak nafsu ngemil karena kepalanya pusing sampai nggak bisa ngapa-ngapain.

Pas di mini market, pengunjungnya banyakan cowok dan kami dilihatin. Padahal kami nggak pake baju terbuka atau aneh, sih. Kami pake kaos dan jeans, dan orang lain pun begitu. Pindah ke mini market sebelahnya, kami juga dilihatin. Bukan dilihatin yang bikin nakutin, tapi kayak mereka sadar kami bukan penduduk sini aja. Setelah diperhatikan sekitarnya, oh ternyata yang perempuan hampir semuanya pake hijab. Sedangkan kami udahlah nggak pake hijab, rambutnya diwarnai pula. Hahaha. Tapi kata staff yang mengawal kami di sini nggak wajib pake hijab, kok. Cuma kebanyakan aja.

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan siap-siap untuk makan di kantin. Seperti biasa, apapun makanan yang disediakan kami senang-senang aja. Wong udah lapar. Hihihi. Nah, kami selalu ditemani seorang staff, sih untuk ke mana-mana dan diskusi soal seminar. Tapi lucunya, karena jarang keberadaan perempuan di mess itu, jadiiii banyak banget yang minta foto sama kami. Berasa artis banget wakakakak!

Jam 9 tepat, kami mulai seminar dan Puji Tuhan berjalan lancar banget. Itu pun kami harus memastikan selesainya tepat jam 12 siang karena kami harus ngejar speed boat yang cuma sampai sore aja. Kalau sudah terlalu sore, tidak ada speed boat sehingga kami harus naik kapal kecil ke Balikpapan. Wew!

img_20180514_073639_482

Jadi kami kembali ke kamar, siap-siap, nggak pake makan siang dulu karena nanti di jalan aja. Pulangnya lumayan rame karena ada 2 staff lagi yang mau ke kota. Dan teteeep cuma kami perempuannya. Hahaha.

Sebelum jalan, saya udah minum antimo dan sukses ketiduran. Puas banget dan jadi nggak pusing. Satu jam dari site, kami mampir makan nasi gandul di Kuaro. Ini pertama kalinya saya makan nasi gandul yang kuahnya hangat mengepul. Rasanya ENAK BANGET! Itu udah lapar banget, ditambah rasa kuahnya yang endeus bikin mata merem melek.

Selesai makan lanjut jalan lagi dan bener aja memakan waktu 4 jam perjalanan lagi. Untungnya speed boatnya masih ada sehingga kami bisa naik.

Setelah naik speed boat kami yang tadinya mau ke tempat oleh-oleh akhirnya memutuskan nggak jadi, langsung ke bandara aja karena takut telat. Plus, salah satu staff masih harus ke mess yang di Balikpapan jadi nggak enak ngerepotin kalau harus mampir lagi.

Untungnya di bandara ada toko oleh-oleh dan pesanan Mama madu Kalimantan ada di sana. Tapi setelah perjalanan yang capek banget itu, pas di bandara saya udah lemes banget, mulai demam, dan nggak kuat jalan lagi. Itu kayak udah sisa tenaga banget. Udah gitu, pesawat delay. Ya cuma 15 menit, sih, tapi kan tetap aja ngeselin karena saya udah nggak enak badan banget.

Dengan keadaan kepala pusing dan hidung mampet, begitu take off kepala saya kayak diiris-iris saking sakitnya karena ada perubahan tekanan udara. Oh ya, untuk pertama kalinya karena pesawatnya malam, pas lagi terbang saya ngeliat ada kilat terus-terusan menyambar. Kebayang dong, saya yang takut pesawat lihat pemandangan kilat menyambar tuh horor banget. Padahal turbulensinya sih biasa aja. Saking takutnya saya langsung tutup jendela biar nggak ketakutan. Eh, nggak lama kemudian disuruh pasang seat belt karena kondisi cuaca yang kurang baik. Muka saya sih udah nggak karuan lagi paniknya dan tangan udah dingin. Lihat ke arah sekeliling, penumpang santai aja, ada yang tidur, ketawa-ketawa, nonton film. Pramugari santai bolak-balik nganterin makanan atau minuman. Oke, kayaknya saya doang yang ketakutan. Tapi kebantu banget nonton film Pensil dan Stip yang lucu dan bagus banget karena mengangkat tentang pendidikan.

