Main Di Luar

Bulan lalu Kaleb sakit. Demam diserta batuk dan pilek. Sebenarnya biasa aja ya anak kecil sakit demam, batuk, pilek, tapi ini benar-benar lemas, nggak ada makanan yang masuk, dan muntah. Saya tadinya mau strict ke aturan 3 hari demam baru dibawa ke dokter. Tapi pas hari kedua, Kaleb telepon dari rumah bilang, “Mami, Kaleb mau ke dokter.” Wah, mungkin anaknya udah berasa nggak enak banget, ya. Ya udah, minta tolong sama nyokap untuk anterin Kaleb ke dokter. Jadi anaknya terkena bakteri yang bikin batuk dan demam. Dikasih lah obat racikan, obat mual, dan antibiotik. Dokter saya ini kebetulan dokter yang nggak akan pernah resepin antibiotik kalau nggak perlu. Waktu dulu Kaleb sakit aja dia pernah cuma resepin madu doang. Dan bener sembuh.

Nah, karena batuk-batuk dan curiganya alergi, banyak yang nyaranin untuk bawa ke pantai pagi-pagi. Kabarnya udara pantai baik untuk pernapasan, sekaligus dijemur juga. Jadilah selama 2 minggu berturut-turut kami menghabiskan waktu di Ancol. Selain itu, kami juga jadi menerapkan lagi lebih sering main di luar daripada di mall biar bakteri dan virus yang mutar-mutar di ruangan tertutup nggak tertular ke Kaleb.

Ancol Beach City dan Ecopark
Pilih di Ancol Beach City karena pantainya paling bersih dan nggak rame. Jadi menyenangkan banget buat anak main-main. Selain itu, deket sama mall-nya dan Indomaret jadi kalau ada perlu apa-apa bisa langsung beli di situ. Oh ya, masuknya gratis dan parkirnya juga gampang di dalam mall.

Kaleb senang banget main di sini karena kalau pagi banyak anak-anak juga di sini. Jadi biasanya saya udah bawa perlengkapan buat main pasir dan biarin aja dia main entah di pasir atau di pinggir laut. Jangan lupa dipakein sunblock ya biar nggak hitam. Hihihi.

Biasanya kalau matahari udah mulai terik, saya pindah ke Ecopark untuk main di tamannya. Di sana ada penyewaan sepeda, tapi Kaleb bawa sepeda sendiri karena lebih nyaman. Bawa sepeda sendiri kena charge Rp 35.000. Lebih untung sih karena kalau sewa sepeda Rp 35.000 per jam.

Kaleb juga senang banget main di sini karena dia lagi senang-senangnya bisa main sepeda sendiri. Plus, di taman super gede gini mah dia bisa lari-lari sepuasnya. Jumpalitan juga bisa.

Nah, susahnya kalau main di Ancol adalah….anaknya nggak mau diajak pulang. XD

The Playground, Kemang
Udah mau ke The Playground dari dulu, tapi belum sempat karena nggak terlalu suka ke daerah Kemang yang macet banget. Zzz! Tapi akhirnya kesampaian karena kebetulan ada beberapa tujuan yang letaknya di Kemang semua jadi pas-lah.

Letaknya di daerah perumahan dan bukan daerah pinggir jalan. Kalau saya sih suka banget tempatnya yang masuk ke dalam ini jadi udaranya masih enak. Kalau ke The Playground jangan lupa bawa baju renang karena ada tempat untuk mainan airnya.  Tiket masuknya Rp 75.000 sepuasnya, sudah termasuk 2 orang pendamping. Enak banget kan. Biasanya pendamping cuma boleh satu aja.

Jam paling menyenangkan untuk datang adalah sore hari karena udah nggak terlalu panas. Tempatnya menyenangkan. Ada cafe kecil kalau mau makan (tapi mahal, nggak boleh bawa makanan dari luar), tempat duduk dan meja tunggu terletak di mana-mana jadi enak.

Mainannya pun beragam, ada jalur main sepeda juga jadi silahkan bawa sepeda, dan ada lapangan basket kecil untuk anak-anak. Kaleb senang banget main di sini. Nah karena mainnya pas sore dan kita nggak kepanasan, jadi Kaleb kami biarin main sepuasnya sampai dia yang minta pulang sendiri.

img_20180529_153135img_20180529_153138img_20180529_160723img_20180529_161034img_20180529_163613img_20180529_163620

Btw, di sini banyakan keluarga bule gitu yang datang. Jarang banget sih orang Indonesia-nya jadi gemes sendiri liat Kaleb main sama anak-anak bule dan saling ngobrol bahasa sendiri-sendiri tapi tetap paham. Hahaha.

Oh bonus, pulang dari The Playground kami ke Dia.lo.gue di Kemang juga karena ada pameran Namaku Pram, mengenai penulis Pramoedya Ananta Toer. Pamerannya gratis dan saya belajar banyak mengenai beliau. Sayangnya 3 Juni kemarin pamerannya udah selesai. Semoga banyak pameran kayak gini lagi ya karena menambah pengetahuan banget. :’)

img_20180529_1748381img_20180529_1748561img_20180529_175029img_20180529_175430img_20180529_175548_hhtimg_20180529_180223_hht

Dan tak lupa foto-foto di tangga terkenal-nya Dia.lo.gue.

Advertisements

Trip Seru ke Batukajang

Aloha!

Mei ini saya cukup sibuk. Sibuk dengan berbagai project, sibuk ngurusin Kaleb yang batuk lama banget karena kata dokter ada bakteri, dan sibuk mantengin dedek-dedek gemesh di Instagram. Hihihi.

Salah satu highlight bulan Mei ini adalah work trip ke Balikpapan bareng teman saya, Citra. Saya belum pernah ke Balikpapan, jadi cukup excited juga dengan perjalanan singkat ini. Terutama karena saya akan menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke site-nya.

Kami berangkat di hari Sabtu pagi melalui terminal 3 yang lagi tersohor itu karena baru. Dan tentu saja kami bagai gadis desa yang terkagum-kagum dengan desain terminal 3 yang modern dan kece banget, disertai resto-resto kenamaan. Bagus banget lah. Kekurangannya adalah….jauh amat itu sampai ke gate 17 di mana pesawat saya parkir. Udahlah jauh, travelatornya sedikit. Jadi kalau mau cepat bisa pake kayak bis golf kecil gitu (apa sih namanya ini?). Nggak tahu ini disewa atau gratis. Untungnya kami nggak lagi terburu-buru jadi ya bisa jalan aja sambil geret-geret koper, turun eskalator pulak.

Senangnya sampai di gate 17, ada Ice Hills, bubble tea kesukaan saya. Tentunya langsung saya beli untuk bekal di pesawat nanti. Harganya lebih mahal Rp 10.000 dari harga aslinya. Mana harga aslinya sebenarnya sering banget promo jadi Rp 15.000 saja. Eh, nggak tahu deh sekarang promonya masih ada nggak.

Kami menunggu di tempat duduk yang mengarah langsung ke jendela besar tempat pesawat-pesawat parkir. Saya selalu suka bandara. Buat saya, saya bisa mandangin pesawat lalu lelang terbang dan mendarat dan udah bikin senang banget. Masalahnya, saya takut terbang. Zzz!

