Anak Gaul Komplek

Hidup di jaman kekinian *tsaelah* bikin saya punya kekhawatiran sendiri kalau Kaleb akan tumbuh jadi generasi TV dan gadget. Saya realistis aja sih kalau pada masanya mereka pasti akan mengenal gadget, video game, dan lain-lain, tapi nggak pengen Kaleb jadi susah bersosialisasi karena fokus sama gadgetnya. Ini kejadian di sepupu saya yang kalau kumpul keluarga, sibuk banget sama gadgetnya sampai kalau ditanya dia nggak bisa fokus jawab dan sibuk liat layar gadget, atau kalaupun jawab tapi sambil liat layar. Itu dari pagi sampai malam. Nggak pusing itu mata? DOH!

Saya masih ingat masa kecil saya dihabiskan dengan main dengan teman sekomplek, ke lapangan dekat rumah, lari-lari dan main sepeda bareng, memberdayagunakan bahan dan alat yang ada di sekitar kita untuk main. Senang banget rasanya. Bisa nggak ya Kaleb seperti itu? Masalahnya masyarakat sekarang lebih individualis, jarang hang out sama tetangga, dan anak-anak dikekep di rumah.

Tapi ternyata kekhawatiran saya untungnya nggak terbukti. Kaleb adalah anak yang paling nggak betah diam. Nonton TV atau lihat ipad pastinya harus duduk tenang diam. Beuh, mana tahan dia. Dulu waktu lebih kecil dia masih bisa terpana sama lagu anak-anak di ipad, tapi sekarang nggak terlalu lagi. Palingan satu lagi dia dengar, kemudian nggak bisa diam lagi. Dia pun belum menunjukkan kesukaan pada suatu acara tv atau kartun tertentu. Nonton TV nggak betah banget bro! Paling lama 5 menit lah dia liat tv, kemudian bosan karena harus diam.

Kaleb lebih suka explore apapun yang ada di sekitarnya. Apapun. Dia suka sekali jalan-jalan ke luar rumah. Wajib 2 kali sehari, pagi dan sore. Jadi ya walau lebih capek ngikutin kesukaannya bermain di luar dan explore semuanya, kami sebagai orang tua ya senang juga.

Untungnya taman dekat rumah dipercantik dan dibuat playground untuk anak-anak dan ada perpustakaan kecil untuk anak-anak baca buku. Selain itu ada lapangan basket dan lapangan bola juga, serta area bermain pasir. Gimana nggak makin cinta Pak Ahok! Taman ini jadi taman yang wajib didatangi Kaleb karena tiap pagi dan sore banyak anak-anak kecil main, Kaleb jadi bersosialisasi dengan anak-anak kecil seusianya, maupun yang lebih besar. Kemudian dia belajar untuk gantian pakai mainan ataupun share dan pinjam mainannya atau teman-temannya.

IMG_20160822_164423

Di taman, kenalan dengan teman baru dan langsung main bersama

IMG_20160822_163735

Taman kesayangan dekat rumah yang setelah direnovasi jadi jauh lebih bagus dan bersih. Kami senang!

Baru sadar juga karena di dekat rumah saya, banyak banget anak-anak yang kalau sore suka main di sepanjang gang sehingga jalanan harus diportal supaya mobil nggak bisa lewat. Ini saya taunya karena Kaleb juga. Kaleb pun sering main sepeda bareng, main lari-larian, dan bahkan Kaleb ajak temannya main ke rumah. Iyes, anak saya belum 1,5 tahun aja udah ngajak anak tetangga main ke rumah. Haha!

IMG_20160828_125513

IMG_20160822_171729

Ajak teman main ke rumah. Temannya orang bule, nggak bisa bahasa Indonesia. Ya sudah, beda bahasa tapi saling paham kan.

Waktu 17 Agustus kemarin, RT kami mengadakan lomba untuk anak-anak. Kaleb bahkan ikut lomba, walaupun dia pastinya nggak tau itu lomba, tapi dia paham instruksinya dan mengikuti instruksinya. Di lomba itu Kaleb jadi makin kenal teman-teman sebayanya dan saya pun yang terkenal nggak gaul di komplek *anak gue lebih gaul dong* akhirnya kenal para tetangga.

IMG_20160821_170700

Perdana ikut lomba 17 Agustusan di komplek

Selain main dengan anak-anak seusianya, saya juga mengajarkan Kaleb untuk sayang hewan. Dimulai dari Mika, si Golden Retriever kesayangan kami. Dari bayi Kaleb diperkenalkan dengan Mika. Nggak masalah kalau Mike menjilat-jilat Kaleb karena kami sudah memastikan Mika bersih dan Kaleb setelah itu pasti cuci tangan. Selain itu Kaleb diajak bertanggung jawab memelihara Mika dengan mengajak Kaleb memandikan Mika atau memberi makan Mika. Sampai sekarang Kaleb nggak pernah takut dengan hewan apapun dan menunjukkan rasa sayang dengan hewan. Good job, baby!

IMG_20160827_170932

Kaleb sayang Mika

Saya bahagia karena hal-hal yang saya alami waktu kecil, seperti main dengan tetangga, bisa dirasakan Kaleb juga. Mungkin Kaleb lebih mampu bersosialisasi dengan baik dibandingkan saya. I am truly happy for that. Semoga Kaleb menjadi anak yang mudah bersosialisasi, dekat dengan alam, dan sayang hewan. Amin!

*Mami rela nggak jadi anak mall, deh! XD*

 

 

Salam Olahraga

Waktu saya kecil, orang tua saya suka sekali membawa saya nonton pertandingan olah raga. Entah itu tenis, sepak bola, tenis, bulu tangkis, dsb. Mereka berdua suka banget olahraga dan rutin berolahraga. Mama dua kali seminggu main tenis dan kalau tidak main tenis senam di gym. Bapa juga main tenis dan golf.

Mereka berharapnya anak-anaknya juga suka olahraga. Makanya waktu saya TK, saya sudah les renang 3 kali seminggu. Kemudian besaran dikit tenis tapi tidak bertahan lama karena saya nggak suka. Saya melenceng malah suka bulu tangkis dan didukung dengan dibelikan raket dan kok, serta ditemani main tiap hari. Yes, tiap hari.

