My Pop Art Living Room

Saya lagi senang-senangnya mendekor rumah. Setelah sebelumnya sempat males-malesan ngisi rumah dikarenakan bingung temanya apa. Sempat pengen minimalis, shabby chick, all white, dsb. Labil! Pengen yang sesuai dengan karakter kita berdua, tapi apa, dong? Sampai akhirnya kebanyakan mau dan lupa.

Nah, bulan lalu tanpa sengaja ngeliat desain interior rumah orang yang colorful banget. Langsung jatuh cinta! Akhirnya kepikiran… kenapa temanya nggak pop art aja. It’s colorful, bright, and cheerful! Saya banget! *melirik suami yang sebenarnya lebih ke adem ayem*. Yang paling penting adalah kayaknya gampang diaplikasikan ke rumah. Yeay!

Desain rumah pop art itu contohnya kayak gini:

gozetta.com

2.bp.blogspot.com

amazinginteriordesign.com

Jadi konsepnya adalah warna-warna terang yang bold dicampur jadi satu dan ditabrakin aja. Yah, kira-kira saya sih nangkepnya begitu.

Sebenarnya ruang keluarga saya cuma ada 2 sofa berwarna coklat tua terbuat dari kulit lungsuran dari orang tua. Oh, it’s boring! Kesannya tua. Tapi ya nama pun lungsuran dan kondisinya masih bagus banget, siapa sih yang nolak. Nanti juga bisa diganti bahan sofanya, kan. Tapi setelah dihitung-hitung, ganti bahan itu sama mahalnya dengan beli baru. Ish! Ditunda mulu deh jadinya. Sampai akhirnya pas lagi belanja di supermarket dekat rumah saya, di bawahnya ada toko sofa dan langsung kepincut sama satu sofa paling menonjol di situ: sofa merah! Merah itu kesukaan saya.

Tentu saja nggak langsung beli. Masih kepikiran buat ganti bahan sofa aja. Tapi tiap belanja lewat situ, makin kepikiran, makin sering saya omongin, bolak-balik cuma mandangin sofa itu aja. Ini mah namanya jatuh cinta banget!

Sampai akhirnya saya menyerah pada sofa itu dan membujuk suami agar membolehkan beli sofa. Suami tentu saja mengabulkan *kecup* dan hanya menanyakan apa kabar itu mau ganti bahan sofa. Err, labil! Tentu saja saya langsung tanya mbah google dan liat kira-kira bagaimana bentukan sofa merah itu ditempatkan bersama sofa coklat tua. Setelah dicari-cari, ah ternyata banyak yang seperti itu di google. Kurang yakin, bertanyalah saya ke emak yang mana mengamini bahwa pasti akan masuk aja. Sip! Bungkus!

Oh ya, saking sayangnya sama sofa merah ini, saya suka marahin kalo suami tiduran di sini dengan kaki belum dicuci. Nanti kotor, kan! *lebih sayang sofa* *dikutuk*

Setelah sofa, yang diperlukan lainnya adalah lukisan pop art. Liat di Ace Hardware dan Informa ternyata lukisan itu mahal ya. Nggak rela! Sebagai istri bijaksana, akhirnya saya punya akal. Download gambar di google yang ukurannya besar, pergi ke Benhil untuk dicetak ukuran A1, lalu di-frame. Tadaaaa! Lukisan ciamik ukuran besar dengan harga kurang dari Rp 200.000! *ketawa bahagia*

PR selanjutnya adalah ruang tamu kecil yang masih kosong. Awalnya belum niat untuk beli sofa ruang tamu karena biasanya langsung pada duduk di ruang keluarga. Suatu hari lagi lewat toko sofa di ITC, nggak niat beli, cuma nanya aja. Eh, pas ditanya harganya masuk budget. Trus langsung ditawar makin happy aja. Setelah deal harga, langsung pilih motif. Mata langsung tertarik sama warna fushia. Iyes, warnanya ngejreng banget. Hihihi.

Harusnya udah beres ya. Tapiii… ada sofa baru berarti mata jelalatan sama printilannya (yang nggak penting amat), yaitu 1) vas bunga; 2) frame foto; 3) karpet. *suami geleng-geleng kepala*

Untuk frame foto mah gampang tinggal beli di gramedia yang modelnya minimalis. Vas bunga juga pengennya minimalis. Jadi, waktu itu suami dikasih cake in a jar 2 buah. Setelah habis, eh kayaknya ini bisa dipake lagi. Dibersihin, dikasih air, dan dikasih bunga artificial yang kebetulan udah banyak di rumah. Jar-nya tinggal dililit pita yang kebetulan juga udah punya. Istrinya siapa sih ini yang bijaksana hematnya? *lalu hening*.

Untuk karpet sendiri pengen beli yang lagi ngetren sekarang: karpet chendile atau karpet cendol. Bentuknya kayak gini:

dinomarket.com

Sebelum beli, cek dulu ke mall. Harganya dahsyat ya bok! Ada yang sejutaan. Fiuh! *lap ketek*. Akhirnya browsing ke online shop yang mana harganya lebih manusiawi, Rp 600.000. Ada teman yang bilang, beli aja di Tanah Abang karena banyak toko karpet dan lebih murah.

