Review: Dilan 1991

 

Walau saya udah jarang nulis blog lagi (maap sungguh Instagram mengalihkan perhatianku, hahahaha), tapi film ini wajib dapat review dari saya. Film yang udah bikin setahun terakhir nggak konsen mau ngapa-ngapain karena bikin baper. #sungguhlebaytapinyata

DILAN 1991

8289cf65dcb7c9f288e032fc074a726c

Sinopsis: Kalau di Dilan 1990 menceritakan kisah Dilan yang pdkt dengan Milea dengan segala keunikan dan kegombalannya yang bikin kita senyum-senyum sendiri bagai anak ABG lagi, di Dilan 1991 ini adalah kisah Dilan dan Milea sesudah pacaran dan konflik yang mereka alami.

Review:

Dulu saya nonton Dilan 1990 sebanyak 4 kali. Senang banget waktu itu efek keluar dari bioskop senyum-senyum bahagia berasa digombalin Dilan. Tapi jeda dari nonton pertama dan nonton berikutnya bisa berhari-hari atau semingguan. Sementara waktu nonton Dilan 1991, begitu keluar bioskop berasa udah kangen lagi dan besoknya saya nonton lagi sama suami. Dan masih kangen lagi sehingga dua hari kemudian nonton lagi. Hahaha. Jadi selama 4 hari penayangan Dilan 1991, saya udah nonton 3 kali. WOW! *tepuk tangan untuk perempuan baper satu ini*

Buat saya Dilan 1991 lebih bagus daripada Dilan 1990. Pertama, sinematografinya jauh lebih memanjakan mata. Gambarnya clear dan penempatan kameranya sungguh kece. Banyak shoot yang bikin kagum. Ada satu scene di mana Dilan Milea lagi naik motor dan berhenti di pinggir jalan. Kameranya ngambil dari belakang motor, lalu tiba-tiba melesat ke depan. Keren banget jadinya. Di 1991 juga nggak ada adegan green screen yang jelek. Semua berjalan smooth. Kekurangan di 1990 benar-benar diperbaiki di 1991.

Tadinya khalayak ramai takut chemistry Iqbaal dan Vanesha akan berubah setelah kericuhan yang terjadi setahun belakangan ini, tapi ternyata chemistry mereka masih bagus banget. Tatap-tatapan mata antara Dilan dan Milea terbaik banget. Kalau kata Ivan Gunawan, tatapannya kayak voucher listrik. Hahaha. Sungguh bikin gemes dan pengen cubit-cubit diri sendiri (ya, kalau nontonnya sendirian). Kemampuan akting Vanesha meningkat pesat. Kalau di 1990, aktingnya masih kaku, nangisnya masih nggak meyakinkan, di 1991 ini aktingnya bagus banget. Ada satu scene di mana Milea nelepon Bunda sambil nangis dan itu nangisnya sesenggukan sampai bikin rasanya pengen peluk dia. Sedih banget. Selain itu, matanya yang sembab sampai kantung matanya kelihatan banget itu sungguh keren, sih. Sementara akting Iqbaal meningkat juga. Small gesture-nya dia bikin kita bisa merasakan emosi dia. Tapiiii, sebagai pemerhati Iqbaal dan Vanesha setahun terakhir, sebenarnya di beberapa scene, saya merasa itu bukan Dilan, tapi Iqbaal karena Dilan tidak seperti itu. Ini nggak terlalu mengganggu karena kalau yang nonton orang awam dan nggak intens merhatiin mereka, nggak akan terlalu berasa juga.

Sebelum kita masuk ke ceritanya, bahas dulu kekurangan di film ini, ya. Pertama, scene Pak guru creepy cukup ganggu dan boleh lah yang itu nggak masuk karena nggak terlalu ngaruh ke cerita. Kedua, wig-nya Bunda kenapa masih ganggu aja, ya? Bisa kali dipilih wig yang lebih bagusan. Ketiga, penempatan product placement agak kasar: Loop belum ada pada masanya, botol Teh Sosro terlalu kekinian karena seingat saya dulu desainnya bukan begitu. Tapi kalau lagi fokus ke filmnya, ya nggak terlalu ganggu gimana juga, sih. Keempat, saya sih udah pasrah dengan pemilihan Andovi sebagai Mas Herdi, tapi mbok ya tolong saya dikasih penjelasan kenapa kancing kemeja Mas Herdi dibuka 3 kancing gitu? Serasa abang angkot banget. Kan saya jadi susah ingin mendalami kenapa Milea akhirnya mau sama Mas Herdi kalau cara berpakaiannya aja bikin kesel.

Sekarang ke ceritanya. Walau saya anaknya receh dan cinta banget sama semua yang manis-manis, tapi saya nggak suka film yang nggak ada konflik berarti. Jadi setelah dipikir-pikir, di 1990 yang bikin saya nggak cepat-cepat nonton lagi karena ya semua berjalan sungguh manis tanpa konflik berarti. Well, tapi namanya pdkt kan pasti yang ditunjukin yang manis-manis, ya. Semua terasa indah kayak di negeri dongeng.

Nah, awalnya saya pikir saya nggak akan nonton berkali-kali 1991 karena banyak konflik yang bikin sedih dan sesak (pasti tahu kalo udah baca novelnya). Tapi ternyata saya salah. Konflik itu yang bikin makin nagih buat saya. Karena perasaannya benar-benar diangkat, lalu dilempar. Saya jadi investasi emosi yang besar di film ini dan akhirnya malah pengen nonton lagi.

Buat saya 1991 lebih real. Ketika kita pacaran, mulai lah kita beradaptasi dengan sifat pacar yang mungkin di masa pdkt kita nggak tahu, berkompromi dengan value-value yang berbeda, dan berusaha mencari jalan ke luar dengan komunikasi. Bisa akhirnya hubungannya makin kuat atau malah jadi berpisah. Dan di 1991 ditunjukin semua itu. Semua konflik itu nggak bisa lagi cuma diatasi dengan sekedar gombalan. Makanya wajar sih kalau di 1991, gombalannya jadi sedikit. Karena ya segombal-gombalnya elo kalau udah pacaran ya kesel juga digombalin mulu kalau lagi serius. Ye kan?

Kalau ada yang bilang Milea kok sering banget nangis? Hm, mungkin yang dipake adalah persepsi diri kita sendiri di usia sekarang dengan pandangan yang lebih matang. Karena kalau bayangin umur 17 tahun, alat komunikasi cuma telepon rumah atau telepon umum (belum ada HP jadi nggak bisa cari tahu lewat last seen, D atau R, dan nggak ada sosmed buat stalking), lalu pacar ketangkep polisi karena tawuran dan dipenjara, paniknya kebayang deh kayak apa. Pengen langsung lihat pacar tapi nggak tahu ke mana, hubungin ke mana, harus ngapain? Yang ada frustasi sendiri dan nangis mengira-ngira apa yang harusnya dia lakukan sih saat keadaan gini. Jadi ya itu respon wajar anak ABG menghadapi konflik sebesar itu. Ngeselin emang hahahaha!

