Kulit Mulus ala Korea

Suatu hari saya baca sebuah blog yang bahas tentang 10 langkah perawatan ala Korea. Pas baca, saya nggak paham yang dia omongin apa. Puyeng duluan! Akhirnya saya tutup lagi post itu.

Waktu itu saya mah awam banget soal skin care. Alasannya karena: 1) Saya pemalas (HAHAHAHA, duh, harus ya mukanya dibersihin habis pulang kantor?); 2) Untungnya muka saya nggak bandel, jarang banget jerawatan.

Walau begitu, karena nggak perawatan sama sekali, ya muka saya nggak bagus-bagus amatlah. Kusam, pori-porinya besar, dan kejadian terakhir kulit kering banget sampe mengelupas. Waktu itu pernah di-make up-in orang dan dia ngira saya lagi perawatan karena kulit wajah saya lagi mengelupas. Hiks.

Sampai suatu hari, saya lihat teman saya mukanya mulus banget. Eh, tapi dia emang rajin banget perawatan wajah karena mukanya sensitif sekali. Saya pikir, dia ke dokter mana lagi nih. Ternyata dia bilang sedang melakukan perawatan 10 langkah ala Korea. Wuidih, rajin bener! Tapi hasilnya emang langsung kelihatan. Karena kepo, akhirnya saya tanya, langkahnya apa aja, merk skin care-nya apa? Ternyata nggak penting merk skin care-nya yang penting konsisten melakukan 10 langkah itu.

Karena penasaran, akhirnya saya pun mau ikut coba. Di rumah sih saya nggak punya 10 macam skin care kayak yang disebutkan. Saya cuma punya cleansing milk, make up remover, toner, facial wash, sama sleeping pack. Semuanya, kecuali facial wash, jarang dipake. Jadi ya udah deh, saya coba pake itu. Berarti cuma 5 langkah aja, ya.Toh, ternyata setelah dicoba nggak ribet dan nggak butuh waktu lama. Paling cuma 5 menit aja.

Nggak ada ekspektasi apapun karena sebelumnya sering beli skin care tapi nggak ada efeknya. Jadi ya biasa aja. Eh ternyata seminggu kemudian, kok muka ijk lebih halus, ya? Dua minggu kemudian, kulit udah nggak mengelupas dan bersiiiih banget. Saking kagetnya sampai suruh suami megang pipi saya apakah benar sehalus itu. Dia pun bilang hal yang sama. Ulalala, senang banget!

Karena senangnya, saya akhirnya baca lagi langkah-langkah lainnya. Sampai saat ini saya melakukan baru 8 langkah, karena belum ketemu eye cream dan moizturiser yang mau saya pakai. Tapiii 8 aja udah bikin komedo saya hilang.

Terpujilah kau orang-orang Korea! Pantesan aja kulitnya mulus-mulus amat! Ternyata nggak bohong, ya.

Kalau ditanya skin care apa yang saya pake, saya cuma pake skin care yang ada di supermarket, seperti Ponds, Garnier, Viva, dsb. Nggak pake mahal sama sekali. Oh ya, nggak perlu 10 merk yang sama, ya. Tergantung kulit kita aja cocoknya yang mana. Sekali lagi, karena kulit saya nggak susah, jadi saya cap cip cup aja beli skin care-nya.

Intinya cuma rajin dan konsisten aja. Sebelumnya saya bayangin bakal ribet dan memakan waktu lama, tapi nggak, kok. Maksimal 10 menit lah. Seringnya kurang dari itu, kok. Jadi buat ibu-ibu kayak saya yang anak non-stop manggil mulu, tetap bisa dilakukan.

Selamat menikmati kulit mulus ala Song Hye Kyo!

Parents Questions

Nemu daftar pertanyaan ini jadi ingat dulu jaman Friendster (ya ya ya, saya tua) pas suka ngisi Bulletin Board. Yuk cus:

1. How many children do you have?
And how old are they?

A 1,5 year boy.

2. What are your proudest and most frustrating moments as a parent?
He loves animals so much. Saking sukanya sama hewan, mau hewan segede apa pun, contoh: Alaskan Malamute yang jauh lebih gede pun, dia datangi dan peluk (more of this on my other post). Karena hobinya pegang dan peluk semua hewan, akhirnya saya suka ketar-ketir sendiri kalau dia angkat hewan dan hewannya kaget lalu cakar atau gigit dia. Tapi ya, sejauh ini paling cuma kedorong aja, sih. Good job, baby!

14c107c3b28f8e05c122d5a788f1bcfa

Alaskan Malamute dibandingkan orang dewasa aja gede banget, apalagi seukuran Kaleb.


3. How do you discipline your child/children?

Nggak kalah sama tangisan dan rujukan.

