Tentang Etika dan Bahasa Alay

Salah satu alasan saya mengajarkan Kaleb berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah di jaman sekarang saya lebih gampang nemu ABG yang nulis alay sampai saya nggak paham maksudnya, daripada berbahasa Indonesia. Saya pernah jadi anak alay sih (WHO DIDN’T? HAHAHA) yang simpan kontak di HP dengan huruf besar dan kecil. TAPI… saya nggak pernah nulis sms atau kirim surat atau apapun yang berbentuk tertulis dengan bahasa alay, bahkan ke teman sendiri dengan konteks santai. Never. Makanya saya bergidik geli lihat sebegitu ignorant-nya anak-anak ABG sekarang dengan bahasa.

Bukan cuma itu aja. Kalau situasi non formal aja suka geli lihat bahasa alay, sekarang malah ada banyak kejadian di situasi formal. Misalnya, kirim lamaran pekerjaan ke suatu perusahaan. Di body e-mail nggak ada perkenalan atau apalah, nggak ada cover letter. Blank. Kosong. Cuma attach CV. Ini diibaratkan mau minta kerja, tapi nggak sopan caranya. Yang ada e-mail lamaran kerjaan kamu langsung di-delete aja, tanpa dilihat sama sekali.

Ada yang namanya ETIKA, lho dan ini bagian yang penting.

Jadi suatu ketika ada promotor. Promotor ini tampaknya memang baru. Project-nya baru menangani beberapa event artis-artis indo semacam artis GGS untuk fanmeeting. Kemudian mereka melebarkan sayap dan berusaha mendatangkan seorang artis luar negeri. Wuidih, keren dong, ya.

Karena event fanmeeting ini belum ada sponsor, jadi mereka berusaha untuk mendekati fanbase-fanbase si artis ini di Indonesia. Beberapa fanbase punya followers puluhan ribu di Instagram dan masih aktif, yang mana akan jadi peluang untuk si promotor untuk promosi dong, ya.

Masalahnya adalah etika bisnis mereka parah! Parahnya seperti ini (mereka mengirimkan pesan via DM Instagram, padahal jelas di kontak bio fanbase ini ada e-mail resmi):

A: “Min, minta kontaknya, dong.”
–> Ujuk-ujuk datang nanya kontak. Kesel nggak bacanya? Siapa elo, udah nggak kenal, enak aja nanya kontak pribadi. Gini lho, etikanya adalah perkenalkan diri, jelaskan tujuannya dengan baik dan detil, lalu tanyakan dengan sopan adakah kontak yang bisa dihubungi (tapi sebenarnya kalau mau baca dulu, udah ada di bio, sih).
–> Akan lebih baik begini: Hai, nama saya Ani. Saya adalah bagian dari EO yang akan menyelenggarakan fanmeeting Incess pada tanggal 10 Desember 2020 di Monas. Sehubungan dengan fanmeeting ini, kami ingin meminta bantuan untuk promosi. Adakah e-mail atau nomor telepon yang dapat kami hubungi sehingga kami bisa jelaskan dengan lebih detil? Terima kasih untuk perhatiannya. Salam, Ani.

B: “Halo min, followermu ada berapa? Ada yang mau ikut fanmeeting?”
–> Banyaknya followers bisa dilihat di IG. Lah, emang si mimin cenayang tahu followersnya siapa aja yang mau ikut fanmeeting?
–> Kalimat tanya kayak gini juga nggak jelas. Mau apa nanya siapa yang ikut fanmeeting? Mau sekedar tanya aja? Mau kasih free ticket? Mau suruh promoin? Atau apa?

C: “Selamat pagi min, boleh minta bantuannya untuk promosi fanmeeting incess?”
–> Helloooo, ini sapose ujuk-ujuk datang nyuruh promosiin fanmeeting orang? Sekali lagi, kalau mau minta bantuan orang, perkenalkan diri, jelaskan maksud dan tujuan dengan detil, tanyakan kontak resmi agar bisa menulis proposal dengan resmi, dan ucapkan terima kasih.

D: “Tengkio, min.”
–> Bahasa apa itu tengkio? Kalau ngomong ke sesama teman ya suka-suka hati kalianlah. Tapi kalau ini situasi yang formal, apalagi untuk kepentingan bisnis: jangan gunakan bahasa alay. Keep it for yourself. Orang yang dituju nggak perlu tahu di kehidupan nyata kamu alay. Pakailah bahasa yang resmi dan wajar saja, seperti terima kasih. Jangan disingkat-singkat, jangan diganti pake bahasa alay, jangan dicampur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apalagi bahasa alay. NO! DON’T! NEVER!

Logikanya gini ya, kamu meminta bantuan orang, jadilah orang yang sopan. Bukan nggak punya etika langsung nodong orang melakukan sesuatu untuk kamu. PERKENALKAN DIRI itu penting! Emang kalau ada orang nggak jelas siapa dan tujuannya apa, kamu mau bantu? Males, kan?

Kalau untuk kepentingan bisnis (inget lho, promotor ini tujuannya adalah mendapatkan keuntungan materi dari menyelenggarakan fanmeeting) tawarkan imbalan, bisa berupa fee promosi, barter sesuatu, tiket gratis, voucher, diskon, atau apalah. Karena tujuannya bisnis. You HAVE TO thank properly people who help your business. Kamu dapat uangnya, sementara yang promosiin gigit jari aja? That’s unfair.

Jadi tolonglah, kalian boleh muda, kalian boleh masih belia, tapi etika itu harus ada. Apalagi kalau untuk tujuan formal, nggak ada excuse bahwa kalian masih muda, masih baru saja memulai usaha. Belajar, jangan cuek, sopan, PUNYA ETIKA.

Sungguh lho, waktu saya SMP aja, di sekolah saya ada pelajaran surat-menyurat resmi, di SMA pun ada pelajaran administrasi, yang salah satunya berhubungan dengan surat menyurat, apalagi pas kuliah..beuh, banyak banget diajarin soal berbahasa yang baik karena harus banyak praktek ke institusi, interview orang-orang dalam situasi formal, dan ditekankan banget soal beginian. Lagian, seharusnya etika dimulai dari rumah, kan?

Mulai sekarang, yuk belajar buat lebih berbahasa yang baik dan benar. Bahasa alay-mu tolong dipakai buat diri sendiri dan teman-temanmu aja. Bukan buat situasi formal lainnya, ya. Jangan karena kamu hubunginnya lewat sosmed atau e-mail jadi nggak bersikap sopan. Dengan siapapun kita berhubungan, apalagi nggak kenal, coba tolong perhatikan etika yang benar. Sip!

Jadi ada yang mau nonton Incess nggak? XD

 

 

Vaksin Itu WAJIB!

Huft, tahun 2017 ternyata masih ada yang antivaksin, nih?

*menghela napas sampai sesak*

Oh ya, belajar dari kasus Jupe yang terkena kanker serviks; vaksin serviks itu udah ada lho dari dulu dan mampu mencegah kanker serviks. Idealnya perempuan umur 11 tahun sudah bisa vaksin serviks. Jadi dari masa puber lebih baik. Tapi kalau dulu nggak tahu, bisa juga dipake sebelum berhubungan seksual. Tapi kalau misalnya sudah berhubungan seksual, cek papsmear dulu, ya. Baru kalau hasil papsmearnya bersih, lanjut vaksin serviks.

Ini pengalaman saya vaksin serviks 6 tahun lalu, sebelum menikah. Permasalahannya adalah banyak yang enggan untuk papsmear atau vaksin serviks karena pertanyaan dari tenaga medis adalah, “Mbak sudah menikah atau belum?”. Err! Begini lho, vaksin serviks itu sebaiknya dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual, terlepas dia sudah menikah atau belum. Papsmear sebaiknya dilakukan 1-2 tahun kalau sudah berhubungan seksual secara aktif, lagi-lagi terlepas dia sudah menikah atau belum.

Jadi pertanyaan sudah menikah atau belum dari tenaga medis akan jatuhnya menghakimi. Misal, dia jawab belum menikah tapi mau papsmear, yang mengindikasikan berarti sudah berhubungan seksual sebelum menikah. Lalu pandangan si tenaga medis akan berubah dan judging. Bikin pasien jadi nggak nyaman dan akhirnya enggan untuk balik lagi.

Saya sadar di Indonesia normanya adalah belum berhubungan seksual sebelum menikah. Tapi pada kenyataannya ADA yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah. Dan apakah yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah tidak boleh mendapatkan perlakuan medis yang baik, tanpa ada tatapan menghakimi?

Akan jauh lebih baik ย kalau tenaga medis tidak perlu memperhalus pertanyaan dengan “sudah menikah atau belum?”, tapi langsung straight to the point, “sudah berhubungan seksual aktif atau belum?”. Dan nggak perlu kepo jugalah kalau sudah berhubungan seksual berarti dia sudah menikah. Keep it simple, no judgment. Pasien juga pastinya lebih nyaman karena dia akan di-treat berdasarkan keluhan, bukan dihakimi moralnya.