Di 1991 ini scenes favorit saya adalah: SEMUA SCENES DILAN MILEA LAGI PACARAN. Ya ampun gemesnya level pengen karungin dua anak ini dan dibawa pulang ke rumah biar kalau saya lagi bete, saya lihatin aja mereka pacaran dan langsung jadi happy lagi. Hahaha!

Kalau di 1990 saya bagi-bagi gombalan Dilan, di 1991 saya mau bagi-bagi interview promo mereka yang super gemes dan bikin saya ngulang-ngulang 1000 kali nontonnya. Hahaha.

Dan lain-lain banyak banget. Hahaha.

Jadi menurut kalian, berapa kali kah saya akan nonton Dilan 1991?

Advertisements

Mata Bengkak Karena Keluarga Cemara

Mengawali tahun 2019 ini dengan nonton Keluarga Cemara di bioskop. Tadinya Keluarga Cemara nggak termasuk di daftar film yang bakal saya tonton. Walau dulu suka banget nonton sinetronnya, tapi bukan yang favorit banget. Lalu, Teppy kasih skor 9,5/10 untuk film ini. Skor tertinggi yang pernah dia kasih untuk sebuah film. WOW banget, kan. Karena film tentang keluarga, saya ajak suami untuk nonton.

Sinopsis: Abah (Ringgo Agus Rahman) mengalami kebangkrutan sehingga keluarganya harus pindah ke peninggalan rumah Aki di desa bersama Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48), dan Ara (Widuri Puteri). Dari yang tadinya mapan, sekarang harus beradaptasi dengan hidup yang jauh lebih sederhana.

Review:

Buat saya film ini bagus banget nget nget. Senangnya karena awal tahun udah disuguhi film sehangat, semenyenangkan, dan penuh cinta seperti ini. Hati rasanya hangat.

Di film ini semua aktingnya pas, nggak ada yang berlebihan. Ringgo Agus Rahman yang selalu identik dengan peran-peran lucu dan konyol, di sini bisa jadi Abah yang tegar, tapi juga lembut, hangat, dan bertanggung jawab. Abah yang mau melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya. Akting Ringgo benar-benar bagus dan keluar dari peran tipikalnya yang biasanya lucu dan konyol. Saya bisa lihat di raut wajahnya ketika ia berusaha tersenyum, padahal hatinya hancur. Duh.

Nirina Zubir sebagai Emak bisa memerankan seorang ibu sebagai tiang keluarga yang bisa menghangatkan keluarga. Tanpa Emak, keluarga ini mungkin akan runtuh. Nirina mampu menggambarkan sosok Emak yang bijaksana dalam tiap mimik terkecilnya. Saya jarang banget suka akting Nirina, tapi di sini dia main bagus sekali.

Saya cuma pernah lihat akting Zara di film Dilan sebagai adik Dilan. Perannya kecil banget, tapi cukup mencuri perhatian. Di Keluarga Cemara, Zara sebagai Euis bermain bagus banget. Yang paling teringat adalah ketika Euis tersenyum getir. Berusaha senyum, tapi terpaksa dan mau nahan nangis. Hatiku hancur, Mak!

Dan, Widuri sebagai Ara adalah scene stealer banget. Perannya sangat lovable, lucu, menyenangkan, selalu membuat tertawa. Untuk film pertamanya, dia bisa berakting dengan luwes dan nggak kaku. Keren banget.

Untuk pemeran sampingan lainnya, nggak ada yang gagal. Porsinya pas, kelucuannya nggak dibuat-buat. Nggak ada yang terasa dipaksakan harus melucu. Membandingkan dengan film terakhir yang saya tonton, Milly dan Mamet, masih ada peran-peran yang menurut saya sia-sia dan dipaksakan, tanpa peran itu film akan tetap berjalan dengan baik. Nah, di film ini nggak ada peran yang sia-sia. Semuanya punya peranan penting untuk keberlangsungan film.

Dramanya bukan dibuat untuk menye-menye, tapi karena dia berusaha banget nggak menye-menye, semuanya terasa lebih menyentuh. Mungkin buat saya ini jadi emosional banget karena sebagai orang tua, saya tahu semua yang dirasakan Abah dan Emak. Saya paham rasanya ingin selalu membahagiakan anak, tapi sebenarnya kita sendiri sedang hancur. Tahu rasanya ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak, tapi nggak mampu. Kenal dengan rasa melarang anak melakukan sesuatu, bukan karena nggak bisa, tapi karena takut ia merasa luka yang lebih dalam. Dan sampai saya nulis ini, saya masih bisa merasakan perihnya, sedihnya, dan sayangnya. Being a parent is hard, yet it’s rewarding. :’) Dan sebagai anak, saya bisa paham rasanya jadi Euis, yang seringkali harus ngalah sama adik, yang harus berusaha dewasa dan kuat padahal rasanya ingin nangis guling-guling, yang cemas banget sama keadaan orang tua tapi mau ngomong sama siapa karena nggak ingin nambah kecemasan orang tua. *nangis segerobak*

Dan belum cukup juga, soundtracknya bagus banget. Di Youtube dan iTunes baru keluar 2 soundtrack yang dinyanyiin oleh BCL. Masih ada lagu-lagu lainnya, yang sama bagusnya dengan liriknya yang bagus banget.

Cobak, gimana nggak nangis dengar suara lembut BCL nyanyi lagu Harta Yang Berharga?

Lalu dengarkan lagu ini. Saya nangis banget pas lirik:

“Di sini juga tak apa

Asalkan saling punya.

Begini juga tak apa

Karena kita bersama.

Percaya saja akhirnya

Satu hari nantinya

Semua ini akan jadi

Cerita yang indah.”

Monmaap, ini lagu dikasih bawang atau gimana, kok selalu bikin mewek?

Saya mau banget disuruh nonton film ini berkali-kali lagi. Tapi kayaknya saya perlu menetralisir emosi dulu karena sungguh habis nangis sepanjang film, terbitlah kepala pusing. Hahaha. Sebagus itu lah filmnya.

Ya udah ya, tolong ditonton filmnya di bioskop. Kalau udah kabari saya, nangis berapa ember? 🙂

Bandung Lagi

Biasanya tiap akhir tahun, kami selalu menyempatkan diri ke Bandung. Buat saya Bandung itu isinya penuh kenangan manis dari kecil sampe dewasa. Selalu ada rasa kangen untuk kembali ke sana.

Karena Kaleb udah semakin besar, jadi semakin asik untuk dibawa. Dan saya pun makin santai, nggak seribet pas masih kecil dulu. Pokoknya ekspektasi nggak usah tinggi-tinggi amat lah. Makan nggak banyak? Ya ndak apa-apa. Males minum susu? Tak apa-apa. Capek? Ya udah istirahat aja di hotel. Asik lah. Selain itu, walau tentu saja nggak ada itinerary, tapi kali ini saya udah list banyak tempat yang mau dikunjungi. Mana yang akan dikunjungi, nanti tergantung mood.

Highlight untuk trip kali ini adalah:

Kota Mini, Lembang
Hal pertama yang dilakukan pas sampai Bandung adalah main-main di Kota Mini untuk nyenengin Kaleb. Tentu saja ya Floating Market di jaman liburan kayak gini penuh sesak. Huhuhu. Untung parkiran udah diperluas jadi cepat dapat parkir. Baru masuk, kita harus bayar Rp 20.000/orang untuk tiket masuk.

