Trip Seru ke Batukajang

Aloha!

Mei ini saya cukup sibuk. Sibuk dengan berbagai project, sibuk ngurusin Kaleb yang batuk lama banget karena kata dokter ada bakteri, dan sibuk mantengin dedek-dedek gemesh di Instagram. Hihihi.

Salah satu highlight bulan Mei ini adalah work trip ke Balikpapan bareng teman saya, Citra. Saya belum pernah ke Balikpapan, jadi cukup excited juga dengan perjalanan singkat ini. Terutama karena saya akan menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke site-nya.

Kami berangkat di hari Sabtu pagi melalui terminal 3 yang lagi tersohor itu karena baru. Dan tentu saja kami bagai gadis desa yang terkagum-kagum dengan desain terminal 3 yang modern dan kece banget, disertai resto-resto kenamaan. Bagus banget lah. Kekurangannya adalah….jauh amat itu sampai ke gate 17 di mana pesawat saya parkir. Udahlah jauh, travelatornya sedikit. Jadi kalau mau cepat bisa pake kayak bis golf kecil gitu (apa sih namanya ini?). Nggak tahu ini disewa atau gratis. Untungnya kami nggak lagi terburu-buru jadi ya bisa jalan aja sambil geret-geret koper, turun eskalator pulak.

Senangnya sampai di gate 17, ada Ice Hills, bubble tea kesukaan saya. Tentunya langsung saya beli untuk bekal di pesawat nanti. Harganya lebih mahal Rp 10.000 dari harga aslinya. Mana harga aslinya sebenarnya sering banget promo jadi Rp 15.000 saja. Eh, nggak tahu deh sekarang promonya masih ada nggak.

Kami menunggu di tempat duduk yang mengarah langsung ke jendela besar tempat pesawat-pesawat parkir. Saya selalu suka bandara. Buat saya, saya bisa mandangin pesawat lalu lelang terbang dan mendarat dan udah bikin senang banget. Masalahnya, saya takut terbang. Zzz!

Pesawat boarding tepat waktu. Saya udah wanti-wanti ke Citra kalau saya takut naik pesawat. Overall perjalanannya mulus tanpa turbulensi berarti. Plus, ada makanan dan entertainment di pesawat jadi ya saya lumayan bisa kedistraksi dari ketakutan saya. Itu aja saya nontstop lihat jam dan komat-kamit berdoa supaya cepat sampai. Oh ya, di pesawat saya nonton The Greatest Showman. Filmnya bagus banget nget! Dan saya menyesal nggak nonton di bioskop. :’)

Sampai di Balikpapan jam 12 siang dan kami langsung dijemput untuk langsung menuju Batukajang yang katanya terletak 3 jam perjalanan darat. Oh, untuk mencapai Batukajang, kami haru naik speed boat dulu melewati laut selama 20 menit. Seru banget!

img_20180512_131924_486img_20180513_165526img-20180512-wa0012img_20180512_155110img_20180512_155144

Mulai deh saya norak karena saya pikir Kalimantan itu, terutama pedalamannya, kayak di film Anaconda yang masih banyak hutan, hewan, dan sungai-sungai. Nyatanya, ya sama aja kayak di Pulau Jawa. Jalanannya sudah aspal mulus, hampir nggak kelihatan hutan lebat. Kelihatannya kelapa sawit aja.

Perjalanan yang katanya 3 jam, ternyata jadi 5 jam. Padahal nggak macet, dan kami cuma mampir makan sebentar dan Citra sholat. Satu jam perjalanan terakhir baru kami melewati gunung, hutan, dan air terjun. Jalannya pun mulai berkelok-kelok sampai kami pusing banget.

Sampai di Batukajang jam 6 sore dan kami sungguh tepar banget. Kami ngingep di mess yang isinya 90% cowok tambang semua. Aslik, kalau sendirian aja sih saya jiper banget. Untung berdua. Begitu sampai kamar, kami langsung tidur. Pusing dan capek banget. Plus, kondisi saya sebenarnya lagi kurang fit. Seminggu sebelumnya Kaleb sakit batuk pilek dan nular ke saya. Pas berangkat saya udah minum Panadol, sih, tapi kayaknya kurang mempan.

Kami baru bangun jam 19.30-an dan lalu dijemput untuk makan. Kami ditawari makan di luar, tapi kami terlalu capek untuk makan di luar. Plus, setelah melewati kotanya yang kecil banget, nggak ada resto atau tempat yang bikin kami mampir, sih. Udah pengennya makan doang, trus balik ke kamar istirahat karena besoknya kami harus seminar jam 8 pagi ajee. Kami pun makan di kantin mess, yang mana makanannya prasmanan dan enak-enak, kok. Jadi ya kami puas aja makan di kantin. Anaknya gampangan, asal perut kenyang aja. Hehehe.