Berbekal niat pengen dapet yang murah (emak-emak nggak mau rugi), saya pun ke Tanah Abang. Huwoww, bangganya akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Abang karena nggak pernah sebelumnya *warga Jakarta macam apa*. Saya parkir di Blok B, langsung masuk ke pertokoannya. Di sana dijual karpet serupa seharga Rp 450.000 nggak mau turun. Hih! Akhirnya saya keluar ke toko di pinggir jalannya yang mana disinyalir lebih murah. Benar aja, saya dapat karpet seharga Rp 380.000! *loncat kegirangan*. Lain kali mau ke Tanah Abang lagi, ah. Beneran udah nggak macet dan lebih teratur, lho.

Jadi ini rumah pop art versi saya (belum jadi semuanya juga, sih). Hahaha.

Ruang tamu fuschia. Bunganya handmade, vas-nya dari jar bekas cake.

Ruang tamu fuschia. Bunganya handmade, vas-nya dari jar bekas cake.

Sofa merah kesayangan dan sofa coklat tua lungsuran. Di atasnya ada foto-foto colorful.

Sofa merah kesayangan dan sofa coklat tua lungsuran. Di atasnya ada foto-foto colorful.

Masih banyak yang pengen ditambahin, seperti lukisan, hiasan, dll supaya pop art-nya benar-benar kelihatan. Tapi nanti nunggu ilham dulu, ya. Hihihi. Tema pop art ini cuma berlaku di ruang tamu dan ruang keluarga. Kalo di dapur temanya beda lagi, hitam-putih. Ini diceritain lain kali, ya.

Kesimpulannya adalah…. kalo mau menekan biaya, pergunakanlah barang-barang yang udah ada dan dikreasikan lagi. Hasilnya jadi ciamik!

See you!

Advertisements

Libur Leyeh-Leyeh

Sebelum mulai, mau mengucapkan:

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf ya kalau ada postingan yang kurang berkenan, kata-kata yang menyinggung, atau niat-niat yang nggak baik.

Okeh lanjut.

Tahun ini, saya dapat 8 hari libur. Asik banget, deh. Tapi sayangnya si suami cuma libur 4 hari aja *puk-puk suami*. Oleh karena itu, liburan kali ini nggak bakal ke mana-mana karena males capek macet-macetan di luar kota. Cuma pengen menikmati lenggangnya kota Jakarta. Kapan lagi ke mana-mana cuma butuh 30 menit aja. #terharu :’)

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan selama liburan ini (yah, kecuali makan, tidur, leyeh-leyeh, makan lagi, tidur lagi).

Main sama Mika
Akhirnya udah satu bulan Mika ada di rumah dan dia sungguh bertambah besar. Ternyata anjing itu cepat banget ya gedenya. Kita sih nggak terlalu nyadar karena lihat dia setiap hari, tapi kalau jarang lihat dia pasti komennya, “Ya ampun, kok udah besar?”.

Yang kita nyadar adalah dulu perutnya buncit karena kebanyakan makan, kalau sekarang larinya ke tambah panjang dan tinggi. Dia udah Β mulai ngerti rutinitasnya. Tiap pagi kalau bangun, saya langsung kasih dia makan. Jadi, kalau dia udah dengar kita buka pintu kamar, dia udah siap-siap duduk di depan pintu. Kalau kita lama keluarnya, dia akan gonggong nyuruh kita keluar. Oleh karena itu, saya suka keluarnya lama, ngintipin dia dari jendela, ngeliatin mukanya yang mupeng nungguin kita. Hihihihi, lucuuu!

Karena giginya lagi mau numbuh, dia suka gigitin apa pun, termasuk kaki kita. Grrr! Nggak bermaksud gigit beneran, cuma diemut aja, tapi kan kalau kena taringnya ya lumayan ngagetin juga.

Karena dia makin besar, jadi sekarang tenaganya juga makin kuat. Kalau digendong padahal dia pengen main, dia berontak makin kencang. Susah bok buat nahannya. Belum lagi kalau dimasukin ke kandang, udah nggak bisa selonjoran lagi karena badannya udah panjang. Maka dari itu, dia dilepas aja di halaman…. dengan resiko tanaman ancur semua dia makanin. #elusdada

Kalau siang panas, biasanya Mika suka ngumpet di bawah mobil. Mungkin karena bulunya tebal, dia jadi nggak tahan sama cuaca panas. Dia juga jadi kurang bersemangat kalau cuaca panas. Tapi kalau udah mulai sore, dia langsung keluar dari persembunyian dan lari-lari kayak kebanyakan tenaga. Kalau pintu rumah kebuka, dia langsung ngibrit ke kamar saya. Kayaknya dia tahu deh itu satu-satunya ruangan yang ada AC. Udah pastilah kalau di dalam kamar, dia geratakin apa yang saya pegang. Jadinya saya tiduran aja diem biar dia nggak geratakan. Biasanya dia bakal anteng main sama mainannya.

Daripada banyak cerita, ini dikasih lihat foto-fotonya aja, ya.

Tiduran habis kecapekan lari pagi

Tiduran habis kecapekan lari pagi

Muka memelas nunggu makanan *cubit*

Muka memelas nunggu makanan *cubit*

Aku punya baju baru, loh.

