Nongkrong Cantik di Cerita Cafe

Kalau weekend, tiap jenguk mertua di rumah sakit, biasanya kami jenguk di jam sore hari. Pulangnya sudah malam sekali, jadi kalau lapar cari makanan dekat rumah ajalah. Apalagi jarak rumah sakit dan rumah tuh dari timur ke barat. Jauh bener, kan.

Kebetulan kemarin kami jenguknya siang hari dan belum makan siang. Jadi kami kelaparan. Clueless banget lah di Cawang sekitarnya ada makanan enak apa. Sebenarnya di dekat UKI situ banyak lapo dan chinese food yang endeus banget. Tapi karena kami bawa si Mbak, jadi tentu saja kami nggak mungkin makan yang mengandung babi.

Akhirnya buka Zomato dan cek restoran di dekat rumah sakit. Cerita Cafe ini muncul pertama kali. Kalau dilihat dari interiornya sungguh cafe yang kekinian alias instagramable banget. Ada banyak spot cantik bisa buat foto-foto. Pas cek harga pun nggak semahal kafe-kafe heits di Jakarta Selatan. Yuk lah kita coba.

Waktu itu kami datang sekitar jam 15.30. Cafenya cukup penuh orang. Ada beberapa ruang terbuka dan sofa beanny warna-warni, tapi nggak pakai AC dan tentunya bisa merokok. Jadi kami nggak pilih ruangan itu.

Jadi kami masuk agak ke dalam, ke ruangan tertutup yang ber-AC. Ruangan ini juga cantik, didesain sofa warna-warni ala IKEA.

Kami pesan Fish n Chips (Rp 34.000), Nasi Goreng Kambing (Rp 33.000), Nasi Goreng Kampung (Rp 25.000), dan Meat & Lovers Pizza (Rp 45.000). Untuk minumannya kami pesan air mineral semua. Total kerusakan ditambah pajak Sekitar Rp 199.000. Lumayan banget, kan.

Oh, sebagai orang yang nggak bakat jadi food blogger, saya nggak foto semua makanannya. Hahaha. Duh, entah kenapa tiap udah disodorin makanan, saya nggak kepikiran foto. Udah gragas aja mau makan. Hihihi.

Sistem pembayarannya langsung dibayar setelah pesan, kayak Solaria, Bakmi GM gitu. Sebenarnya sistem pembayaran begini, kecuali untuk restoran fast food, saya nggak suka. Biasanya kalau mau nongkrong lama kan bakal pesan lagi, ya. Jadi bolak-balik harus bayar tuh ngeribetin banget. Mending open bill jadi begitu selesai semua baru bayar, lebih enak.

Untuk rasa makanannya sendiri kalau suami bilang nasi goreng kambingnya enak. Tapi untuk Fish n Chips saya, biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi terasa cukup hambar. Sementara untuk Pizza, nggak terlalu besar dan agak keras sehingga Kaleb agak kesusahan makannya. TAPI.. dia tetap habis sih karena suka banget sama pizza.

Kesimpulannya, makanannya bukan yang gagal banget, tapi bukan yang lezatos maknyos sampai terngiang-ngiang rasanya. Kalau saya sih bakal mau balik lagi ke sini karena cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong dan ngobrol lama di daerah Kampung Melayu. Karena sungguh ku tak paham daerah sini ada tempat nongkrong asoy lagi nggak, sih?

IMG_20180114_165015_109.jpg

Begitu masuk ada spot ini. Kece sekali kan buat foto-foto.

IMG_20180114_154235.jpg

“EH, KOK MAKANANNYA UDAH HABIS TAPI BELUM DIFOTO. Ya udah sama piring kosong aja, deh.” Me everytime.

IMG_20180114_151013.jpgIMG_20180114_151009.jpgC360_2018-01-15-07-58-30-895.jpgIMG_20180114_160248.jpg

IMG_20180114_160236.jpg

Kalau nggak hujan di sini biasanya akan ada banyak beanny warna warni kayak di La Plancha buat nongkrong-nongkrong cantik. *La Plancha ala Kampung Melayu wakakaka*

IMG_20180114_160220.jpg

WCnya bersih banget.ย 

 

Cerita Cafe
Jl. Otista Raya No.125-127,ย Kampung Melayu, Jakarta

Advertisements

Weli?

Karena saya pelanggan First Media, maka di rumah nggak ada RCTI atau apapun yang punyanya Pak Hari Tanoe. Jadi, saya nggak tahu kalau ada Indonesian Idol. Akhirnya kemarin nggak sengaja nontonin penyanyi di Indonesian Idol tahun ini di Youtube. Bagus-bagus ya pesertanya, suaranya unik-unik.

Tapi terlepas dari bagusnya peserta tahun ini, favorit saya justru bukan yang suaranya bagus. Ini favorit saya:

 

SUNGGUH KU NGAKAK DIBUATNYA!

giphy9

Tolonglah Bang Gabe alias Bang Ganteng Bener ini bikin stand up comedy aja. Lucu kali lah kau, Bang!

*ngakak sambil koprol*

 

Persoalan Pup

IMG-20180102-WA0042.jpg

Disclaimer: Tulisan ini akan membicarakan persoalan pup, jadi kalau jijikan skip aja. XD

Kaleb ini karena tiap orang tuanya kerja dititipin sama Opungnya dan Opungnya adalah orang yang sangat bersih, jadi Kaleb ini ketularan. WC harus bersih, nggak basah, dan nggak bau. Akibatnya kalau WC-nya nggak memenuhi kualifikasinya dia, dia nggak mau pipis atau pup di luar; atau muntah. Asli jijikan banget, deh.

giphy5

Permasalahannya adalah libur tahun baruan kemaren, kami harus sering berada di luar seharian; ya ke rumah sakit nengok mertua, ya ke acara keluarga (karena di Batak tahun baru itu semacam Lebaran, jadi kerjaannya kumpul-kumpul di rumah saudara).

Dimulai dari tanggal 31 Desember 2017, di mana kami ngunjungin mertua ke RS. Lumayan lama banget di sana. Kaleb tiba-tiba kebelet pup. Langsung lah dibawa ke WC. WC-nya bukan yang kotor banget, masih normal dan tergolong bersih. Tapi bukan sebersih WC mall yang tiap orang keluar langsung dielap-elap, ya. Jadi dia nggak mau pup. Ditahanlah itu pup.

Sorenya kami ke gereja. Harus diakui gereja ini kotor banget WC-nya. Sungguh lah, saya kalau masih bisa ditahan walau kebelet pipis pun mendingan ditahan aja lah. Ini berkali-kali udah sering saya bilang ke orang gereja. WC sih di-upgrade, ya. Lebih baik banget dibanding dulu, TAPI kenapa tetap bau pesing? Bener deh, mental orang-orangnya yang kurang beres banget ini mah!

Ya tentu saja pas diajak ke WC, Kaleb nolak. Ditahan lagi itu pup.

