Akhir Kisah Menyusui

Dua bulan sebelum Kaleb berulang tahun kedua, saya mulai sering bilang ke Kaleb bahwa dia sudah besar dan waktunya berhenti nenen. Setiap malam sebelum tidur, saya bilang begitu terus karena anaknya belum bisa tidur tanpa nenen kalau ada saya. Hasilnya, dia ngamuk. Kaleb nangis dan bilang, “Mami, Kaleb mau bayi terus aja.” XD

Kan awal menyusui baik-baik, ya. Kaleb suka, Mamak suka. Yuk, lanjutin nenen. Makanya berhentinya pun maunya baik-baik. Nggak pake paksaan. Jadi, kalau Kaleb ngamuk, ya udah lep kasih nenen lagi lah. Saya anggap dia belum siap. Nanti dia bakal siap sendiri kok. Plus, saya malas kalau udah mau tidur malam, saya udah capek dan ngantuk, masih harus dengerin anak drama nggak dikasih nenen. Lelah hayati. Hahaha. Karena itu juga, saya nggak pernah berusaha melarang dia untuk nenen. Peraturannya, kalau udah 2 tahun adalah hanya nenen kalau mau tidur. Nggak di tempat umum, nggak di mobil, nggak di mana-mana. Hanya di tempat tidur. Sip, ya.

Pas umur ulang tahun kedua, anaknya tetap keukeuh harus nenen. Hiyaa, mana ini ungkapan kalau anaknya diberi pengertian jauh-jauh hari akan paham. Kaleb menolak keras untuk berhenti nenen. Nenen is a must lah! Akhirnya saya pasrah aja kalau Kaleb akan nenen lebih dari usia 2 tahun dan yo weislah toh nenen nggak memberikan dia pengaruh buruk, kan?

Tapi sebenarnya saya kali yang nggak siap untuk stop nenen. Iya, saya bosen nenenin tiap mau tidur, iya saya capek harus tidur miring terus, tapi dalam hati saya nggak siap melepaskan anak sendiri untuk lebih mandiri. Makanya saya nggak pernah benar-benar berusaha untuk dia stop nenen. Sepertinya saya lagi mengumpulkan kesiapan, begitu pun Kaleb. Stop dari aktivitas yang 2 tahunan ini bikin kita lengket kayak amplop dan perangko ternyata nggak mudah, ya.

Sambil mengumpulkan kesiapaan, saya terus bilangin dia tiap hari untuk berhenti nenen karena udah besar. Cuma bilangin aja, sih. Nggak maksa. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu dia sungguh sangat posesif sama nenen, udah ketiduran pun begitu saya lepas dia tersadar dan berusaha nenen lagi. Masalahnya, giginya kan udah banyak ya, jadi sering banget nggak sengaja kegigit. Duh ampun, sakit bos! Dulu pas dia tumbuh gigi kayaknya cuma sekali tetek saya digigit dia, habis itu nggak pernah lagi. Lah, ini udah besar malah sering nggak sengaja kegigit. Keinginan untuk stop nenen jadi membesar dan saya makin siap.

Perlahan-lahan saya mengubah sugesti saya ke Kaleb karena setelah dipikir-pikir kalau makin dilarang, dia pasti makin sebel. Gila, nenen adalah hal paling favorit dari lahir sampai sekarang kok malah dilarang? Ya no way jose lah. Itu pasti sesuatu yang bikin dia merasa nyaman banget. Jadi ya nggak perlu dipaksa. He would know when to stop. Kalau mau tidur dan dia minta nenen, saya bilang, “Oke nenen sebentar aja ya, nanti Mami elus.” Maksudnya elus punggung dia sambil ketiduran. Dan ternyata dia paham lho. Jadi tiap nenen, saya kasih waktu sekitar 5 menit, lalu saya bilang, “Yuk Kaleb, nenen udahan. Mami elus.” Dia pun langsung stop dan balik punggung untuk dielus. Oh, ternyata ungkapan yang lebih positif bikin dia lebih secure. Nggak menakutkan kayak waktu disuruh stop nenen.

Keadaan nenen bentar dan elus ini seiring-iring berubah karena Kaleb lebih memilih untuk habis nenen, mending pegang tetek. XD Ya udahlah saya pikir, nggak capek ngelus punggung dia sampai ketiduran pula.

Sekitar 3 minggu lalu, Kaleb demam. Seperti biasa demam pasti bikin dia nggak bisa tidur dan milih untuk digendong saya mulu. Pegel, bok! Waktu itu saya pikir kalau gendong sambil duduk, saya juga bakal capek karena nggak bisa tidur. Jadi saya bilang ke Kaleb gendong, tapi sayanya sambil tiduran. Jadi posisinya dia tidur di atas dada saya sambil saya peluk. Dia pun ketiduran sambil pegang tetek saya.

Nah sejak itu, setelah nenen, dia minta tidur digendong sambil pegang tetek. Tapi 2 minggu ini, out of nowhere, nggak dipaksa, nggak disuruh, tiap mau tidur dia nggak merengek minta nenen, tapi langsung bilang, “Mami, mau tidur diendong aja.” Awalnya saya nggak sadar sih dia nggak nenen lagi, sampai suatu hari pas saya ingat-ingat, lho udah seminggu Kaleb nggak nenen. Dia cuma minta minta diendong sambil pegang tetek sebelum tidur aja.

Is it the time for he’s weaning himself?

Jadi saya perhatikan lagi deh seminggu ke depannya. Iya, nggak minta nenen, lho. Tapi sekarang ritual tidurnya begini: masuk kamar, matiin lampu, tak lupa dia cek tetek saya. Kalau masih pake BH, dia akan bilang, “Mami, buka BH-nya!” HAHAHAHA. Tiap hari dia ingetin saya buka BH. Lalu dia sambil tiduran pegang tetek saya dia pernah bilang, “Mami, kok teteknya kecil?” Saya cuekin. Dia tanya ulang lagi. Asem! :))) Teteknya kecil kebanyakan nyusuin kamu!