Pas pilot kasih tahu udah mau sampai dan landing, loh tapi kok landingnya lama banget, ya. Nggak kayak pas mau pergi begitu diinfokan pilot langsung mendarat. Di situ saya udah bisa ngeliat pemandangan kota tapi ya muter-muter aja di atas karena kayaknya masih nunggu giliran runaway. Kali ini ketakutan udah berkurang. Dan sampailah saya di Jakarta dengan selamat.

Nah, kedatangan di terminal 3 ini emang membingungkan banget, sih. Jadi saya keluar nggak ada mobil pribadi yang bisa berhenti. Yang ada cuma DAMRI dan taksi. Ternyata untuk yang menjemput harus dari tempat parkir di belahan lain bandara yang saya juga nggak paham. Jadi suami harus parkir dan menemui saya baru kita bareng-bareng ke parkiran yang letaknya lumayan jauh. Merepotkan banget sih terutama kalau bawaannya banyak.

But it was a very good trip. Dan baru tau di Kalimantan hutannya udah jarang. HAHAHAHA. Mungkin harus ke pedalaman lagi. Oh, setelah trip ini saya seminggu sakit. Dua hari pertama saya maksain buat masuk karena ada pasien, tapi di kantor saya nggak bisa ngapa-ngapain, bahkan numpang ruang konsul buat tidur aja. Begitu saya bed rest di rumah dan beneran sepanjang hari kerjanya makan, minum obat, tidur baru sembuh.

Semoga ada kesempatan lagi untuk melihat Indonesia belahan lainnya lagi, ya!

 

PS: Yang mau melihat keseruan trip saya ada di highlight di Instagram.

Berkawan Dengan Hewan di Faunaland dan De Ranch Puncak

Demi usaha supaya nggak ke mall terus, beberapa waktu lalu saya ajak Kaleb ke tempat-tempat outdoor yang kesemuanya berhubungan dengan hewan.

Faunaland
Faunaland ini terletak di Ancol, tepatnya di area Ecopark. Waktu itu kebetulan saya datang pas hari Jumat dan tanggal merah. Saya udah mikir bakal kena harga weekend, nih. Tapi ternyata nggak, lho. Harga yang berlaku adalah kalau weekdays (Senin-Jumat) Rp 60.000, weekend (Sabtu-Minggu) Rp 75.000. Fiuh, lumayan banget kan bedanya. Anak umur 3 tahun sudah bayar.

Areanya tidak terlalu luas dan hewannya nggak banyak macamnya, tapi hewan-hewannya dipelihara dengan sangat baik. Tempatnya juga bersih.

Kebetulan pada saat kami datang lagi ada bird show. Lumayanlah ya pembawa acaranya interaktif ketika berkomunikasi sama penonton. Ragam burung-burungnya juga lumayan banyak. Karena kami telat masuknya, jadi nggak terlalu lihat banyak. Tapi overall bagus kok pertunjukannya.

Setelah lihat bird show, kami ngikutin path yang ada di situ sehingga bisa mengelilingi seluruh Faunaland. Pertama-tama kami lihat area burung. Di situ bisa foto pegang burung. Tentu saja suami yang semangat, saya bagian foto aja. Kenapa? Karena dulu saya pernah sok banget mau foto sama ular trus berakhir saya ketakutan. Siapa tau kalau burung bisa matuk juga, kan? Okeh, baik….saya kayaknya penakut. XD Awalnya cuma suami yang mau foto bareng burung, tapi kemudian saya bujuk Kaleb juga siapa tahu dia mau. Eh, dia mau. Jadi burungnya ditaro di tangannya dan dia malah ketawa lucu. Gemes!

IMG_20180330_160416.jpg

Setelah mengitari area burung, kami ke area singa putih. Di depan area singa putih ada kura-kura galapagos yang ukurannya gedeeee banget dan usianya udah ratusan tahun. Saya udah sering baca soal hewan-hewan unik di Galapagos tapi baru kali ini akhirnya bisa lihat kura-kura Galapagos beneran.