Selain itu, di halaman rumah ada ring basket. Bukan cuma jadi hiasan aja, tapi kami rutin main basket. Kalau kami bisa memasukkan bola basket ke ring sampai 5 kali berturut-turut, kami dapat hadiah uang. Nggak seberapa sih uangnya. Tapi kan anak kecil suka banget dapat tambahan uang jajan. Hehe.

Saya masih ingat kalau weekend diajak jalan-jalan senang banget. Ealah, ternyata berakhir di lapangan tenis nonton tenis. Buat anak kecil rasanya… wakwaaaaw! Pertandingan tenis itu adalah salah satu yang membosankan buat saya karena penontonnya harus tenang, nggak boleh berisik, kalau nggak nanti ditegur wasit. Bosan sekali. Tapi karena mau nggak mau harus menonton, jadi ya akhirnya saya menonton, bertanya bagaimana sistem penilaiannya, siapa pemainnya, dan berakhir dengan…. wow, ini seru banget, ya!

Kalau ada pertandingan besar, seperti Sea Games di Jakarta, sudah pasti kami menonton. Waktu itu saya ingat sekali lagi tergila-gila dengan bulu tangkis jadi Bapa saya mengajak nonton bulu tangkis. Senangnya minta ampun! Sebelum masuk ke ruang pertandingan, saya dibelikan kaos berlogo Sea Games dan spidol supaya nanti bisa minta tanda tangan atletnya.

Saya masih ingat dengan jelas bagaimana mata saya berbinar-binar waktu lihat Mia Audina, Joko Suprianto, Ricky Subagdja, dan pemain-pemain favorit lainnya di depan mata. Sambil nonton mereka main, tiap ada atlit favorit yang sekiranya lagi ikutan nonton atau lewat, saya langsung sigap meminta tanda tangan. Saya ingat banget kaos saya penuh dengan tanda tangan atlit, tidak pernah dicuci, dan cuma jadi hiasan saja. Bangga!

Kalau ada Piala Dunia, Bapa yang tergila-gila dengan sepak bola mengajak kami ikut keseruannya. Misalnya menebak angka gol dari suatu pertandingan, nonton bareng sambil makan mie instan tengah malam. Akhirnya saya yang nggak suka bola pun mulai paham dengan sepak bola. Sampai akhirnya saya punya klub bola kesukaan, atlit bola favorit, dan rela bangun tengah malam kalau ada pertandingan besar kayak World Cup atau Euro Cup.

Jadi sampai sekarang kalau ada pertandingan yang seru, Bapa pasti ngingetin. Kayak kemarin pertandingan final bulutangkis ganda campuran Indonesia di Olimpiade #Rio2016. Duh bahagianya waktu mereka menang itu sama kayak bahagia pas Ricky-Rexy menang Olimpiade Atlanta dulu. Merinding, terharu, senang, lega, bangga! Semua perasaan positif jadi satu.

Saya berharap banget suatu hari nanti Kaleb suka olahraga, nonton olahraga, dan akan sangat menyenangkan kalau bisa ajak dia nonton olahraga langsung seperti saya dulu.

Salam olahraga!

Diromantisin Jong Suk

Hellooo, kembali bahas drama Korea, yuk. Sebagai orang yang biasa aja, nggak pernah hapal muka pemainnya, apalagi nama-namanya yang njelimet, maka saya jadi penikmat yang angot-angotan. Kadang berusaha ngikutin serial Korea yang lagi heitz tapi suka stop di tengah jalan karena jalan ceritanya terlalu lambat dan membosankan.

Waktu lagi hangat-hangatnya drama Descendant of the Sun (DOTS), saya berusaha ngikutin banget karena… (1) Song Hye Kyo main di drama ini. (2) pemain cowoknya, yang belakangan diketahui bernama Jong Ki *iyees sekarang mah hapal* ganteng juga. Awal-awal nonton masih terasa membosankan, tapi tetap ditonton karena euforia orang-orang heboh banget sama serial ini. Saya beneran berusaha mendalami sampai episode 7, kemudian menyerah. Stop. Udah lah, saya nggak terlalu suka sama serial ini karena buat saya membosankan. Saya nggak suka serial perang walau dibumbui cinta-cintaan sekalipun. BHAY!

Malahan saya nonton drakor berjudul Madam Antoine yang kurang populer dan kurang ngetop di sana cuma karena tokoh utama cowoknya (yang entah namanya siapa) adalah seorang psikolog jadi banyak kisah unik berbau psikologis yang diceritain juga. Tapi ya secara drama cinta-cintaan ya biasa aja, plus tokoh utama perempuannya juga umurnya jauh lebih tua dan dikisahkan udah punya anak remaja. Jadi ceritanya naksir brondong gitu lah. Wakakak!

Kemudian teman-teman saya heboh nonton Doctors yang mana kabarnya udah ditunggu-tunggu dan bakal sukses karena yang main Park Shin Ye dan Kim Rae Won.

bd520dc0c25c7d122f23fd240ae614ed

Doctors

Ini ceritanya cowoknya jauh lebih tua juga. Jadi dipilih Kim Rae Won yang udah matang. Awalnya kisahnya menarik karena Park Shin Ye badass banget, bisa bela diri tendang sana tendang sini tapi pinter banget. Seru. Tapi lama-lama mulai membosankan dan datar-datar aja. Nggak ada konflik yang mencekam atau dramatis. Kisahnya berputar pada bagaimana dunia kedokteran dan bagaimana mereka menolong pasien dan banyak adegan operasi yang memperlihatkan otak dibuka, darah bermuncratan. Hahaha, kalau takut mending diskip aja. Tapi kisah percintaan mereka ya cukup mulus, tokoh lainnya secara garis besar nggak ada yang gangguin percintaan mereka. Saya sering ketiduran di tengah-tengah nonton, tapi ya tetap masih dilanjutkan karena pada dasarnya saya suka kisah berbau medis, plus ya tanggung juga keleus udah nonton sampai 14 episode. Hahaha. Oh ya, seperti biasa Park Shin Ye kalau ciuman datar banget jadi emosinya nggak tersampaikan dengan baik.

