Review Baper: Go Back Couple

I need to write one post alone about this drama after it’s completely finished. Ceritanya masih baper banget karena tiba-tiba habis. Padahal rencananya 16 episode, tapi jadi 12 episode saja. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.  #eaaa

Btw, nanti saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia karena saya nggak mampu menemukan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang nggak terlalu cheesy.

The Casts

confession-spouses-son-ho-jun-and-jang-na-ra-2

*tepuk tangan buat akting 2 orang ini*

Kalau Jang Nara aktingnya jago banget mengaduk-aduk emosi mungkin orang bisa maklum karena di drama-drama sebelumnya dia pun bermain bagus. Tapi angkat topi untuk Son Ho Joon yang sungguhlah keren banget aktingnya. This is his first lead male role on a drama, but he did so good. Their chemistry is so good and belivable. When they are happy, I am happy; when they cry, I cry; when they are angry, I am angry too. That good.

The Story Line

It was so good because it was a story that everybody can relate too, especially if you’re married. It can happen to anyone, it might be you, it might be you friends, it might be your family. It is not just about love. Probably I wouldn’t cry much if it’s just about ordinary love, but it’s about family. You will experience the warmth of the family and the friendship. The relationship between Ma Jin Joo and her mother is making you want to hug your mother. They’re just lovable. You will fall in love and broken hearted as well. You will laugh and cry with them.

Everytime Choi Ban Do and Ma Jin Joo remembered Seo Jin, their toddler son, my heart was broken into pieces. Their journey to feel their love again touched my heart.

No, it’s not a all-episodes sad drama. In fact, it was funny and refreshing. But at the same time it was so touching that you feel all their pains and struggles.

It was a heart wrenching and heart warming story.

My Thoughts

A lot of viewers were torn between the lead male and second lead male. Choi Ban Do, as the lead male, was probably not everyone’s favorite in the beginning. Dia tengil, kelihatan ngeselin, dan cuek. Tipe suami yang nggak peduli kesusahan istrinya di rumah. Sementara Nam Gil kebalikannya, terlepas dari wajah gantengnya yang ampun bikin ngiler, dia adalah orang yang manis, sopan, dan perhatian.

But I am always #teamChoiBanDo because as you get deeper into the story, you’ll find out how hard he works for the family and how big his love for his own family and Ma Jin Joo’s family. Choi Ban Do adalah orang yang merasa bahwa sebagai suami dan ayah, dia yang harus melindungi keluarganya, berjuang mencari nafkah, berusaha tampak tough di depan istri dan anaknya dan mengesampingkan emosinya sendiri demi keluarganya bahagia. He hated his job, he hated how he had to kiss some asses to make his job worked, but he did it anyway because he’d do anything for his family.

As he struggled at work, he went back home to find out his wife feeling sorrow due to her mother death. He thought, he had to be the tough one, he had to be happy all the time to make his wife happy. He forgot that sometimes a wife needed his husband to cry with her to feel her sadness.

While Nam Gil probably liked Ma Jin Joo, who was trapped in 20 year old girl, because she gave him motherly love. Nam Gil was left by his mother, his father married again with other woman. So, Nam Gil had this hole in his heart. He didn’t have the love he needed from his mother and it made him feeling angry towards his mother. When Jin Joo came, he got all the love he needed from his mother. I guess, Nam Gil needed to heal his scar first. That is why, he was still confuse with his feeling. He liked Jin Joo but it wasn’t love. And it wasn’t as big as Ban Do’s love.

Nam Gil stayed in his place when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He knew the car was coming, but he didn’t move or try to save Jin Joo. Because the love wasn’t that big to willing to sacrifice his life. He didn’t try to hug or comfort Jin Joo when Jin Joo cried on bended knees. He just saw her tearing apart, just because he was confused with his feeling.

It was different with Ban Do. Ban Do wasn’t thinking when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He ran saving Jin Joo because Jin Joo’s life is his happiness. The moment when Ban Do decided to stay in the past just because he saw Jin Joo needed to be with her mother than be with him or Seo Jin.

As Ban Do said, “You who fill my heart is more important than Seo Jin who fill my mind”. Crying. Such a family man.

*BYAR. NANGIS LAH GUE!*

He was willing to lose the chance to meet his son just to make his wife happy. *tisu mana tisu*

Adegan lainnya yang sungguh ku suka banget dan bikin terharu adalah ketika ibu Jin Joo bilang, “You can live without your parents, but you can’t live without your child.”

*pel air mata*

I guess what Jin Joo needed after all this time was a closure with her mother. Dulu ibunya meninggal dan Jin Joo tidak bisa menemani di saat terakhir karena harus “menyelamatkan” Ban Do. Akhirnya dia terus-menerus merasa marah terhadap Ban Do dan merasa tidak punya perpisahan yang baik dengan ibunya. Ketika sekarang bisa ketemu ibunya dan ibunya melepaskan dia pergi, that was the closure she needed all this time. That made her able to focus on her future with her own family and leave her sorrow behind.

Senang banget karena pada akhirnya bukan cuma mereka menyadari bahwa mereka masih punya cinta yang besar, tapi akhirnya mereka berusaha keras mengembalikan keluarga mereka. :’)

The scenes

23668030_333266483811939_356199522101100544_n

Kelar. Bajir air mata banget di sini.

Banyaaaak banget adegan favorit:

  • Waktu Ban Do lihat Jin Joo kesakitan karena mens. Dia langsung ke apotek beli obat kram, pilih yang dosisnya paling baik buat Jin Joo, lalu membelikan pembalut. Bahkan dia ingat pembalutnya harus yang bersayap supaya Jin Joo merasa nyaman. Kemudian dia bawain air putih karena Jin Joo kebiasaan makan obat pake soda. Lalu dia memberikan tasnya sebagai alas supaya Jin Joo bisa merebahkan kepalanya di atas tas itu dan dia mulai pijat pinggang Jin Joo yang kram. Ternyata, dulu Ban Do selalu mijitin Jin Joo tiap dia kram, mau sampe ngantuk sekalipun. *boleh ku minta dipijitin juga?*
  • Semua adegan Jin Joo dengan ibunya. Terutama adegan terakhir waktu closure, ketika ibunya melepaskan Jin Joo. Sungguh ya semua ucapan ibunya pengen dijadiin quotes karena bagusss semua. Lalu ucapan terakhirnya adalah, “You can do anything if you raise a child.” *duh duh duh jangan nangis, jangan nangis. TIDAK, AKU PASTI NANGIS!*
  • Sebelum berpisah, Ibu Jin Joo bilang bahwa nanti ketika dia sudah tidak ada tolong kunjungi ayahnya dan hibur dia. Selama ini Jin Joo menyimpan kekesalan sama ayahnya, karena setahun setelah ibunya meninggal ayahnya bilang dia mau nikah lagi. Gimana bisaaa? Air mata Jin Joo aja belum kering, kok ayahnya tega menikah lagi. Ternyata oh ternyata, ayahnya sengaja bilang seperti itu supaya Jin Joo nggak merasa sedih. Dan sementara Jin Joo sibuk sama rasa dukanya yang berkepanjangan, Ban Do lah yang selalu mengunjungi dan menghibur ayah Jin Joo. *Nam Gil nggak ada apa-apanya kalau kayak gini. Hiks.*
  • Cinta Ban Do yang besar banget buat keluarga Jin Joo. Diam-diam Ban Do selalu memberikan uang ke ibu Jin Joo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal Ban Do sendiri mati-matian dalam pekerjaannya.
  • Waktu Ban Do memutuskan untuk membiarkan Jin Joo bersama ibunya walau artinya mereka nggak bakal bisa ketemu anaknya. Kebahagiaan Jin Joo lebih penting. *di sini saya kayaknya udah bengek nangis terus, deh*
  • Waktu Jin Joo bilang ke Ban Do, “Yeobo, let’s go to our home.” *iya, saya nangis lagi. Sudah jangan dihitung berapa kali saya nangis*
  • Ketika akhirnya Ban Do dan Jin Joo kembali ke masa sekarang dan bertemu anaknya. Mereka bertiga pelukan. *bengkak deh mata saya*
  • Kayaknya post ini nggak bakal tamat kalau saya ceritain semua adegan favorit soalnya banyak banget.

The Kiss

23667864_145083569462475_6596798586715897856_n

Won’t complain even if this the only kiss on the drama. A beautiful one.

The one and only kiss between Ban Do and Jin Joo. The kiss that worths all those tears. A simple kiss that tied the knot again. It’s beautiful. And most importantly you can see Ban Do and Jin Joo’s love through the kiss.

The Soundtrack
Lagu-lagunya bagus dan pas banget. Sampai kalau lagi dengerin lagunya, saya masih bisa tahu ini untuk adegan mana. Terlalu melekat.