Setelah makan, kami minta diantarkan ke Alfamart/Indomaret di kota (di Batukajang cuma ada 1 Alfa dan 1 Indomaret, letaknya bersebelahan). Kami mau beli obat Antimo buat besok dan Panadol karena pusing kami nggak hilang juga. Plus, mau beli cemilan. Tapi saya nggak nafsu ngemil karena kepalanya pusing sampai nggak bisa ngapa-ngapain.

Pas di mini market, pengunjungnya banyakan cowok dan kami dilihatin. Padahal kami nggak pake baju terbuka atau aneh, sih. Kami pake kaos dan jeans, dan orang lain pun begitu. Pindah ke mini market sebelahnya, kami juga dilihatin. Bukan dilihatin yang bikin nakutin, tapi kayak mereka sadar kami bukan penduduk sini aja. Setelah diperhatikan sekitarnya, oh ternyata yang perempuan hampir semuanya pake hijab. Sedangkan kami udahlah nggak pake hijab, rambutnya diwarnai pula. Hahaha. Tapi kata staff yang mengawal kami di sini nggak wajib pake hijab, kok. Cuma kebanyakan aja.

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan siap-siap untuk makan di kantin. Seperti biasa, apapun makanan yang disediakan kami senang-senang aja. Wong udah lapar. Hihihi. Nah, kami selalu ditemani seorang staff, sih untuk ke mana-mana dan diskusi soal seminar. Tapi lucunya, karena jarang keberadaan perempuan di mess itu, jadiiii banyak banget yang minta foto sama kami. Berasa artis banget wakakakak!

Jam 9 tepat, kami mulai seminar dan Puji Tuhan berjalan lancar banget. Itu pun kami harus memastikan selesainya tepat jam 12 siang karena kami harus ngejar speed boat yang cuma sampai sore aja. Kalau sudah terlalu sore, tidak ada speed boat sehingga kami harus naik kapal kecil ke Balikpapan. Wew!

img_20180514_073639_482

Jadi kami kembali ke kamar, siap-siap, nggak pake makan siang dulu karena nanti di jalan aja. Pulangnya lumayan rame karena ada 2 staff lagi yang mau ke kota. Dan teteeep cuma kami perempuannya. Hahaha.

Sebelum jalan, saya udah minum antimo dan sukses ketiduran. Puas banget dan jadi nggak pusing. Satu jam dari site, kami mampir makan nasi gandul di Kuaro. Ini pertama kalinya saya makan nasi gandul yang kuahnya hangat mengepul. Rasanya ENAK BANGET! Itu udah lapar banget, ditambah rasa kuahnya yang endeus bikin mata merem melek.

Selesai makan lanjut jalan lagi dan bener aja memakan waktu 4 jam perjalanan lagi. Untungnya speed boatnya masih ada sehingga kami bisa naik.

Setelah naik speed boat kami yang tadinya mau ke tempat oleh-oleh akhirnya memutuskan nggak jadi, langsung ke bandara aja karena takut telat. Plus, salah satu staff masih harus ke mess yang di Balikpapan jadi nggak enak ngerepotin kalau harus mampir lagi.

Untungnya di bandara ada toko oleh-oleh dan pesanan Mama madu Kalimantan ada di sana. Tapi setelah perjalanan yang capek banget itu, pas di bandara saya udah lemes banget, mulai demam, dan nggak kuat jalan lagi. Itu kayak udah sisa tenaga banget. Udah gitu, pesawat delay. Ya cuma 15 menit, sih, tapi kan tetap aja ngeselin karena saya udah nggak enak badan banget.

Dengan keadaan kepala pusing dan hidung mampet, begitu take off kepala saya kayak diiris-iris saking sakitnya karena ada perubahan tekanan udara. Oh ya, untuk pertama kalinya karena pesawatnya malam, pas lagi terbang saya ngeliat ada kilat terus-terusan menyambar. Kebayang dong, saya yang takut pesawat lihat pemandangan kilat menyambar tuh horor banget. Padahal turbulensinya sih biasa aja. Saking takutnya saya langsung tutup jendela biar nggak ketakutan. Eh, nggak lama kemudian disuruh pasang seat belt karena kondisi cuaca yang kurang baik. Muka saya sih udah nggak karuan lagi paniknya dan tangan udah dingin. Lihat ke arah sekeliling, penumpang santai aja, ada yang tidur, ketawa-ketawa, nonton film. Pramugari santai bolak-balik nganterin makanan atau minuman. Oke, kayaknya saya doang yang ketakutan. Tapi kebantu banget nonton film Pensil dan Stip yang lucu dan bagus banget karena mengangkat tentang pendidikan.

Pas pilot kasih tahu udah mau sampai dan landing, loh tapi kok landingnya lama banget, ya. Nggak kayak pas mau pergi begitu diinfokan pilot langsung mendarat. Di situ saya udah bisa ngeliat pemandangan kota tapi ya muter-muter aja di atas karena kayaknya masih nunggu giliran runaway. Kali ini ketakutan udah berkurang. Dan sampailah saya di Jakarta dengan selamat.