Nah, soal antivaksin pada anak. Prinsip saya cuma satu, kalau itu terbaik untuk anak dan membuat anak saya lebih sehat, serta secara ilmiah sudah terbukti, let’s do it! Berusaha jadi alamiah, tapi habis itu mengorbankan kesehatan anak is a big NO for me. Plus, vaksin itu bukan cuma soal imunitas diri sendiri tapi imunitas kelompok. Harapannya suatu saat kalau semua anak sudah divaksin, maka penyakit tersebut punah. Nah, para dokter seluruh dunia udah gencar mau bikin punah itu penyakit, trus kucuk-kucuk orang sok tahu bilang nggak usah vaksin lalu anaknya terkena penyakit. Maleh, kapan itu penyakit punah jadinya? Kan jadi outbreak lagi. *nangis di pojokan*

Gini ya, nggak perlu sok anti kimia. Udara yang kita hirup setiap hari aja itu kimia, namanya oksigen alias O2. Gimana caranya bisa anti kimia buat anaknya kalau udara aja sudah berbentuk zat?

Jangan bilang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan. IYA emang dari Tuhan. Tapi Tuhan juga menciptakan manusia dengan akal budi jadi harus juga berusaha menjaga kesehatan dan berusaha juga untuk makan obat ketika sakit. Baru deh Tuhan yang menentukan mau disembuhin atau nggak. Kalau vaksin aja nggak mau, ya wajar aja Tuhan kasih penyakit. Lagian kalau emang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan, kalau lagi sakit nggak perlu berobat ke dokter, ya. Cukup berdoa aja. Nanti imanmu ย yang menyembuhkan. Oke sip!

Jadi jadi orang tua itu harus bijaksana. Saya termasuk yang sebisa mungkin anak nggak pakai obat kalau emang nggak perlu sakitnya, saya juga berusaha bijaksana dalam penggunaan antiobiotik, tapi saya tidak anti dengan obat dan antibiotik. Kalau misal anaknya sakit batuk pilek sampai tahap sudah tidak nyaman, nggak bisa tidur, nggak mau makan, trus saya maksa nggak pake obat dan bergantung pada minyak esensial aja, ya berarti saya egois. Tentu saja obat to the rescue lah. Tujuannya bukan soal pake obat atau nggak, tapi soal anak merasa nyaman karena ia sehat.

Jadi ibu itu harus bisa fleksibel. Tidak ada satu teori parenting yang paling benar. Semuanya cocok-cocokan dan disesuaikan dengan kondisi anaknya juga. Makanya jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, lah wong prakteknya bisa beda-beda tiap anak, kok. Tapi yang pasti, fokusnya adalah anak. Logical reasonsnya pun harus benar. Patokan saya: kalau sudah ada penelitiannya berarti valid. Jadi, antivaksin is a big no. Gunakan nalar yang benar, bukan cuma soal keyakinan membabi buta.

Yuk, barengan vaksin biar sama-sama sehat. Jangan sampai nanti nangis-nangis panik pas anaknya sakit karena nggak vaksin kayak mbake itu loh. ๐Ÿ˜€

 

 

Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? ๐Ÿ™‚

 

Semacam Baru Dicharge Lagi

IMG_20170528_220840_434

Kemarin untuk pertama kalinya saya ke gereja setelah berbulan-bulan nggak. Sejak Kaleb umur 1 tahun, saya merasa dia udah siap untuk sekolah minggu. Ya, masih main-main dan belum bisa fokus, sih. Tapi di gereja ada kelas bayi untuk umur 0-24 bulan. Kegiatannya simple banget; nyanyi lagu-lagu sederhana, dengerin cerita Alkitab singkat paling lama 10 menit, dan udah main-main aja, maksimal 30 menit. Cukup banget buat Kaleb bersosialisasi dan dia memang senang. Ketika umur 2 tahun, Kaleb naik kelas toddler. Di sini kegiatannya lebih panjang, sekitar 1 jam; nyanyiannya lebih panjang dan banyak, khotbahnya lebih panjang, dan kegiatannya lebih banyak.

Saya selalu nemenin Kaleb masuk ke sekolah minggu karena dia belum bisa kan ditinggalin sendiri. Guru sekolah minggunya maksimal 3-4 orang. Sementara anak-anaknya bisa 30an orang. Banyak bener, kan. Makanya pendamping diharapkan ikut kalau yang masih kecil banget. Kalau yang udah 3-4 tahun bisa dilepas.

Sebenarnya bisa aja saya minta bantuan Mbak untuk ikut ke sekolah minggu jagain Kaleb, sementara saya beribadah di ibadah dewasa. Tapi, kok ya rasanya tanggung jawab bawa anak ke gereja itu tanggung jawab saya. Plus, saya juga mau tahu apa yang diajarkan di sekolah minggu, sehingga saya bisa ulang lagi di rumah. Makanya, sudah berbulan-bulan saya nggak ke ibadah dewasa. Demi anak! XD

Sampai akhirnya sebulan ini saya kok ngerasa kosong banget, ya. Kayak jiwanya butuh direcharge lagi karena udah low batt. Beberapa minggu sebelumnya sempat minta suami gantian yang jagain Kaleb. Awalnya suami yang ragu karena ya dia bakal jadi cowok sendiri yang jagain anak. Biasanya kan ibuk-ibuk atau susternya, ya. Berasa aneh kali, ya. Ya udah, balik lagi saya yang jagain Kaleb. Minggu lalu bilang lagi ke suami, gantian dong jaganya. Suami udah oke. Eh, Kalebnya yang nangis minta ditemenin Mami. Oke deh, batal lagi.

Kemarin saya lagi-lagi belum menyerah minta gantian jagain Kaleb. Suami langsung oke karena udah beberapa kali ikut saya jagain Kaleb dan nggak sulit lah, cuma perhatiin Kaleb aja, atau ambilin minum dan cemilan kalau dia mau. Kemudian, saya pamitan ke Kaleb. Eh, Kaleb langsung mau. Malah langsung paham kalau nanti dia sama Papa-nya dan cium saya. YEAY!

Dan ternyataaa rasanya luar biasa, lho! I never thought that I needed church time that much. Kayak kembang yang layu dikasih pupuk dan disiram. Segar banget. Sebelum ke gereja itu rasanya kayak badan pegal, nggak enak badan, lemas. Like I had no energy to do something. Setelah gereja langsung kayak sehat banget, hati plong, dan semangat lagi. Gila ya efeknya! ๐Ÿ˜€

Jadi sekarang udah janjian sama suami kalau tiap minggu akan gantian jagain Kaleb di sekolah minggu. Semoga Kaleb konsisten mau dijagain gantian, ya. Kalau nggak entar mamak kayak bunga layu lagi, deh. Hehehe.

Ada yang pernah merasa begini?

Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

19 April 2017.

It was the most emotional election for me. I was (I am still) broken heart.

I will put it here what I’ve been feeling. You might not understand, especially if you support Anies-Sandi. But let me tell you from my side.

Saya adalah salah satu orang yang mendukung Anies Baswedan ketika ia menjadi juru bicara kampanye Jokowi saat mencalonkan diri jadi presiden. Slogan “turun tangan”nya bikin saya bergerak untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Perubahan yang lebih baik katanya. Saya sering menghadiri diskusi yang ada Anies. Sungguh, saya kagum banget sama cara berpikirnya dan tutur katanya. Luar biasa. Saya bahkan sempat foto bareng dengan dia.

Ketika Jokowi mengumumkan kabinetnya dan Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya bersorak gembira karena Anies mendapatkan posisi yang tepat. Pendidikan adalah dasar negara, harus dimulai dari orang yang paham benar soal pendidikan, dan orang itu Anies Baswedan.

Betapa terkejutnya saya karena sebelum 2 tahun kinerjanya, Jokowi memberhentikan Anies sebagai Mendikbud; dicukupkan kalau kata Anies. Saya pikir waktu itu, ini Jokowi kenapa, sih? Anies kan keren, hebat, paling cocok. Nggak pernah ada yang tahu alasannya, selain mengira-ngira. Pokoknya menurut Jokowi, kinerja Anies buruk.

Ketika Anies mencalonkan diri menjagi cagub Jakarta, saya mulai bingung. Saya suka Anies, tapi merasa cagub bukanlah posisi yang pas. Tapi toh saya berpikir, dia orang baik. Siapapun pemenang gubernur nanti, Jakarta akan mendapatkan orang yang baik.

And I was so wrong. He failed me.

Pilkada ini ribut dengan isu agama dan ras. Betapa pusingnya saya setiap berangkat dan pulang kantor, saya harus lihat spanduk besar bertuliskan, “Ganyang Cina, Bunuh kafir!”, “FPI mendukung Anies-Sandi”, dan banyak spanduk provokasi lainnya. Belum sampai di situ saja, Anies mendobrak dengan datang ke markas FPI, bertemu Rizieq Shihab dan memuji-muji (oke, sebenarnya menjilat) Rizieq. Padahal kita semua tahu Rizieq dan FPI adalah salah satu kelompok radikal yang mampu memecah belah bangsa ini. Anies merangkulnya.

Saya sedih, kecewa, dan merasa tertipu. Apakah ini Anies yang sama dengan orang yang saya kagumi dulu?

