#PiknikBarengKaleb: Liburan Singkat di Bogor

Weekend kemarin kami getaway ke Bogor. Sebenarnya karena ada kawinan teman, yang mana di hari Minggu malam. Setelah dipikir-pikir, capek juga kalau harus balik lagi ke Jakarta malam-malam dan jauh, dan kami juga udah lama juga nggak liburan. Jadi akhirnya mutusin buat nginep. Kebetulan teman-teman segeng juga berpikiran sama, jadi kita barengan nginep, sama keluarga masing-masing.

Kami berangkat Minggu pagi supaya belum macet. Acara pemberkatannya sendiri jam 2 siang. Namanya bawa bocah ya, jadi tentunya ada drama dululah. Belum lagi dikasih tahu teman, kamarnya full. APAAAH?! Kan udah booking jauh-jauh hari. Setelah saya telepon ke hotel, ternyata kamar untuk queen bed yang full. Untuk kamar double bed mah masih ada, tapi adanya di lantai 2 dengan pemandangan bangunan. Nggak bagus kata mbak resepsionis. Ah, sutralah, kalau udah bawa bocah pengennya begitu sampe masuk kamar buat istirahat. Nggak papalah pemandangan tembok. *ciyaaan*. Setelah beres masalah perhotelan dan drama-drama kecil lainnya, baru akhirnya benar-benar masuk tol jam 10.30. Hahaha, niat early check in jam 10 pun bubar jalan. :’)

Untungnya perjalanan cukup lancar dan nggak mengalami banyak hambatan. Kaleb pun anteng di car seat, baru setengah perjalanan agak rewel karena minta nenen udah waktunya dia tidur. Sampai di Bogor sekitar jam setengah 12-an, tapi kami memutuskan untuk nggak langsung ke hotel karena kalau dilihat dari peta, jalanan masuk ke hotel cukup ke dalam jadinya nggak dekat restoran. Daripada ribet cari makan lagi, kami pun cari makanan. McD to the rescue. Itu pun harus muter-muter dulu lihat peta. Kalo makanan Kaleb mah aman ya, doi udah disiapin dari rumah.

Akhirnya sekitar jam 12-an sampai di hotel (btw, it is Ibis Style Bogor, baru saja dibuka 1 bulan. Letaknya sebelahan sama Novotel Bogor), check in dengan cepat, dan voilaaaaa… dapat kamar queen bed dengan pemandangan pohon-pohon hijau dan gunung. Cakeppp banget! Rejeki anak sholeh, deh. Kaleb aja hobinya berdiri depan jendela jadinya.

Quick Review of Ibis Style Bogor

Hotel Ibis Style ini baru buka sebulan. Jadi bangunannya baru, harga kamar diskon *asooy*, dan semuanya masih bersih.

Kamarnya sendiri nggak terlalu besar, tapi nggak kecil juga. Menurut saya sih pas aja. Saya pake kamar yang tempat tidurnya ukuran quenn, yang mana ternyata buat bertiga dengan anak yang tidurnya lasak jadi agak sempit, ya. Hehehe. Bantalnya empuk, tempat tidurnya bersih, semua rapi. Masih baru ya, jadi bagus semua. Oh ya, di Ibis Style ini juga dikasih bantal guling. Asik, kan? Nggak juga, karena bantal gulingnya sekeras batu. Lagian karena tempat tidurnya sempit jadi bantal guling diungsikan aja.

img_20161002_123223

img_20161002_123247

 

Bagus kan pemandangannya

Bagus kan pemandangannya

Kamar mandinya tipe yang open door. Jadi kalau dua sisi temboknya bisa dibuka jdi kelihatan toiletnya. Unik banget, sih. Kalau temboknya ditutup jadi tembok cermin buat ngaca. Toiletnya compact, tapi cukup lah. Kamar mandi dan toilet dipisah dinding kaca susu, jadi nggak kelihatan. Senang deh, toilet model beginian, jadi kalau satu mandi, satunya mau ke WC ya nggak keganggu.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Di dalam kamar disediakan gantungan, kulkas kecil, dan penyimpanan barang berharga. Cukuplah. Sayangnya tidak disediakan sendal hotel. Padahal karena lantainya tidak dilapisi karpet, kalau jalan dengan telanjang kaki jadi dingin banget. Untung kami bawa sendal jepit jadi nggak kedinginan. Kaleb pun selama di kamar tetap pake sendal atau kaus kaki biar nggak kedinginan.

Di hotel ini, ada kids corner, gratis. Tapi yah, isinya minim banget. Cuma ada satu meja bundar dengan beberapa kursi kecil. Mainannya pun cuma play station satu TV, yang tentunya Kaleb belum bisa mainin, dan balok-balok kayu. Udah itu aja. Sayang banget, ya. Soalnya anak kecil pun bosan kalau mainannya begitu doang.

Kosong melompong banget kan

Kosong melompong banget kan

Kolam renang tersedia untuk dewasa dan anak-anak. Kolamnya nggak besar. Letaknya tepat di sebelah restoran. Masalahnya adalah…. airnya dingiiiiin banget. Saya aja yang masuk ke kolam renang nggak sanggup deh lama-lama. Kaleb yang udah excited mau berenang juga jadi menggigil dan membiru bibirnya, walau dia keukeuh tetap mau berenang. Pantesan aja itu kolam renangnya sepi banget. Nggak ada yang tahan, bok. Akan lebih baik kalau kolam renangnya pake air hangat lah. Biar nggak mubazir gitu keberadaannya.

Untuk restorannya sendiri interiornya bagus, dengan warna-warna pop art. Bisa duduk di sofa atau kursi kayu biasa. Makanannya standar hotel lah, kayak nasi goreng, bihun goreng, buah, sereal, susu, roti, jus. Nggak banyak variasinya tapi cukup. Pagi-pagi kan orang juga nggak makan membabi buta, ya. Kekurangan paling utamanya adalah: nggak ada baby chair sama sekali. Untuk yang punya anak kecil kayak Kaleb, nggak bisa duduk diam di kursi biasa, nggak ada baby chair tuh macam penderitaan lah. Harus makan sambil megangin anaknya. Rempong to the max!

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

img_20161003_064619

Untuk interior hotelnya sendiri minimalis tapi berwarna warni. Saya sih suka ya dengan warna-warna yang didominasi hijau. Kece!

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Kesimpulannya, hotelnya bagus, enak buat bermalam, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki. Oh, sama akses untuk ke tempat keramaian cukup jauh, harus pake mobil karena letak hotel ini ada di dalam perumahan yang tidak dijangkau dengan kendaraan umum.

***

Setelah istirahat sebentar– errr.. nggak istirahat sih karena nyuapin Kaleb makan– saya pun siap-siap dandan, sementara bapake gantiin baju anaknya. Tepat jam 2 siang, eh hujan deras banget. Derasnya sampai pohon-pohon di jendela bergoyang kencang banget. Waduh, padahal kawinan ini outdoor pula. Hmm, Bogor, sebagai kota hujan, dan kawinan outdoor, plus di musim hujan emang cukup riskan, sih.

Akhirnya saya berangkat ke lokasi pemberkatan nikah yang jaraknya nggak sampai 5 menit naik mobil. Pernikahan belum juga dimulai sementara banyak tamu sudah datang. Akhirnya pemberkatan dipindahkan ke gazebo, yang menurut saya jadi jauh lebih indah. It was a short, yet beautiful holy matrimony. (Btw, di Klub Golf Bogor Raya, tempat pernikahan ini, ada kolam ikan dengan ikan terbesar yang pernah saya lihat. Benar-benar besar, panjangnya kurang lebih 2-3 meter, mirip ikan lele. Dahsyat, bok! Ternyata ikan ini khusus diimpor dari Sungai Amazon. Selain itu, ada ikan aligator warna putih yang juga didatangkan langsung dari Sungai Amazon. Gilaaak, Seaworld aja ikannya nggak seaneh ini. Tapi ngomong-ngomong ini bukan ikan langka kan, ya?)

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :')

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :’)

Karena mulainya udah molor sekitar sejam, akhirnya begitu selesai pemberkatan jam 4an lebih, kami pun balik ke hotel. Kasian, Kaleb belum tidur siang. Saya pikir pun saya pengen tidur bentar, deh. Tapi dengan full make up dan males copot softlens, akhirnya saya nggak tidur siang, tapi nonton drama korea #teteep. Sementara suami dan bocah bolehlah bobo.

Sementara mereka tidur nyenyak, saya pun siap-siap lagi, touch up, rapihin rambut, pake baju, siapin baju Kaleb dan suami. Sekitar jam setengah 7 malam, bangunin para lelaki, mereka siap-siap bentar dan cusss berangkat.

Resepsinya outdoor, dekornya sederhana aja, banyak lampu dan itu udah bikin indah banget. Tapi sayangnya pas datang lagi hujan gerimis. Huhuhu, kasian kan bawa bocah. Untungnya saya bawa payung. Satu-satunya tamu yang sambil ngambil prasmanan sambil megangin payung. Wakakak. Maklum bok, demi ambil makanan buat Kaleb. Untungnya di pinggir-pinggirnya beratap jadi banyak yang berteduh di sana.

Kira-kira setengah jam kemudian, hujan berhenti, acara makin seru. Karena yang menikah adalah orang Afrika (ehm, saya lupa tepatnya dari mana berasal), jadi tamu-tamu Afrikanya seru banget joged-joged pake lagu yang seru juga. Plus ngajak orang-orang ikutan joged juga. Ternyata di belahan dunia nun jauh di sana tariannya mirip poco-poco gerakannya. Saya dan suami sangat menikmati banget acara joged-joged ini karena bikin acara nggak kaku dan membosankan.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Setelah seru joged-joged sampai acaranya habis, akhirnya kami pulang juga. Tepar banget. Nggak sampe lama, langsung pada bobo semua.

Besokannya kami bangun jam 6. Leyeh-leyeh sebentar dan makan di restoran bawah. Habis itu berenang dengan air es, jadi kurang seru. Setelah itu boboin Kaleb dan mariii check out.

Tujuan pertama adalah ketemu teman-teman dari Jakarta yang kebetulan lagi piknik ke Bogor. Kami janjian di Tier Siera Cafe and Lounge. I tell you, this cafe sucks! Karena kami pilih tempat yang outdoor, jadi agak panas. Eh, ternyata sebelahnya entah sekolah, jadi suara anak-anak ribut dan guru mengajar terdengar banget. Yang paling menohok adalah, kami dikasih buku menu, tapi hampir semua menu yang kami pesan kalau nggak belum siap, habis, nggak dikeluarkan lagi. Intinya cuma tersedia sedikit menu. Mau ngamuk nggak, sih? Padahal itu udah jam 12 siang. Pas makanannya keluar pun rasanya kurang enak. Jadi, restoran ini nggak recommended sama sekali lah.