Nah, kedatangan di terminal 3 ini emang membingungkan banget, sih. Jadi saya keluar nggak ada mobil pribadi yang bisa berhenti. Yang ada cuma DAMRI dan taksi. Ternyata untuk yang menjemput harus dari tempat parkir di belahan lain bandara yang saya juga nggak paham. Jadi suami harus parkir dan menemui saya baru kita bareng-bareng ke parkiran yang letaknya lumayan jauh. Merepotkan banget sih terutama kalau bawaannya banyak.

But it was a very good trip. Dan baru tau di Kalimantan hutannya udah jarang. HAHAHAHA. Mungkin harus ke pedalaman lagi. Oh, setelah trip ini saya seminggu sakit. Dua hari pertama saya maksain buat masuk karena ada pasien, tapi di kantor saya nggak bisa ngapa-ngapain, bahkan numpang ruang konsul buat tidur aja. Begitu saya bed rest di rumah dan beneran sepanjang hari kerjanya makan, minum obat, tidur baru sembuh.

Semoga ada kesempatan lagi untuk melihat Indonesia belahan lainnya lagi, ya!

 

PS: Yang mau melihat keseruan trip saya ada di highlight di Instagram.

Advertisements

Hari Pertama Masuk Kerja

Setelah cuti 3 bulan, hari ini hari pertama masuk kantor. Rasanya berjuta banget (ngalah-ngalahin jatuh cinta aje). Dimulai dari beberapa minggu lalu di mana udah galau banget, sedih menye-menye mau ninggalin si bayi. Apalagi makin hari baby K makin lucu (udah iyain aja, namanya juga emaknya. Hehehe!). Lalu kemudian menyadari, oh ini toh yang dirasain ibu pekerja yang mau balik ke kantor lagi dan galau mau kerja dari rumah aja. Makin mendekati hari H, makin sedih. Bisa tuh lihatin baby K tidur dan saya nangis sesenggukan. Sedih banget, cing!

Untuk mengobati kegalauan yang mulai akut, saya minta suami cuti 2 hari sebelum saya masuk kerja supaya bisa pergi bertigaan aja sama baby K. Dituruti dong sama suami biar istrinya happy dan dibolehin belanja barang yang diinginkan selama ini. Makasih suami! *kecup* Setelah dari jalan-jalan mulai deh happy dan nggak mau terlalu mikirin lagi. Selalu ngulang mantra ini, “If other working moms can do it, so can I!” *kepal tangan*

Sehari sebelum masuk nggak pake drama. Seharian di rumah bareng baby K aja. Malam juga nggak drama. Drama baru terjadi pas mau pergi. Ih, sedih amat lihat bayi berkepala botak lagi tidur nyenyak, trus nanti dia bangun nggak ada saya yang gendong. Dalam hati bilang jangan nangis, jangan nangis. Nanti pake drama, orang rumah bisa heboh dan baby kan bisa ngerasain juga. Sukses dong ya nggak pake nangis walau pas say good bye sambil cium baby K suara udah bergetar. Eh, tapi pas di jalan nangis juga. Mana pas mau jalan ke kantor suami nanya, “Gimana rasanya?”. Cuma bisa bilang, “Sedih” trus buru-buru pergi karena kalau lanjut ditanyain lagi udah bisa nangis seember.

Kangen pacar mah nggak ada apa-apanya dibanding kangen anak. Dulu kangen pacar nggak pernah sampe nangis. Lah, ini kangen anak sampe nangis segala. Hihihi. Oleh karena kangennya udah akut banget, maka diputuskanlah ke kantor nggak usah pake mobil. Macetnya Jakarta mengurangi waktu ketemu anak. Nggak rela banget lah. Ke kantor dianter naik motor, lanjut ojek. Apa pun yang tercepat untuk menghemat waktu dan bisa cepat ketemu baby K, maka itu yang dilakukan.

Oh ya, setelah hampir setahun nggak pake heels (dari awal hamil bok), maka per hari ini saya akan pake heels lagi. Ternyata kaki belum terbiasa ya. Pegel bener! Udah gitu bodohnya, nggak bawa flat shoes yang bisa diganti pas jalan pulang atau pergi. Pake heels 9 cm sambil bawa gembolan berat berisi breast pump, botol-botol ASI, dan ice gel, plus naik jembatan penyebrangan lumayan menguras tenaga ya.

Tapi sejauh ini, hari pertama saya berjalan menyenangkan. Ketemu teman-teman, cerita gosip-gosip kantor, dan akhirnya koleksi lipstik yang dibeli selama cuti bisa kepake juga. Horeee!

Eh, ini kapan sih jam pulang?

*jam 12 siang aja belum, Bu!* XD

Ketika Jakarta Sedang Kumat

Kemarin malam Jakarta benar-benar bikin kesal. Saya nggak tidur cukup malam sebelumnya dan badan lagi nggak enak. Alhasil di kantor udah kayak zombie. Sengaja sebelum pulang kantor makan malam dulu supaya nanti pas sampai rumah tinggal tidur aja. Pulang kantor udah malam jadi biasanya jalanan Jakarta udah mulai nggak macet. Kemarin jalanan macet banget sampai jalan tikus yang biasanya nggak pernah macet, ini macet nggak bergerak.