Everything didn’t get better from there. Anies cuma diam ketika isu agama menguntungkannya. Dia tidak meredam, mengecam, orang-orang yang mengintimidasi pihak yang lain. Spanduk-spanduk intimidasi makin banyak, masjid-masjid selalu khotbah mengenai harus memilih pemimpin muslim, menolak menyolatkan jenazah yang memilih Ahok, mengatai orang-orang kafir, dan selalu bertanya, “Apa agamamu?”. Anies diam. Dia diuntungkan.

Bukan cuma itu aja, Anies mulai tidak konsisten dengan ucapannya dulu. Dia mulai nyinyir kepada Ahok, dan tidak memberi solusi atas semua masalah Jakarta. Intinya semua bisa diselesaikan dengan bahasa yang santun, keberpihakan, dan OK OCE. Saya nggak paham program mereka.

Sebagai minoritas, isu agama sungguh sangat menakutkan bagi kami. Dari kecil saya terbiasa mendengar orang tua saya bercerita bahwa mereka nggak bisa naik pangkat karena agama mereka. Karena mereka bukan Islam. Mau sebagus apapun performa mereka, tapi mencapai jabatan tertinggi itu sulit. Bukan Islam katanya. Mayoritas mungkin nggak paham ini, tapi kami sungguh paham. Kami sudah terbiasa dinomor duakan karena agama kami berbeda.

Isu agama dan ras pun yang berhembus kencang saat kerusuhan 1998. Ayah saya hampir nggak bisa pulang dari kantor dan terpaksa meninggalkan mobilnya begitu saja, harus jalan dari Sudirman ke Meruya, karena mobilnya mau dibakar. Ia ditanyai apakah kamu pribumi? Agamamu apa? Ayah saya hampir meninggal cuma karena agamanya. Sedih, ya. Kami, minoritas, merasakan sakitnya seperti ini.

Tapi saya pikir Indonesia akan lebih baik. Saya orang paling skeptis sama Indonesia. Dulu saat pemilihan cagub antara Foke dan Adang Darajatun, kami sekeluarga tidak mendapatkan kartu pemilih. Dihilangkan begitu saja. Reaksi kami sekeluarga, bodo amat. Nggak berusaha protes, nggak berusaha mengurus. Karena dalam pikiran kami, siapapun yang menang Jakarta akan tetap sama, nggak berubah, nggak ngefek ke kehidupan kami. Pesimis, nggak punya harapan.

Bahkan saat Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub, saya nggak memilih mereka di putaran pertama. Bahkan reputasi mereka yang bagus aja, saya nggak yakin sama mereka. Masa sih beneran ada orang baik di negara ini? Cih, palsu! Paling supaya menang aja, tuh! I was that skeptical. Di putaran kedua akhirnya saya pilih Jokowi-Ahok bukan juga karena saya suka mereka, tapi karena saya nggak pengen lawannya menang yang entah siapa itu dan kayaknya lebih busuk dengan sederetan kasusnya.

But they proved me wrong. Jokowi dan Ahok langsung bekerja cepat, memberantas korupsi, membenarkan birokrasi, mempercantik Jakarta, menangani banjir, membangun infrastruktur. Bukan cuma dengar kata orang aja, tapi saya merasakannya. RPTRA di dekat rumah adalah tempat bermain favorit Kaleb, perpustakaannya lengkap dengan buku-buku baru yang bikin saya hobi ke sana nemenin Kaleb main, trotoar di dekat rumah diperbesar, jalanan diperluas sehingga akses ke rumah berkurang macetnya. Buat ibu-ibu kayak saya, ini penting karena berarti saya bisa lebih cepat pulang bertemu anak, kualitas hidup meningkat. Ahok membuka banyak line untuk pengaduan. Saya suka banget pake aplikasi Qlue karena saya gampang ngadunya dan mereka beneran mengerjakan, plus dikirimin bukti foto hasil kerja mereka. Ahok served me right. Saya merasa terkoneksi dengan gubernur. Kok gampang ya sekarang ngadu ini-itu? Kok saya merasa didengarkan, ya? Kok saya merasa diperhatikan, ya? Percayalah, setelah hidup individualis dan nggak merasa diperhatikan oleh pemerintah dari lahir, Ahok membuktikan hal yang berbeda.

Saya mulai sayang dengan gubernur saya. Saya merasa memiliki Jakarta. Saya mulai punya harapan untuk bangsa ini. Masih banyak ternyata orang baik yang cinta Indonesia. Masih banyak ternyata orang yang nggak haus kekayaan. Masih ada ternyata pemimpin yang cinta saya. Saya yang sebelumnya skeptis belajar untuk cinta bangsa ini dan mau berbuat sesuatu.

Tapi sungguh 19 April 2017 adalah hari paling emosional buat saya. Saya patah hati untuk Jakarta. Ternyata sebagian besar warga Jakarta lebih percaya isu agama daripada logika. Terserah kalian mau beropini apa, tapi kenyataan (dan survey publik) berkata demikian. Gubernur dipilih berdasarkan agamanya. Kelompok radikal merasa punya hak berkuasa dan mengintimidasi lagi. Kami yang minoritas, mulai dibayang-bayangi tindakan diskriminasi, disebut kafir, dan tidak sama haknya di Jakarta. Bukan Ahok yang kalah kemarin, tapi kami warga Jakarta yang kalah. Kalah oleh rasa takut. Dan jujur, saya takut.

Ketika quick count mulai menunjukkan Ahok kalah, saya sedang menyuapi Kaleb. Saya langsung peluk dia dan bilang, “Maaf Nak, kamu harus bekerja lebih keras lagi di negara ini. Karena yang pertama kali orang lihat adalah agamamu, bukan kemampuanmu.” Saya nangis karena saya nggak bisa kasih kehidupan dan kesempatan yang lebih baik untuk anak saya. Kamu akan dinilai berdasarkan agamamu. Dan itu kenyataannya.

Saya patah hati. Ternyata saya begitu cinta Indonesia sampai saya merasa begitu sakit hati. Saya kira saya akan hidup menjadi lebih baik, tapi sungguh ternyata saya salah. Koruptor, kelompok radikal masih menjadi raja di negara ini. Logika dan akal sehat masih dikesampingkan. Nggak papa, yang penting seagama dan santun. Sedih.

Bukan, saya nggak lebay. Tapi itu yang saya rasakan. Mayoritas mungkin nggak tahu rasanya karena kalian dapat priviledge di negara ini. Kami, harus sekali lagi menerima kenyataan bahwa kami warga kelas dua, tidak berhak banyak di negara ini.

Ini bukan soal kampanye 2 calon gubernur dengan program-programnya. Mungkin kalau mereka debat program, saya akan dengan senang hati menerima siapapun yang menang. Ini soal kebinekaan, kemajemukan, dan keberagaman yang diperjuangkan. Dan mungkin saat ini Jakarta, atau Indonesia, harus mundur lagi. Kami kalah oleh kebencian saudara kami sendiri.

Harapan saya saat ini, semoga Anies dan Sandi membuktikan bahwa saya salah. Bahwa mereka akan kembali menenun tenun kebangsaan, bahwa hak kami dijamin, dan bahwa apapun agama dan ras kami tidak akan diintimidasi. Kami punya hak yang sama di negara ini. Tolong, buktikan saya salah, Pak.

Kepada Pak Ahok dan Djarot, terima kasih untuk pengabdiannya, terima kasih untuk sudah melawan koruptor yang menggerogoti Jakarta, terima kasih sudah begitu sayang sama bangsa ini. Terima kasih sudah membuat saya berubah dan yakin bahwa kami punya anak bangsa yang baik. Terima kasih sudah begitu luar biasa. Tapi maaf Pak, kami tampaknya masih belum siap mempunyai gubernur sebaik Bapak. We don’t deserve you. Mungkin nanti, mungkin lain kali. It will be the hardest 6 months for me to let you go. Tapi saya berharap, Bapak tetap bekerja untuk Indonesia, tetap berjuang untuk kami karena Bapak sudah memberi harapan untuk kami semua. Jangan menyerah, Pak!

Terima kasih untuk 5 tahun terbaik dalam hidup saya tinggal di Jakarta. Tuhan berkati Pak Ahok dan Pak Djarot. Indonesia masih butuh Bapak berdua. Selamat berjuang kembali, di mana pun kalian berada. We love you, Pak! :’)

 

 

Baju Bekas? Kenapa Tidak!

flea-market24

Saya selalu beli baju itu kalau nggak di tokonya langsung atau online shop. Jarang di bazaar, apalagi garage sale. Tapi beberapa bulan terakhir baru tahu kalau tiap akhir/awal bulan, pokoknya tepat di saat tanggal muda lah, selalu ada bazaar di Blok S, dekat kantor. Bazaar ini utamanya kayak garage sale, jual baju, sepatu, asesoris, tas bekas, tapi ada juga sih yang baru. Bazaarnya pun bukan bazaar besar, tempatnya kecil, panas (namanya aja pinggir lapangan), nggak fancy.

TAPI… kalau rajin ngubek-ngubek bisa dapat harta karun banget! Harga per baju berkisar antara Rp 25.000-100.000. Rata-rata sih Rp 25.000. Rp 100.000 tuh udah paling mahal dan harus bagussss banget atau dress mewah gitu. Bahkan saya pernah dapat baju denim seharga Rp 5.000 saja. Teman saya pernah dapat dress ala Audrey Hepburn hanya seharga Rp 20.0000. Saking murahnya, dia sampai mengulang lagi nanya ini beneran Rp 20.000, Mbak?