Pesawat boarding tepat waktu. Saya udah wanti-wanti ke Citra kalau saya takut naik pesawat. Overall perjalanannya mulus tanpa turbulensi berarti. Plus, ada makanan dan entertainment di pesawat jadi ya saya lumayan bisa kedistraksi dari ketakutan saya. Itu aja saya nontstop lihat jam dan komat-kamit berdoa supaya cepat sampai. Oh ya, di pesawat saya nonton The Greatest Showman. Filmnya bagus banget nget! Dan saya menyesal nggak nonton di bioskop. :’)

Sampai di Balikpapan jam 12 siang dan kami langsung dijemput untuk langsung menuju Batukajang yang katanya terletak 3 jam perjalanan darat. Oh, untuk mencapai Batukajang, kami haru naik speed boat dulu melewati laut selama 20 menit. Seru banget!

img_20180512_131924_486img_20180513_165526img-20180512-wa0012img_20180512_155110img_20180512_155144

Mulai deh saya norak karena saya pikir Kalimantan itu, terutama pedalamannya, kayak di film Anaconda yang masih banyak hutan, hewan, dan sungai-sungai. Nyatanya, ya sama aja kayak di Pulau Jawa. Jalanannya sudah aspal mulus, hampir nggak kelihatan hutan lebat. Kelihatannya kelapa sawit aja.

Perjalanan yang katanya 3 jam, ternyata jadi 5 jam. Padahal nggak macet, dan kami cuma mampir makan sebentar dan Citra sholat. Satu jam perjalanan terakhir baru kami melewati gunung, hutan, dan air terjun. Jalannya pun mulai berkelok-kelok sampai kami pusing banget.

Sampai di Batukajang jam 6 sore dan kami sungguh tepar banget. Kami ngingep di mess yang isinya 90% cowok tambang semua. Aslik, kalau sendirian aja sih saya jiper banget. Untung berdua. Begitu sampai kamar, kami langsung tidur. Pusing dan capek banget. Plus, kondisi saya sebenarnya lagi kurang fit. Seminggu sebelumnya Kaleb sakit batuk pilek dan nular ke saya. Pas berangkat saya udah minum Panadol, sih, tapi kayaknya kurang mempan.

Kami baru bangun jam 19.30-an dan lalu dijemput untuk makan. Kami ditawari makan di luar, tapi kami terlalu capek untuk makan di luar. Plus, setelah melewati kotanya yang kecil banget, nggak ada resto atau tempat yang bikin kami mampir, sih. Udah pengennya makan doang, trus balik ke kamar istirahat karena besoknya kami harus seminar jam 8 pagi ajee. Kami pun makan di kantin mess, yang mana makanannya prasmanan dan enak-enak, kok. Jadi ya kami puas aja makan di kantin. Anaknya gampangan, asal perut kenyang aja. Hehehe.

Setelah makan, kami minta diantarkan ke Alfamart/Indomaret di kota (di Batukajang cuma ada 1 Alfa dan 1 Indomaret, letaknya bersebelahan). Kami mau beli obat Antimo buat besok dan Panadol karena pusing kami nggak hilang juga. Plus, mau beli cemilan. Tapi saya nggak nafsu ngemil karena kepalanya pusing sampai nggak bisa ngapa-ngapain.

Pas di mini market, pengunjungnya banyakan cowok dan kami dilihatin. Padahal kami nggak pake baju terbuka atau aneh, sih. Kami pake kaos dan jeans, dan orang lain pun begitu. Pindah ke mini market sebelahnya, kami juga dilihatin. Bukan dilihatin yang bikin nakutin, tapi kayak mereka sadar kami bukan penduduk sini aja. Setelah diperhatikan sekitarnya, oh ternyata yang perempuan hampir semuanya pake hijab. Sedangkan kami udahlah nggak pake hijab, rambutnya diwarnai pula. Hahaha. Tapi kata staff yang mengawal kami di sini nggak wajib pake hijab, kok. Cuma kebanyakan aja.

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan siap-siap untuk makan di kantin. Seperti biasa, apapun makanan yang disediakan kami senang-senang aja. Wong udah lapar. Hihihi. Nah, kami selalu ditemani seorang staff, sih untuk ke mana-mana dan diskusi soal seminar. Tapi lucunya, karena jarang keberadaan perempuan di mess itu, jadiiii banyak banget yang minta foto sama kami. Berasa artis banget wakakakak!

Jam 9 tepat, kami mulai seminar dan Puji Tuhan berjalan lancar banget. Itu pun kami harus memastikan selesainya tepat jam 12 siang karena kami harus ngejar speed boat yang cuma sampai sore aja. Kalau sudah terlalu sore, tidak ada speed boat sehingga kami harus naik kapal kecil ke Balikpapan. Wew!

img_20180514_073639_482

Jadi kami kembali ke kamar, siap-siap, nggak pake makan siang dulu karena nanti di jalan aja. Pulangnya lumayan rame karena ada 2 staff lagi yang mau ke kota. Dan teteeep cuma kami perempuannya. Hahaha.

Sebelum jalan, saya udah minum antimo dan sukses ketiduran. Puas banget dan jadi nggak pusing. Satu jam dari site, kami mampir makan nasi gandul di Kuaro. Ini pertama kalinya saya makan nasi gandul yang kuahnya hangat mengepul. Rasanya ENAK BANGET! Itu udah lapar banget, ditambah rasa kuahnya yang endeus bikin mata merem melek.

Selesai makan lanjut jalan lagi dan bener aja memakan waktu 4 jam perjalanan lagi. Untungnya speed boatnya masih ada sehingga kami bisa naik.

Setelah naik speed boat kami yang tadinya mau ke tempat oleh-oleh akhirnya memutuskan nggak jadi, langsung ke bandara aja karena takut telat. Plus, salah satu staff masih harus ke mess yang di Balikpapan jadi nggak enak ngerepotin kalau harus mampir lagi.

Untungnya di bandara ada toko oleh-oleh dan pesanan Mama madu Kalimantan ada di sana. Tapi setelah perjalanan yang capek banget itu, pas di bandara saya udah lemes banget, mulai demam, dan nggak kuat jalan lagi. Itu kayak udah sisa tenaga banget. Udah gitu, pesawat delay. Ya cuma 15 menit, sih, tapi kan tetap aja ngeselin karena saya udah nggak enak badan banget.

Dengan keadaan kepala pusing dan hidung mampet, begitu take off kepala saya kayak diiris-iris saking sakitnya karena ada perubahan tekanan udara. Oh ya, untuk pertama kalinya karena pesawatnya malam, pas lagi terbang saya ngeliat ada kilat terus-terusan menyambar. Kebayang dong, saya yang takut pesawat lihat pemandangan kilat menyambar tuh horor banget. Padahal turbulensinya sih biasa aja. Saking takutnya saya langsung tutup jendela biar nggak ketakutan. Eh, nggak lama kemudian disuruh pasang seat belt karena kondisi cuaca yang kurang baik. Muka saya sih udah nggak karuan lagi paniknya dan tangan udah dingin. Lihat ke arah sekeliling, penumpang santai aja, ada yang tidur, ketawa-ketawa, nonton film. Pramugari santai bolak-balik nganterin makanan atau minuman. Oke, kayaknya saya doang yang ketakutan. Tapi kebantu banget nonton film Pensil dan Stip yang lucu dan bagus banget karena mengangkat tentang pendidikan.

Pas pilot kasih tahu udah mau sampai dan landing, loh tapi kok landingnya lama banget, ya. Nggak kayak pas mau pergi begitu diinfokan pilot langsung mendarat. Di situ saya udah bisa ngeliat pemandangan kota tapi ya muter-muter aja di atas karena kayaknya masih nunggu giliran runaway. Kali ini ketakutan udah berkurang. Dan sampailah saya di Jakarta dengan selamat.