Besokannya pas tahun baru, lagi-lagi kami akan ke rumah sakit paginya. Pas sebelum berangkat, Kaleb bilang mau pup. Didudukin di WC kayak biasa. Nggak biasanya dia ngeden dan tampak kesusahan banget mau pup. Ada kali 30 menit lebih dia di WC struggling banget mau pup. Sampe akhirnya karena pupnya keras, dia pun udahan aja walau belum tuntas. Jalan pun susah, duduk di car seat nggak tenang. Mukanya udah memelas. Saya langsung beliin dia yoghurt dan yakult.

Pas sampai parkiran RS, kayaknya dia ngeden nih. Jadi begitu sampai RS, langsung dibawa ke WC. Untungnya dia saya pakein diapers. Saya suruh dia tutup hidung aja pake tisu basah. Udah ya beres, dong. Walau di RS dia nggak pup, tapi yah mayan selama di jalan udah keluar.

Sorenya, Kaleb diajak aunty-nya main ke McD. Ternyata pas di McD, doi mau pup lagi. Udah nangis-nangis deh dia mau pup. Diajak ke WC, ternyata WC-nya becek, gagal pup lagi deh.

Rabu-nya, Kaleb diajak Mama saya jalan-jalan. Dia sempat mau pup sampe muter-muter nangis. Pas diajak ke WC dia nggak mau karena WC-nya bau. Sungguh deh tingkat kebersihan dia tuh tinggi banget, pokoknya WC itu nggak boleh berbau sama sekali.

Malamnya pas udah pulang ke rumah, dia bilang mau pup. Udah nangis-nangis lagi, tapi nolak dibawa ke kamar mandi. Ya mungkin dia trauma juga karena beberapa kali ke WC dan mau pup tuh kesakitan banget. Saya udah bujuk-bujuk supaya nggak papa ke WC, ditemenin, dibolehin sambil nonton Youtube. Dia tetap nangis nolak. Tapi kelihatan banget dia kesakitan. Bujuk sampe 15 menit nggak berhasil juga, tapi tetap nangis kesakita, saya dan suami kan frustasi juga. Antara cemas karena dia nggak mau pup, dan kesal karena kok susah amat dibilanginnya.

Setelah 30 menit membujuk, memaksa, dan mengancam (pokoknya segala cara dilakukan supaya dia mau pup), tiba-tiba dia bilang udah padahal belum pup. Pas dia berdiri, keluarlah darah dari anusnya.

Gila, horor banget itu! Ya bukan darah yang berceceran buanyak banget, tapi tetap aja harusnya pup nggak mengeluarkan darah, kan. Langsung saat itu juga saya bilang harus ke dokter. Langsung ganti baju dan segala macam.

Kaleb lihat saya panik gitu, langsung tiba-tiba meluk saya, “Sorry, Mami.” mukanya memelasss banget.

Duh, retak deh hati ini. Jadi Kaleb minta maaf karena dia pikir saya marah. Padahal nggak marah, cuma lagi panik jadi ya kayak blingsatan ganti baju, beres ini itu biar cepat ke dokter.

giphy6

Di mobil, Kaleb nggak bisa duduk sama sekali. Dia kesakitan banget jadi dia milih berdiri di kursi belakang sambil pegang jok. Bener deh mau nangis banget lihatnya dia kesakitan kayak gitu. Trus dia beberapa kali bilang, “Sorry Mami.”

Patah hati banget lihatnya. Perasaan dia merasa bersalah padahal sebenarnya dia nggak salah. Saya dan suami aja yang nggak sabaran menghadapi traumanya dia mau pup. Yang ada saya peluk dan bilang, “Sorry ya Kaleb. Mami nggak marah, kok. Mami cuma takut Kaleb perutnya sakit kalau nahan pup terus.”

Di tengah jalan dia ngeden keras banget dan akhirnya pup. Turun dari mobil dia bilang, “Mami, Kaleb nggak sakit lagi.” Bersihin di WC dan masih ada darah. Mungkin karena pupnya keras.

Selesai dibersihin, dia peluk Papanya dan bilang, “Sorry, Papa.” Doh, Papa-nya ikutan mellow, deh. Jadinya saling bilang sorry macam Lebaran aje. XD

Dokternya nggak kasih obat apa-apa karena anak kecil nggak boleh makan obat pencahar. Jadi cuma dikasih suplemen mineral. Darah itu asalnya dari anusnya luka karena pupnya keras. Kalau pupnya lembek akan sembuh sendirinya. Yang penting bersih aja pantatnya. Dan dokter pun menasehati, banyak-banyak makan buah dan sayur, ya.

Kaleb ini kalau makan buah mah lancar, nggak pernah nolak. Tapi kalau sayur, dia akan lepeh. Harus nggak boleh ketahuan ada sayur. Karena dokter bilang gitu ke Kaleb, besokannya dia makan sayur dengan lancar banget, trus makan pepaya buanyak banget.

Pupnya langsung lancar, nggak keras lagi, dan sehari bisa sampai 4 kali. Itu kotoran 2 hari dikeluarin semua kayaknya. Hahaha. Doh, no more poop problems, deh!

giphy7

Dari kejadian ini Kaleb belajar buat rajin makan sayur, dan saya belajar untuk lebih sabar dan nggak frustasi sendiri, padahal harusnya anaknya yang lebih stres dengan keadaan kayak gitu. Belajar juga karena Kaleb ternyata manis juga ya. *rabid mama detected* hahaha.

 

 

Bioskop Pertama di Mall Pinggir Pantai

Akhirnya Kaleb nonton bioskop juga!

giphy3

Setelah colongan ikut ke bioskop kemarin dan melihat Kaleb bisa tenang, akhirnya memutuskan bahwa di usianya yang 2 tahun 9 bulan, Kaleb siap ke bioskop.

Saya selalu ragu-ragu mau bawa Kaleb ke bioskop karena dulu anaknya nggak bisa tenang banget, selalu heboh. Belum lagi kemampuannya untuk fokus masih pendek. Jadi saya nggak pernah bawa dia ke bioskop. Tapi semakin dia besar, semakin bisa paham dengan apa yang saya katakan, plus kemampuan fokusnya lebih panjang (bisa nonton film kartun sampai selesai), saya pun memberanikan diri ajak Kaleb nonton.

Setelah cek jadwal, ada 3 film kartun yang lagi tayang: Coco, Ferdinand, dan Si Juki. Coco, saya udah nonton. Selain itu temanya tentang after life cukup sulit buat anak sekecil Kaleb (sulit, atau males aja jelasin, buk? Hehehe). Sedangkan Si Juki, ku tak paham itu film tentang apa, jadi skip ajuah. Then Ferdinand it is.

Film Ferdinand ini sisa tayang tinggal 4 bioskop lagi: Plasa Senayan, PIM, Gading, dan Baywalk Mall. Saya pilih Baywalk karena lewat tol dekat banget dan penasaran sama mall yang letaknya di pinggir pantai ini.