The post-drama syndrome

Oh, jadi begini rasanya baper banget sama satu drama, ya. Padahal happy ending, tapi kayak ada perasaan hampa begitu selesai. Saya kayak mengalami satu journey yang terlalu mengaduk-aduk emosi, sampai saya harus mengulang berkali-kali tiap episode-nya untuk mencerna rasanya. Saya bahkan sampai menganalisis kenapa saya harus nangis berkali-kali nonton drama ini. Awalnya saya pikir karena waktu itu lagi PMS jadi lebih sensitif. Tapi kemudian saya tonton adegan yang sama di lain waktu ketika tidak PMS lagi dan hasilnya ya nangis juga. Malah untuk 2 episode terakhir, antisipasi supaya saya nggak nangis-nangis amat, malamnya saya lihat semua spoiler-nya di Instagram, yah walau belum ada teks, ya. Semua adegan yang berpotensi bikin sedih udah saya antisipasi. Paginya pas nonton, udah cek dulu bukan lagi PMS dan nggak lagi mens *hahahaha penting bok!* dan udah yakin nggak bakal nangis karena udah tahu adegannya. Ternyata ku salah menduga. Paham arti dari setiap adegannya akhirnya bikin saya nangis tersedu-sedu lagi. Sambil dalam hati bilang, “Sial, kenapa gue nangis? Kan gue udah persiapan!” *ambil tisu sekotak* *mata bengkak*

Dan kayaknya ini drama Korea satu-satunya yang bisa bikin saya nangis sesenggukan tiap episode. Dan sebel banget gitu karena awalnya saya pikir ini lucu. Iya emang lucu, tapi kalau udah mengharukan bikin nangis banjir. Baper banget karena rasanya terlalu dekat di hati, terlalu real, terlalu hangat, terlalu bagus. Oh ya, quotes di drama ini bagus-bagus semua rasanya pengen ditulis dan dikumpulkan di satu buku. Moral of the story is marriage is hard even though you have the love. But as long as you want to work that love out, you will find the way. :’)

 

Jadi kamu udah nonton Go Back Couple belum? Kalau udah cerita-cerita sama saya, yuk.

 

 

Advertisements

Agree To Disagree

Saya mau cerita tentang satu teman saya yang unik banget. Sepanjang sejarah persahabatan saya dengan banyak orang, she is the most unique one.

Saya punya teman satu geng yang isinya 7 orang perempuan, semua kuliah di jurusan psikologi. Udah pastilah ya semua sifat dasarnya mampu berempati. Kecuali 1 orang ini. Kita sebut saja Bunga. Bunga ini teman SMP saya, dulu nggak dekat-dekat banget. Nggak sengaja ketemu lagi pas kuliah. Eh, ternyata satu jurusan dan satu kelas pula, tapi dia masuk jurusan psikologi karena disuruh emaknya. Dia ogah sebenernya, tapi nggak punya pilihan. Jadilah sepanjang 4 tahun kuliah, dia ngintilin saya karena dia nggak bisa punya teman dekat. Why oh why?

Dia adalah orang yang sangat mengutamakan logika. Dia berani berdebat sama dosen kalau dirasa aturannya nggak masuk akal dan apa tujuannya? Dia berani keluar dari kelas kalau dia merasa kuliahnya tidak berguna. Gila ya. Makanya nggak ada yang mau sekelompok ama dia daripada ribet kan, ya. Tersisalah kami berenam yang dengan senang hati menerima keanehannya. Ya aneh dong. Di antara mahasiswa-mahasiswa psikologi yang mostly pakenya feeling, terdamparlah satu orang ini yang logika banget.

Nggak tahu berapa kali kami berdebat, berantem, sebel-sebelan, tapi selalu berakhir baikan lagi. Karena enaknya temenan sama orang yang logis adalah dia nggak baperan. Berantem karena satu topik, tapi itu nggak berarti bakal berkepanjangan. Bahkan dia nggak nyebut itu berantem, dia nyebutnya bertukar pikiran. Tsaaah!

Sampai sekarang kami satu grup masih sering berdebat dengan Bunga. Terakhir kami berdebat panjang lebar cuma karena milih tempat ngumpul. Secara tempat tinggal kami tersebar dari Jakarta Barat ke Jakarta Utara, jadi biasanya pilih tempat yang di tengah-tengah. Nah, dia mengusulkan nginep di apartemen tengah kota, seperti Kuningan, Sudirman, dsb. Apartemennya harus dekat mall dan harus ada layanan taksi 24 jam, dengan harga yang jangan mahal-mahal banget lah. Bagus kan idenya.

Lalu kami semua memberi ide lah. Ada yang kasih ide sewa villa yang ada kolam renangnya, ada yang nawarin tempat tinggalnya jadi tempat ngumpul aja karena lumayan luas walau jauh di pinggir kota, ada yang nyaranin daerah A, B, C. Kami tampunglah semua idenya, tapi si Bunga ini keukeuh harus di tengah kota karena berbagai alasannya tadi. Masalahnya adalah yang lainnya tidak masalah di mana pun yang penting tempatnya nyaman buat anak-anak karena mostly udah punya anak. Bunga tetap menggiring opini bahwa harus di tengah kota dan di apartemen.

Sampai akhirnya kami merasa terganggu karena pointnya bukan cuma soal tempat, tapi lebih ke kepentingan dan kenyamanan kami semua. Kenyamanan bukan cuma soal jaraknya di tengah kota saja, tapi kepentingan teman-teman lain yang bisa jadi pertimbangan. Kami nggak masalah kalau harus ngumpul di rumah teman walau jauh karena toh tanggal yang diharapkan adalah hari libur jadi nggak macet. Dia bilang dia nggak mau jauh karena akan ribet dia ke sananya, padahal dibandingkan teman-teman lain yang lebih jauh, rumah dia termasuk di pusat kota yang dekat ke mana-mana, termasuk ke rumah teman ini.

Dan kami sebagai emak-emak nggak masalah mau di apartemen, villa, rumah orang yang penting semua nyaman dan sepakat aja. Lalu kami pun mulai berdebat. Dan dia mulai mengeluarkan alasan, “Coba cek secara statistik mana yang lebih memudahkan? Apakah di tengah kota di mana semua aksesnya mudah atau di dalam komplek di mana cari makan aja susah?”. Ya jelas jawabannya di tengah kota, tapi kan kami maunya sama-sama memilih tempat yang kami suka. Bukan cuma dia yang pilih dan semua orang harus ikut pilihannya. Tapi dia tetap ngotot bahwa dia sudah membuat pilihan yang paling logis dan nyaman buat kami semua secara jarak dan ketersediaan restoran.

Perdebatan akhirnya dihentikan. WA grup diam selama beberapa hari. Sampai akhirnya, satu orang memulai pembicaraan lagi dan karena deadlock, kita putuskan aja nggak usah nginep tapi ngumpul di rumah satu orang sambil potluck bawa makanan. Semua setuju, kecuali si Bunga tentunya. Hahaha. Dia bilang, “Have fun, ya. Gue nggak ikut karena ribet ke sananya.” Padahal ngumpul lengkap itu cuma 1 tahun sekali karena nunggu teman yang tinggal di Sydney dan Surabaya balik dulu. Dan beberapa orang rumahnya lebih jauh dari dia dan oke-oke saja harus mengarungi setengah Jakarta asal bisa kumpul bareng.

Tapi ya udah, that’s her decision. Nggak ada yang sebel, bete, dan kesal. Nggak mungkin kan sampe nyeret dia untuk datang demi ngumpul bertujuh kalau memang dia tidak mau (bukan tidak bisa ya. Tapi tidak mau saja). Setelah itu, ya biasa aja. Kami becanda kayak biasanya, ngobrol kayak biasanya seperti nggak pernah gontok-gontokan. Hihihi.

The point is cara berpikir kami berbeda. Dia yang sangat logis, tidak bisa memahami cara pikir kami yang pake feeling. Sementara kami yang pake feeling, nggak bisa paham kenapa dia nggak menurunkan egonya sedikit dan berempati. So most of the time, we agree to disagree. Karena memang sudut pandang kami dalam melihat sesuatu sudah berbeda jadi akan bersebrangan pendapatnya. Plus, tidak perlu disatukan karena toh bukan hal besar yang menyangkut kepentingan hidup bersama, keberlangsungan negara, atau kesejahteran hidup orang banyak. Hahaha, serius ini. We don’t sweat the small things. That’s why we’ve been friends for 14 years. Egile lamanya!

Hal ini sama yang terjadi ketika saya membaca satu tulisan heboh yang bikin panas jagat per-blog-an beberapa hari ini. Satu orang yang memberikan alasan logis menurutnya, lalu menggeneralisir satu Indonesia. Banyak yang kesal, banyak yang marah, banyak yang merasa tersinggung. Wajar, karena bahasanya cukup provoking, sih.

But I put it this way. Dia sama kayak teman unik saya si Bunga. Dia mungkin berpikiran logis, sehingga kurang memiliki empati. Bahwa satu kejadian itu tidak bisa dilihat dari satu sisi logis aja, tapi tetap ada sisi emosionalnya karena kita hidup bermasyarakat dan tidak sendiri. Ada perasaan orang yang perlu dipertimbangkan, ada situasi lain yang mungkin tidak bisa digeneralisir, ada sisi emosional yang tanpa sadar berperan terhadap keputusan seseorang. That’s what makes us human. Kita mempunyai kelebihan budi pekerti, tidak cuma berpikir logika seperti robot.