Lalu muncullah W – Two Worlds di mana tiap orang yang nonton bilang ini bagusss banget dan unik ceritanya. Berbau fiksi. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik cerita seperti ini, terutama karena dulu saya nonton You Who Came From The Stars yang dihebohkan orang-orang tapi saya nonton biasa aja karena mikirnya: ngapain pacaran sama alien, sik?! Plus tokoh utama pria di serial ini si Lee Jong Suk, yang mana dulu dia main di drama Pinnochio sama Park Shin Ye, tapi di situ dia kurang ganteng. Cetek ya alasannya. Hahaha.

lee-jong-suk-pinocchio

dek Jong Suk kala itu

Sudah lupakan tampang kucel dan rambut aneh dek Jong Suk di Pinnochio. Seiring berjalannya waktu di drama itu dia jadi ganteng kok, tapi kurang berkarisma aja. Hihihi.

Kemudian saya mulai menonton serial W.

w45

W – two worlds

W ini dibintangi Lee Jong Suk sebagai Kang Chul dan Han Hyo Joo sebagai Oh Yeon Joo. Saking bodohnya dalam menghapal nama Korea, ini aja saya harus googling nama mereka dulu. Hihihi.

Oh ya, ini sinopsisnya begini berdasarkan Wikipedia:

Cardiothoracic surgeon Oh Yeon-joo’s (Han Hyo-joo) father mysteriously went missing while writing the last chapter of his webtoon “W”. Yeon-joo goes to his office and is shocked to see a scene of a bloodied Kang Cheol (Lee Jong-suk), the main character of W, on her father’s monitor. While reading something left behind by her father, a hand from the monitor pulled her in. She found herself on the rooftop of a building, next to man lying down in blood. She manages to save him but is shocked to realise that the person she saved was Kang Cheol. She then found out that she can only enter and leave the webtoon based on Kang Cheol’s change in feelings.

IYA, jadi ini kisah antara dunia nyata dan dunia komik alias webtoon. Unik banget, kan! Ditambah lagi dibumbui oleh thriller di mana penjahatnya sampai sekarang belum ketahuan siapa.

Tiap episode dibikin tegang dan pasti diakhiri penasaran. Jalan ceritanya cepat, Yeon Joo sebagai tokoh utama cewek kocak dan nggak menye-menye, plus Kang Chul karismanya bertebaran ke mana-mana, lucu, dan manis banget ya ampun. Boleh nggak saya simpan di lemari rumah saya?

Yang paling menyenangkan dari serial ini adalah buanya amat skinshipnya, plus kiss hampir di tiap episode. Duh, Mamak suka lah yang beginian. Hahaha. Udah gitu intensitas kiss-nya semakin meningkat. Duh duh, begini dong kalau harus adegan romantis, nggak datar sama sekali. Chemistry mereka berdua pun klop banget.

 

maxresdefault

Ciuman pertama. Masih biasa aja yes.

13745172_952526124856920_1303035504_n

Kiss kedua, di kamar mandi sambil pegang pistol. Duh duh!

episode_5_kiss_scene

Kiss ketiga di atap rumah sakit.

hqdefault

Dan inilah kiss favorit Mamak! Kiss keempat, deep kiss. OMGGGGG!

Selain skinship dan kiss yang bertebaran di mana-mana, adegan-adegannya pun manis banget. Duh, mau dong diiketin rambutnya sama Jong Suk. Hahaha.

Tapi drama ini bukan soal romantis-romantisan aja, karena di akhir episode 7 kesukaan saya karena berisikan adegan super romantis, selanjutnya banyak adegan tegang dan bikin penasaran, plus tampaknya si tokoh jahat mulai menampakkan diri dan mengguncang dunia mereka, deh *apa deh gue*.

Jadi, kamu udah nonton W belum?😉

PS: semua foto bukan punya saya dan dicomot dari google image.

Diaper Kaleb

Waktu hamil dulu, hal yang paling nggak pernah dipikirkan adalah soal diaper, alias popok sekali pakai. Yang jelas clodi bukan pilihan saya karena saya malas sering nyuci *kurang go green amat anaknya*, apalagi baru melahirkan plus nggak ada ART. Udahlah ya, diaper to the rescue.

Baru melahirkan dapat diaper gratisan dari rumah sakit, plus masih banyak banget stok di rumah hadiah dari teman. Jadi ya mana kepikiran lah ya buat beli. Tapi kemudian segala gratisan itu habis blas, mau nggak mau harus beli.

Saya mah kurang paham ya sama diaper ini, jadi yang sekiranya dipake banyak orang aja: Mamy Poko. Mamy Poko ini enaknya ada indikator pipisnya udah penuh atau belum. Berguna banget buat saya. Waktu itu saya pakai yang model tape. Nggak ada masalah, kulit Kaleb mulus-mulus aja. Trus kalau di supermarket sering diskon kan, ya. Oyeah banget.

Setelah 3 bulan, saya ganti yang model pants. Biar lebih ringkes gitu. Plus anaknya udah lebih banyak bergerak, jadi nggak cocok pake tape lagi. Masih pake Mamy Poko, ukuran S kalau nggak salah. Eh tapi kok, Mamy Poko ini walau dipake sesuai ukurannya tapi rasanya ketat banget. Kurang lentur. Padahal saya pake Mamy Poko yang dry. Jadi tiap pagi membekas deh karetnya.

Mulai deh coba yang lain. Beralihlah ke Pampers. Lebih mahal nih dari Mamy Poko, jadi harusnya lebih baik. Eh, tapi nggak cocok di Kaleb. Kulit Kaleb merah-merah. Bukan iritasi sih, tapi perekatannya kurang pas. Cari yang lain lagi deh.

Akhirnya coba Goon karena sering diskon dan murah. Lah, ini lebih parah. Malah iritasi di selangkangannya. Ih, kasihan banget! Pilihan akhirnya jatuh ke Merries karena ada yang pernah bilang enak dan asalnya dari Jepang jadi harusnya oke nih.

Saya pake Merries yang covernya hijau. Yah, desainnya biasa aja, nggak wow, nggak jelek. Cenderung biasa. Tapi bahannya lentur, nggak keras. Pas dipake, langsung mengikuti bentuk perut Kaleb, nggak ketat. Nggak pernah bocor dan langsung kering. Duh cinta banget lah. Sejak itu saya nggak pernah pake yang lain lagi. Merries my love!