Nah, kedatangan di terminal 3 ini emang membingungkan banget, sih. Jadi saya keluar nggak ada mobil pribadi yang bisa berhenti. Yang ada cuma DAMRI dan taksi. Ternyata untuk yang menjemput harus dari tempat parkir di belahan lain bandara yang saya juga nggak paham. Jadi suami harus parkir dan menemui saya baru kita bareng-bareng ke parkiran yang letaknya lumayan jauh. Merepotkan banget sih terutama kalau bawaannya banyak.

But it was a very good trip. Dan baru tau di Kalimantan hutannya udah jarang. HAHAHAHA. Mungkin harus ke pedalaman lagi. Oh, setelah trip ini saya seminggu sakit. Dua hari pertama saya maksain buat masuk karena ada pasien, tapi di kantor saya nggak bisa ngapa-ngapain, bahkan numpang ruang konsul buat tidur aja. Begitu saya bed rest di rumah dan beneran sepanjang hari kerjanya makan, minum obat, tidur baru sembuh.

Semoga ada kesempatan lagi untuk melihat Indonesia belahan lainnya lagi, ya!

 

PS: Yang mau melihat keseruan trip saya ada di highlight di Instagram.

Berkawan Dengan Hewan di Faunaland dan De Ranch Puncak

Demi usaha supaya nggak ke mall terus, beberapa waktu lalu saya ajak Kaleb ke tempat-tempat outdoor yang kesemuanya berhubungan dengan hewan.

Faunaland
Faunaland ini terletak di Ancol, tepatnya di area Ecopark. Waktu itu kebetulan saya datang pas hari Jumat dan tanggal merah. Saya udah mikir bakal kena harga weekend, nih. Tapi ternyata nggak, lho. Harga yang berlaku adalah kalau weekdays (Senin-Jumat) Rp 60.000, weekend (Sabtu-Minggu) Rp 75.000. Fiuh, lumayan banget kan bedanya. Anak umur 3 tahun sudah bayar.

Areanya tidak terlalu luas dan hewannya nggak banyak macamnya, tapi hewan-hewannya dipelihara dengan sangat baik. Tempatnya juga bersih.

Kebetulan pada saat kami datang lagi ada bird show. Lumayanlah ya pembawa acaranya interaktif ketika berkomunikasi sama penonton. Ragam burung-burungnya juga lumayan banyak. Karena kami telat masuknya, jadi nggak terlalu lihat banyak. Tapi overall bagus kok pertunjukannya.

Setelah lihat bird show, kami ngikutin path yang ada di situ sehingga bisa mengelilingi seluruh Faunaland. Pertama-tama kami lihat area burung. Di situ bisa foto pegang burung. Tentu saja suami yang semangat, saya bagian foto aja. Kenapa? Karena dulu saya pernah sok banget mau foto sama ular trus berakhir saya ketakutan. Siapa tau kalau burung bisa matuk juga, kan? Okeh, baik….saya kayaknya penakut. XD Awalnya cuma suami yang mau foto bareng burung, tapi kemudian saya bujuk Kaleb juga siapa tahu dia mau. Eh, dia mau. Jadi burungnya ditaro di tangannya dan dia malah ketawa lucu. Gemes!

IMG_20180330_160416.jpg

Setelah mengitari area burung, kami ke area singa putih. Di depan area singa putih ada kura-kura galapagos yang ukurannya gedeeee banget dan usianya udah ratusan tahun. Saya udah sering baca soal hewan-hewan unik di Galapagos tapi baru kali ini akhirnya bisa lihat kura-kura Galapagos beneran.

IMG_20180330_161122.jpg

Setelah itu, kami menuju singa putih yang ukurannya gede serta beneran berwarna putih. Yang jantan ukurannya lebih besar daripada yang betina. Amaze banget lihatnya karena warnanya cantik dan bagus. Badannya pun gemuk dan dirawat dengan baik. Kandangnya dilapisi kaca jadi pas singa ini duduk dekat kaca serasa deketan banget. Wow!

IMG_20180330_161419.jpgIMG_20180330_161445.jpgIMG_20180330_161514.jpg

Dari area singa, ada keledai dan kuda pony. Kemudian ke area monyet. Ada monyet Dufan juga di situ, lucu bener bentuknya. Lalu ada area binatang-binatang kecil seperti kucing hutan, tarsisius, dsb. Ada tapir juga. Dia suka berendam di danau. Tapi yang paling bikin takjub adalah black panther yang galak banget. Dia letaknya di area depan. Pas kami deketin ke kaca, dia langsung nomprok ke kaca. Gila, kaget! Padahal pas di area singa yang badannya lebih besar, pas banyak orang lihat ke kaca, si singa santai aja duduk. Nah si black panther ini malah ngamuk. Mana yang lihat cuma kami bertiga. Setelah diperhatikan lagi, kakinya cuma 3. Dia lumpuh. Huhuhu, kasihan! Kayaknya dia diselamatkan, deh.

IMG_20180330_163814.jpgIMG_20180330_164010.jpg

Setelah puas mengelilingi Faunaland yang nggak terlalu besar, kami main di Ecopark. Ecopark nih cocok banget buat anak pecicilan kayak Kaleb karena areanya gede dan luas jadi dia bisa lari-lari sepuasnya. Akibatnya, disuruh pulang dia ngamuk. XD

IMG_20180330_162532.jpg

De Ranch, Puncak
Dulu kami pernah ke De Ranch, Bandung dan menurut kami bagus dan areanya luas banget. Makanya kami penasaran dengan De Ranch, Puncak. Setiap orang dikenai biaya Rp 20.000 yang bisa ditukarkan dengan segelas susu, dibayar pada saat masuk parkiran. Untuk mobil dikenai biaya Rp 10.000, dibayar pada saat pulang.

IMG_20180501_124214.jpg

Masuk ke area De Ranch, kami langsung ke loket untuk menukarkan tiket dengan susu. Ada pilihan rasa plain, coklat, dan strawberry. Setelahnya kami langsung menuju ke area permainan. Nah, kalau merasa tiket masuknya murah, itu karena di dalam tiap permainan dan makanan hewan harus bayar lagi. Harganya pun nggak murah. Kalau di Kuntum dengan harga Rp 5000 bisa dapat sekeranjang sayur dan wortel, di De Ranch Rp 25.000 cuma dapat beberapa helai sayur dan 1 wortel. SEDIKIT!

Jadi Kaleb mencoba area panahan boneka, pancing ikan (mana yah ikannya boongan, ada sih yang beneran tapi ikan kecil-kecil di kolam), masuk ke kandang domba dan kasih makan, naik kuda, masuk ke kandang kelinci dan kasih makan. Masing-masing permainan bayar Rp 25.000. Jadi kami mengeluarkan Rp 125.000 lagi di dalam. Dari semuanya yang paling berkesan adalah kasih makan domba. Karena kasih makannya masuk ke dalam kandang domba jadi kami bisa pegang dombanya. Ternyata domba itu ganas banget kalau lihat makanan. Jadi dia mau ambil sayur yang saya pegang sampai berdiri dan nomprok saya. Kaget banget. Makanya saya jadi cupu dan deketnya sama domba-domba kecil yang masih imut aja. Hahaha. Dan bulu domba tuh enak banget dipegangnya, ya. Halus kayak wool. YAH EMANG BUAT WOOL! XD

IMG_20180501_110400.jpgIMG_20180501_110456.jpgIMG_20180501_110531.jpg

IMG_20180501_111250.jpg

Ketika Mamak ditomprok domba

IMG_20180501_111255.jpgIMG_20180501_111443.jpgIMG_20180501_111639.jpgIMG_20180501_113101.jpg

Secara keseluruhan, De Ranch Puncak ini areanya lebih kecil dan lebih kelihatan sumpek. Lebih berasa alam bebas pas di De Ranch Bandung, sih. Selain itu, charge untuk tiap mainnya mahal bener. Berasa tongpes dibanding pas di Kuntum, sih jadinya.