Tapi, sebagai orang yang berseberangan dengannya, sama seperti ketika saya menghadapi si Bunga, I should say we agree to disagree. Karena sampai mulut berbusa, we will think differently. Sudut pandang sudah berbeda, cara berpikir berbeda, jadi ya sulit untuk disatukan. No need to feel hard feeling karena balik lagi kalau dia tidak menyusahkan negara, bukan sebagai pengambil keputusan di Indonesia, tidak membahayakan keberlangsungan hidup masyarakat, dan tidak menunjuk langsung secara personal untuk siapa tulisan itu, yah let it go.

Karena ketika kita reaktif dan menunjukkannya ke banyak orang; orang-orang malah jadi penasaran dan pengen baca tulisannya. Lalu semakin banyak orang yang marah, lalu membesarlah. Padahal kadang-kadang kita nggak kenal di dunia nyata, tapi akhirnya malah berantem di dunia maya. Dan itu salah satu yang bikin sedih karena banyak perpecahan terjadi saat ini cuma karena berantem di sosmed, lalu menjalar ke dunia nyata (cue: Pilkada).

I hope we say this more often to something that doesn’t worth our energy: we agree to disagree. And just let it go. 🙂

Intinya: cuekin aja. XD

 

PS: Saya senang banget kenalan sama teman-teman baru di blog dan akhirnya saya follow Instagramnya dan ada beberapa yang jadi saling DM. I hope you know this is me not taking any side, but seeing this from other perspectives. 🙂

 

 

 

 

 

Quick Review: Go Back Couple & Because This Is My First Life

Dari 5 drama Korea yang saya tonton: While You Were Sleeping, Because This Is My First Life, Mad Dog, Go Back Couple, dan Revolutionary Love; belum ada yang tamat. Semuanya masih on going. Tapi ada 2 yang paling menarik banget buat saya: Because This Is My First Life dan Go Back Couple.

Go Back Couple

5130_gobackcouple_nowplay_small

Awalnya nonton drama ini karena ada Jang Nara. Suka banget sama dia sejak main di My Love Patzzi, tahun 2002. Udah 15 tahun yang lalu, cing! Dan mukanya doi awet muda aja, kayak waktu berhenti dan dia nggak bertambah tua. Ku harus menyembah keajaiban skin care Korea.

Sinopsis: Sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun (?) dan punya seorang anak balita. Kehidupan pernikahannya jadi hambar, penuh dengan rutinitas dan salah paham, sibuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lupa saling cinta. They’re growing apart. Satu waktu rasa muaknya memuncak dan mereka memutuskan cerai. Tiba-tiba mereka kembali ke masa kuliah, saat pertama kali ketemu. And the story begins… (again).

Karena poster serialnya yang lucu, saya pikir ini awalnya romcom dong, ya. Bakal ketawa ngakak-ngakak. Iya bener, ada yang lucu. Tapi yang tidak diantisipasi adalah………kenapa saya bisa nangis termehek-mehek waktu nonton? Bukan cuma satu, tapi di dua episode! (sejauh ini udah ada 10 episode. Yang bikin nangis episode 8 dan 10).

Sungguh drama yang mencabik-cabik emosi dan hati.

Selama sejarah nonton drakor, mau sesedih apapun, saya nggak pernah nangis. Ini tuh sampai nangis sesenggukan, kan ajaib yah. Hahaha.

Ternyata yang bikin nangis adalah karena sebagai orang yang menikah agak lamaan dikit dan punya seorang anak balita, jalan ceritanya relatable banget. Sibuk sama kerjaan, jalani rutinitas tiap hari, ngurus anak, kelelahan, stres, berantem. Saking terlalu dekatnya, saya suka ngomong, “Ah, gue tahu itu rasanya.” Langsung gloomy, sedih, trus pengen meluk suami dan anak. 😦 Marriage is not easy.

Tapi ketika mereka balik ke jaman 90an pas masih kuliah. Aduh, ini lucu. Jadi ingat masa-masa 90an semacam golden memories, trus kangen karena saat itu hidup rasanya lebih muda dan menyenangkan sekali. Saat naksir-naksiran satu kampus dan jadi semangat kuliah dan rasanya apa sih yang nggak bisa kita capai waktu itu. Ah, those naive thoughts.

Ketika awal Ma Jin Joo dan Choi Ban Do balik ke masa lalu, mereka happy banget, “Gila, ini waktunya gue restart semuanya. Nggak bakal bego lagi jatuh cinta ama dia, apalagi sampai nikah. Gue bakal pacarin orang yang dari dulu gue taksir dan have fun. Wohoo!”

Dan iya, mereka jadi dekat dengan gebetan masing-masing pas kuliah. Karena dengan mental age yang dewasa, tapi terperangkap di tubuh anak kuliahan, mereka jadi lebih pede dong untuk deketin gebetannya. Akhirnya gebetannya juga naksir. Sounds perfect, ya.

Tapi mereka lupa bahwa cinta dan bonding yang mereka punya selama 10 tahun nggak langsung hilang begitu saja. They still care for each other. Terutama ketika ingat anaknya; di mana kalau mereka kuliah berarti anaknya belum ada. Pas Ma Jin Joo sering nangis tersedu-sedu ingat anaknya dan Choi Ban Do kangen anaknya; duh sebagai ibu saya langsung berasa hati ini retak. Tahu banget rasanya, tahu banget sakitnya. Kayak jadi bingung, “Gue senang bisa mulai yang baru, bisa dekat sama gebetan gue, dunia kayaknya indah. Tapi gue kangen banget anak gue. Kalau gue ga nikah sama dia, gue ga bakal ada anak gue yang gue sayang banget.” Dilema abis. Hfft.

*garuk-garuk tembok*

Kim Nam Gil, sebagai second lead male, tuh mencuri perhatian banget. Wajah mah udah ganteng, postur tinggi tegap, baik hati, tajir melintir, care, hanya hati yang sedikit rapuh aja. Sementara Choi Ban Do itu sosok muka yah standar, jauhlah dibandingin Kim Nam Gil; postur nggak terlalu tinggi, tengil, nyebelin, cuek. Pokoknya awal-awal sebel lah sama Choi Ban Do.

Tapi semakin dalam ceritanya, semakin bisa melihat dari sudut pandang Choi Ban Do, sungguh hati ini meleleh nggak kuat. Iya dia tengil, iya dia cuek, tapi sesungguhnya dia sayang banget sama Ma Jin Joo dan Seo Jin, anaknya. Dia kerja mati-matian sebagai sales obat, rela dikacungin sama Dokter Park untuk nyembunyiin perselingkuhan dese, entertaining orang-orang supaya mau beli obatnya, kadang-kadang harus merendah banget sampe diinjak-injak harga dirinya. Semua demi berusaha cari uang yang banyak demi keluarganya. Karena sering lembur, sampe rumah udah malam, udah capek, bawaannya pasti emosi, tapi nggak bisa cerita juga kondisi kerjaannya ke istrinya.

Sementara Ma Jin Joo sosok ibu rumah tangga lulusan universitas yang merasa duh gue harusnya bisa lebih daripada sekedar di rumah. Tapi dia memutuskan untuk mengurus rumah dan anaknya. Ibu-ibu pasti tahu stresnya ngurus anak sendiri sambil beresin rumah *ingat masa-masa nggak ada ART pas lebaran.* Nggak sempat ngurus sendiri karena udah tahulah anak balita itu clingy banget sama ibunya. Ke kamar mandi diikutin, ke mana-mana harus lihat Mama, rumah berantakan, beresin, diberantakin lagi, ulang 100 kali. Nggak sempat dandan, nggak sempat merhatiin diri sendiri. Pas keluar rumah penampilan busuk banget sampai bikin self-esteem jatuh. Suami pulang malam terus, nggak sempat ngobrol mendalam, dua-duanya emosi karena capek, jadi ya makin lama makin hambar.

Tapi ketika mereka balik lagi ke jaman muda dan tidak dihadapkan pada situasi mereka terikat pernikahan dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan, akhirnya baru sadar sebenarnya Choi Ban Do peduli banget sama Ma Jin Joo. Ya mungkin dulu salahnya tidak diutarakan, mungkin dia nggak pengen bikin pusing istrinya kalau tahu kondisi kerjaannya seperti itu, mungkin karena sibuk memenuhi kebutuhan hidup dia jadi nggak ingat merayakan ulang tahun pernikahan, memberi hadiah, dsb. Tapi pada dasarnya cuma Choi Ban Do sayang banget sama Ma Jin Joo. Cuma ya biasalah, cewek kan pengennya pasangannya romantis, perayaan itu adalah big deal, mau didengerin dan ditanyain hari-harinya gimana, dsb.

Scenes yang bikin saya nangis ada di episode 8, waktu mereka nangis diam-diam karena sama-sama kangen anak. Udahlah ya kalau menyangkut anak, ijk bisa sensitif banget. Di episode 10 nangis pas Choi Ban Do menemui Ma Jin Joo nangis sambil bilang dia juga kangen mertuanya (yang di kehidupan sekarang udah meninggal) dan kenapa dia selalu aja bikin segala sesuatunya jadi salah. BYAR KELAR GUE NANGIS!