Aku punya baju baru, loh.

Mainan favorit Mika yang mengeluarkan bunyi selayaknya tukang roti keliling.

Mainan favorit Mika yang mengeluarkan bunyi selayaknya tukang roti keliling.

Kalau mau makan, harus duduk rapi dulu

Kalau mau makan, harus duduk rapi dulu

Little brother birthday dinner
Hari Minggu, 11 Agustus 2013, kita sekeluarga makan malam di Seribu Rasa untuk ngerayain ulang tahunnya si adik terkecil. Restorannya bagus, agak remang-remang (pengen bikin kesan romantis kali ya, tapi kan gelap, mak!). Makanannya makanan Indonesia yang porsinya dikit. Untuk rasa sih yah dengan harga semahal itu, ekspektasinya tinggi dong, tapi ternyata biasa aja. Buat saya sih bumbunya kurang nendang.

Kali ini si adik yang ulang tahun, tapi saya kebagian dapat hadiah, lho. Hadiah ulang tahun yang telat tepatnya. Hihihi. Saya dapat catokan baru. HOREEE! Catokan saya yang lama kan satu sisinya udah nggak berfungsi lagi karena jatuh jadi kurang panas, deh. Saya kan nggak bisa hidup tanpa catokan. Rambut boleh deh nggak dicatok, tapi poni wajib hukumnya. Hari saya bisa berantakan kalau poni nggak cetar membahana #DUARR!

Full team

Full team

Nge-ramen
Menurut rekomendasi banyak orang, ramen paling enak di Jakarta adalah Hakata Ikkousha. Dulu cuma ada di Gading aja. Jauh banget, deh. Nah, kebetulan waktu itu jenguk teman yang baru melahirkan di Gading jadi sekalian mau makan Ikkousha. Apa mau dikata, sepanjang jalan Boulevard pada tutup, termasuk Ikkousha ini. Kuciwa akuuh!

Untungnya setelah dicek ricek, Ikkousha baru buka di mall Taman Anggrek. Sebagai anak barat ya senanglah bukanya dekat rumah gini. Langsung deh ngajak Neng Melvi, si teman setia untuk ngeramen, ke sana. Kali ini udah lihat dulu kapan dia bukanya jadi nggak kecewa lagi.

Penampakannya kayak gini:

Ramen Ayam Special Tam-Tam

Ramen Ayam Special Tam-Tam

Saya pesan ramen ayam spesial tam-tam. Apakah tam-tam itu? Kurang jelas juga, sih, tapi menurut mbaknya kalau tam-tam rasanya sedikit pedas. Jadi favoritnya orang-orang. Okeh, mari kita coba!

Begitu disajikan, hmm.. kok kelihatan dari kuahnya kurang kental kayak di Ikkudo, ya. Kuah ramen Ikkousha emang nggak encer, tapi kekentalannya kurang sehingga rasanya kurang nendang. Secara rasa, tekstur, bumbu, masih lebih enakan ramen Ikkudo. Kalau ramen Ikkousha setaralah sama rasanya ramen Marutama. Tapi tentu saja jauh di atas ramen Sanpachi yang di mall (ramen Sanpachi di Melawai masih bisa dibilang enak). Iyak, saya suka banget cobain ramen.

Jadi apakah saya mau balik lagi ke Ikkousha? Hm, kalau nggak ada pilihan lain sih bolehlah, tapi secara ramen Ikkudo lebih dekat rumah dan lebih enak, jadi pastinya akan makan ramen Ikkudo aja, sih.

Dari soal harga, ramen Ikkodu berkisar Rp 45.000, sementara ramen Ikkousha paling murah Rp 55.000. Gilak, beda Rp 10.000 dengan rasa yang jauh beda. Ish, ramen Ikkudo, aku cinta padamu banget, deh.

Oh ya, di Ikkousha MTA, makanannya tidak mengandung babi, ya.

Tour de malls
Tentu saja yang dilakukan saat jalanan Jakarta bersahabat adalah keliling mall dan lihatin diskon lah. Hati paling berbunga-bunga waktu nggak sengaja mampir ke Ace Hardware dan lagi diskon. Emang ya, kalau Ace Hardware diskon harganya bisa miring banget. Sukses deh, suami belanja, istri apalagi. Akhirnya beli kursi rotan dan meja untuk teras depan dengan harga miring. Belum lagi, saya beli sarung bantal sofa yang diskon 50%. Pas bayar di kasir, ternyata diskonnya 70% sehingga harga per sarung bantal adalah RP 20.000 saja! *pingsan bahagia* :’)

Masak
Setelah sekian lama nggak masak, kerjaannya cuma masak nasi aja, dikarenakan libur lebaran dan banyak tempat makan tutup, akhirnya selama liburan kerjaan saya adalah masak. Yah, jenis masakan sih belum berkembang, masih seputaran tumis-tumisan dan nasi goreng, tapi lumayanlah soalnya suami bilang enak (mungkin pujian karena kasian istrinya udah capek masak. Hihihi). Setelah kembali masak kemudian menyadari, ya emang saya nggak suka masak, ya. Nggak senang eksplor dapur atau masakan baru. Kalau masak pun nggak excited, ya biasa aja. Hihihi.