Jadi kayaknya ini akhir perjalanan menyusui saya. 2 tahun 4 bulan. LEGA banget karena akhirnya bisa stop menyusui tanpa drama dan ternyata kalau dua-duanya siap emang semudah itu. :’)

Apakah saya kangen moment menyusui? BELOM ya! :))) Gilakkk, I finally have my freedom. Saya nyusuin sambil tiduran itu bukan berarti ikutan tidur karena saya orangnya gampang kebangun. Nggak bisa posisi kaku miring trus ketiduran. Pasti harus nunggu anaknya selesai nenen dulu baru ketiduran. Baru sadar 2 tahun 4 bulan tidurnya begitu terus. PEGEL, cing!

Tapi bukan berarti selalu mulus, ya. Kayak tadi malam, Kaleb tiba-tiba ingat nenen dan bilang, “Mami, mau nenen.” Wah, deg-degan juga saya. Apa nanti kalau nggak dikasih dia akan ngamuk? Saya bilang, “Nggak usah nenen, deh. Mami gendong aja, ya.” Dan ya udah dia diam, trus oke digendong. Mungkin dia lagi kangen momen nenen, ya.

Belum lagi Kaleb baru bisa tidur sepanjang malam itu pas umur 2 tahun. Sebelum 2 tahun, ya masih kebangun-bangun untuk nenen. Saya emang nggak sleep training dia. Karena saya lebih baik tinggal buka baju nyusuin bentar, lalu dia tidur lagi; daripada malam-malam ngadepin Kaleb ngamuk, susah dibalikin tidur lagi, dan bikin saya jadi zombie di kantor karena kurang tidur. No, buat saya tidur cukup itu penting dan saya nggak perlu drama persusuan tengah malam. Hahaha. Makanya pas Kaleb umur 2 tahun dia tiba-tiba tidur sepanjang malam, malah sayanya yang kaget. Saya masih otomatis kebangun tengah malam, trus bengong mikir, “Anak gue kok tumben belum kebangun buat nenen?” Eh, ternyata anaknya mutusin perlahan-lahan untuk mengurangi frekuensi nenen dia. :’)

Jadi, saya pikir anak tuh cukup pintar untuk mengatur waktunya sendiri. Kapan dia siap untuk mandiri secara emosional. Orang tua tuh cuma bantu aja, jangan maksa, tapi encourage dia dengan positif. Waktu proses weaning pun, saya nggak akan ingetin dia untuk nenen. Jadi saya diemin aja. Kalau dia minta nenen, saya kasih. Tapi kalau nggak minta, saya nggak akan sodorin. Kalau kita sodorin lagi, misal pas dia lagi ngamuk biar cepat berhenti ngamuknya, nanti nggak konsisten dan dia nggak akan siap-siap untuk lebih mandiri.

This whole breastfeeding journey worth all the pain, nipple cracking, never ending pumping sessions, all the breastfeeding boosters, sleepless nights, swollen breasts, and all those troubles we’ve got. Because in the end, breastfeeding isn’t just about milk, it’s about love.

I make milk. What’s your super power? ๐Ÿ™‚

Toilet Training Kaleb

Kaleb udah sekitar 3 bulanan ini belajar toilet training. Awalnya karena saya pikir dia udah usia 2 tahun, belum mau lepas nenen, dan belum toilet training sama sekali. Hm, harus ada yang dicapai nih karena kan dia semakin besar, harus semakin mandiri. Untuk berhenti ASI karena buat saya dan Kaleb sifatnya sacred (satu-satunya yang nggak bisa digantiin siapapun ya cuma kegiatan nenen ini. Only me and Kaleb), jadi saya menyerahkan keputusan dan kesiapan Kaleb untuk berhenti. Yah, walau saya selalu mengingatkan dia kalau sudah besar dan waktunya berhenti, lho. Tapi dia belum mau, jadi ya sudah.

Nah, untuk toilet training awalnya juga ragu. Dia cuma mau pup kalau mau mojok di sudut ruangan. Dibawa ke toilet selalu ngamuk. Berkali-kali dicoba dan gagal. Benar-benar pesimis, deh. Tapi toh saya pikir, dia sebenarnya sudah bisa, kok. Dia sudah bisa bicara, bisa membedakan mau pipis dan pup, tahu letak toilet, bisa membuka celana sendiri. Jadi mari kita coba.

Awalnya saya pakai training pants yang bentuknya lumayan tebal sehingga kalau pipis nggak langsung basah ke lantai. Tapi toh itu cuma punya 3 doang. Yang lainnya, saya pakai celana dalam biasa karena tujuan akhirnya kan pake celana dalam, ya.

Ternyata saya suka underestimate Kaleb karena toh dia bisa, lho. Di hari pertama dia lepas diapers, dia cuma gagal sekali pas pipis lagi tidur. Wajarlah, namanya lagi tidur jadi dia pasti nggak bisa nahan pipis. Tapi untuk pup, surprisingly dia nggak pernah gagal. Awalnya ngamuk nggak mau ke toilet, tapi lama-lama dia paham untuk pup di toilet. Dia sekarang kalau mau pup selalu bilang.

Nah, kalau pipis ini yang masih jadi masalah. Tiap hari di rumah udah no diaper. Tiap jam diajak ke WC. Kadang-kadang dia malah iseng bilang mau pipis, padahal pipisnya dikit banget. Ya udah gpp, demi keberhasilan nggak pipis di celana, kan. Tapi kalau dia udah sibuk main dan heboh, dia ya lupa bilang pipis. Kadang-kadang saya merasa dia nggak lupa bilang pipis sih, tapi dia nggak mau waktu mainnya diganggu atau diberhentikan dengan harus ke toilet. Jadi ya dia sibuk aja main.