Cobaan oh cobaan!

Ternyata banyak lampu jalan dan lampu merah yang mati jadi jalanan juga kacau balau. Miriplah kalau monster lagi datang di film-film Hollywood. Udahlah lagi nggak enak badan, jalanan kacrut, jadi sampai rumah lebih lama. Mau nangis, mamak!

Haleluya Puji Tuhan, di rumah nggak ikutan mati lampu. Udah terbayang di depan mata tempat tidur yang empuk plus AC yang dingin. Oh, inilah saatnya beristirahat.

Sebelumnya mau cuci muka dulu, tapi air mati. Hayah! Ya udahlah, nggak papa deh nggak pake mandi dulu. Pokoknya mau minum obat trus tidur. Nungguin suami yang beli obat batuk, saya pun ganti baju dan bersihin muka. Eh, tiba-tiba LISTRIK MATI!

Cobaan apa lagi ini yang datang? T_____________T

Habis minum obat, langsung teler karena tampaknya ada obat tidurnya di dalam obat. Langsung rebahan di tempat tidur, tapi nggak bisa tidur juga karena panas banget cing! Mata sih udah nggak bisa dibuka lagi, tapi nggak bisa beneran tidur nyenyak. Yasalam banget deh ini PLN.

Oh, belum berhenti sampai di sini. Sinyal provider handphone mati juga. Percuma aja deh baterai HP penuh kalau sinyalnya ngadat. Mati gaya banget ini, kakaak! Tidur nggak bisa, main HP nggak bisa. Hiks! Akhirnya minta suami untuk beliin cemilan. Itu juga pas nungguin udah dalam keadaan teler antara ngantuk tapi nggak bisa tidur. Bahkan pas cemilannya datang saya makan sambil merem, lho. Deritanya!

Jam 23.30, listrik baru nyala. HALELUYAAAAAAA! Dan di saat itulah, reaksi obat tidur dari obat batunya udah hilang, jadi mata segar kembali. Kampreto abis! Alamat jadi zombie lagi di kantor besok.

Jadi boleh ya hari ini saya minta jalanan lancar, listrik nyala, dan saya bisa tidur paling telat jam 9 malam. Ada amin sodara?

 

Empat Jam Terpanjang

Seminggu yang lalu, 29 Januari 2014, Jakarta kembali dilanda banjir setelah semalam sebelumnya hujan badai non-stop sampe bikin saya nggak bisa tidur. Saking kencangnya angin, saya sampai takut rumah roboh. Oke, ini mulai lebay, sih. Hehehe.

Pas bangun paginya, untungnya hujan udah berhenti walau langit masih mendung banget. Seperti biasa kalau malam hujan, paginya saya cek twitter @TMCPoldaMetro untuk liat ada banjir atau nggak. Wuih, ternyata sebagian besar banjir, termasuk Jakarta Selatan yang sebelumnya nggak banjir. Eh eh, gimana dong? Masalahnya hari itu saya ada appraisal dan tampaknya rekan satu divisi yang rumahnya nun jauh di sana aja masuk. Oke, baiklah mari masuk.

Karena kondisi banjir dan mau hujan lagi, saya dan suami pun naik mobil. Kita mau lewat Slipi aja. Nanti di Slipi saya turun, naik taksi ke arah SCBD, suami naik tol ke Pluit. Sempurna deh rencananya.

Apa mau dikata, pas sampe tol Kebon Jeruk udah kelihatan antrian panjang banget. Si suami pun belok lewat komplek perumahan supaya nggak kena macet. Nanti tembus di Kemanggisan. Eh, malah ternyata macetnya parah banget sampe mobil berhenti. Mana jalanan sempit pula. Waktu itu udah jam 9.00. Udah dipastikan telat sih. Saya pun kabari bos kalau bakal telat banget.

Karena kebelet pipis dan udah bikin suami senewen karena matiin AC mobil mulu, yang bikin dia gerah, akhirnya kita putar balik dan mampir ke sekolah Sang Timur untuk pipis. Ini bekas sekolah si suami nih. Jadi sekalian nostalgia, deh. Kelar bikin perut terasa ringan lagi dan melihat macet masih gila, akhirnya kita pun makan bakmie ayam bangka di pinggir sekolah yang mana enak banget. Nggak nyesel deh bikin diri makin telat. Hihihi.

Setelah perut kenyang, kita pun lanjut lagi. Dikira macet udah mulai berkurang, eh malah makin gila macetnya. Ada orang yang bilang ke kita untuk putar balik aja lewat jalan lain karena macetnya mendingan. Ya udah kita nurut. Benarkah? Nggak. Macetnya sama gilanya. Ya udahlah pasrah aja. Ini semua karena tanggul Tanjung Duren jebol akibat hujan semalam.