Saya biasanya beli Merries di supermarket dan merasa ya harganya wajarlah. Baru belakangan ini mata saya terbuka bahwa beli diaper itu lebih murah di ITC (sayangnya jauh) atau di toko susu. Bedanya sekitar Rp 5000 kan lumayan banget, ya! Lalu kemudian saya baru sadar kalau di portal online shop, lebih murah lagi, plus banyak yang nawarin free ongkir. Sebagai emak-emak hemat, saya senang banget nih. Pengeluaran diaper kan lumayan ya mengurangi jatah beli lipstik mamak, jadi pas dapat murah di online ya langsung borong banyak. Resmi deh saya jadi emak-emak yang suka mantengin harga diskonan diaper di supermarket atau di online shop. Hahaha.

Kalau kamu anaknya pake diaper apa?

Kaleb 15 Bulan

Sebenarnya harusnya rajin update perkembangan per bulan ya, tapi mamak suka lupa. Huhuhu. Jadi ya sudahlah seingatnya aja. Di usia Kaleb yang ke-15 ini (bentar lagi udah mau 16 bulan sih, telaaat mulu mamak update), ada banyak banget perkembangannya:

Jalan semakin lancar
Yah masih agak oleng, tapi udah nggak sering jatuh. Sekarang malah cenderung maunya lari. Anaknya kalau udah jalan nggak mau berhenti. Dari depan ke belakang ke depan ke samping. Nggak berhenti. Hanya berhenti kalau tidur. Bayangin yang jagain gempornya kayak apa. Hahaha.

Perkembangan bahasa semakin luas
Kaleb mulai banyak banget ngomong. Tapi yang paling menyenangkan adalah dia makin sering nyebut mami dan papa. Sekarang dia udah tau manggil. Kalau dulu cuma nyebut mama papa, tapi nggak bisa manggil kalau dia butuh, sekarang dia bisa manggil. Misalnya, pas malam dia dengar gerbang dibuka, dia akan langsung bilang “Mami!”. Atau pas di rumah saat orang tuanya kerja, dia suka nanya, “Mami mami mami?”. Kangen kayaknya. Kalau kita ada di depan dia, dia akan suka mendekat dan manggil, “Mami mami!” berkali-kali. Begitu juga dengan Papa. Bahkan saking sukanya manggil Mami dan Papa, dia pernah lho ngigau manggil mami. Hahaha.

Selain bisa nyebut panggilan orang tuanya, Kaleb juga udah nambah vocabularinya, misalnya: mami, papa, apung, mamam, am (kalau minta sesuatu), amin (kalau habis berdoa), air, habis, nggak ada, bobo, dadah, gajah, mana, cicak, guguk, anggg (kucing), groar (singa), pupup, jatuh, jeje (nama anjing opung), mbak, aunty, susu, mimi. Trus apa lagi, ya? Kayaknya ada lagi, tapi mamak lupa. Hihihi. Jadi dia udah bisa mempergunakan kata-kata ini dengan cukup tepat. Misal:
“Kaleb, di situ ada kucing!”
Kaleb mendekat, “Mana? Mana?” Kalau dia nggak menemukan kucing, dia bilang, “Nggak ada” trus pergi lagi.

Selain itu, dia sekarang udah bisa menggunakan 2 kata untuk menyampaikan maksudnya, misal, “Mami mimi!”

Sekarang udah bisa nyanyi. Lagu yang dia bisa adalah lagu cicak di dinding, walaupun cuma 1 baris aja, sih. Dia suka nyanyi, “Cicak-cicak ding ding ding”. Hahaha. Dia belum bisa bilang di dinding.

Kaleb kalau pup, sekarang udah bilang, “Pupup”. Nggak ada yang ngajarin dia bilang itu sih, cuma mungkin dia dengar kalau kita gantiin diaper dia. Tapi dia bilang pupup kalau udah pup, bukan sebelumnya. Hm, bisa mulai diajarin toilet training tampaknya.

Bisa menunjukkan bagian tubuhnya
Kaleb sudah bisa menunjukkan bagian besar tubuhnya, misal: mata, rambut, kepala, tangan, kaki, perut, mulut, gigi.

Menirukan mimik
Kalau misal kita nanya ke Kaleb, “Kaleb kalau nangis gimana, sih?”. Dia langsung merengutkan wajahnya dan pura-pura nangis huhuhuhu.
Kemudian kalau kita bilang, “Kaleb kalau ketawa gimana?”. Dia akan pura-pura ketawa hahaha.

Tahu kepemilikan
Dia sekarang tau benda tertentu milik siapa. Misal, kalau dia mau minta jalan-jalan dan yang ada Opungnya, dia akan jalan ke depan dan ambil sendal Opungnya, lalu dikasih ke Opung. Tapi kalau ada Papa, dia akan ambil sendal Papanya. Kalau misal, dia lihat HP saya, dia akan ambil dan kasih ke saya. Atau dia lihat tas Papa, dia akan seret tas Papa dan bilang, “Papa papa”.

Bisa disuruh
Karena sudah mengerti perintah, dia sudah bisa disuruh. Misal, tiap dia ganti baju, bajunya taro di keranjang kotor. Atau kalau berantakin mainan, habis itu mainannya suruh beresin. Iya habis diberesin, habis itu ya diberantakin lagi. *lelah*

Lagi doyan makan
Setelah sakit di RS kemarin, nafsu makan Kaleb meningkat pesat banget. Mulutnya nggak pernah berhenti ngunyah. Bangun pagi, harus udah makan biskuit, trus habis itu langsung minta mamam. Mintanya nggak sabaran banget, sampe dia ambil sendiri piringnya dan kasih ke kita minta diisiin. Habis itu langsung minta buah, biskuit, susu, dan begitu seterusnya sampe malam. Puji Tuhan, ya. Boleh nggak, nggak bakal ada episode malas makan lagi?

Mainin nenen mamanya
Jadi kebiasaan Kaleb adalah kalau mau makan berdoa. Nah, karena menurutnya nenen itu makan, jadi tiap mau nenen, dia langsung berdoa. Wakakak, terlalu alim kamu, nak! Nah, akhir-akhir ini sambil nenen, dia suka banget mainan puting mamanya. Kalau distop nggak mau. Pokoknya nenen sambil mainin puting. Mamak kan ya geli-geli gitu jadinya.