4. Do you co-sleep?
IYES. Anaknya masih nenen kalau tidur dan masih kebangun buat nenen juga kalau malam.

5. What is your one MUST HAVE piece of baby equipment?

Stroller. Sungguh aku encok kalau nggak ada stroller. Pake gendongan pun tetap encok. Lagipula kalau anaknya minta digendong, stroller bisa buat naro barang belanjaan. Hihihi.
6. Name one thing you bought before you had your baby and you never ended up using?
Gurita bayi. Dibeli atas dasar desakan emak, dan berakhir nggak perlu lah dipake, wong dokternya udah melarang pemakaian gurita buat bayi.
7. Have you always wanted kids? How many more do you plan on having?
Yes. Maksimal satu lagi. Belum dalam waktu dekat pastinya.

8. Do you think your relationship with your spouse has changed since you had children? Better or worse?

Yes. Better. Dia bantu banget dalam segala urusan anak, termasuk mandiin, gantiin diaper, ajak main, dsb.
9. Date night? How many nights (or days) per month?
Ummm, never.
10. How is your relationship with friends since having a child?
Nggak nongkrong sepulang kerja lagi karena Kaleb paham jam pulang orang tuanya dan gelisah kalau orang tuanya sampai malam belum pulang. Ke mana pun pergi dengan teman, Kaleb harus ikut.
11. How many cars does your family have?
Satu. Yang bisa nyetir juga cuma satu soalnya. Hehehehehe *bukan saya pastinya*
12. Dream vacation with your kiddos AND one without the kiddos?
Semua Disneyland sama Kaleb. Kalau sama suami mau island hopping. Saat ini belum kebayang island hopping sama Kaleb karena kasian anaknya. Tapi kalau udah besaran, yuk deh.

13. Where do you shop for your kids?

Online shop, diskon di mall, dan distro anak di Bandung.

14. Favourite mommy makeup and skin care products?
Nggak ada mommy make up. Tapi sekarang lagi coba 10 langkah perawatan muka ala orang Korea. Nanti bakal diceritain di post sendiri.

15. Since becoming parents, do you notice you act more like your own mother (for mom) / father (for dad)?
Hahahahaha IYA. Saya gampang cemas sama kayak nyokap!

16. Piercing a baby’s ear: do or don’t?

Yes. Kalau punya anak perempuan, mungkin ini tindakan pemaksaan pertama sebagai orang tua: menindik kuping anaknya. Tapi, hey, kalau udah besar dia males pake anting atau malah mau nambah nindik ya boleh-boleh aja.
17. Bath or shower? (for you and child/children)
Boleh dua-duanya.
18. Is mom back to her pre baby weight?
Butuh sekitar 4 bulan untuk balik ke berat semula. Saya bukan yang tipe cepat banget balik ke berat semula, sih. Dan sekarang bahkan lebih ringan 4 kg dari berat awal hamil. Ngurus anak capek gila! Hahaha.
19. College dreams: Do you expect your kids to go to college? Or would you let them decide for themselves?
Kuliah. Wajib! Kuliah itu membuat pola pikir berubah. Kuliahnya jurusan apa ya terserah anaknya aja, deh.
20. Finish these sentences: “you know you’re a mom when you______?” “You know you’re a dad when______?”
Pergi ke mall, mikirin ada changing room buat bayi nggak, nggak bakal masuk ke restoran yang nggak ada baby chair-nya.

Konseling Pra-Nikah?

Alkisah pada masanya, saya dan calon suami (waktu itu) mau menikah. Udah daftar ke Gereja. Pada saat itu, Pendeta mengingatkan beberapa kali, “Jangan lupa lho, konseling pra nikah 2 kali sebelum hari H.” SIP!

Sebagai anak psikologi, tentu saja saya penasaran kayak apa, sih, konseling pra nikah yang diadakan Gereja, walau saya tahu banget tipikal Gereja saya kayaknya nggak menitikberatkan pada konseling ini. Dalam hati kecil terdalam, saya berharap konselingnya agak mirip konseling psikologi yang terstruktur, mendalam, dan diharapkan mempersiapkan calon pengantin mengahadapi riak-riak pernikahan. #tsaaah

Hari itu saya dan calon suami janjian sama Pak Pendeta, selepas pulang kantor. Udah siap nih, nanti bakal diapain, ya. Bakal ditanyain masing-masing trus dicocokin jawabannya nggak, ya?

Kenyataannya begitu kami duduk di hadapan Pak Pendeta, beliau bilang, “Oke, kalian berdua udah cukup berpendidikan, ya. Lulusan S2 semua. Pasti ngertilah pernikahan bakal kayak gimana. Jadi saya nggak perlu banyak kasih tahu lagi. Nah, kalian baca 10 aturan pernikahan ini dengan bersuara, ya.”

Disodorkanlah 10 aturan pernikahan yang harus kami baca sama-sama dengan bersuara, macam anak SD belajar membaca.

“Oke. Diingat baik-baik, ya. Sekarang kita berdoa bareng.”

Berdoalah kami dipimpin Pak Pendeta.