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Karena masih lapar, akhirnya saya dan suami melipir ke Kedai Soto Ibu Rahayu. Makanan lokal FTW lah! Tempatnya sederhana, tapi bersih banget, pelayannya tanggap, ramah, ada baby chair, dan wifi. Nah, gini dong kalau mau usaha kuliner. Menu sotonya bermacam-macam banget, bahkan sampe ada soto goreng rica-rica. Unik banget lah. Harganya pun affordable. Me love it!

Anak bocah banyak gaya

Anak bocah banyak gaya

Dengan kenyangnya kami habis makan soto, maka berakhirlah liburan singkat ini. Senang banget bisa sebentar keluar dari rutinitas. Tapiiii… kok ya nagih lagi mau liburan? *liat sisa cuti tinggal sedikit* XD

#AbeBirthdayTrip

Ealah, udah hampir sebulan nggak update blog. Bukan sibuk, kok, cuma lagi males aja. Males kok ya dipelihara, sih. XD

Tepat tanggal 30 Mei kemarin Pak Suami ulang tahun. Setelah merasakan serunya #KalebBirthdayTrip kemarin, jadi pas Pak Suami ultah pun mendingan kita trip lagi aja. Karena nggak punya banyak cuti, jadi kita jalan-jalan yang dekat-dekat aja: Bogor.

Pagi-pagi rayain ulang tahun Pak Suami dulu. Udah bertahun-tahun nikah dan hampir selalu barengan, dia tetap nggak nyadar kapan saya beli kue ulang tahun. Hahaha!

IMG_6052

Bapak yang berbahagia dengan Kaleb yang sibuk liatin lilin

Yuk kita mulai #AbeBirthdayTrip ini. Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Bogor. Tadinya mikir udah kesiangan, nih. Tapi ternyata berangkat jam 10 itu tepat banget karena udah nggak macet lagi akibat orang pergi ke kantor. Perjalanan ke Bogor pun lancar tanpa macet berarti.

Tujuan pertama kita adalah makan di restoran Lemongrass yang lagi hits. Restoran ini terletak di pinggir Jl Padjajaran. Sayangnya plang namanya ketutupan pohon jadi kurang jelas, akhirnya kita kelewatan dan harus muter balik. Untungnya pas kita sampai restorannya belum terlalu rame, karena ternyata nggak lama kemudian restorannya langsung penuh.

Kenapa sih resto ini hits banget? Interiornya instragamable, pelayannya ramah dan tanggap, bersih, makanannya afordable dan cukup enak. Jadi kita puassss banget makan di situ.

IMG_7385

Cakep banget kan interiornya. Banyak bunga-bungaaaa *tiduran di rumput ala Syahrince*

IMG_7382

Suami aja bilang ini enak banget

IMG_7402

Wajib foto di tempat yang ada tulisannya dong

IMG_7411

Jalan bak model majalah keluarga

Setelah kenyang dan puas, kita pun melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Tempatnya pun nggak jauh, tinggal lurus aja dari Lemongrass. Bogor hari itu lagi mendung dan agak hujan rintik-rintik tapi nggak papalah ya, makin adem.

Tiket masuk ke KRB Rp 14.000 per orang (anak kecil seumuran Kaleb masih gratis) dan mobil Rp 30.000. Cukup murah untuk ukuran kebon berhektar-hektar gitu. Tadinya kita mau masuk ke Istana Bogor tapi sayangnya udah tutup kalau siang gitu. Jadi kita pun bersantai di tamannya aja.

Kaleb kayaknya senang banget liat yang taman yang besaaar dan hijau, plus adem. Dia duduk anteng di strollernya *ajaib* dan menikmati banget pemandangan. Sesekali dia kita biarin main di rumput. Happy banget dia.

KRB ini emang bagus banget, ya. Koleksi tanamannya banyak, tapi sayang ada beberapa pengunjung yang bandel buang sampah sembarangan. Pengen ditoyor banget nggak, sih!

IMG_7431

IMG_7440

Aku senang di siniiii!

IMG_7416

IMG_7459

Udah cucok belum jadi model majalah, nih?

IMG_7475

IMG_7464

Ciyeeeh!

IMG_7419

Si manis yang anteng duduk di stroller. Mamas & Papas terbukti handal di medan yang naik turun, berlubang, terjal. Kece!

IMG_7444

Hijau, adem, tenang

Setelah puas berjalan jauh, tapi nggak berasa karena cuaca adem. Kita pun nyantai dulu di Grand Garden Cafe yang dulu namanya Kafe Dedaunan. Udaranya kan sejuk jadi paling enak ngemil pisang goreng dan poffertjes, plus bandrek dan bajigur. Sebenarnya rasa makanannya biasa banget, nggak istimewa, plus porsi kecil. Tapi kongkow di cafe ini emang beneran enak karena pemandangannya yang ke KRB yang hijau tenang. Duh, suka banget deh berlama-lama di sini. Oh ya, saking sejuknya Kaleb sampe ketiduran cukup lama, lho selama kita nongkrong.

Sekitar jam 4 sore pun kita pulang biar nggak kena macet. Untungnya lawan arah kemacetan jadi pulangnya pun lancar jaya. Ah, senang banget hari ini bisa refreshing sejenak. Pak Suami yang ulang tahun pun happy banget. Ulang tahun lainnya kita adain trip lagi ya Pak Suami!

Happy birthday dear hubby. May God give you what you want and may you grow as the man of God. I love you most! :*

#KalebBirthdayTrip: Bali (2)

Yuk, lanjut cerita #KalebBirthdayTrip di hari ketiga dan keempat.

Hari ketiga

Belajar dari pengalaman drama kemarin, maka kali ini persiapaannya lebih baik. Benar-benar masak dan memastikan nggak akan dingin di perjalanan (kemarin tempat makannya nggak tertutup rapat cobaaa), dan bawa Heinz yang tinggal dipanasin. Jadi kalau pun makanannya dingin dan Kaleb nggak mau, ada Heinz yang pasti enak dan tinggal minta orang restoran buat panasin. Yuk sip!

Karena masih ingin ke pantai tapi bingung ke pantai mana, tadinya ingin ke Finn’s Beach tapi karena masih banyak bebatuan di situ, kurang cucok buat Kaleb, pas kebangun tengah malam saya sibuk browsing pantai yang ada di Bali. Ketemulah satu pantai namanya Virgin Beach alias Pantai Perasi di Karangasem. Kalau baca-baca jaraknya sekitar 1,5 jam dari Sanur. Agak jauh, tapi saya pikir worth to try karena pantainya bersih dan nggak rame, plus 1,5 jam harusnya nggak lama ya karena kan di Jakarta aja ke mana-mana pasti butuh waktu segitu. Nekat! Anaknya lupa kemarin Kaleb di mobil sejam aja ngamuk. Hahaha!

Sebelum ke pantai mau ke supermarket Hardy’s dulu beli baju renang (baju renang saya dan suami belum kering dan penuh pasir) dan beli cemilan Kaleb. Tapi ternyata Hardy’s belum buka jam 9.30. Akhirnya kita mampir ke McD buat makan. Cuma saya yang makan padahal udah sarapan sebelumnya. Lalu meluncur ke Hardy’s. Niatnya cuma bentar banget langsung cus ke Virgin Beach. Kenyataannya, saya milih baju renang aja lamaaaa banget. Belum lagi belanja cemilan (ini sih cepat), trus pas ke lantai 2-nya ternyata segala perlengkapan lengkaaaaaap banget. Berakhir saya beli sendal buat Kaleb. Trus baru mau jalan ke Karangasem jam 12 siang. Terik kakaaak!

Yang saya nggak tau adalah: Karangasem beneran jauh! Supaya nggak ngamuk lagi, tepat jam 12 siang, di mobil saya kasih makan Kaleb. Setelah itu dia bablas tidur sampai setengah perjalanan, sehingga saya pun bisa tidur. Pas saya bangun, udah ada di Candidasa yang mana pemandangannya bagus banget. Masih banyak pohon-pohon, langit biru, dan pantai yang jernih. Karena sudah jam 13.30, saya minta suami cari restoran buat makan. Tapi kita nggak tau makan di mana. Akhirnya berbekal sinyal yang minim, berhasil juga googling restoran yang banyak direview orang: Lezat Beach Restaurant. Sip, yuk ke sana.

Le-Zat Beach Restaurant ini ternyata restoran di dalam hotel yang pemandangannya langsung ke tepi laut. Mata segar banget. Selain pemandangan yang bagus, makanan dan minuman yang segar, serviece-nya juara banget. Para waiternya ramah, tapi bukan lebay ramahnya. Pas lah ramahnya. Mereka ramah terhadap anak kecil (ada baby chair!), mau ajak becanda saat Kaleb mulai ribut, dan pas tau tujuan kita ke mana, mereka menggambarkan petanya buat kita dan memberitahu tempat bagus lainnya. Aku terharu! :’) Very good experience.

The view

The view

12670514_10154747582244298_4293674115193573196_n

Pusing Pala Ken! :))))

Pusing Pala Ken! :))))

Enaaaak!

Enaaaak!

Setelah kenyang makan, perjalanan masih sekitar 20 menit lagi ke Virgin Beach. Dua puluh menit yang diwarnai dengan pemandangan gunung dan laut yang kayak di kartu pos. Keren banget. Adem hati ini, Bang!

Untuk masuk ke Virgin Beach kita dikenai biaya Rp 10.000 per orang. Dari parkiran, kita harus jalan kaki melewati jalan berbatu dan menurun sekitar 10-15 menit, tergantung napas ngos-ngosan atau nggak. Hahaha! Tapi begitu sampai… MASYA AMPUN CANTIKNYA! Laut berwarna bir toska, di dekatnya ada gunung, lalu bukit, dan pasirnya bersih. Yang paling penting: SEPI banget sampai rasanya jadi pantai pribadi. Lebih banyak bule yang ke sini.

Karena masih belum tersentuh tenaga profesional, makanya masih seadanya aja. Untuk bilas pun di kamar mandi yang nggak ada lampunya dan gelap-gelapan. Makanya sebelum ke pantai sebaiknya udah ganti baju dulu. Di sana juga disewakan sunbed. Waktu itu saya dapat Rp 30.000 per dua sunbed sepuasnya. Mayan, ya.

Seperti yang kita ketahui, Kaleb loveeeeed to be here. Dia happy-nya nggak ketulungan, orang tuanya yang sebenarnya banci pantai sepi juga happy banget. Gini ya rasanya punya pantai pribadi? Hahaha!

Is it a postcard?

Is it a postcard?