97da5e90f36d8c0022924cc59ebcd5bc

Persis mirip ini dressnya. Cakep banget!

BAHAGIA! :)))) I never knew that buying second used clothes would be this fun!

Kayak kemarin, saya dapat beberapa baju bermerk (H&M, Zara, dsb) hanya seharga Rp 50.000 dalam keadaan bersih, wangi, dan modelnya up to date-lah. Yang jual bilang, dia baru 7 bulan ini berhijab, jadi dia jualin deh semua bajunya dia yang nggak bisa dipakai lagi. Gilingan ya, saya dapat rok span denim, keren banget, hanya seharga Rp 50.000 saja. Best buy banget! Saya tahu banget rok ini harganya mahal soalnya. Hihihi.

Jadi di bazaar Blok S ini kemarin saya menghabiskan uang Rp 155.000 untuk membeli 5 baju dan 1 rok denim. Luar biasa bukan! :))))

Oh, tapi jangan mengharapkan tiap bulan isinya selalu bagus, ya. Kayak bulan ini lagi bagus-bagus banget karena ada si Mbak yang baru berhijab itu dan ada toko online shop yang mau ngabisin stock barangnya sehingga jual baju baru seharga Rp 100.000 untuk 2 baju. Yoi ma men, asoy, kan! Namun, ada kalanya bazaar kompakan barang-barangnya jelek pisan, nggak bikin napsu (ini pun biasanya kami masih ada aja yang dibeli, tapi cuma 1 atau 2 baju aja), atau baju-bajunya baru semua dan harganya seperti online shop. Nah, biasanya nggak bakal dibeli juga karena… ya buat apa. Bazaar Blok S kan biasanya untuk baju preloved lah. Jadi nggak tiap bulan selalu beruntung bisa borong baju. Kalau saya pasti cuma membatasi bawa uang Rp 200.000 maksimal, karena kalau preloved nggak perlu lah mahal-mahal. Lah, seringnya masih sisa, kan. XD

Selain Blok S, kemarin waktu ke Pasar Baru, suami nunjukin di pasarnya lantai 3, ada toko baju-baju bekas. Jangan dikira pasar tuh kayak pasar basah tempat jual daging dan ikan, ya. Bahkan pasarnya lebih bagus daripada bazaar Blok S. Tempatnya ber-AC, di dalam ruangan, nyaman banget, ada fitting room juga. Enak banget lah. Pilihan barangnya jauh lebih banyak dan nggak diuwel-uwel, alias digantung dengan rapi, diberikan kategori sesuai modelnya (misal deretan rok, deretan you can see, deretan celana, dsb), dan sesuai harganya. Jadi nggak berantakan dan gampang nyarinya.

Kalau di Pasar Baru, kebanyakan barang-barangnya model jadul. Kalau di Blok S kan masih banyak yang up to date. Tapiii, justru di situ surganya. Tahu sendiri kan kalau fashion itu berputar. Kayak dulu jamannya kulot, sekarang ya balik lagi orang pake kulot. Dulu jaman rok flare, sekarang ya balik lagi rok flare. Pada dasarnya saya juga suka banget segala sesuatu yang berbau vintage, makanya tempat ini jadi surga buat saya.

Model jadul yang saya suka banget tapi sekarang susah banget nyarinya adalah rok tartan, kayak yang dipakai orang Scotlandia:

35

Saya kayaknya punya kenangan tersendiri sama rok tartan ini. Waktu kecil, pada jamannya rok tartan masih heitz, Mama beliin saya rok ini. Bentuknya sama persis kayak di atas. Ini kayak rok, tapi sebenarnya celana. Salah satu rok favorit saya jaman masih kecil, sampai saya selalu pake ke mana-mana. Sekarang carinya susah banget, kecuali bikin sendiri.

Waktu itu dapat overall dress tartan warna merah kayak di atas, bekasnya Diana Rikasari. Kece banget, dress panjang. Tapi karena saya nggak suka panjang, jadi saya pendekin lagi. Nah, sekarang pengen banget cari model roknya aja. Kemarin akhirnya dapat dong persis gambar di atas. Rok tartan idamanku! Senang banget, deh. Eh, tapi pas dicoba kesempitan. TIDAAAAAAAKK! Sedih loh! Padahal udah suka banget. Hiks!

Akhirnya ngubek-ngubek lagi (tentunya suami sampai bosen nungguin), dan nemu rok tartan lainnya. Bukan warna merah sih, tapi teteeep tartan dan saya suka banget! Pas pula ukurannya. Harganya? Cuma Rp 30.000! Yeay!

new-look

Bentuk dan warnanya persis kayak gini. Cakep!

Selain itu, saya juga dapat flare denim skirt dan kulot denim. Kulot kan lagi ngetrend lagi ya sekarang, nah ini surganya kulot banget. Sungguh lho, kulotnya kece-kece dengan berbagai warna. Belum lagi berbagai macam rok dengan motif lucu-lucu banget. Oh, sungguh nggak tahan banget untuk beli semuanya. Kalau dipikir-pikir, I’m a fan of 80s and 90s style. Makanya tempat kayak ginian bikin saya berbinar-binar.

glamorous-denim-light-wash-flared-denim-skirt-product-1-11626601-711322706

Ini ngetrend lagi kan? Lagian, denim is always timeless. Cuma Rp 20.000

vintage-90s-blue-denim-jeans-high-waisted-cullotte-shorts-6bhaeaceyjt5mvpnsn2i0kawfji2i4s745hkoef7j3q

Inget nggak sih waktu kecil kita suka pake celana model kayak gini dan sekarang trend lagi. Ini pun cuma Rp 20.000

Sungguh lah bahagia banget. Oh ya, semua itu masih dalam kondisi yang bagus banget, nggak ada noda sama sekali, ya. Harus jeli banget liatnya, apakah ada noda, kancingnya putus, dan kondisi lainnya. Overall, semuanya masih dalam kondisi yang oke. Kalau misal udah suka banget, tapi ada noda yang masih bisa dibersihkan atau kancing yang putus, ya tawar aja. Biasanya sih bisa ditawar. Itu kemarin saya nawar juga, kok walau kondisinya semua oke. Belum nawar kan belum sahih, ya. Hihihi!

Oh ya, kalau di Pasar Baru, baju yang di dalam toko biasanya udah dicuci dan disetrika makanya nggak bau dan nggak lecek. Harganya pun lebih mahal dikit, sekitar Rp 25.000 ke atas. Kalau yang agak di depan toko, baru dikeluarin banget, jadi belum dicuci dan disetrika harganya Rp 20.000 ke bawah. Tapi yang udah dicuci lebih banyak daripada yang belum dicuci, sih. Kalau yang modelnya baju atasan bahkan cuma Rp 10.000.

Total belanjaan berburu baju bekas di Blok S dan Pasar Baru untuk 9 potong baju cuma Rp 225.000! SUPER MURAH, SUPER BAHAGIA! :’)

Kalau kemarin nggak kemalaman, udah pasti saya masih berkutat blusukan cari baju bekas yang kece. Sayang udah malam dan suami udah mati gaya nungguinnya. Hahaha.

Tips untuk ke flea market:

  • Pake baju senyaman mungkin. Kalau tempatnya nggak ada fitting room jadi bisa cobain di tempat.
  • Cek kondisi baju dengan teliti. Lihat ada nodakah, ada yang rusakkah, atau kancingnya masih bisa digunakan dengan baikkah. Kalau kondisi udah minor, tawar lagi harganya. Kecuali kalau udah murah banget, kayak Rp 5.000. Ya udah itu mah terima aja. :)))
  • Rajin lihatin baju satu per satu. Kadang-kadang ada baju yang ditumpuk gitu aja kayak gunung. Bongkarin aja satu-satu karena biasanya nemu yang bagus. Seninya justru menemukan baju yang bagus di antara tumpukan itu.
  • Sebisa mungkin selalu dicoba, karena nggak bisa dibalikin kalau nggak pas.
  • Coba beramah tamah sama penjualnya, siapa tahu dikasih diskon. Ini saya sering lho. Hihi.
  • Nggak perlu jijikan. Kebanyakan baju yang dijual sudah dicuci dan disetrika. Kalaupun ada yang belum, harganya jadi murah banget. Kalau kamu jijik nggak usah dibeli. Kalau saya sih, tinggal cuci aja sampai bersih di rumah. No problemo!

Kamu pernah punya pengalaman beli baju bekas nggak? ๐Ÿ˜‰

 

 

 

 

PS: semua gambar dicomot dari Google Images.

 

Kenalan, Dong!

Lagi blogwalking dan judulnya semua Tak Kenal Maka Tak Sayang dari para blogger kece. Kebetulan Deaย nge-tag dan nggak ada ide banget buat ngeblog, yuk mari makan kuota gratisan dari kantor dulu buat ngerjain tag ini. Hihihi.