Ferdinand ini ceritanya sederhana aja, tentang banteng yang sukanya sama bunga dan kedamaian, dibanding berantem di arena sama matador. Padahal jadi banteng yang kuat dan jago berantem itu kebanggaan banteng pada umumnya.

Kaleb excited banget mau nonton. Sengaja pilih siang karena dia pasti masih segar. Saya pun beli popcorn supaya dia bisa ngemil kalau bosan. Senangnya lagi karena ini musim libur sekolah, jadi banyak banget anak-anak yang nonton. Semacam karya wisata di bioskop.

C360_2017-12-29-21-31-56-285.jpg

Perdana nonton di bioskop, nih. Ahey!

Sepanjang film, Kaleb fokus banget nontonnya. Surprisingly, dia nggak banyak nanya. Mungkin saking gampangnya itu film dimengerti (kalau buat ibunya, jadi ngantuk dan membosankan banget, sih. Hahaha). Di pertengahan film, Kaleb mulai ngantuk jadi minta saya pangku. Saya pikir, dia bakal tidur nih sebentar lagi. Ternyata, malah saya yang ketiduran dan dia melek nonton sampai habis.

IMG_20171229_144107.jpg

giphy4

Habis nonton, saya ajak dia makan es krim. Di Baywalk ini, mostly restorannya pemandangannya ke laut. Jadi Kaleb senang banget nongkrong di jendela lihat laut dan pesawat terbang yang mau landing di bandara.

Baywalk mall ini sebenarnya mall biasa. Cukup besar, tapi waktu itu nggak terlalu rame, cenderung sepi. Tapi ternyata orang-orang seringnya nongkrong di resto sambil mandang laut.

Setelah makan es krim dan muter-muter mall, kami ajak Kaleb ke lantai satu tepat ke tepi lautnya. Eh, ternyata ada air mancur menari dengan lagu-lagu Natal. Yang nonton duduk di tempat duduk yang kayak tangga. Semacam kayak nonton air mancur di Marina Bay Sand dengan kearifan lokal (yaelah ini perbandingan bagusnya jauh banget, loh!). Kaleb sih happy banget ya lihat air mancur kelap-kelip bisa nari pula.

IMG_20171230_100116_347.jpgC360_2017-12-30-08-11-04-583.jpg

Habis nonton pertunjukan gratisan, kami menyusuri pinggir pantai dan mampir sebentar ke Bandar Djakarta. Bukan buat makan, tapi karena di situ ada kolam ikan dan banyak banget hewan laut di fish marketnya. Tentu Kaleb heboh banget sampai diajak pulang juga susah.

Sebenarnya ada Baywalk Garden yang mungkin mirip-mirip Garden By The Bay dengan kearifan lokal. Tapi karena udah malam dan lapar, jadi kami nggak sempat mampir. Bolehlah kapan-kapan dicoba. Semacam mall tapi banyak outdoornya jadi anak-anak suka, deh.

 

 

 

 

Belajar Sabar di Kayu-Kayu

Flashback ke Natalan kemarin *JIYAAAH, sebulan juga belum ada*, kami sekeluarga christmas lunch di sebuah restoran hits baru di Alam Sutera; Kayu-Kayu Restaurant. Restoran ini baru banget dibuka, sekitar 4 bulan lalu.

Kayu-Kayu ini letaknya di pinggir jalan. Kalau dari arah tol Kebon Jeruk, tinggal keluar di gerbang Alam Sutera, belok kiri. Lurus terus aja nanti dia terletak di sebelah kiri. Bangunannya unik banget, banyak kayu-kayu (yah, mereprestasikan namanya, sih) jadi terkesan back to nature. Masuknya dari pintu samping yang ada kolam ikannya. Kolam ikannya nggak gede-gede banget, sih.

Hari itu karena Natal jadi full booked, harus reservasi dulu. Tempatnya penuh banget. Tapi ambience-nya enak, sih. Karena serba kayu dan coklat jadi kayak adem banget. Lalu ada lagu-lagu Natal berkumandang dengan volume yang pas. Tapi yah karena rame banget, jadi nggak bisa menikmati banget, sih.

Pokoknya kalau soal tempat dan desain sungguh instagramable banget lah. Apalagi ada 2 tangga melingkar besar yang dihiasi mistletoe. Romantis banget jadinya. Cucok untuk foto-foto sebanyak mungkin.

Kami pesan mie goreng, nasi goreng pete, laksa, ketan mangga (semacam mango sticky rice), martabak telor dan martabak keju dan coklat, ayam hainam, ikan bakar, dan apa lagi lupa. Oh ya, nggak ada foto karena kami sudah lapar banget jadi langsung gragas makan. Hihihi. (Ini review apa sih, nggak ada fotonya? -_-).

Rasanya?

BIASA BANGET. Huhuhu! Dengan harga yang cukup mahal (main course harganya Rp 90.000 ke atas), rasanya sungguh mengecawakan. Bukannya nggak enak, tapi dengan harga segitu bisa dapatin makanan yang lebih enak di tempat lain. Kayak pas makanan dihidangkan tuh ekspektasinya udah tinggilah. Mana bentuknya cantik, piringnya bagus. Tapi pas dicoba, semacam, “Oh, gini doang.” Huft!

Martabak telornya enak dan garing. Tapi percayalah dengan rasa kayak gitu bisa didapatkan di abang-abang. Martabak manis keju dan coklat yang harganya mihils (sekitar Rp 60.000) itu kemanisan dan rasanya seketika bisa diabetes. Jadi, martabak manisnya nggak habis karena kami nggak sanggup dengan manisnya.

Tapi, minumannya enak, sih. Kayak lychee tea atau lemon tea-nya beneran segar. Pas banget di mulut. Mango sticky rice juga oke-lah, walau tetap lebih enak mango sticky rice asli.

Nah, yang paling mengecewakan adalah servisnya. Failed dari awal sampai akhir.

Ketika kami masuk dan duduk di tempat kami, nggak ada pelayan yang nyamperin untuk kasih menu. Bahkan, nggak ada pelayan yang terlihat beredar di dekat kami. Awalnya kami maklum karena emang lagi rame banget dan mereka pasti sibuk melayani yang lain. Beklah. Kami pun yang menghampiri pelayan di meja kasir untuk minta buku menu. Tunggu punya tunggu, kok ya tetap nggak ada menunya. Kami samperin lagi ke pelayan meja kasir untuk minta menu, baru deh mereka kasih menu. Itu pun buku menunya yang berat banget itu sedikit, sedangkan kami bertujuh. Kan ya ribet ya saling liat sama-sama. Jadi lagi-lagi kami harus minta buku menu. Nggak ada inisiatif lah dari pelayannya.

Setelah pesan makanan, seperti biasa mereka mengulang orderan kami. Makanannya cukup lama datangnya. Yah, maklumin aja lagi rame, kan. Kami juga sibuk ngobrol-ngobrol. Lalu makanan mulai berdatangan, tapi ketika mulai lengkap ada 2 menu yang ketinggalan dan air mineral yang nggak keluar. Menu laksa dan ketoprak. Jadi kami ingatkan lagi bahwa ada pesanan kami yang belum sampai.