Kita pun ubah jalan dari yang tadinya mau ke Slipi, sekarang lewat Jalan Panjang aja, deh. Setelah melewati macet, akhirnya berhasil ke Jalan Panjang yang mana……nggak macet. Asyeeem, tau gitu dari tadi kita lewat sini aja.

Si suami pun nganterin saya ke kantor dulu, ngaso dulu setelah melewati kemacetan selama EMPAT JAM. Kemudian dia naik tol ke arah Pluit.

Setelah perjuangan panjang, eh appraisal dibatalkan. Yasalam, tau gitu duduk manis aja deh di rumah.

Untungnya pas pulang, jalanan lancar aja. Mungkin orang-orang kapok keluar rumah setelah kemacetan mahadahsyat tadi pagi. Jam 7 malam, saya udah di rumah, dan…. jam 9 saya tidur. Capek gila, Mak!

Selalu Ada Yang Pertama Untuk……Tampil di Infotainment

Masih inget saya cerita di siniΒ tentang kepengenan dari dulu untuk tampil di TV dan komentarin artis (I knoooow, I’m shallow!). Ini mengumbar aib sih ya tapi ya sudahlah. Hihihihi.

Sebelumnya saya tampil di TV kan serius yang topiknya tentang gangguan makan dan di acara Wide Shot yang serius pulak. Bukan infotainment. Jadi cita-cita masuk TV sih udah kesampaian, tapi cita-cita komentarin artisnya belum. Cita-cita kok ya cetek banget sih, Mak. Eh, tapi untuk mencapai cita-cita ini harus kuliah sampe S2 dulu. Berat yeee!

Nah, kemarin malam tiba-tiba ada SMS dari seorang wartawan TV yang termasuk dalam grup MNC (aaah, tapi malu kasih tau apa *bersemu*) yang meminta saya untuk jadi narasumber. Kebetulan dia dapat nomor saya karena di-refer teman kantor. Ih, nerima sms kayak gitu deg-degan, lho. Lebih deg-degan daripada nunggu ditembak gebetan. >.< Jadi saya tanya dulu dong, untuk topik apa, nih. Kemudian dia langsung menelepon saya dan memberitahu untuk topik yang berhubungan dengan artis dan ditanyangin di acara infotainment.

BOK, INI MAH DIDENGAR SEMESTA BANGET KAN! *menerawang*

Habis nerima telepon itu, saya langsung grogi setengah modar. Gila, ini kok ya kayak besok bakal ketemu presiden ya besoknya. Saya langsung sibuk nelepon teman saya yang psikolog juga untuk ngebahas jawaban apa yang harus saya tampilkan supaya kelihatan intelek di depan tv. ISH, serius amat, deh, Mak! Habis lama teleponan, saya langsung tidur supaya muka fresh besoknya.

Besoknya saya dandan lebih cakepan dikit untuk ke kantor, tapi sayangnya potongan rambut aneh ini nggak mau bersahabat! Benar-benar megar kayak singa. AAAAK, tidaaaak! Debutku untuk tampil di TV nasional ngomongin artis jadi nggak oke dong (Bok, penting beut!). Akhirnya pas sampai kantor, saya rapihin rambut dan cepol aja rambutnya. Yah, biar kelihatan kayak ibu pejabat yang elegan. #tsaaah #padahaljauuuh.

Dari pagi udah baca banyak artikel yang berhubungan dengan topik. Tampang boleh kece, tapi kalau bahasan nggak intelek kan ya jadi minus, ya. Jadi buka-buka lagi deh artikel dan buku tentang topik itu. Hati sih udah nggak usah ditanya lagi, mau lepas rasanya jantung ini. Maklum ya, pengalaman pertama. Yang paling penting, saya nggak tau pertanyaan-pertanyaan apa aja yang baka dikasih jadi berasa kayak mau ujian lisan di hadapan seluruh orang Indonesia. #drama

Begitu wartawannya datang, jantung udah turun sampai ke dasar kaki. Grogi berat, mak! Tapi harus keliatan pede dong, ya. Jadi muka disetel seluwes mungkin. Setelah basa-basi dikit, kamera dinyalain. Silaaau banget dan saya harus menatap kamera itu. Kayak harus lihatin blitz tapi dalam waktu yang lama. Mata jadi berkunang-kunang, deh. Tapi harus tetap senyum, dong. Saya nggak yakin sih hasilnya saya senyum atau malah mukanya kelihatan kencang banget. Udah mau pingsan itu rasanya!

Mengenai jawaban-jawaban saya…..udahlah ya itu kata-kata yang dilatih buyar semua! Berantakan abis! Padahal niat sih mau mengeluarkan istilah-istilah psikologis supaya kelihatan kece kan. Apalah daya, kegugupan bikin kacaaao, jenderal! Untung wawancaranya cuma 10 menit. Coba kalau lebih, saya bisa semaput di depan kamera dan dijadikan bahan berita nasional. #krik

Acaranya akan ditayangkan hari ini: Rabu, 3 Juli 2013 di sore hari. Di mana dan jam berapa…. RAHASIA, dong. Akyu malu, kakaaak! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Nanti kalau udah lancar dan nggak berantakan lagi (kalau si wartawan nggak kapok jadiin saya narasumber, sih) baru saya kasih tau, deh. Hihihi!