Jalan kaki melewati Floating Market, naik tangga tinggi banget menuju Kota Mini. Di sana, kita harus antri beli tiket lagi, Rp 25.000/orang. Untuk main wahananya bayar lagi, Rp 25.000/ wahana, atau beli tiket terusan Rp 98.000/ 5 wahana. Nanti kita dapat boarding pass dan kartu yang akan digesek di tiap wahana. Tentu saja saya beli tiket terusan dong, biar hemat mikirnya. Ternyata salah sodara-sodara, kecuali anaknya emang pengen main semuaaaanya, mending beli per wahana aja, deh. Karena lagi high season, jadi tiap wahana tuh antriannya panjang bener. Ngantri lama, anak cranky. Dan jatuhnya emang ke Kota Mini nggak murah ya, karena semua kan harus bayar.

Jadi, karena saya ibuk-ibuk medit, tentu saja saya rela bertahan untuk menghabiskan 5 wahana. Bahahaha! Jadi pertamanya saya antri di wahana Pemadam Kebakaran. Antrinya mayan deh panjang. Karena anaknya keburu cranky, jadi kami akhirnya cari wahana lain yang nggak antri. Kaleb milih baby clinic. Banyakan sih yang ke sini anak perempuan. Padahal kan yang jadi petugas medis banyak yang cowok juga, ya. Kaleb satu-satunya cowok yang main di sini. Hahaha. Gemes banget sih lihat dia pake baju dokter, trus diajarin cara merawat bayi, habis itu boleh bawa bayinya keliling pake stroller. Seru!

IMG_20190102_091401_191IMG_20190102_091401_179

Setelah selesai baby clinic, baru kami ke pemadam kebakaran lagi. Dan lumayan udah kosong antriannya. Nggak pake lama, Kaleb pun dipakaikan seragam pemadam kebakaran. Disuruh naik mobil pemadam kebakaran, lalu memadamkan api, dan menyelamatkan orang yang terjebak di dalam kebakaran. Seru banget role play-nya.

IMG_20190102_091401_177IMG_20190102_091401_189IMG_20190102_091401_204IMG_20190102_091401_208

Habis pemadam kebakaran, kami pilih ke tempat kucing. Jadi nanti ada semacam rumah kucing, yang isinya bukan cuma kucing, tapi ada juga burung hantu, monyet, sama musang kalau nggak salah. Ini dipilih karena ya nggak antri dan biar cepat aja ngabisin wahana. Yang lainnya rame.

Ngabisin 3 wahana, kami makan dulu di food court-nya. Makanan dan minuman nggak boleh masuk. Jadi mau nggak mau beli di sana. Sungguh ya, makanannya semua hambar banget. Padahal pesannya yang standar aja kayak bakwan dan nasi goreng. Cry banget! 😥 Beneran makan cuma supaya perut nggak kosong.

Habis makan, Kaleb main di playground. Jadi deh 4 wahana. Setelah puas di playground yang cukup lengkap, kami buru-buru keluar karena langit udah mendung banget, sebentar lagi hujan.

Waduh, masih ada 1 wahana yang harus dipake, nih. Tadinya kami mau masuk ke wahana aquarium, tapi orang tua hanya boleh masuk kalau bayar lagi. Ya Kaleb nggak mungkin masuk sendiri, karena kan di dalam gelap. Duileh, ribet deh wahananya! Jadilah pilih wahana yang sekiranya kosong, yaitu wahana kantor pos. Di sana Kaleb boleh coba pake kostum profesi atau superhero, difoto, dan dapat sertifikat. Nggak ngapa-ngapain di wahana ini, tapi lumayan boleh bawa pulang sertifikat. Hahaha.

C360_2018-12-26-15-08-41-547

Selesailah 5 wahana yang dipaksakan! Udah pokoknya lain kali beli per wahana aja, deh. Terutama karena untuk main di wahana itu harus anaknya sendiri yang masuk di dalam. Jadi kalau anaknya belum berani ya wasalam aja. Jadi mending, tes dulu ke dalam, lihat anaknya berani nggak, trus kalau dirasa oke ya udah beli yang terusan. Nggak papalah, sedikit ribet. Hehehe.

Bakso Akung
Setelah siangnya makan makanan hambar nggak enak di Kota Mini, malamnya kami makan Bakso Akung, yang udah melegenda dan makin beken karena jadi tempat pacarannya Dilan dan Milea di film Dilan 1990.

Tempatnya udah besar, bukan kayak kios kecil di film Dilan. Waktu kami makan sekitar jam 7 malam, udah nggak lengkap lagi menunya, tinggal bakso aja. WOW, masih laku banget, ya. Saya dan suami pesan mie yamin manis dan Kaleb pesan 1/2 mie kuah, minumnya es teh. Pas duduk, eh disiapkan teh hangat gratis. Tau gitu nggak usah pesan minum lagi, deh. Hahaha.

IMG_20181226_192339_HHTIMG_20181226_192556_HHTIMG_20181226_192750_HHTIMG_20181226_192603_HHTIMG_20181226_185843_HHT

Poris mie-nya buanyak banget. Mie Kaleb yang cuma setengah aja itu sama kayak satu porsi mie di Jakarta. Aslik, buanyak banget. Dan rasanya……. ku cuma bisa bilang, pantas Milea jatuh cinta sama Dilan. Soalnya kencannya diajak makan mie yang enaknya bikin merem melek gini. Yang dahsyat itu kuahnya yang berasa banget kaldu sapinya meresap. Ya Tuhan, kayak makan mie dari surga. Dan tentu saja saya habis dong makannya. Bahkan Kaleb yang tadi siang susah makan karena makanan hambar, kali ini habis. Gila ya itu mie banyak banget dan Kaleb bisa habis. JUWARAK.

Untuk 3 mie dan 2 es teh, totalnya Rp 85.000. Terjangkau banget.

Btw, staff di sini ramah banget. Walau udah tua, tapi ngajak ngobrol dan sopan banget. Ku sampe terharu pada level keramahannya yang genuine dan nggak lebay. Pas aja.

Mie Naripan
Besokannya kayaknya Kaleb masih terngiang-ngiang sama bakmi di Bandung. Jadi pas makan siang, walau paginya kita udah membabi buta sarapan di hotel, tapi siangnya Kaleb minta makan bakmi lagi. Karena waktu itu lagi di sekitar Braga, kami cari mie enak terdekat, dan jatuh ke Mie Naripan.

Bangunannya tua, tapi bersih. Begitu masuk langsung pesan di kasir. Lagi-lagi pesannya masih sama: mie yamin buat saya dan suami, mie kuah untuk Kaleb. Kali ini kami udah belajar untuk nggak pesan minum dan benar aja dikasih teh hangat gratis.

Lagi-lagi ketika datang mie-nya porsi gede. Kali ini yang unik adalah sayurnya adalah sayur selada. Buat saya mie-nya enak, tapi masih ada rasa terlalu manis di yaminnya. Tapi itu aja saya habis walau perut kenyang. Jadi tahu kan, ini masih enak, cuma buat saya yang nggak terlalu suka manis, agak kemanisan. Dan saya baru tahu kalau Mie Naripan udah ada di Jakarta. Yeay!