Sampai akhirnya kami selesai makan, pesanan adik saya yang laksa dan pesanan ketoprak saya belum datang, dong. Balik lagi manggil pelayannya yang ada di ujung dunia, ingetin lagi. Akhirnya setelah nunggu 1 purnama, si laksa, dong. Si ketoprak belum. Sampai si suami bilang, “Mungkin mereka lagi pesan ketoprak di abang-abang di pinggir jalan. Belum datang kali abang ketopraknya.” Hihihihi!

Si martabak manis ini yang merupakan pesanan tambahan malah datang duluan dibandingkan ketoprak saya. Akhirnya saya panggil lagi pelayannnya ingetin ketopraknya. Dan sampai semua makanan ludes di meja, ketoprak saya nggak datang juga, dong! YASALAM! Ya udahlah saya batalin aja.

giphy2

Itu saking mereka lambat banget servisnya, manajernya yang orang bule turun langsung. Manajer bulenya pun nggak ada senyum atau ramah atau say sorry lah, datar aja kayak papan penggilesan. Hayati lelah banget lah di restoran ini.

Karena makanan biasa aja dan servisnya yang buruk, jadi harapan satu-satunya adalah foto sebanyak-banyaknya karena interiornya kan kece banget, ya. Setelah sibuk foto-foto sendiri, minta tolong lah sama pelayannya untuk fotoin kami sekeluarga di tangga yang lagi hits itu. Jekrek, jekrek! Pas dilihat hasilnya, BLUR!

giphy1

Akhirnya panggil pelayan yang lain lagi untuk minta fotoin. Jekrek jekrek! Pas dilihat, fotonya GELAP! *

giphy

Sudahlah, nanti diterangin aja pake app. Lama-lama bawa tripod juga nih, biar fotonya ciamik.

Jadi, kalau mau foto-foto kece bolehlah ke sini. Tapi kalau mengharapkan rasa makanan dan servis, errr.. pikir-pikir dulu lagi aja, deh. Di Alam Sutera masih banyak resto lainnya yang endeus.

Oleh karena itu, nikmatilah foto-foto narsis kami sebagai pelampiasan perut yang kurang puas. Hahaha. Adios!

IMG_20171225_123239.jpgIMG_20171225_134532.jpgIMG_20171225_135111.jpgIMG_20171225_145300_083.jpgIMG_20171225_141047.jpgIMG_20171225_141010.jpg

 

The Highlight of my 2017

Hello, 2018!

Well, bye 2017! 2017 adalah tahun yang cukup tough buat saya. Banyak kejadian yang bikin saya stres banget. Tapi highlight-nya adalah soal kesehatan.

Setelah saya bebas dari tugas menyusui, nggak lama kemudian tulang-tulang saya selalu pegal. Awalnya mikir karena lagi mau mens, jadi ya wajar pegal-pegal. Tapi pegalnya sampai yang mau bangun tuh sakit. Bahkan setelah mens-pun tetap pegal-pegal. Kemudian ditambah lagi lutut saya sakit, sampai yang susah jalan. Akhirnya saya harus pakai salep untuk sendi.

Sendi yang sakit bukan cuma lutut aja, tapi nambah lagi dari lengan, jari-jari, kaki. Duh, ganggunya sampai bikin saya meringis banget. Awalnya saya cuek, tapi karena mulai bertambah rasa sakit dan lokasinya, akhirnya saya whatsapp obgyn saya. Curiganya karena selama menyusui saya nggak pernah minum suplemen kalsium, jadinya begini. Padahal dulu obgyn saya udah wanti-wanti selama menyusui harus tetap minum suplemen.

Ternyata benar, itu karena saya kurang kalsium makanya seluruh tulang dan sendi sakit banget. Kebetulan saya punya grup ibuk-ibuk yang proses kelahirannya dibantu obgyn saya, dan pas saya curhat banyak yang ngalamin yang sama. Akhirnya saya harus mengkonsumsi suplemen kalsium dan minyak ikan (untuk anti inflamasi) tiap hari. Plus area yang sakit terus diolesin salep tiap hari.

Bukan berarti langsung sembuh ya, jadi tetap aja sakitnya pindah-pindah. Hari ini di tangan, besok di kaki, lusa di lutut, besoknya di jari. Begitu terus selama beberapa bulan. Sampai kadang-kadang hopeless banget lah saya, jangan-jangan saya punya penyakit lain dan ini nggak bakal sembuh. Saking hopeless dan sakitnya pernah sampai nangis. ๐Ÿ˜ฆ

Tapi emang ya minum obat dan suplemen itu harus teratur karena walau sakitnya berpindah-pindah, tapi intensitasnya menurun. Hari-hari di mana saya bisa bangun tanpa badan pegal itu disyukuri banget. Kalau hari itu saya nggak perlu ngolesin salep karena nggak ada yang sakit, duh bahagia rasanya.

Sampai akhirnya sekitar 2 mingguan ini, badan saya lebih fit dan nggak ada yang sakit sama sekali. :’) You have no idea how happy I am. Bahagia banget nget. Semoga bertahan terus, ya.

Sekarang saya jadi lebih fokus sama kesehatan. Tetap makan beberapa suplemen karena ya, sadar diri aja sih, badan makin tua ya makin butuh tambahan asupan. Jadi ibuk-ibuk yang nyusuin, tetap minum suplemennya, ya.

Selain masalah kesehetan diri sendiri, gong tahun ini adalah mertua laki-laki saya, yang sama sekali nggak pernah sakit dan selalu aktif, kena subarachnoid hemorrhage (SAH). Singkatnya ada aneurisme (semacam bisul) di otak yang pecah jadi menyebabkan pendarahan. Penyebabnya apa, dokter pun tidak bisa memastikan kenapa ada aneurisme itu. Tapi sampai pecah ini karena mertua juga punya tekanan darah tinggi dan kebetulan waktu dia mau BAB dia ngeden, yang akhirnya bikin bisulnya pecah.

Kami shock banget. Selain itu banyak drama di salah satu RS, di mana mertua sampai 2 hari di UGD karena nggak dapat tempat sama sekali, tapi mau pindahin aja ribetnya minta ampun. Sampai kami sendiri yang teleponin RS lain, kami juga yang cek keberadaan ambulans. Padahal ini adalah RS swasta besar yang cabangnya banyak di mana-mana. Tapi… sungguh mengecewakan banget karena mertua jadi telantar dan kami sulit melakukan tindakan atau penjelasan yang tepat.

Sampai akhirnya hari ketiga kami bisa memindahkan mertua ke RS Pusat Otak Nasional (PON). Dan sudah hari ke-41 mertua berada di RS. Sungguh hari-hari yang nggak mudah buat kami. Terutama karena harus ada keluarga yang stand by 24 jam di RS, jadi mertua perempuan dan adik ipar yang nginep tiap hari di sana sampai hari ini.