Yang lucu karena pernah dia kebelet pas jalan-jalan, akhirnya Opungnya suruh pipis di pinggir got. Lah, habis itu dia nggak mau pipis di toilet, maunya di halaman rumah atau got! Pernah ke Ancol, dia bilang mau pupus. Opungnya udah ajak ke toilet mall, eh dia nggak mau pipis. Pas mau masuk mobil dia bilang mau pipis, tapi maunya di jalanan aja. Hadeuh! -_____________-*

Alasan mau pipis ini dijadikan Kaleb untuk main-main air. Jadi kalau lagi di mall atau di mana gitu, dia bilang mau pipis biar dia bisa main flush di toilet. Udah dibawa pipis, trus nanti 5 menit kemudian dia bilang mau pipis. Padahal kalau dibawa masuk ke kamar mandi ya nggak pipis juga, cuma mau main air. Zzz!

Untuk tidur malam, Kaleb masih pake diaper karena mamaknya masih males bangun tiap beberapa jam untuk ajak dia pipis. Lagian anaknya tipe yang kalau dibangunin pas masih ngantuk dia ngamuk, plus drama, trus nanti susah ditidurinnya karena dia udah sadar. Mamak pingsanlah kalau sampai kurang tidur. Tapi sebelum tidur dia diajak pipis dulu sih dan pas bangun diajak pipis lagi.

Jadi selama 3 bulan ini udah lumayanlah, tapi masih belum berhasil 100%. Ada yang toilet trainingnya sudah berhasil? Ceritain, dong. ๐Ÿ˜€

Anak Berani

IMG_20170730_131847_910

Kemarin Kaleb baru aja vaksin Hepatitis A dan Typhoid. Tinggal sisa vaksin Hepatitis A ulangan 6 bulan lagi dan MR di Puskesmas bulan Agustus nanti, vaksin selanjutnya akan diulang 3 tahun kemudian alias pas umur 5 tahun. HORE! Mamak akhirnya bisa santai dan tarik napas dulu dari dunia pervaksinan ini yang menguras dompet. Hahaha. Demi anak!

Dua hari sebelum vaksin, saya udah sering kasih tahu Kaleb akan divaksin yang berarti akan disuntik lagi. Dua bulan sebelumnya Kaleb divaksin dan dia nangis sebentar pas disuntik, tapi setelah selesai sih diam lagi. Jadi sebenarnya dari bayi Kaleb nggak pernah yang sampai menjerit heboh ketakutan kalau disuntik.

Kebetulan suasana tempat vaksinnya menyenangkan karena banyak mainan jadi Kaleb malah sibuk main. Pas mau masuk ke ruang dokter, dia bawa mainannya juga. Melangkah dengan pasti. Hihi.

Tiba saatnya disuntik, dokter tanya, “Kaleb mau duduk di tempat tidur atau dipangku?”. Kaleb bilang mau duduk di tempat tidur, tetep sambil bawa mainan truknya. Dia lihat dokter sedang mempersiapkan suntikannya dan dia bilang, “Nanti Kaleb disuntik di sini, ya.” sambil tunjuk pahanya. Bad ass abis! Nggak takut. Hahaha!

Tapi akhirnya Dokter minta dipangku mamanya karena takut nanti pas disuntik meronta kaget dan jadi susah disuntik. Beklah! Kaleb duduk di pangkuan saya, lalu dokter mulai menyuntik Kaleb. Anaknya menggeliat kesakitan pada saat disuntik, tapi …. NGGAK NANGIS. Dia cuma bilang, “Sakit!”

Kemudian, beralih ke paha satunya lagi untuk disuntik. Dan lagi-lagi Kaleb nggak nangis! Habis itu dia turun dari pangkuan dan kembali main.

Saya yang bengong karena anak 2 tahun ini berani banget pas disuntik dan nggak nangis. Soalnya dulu waktu saya masih kecil, tiap mau disuntik saya mah udah kayak cacing kepanasan, lari sana-sini menghindar, bahkan sampai ngumpet di bawah meja dokter. Saya baru nggak nangis pas disuntik itu pas SD mau vaksin di sekolah karena gurunya mengancam kalau nangis akan disuntik 2 kali. YA MENURUT LO AJA. Satu kali aja bikin semaput, ini mau 2 kali. Sejak itu saya nggak nangis karena setelah dipikir-pikir ternyata sakitnya gitu doang.

Balik lagi ke Kaleb. Keluar dari ruang dokter, saya nanya ke dia, “Kaleb, tadi gimana rasanya pas disuntik?”

“Sakit sedikit aja.” kata Kaleb.

Ebuset, jawabannya aja bikin saya kaget. Sakit sedikit bok bilangnya! Hahaha!

Jadi Mamak boleh ya kembang kempis, dada membuncah penuh rasa bangga karena anaknya berani banget disuntik dan nggak pake drama. ๐Ÿ˜€

Selamat hari Senin! ๐Ÿ™‚

 

 

Review: Kids@work

IMG_20170723_162138

Kemarin Kaleb main di Kids@work Gandaria City. Udah lama sih emaknya pengen bawa Kaleb main ke sini karena Kaleb kan suka banget sama segala sesuatu yang berbau truk dan kawan-kawannya. Tapi karena jarang ke Gandaria City, plus itu mahal (Rp 150.000 untuk 3 kali alat @5 menit) jadi yah belum jadi-jadi. Untungnya kemarin aunty-nya yang ajak. Horee!