Yang bikin spesial lagi ncinya baik banget. Tiba-tiba dia kasih bubur karena lihat Kaleb. Katanya supaya Kaleb makan. Ya tentu aja Kaleb nggak makan, karena anaknya kan bakmi mania ya. Hahaha. Buburnya dihabiskan suami. Tapi senang aja gitu gesturnya baik banget. Terharu, deh.

Napak Tilas Dilan
YA SIAPA LAGI KALAU BUKAN KERJAAN SAYA INI MAH. Hahaha!

Jadi kami melewati SMAN 20 yang jadi sekolah Dilan dan kemudian dadah-dadah, “Halooooo sekolah Dilan.” :)))

Kemudian nggak jauh dari situ di Jl Cibenying, kami cari rumah Dilan. Aslik sampe sekarang nggak ketemu di mana itu rumahnya, padahal udah melewati semua Jalan Cibenying, sampe nanya ke satpam, ke tukang parkir, tetap nggak ketemu. Emang nggak jodoh sama rumah Dilan.

Karena udah muter-muter ada sampe 5 kali, Kaleb pun minta naik kuda di dekat sekolah Dilan. Nah, senangnya di sekolah Dilan ini harga naik kudanya lebih murah daripada di ITB, plus ada kuda poni. Jadi Kaleb senang.

IMG-20181227-WA0028

Setelah beli oleh-oleh di Prima Rasa, pas cek google, eh kok dekat rumah Milea. Tadinya nggak mau ke rumah Milea, karena katanya kan jauh banget. Eh, ternyata nggak jauh dari Prima Rasa tadi. Rumah Milea malah gampang banget ditemukannya. Jadi rumah Milea ini ada di komplek yang lumayan mewah, soalnya masuk ke gangnya aja ada CCTV.

Pas berhenti di depan rumah Milea, eh kok ada segerombolan anak muda. Aduh, aku malu atuh kalau mau foto di situ. Suami sampe gemes banget, lho karena lihat istrinya mau foto tapi gengsi kelihatan alay. HAHAHA. Tapi akhirnya setelah kompleknya sepi, saya pun foto-foto secepat kilat. Hihihihi.

IMG_20190103_083652_837

Jadi begitulah highlight ke Bandung kemarin. Kegiatannya nggak padat, tapi ku senang banget nget, karena rindu makan mie yamin (yang nggak pernah nemuin mie yamin enak di Jakarta) akhirnya terpenuhi. Pokoknya tunggu saya makan mie yamin lagi ya di Bandung!

Review: Patra Comfort Hotel

Kemarin saya baru dari Bandung. Mendadak banget, makanya cari hotelnya sehari sebelumnya. Itu pun baru sore. Udah lah musim liburan, cari hotelnya mendadak pula. Ya udah, harga sudah selangit semua, dong.

Tadinya mau nginep di hotel-hotel hits, kayak Kollektiv yang insagtramable gitu. Tapi setelah dicek, luas kamarnya mini banget sekitar 15 m persegi. Bener-bener tempat tidur mepet tembok. Plus, suami kurang setuju karena walau ada breakfast tapi bukan buffet, jadi dia kasih pilihan makanan dan kita order. Suami maunya yang buffet soalnya dia makannya banyak. Hahaha.

Setelah browsing sampe mata jereng karena membandingkan harga dari 3 app, yaitu Traveloka, tiket.com, dan booking.com, akhirnya diputuskan lah nginep di Patra Comfort Bandung.

Kenapa Patra Comfort Bandung? Karena good deal banget dan cuma ada di tiket.com. Dengan harga Rp 500.000-an bisa dapat hotel yang ada kolam renangnya (dan kolam renangnya lumayan banget, plus ada kolam air panas), kamar minimalis dengan ukuran standar yang baru direnov, rating di 3 app tersebut selalu lebih dari 8 yang artinya bagus, dapat breakfast, dan letaknya ciamik banget ada di pinggir jalan Dago. Dekat ke mana-mana. Yeay!

Saya tadinya ragu sih mau ke Patra karena ingetnya Patra tuh hotel lama, takut jadul banget, dan spooky. Tapi ternyata setelah mantengin review yang hasilnya bagus semua, akhirnya jadi yakin.

Dan ternyata kami puas banget nginep di sana. Everything went so smooth. Dari masuk, semua staff super ramah. Parkiran cukup luas jadi nggak susah untuk cari parkir. Proses check-in cepat banget dan nggak pake ribet, cuma dimintain KTP dan tanda tangan, selesai, deh.

IMG_20181227_104138IMG_20181227_104123IMG_20181227_104051IMG_20181227_104007IMG_20181227_103937IMG_20181227_103928

Gedung barunya ada di depan, tapi karena saya minta view kolam renang, jadi kamar saya ada di gedung lama. Tapi sudah direnov semua kamarnya. Kekurangannya cuma satu, nggak ada lift kalau di gedung lama. Yah, walau pun cuma ada 2 lantai sih, jadi no big deal, sih.

Kalau kata Kaleb, “Mami, kamarnya enak buat bobo-boboan. Nggak mau pulang.” Wakakak.

IMG_1437 (1)IMG_1440 (1)IMG_1449

Nah, bagian paling menyenangkan dari hotel ini adalah kolam renangnya. Nggak terlalu besar, tapi cukup banget. Ada kolam renang anak-anak, untuk dewasa, dan kolam air hangat yang bisa juga untuk anak dan dewasa. Plus, sekitar kolam renang dibikin banyak tanaman jadi kesannya adem banget. Sukaaaa!

IMG_20181227_071641IMG_20181227_072057IMG_20181227_072046C360_2018-12-27-07-22-55-211

Selain itu, buffetnya banyak makanan Indonesia. Lidah kurang nendang kalau makanan western soalnya. Hihihi. Pilihan makanannya cukup banyak dari makanan berat (nasi, bihun, sayur), bubur ayam, bubur kacang hijau, sampe pastry (roti-rotian dan kue), lalu ada jamu (YEAY!), sereal, juice, buah potong, salad, soto sulung, egg station, kue-kue lokal seperti surabi dan pisang goreng, kopi dan teh. Enak banget.

IMG_1458IMG_1464IMG_1472

Yang paling penting mejanya luas. Tahu dong kalau kita makan buffett kan sering ambil banyak makanan, trus mejanya jadi penuh banget dan sempit. Sementara ada anak kicik yang bakal banyak gerak dan takut nyenggol piring. Hiks. Tapi di sini mejanya gede banget jadi luas dan bebas naro makanan banyak. Me likey!

IMG_20181227_093131

Oh ya karena ciamik banget di tengah kota. Jadi ke mana-mana kami dekat. Aslik, nggak bikin capek jadinya. Senang.

Jadi ku puas banget nginep di sini. Dan kami bertiga sepakat, kami mau balik lagi ke hotel ini.

Thank you, Patra Comfort. It was nice staying in your hotel.