Liburan kali ini nggak banyak pergi, tapi dapet banget istirahatnya. Begitu masuk kantor beneran fresh dan nggak capek. Senang banget! Semoga yang lain liburannya menyenangkan, ya. πŸ˜€

 

 

 

 

 

 

 

Imlek Tahun Ini

Gong Xi Fa Cai! Semoga tahun ular air ini membawa rejeki yang melimpah-limpah. Menurut bisik-bisik tetangga sih shio kerbau cocok sama ular. Jadi tahun ini bakal beruntung terus. Horee! *komat-kamit berdoa*

Gong xi! Gong Xi!

Gong xi! Gong Xi!

Apa yang dilakukan selama Imlek ini? Saya nggak merayakan, tapi karena sering disangka Cina jadi mari menghayatinya dengan baik. Karena mata saya sipit, kulit juga nggak item-item banget dari kecil sampe sekarang sering banget dikira Cina. Waktu sekolah juga sekolah di tempat yang mayoritas Cina jadi disangka ikut merayakan dan selalu ditanya, “Dapet ang pao berapa kemarin?”. Secara nggak merayakan tapi anaknya takut jadi minoritas *cupu* jadi suka ngarang bebas soal ang pao yang didapaet. Yes, saya pura-pura aja jadi Cina. *kekep KTP* πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Imlek tahun ini yang saya kerjakan pagi-pagi adalah beberes rumah: nyapu, ngepel, dan cuci baju. Beda sama apartemen yang cilik dan gampang banget bersihinnya, kali ini udah kayak olahraga deh nyelesein semuanya. Oh ya, tapi harusnya nggak boleh bersihin rumah ya kalo Imlek. Tapi ya saya kan Cina gadungan jadi yang ini boleh dong, ya. πŸ˜‰

Selesai bersihin rumah saya leyeh-leyeh sambil nonton TV di ruang tamu. Suami lagi pergi untuk beli mie bangka. Kata orang Cina harus makan mie biar rejekinya nggak putus-putus jadi diikuti aja dong *padahal emang pengen makan mie*. Sayang seribu sayang, mie bangka favorit saya itu tutup. Ya iyalah ya, mereka kan pasti merayakan imlek. Huiks! Terpaksa deh makan mie ayam lain yang nggak seenak mie bangka itu tapi yah lumayanlah daripada lu manyun #jokejadul XD

Maafkan kakiku yang tampak kurang oke

Maafkan kakiku yang tampak kurang oke

Kamar tidur yang baru dirapihin

Kamar tidur yang baru dirapihin

Setelah makan, kita pun siap-siap untuk arisan keluarga. Oh yes, apa lagi yang dikerjakan setelah menikah kalo nggak dari satu arisan ke arisan lainnya. Tempat arisannya di Tangerang. Jauh banget dan macet pula! Akhirnya baru sampe setelah 2 jam perjalanan. Berasa perjalanan ke Bandung ini mah.

Baru selesai arisan jam 7 malam. Tentunya kurang klop ya kalo pulangnya juga nggak macet. Tentu saja macet dan memakan waktu 1,5 jam. Sampe rumah langsung beli nasi goreng tek-tek sambil nonton Glenn Fredly di TV. Menyenangkan!

Selamat Imlek, kawan-kawan! *sebar ang pao virtual*

 

 

 

Godaan Ace Hardware

Minggu kemarin suami lagi cari pembersih sepatu suede untuk sepatunya. Setelah ditanya-tanya, ternyata ada di Ace Hardware. Sebelum ke Ace Hardware, kita mampir dulu ke Carrefour. Biasalah belanja keperluan rumah (yang mana sebenernya nggak urgent juga, seperti gantungan baju, es-krim, printilan-printilan kecil yang kalau nggak dibeli juga nggak papa, tapi hati lebih senang kalau dibeli, sih *dipelototin*).

Istri udah puas dong belanja keperluan rumah tangga di Carrefour. Setelah itu, kita pergi ke Ace Hardware mencari pembersih sepatu si suami. Suami mencari ke rak tujuannya, sementara saya lihat-lihat di rak yang lain. I tell you, lihat-lihat itu palsu banget karena pasti ada barang yang nyangkut.

Baru aja mampir ke satu rak, lihat bunga plastik untuk aksesoris eh langsung deh niat beli. Tiba-tiba udah ambil keranjang dan masukin 3 buah bunga plastik ke dalam keranjang. Ditambah satu buah tempat sikat gigi. Hampir aja beli keset kamar mandi anti-slip yang untungnya nggak jadi karena warna yang dipengenin lagi nggak ada. Sementara si suami beneran konsisten sama niatnya yang cuma beli pembersih sepatu aja.

Pas bayar, kok ya belanjaan saya jadi lebih banyak dan tak terencana gini? Huhuhu (tapi dalam hati senang, sih).

Maka dari itu, jauhkanlah kami dari godaan Ace Hardware. Amin! *kubur dompet dalam-dalam*

Balada PAM

Bagaimana kabar pindahannya? Udah beres, kok. Barang-barang udah dipindahin, cuma orangnya aja yang belum pindah. Masih stay di rumah emak. Emang apa lagi yang ditunggu? Tinggal nunggu orang PAM datang karena air di sana masih bercampur air tanah yang kurang bersih.