12063621_10154747743439298_6329494509554067059_n

993565_10154747744814298_5007772221406122407_n

1465136_10154747742354298_4403706989189356892_n

10983384_10154747742099298_5087196599047727846_n

12472806_10154747743264298_573973632699974306_n

12821589_10154747744724298_450089939299732046_n

1476123_10154747745369298_9179079980980563170_n

995320_10154747743759298_5551353483191859977_n

PUAS banget! Karena kita datangnya sekitar jam 3 sore jadi nggak terlalu terik tapi pantulan mataharinya masih bikin lautnya bagus, plus sepi. Sekitar jam 5 sore kita pun langsung pulang karena nggak mau Kaleb kelaparan. Karena udah belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini walau wc-nya gelap kita semua bilas dan ganti baju bersih jadi Kaleb di mobil pun bisa nenen, plus sedia cemilan yang banyak. Perjalanan 1,5 jam ke hotel pun aman tenteram damai. :’)

Niatnya mau jalan lagi cari makan, tapi kasian Kaleb udah capek dan udah waktunya tidur. Sempat pesan Gojek untuk delivery babi guling tapi karena udah kemalaman semua tutup. Hiks. Jadilah kita pun delivery KFC. Hahaha, yang penting perut kenyang.

That’s a wrap for today.

Hari keempat

Karena hari ini pulang, jadi kita santai banget. Nggak punya jadwal khusus, cuma pengen ke Krisna dan makan enak aja. Jadi dimulai dengan kita bertiga berenang di kolam renang yang hangat. Diwarnai dengan Kaleb pup di kolam lagi, tapi kali ini aman karena pake diaper (ada apa sih Kaleb dan kolam renang?).

Sebelum pup di kolam

Sebelum pup di kolam

Setelah itu kita makan kenyang di hotel, packing, dan cusss!

Tujuan pertama adalah Krisna. Saya pikir saya bakal kalap di sini, tapi ternyata nggak. Saya beneran cuma beli oleh-oleh pie susu dan kacang untuk orang rumah, beberapa baju bali buat Kaleb, dan selesai! Cuma 30 menit aja. Untuk orang yang suka belanja ini prestasi. Hahaha.

Kita langsung buru-buru ke Warung Babi Guling Pak Malen yang nggak jauh dari Krisna. Dari kemarin ngidam babi guling akhirnya hari ini kesampaian juga. Warung Pak Malen ini belum juga jam 12 siang udah penuh dan antri mobil, untungnya kita dapat tempat duduk. Nggak beberapa lama kemudian muncullah nasi dan berbagai olahan babi guling di sebuah piring. MAKNYUS! Enak banget nget. Kayaknya saya dan suami emang tipe orang yang lebih suka makanan lokal daripada internasional ya. Dari Mak Beng dan Babi Guling, dua-duanya paling membekas di sanubari *tsaaaah*. Kita juga nambah kerupuk kulit babi yang ternyata harganya Rp 30.000 dengan porsi kecil. Tapi emang itu kerupuk enaknya kayak makan kerupuk dari surga *halaah*. Pokoknya siang itu saya kenyang dan bahagia.

Setelah dari Warung Pak Malen, ada sisa waktu sekitar sejam, kita pun makan gelato di Seminyak. Ini request si suami. Dia suka banget gelato dan menurutnya paling pas makan gelato di Bali. Dia nggak mau makan gelato di Jakarta. Hahahaha. Tapi udara terik emang cocok makan dingin-dingin. Kaleb pun dibolehin coba gelato. Dasar dia nggak bisa dingin, jadi dia suka es krim tapi kalau dikasih meringis kedinginan. Hahaha.

Dengan berakhirnya gelato kita, kita pun menuju bandara Ngurah Rai yang udah kece berat untuk kembali ke Jakarta. See you soon, Bali.

Kesimpulan liburan dengan bayi: CAPEK dan rempong! But we did it! *kasih piala ke diri sendiri*

Tips liburan bareng anak 1 tahun:

  • Selalu ikuti jadwalnya si anak. Kalau emang waktunya tidur, sebisa mungkin tidur, walau itu di mobil atau di hotel. Kalau nggak cranky.
  • Makannya harus tepat waktu. Kalau emang pas jam makan lagi di mobil dan nggak ada resto yang proper, ya kasih makan di mobil. Jangan sampe kelaparan dan ngamuk. Duh, ribet.
  • Sedia air putih dan cemilan yang banyak untuk bayi.
  • Saya prefer sewa mobil tanpa supir karena kalau pake supir bisa rugi kalau bawa bayi. Flow liburannya karena ngikutin jadwal bayi jadi kadang-kadang kita balik ke hotel dulu untuk istirahat, baru habis itu jalan lagi. Kalau pake supir nanti dia magabut.
  • Pastikan restoran yang ada baby chair. Karena ribet banget kalau bayi makan sambil dipangku. Apalagi bagi Kaleb yang gratakan pengen pegang ini itu. Baby chair is a must. Kalau nggak ada baby chair maka sebisa mungkin bawa tempat duduk portable. Tapi preferensi tiap orang bisa beda-beda.
  • Nggak perlu itinerary yang padat. Buat daftar aja tempat yang ingin dikunjungi dan sesuaikan dengan situasi si bayi.
  • No stroller. Jalanan di Bali nggak memungkinkan pake stroller. Saya prefer pake gendongan. Saya pake Ergo Baby 360. Lebih praktis dan Kaleb pun nyaman.
  • Jangan maksain pergi sampai malam banget. Kasian baby-nya. Kalau udah waktunya tidur, usahakan untuk pulang ke hotel dan tidur lah kayak jadwal biasa.
  • Pilih hotel yang bersih dan nyaman karena kalau bareng baby akan ada waktu-waktu kita lebih banyak di hotel. Jadi pilih hotel yang juga bisa buat liburan. Oh, sebisa mungkin ada kolam renang karena baby suka berenang (tapi beda-beda sih tiap bayi).
  • Sebelum booking hotel, pastikan apakah sarapan di hotel bisa dimakan oleh bayi. Karena waktu itu saya nggak yakin, saya bawa makanan dan pilih hotel tipe apartemen yang ada dapur dan peralatan makan.
  • Waktu di pesawat harus bawa banyak cemilan karena bayi bosan. Kaleb pas take off dan landing sih aman-aman aja walau nggak menyusui, tampaknya dia nggak mengalami sakit kuping. Karena bosan itulah Kaleb pun pas di tengah flight milih untuk nenen dan tidur. Sementara bayi sebelah saya yang umurnya beda 2 bulan dari Kaleb merasa ngantuk dan kebosanan tapi malah nggak tidur. Jadi beda-beda tiap bayi.

Sampai ketemu di #KalebTrip lainnya! 😀

Pilah-Pilih Hotel

Kalau lagi liburan, hal yang paling saya ribetin selain tiket murah adalah hotel. Saya paling susah tidur kalau bukan di tempat tidur sendiri, makanya sebisa mungkin hotelnya nyaman. Nyaman lho, bukan berarti harus mahal.

Dalam menentukan hotel ada beberapa hal yang saya perhatikan:
Tujuan: Liburannya mau jalan-jalan heboh, sehingga kamar hotel jadi tempat tidur doang, atau leyeh-leyeh di hotel dan nggak terlalu banyak keluar. Waktu dulu ke Singapore, nginepnya di hotel bintang 3 (atau bintang 2 saking kecilnya– yang mana dengan harga segitu di Indonesia pasti udah dapet yang bagus), kecil, dan di daerah Geylang, yang mirip daerah bronx. Saya nggak ngecek area sekitarnya jadi pas turun MRT ke arah Geylang, mayan ya shock juga itu daerah malam Singapore yang penuh diskotik ajeb-ajeb. Yah, kayak Mangga Besar gitu. Untungnya di sana aman-aman aja.

Karena bakal banyak di luar, nggak masalah buat saya nginep di hotel kecil. Tapi kalau tujuannya mau santai, bolehlah pilih hotel yang tingkat kenyamanannya lebih baik. Ini biasanya saya lakukan kalau libur ke Bandung. Secara kalau di Bandung udah cukup tau daerahnya, jadi pengennya yang enak hotelnya, biar bisa santai-santai dan kalau Bandung macet dan jadi males ke mana-mana, ya liburan di hotel aja.

Staycation gini juga pernah dilakukan di Jakarta waktu nginep di Mandarin Oriental Hotel. Seharian cuma ngabisin waktu di hotel, atau sekitarnya aja: berenang, nge-gym, makan malam di Sabang, nge-mall bentar di Grand Indonesia, mandi di bath tub berlama-lama, nonton dan tidur sepuasnya, nyobain semua makanan pas breakfast, ikutan car free day, berenang lagi. Yah, pokoknya hampir semua kegiatan dilakukan di hotel dan deketnya. Kelar staycation langsung segar lagi, deh.
Budget: Paling penting ya budget lah. Punya uang berapa, baru nanti disortir. Lebih murah bagus, lebih mahal dikit nggak papa. Kalau kemahalan…inget-inget nama hotelnya, masukin wishlist, dan berdoa semoga suatu saat nanti bisa nginep di hotel ini. Hahaha. Paling senang cari hotel di daerah Bandung, Bali, dan Bangkok (lho, kok semua huruf depannya B?) karena dengan budget yang nggak terlalu besar, bisa dapat hotel yang ciamik. Eike demen!

Kalau cari hotel, saya suka pake booking.com karena biasanya dicharge-nya nanti pas di hari H, bisa di-cancel (cek ketentuannya aja, beda-beda tiap hotel), dan nggak ada biaya tambahan alias sudah termasuk pajak. Kalau di Agoda masih ada tambahan pajak. Kan jadi nggak seperti yang tertera di web lagi.

Desain: Buat saya yang orangnya penakut, wajib banget desain hotel dan kamarnya minimalis, clean, bersih, rapi, penerangannya cukup. Walau rasanya menggiurkan pengen nginep di hotel dengan kamar yang sebagian besar transparan karena semuanya dari kaca sehingga terlihat pemandangan ke lembah, tapi serius deh kalau malam-malam kelihatan seram. Jadi no thank you.

Begitu pun kamar yang kayak mau balik ke jaman Majapahit di mana elemennya banyak dari bambu atau kayu. Aduh, nggak, deh. Saya pernah nginep di suatu hotel di Bali di mana lantai kamarnya terbuat dari kayu (hotelnya emang indah banget), dan papan tempat tidurnya juga dari kayu. Mungkin konsepnya back to nature. Ditambah lampu yang redup-redup, buat orang honeymoon kali ya. Yang ada tiap bergerak dikit di tempat tidur bunyinya, “krieeeet” .Ya kan kalau malam-malam serem dan jadi nggak bisa tidur.