Anyway, saya belum pernah ketemu dengan teman-teman blogger, walau hampir tiap hari saya blogwalking. Kalau ada acara kopdar juga belum pernah ikutan, belum pernah daftar segala pula. Blame my introvert side. Kerjaan saya sebagai psikolog yang mengharuskan untuk ketemu berbagai macam orang dan menjadi ekstrovert ternyata menyerap energi banget. Seringnya pas weekend butuh diam, nggak diajak ngobrol, doing my own things in my own thinking. Pokoknya sendirian aja lah. Makanya punya anak yang disinyalir ekstrovert yang nggak ngebiarin mamaknya bersemedi dan harus diajak ngobrol, plus jalan-jalan ke luar, bikin saya jadi ngos-ngosan. Jadinya kalau ada ketemuan dengan orang baru lagi, saya suka mikir, “Do I have energy left for that?”. Super introvert banget, ya. Mungkin saya lebih memilih untuk ketemu beberapa orang atau sedikit orang dulu daripada sekaligus banyak biar nggak terlalu ngabisin energi. Oh well, tapi I’d be so happy to meet all the bloggers out there.

Baiklah sekian prolognya yang kepanjangan. Mari kita mulai. Here we go:

  1. Waktu kecil, rambut saya keriting banget, bikin nggak pede. Yah, macam kayak gini:
maxresdefault

Meriam Bellina tahun 80an. Doi rambut kayak gini tetap kece, kalau saya….amburadul.

Sungguh bikin drop shay! Makanya kamera bukanlah sahabat saya. Paling males kalau difoto soalnya hasilnya jelek banget gara-gara si rambut keriting. Sampe sekarang aja saya males lihatnya. Karena rambut keriting inilah, waktu kecil ngotot rambut harus panjang biar bisa diikat dan keritingnya nggak kelihatan (diikat setiap hari, bok), atau dipotong cepak biar keritingnya hilang (sumpah, ini lebih bikin ilfil lagi karena bukannya cakep, saya malah kayak anak cowok. Ampun!), sampai akhirnya dibonding (bikin ilfil pas masa-masa bondingnya hilang, jadi rambut setengah keriting dan setengah lurus. Jijay, kan?). Untungnya semakin dewasa, si keriting makin sadar diri jadi nggak lebay keriting, tapi bergelombang. Sekarang saya bersahat sama catokan kalau mau lurus dan nggak dicatok kalau mau rambut bergelombang. Yes!

2. Control freak. Mungkin karena saya anak pertama, hobinya ngatur dan semua harus sesuai rencana. Di kepala saya udah ada to-do list mau ngapain aja, lengkap dari hal printilan. Misal, kalau harus berangkat jam 11, maka jam 6 bangun, bikin makanan Kaleb, suapin Kaleb, susun baju yang akan dipake Kaleb, lalu saya mandi, pake make up, catokan, pakein baju Kaleb, ingetin suami mandi dan siap-siap, susun perlengkapan apa aja yang harus dibawa Kaleb, rapihin kamar tidur, ingetin suami masukin stroller ke mobil, milihin sepatu Kaleb, dsb. List-nya bisa panjang banget dan ada target kapan selesainya jadi nggak telat. Masalahnya, orang-orang di sekitar saya seringnya slow motion banget. Diingetin mandi, tapi masih santai di depan tv *lirik suami*, eh pas mandi bisa luaaaamaaa banget. Belum lagi ART yang inisiatifnya kurang jadi apa-apa nunggu perintah saya (well, but I don’t complain though, karena walau dia lelet, tapi dia sabar banget sama Kaleb dan persistence kalau kasih makan. Jadi bisa dimaklumi). Every day. Kebayang saya jadi gampang kesel, ngomel, bete, dan capek. Begitu pun pas liburan, bilangnya mau santai aja di sana terserah ngapain. Tapi kemudian saya pasti bikin worksheet jadwal ngapain aja di sana, lengkap dari tempat, jam, biaya, dsb. Kzl ya. Capek sendiri. Positifnya, saya jarang nggak selesai atau meleset dalam ngerjaian tugas, sih. Semua sesuai target. Yay for that.

3. Harus banget tidur minimal 8 jam. Itu sebelum punya anak. I never thought having a baby would make me have to endure lack of sleep and it was so painful. Lebay, ya. Tapi begitulah kenyataannya. Saya paling nggak bisa tidur kurang. Begitu tidur kurang, duh seharian bisa kayak zombie, bete, capek, kesel, bad mood. Orang bingung kok bisa ya jam 9 udah tidur. Bisa banget lah, target tidur kan 8 jam. Begitu masuk ke keluarga suami yang seringnya tidur malam, saya shock. Oh tidak, saya sungguh nggak kuat ngobrol ngalor ngidul sampai begadang. Pas punya anak, tidur keganggu, well sampai sekarang pun saya udah lupa apa itu tidur 8 jam secara anaknya masih suka kebangun buat nenen, akhirnya saya berasa capek dan nggak punya tenaga buat ngapa-ngapain. I need my bed. Masalah tidur keganggu ini yang bikin saya mikir-mikir lagi untuk sekarang nambah anak. Plislah, biar saya ngerasa tidur 8 jam dulu. Hihi.

4. Saya minum banyak banget air putih. Sehari kayaknya bisa minum lebih dari 4 liter. Kalau di restoran, bukannya pelit nggak mau pesan minuman selain air putih, tapi kalau nggak minum air putih berasa masih seret mau minumnya seenak apapun.

5. Saya pecinta Disney Princesses. Cinderella, Snow White, Little Mermaid, Beauty and The Beast. Saya berharap saya adalah Putri dan diperlakukan seperti Putri. Hahaha. Makanya pas ada film Cinderella di bioskop, tentu saja saya rela nonton sendirian walau tinggal menunggu waktu lahiran. Nah, sekarang bakal ada Beauty and The Beast nih, udah pasti saya bakal nonton sendirian lagi. Nggak ajak suami, karena pasti dia nggak bakal paham khayalan saya. Hahaha.

6. Berkaitan sama no 5, saya nggak masalah nonton sendirian. Buat saya itu me-time paling menyenangkan. Bebas milih film sendiri, mau se-cheesy, sekonyol apapun, dan nggak perlu khawatir teman nonton yang nggak asik. Kalau kita udah asik ngakak, terus teman nonton biasa aja kan berasa males, ya. Selain nonton, saya juga nggak masalah makan sendirian di tempat umum. Menyenangkan banget malah. Dulu waktu kuliah, saya bisa makan sendirian, ngayal sendirian, dan nggak peduli sama orang-orang sekitar.

7. Saya suka dikasih surprise. Mungkin karena terpengaruh kebanyakan ngayal nonton film Disney, saya suka tuh dibikinin surprise, diperlakukan spesial pas ulang tahun. Sayangnya, sekitar saya agak kurang kreatif, ya *lagi-lagi lirik suami* jadi bukannya dapat surprise, saya malah suka ngingetin, “Bentar lagi aku ulang tahun, lho. Jangan lupa, ya.” Ngarepnya dikasih surprise, berakhir biasa aja. Kesel sendiri. Padahal sering bilang ke diri sendiri, jangan ketinggian ekspektasinya, orangnya kan begitu. Tapi dalam hati tetap ngarep. Dear suami, kamu pasti baca ini, tolong ulang tahun nanti kasih saya surprise manis. Ada amin, saudara-saudara? Hehehe.

8. I love crafting. Kalau ada yang ulang tahun, saya bikin kartunya sendiri, saya hias sendiri, saya bungkus kadonya sendiri. Makanya pas punya anak, setiap mau bilang udahlah pas ulang tahun tiup lilin aja. Berakhir gagal, karena I want to make it special. Jadi saya bikin semua printilan ulang tahun sendiri, blusukan ke pasar, dan cari ide. Sayangnya saya nggak bisa design di komputer, ya. Jadi masih suka gangguin suami buat bikinin design. Mungkin suatu hari nanti saya harus les design.

9. Sampai sekarang, saya nggak pernah clubbing sama sekali. Saya nggak suka musik yang terlalu keras, musik heboh macam disko, rock, dll, nggak tahan asap rokok, dan nggak bisa tidur malam. Jadilah nggak pernah coba, nggak tertarik, dan nggak menyesal juga. Hihihi.

10. Walaupun saya introvert, tapi saya suka kegiatan outdoor. Saya suka pantai, suka ke taman, suka berada di alam, suka mencoba hal-hal baru kecuali mall. Walau sebagai anak Jakarta, yang paling gampang dilakukan ya lagi-lagi ke mall. Tapi sekarang lagi bikin kegiatan untuk Kaleb di mana weekend nggak ke mall.

11. Nggak suka WC yang kotor karena gelian. Makanya lebih baik nahan pipis daripada WC-nya kotor. Traumatis adalah pas honeymoon ke Phuket, di Maya Bay ke WC, WC-nya super jorok. Gara-gara itu, memori saya tentang honeymoon jadi kurang bagus. Lupa indahnya Phuket, ketutup sama joroknya WC. Hahaha.