Kita udah nelepon dari seminggu yang lalu untuk lapor dan minta orang PAM datang ngecek. Mereka bilang datangnya besok, besok, besok, tapi udah seminggu belum datang juga. Bikin pindahan terhambat banget kan? Soalnya nggak mungkin tinggal kalau airnya nggak bersih. Entar nggak bisa mandi, dong. 😦 😦

Setelah seminggu teknisi PAM nggak datang, saya pun nelepon. Awalnya mereka bilang di daerah situ ada galian pipa PAM jadi kemungkinan airnya kotor. Pas saya tanya di mana, soalnya sepanjang mata memandang kayaknya lagi nggak ada galian PAM di sini. Waktu dia sebutin nama daerahnya, yaelah Mbak’e itu berkilo-kilometer jauhnya. Udah nggak satu kelurahan pula. Masa ya tercemar semua. Setelah sayaΒ  bilang jauh, baru deh dia cek lagi dan bilang beda area. Tapi mereka tetap nggak bisa memastikan kapan teknisinya datang karena komunikasi dari pusat ke Jakarta Barat cuma bisa satu arah. Mereka akan buatkan laporan, kirim ke Jakarta Barat, nanti teknisi PAM yang akan buatkan konfirmasi.

RIBET CING!

–___________________–*

Dengan begitu sampai tahun kuda juga si teknisi ini nggak jelas kapan munculnya. Kepending lagi deh ini pindahannya.

Setelah berkeluh-kesah sama bokap soal ini, eh dia malah bilang, lah itu ada orang gereja yang kerja di PAM, tinggal bilang dia aja. Bokap langsung telepon dan dia bilang teknisi akan datang pas hari Senin (waktu itu nelepon hari Minggu). Gilaaa, canggih cing! Emang ya kalau di Indonesia ini patut punya koneksi biar apa-apa cepat.

Pas hari Senin, si teknisi beneran datang, meriksa kondisi air rumah yang ternyata udah tercampur air tanah jadi nggak bersih. Dia langsung keluarin alat penyaring dan langsung deh itu airnya bersih dan mengucur dengan deras. BERES! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Maka dari itu semua masalah sudah terselesaikan. Yuk, sekarang tinggal angkat badan dan pindah aja. πŸ˜€

Akibat Renovasi Rumah

HALOOOO!

*muncul dari balik semak-semak*

Udah semingguan ini saya dan suami macam mandor bangunan ngawasin renovasi rumah. Seperti keluhan orang-orang lainnya, tukang itu kalo nggak ditungguin ya lambat ngerjainnya atau bahkan nggak dikerjain sama sekali. HIH! *sebar mantra* Jadilah tiap hari pulang kantor, bolak-balik liat rumah, ke toko bangunan, ngurusin surat pindah dari apartemen, ngeliatin apa yang masih perlu diperbaiki, dan segudang to-do list lainnya.

Setelah melakukan renovasi rumah baru deh sadar kalau yang mahal tuh bukan keramik, semen, atau hal-hal besar lainnya, tapi printilannya itu. Selalu berasa ada yang perlu ditambahin, ada yang perlu dikurangin, ada yang masih perlu diperbaiki. Gitu aja terus, sampe rasanya pengen bongkar aja semua bangunannya *kemudian kere* πŸ˜€ πŸ˜€

Kamis kemarin, dengan bantuin si Mama dan mbak saya dan suami pun seharian ngurusin pindahan. Suami ngangkut barang-barang dari apartemen, sementara saya, Mama, mbak, dan tukang bersihin dan rapihin rumah. Total seharian kita ada di situ dan rasanya kepala mau meledak karena…. kok masih ada yang harus diberesin dan diperbaikin, sih? Makin malam makin nggak nafsu makan pula, sementara tenaga udah habis. Walaupun sebenarnya rumahnya udah keliatan bentuknya. Udah rapi dan cuma tinggal sedikit yang perlu diperbaiki. Tapi yah…. aku maunya sekejap langsung rapi *ditembak marinir*.

Ngerasain capek dan ribetnya pindahan: udah. Yang bikin tambah maknyus adalah…. beberapa hari ini kurang tidur. Udahlah yah, paling nggak tahan namanya kurang tidur, pasti langsung cranky. Lalu suami pun berulah:

Suami: “Kamu jangan ngomel-ngomel, dong. Aku kan juga capek.”

Me: “Yah gimana nggak ngomel-ngomel kan belum pada beres gini.” dengan nada tinggi.

Suami: “Iya, nanti kan juga beres.”

Me: “Tapi kan semua aku yang urusin, aku yang pikirin. Trus kurang tidur lagi. Capek tau!”

Waktu itu lagi di mobil mau nganterin makanan ke rumah bonyok. Nah, karena si cranky kurang tidur ini bukannya disayang-sayang tapi disalahin, maka naiklah amarah sampe ke ubun-ubun. Trus ngambek, deh dengan turun dari mobil dan menyatakan perang dingin. *jait mulut nggak mau ngomong*

Di rumah udah diam seribu bahasa. Pas disuruh makan, mau sih makan (maklum yee perut nggak bisa boong *teteep rakus*) tapi tetap diam. Si emak nasehatin dong nggak boleh ngambek gitu. Eh, dasar drama queen, tiba-tiba aja dong saya mewek. Saking capeknya karena nggak bisa tidur berhari-hari akhirnya mewek juga. Keluar juga deh tuh emosi. Si suami sampe bengong karena kaget, ada juga orang yang kurang tidur jadi malah nangis. πŸ˜€ πŸ˜€

Setelah adegan nangis, udah deh langsung plong hati. Rasanya beban seribu candi udah keangkat.