IMG_20180330_161122.jpg

Setelah itu, kami menuju singa putih yang ukurannya gede serta beneran berwarna putih. Yang jantan ukurannya lebih besar daripada yang betina. Amaze banget lihatnya karena warnanya cantik dan bagus. Badannya pun gemuk dan dirawat dengan baik. Kandangnya dilapisi kaca jadi pas singa ini duduk dekat kaca serasa deketan banget. Wow!

IMG_20180330_161419.jpgIMG_20180330_161445.jpgIMG_20180330_161514.jpg

Dari area singa, ada keledai dan kuda pony. Kemudian ke area monyet. Ada monyet Dufan juga di situ, lucu bener bentuknya. Lalu ada area binatang-binatang kecil seperti kucing hutan, tarsisius, dsb. Ada tapir juga. Dia suka berendam di danau. Tapi yang paling bikin takjub adalah black panther yang galak banget. Dia letaknya di area depan. Pas kami deketin ke kaca, dia langsung nomprok ke kaca. Gila, kaget! Padahal pas di area singa yang badannya lebih besar, pas banyak orang lihat ke kaca, si singa santai aja duduk. Nah si black panther ini malah ngamuk. Mana yang lihat cuma kami bertiga. Setelah diperhatikan lagi, kakinya cuma 3. Dia lumpuh. Huhuhu, kasihan! Kayaknya dia diselamatkan, deh.

IMG_20180330_163814.jpgIMG_20180330_164010.jpg

Setelah puas mengelilingi Faunaland yang nggak terlalu besar, kami main di Ecopark. Ecopark nih cocok banget buat anak pecicilan kayak Kaleb karena areanya gede dan luas jadi dia bisa lari-lari sepuasnya. Akibatnya, disuruh pulang dia ngamuk. XD

IMG_20180330_162532.jpg

De Ranch, Puncak
Dulu kami pernah ke De Ranch, Bandung dan menurut kami bagus dan areanya luas banget. Makanya kami penasaran dengan De Ranch, Puncak. Setiap orang dikenai biaya Rp 20.000 yang bisa ditukarkan dengan segelas susu, dibayar pada saat masuk parkiran. Untuk mobil dikenai biaya Rp 10.000, dibayar pada saat pulang.

IMG_20180501_124214.jpg

Masuk ke area De Ranch, kami langsung ke loket untuk menukarkan tiket dengan susu. Ada pilihan rasa plain, coklat, dan strawberry. Setelahnya kami langsung menuju ke area permainan. Nah, kalau merasa tiket masuknya murah, itu karena di dalam tiap permainan dan makanan hewan harus bayar lagi. Harganya pun nggak murah. Kalau di Kuntum dengan harga Rp 5000 bisa dapat sekeranjang sayur dan wortel, di De Ranch Rp 25.000 cuma dapat beberapa helai sayur dan 1 wortel. SEDIKIT!

Jadi Kaleb mencoba area panahan boneka, pancing ikan (mana yah ikannya boongan, ada sih yang beneran tapi ikan kecil-kecil di kolam), masuk ke kandang domba dan kasih makan, naik kuda, masuk ke kandang kelinci dan kasih makan. Masing-masing permainan bayar Rp 25.000. Jadi kami mengeluarkan Rp 125.000 lagi di dalam. Dari semuanya yang paling berkesan adalah kasih makan domba. Karena kasih makannya masuk ke dalam kandang domba jadi kami bisa pegang dombanya. Ternyata domba itu ganas banget kalau lihat makanan. Jadi dia mau ambil sayur yang saya pegang sampai berdiri dan nomprok saya. Kaget banget. Makanya saya jadi cupu dan deketnya sama domba-domba kecil yang masih imut aja. Hahaha. Dan bulu domba tuh enak banget dipegangnya, ya. Halus kayak wool. YAH EMANG BUAT WOOL! XD

IMG_20180501_110400.jpgIMG_20180501_110456.jpgIMG_20180501_110531.jpg

IMG_20180501_111250.jpg

Ketika Mamak ditomprok domba

IMG_20180501_111255.jpgIMG_20180501_111443.jpgIMG_20180501_111639.jpgIMG_20180501_113101.jpg

Secara keseluruhan, De Ranch Puncak ini areanya lebih kecil dan lebih kelihatan sumpek. Lebih berasa alam bebas pas di De Ranch Bandung, sih. Selain itu, charge untuk tiap mainnya mahal bener. Berasa tongpes dibanding pas di Kuntum, sih jadinya.

