Kostum Kawinan

Sebulan terakhir ini dipenuhi dengan rangkaian acara pernikahan adik saya. Jadi, sungguh lelah banget ngurusin printilannya. Dan lebih lelah lagi pas hari H karena sebagai pihak perempuan alias parhobas, ampun harus ngurusin banyak hal dari subuh sampe malam. *pingsan*

Nah, postingan ini bukan tentang acaranya, tapi tentang outfit apa aja yang saya pakai. Soalnya pas post di IG, banyak banget yang nanya. Jadi sekalian aja posting di sini.

Martumpol alias pertunangan

img-20181117-wa0082img_20181117_083627img_20181117_082112_886img_20181117_084928

Bahan kebaya warna biru: Fancy Mayestik (Rp 300 ribuan untuk 1 kebaya)
Kain bawah: Thamrin City Rp 350 ribu (2 meter. Buat bikin bawahan dan kemeja batik Kaleb). Lupa nama tokonya.
Penjahit: QZM Pasar Sunan GIri (kemeja, rok, dan kebaya)
Make up and Hair Do: Salon Java Bendungan Hilir

Pemberkatan dan Acara Adat

c360_2018-12-02-05-58-31-292img_20181201_074936

Bahan kebaya: Fancy Mayestik (Rp 700 ribu per 2 meter)
Penjahit: QZM Pasar Sunan Giri
Make Up and Hair do: Vera (@vera_makeup)
Jas Kaleb: @bella.kidsfashion

Bapake mana? Ya nggak foto bareng lah, saking kita berdua sibuk banget ke sana-ke mari. :((

Resepsi
img-20181202-wa0065img_20181202_201923_974img-20181202-wa0059img_20181202_155302img_20181202_153622_hhtimg_20181202_161640

Bahan: dikasih, jadi nggak tahu harganya berapa.
Penjahit: QZM Pasar Sunan Giri
Make up and Hair do: @nochmakeupartist
Pakaian Kaleb: Erica Baby & Kids Shop (Meruya Ilir)

Yang resepsi banyak fotonya karena kita nggak ngurusin acara lagi, jadi bebaaaasss banget bisa menikmati acara. Uhuy!

Untuk biaya jahitnya nggak dicantumkan karena tergantung modelnya seperti apa, jadi harganya nggak fix. Akan lebih baik kalau langsung ditanya ke Bapak Kosimnya langsung.

Semoga membantu, yaa. 🙂

Advertisements

Tentang Perceraian

Kemarin buat saya adalah hari patah hati nasional sesungguhnya. Ternyata patah hati karena Hamish Daud nikah sama Raisa lewat. Patah hati kali ini saya beneran sedih banget sampai saya scroll time line feed IG yang bersangkutan sampai bawah demi mengenang masa-masa indah itu. Patah hati karena Gading dan Gisel mau cerai. :(((

Jadi ya, saya termasuk penggemar Gempi sampai saya suka bilang ke teman-teman saya kalau Gempi itu calon mantu saya dan Gading-Gisel adalah calon besan saya. Hahahaha *AMININ, dong! XD* Kadang-kadang saya komen caper di IG Gading dan Gisel kalau ada Gempi.  XDDDD

Makanya sedih banget, ternyata keluarga yang di luarnya terlihat bahagia (well, aren’t we all like that on Instagram? We picture the happiness and the perfect life in Instagram). Tapi ya, tetap aja shock. Huhuhuhu!

Kemudian, saya bacalah komen-komen di IG. Tentu banyak yang sedih dan patah hatinya sama kayak saya. Nggak jarang juga yang langsung nulis ayat-ayat Alkitab dan mengingatkan bahwa perceraian itu nggak baik, seharusnya bersatu demi anak bla bla bla bla bla.

Dan ku langsung mengernyitkan alis.

Semakin lama saya menjalani pernikahan (yang sungguh nggak seindah kisah cintanya Cinderella) dan bertemu dengan banyak pasien yang konseling pernikahan, saya jadi semakin paham bahwa kadang-kadang berpisah itu jauh lebih baik daripada bersama. Bahwa hidup itu nggak bisa hitam dan putih. Seringnya kita berada di kondisi abu-abu.

(Saya lagi nggak ngomong soal perceraian di dalam agama, ya. Karena bukan kapasitas saya.)

Ada salah satu pasien perempuan, yang hubungannya dengan suami sangat toxic (suami selingkuh, emotionally abusive, memaksa hubungan seksual, manipulatif, dll), dan dia berusaha bilang ke ibunya mengenai keinginannya untuk cerai, tapi ibunya melarang dan malah memarahinya karena merasa perceraian itu tabu. Pasien ini akhirnya menderita halusinasi saking tertekannya, berkali-kali berpikir untuk bunuh diri. Setiap minggu wajib ketemu psikiater dan psikolog supaya dirinya terbantu dan tidak bunuh diri. Sedih banget liatnya.

Bahwa sebagai orang luar kita cuma bisa lihat dari permukaannya aja. Yang sungguh tahu apa yang dirasakan hanya orang-orang di dalamnya. Saya banyak bertemu anak-anak yang tumbuh besar di dengan orang tua yang pernikahannya sangat bermasalah sehingga dalam hati mereka, mereka berharap orang tuanya bercerai karena akan membuat mereka lebih bahagia. Tapi banyak sekali orang tua yang bertahan demi anak. Mereka lupa bahwa orang tua yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Anak-anak akan merasa ketika orang tuanya bermasalah, seberapa pun orang tua berusaha menyembunyikannya. Anak-anak kita adalah anak-anak yang juga peka terhadap situasi yang sedang dihadapinya.

Pertanyaannya, apakah bertahan demi kebahagiaan anak atau kita takut apa kata orang kepada anak yang orang tuanya bercerai?

Banyak yang concern bahwa anak yang orang tuanya bercerai akan tumbuh menjadi anak yang bermasalah. Padahal itu tergantung gimana orang tuanya. Makanya ketika pasien memutuskan untuk bercerai, saya selalu minta untuk mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya, termasuk siapkah untuk bersama-sama menjadi partner untuk membesarkan anak. Walau sebagai suami dan istri bercerai, tapi kalian tetap akan membesarkan anak bersama-sama sebagai partner orang tua. Ketika memutuskan untuk bercerai, siapkah untuk berdamai dengan pasangan? Makanya perceraian tidak boleh diputuskan sekejap, terutama ketika sedang emosional. Ketika mantan pasangan kompak membesarkan anak sebagai partner, anak tetap akan merasa utuh. Jadi bukan soal status orang tua yang cerai, tapi lebih ke bagaimana setelah bercerai orang tua tetap menjalankan fungsinya sebagai orang tua, tetap bekerja sama, dan membangun hubungan yang baik satu sama lain. Pastikan bahwa kebutuhan fisik dan emosional anak terpenuhi.