22922557

Salah satu hotel favorit saya di Bali: Terrace Hotel at Kuta. Dari depan kelihatan kecil, tapi dalamnya cukup luas. Yang paling pentingnya kamarnya minimalis, clean, rapi. Laff!

826_420_neodipatiukur_overviewthumb

Hotel Neo di Dipatiukur Bandung. Walau di gambar didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih tapi pas nginep di sana nggak kelihatan gelap sama sekali. Bersih dan terang.

slider_08

Oasis Lagoon Sanur. Mungkin memang konsepanya yang dekat ke alam sehingga didominasi kayu. Ta…tapi… tempat tidurnya berderit jadi bikin susah tidur, plus lampunya remang-remang jadi susah baca. Tapi hotel ini letak keindahannya akan saya ceritain nanti.

Fasilitas: Lagi-lagi tergantung tujuan liburan. Kalau di Bandung, saya nggak masalah kalau hotelnya nggak ada kolam renang karena tujuan saya biasanya wisata kuliner dan waktunya juga di weekend. Karena waktu yang singkat, biasanya nggak perlu berenang biar banyak tempat yang bisa dikunjungi. Tapi ketika liburan di Bali, saya merasa wajib memilih hotel yang ada kolam renangnya karena tujuannya biasanya leyeh-leyeh di air, termasuk salah satunya kolam renang hotel.

Salah satu fasilitas kolam renang yang saya suka banget adalah di Oasis Lagoon Hotel itu. Begitu buka pintu kamar, langsung bisa nyebur kolam renang berwarna toska. Jadi seluruh hotel itu dikelilingi kolam renang kayak di Venesia. Duh, senang banget nginep di sana *lupa tempat tidur berderit LOL*

the-oasis-lagoon-sanur

Pengen langsung nyebur kan?

24-the_oasis_lagoon_sanur-1

Semua dikelilingi kolam renang!

Sarapan: I’m a breakfast person makanya saya hampir selalu pilih hotel yang ada sarapannya. Saya nggak bisa skip makanan dan saya cinta makanan hotel. Saya biasanya nyoba banyak makanan dan saya akan nambah makan sereal dan susu berkali-kali. Tau kan kalau saya tergila-gila susu. Lagian saya pikir sarapan di hotel itu paling nyaman. Kalau yang lain masih tidur, saya bisa turun duluan untuk makan, masih dengan mata belekan, rambut kusut, piyama, dan belum mandi. Nggak ngerepotin orang lain. Atau kalau mau langsung pergi pun jadi nggak harus berhenti di jalan untuk cari sarapan lagi. Jadi, sarapan di hotel adalah pilihan terbaik buat saya.

Lokasi: Sebisa mungkin bukan di tempat-tempat yang terlalu sulit dijangkau baik oleh mobil pribadi atau transportasi umum. Nggak perlu yang langsung di pinggir jalan raya, tapi jangan sampai masuk ke gang terpencil dan malah nyusahin kalau mau pergi-pergi atau keluarin mobil.

Review: Setiap milih hotel saya pasti lihat reviewnya di Trip Advisor, buka foto-foto asli yang dikirim tamu hotel yang pernah menginap (kalau foto dari hotelnya kan udah dipastikan kece lah ya karena tujuannya menjual). Bahkan saya juga suka cek keberadaan hotel ini dengan Google View hahahaha. Ya kan, biar nggak membeli kucing dalam karung yaa alias nggak mau rugi.

Jadi begitulah beberapa pertimbangan saya sebelum memilih hotel. Saya biasanya suka cobain nginep di hotel yang baru berdiri, misalnya setahun atau beberapa bulan karena biasanya semua fasilitasnya masih baru dan kinclong dengan harga promo. Wohooo, untung banyak! Hahaha.

Eh, jadi kepengen liburan lagi, deh! *korek celengan*

 

 

 

Our Christmas

MERRY CHRISTMAS 2015!

May this Christmas brings you joy and happiness! :*

Natal kali ini senang banget karena tanggal 24 Desember tanggal merah. Setidaknya nggak perlu buru-buru dari kantor untuk pulang ke rumah dan lanjut ke Gereja. Karena sekarang udah ada Kaleb (hey, it’s Kaleb’s first christmas!) jadi untuk malam natal, kita nggak ikut kebaktian yang malam jam 19.30, melainkan yang sore jam 16.30. Ini supaya selesai kebaktian Kaleb bisa langsung makan malam dan nggak cranky karena belum masuk jam tidurnya.

Anyway, untuk malam Natal kali ini kita punya tema untuk baju kita *penting gila lo, Mak! Hahaha*. Temanya rock n roll jadi kita pake baju hitam putih. Uwyeah! Sebenarnya nggak khusus beli baju untuk natal, sih. Kebetulan pas ngubek-ngubek lemari, ada satu baju Kaleb yang belum dipake dan warnanya hitam putih. Yuk, cusss orang tuanya ngikut karena warnanya gampang dicocokin. Hihihi!

Selfie dulu di gereja

Selfie dulu di gereja

Momma and son

Momma and son

Our black and white outfit. Rock n roll enough?

Our black and white outfit. Rock n roll enough?

The in-laws

The in-laws

Selesai kebaktian, kita langsung cuss ke mall terdekat untuk makan. Secara kerempongan mempersiapkan bayi yang heboh merangkak, nggak mau ditinggalin emaknya, plus harus masak makanan doi bikin kita jadi lupa (atau nggak bisa) makan seharian, apalagi harus masak. Kita makan di resto Bale Lombok dengan ganas karena lapar banget. Tepat jam 9 malam pulang ke rumah karena mata Kaleb udah kriyep kriyep minta bobo.

Paginya seperti biasa tentu heboh dengan ngurus Kaleb sampai akhirnya pas jam udah mepet, Kaleb udah rapi jali, udah makan, tapi orang tuanya belum mandi dan belum makan. Akhirnya cuma dalam waktu setengah jam kita pun selesai dan berangkat ke gereja. Teteep telat dikit dan akhirnya duduk di luar gereja.

Untuk orang yang buru-buru banget, lumayanlah muka nggak sampe ancur minah banget.

Untuk orang yang buru-buru banget, lumayanlah muka nggak sampe ancur minah banget.

Karena duduk di luar dan panas, plus biasanya habis makan itu adalah jam tidurnya Kaleb, Kaleb pun mulai cranky. Papanya harus bawa dia jalan-jalan sampai dia ketiduran. Tapi ya karena udara panas banget, tidurnya Kaleb pun nggak lama dan kebangun lagi.

Di hari Natal ada perjamuan kudus jadi jam kebaktian lumayan panjang dan sampai siang. Untungnya kita duduk di luar jadi pas perjamuan kudus maju ke depan, kita dapat urutan awal. Habis perjamuan kudus kita pun langsung pergi karena udah jam makan siangnya Kaleb. Kita makan di resto Kemangi. Ehm, Kaleb sih yang makan, orang tuanya cuma ngemil gorengan.

Oh ya, untuk Natal kali ini, temanya pink. Nggak ada baju baru sama sekali karena pas lihat lemari kok ada baju yang warnanya senada. Plus suami dan Kaleb punya kemeja kotak-kota pink. Serasi, yes!

Our pinky outfit for christmas day

Our pinky outfit for christmas day

Setelah Kaleb makan, kita langsung pulang ke rumah karena badan kita rontok, capek, laper, dan tepar, plus cuaca panas banget. Ngurus bayi emang paling tepat untuk bakar kalori. Di rumah, Kaleb malah energinya makin terkumpul, heboh merangkak sana-sini. Emak bapaknya udah mau pingsan. Akhirnya kita matiin lampu dan cuekin dia biar dia bosen dan tidur. Voilaaaa, Kaleb pun ketiduran. Lumayan banget kita bertiga bisa tidur siang 2 jam dan ngisi energi lagi.

Setelah bangun, kita pun siap-siap untuk Natalan ke rumah mertua. Pas sampai rumah mertua, yah rumahnya kosong karena lagi pada ada acara semua. Akhirnya kita ke PIM karena saya dan suami mau pingsan belum makan seharian. Help! Tentu supaya emosinya bagus, pilihlah makanan kesukaan berkalori tinggi *lah, sama aja tadi udah bakar kalori masuk lagi kalorinya hihihi*. Pilihan jatuh ke The Kitchen by Pizza Hut. Konsepnya baru, jadi langsung pesan di kasir. Slice-nya gede banget. Untuk harga ya nggak beda jauh sama Pizza Hut biasa. Untuk pizza-nya model yang tipis. Ai laik!

Taking pic with my own little santa

Taking pic with my own little santa

Waktu mau kasih makan Kaleb, eh pas buka tempat makannya tercium bau nggak enak. Uh! Kayaknya udah nggak segar lagi, deh. Hiks! Mau nggak mau jadi keluar resto, dan menuju supermarket untuk beli sereal. Setelah beli, masuk lagi cari resto lain untuk Kaleb makan. Rempong bin ribet. Tapi ya mau nggak mau anaknya harus makan karena udah jam 7 malam. Setelah Kaleb makan dan puas keliling bentar, kita pun pulang karena udah jam tidurnya Kaleb.

Kesimpulannya: Natalan pertama bersama bayi yang udah makan itu rempong banget (tapi tetap menyenangkan asal disertai kesabaran dan energi setinggi Gunung Himalaya).

Tanggal 26 Desember direncanakan kita akan menginap di Mandarin Oriental Hotel. Papa saya dapat voucher menginap di kamar tipe suite, yang mana gedeee banget kamarnya. Ada satu kamar, satu ruang tamu, dan kamar mandi yang gedenya bahkan ngalahin kamarnya. Wuih senang banget! Tapi sayang, di hotel sebesar itu kolam renangnya mini banget, plus dalam. Jadi anak-anak harus pake ban.

Christmas staycation

Christmas staycation

with the family

with the family

view ke bundaran HI

view ke bundaran HI

Happy banget dapet tempat tidur super besar

Happy banget dapet tempat tidur super besar

Kaleb seneng banget berenang. Saking senengnya dia ga suka pake ban karena gerakannya jadi terbatas.

Kaleb seneng banget berenang. Saking senengnya dia ga suka pake ban karena gerakannya jadi terbatas.

Pagi-pagi ikut CFD. Kaleb yang lagi nggak suka pake stroller ngamuk, tapi begitu ada pengamen doi anteng dengerin pengamen nyanyi. Habis itu lanjutlah ngamuknya. Haha.

Pagi-pagi ikut CFD. Kaleb yang lagi nggak suka pake stroller ngamuk, tapi begitu ada pengamen doi anteng dengerin pengamen nyanyi. Habis itu lanjutlah ngamuknya. Haha.