Sementara adegan-adegan kecil lainnya yang bikin hati ini tersentuh adalah pas Ma Jin Joo selalu menolak dibawain buah peach sama ibunya karena Choi Ban Do alergi buah peach, padahal buah peach itu kesukaan Ma Jin Joo. Trus pas Ma Jin Joo keram karena mens, Choi Ban Do langsung beliin pembalut dan obat kram. Lalu dia datang bawa air putih karena tau Ma Jin Joo pasti minum obat sama minuman ringan dan refleks pijit-pijit punggung Ma Jin Joo. Ternyata pas mereka nikah, Ma Jin Joo emang selalu kesakitan pas mens dan Choi Ban Do langsung pijit-pijit, mau lagi ngantuk juga tetap dipijit. AKU MELELEH! :’)

Masih 10 episode dari kabarnya 16 episode. Tolong, ini tingkat kebaperan dan air mata yang dikeluarkan sudah banyak, semoga endingnya nggak mengecewakan. Saya #teamChoiBanDo banget, jadi walau Kim Nam Gil sungguhlah sempurna dan kayaknya masa depan Ma Jin Joo bisa lebih enak, tapi semoga itu bukan itu endingnya *harap-harap cemas*. That I hope it says, “marriage is hard, at some point we take each other for granted, we misunderstood, but love stays, love will find the way.” Jangan bikin air mata ini terbuang sia-sia! XD

Becuse This Is My First Life

because_this_is_my_first_life-p1

Drama ini baru saya lirik ketika sudah 6 episode penayangan. Awalnya nggak tertarik karena tokoh cowoknya kok ya kurang sedap dipandang mata; rambut alay belah tengah, kaku, baju ala nerd. Duh, sungguh kurang menggoda iman untuk dikecengin. Tapi karena banyak yang bilang bagus, baiklah mari kita coba.

Dan benar bagus!

Sinopsis: Nam Se Hee sewain kamar di rumahnya karena butuh dana tambahan buat bayar KPR rumahnya yang masih luama banget habisnya. Sementara Ji Ho butuh tempat tinggal yang nggak pake deposit. Ketemulah mereka. Eh, tiba-tiba kejebak kawin kontrak.

Tema kawin kontrak ini udah umum banget. Paling entar lama-lama cinta bersemi. Yang bikin beda adalah Nam Se Hee ini adalah cowok paling logis, rasional, muka datar, nggak punya emosi, yang cinta mati sama rumahnya dan kucingnya, lainnya nggak dianggap. Ketemu sama Ji Ho yang lebih lively, tapi polos banget, umur 30 tahun nggak pernah pacaran. Tinggallah serumah mereka berdua, jadinya hanya hal-hal absurd yang terjadi. Kocak banget!

Selain kocak, cinta yang muncul secara awkard dan berusaha dijelaskan pake logika oleh Nam Se Hee ini yang bikin makin jatuh cinta. Cinta tuh buat dia nggak ada, tapi dia nggak mampu menolak rasa itu tumbuh ketika Ji Ho datang. Makanya ketika dia merasakan emosi senang, cemburu, sayang, tapi berusaha dia jelaskan dengan rasional itu lucu banget. Bahkan pas mau cium Ji Ho aja dia jelaskan dulu perbedaan ciuman yang benar dan salah. Harus rasional. Oh tampang boleh nerd, tapi soal ciuman HE’S THE BEST! Diam-diam doi menyimpan kemampuan kissing yang daebak! *lalu mupeng*

Worry no more karena sealay apapun orang, tapi di tangan mbak capster salon, orang yang tadinya alay jadi ganteng banget bok. The power of poni di cowok-cowok Korea itu emang dahsyat ya (sekarang tahu kan kenapa poni Kaleb kayak jamur. Siapa tahu mirip Oppa-Oppa Korea, hahaha). Jadi sekarang kita bisa mengagumi wajah ganteng dan postur tinggi Nam Se Hee.

Ceritanya hangat, ringan, lucu banget, dan rasanya bikin berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sama ketika kita jatuh cinta pertama kali.

***

Jadi weekend-nya biasanya saya dihempaskan oleh kenyataan hidup di pernikahan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do, kemudian Senin-Selasa saya disadarkan lagi bahwa cinta itu sesuatu yang manis dan menyenangkan. Jadi ada semangat lagi deh untuk mencintai. #eaa

Kamu udah nonton 2 serial ini belum?

 

Drama Aku vs Selebtwit

Halo Senin!

Biasanya kalau Senin gini kan agak jetlag ya dari weekend kemarin *berasa weekend-nya di Eropa aje*. Jadi mari cerita sebuah drama di sosmed yang terjadi antara diriku dan seorang selebtwit/selebgram kondyang. Yuk, cus!

Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika baru pulang ke rumah dari kantor dengan jalanan macet ajegile, seperti biasa ribet dulu ngurus Kaleb. Gantiin baju dengan ditemani kejar-kejaran karena si anak 2 tahun ini milih telanjang daripada pake piyama. *_* Tentunya sebagai ibuk-ibuk multitasking, ngurus anak itu bisa disambi dengan kegiatan lainnya seperti, seperti pegang HP dan buka sosmed. Mata sesekali cek notifikasi sambil pakein baju anak, trus teriak-teriak kejar-kejaran sama anak yang udah ngibrit aja kalau mata kita meleng dikit. Ada ibu-ibu yang ngerasa begini juga?

Di Instagram ada notif dari teman, ngomentarin gambar pemandangan warna pink punyanya selebtwit. Komennya pun nggak penting banget karena si teman bilang, “Eh, ini pemandangannya pink. Si artis itu kan dulu pernah ke sini.” Doi mention saya dan seorang teman lagi. Ya namanya ibuk-ibuk lagi rempong sama anak, dimention gitu ya bales cepat aja, nggak merhatiin gambarnya, apalagi baca captionnya. Saya bales, “Ini diedit ga, sih?” reply ke teman saya. Nggak mention si empunya IG. Habis itu taro HP dan rempong lagi sama anak dong, ya.

Nggak lama kemudian, ambil HP buka notiflagi, tiba-tiba si selebtwit kondyang yang terkenal sebagai kokoh penulis naskah sinetron dan suka travelling ke seluruh dunia ini ngamuk, bok! Ngamuk karena saya nggak baca caption. Berikut kisah drama kumbara sosmed ini yang berhasil discreen shot karena habis itu doi hapus semua komen-komen saya dan hanya menyisakan komen-komen pujian manis pada dirinya.

1509725559917

Pada mulanya

1509725557931

Kemudian, si kokoh tiba-tiba muncul dan menurut saya ketus amat sih ngomongnya. Jadi ya saya minta maaf tapi keberatan dia ngomongnya kayak gitu. Habis itu, drama lah dia.

1509725555960 (1)

Saya jelasin dong kenapa sih nggak bisa caption. Lagi ribet ngurus anak, bro! Eh, doi bilang alesan aja. Maklumin aja, belum pernah ribet sama anak pastinya. 🙂

1509725600087

Trus saya akhiri aja dong. Soalnya nggak bakal berakhir juga kalau si kokoh kekeuh saya pokoknya orang paling salah sedunia, dia mah kebenaran yang mutlak.

1509725600087

Komen netizen

1509725554051

Komen teman yang bingung juga napa si kokoh ngomel-ngomel

1509727346169

Komen sesama ibuk-ibuk yang merasakan ribetnya bersosmed sambil ngurusin anak. Hahaha.

1509725601999

Komen netizen

 

 

Intinya, doi kesal karena saya nggak baca caption. Iya saya salah nggak baca caption, tapi in my defense:

  • Saya nggak nanya dia, cuma nanya ke teman basa-basi sekedar reply.
  • Saya lagi rempong multitasking sama ngurus anak-anak; yang menurut doi saya lebay banget lah, excuse banget. HAHAHAHA, tunggu kisanak punya anak ya baru tahu rasanya.
  • Yang paling penting: Dia boleh menegur saya, tapi DIA TIDAK PUNYA HAK NGAMUK-NGAMUK KE SAYA. Pertama, kita nggak kenal sama sekali. Dua, itu nggak sopan. Tiga, well dia suka koar-koar di sosmed soal manner. HAHAHA. Empat, ini cuma soal nggak baca caption, nggak nanya ke dia juga. Kalau dia merasa terganggu dia bisa cuekin saya atau tegur dengan baik-baik. Jadi buat saya, dia marah-marah itu sungguh tidak masuk akal.

Saya dari awal say sorry karena nggak baca caption, tapi saya menolak kalau dia berkata kasar. Eh, doi malah bilang saya excuse bla bla bla. Ngeselin ya, bok. Akhirnya saya merasa konyol sendiri ngeladenin orang arogan kayak gini karena seberapa berbusanya mulut saya, doi tuh egonya setinggi langit, nggak bisa dibantah, jadi lebih baik tinggalkan percakapan bodoh ini.

Setelah curhat panjang lebar sama teman yang saling mention tadi, yang kaget juga lah ini orang lagi PMS atau gimana nih kok marah-marah nggak jelas, sih? Saya buka lagi IG doi dan akhirnya malah tambah rame dengan komen-komen para netizen lainnya. Lucunya, NGGAK ADA SATUPUN yang bela dia. Serius, nggak satu pun. Padahal saya nggak kenal para netizen ini, lho. So objectively, tindakan selebtwit itu emang salah. Dan dalam hati saya girang kesenangan karena HEY, followers lo aja nggak ada yang belain. HAHAHA. BHAY!