Kesimpulannya:

  1. Cita-cita cetek pun akan dikabulkan oleh semesta. Jadi bercita-citalah setinggi langit.
  2. Ngomentarin artis pas sehari-hari sih gampang beneeer, tapi begitu harus ngomentarin pake teori psikologi ya mikir juga kali. Susyeeeh!

*brb nyemplungin diri ke kali* πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

 

Perjalanan Dinas (dan Jalan-Jalan Sekejap)

Ish, udah lama ya nggak ngeblog. Hihihi. Sibuk, ceu? Lumayan deh, baru beli buku baru jadi sibuk baca buku. Eh, tapi faktor utamanya karena internet kantor lagi lemot setengah mati jadi buka wordpress uga susah amat.

Mari kilas balik mengenai apa yang udah terlewat.

Akhir Maret kemarin, saya sempat work trip ke Singapore bareng 6 teman kantor. Cuma bentar banget, 2 hari 1 malam. Berangkat Minggu pagi dan pulang Senin malam.

Hari Minggu emang sengaja minta pesawat yang pagi supaya bisa jalan-jalan lebih lama karena hari ini jadwal kosong. Tentyuu karena semua cewek yang pergi agenda hari ini ya belanja. Eh, tapi agenda saya nggak pengen belanja, sih. Walaupun dikasih uang saku, tapi kan yaa nggak besar-besar amat pulak. Jadi udah diniatin nggak mau belanja, ah. Niat saya cuma satu, jalan-jalan Singapore sendirian. Hihihi. Sederhana ya, bok.

Untungnya tujuan kita masing-masing beda jadi saya bisa jalan-jalan sendirian. Muter-muter Orchard dan Sommerset sendirian sambil ngemilin popcorn Garrett yang enaknya minta ampun (pesan yang kantong kecil aja teteep banyak amat isinya. Sampe malam baru habis!). Setelah puas di Orchard, langsung menuju Arab Street dan ke Masjid Sultan yang kece banget dan ke Haji Lane. Tujuan ke sana cuma foto-foto aja. Bukan foto diri sendiri ya, tapi foto pemandangan di sana aja. Habis itu lanjut ke Bugis mau beli titipan dan makan.

Apakah niat nggak belanja terlaksana? Nggak tuh. HAHAHA! Saya kalap beli Rubi Shoes dan belanja make up di Bugis. Monceeee, ini lengkap amat, sik! Sebenarnya nggak terlalu suka dandan, sih, tapi saya suka aja beli tapi habis itu jarang dipake. Hihihi. Oh, apalagi waktu itu lagi diskon pula. Yang nggak perlu jadi berasa perlu, deh. Hihihi.

Setelah puas membuat kaki rasanya mau patah, jam 7 malam saya balik lagi ke Orchard janjian sama teman-teman untuk makan malam. Kali ini makan Ayam Penyet Ria di Lucky Plaza (teteep lidahnya lokal). Sehabis makan dua teman saya balik ke hotel, sementara saya dan seorang teman lanjut ke MBS liat air terjun menari. Pulang ke hotel dengan sisa-sisa tenaga, salah naik MRT, dan kaki kebas. HAHAHA!

Hari kedua, kita bangun pagi untuk ke Tan Tock Seng Hospital. Rumah sakit ini kerjasama dengan kantor saya dan kita ke situ mau studi banding (macam anggota DPR, ya). Jadi mau liat prosedur dan cara mereka menangani pasien gimana, trus ngobrol dengan psikolognya juga. Suka banget sama sistem pelayanan kesehatan di Singapore yang serba teratur dan dapat banyak banget pelajaran dari situ. Semoga bisa diterapkan di sini, ya.

Selesai diskusi siang hari, saya dan teman langsung capcus ke Mustafa beli oleh-oleh. Kalaplah liat begitu banyak coklat. Yang ada semua langsung dimasukin ke keranjang. Niat nggak belanja gugur lagi. Hihihi.

Sorean kita balik ke hotel untuk beres-beres karena ternyata nambah bawaan. Lalu check out dan siap-siap pulang menuju Jakarta.

Singkat banget kan perjalanan ke sana. Tapi menyenangkan karena dapat satu hari liburan gratis. Hihihi. πŸ˜€

God's masterpiece

God’s masterpiece

Masjid Sultan di Arab Street

Masjid Sultan di Arab Street

Masih di Arab Street. Panasss mentereng!

Masih di Arab Street. Panasss mentereng!

Spot favorit

Spot favorit

 

 

 

Masuk Tipi

OH YA, ada lagi yang kelupaan diceritain.

Inget kan waktu itu saya cerita soal mau tampil di TV? Ternyata acaranya mulai lebih cepat jadi pas saya buka eh udah kelewatan. *nangis seember* Macam mana pulak ini padahal mau lihat muka sendiri di TV *iyeee, saya norak X))*

Padahal waktu itu udah ngumpulin massa untuk nonton saya di TV. Apa daya karena dari sananya ditayangin kecepatan maka nggak ada yang ngeliat. Onde mande, gagal maning!