Tau rutinitasnya
Jadi Kaleb itu suka banget jalan-jalan. Pagi begitu mata melek, harus wajib jalan-jalan, kalau nggak ngamuk. Dia juga nggak mau jalan-jalannya cuma bentar, tapi harus lama. Lalu sore juga harus jalan-jalan. Kalau sama Opung bisa 3-4 kali sehari malah jalan-jalan ke luar rumah.

Tau rasa sakit
Kalau dia kepentok atau jatuh, dia akan ngerasa sakit. Nah, kalau sakit, biar dia nggak drama lebay sama rasa sakitnya, kita suka tiup di tempat yang sakit lalu kita bilang sembuh. Jadi sekarang tiap dia sakit, dia akan datangin kita minta ditiup. Hihihi.

Bersih
Ternyata anak saya bersihan. Kalau dia habis megang yang kotor, dia akan datang ke kita minta dibersihin tangannya. Kalau habis makan bajunya basah, dia langsung narik-narik bajunya, minta diganti. Nurun Opungnya banget.

Masih hobi musik
Dari semua mainan yang dibeliin, yang bertahan dimainin adalah drum dan ukulele. Yang lainnya selintas aja dimainin. Tiap denger lagu, langsung otomatis joged. Harus ada waktu-waktu di mana dipasangin lagu anak-anak. Jadi so far, dia belum suka nonton kartun. Kebayang kan nggak bisa tenang karena nggak mau nonton kartun.

Posesif sama Mami
Kaleb sangat amat posesif sama mamanya. Kalau saya gendong anak lain, dia bisa nangis kejer sampe sedih. Pokoknya mamak cuma boleh gendong Kaleb. Kalau mamak sakit, dia bisa ikutan sedih. Jadi kemarin di daun telinga belakang  ada jerawat. Saya minta suami liatin, tapi karena perih, jadi meringis deh saya. Kaleb yang liat langsung nangis liat maminya nangis. Trus dia langsung peluk-peluk saya. Pokoknya dia nggak boleh liat mami nangis atau sedih. Ih, so sweet banget, ya. Tapi ini nggak berlaku buat bapaknya. Hahahaha.

Semoga kamu makin cerdas, sehat, dan lucu, ya Nak. :*

 

 

 

 

Ketika Dikangenin

Sebelum memulai postingan mau mengucapkan:

Selamat hari Idul Fitri
Mohon maaf lahir batin, terutama kalau ada kata-kata atau postingan yang nggak berkenan, ya.
*sungkeman*

Liburan Lebaran ini, saya udah colong start libur 2 hari lebih cepat karena Kaleb masuk RS (yeah, nggak liburan sih itu namanya), jadi saya full sama Kaleb selama kurang lebih 12 hari, tanpa Mbak pula. Ke mana-mana selalu bareng. Nggak ada pake me-time segala. Hihihi.

Kemarin hari pertama masuk kantor. Saya berangkat waktu Kaleb lagi mau mandi. Jadi saya nggak pernah tuh pergi ke kantor sambil bohongin Kaleb, atau diam-diam pergi waktu dia lagi nggak sadar. Saya pasti selalu pamit sama Kaleb. Saya pengen ngajarin dia kalau orang tuanya harus kerja, tapi nanti balik. Nggak perlu dibohongin biar dia nggak separation anxiety nantinya. Nah, seperti biasa saya pamit sama dia, “Kaleb, mami berangkat ke kantor dulu, ya. Kaleb di rumah sama Opung dan Mbak.” kemudian saya cium dia. Anaknya kayaknya masih nggak sadar. Dia nangis waktu saya pergi, tapi kemudian dia diam karena habis itu mandi dan main air.

Eh, waktu di kantor dapat kabar kalau habis mandi anaknya cariin saya, bilang, “Mami mami mami!” dikira maminya ada setelah dia selesai mandi. Kemudian seharian itu dia rewel dan gelisah, berkali-kali jalan ke teras mau lihat kapan orang tuanya pulang.

DUILAAAH, mamak hatinya retak-retak ini. Udahlah ya, di kantor saya jadi sedih, mikirin Kaleb mulu. Mamak galau!

Pulang ke rumah, Kaleb langsung meluk saya dan nggak mau dilepas. Waktu saya makan, dia selalu ada di dekat saya dan bilang, “Mami mami mami” berkali-kali bilang mami.

Salahnya saya adalah sebelum masuk kerja, saya nggak ada woro-woro ke Kaleb kalau besok harus kerja, orang tuanya harus pergi, tapi nanti balik lagi. Jadilah malam itu, saya berkali-kali bilang ke Kaleb, “Besok mami kerja, ya. Kaleb di rumah baik-baik sama Mbak dan Opung.” kadang-kadang anaknya ngerti dan merengek. Kadang-kadang dia pasang muka nggak ngerti dan bodo amat. Tapi ya tetap saya bilangin karena dia pasti ngerti.

Semoga hari ini Kaleb lebih tenang dan lebih sedikit rewelnya ya.

Huhuhu begini nih yang bikin Mamak pengennya kruntelan aja di rumah sama Kaleb. Semoga suatu hari nanti Tuhan dan semesta mengabulkan ya, Kaleb. :’)

#pagipagigalau

Ketika Kaleb Sakit

Waktu itu hari Rabu, seminggu sebelum Lebaran. Semua berjalan lancar. Kaleb seharian sibuk main, makannya bagus, dan anaknya happy. Pulang kantor jemput Kaleb ke rumah Opungnya, dibawa pulang masih main heboh sebentar sebelum tidur malam. Setelah dia tidur, suami bikinin saya mie goreng. Everything went perfect as usual.

Sampai ketika saya sedang makan mie goreng disamping Kaleb yang udah tidur nyenyak, tiba-tiba dia bergerak gelisah, merengek, dan muntah. Saya langsung kaget. Saya pikir dia kesedak. Tapi muntahnya banyak banget di tempat tidur! Saya langsung angkat dia, mau beresin muntahannya. Tapi ketika saya gendong, dia muntah lagi, bercecerah di baju saya. Kemudian saya bantu dia duduk tegak dan dia muntah lagi. Shock!

Saya bangunkan mbak untuk bersihkan tempat tidur, sementara saya bersihkan badan Kaleb. Saya minta suami ambil air putih untuk diminumkan. Saya pikir dia masuk angin, jadi saya oleskan minyak telon yang banyak, kemudian saya kasih ASI.