Review: Milly & Mamet

Tiap akhir tahun, saya jadi nungguin film yang dibikin Ernest. Tahun ini makin spesial karena Ernest menyutradarai film Milly & Mamet, yang spin off dari AADC.

8e7bbde5-bceb-44d2-b139-0ddae1dbe448_34

Saya lebih suka poster yang ini daripada poster officialnya. Di sini fokus sama Milly dan Mamet dan kelihatan jelas karakternya. Kalau di foto officialnya, kurang mendeskripsikan Milly dan Mametnya. Malah ada foto Ernest-nya yang di film bukan tokoh utamanya.

Ceritanya tentang kehidupan rumah tangga Milly dan Mamet. Konflik yang terjadi pun sederhana, antara keinginan Mamet kerja di kantor ayah mertuanya atau mengikuti passionnya sebagai chef; dan dilema Milly yang ingin mengurus Sakti (bayinya) di rumah, tapi bosen banget di rumah dan ingin bekerja. Permasalahan yang dekat banget sama kita semua, kan?

Menurut saya, Milly dan Mamet ini memperbaiki kesalahan Ernest di Susah Sinyal. Terutama dalam soal cast yang bukan itu-itu aja. Dulu di Susah Sinyal, komikanya mostly yang udah main di CTS jadi untuk men-switch bahwa ini film yang berbeda cukup sulit. Sementara di Milly dan Mamet, komikanya segar-segar dan baru semua, kecuali Aci Resti, yang kayaknya jadi komika favorit Ernest karena selalu ada di 3 film terakhirnya. Ada beberapa komika yang menurut saya performanya oke banget dan tiap dia ngelucu, gesturnya dapet dan jokesnya kena: Ardit Erwandha sebagai pelayan dan Bintang Emon sebagai pekerja di konveksi. Two thumbs up buat mereka. Ada beberapa hal yang menurut saya juga terlihat sia-sia, seperti penampilan Dinda Kanya Dewi sebagai Lela, staff di konveksi, yang kurang lucu dan bikin saya pengen bilang, “Apa, sik!” tiap dia berusaha ngelucu. Dan penampilan Ernest di film ini menurut saya nggak perlu-perlu amat. Peran yang dia mainkan cukup penting, tapi sebenarnya tidak harus Ernest juga yang memainkan karena tokoh ini bukan yang akan melekat banget.

Komedinya lucu banget. Thanks to Acho Muhadly sebagai comedy consultant yang bikin jokes-jokesnya nendang banget. Scenes Acho merupakan salah satu yang saya suka. Tapi dari semuanya itu, Isyana Sarasvati yang paling mencuri perhatian banget. Ya Tuhan, lucunya bikin pengen guling-guling di lantai.

Dari segi drama, seperti biasa film-film Ernest pasti selalu ada hubungannya dengan keluarga dan membuat kita merasa hangat. Di film ini kita bisa melihat sisi Milly dan Mamet yang lebih serius, bukan yang lemot dan bodoh kayak di film AADC. Sissy sebagai Milly sungguh sangat menggemaskan, kayak boneka beruang yang pengen kita peluk terus. Tiap dia berkaca-kaca dan mau nangis tuh ya ambyar deh hatiku, pengen ku pukpuk. Sementara Dennis sebagai Mamet nggak kelihatan cupu lagi kayak pas SMA. Sebagai seorang kepala rumah tangga, kita dapat merasakan cintanya tulus. Duh! Namun, ada beberapa bagian Dennis kelihatan kaku, terutama untuk adegan yang butuh banyak emosi. Tapi overall chemistry mereka berdua bagus.

Karena konfliknya sungguh relatable banget sama saya, jadi ya scene mereka berantem aja bisa bikin saya emosional dan mau nangis. Aslik, pas nengok kiri kanan orang biasa aja padahal nontonnya. Kayak konflik ketika Milly memutuskan mau bekerja atau pas Mamet marahin Milly karena pulang malam, sementara Sakti udah rewel banget. I’ve been there and felt that! Rasa bersalah jadi ibu yang harus ninggalin anak itu sungguh membuat hatiku retak-retak.

Topik yang relatable dan Milly dan Mamet yang digambarkan orang biasa yang rumahnya biasa-biasa aja dan tinggalnya bahkan di Bekasi (ha!) bikin merasa ini film gue banget! Semua bisa mengalaminya. Bukan kayak kisah Cinta dan Rangga yang kayaknya dreamy banget dan nggak semua orang pernah ngalamin kayak gitu (secara bisa tiba-tiba enteng pergi ke New York cuma untuk bilang cinta doang. Giling!).

Jadi kesimpulannya, film ini layak banget ditonton. Lebih bagus daripada Susah Sinyal. Walau favoritku masih CTS (yaaa gimana yak, akting Dion Wiyoko dan Ardinia Wirasti gilak banget di situ).

 

Kostum Kawinan

Sebulan terakhir ini dipenuhi dengan rangkaian acara pernikahan adik saya. Jadi, sungguh lelah banget ngurusin printilannya. Dan lebih lelah lagi pas hari H karena sebagai pihak perempuan alias parhobas, ampun harus ngurusin banyak hal dari subuh sampe malam. *pingsan*

Nah, postingan ini bukan tentang acaranya, tapi tentang outfit apa aja yang saya pakai. Soalnya pas post di IG, banyak banget yang nanya. Jadi sekalian aja posting di sini.

Martumpol alias pertunangan

img-20181117-wa0082img_20181117_083627img_20181117_082112_886img_20181117_084928

Bahan kebaya warna biru: Fancy Mayestik (Rp 300 ribuan untuk 1 kebaya)
Kain bawah: Thamrin City Rp 350 ribu (2 meter. Buat bikin bawahan dan kemeja batik Kaleb). Lupa nama tokonya.
Penjahit: QZM Pasar Sunan GIri (kemeja, rok, dan kebaya)
Make up and Hair Do: Salon Java Bendungan Hilir

Pemberkatan dan Acara Adat

c360_2018-12-02-05-58-31-292img_20181201_074936

Bahan kebaya: Fancy Mayestik (Rp 700 ribu per 2 meter)
Penjahit: QZM Pasar Sunan Giri
Make Up and Hair do: Vera (@vera_makeup)
Jas Kaleb: @bella.kidsfashion

Bapake mana? Ya nggak foto bareng lah, saking kita berdua sibuk banget ke sana-ke mari. :((

Resepsi
img-20181202-wa0065img_20181202_201923_974img-20181202-wa0059img_20181202_155302img_20181202_153622_hhtimg_20181202_161640

Bahan: dikasih, jadi nggak tahu harganya berapa.
Penjahit: QZM Pasar Sunan Giri
Make up and Hair do: @nochmakeupartist
Pakaian Kaleb: Erica Baby & Kids Shop (Meruya Ilir)

Yang resepsi banyak fotonya karena kita nggak ngurusin acara lagi, jadi bebaaaasss banget bisa menikmati acara. Uhuy!

Untuk biaya jahitnya nggak dicantumkan karena tergantung modelnya seperti apa, jadi harganya nggak fix. Akan lebih baik kalau langsung ditanya ke Bapak Kosimnya langsung.