Selain itu, saya juga berusaha untuk mengajarkan Kaleb bahwa nggak ada satu bentuk keluarga yang lebih baik dibandingkan yang lain. Bahwa ada keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, tapi juga ada yang terdiri dari single parent, diasuh oleh kakek nenek, atau tipe keluarga lainnya. Tidak apa-apa dan semuanya baik asal si anak berkembang dengan baik. Fokusnya adalah attitude si anak, dan bukan berasal dari keluarga yang seperti apa.

Ketika saya punya anak dan melihat banyak hal di sekitar saya yang tidak sempurna, saya harus memutuskan apa yang saya harapkan Kaleb miliki. Saya ingin Kaleb pintar secara akademis (banget nget!), tapi kemudian saya lebih pengen Kaleb punya sifat yang baik dan mengasihi. Nggak gampang judging ke orang di sekitarnya. Dan itu membuat saya harus juga melakukan hal yang sama. Kalau dulu sih saya bakal nyinyir dan judging kalau lihat ada hal yang nggak sesuai sama value saya. Tapi semakin ke sini, walau kadang-kadang masih ingin, saya berusaha untuk nggak banyak judging ke orang. Bahwa apa yang kita lihat, belum tentu tepat seperti apa yang mereka rasakan. Everyone has their own battle. Jadi lebih baik diam kalau memang nggak punya hal baik untuk diucapkan.

Akhir kata, walau patah hati dan sedih, tapi ku berharap Gempi adalah jodohnya Kaleb. HAHAHAHAHA. Doain, ya. XD

 

 

 

 

Seseruan di Asian Para Games

Saya baru tau kalau Asian Games itu biasanya diikuti dengan Asian Para Games. Nah, karena saya suka banget nonton pertandingan olahraga (tapi nggak suka ngelakuinnya, sih. Hahahaha), jadi tentu saya excited banget buat nonton Asian Para Games.

Setelah diumumkan bisa beli tiket online melalui loket.com. Pas buka web, hah serius nih tiketnya murah banget. Tiketnya hanya seharga Rp 25.000. Bahkan ada tiket terusan seharga Rp 100.000 untuk nonton semua pertandingan dalam sehari. Wow! Dulu pas Asian Games, tiket termurah kalau nggak salah Rp 75.000. Itu pun kayaknya jarang yang seharga itu. Banyakan dimulai dari Rp 100.000 untuk babak kualifikasi dan harganya akan meningkat kalau semifinal dan final.

Di hari pertama, tanggal 6 Oktober 2018, saya datang pagi untuk menyaksikan wheelchair basketball. Arena GBK masih sepi banget. Shuttle bus juga nggak sebanyak pas Asian Games. Area makanan juga nggak terlalu banyak. Dari gate 5, depan fX, saya jalan sedikit ke halte untuk naik shuttle bus ke area basket hall.

18-10-06-16-40-39-687_decoimg_20181006_100752img_20181006_100812img_20181006_101153

Di area basket hall sendiri belum terlalu ramai. Kursi penonton masih sepi. Tapi makin siang makin rame, walau nggak full. Lumayanlah. Oh ya, botol minum nggak boleh dibawa masuk. Tapi kalau bawa tumblr sendiri boleh. Makanan kecil, seperti roti boleh dibawa masuk.

Pertandingannya sendiri seru banget. Ternyata walau pake kursi roda, mereka gesit banget, terutama pemain China. Skillnya oke banget, tiap dapat bola dan punya kesempatan nge-shoot selalu masuk. Jago banget, sih.

Pengalaman yang kami dapatkan berharga banget, terutama buat kasih tahu ke Kaleb bahwa walau pakai kursi roda dan nggak sempurna, orang bisa berprestasi. Masalahnya adalah…. Kaleb yang masih kecil ini nggak menganggap pakai kursi roda itu aneh, dan nggak memandang hal tersebut berbeda dari orang biasanya. Hahaha. Tapi setelah dipikir-pikir, hey justru pemikiran Kaleb yang benar. He saw no differences among normal and disable people.

Pulangnya pas siang, kami naik shuttle bus lagi untuk kembali ke gate 5. Tapi ternyata shuttlenya nggak sampai gate 5 karena harus istirahat. Akhirnya kami turun dan menunggu shuttle lainnya, tapi yang ada lamaaaa datangnya sementara udah terik banget cuaca. Daripada nunggu lama, kami memilih jalan kaki sampai ke gate 5. YASSSSS, banjir keringat banget.

Besoknya, kami berencana mau nonton lagi. Kali ini olahraga yang berbeda. Cek di loket.com, tiket untuk weekend udah sold out semua. Kayaknya karena efek opening ceremony semalam. Tapi tenang aja, tiket masih bisa dibeli di ticket box langsung. Untuk cabang olahraga yang bukan di GBK, tiketnya gratis.

Kali ini kami berangkatnya sore karena sungguh nggak tahan dengan teriknya cuaca yang hampir 37 derajat. Hari Minggu itu sekitar Senayan lumayan macet karena ada pameran juga di JCC, jadi banyak jalan yang ditutup. Kami parkir di Plaza Senayan dan jalan kaki sedikit ke gate 5. Tadinya kami mau nonton para swimming, tapi tiket udah habis. Jadi kami nonton badminton yang tiketnya masih ada.

Kebetulan banget yang main lagi Indonesia; Suryo Nugroho. Untuk badminton sendiri, walau nggak penuh, tapi yang nonton cukup banyak. Antusiasnya sama kayak Asian Games. Orang-orang teriak dan tepuk tangan menyemangati heboh banget. Mana pas pertandingan Suryo Nugroho lawan Malaysia itu seru banget sampe rubber set. Pokoknya saya menikmati banget, deh. Oh ya, untuk pertandingan badminton ini sampai malam jadi yang datang sore pun masih bisa nonton.

img_20181007_180855img_20181007_183738_077img_20181007_184546_846

Asian Para Games masih berlangsung sampai tanggal 13 Oktober 2018 nanti. Jangan lupa nonton ya, gengs. Tiket bisa dibeli langsung di loket.com atau di ticket box langsung. Jadwal bisa follow akun IG @asianpg2018 atau download app-nya di APG2018.