Foto wajib di Bundaran HI

Foto wajib di Bundaran HI

Walau liburan kali ini nggak sempurna karena ada musibah yang terjadi sehingga Bapa dan Mama harus pulang ke rumah dan suami bolak balik antara rumah dan hotel, dan kita semua jadi nggak bisa tidur, tapi lumayan untuk menutup rangkaian Natal kali ini. Semoga musibah ini menjadi awal adanya kebaikan-kebaikan lain yang terjadi tahun depan. We’re still happy and thankful anyway!

Selamat Natal semuanya. God bless you all! :*

Ke Bandung Lagi Yuk!

Setelah trauma pergi ke Bandung dengan bocah karena sepanjang jalan ngamuk, tepat di usia 7 bulan, kami ke Bandung lagi (helloooo, mana katanya 1000 tahun lagi baru mau jalan-jalan? Hihihi). Dengan suksesnya perjalanan ke Puncak tempo hari; selama di jalan selalu tidur, malam hari anteng, anak happy; maka emaknya kembali pede membawa anaknya ke luar kota lagi. Kalau sebelumnya ke Bandung 2 hari 1 malam, maka kali ini 3 hari 2 malam dalam rangka wisudaan si adik di ITB.

Nggak kayak sebelumnya yang heboh, justru persiapan kali ini santai banget soalnya saya lagi sibuk di kantor. Nyusun baju dan peralatan perang Kaleb aja baru malam sebelumnya. Pulang kantor, mampir ke supermarket, dan malam itu juga masak makanan MPASI buat 3 hari 2 malam. Sambil masak, sambil cobain kebaya yang mau dipake, dan berakhir….nggak jadi pake kebaya karena ketat banget dada eike sekarang. Trus nanti jadi susah susuinnya (iyeee, pede aja pergi nggak bawa ASIP), jadi diputuskan pake dress aja.

Rencana awal adalah pergi pas pagi hari disesuaikan dengan jam tidur Kaleb. Apa daya karena perginya dengan orang tua dan adik, yang mana jadi triple rempongnya, plus sebelum berangkat ke salon dulu karena di sana nggak tahu salon apa yang bagus, berakhir berangkat jam 12 siang. Ngapain bangun pagi-pagi kalau gitu? Zzz!

Untungnya perjalanan dari Jakarta ke Bandung cukup lancar. Sempat mampir di rest area untuk makan. Ehm, Kaleb pun ikut makan dan kemudian berakhir ngamuk dengan suara menggelegar ke seantero KFC *tebal muka*. Tapi secara keseluruhan, walau Kaleb udah mulai aktif banget dan nggak bisa diam di mobil, perjalanan berlangsung lancar.

Halooooo Bandung!

Di Bandung istirahat sebentar untuk mandiin si bocah. Lalu kemudian ke ITB untuk mengikuti acaranya si adek. Acaranya kayak pensi gitu sih. Mungkin pelepasan untuk senior-senior yang lulus. Seperti biasa, Kaleb tebar pesona senyum sana-sini sampai akhirnya dia beredar dari satu tangan ke tangan lainnya. Anaknya mah happy aja digendong mulu, ibunya yang ketar-ketir takut ada yang sakit dan nular ke dia.

Di pertengahan acara karena perut udah meronta lapar, maka kami sekeluarga pun cus ke restoran Braga Permai. Kabarnya restoran ini menjadi semacam legenda karena udah ada dari jaman baheula dan makanannya enak. Daerah Braga sendiri jadi salah satu favorit saya karena tampilannya yang vintage. Ternyata sekarang Braga makin cantik dengan banyak bangku di trotoar sehingga bisa duduk. Malah sepertinya Braga ini makin mirip Legian.

Waktu makan sekitar jam 8 malam dan kami dapat antrian ke-5. Uwooow kenapa rame sekali? Apakah makanannya super enak? Yang pasti banyak bulai-bulai yang makan di sana juga. Untungnya untuk sampai ke giliran nggak terlalu lama, nggak sampe 30 menit.

Restorannya terlihat jadul semuanya. Bangunannya, interiornya, mejanya, peralatannya. Kayak balik ke masa lampau banget. Tapi semua dijaga dengan bersih dan rapi. Di sana kalau air putih gratis dan bisa refill. Ditambah lagi tiap meja dapat roti/cemilan gratis kalau nunggu. Senang banget lah saya dan keluarga yang tiap ke restoran pasti minum air putih dan nggak jadi bete kalau nunggu pake cemilan. Hahaha. Untuk makanan porsinya besar banget. I kid you not! Itu porsi kayaknya buat makan tengah deh, bukan untuk makan sendiri. Sampe kami pun harus bungkus banyak makanan karena porsinya kebanyakan.

Di sana waitressnya ramah banget sama anak kecil. Kaleb kan bosen duduk di baby chair jadi lumayan ribut lempar-lempar mainannya dan kemudian nangis. Tapi mbaknya malah ngajak ngobrol Kaleb, lalu ngambilin mainannya yang jatuh. Ih, aku kan jadi bahagia.

Untuk rasa makanan sendiri sebenarnya biasa aja, sih. Kayaknya kurang meninggalkan bekas di hatiku, tapi karena porsinya besar dan bikin kenyang dan total makan untuk 4 orang cuma Rp 190.000-an, dengan air putih gratis, maka kesannya manis buat resto ini. Hihihi.

Lihat betapa jadul dan otentiknya Braga Permai

Lihat betapa jadul dan otentiknya Braga Permai

Tibalah di hari wisuda. Orang tua berangkat duluan karena wisuda dimulai jam 07.30. Saya dan adik saya masih bisa sarapan dulu, Kaleb lanjut tidur lagi habis makan pagi, kemudian kami bertiga pun bobo bareng. Hahaha! Habis itu karena janjian bakal dijemput oleh temannya si adek yang wisuda jam 10.00, maka saya pun mandi jam 09.00. Eh, jam 09.30 temannya udah datang. Ya udah deh, kami pun kebutan dandan dan pake baju, plus bangunin Kaleb untuk pakein baju dia. Cranky dong ya bok anaknya lagi pules tidur dibangunin dan dipakein baju. Untungnya Kaleb gampang dihibur kalau liat orang baru jadi dia happy lagi.

Untung banget perjalanan ke Sabuga nggak macet. Mungkin karena orang-orang pada datang pagian, ya. Nah, di Sabuga sendiri udah penuh lautan manusia, dan kami nggak bisa masuk ke dalam karena undangan cuma buat orang tua. Jadi ya nunggu lah di luar panas-panasan. Yasalam banget deh, udah dandan kece, berakhir nongkrong di lantai juga. Hahaha!

Tampaknya wisuda ITB ini banyak printilannya. Jadi kalau orang tua udah keluar, masa nggak bisa masuk lagi. Plus, si wisudawan habis diwisuda langsung ada prosesi arak-arakan di kampusnya. JADI KAPAN KITA POTO-POTONYA? *buang bulu mata palsu*

Di tengah terik matahari membara, kita pun maksa si adek buat keluar dari ruangan buat foto-foto kilat. Bok, kan udah pake baju kece dan dandan ciamik harus ada foto kan, ye (walau mood sih udah berserakan di mana-mana). Belum lagi Kaleb udah cranky karena saya pake dress jadi nggak bisa susuin dia dan dengan tololnya nggak bawa ASIP. Huhuhu!

Foto kilat di tengah panas terik dan perut lapar. Mayan lah ya hasilnya.

Foto kilat di tengah panas terik dan perut lapar. Mayan lah ya hasilnya.

Setelah proses foto-fotoan kelar, saya langsung kabur beli air mineral buat Kaleb dan bener aja anaknya haus banget. Habis itu ke mobil buat ganti baju dan langsung susuin Kaleb. Lega bener deh udah ngelepas dress. Dikira habis itu bakal makan siang dong, ya. Eh si Mama pengen nonton arak-arakan wisudawan. Sementara saya udah pake yukensi dan celana dedek gemetz. Ahelah, malu amat keliaran di ITB pake baju begitu sementara yang lain pastinya berkebaya dan pake baju formal. Tapi Mama bilang nggak papa, karena dia juga udah pake baju casual. Jadilah dengan segenap sisa urat malu yang putus, saya berkeliaran di acara wisuda ITB dengan yukensi dan celana pendek. HAHAHA!

Setelah arak-arakan selesai, kami pun meluncur ke Cafe Halaman yang dekat ITB untuk makan. Udah hampir jam 3 dan Kaleb belum makan. Kasihan! Di Cafe Halaman, tempatnya outdoor semua dan semuanya area smoking. Ya bayangin aja, udah pilih tempat terpencil di ujung, eh tetep lho kecium bau rokok. Nyebelin! Jadinya makannya cepat-cepat dan habis itu langsung cus!

Kami pun beranjak ke FO di sekitar jalan Riau. Seperti biasa saya langsung meluncur ke bagian baby dan lumayan dapat beberapa kaos Kaleb dengan kualitas oke dan harga murce. Tapi dasar ibu-ibu labil, untuk belanjaan yang nggak seberapa, saya bisa lamaaaa banget di FO sampai anaknya super cranky dan minta digendong terus. Hihihi.

Habis puas belanja di FO, kembali lagi jemput si adek di ITB dan berakhir makan martabak San Fransisco yang terkenal. Emang sih endeus banget itu martabak. Nggak terlalu manis dan kulitnya crispy. Welcome, lemak-lemak di tubuh! XD

Hari terakhir di Bandung diawali dengan bangun kesiangan semua. Hahaha. Setelah itu santai-santai sarapan sambil beres-beres dan baru keluar menjelang makan siang. Mana tadinya yang bilang jam 12 harus udah menuju Jakarta. Gagal pisan, deh!

Saya yang dari hari pertama udah sounding makan di Miss Bee Providore pun keukeuh siang itu harus ke sana. Apalagi sebenarnya tempat nginep dan Miss Bee tuh deketnya nggak sampe 5 menit. Untungnya seluruh keluarga setuju.

Sampai sana, rameeee banget mobil-mobil. Pak Satpam udah mengingatkan bahwa waiting list udah 10. APAAH! Tempat apa ini sampai ramenya begini amat! Ya udahlah, karena kata Mama kalau kepengen jangan ditunda, jadi harus dijabanin.

Untungnya di sana tempatnya kece buat foto-foto. Mayan deh menyalurkan bakat supermodel terpendam *uweeek*. Tempatnya pun udah didekor dengan tema Halloween. Tentunya Kaleb diberdayakan untuk foto-foto, ya. Untung anaknya manis, punya emak gini dia sabar aja. Hahaha. Oh ya, di sana ada kandang kelinci juga. Pas lihat kelinci, Kaleb udah mau manjat aja.