Hari Jumat, saya dan suami bangun dengan badan kayak habis ditonjok sama Hulk. Pegal benar, mak! Tapi ya mau nggak mau harus masuk juga. Pas mau nyalain mobil, eh nggak bisa. Aki-nya rusak ternyata. Padahal waktu itu kita udah telat. Akhirnya dipanggil tukang aki dari Shop & Drive. Tapi kita udah terlanjur telat, lalu kemudian saya ngomong, “Apa pertanda nggak masuk, nih?” Ealaaah, disambut sama suami dengan iya. Ya udah kita mutusin buat nggak masuk kerja dan kembali tidur karena tepar. Beneran tidur sampai siang banget.

Setelah badan dirasa segar dikit, langsung kita kembali melihat proyek rumah. Ngawasin si tukang, belanja ke Carrefour, beli rak piring, dan kembali ke rumah lagi untuk ngawasin tukang sampah. Tetap aja baliknya malam-malam juga. *fiuh*

Hari Sabtu si suami udah mulai nggak enak badan, tapi tetap masih ngurusin beres-beres rumah. Dia ngangkutin baju-baju, sementara saya ngawasin tukang dan rapihin dapur yang kayak kapal pecah. Sorenya si suami datang, ternyata badannya udah demam dan dia bolak-balik masuk WC karena diare. Ternyata dia sakit saking capeknya. 😦

Ya udah deh, niat ke Ace Hardware pun gagal. Kita pun balik ke rumah emak dan delivery makanan aja. Udah dikasih paracetamol untuk nurunin demamnya tapi nggak turun juga. Diajak ke dokter tapi dia nggak mau. Maunya dipanggil tukang urut. Ya udah deh, dia mah sukanya back to basic banget, alias cara tradisional.

Hasilnya adalah dia masuk angin parah. Badannya pas dikerok merah banget. Sampe liatnya aja serem.

monsteeer! *dikeplak suami*

monsteeer! *dikeplak suami*

Ya udah deh ya, emang waktunya istirahat setelah seminggu ini kayaknya badan diajak kerja keras mulu. Oh ya, RUMAHNYA UDAH SELESAIIII! *tiup terompet* Eh, cuma masih belum bisa pindah, sih, karena air PAM belum jalan jadi airnya masih agak kotor. Hiiii! Tapi akhirnya senang juga karena semua udah beres dan selesai dengan baik.

Semoga rumah ini membawa kebahagiaan buat kita berdua, ya. AMINNN!

 

Penampakan Si Closet

Apa kabarnya dunia perenovasian?

Pusing, Mak!

Acara pindah-pindahan ini berbarengan dengan proyek dan tugas-tugas kantor yang menggila. Kalau biasanya saya masih sempat nengok teman di lantai bawah, saya bahkan sekarang nggak sempat keluar ruangan *jambak rambut*. Napas aja kayaknya susah, deh.

Tiap hari pulang malam karena ngejar proyek yang udah dekat deadline-nya, plus setelah pulang kantor harus mantengin renovasi rumah. Telat makan udah jadi makanan sehari-hari. Kurang tidur mah udah bukan hal baru. Badan berasanya mau rontok.

Gimana ini program punya bayinya? *mewek*

Oke sudahi dulu curcolnya. Sekarang kembali ke perenovasian ini. Kamar mandi udah jadi, tinggal dibersihin aja (yang mana tukangnya udah dibilangin berkali-kali tapi karena nggak ditungguin jadi nggak dikerjain *tembak bedil*). Wallpaper di kamar baru aja dipasang, masih belum bisa dipegang. Gorden harusnya udah dipasang tapi belum dipasang juga. Tukang PAM belum datang padahal udah dipanggil. HYUK!

Tapi hati ini sedikit terobati karena kamar mandi kesayanganku mulai berbentuk dan rasanya bakal betah di sana. Ini sedikit contekan kamar mandinya:

Permata hatiku :')

Permata hatiku :’)

Ini bagian closet kering. Impian punya closet kering akhirnya bisa terwujud juga. Sebelah kirinya adalah bagian basah tempat shower, tapi belum diupload fotonya karena fotonya blur. Nanti diupload lagi, ya. πŸ˜€

Closet mate itu adalah karpet yang udah dicari-cari ke beberapa Ace Hardware demi mendapatkan motif yang sesuai dan nggak rame. Di bagian ujung itu adalah tempat baju kotor dari bambu yang bermotifkan bunga kecil. Juga beli di Ace Hardware. Satu hal yang mutlak keduanya membuat dompet menipis. Hihihi! *pasang koyo di kepala*

Tapi kepuasan hati nggak bisa dibandingkan dengan uang, kan? #rasionalisasi #supayahatiadem

Kalau lihat foto itu jadi inget, BELUM BELI TOILET PAPER! *toyor diri sendiri* *ngesot ke alfamart*

Semoga renovasi ini cepat selesai dan bisa kelar minggu ini, ya. I need a total rest. *panggil tukang pijit*

Pindahan

Minggu pagi kemarin saya dan suami bisa bangun lumayan siang, jam 8 pagi. Setelah Sabtu kemarin sibuk beresin renovasi rumah, pagi ini bisa agak santai itu menyenangkan hati. Mulai deh merencanakan makan pagi apa kita. Makan bakmie bangka, roti bakar di Bangi Kopitiam, atau apa ya? Setelah dapat mau makan apa, kami pun masih tidur-tiduran menikmati hari Minggu.