“Kita sudah selesai. Nggak perlu ada pertemuan kedua. Semoga lancar pernikahannya.” Beliau menyalami kami berdua yang nggak tahu harus bereaksi apa.

LAH? Udah? Kelar, nih? Nggak ditanya apapun?

*bengong*

Dan itu adalah satu di antara banyak kekecewaan yang membuat saya jarang gereja di sana lagi. THAT WAS TOO ABSURD, MAN! X))))

Semoga Pendeta kalian nggak begini-begini amat lah, ya. :))

 

Syuting Bareng Kaleb

Sekitar 2 minggu lalu, saya ditawari untuk tampil di sebuah acara TV jadi narasumber. Acaranya tentang ibu dan anak, santai, dan yang paling penting Kaleb bisa diajak karena dia akan ikutan syuting tapi “tugasnya” cuma main-main di playground. Karena bisa ajak Kaleb jadi saya mau.

Waktu itu syutingnya di Mall Pluit Village yang mana seumur hidup, saya baru satu kali ke sana. Mall-nya sepi bener, padahal menurut saya sih lumayan. Syutingnya di Kidzoona. Ah, senangnya. Terakhir kali Kaleb ke Kidzoona Lippo Mall Puri sebelum usia setahun, yang mana dia cuma bisa main di kolam bola. Padahal di Kidzoona ada banyak mainan lainnya, dan yang paling seru adalah main play pretend jadi Pak Pos, Dokter, Pemadam Kebakaran, dll, lengkap dengan kostumnya. Lucu banget, kan! Masalahnya, di Lippo Mall Puri kalau weekend, Kidzoona ini selalu penuh sehingga kalau main kurang nyaman. Makanya Kaleb belum main lagi di Kidzoona.

Nah, hari itu begitu sampai di Kidzoona, Kaleb langsung heboh lari sana-sini, masuk kolam bola, pindah ke perosotan, acak-acak play pretend. Pokoknya dia happy banget. Sementara saya di-make up dan briefing.

Syutingnya sendiri nggak lama, cuma 30 menit. Lebih lama nunggu kru setting tempat, antri di-make up, dan printilan lain-lainnya. Tugas saya cuma ngobrol sama host-nya tentang suatu tema, beneran ngobrol, tanpa ada proses cut sama sekali. Makanya hasilnya cepat sekali. Sementara Kaleb tugasnya ya main-main heboh aja.

Ada satu kejadian lucu. Saya dan host sedang ngobrol seru, eh tiba-tiba kok di-cut. Ternyata Kaleb dan temannya, anak si host, saking hebohnya jadi rebutan menunggangi traktor mainan. Kru panik karena takut mereka jatuh. Hahaha!

But it was fun. Nggak ribet, nggak repot, Kaleb senang sampai kecapekan, dan dia dapat teman baru. Saking senangnya ketemu teman baru, sekitar 2 hari ke depan dia masih sering nanya temannya itu. Dih, kangen doi! Hahaha.

Oh ya, tonton saya dan Kaleb di RTV, hari ini 14 September 2016 jam 15.00, ya.

syuting-kaleb

PS: Saya sendiri nggak bisa nonton karena lagi di kantor. Huhuhu.

Bahasa Ibu

Waktu Kaleb belum lahir, Opungnya bercita-cita Kaleb bisa langsung cas-cis-cus berbahasa Inggris. Makanya Opung minta Mami dan Papanya ajak Kaleb ngomong bahasa Inggris. Sebenarnya lucu juga kalau anak kecil ngomong bahasa Inggris, ya. Kayak keponakan saya, dia bisa lancar berbahasa Inggris dari kecil karena orang tuanya tinggal di Singapore *yaeyalah*. Jadi walau dia udah tinggal di Indonesia, tetap aja ngomongnya bahasa Inggris. Kece berat gitu kalau di mall ngomongnya pake bahasa Inggris. Okeh, abaikan!😄

Seiring dengan Kaleb lahir, rempong ya bok kalau ngomong pake bahasa Inggris. Selain rempong, ada alasan kenapa akhirnya saya milih Kaleb untuk mengenal bahasa ibunya dulu.