IMG_2552

IMG_2553

Ada photobomb di belakang hahaha

Ada photobomb di belakang hahaha

Mommy, aku pengen manjat buat kejar kelinci itu, deh

Mommy, aku pengen manjat buat kejar kelinci itu, deh

Santai dulu kita di rumput

Santai dulu kita di rumput

Aku suka labuuu!

Aku suka labuuu!

Foto wajib depan rumah kaca

Foto wajib depan rumah kaca

Butuh kira-kira sejam untuk sampai duduk di meja makan. Nah, dari awal saya kan udah minta baby chair karena Kaleb mau makan. Tadinya bahkan pas nunggu, Kaleb mau dikasih makan aja. Tapi apa daya, baby chair kepake semua. Jadilah saya wanti-wanti begitu ada baby chair yang kosong tolong dikasih.

Sampai kami dapat tempat duduk pun baby chair-nya nggak ada karena untuk restoran sebesar itu baby chair cuma ada 3. Dengan asumsi, ada playground buat anak-anak, harusnya emang tempat itu merupakan restoran keluarga kan, ya. Ya masa baby chair cuma 3!

Akhirnya karena saya lihat di meja sebelah ada anak yang udah selesai makan, tapi masih duduk di baby chair, saya pikir nggak kepake lah ini baby chair dia. Apalagi si anak ada baby sitter yang gendongin dia mulu. Maka saya pun minta ijin untuk pake baby chair dia. Nah, ini masalah barunya. Baby chairnya terbuat dari kayu dan besar. Kalau dipandang sih kelihatan klasik, ya. Tapi sesungguhnya nggak terlalu aman buat baby. Karena terbuat dari kayu dan besar, serta nggak ada safety belt, untuk anak bayi kemungkinan buat merosot besar. Selain itu, karena terbuat dari kayu pula, Kaleb dengan suksesnya kepentok dan jadi nangis. Hufft! Ini kalau ada manajemen Miss Bee yang baca, tolong deh beli aja baby chair IKEA yang nggak mahal, tapi jelas aman. Duh!

Selain masalah baby chair, overall tempatnya oke, instagram-able, dan makanannya enak dan cukup affordable. Agak mahal untuk ukuran Bandung, tapi dibanding ukuran Jakarta jadi kelihatan murah.

Habis makan di Miss Bee, saya sempat mampir buat beli bubble tea dong, ya. Sementara padahal kita sedang menuju ke lapo untuk makan siang tahap dua. Udah, timbangannya mah dibuang aja ke laut. Hahaha! Dan bener aja, habis itu saya makan babi panggang sepiring. BEGAH! Kayaknya habis ini saya harus puasa 7 hari, deh *boong banget, malamnya sebelum tidur udah lupa dosa lemak, jadi bikin mie instan. hahaha*

Dengan perut yang membesar dan timbangan yang kira-kira naik, maka berakhirlah jalan-jalan ke Bandung ini. Kaleb lulus dengan baik lho jalan-jalan kali ini (kalau kata Mama, ini kayaknya Kaleb hobi jalan-jalan, deh)!. Yuk, beliin tiket ke Bali, dong. Hihihi.

Main Rumah-Rumahan di IKEA

Semenjak tahu IKEA mau buka di Indonesia, ehm, lebih tepatnya di Alam Sutera yang nggak terlalu jauh dari rumah, saya udah semangat banget. Kalau lagi liburan ke luar biasanya IKEA jadi salah satu daftar wajib untuk dikunjungi. Saya suka banget main rumah-rumahan di sana, liat-liatin barang-barangnya yang desainnya bagus, dan terutama kok bisa sih ruangan sempit dibikin jadi luas dan bagus. Sebelum ada IKEA aja, saya hobi banget ke Ace Hardware cuma untuk lihat barang-barangnya dan akhirnya berakhir beli barang-barang yang sebenarnya nggak penting. Hahaha!

Pas IKEA buka tanggal 15 Oktober 2014 lalu, tentu saja saya pengen datang, apalagi setelah dikirimin katalognya. Tapi ya tentu saja nggak mungkin bolos cuma untuk ke IKEA. Niat amat, Mbak! Weekend juga nggak mau pergi ke sana karena kabarnya untuk masuk aja antri banget. Weleh!

Akhirnya waktu tanggal 20 Oktober 2014 kemarin, tepat ketika Jokowi-JK dilantik sebagai presiden dan wapres, saya dan suami nggak masuk kerja karena jalanan ditutup. Males muter-muter, akhirnya kita balik arah dan pergi ke IKEA. Tentunya ide saya lah itu! Hihihi. Waktu itu berangkat dari rumah jam 10 pagi dan sudah sampai di IKEA Alam Sutera jam 10.17 lewat tol. Cepat banget! Sepagi itu aja, tempat parkir sudah banyak yang terisi, tapi masih cukup banyak juga yang kosong. Suka banget sama tempat parkirnya yang nggak luas dan penerangannya bagus jadi nggak terkesan sumpek dan gelap seperti tipikal tempat parkir mall di Jakarta.

IKEA di Alam Sutera luas banget — sama kayak IKEA di luar negeri juga, sih. Saya kira datang sepagi itu, dengan jam buka yang jam 10 pagi, IKEA belum rame. Salah, sodara-sodara! Di hari Senin pagi IKEA sudah rame banget! Nggak sampe sumpek dan berdesak-desakan, sih, tapi rame! Yang datang juga bukan perempuan atau ibu-ibu aja yang biasanya suka mendekor rumah, tapi juga bapak-bapak dan cowok-cowok. Jumlahnya cukup seimbang lah.

Seperti biasa, saya suka banget main rumah-rumahan di IKEA. Nyobain kursinya, tempat tidurnya, perhatiin penempatan barangnya, bahkan nyatet warna tembok supaya bikin ruangan kelihatan luas. Udah macam main rumah-rumahan Barbie, tapi saya Barbie-nya. Hahaha! *ditimpuk*

Udah berkeliling seluas itu (beneran luas karena mau ke toilet aja jalan jauuuh banget), saya nggak beli apa-apa. Ada sih barang-barang yang ditaksir, tapi belum butuh dan nggak tahu juga taro di mana di rumah. Plus, sejak hamil keinginan belanja menurun drastis *tepok tangan*. Yang ada setelah puas keliling, saya excited ke arah restorannya. Tapi oh tapi, antriannya puanjang banget kayak antri mau konser. Duh, males banget deh mau makan aja harus antri lama bener. Akhirnya memutuskan untuk pulang karena udah lapar banget. Untungnya di lantai bawah dekat kasir ada yang jual cemilan dan antriannya nggak panjang. Minta suami untuk antri dan beli spicy bread, hotdog, dan es krim. Spicy breadnya enak banget dan beneran pedas. Hotdognya saya nggak coba karena nggak suka sosis. Es krimnya juga enak, apalagi di saat capek.

Menghabiskan waktu 2 jam di sana dan rasanya senang banget. Tentu saja bakal balik lagi, dong (tapi nggak tahu kapan). Habis itu langsung pulang ke rumah dan si bumil yang makin menggendut seperti dugong ini tepar sambil pusing dan mual (langganan kalau lagi capek). Ciaobellaaa!

Maafkan penampakan bumil yang melebar macam dugong! :))))

Maafkan penampakan bumil yang melebar macam dugong! :))))

Menjelajah Pulau Pari

Hey, I’m back from a short vacation (again)! Jadi liburan singkat ini direncanakan juga dalam waktu yang singkat. Kebetulan Yuan, mantan teman sekantor saya, whatsapp ngajak liburan. Kemudian saya ajak teman-teman sedivisi, yaitu Citra, Edel, dan tambahannya Mia, beda divisi. Tadinya mau ke Bandung, tapi bosen. Eh, kepikiran gimana kalau ke Pulau Seribu aja. Dekat, nggak mahal, dan lautnya bagus. Sip, bungkus! Kurang dari sebulan cari travel agent, cari tanggal yang kebetulan ada long weekend di akhir bulan, bayar DP, dan….. berangkat. Cepat, ya. 😀

Drama dimulai di hari keberangkatan. Karena mikirnya Muara Angke, tempat janjian ngumpul, dekat dari rumah dan hari itu Minggu jadi santai aja. Janjian jam 6 di sana, berangkat dari rumah jam 5.30. Santai kayak di pantai, kan ada tol yang langsung keluar Pluit.

Awalnya sih semua sesuai rencana. Jakarta lancar banget. Eh, tapi justru mendekati Muara Angke macet masyaampun! Nggak bergerak. Ini ada apa, sih? Di situ ada kayaknya 30 menit. Mulailah di mobil saya senewen. Kapal kan berangkat jam 7. Bagaimana iniih? Suami nyuruh saya jalan kaki aja. Soalnya teman saya, Citra, udah nyerah ngantri, dia jalan kaki ke pom bensin Muara Angke, tempat kita ketemuan. Aduh, masalahnya saya nggak tahu di mana itu pom bensin. Mana udah gaya pake celana super pendek kan agak malu ya jalan kaki pinggir jalan. Hahaha!

Akhirnya karena udah nggak sanggup lagi sama macetnya, si suami putar balik parkir mobil dan nemenin saya jalan kaki. Bener aja, semua orang yang mau ke sana juga jalan kaki karena lalu lintas nggak bergerak. Yang paling yahud adalah jalanan becek jadi kaki saya penuh cipratan air. Belum lagi suasana pasar ikan yang asoy baunya. Pas udah kelihatan pom bensinnya, jalan ke sana banjir. Haduh, gimana ini? Tiba-tiba di depan mata ada becak motor yang lagi ngetem dan langsung naik aja. Nggak nanya dulu dia mau ke mana. Percaya aja, soalnya tampaknya yang lain juga naik itu. Di tengah bentor baru sibuk kasak-kusuk sama abangnya nanya ini ke pom bensin nggak. Udah gitu, kasak-kusuk ke penumpang lainnya ini bayar berapa. Belom lagi bawaan saya yang super rempong, satu tas backpack, satu tas jinjing, satu tripod, dan satu kamera. Ribet! 😛

Sampai di pom bensin udah penuh dengan lautan manusia. Beneran penuh banget sama manusia, karena ini long weekend, yang berdesak-desakan sampe jalan kaki aja bisa macet. Yasalam! Untuk nyari orang susahnya minta ampun.

Di pom bensin udah ketemu Edel yang sibuk koordinir sana-sini. Citra entah terdampar di mana, Yuan yang salah masuk tol, dan Mia yang belum bangun. Emang ya, nggak asik kalau nggak nggak ada dramanya. Sementara saya kebelet pipis, saya langsung ke wc yang antriannya udah kayak antrian waktu H&M buka di Jakarta. Panjang banget! Pilihannya sabar aja ngantri panjang banget atau nggak usah pipis tapi tahan 2 jam sampe ke Pulau Pari. Ih, daripada darah tinggi di kapal mending antri ke WC, deh. Pas udah mau dekat baru deh orang-orang yang antri di depan kasak-kusuk bilang aduh nggak ada air, bau banget. Mamak, cobaan apa lagi ini? Keukeuh tetap antri soalnya kebelet. Sebelum masuk, saya tutup hidung pake tisue dan masuk ke wc dengan tutup mata supaya nggak jijay. Pas tau nggak ada air, saya nggak cek lagi, deh. Cobaan berat banget ini. Begitu selesai, PLONG! Langsung menyingkir dari WC aja, deh. Hihihi.