12. Bukan pecinta makanan. Saya tipe main aman, jarang coba makanan baru. Makanya kalau ada cafe hits, saya nggak terlalu heboh pengen coba, sih. Kalau pun coba, pasti menu yang dipesan yang aman-aman aja, yang sekiranya saya pernah coba, supaya nggak gagal di mulut. Kalau udah suka satu makanan, ya udah itu aja yang dipesan terus. Kebalikan sama suami, yang suka coba jenis makanan baru. Makanya kalau ada makanan baru, saya cicip punya dia, tapi tetap berakhir saya puas sama makanan saya yang nggak berubah. Hahaha. Makanya saya jarang foto makanan, karena ya kalau lapar, saya makan, nggak sempat pamerin ke sosmed makan apa aja. I’m not a food lover lah. Kalau pun orang upload makanannya, saya juga nggak sering ngiler kalau saya nggak tahu itu apa. Kecuali, dia upload bakso, bakwan, mie, ramen, pizza. Hmm, habis itu langsung cus pengen beli.

13. Saya nggak berani nyetir mobil. Ada masanya saya pernah bawa mobil ke kantor, udah seberani itu. Tapi kemudian nyali ciut lagi karena pengalaman saya sama nyetir mobil kurang oke. Kemampuan spasial saya yang kurang bikin saya kurang bisa memperkirakan harus sedekat apa, beloknya udah pas belum, bakal nabrak depan nggak. Makanya seringnya saya markir mundur, eh nabrak, trus mau belok, malah keserempet motor. Hfft! ย Makanya kalau yang lagi nyetir minta tolong saya lihatin sisi saya udah mepet atau masih jauh, saya susah jawabnya. Mepetnya segimana, nih? Perasaan udah mepet, sih, tapi kayaknya masih bisa lewat. Aaaah, tidaaaaak! Ku bimbang dan tak paham lah! Sungguh lho, saya pengen berani nyetir mobil. Tapi sampai sekarang belum berani. Doakan supaya keberaniannya muncul, ya.

14. Sejak rumah kemalingan dan laptop Vaio pink kesayangan saya ikut dicuri sekitar 6 tahun lalu, sampai sekarang saya nggak punya laptop sendiri. Pas kehilangan laptop itu perasaan saya numb alias tumpul banget. Nggak merasa sedih, marah, atau kesal. Pokoknya datar aja. Padahal semua data, kerjaan, hidup saya ada di situ. Tapi ya datar aja rasanya. Mungkin waktu itu saya nggak punya waktu untuk meratapi, tapi di pikiran bawah sadar, saya merasa laptop itu nggak tergantikan. Makanya saya belum punya laptop lagi (pun, merk Vaio udah nggak diproduksi lagi. Kenapa sih Sony? Itu kan merk kesukaan saya!) dan belum berniat beli. Sekarang saya pakai laptop kantor, bisa dibawa pulang tapi jarang dibawa juga karena males di rumah buka laptop. Atau pinjem laptop suami. No laptop, no worries.

15. Kalau nggak suka, saya nggak akan berbasa-basi bilang, “Wah, cantik, ya. Bajunya keren, ya.” dsb. Saya nggak jago basa-basi dan bermulut manis. Tapi ketika emang bagus, saya pasti puji dengan setulus hati dan penuh kekaguman. Kadang-kadang ini bikin jadi saya kelihatan jutek dan bukan jadi orang yang terlalu menyenangkan pastinya. Orang kan suka dipuji-puji, tapi saya males muji kalau emang biasa aja buat saya. Bahkan kadang-kadang nggak kepikiran muji karena ya nggak kepikiran. Pas orang lain muji, baru deh dalam hati mikir, kenapa sih gue nggak berbasa-basi dikit biar lebih gampang disukai orang. Ih! Sering dikira jutek juga jadinya. Padahal bener, deh, kalau diajak ngobrol saya suka banget.

Akhirnyaaaaa, udah 15 juga! *tiup kuku*

Jadi kapan ketemuan, nih?

Btw, saya nggak nge-tag siapapun karena kayaknya semua yang di dunia per-blog-an udah nulis ini. Hihihi. Feel free kalau mau ikutan nulis bagi yang belum, ya. ๐Ÿ™‚

Mas Aryo Junjunganku

Saya bukan penggemar Partai Gerindra dengan beberapa alasannya (nggak perlu disebutin karena bukan mau ngomongin politik juga. Hihihi). Waktu jamannya Pilpres Jokowi vs Prabowo, kalau nggak salah sekaligus milih anggota DPR, DPD, DPRD, dsb. Di dekat rumah seringlah tampak poster muka orang bernama Aryo Djojohadikusumo, masih muda orangnya. Keponakannya Prabowo yang juga mencalonkan diri jadi anggota DPR, kebetulan untuk wilayah Jakarta Barat (mungkin). Soalnya kantor timsesnya sih ada di dekat rumah. Waktu itu setiap lihat mukanya biasa aja. Cuma mikir, jauh amat ya pasti rumah dia sama daerah pemenangan dia di JakBar. Padahal saya nggak tahu juga rumahnya dia di mana. #sotoyabis :))))))

Fast forward, berbulan-bulan kemudian, saya lihat di postingan IG Tracy Trinita dia publish foto sama Mas Aryo ini. LAH, mereka berdua pacaran? Karena super kepo, siapa nih yang bisa menggaet hati mantan model internasional. Kepoinlah IG Mas Aryo ini. Maksud saya, kok bisa jatuh cinta sama politisi? Tracy, setahu saya, lagi giat-giatnya jadi penginjil. Makanya saya penasaran banget.

Ternyata pacaran mereka lucu dan cute banget. Mereka saling manggil satu sama lain, madu. Iyes, madu terjemahan bebas dari honey. Norak banget, kan? Tapi karena norak jadinya ai laik banget. Hahaha! Mereka bukan tipe yang lovey dovey mesra gimana gitu, tapi lebih ke yang lucu, norak-norakan, but still cute. Pacarannya bukan yang tipe mewah bergelimangan harta, tapi sederhana aja kayak orang-orang biasanya, jadi bisa relate banget. Kayak misalnya gereja bareng (dan saking antrinya masuk gereja itu, mereka nggak dapet duduk dan ya berdiri aja. Nggak ada perlakuan spesial cuma karena satunya model dan satunya politisi), naik vespa bareng (THIS IS SO CUTE), makan di pinggir jalan. Hal-hal normal membumi lah.

Sampai akhirnya mereka putus dan ya tahunya dari IG mereka berdua juga. Mereka bilang mereka putus baik-baik, tapi bakal tetap jadi teman baik. Walau kecewa mereka putus, tapi suka banget sikapnya karena putusnya pun nggak pake drama kayak para ABG yang sampai harus nangis di Youtube dan bilang, “Kamu adalah patah hati terbaikku.” #EAAAAAA

Sejak itu ya saya masih tetap follow IG Tracy dan Mas Aryo ini. Mas Aryo ini IG-nya nggak banyak soal politik, lebih banyak ke hal-hal personal yang mungkin orang nggak terlalu tahu. Kayak misalnya hobinya bikin lego, potong rambut di barber favorit, main sama keponakan, sharing makanan favorit, sering ke kantor DPR naik motor, bisa main angklung, masak di dapur. Huwooo, aku kan jadi kagum.

Tentunya karena dia politisi, pasti adalah kegiatan politiknya dia, tapi sama sekali bukan yang provokatif atau sok. Apalagi pas jaman pilkada sekarang, sebagai kader penting di Gerindra ya dia ikutan kampanye lah. Tapi postingannya selalu adem dan memilih sisi unik dan lucu yang bisa diangkat ke IG. Bahkan dia nggak segan-segan foto bareng timses paslon lawannya dan bilang bisa nggak kita adem kayak gini, beda opini tapi tetap masih jadi teman makan dan minum. Laff banget lah!

Kalau diundang tampil di TV dan disandingkan dengan timses paslon lain, dia benar-benar menjaga perkataannya untuk nggak terseret emosi lawan dan apapun topiknya berusaha untuk nggak SARA dan menjatuhkan lawan. Dia berusaha diplomatis dan ini paling penting, senyumnya nggak pernah hilang, sis. Hati ini bagai diguyur air dingin, adem bener. XD Ini boleh nggak semua politisi kayak dia aja. Nggak mancing emosi, tetap senyum, jualan program, dan humble bener.

Nah, tadi malam saya mimpiin dia. Ceritanya dia lagi ngajak saya makan bakmi dan ngobrol-ngobrol soal kegiatan dia. Di mimpi aja dia baik banget, lho, nraktir saya. Ihihihihik! Apa sebab nih bisa mimpi Mas Aryo sambil makan bakmi?

Oalah, ternyata karena paginya saya baru lihat dia upload foto lagi duduk di meja makan dan di depannya ada 3 bakmi dari 3 restoran yang berbeda dan salah satunya dekat rumah saya. Kan saya jadi kepengen!

Ternyata saya pengen makan bakmi Agoan, toh! *tulisan panjang yang berujung ngidam bakmi doang*

PS: Nama IG-nya @aryodjojo. Selamat stalking. ๐Ÿ˜‰

 

 

 

 

Sekolah dan Ambisi Orangtua

Kalau lihat harga sekolah sekarang rasa-rasanya bikin pengen diangkat anak sama Paman Gober nggak, sih? Eh, tapi doi kan pelit, ya. Jadi sama aja bohong. Hahaha.