Habis itu nggak berapa lama komen saya dan teman-teman, serta netizen yang menegur dia langsung dihapus semua. Bersih. Tinggal komen puji-pujian aja. Habis doi ditegur netizen, pindah lapaklah doi ke Twitter yang isinya:

Me: Gambar ini diedit dengan bla bla bla.
Netizen: Diedit ga sih?
*insert gif nangis*

Yang ditwit kebodohan saya nggak baca caption, sementara doi ngamuk-ngamuk nggak jelas tentunya dianggap tidak ada (atau emang dia ngerasa ngamuk-ngamuk ke orang itu biasa, nggak perlu dianggap salah juga hahaha). Luar biasa ya penggiringan opininya. Reply-nya kan jadi menghina-hina yang nggak baca caption, dong. Tsk.

Baru kali ini saya ngadepin kayak gini di sosmed. Sebelumnya saya follow si Kokoh ini dari awal banget dia main twitter, pas masih jadi penulis skenario sinetron, hidup ngekos, pake HP Blackberry, dan hobinya gosipin artis-artis sinetron di twitter dan akhirnya dapat banyak followers. Long way to go, dia jadi influencer beken, kehidupannya jauh meningkat, rejekinya baik, travelling mulu, dan foto-fotonya cakep-cakep banget.

Dulu saya emang suka lihat dia suka bales dengan arogan twitter followers yang menurut dia, “Kok lo bego banget, sih. Baca noh twit gue dari tahun lalu. Cuih!” Anaknya emang sensitif bener, deh, kalau ada yang nggak merhatiin twit dia. Padahal kan bisa aja followers baru, ya. 😦 Tapi saya abaikan karena tampaknya akhir-akhir ini di twitter dia kayaknya jarang ngamuk-ngamuk lagi. Eh, ternyata dramanya pindah ke IG. Kabarnya dia emang suka ngapus-ngapusin kritik dan teguran dari orang-orang. Jadi IG-nya selalu kelihatan manis.

Sungguh ku miris melihatnya. Kelakuan selebtwit zaman now. Tentunya langsung unfollow doi karena buat apa foto Instagram bagus, tapi kelakuan kayak emak-emak mau menopause, suka ngamuk nggak jelas.

Baiklah, sekian kisah drama sosmed pagi ini. Lumayan kan bikin hari Senin kalian lebih ceria karena geli sendiri? :)))))

(Bukan Sekedar) Review: Film Posesif

Wuih, ternyata saya hampir 1 bulan menghilang nggak nulis blog. Sebulanan ini lagi sibuk banget. Sibuk nonton drama Korea tiap  hari. Hahaha. Serius, saya lagi ngikutin 5 drama Korea yang bikin akhirnya sibuk mantengin oppa-oppa ganteng di sosmed. XD

Anyway, kemarin saya nonton film Indonesia di bioskop. Judulnya Posesif. Yang main Adipati Dolken dan Putri Marino. Cukup niat untuk nonton film ini karena saya sampai rela nonton di Plaza Senayan karena layarnya udah mulai dikit dan yang paling dekat di PS. Keniatan ini disebabkan banyak yang bilang film ini bagus karena temanya tentang relationship abusive alias kekerasan dalam hubungan. Berat ya bok!

unnamed (1).jpg

Baru di film ini, saya ngerasa Adipati Dolken cakep banget. Hihi. Plus, aktingnya bagus.

Sinopsis singkatnya tentang Yudhis dan Lala, anak SMA, yang pacaran. Lalu kemudian hubungannya mengarah ke kekerasan. Udah sesederhana itu.

Menurut saya, film ini bukan film yang menghibur, tapi film ini PENTING banget untuk ditonton. Bahwa kejadian kayak gini banyak terjadi di sekitar kita.

Mungkin ada yang mikir Lala kok bodoh banget ya, mau bolak-balik sama Yudhis padahal udah jelas Yudhis kasar, menyeramkan. Rela mengorbankan karir gemilangnya jadi atlet loncat indah, demi ngikutin Yudhis. Udahlah hampir dicekek, tapi malah Lala yang cariin Yudhis untuk kabur bareng.

Kelihatannya bodoh banget buat kita yang ada di hubungan yang normal. Tapi nggak semudah itu untuk keluar dari hubungan yang abusive.

Kebetulan saya punya beberapa pasien yang mengalami kekerasan dalam hubungannya. Dalam kasus saya, mereka semua sudah menikah. Mereka datang ke saya, bukan dengan keluhan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, mereka nggak sadar sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saya kasih contoh 2 pasien. Si Mawar dan Melati.

Mawar datang ke saya dengan keluhan insomnia sampai harus makan obat tidur dari dokter dengan dosis yang cukup tinggi, itu pun dia masih sulit tidur. Setelah ditelusuri, ternyata dia punya kecemasan suaminya akan membakar dirinya ketika tidur. Iya, dibakar. Dulu pernah ada kejadian di mana Mawar sedang tidur dan suaminya menyiram minyak tanah ke kamarnya. Untungnya tidak sampai nyala api. Suami Mawar ternyata mengalami bipolar disorders. Dia akan sangat baik ketika minum obat teratur, tetapi ketika tidak minum obat, moodnya langsung kacau balau. Masalahnya, suami Mawar merasa dia tidak bermasalah dan memutuskan untuk berhenti minum obat. Setiap malam Mawar hidup dengan penuh ketakutan. Mawar bukan orang yang berkekurangan, bahkan cukup kaya. Siangnya dia menghabiskan waktu untuk mempercantik diri di klinik kecantikan, lalu ikut kegiatan sosialisasi. Dia aktif di gereja.

Karena aktif di gereja pula, ia pun beberapa kali konseling mengenai pernikahannya. Namanya juga konseling di lembaga gereja ya, sarannya adalah bertahan dalam pernikahan dan doakan agar suami berubah. Begitu pula ketika ia cerita ke keluarganya, mereka menyarankan hal yang sama karena kita suci melarang adanya perceraian.

Sebagai orang yang cukup taat terhadap agamanya, didukung oleh lingkungan yang melarangnya untuk berpisah dari suaminya, Mawar akhirnya memutuskan untuk bertahan dalam pernikahannya walau konsekuensinya hidup penuh ketakutan dan dapat membahayakan jiwanya. Satu-satunya harapan adalah suaminya akan berubah.

Sekarang kita beralih ke cerita Melati. Melati menikah dengan suaminya tanpa proses pacaran lama. Waktu itu pertimbangannya, suaminya dari keluarga yang baik dan mapan. Selama 7 tahun menikah, mereka punya 2 anak. Semua orang memandang mereka sebagai keluarga yang bahagia. Tidak ada masalah dalam keluarganya, kata Melati. Hanya ada satu kekurangannya, suaminya hiperseksual dan suka meminta gaya aneh-aneh dalam berhubungan seks, sementara Melati merasa tidak mampu. Suaminya seringkali kecewa dan mencibir Melati. Sampai 2 tahun belakangan, Melati baru tahu suaminya selingkuh. Bukan cuma selingkuh, tetapi juga sering berhubungan seksual dengan PSK. Karena sakit hati, Melati pun selingkuh dengan temannya yang tinggal di luar kota sampai akhirnya ketahuan suaminya. Melati memutuskan untuk meninggalkan pacarnya dan mau memperbaiki pernikahannya.

Hubungan Melati dan suaminya terasa baik-baik aja. Waktu Melati ulang tahun, suaminya kasih surprise datang ke kantor sambil bawa kue. Waktu wedding anniversary, suaminya ajak makan di fine dining. Orang-orang di sekitarnya langsung bilang, “Suaminya baik dan romantis, ya.” Masalahnya, setiap habis melakukan kebaikan, suaminya akan mengungkit-ungkit kesalahan Melati, “Aku suami yang baik, kan? Nggak kayak kamu dulu selingkuh. Aku ini ML sama cewek lain nggak pake hati. Kamu itu pake hati. Beda banget!” Sampai akhirnya Melati merasa mikir dia memang bukan istri yang baik. Suaminya pun berkali-kali memaksanya untuk berhubungan seks, di saat Melati tidak mau.

Akhir-akhir ini Melati mendapati suaminya baru saja menginap di sebuah hotel. Waktu dikonfrontasi, si suami bilang iya dia emang nginep di hotel sama cewek, tapi nggak ML, kok *MUNGKIN GA, SIH?*. Kemudian dikonfrontasi ke ceweknya, ya tentu saja mereka ML lah. Suami langsung baik-baikin Melati, minta maaf, manis banget. Bikin Melati goyah.

Dalam kasus Melati, dia punya ibu yang sangat suportif yang sangat mendukungnya kalau mau bercerai. Melati pun merasa dia punya pekerjaan yang bagus, secara finansial stabil, dan punya rumah sendiri (rumah yang mereka tempati sekarang adalah punya keluarga Melati). Tapi Melati ragu untuk keluar dari pernikahannya karena berpikir, seharusnya Melati jadi istri yang baik supaya suaminya tidak selingkuh.

Dua kisah di atas cukup berbeda, tapi sama-sama mengalami kekerasan. Kekerasan itu bukan cuma mukul, lho. Tapi kayak di kasus Melati, dia mengalami emotional abuse dan sexual abuse.