Kids@work di Gandaria City adalah tempat main yang temanya Under Construction (sama kayak tema ultah Kaleb kemarin ya. Hihihi). Di sana anak-anak bisa experience menjalankan escavator beneran. Di tengah-tengahnya ada pasir. Anak-anak akan dikasih jaket dan topi pengaman kayak pekerja konstruksi beneran. Ada sekitar 5 escavator dengan fungsi yang berbeda-beda. Kalau masih kecil banget kayak Kaleb bisa ditemani sama pendamping, sih.

Nah, kemarin pas lewatin Kids@work ini Kaleb excited banget karena sesuai dengan kesukaan dia. Pas diajak main, awalnya excited banget bisa menjalankan si escavator. Eh, nggak menjalankan beneran sih, karena dia kan masih cukup kecil jadi ya dibantu pendamping dia cuma ikut-ikutan aja di kemudi. Tapi lama-kelamaan dia bosen karena ya selama 5 menit gerakannya itu-itu aja dan dia nggak terlalu paham cara menjalankannya, escavatornya juga diam di tempat. Jadi sebelum 5 menit, dia merengek cobain yang lain. Begitu cobain yang lain, bosen lagi juga dia karena gerakannya itu-itu aja. Yang ada dia malah pengen udahan karena udah ke-distract tempat mainan sebelah yang lebih heboh. Untung ya bukan Mamak yang bayarin. HAHAHAHA!

IMG_20170723_162400

Kesimpulannya, untuk anak umur 2 tahun belum terlalu cocok sih karena mereka belum terlalu paham cara kerjanya. Ditambah Kaleb punya ride on escavator di rumah yang sering dibawa ke taman yang ada pasirnya sehingga dia punya otoritas penuh untuk angkat dan turunin pasir, serta jalanin escavatornya. Kalau escavatornya besar kayak di Kids@work dan cara memainkannya agak rumit bikin anak 2 tahun nggak tertarik, nggak bisa jalan juga escavatornya.

Selamatlah uang Mamak, ye kan? Hihihi.

Drama Tantrum Kaleb

Akhirnya masa-masa anak kicik manis penurut tergantikan juga dengan masa TANTRUM. Selamat datang anak guling-guling sambil ngamuk teriak-teriak ketika keinginannya tak terpenuhi *mamak pijat kepala*.

Kayak pagi ini, anaknya tantrum pas saya lagi mau berangkat kerja. Mana udah telat lagi karena bangunnya kesiangan *huft* Pas saya siap-siap Kaleb masih tidur nyenyak kayak malaikat. Lalu bapake selesai mandi dan mau ganti baju jadi nyalain lampu (tidur selalu dengan lampu dimatikan). Anaknya kebangun dan minta lampu dimatiin. Baiklah, bapake matiin lampu.

Kemudian datanglah saya yang gantian mau pake baju habis mandi, nyalain lampu. Anaknya nyuruh matiin lampu, tapi karena saya nggak bisa lihat apa-apa dan sebagai cewek ribet kan ya harus milih baju dulu, dandan dulu, pake softlens, dan seabrek kegiatan lain yang manalah bisa dilakukan dengan keadaan mati lampu. Akhirnya saya bujuk-bujuk, anaknya minta susu. Diambilin susu, tapi dia nggak mau. Lanjutlah dengan serial ke-cranky-annya. Ngamuk-ngamuk, saya nggak boleh dandan, minta digendong terus. Akhirnya batal lah dandan dan sisiran, udahlah entar aja. Matiin lampu kamar aja biar anaknya tenang. Tenang, dong?

Tentu tidak.

Anaknya karena udah cranky lanjut dramanya. Minta saya tidur aja nemenin dia, mamak nggak boleh kerja. Lanjut ngumpet di balik gorden, nutup pintu kamar, guling-guling marah, dibujuk apapun nggak mau. Pening!

Kalau lagi cranky gini, saya sebisa mungkin tetap tenang dan nggak terpengaruh. Karena semakin kita emosional, dia akan makin parah ngamuk-ngamuknya. Biasanya saya akan bilang, “Kalau Kaleb udah selesai ngamuknya, Kaleb datang ke Mami bilang Kaleb kenapa, ya.” trus ya udah saya biarin dia nangis aja sampe keluar semua emosinya. Tapi berhubung ini pagi-pagi, udah telat, dan dia pake tantrum segala, mau nggak mau saya bujukin. Berhasil? Ya gagal, dong.

Mau saya gendong tapi dia terus meronta-ronta jadi nggak bisa digendong. Dibujuk bapake juga gagal. Ya udah saya pura-pura mau pergi keluar, eh dia keukeuh di dalam. Kuat-kuatan aja sih kalau kayak gini. Saya bertahan di luar beberapa saat, sampai akhirnya dia ke luar juga. Pas di luar lanjut tantrumnya. Dia guling-guling di pagar depan rumah sampe diliatin tetangga. Hohoho.

Prinsip paling penting dalam menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, percaya diri, dan tidak jadi panik yang akhirnya malah bikin anaknya merasa bisa menguasai kita. Jadi saya santai aja bilang, “Mami tunggu Kaleb di mobil, ya.” Pada akhirnya bapake sih yang gendong anaknya ke mobil. Hahaha. Di mobil dia dipeluk dan lebih tenang. Huft sungguh drama pagi.

Kemarin di twitter ramai banget karena ada yang bilang kalau anak-anaknya ngamuk tolonglah diurusin karena ganggu sekitarnya. Orang yang bilang belum punya anak. Ehehehe. -_-*

Sungguh lho kalau ada pilihan ibuk-ibuk juga males banget ngadepin anak tantrum. Belum lagi kalau tantrum di tempat umum pasti lah orang-orang akan menghakimi, malu, dan panik karena sebagai orang tua kita juga merasa akan mengganggu ketenangan sekitar, nih. Pressure banget!