  1. Walaupun saya kagum banget sama anak-anak yang bisa ngomong bahasa Inggris sedini mungkin, sesungguhnya dalam hati kecil, saya kok agak miris anak-anak sekarang kurang bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik lisan dan tulisan. Dulu salah satu pelajaran favorit saya adalah bahasa Indonesia, dan saya sempat kerja di sebuah majalah yang menekankan pada grammar bahasa Indonesia yang benar. Saya suka gatel dan gemes, pengen benerin orang-orang yang kurang mampu menempatkan imbuhan dengan benar, atau penulisan yang baik. Duh! Makanya saya berharap Kaleb mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Mengajari bayi untuk berbicara bi-language memperbesar kemungkinan anak mengalami speech delay. Walaupun pada akhirnya, nanti dia akan keren banget bisa ngerti 2 bahasa sekaligus. Karena tidak ada urgensi Kaleb bisa 2 bahasa sejak kecil, dan lingkungan tempat tinggalnya semua berbahasa Indonesia, jadi lebih baik Kaleb menguasai satu bahasa lokal terlebih dahulu supaya dia bisa berkomunikasi dengan lancar dengan orang-orang sekitarnya.
  3. Saya pengen Kaleb bisa nyanyi lagu-lagu anak Indonesia, seperti lagu ciptaan Pak Kasur, lagu-lagu yang Mami dan Papanya dengar dulu. Bukan apa-apa, kalau lagu bahasa Inggris, Mami dan Papa harus ngapalin dulu nih buat bisa ikutan nyanyi. Hahaha. Tapi bukan berarti Kaleb nggak diperdengarkan lagu bahasa Inggris, kok. Justru pada awalnya Kaleb lebih suka lagu bahasa Inggris, seperti nursery songs-nya Super Simple Songs yang jadi favoritnya sebelum usia 1 tahun. Kemudian lagu-lagu anak modern Bandanamu yang jadi favoritnya sejak umur 13-14 bulan. Nah, entah kenapa waktu itu Kaleb dengar lagu-lagu anak Indonesia, Mami dan Papa heboh ikutan nyanyi. Ealah, sekarang dia malah sukanya lagu Indonesia. Lagu favoritnya adalah Cicak-Cicak di Dinding. Tiap hari selalu minta dipasang lagu itu. Sekarang giliran Mami bosen dengerinnya. Mbok ya move on gitu ke lagu Potong Bebek Angsa, Balonku, Pelangi-Pelangi, atau apa gitu, Nak.
  4. Saya baru belajar bahasa Inggris kelas 4 SD. Itupun selama SD nilai saya buruk banget. Duh, benci bener deh sama bahasa Inggris. Pernah sekali waktu ulangan saya dapat 2. Glek! Sampai akhirnya Mama memanggil guru les privat ke rumah dan taraaaaaa… bahasa Inggris jadi favorit saya dan saya malah sering dapat nilai tertinggi di kelas pas SMP. Jadi intinya, santai aja nanti Kaleb juga bisa bahasa Inggris, kok. Apalagi dengan eksposure bahasa Inggris dari mana-mana, mungkin tanpa diajari dia juga pasti bisa.
  5. Sampai saat ini saya belum berencana memasukkan Kaleb ke sekolah yang bahasa utamanya bahasa Inggris. Ya alasannya mengacu ke nomor pertama tadi, saya mau Kaleb khatam bahasa ibunya dulu. Bahasa Indonesia lancar, Kaleb bisa belajar bahasa apapun, termasuk bahasa Batak. Hihihi.

Begitulah ceritanya kenapa sampai sekarang Kaleb cuma paham ‘fish’ sebagai bahasa Inggris. Ya karena nama hewan pun, saya memperkenalkan bahasa Indonesia. Biar nggak kayak Cincha Lawra yang ngomongnya campur aduk gitu, loh. Hahaha!

 

Si Anak Perasa

Kemarin sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah, maag saya tiba-tiba kambuh setelah sekian lama nggak pernah kambuh. Kambuhnya sampai bikin susah berdiri. Sakiiit banget. Jadi pas sampai rumah, setelah minum obat, saya langsung nungging di tempat tidur nahan sakit.

Dari luar kamar, dengar suara Kaleb manggil, “Mami mami!”. Padahal dia lagi main sama Opungnya. Kangen kayaknya mana nih mamaknya kok nggak kelihatan. Akhirnya dibawa sama Papanya ke kamar.

Begitu Kaleb masuk kamar dan lihat saya nungging di tempat tidur, padahal saya nggak ngomong apa-apa, tiba-tiba dia nangis sedih. Dia langsung jalan ke arah saya, naik ke tempat tidur sendiri, masih sambil nangis, dia peluk dan cium saya. SO SWEET BANGET ANAKNYA! *lope lope bertebaran di udara*. Jadi Kaleb ini emang paling nggak bisa lihat saya sakit atau sedih. Kalau dia lihat saya sedih, dia langsung ikutan nangis. Perasa banget, ya.

Habis itu Papanya peluk saya sambil cium-cium karena saya sakit, kan. Lah, Kaleb malah nangis. Dia nggak suka kalau saya dipeluk orang lain. Posesif abis. Cuma boleh peluk dan dipeluk Kaleb. Hahaha!

Jadilah pas sakit kemarin, saya harus pura-pura nggak kelihatan sakit supaya Kaleb nggak sedih. Plus, masih tetap harus nenenin supaya dia cepat tidur dan saya bisa istirahat juga.