Semoga membantu, yaa. 🙂

Tentang Perceraian

Kemarin buat saya adalah hari patah hati nasional sesungguhnya. Ternyata patah hati karena Hamish Daud nikah sama Raisa lewat. Patah hati kali ini saya beneran sedih banget sampai saya scroll time line feed IG yang bersangkutan sampai bawah demi mengenang masa-masa indah itu. Patah hati karena Gading dan Gisel mau cerai. :(((

Jadi ya, saya termasuk penggemar Gempi sampai saya suka bilang ke teman-teman saya kalau Gempi itu calon mantu saya dan Gading-Gisel adalah calon besan saya. Hahahaha *AMININ, dong! XD* Kadang-kadang saya komen caper di IG Gading dan Gisel kalau ada Gempi.  XDDDD

Makanya sedih banget, ternyata keluarga yang di luarnya terlihat bahagia (well, aren’t we all like that on Instagram? We picture the happiness and the perfect life in Instagram). Tapi ya, tetap aja shock. Huhuhuhu!

Kemudian, saya bacalah komen-komen di IG. Tentu banyak yang sedih dan patah hatinya sama kayak saya. Nggak jarang juga yang langsung nulis ayat-ayat Alkitab dan mengingatkan bahwa perceraian itu nggak baik, seharusnya bersatu demi anak bla bla bla bla bla.

Dan ku langsung mengernyitkan alis.

Semakin lama saya menjalani pernikahan (yang sungguh nggak seindah kisah cintanya Cinderella) dan bertemu dengan banyak pasien yang konseling pernikahan, saya jadi semakin paham bahwa kadang-kadang berpisah itu jauh lebih baik daripada bersama. Bahwa hidup itu nggak bisa hitam dan putih. Seringnya kita berada di kondisi abu-abu.

(Saya lagi nggak ngomong soal perceraian di dalam agama, ya. Karena bukan kapasitas saya.)

Ada salah satu pasien perempuan, yang hubungannya dengan suami sangat toxic (suami selingkuh, emotionally abusive, memaksa hubungan seksual, manipulatif, dll), dan dia berusaha bilang ke ibunya mengenai keinginannya untuk cerai, tapi ibunya melarang dan malah memarahinya karena merasa perceraian itu tabu. Pasien ini akhirnya menderita halusinasi saking tertekannya, berkali-kali berpikir untuk bunuh diri. Setiap minggu wajib ketemu psikiater dan psikolog supaya dirinya terbantu dan tidak bunuh diri. Sedih banget liatnya.

Bahwa sebagai orang luar kita cuma bisa lihat dari permukaannya aja. Yang sungguh tahu apa yang dirasakan hanya orang-orang di dalamnya. Saya banyak bertemu anak-anak yang tumbuh besar di dengan orang tua yang pernikahannya sangat bermasalah sehingga dalam hati mereka, mereka berharap orang tuanya bercerai karena akan membuat mereka lebih bahagia. Tapi banyak sekali orang tua yang bertahan demi anak. Mereka lupa bahwa orang tua yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Anak-anak akan merasa ketika orang tuanya bermasalah, seberapa pun orang tua berusaha menyembunyikannya. Anak-anak kita adalah anak-anak yang juga peka terhadap situasi yang sedang dihadapinya.

Pertanyaannya, apakah bertahan demi kebahagiaan anak atau kita takut apa kata orang kepada anak yang orang tuanya bercerai?

Banyak yang concern bahwa anak yang orang tuanya bercerai akan tumbuh menjadi anak yang bermasalah. Padahal itu tergantung gimana orang tuanya. Makanya ketika pasien memutuskan untuk bercerai, saya selalu minta untuk mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya, termasuk siapkah untuk bersama-sama menjadi partner untuk membesarkan anak. Walau sebagai suami dan istri bercerai, tapi kalian tetap akan membesarkan anak bersama-sama sebagai partner orang tua. Ketika memutuskan untuk bercerai, siapkah untuk berdamai dengan pasangan? Makanya perceraian tidak boleh diputuskan sekejap, terutama ketika sedang emosional. Ketika mantan pasangan kompak membesarkan anak sebagai partner, anak tetap akan merasa utuh. Jadi bukan soal status orang tua yang cerai, tapi lebih ke bagaimana setelah bercerai orang tua tetap menjalankan fungsinya sebagai orang tua, tetap bekerja sama, dan membangun hubungan yang baik satu sama lain. Pastikan bahwa kebutuhan fisik dan emosional anak terpenuhi.

Selain itu, saya juga berusaha untuk mengajarkan Kaleb bahwa nggak ada satu bentuk keluarga yang lebih baik dibandingkan yang lain. Bahwa ada keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, tapi juga ada yang terdiri dari single parent, diasuh oleh kakek nenek, atau tipe keluarga lainnya. Tidak apa-apa dan semuanya baik asal si anak berkembang dengan baik. Fokusnya adalah attitude si anak, dan bukan berasal dari keluarga yang seperti apa.

Ketika saya punya anak dan melihat banyak hal di sekitar saya yang tidak sempurna, saya harus memutuskan apa yang saya harapkan Kaleb miliki. Saya ingin Kaleb pintar secara akademis (banget nget!), tapi kemudian saya lebih pengen Kaleb punya sifat yang baik dan mengasihi. Nggak gampang judging ke orang di sekitarnya. Dan itu membuat saya harus juga melakukan hal yang sama. Kalau dulu sih saya bakal nyinyir dan judging kalau lihat ada hal yang nggak sesuai sama value saya. Tapi semakin ke sini, walau kadang-kadang masih ingin, saya berusaha untuk nggak banyak judging ke orang. Bahwa apa yang kita lihat, belum tentu tepat seperti apa yang mereka rasakan. Everyone has their own battle. Jadi lebih baik diam kalau memang nggak punya hal baik untuk diucapkan.

Akhir kata, walau patah hati dan sedih, tapi ku berharap Gempi adalah jodohnya Kaleb. HAHAHAHAHA. Doain, ya. XD

 

 

 

 

Seseruan di Asian Para Games

Saya baru tau kalau Asian Games itu biasanya diikuti dengan Asian Para Games. Nah, karena saya suka banget nonton pertandingan olahraga (tapi nggak suka ngelakuinnya, sih. Hahahaha), jadi tentu saya excited banget buat nonton Asian Para Games.

Setelah diumumkan bisa beli tiket online melalui loket.com. Pas buka web, hah serius nih tiketnya murah banget. Tiketnya hanya seharga Rp 25.000. Bahkan ada tiket terusan seharga Rp 100.000 untuk nonton semua pertandingan dalam sehari. Wow! Dulu pas Asian Games, tiket termurah kalau nggak salah Rp 75.000. Itu pun kayaknya jarang yang seharga itu. Banyakan dimulai dari Rp 100.000 untuk babak kualifikasi dan harganya akan meningkat kalau semifinal dan final.

Di hari pertama, tanggal 6 Oktober 2018, saya datang pagi untuk menyaksikan wheelchair basketball. Arena GBK masih sepi banget. Shuttle bus juga nggak sebanyak pas Asian Games. Area makanan juga nggak terlalu banyak. Dari gate 5, depan fX, saya jalan sedikit ke halte untuk naik shuttle bus ke area basket hall.