Support para altet Para Games kita, ya, karena mereka rindu banget dapat dukungan dari kita. Salam olahraga! 😉

 

Ketika Masalah Pup Bikin Masuk Rumah Sakit

Minggu lalu adalah minggu terberat buat saya. Kaleb masuk rumah sakit. Ada apakah gerangan?

Jadi hari Senin seperti biasa Kaleb sekolah. Masih aktif banget anaknya. Sorenya Mbak di rumah telepon katanya Kaleb muntah banyak banget dan perutnya sakit. Saya minta kasih teh manis hangat dulu, lalu saya buru-buru pulang. Kaleb memang beberapa kali muntah, tapi masih oke-lah. Masih excited main. Jadi saya pikir oh cuma masuk angin aja. No worries. Saya kasih obat vometa dan antangin anak.

Malamnya Kaleb masih tidur nyenyak. Waktu pagi saya mau ke kantor, Kaleb ngeluh sakit. Cuma saya pikir, oh masih masuk angin, ya. Pas mau kerja, dia muntah juga. Tapi saya masih masuk kerja sambil tetap cek ke rumah keadaan Kaleb gimana. Ternyata kabar dari rumah, Kaleb makin sering muntahnya, sedangkan makanan udah nggak mau masuk lagi. Muntahnya hanya beruba cairan, kadang-kadang kuning dan hijau. Waduh! Udah nggak benar, nih. Saya minta ke Opungnya untuk antar Kaleb ke rumah sakit, sementara saya dari kantor langsung pulang cepat ke rumah sakit.

Setelah dicek dokter perutnya, ternyata Kaleb konstipasi. Jadi memang salah satu permasalahan Kaleb adalah sejak umur 3 tahun dia males banget makan sayur. Malesnya udah sampai ke tahap, walau kita sembunyiin, kalau udah masuk mulut, dia tahu dan keluarin lagi. Untuk buah sebenarnya dia masih lancar dan tiap hari makan buah. Nah, awal tahun kemarin dia sempat juga ada permasalahan sembelit. Pupnya keras banget sampai kalau ngeden nangis-nangis dan pas akhirnya pup pun berdarah. Sempat dibawa ke dokter. Tapi waktu itu udah lancar lagi. Walau tetap ada episode beberapa kali pup keras kalau dia lagi malas makan sayur. Tapi ternyata pup keras ini jadi masalah, karena nggak semua keluar, akhirnya ada yang stuck dan menimbulkan konstipasi. Konstipasi berat gini yang menimbulkan mual dan muntah.

Dokter kasih obat microlax sama obat pencernaan. Kata dokter, kalau udah keluar semua, dia akan sehat kembali. Nggak ada pantangan makanan juga. Ya udah hati kembali tenang, ya. No worries, ternyata masalahnya sederhana.

Besoknya saya memutuskan untuk nggak masuk kantor karena kasihan juga kan lihat Kaleb belum pulih. Di rumah dia mau makan, walau nggak banyak seperti biasanya. Tapi kemudian tetap muntah. Sampai akhirnya di siang menjelang sore, dia udah sakit banget perutnya sampai guling-guling dan nangis. Aslik, saya bingung mau ngapain, stres banget, sampai ikutan nangis. Akhirnya telepon suami dan janjian untuk masukin RS aja karena muntahnya udah nggak wajar.

Ketemu dokternya lagi dan dikasih resep dengan dosis yang lebih tinggi, plus minta dirawat. Hari pertama di RS itu benar-benar melelahkan dan sedih karena Kaleb masih sangat kesakitan dan tetap muntah terus. Udah dikasih Sanmol untuk penghilang nyeri, tapi kayaknya nggak mempan. Makan roti dikit pun muntah semua. Sampai Kaleb cuma pipis sekali aja dalam sehari karena udah nggak ada cairan. Akhirnya dokter memutuskan untuk kasih obat penghilang nyeri di bagian perut dan Kaleb harus puasa. Cuma boleh minum air putih sedikit. Kaleb baru bisa tidur nyenyak jam 10 malam. Untungnya obatnya penghilang nyerinya ampuh jadi Kaleb nggak terbangun. Btw, Kaleb nggak demam sama sekali selama sakit.

img_20180927_055952_hht

Hari pertama lemes banget, banyak muntah

Hari kedua, Kaleb masih mengeluh sakit. Anaknya masih agak lemas. Hari ini mau ditingkatkan minumannya. Dari air putih, ke jus, lalu ke susu. Kalau udah lolos semua, boleh coba bubur. Hari ini juga harus dihitung banyaknya pipis. Untungnya karena udah diinfus jadi ada cairan yang masuk dan pipis mulai banyak. Selain itu, karena minumnya cuma cairan aja jadi Kaleb nggak muntah. Siang hari, dikasih obat penghilang nyeri perut lagi. Anaknya udah mulai aktif. Udah mulai turun tempat tidur, main-main ke luar bangsal. Walau terkadang masih ada rasa sakit. Tapi kalau dilihat udah jauh berkurang. Menjelang jam 7 malam, suster datang untuk memasukkan obat dari dubur untuk merangsang pup. Kemarin juga sudah dikasih, cuma kurang banyak yang keluar. Kata dokter, pupnya sih udah mulai jalan ke jalan ke luar. Begitu dikasih obat dari dubur, nggak sampai 1 menit, Kaleb mules buanget. Dia langsung pup banyak dan emang keras. Dia sampai nangis ngeden. Mungkin karena capek, habis itu dia tidur sampai pagi. Nggak ada keluhan sakit perut lagi.

Hari ketiga, Kaleb bangun dengan happy. Nggak ada keluhan sakit perut. Udah boleh makan bubur. Udah aktif banget main jalan-jalan. Pas dokter visit dicek lagi, pupnya udah keluar semua. Langsung deh disuruh pulang. Puji Tuhan. Dan hal pertama yang Kaleb lakukan adalah, “Mami, Kaleb mau ke mall, makan bakmi!”. Jadi dia sebel karena pas puasa itu, lihat saya makan bakmi tapi nggak boleh kasih ke dia. Hahahaha!

Semoga permasalahan pup ini berakhir di sini, ya. Doakan Kaleb selalu sehat.

img_20180928_211316_539

Hore, aku udah boleh pulang!