 

Makan Enak Weekend Kemarin

Weekend kemarin senang banget karena bisa nyobain restoran baru dan enak-enak semua. My tummy was happy! Dan lebih senangnya lagi karena nemu 2 restoran ini nggak sengaja.

Sari Laut Jala-Jala, Kuningan City
Hari Sabtu kemarin habis pulang kerja, saya, Suami, dan Kaleb mau nonton Infinity War yang kesohor banget itu. Biar nggak capek ngantri dan kehabisan tiket, kami buka M-Tix dan cari bioskop yang sekiranya nggak penuh dan ada di mall biar bisa makan siang dulu. Akhirnya kami dapat spot di KunCit. Setelah dapat tiket, saya langsung buka Zomato untuk cari restoran di sana.

KunCit tuh bukan mall favorit saya. Selain karena letaknya di Kuningan yang ajegile macet, mall-nya juga sepi banget. Nggak bisa buat cuci mata karena nggak banyak yang bisa dilihat. Tapi ya, kalau cuma buat makan dan nonton doang mah boleh lah. Pas buka Zomato kami udah dapat gambaran restoran apa aja yang ada di sana, tapi belum memutuskan mau makan di mana.

Kebetulan parkir di lantai 3 dekat bioskop. Pas masuk, ada beberapa restoran. Salah satunya Sari Laut Jala-Jala yang paling rame di antara yang lainnya. Pas lihat menunya sekilas, well oke-lah banyak variasi makanan yang bisa memenuhi selera kami bertiga.

Restorannya ya selayaknya restoran Chinese umumnya. Bukan yang instagrammable, ya. Lampu-lampunya memancarkan cahaya biru sehingga kami rasanya kayak ada di aquarium. Hahaha. Menunya segede dosa. Gede banget. :)))) Mungkin saking gedenya per meja cuma dikasih satu menu karena menuh-menuhin tempat banget.

Karena kalau makan tengah, kami cuma 2 orang dewasa dan 1 anak terlalu banyak, jadi kami pesan menu per porsi aja. Saya pesan Lamien Ayam Katsu Sup ala Jala-Jala, suami pesan kwetiaw siram kepiting, Kaleb pesan mie pangsit ayam jamur. Kaleb sekarang udah dipesenin menu sendiri karena dia udah bisa milih dan makannya mulai banyak. Kalau makannya barengan, saya nggak kenyang. Walau kalau 1 porsi dia tetap masih nyisa. Ya tugas bapaknya lah yang ngabisin. Hihihi.

Pas semua makanan datang, nggak ada satu pun yang fail. Enak endeus lezatos banget! Sampai pas kami makan berkali-kali bilang, “Gila, ini enak banget!” Sampe terharu gitu. Hahaha. Lamien saya porsinya besar banget, kuahnya gurih, ditambah dia kasih bubuk cabe. Duh, enak banget! Sup mie pangsit Kaleb juga rasanya kayak terbang melayang-layang saking enaknya. Sementara suami pun muji kwetiaw siramnya berasa banget kepitingnya dan nggak pelit. Senang!

Dengan keadaan perut begah saking kenyangnya, kami penasaran pesan snow ice rasa mangga yang kabarnya best seller di sana. Aslik, itu lapar mata doang karena cuma pesan 1 doang untuk kami bertiga sampai nggak habis. Bukan karena nggak enak, tapi karena perut udah kayak mau meletus. Oh ya, snow ice-nya itu enaaak parah! Es-nya lembut banget kayak sutra, potongan mangganya nggak pelit dan manis banget, plus ada jelly rasa mangga yang juga lembut. Duh, bahagia banget lah makan di situ.