Tapi yang bisa kita lakukan cuma tenang dan nggak panik, abaikan tatapan menghakimi orang lain. Salah satu cara biar anak tantrum tenang adalah ya didiamin aja. Tunggu mereka tenang, barulah kita bisa ngomong. Bisa juga sih kita ajak dia ke tempat yang lebih sepi. Tapi kalau kasusnya kayak Kaleb, dia jadi susah digendong karena meronta-ronta dan menggeliat sehingga saya kehilangan keseimbangan dan bisa bikin dia jatuh. Ribet cuy mindahinnya.

Perlu dicatat, tantrum itu bukan karena anaknya bandel atau nggak diajarin, ya. Tantrum itu emang proses yang biasanya akan dialami anak seumuran Kaleb atau pas balita karena mereka nggak ngerti bagaimana harus mengekspresikan emosi yang mereka rasakan karena rasanya campur aduk, plus mereka pengen cari perhatian biar keinginannya diturutin. Masalahnya, nggak semua hal bisa diturutin, kan. Jadi janganlah menganggap anak tantrum itu nakal, atau orang tuanya nggak becus ngurusin anaknya.

Sejak punya anak dan tahu hal seperti ini, setiap melewati ibu yang lagi membujuk anak tantrumnya saya cuma akan senyum sama ibunya dan ya udah lewat aja. Nggak pasang muka terganggu. Si ibu pun akan lebih tenang menghandle anaknya sehingga tantrum anaknya akan cepat selesai.

Jadi ada yang anaknya suka tantrum juga? Tos yuk!

Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Drama Hari Pertama Kerja

Haiiii, gimana liburan Lebarannya?

Sebelumnya mau mengucapkan,

“Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf kalau ada yang salah ucap di blog ini. Kita mulai dari 0 lagi, ya.” *semacam iklan bensin*

Libur Lebaran saya nggak ke mana-mana. Memang nggak pernah ke mana-mana sih biasanya kalau Lebaran karena tiket mahal, di luar kota macyeeet, nitipin anjing susah karena pet shop penuh, dan mau menikmati Jakarta yang sepi sehingga bisa ke mana-mana. Yihaaa!

Lebaran kali ini sungguh bahu-membahu sama suami dalam membereskan rumah dan jaga Kaleb. Dari yang sayang-sayangan, marah-marahan, kesal-kesalan, balik lagi ke sayang-sayangan. Sungguh ujian fisik dan mental saat bersama balita, ya. Hahaha.

Anyway, mau cerita tentang drama hari pertama masuk kerja. Jadi karena ART pulang, full deh bareng Kaleb 24 jam selama 9 hari penuh. Mayan loh. Mayan menguras emosi; pagi bangun peluk-pelukan, cium-ciuman, oh anakku paling manis sedunia. Siangnya mulai rusuh non-stop, rambut berdiri, makan susah, barang-barang diberantakin, ngomong harus pake volume maksimal, hukuman diberlakukan. Sorenya, daripada kepala butek, bau ketek nggak sempat mandi, yuk cus jalan-jalan ke luar rumah biar hati adem dan anak senang. Malam, balik peluk-pelukan lagi. Tiap hari begini. Hahaha.

Dua hari sebelum masuk udah sounding ke Kaleb nanti Mami masuk kerja, Kaleb sama Opung lagi, ya. Anaknya masa bodo. Satu hari sebelumnya, sounding lagi. Anaknya cuma bilang, “Kaleb mau ikut kerja aja”. Tapi masih santai anaknya. Oke deh.

Oh ya, Kaleb ini tipe anak yang selow santai no baper. Dari kecil ditinggal kerja, saya selalu pamitan dengan dia, jarang banget nangis, apalagi teriak-teriak. Yang ada dia malah dadah-dadah, “Dadah Mami, Dadah Papa.” trus bodo amat main lagi. Sebagai orang tua langsung hidung kembang kempis anaknya bukan tipe yang selalu nangis kalau orang tua kerja. Tenang banget lah ninggalin ke kantor jadinya.

Nah, tapi kan Kaleb mulai besar dan mulai paham. Sembilan hari penuh sama orang tuanya pasti bikin makin tak terpisahkan. Dimulai dari pagi, dia mulai merengek ketika saya lagi siap-siap. Seperti biasa, saya nyalain lampu dan matiin lampu tidur. Yang ada anaknya keukeuh lampu tidur harus nyala dan lampu kamar mati. Minta peluk, minta gendong, maunya di kamar aja.

Sampai akhirnya saya pake sepatu kerja, dia langsung tantrum.

“MAMIIII, LEPAS BAJUNYA!”

“MAMIIIII, JANGAN PAKE BAJU INI. PAKE BAJU BOBO AJA.”

Yang tadinya saya biasa aja, kan ya sedih juga. HUWAAAAA, pertahanan retak-retak juga. Akhirnya saya ikutan nangis. Anaknya makin nangis lah. Yang biasanya senang kalau diajak naik mobil, kali ini di mobil minta turun. Bahkan mau ke setir bapaknya dan minta balik terus. Diajakin mampir ke Alfa beli susu pisang, tetap nggak mau. Dikasih nenen yang biasanya berhasil, dia tolak. Tough!

Sampai akhirnya di rumah Opung, dia makin menjerit.

“NGGAK MAU KE SINI! MAU KE RUMAH KALEB AJA!”

Dia langsung ngumpet di bawah setir sambil teriak-teriak nangis. Duh, berat cuy bujuknya.

Akhirnya karena nggak sanggup gendong meronta-ronta terus, minta bapaknya yang angkat dia dari mobil. Dramanya sungguh luar biasa, di pintu rumah dia guling-guling di lantai nangis. Segala bujuk rayu gagal.

Saya pun harus pasang muka lempeng lagi pas pamitan, “Kaleb, Mami pergi kerja dulu, ya. Nanti malam Mami pulang kita main lagi.” cium keningnya, melangkah ke luar rumah like a hero! No turning back!