Dia minum ASI saya, mulai mengantuk lagi, tapi kemudian dia muntah lagi. Kali ini karena sudah dimuntahin semua jadi muntahnya air saja. Duh, panik banget! Saya sibuk whatsapp Mama saya harus gimana, nih. Plus googling pertolongan pertama yang harus dilakukan.

Karena panik, Mama dan Bapa langsung ke rumah. Saya pikir Kaleb udah ketiduran nih, mungkin dia nggak bakal muntah lagi. Pas Opungnya datang, eh dia muntah lagi. Suami langsung saya suruh ke apotik beli oralit. Waktu itu jam 10 malam dan hujan deras.

Muka Kaleb udah pucat karena lumayan kehabisan cairan dan setiap dikasih minum selalu dimuntahin. Akhirnya diputuskan ini harus dibawah ke RS. Langsung menuju RS, di tengah jalan Kaleb mual lagi dan muntah sedikit.

Di ruangan UGD, tentu saja nggak ada dokter anak, Kaleb mual lagi. Dokter jaga menyuruh Kaleb untuk dirawat saja dan diinfus karena sudah kehabisan cairan. Hiks, sedihnya! Untungnya begitu infus masuk, perlahan-lahan anaknya mulai segar dan nggak pucat. Kaleb pun cuma nangis sebentar ketika dimasukkan infus, selebihnya dia santai dan sibuk bergumam.

IMG_20160630_000957

Sesaat setelah infus dipasang. Tough boy. Nangis cuma sebentar aja.

Dimulailah saya, suami, dan Kaleb, nginep di RS selama 4 hari 3 malam. Kaleb hanya muntah di hari pertama, tapi kemudian hari-hari berikutnya muncullah diare. Diarenya cair banget dan sehari bisa lebih dari 17 kali! Parah banget. Menurut dokter ini karena virus. Yah, namanya anak-anak kan suka masukin tangan ke mulut, jadi mungkin ada yang kurang bersih.

Walaupun diare cukup parah (dan sampe bikin kulit pantat iritasi merah kesakitan hiks), tapi Kaleb cukup kuat. Hanya di hari pertama dia malas makan, tapi nggak menolak makanan, cuma dikit aja. Lalu cairan yang diberikan juga mau dia minum. Dia juga sangat aktif, terlalu aktif malah. Di saat pasien anak lainnya terbaring lemas di tempat tidur, Kaleb malah hobinya jalan-jalan di sepanjang koridor sambil bawa infus. Jadi yang jagain mayan deh rempong banget. Nggak mau stay di tempat tidur anaknya. Jadwal tidurnya dia pun cukup teratur; tidur siang 2 kali dan tidur malam yang nyenyak. Jadi saya nggak terlalu khawatir sih, walau ternyata diare itu sembuhnya lama. Sampai Kaleb diijinkan pulang aja dia masih cukup cair pupnya, tapi frekuensinya sudah cukup menurun. Plus karena anaknya aktif dan mau makan jadi diinjinkan pulang. Hore!

IMG_20160630_065020

Pagi pertama di RS. Anaknya nggak betah di tempat tidur aja. Untungnya pemandangan jendela RS ke arah rawa-rawa yang banyak kambing, bebek, ayam, kura-kura, kucing, jadi anaknya happy lihatin.

IMG_20160701_085206

Opung kesayangan yang datang tiap hari. Lihat aja saking nggak sabarnya dia mau lompat dari tempat tidur. X))

IMG_20160701_062601

Tugas bapake tiap hari bawa anaknya jalan di koridor RS. Bosen di koridor RS, naik turun lift. Bosen di lift aja, ke lobi RS. Sampe satu RS hapal muka Kaleb.😄

IMG_20160702_095942

Ga pernah anteng di tempat tidur. Sakit boleh, aktif mah jalan terus. :)))

Di rumah, dia malah makin sehat. Perubahan paling pesat yang terjadi setelah sakit adalah makannya malah jadi lahap banget. Ai laf banget lah. Dikit-dikit minta makan. Tapi sekarang jadi ekstra keras jaga kebersihannya, sedia tisu basah plus hand sterilizer. Dan emaknya tetep sih ngasih dia main di mana-mana cuma habis itu selalu cuci tangan aja.

Habis ini sehat, sehat, sehat semua ya!

 

Sekilas Aming dan Evelyn

Saya lagi suka banget kepoin Instagramnya Aming dan istrinya, Evelyn. Sebelum mereka menikah, beberapa hari sebelumnya akun gosip favorit saya, @lambe_turah, posting soal Aming yang udah pacaran sama sesosok cowok. Lumayan kaget karena Aming dan pacarnya ini cukup terang-terangan posting foto mereka berdua di IG. Tapi ya sudahlah, ya. Kalaupun mereka gay, kita mau apa. Bukan urusan banget.

Lalu nggak lama, tersiar kabar kalau Aming menikah. Lho, sama siapa? Sama si cowok itu? HAH, kok bisa? Apalagi nikahnya di Indonesia. Kok diijinin? Gimana ini?

Geger dan gonjang-ganjinglah satu Indonesia. Tapi kemudian terkuaklah fakta bawah istri Aming ya cewek tulen, cuma tomboy dan pernah suntik hormon cowok. She thought she’s trapped in the wrong body. Oh, oke. Pantes bisa nikah di Indonesia, ya. Case closed. Intinya, mereka menikah beda kelamin, sah, dan halal. *ketok palu*

Sejak sudah menikah, barulah Aming dan Evelyn ini sering upload foto dan video mereka. Yang ternyata, mereka manis dan lucu banget. Sering banget saya nonton video mereka sambil bergumam, “Aww awww manisnyaaa!”. Mereka selayaknya pasangan lainnya, normal. Selain itu, kelihatan banget mereka happy karena bisa mengumumkan hubungan mereka ke umum dan nggak perlu disembunyiin lagi. Mereka juga open becandain pasangannya soal mana yang lebih tomboy dan feminin dan suka ngeledekin kayaknya mereka ketuker badannya deh. Hihihi, lucu, ya. Entah kenapa, saya ikutan bahagia liat mereka menemukan happy ending-nya. :’)

Buat yang rese komentarin hubungan mereka, trus nyuruh Evelyn panjangin rambutlah, dandan kayak ceweklah, pake roklah, atau komentar-komentar ajaib lainnya, plis lah, mereka udah nikah sah, nggak melanggar hukum dan agama, plus kalian kan nggak bayarin pestanya dan nggak kasih makan, ngapain diurusin, bok?