18-10-06-16-40-39-687_decoimg_20181006_100752img_20181006_100812img_20181006_101153

Di area basket hall sendiri belum terlalu ramai. Kursi penonton masih sepi. Tapi makin siang makin rame, walau nggak full. Lumayanlah. Oh ya, botol minum nggak boleh dibawa masuk. Tapi kalau bawa tumblr sendiri boleh. Makanan kecil, seperti roti boleh dibawa masuk.

Pertandingannya sendiri seru banget. Ternyata walau pake kursi roda, mereka gesit banget, terutama pemain China. Skillnya oke banget, tiap dapat bola dan punya kesempatan nge-shoot selalu masuk. Jago banget, sih.

Pengalaman yang kami dapatkan berharga banget, terutama buat kasih tahu ke Kaleb bahwa walau pakai kursi roda dan nggak sempurna, orang bisa berprestasi. Masalahnya adalah…. Kaleb yang masih kecil ini nggak menganggap pakai kursi roda itu aneh, dan nggak memandang hal tersebut berbeda dari orang biasanya. Hahaha. Tapi setelah dipikir-pikir, hey justru pemikiran Kaleb yang benar. He saw no differences among normal and disable people.

Pulangnya pas siang, kami naik shuttle bus lagi untuk kembali ke gate 5. Tapi ternyata shuttlenya nggak sampai gate 5 karena harus istirahat. Akhirnya kami turun dan menunggu shuttle lainnya, tapi yang ada lamaaaa datangnya sementara udah terik banget cuaca. Daripada nunggu lama, kami memilih jalan kaki sampai ke gate 5. YASSSSS, banjir keringat banget.

Besoknya, kami berencana mau nonton lagi. Kali ini olahraga yang berbeda. Cek di loket.com, tiket untuk weekend udah sold out semua. Kayaknya karena efek opening ceremony semalam. Tapi tenang aja, tiket masih bisa dibeli di ticket box langsung. Untuk cabang olahraga yang bukan di GBK, tiketnya gratis.

Kali ini kami berangkatnya sore karena sungguh nggak tahan dengan teriknya cuaca yang hampir 37 derajat. Hari Minggu itu sekitar Senayan lumayan macet karena ada pameran juga di JCC, jadi banyak jalan yang ditutup. Kami parkir di Plaza Senayan dan jalan kaki sedikit ke gate 5. Tadinya kami mau nonton para swimming, tapi tiket udah habis. Jadi kami nonton badminton yang tiketnya masih ada.

Kebetulan banget yang main lagi Indonesia; Suryo Nugroho. Untuk badminton sendiri, walau nggak penuh, tapi yang nonton cukup banyak. Antusiasnya sama kayak Asian Games. Orang-orang teriak dan tepuk tangan menyemangati heboh banget. Mana pas pertandingan Suryo Nugroho lawan Malaysia itu seru banget sampe rubber set. Pokoknya saya menikmati banget, deh. Oh ya, untuk pertandingan badminton ini sampai malam jadi yang datang sore pun masih bisa nonton.

img_20181007_180855img_20181007_183738_077img_20181007_184546_846

Asian Para Games masih berlangsung sampai tanggal 13 Oktober 2018 nanti. Jangan lupa nonton ya, gengs. Tiket bisa dibeli langsung di loket.com atau di ticket box langsung. Jadwal bisa follow akun IG @asianpg2018 atau download app-nya di APG2018.

Support para altet Para Games kita, ya, karena mereka rindu banget dapat dukungan dari kita. Salam olahraga! 😉

 

Ketika Masalah Pup Bikin Masuk Rumah Sakit

Minggu lalu adalah minggu terberat buat saya. Kaleb masuk rumah sakit. Ada apakah gerangan?

Jadi hari Senin seperti biasa Kaleb sekolah. Masih aktif banget anaknya. Sorenya Mbak di rumah telepon katanya Kaleb muntah banyak banget dan perutnya sakit. Saya minta kasih teh manis hangat dulu, lalu saya buru-buru pulang. Kaleb memang beberapa kali muntah, tapi masih oke-lah. Masih excited main. Jadi saya pikir oh cuma masuk angin aja. No worries. Saya kasih obat vometa dan antangin anak.

Malamnya Kaleb masih tidur nyenyak. Waktu pagi saya mau ke kantor, Kaleb ngeluh sakit. Cuma saya pikir, oh masih masuk angin, ya. Pas mau kerja, dia muntah juga. Tapi saya masih masuk kerja sambil tetap cek ke rumah keadaan Kaleb gimana. Ternyata kabar dari rumah, Kaleb makin sering muntahnya, sedangkan makanan udah nggak mau masuk lagi. Muntahnya hanya beruba cairan, kadang-kadang kuning dan hijau. Waduh! Udah nggak benar, nih. Saya minta ke Opungnya untuk antar Kaleb ke rumah sakit, sementara saya dari kantor langsung pulang cepat ke rumah sakit.

Setelah dicek dokter perutnya, ternyata Kaleb konstipasi. Jadi memang salah satu permasalahan Kaleb adalah sejak umur 3 tahun dia males banget makan sayur. Malesnya udah sampai ke tahap, walau kita sembunyiin, kalau udah masuk mulut, dia tahu dan keluarin lagi. Untuk buah sebenarnya dia masih lancar dan tiap hari makan buah. Nah, awal tahun kemarin dia sempat juga ada permasalahan sembelit. Pupnya keras banget sampai kalau ngeden nangis-nangis dan pas akhirnya pup pun berdarah. Sempat dibawa ke dokter. Tapi waktu itu udah lancar lagi. Walau tetap ada episode beberapa kali pup keras kalau dia lagi malas makan sayur. Tapi ternyata pup keras ini jadi masalah, karena nggak semua keluar, akhirnya ada yang stuck dan menimbulkan konstipasi. Konstipasi berat gini yang menimbulkan mual dan muntah.

Dokter kasih obat microlax sama obat pencernaan. Kata dokter, kalau udah keluar semua, dia akan sehat kembali. Nggak ada pantangan makanan juga. Ya udah hati kembali tenang, ya. No worries, ternyata masalahnya sederhana.

Besoknya saya memutuskan untuk nggak masuk kantor karena kasihan juga kan lihat Kaleb belum pulih. Di rumah dia mau makan, walau nggak banyak seperti biasanya. Tapi kemudian tetap muntah. Sampai akhirnya di siang menjelang sore, dia udah sakit banget perutnya sampai guling-guling dan nangis. Aslik, saya bingung mau ngapain, stres banget, sampai ikutan nangis. Akhirnya telepon suami dan janjian untuk masukin RS aja karena muntahnya udah nggak wajar.