I am blessed to have such a sweet boy. Hopefully you grow well and your heart grow bigger. :*

Dan paling penting adalah: Mamak dilarang sakit, ya! :))

Anak Gaul Komplek

Hidup di jaman kekinian *tsaelah* bikin saya punya kekhawatiran sendiri kalau Kaleb akan tumbuh jadi generasi TV dan gadget. Saya realistis aja sih kalau pada masanya mereka pasti akan mengenal gadget, video game, dan lain-lain, tapi nggak pengen Kaleb jadi susah bersosialisasi karena fokus sama gadgetnya. Ini kejadian di sepupu saya yang kalau kumpul keluarga, sibuk banget sama gadgetnya sampai kalau ditanya dia nggak bisa fokus jawab dan sibuk liat layar gadget, atau kalaupun jawab tapi sambil liat layar. Itu dari pagi sampai malam. Nggak pusing itu mata? DOH!

Saya masih ingat masa kecil saya dihabiskan dengan main dengan teman sekomplek, ke lapangan dekat rumah, lari-lari dan main sepeda bareng, memberdayagunakan bahan dan alat yang ada di sekitar kita untuk main. Senang banget rasanya. Bisa nggak ya Kaleb seperti itu? Masalahnya masyarakat sekarang lebih individualis, jarang hang out sama tetangga, dan anak-anak dikekep di rumah.

Tapi ternyata kekhawatiran saya untungnya nggak terbukti. Kaleb adalah anak yang paling nggak betah diam. Nonton TV atau lihat ipad pastinya harus duduk tenang diam. Beuh, mana tahan dia. Dulu waktu lebih kecil dia masih bisa terpana sama lagu anak-anak di ipad, tapi sekarang nggak terlalu lagi. Palingan satu lagi dia dengar, kemudian nggak bisa diam lagi. Dia pun belum menunjukkan kesukaan pada suatu acara tv atau kartun tertentu. Nonton TV nggak betah banget bro! Paling lama 5 menit lah dia liat tv, kemudian bosan karena harus diam.

Kaleb lebih suka explore apapun yang ada di sekitarnya. Apapun. Dia suka sekali jalan-jalan ke luar rumah. Wajib 2 kali sehari, pagi dan sore. Jadi ya walau lebih capek ngikutin kesukaannya bermain di luar dan explore semuanya, kami sebagai orang tua ya senang juga.

Untungnya taman dekat rumah dipercantik dan dibuat playground untuk anak-anak dan ada perpustakaan kecil untuk anak-anak baca buku. Selain itu ada lapangan basket dan lapangan bola juga, serta area bermain pasir. Gimana nggak makin cinta Pak Ahok! Taman ini jadi taman yang wajib didatangi Kaleb karena tiap pagi dan sore banyak anak-anak kecil main, Kaleb jadi bersosialisasi dengan anak-anak kecil seusianya, maupun yang lebih besar. Kemudian dia belajar untuk gantian pakai mainan ataupun share dan pinjam mainannya atau teman-temannya.

IMG_20160822_164423

Di taman, kenalan dengan teman baru dan langsung main bersama

IMG_20160822_163735

Taman kesayangan dekat rumah yang setelah direnovasi jadi jauh lebih bagus dan bersih. Kami senang!

Baru sadar juga karena di dekat rumah saya, banyak banget anak-anak yang kalau sore suka main di sepanjang gang sehingga jalanan harus diportal supaya mobil nggak bisa lewat. Ini saya taunya karena Kaleb juga. Kaleb pun sering main sepeda bareng, main lari-larian, dan bahkan Kaleb ajak temannya main ke rumah. Iyes, anak saya belum 1,5 tahun aja udah ngajak anak tetangga main ke rumah. Haha!

IMG_20160828_125513

IMG_20160822_171729

Ajak teman main ke rumah. Temannya orang bule, nggak bisa bahasa Indonesia. Ya sudah, beda bahasa tapi saling paham kan.

Waktu 17 Agustus kemarin, RT kami mengadakan lomba untuk anak-anak. Kaleb bahkan ikut lomba, walaupun dia pastinya nggak tau itu lomba, tapi dia paham instruksinya dan mengikuti instruksinya. Di lomba itu Kaleb jadi makin kenal teman-teman sebayanya dan saya pun yang terkenal nggak gaul di komplek *anak gue lebih gaul dong* akhirnya kenal para tetangga.

IMG_20160821_170700

Perdana ikut lomba 17 Agustusan di komplek

Selain main dengan anak-anak seusianya, saya juga mengajarkan Kaleb untuk sayang hewan. Dimulai dari Mika, si Golden Retriever kesayangan kami. Dari bayi Kaleb diperkenalkan dengan Mika. Nggak masalah kalau Mike menjilat-jilat Kaleb karena kami sudah memastikan Mika bersih dan Kaleb setelah itu pasti cuci tangan. Selain itu Kaleb diajak bertanggung jawab memelihara Mika dengan mengajak Kaleb memandikan Mika atau memberi makan Mika. Sampai sekarang Kaleb nggak pernah takut dengan hewan apapun dan menunjukkan rasa sayang dengan hewan. Good job, baby!