Akhir kata, happily ever after, ya.🙂

*macam kenal aja*

from: kapanlagi.com

 

 

Tentang Menjadi Mahmud

Hamil dan melahirkan proses di mana saya merasa jelek banget. Bentuk badan berubah sejadi-jadinya, dada yang tadinya rata, tiba-tiba membesar kayak sapi, pinggul besar, lemak di mana-mana. Kepercayaan diri jatuh ke titik nol. Mak, gondut kali lah aku!

Makanya waktu hamil, saya berusaha banget untuk dandan, terlihat cantik, dan nggak mau kelihatan kumal. Orang suka nebak anaknya cewek karena saya, kata mereka, glowing. Nope, anaknya cowok. Saya emang jadi hobi beli peralatan lenong, plus lipstik segudang (yang sekarang nggak habis-habis dipakenya). Lalu kemudian saya menyadari, glowing itu nggak terjadi dengan sendirinya. Iya, auranya emang bahagia, tapi harus ditambah dengan usaha untuk mempercantik diri juga.

Tiap mau keluar rumah, saya usaha banget pilih baju yang nyaman, mix and match, coba lipstik baru, nyatok rambut. Kalau di rumah mah boro-boro, deh. Yang ada pake pakaian suami, belel, dan kucel kayak dugong. Hahaha!

Nah, sesudah melahirkan, kembali lagi badan yang acak adut, gemuk banget (bukan sulap, bukan sihir, badan saya cuma turun dikit banget keluar dari RS). Duh, 1,5 bulan pertama saya paling males kalau harus bawa diri sendiri dan Kaleb kontrol ke dokter karena nggak ada baju yang muat! Entah berapa lama saya harus meratapi lemari baju karena walau sudah pake baju adik saya yang size-nya lebih besar dari saya tapi kok tetap kelihatan jelek. Huhuhu. Aku sungguh tak percaya diri! Kalau di luar pun jadi males lama-lama karena ya nggak nyaman sama tubuh sendiri.

Setiap hari di rumah, ngurus anak, pake daster, rambut berantakan, bau susu. Jatuhlah kepercayaan diri saya. I can’t be like this. :((( Untungnya, menyusui itu memang bikin berat badan saya turun. Butek di rumah juga bikin saya pengen ke luar rumah. Tapi kalau ke luar saya pengen kelihatan cantik.

Perlahan-lahan seiring dengan menurunnya berat badan saya, size baju adik saya pun muat. Saya mulai bisa pake baju agak kece, mulai dandan lagi, langsung cat rambut 2 minggu setelah melahirkan (penantian setelah 9 bulan hahaha), mulai semangat kalau diajak keluar karena artinya lipstik-lipstik yang dibeli selama cuti hamil bisa dipake, potong rambut ke salon. Rambut yang panjangnya udah nggak karuan dipotong jadi sebahu. Ih, segar banget! Berat badan emang belum balik seperti semula, tapi I start to feel good about myself.

Waktu saya pertama kali masuk kerja setelah cuti melahirkan, berat badan saya sekitar 62 kg, yang berarti masih sisa 4 kg dari pertama hamil. Tapi justru orang-orang bilang saya udah kurus dan segar. Keseringan lihat saya yang kurus banget kali, ya. Dengan masuk kantor, saya merasa happy karena tiap hari pake baju bagus, dandan, dan pake high heels. Saya nggak bau susu lagi. Yihaaa!

Dari dulu, saya selalu bercita-cita jadi mamah muda kece #halah. Saya nggak pengen jadi mahmud yang kucel, butek, berantakan, cuma karena alasan ngurus anak. Seumur hidup saya lihat mama saya yang punya anak 3, tapi tiap ke mana-mana selalu kece, dan anak-anaknya juga terurus rapi, plus dia perhatikan setiap detil kerapihan dan baju-baju anak-anaknya. Beuh, idola banget, kan?

Cita-cita saya yang kayak Mama saya. Jadi tiap mau pergi ke mana-mana, saya emang butuh waktu lebih lama. Pertama ngurus Kaleb dulu dengan segala printilannya. Kalau dia udah selesai, maka saya pun mulai mengurus diri sendiri. Tapi namanya udah punya anak ya, mana bisa dandan lama-lama lagi. Jadi saya belajar untuk dandan secepat kilat. Mana Kaleb masih menyusui dan nggak mau ASIP kalau ada saya, jadi saya harus pintar-pintar mix and match baju yang gampang untuk menyusui tapi tetap kece. FYI, saya nggak punya baju khusus menyusui. Jadi emang baju biasa yang mudah untuk menyusui aja.

Kalau di kantor, saya curi-curi waktu untuk creambath atau potong rambut. Oh ya, setelah 2 tahunan ini rambut saya tanpa poni, sebulanan ini saya potong rambut dengan poni. Biar makin muda dan makin pede. Setelah itu, saya mewarnai rambut saya, bahkan di-ombre. Ini juga ke salon sambil bawa Kaleb, nyusuin, pas break kasih makan. Heboh banget pokoknya. Hahaha.

I feel good about myself. Saya merasa pede dengan penampilan saya sekarang. Saya nggak merasa terlalu ibu-ibu banget. Tapi tentunya nggak semuanya sempurna. Sebenarnya, masih banyak lemak di tubuh saya, walau badan saya udah lebih kurus daripada berat badan pertama kali hamil, tapi lemak di perut itu sungguh mengganggu. Cita-cita pake bikini di pantai pun kurang berhasil. Waktu liburan di Bali, perut saya menyembul. Huhuhu! Dan emang itu perut nggak bisa diapa-apain kecuali harus olahraga. Masalahnya saya sungguh malas sekali olahraga karena ‘merasa’ nggak punya waktu. Seharian kerja, pulang ngurus Kaleb, plus masih nyusuin tengah malam bikin saya pengennya tidur aja kalau ada waktu luang.