Sekitar jam 10-an dapat telepon dari mertua bahwa truk dari meubel bisa nganterin tempat tidur dkk ke rumah jadi mending sekalian aja pake truknya untuk pindahan.

JENG JENG!

Maka hilanglah semua rencana leyeh-leyeh dan makan pagi di tempat yang enak. Yang ada kami pun harus grabak-grubuk mempersiapkan pindahan. Harus ke building management apartemen yang ternyata hari Minggu tutup dan melarang adanya pindahan sebelum dapat tanda tangan pengelola. YAKS! Akhirnya terpaksa membujuk-bujuk teknisi agar lift barang dibukakan dan untungnya berhasil.

Sementara suami berurusan dengan pengelola, saya sibuk packing. Masya ampun, banyak juga yang harus di-packing padahal berasanya sengaja nggak beli banyak barang dulu sebelum pindahan, deh. Apartemen cilik itu pun kayak kapal pecah.

Hamburkan saja barangnya biar berantakan

Hamburkan saja barangnya biar berantakan

Barang-barang besar seperti tempat tidur, lemari, dan kulkas dibawa oleh truk. Sebagian lagi yang kecil-kecil dibawa pake mobil. Itu pun belum bisa semuanya langsung masuk.

Setelah menaruh lemari, kulkas, dan tempat tidur di rumah. Truk dibawa ke rumah mama untuk mengambil sofa, meja, dan barang pecah belah lainnya. Kemudian dianterin ke rumah lagi. Bolak-balik aja gitu terus.

Baru sadar kalau tempat tidur yang baru udah ada, tapi ternyata spring bed-nya belum ada. Akhirnya malam itu pun juga langsung beli spring bed. Kelar beli spring bed, masih harus ke apartemen lagi untuk ambil koper-koper berisikan baju. Kemudian masih harus balik ke rumah lagi untuk nganterin colokan karena kabel kulkasnya nggak sampe ke tempat colokan. Gimana nasih daging-daging ekeeh? *teteep makanan yang dipikirin*

Baru selesai jam 10 malam. Itu pun masih ada beberapa barang di apartemen yang belum dipindahin, seperti AC karena teknisinya tadi nggak ada. Lalu masih ada kompor, TV, endesbrei-endesbrei. Rumah pun masih berantakan karena barang-barang ditaroh gitu aja. TukangnyaΒ  masih harus nyelesein beberapa hal dulu. Cepat atuh, Pak!

Pokoknya cuapek pol! Bahkan saking sibuknya, si suami pun nggak sempat mandi seharian.

Karena rumah belum beres sepenuhnya dan apartemen udah berantakan, maka marilah menginap dulu di rumah mertua sebelum pindahan tahap 2, yaitu Kamis nanti dilakukan.

Mak, cepetanlah ini selesai, ya. Pengen bisa bangun siang di weekend lagi, nih. *teteep loh tidur yang dipikirin* πŸ˜€ πŸ˜€

 

I’m Obsessed To Bathroom

Like super obsessed!

Akhirnya kamar mandi di dalam kamar saya mulai terlihat juga bentuknya dan saya langsung…. jatuh cinta. Awww! Keramiknya udah jadi, udah ada shower, closet, kaca, dan lain sebagainya.

Dari seluruh ruangan yang di renovasi, mungkin saya paling rempong dengan kamar mandi ini (padahal di rumah itu ada 2 kamar mandi lainnya dan dicuekin. Hihihi). Setiap ke toko material, bawaannya ke perlengkapan kamar mandi. Misalnya seperti beli shower curtain (yang membuat mertua bertanya: “Kalian kan cuma berdua kenapa kamar mandinya perlu ditutupi?” Padahal maksudnya memisahkan kamar mandi basah dan kamar mandi kering. Hihihi). Ya, saya emang sengaja pengen bikin kamar mandinya lumayan kering. Kenapa masih lumayan? Karena masih ada bagian basah untuk mandi. Sementara bagian lainnya untuk… baca-baca kalo lagi pengen nongkrong di kamar mandi. Hahahaha, penting banget kayaknya. Yah, nama pun cita-cita. Kalo bisa sih di sana jadi tempat baca, tempat gosip, tempat beristirahat. Laaah, hebat amat. Hahaha! Ngayal boleh dong, ya. πŸ˜€

Demi mewujudkan cita-cita menjadikan kamar mandi kering, maka harus dipisah tempat untuk mandi dan kamar mandi kering. Pengennya sih punya bathroom berkaca kayak di hotel jadi kalau mandi masuk ke dalam ruangan kaca dan akhirnya nggak bakal nyiprat ke luar. Tapi apa lah daya, belum mampu (someday ya, Mi!), maka solusinya… memakai shower curtain. Kalau mandi tinggal ditutup curtain-nya jadi meminimalisir air yang akan mengotori bagian kering.