Kalau kamu ada di hubungan di mana tiap saat pasanganmu merendahkanmu, membuat self-esteem mu jatuh, kamu akan tumbuh menjadi orang yang percaya bahwa apa yang dikatakan pasanganmu itu benar. Kayak misalnya waktu kecil, kamu dibilang bodoh terus sama orang tua, lama-lama kamu akan percaya bahwa kamu bodoh dan bahwa ya udah takdirnya kamu bakal gagal sebelum kamu berusaha.

Sama seperti orang-orang yang ada di hubungan yang penuh kekerasan, yang akan disasar duluan oleh abusernya adalah emosinya. Seperti kisah di film Posesif, Yudhis selalu bilang, “Cuma aku yang cinta kamu di dunia, aku nggak akan ninggalin kamu, cuma aku yang ngerti dan bakal melindungi kamu.” Begitu terus, sampai akhirnya Lala merasa tanpa Yudhis, dia nggak akan bisa bertahan di dunia ini.

Lala marah banget ketika Yudhis kasar dan langsung mutusin. Tapi Yudhis minta maaf sampai memohon-mohon dan baik-baikin Lala dan teman-temannya. Lala akhirnya mikir, “Oh, mungkin kali ini Yudhis akan berubah.”

Perempuan itu tipikalnya nurturing, seringkali mikir bahwa kita bisa mengubah seseorang. No, kita nggak bisa mengubah seseorang kalau orang itu nggak mau berubah. Kecil sekali kemungkinannya orang yang berlaku kasar akan tiba-tiba sekejap berubah.

Akhirnya ketika memaafkan, maka muncul honeymoon phase. Fase manis, baik, dunia milik berdua dan dia adalah pasangan sempurna.

Seperti ini fase kekerasan dalam hubungan:

Honeymoon phase (ketika semua dalam hubungan terasa sangat manis) –> mulai terjadi konflik dan ketegangan –> terjadi kekerasan. Lalu kemudian, abuser akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan balik lagi deh ke honeymoon phase. Siklusnya akan selalu seperti itu. Maka satu-satunya cara adalah keluar dari siklus itu.

Itupun yang terjadi sama Lala dan Yudhis serta Mawar dan Melati. Ketika Lala balik ke Yudhis dan tampak bahagia, saya sampai tegang sendiri di kursi dan berharap ini bukan ending. Karena kalau ending-nya mereka happy bersama-sama akan menjadi pesan yang salah untuk banyak orang dan merasa bahwa mereka hanya perlu bertahan lebih lama agar bahagia dengan pasangannya dan pasangannya akan berubah.

Walau endingnya mereka tidak bersama, tapi sesungguhnya saya agak kecewa juga karena Lala pisah dengan Yudhis bukan karena Lala MAU, tetapi karena akhirnya hati nurani Yudhis tumbuh dan merasa dia akan mengulang hal yang sama ke Lala sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan Lala. Masalahnya, di kehidupan nyata nggak banyak abuser yang akhirnya sadar bahwa perbuatannya ini bisa membahayakan. Seringnya mereka nggak sadar dan tetap memaksa pasangannya berada di hubungan ini.

Jadi, kalau kamu merasa kok ada ya orang mau bertahan dalam hubungan yang menyakitkan seperti itu, bodoh sekali. Bukan, mereka nggak bodoh kok, tapi secara emosional mereka sudah terganggu sehingga mereka akan merasa pantas berada dalam hubungan seperti. Please help them out. Jangan memberikan harapan semu, seperti mereka akan berubah, coba berdoa lebih banyak. Iya bagus kalau berubah, kalau misalnya malah makin parah dan temanmu dalam bahaya gimana? Si abuser butuh diterapi dan si korban juga butuh dapat tempat yang aman dulu.

Akhir kata, coba ajak teman-temannya nonton film Posesif biar awarnessnya lebih besar lagi dan nggak ada kejadian seperti Lala dan Yudhis lagi.

 

 

 

Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.

Nggak Sabaran

Mau pengakuan, ah:

I am not the kindest and most patient mother.

Kalau lihat ibu-ibu Instagram (duileh, sumber masalah ibu-ibu jaman sekarang hahaha), kok ya sabaaaar banget bikin mainan edukasi untuk anaknya, ajarin macam-macam, bikin bento dengan tampilan yang cakep-cakep banget, dan segudang keahlian ibu-ibu lainnya yang bikin saya merasa….. “Gue kok nggak gitu, ya?”

Kesabaran saya setipis benang. Misal ajarin anak sesuatu, kalau anaknya nggak dengerin, lari sana sini, tanduk saya langsung muncul, lalu intonasi naik 7 oktaf. Lain waktu, suapin anak juga nggak sabaran. Kaleb itu hobi banget makan diemut (udah dicoba berbagai strategi; ganti menu makanan tiap 3x makan, beliin piring dan gelas yang lucu, dll. Kalau anaknya lagi nggak mau,  ya diemut aja makannya). Jadi udah bisa dipastikan mata melotot, teriakan membahana. Begitupun soal tidur, kalau udah diajak tidur, matiin lampu, kasih susu, tiduran di atas dada saya sambil pegang-pegang tetek, trus nggak tidur juga sementara saya udah ngantuk banget, mulai deh merepet ngomel-ngomel.

Makanya saya suka merasa profesi guru anak-anak itu hebat sekali. Saya ngadepin satu anak aja lelah luar biasa, ini ngadepin beberapa anak dengan beberapa tingkah laku. Luar bisa hebatnya lah. Suatu hari ketika saya masih polos dan merasa anak kecil itu lucu, saya pun bercita-cita jadi guru TK. Mendaftarlah saya ke sebuah preschool. Pemiliknya baik sekali dan ajak saya untuk saat itu juga cobain jadi guru preschool, menghadapi lebih dari 10 anak kicik-kicik yang lucu. At the end of the day, I gave up. Hahahaha, they were so cute, tapi saya nggak sanggup menghadapi mereka semua, denger suara teriakan dan rengekan, rebutan bicara dan perhatian. Energi saya habis blas dan seharian rasanya nggak pengen ketemu siapa-siapa lagi. Oh, life as an introvert. Sejak itu saya belajar, I’m no good with kids. Kurang nurturing banget saya. XD

Ketika punya anak, kesabaran jadi ujian saya. Dulu bahagia banget rasanya pas Kaleb pertama kali bisa manggil Mami. Setiap dia panggil Mami rasanya berbunga-bunga dan terasa seperti suara terindah. Sekarang, anaknya dikit-dikit, “MAMI MAMI MAMI!”. Saya menarik napas dalam dan bilang ke anaknya, “Panggil Papa aja. Minta tolong Papa aja. Sama Papa dulu, ya.” Give me a break lah, jangan dikit-dikit Mami. Hahaha.

Pas Lebaran di mana Mbak pulang kampung adalah masa-masa kesabaran paling diuji. Harus bersihin rumah dan ngurusin anak itu menguras emosi. Mana saya orangnya semuanya harus serba teratur, beres, bersih, jadi capek sendiri. Itu aja saya udah bilang ke diri sendiri, nggak usahlah ngepel tiap hari, nggak perlu cuci baju tiap hari, nggak perlu tempat tidur rapi-rapi amat. Kenyataannya, lho kok rumah berdebu kan jadi jorok; PEL! Cuci baju Kaleb ajalah karena dia kan banyak ganti baju karena keringetan mulu. Kenyataannya; ya udahlah sekalian aja cuci baju sendiri. TIAP HARI. Yang ada capek sendiri, kesel sendiri, kesabaran menipis.

Saya punya beberapa idealisme yang akhirnya bikin saya capek sendiri. Misal, weekdays itu harus cepat pulang karena gantian ngurus Kaleb sama Mbak dan Opung. Kasihan mereka udah seharian jaga Kaleb dan saya ngerasa nggak tega harus nongkrong pulang kantor sementara mereka udah kecapekan. So I give up my social life on weekdays (makanya ajak saya ketemu pas makan siang aja, deh. Hahaha). Di weekend, saya yang 100% pegang Kaleb dari bikin makanan, mandiin, suapin, dan lain-lain. Makanya ke mana pun saya jalan pas weekend, Kaleb ikut. Mbak kerjaannya nggak banyak pas weekend biar bisa istirahat karena saya tahu ngurus anak tuh capek banget.

Makanya saya sangat terbantu banget ada Mbak yang bisa beresin rumah dan masakin makanan, walau masakannya itu-itu aja. Hahaha. Nggak papa, weekend saya yang masak. Ada suami yang paham banget, tiap pulang kerja saya butuh me-time sendiri setidaknya 30-45 menit sehingga suami yang ajak Kaleb main dan jalan-jalan dulu. Bahkan kadang-kadang kalau di rumah, saya minta Mbak yang nemenin Kaleb jalan-jalan keliling komplek walau Kaleb maunya sama saya. Sungguh saya butuh waktu sebentar untuk diri sendiri. Maaf ya, Kaleb.