Yang bikin deg-degan adalah adanya 21 hari masa kritis, di mana selama 21 hari ini apapun bisa terjadi. Dan benar, mertua yang tadinya masih di ruang perawatan sempat drop kondisinya sehingga paru-parunya terendam cairan, harus pake ventilator, dan masuk ruang ICU.

Tapi akhirnya 21 hari itu berlalu dan pendarahan di otak terserap dengan baik. Keadaannya makin baik dan berharap semoga nggak lama lagi bisa keluar dengan kondisi yang pulih seperti sedia kala.

So, that’s the highlight of my 2017. Jujur aja, sampai sekarang kayak masih takut berharap banyak, takut ada apa-apa lagi. ๐Ÿ˜ฆ Semoga semua sehat-sehat, ya. Penting banget deh itu kesehatan. Karena begitu sakit, apalagi yang harus pasrah banget kayak di atas. Even when you have the money, that’s not entirely gonna help you. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah bersandar dan berserah sama Tuhan.

I hope 2018 will bring us more happiness, health, and luck. ๐Ÿ™‚

 

Review: Susah Sinyal

dqm8zqzu8aabntu

Dulu waktu Cek Toko Sebelah muncul, saya suka banget sama filmnya. Maka ketika Susah Sinyal tayang, saya pun bertekad harus nonton lagi. Karya Ernest Prakasa selalu kena di hati menurut saya.

Karena film ini tentang keluarga, terutama hubungan ibu dan anak, jadi saya mau ajak Mama saya nonton. Udah lama gitu nggak nonton bareng, walau Mama saya bukan penggemar bioskop karena selalu kedinginan.

Kami nonton di hari Natal jam 21.00. Malam banget, ya. Karena seharian itu banyak banget acara dan baru tersisa slot malamnya, itu pun nonton mendadak. Oh ya, untuk pertama kalinya saya ajak Kaleb nonton di bioskop. HAHAHA, makan omongan sendiri deh yang nggak mau ngajak anak nonton bioskop yang bukan umurnya dan di malam hari pula. HAHAHAHA *toyor diri sendiri*.

Jadi ceritanya, nggak ada yang bisa pegang Kaleb. Suami jagain mertua di rumah sakit, Kaleb nggak pernah berdua aja ditinggalin di rumah sama Mbak, dan adik-adik saya pergi. Makanya saya pilih nonton malam mendekati jam tidur dia supaya nanti dia tinggal tidur. Plus saya sudah memastikan filmnya bukan film kasar, porno, dsb. Kaleb juga sudah lebih bisa dibilangin, nggak semau-maunya sendiri kayak waktu kecil dulu. Sekalian mau ngetes apakah Kaleb siap untuk nanti dibawa nonton di bioskop.

Sebelum nonton bioskop saya udah kasih tahu kondisi bioskop itu gelap, ada layar besar, suaranya besar, dingin. Jadi jangan takut. Kalau udah ngantuk bisa langsung tidur. Saya beliin Kaleb popcorn dan dia suka banget. Surprisingly, Kaleb nggak takut sama suara besar dan gelap. Mungkin ini pengalaman pertama buat dia, jadi dia excited. Karena dia nggak paham ceritanya dan buat dia membosankan, dia bilang, “Mami, Kaleb bosen.” Tapi ya dia tetap stay di tempat dan ngemil popcorn aja. Sampai nggak lama kemudian, dia ketiduran. Yeay! Jadi maafkan aku ibu-ibu yang ajak anak nonton di bioskop, ku paham emang nggak semua situasi bisa ideal. Tapi tetap sih saya prefer kalau anak masih bayi better nggak ikut ke bioskop karena kasihan aja. Tapi sekali lagi, who am I to judge? ๐Ÿ˜‰

Sinopsis film ini tentang hubungan Ellen, single mother, pengacara sukses, dan anaknya Kiara. Mereka yang hubungannya nggak dekat, akhirnya harus liburan bareng di Sumba di mana sinyalnya susah padahal mereka sehari-hari selalu harus pegang HP. Nah, dari situ konflik muncul.

Buat saya sendiri, seperti tipikal film Ernest, filmnya hangat dan dibalut komedi yang cukup cerdas. Kalau dulu saya merasa akting Ernest Prakasa sebagai tokoh utama di CTS lemah sekali, saya senang di Susah Sinyal, Ernest nggak melulu harus jadi tokoh utama di filmnya. Justru dengan dia jadi Iwan, rekan Ellen, di film ini; kemampuan aktingnya jauh lebih bagus daripada di CTS. Dan sosok Iwan mampu bikin setiap adegannya lucu dan nendang banget.

Komedi favorit saya adalah waktu adegan interview Cassandra dan wartawan malah ribut berdebat bumi datar vs bumi bulat. Ini kocaknya parah banget. Tapi secara keseluruhan, justru adegan-adegan kocak itu malah pas Cassandra (Gisela Anastasia) dan suaminya (Gading) muncul. Mereka berdua scenes stealer banget. Tiap mereka muncul, dijamin ngakak lah.

Seperti biasa, akting Adinia Wirasti selalu bagus. Duh, Mak, ada gitu orang secantik Adinia. Kulit eksotis, cantik, badannya body goal banget, akting juga bagus, fashion style dia oke banget, orangnya nggak lebay drama di sosmed. Mailaf lah! Kalau Adinia yang main biasanya saya udah 50% yakin filmnya bagus karena Adinia biasanya punya taste yang bagus untuk film.

Sementara Kiara yang diperankan Aurora Ribero yah masih dimaklumi sih kalau aktingnya masih mentah. Ya karena ini film pertama dia, tapi udah dikasih peran utama. Mungkin masih perlu diasah, ya. Tapiii suara dia bagus banget lah. Awalnya saya pikir suaranya didubbing, tapi ternyata itu dia nyanyi asli. :’)

Overall, menurut saya film ini bagus dan hangat. Tapi dibandingkan dengan CTS, saya lebih suka CTS. Untuk kedalaman cerita, saya merasa Susah Sinyal masih kurang. Saya masih kurang dapat chemistry Ellen dan Kiara; kenapa mereka berantem segitunya banget, lalu tiba-tiba Ellen bisa jadi dekat sama Kiara. Saya nggak merasa ada kedekatan emosi dan perkembangan emosi yang dalam untuk mereka berdua. Yah, walau tetap saja pas adegan klimaks, ya saya berkaca-kaca juga, sih. Saya paling lemah untuk film keluarga kayak gini.

Ada beberapa komika yang ganggu karena….. I don’t get the jokes. Yang ada bukannya lucu, tapi malah jadi garing. Plus ada beberapa pelafalan yang kurang jelas atau terlalu cepat jadi saya nggak bisa catch up dengan jokesnya. Tapi secara keseluruhan, komedinya dapet banget, lebih dapat dari CTS.

Oh sama Asri Welas lebih lucu di CTS daripada di Susah Sinyal. Karena banyak banget pemainnya yang sama, jadi mau nggak mau dibandingin sama CTS, sih. Beberapa pemainnya aktingnya ya mirip-mirip di CTS dan Susah Sinyal, jadi saya susah bedain mereka udah peran atau belum, sih.