Dan yang paling bahagia adalah, total makan bertiga di sana cuma Rp 190.000! GILS, GILS, GILS! Menurut saya dengan porsi sebesar itu dan rasa seenak itu, harganya worth it banget. :’)

Resto ini cuma punya 2 cabang di Jakarta, yaitu di Kuningan City dan Mal Taman Anggrek. Yeay, ada yang dekat rumah untungnya. Kapan-kapan mau ke sini lagi, ah. Oh ya, aslinya resto ini dari Medan. Kebayang kan selera orang Medan gimana. :))))

Eh, dan saya nggak foto-foto makanannya karena udah langsung tancap mau makan aja. I’m a terrible food blogger, ya. Hahaha! Anyway, waktu itu udah pernah sempat saya video-in di snapgram saya. Siapa tahu udah ada yang lihat. 😉

Bonus foto saya dan Kaleb lagi makan di sana aja, deh. *lalu pembaca kecewa :))))))*

 

The Noodle Jet Cafe, Green Lake City
Hari Minggu, habis pulang gereja biasanya kami makan di luar. Lagi-lagi Kaleb request makan bakmi. Jadi emang kebiasaan kalau weekend kami suka makan bakmi. Kaleb jadi tergila-gila bakmi dan selalu request makan bakmi kalau weekend.

Karena mau cari suasana baru, kami ke Green Lake. Di sana buanyaaaak banget tempat makan yang enak-enak. Karena saking banyaknya tempat makan enak, jadi kami pilih yang catchy aja tempatnya, yaitu The Noodle Jet Cafe yang di depannya ada gambar pesawat. Kalau di Zomato sih ratingnya 2,8 jadi so-so aja. Tapi kami tetap masuk karena bakmi adalah segalanya. Hahaha.

Interiornya keren sekali seperti masuk ke dalam pesawat. Ada jendela-jendela pesawat, kursi yang kayak di pesawat, dan waitress dan waiternya pake baju pramugari dan pramugara. Kece!

Menu makanannya nggak terlalu banyak dan fotonya juga biasa aja, bukan yang bakal menggiurkan gitu. Suami pesan jet noodle special yang isinya ada bakso, tahu, minced beef, sama apa lagi ya lupa. Hehehe. Saya pesan kwetiaw rebus, Kaleb pesan bakmi ayam. Ekspektasi kami sih nggak tinggi, ya. Selain karena rating di Zomato yang nggak tinggi-tinggi amat dan gambar di menu yang kayaknya biasa aja, buka tipe bakmi favorit saya.

Pas datang, uwoooow kami semua puas sama pesanan kami. Kaleb bahkan habis 3/4 dengan porsi dewasa yang cukup banyak. Suami pun bilang enak. Bukan seenak dan sebahagia kemarin di Jala-Jala, sih. Tapi dengan harga yang sangat affrodable kayak gitu dan tempat yang instagramable, mie-nya bisa dibilang enak.

Total biaya yang harus kami bayar adalah Rp 113.000 sajah! Ya gimana kami nggak bahagia banget kan, ya. Perut senang, hati gembira, dompet riang! Hahaha.

IMG_20180429_114001.jpgIMG_20180429_114012.jpgIMG_20180429_114019.jpg

Tentu saja bonus foto narsis kami lah:

IMG_20180429_113132.jpgIMG_20180429_113212.jpgIMG_20180429_113754.jpg

Dan yang tanya mana sih suaminya? Ini loh, suaminya yang suka fotoin makanya nggak sering difoto. Wakakak.

IMG-20180430-WA0011.jpg

 

Review: Film Terbang Menembus Langit

Terbang-Menembus-Langit

Saya udah nunggu film Terbang ini dari mereka syuting dan suka posting foto-foto syutingnya, yang mana kece banget! Kerasa banget jadulnya. Ditambah lagi pemainnya adalah Dion Wiyoko, yang saya udah ngefans banget dari dia main di Cek Toko Sebelah. Berharap banget dia dapat peran yang menantang kemampuan aktingnya. Dan senang banget di film Terbang ini kemampuan aktingnya dikeluarkan semua.

Sinopsis: kisah perjuangan Onggy yang berasal dari keluarga miskin di Tarakan berjuang untuk meraih kesuksesan.

Onggy berasal dari keluarga Cina di Tarakan yang miskin. Ayahnya cuma pegawai di toko kelontong. Anak-anaknya nggak semua bisa sekolah. Sampai suatu hari Onggy pengen sekolah, namun biayanya nggak ada. Kakak Onggy harus membujuk kepala sekolah bahwa adiknya ini akan sepintar dirinya kalau diijinkan untuk sekolah.