Review: Crazy Rich Asian

51u8I+mRd3L

Sebenernya saya bukan pembaca Crazy Rich Asian. Tapi karena heboh banget ini film dan banyak yang bilang bagus, maka begitu tayang filmnya, saya langsung nonton…..sendirian. Sendirian mulu nih Mbaknya! Hahaha. Suami tuh selalu pulang malam dan kalau weekend Kaleb nggak mau ditinggal nge-date. Ish! Lagian film ini kayaknya bukan tipe film sih, jadi ku mending sendirian ajah!

Sinopsis ceritanya sederhana aja: cowok super tajir jatuh cinta sama cewek biasa aja dan ditentang ama camer yang mementingkan bibit, bebet, bobot. Ala-ala Cinderella jaman kini lah.

Enaknya nonton filmnya tanpa membaca bukunya adalah ekspektasinya jadi nggak tinggi-tinggi amat. Fokus aja sama cerita di filmnya. Soalnya berkali-kali nonton film yang diadaptasi dari buku pasti saya kecewa karena gambaran saya di otak beda sama gambaran pembuat film. Nah, kalau ini nggak ada bayangan jadi bisa menikmati banget.

Buat saya filmnya walau cliche, tapi saya suka banget. Terutama sama karakter perempuannya: Rachel Chu dan Astrid Leong. Rachel Chu walau rakyat biasa, tapi bukan perempuan yang nggak pede. Justru dia pede dengan kemampuan yang dia miliki, nggak minder pas tahu Nick Young tajir mampus, dan nggak jadi membabi buta ngejar-ngejar Nick Young. Girl gotta have attitude-lah.

Tapi yang menarik adalah karakter Astrid Leong. Ku cinta banget nget nget! Gambaran sosialita sesungguhnya; anggun, cantik, elegan, tapi baik hati. Plus, punya pendirian. Ish, ku cinta lah. Malah kalau mau dilihat, konflik batin Astrid ini lebih besar daripada Rachel Chu. Laff!

download (4)

Panutanqu! Mantap!

Awalnya saya cuma mikir ini film romcom yang akan banyak ketawa-ketawanya. Maklum nontonya hari kedua, jadi belum banyak spoiler keluar, kan. Dan emang benar, ketawa-ketawa banget lah. Tapiii… adegan pernikahan temennya Nick Young kok mengharukan, ya… eh, pas ke sananya lagi: KENAPA GUE NANGIS BOMBAY YA TUHAN? *hapus ingus*. I didn’t see it coming!

Banyak adegan-adegan yang seru, tapi yang memorable buat saya adalah adegan main mahjong antara Rachel Chu dan Eleanor Young. Keren banget di sini dialognya. Jadi perempuan yang belum nikah dan disebelin sama camer, contohlah Mbak Rachel Chu ini. Kalau nggak kaya, ya harus pinter lah mainin psikologis ibunya biar sampe ibunya setuju. Oke, sip!

Tapi ada juga kekurangan film ini. Menurut saya, penggambaran crazy rich-nya tuh nggak crazy-crazy amatlah. Maksudnya, kekayaan seperti ini masih bisa kita temui di film-film Indonesia; dan level kekayaannya masih “kaya” aja, belum “eh gila, kaya bener!”. Karena patokanku akan crazy rich sesungguhnya adalah Richie Rich! Ya gimana ya, he set the bar high! Punya Mcd sendiri di rumahnya, ada halaman lebih luas dari lapangan bola sampe bisa kebut-kebutan pake gocart, di kamar tidurnya sendiri ada lapangan basket, plus punya miniatur gunung yang gambar presiden di AS itu, loh. Maap nih, kalau belum ngalahin crazy rich-nya Richie Rich, ya belum crazy. Hahaha!

images (10)

Nick Young nggak punya McD di rumah. Richie Rich punya!

images (8)

Monmaap, ini jalan kaki dari halaman ke dalam rumah aja tampak melelahkan, ya. 

images (9)

Trus di halaman belahan lainnya lagi bisa ngebut-ngebutan gini.

images (5)

Di kamar tidur ada lapangan basket tuh gimana nggak bikin temennya shock!

images (7)

Ini ruang kelas aja tampak seperti ruang CEO. Mevvah.

images (6)

Dan punya gunung batu sendiri di rumah. Kelean kalau belum punya gunung sendiri belum crazy rich-lah.

Oh, kalau udah nonton, jangan lupa pantengin hashtag #CrazyRichSurabayan yang terjadi eh gila ini baru kreziiiih, lah! Hahahaha.

Udah merasa jadi sobad mizqueen belum? Yuk, gandengan tangan.

 

Searching

Setelah terakhir nonton film bioskop adalah Si Doel, akhirnya saya nonton di Bioskop juga. Kali ini pilihannya adalah film Searching.

Searching2018-2

Sinopsisnya tentang seorang ayah (David Kim) yang kehilangan anak remajanya (Margot Kim) dan berusaha menemukan petunjuk di mana anaknya melalui sosial media anaknya.

Awalnya saya nggak tahu tentang film Searching ini, tapi kemudian banyak banget orang yang ngomongin betapa kerennya film ini. Genrenya thriller. Saya bukan penggemar genre thriller sih (untungnya bukan horor ya, kalau itu mah mau reviewnya bagus juga saya nggak mau nonton karena penakut. Hihihi), tapi karena belum ada review jelek mengenai film ini dan tentang social media, jadi saya tergerak mau nonton.

Seperti biasa, saya nonton sendiri. Hahaha. Karena menyesuaikan sama waktu suami tuh susah banget. Plus kalau weekend udah pasti kami sulit nonton berdua karena akan ada Kaleb ngintil ke mana-mana. Tentunya film ini bukan film anak-anak, ya.

Pengambilan gambar film ini dari sisi David Kim. Mostly adegannya adalah layar komputer. Jadi kita berasa kayak David Kim yang lagi mencari Margot. Adegan pembukanya aja layar Windows XP dan footage-footage foto dan video, serta reminder dari komputer mengenai hal-hal penting yang mau didokumentasikan, seperti hari pertama TK, hari pertama kelas 1 SD, latihan piano. Hal-hal yang kita semua lakukan untuk nyimpen memori tentang keluarga kita. Tapi walau kita lihatinnya layar komputer, tapi berasa banget momen-momennya gimana bahagianya pas anaknya ulang tahun, excited pas anak mau masuk sekolah, sedih ketika ibunya meninggal. Dan itu 5 menit pertama aja mata saya udah berkaca-kaca!