Mana sekarang Kaleb udah bisa berkomunikasi lancar 2 arah, jadinya udah bisa ngeyel. Semakin dilarang, semakin dilakukan. Disuruh beresin mainan pake tarik urat dulu, drama nangis-nangis kayak disuruh maju perang. Mainannya sih diberesin, tapi masukin 1 mainan aja luamanyaaa minta ampun. Akhirnya ujung-ujungnya lebih banyak saya juga yang beresin mainannya. Ya daripada kesel sendiri, kan? *failed amat sih! Hahaha* Diajak mandi susah banget, disuruh udahan mandi juga susah. Belum lagi di kamar mandi apa-apa maunya sendiri. Bagus, dong? Nggak juga soalnya sampo dibuangin, odol dihabisin, sabun buat bersihin tembok. Lucu, ya? Nggak lucu lagi sih kalau udah keseringan (plus mamak bisa bangkrut lah bentar-bentar beli sabun). Hahaha.

Itulah kenapa saya jarang posting aktivitas Kaleb di sosmed. Ya karena, hampir nggak ada yang luar biasa. Aktivitasnya main-main, bukan yang pake mainan edukasi atau apalah yang kekinian sekarang. Hahaha, duh mamak pemalas, ya. Habis berantakin mainannya, trus jalan-jalan di luar. Itu pun sukanya jalan-jalan ke supermarket supaya bisa main dorong-dorongan troli kecil dan ambilin apapun yang dia suka. Ya terserah aja, deh. Hahaha.

Itu juga yang bikin pas weaning nunggu waktunya Kaleb sendiri yang siap karena sesungguhnya saya malas dan nggak punya energi untuk mendengar teriakan marah-marah dia kalau nggak dikasih nenen. Udahlah ngantuk, harus denger teriakan lagi. Oh, sungguh saya nggak sabar. Toilet training Kaleb pun nggak jago-jago banget. Kaleb masih suka kelupaan ngompol. Ya mungkin karena saya kurang konsisten kalau pergi ke luar rumah masih dipakein diapers dan nggak cukup sabar bawa dia ke WC tiap jam. Hahaha, jangan ditiru, ya.

Makanya punya anak itu jadi refleksi banget buat saya. Ternyata saya orangnya nggak sabaran. Pake banget nget. Hahaha. Dan jadi ibu bikin saya paham bahwa saya nggak bisa sempurna dan nggak perlu jadi sempurna. Saya harus paham kelemahan saya di mana dan berusaha menurunkan idealisme saya. Jadi ibu itu harus mengutamakan kebahagiaannya sendiri dulu karena ketika ibunya bahagia, moodnya bagus, dan happy ngurus anak juga jadi lebih gampang (eh, ngurus anak sih nggak pernah gampang sih, ya. Hahaha). Semoga kesabaran saya bertambah-tambah sebanyak pasir di laut, ya.

Ibuk-ibuk di sini ada yang nggak sabaran juga nggak? Sharing dong.

 

Belum Siap

Weekend ini dimulai dengan Mbak yang sakit. Awalnya kakinya sakit cantengan jadi jalannya pincang, lalu tiba-tiba perutnya nyeri sampai dia tiduran. Akhirnya pulang kantor langsung dibawa ke Puskesmas (pengen cerita soal Puskesmas yang sekarang keren banget, tapi di lain postingan aja, deh). Ternyata Mbak kakinya infeksi dan maag akut sehingga weekend ini saya bebaskan tugas dan biarin aja dia istirahat. Alhasil, Sabtu dimulai dengan belanja ke pasar, masak makanan Kaleb dan Mbak, tidurin dan mandiin Kaleb, kasih makan Kaleb, endesbrei endesbrei. No leyeh-leyeh.

Lalu Bapake telepon bilang kalau dese nggak enak badan, muntah-muntah, diare, meriang. Hm, perasaan kemarin baik-baik aja. Setelah ditelusuri, kemarin di kantornya ada acara tumpengan dan dia makan nasi tumpeng. Besoknya beberapa orang yang makan nasi tumpeng diare juga.

Sudah selesai? Belum. Malamnya Kaleb sumeng. Belum sampai panas, sih. Masih dikisaran 37,2 derajat, anaknya masih ceria dan aktif. Tapi jadi moody dan seharian nggak nafsu makan, serta clingy banget. Eh, pas malamnya malah muntah-muntah.

Mamak, Puji Tuhan, baik-baik aja. Emosinya aja yang terganggu karena orang serumah sakit. Hahaha!

Nah, jadi kalau ditanya kapan nambah anak lagi, I will remember this day. One of the hardest days of my motherhood journey.

Masih ingat cerita waktu saya tahu hamil dulu? Ceritanya di sini. Singkat cerita, waktu itu setelah 2 tahun ngotot hamil dengan segala cara, saya bilang ke Tuhan kalau saya siap punya anak. Siap yang disertai rasa ikhlas dan pasrah. Jadi, kalau Tuhan mau kasih puji Tuhan, kalau Tuhan belum mau kasih mari nikmati hidup. Rasanya hati plong banget karena merasa apapun yang diputuskan Tuhan, saya siap. Saya ingat banget waktu itu berdoa seperti itu di perjalanan pulang habis jenguk sepupu yang baru melahirkan di awal bulan Juli 2014. Dua minggu kemudian, saya baru tahu saya hamil 5 minggu. Berarti Tuhan sudah memberikan sebelum saya meminta, kan. Isn’t He amazing?

Tapi kalau ditanya sekarang, apakah saya siap untuk anak lagi? Saya biasanya diam sebentar, tutup mata, membayangkan proses melahirkan SC kemarin yang masih bikin trauma, masa-masa newborn yang sungguhlah lelah luar biasa, sempat baby blues, masa-masa pumping non stop kejar setoran selama 20 bulan, dan menyusui 2 tahun 4 bulan. Sungguh ya, itu lelahnya aja masih berasa banget.

Saya baru bisa bernapas lega 2 bulan terakhir karena anaknya udah stop nenen dan baru di usia 2 tahun ini anaknya bisa tidur sepanjang malam. Sebelum itu, tidur ya selalu kebangun karena Kaleb minta nenen. Jadi disuruh ngulang itu semua lagi sekarang? Stop, nanti dulu, deh.

Waktu itu saya pernah nanya ke Mama saya, “Kok pengen punya anak lagi? Emang nggak ingat sakitnya pas melahirkan?”. Mama saya menjawab, “Lama-lama akan lupa kok sakitnya, digantikan kepengen punya bayi lagi.” Oh ya? Kok saya masih ingat rasanya jantung mau copot masuk ke kamar operasi, sendirian menggigil kedinginan di kamar pemulihan, pertama kali belajar duduk dan jalan yang sakitnya ampun-ampunan, sembelit karena habis operasi yang bikin mau pup aja sampe nangis, selama 1 bulan bekas jahitan masih sakit yang bikin mau gerak juga susah tapi harus gerak untuk ngurus anak (anyway, saya sampai sekarang aja masih nggak berani lihat bekas jahitan sc sendiri, lho). Rasa sakitnya masih jelas buat saya karena walau setelah 1 bulan itu udah nggak terasa, tapi begitu ketendang anak yang nyeri juga rasanya.

Sebagai orang yang juga pencemas, buat saya masa-masa ASI eksklusif juga menjadi tekanan buat saya. I love breastfeeding. Tapi saya nggak suka pumping. Rasanya lihat botol hasil perahan tuh semacam kayak ngumpulin ujian. Nggak mood dikit, langsung hasilnya dikit. Jaga mood itu susah banget! Konsisten pumping demi ASIP tercukupi juga melelahkan.

Selain hal-hal di atas, ada banyak hal juga yang jadi pertimbangan lainnya. Salah satunya, Kaleb yang belum siap. Beberapa kali saya tanya ke Kaleb, “Mau punya adik nggak?”. Yang dijawab, “NGGAK!”, lain waktu dia bilang, “Mami, tempat tidur ini sempit, buat Mami sama Kaleb aja.” Dih, padahal tempat tidurnya lebar. Bisa aja doi! XD Kalau ngomongin soal adik, dia bisa pura-pura nggak dengar, mengalihkan pembicaraan, atau langsung peluk saya sambil bilang, “Kaleb sayang Mami”, biar saya nggak ngomongin adik lagi. Belum lagi kalau saya lagi gendong anak orang, dia akan marah, pegang saya kuat, dan bilang, “Mami, jatuhin aja adiknya!”. Ebuset, anak orang itu, Kaleb! So I guess, he’s not ready yet.

Jadi kalau ditanya orang kapan nambah anak lagi, saya pasti bilang, “Nanti-nanti, deh!”.

 

 

 

 

(Sebenarnya ada lebih banyak alasan lagi kenapa belum mau nambah, tapi mungkin akan ditulis di post lain. Hihihihi)

 

 

 

 

 

Review: Madagascar PS

Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman ke Madagascar Plaza Senayan, restoran bergaya hutan yang baru buka dan punya konsep yang seru banget. Sebagai mamak-mamak punya krucil, kami excited mau ke sana karena anak-anak pasti suka.

Waktu itu saya yang pertama kali datang, sekitar jam 13.00. Ada resepsionis di depan dan harus waiting list. Udah ketebak sih, secara lagi hits banget jadi pasti banyak orang yang mau ke sana, plus waktu itu weekend. Diminta untuk meninggalkan nomor telepon karena ketika ready mereka akan menelepon saya. Beklah. Kesan pertama, yang bagian resepsionisnya kurang ramah, nggak ada senyum sama sekali, dan terkesan jutek. Dia nggak pake baju seragam, jadi mungkin pemiliknya? Anak pemiliknya? Manajer? Entahlah.