 

Makan Enak Weekend Kemarin

Weekend kemarin senang banget karena bisa nyobain restoran baru dan enak-enak semua. My tummy was happy! Dan lebih senangnya lagi karena nemu 2 restoran ini nggak sengaja.

Sari Laut Jala-Jala, Kuningan City
Hari Sabtu kemarin habis pulang kerja, saya, Suami, dan Kaleb mau nonton Infinity War yang kesohor banget itu. Biar nggak capek ngantri dan kehabisan tiket, kami buka M-Tix dan cari bioskop yang sekiranya nggak penuh dan ada di mall biar bisa makan siang dulu. Akhirnya kami dapat spot di KunCit. Setelah dapat tiket, saya langsung buka Zomato untuk cari restoran di sana.

KunCit tuh bukan mall favorit saya. Selain karena letaknya di Kuningan yang ajegile macet, mall-nya juga sepi banget. Nggak bisa buat cuci mata karena nggak banyak yang bisa dilihat. Tapi ya, kalau cuma buat makan dan nonton doang mah boleh lah. Pas buka Zomato kami udah dapat gambaran restoran apa aja yang ada di sana, tapi belum memutuskan mau makan di mana.

Kebetulan parkir di lantai 3 dekat bioskop. Pas masuk, ada beberapa restoran. Salah satunya Sari Laut Jala-Jala yang paling rame di antara yang lainnya. Pas lihat menunya sekilas, well oke-lah banyak variasi makanan yang bisa memenuhi selera kami bertiga.

Restorannya ya selayaknya restoran Chinese umumnya. Bukan yang instagrammable, ya. Lampu-lampunya memancarkan cahaya biru sehingga kami rasanya kayak ada di aquarium. Hahaha. Menunya segede dosa. Gede banget. :)))) Mungkin saking gedenya per meja cuma dikasih satu menu karena menuh-menuhin tempat banget.

Karena kalau makan tengah, kami cuma 2 orang dewasa dan 1 anak terlalu banyak, jadi kami pesan menu per porsi aja. Saya pesan Lamien Ayam Katsu Sup ala Jala-Jala, suami pesan kwetiaw siram kepiting, Kaleb pesan mie pangsit ayam jamur. Kaleb sekarang udah dipesenin menu sendiri karena dia udah bisa milih dan makannya mulai banyak. Kalau makannya barengan, saya nggak kenyang. Walau kalau 1 porsi dia tetap masih nyisa. Ya tugas bapaknya lah yang ngabisin. Hihihi.

Pas semua makanan datang, nggak ada satu pun yang fail. Enak endeus lezatos banget! Sampai pas kami makan berkali-kali bilang, “Gila, ini enak banget!” Sampe terharu gitu. Hahaha. Lamien saya porsinya besar banget, kuahnya gurih, ditambah dia kasih bubuk cabe. Duh, enak banget! Sup mie pangsit Kaleb juga rasanya kayak terbang melayang-layang saking enaknya. Sementara suami pun muji kwetiaw siramnya berasa banget kepitingnya dan nggak pelit. Senang!

Dengan keadaan perut begah saking kenyangnya, kami penasaran pesan snow ice rasa mangga yang kabarnya best seller di sana. Aslik, itu lapar mata doang karena cuma pesan 1 doang untuk kami bertiga sampai nggak habis. Bukan karena nggak enak, tapi karena perut udah kayak mau meletus. Oh ya, snow ice-nya itu enaaak parah! Es-nya lembut banget kayak sutra, potongan mangganya nggak pelit dan manis banget, plus ada jelly rasa mangga yang juga lembut. Duh, bahagia banget lah makan di situ.

Dan yang paling bahagia adalah, total makan bertiga di sana cuma Rp 190.000! GILS, GILS, GILS! Menurut saya dengan porsi sebesar itu dan rasa seenak itu, harganya worth it banget. :’)

Resto ini cuma punya 2 cabang di Jakarta, yaitu di Kuningan City dan Mal Taman Anggrek. Yeay, ada yang dekat rumah untungnya. Kapan-kapan mau ke sini lagi, ah. Oh ya, aslinya resto ini dari Medan. Kebayang kan selera orang Medan gimana. :))))

Eh, dan saya nggak foto-foto makanannya karena udah langsung tancap mau makan aja. I’m a terrible food blogger, ya. Hahaha! Anyway, waktu itu udah pernah sempat saya video-in di snapgram saya. Siapa tahu udah ada yang lihat. 😉

Bonus foto saya dan Kaleb lagi makan di sana aja, deh. *lalu pembaca kecewa :))))))*

 

The Noodle Jet Cafe, Green Lake City
Hari Minggu, habis pulang gereja biasanya kami makan di luar. Lagi-lagi Kaleb request makan bakmi. Jadi emang kebiasaan kalau weekend kami suka makan bakmi. Kaleb jadi tergila-gila bakmi dan selalu request makan bakmi kalau weekend.

Karena mau cari suasana baru, kami ke Green Lake. Di sana buanyaaaak banget tempat makan yang enak-enak. Karena saking banyaknya tempat makan enak, jadi kami pilih yang catchy aja tempatnya, yaitu The Noodle Jet Cafe yang di depannya ada gambar pesawat. Kalau di Zomato sih ratingnya 2,8 jadi so-so aja. Tapi kami tetap masuk karena bakmi adalah segalanya. Hahaha.

Interiornya keren sekali seperti masuk ke dalam pesawat. Ada jendela-jendela pesawat, kursi yang kayak di pesawat, dan waitress dan waiternya pake baju pramugari dan pramugara. Kece!

Menu makanannya nggak terlalu banyak dan fotonya juga biasa aja, bukan yang bakal menggiurkan gitu. Suami pesan jet noodle special yang isinya ada bakso, tahu, minced beef, sama apa lagi ya lupa. Hehehe. Saya pesan kwetiaw rebus, Kaleb pesan bakmi ayam. Ekspektasi kami sih nggak tinggi, ya. Selain karena rating di Zomato yang nggak tinggi-tinggi amat dan gambar di menu yang kayaknya biasa aja, buka tipe bakmi favorit saya.

Pas datang, uwoooow kami semua puas sama pesanan kami. Kaleb bahkan habis 3/4 dengan porsi dewasa yang cukup banyak. Suami pun bilang enak. Bukan seenak dan sebahagia kemarin di Jala-Jala, sih. Tapi dengan harga yang sangat affrodable kayak gitu dan tempat yang instagramable, mie-nya bisa dibilang enak.

Total biaya yang harus kami bayar adalah Rp 113.000 sajah! Ya gimana kami nggak bahagia banget kan, ya. Perut senang, hati gembira, dompet riang! Hahaha.

IMG_20180429_114001.jpgIMG_20180429_114012.jpgIMG_20180429_114019.jpg

Tentu saja bonus foto narsis kami lah:

IMG_20180429_113132.jpgIMG_20180429_113212.jpgIMG_20180429_113754.jpg

Dan yang tanya mana sih suaminya? Ini loh, suaminya yang suka fotoin makanya nggak sering difoto. Wakakak.