Selanjutnya adalah adegan David dan Margot teleponan sebelum Margot belajar bersama teman-temannya. Kemudian, keesokan harinya Margot menghilang tanpa jejak. Masalahnya adalah David nggak tahu siapa teman-teman Margot. Ya mungkin karena tugas “kenal” teman-teman anak tuh biasanya tugas Ibu. Tapi ibunya udah meninggal dan selama 3 tahun terakhir David dan Margot grieving dengan caranya sendiri-sendiri. Jadi kayak sama-sama tahu berduka, tapi nggak mau diomongin. Walau mereka tetap dekat, tapi topik tentang Ibu nggak pernah diomongin. Akhirnya David kelupaan bahwa dia harus kenal teman-teman Margot juga.

Nah, pencarian dimulai dari sini. Setelah lapor polisi, David pun mulai utak-atik sosmed anaknya untuk dapat petunjuk Margot tuh main ama siapa, sih? Adegannya nggak selalu ada di depan layar, tapi mostly ada di depan layar, sama kayak kita yang banyak berhubungan sama gadget, kan. Nah, dari utak-atik sosmed ini, kita jadi ikutan tegang dan berusaha jeli banget lihatin ada clue apa nih yang muncul. Aslik, saya sampai nahan napas sepanjang film.

Sampai akhirnya, David menyadari, “I didn’t know my daughter.” DANG! :(((

Plot twistnya KEREN dan nggak terduga banget. Gile, sampe saya nggak bisa nyenderan tenang di bangku bioskop karena stres amat lihat petunjuk-petunjuk yang dikasih di layar. Endingnya juga bagus. :’)

Pokoknya, belajar banyak banget lah dari film ini. Coba tanyain ke diri sendiri, “Seberapa kenal kamu sama anakmu?” Jangan-jangan cuma kenal sekilas aja. Selain itu, kita juga sebagai orang tua harus banget paham teknologi. Sekarang aja teknologi dan sosmed makin canggih, kebayang nggak nanti pas anak kita besar secanggih apa. Nah, kita harus catch up sama semua itu biar kita bisa sefrekuensi sama anak kita. Tapi yang lebih penting lagi, komunikasi itu penting banget. Sesedih apapun, coba bicarakan emosi yang kita alami ke anak kita. David mikir mungkin suatu hari nanti rasa perih ditinggal istrinya akan hilang seiring berjalannya waktu. Dia bikin akan baik-baik aja. Tapi ternyata Margot jadi kesepian karena dia nggak bisa ngomongin rasa sedihnya juga. Hiks.

Jadi selama film ini masih ada di bioskop, jangan lupa ditonton, ya. Habis itu peluk anaknya masing-masing. :’)

 

Seseruan Bareng di Asian Fest

Setelah hari Jumat nonton langsung pertandingan bulutangkis di Asian Games, hari Minggunya kami datang lagi ke GBK. Kali ini karena permintaan Kaleb yang pengen naik shuttle bus di GBK. Hari Jumat kemarin emang kami nggak sempat naik shuttle bus karena letak Istora dan Gate 5 di mana kami masuk cukup dekat, plus nggak ada perhentian untuk shuttle bus di depan Istora jadi kami nggak naik. Nah, ternyata Kaleb kepikiran banget sampai di hari Sabtu ketika Kaleb kebangun pas subuh, dia bilang, “Mami, Kaleb mau naik bis di GBK.” SIP!

Kebetulan suami juga pengen balik lagi karena waktu Jumat udah malam dan Kaleb nggak enak badan jadi kami belum sempat menikmati Asian Fest-nya. Kami datang jam 12.30 siang supaya punya banyak waktu untuk menikmati semua area, bisa sempat nobar bulutangkis, dan supaya pas foto pencahayaannya bagus.

Tadinya kami mau parkir di FX, tapi ternyata parkiran  FX penuh banget, jadi kami melipir ke PS, yang berarti jalan agak lebih jauh. Tapi nggak papa juga sih, karena rata-rata yang parkir di PS pada ke GBK jadi banyak temennya.

Kami makan siang dulu di PS supaya nggak kelaperan dan lebih nyaman. Pokoknya perut harus full supaya enak nikmatinnya. Kami nggak bawa stroller karena stroller kami bulky dan salah satu tujuannya mau naik shuttle bus jadi kurang praktis. Jadi kami bawa gendongan Ergo baby.  Plus, udah sedia uang cash jadi nggak ribet lagi kalau mau jajan. Plus kali ini kamera nggak ketinggalan. Hahaha, penting!

Karena jalan rame-rame ke GBK jadi nggak berasa jauh. Banyak juga yang bawa anak-anaknya jadi seru. Di depan gate 5 GBK, antrian udah panjaaang banget mau beli tiket Asian Fest seharga Rp 10.000, dengan anak balita yang masih gratis. Nanti akan dipasangkan gelang untuk masuk. Di gate akan diperiksa seluruh bawaan kita melalui mesin detektor. Inget, semua botol kecuali Aqua akan disita. Tapi tumblr nggak akan disita. Jadi bawalah minum sendiri. 😉

Karena Kaleb udah nggak sabar naik shuttle bus, jadi kami langsung naik bus di halte terdekat dengan Gate 5. Antriannya kelihatannya panjang, tapi nggak lama karena busnya banyak banget dan kapasitasnya besar, jadi cepat. Karena saya bawa Kaleb, jadi walau penuh, saya dipersilahkan duduk. Tapi turn overnya cepat kok, jadi nggak lama suami juga duduk.

Bus ini mengitari seluruh arena GBK yang terdapat pertandingan-pertandingan Asian Games. Kebantu banget lah sama shuttle bus ini karena kalau nggak saya bisa pingsan jalan kaki di siang bolong. Hahaha.

Kaleb tentu saja senang banget nget! Sampai dia nggak mau turun dan kami harus naik shuttle bus 3 puteran baru dia mau turun. Itu pun setelah sedikit dipaksa, karena kalau nggak ya sampai sore juga dia maunya muter-muter naik bus. Hahaha.

Perhentian kami di arena pusat GBK. Nah, karena cuaca panas banget, Kaleb minta digendong. Keluarkanlah ergo baby. Tentu suami yang gendong karena Kaleb sekarang beratnya 16 kg, mana kuat lagi saya gendong lama-lama.