Sepertinya masih lama menunggu, jadi saya memutuskan makan di restoran lain dulu karena bawa anak kecil, kan. Gawat aja kalau udah cranky karena kelaparan. Pas makan, teman-teman saya datang ke restoran lain itu karena kami tahunya akan ditelepon. Selama belum ditelepon, kami menunggu di tempat lain, dong.

Udah puas, kenyang, ngobrol ngalor-ngidul sampe 2 jam, baru sadar lho kok belum ditelepon. Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke atas lagi. Pada waktu tanya ke bagian resepsionis di depan yang tadi jutek, mereka bilang, “Oh iya, udah ready, nih.” Hmm, jadi bagian mananya nih yang bakal ditelepon?

Begitu memasuki pintu, emang suasananya bagus banget, kayak di hutan beneran dengan pohon-pohon menjuntai, lampu yang agak temaram, dan replika hewan-hewan seperti jerapah, gorila, macan, gajah yang gede banget seperti aslinya. Beberapa hewan bahkan bisa bergerak. Uwow, keren! Anyway, karena pencahaannya temaram jadi kalau mau foto harus pake flash atau ya hati-hati karena banyakan jadi blur. Huhuhu.

Kami duduk di meja ujung dekat gajah. Anak-anak sih excited banget karena serasa ada di kebun binatang. Secara dekorasi interior luar biasa bagus, sih. Empat jempol.

Sayangnya, lagi-lagi service-nya kurang. Pelayan di dalam nggak ada yang senyum, mungkin karena overload dengan banyaknya pengunjung, tapi tetap aja karena kami merasa sering dicuekin. Minta sesuatu susahnya minta ampun karena dengan tempat seluas itu, mereka nggak ada di dekat meja kami yang terletak di ujung, jadi kalau mau manggil ya ngamperin mereka.

Waktu itu kami pesan pizza, french fries, dan minuman. Iyes, akhirnya pesan snack aja saking kelamaannya nunggu jadi udah kenyang makan di tempat lain. Ketika diantarkan pizza dan french fries, hanya diberikan satu cup kecil sambal. Pada waktu meminta tambahan sambal, pelayannya hampir menolak. Loh, kaget dong kita. Kok minta sambal aja nggak boleh. Lalu kami bilang, “Sambal botol lho, Mbak.” Akhirnya baru boleh. Jadi sepertinya kalau minta sambal default racikan mereka untuk pizza itu nggak boleh nambah (karena dia lihat dulu ke meja kita sambalnya), tapi kalau sambal botol boleh. Duh, capek ya minta sambal aja repot. Rasa makanannya sendiri, sayang sekali biasa aja. Nothing’s special. Huhu.

Ada ular di atasnya!

Jadi kesimpulannya, tempatnya bagus banget, cakep buat foto-foto, tapi rasa makanan kurang, dan yang paling kurang adalah service-nya. Setelah selesai makan, kami kompak bilang satu sama lain, “Pelayannya pada jutek semua, ya.”

Semoga servicenya bisa diperbaiki, ya. 🙂

 

Main Basket, Yuk!

IMG_20170909_150919

Beberapa bulan ini, saya lagi nyari kegiatan buat Kaleb. Kaleb belum mau dimasukkan ke sekolah, tapi dia sangat suka bersosialisasi (ehm, dia lebih kenal tetangga daripada saya. Hahaha), dan dia butuh kegiatan yang lebih terarah. Satu-satunya kegiatan Kaleb sekarang adalah sekolah minggu. Tapi nggak mau yang harus setiap hari berkegiatan karena nanti dia capek. Kan dia masih 2 tahun.

Awalnya mau les musik. Kebetulan di Yamaha ada kegiatan untuk anak 2 tahun: Music Fantasy. Setelah survey dan lihat kegiatannya, saya cukup ragu karena mostly kegiatannya adalah menyanyi bareng di tempat (YAEYALAH, KAN LES MUSIK, MI! XD), dan didampingi orang tua. Ini pertimbangan lainnya, saya pikir Kaleb sudah cukup besar untuk menerima instruksi dan ingin dia lebih mandiri, jadi berharapnya orang tua nggak perlu ikut di dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir kelas aja. Kalau cuma menyanyi dan dance, Kaleb rasanya akan cukup bosan karena di sekolah minggu sama persis yang dilakukan. Tiap di sekolah minggu anaknya di tengah kegiatan bosan dan akhirnya sibuk lari-lari.

Oh ya, sampai saat ini saya masih cukup yakin Kaleb adalah anak kinestetik yang mana dominan sekali menyukai kegiatan yang membutuhkan fisik, gerakan, praktek. Akhirnya saya pikir, Kaleb akan cocok dengan kegiatan olahraga. Sempat survey ke beberapa tempat, termasuk Rockstar Gym. Untuk anak 2 tahun dengan bayaran cukup besar, kegiatan Kaleb terbatas. Banyakan ke baby gym, baby dance, yang mana Kaleb kurang suka.

Kaleb suka sesuatu yang bentuknya permainan dan olahraga beneran, seperti sepak bola. Saya pun cari les sepak bola. Susahnya adalah jarang banget untuk anak toddler, biasanya untuk anak yang lebih besar, seperti 3-4 tahun ke atas. Tapi akhirnya nemu di @littlekickers_id. Senangnya Little Kickers ini ada beberapa cabang. Yang paling dekat dengan rumah (walau nggak dekat-dekat banget) ada di PIK. Sayangnya, ternyata kuota belum mencukupi sehingga belum bisa dibuka. Yah, kuciwa!

Sampai suatu hari, @lilhoopsters mengirimkan DM ke saya, entah tahunya dari mana. Pas saya cek, loh loh loh… les basket dan bisa untuk anak toddler dari 18 bulan. PAS BANGET! Mana mereka nawarin free trial, kan. Tentu saja akyu mau!

Kendalanya adalah, tempatnya lumayan jauh dari rumah, yaitu di Kemang. Tapi setelah diskusi sama suami, Kemang masih bisa dicapai dengan tol JORR 2 yang membuat akses cukup mudah dan cepat. Plus waktunya sore hari sehingga nggak drama bangunin Kaleb buru-buru pas pagi hari.

Sebelum membuat keputusan, saya berkali-kali nanya ke Kaleb dulu, secara dia yang bakal jalanin, “Kaleb, mau les musik atau bola?”. Selalu dijawal bola. Ditanya lagi, “Kaleb, mau les bola atau basket?” Dijawab basket. Lalu pertanyaannya diubah-ubah lagi urutan pilihannya. Selalu pilih basket. Yang paling nggak pernah dipilih adalah les musik. Hahaha. Jadi fix memilih basket. Karena kalau dia pilih bola, Mamak akan tetap mengarahkan ke basket karena les bolanya belum buka. Hahaha.

Awalnya, Kaleb daftar untuk kelas Junior (18 bulan – 2,5 tahun). Tapi pas hari H, karena kecepatan datang, yang mulai duluan adalah kelas Rookie (2,5 -3,5 tahun). Jadi Kaleb ikutan aja. Lagian bulan ini Kaleb tepat 2,5 tahun. Untuk kelas Rookie, orang tua tidak wajib berpartisipasi lagi dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir lapangan aja. Anak akan full bersama coach-nya.

Latihannya sederhana sih, seperti melempar bola ke arah yang ditentukan, dribble, masukin bola ke tiang basket, lari zig-zag, dsb. Diawali dengan warming up dan diakhiri dengan cooling down. Tadinya khawatir Kaleb nggak akan paham, karena di kelas itu dia peserta paling kecil. Tapi ternyata dia paham semua instruksinya, ikutan setiap kegiatannya, dan paling excited kalau udah harus pegang bola dan masukin ke tiang. Bahkan kalau ada water break, Kaleb cuma minum dikit, trus langsung nanya, “Bolanya manaa?” Woy, istirahat dulu bentar! :))))

Ini bikin terharu sih karena kalau di sekolah minggu, Kaleb ogah-ogahan ikut gerakan dance. Kaleb patuh sih duduk di depan, ikut dengerin, tapi nggak ikut gerakan dance atau nyanyi. Yang ada rusuh muter-muter. XD Jadi pas dia ternyata tertib ikutin instruksi dari awal sampai habis, saya jadi senang. Ternyata dia akan lebih mau melakukan sesuatu, kalau dia suka.

Selesai main basket, anaknya langsung bilang, “Kaleb suka main basket.” :’) Trus pas di rumah dia ulang lagi gerakan-gerakan pas stretching. Hahaha, lucuk!

Anyway, Lil’ Hoopsters ini cukup serius dalam bikin kurikulumnya karena coach-nya sendiri adalah Pringgo Regowo, atlet basket nasional dari Aspac. Kalau ditanya dia siapa sungguh awalnya saya nggak tahu karena saya nggak paham basket. Tapi akhirnya saya googling dan kagum dengan prestasinya. Dan ternyata dia sendiri yang turun tangan melatih pas basket kemarin. Yang paling penting, mereka punya passion untuk mengajar anak-anak dan tetap mengedepankan sisi fun-nya.

Ada yang mau ikutan Kaleb main basket?