Terakhir: DARIUS GANTENG BANGET, YA LORD!

Kesimpulannya, masih layak dan bagus banget buat ditonton, kok. Tapi hati saya masih melekat di CTS. :’)

 

 

Main Salju

Setelah hampir 3 minggu kegiatan weekend kami selalu diisi dengan bolak-balik ke RS karena bapak mertua sedang dirawat, akhirnya hari Minggu kemarin kami bisa curi-curi waktu untuk ngajak Kaleb merasakan keceriaan Natal *eh, padahal Tuhan Yesus kan lahir dalam keperihatinan, ya.*

Paginya kami sudah siap-siap ke sekolah Minggu untuk Natalan. Ini perayaan Natal pertama Kaleb. Tahun lalu pas umurnya 1 tahun, Kaleb nggak bisa ikut karena pas banget lagi demam tinggi. Padahal udah beli baju baru waktu itu. ๐Ÿ˜ฆ *lagi-lagi, Natal itu sebenarnya bukan tentang baju baru, sih* *gimana nih Mamak, kok pesannya salah mulu? XD*. Tahun ini udah berharap cemas semoga nggak sakit. Beberapa hari sebelumnya Kaleb sempat demam karena vaksin, dilanjutkan batuk, tapi overall dia sehat walafiat. Puji Tuhan, bisa Natalan!

Tema Natal tahun ini adalah cowboy jadi anak-anak diminta pake baju cowboy. Ih, Mamak suka deh kalau ada tema begini. Semangat gitu cari printilannya. Hahaha! Tapi karena lagi sering bolak-balik RS, jadi beneran nggak sempat banget ke mall. Terpujilah online shop, Mamak bisa belenjong dalam sekejap. Sebenarnya cuma beli topi cowboy aja, sih. Kemeja kotak-kotak, jeans, sepatu boots udah punya. Sip, beres!

Kaleb was having so much fun! Dia senang banget karena di panggung ada miniatur barn, kuda, pohon Natal. Belum lagi ditambah anak-anak lainnya pake kostum cowboy, dia makin excited. Selama perayaan dia mau berdoa, praise and worship, dan terkagum-kagum pas lihat puppet show. Yah, walau di tengah-tengah dia agak bosen karena acaranya panjang, jadi mulai deh nggak bisa duduk tenang, maju-maju ke depan, isengin temannya. Tapi overall he’s been good. Selesai acara, dia langsung minta foto di panggung sama kuda. Hihihi.

IMG-20171217-WA0003.jpgIMG_20171217_143912_912.jpgIMG_20171217_143912_908.jpgIMG_20171217_111542.jpg

Selesai Natalan, kami belanja mingguan dulu ke Superindo, yang mana Kaleb suka banget. Anak ini hobi banget ke supermarket karena dia bisa tarik-tarik trolly. Berasa udah gede, ya. Hahaha. Plus, tiba-tiba pas di kasir kok ada Pocky. Hmm, dia udah tahu keuntungan belanja di supermarket adalah bisa naro barang buat dibeliin. Hahaha.

Habis itu kami makan Bakmi Siantar yang letaknya di sebelah Superindo. Karena udah telat waktu makan dia, Kaleb makan lahap banget. Bahkan dia makan nasi goreng dan bakmi Siantar sekaligus. Wuih, mantap! Mamak nggak pusing deh jadinya nyuapinnya.

Setelah itu kami ke Mall Puri Indah untuk ajak Kaleb main salju. Jadi tahun lalu kami udah mau ajak Kaleb main salju, cuma karena masih kecil jadi harus ditemenin. Sementara saya agak malas karena dingin banget loh itu. Saya nggak tahan deh dingin-dingin gitu. Nah, sekarang anaknya udah lebih besar dan udah bisa main sendiri. Saya tinggal lihatin aja dari pinggir.

IMG_20171217_144424.jpgIMG_20171217_144558.jpgIMG_20171217_144610.jpgIMG_20171217_144700.jpg

Saya udah bawain coat dari rumah biar Kaleb nggak terlalu kedinginan nanti. Pas Kaleb tahu dia mau main salju, anaknya jadi super nggak sabar. Dibawa ke WC dulu, dia tanya, “Kapan main salju, Mamiiii?” Begitu terus kayak kaset rusak. XD

Harga tiketnya Rp 75.000 per 30 menit main. Tapi mulai tanggal 18 Desember – Januari mulai ada blackout date, yang bertepatan sama anak-anak libur jadi harganya lebih mahal Rp 85.000. Untuk kaos kaki dan sarung tangan bayar lagi. Lupa deh harga kaos kakinya karena Kaleb udah pake. Jadi Kaleb beli sarung tangannya aja yang harganya Rp 30.000. Tapi itu bukan cuma dikasih tiket aja, tapi dikasih asuransi, plus voucher-voucher diskon. Ada voucher Pancious dan Fish n Co. Lumayan lho voucher Fish n Co-nya dapat fish and chips setiap pembelian meal apa aja. Mayan banget, kan.

Begitu beli tiket, masih harus antri 20 menit lagi untuk jam main berikutnya. Duh, untuk anak kecil kayak Kaleb dia nggak paham 20 menit itu seberapa lama. Yang ada bolak-balik nanya, “Udah boleh masuk, Mami?” Begitu terus. Sampai akhirnya dia nggak tahan, dia ngeloyor aja ke pinggir salju sendiri. Beuh! Digeret lagi deh ke tempat tunggu. Hahaha.

Pas gilirannya main, Kaleb pake sepatu boots dulu, dan langsung lah dia masuk. Nggak perlu ditemenin. Dia mulai sibuk explore sana-sini sampai akhirnya dia menemukan mainan kesukaannya dan sibuk sendiri. Plus dia suka banget ke bagian di mana ada semprotan salju jadi dia disemprot terus. Lihatnya aja saya udah menggigil, tapi anaknya malah ketawa senang.

IMG_20171217_220155_379.jpgIMG_20171217_220155_380.jpgIMG_20171217_153901.jpgIMG-20171217-WA0009.jpg

Pas 30 menit, anaknya bahkan nggak sadar harus udah selesai. Dia sibuk masukin salju ke ember. Sampai akhirnya petugasnya harus ajak dia udahan. Hahaha. Dan ternyata, itu basah kuyup banget. Coat, jeans, rambut, kaos kaki basahhhh. Jadi wajib bangetlah bawa baju ganti. Saya langsung cepat-cepat kasih minyak telon biar hangat. Tapi mungkin karena dingin, plus kena AC, jadi pulang dari mall dia langsung batuk-batuk.

Habis itu anaknya minta bubble tea, nonton pertunjukan Santa sebentar yang mana dia nggak tertarik. Kaleb ini pokoknya nggak tertarik sama segala hal berbau badut, ondel-ondel, santa. Jadi lihatin sebentar dan dia bilang mau pergi aja. Hihihi.