IMG-20180430-WA0011.jpg

 

Review: Film Terbang Menembus Langit

Terbang-Menembus-Langit

Saya udah nunggu film Terbang ini dari mereka syuting dan suka posting foto-foto syutingnya, yang mana kece banget! Kerasa banget jadulnya. Ditambah lagi pemainnya adalah Dion Wiyoko, yang saya udah ngefans banget dari dia main di Cek Toko Sebelah. Berharap banget dia dapat peran yang menantang kemampuan aktingnya. Dan senang banget di film Terbang ini kemampuan aktingnya dikeluarkan semua.

Sinopsis: kisah perjuangan Onggy yang berasal dari keluarga miskin di Tarakan berjuang untuk meraih kesuksesan.

Onggy berasal dari keluarga Cina di Tarakan yang miskin. Ayahnya cuma pegawai di toko kelontong. Anak-anaknya nggak semua bisa sekolah. Sampai suatu hari Onggy pengen sekolah, namun biayanya nggak ada. Kakak Onggy harus membujuk kepala sekolah bahwa adiknya ini akan sepintar dirinya kalau diijinkan untuk sekolah.

Satu hal yang menyentuh banget di film ini adalah bagaimana ayahnya yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk kumpul bersama makan. Kalau ada yang belum kumpul, maka akan ditunggu sampai datang. Harus makan bersama. Stay together when it’s ups or downs. :’)

Makanya pas Onggy mau melanjutkan kuliah di Surabaya, walau kakak-kakaknya pun miskin, mereka bekerja sama untuk membiayai Onggy sekolah di Surabaya. Di Surabaya hidupnya nggak lebih baik juga. Harus hidup di kos-kosan 3x3m yang diisi oleh 4 orang. Tapi justru di kamar kos kecil itu, Onggy menemukan sahabat-sahabat baiknya. Ada kalanya kakak-kakaknya nggak mampu mengirim uang ke Onggy sehingga Onggy harus putar otak untuk cari uang. Dari usaha jual apel, jagung bakar, dll. Sedihnya lagi usahanya nggak selalu berjalan mulus, sering banget ditipu dan dia harus mulai dari nol lagi.

Selesai kuliah, Onggy sewa rumah dan jualan kerupuk. Awalnya usahanya bagus, tapi kemudian lagi-lagi dia ditipu. Adegan Onggy makan kerupuk sambil nangis itu JUARA banget nyeseknya. Ya ampun, rasanya pengen peluk si Onggy yang kayaknya hidupnya kok susah mulu. Sedih.

Yang mengharukan lagi walau Onggy terpuruk, waktu keluarga kakaknya mau numpang di rumahnya karena mereka mau cari kerja di Surabaya, dia tetap menerima dengan tangan terbuka.

Salah satu adegan paling menyenangkan untuk ditonton adalah adegan Onggy jatuh cinta pada Candra, capster di salon kecil yang cantik banget. Laura Basuki, kamu makan apa, sih? Dion Wiyoko bisa menggambarkan perasaan jatuh cinta, grogi, awkard dengan baik. Dan Laura Basuki tuh emang auranya menyenangkan banget ya jadi kita mudah jatuh cinta juga dengan dia.

Saat itu, Onggy udah kerja jadi pegawai. Hidupnya mulai membaik, pekerjaannya juga baik. Tapi ketika ada seorang pegawai yang curhat bagaimana hidupnya berlalu dengan cepat dengan menjadi pegawai doang, Onggy jadi terbakar lagi dengan mimpinya untuk punya bisnis sendiri. Dia pun meninggalkan pekerjaanya untuk mulai usaha sebagai motivator. Salah satu keputusan yang bikin miris sih sebenernya karena kehidupan Onggy dan Candra jadi terpuruk. Ditambah saati itu Candra sedang hamil.

Ada saatnya mereka diusir dari kontrakan karena nggak bisa bayar sewa lagi, tinggal di kamar super sempit, nggak bisa bayar uang lahiran anaknya sampe ngutang. Ada adegan di mana Onggy udah terpuruk banget, dia cuma bisa terduduk berserah sama Tuhan sambil nangis. Ambyaaar, dada saya ikut sesak kayak teriris-iris. Duh, hidup kok bisa seberat ini, ya?

Candra sebagai istri tuh suportif banget. Ngikutin ke mana kemauan suaminya dan percaya suaminya akan sukses. Ada kalanya Candra juga marah, tapi dia akan kembali dukung suaminya lagi. Istri hebat banget lah.

Buat saya adegan paling bikin hati perih adalah di saat Onggy dan Candra baru beli AC, tapi kemudian terjadilah kerusuhan Mei 1998. Gimana mereka hampir aja dibunuh karena mereka Chinese. Pahit banget rasanya.

Sinematografi di film ini bagus banget. Tone colornya bikin kita merasa film ini jadul. Untuk kostum dan setting 90annya mah juara banget. Aslik, itu Dion Wiyoko sampe dibikin belah tengah kayak jaman dulu banget. Inget kan ya, model rambut hits belah tengah ala Andy Lau dan Jimmy Lin. Kostumnya pun pas banget, kelihatan kedodoran, celana gombrong, sepatu jadul. Dan itu konsisten di semua pemain. Nggak ada yang rambutnya kayak terlalu diblow atau terlalu kekinian. Detilnya bagus. Bahkan jalanan, mobil, toko, dan yang lain-lainnya pas. Nostalgia ke jaman dulu banget. Keren!

Selanjutnya silahkan ditonton sendiri, ya. Film yang bagus harus ditonton orang banyak, dong. Dan Dion Wiyoko, aku padamu banget!

 

 

Seru-Seruan di Kuntum Farmfield

Holaaaaa! Setelah hampir 1 bulan nggak ngeblog karena kerjaan lagi datang bertubi-tubi banget sampai hampir nggak sempat blog walking, apalagi nulis blog. Fiuh! Untung sekarang udah agak santai, jadi mari kita ngeblog.

Dua minggu lalu, kami jalan-jalan ke Kuntum Farm Field. Perjalanan spontan di pagi hari karena nggak tahu mau ke mana. Tadinya mau berangkat pagi-pagi banget, tapi tentu saja banyak drama yang terjadi, akhirnya baru berangkat sekitar jam 9. Dan ternyata Bogor macet banget. Nget! Mana sampai di Bogor pakai nyasar pula karena Google Mapsnya salah. Jadi kami nyasar ke sebuah gang kecil super macet dan buntu. Dan ternyata banyak yang salah juga lewat jalan situ karena Google Maps. Jadi kalau mau ke Kuntum pake Waze aja, deh.

Karena udah keburu nyasar, jadi kami mendingan makan dulu karena udah jam 12 siang. Iya, 3 jam sajah ke Bogor. Kami makan di Daiji Ramen. Pilih di situ karena kebetulannya lewat situ jadi ya udah. Ramennya biasa banget. Apalagi kalau udah coba ramen sekelas Ikkudo, Menya Sakura, dsb. Lewat banget lah. Tapi dengan harga yang affordable banget, dimaklumi sajalah. Lagian untuk rasa bukan nggak enak, kok. Jadi masih tetap bisa dinikmati. Oh, ocha-nya bisa refill, tapi maksimal 3 kali. Biar nggak maruk kali, ya.

Lupa ini pesan apa aja. Tapi semua pesan yang berbeda. Kaleb lahap banget sih makan di sini. Satu porsi normal habis 3/4-nya.