Padahal hati mah udah patah seribu dan rasanya pengen langsung sms bos bilang, “Bos, anak eike ngamuk nggak mau ditinggal kerja, saya nggak masuk hari ini, ya. Bhay!” Apa daya, cuti tinggal dikit cuy!

Jadi di mobil berangkat ke kantor sedih-sedihan. Eh, sejam kemudian dikirimin foto sama Opungnya, anaknya lagi main mobil-mobilan, udah mandi, sambil ketawa lebar.

Sungguh anakku drama. Trus emaknya terbawa drama anaknya pula!

Ayo sini, ibuk-ibuk yang kerja gimana hari pertama ninggalin anak lagi di rumah? Ada drama juga nggak?

 

Tentang Etika dan Bahasa Alay

Salah satu alasan saya mengajarkan Kaleb berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah di jaman sekarang saya lebih gampang nemu ABG yang nulis alay sampai saya nggak paham maksudnya, daripada berbahasa Indonesia. Saya pernah jadi anak alay sih (WHO DIDN’T? HAHAHA) yang simpan kontak di HP dengan huruf besar dan kecil. TAPI… saya nggak pernah nulis sms atau kirim surat atau apapun yang berbentuk tertulis dengan bahasa alay, bahkan ke teman sendiri dengan konteks santai. Never. Makanya saya bergidik geli lihat sebegitu ignorant-nya anak-anak ABG sekarang dengan bahasa.

Bukan cuma itu aja. Kalau situasi non formal aja suka geli lihat bahasa alay, sekarang malah ada banyak kejadian di situasi formal. Misalnya, kirim lamaran pekerjaan ke suatu perusahaan. Di body e-mail nggak ada perkenalan atau apalah, nggak ada cover letter. Blank. Kosong. Cuma attach CV. Ini diibaratkan mau minta kerja, tapi nggak sopan caranya. Yang ada e-mail lamaran kerjaan kamu langsung di-delete aja, tanpa dilihat sama sekali.

Ada yang namanya ETIKA, lho dan ini bagian yang penting.

Jadi suatu ketika ada promotor. Promotor ini tampaknya memang baru. Project-nya baru menangani beberapa event artis-artis indo semacam artis GGS untuk fanmeeting. Kemudian mereka melebarkan sayap dan berusaha mendatangkan seorang artis luar negeri. Wuidih, keren dong, ya.

Karena event fanmeeting ini belum ada sponsor, jadi mereka berusaha untuk mendekati fanbase-fanbase si artis ini di Indonesia. Beberapa fanbase punya followers puluhan ribu di Instagram dan masih aktif, yang mana akan jadi peluang untuk si promotor untuk promosi dong, ya.

Masalahnya adalah etika bisnis mereka parah! Parahnya seperti ini (mereka mengirimkan pesan via DM Instagram, padahal jelas di kontak bio fanbase ini ada e-mail resmi):

A: “Min, minta kontaknya, dong.”
–> Ujuk-ujuk datang nanya kontak. Kesel nggak bacanya? Siapa elo, udah nggak kenal, enak aja nanya kontak pribadi. Gini lho, etikanya adalah perkenalkan diri, jelaskan tujuannya dengan baik dan detil, lalu tanyakan dengan sopan adakah kontak yang bisa dihubungi (tapi sebenarnya kalau mau baca dulu, udah ada di bio, sih).
–> Akan lebih baik begini: Hai, nama saya Ani. Saya adalah bagian dari EO yang akan menyelenggarakan fanmeeting Incess pada tanggal 10 Desember 2020 di Monas. Sehubungan dengan fanmeeting ini, kami ingin meminta bantuan untuk promosi. Adakah e-mail atau nomor telepon yang dapat kami hubungi sehingga kami bisa jelaskan dengan lebih detil? Terima kasih untuk perhatiannya. Salam, Ani.

B: “Halo min, followermu ada berapa? Ada yang mau ikut fanmeeting?”
–> Banyaknya followers bisa dilihat di IG. Lah, emang si mimin cenayang tahu followersnya siapa aja yang mau ikut fanmeeting?
–> Kalimat tanya kayak gini juga nggak jelas. Mau apa nanya siapa yang ikut fanmeeting? Mau sekedar tanya aja? Mau kasih free ticket? Mau suruh promoin? Atau apa?

C: “Selamat pagi min, boleh minta bantuannya untuk promosi fanmeeting incess?”
–> Helloooo, ini sapose ujuk-ujuk datang nyuruh promosiin fanmeeting orang? Sekali lagi, kalau mau minta bantuan orang, perkenalkan diri, jelaskan maksud dan tujuan dengan detil, tanyakan kontak resmi agar bisa menulis proposal dengan resmi, dan ucapkan terima kasih.

D: “Tengkio, min.”
–> Bahasa apa itu tengkio? Kalau ngomong ke sesama teman ya suka-suka hati kalianlah. Tapi kalau ini situasi yang formal, apalagi untuk kepentingan bisnis: jangan gunakan bahasa alay. Keep it for yourself. Orang yang dituju nggak perlu tahu di kehidupan nyata kamu alay. Pakailah bahasa yang resmi dan wajar saja, seperti terima kasih. Jangan disingkat-singkat, jangan diganti pake bahasa alay, jangan dicampur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apalagi bahasa alay. NO! DON’T! NEVER!

Logikanya gini ya, kamu meminta bantuan orang, jadilah orang yang sopan. Bukan nggak punya etika langsung nodong orang melakukan sesuatu untuk kamu. PERKENALKAN DIRI itu penting! Emang kalau ada orang nggak jelas siapa dan tujuannya apa, kamu mau bantu? Males, kan?