Kami menyusuri arena luar GBK. Seru banget lho karena di tiap arena itu ada festivalnya masing-masing. Banyak banget atraksi dan tentu saja ada layar besar. Jadi di tiap arena, kita bisa nobar. Suasana nobar seseru kalau nonton di stadion karena orangnya pada heboh semua. Vendor makanannya banyak banget dari KFC, HokBen, Bakmi GM, Yoshinoya, Chatime, DumDum, dsb. Pokoknya dijamin perut nggak bakal lapar. Dan no worries karena harga makanannya ya standar aja. Nggak mahal, kok. Bahkan ada satu kedai es kopi susu langganan saya di Pasar Santa juga ikutan, harganya malah murahan di GBK.

Selain itu, ada permainan yang bisa kita mainkan gratis, seperti permainan tradisional kayak enggrang (dan ternyata sulit amat, ya), area skateboarding dan finger board (Kaleb suka banget cobain finger board di sini), dan ada balon infatable untuk anak lompat-lompat. Pokoknya semua happy, deh.

Selain permainan juga ada hiburan gratis para penyanyi dengan konstum unik-unik. Mereka semua interaktif banget sama para pengunjung. Jadi walau nggak bisa menikmati pertandingan langsung, tapi suasana Asian Games-nya berasa banget.

Sampai saya dan suami bilang, “Boleh nggak sih Asian Games sepanjang tahun aja biar ada acara seru gini terus. Ku sukaaa!”

Jadi kalau belum ke Asian Fest, yuk datang. Menyenangkan banget!

Selamat menikmati Asian Games, yang belum tentu 10 tahun sekali nyampe lagi kita yang menyelenggarakan.

IMG_9061IMG_9063IMG_9068IMG_9074IMG_9078IMG_9079IMG_9082IMG_9083IMG_9087IMG_9088IMG_9092IMG_9097IMG_9107IMG_9111IMG_9119IMG_9125IMG_9128IMG_9135IMG_9138

Nonton Bulutangkis Langsung di Asian Games 2018

Sejak tahu Asian Games 2018 bakal diadakan di Indonesia, saya udah excited banget. Perhelatan olahraga seperti ini ngingetin saya pas masih kecil orang tua saya sering banget bawa saya nonton pertandingan langsung. Secara orang tua saya sukanya tenis, jadi paling sering ya dibawa nonton pertandingan tenis. Tapi mereka sebenarnya suka nonton olahraga apa aja, sih. Jadi waktu tahu saya hobinya bulutangkis, kebetulan waktu itu PON diadakan di Jakarta, mereka ngajak saya nonton bulutangkis langsung. Bukan cuma ngajak nonton, tapi mereka ajak saya untuk ngejar-ngejar atlet bulutangkis untuk minta tanda tangan langsung (waktu itu belum ada kamera ber-HP, yaa). Seru banget! One of the best experiences in my life. Itu baju dan kertas bertanda tangan para atlet seperti Mia Audina, Joko Suprianto, Ricky Subagdja, dll, saya simpen bagai harta berharga.

Nah, begitu ada event besar seperti ini, saya pengen memberikan pengalaman yang sama buat Kaleb. Nonton di lapangan itu seru banget nget! Walau dia belum cukup paham, tapi semoga dia inget bahwa dia pernah nonton Asian Games. Hahaha. Plus mau ajak orang tua nonton langsung juga, karena mereka suka kan nonton olahraga. Sayangnya olahraga tenis kesukaan mereka diadakannya di Palembang jadi nggak bisa ditonton langsung, deh.

Jauh sebelum Asian Games mulai udah kasak-kusuk cari tahu di mana bisa beli tiket, tapi ya waktu itu belum dijual. Baru deh setelah Opening Ceremony Asian Games yang super keren itu dan nonton bulutangkis di TV yang saya udah nggak kenal para pemainnya lagi tapi ternyata tetap seru ditonton, saya serius cari tiket bulutangkis. Waktu itu saya buka Blibli.com dan Tiket.com. Aslik, susah banget dapetinnya karena banyak yang udah sold out. Jadi bener-bener harus sering buka kedua akun itu, siapa tahu ada yang cancel dan stoknya ada lagi. Untungnya melalui ketekunan buka tutup akun, akhirnya dapat juga 5 tiket badminton di tangan. WOHOOOO! Oh ya, untuk anak 5 tahun ke bawah masih gratis.

Emang permasalahan ticketing Asian Games dari awal kan kacau banget dan itu saya rasain langsung. Saya nggak ada masalah sih soal pembelian dan tiket masuk. Tapi saya bermasalah dengan informasi yang nggak jelas di tiket dan tidak adanya CS yang bisa ditelepon.

Jadi, ketika membeli tiket online saya pilih mana aja tiket yang available. Karena yang avalaible dikit. Tapi nggak dicantumkan jam berapa, jadi ya harus pasrah aja dapat jam berapa juga. Ini saya sampai download app Asian Games untuk lihat jadwalnya. Saya dapatnya tiket pertandingan penyisihan individual sesi B. Saya cek lah ke app Asian Games, belum ada jam-nya. Yo weis gpp, tetap beli. Pas udah confirm baru kelihatan di tiketnya jam 18.00. Nggak masalah buat saya. Sip! Jadi ada sesi A yang dimulai jam 12.00 dan sesi B yang dimulai jam 18.00.

Pas hari H, saya udah khusus cuti tuh. Walau sore, tapi kan udah baca kalau bakal banyak jalan ke sana karena mobil nggak bisa parkir di GBK. Di hari itu baru muncul jadwal pertandingan beserta jamnya. Pas dilihat, jam terakhir itu jam 17.00. Lah, saya baru dapat jam 18.00. Gimana, tuh? Saya usaha untuk tanya ke twitter resmi Asian Games. Nggak ada jawaban. Tanya temen, dia pun bingung. Waktu itu saya baru sadarnya pas siang hari, sambil nonton pertandingan di TV. Itu juga sadarnya karena adik saya nyeletuk. Akhirnya diputuskan saat itu juga berangkat ke GBK naik Grab. Untungnya jalanan lancar, dalam 30 menit sampai.

Masuk dari gate 5 seberang FX (kalau bawa mobil bisa parkir di FX dan PS). Waktu itu saya udah print e-ticket. Nah, adik saya datang belakangan, kan. Padahal kertas tiket ada di saya semua. Tapi untungnya kirim aja e-ticket ke e-mail dia dan voilaaaa bisa masuk dengan tunjukin e-ticket dari HP. Praktis banget.

Saya udah siap-siap bawa botol minuman sendiri karena selain Aqua, nggak boleh bawa botol lain. Boleh bawa tumblr sendiri. Persiapkan bawa cash karena area ATM adanya di JCC, jauh bener kan. Atau kalau ada pake e-money, tapi nggak semua merchant pake e-money. Ada yang cuma pake e-money BNI, BRI atau Mandiri. Ribet. Pake cash aja mendingan.