IMG_20180414_130953.jpgIMG_20180414_131018.jpgIMG_20180414_122552.jpgIMG_20180414_122534.jpg

Setelah makan, kami lanjut ke Kuntum yang nggak terlalu jauh dari Daiji. Dikirain bakal panas banget ya, tapi untungnya mataharinya lagi baik. Nggak terlalu menyengat, lumayan adem. Kalau ke Kuntum siap-siap bawa topi aja mendingan. Tapi di sana ada topi caping yang bisa dipakai gratis, sih.

Kuntum ini biaya masuknya Rp 40.000 per orang. Untuk anak di atas 3 tahun udah bayar full. Hewannya lumayan banyak seperti kambing, domba, kelinci, ikan lele super besar (wow, mamak aja sampe terkejoedh), rusa, sapi, ayam, angsa, dsb. Di gambar ada kuda sih ya, tapi kemarin saya nggak lihat ada kuda.

Kaleb senang banget main di sini karena bisa interaksi langsung dengan hewan-hewan. Dia kasih susu ke kambing pake dot, kasih kelinci makan. Untuk susu dan makanan sekeranjang masing-masing beli lagi harganya Rp 5.000. Lalu ada juga kolam kecil untuk nangkap ikan pake tangan atau pake ember. Nah, yang tangkap ikan ini Kaleb suka banget. Jadi dia masuk ke dalam kolam ikan, basah-basahan (ups, saya mana nggak bawa handuk, untungnya baju ganti bawa, sih). Seru banget sih liatnya kayak anak-anak di daerah yang terjun ke sungai langsung nyari ikan.

IMG_20180414_134227.jpgIMG_20180414_135216.jpgIMG_20180414_135501.jpgIMG_20180414_135544.jpgIMG_20180414_135758.jpgIMG_20180414_140207.jpgIMG_20180414_140845.jpgIMG_20180414_141052.jpg

Habis main nangkap ikan, bisa bilas di shower-shower yang disediakan di sekitarnya. Tapi kayaknya kalau sabun harus bawa sendiri, sih. Di shower depan dekat gerbang ada sabun cair, tapi nggak tahu itu disediakan Kuntum atau ada orang yang bawa.

IMG_20180414_143811.jpg

Kami menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam di sana. Puas banget karena tempatnya luas, bersih, hewan-hewannya dipelihara, dan anak-anak bahagia banget ada di sana. Kalau menurut saya, enakan ke sana siang menjelang sore, jadi nggak panas-panas banget kayak saya kemarin.

Nah, ini bonus foto narsis Mamak. XD

IMG_20180414_142933.jpgIMG_20180414_143107.jpgIMG_20180414_143207.jpgIMG_20180414_141751.jpg

 

Kuntum Farmfield

Alamat: Jl. Raya Tajur No.291, Sindangrasa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat 16145.
Jam Buka ⋅ 10.00-18.00
Tiket: Rp 40.000/orang
Telepon0877-2078-1000

Kaleb Umur 3

Bulan Maret ini Kaleb berulang tahun ke-3. Wow, anakku sebentar lagi udah mau sekolah. :’)

Tahun ini saya beneran malas merayakan ulang tahun Kaleb. Selain karena mertua masih sakit, ya males sama printilannya aja. Biasanya dari akhir Februari saya udah heboh cari tema dan segala macamnya. Tapi ini sampai masuk Maret, saya masih santai aja. Plan-nya adalah ajak Kaleb bersenang-senang di playground mana pun yang dia suka, beli hadiahnya sendiri (nah, setahun belakangan ini Kaleb diajarin rajin menabung receh di celengan. Kemarin dibongkar deh celengannya dan terkumpul lah uang yang akan dia belikan hadiahnya sendiri), dan paling makan bersama aja.

Ini hatinya udah mantap banget karena mendekati hari H pun, saya beneran nggak ada persiapan apa pun. Kagumlah sama kewolesan diri sendiri. Tumben. :)))

Tapi kemudian, beberapa hari sebelum Kaleb ulang tahun, adik saya ngabarin kalau giliran dia yang dapat arisan keluarga besar. Dia nanya gimana kalau arisannya tanggal 25 Maret, yang mana pas banget sama ulang tahun Mama. Jadi rencananya tiup lilin bareng Kaleb juga, kan kebetulan sepupunya pada datang.

BHAIQUE!

Naomi tuh dikasih beginian mah bikin jiwa rempongnya keluar. Dari yang nggak mau bikin apa-apa sama sekali, akhirnya jadi bikin apa-apa. Tema ulang tahunnya adalah Fire Fighter karena Kaleb lagi suka segala sesuatu yang berbau pemadam kebakaran dan kebetulan banget punya kostumnya.

Akhirnya kerempongan dimulai dari pergi ke Pasar Perniagaan demi beli goody bag (pasti kalap bener deh kalau ke sini), ngedesain tag, topper, sticker untuk snack, dll. Makasih suami yang mau diribetin bikin desainnya. Guntingin dan nempelin semua sendiri sampai encok bener. XD Semua dilakukan dalam seminggu saja.

Sementara untuk di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan berlebihan. Kebetulan saya lagi cuti karena Mbak lagi pulang kampung jadi seharian saya mengabulkan keinginan Kaleb. Dimulai dari makan bakmi Bangka kesukaan dia, tapi harus naik angkot. Lalu, main di Chipmunks Neo Soho berjam-jam sampe rasanya saya bosan, tapi bertahan untuk nggak ajak dia pulang sampai dia mau sendiri. Anyway, Chipmunks ini menurut saya mahal banget, harganya untuk anak di atas 2 tahun (di price list ditulisnya 3 tahun ke atas) Rp 185.000, tapi kenyataannya anak usia 2 tahun lebih harganya segitu juga. Areanya lumayan besar dan bisa main dengan waktu unlimited. Tapi ya tetap aja, dengan harga segitu sih nggak worth it sih menurut saya. Pas saya main kan hari Jumat ya, di mana hitungannya belum weekend, tapi dihitung harga weekend. Pas ditanya kenapa, Mbaknya tuh kayak nggak bisa jelasin. Sampai akhirnya saya minta supervisornya jelasin.

IMG_20180316_134626.jpgIMG_20180316_153019.jpgIMG_20180316_153029.jpgIMG_20180316_145657.jpg

Malamnya kami makan malam di Pizza Hut karena Kaleb request mau makan pizza di ulang tahunnya. Waktu itu makan bareng dadakan karena kebetulan orang tua saya juga baru pulang dari rumah saudara dan adik saya kebetulan lagi meeting di Pizza Hut juga. Papanya nyusul dari kantor. Karena kayaknya belum sah kalau belum tiup lilin tepat di hari ulang tahunnya, maka suruh Papanya beli kue kecil aja. Dan itu beneran kecil banget kuenya, tapi Kaleb suka banget karena bentuknya Minion. :)))

IMG_20180316_234800_641.jpgIMG-20180316-WA0018.jpg

He was having a blast time and we were so happy. :’)

Fast forward seminggu kemudian ke acara ulang tahun Kaleb dan Mama yang nebeng arisan keluarga. Ini tampilan goody bag Kaleb.

IMG_20180325_064937.jpg

Tas McQueen pilihan Kaleb sendiri. Nggak ada yang pemadam kebakaran soalnya. Yang penting warnanya merah.

IMG_20180325_064922.jpg

Cemilannya cuma 2 ini aja. Nggak mau yang berbau mecin jadi ambil yang aman dimakan buat anak kecil. Di tiap snack-nya dikasih sticker.