Kalau untuk kepentingan bisnis (inget lho, promotor ini tujuannya adalah mendapatkan keuntungan materi dari menyelenggarakan fanmeeting) tawarkan imbalan, bisa berupa fee promosi, barter sesuatu, tiket gratis, voucher, diskon, atau apalah. Karena tujuannya bisnis. You HAVE TO thank properly people who help your business. Kamu dapat uangnya, sementara yang promosiin gigit jari aja? That’s unfair.

Jadi tolonglah, kalian boleh muda, kalian boleh masih belia, tapi etika itu harus ada. Apalagi kalau untuk tujuan formal, nggak ada excuse bahwa kalian masih muda, masih baru saja memulai usaha. Belajar, jangan cuek, sopan, PUNYA ETIKA.

Sungguh lho, waktu saya SMP aja, di sekolah saya ada pelajaran surat-menyurat resmi, di SMA pun ada pelajaran administrasi, yang salah satunya berhubungan dengan surat menyurat, apalagi pas kuliah..beuh, banyak banget diajarin soal berbahasa yang baik karena harus banyak praktek ke institusi, interview orang-orang dalam situasi formal, dan ditekankan banget soal beginian. Lagian, seharusnya etika dimulai dari rumah, kan?

Mulai sekarang, yuk belajar buat lebih berbahasa yang baik dan benar. Bahasa alay-mu tolong dipakai buat diri sendiri dan teman-temanmu aja. Bukan buat situasi formal lainnya, ya. Jangan karena kamu hubunginnya lewat sosmed atau e-mail jadi nggak bersikap sopan. Dengan siapapun kita berhubungan, apalagi nggak kenal, coba tolong perhatikan etika yang benar. Sip!

Jadi ada yang mau nonton Incess nggak? XD

 

 

Gosipin Aomike Dengan Pantip

IMG_20170617_200719

Ada yang kangen Aomike nggak?

*lirik kiri kanan*

Banyak yang DM saya suka nanya, “Kak, kapan nulis Aomike lagiiii? Gimana kabar mereka?”. Karena project mereka lagi jarang banget, saya sekarang lebih sering tenggelam di dunia ke-Korea-an *lirik oppa Sung Hoon dan Ji Chang Wook penuh cinta*.

Oke, tapi kayaknya hidup saya nggak bisa lepas dari Aomike, sih. Hahahaha! Sebelum cerita intinya, kita update dulu ya sekarang mereka ngapain aja. Mike lagi sibuk syuting di Cina, Aom masih sibuk dengan entah apalah kerjaannya karena dia lagi nggak syuting, trus dramanya sama Peter Denmann pun nggak keluar-keluar, padahal udah selesai syuting dari tahun lalu. Oh, sama film horor Cina-nya yang tahun lalu syuting di Cina pun nggak muncul-muncul. Kayaknya tahun yang berat buat Mbake Aom karena sampai pertengahan tahun ini belum ada serialnya yang tayang padahal udah selesai syuting semua. Sejauh ini dia juga belum kelihatan lagi syuting drama baru, cuma syuting photoshoot, iklan, samaaa…sibuk sama kafe barunya, Lunar Nuna.

Tapi Aomike never dies ya, jadi sesungguhnya Aomike udah syuting mini series yang sebagian besar produksinya dikerjakan oleh Mike sendiri *uwoooww keren*, tapi lagi-lagi belum tayang karena terhalang Mbake Aom yang masih terikat kontrak eksklusif sama Ch3. Sesudah kontraknya selesai, mini series ini bisa tayang, kok. Jadi, soon!

Selain itu, mereka baru aja ke Maldives. Uwooow, apakah mereka honeymoon? Setengah benar. Karena mereka lagi photoshoot untuk majalah Honeymoon. So prepare for super sexy poses with bikinis and swim suits. Hahahaha!

Oke, segitu aja sih update-nya. Pasti masih kepo mau nanya mereka jadian nggak siiih? Hmm, menurut kalian? ๐Ÿ˜‰ Hahahaha. Bayanginnya gini aja deh, they will fight, they will do stupid things (ignore that follow-unfollow thing), they will say they don’t like each other, but they’ll end up together. Karena lihat aja tiap Mike balik ke Thai, siapa sih yang dia temui duluan? Kejawab dong, ya. :)))

Nah, hari Minggu lalu salah satu anggota fanbase @aomikesdiary_pantip, Mim yang seorang dosen, lagi berkunjung ke Indonesia. Sebenarnya tujuannya bukan tentang Aomike sih, tapi mereka, atas nama industri hiburan Thailand, sedang melakukan penelitian mengenai apa yang disukai dari drama dan film Thai dan bagaimana bisa mengembangkannya. Mereka tiap hari harus interview buanyak orang untuk penelitian tersebut. Tapi karena Mim fans Aomike jadi dia menyempatkan diri ketemu fans Aomike yang dibantu oleh @aomike_id. Jadi Mim ketemu teman-teman Aomike di Bandung dan Jakarta.

Dari Jakarta saya dan Nessia yang mewakili. Kami ngobrol di resto U-Thai SCBD. Pas kami datang, Mim langsung ngajak kami ngobrol di meja yang berbeda. Dia bilang, kita kan sesama fans Aomike jadi pasti mau gosipin Aomike. Hahahaha, tahu aja dia! FYI, Pantip ini sangat dekat dengan Aomike karena mereka udah sering ketemu. Bahkan Mim punya line pribadi Aom! So, we prepared for inside secret stories. ;))

So, we asked everything we wanted to ask all along. Kayak pertanyaan macam, “Are they dating? Why Aom always makes such drama and causes fan war? What does Sarah want? What Thai people think of Aomike? What is it with Aom and Tina?” And LOTS of other questions.

1497711331664

Me, Mim, and Nessia goofing around

We share those juicy secrets (tapi karena rahasia jadi ijk nggak bisa kasih tau dong. Hahaha) and surely had a lot of fun! Awalnya cuma suka satu drama, lalu kenal teman-teman dari berbagai kota di Indonesia, dan sekarang malah kenalan sama banyak teman di luar negeri. Seru banget. A fangirl life. Hahaha!