Begitu semuanya ngumpul, kita diarahin sama tour guide ke kapal. Antriannya gilak banget dengan kondisi jalanan becek. Untung banget pake sendal jepit. Jorok juga gpp, deh. Udah antriannya panjang banget, udaranya panas, ditambah bau amis ikan-ikan. Komplit! Naik ke kapalnya pun susah karena harus manjat tembok dan lompatin satu kapal lain. Sampai di kapal pun modelnya macam kapal nelayan besar di mana kita duduk lesehan aja di bawah. Petualangan macam di film, deh. Tapi karena bareng orang-orang yang menyenangkan, berasanya jadi seru dan malah bikin happy. Semacam pengalaman baru. 😀

Di kapal langsung minum antimo biar bisa blas tidur dan nggak mabok laut. Bener aja begitu kapalnya berangkat, saya dan teman-teman udah kayak langsung dibius. Tidur nyenyak. Sekitar 1,5 jam kemudian kita sampe di Pulau Pari. Karena nyampenya pas jam 9.30-an, mataharinya lagi terik dan yang kita pengenin cuma AC. Anak kota banget, sih! :)))

Di Pulau Pari, kita akan ditemani oleh Mas Saman, tour guide kita yang baik dan tepat waktu banget. Dia nganterin kita ke tempat home stay di rumah penduduk. Well, home stay-nya bukan yang bagus banget tapi udah ber-AC dan kamar mandi bersih jadi yang cukuplah. Istirahat sebentar, dikasih makan siang, dan disuruh siap-siap karena mau snorkeling. Horeee!

Snorkeling dilakukan jam 2 siang tengah bolong. Ya habes, biar terumbu karang dan ikan-ikannya kelihatan jelas, kan. Tadinya sih kita ogah snorkeling siang karena takut kulitnya hitam, tapi Mas Saman bilang nanti nggak sempat ngapa-ngapain, lho. Oh, baiklah nurut aja.

Pas mau berangkat pake kapal nelayan yang kali ini hanya diisi kita berlima aja, kita nggak lihat di mana kapalnya. Ternyata ada di tengah laut aja, lho! Untuk ke tengah laut, kita harus jalan kaki melewati air yang lumayan jauh. Kenapa kapalnya nggak ke pinggir? Karena airnya cetek jadi takut kapalnya nyangkut. Yo weis, mari jalan lagi. Tapiii karena airnya bersiiih banget dan warnya toska jadi malah berasa seru. Bukannya cepat sampai, di tengah-tengah kita malah sibuk foto-foto. Maaf ya Mas Saman harus ngurusin perempuan-perempuan rempong banci foto. Hihihi!

IMG_5797

IMG_5806

Perjalanan dari Pulau Pari ke Bintang Rama Spot (tempat budidaya terumbu karang) nggak terlalu lama, paling 30 menit. Begitu sampai kita langsung terkagum-kagum karena terumbu karangnya cantik banget. Sebenarnya nggak perlu pake snorkel untuk lihat ke bawah air karena dari atas pun kelihatan jelas saking jernihnya lautnya. Belum lagi ikan-ikan kecil berwarna-warni yang sliweran bikin makin cantik.

Udah lah ya, kita langsung berenang aja. Yang tadinya pake pelampung dan kaki katak, lama-lama tambah berani pelampung dan kaki kataknya dilepas. Berenang kayak berenang di kolam renang aja. Seruuuu banget! Mana si Mas Saman bawa kamera underwater jadi dia foto-fotoin kita di laut. Yah nama pun, cewek banci foto, kita pun minta Mas Saman berulang-ulang fotoin kita sampe dapat foto yang kece. Hihihihi! Dari yang tadinya mau sebentar aja snorkelingnya karena takut hitam, malah jadi lamaaa banget sampe sore karena keasikan berenang. I would love to do diving someday. It would be awesome! :’)

DSCN1321

IMG_5850

Puas berenang kita pun ke Pulau Tikus. Pulau ini kalau dari atas bentuknya seperti tikus. Sebenarnya ini cuma pulau kecil yang nggak ada penghuninya tapi karena pantainya bersih dan pemandangannya bagus, kita pun minta mampir ke sana cuma untuk foto-foto bak model. Hihihi.

IMG_5865

IMG_5883

IMG_5872

Karena udah mau maghrib, kita pun terpaksa pulang. Di dalam kapal kita bisa melihat matahari terbenam. Cantiknya minta ampun. Kita sampe di Pulau Pari sekitar jam 6 sore. Langsung mandi karena badan udah lengket banget. Jam 7-an makan malam datang.

Setelah itu, saya dan Citra keliling pulau naik sepeda. Seru banget lihat kehidupan penduduk di sana yang sebagian besar penghasilannya dari menyewakan homestay, sepeda, dan alat snorkeling. Ada yang homestaynya bagus udah modern, ada yang masih sederhana. Yang lucunya, tempat tinggal penduduk di sana masih sederhana, nggak sebagus homestay yang mereka sewakan. It was always good to know about local culture.

Capek naik sepeda saya dan Citra balik ke homestay karena jam 9 kita akan barbeque di pantai. Jadi, di belakang Pulau Pari, ada namanya Pantai Pasir Perawan yang bagus banget. Nggak kelihatan sih kalau malam hari karena gelap. Kalau malam banyak digunakan untuk barbeque, main sepeda, dan main voli.

Kenyang makan ikan, kita pun buru-buru tidur karena besoknya akan bangun pagi buta untuk lihat sunrise. Benar aja, Mas Saman udah ngetok kamar kita jam 5.30. Nah, sebagai cewek rempong, kita nggak ada yang mandi, cuma cuci muka dan gosok gigi, tapiiiii…..udah ganti baju yang kece dan dandan karena tau habis ini foto-foto. Hahaha!

Sunrise-nya bagus banget. Karena baru pertama kali ngeliat sunrise, saya jadi bengong-bengong sendiri melihat matahari yang tadinya sembunyi, perlahan-lahan naik ke atas sampai kelihatan bulat banget. Dan semua itu terjadi hanya dalam waktu 30 menit. Keren!

IMG_5933

IMG_5936

Puas lihatin matahari, kita pun ke Pasir Pantai Perawan untuk naik sampan. Jadi baru pagi ini kita lihat bentuk Pasir Pantai Perawan yang mana kece banget dengan warna air toska. Pas kita naik ke sampan makin kelihatan deh cantiknya. Belum lagi di sekelilingnya banyak pohon mangrove. Makin kelihatan cantik ya ciptaan Tuhan ini. :’)

IMG_5981

IMG_5984

IMG_5994

IMG-20140331-WA0041

IMG_5996

Kelar naik sampan, kita pun naik sepeda ke ujung Pulau Pari ke LIPI di mana ada budi daya bintang laut. Jadi fokus LIPI saat ini adalah membudidayakan terumbu karang karena banyak yang udah rusak. Bintang laut ini juga salah satu yang dibudidayakan. Jadi di sana kita bisa pegang bintang lautnya tapi nggak boleh dibawa pulang (yaeyalaah).

IMG-20140331-WA0108

Setelah puas, kita pun balik ke homestay, siap-siap, dan meluncur ke kapal karena nggak mau nggak dapat duduk yang ada senderannya. Hihihi! Terima kasih Mas Saman yang udah mau nemenin para perempuan rempong ini. It was a great short vacation. Will looking for more trips with you, guys! 😀

 

Wajib Dibawa

Untuk liburan kemarin barang yang wajib penting ada adalah: kamera. Untungnya kita udah punya kamera kesayangan yang mumpuni: Canon SX40. Kamera ini jenis prosumer, yaitu punya fitur yang cukup canggih dibanding pocket camera, tapi masih gampang digunakan dibandingkan DSLR dan SLR.

Dulu beli si Canon ini karena alasan yang cetek,  s ih: filternya banyak banget di camera dan zoom-nya bisa sampe 36x. Selain itu, kalau kamera SLR gitu kan tergantung lensanya juga, yang mana mahal ya, bok. Ih, sini kan maunya yang simple, murah, tapi hasilnya ciamik, jadi kamera prosumer jawabannya. Eh, tapi ini bukan posting iklan, lho. Hihihi.

Permasalahannya adalah karena liburan berdua doang, siapa yang bakal fotoin nanti? Minta orang terus fotoin kita berdua? Ya nggak enak juga, soalnya kan kita banci foto. Nanti minta terus-terusan, dong. Hahaha! Lalu saya mengusulkan memakai tongsis yang lagi happening itu. Tapi tongsis nggak bisa dipake buat kamera prosumer kita, lagian kata suami kalau pake tongsis yang keliatan muka semua terus, backgroundnya suka nggak keambil dengan bagus, plus kalau pake kamera HP hasilnya nggak terlalu oke. Ribet ya, mak!

Untungnya kita punya tripod. Sebenarnya agak malas bawa tripod soalnya nanti ribet lagi buka tutupnya, tapi suami meyakinkan dia yang handle semuanya. Oh, baiklah. Istri mah tinggal pose difoto aja, ya. ;p

Turned out it was the best decision. Ketika orang lagi ribet buka tongsisnya, kita yang udah setel tripod di posisi yang bener, tinggal berdiriin dan foto-foto kece dengan background yang keambil semua. Fotonya pun bisa sambil berbagai macam gaya, termasuk gaya lompat-lompatan itu dan background bagusnya tetap dapet. Yang paling penting, kita jadi punya banyak foto berdua, bukan cuma muka aja ya. Berpose pun nggak pake malu-malu karena nggak harus minta tolong orang. Hore!

IMG_5564

IMG_5561

Selain kamera dan tripod, yang udah dipersiapkan jauh-jauh hari adalah: power bank. Sebelumnya saya keukeuh nggak mau pake power bank karena udah bawa charger ke mana-mana, kok. Makanya saya fakir colokan banget, deh. Hahaha!

Masalahnya, nanti di sana kita bakal nyetir sendiri. Nggak pake driver yang tahu jalan ke mana-mana. Nggak mau pake driver karena jadi nggak bebas nentuin waktu sendiri (sewa driver kan terbatas jam-nya ya) dan cost-nya jadi lebih mahal, sementara suami bisa nyetir. Jadi pergunakan dong keahliannya *istri oportunis*. Lalu.. lalu kita kan nggak tahu jalan di sana. Jangan takut, kan ada GPS di HP. Baiklah, bungkus!