Ketemu dokternya lagi dan dikasih resep dengan dosis yang lebih tinggi, plus minta dirawat. Hari pertama di RS itu benar-benar melelahkan dan sedih karena Kaleb masih sangat kesakitan dan tetap muntah terus. Udah dikasih Sanmol untuk penghilang nyeri, tapi kayaknya nggak mempan. Makan roti dikit pun muntah semua. Sampai Kaleb cuma pipis sekali aja dalam sehari karena udah nggak ada cairan. Akhirnya dokter memutuskan untuk kasih obat penghilang nyeri di bagian perut dan Kaleb harus puasa. Cuma boleh minum air putih sedikit. Kaleb baru bisa tidur nyenyak jam 10 malam. Untungnya obatnya penghilang nyerinya ampuh jadi Kaleb nggak terbangun. Btw, Kaleb nggak demam sama sekali selama sakit.

img_20180927_055952_hht

Hari pertama lemes banget, banyak muntah

Hari kedua, Kaleb masih mengeluh sakit. Anaknya masih agak lemas. Hari ini mau ditingkatkan minumannya. Dari air putih, ke jus, lalu ke susu. Kalau udah lolos semua, boleh coba bubur. Hari ini juga harus dihitung banyaknya pipis. Untungnya karena udah diinfus jadi ada cairan yang masuk dan pipis mulai banyak. Selain itu, karena minumnya cuma cairan aja jadi Kaleb nggak muntah. Siang hari, dikasih obat penghilang nyeri perut lagi. Anaknya udah mulai aktif. Udah mulai turun tempat tidur, main-main ke luar bangsal. Walau terkadang masih ada rasa sakit. Tapi kalau dilihat udah jauh berkurang. Menjelang jam 7 malam, suster datang untuk memasukkan obat dari dubur untuk merangsang pup. Kemarin juga sudah dikasih, cuma kurang banyak yang keluar. Kata dokter, pupnya sih udah mulai jalan ke jalan ke luar. Begitu dikasih obat dari dubur, nggak sampai 1 menit, Kaleb mules buanget. Dia langsung pup banyak dan emang keras. Dia sampai nangis ngeden. Mungkin karena capek, habis itu dia tidur sampai pagi. Nggak ada keluhan sakit perut lagi.

Hari ketiga, Kaleb bangun dengan happy. Nggak ada keluhan sakit perut. Udah boleh makan bubur. Udah aktif banget main jalan-jalan. Pas dokter visit dicek lagi, pupnya udah keluar semua. Langsung deh disuruh pulang. Puji Tuhan. Dan hal pertama yang Kaleb lakukan adalah, “Mami, Kaleb mau ke mall, makan bakmi!”. Jadi dia sebel karena pas puasa itu, lihat saya makan bakmi tapi nggak boleh kasih ke dia. Hahahaha!

Semoga permasalahan pup ini berakhir di sini, ya. Doakan Kaleb selalu sehat.

img_20180928_211316_539

Hore, aku udah boleh pulang!

Review: Crazy Rich Asian

51u8I+mRd3L

Sebenernya saya bukan pembaca Crazy Rich Asian. Tapi karena heboh banget ini film dan banyak yang bilang bagus, maka begitu tayang filmnya, saya langsung nonton…..sendirian. Sendirian mulu nih Mbaknya! Hahaha. Suami tuh selalu pulang malam dan kalau weekend Kaleb nggak mau ditinggal nge-date. Ish! Lagian film ini kayaknya bukan tipe film sih, jadi ku mending sendirian ajah!

Sinopsis ceritanya sederhana aja: cowok super tajir jatuh cinta sama cewek biasa aja dan ditentang ama camer yang mementingkan bibit, bebet, bobot. Ala-ala Cinderella jaman kini lah.

Enaknya nonton filmnya tanpa membaca bukunya adalah ekspektasinya jadi nggak tinggi-tinggi amat. Fokus aja sama cerita di filmnya. Soalnya berkali-kali nonton film yang diadaptasi dari buku pasti saya kecewa karena gambaran saya di otak beda sama gambaran pembuat film. Nah, kalau ini nggak ada bayangan jadi bisa menikmati banget.

Buat saya filmnya walau cliche, tapi saya suka banget. Terutama sama karakter perempuannya: Rachel Chu dan Astrid Leong. Rachel Chu walau rakyat biasa, tapi bukan perempuan yang nggak pede. Justru dia pede dengan kemampuan yang dia miliki, nggak minder pas tahu Nick Young tajir mampus, dan nggak jadi membabi buta ngejar-ngejar Nick Young. Girl gotta have attitude-lah.

Tapi yang menarik adalah karakter Astrid Leong. Ku cinta banget nget nget! Gambaran sosialita sesungguhnya; anggun, cantik, elegan, tapi baik hati. Plus, punya pendirian. Ish, ku cinta lah. Malah kalau mau dilihat, konflik batin Astrid ini lebih besar daripada Rachel Chu. Laff!

download (4)

Panutanqu! Mantap!

Awalnya saya cuma mikir ini film romcom yang akan banyak ketawa-ketawanya. Maklum nontonya hari kedua, jadi belum banyak spoiler keluar, kan. Dan emang benar, ketawa-ketawa banget lah. Tapiii… adegan pernikahan temennya Nick Young kok mengharukan, ya… eh, pas ke sananya lagi: KENAPA GUE NANGIS BOMBAY YA TUHAN? *hapus ingus*. I didn’t see it coming!

Banyak adegan-adegan yang seru, tapi yang memorable buat saya adalah adegan main mahjong antara Rachel Chu dan Eleanor Young. Keren banget di sini dialognya. Jadi perempuan yang belum nikah dan disebelin sama camer, contohlah Mbak Rachel Chu ini. Kalau nggak kaya, ya harus pinter lah mainin psikologis ibunya biar sampe ibunya setuju. Oke, sip!

Tapi ada juga kekurangan film ini. Menurut saya, penggambaran crazy rich-nya tuh nggak crazy-crazy amatlah. Maksudnya, kekayaan seperti ini masih bisa kita temui di film-film Indonesia; dan level kekayaannya masih “kaya” aja, belum “eh gila, kaya bener!”. Karena patokanku akan crazy rich sesungguhnya adalah Richie Rich! Ya gimana ya, he set the bar high! Punya Mcd sendiri di rumahnya, ada halaman lebih luas dari lapangan bola sampe bisa kebut-kebutan pake gocart, di kamar tidurnya sendiri ada lapangan basket, plus punya miniatur gunung yang gambar presiden di AS itu, loh. Maap nih, kalau belum ngalahin crazy rich-nya Richie Rich, ya belum crazy. Hahaha!

images (10)

Nick Young nggak punya McD di rumah. Richie Rich punya!

images (8)

Monmaap, ini jalan kaki dari halaman ke dalam rumah aja tampak melelahkan, ya. 

images (9)

Trus di halaman belahan lainnya lagi bisa ngebut-ngebutan gini.

images (5)

Di kamar tidur ada lapangan basket tuh gimana nggak bikin temennya shock!

images (7)

Ini ruang kelas aja tampak seperti ruang CEO. Mevvah.

images (6)

Dan punya gunung batu sendiri di rumah. Kelean kalau belum punya gunung sendiri belum crazy rich-lah.

Oh, kalau udah nonton, jangan lupa pantengin hashtag #CrazyRichSurabayan yang terjadi eh gila ini baru kreziiiih, lah! Hahahaha.

Udah merasa jadi sobad mizqueen belum? Yuk, gandengan tangan.