Satu hal yang menyentuh banget di film ini adalah bagaimana ayahnya yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk kumpul bersama makan. Kalau ada yang belum kumpul, maka akan ditunggu sampai datang. Harus makan bersama. Stay together when it’s ups or downs. :’)

Makanya pas Onggy mau melanjutkan kuliah di Surabaya, walau kakak-kakaknya pun miskin, mereka bekerja sama untuk membiayai Onggy sekolah di Surabaya. Di Surabaya hidupnya nggak lebih baik juga. Harus hidup di kos-kosan 3x3m yang diisi oleh 4 orang. Tapi justru di kamar kos kecil itu, Onggy menemukan sahabat-sahabat baiknya. Ada kalanya kakak-kakaknya nggak mampu mengirim uang ke Onggy sehingga Onggy harus putar otak untuk cari uang. Dari usaha jual apel, jagung bakar, dll. Sedihnya lagi usahanya nggak selalu berjalan mulus, sering banget ditipu dan dia harus mulai dari nol lagi.

Selesai kuliah, Onggy sewa rumah dan jualan kerupuk. Awalnya usahanya bagus, tapi kemudian lagi-lagi dia ditipu. Adegan Onggy makan kerupuk sambil nangis itu JUARA banget nyeseknya. Ya ampun, rasanya pengen peluk si Onggy yang kayaknya hidupnya kok susah mulu. Sedih.

Yang mengharukan lagi walau Onggy terpuruk, waktu keluarga kakaknya mau numpang di rumahnya karena mereka mau cari kerja di Surabaya, dia tetap menerima dengan tangan terbuka.

Salah satu adegan paling menyenangkan untuk ditonton adalah adegan Onggy jatuh cinta pada Candra, capster di salon kecil yang cantik banget. Laura Basuki, kamu makan apa, sih? Dion Wiyoko bisa menggambarkan perasaan jatuh cinta, grogi, awkard dengan baik. Dan Laura Basuki tuh emang auranya menyenangkan banget ya jadi kita mudah jatuh cinta juga dengan dia.

Saat itu, Onggy udah kerja jadi pegawai. Hidupnya mulai membaik, pekerjaannya juga baik. Tapi ketika ada seorang pegawai yang curhat bagaimana hidupnya berlalu dengan cepat dengan menjadi pegawai doang, Onggy jadi terbakar lagi dengan mimpinya untuk punya bisnis sendiri. Dia pun meninggalkan pekerjaanya untuk mulai usaha sebagai motivator. Salah satu keputusan yang bikin miris sih sebenernya karena kehidupan Onggy dan Candra jadi terpuruk. Ditambah saati itu Candra sedang hamil.

Ada saatnya mereka diusir dari kontrakan karena nggak bisa bayar sewa lagi, tinggal di kamar super sempit, nggak bisa bayar uang lahiran anaknya sampe ngutang. Ada adegan di mana Onggy udah terpuruk banget, dia cuma bisa terduduk berserah sama Tuhan sambil nangis. Ambyaaar, dada saya ikut sesak kayak teriris-iris. Duh, hidup kok bisa seberat ini, ya?

Candra sebagai istri tuh suportif banget. Ngikutin ke mana kemauan suaminya dan percaya suaminya akan sukses. Ada kalanya Candra juga marah, tapi dia akan kembali dukung suaminya lagi. Istri hebat banget lah.

Buat saya adegan paling bikin hati perih adalah di saat Onggy dan Candra baru beli AC, tapi kemudian terjadilah kerusuhan Mei 1998. Gimana mereka hampir aja dibunuh karena mereka Chinese. Pahit banget rasanya.

Sinematografi di film ini bagus banget. Tone colornya bikin kita merasa film ini jadul. Untuk kostum dan setting 90annya mah juara banget. Aslik, itu Dion Wiyoko sampe dibikin belah tengah kayak jaman dulu banget. Inget kan ya, model rambut hits belah tengah ala Andy Lau dan Jimmy Lin. Kostumnya pun pas banget, kelihatan kedodoran, celana gombrong, sepatu jadul. Dan itu konsisten di semua pemain. Nggak ada yang rambutnya kayak terlalu diblow atau terlalu kekinian. Detilnya bagus. Bahkan jalanan, mobil, toko, dan yang lain-lainnya pas. Nostalgia ke jaman dulu banget. Keren!

Selanjutnya silahkan ditonton sendiri, ya. Film yang bagus harus ditonton orang banyak, dong. Dan Dion Wiyoko, aku padamu banget!