Until next time, Mim. Thank you for sharing those spicy secrets. ๐Ÿ˜‰

 

PENASARAN, KANNNN? Hihihi.

 

 

 

Vaksin Itu WAJIB!

Huft, tahun 2017 ternyata masih ada yang antivaksin, nih?

*menghela napas sampai sesak*

Oh ya, belajar dari kasus Jupe yang terkena kanker serviks; vaksin serviks itu udah ada lho dari dulu dan mampu mencegah kanker serviks. Idealnya perempuan umur 11 tahun sudah bisa vaksin serviks. Jadi dari masa puber lebih baik. Tapi kalau dulu nggak tahu, bisa juga dipake sebelum berhubungan seksual. Tapi kalau misalnya sudah berhubungan seksual, cek papsmear dulu, ya. Baru kalau hasil papsmearnya bersih, lanjut vaksin serviks.

Ini pengalaman saya vaksin serviks 6 tahun lalu, sebelum menikah. Permasalahannya adalah banyak yang enggan untuk papsmear atau vaksin serviks karena pertanyaan dari tenaga medis adalah, “Mbak sudah menikah atau belum?”. Err! Begini lho, vaksin serviks itu sebaiknya dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual, terlepas dia sudah menikah atau belum. Papsmear sebaiknya dilakukan 1-2 tahun kalau sudah berhubungan seksual secara aktif, lagi-lagi terlepas dia sudah menikah atau belum.

Jadi pertanyaan sudah menikah atau belum dari tenaga medis akan jatuhnya menghakimi. Misal, dia jawab belum menikah tapi mau papsmear, yang mengindikasikan berarti sudah berhubungan seksual sebelum menikah. Lalu pandangan si tenaga medis akan berubah dan judging. Bikin pasien jadi nggak nyaman dan akhirnya enggan untuk balik lagi.

Saya sadar di Indonesia normanya adalah belum berhubungan seksual sebelum menikah. Tapi pada kenyataannya ADA yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah. Dan apakah yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah tidak boleh mendapatkan perlakuan medis yang baik, tanpa ada tatapan menghakimi?

Akan jauh lebih baik ย kalau tenaga medis tidak perlu memperhalus pertanyaan dengan “sudah menikah atau belum?”, tapi langsung straight to the point, “sudah berhubungan seksual aktif atau belum?”. Dan nggak perlu kepo jugalah kalau sudah berhubungan seksual berarti dia sudah menikah. Keep it simple, no judgment. Pasien juga pastinya lebih nyaman karena dia akan di-treat berdasarkan keluhan, bukan dihakimi moralnya.

Nah, soal antivaksin pada anak. Prinsip saya cuma satu, kalau itu terbaik untuk anak dan membuat anak saya lebih sehat, serta secara ilmiah sudah terbukti, let’s do it! Berusaha jadi alamiah, tapi habis itu mengorbankan kesehatan anak is a big NO for me. Plus, vaksin itu bukan cuma soal imunitas diri sendiri tapi imunitas kelompok. Harapannya suatu saat kalau semua anak sudah divaksin, maka penyakit tersebut punah. Nah, para dokter seluruh dunia udah gencar mau bikin punah itu penyakit, trus kucuk-kucuk orang sok tahu bilang nggak usah vaksin lalu anaknya terkena penyakit. Maleh, kapan itu penyakit punah jadinya? Kan jadi outbreak lagi. *nangis di pojokan*

Gini ya, nggak perlu sok anti kimia. Udara yang kita hirup setiap hari aja itu kimia, namanya oksigen alias O2. Gimana caranya bisa anti kimia buat anaknya kalau udara aja sudah berbentuk zat?

Jangan bilang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan. IYA emang dari Tuhan. Tapi Tuhan juga menciptakan manusia dengan akal budi jadi harus juga berusaha menjaga kesehatan dan berusaha juga untuk makan obat ketika sakit. Baru deh Tuhan yang menentukan mau disembuhin atau nggak. Kalau vaksin aja nggak mau, ya wajar aja Tuhan kasih penyakit. Lagian kalau emang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan, kalau lagi sakit nggak perlu berobat ke dokter, ya. Cukup berdoa aja. Nanti imanmu ย yang menyembuhkan. Oke sip!

Jadi jadi orang tua itu harus bijaksana. Saya termasuk yang sebisa mungkin anak nggak pakai obat kalau emang nggak perlu sakitnya, saya juga berusaha bijaksana dalam penggunaan antiobiotik, tapi saya tidak anti dengan obat dan antibiotik. Kalau misal anaknya sakit batuk pilek sampai tahap sudah tidak nyaman, nggak bisa tidur, nggak mau makan, trus saya maksa nggak pake obat dan bergantung pada minyak esensial aja, ya berarti saya egois. Tentu saja obat to the rescue lah. Tujuannya bukan soal pake obat atau nggak, tapi soal anak merasa nyaman karena ia sehat.

Jadi ibu itu harus bisa fleksibel. Tidak ada satu teori parenting yang paling benar. Semuanya cocok-cocokan dan disesuaikan dengan kondisi anaknya juga. Makanya jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, lah wong prakteknya bisa beda-beda tiap anak, kok. Tapi yang pasti, fokusnya adalah anak. Logical reasonsnya pun harus benar. Patokan saya: kalau sudah ada penelitiannya berarti valid. Jadi, antivaksin is a big no. Gunakan nalar yang benar, bukan cuma soal keyakinan membabi buta.

Yuk, barengan vaksin biar sama-sama sehat. Jangan sampai nanti nangis-nangis panik pas anaknya sakit karena nggak vaksin kayak mbake itu loh. ๐Ÿ˜€