IMG_20160827_170932

Kaleb sayang Mika

Saya bahagia karena hal-hal yang saya alami waktu kecil, seperti main dengan tetangga, bisa dirasakan Kaleb juga. Mungkin Kaleb lebih mampu bersosialisasi dengan baik dibandingkan saya. I am truly happy for that. Semoga Kaleb menjadi anak yang mudah bersosialisasi, dekat dengan alam, dan sayang hewan. Amin!

*Mami rela nggak jadi anak mall, deh! XD*

 

 

Salam Olahraga

Waktu saya kecil, orang tua saya suka sekali membawa saya nonton pertandingan olah raga. Entah itu tenis, sepak bola, tenis, bulu tangkis, dsb. Mereka berdua suka banget olahraga dan rutin berolahraga. Mama dua kali seminggu main tenis dan kalau tidak main tenis senam di gym. Bapa juga main tenis dan golf.

Mereka berharapnya anak-anaknya juga suka olahraga. Makanya waktu saya TK, saya sudah les renang 3 kali seminggu. Kemudian besaran dikit tenis tapi tidak bertahan lama karena saya nggak suka. Saya melenceng malah suka bulu tangkis dan didukung dengan dibelikan raket dan kok, serta ditemani main tiap hari. Yes, tiap hari.

Selain itu, di halaman rumah ada ring basket. Bukan cuma jadi hiasan aja, tapi kami rutin main basket. Kalau kami bisa memasukkan bola basket ke ring sampai 5 kali berturut-turut, kami dapat hadiah uang. Nggak seberapa sih uangnya. Tapi kan anak kecil suka banget dapat tambahan uang jajan. Hehe.

Saya masih ingat kalau weekend diajak jalan-jalan senang banget. Ealah, ternyata berakhir di lapangan tenis nonton tenis. Buat anak kecil rasanya… wakwaaaaw! Pertandingan tenis itu adalah salah satu yang membosankan buat saya karena penontonnya harus tenang, nggak boleh berisik, kalau nggak nanti ditegur wasit. Bosan sekali. Tapi karena mau nggak mau harus menonton, jadi ya akhirnya saya menonton, bertanya bagaimana sistem penilaiannya, siapa pemainnya, dan berakhir dengan…. wow, ini seru banget, ya!

Kalau ada pertandingan besar, seperti Sea Games di Jakarta, sudah pasti kami menonton. Waktu itu saya ingat sekali lagi tergila-gila dengan bulu tangkis jadi Bapa saya mengajak nonton bulu tangkis. Senangnya minta ampun! Sebelum masuk ke ruang pertandingan, saya dibelikan kaos berlogo Sea Games dan spidol supaya nanti bisa minta tanda tangan atletnya.

Saya masih ingat dengan jelas bagaimana mata saya berbinar-binar waktu lihat Mia Audina, Joko Suprianto, Ricky Subagdja, dan pemain-pemain favorit lainnya di depan mata. Sambil nonton mereka main, tiap ada atlit favorit yang sekiranya lagi ikutan nonton atau lewat, saya langsung sigap meminta tanda tangan. Saya ingat banget kaos saya penuh dengan tanda tangan atlit, tidak pernah dicuci, dan cuma jadi hiasan saja. Bangga!

Kalau ada Piala Dunia, Bapa yang tergila-gila dengan sepak bola mengajak kami ikut keseruannya. Misalnya menebak angka gol dari suatu pertandingan, nonton bareng sambil makan mie instan tengah malam. Akhirnya saya yang nggak suka bola pun mulai paham dengan sepak bola. Sampai akhirnya saya punya klub bola kesukaan, atlit bola favorit, dan rela bangun tengah malam kalau ada pertandingan besar kayak World Cup atau Euro Cup.

Jadi sampai sekarang kalau ada pertandingan yang seru, Bapa pasti ngingetin. Kayak kemarin pertandingan final bulutangkis ganda campuran Indonesia di Olimpiade #Rio2016. Duh bahagianya waktu mereka menang itu sama kayak bahagia pas Ricky-Rexy menang Olimpiade Atlanta dulu. Merinding, terharu, senang, lega, bangga! Semua perasaan positif jadi satu.

Saya berharap banget suatu hari nanti Kaleb suka olahraga, nonton olahraga, dan akan sangat menyenangkan kalau bisa ajak dia nonton olahraga langsung seperti saya dulu.

Salam olahraga!

Diromantisin Jong Suk

Hellooo, kembali bahas drama Korea, yuk. Sebagai orang yang biasa aja, nggak pernah hapal muka pemainnya, apalagi nama-namanya yang njelimet, maka saya jadi penikmat yang angot-angotan. Kadang berusaha ngikutin serial Korea yang lagi heitz tapi suka stop di tengah jalan karena jalan ceritanya terlalu lambat dan membosankan.