And that’s a wrap! Kaleb senang banget karena bisa main puas seharian. Jadi pas pulang dari mall diajak ke RS dia masih happy. Di RS ketemu sepupunya dan bisa main bareng lagi. Jadi konotasi dia terhadap RS malah positif banget karena tiap ke RS malah main sama sepupunya. Kebetulan di RS ini anak-anak nggak boleh masuk ke ruang perawatan, cuma boleh sampai lobby aja. Tiap kami lagi menjenguk, anak-anak nunggu di lobby sama mbaknya dan mereka bisa main sama-sama.

One week to Christmas, semoga semua sehat-sehat, ya. ๐Ÿ˜€

Begadang Jangan Begadang

Ada satu prinsip Rhoma Irama yang sangat saya resapi: begadang jangan begadang karena tiada artinya. *langsung joged dangdut*

Dari kecil, Mama saya super disiplin. Jam 9 harus udah masuk kamar untuk tidur. Mau belum ngantuk, tetap harus masuk kamar. Jadinya saya terbiasa tidur jam 9 dan bangun jam 5 untuk sekolah.

Akhirnya terbiasa harus tidur cukup 8 jam. Waktu jaman SMA, tiap ujian saya selalu punya deadline jam 9 harus selesai belajar. Selesai dan nggak selesai. Mulai belajar jam 6. Saya akan mengurung diri di kamar, sunyi senyap, dan belajarlah saya. Tapi mostly 3 jam itu cukup. Habis itu tidur dan siap untuk ujian. Saya pernah maksain diri buat begadang belajar, yang akhirnya kurang tidur. Pas ujian, saya malah nggak konsen sama sekali, blank, ngantuk banget, dan semua yang dihapal meluap. Zzz!

Jaman kuliah dulu, kalau ada option nggak harus nginep di rumah teman untuk ngerjain tugas kelompok, saya nggak bakal nginep. Hapal banget deh kalau ngerjain tugas di rumah teman itu awal-awalnya becanda, main, curcol, baru ngerjain tugas pas malam dan terpaksa begadang. Ku tak sanggup. Prinsip saya mendingan diskusikan tugasnya di kampus, lalu bagi-bagi tugasnya. Lalu kirim e-mail dan disatukan, deh. Jauh lebih praktis.

Pas ngerjain skripsi dan thesis pun haram hukumnya buat begadang. Saya mendingan buru-buru pulang ke rumah dari kampus, bobo sejam istirahat lalu langsung ngerjain skripsi atau thesis. Maksimal banget kemampuan saya buat fokus itu jam 10 malam. Lebih dari itu bhay, nggak konsen.

Jadi kebayang nggak begitu melahirkan saya harus menghadapi musuh terbesar saya BEGADANG. Gila, stres banget saya sampai baby blues nangis-nangis. Setiap menjelang malam, saya ketakutan, khawatir, sedih karena mikirin nanti malam saya harus terbangun-bangun tidurnya. Jadi pas Kaleb bisa tidur lebih panjang dari 2 jam sekali ke 4 jam, saya bersyukur banget nget. Dan saya baru bisa tidur 8 jam kembali setelah 2 tahun melahirkan. Yes, Kaleb sebelum umur 2 tahun masih kebangun buat nenen. *puk-puk kesehatan mentalku*

Oleh karena alasan yang sama pula, saya hampir nggak pernah pompa ASI tengah malam. Tahu sih ASI itu produksinya lagi banyak-banyaknya pas tengah malam. Waktu yang tepat banget kalau mau stok ASI. Tapi begadang tambah mompa ASI kayaknya bikin saya mendekati gila, ya. Pernahlah stok ASI saya menipis, jadi saya coba untuk mompa tengah malam. Yang ada bangun dengan cranky, mompa dengan kesal, trus hasilnya sedikit pula. Grrr! Emang ya, mood mempengaruhi banyaknya ASI. Sejak itu kalau nggak terpaksa banget, saya nggak mau mompa ASI tengah malam. Mendingan sebelum tidur aja mompa atau pas bangun tidur. Sungguh ku tak kuwat.

Kalau tidur pun, sekeliling saya harus dalam keadaan sunyi senyap persis kuburan. Soalnya saya gampang banget kebangun. Makanya walau ada TV di dalam kamar, sama sekali nggak pernah nyala. Curiga itu TV udah rusak karena nggak pernah dipake hehehe. Suara HP pun nggak boleh terdengar. Kalau saya tidur, dulu udah pasti HP saya matiin. Tapi karena mata saya minus dan saya butuh lihat jam kalau kebangun, jadinya sekarang HP tetap nyala, semata untuk lihat jam. Sebelum tidur HP akan saya silent, tanpa getar, dan masuk airplane mode. Jadi ya sama aja kayak dimatiin, sih. Hahaha.

Lalu dapatlah suami yang kalau tidur ngoroknya menggelegar dan HPnya nggak pernah disilent kalau tidur. #persoalanbanget Hahahaha. Doh, hampir 6 tahun menikah, saya masih belum bisa tidur kalau doi ngorok. Ampun! Yang ada tengah malam saya ngomel-ngomel dan nyuruh dia tidur tengkurap aja biar saya bisa tidur.

Makanya itu dia yang bikin saya gagal banget nonton midnite show. Jadi habis nikah akhirnya kan bisa bebas dong pulang malam sama suami. Langsung lah kita nonton midnite show. Filmnya dipilih yang seru pula, Avangers. Berakhir, saya ketiduran dan berasa filmnya jelek. Iyalah jelek, orang saya nggak nonton. Hahaha!

Nah, kemampuan begadang saya yang kurang mumpuni ini akhirnya malah bikin beberapa orang tuh mikir saya lebay banget. Masa sih diajak nongkrong sampe malam saya bisa nguap-nguap ngantuk. Banyak acara yang saya skip kalau harus sampai tengah malam. Dulu sih suka merasa nggak enak. Kalau sekarang bodo amat, saya cukup tahu kapasitas diri aja deh. Daripada besoknya cranky, mendingan tidur cukup aja.

Nah, di sini ada yang ikutan geng Rhoma Irama alias nggak bisa begadang juga nggak, nih?

 

Kaleb Vaksin DPT (Lagi)

Kebayang nggak tahun 2017 tiba-tiba ada outbreak Difteri (untuk penjelasan difteri bisa baca di sini) sampai di Jakarta sendiri pemerintah menyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Di Indonesia sendiri udah meninggal sekitar 30 orang anak. ๐Ÿ˜ฆ

Sedih banget deh, padahal udah ada vaksin DPT yang bisa gratis didapatkan di posyandu atau puskesmas untuk bisa mencegahnya. Sebagai ibu yang khawatiran, saya langsung cek apakah Kaleb udah lengkap belum vaksinnya. Ternyata Kaleb udah lengkap ada 4 kali vaksin DPT, nanti yang ke-5 pada saat ia berumur 5 tahun. Tapi karena Jakarta dinyatakan KLB, pemerintah pun mewajibkan semua anak di bawah 19 tahun untuk divaksin DPT lagi, apapun status imunisasi sebelumnya. Berarti harus ikut semua, ya.