Secara saya tipenya rempong, nyari shower curtain aja lama. Harus banget warnanya sesuai tema, yaitu hitam putih. Udah ketemu yang hitam-putih, ada aja kekurangannya. Ya motifnya kayak anak-anak, ya terlalu sama kayak warna dinding warnanya, endesbrei endesbrei. Akhirnya dengan meminta ijin si mbak penjual, saya pun membuka satu per satu shower curtain supaya bisa dapetin yang klop di hati. Setelah 1 jam mencari, akhirnyaaa dapet juga! Horee!

Sebenarnya kamar mandi udah beres semua. Tapi selalu merasa ada yang kurang sehingga harus nambah ini-itu. Misalnya kemarin ke Carrefour mau cari tempat baju kotor. Keliling-keliling Carrefour ternyata warnanya semua ngejreng. Nggak ada yang warna hitam-putih atau warna netral lainnya supaya pas sama temanya. Langsung kabur ke Ace Hardware di Central Park demi mencari tempat baju kotor. Dapet, sih, bahkan lagi diskon. Warnanya putih. Passs banget. Tapiii…. (yes, selalu ada tapi), tempat baju kotornya terlalu kegedean. Lah, mana cocok sama kamar mandi saya. Lagian cuma berdua aja tapi tempatnya kok yang guede bener.

Pencarian dilakukan keesokan harinya. Sehabis pulang kantor, saya menyeret suami ke Ace Hardware Puri Indah. Tujuannya mencari tempat baju kotor dan karpet untuk closet dan kamar mandi biar beneran jadi kamar mandi kering. Penting? Nggak penting sih sebenarnya, tapiii… demi cita-cita kamar mandi kering dan nyaman maka marilah kita cari.

Di Ace Hardware akhirnya ketemu karpet kamar mandi yang saya inginkan. Warnanya coklat tua dan nggak banyak mau. Persis seperti yang saya inginkan dan tinggal satu-satunya pulak. Pengen langsung dikekep nggak, sih? Hihihi! Sehabis beli karpet langsung mengarah ke bagian tempat baju kotor. Ada buanyaaak banget modelnya dan semua keceh! Sempat merempotkan si Mbak penjaga supaya menunjukkan satu-satu tempat baju kotor itu. Maaf ya Mbak, habis saya visual banget jadi harus lihat bentuknya dengan jelas. Sampai akhirnya, saya dapetin tempat baju kotor dari bambu dengan ukuran yang nggak terlalu gede dan nggak terlalu kecil. Ciamiiik! Oh ya, barang ini tinggal sisa 2. Mari langsung kita kekep lagi. πŸ˜€

Selanjutnya lanjut ke bagian perlengkapan mandi. YA AMPUN, itu tempat sabun, odol, dan lain-lainnya lucu banget! Minimalis dan keren banget! Kalau nggak ingat banyak prioritas lain yang perlu dibeli, pasti udah langsung pengen saya beli deh semuanya.

Selama ada di Ace Hardware, saya beneran cuma ada di bagian perlengkapan kamar mandi aja. Nggak melirik dan nggak mencoba ke bagian lain. Si suami kayaknya udah bosan ngikutin saya dan sibuk sama handphonenya. *puk-puk suami*.

Yang bikin kaget sebenarnya adalah pas bayar. Cuma beli tempat baju kotor dan karpet kamar mandi saya menghabiskan hampir Rp 500.000. Ha ha ha ha ha ! *ketawa miris* *umpetin dompet*

Setelah selesai membeli barang, saya langsung menuju rumah dan mengaplikasikannya ke kamar mandi idaman saya itu. Ah, terharu biru karena sesuai dengan keinginan (belum sampai banget karena masih banyak yang pengen ditambahin lagi *dipelototin suami*). Hatiku langsung berasa hangat. Hihihi! Karena kamar mandinya belum beres dan bersih sepenuhnya, setelah saya pandang-pandangi karpet dan tempat baju kotor itu, saya masukin lagi ke plastik. Oh, inikah namanya jatuh cinta? πŸ˜€

Si suami pun langsung bilang, “Baru kali ini ada orang yang obsesinya sama kamar mandi. Padahal kalo mandi aja nggak pernah lebih dari 10 menit. ”

KWANG… KWANG!

Iyak! Saya mandi nggak lama. Lebih lamaan si suami mandi daripada saya. Tapi obsesi kamar mandi ini merasuk ke jiwa. Hihihi. Kalau perempuan-perempuan pada umumnya obsesi ke dapur biar masaknya makin rajin. Kalo saya sih nggak. Mungkin karena saya nggak suka kegiatan yang berbau dapur. Saya nggak suka masak, nggak suka motong-motong bahan makanan, dan nggak suka cuci piring. X))

I’m officially obsessed to bathroom! πŸ˜€

PS: Foto akan dipajang kalo kamar mandinya udah jadi sempurna, ya. Hihihi!