Waktu lagi hangat-hangatnya drama Descendant of the Sun (DOTS), saya berusaha ngikutin banget karena… (1) Song Hye Kyo main di drama ini. (2) pemain cowoknya, yang belakangan diketahui bernama Jong Ki *iyees sekarang mah hapal* ganteng juga. Awal-awal nonton masih terasa membosankan, tapi tetap ditonton karena euforia orang-orang heboh banget sama serial ini. Saya beneran berusaha mendalami sampai episode 7, kemudian menyerah. Stop. Udah lah, saya nggak terlalu suka sama serial ini karena buat saya membosankan. Saya nggak suka serial perang walau dibumbui cinta-cintaan sekalipun. BHAY!

Malahan saya nonton drakor berjudul Madam Antoine yang kurang populer dan kurang ngetop di sana cuma karena tokoh utama cowoknya (yang entah namanya siapa) adalah seorang psikolog jadi banyak kisah unik berbau psikologis yang diceritain juga. Tapi ya secara drama cinta-cintaan ya biasa aja, plus tokoh utama perempuannya juga umurnya jauh lebih tua dan dikisahkan udah punya anak remaja. Jadi ceritanya naksir brondong gitu lah. Wakakak!

Kemudian teman-teman saya heboh nonton Doctors yang mana kabarnya udah ditunggu-tunggu dan bakal sukses karena yang main Park Shin Ye dan Kim Rae Won.

bd520dc0c25c7d122f23fd240ae614ed

Doctors

Ini ceritanya cowoknya jauh lebih tua juga. Jadi dipilih Kim Rae Won yang udah matang. Awalnya kisahnya menarik karena Park Shin Ye badass banget, bisa bela diri tendang sana tendang sini tapi pinter banget. Seru. Tapi lama-lama mulai membosankan dan datar-datar aja. Nggak ada konflik yang mencekam atau dramatis. Kisahnya berputar pada bagaimana dunia kedokteran dan bagaimana mereka menolong pasien dan banyak adegan operasi yang memperlihatkan otak dibuka, darah bermuncratan. Hahaha, kalau takut mending diskip aja. Tapi kisah percintaan mereka ya cukup mulus, tokoh lainnya secara garis besar nggak ada yang gangguin percintaan mereka. Saya sering ketiduran di tengah-tengah nonton, tapi ya tetap masih dilanjutkan karena pada dasarnya saya suka kisah berbau medis, plus ya tanggung juga keleus udah nonton sampai 14 episode. Hahaha. Oh ya, seperti biasa Park Shin Ye kalau ciuman datar banget jadi emosinya nggak tersampaikan dengan baik.

Lalu muncullah W – Two Worlds di mana tiap orang yang nonton bilang ini bagusss banget dan unik ceritanya. Berbau fiksi. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik cerita seperti ini, terutama karena dulu saya nonton You Who Came From The Stars yang dihebohkan orang-orang tapi saya nonton biasa aja karena mikirnya: ngapain pacaran sama alien, sik?! Plus tokoh utama pria di serial ini si Lee Jong Suk, yang mana dulu dia main di drama Pinnochio sama Park Shin Ye, tapi di situ dia kurang ganteng. Cetek ya alasannya. Hahaha.

lee-jong-suk-pinocchio

dek Jong Suk kala itu

Sudah lupakan tampang kucel dan rambut aneh dek Jong Suk di Pinnochio. Seiring berjalannya waktu di drama itu dia jadi ganteng kok, tapi kurang berkarisma aja. Hihihi.

Kemudian saya mulai menonton serial W.

w45

W – two worlds

W ini dibintangi Lee Jong Suk sebagai Kang Chul dan Han Hyo Joo sebagai Oh Yeon Joo. Saking bodohnya dalam menghapal nama Korea, ini aja saya harus googling nama mereka dulu. Hihihi.

Oh ya, ini sinopsisnya begini berdasarkan Wikipedia:

Cardiothoracic surgeon Oh Yeon-joo’s (Han Hyo-joo) father mysteriously went missing while writing the last chapter of his webtoon “W”. Yeon-joo goes to his office and is shocked to see a scene of a bloodied Kang Cheol (Lee Jong-suk), the main character of W, on her father’s monitor. While reading something left behind by her father, a hand from the monitor pulled her in. She found herself on the rooftop of a building, next to man lying down in blood. She manages to save him but is shocked to realise that the person she saved was Kang Cheol. She then found out that she can only enter and leave the webtoon based on Kang Cheol’s change in feelings.

IYA, jadi ini kisah antara dunia nyata dan dunia komik alias webtoon. Unik banget, kan! Ditambah lagi dibumbui oleh thriller di mana penjahatnya sampai sekarang belum ketahuan siapa.

Tiap episode dibikin tegang dan pasti diakhiri penasaran. Jalan ceritanya cepat, Yeon Joo sebagai tokoh utama cewek kocak dan nggak menye-menye, plus Kang Chul karismanya bertebaran ke mana-mana, lucu, dan manis banget ya ampun. Boleh nggak saya simpan di lemari rumah saya?