Untuk Kaleb sendiri, dia belum akan sekolah sih dalam waktu dekat. Dulu saya sekolah umur 3 tahun. Maklum anak pertama, pasti masih bereksperimen dan lihat anak-anak lain sekolah, ya saya disekolahin. Hasilnya, secara mental saya belum siap, tiap pagi selalu drama, kabur dari sekolah jalan kaki ke rumah, dan toh di sekolah kerjanya main-main aja. Mungkin karena itulah 2 adik saya nggak sekolah pake playgroup, langsung TK aja. Secara mental mereka lebih siap dan nggak ngambekan kayak saya lagi.

Apakah sekolah umur 3 tahun salah? Ya nggak juga. Cuma waktu itu saya belum siap dan akhirnya memori saya tentang sekolah di playgroup itu kayaknya sedih, ya. Saya cuma ingat saya kabur dari sekolah, nangis-nangis di bis jemputan. I don’t remember any good memories. Mungkin ada, cuma nggak membekas. Makanya untuk Kaleb, saya akan lihat dulu nanti anaknya gimana. Kalau saya lihat dia siap, yuk sekolah. Kalau nggak pun kita tunggu sampai TK.

Setelah jadi ibu, saya punya idealisme sendiri. Walaupun di antara kalangan saudara-saudara saya dikenal sebagai orang yang suka sekolah *LOL, dari playgroup sampai S2 dikira hobi, padahal nggak*, saya bukan orang yang gila soal nilai dan apa-apa harus jadi the best di sekolah. Buat saya karakter dan kepribadian lebih penting daripada soal nilai sekolah.

Untuk itulah saat mencari sekolah saya nggak peduli misalnya saat di preschool dibilang pengajarnya native semua (SO?! Orang Indonesia emang nggak pintar?), diajarin baca tulis, berhitung, dan segala hal ambisius lainnya, harus pakai bahasa inggris, ada tambahan bahasa mandarin. NO! I don’t care with all those things.

Kemarin saat ada pameran sekolah di mall, saya iseng nanya-nanya, dong.

Me: “Di preschool nanti ngapain aja?”
Her: “Nanti di preschool ada pelajaran nulis, baca. Kita juga gurunya semua ada Filipina dan dari preschool diajarin bahasa mandarin.”

Muka saya langsung berekspresi, “TRUS KALAU ORANG FILIPINA KENAPA?” Saya langsung nggak tertarik untuk nanya lebih jauh lagi. Nggak, saya nggak peduli gurunya dari luar negeri dan nggak perlu bangga pula.

Saya mau Kaleb benar-benar berkembang sesuai tugas perkembangan seusianya dia. Bermain. Saya nggak perlu dia jadi jago baca di umur 3 tahun (kecuali dia memang tertarik, ya), nggak perlu dia bisa menulis sebelum TK, nggak perlu jago bahasa inggris dan mandarin juga saat ini, nggak perlu kurikulum luar negeri tersohor. Sesungguhnya pun, anak TK belum perlu bisa membaca dan menulis, cuma entah kenapa sekolah-sekolah sekarang mewajibkan pas SD harus bisa baca dan tulis. Gurunya malas susah tampaknya. Hahaha. Pokoknya tugas Kaleb sekarang cuma bermain dan mengeksplor dunianya.

Makanya saya santai aja, ketika orang-orang sibuk menyekolahkan anaknya di usia sedini mungkin, Kaleb masih sibuk main tanah di kebun sebelah rumah *LOL, anak kampung doi*. Anak lain sibuk berbahasa inggris, Kaleb belajar sendiri bahasa inggris pas nonton Youtube. Mamaknya yang kaget kok anaknya bisa nyebut 1-10 dalam bahasa inggris. Hahaha. Saya mau Kaleb tumbuh senatural mungkin, sedekat mungkin dengan alam, puas-puasin hidupnya dengan bermain sehingga ketika waktunya nanti serius, dia bisa belajar dengan baik.

Saya tipe ibu kolot yang hidup di tengah gempuran sekolah internasional Jakarta Barat (spesifik, karena tampaknya di wilayah Jakarta lain akan lebih mudah mencari sekolah tradisional dibandingin di JakBar) yang berlomba-lomba taglinenya: menjadikan anak Anda sejenius profesor di usia sedini mungkin. Terima kasih, Kaleb nggak perlu jadi jenius, kok. Siapa tahu nanti dia mau jadi atlet atau musisi atau whatever he wants.

Sekolah yang saya inginkan untuk Kaleb adalah:
– Sekolah berbasis Kristen/Katolik. Bukan supaya nanti dia merasa agamanya paling keren. Ini berdasarkan pengalaman saya dan suami yang dari TK sampai SMP (untuk kasus saya, pas kuliah balik lagi ke sekolah Katolik) di sekolah Katolik dan pernah mencicipi sekolah negeri yang plural. Kedisiplinan dan ketatnya sekolah Kristen/Katolik (yang pernah ngalamin pasti tahu suster-susternya yang galak. LOL!) membentuk kepribadian jadi lebih disiplin dan tahu aturan. Pas SMA masuk negeri, orang tua mengharapkan saya bisa berbaur dengan berbagai tipe orang, agama, suku, status ekonomi, saya emang jadi shock. Yang tadinya saya mayoritas, jadi minoritas. Tapi nggak papa, saya jadi belajar banyak. Tapi yang paling saya syukuri adalah disiplin dan tahu aturannya itu beda banget nget! Jadi saya bukan pengen Kaleb belajar agama di sekolah, karena itu tugas orang tua untuk mengajarkannya, tapi lebih ke soal tingkat disiplinnya yang tinggi.
– Balik lagi ke sekolah preschool atau TK nantinya. Saya pengen TK yang punya permainan outdoor, ada perosotan, ayunan, jungkat jungkit. Back to basic alias jadul. Hahaha. Kan tugasnya bermain jadi harus ada area permainan yang cukup dan di luar. Kalau di dalam jadi terbatas, dong. Makanya sekolahnya pun nggak mau yang di apartemen, ruko, rumah, dsb.
– Karena kalau saya masukin Kaleb ke preschool lebih untuk sosialisasi aja, jadi saya nggak mau fokusnya belajar akademis serius. Maunya belajar tapi dalam bentuk permainan. Nggak perlu diharuskan bisa baca, nulis, berhitung.
– Berbahasa Indonesia. Bolehlah kalau mau diajarin bahasa Inggris sederhana, tapi tetap bahasa utama bahasa Indonesia. Walau mungkin anak-anak lain udah bisa cas-cis-cus bahasa Inggris, tapi saya akan jauh lebih bangga kalau Kaleb paham bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya rindu orang yang bisa mengenal bahasa Indonesia dengan baik, bukan dengan bahasa alay-nya. Saya ingin Kaleb mengerti literatur Indonesia dengan baik. Kenapa? Karena dia orang Indonesia, lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, harus bangga sama tanah airnya. Saya mau dia bisa bersosialisasi sama semua orang, termasuk mbaknya, tukang sayur yang lewat depan rumah, tetangga, tukang balon, supir angkot, dan banyak orang lainnya yang mungkin nggak mengerti bahasa lain selain bahasa Indonesia. Saya mau dia bisa berbaur dengan semua orang. Maka dari itulah berbahasa Indonesia lah yang baik. Di tengah gempuran bahasa inggris sekarang, Kaleb pasti bisa bahasa Inggris, bahkan mungkin bahasa lainnya. Wong, orang tuanya aja bisa, kok. Santai. :))) Harapannya, Kaleb nggak pake bahasa campur-campur. Kalau pake bahasa inggris ya pakelah bahasa inggris yang baik.
– Nggak jauh dari rumah. Yah, mungkin kalau udah TK atau SD bolehlah maksimal jarak tempuh 30 menit. Kalau masih preschool deket-deket rumah ajalah, misal 10 menit jarak tempuh. Kenapa? Karena pas TK, jarak tempuh ke sekolah butuh setidaknya 15 menit. Masih OK-lah. Pas SD pindah rumah, tapi nggak pindah sekolah. Padahal rumah saya jauh banget. Di jaman itu aja saya butuh setidaknya jam 05.45 harus berangkat dari rumah untuk sampai tepat waktu jam 07.00. Lebih dari itu, YASALAM. Siap-siap kena setrap karena terlambat. Capeknya minta ampun. Belum lagi tuntutan PR segudang. Lelah hayati, Bang! Makanya meminimalisir hal nggak perlu, lebih baik sekolah yang jarak tempuhnya nggak terlalu jauh.
– Permasalahannya: mencari sekolah Kristen/Katolik di dekat rumah itu susah, men! Nggak sampe 5 sekolah. Sekitar 3 sekolah mungkin, ya. Itu pun bukan yang dekat-dekat banget. Kalau mau yang dekat banget pilihannya sekolah internasional atau sekolah jenius lainnya. Entah kenapa dengan karakter JakBar yang ambisius anaknya jadi yang terhebat, terpintar, tercerdas, dan terjenius, serta menang Olimpiade sains. LOL! Jadi PR Mamak dan Bapake buat cari sekolah Kaleb masih panjang, sih. Mungkin akan kompromi, mungkin akan mengganti kriteria. Well who knows? Masih ada waktu, toh Kaleb belum harus sekolah sekarang.