Oleh karena itu, saya pun minta tayangannya ke Metro TV yang lama bener kayaknya direspon. Ya udah, maka dari itu tanyalah ke mbah Google. Tentu saja apa sih yang nggak bisa ditemukan di sana. Oleh karena itu saya persembahkan link ini:

http://www.metrotvnews.com/lifestyle/video/2013/02/20/913/171622/Anorexia-dan-Bulimia-Merupakan-Masalah-Kejiwaan

Dikarenakan saya gaptek parah, saya nggak tahu gimana download-nya, jadi cuma bisa kasih link aja. Hahaha. Nanti kalo udah bisa akan di-posting di sini, ya. πŸ˜€

 

Bunda Omi

Seminggu ini lagi sibuk banget. Lihat blog aja nggak sempat. Gilak, canggih ya kesibukannya *kemudian hidung memanjang*. Hihihi.

Beberapa hari lalu, seorang teman kirim foto ini:

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Ciyeeeh, masuk tabloid nih, ye! *tersipu-sipu malu*

Wawancara ini dilakukan udah beberapa minggu lalu oleh tabloid Femme. I had no idea when it would be published. Udah lupa juga malahan. πŸ˜€ Sebenarnya ini bukan pertama kali muncul di majalah, tapi ini pertama kalinya saya muncul disertai dengan foto *penting*. Tau gitu kasih foto dari studio foto kan, ya *lalu dikira mbak-mbak tahun 90an*.

Dulu, nulis di majalah karena saya jurnalisnya. Itu aja udah senang setengah mati setiap lihat nama saya ditulis di bawah artikel. Dulu sering disuruh menghubungi psikolog untuk menambahkan informasi di artikel yang saya tulis. Waktu itu saya mikir, ih pengen deh jadi psikolog yang jadi narasumber.

Lalu kemudian saat udah kerja dapat kesempatan dapat kesempatan lagi untuk nulis artikel tetap di tabloid Bintang Indonesia. Dikasih kesempatan gitu ya senang banget dong, apalagi ini sesuai dengan kapasitas saya yang udah jadi psikolog. Tapi… tapi… kan pengen ngerasain diwawancara gitu, lho *cita-cita cetek* XD

Pertama kali jadi psikolog narasumber di majalah Cleo yang terbit tahun lalu. Ternyata rasanya jadi narasumber dan namanya dicetak tebal di artikel itu bikin senang dan bangga banget. Hei, saya kelihatan pinter banget kayaknya. Ini toh rasanya jadi Bunda Romi? *kenapa Bunda Romi cobaaa?* Tapi di situ belum ada foto saya. Jadi ya cuma tampak nama aja. Sayangnya lagi, saking senangnya dibawa ke mana-mana deh majalah Cleo itu sehingga saya lupa di mana naronya. Gimana nih cita-cita pengen nunjukin ke anaknya kelak kalau mamanya pernah masuk majalah? *cita-cita kejauhan*

Nah, kali ini saya diwawancara oleh tabloid Femme. Mereka meminta saya untuk mengirimkan foto juga. Alamaaak, saya kurang punya foto yang bergaya profesional gini. Misalnya, kayak lagi duduk di meja kerja sambil tersenyum elegan gitu. Aduh, gawat! Ya udahlah ya, terpaksa kasih foto yang ada di laptop kantor yang sekiranya ukurannya besar. Yang penting nggak terlalu malu-maluin kalo ditaro.

Setelah itu, saya lupa deh pernah diwawancara sampai suatu ketika teman saya ngirimin foto saya di tabloid. Yihaaa, kesempatan jadi narasumber sebagai psikolog dan dengan foto tercapai *walau dengan foto kurang ciamik tapi udah keliatan unsur modelnya kan, ya? Siapa tau ada yang nawarin jadi model gitu?* *muntah kelabang*.

Oh ya, sampai sekarang bahkan saya nggak punya tabloidnya. Sedangkan mama saya langsung buru-buru ke tukang majalah dan beli tabloid saya serta menunjukkan ke mana-mana. Emang deh si mama penggemar nomor satuku. Hihihi *kemudian membuat fan base* XD.

Okeh, cita-cita selanjutnya, bagaimana kalo seterkenal Bunda Romi dan wara-wiri di TV mengomentari kelakuan artis di infotainment gitu? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Ketika Semesta Mendengar

Sore kemarin di saat saya libur dan sibuk memanjakan diri di salon, datanglah e-mail kantor ke BB saya. E-mailnya berisi bahwa besok ada syuting Metro TV yang meliput kegiatan terapi, salah satunya di bagian saya. Saya cuma baca sekilas. Perkiraan sih paling cuma disyuting diambil gambarnya aja, tanpa perlu ngomong. Kayak beberapa kali yang pernah dilakukan.