Yang paling menyenangkan dari serial ini adalah buanya amat skinshipnya, plus kiss hampir di tiap episode. Duh, Mamak suka lah yang beginian. Hahaha. Udah gitu intensitas kiss-nya semakin meningkat. Duh duh, begini dong kalau harus adegan romantis, nggak datar sama sekali. Chemistry mereka berdua pun klop banget.

 

maxresdefault

Ciuman pertama. Masih biasa aja yes.

13745172_952526124856920_1303035504_n

Kiss kedua, di kamar mandi sambil pegang pistol. Duh duh!

episode_5_kiss_scene

Kiss ketiga di atap rumah sakit.

hqdefault

Dan inilah kiss favorit Mamak! Kiss keempat, deep kiss. OMGGGGG!

Selain skinship dan kiss yang bertebaran di mana-mana, adegan-adegannya pun manis banget. Duh, mau dong diiketin rambutnya sama Jong Suk. Hahaha.

Tapi drama ini bukan soal romantis-romantisan aja, karena di akhir episode 7 kesukaan saya karena berisikan adegan super romantis, selanjutnya banyak adegan tegang dan bikin penasaran, plus tampaknya si tokoh jahat mulai menampakkan diri dan mengguncang dunia mereka, deh *apa deh gue*.

Jadi, kamu udah nonton W belum?😉

PS: semua foto bukan punya saya dan dicomot dari google image.

Diaper Kaleb

Waktu hamil dulu, hal yang paling nggak pernah dipikirkan adalah soal diaper, alias popok sekali pakai. Yang jelas clodi bukan pilihan saya karena saya malas sering nyuci *kurang go green amat anaknya*, apalagi baru melahirkan plus nggak ada ART. Udahlah ya, diaper to the rescue.

Baru melahirkan dapat diaper gratisan dari rumah sakit, plus masih banyak banget stok di rumah hadiah dari teman. Jadi ya mana kepikiran lah ya buat beli. Tapi kemudian segala gratisan itu habis blas, mau nggak mau harus beli.

Saya mah kurang paham ya sama diaper ini, jadi yang sekiranya dipake banyak orang aja: Mamy Poko. Mamy Poko ini enaknya ada indikator pipisnya udah penuh atau belum. Berguna banget buat saya. Waktu itu saya pakai yang model tape. Nggak ada masalah, kulit Kaleb mulus-mulus aja. Trus kalau di supermarket sering diskon kan, ya. Oyeah banget.

Setelah 3 bulan, saya ganti yang model pants. Biar lebih ringkes gitu. Plus anaknya udah lebih banyak bergerak, jadi nggak cocok pake tape lagi. Masih pake Mamy Poko, ukuran S kalau nggak salah. Eh tapi kok, Mamy Poko ini walau dipake sesuai ukurannya tapi rasanya ketat banget. Kurang lentur. Padahal saya pake Mamy Poko yang dry. Jadi tiap pagi membekas deh karetnya.

Mulai deh coba yang lain. Beralihlah ke Pampers. Lebih mahal nih dari Mamy Poko, jadi harusnya lebih baik. Eh, tapi nggak cocok di Kaleb. Kulit Kaleb merah-merah. Bukan iritasi sih, tapi perekatannya kurang pas. Cari yang lain lagi deh.

Akhirnya coba Goon karena sering diskon dan murah. Lah, ini lebih parah. Malah iritasi di selangkangannya. Ih, kasihan banget! Pilihan akhirnya jatuh ke Merries karena ada yang pernah bilang enak dan asalnya dari Jepang jadi harusnya oke nih.

Saya pake Merries yang covernya hijau. Yah, desainnya biasa aja, nggak wow, nggak jelek. Cenderung biasa. Tapi bahannya lentur, nggak keras. Pas dipake, langsung mengikuti bentuk perut Kaleb, nggak ketat. Nggak pernah bocor dan langsung kering. Duh cinta banget lah. Sejak itu saya nggak pernah pake yang lain lagi. Merries my love!

Saya biasanya beli Merries di supermarket dan merasa ya harganya wajarlah. Baru belakangan ini mata saya terbuka bahwa beli diaper itu lebih murah di ITC (sayangnya jauh) atau di toko susu. Bedanya sekitar Rp 5000 kan lumayan banget, ya! Lalu kemudian saya baru sadar kalau di portal online shop, lebih murah lagi, plus banyak yang nawarin free ongkir. Sebagai emak-emak hemat, saya senang banget nih. Pengeluaran diaper kan lumayan ya mengurangi jatah beli lipstik mamak, jadi pas dapat murah di online ya langsung borong banyak. Resmi deh saya jadi emak-emak yang suka mantengin harga diskonan diaper di supermarket atau di online shop. Hahaha.

Kalau kamu anaknya pake diaper apa?