Dari gate 5 jalan kaki ke Istora Senayan. Mayan, belum apa-apa udah olahraga dulu. Waktu itu baru jam 4 sore. Tapi kami tetap ke istora. Pas ditanya boleh nggak masuk walau tiket jam 18.00, ternyata boleh. Bahkan boleh masuk dari siang. YA MAU NANGIS NGGAK, KAKAKKKKK? Kan berasa rugi ya, nonton pertandingan cuma setengah karena ketidakjelasan info. Hiks!

Tapi nggak papa, yang penting masih ada sekitar 3 pertandingan Indonesia lagi. Plus, diperkirakan selesainya pas jam makan malam. Aman buat Kaleb jadinya.

Tempat duduknya bebas duduk di mana aja. Tapiii banyak yang udah ngetekin tempat duduk buat temennya. Masalahnya itu temen dari awal sampai akhir kok nggak datang? Kesel sih, karena orang jadi kesusahan cari tempat duduk. Harus banget duduk bareng? Adik saya aja yang datang belakangan nggak saya cariin duduk karena ya nggak adil buat yang udah datang duluan tapi susah cari tempat duduk karena saya tekin buat orang lain.

Pengalaman nonton langsung itu SERU BANGET PARAH! Aslik, dada kayak membuncah bangga lihat Indonesia tampil dan ikutan tegang mampus waktu skornya ketat. Mana celetukan-celetukan penonton suka lucu-lucu. Dan seruan untuk nyanyi bareng tuh spontan banget. Semua langsung bersatu tanpa dikomando. Indonesia sebenernya kayak gini.

img_20180824_171010img_20180824_184217img_20180824_184219img_20180824_184306

Btw, saya beruntung nih kebagian nonton si cakep Jonatan Christie vs Shi Yuqi, atlet nomor 2 dari Cina yang diunggulkan dapat emas dan pertandingan sebelumnya mengalahkan Anthony Ginting sampai kram kakinya dan nggak bisa lanjut tanding. Kebayang dong, Jojo yang nggak diunggulkan tapi dapat dukungan penuh penonton vs Yuqi yang unggulan dan jelas skill dan mentalnya bagus banget. Pokoknya kemarin itu penyisihan rasa final banget, deh! Istora penuh banget. Pas Jojo menang, satu Istora langsung berdiri standing ovation. TERHARU! Btw, Jojo tiap pergantian game kan selalu ganti baju dan tentunya satu Istora heboh, dong! Padahal pemain lain ganti baju nggak ada yang heboh hahahaha!

Pokoknya PUAS banget nontonnya! Kaleb pun happy menikmati dan nggak rewel. Mana anaknya kan hobi ya sama keramaian gitu.

Setelah selesai nonton sekitar jam 8 malam. Kami memutuskan untuk makan di FX aja karena suami parkir di sana. FX penuh banget sama orang-orang dari GBK yang habis nonton. Nah, Kaleb nih udah kelihatan masuk angin karena sempat muntah. Jadi kami mutusin untuk makan di tempat yang lebih nyaman, bukan di GBK yang antri abis. Sayangnya karena restoran penuh orang, makanan datang hampir 1 jam. Itu pun setelah kami tanya-tanya mulu. Ya paham sih, karena lagi rame luar biasa, kan. Makanya kami beli makanan kecil kayak roti dll dulu makan di situ buat ganjel.

Baru keluar dari FX jam 10 malam dan sampai rumah jam 10.30 malam. SUPER HAPPY!

Setelah serunya nonton pertandingan langsung, kami masih sekali lagi datang ke GBK karena Kaleb pengen naik shuttle bus di GBK yang belum kesampaian. Sekalian mau explore GBK lebih banyak lagi. Tunggu di post selanjutnya, ya. 😀

 

PS: Nggak sempat foto banyak karena pertandingannya terlalu seru.

Nongkrong Sore di Lapangan Banteng

img_20180818_175359_110

Tanggal 18 Agustus kemarin, saya jalan-jalan ke Lapangan Banteng yang kabarnya udah cantik banget. Sengaja siangnya ke Grand Indonesia dulu buat makan dan ngadem dulu lah di mall. Btw, saya udah luama banget lho nggak ke GI. Tahun ini, baru kali ini ke GI lagi karena ke GI itu macet banget jadi suka males, sih. Tapi tetap aja menurut saya GI itu mall buat segala umat. Mau yang mahal banget ada, mau yang nggak mahal-mahal banget juga ada. Lengkap.

Oh ya, untuk ke Lapangan Banteng kan lewat Sudirman-Thamrin, ya. Jalanannya udah rapi banget dan jadi luas. Saya sih jadi terkagum-kagum karena terakhir lewat sana, jalanannya masih jelek dan banyak pembangunan belum selesai. Dan kemarin udah cakep banget. Siap banget deh buat Asian Games. Kuddos to all who work hard for this.

Sampai di Lapangan Banteng sore hari. Karena weekend jadi rame banget. Parkirannya ada di luar dan agak susah, ya. Tapi ya sabar-sabar aja muterinnya, nanti juga dapat *saran nggak bantu XD* Masuknya gratis, tentu saja.

Buat saya, Lapangan Banteng ini bagus banget. Tamannya luas dan kita bisa tiduran di atas rumput. Bisa banget buat piknik. Ada lapangan untuk olahraga, seperti lapangan bola, jalur untuk lari, lapangan voli pantai (ada pasirnya). Bisa juga bawa sepeda untuk anak dan badminton untuk main. Untuk di bagian playground mainan anaknya lumayan banyak. Ada karpet karet dan mainan pasir juga. Jadi buat anak-anak akan seru. Lalu ada mini zoo dari Ragunan, tapi hewannya ya patung, namun dalam ukuran sebenarnya. Lumayan untuk pengetahuan. Selain itu, ada jembatan untuk tumbuh-tumbuhan dan ini seru banget sih bisa naik ke atas dan ada penjelasannya. Selain itu, ada air mancur menari di jam-jam tertentu.

Jadi secara fasilitas oke banget lah. Taman yang asik banget buat nongkrong dan bawa anak-anak kita. Tapiiii….mental orang-orangnya belum siap. Jadi masih banyak yang buang sampah sembarangan. Nah, kalau soal ini pas saya lihat, ada kok tempat sampahnya, tapi emang tempat sampahnya pun penuh, belum dikosongkan lagi. Jadi emang orang nggak bisa masukin sampah lagi, nanti beleberan. Tapi ya harusnya sampahnya dikantongin atau dipegang dulu lah, jangan jadi malah buang sembarangan. Hiks.