Semua pasti tahu kalau smartphone itu batrenya payah banget. Apalagi kalo dipake buat GPS segala. Belum sampe tempat tujuan, udah low bat deh pasti. Maka dari itu solusi yang benar adalah beli power bank. Yang ternyata power bank  ini berguna banget, ya. Nggak bikin fakir colokan lagi. Kenapa nggak kepikiran dari dulu aja, sik! *gemes*.

Maka dari itu perjalanan selama di Bali aman tenteram karena ada power bank dan aplikasi GPS yang dipake adalah Waze. Seperti yang udah diceritakan sebelumnya, Waze ini aplikasi gratis di android/ios yang berguna banget. Selama di Bali semua tujuan yang ingin dicapai dia tahu, bahkan sampe ke jalan-jalan kecil. Udah gitu kalau lagi macet bisa ngobrol sama pengguna Waze lainnya untuk nanya-nanya macetnya karena apa. Ih, seru banget, deh.

Nah, itu barang-barang yang menjadikan liburan ini jadi lebih ciamik. Kalau kamu liburan, barang wajib apa yang harus dibawa?

Bali Trip (Part 3)

Hari ketiga diawali dengan kaki pegal karena…. kebanyakan foto lompat-lompat tanpa pemanasan. Tapi… no pain no gain, kan? Tiada foto yang ciamik tanpa rasa sakit *kebanyakan nonton American’s Next Top Model*.

Hari ini kita akan check-out dari Hotel Terrace dan pindah ke Hotel Oasis Lagoon Sanur. Puas banget deh nginep di Hotel Terrace ini. Semua yang ada di webnya persis sama kayak aslinya. Wi-fi-nya cepat banget. Mau download apa juga bisa. Servicenya juga oke. So. we definetely will come back. 😀

Perjalanan dari Kuta ke Sanur nggak jauh. Daerah Sanur ini cukup menyenangkan. Nggak terlalu rame kayak Kuta dan Legian, tapi lebih sophisticated. Lebih tenang dan damai. Aish!

Karena datang kepagian, jam 11 siang dan check-in baru bisa jam 14.00, kita pun dikasih welcome drink, yaitu jus mangga yang segar banget. Setelah liat-liat interiornya yang juga mirip banget sama foto di web, plus kamar kita yang di pinggir kolam renang. Ihiy, dahsyat! Udah gitu air kolam renangnya warna toska. Cakep banget! :’)

Cakep banget, ya. :')

Cakep banget, ya. :’)

IMG_5765

IMG_5742

Kita nitip koper di hotel karena mau lanjut jalan ke Pantai Padang-Padang. Berbekal sebelumnya pernah ke Pantai Padang-Padang, maka kita mau beli handuk dan kain bali dulu untuk alas di pantai nanti. Untungnya sebelah hotel ada supermarket Hardys yang jual segala macam komplit. Kali ini supaya nggak ribet, dari hotel udah pake baju renang dan sunblock sebanyak-banyaknya. Uyeah!

Pantai Padang-Padang ini terletak di Pecatu, dekat Uluwatu. Karena udah siang jadi seperti biasa panas ajegile. Untung udah berbekal cemilan, minum, topi, dan kacamata hitam. Aman!

Menuju Pantai Padang-Padang ini kita melewati GWK. Secara suami dan saya belum pernah ke sana dan doi ngotot ke sana, kita pun mampir dulu (padahal nggak ada di itinerary) demi patung Krisna. Matahari kayaknya ada 9 hari itu jadi dahsyat lah panasnya. Belum lagi GWK ini dipenuhi rombongan anak SMA (ehm, pada bau badan, ye) yang ribut sekali. Sekali masuk ke sana lumayan mahal. Seorang dikenai Rp 40.000.

Sampai di sana, istri langsung buru-buru ke tempat patung. Mana harus naik tangga ya. Sebagai orang yang jarang olahraga, lumayan deh bikin kaki gempor. Hahahaha! Pemandangan di atas bagus, kok. Ehm, tapi kalo disuruh ke sana lagi pas sepi aja, ya.

IMG_5672

IMG_5678

IMG_5681

Buru-buru dari GWK karena udah dehidrasi banget. Kita pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Padang-Padang yang terpencil dengan jalanan berkelok-kelok tapi it was worth it! Dari atas bukit aja pemandangannya udah kece banget. Langit biru, bukit hijau, pantai berpasir putih, dan air laut toska. Sempurna banget sih ciptaan Tuhan ini. :’)

Beda dengan Pantai Pandawa yang airnya biru dan dikelilingi banyak pengunjung, Pantai Padang-Padang ini relatif lebih sepi dan semuanya bule. Airnya tenang banget. Untuk ke sana kita perlu turun ke bawah dari atas bukit. Nggak jauh sih, cuma agak curam.

Begitu sampe, kita langsung gelar handuk dan kain, gosok-gosok sun block (secara itu jam 2 siang), dan langsung nyebur ke laut. Aaaak, pokoknya tempat ini favorit saya banget. Bukan kayak berenang di laut tapi kayak di kolam dengan pemandangan yang luar biasa keren. Mau panas mentereng juga kalau udah ketemu laut tuh rasanya hati adem banget, ya. :’)

IMG_5684

IMG_5714

IMG_5716

IMG_5693

Puas berpanas-panasan dan berenang, kita pun naik ke atas. Lumayan ye bok naik tangganya bikin jantung berdebar ngos-ngosan. Dipastikan deh ini karena kurang olahraga. Baru setengah perjalanan aja saya nggak kuat jadi harus duduk dulu ngatur napas. Sementara suami dengan santainya ke atas. Iyes suaminya lebih kuat karena rajin olahraga.

Habis dari Pantai Padang-Padang, kita capcus ke Klapa di Dreamland. Laper banget udah jam 4 sore tapi belum makan. Klapa ini sebenarnya beach club yang nyambung ke Dreamland Beach, tapi ada kolam renangnya yang infinity pool. Klapa ini entah karena punya anaknya mantan presiden Orba Baru, lagu-lagu yang dipasang jadul, interior jadul, dan wc ganti pun juga jadul.

Hal pertama yang dilakukan waktu dapet duduk di day bed adalah: pesan makanan. Laper gilak! Saya pesan pizza, sementara suami pesan tom yam dan nasi. Endonesah banget dese. Hihihi.

IMG_5720

Nungguin matahari nggak terlalu mentereng lagi, kita pun tidur-tiduran aja sambil liatin turis Taiwan/Cina/Korea yang heboh banget foto-foto selfie. Udah pake dress heboh, bunga di kepala, trus selfie yang keliatan muka doang. Itu pun diniatin sampe di kolam renang. Mereka nyebur ke kolam renang sambil bawa hp dan selfie lagi dan lagi. -_-”

Pas matahari mulai mendingan kita pun berenang. Ish senangnya berenang sambil mandang laut. Adem rasanya. Kekurangannya, kolam renangnya masih jadul dan kayaknya maintanance kurang sehingga ada bagian yang retak-retak.

IMG_5717

IMG_5718

IMG_5722

Kalau di Padang-Padang banyakan bule, di sini banyakan orang Indonesia dan turis Taiwan yang lumayan ribut, ya. Kurang nyaman jadinya. Karena nggak mau mandi di wc-nya yang kurang bersih, kita pun pulang tanpa bilas. Banyak pasir di mana-mana jadinya. Hihihi.

Sampe hotel langsung tepar. Hari itu kerjanya berjemur di tengah terik matahari jadi energi langsung abis. Niatnya pengen langsung mandi. Begitu masuk kamar hotel The Oasis Lagoon kita langsung terkagum-kagum sama interiornya yang bagus banget. Kita juga dikasih surprise handuk yang dibentuk angsa, setangkai bunga mawar, dan kemudian…cake! Mata langsung berbinar-binar semangat, deh.

Selesai mandi udah jam 7 malam. Bilang ke suami mau tidur 30 menit dulu sebelum makan di luar. Dia oke-oke aja karena sibuk main iPad. Eh, ternyata kita ketiduran dan baru bangun jam…. 10 malam aja! JENG JENG!

Langsung deh buru-buru karena kaget. Padahal kan kita pengen ke pusat oleh-oleh Krisna di Kuta sana. Biar besok nggak buru-buru. Menurut si om Google, Krisna buka 24 jam. Eh, pas sampe sana…. tutup aja gitu. Manaaaa 24 jam? HIH!

Udah terlanjur keluar, kita pun mau cari makan, tapi harus KFC karena dapet voucher dari kantor. Hahahaha, nggak mau rugi, dong. Langsung nyalain waze dan cari KFC terdekat seputar Sanur. Habis itu take away dan makan di kamar sambil nonton tv. Enaknyaaaa.

Hari keempat diawali dengan hujan rintik-rintik. Hiks, tau aja sih hari itu kita mau pulang. Untungnya hujannya nggak lama. Sambil nunggu hujan kita pun makan pagi di hotel. Ya masa ampun, hidangannya buanyaaaak banget: dari pancake, bubur ayam, nasi goreng, lauk pauk, buah-buahan segala rupa, cake, roti, dan masih banyak lagi. Setelah energi dikuras kemarin, udah kalap aja dong semua pengen dicoba. Kenyataannya belum coba semuanya perut kenyang banget. Hihihi.

Kelar sarapan langsung berenang untuk ngilangin kalori makan pagi (ah, alesan deh). Aduh duh, berenang di sini tuh berasa lagi di laguna beneran. Cantik banget. Udah mana kolam renang sepi macam milik sendiri. Syedap! Habis itu kita beberes untuk check out. Hiks, nggak relaaa!

IMG_5776

Kita pun menuju Krisna di Kuta. Suami yang baru pertama kali ke sana terperangah dengan besarnya tempat itu dan murah banget pula. Tapi masalahnya ya itu, saking murahnya jadi kalap dan pas bayar ya jadi nggak murah lagi, deh. Hihihi. Si suami disuruh pilih mana yang dia mau, dari segitu banyaknya barang yang bisa dipilih, dia pilih…..topi mancing bali. Huahaha, buat apa cobaaa! Katanya kalau bawa Mika jalan-jalan suka panas jadi bisa pake topi itu. Tapi ya kok kurang kece gitu topinya. Hahaha!

Karena kalap di Krisna, jadi waktunya udah mepet. Kita pun makan di foodcourt Krisna yang nggak banyak pilihan. Habis itu ngebut sampe ke bandara karena takut telat.

Dengan tepat waktunya Air Asia untuk boarding, begitu juga liburan ini. It was a great vacation.

Bali lagi kitaaaaa? *cek tiket pesawat*