Tapiiii…. kalau perempuan yang usianya sama kayak saya ini bisa badannya sekece ini dengan usia anak yang beda 2 minggu doang sama Kaleb, saya kayaknya jadi tertantang nih.

landscape-1452867160-landscape-1452786809-untitled-1

Ini gimana caranya pas hamil dan melahirkan badan bisa beginiiii? :O

Sarah Stage adalah model berusia 30 tahun yang ketika hamil badannya tetap kencang. Bahkan perutnya pun tetap six pack! Dia banyak dikritik oleh ibu-ibu karena dianggap tidak sayang kepada bayi yang dikandungnya karena perutnya kecil sekali. Selama hamil, dia naik 12 kg (saya naik 15 kg, tapi kelihatan gemuk sih nggak kayak doi), tapi dia memang berusaha olahraga, jauh sebelum hamil, dia memang rajin banget olahraga, (saya malah malas-malasan di tempat tidur). Ketika orang-orang mengkhawatirkan keadaan janinnya karena dianggap perutnya kecil, ternyata dia melahirkan bayi laki-laki sehat dengan berat 3,8 kg dan panjang 55 cm. Voilaaaa! Sementara perut besar dan kumpulan lemak saya menghasilkan Kaleb seberat 2,6 kg. Jadi, ketahuan kan semua lemak itu larinya ke mana?

And she’s breastfeeding her son. Jadi dia upload foto dia lagi menyusui dan langsung dikritik karena napaaa sih lo foto begituan? Padahal menurut dia menyusui adalah sesuatu yang normal dan indah sehingga nggak perlu dianggap menjijikkan. Dia juga bilang menyusui membantunya untuk menurunkan berat badan. Intinya dia kece dan tetap mengutamakan kesehatan anaknya.

Untuk lebih lengkapnya bisa baca interviewnya selama hamil dan melahirkan di sini.

Tiap lihat instagram doi, saya langsung ngences. Ih, kalau dia bisa kenapa saya nggak? *bercita-cita lah setinggi langit, kan?*. Pokoknya dia adalah idola mamah muda versi saya lah. Semoga niat dan motivasi olahraga itu datang segera *raup muka*

Jadi, mamah muda versi kamu itu seperti apa?

PS: pic taken from here.

 

 

Your First Steps

Dulu waktu Kaleb masih bayi, bayi lain pada umumnya udah bisa balik badan sendiri, bolak-balik badan, merangkak, Kaleb belum bisa. Tapi dari masih bayi imut, perkembangan bahasa Kaleb bagus banget. Di usia di mana anak lain belum ngoceh, dia udah ngoceh. Sebelum 12 bulan, dia udah bisa bilang Papa, Mama dengan jelas. Pas 12 bulan, udah lumayan banyak kosa-katanya. Jadi dari situ saya sadar, kayaknya Kaleb nggak akan jalan dengan cepat.

Terbukti deh ketika anak usia 1 tahun lainnya udah jalan, Kaleb masih anteng merangkak. Udah nggak terhitung ditanyain, “Anaknya udah jalan belum? Kok belum jalan?”Sebagai ibu yang tahu kalau Kaleb belum bisa jalan tapi masih di rentang umur yang normal, sebenarnya saya harusnya santai aja, ya. Ya santai sih awalnya… lama-lama kan ya khawatir juga. Anak-anak lain usia 13 bulan udah jalan, anak gue masih demen merambat. Tapi balik lagi ke atas, perkembangan bahasanya Kaleb pesat banget. Jadi senang karena sekarang kalau ngobrol sama dia, dia bisa ngerti apa yang diomongin, misal “Kaleb masukin mainannya ke kerangjang mainan, ya. Baju kotor taro mana coba? Kalau makan berdoanya gimana?”. Nah, sekarang anaknya lagi hobi banget bilang, “Manaaa? Manaa? Mana?”. Lucu banget nggak sabarannya. Hahaha.

Memasuki usia ke-14 bulan, saya sih udah pasrah aja kapan jalannya Kaleb. Saya pikir, udahlah dia punya waktunya sendiri. Nggak usah ribet lah emaknya. Hihihi. Kaleb mulai malas merangkak, tapi belum bisa jalan juga, dan nggak suka digendong. Nah lho! Jadi yang ada, setiap dia mau ke suatu tempat, dia pegang tangan orang di sekitarnya untuk nuntun dia jalan. Mayaaaan, makin capek ya mamak ini! Apalagi gandengnya sambil nunduk, duh, encok pegel linu juga, ya. Sebenarnya Kaleb udah bisa jalan maksimal dua langkah. Tapi begitu dia sadar, dia jalan tanpa ada yang pegang, dia panik dan langsung duduk. Gagal maning jalannya.

Nah, kemarin tanggal 31 Mei 2016, pas saya lagi di kantor, saya dikirimin video… KALEB LAGI JALAN! Bukan cuma selangkah, dua langkah. Tapi lebih dari lima langkah dan itu berkali-kali! Ya ampun, bahagia minta ampun sampai saya ulang-ulang terus videonya. Even though I wasn’t there to see your first steps, but I was so happy that I cried. :’)

Videonya diulang berkali-kali dan langsung disebar ke seluruh keluarga. He’s not a baby anymore, he’s officially a toddler. My baby grows so fast. :’) #mamaksentimentil

It maybe your first steps, you may still learn, stumble, and fall, but remember you can always get up, stand straight, and walk again. I can’t wait to hold you to as you walk. I’m such a proud momma! :*

Anyway, Kaleb nggak pake mainan apapun untuk melatih dia jalan. Jadi waktu itu pernah sewa walker yang didorong itu buat Kaleb, tapi kebetulan waktu itu Kaleb masih belum berminat jalan, jadi sia-sia aja karena dia malah mainin pencet-pencetannya aja. Kaleb juga nggak dikasih baby walker karena katanya bahaya, kan. Jadi latihan jalan Kaleb ya benda-benda di sekitarnya aja; pegangan meja, dorong-dorong kursi, merambat di tembok. Teman latihannya ya orang-orang di sekitarnya yang mau nggak mau harus rela pegal nuntuk Kaleb. Hihihi. Jadi, percayalah, berjalan adalah hal yang natural, dia akan bisa jalan sendiri dengan benda-benda di sekitarnya. Kaleb malah jadi lebih kreatif pake alat-alat sekitarnya. Ternyata anak bayi itu cerdas, ya. :’)

PS: videonya menyusul, ya. :’)