Kadang-kadang saya mikir, kok saya jadi orang tua kurang ambisius amat, sih. Emang nggak pengen anaknya pintar? Pengen lah. Kalau Kaleb jenius siapa sih yang nggak bangga. Udah pasti nilai-nilainya saya upload di sosmed muluk *WOOOY! Nggaklah. Nggak senorak itu. Tapi saya pandangin terus itu rapot pasti. HAHAHA*.

Saya cuma pengen Kaleb tumbuh senatural mungkin. Untuk itulah saya nggak pernah beliin dia mainan sering-sering. Sebulan 1 kali. Plus, cuma mainan di abang-abang aja, kok. Apa itu mainan ratusan ribu? Kecuali dikasih, saya nggak pernah beliin dia mainan mahal. Dia toh belum paham mainan mahal dan murah, dan saya nggak perlu membuat dia harus bangga kalau punya mainan mahal. Anaknya super duper penasaran jadi semua mainan yang dibeli berakhir akan dibongkar sama dia, rusak, dan Mamak gregetan (ya, mobil-mobilan dicopotin rodanya sebelah, ride on diajak mandi sampai nggak ada bunyinya lagi, sepeda yang ada mainan robot dilepas semua batrenya jadi hilang, dan banyak tindakan kekerasan pada mainannya. Hahahaha). Jadi nggak perlulah mahal-mahal. :)))) Toh kalau nggak ada mainan, anaknya sebenarnya nggak ribet juga. Tinggal main naik turun tangga di rumah sampai Mamak sport jantung, berantakin panci, tarik-tarik anjingnya, urek-urek tanah, lempar batu, bongkar baju-baju sampai berantakan, keluarin body lotion sampe Mamak harus pelototin karena habis, patahin lipstik Mamak. He’ll be happy anyway. ๐Ÿ˜‰

Intinya saya pengen Kaleb tumbuh sesuai usianya, senatural mungkin, se-content mungkin, dan nggak mau menambah stres yang tidak perlu cuma karena ambisi orang tuanya. Saya adalah Mamak ambisius (tadinya) yang juga sedang belajar untuk tidak menjadi terlalu ambisius. Saya lebih pengen Kaleb jadi anak yang bahagia, mandiri, dan bisa memilih jalan hidupnya. Paling penting, punya karakter dan sifat yang baik. Buat apa pintar, tapi bikin sebel orang *lirik banyak politisi sekarang*. Tugas orang tuanya adalah jeli melihat mau ke mana Kaleb nanti dan mengarahkan.

Eh, tapi kalau ditanya ambisi Mamak buat Kaleb sih Mamak pengen Kaleb jadi kayak Ahok. Beuh, berat amat, Mak! :)))))

 

 

 

 

Cinta Pertama Yang Datang Lagi

the-moffatts

Dulu kala saya ngefans banget sama The Moffatts. Hah, siapa tuh The Moffatts? Yang nggak tahu The Moffatts pasti sekarang masih ABG karena pada masanya The Moffatts ini hits banget sampai gaya rambut poni blonde jadi trend ABG waktu itu *kalau ingat lagi ilfil gila itu model rambut wakakaka*. Sukanya sampai saya bikin cerpen untuk masing-masing personelnya. Tokoh utama ceweknya bukan saya, tapi gambaran dari saya, sih *YA SAMA AJA, MBAKNYA!* XD

Kesukaan saya pada The Moffatts sampai pada ngumpulin poster, hapal mati semua lagu-lagunya, non stop talking about them, tahu semua detilnya dan beli semuaaaaa majalah tentang mereka. Sayangnya pas mereka konser di Indonesia waktu itu saya nggak bisa datang. Lupa karena apa, sepertinya karena nggak dibolehin. Tapi pedihnya minta ampun sampai malam-malam di hari konser itu saya nangis tersedu-sedu. Patah hati begini amat ya rasanya. :((( *maklum nggak punya pacar, patah hatinya sama boyband*

Sama kayak anak ABG lagi jatuh cinta, pacar berubah mah kita terima aja, ya. Begitu pun dengan The Moffatts walau album terakhir mereka penuh dengan rambut gondrong berowokan, musik rock nggak selera saya, tapi apa pun yang terjadi saya tetap cintah. Sampai akhirnya mereka tiba-tiba menghilang dan saya patah hati lagi. Ibarat pacar, mutusin nggak, tapi kok menjauh. WHYYY?

Serpihan-serpihan memori The Moffatts mulai memudar, tapi layaknya unfinished bussiness, cintanya sih masih tetap ada. #tsaaah Beberapa tahun lalu aja menemukan video mereka akustikan pas Natal bahagianya minta ampun. Duh, pacar ay sekarang begini toh tampangnya. Akhirnya ngubek-ngubek berita mereka. Clint dan Bob masih bermain musik (sempat bikin grup bikin musik Same-Same di Thai sana, sempat ganti nama beberapa kali), Scott bikin musik juga tapi solo, kayaknya tinggal di Amerika sendiri, Dave ngikutin Canada Idol dan kalah #sad, lalu membuka diri bahwa ia adalah seorang gay *patah hati*. Anyway, Clint dan Bob sama-sama udah punya pacar. Lainnya tampaknya single. Clint baru saja mengumumkan di Instagramnya kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang Bapak. Mantanku sudah dewasa! :’)

Cinta ini masih ada dibuktikan dengan mendownload seluruh lagunya dan mendengarnya di mobil tiap hari. Uh yeah! Masih bisa sing along, nggak ada yang terlupakan. Makanya waktu beberapa bulan lalu diumumkan The Moffatts mau datang ke Indonesia, I was like…………. GUE HARUS NONTON!! Deg-deg ser bok! Pas harga tiket diumumkan, ish nggak mahal. Sungguh nih harus nonton! Yea yea yea!

Tapi namanya kalau nggak jodoh, waktu itu sibuk banget dengan urusan lain sampai lupa banget mau beli tiket The Moffatts, trus diumumkan sama promotornya kalau tiketnya sold out. TIDAAAAAAAAAK! Aku kan belum beli, kenapa udah habis aja, sikkk! *nangis di depan poster The Moffatts*

Pasrah dan ikhlas aja lah. Tapi kenapa foto-foto konser mereka bertebaran di Instagram?Hatiku gremet-gremet banget ini loh, Mas. Sampai akhirnya tadi pagi di Instagram promotornya dibilang tiket untuk hari kedua masih tersisa dan bisa langsung beli di venue. Oh, inikah pertanda kita akan bertemu setelah 17 tahun terpisah? Apakah takdir berpihak pada kita? Apakah cinta ini akan berbalas?

Saya langsung bilang ke suami, “Aku nanti kayaknya mau nonton The Moffatts, deh. Masih ada sisa tiket, nih. Kamu bisa jemput Kaleb dari rumah Opung, trus boboin dia, ya.”

Suami sih no problemo, ya. Silahkan kejar cinta pertamamu. Mungkin tiba waktunya kalian harus menuntaskan asa yang tertinggal. #ciyeeee

Sampai kantor cek Instagram promotornya, jam berapa manggungnya, dan prosedur beli tiket. Kebetulan konsernya dekat banget sama kantor. 10 menit juga sampe jadi nggak masalah.

Masalah utamanya adalah: MANGGUNGNYA JAM 9 MALAM! Malam amat, bro! Kelar jam berapa ini? Anak masih tidur pake nenen. #masalahemakemak

Gini yah, The Moffatts kan band jadul 90an, fansnya juga pasti kebanyakan udah jadi emak-emak beranak. Anak perlu dikelonin pake tetek, cyin! Sayangnya tetek Bapak nggak ngeluarin ASI jadi anak kurang doyan. Hahaha! Plus, mulai jam 9, belum pake ngaret, trus selesai sekitar jam 11 malam atau lebih, pulang rumah udah lewat jam 12 malam. DOH, BADAN EIKE BISA RONTOK di kantor nanti! Maklum, umur mah nggak boong kan! Jam 9 malam biasanya karena waktunya nidurin anak jadinya ya ikutan tidur juga. Ini disuruh begadang sampe tengah malam, apa kabar kantong mata besok pagi? Kalah kantong mata SBY mah! Belum lagi suara serak nyanyi-nyanyi heboh plus jingkrak-jingkrakan, udah pasti pas di kantor besokannya menjelma jadi zombie. Zzz!

Tolonglah para promotor kalau mendatangkan band jadul disesuaikan sama jam tidur fans yang kebanyakan udah uzur juga. Inget, umur nggak bohong, fisik menurun, cyin!

Jadi, dengan berat hati terpaksa nggak bisa ketemu cinta pertama lagi, walau dia sudah jauh-jauh datang dan keberadaannya dekat banget sama saya. Masih galau sih sebenarnya. *duileeeh, masalah boyband doang bikin galau seharian* Tapi dear The Moffatts, cinta pertamaku, kali ini saya harus mengalah karena saya lebih milih ngelonin cinta terbesar dalam hidupku, Kaleb.

Sampai jumpa kapan-kapan, ya! Lain kali kalau mau konser, harus inget diadakan jangan kemalaman, plus siapin day care biar emak-emak yang punya anak bisa tenang hatinya kalau nggak bisa nitipin anaknya. SIP, OKE OCE!

 

PS: Tapi kalau tiba-tiba ada yang kasih tiket gratis, lain cerita ya. Saya pasti datang. *Lah, nggak konsisten #pecintagratisan*