Kemarin Kaleb ke puskesmas dianterin Opungnya, karena saya lagi kerja. Dari hari sebelumnya saya udah bilang ke Kaleb, nanti divaksin sakit sedikit, jangan nangis. Biar nanti sehat dan kuat. Kebetulan beberapa hari sebelumnya Kaleb ikut ke dokter hewan untuk vaksin Mika (iyes deh, punya anak balita dan anjing tuh ganti-gantian aja jadwal vaksinnya). Mika nggak nangis atau menggonggong pas disuntik *iyalaaah, wong vaksinnya di kulit luar, bukan nembus sampe ke daging-daging jadi hewan nggak bakal kesakitan*. Jadi saya selalu kasih contoh, “Kayak Mika ya berani, disuntik nggak nangis. Sakit sedikit aja.” Kaleb sih iya-iya aja.

Waktu di puskesmas (oh untungnya waktu itu di puskesmas dekat rumah saya masih ada karena di puskesmas sekitar lainnya, kata tetangga saya lagi habis, baru direstock besokannya), dokternya baik-baik banget. Masih muda dan cakep gitu *berdasarkan pemantauan Opungnya hahahaha*. Terjadilah percakapan ini:

Dokter: Namanya siapa?
Kaleb: Kaleb.
Dokter: Udah sekolah belum Kaleb?
Kaleb: Udah.
Dokter: Wah, sekolah di mana?
Kaleb: Sekolah minggu di gereja. *wakakakaka, ya bener juga sih. Soalnya kami selalu bilang sekolah minggu. :))))*
Dokter: Udah kelas berapa?
Kaleb: Kelas dua. *kalau ditanya angka, kelas, umur, Kaleb selalu nyebut angka 2 karena pas mau ultah kedua dibrain wash berkali-kali mau umur 2 hahaha*
Dokter: Di sekolah belajar apa, sih?
Kaleb: Belajar Tuhan Yesus. *Ya bener juga XD*

Si dokter pun senyum-senyum sendiri karena Kaleb bisa aja jawabnya. Pas mau disuntik dokter minta opungnya untuk pegang tangan Kaleb supaya nggak bergerak-gerak. Trus Kaleb nyeletuk: “Kata Mami kalau disuntik nggak boleh nangis.”

Dokternya langsung ketawa, “Iya, jangan nangis, ya.”

Tapi pas disuntik Kaleb agak kaget dan dia agak teriak, lalu dokter bilang, “Katanya nggak boleh nangis.” Trus langsung Kaleb inget dan nggak jadi nangis. Gengsi doi, bok. Hahaha.

Sebelumnya Kaleb biasanya pake vaksin DPT yang nggak bikin demam, jadi saya nggak pernah ngerasain anak demam karena vaksin. Kalau pun ada vaksin yang bikin demam, Kaleb nggak pernah demam. Nah, kali ini karena diadakan pemerintah, vaksin DPTnya tentu yang bikin demam (karena kalau yang nggak bikin demam mahal, kasihan pemerintah dong, ya). Puskesmas sekalian kasih obat penurun demam jaga-jaga kalau demam.

Nah, benar aja menjelang sore tangan bekas suntikan mulai bengkak dan Kaleb mulai mengeluh tangannya sakit. Lalu, malamnya Kaleb demam. Plus, ternyata Kaleb udah mau batuk, jadi udah deh semalaman dia nggak bisa tidur nahan tangan sakit, batuk-batuk, dan demam *mamak pun begadang, kena muntah karena batuk berdahak, gendong semalaman horeee*. Untungnya begitu dikasih obat penurun demam, demamnya langsung turun. Paginya, Kaleb bilang tangannya udah nggak sakit. Yeay!

Dokternya mengingatkan nanti bulan Januari ada vaksin DPT lagi yang kedua, jangan lupa. Oke, dok!

Kebayang nggak bahayanya nggak vaksin? Kaleb aja yang vaksinnya lengkap, “terpaksa” harus vaksin ulang lagi karena ada wabah ini. Ngulang lagi deh tuh proses sakitnya, begadang karena demam. Padahal saya udah bahagia banget merasa bisa ongkang-ongkang kaki karena semua vaksin Kaleb udah lengkap, tinggal nanti vaksin ulangan pas 5 tahun.

Saya ingat waktu saya baru melahirkan, perawat memberi saya jadwal vaksin yang buanyaknya minta ampun itu, “Jangan lupa divaksin anaknya, ya Bu.” Sebagai ibu baru, ya saya iya aja. Nggak merasa bahwa vaksin itu pilihan; bisa ya dan bisa tidak. Buat saya vaksin itu kewajiban saya sebagai orang tua dan hak anak untuk hidup sehat. No choice.

Baru kemudian saya sadar, harga vaksin itu mahal banget. Dan nggak semua vaksin ditanggung pemerintah. Kalau nggak salah ada Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT-HB), Polio, Campak, MR. Bisa didapatkan gratis di Posyandu dan Puskesmas terdekat.

Nah, yang nggak ditanggung lebih banyak lagi dan harganya emang bikin kantong meringis. Tapi sama kayak sekolah yang merupakan kewajiban orang tua untuk menyediakan, maka ya mending nabung dan ngirit daripada nggak divaksin. Secara psikologis bikin hati orang tua juga lebih tenang karena merasa anaknya dapat proteksi yang baik. Kalau pun memang tidak mampu dan berat banget, tetap aja harus ikut vaksin yang disediakan gratis oleh pemerintah. Harus lengkap itu semua.

Kalau keputusan orang tua untuk tidak memvaksin anaknya HANYA berakibat pada anaknya ya nggak papa, masalahnya penyakit yang divaksin ini biasanya menular, jadi wabah, dan mematikan. Taruhannya nyawa, bok. Satu anak nggak divaksin, lalu nularin anak lainnya, lalu satu komunitas semua kena penyakit, jadi wabah, dan meninggal. Bayangin, kalau anak-anak di Indonesia banyak yang meninggal karena wabah. Mau di kemanain generasi selanjutnya? ๐Ÿ˜ฆ

Ketika kita tidak memvaksin anak kita, kita membahayakan anak lainnya. So, you’re being so selfish. Egois dan jahat. Ikhtiar itu bukan pasrah, tapi berusaha untuk melakukan yang terbaik buat diri sendiri dan orang di sekitar. Kecuali, kamu memutuskan untuk tinggal di bulan di mana cuma ada kamu dan anakmu, bolehlah kamu nggak memvaksin anakmu. Kalau masih tinggal di bumi, hidup bareng orang lain, ada anak lagi, keputusanmu bukan cuma berakibat pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Ya kecuali nggak merasa perlu bergaul ke luar, ngurung diri di kamar aja jadi virusnya ya bolak-balik di situ.

Jadi tolong anaknya divaksin ya. Ini soal nyawa, bukan soal keegoisan diri sendiri.