Pagi ini karena saya baru potong rambut (ehem, sekarang rambutnya agak pendek) dan efek blow masih keliatan jadi pake baju yang manis, deh. Pagi-pagi diisi dengan meeting mengenai eating disorders awarness, lanjut dengan online couse mengenai eating disorders. Oh ya, kantor saya emang sedang mengadakan eating disorders campaign, di mana gangguan ini semakin meningkat. Sejauh ini hari saya berjalan normal.

Sorenya Metro TV datang. Ternyata oh ternyata, dia mau syuting mengenai eating disorders campaign ini dan tentu fokusnya ada di bagian saya, dong. Mana hari itu teman saya lagi libur dan psikolog satu lagi udah pulang. Jadi semua ada di saya. Eng Ing Eng!

Syutingnya ternyata serius. Beneran meliput kegiatan terapi dan apa yang saya lakukan, lengkap dengan apa yang diomongin. Belum selesai sampai di situ, mereka meminta untuk mewawancara saya sendiri. Close up dan ngomongin eating disorders.

Yang biasanya nggak pernah syuting dan diwawancara langsung on TV, sekarang melakukan itu semua tanpa persiapan ya bikin deg-degan juga. Tangan dan kaki langsung dingin. Gugup banget! Buru-buru baca sekilas hasil online course saya. Berusaha ngapal secepat kilat.

Mereka pun meminta saya memasang clip on, briefing apa saja yang akan ditanyakan, dan men-syuting muka saya segede gaban (untung rambut udah oke karena baru dari salon. Hihi). Mengalirlah itu pertanyaan-pertanyaan seputar eating disorders. Sungguh aku deg-degan tapi harus berusaha cool dan santai sambil tetap senyum. Susyeeeh!

Dengan ini saya akan resmi tampil di TV dalam konteks saya sebagai psikolog. IHIIIIY! πŸ˜€

Jadi inget dari jaman kuliah dulu, saya selalu bilang, “Gue mau jadi terkenal, dong. Tampil di TV, majalah, tabloid.” Tapi dari dulu nggak mau jadi artis, mau jadinya psikolog aja. Biar kalo terkenal keliatannya pinter banget. Keliatan keren, kan? Hahahaha! Ini saya bilang ke semua orang sampe teman-teman saya menjuluki saya psikolog artis. Hihihi.

Untuk orang yang introvert dan pemalu kayak saya tampil di depan umum itu jadi salah satu hambatan. Writing suits me more. Bisa bikin karya tanpa harus tampil di depan umum. Pertama kali nama saya tercantum di majalah waktu saya kerja di majalah remaja. Nama saya tercantum sebagai jurnalis yang membuat artikel itu bikin bangga banget. :’) Ada sensasi luar biasa melihat nama sendiri di karya yang saya buat.

Setelah memutuskan untuk terjun sebagai psikolog, saya beberapa kali nulis artikel psikologi di tabloid dan jadi narasumber di majalah. Itu bangganya berlebih-lebih lagi karena saya nulis mengenai keahlian saya.

Nah, sekarang tiba-tiba syuting dan diwawancara mengenai bidang saya, saya pun langsung teringat ucapan saya beberapa tahun lalu itu. I guess the universe heard it. Masih panjang sih jalannya, tapi sudah selangkah lebih maju, kan? Kali ini saya berhasil ngalahin kegugupan dan ketakutan saya tampil di muka umum. Nggak mungkin kan terkenal tapi nggak keliatan mukanya. I conquer my fear. πŸ˜€

Terima kasih, alam semesta. Terima kasih, Tuhan. πŸ™‚

Maaaak, aye masuk tipi, nih!

PS: tayangannya akan ada di Metro TV hari Rabu, 20 Februari 2013 jam 14.00 WIB.

Kartu Nama

Akhirnyaaa setelah sekian lama, punya juga kartu nama sendiri. Dari dulu udah pengen bikin kartu nama, sih. Tapi ya gitu deh, selalu berakhir tar sok tar sok, alias ditunda mulu.

Awal tahun ini punya kesempatan untuk praktek pribadi lebih banyak lagi jadi sudah waktunya nggak boleh menunda lagi.

Namanya juga pekerja kantoran, buat ke sana- ke mari udah sulit lah, ya. Berdasarkan review beberapa teman, mereka bikin kartu nama di http://www.kartunama.net. Saya pun mencoba buat di sana.

Maunya sih desain sendiri tapi si suami yang jago desain lagi sibuk banget jadi nggak sempat bikinin *merengek*. Untungnya ada banyak desain gratis di http://www.kartunama.net yang bisa dipilih. Setelah pilih desain, pilih jenis kertasnya apa, masukin info di dalam kartu namanya. Mereka akan buatin draft-nya, ditunjukin ke kita, kalau ada yang perlu direvisi bisa langsung diperbaiki. Setelah confirm semuanya langsung deh besoknya dicetak dan dikirim. Cepat dan tepat banget, deh.

Hasilnya pun memuaskan banget.

So, here it comes my first name card:

 

IMG02309-20130130-0925