Selain itu, di arena playground, karena banyak banget anak yang main dan itu anak segala usia, jadi ada anak yang udah besar mainnya heboh dan agresif banget. Anak-anak yang kecil bisa kedorong atau jatuh. Anak-anak harus benar-benar diperhatikan, sih. Jam 6 sore-an saat mulai gelap, lampu di sekitar playground tetap belum nyala jadi ya gelap-gelapan. Lumayan sih buat bikin anak-anak udahan.

Jadi saran saya, semoga ke depannya tempat sampah dibanyakin atau petugasnya sigap buang sampah ketika mulai penuh sehingga masyarakat bisa buang sampah. Selain itu, semoga di bagian playground anak tetap ada pengawasnya karena bener-bener barbar abis kalau penuh.

Geser ke bagian air mancur menari, dimulai jam 18.30. Sekitar jam 18.00, udah banyak orang berkumpul di sekitar air mancur. Nah, di sekelilingnya ada undukan tempat duduk jadi memang area itu dipakai untuk pertunjukan. Hari itu penuh banget karena pada penasaran kali, ya.

Tepat jam 18.30, dimulai pertunjuan air mancur menarinya. Bagus banget permainan lampu, laser, dan air mancur menarinya. Tapi di awal soundnya mendem banget jadi musiknya nggak terlalu kedengeran. Tapi nggak berlangsung lama, soundnya udah benar. Pas benar soundnya, tambah keren lagi. Pada waktu lagu Satu Nusa Satu Bangsa, semua pengunjung nyanyi kayak koor. Aslik, merinding bangga banget. Pokoknya tiap lagu bangsa, semua otomatis nyanyi. Bagus banget!

Selesai air mancur menari, di bagian tengah air mancur, ada panggung kecil dan ada pertunjukan. Sayang banget soundnya nggak kedengeran. Kebayang sih kalau buat konser arena ini bakal keren banget.

Tapi intinya, ku bangga banget ada taman secakep Lapangan Banteng. Bagus dan asik banget buat nongkrong sore-sore. Kayaknya bakal seru kalau Kaleb bawa sepeda, nih. Semoga Jakarta punya lebih banyak taman cakep gini, ya.

 

Mau Cashless Atau Nggak?

Akhir-akhir ini trend cashless mulai terasa banget di Jakarta (entah kalau di Indonesia bagian lain, ya). Ojek online bisa pakai Go-Pay dan OVO. OVO bahkan bisa dipakai di banyak merchant lainnya. Selain itu, ada Jenius yang mau transfer bisa free dan bisa dipakai di mesin EDC lainnya.

Tentu saja sebagai penganut, takut ambil uang cash banyak-banyak di ATM karena langsung boros jajaninnya, saya itu beneran punya cash di dompet seadanya. Seringkali nggak lebih banyak dari Rp 100.000. Cuma buat jajan di mini market kalau ngemil.

Makanya saya nggak terlalu suka belanja di pasar saya karena di sekitar pasar nggak ada ATM, jadi kalau bawa uang kurang ya susah ambil. Plus, tentu saja di pasar harus bawa cash, ya. Biasanya saya belanja di pasar benar-benar bahan kebutuhan pokok yang tiap minggu udah jelas pengeluarannya sama. Untuk susu dan bahan makanan Kaleb, saya beli di supermarket, karena susu UHT tiap weekend biasanya diskon di supermarket. Lumayan banget. Belanja di supermarket, saya nggak pernah pake cash. Selalu debit. Karena belanja pake debit, jadinya saya nggak pernah ngiler belanja di kios-kios sekitar supermarket, karena kan nggak punya uang cash, sementara mereka bayar cash semua.

E-money pun sekarang udah jadi pembayaran di banyak tempat, seperti tol, parkir di beberapa mall (bahkan di Pacific Place hanya menerima bayar pake e-money, no cash), dan busway. Kalau lagi nggak barengan suami ke kantor, saya naik busway dari rumah. Iya, busway paling enak Ciledug-Tendean yang punya fly over sendiri buat busway doang jadi lancar jaya, jalanan sejauh itu cuma 30 menit. Asik!

Jadi, di dompet saya tuh isinya banyakan kartu-kartu doang, tapi no cash. Karena di mana pun saya bisa cashless, saya pasti cashless.

Nah, akhir-akhir ini pada ribut dong orang karena driver Go-Jek suka minta top-up Go-Pay. Saya pun pernah beberapa kali ditawarin driver. Nggak masalah banget kalau ditawarin dengan sopan, dan biasanya saya menolak. Karena ya itu tadi, sering banget di dompet saya, saya nggak bawa uang. Tapi masalahnya ada yang suka maksa, berkali-kali minta, sampai mengiba-iba, atau ada yang cancel karena kita nggak mau top up. Sebagai penumpang jadi nggak nyaman banget, ya. Padahal tujuan awal diberlakukannya Go-Pay kan ya, supaya cashless. Jadi kalau ditawarin top up mulu, saya jadi merasa nggak enak hati, dan beberapa kali saya jadi merasa “terpaksa” bawa cash supaya kalau diminta top-up, saya jadi bisa top-up. Jadi gimana atuh, saya jadi bingung. :((

Berbeda lagi dengan Grab yang pake OVO. Nah, entah apa masalahnya di belakang (apa karena uang OVO nggak cair hari itu juga, atau driver lihatnya kok bayar murah banget, sehingga dia pikir uang yang masuk ke dia jadi murah), orang yang mau pake OVO naik Grab sering dicancel. Padahal akhirnya saya top-up OVO karena banyak merchant yang pake OVO, beberapa mall bayar parkirnya pake OVO, dan Grab bisa pake OVO. Akhirnya saldo OVO saya masih penuh banget karena….sering ditolakin Grab. *ciyan*

Jadi begitulah, ini cuma mau nanya aja, sebenarnya kita siap buat cashless atau nggak, sih? Udah senang banyak yang mengarah cashless, eh taunya di tengah jalan tetap harus bawa cash juga, padahal sistemnya punya yang cashless.

Kalau kalian gimana? Lebih suka pake cash atau cashless?

Tertanda,

Naomi, yang sering nggak bawa uang cash dan malas ke ATM.