IMG_20180325_064906.jpg

Tempat makan dan botol minum yang udah dibungkus dari sananya, jadi nggak perlu repot lagi. Oh ya, tempat makannya berbagai macam warna dan gambarnya beda-beda.

IMG_20180325_064850.jpg

Susu Ultra Mimi full cream (lagi-lagi biar yang rasanya nggak kebanyakan gula). Bungkusnya itu PR banget, ye. Pegel bener. Hahaha.

Untuk kue-nya sendiri saya pilih donut cake di Dunkin Donut. Pilih donat karena dari pengalaman sebelumnya, kalau beli cake suka luamaaaa banget habisnya. Pada dasarnya kami nggak terlalu suka cake dan manis-manis. Jadi milih donat karena Kaleb suka donat dan pasti kemakan banyak orang. Oh ya, donut tower ini bisa dipesan 3 hari sebelum hari H dan cuma request warna pink atau biru. Ya udah saya cuma pesan banyakan biru aja, nggak perlu pink, dan banyakin donat monster cookiesnya biar lucu. Dan pas diambil…. kyaaaa, ku suka banget! Bagus!

IMG-20180325-WA0037.jpg

Topper pemadam kebakarannya bikin sendiri semua. Dan teteeep ada muka Kaleb dong. Hahaha!

IMG-20180325-WA0035.jpg

IMG-20180325-WA0040.jpg

Pas lihat donut tower ini Kaleb excited banget dan mau langsung comot aja. Lalu dia bangga banget ada mukanya yang lagi pake seragam pemadam kebakaran di situ. Priceless lihat ekspresinya. :’)

Sebelum acara mulai dan dekor masih cakep-cakepnya, maka foto dulu dong.

IMG-20180325-WA0001.jpgC360_2018-03-26-09-53-52-934.jpgIMG-20180325-WA0008.jpgIMG-20180325-WA0020.jpgIMG-20180325-WA0078.jpg

IMG_8735

Selamat bertambah umur, anak kesayangan Papa Mami. :’)

Tentunya pas udah banyak tamu yang datang bentukannya udah nggak begini lagi karena udah heboh lari sana-sini sama para sepupunya. Jadi pas ulang tahun udah ganti baju lagi. Ternyata bulan Maret ini banyak yang ulang tahun jadi tiup lilinnya bareng-bareng.

Dear Kaleb,
Selamat ulang tahun. Semoga semesta menjadikanmu mahkluk kesayangannya sehingga dipermudah semua langkahmu dan keberuntungan menemanimu dalam mencapai tujuan hidupmu. Tetaplah mudah berbahagia untuk hal-hal sederhana, tertawalah dan seringlah menertawakan hidup karena seringkali hidup itu lucu dan Tuhan sedang ingin becanda denganmu.

Jadilah apapun yang kamu mau, selama itu baik, dan semoga kami mampu menerima papaun keputusanmu dalam hidup. Jangan takut menjadi manusia yang unik karena sungguh kamu memang istimewa dan pasti Tuhan sedang sangat bahagia ketika menciptakanmu.

Terima kasih telah menjadi guru bagi kami selama 3 tahun ini. Tanpa kehadiranmu, kami tak akan pernah menjadi orang tua dan belajar banyak untuk mengenal lebih baik tentang diri kami sendiri.

Selamat 3 tahun, Kaleb. Dunia menunggumu untuk menjadikannya lebih berwarna dan lebih baik.

Kami yang mencintaimu,

Papa dan Mami.

 

Sampai jumpa di ulang tahun Kaleb ke-4! 😀

Review: Yowis Ben

Baiklah, mau review film lagi. Jadi Maret ini saya cukup sering nonton film Indonesia. Salah satunya adalah Yowis Ben. Awalnya saya nggak tahu film ini sama sekali, tapi setelah beberapa minggu tayang dan jumlah penontonnya lumayan banget serta review yang positif, akhirnya memberanikan nonton. Kenapa memberanikan? Karena film ini 90% pake bahasa Jawa dan pemeran utamanya nggak cakep. HAHAHAHA, ya maap selama ini kan nonton drakor aja pilih yang pemeran utamanya harus cakep dulu.

Sinopsis: Bayu menyukai Susan sejak lama, namun merasa minder dengan keadaan dirinya yang pas-pasan. Bayu bertekad mengubah dirinya menjadi lebih populer dari Roy, pacar Susan yang gitaris band. Ia membentuk band bersama teman-temannya, yang dinamai Yowis Ben. Langkah Bayu dan teman-temannya tidak mudah. Terjadi perpecahan antar personil band. Berhasilkah Bayu mempertahankan band-nya dan mendapatkan Susan?

Review:

Ceritanya sederhana banget sebenarnya, tentang persahabatan anak band. Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dan Tutus Thomson adalah anak-anak tidak poupler yang punya permasalahannya sendiri dan ingin lebih dianggap dengan menjadi anak band yang populer. Nandan (Brandon Salim) sebenarnya anak populer sih, cuma dia sebel karena tiap dia upload kemampuan bermain piano-nya di Youtube selalu komennya, “KYAAAA, GANTENG BANGET!”, bukannya fokus pada kemampuan dia. Nah, Bayu, Doni, dan Yayan ngajak Nando ikutan band mereka karena tahu kalau semua anggotanya tampangnya pas-pasan pasti nggak bakal populer, jadi harus ada satu anggota yang mukanya cakep biar menarik perhatian cewek-cewek.

Jadilah mereka band anak sekolahan yang main musik genre alternatif (?) pake bahasa Jawa tapi tema lagunya lucu-lucu, ada yang tentang pelajaran, sekolahan, dsb.

Anyway, lagu-lagunya bagussss banget. Walau pake bahasa Jawa tapi catchy banget lagu-lagunya. Favorit saya tentunya Gak Iso Turu yang sekali denger bikin saya nyanyiin terus dan langsung download.

Bahkan ada lagunya yang judulnya Oso Bolos Pelajaran yang jadi official song di Kemendikbud RI. Keren, ya!

Yang bikin film ini menyenangkan banget adalah chemistry persahabatan dari keempat pemerannya bagus banget. Berasa banget mereka temenan beneran dan asik aja gitu dari cara ngobrol dan becandaan mereka. Walau 90% ngobrolnya pake bahasa Jawa, nggak perlu khawatir karena pastinya ada subtitle dan nggak perlu takut nanti roaming karena becandaannya pasti kita paham banget dan bikin ngakak. Kita bisa banget relate, apalagi anak-anak sekolah di sini bukan yang high class jadi bisa kita temui sehari-hari. Satu kata buat film ini: segar! Saat ini ditulis jumlah penonton udah 900 penonton dengan jumlah layar yang sudah semakin sedikit. Berharap banget sih bisa sampai 1 juta penonton karena filmnya bagus dan pesannya oke.
Kekurangan film ini adalah dengan segala kearifan lokal yang ada di dalamnya dan malah bikin film ini unik dan sangat relatable, sayang banget yang dipilih jadi pemeran utama cewek dan saingan si Bayu dibikin terlalu bule. Bukannya apa-apa, jadi nggak terasa fit in di sekolahnya aja. Hahaha, hal minor sih tapi saya prefer yang cantiknya membaur gitu di sekolahnya jadi makin lokal lah. Paham ora? XD
Tapi secara keseluruhan film ini segar, menyenangkan, lucu, dan tonton deh kalau masih ada di bioskop. Kalau saya aja yang nggak paham kultur Jawa dan bahasa Jawa bisa ngakak banget, kebayang banget orang-orang Jawa yang nonton akan lebih ketawa lagi. 😉

Review: Love For Sale

Love For Sale adalah salah satu fulm yang saya tunggu-tunggu banget karena lihat trailernya aja udah menarik. Bayangin ada Gading Marten yang cuma pake kancut dan kaus dalam bolong-bolong lagi galer sambil ngomong ama kura-kura peliharaannya. Wow, cukup jarang sih trailer seberani dan sesederhana ini. Dengan latar belakang lagu jadul The Mercy’s – Hidupku Sunyi. Beuh, I’m sold!

Semakin yakin lagi nonton ini karena setelah special screening dan gala premier, reviewnya pada positif. Bhaique!

Sinopsis: Richard, seorang jomblo di usianya yang 41 tahun, ditantang teman-temannya untuk bawa pacar ke pernikahan temannya dengan taruhan harga diri. Akhirnya Richard menghubungi Love.inc dan mendapatkan Arini sebagai pacar bohongannya. Tapi karena suatu kejadian, Richard harus tinggal bersama Arini selama 45 hari.

Kisah tentang pacar kontrak gini udah sering banget lah jadi tema film, FTV, bahkan sinetron. Tapi Love For Sale mampu meracik kisah yang menarik. Buat saya, kekuatan film ini ada pada akting Gading yang luar biasa effortless. Gading yang image-nya joged-joged alay di Inbox, kali ini membuktikan kalau dia lebih dari itu. Nggak kebayang tokoh Richard diperankan orang lain.

Richard adalah seorang jomblo akut kesepian yang hidupnya monoton banget. Dia bahkan tidak merasa ada yang salah dengan hidup monotonnya cuma karena dia gagal move on belasan tahun yang lalu. Hidupnya cuma di rumah sekaligus kantor sepanjang hari, nggak pernah jalan-jalan ke mana pun, bahkan dari Jakarta Pusat ke Kemang aja dia bisa nyasar. Mobilnya jadul, style-nya ketinggalan 20 tahun, rambutnya belah pinggir klimis. Karena hatinya gagal move on, hidupnya pun stuck di era jadul. Hidupnya cuma sekedar rutinitas. Dan tipikal (walau tidak semua) jomblo akut di usia berkeluarga adalah dia galak banget ama karyawan-karyawannya. Kerjanya ngomel mulu dan lembur terus.

Lalu datanglah Arini. Si cantik yang lovely banget yang mengubah hidup dan hati Richard. Sungguh ya, saya yang perempuan aja naksir banget sama karakter Arini yang menyenangkan, manis, hangat, nggak neko-neko, dan sepertinya dia bisa membuat cerah suatu ruangan kalau dia masuk. Yakin banget, siapapun pasti akan jatuh cinta sama karakter Arini. Dan peran ini dimainkan dengan sangat baik oleh Della Dartyan. Padahal ini film pertamanya, lho. Kuddos!

Chemistry Gading dan Della bagus banget. Kita terbawa dengan hubungan Richard dan Della yang dibangun secara perlahan-lahan, sama seperti penonton yang dibawa jatuh cinta sama keduanya dan berharap akhir bahagia buat mereka. Perlahan-lahan hidup Richard berubah, matanya berbinar-binar, hidupnya nggak monoton, dia lebih santai, easy going, dan nggak galak lagi ke karyawannya. Efek cinta banget, ya.

Endingnya yang tidak tertebak bikin perasaan habis nonton film buat saya hampa dan perih. Jadi mungkin perasaan seperti ini yang dialami Richard; ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Saya sampai masih kepikiran sebelum tidur; kok gitu amat, sih. Dan baru bisa review lebih panjang sehari sesudahnya sampai emosi saya lebih netral. Bahkan nulis review di blog ini berhari-hari setelahnya.

Film yang bagus untuk merasakan kesepian sebenarnya. Dan semoga dari kita nggak ada yang patah hati sebegitunya banget sampai harus kayak Richard, ya.

Seminggu Bersama Kaleb

Semingguan kemarin saya cuti karena mbak lagi pulang kampung. Dengan jagoannya, saya memutuskan untuk cuti dan full jagain Kaleb. Beuh, pede! Biasanya saya ngungsi ke rumah orang tua, biar isi perut aman dan saya bisa fokus jagain Kaleb. Dan kemarin itu Kaleb lagi nggak enak badan dan sempat demam.

Weekend aman lah karena ada suami, jadi bisa gantian jagain dan kalau bosen ya makan aja di luar rumah. Nah, begitu weekdays, jeng jeng jeng! Saya berduaan aja. Bangun subuh untuk masak buat diri sendiri dan buat Kaleb (yes, Kaleb makannya suka dibedain karena dia nggak bisa pedas, sementara saya dan suami suka pedas), dilanjutkan nyapu, ngepel, nyuci baju sambil nunggu Kaleb bangun. Kaleb ini anaknya hobi banget nempel jadi kalau dia bangun, saya nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Kalau saya lagi masak aja, dia bisa ambil kursi kecilnya dia, taro di dekat saya dan peluk-peluk saya sambil saya masak. Selain itu kalau dia tidur, dia kayak punya radar kalau saya bangun dan ninggalin dia, tiba-tiba dia akan kebangun. Rempong, cuy!

Kaleb kalau lagi nggak enak badan bawaannya males makan, jadi makannya diemut luamaaa banget. Plus, saya lagi PMS. Udah lah itu tiap kasih makan tuh emosi jiwaaa banget. Makan lama, padahal saya udah khusus masak menu yang berbeda tiap dia makan. Bawaannya jadi ngomel-ngomel dan mau nangis. Huhuhu.

Malah pernah satu hari di mana saya udah burn out banget dan suami lembur. Sebagai orang introvert, saya tuh selalu butuh ada waktu untuk sendirian dan nggak ngobrol. Pokoknya space buat diri sendiri lah. Sementara Kaleb anaknya ekstrovert banget. Dia suka ngobrol tanpa henti, harus selalu bersama-sama, dan mau dia main sendiri dia harus ajak ngobrol tiap saat. Akhirnya yang ada energi saya habis dan stres banget. Pas suami pulang malam, rumah super berantakan.

Akhirnya besoknya semua sendi-sendi saya sakit dan saya memutuskan untuk nggak bisa lagi nih di rumah. Jadi hari itu saya seharian berdua Kaleb jalan-jalan ke mall dan itu sangat menyenangkan. Saya bisa dandan, pake baju yang bagus. Nggak melulu di rumah dengan baju lusuh, rambut lepek, dan buluk banget bikin mood drop.

Nah, karena Kaleb lagi batpil juga dan tiap malam dia tidurnya nggak nyenyak karena kebangun. Saya jadi ikut kebangun dan setelah kebangun jadi susah tidur. Padahal tiap hari pasti kebangunnya pagi. Akhirnya di weekend, saya tepar ketularan Kaleb. Seharian pusing, flu, tenggorokan sakit, dan lemas. Maunya tidur dulu. Untung ada suami, jadi dia yang urusin Kaleb dulu.

Dan hari ini, saya udah masuk kantor lagi. Mbak udah otw ke rumah. Wohoo! Saya bahagia banget lah balik ke kantor. Ternyata saya emang butuh ngantor demi kesehatan mental saya. Hahaha. Bukan karena saya nggak suka berada berduaan sama anak, tapi ternyata saya butuh space untuk diri sendiri dan kantor adalah perlarian terbaik untuk saat ini. 🙂

Selamat hari Senin. 😀