Kaleb Vaksin DPT (Lagi)

Kebayang nggak tahun 2017 tiba-tiba ada outbreak Difteri (untuk penjelasan difteri bisa baca di sini) sampai di Jakarta sendiri pemerintah menyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Di Indonesia sendiri udah meninggal sekitar 30 orang anak. 😦

Sedih banget deh, padahal udah ada vaksin DPT yang bisa gratis didapatkan di posyandu atau puskesmas untuk bisa mencegahnya. Sebagai ibu yang khawatiran, saya langsung cek apakah Kaleb udah lengkap belum vaksinnya. Ternyata Kaleb udah lengkap ada 4 kali vaksin DPT, nanti yang ke-5 pada saat ia berumur 5 tahun. Tapi karena Jakarta dinyatakan KLB, pemerintah pun mewajibkan semua anak di bawah 19 tahun untuk divaksin DPT lagi, apapun status imunisasi sebelumnya. Berarti harus ikut semua, ya.

Kemarin Kaleb ke puskesmas dianterin Opungnya, karena saya lagi kerja. Dari hari sebelumnya saya udah bilang ke Kaleb, nanti divaksin sakit sedikit, jangan nangis. Biar nanti sehat dan kuat. Kebetulan beberapa hari sebelumnya Kaleb ikut ke dokter hewan untuk vaksin Mika (iyes deh, punya anak balita dan anjing tuh ganti-gantian aja jadwal vaksinnya). Mika nggak nangis atau menggonggong pas disuntik *iyalaaah, wong vaksinnya di kulit luar, bukan nembus sampe ke daging-daging jadi hewan nggak bakal kesakitan*. Jadi saya selalu kasih contoh, “Kayak Mika ya berani, disuntik nggak nangis. Sakit sedikit aja.” Kaleb sih iya-iya aja.

Waktu di puskesmas (oh untungnya waktu itu di puskesmas dekat rumah saya masih ada karena di puskesmas sekitar lainnya, kata tetangga saya lagi habis, baru direstock besokannya), dokternya baik-baik banget. Masih muda dan cakep gitu *berdasarkan pemantauan Opungnya hahahaha*. Terjadilah percakapan ini:

Dokter: Namanya siapa?
Kaleb: Kaleb.
Dokter: Udah sekolah belum Kaleb?
Kaleb: Udah.
Dokter: Wah, sekolah di mana?
Kaleb: Sekolah minggu di gereja. *wakakakaka, ya bener juga sih. Soalnya kami selalu bilang sekolah minggu. :))))*
Dokter: Udah kelas berapa?
Kaleb: Kelas dua. *kalau ditanya angka, kelas, umur, Kaleb selalu nyebut angka 2 karena pas mau ultah kedua dibrain wash berkali-kali mau umur 2 hahaha*
Dokter: Di sekolah belajar apa, sih?
Kaleb: Belajar Tuhan Yesus. *Ya bener juga XD*

Si dokter pun senyum-senyum sendiri karena Kaleb bisa aja jawabnya. Pas mau disuntik dokter minta opungnya untuk pegang tangan Kaleb supaya nggak bergerak-gerak. Trus Kaleb nyeletuk: “Kata Mami kalau disuntik nggak boleh nangis.”

Dokternya langsung ketawa, “Iya, jangan nangis, ya.”

Tapi pas disuntik Kaleb agak kaget dan dia agak teriak, lalu dokter bilang, “Katanya nggak boleh nangis.” Trus langsung Kaleb inget dan nggak jadi nangis. Gengsi doi, bok. Hahaha.

Sebelumnya Kaleb biasanya pake vaksin DPT yang nggak bikin demam, jadi saya nggak pernah ngerasain anak demam karena vaksin. Kalau pun ada vaksin yang bikin demam, Kaleb nggak pernah demam. Nah, kali ini karena diadakan pemerintah, vaksin DPTnya tentu yang bikin demam (karena kalau yang nggak bikin demam mahal, kasihan pemerintah dong, ya). Puskesmas sekalian kasih obat penurun demam jaga-jaga kalau demam.

Nah, benar aja menjelang sore tangan bekas suntikan mulai bengkak dan Kaleb mulai mengeluh tangannya sakit. Lalu, malamnya Kaleb demam. Plus, ternyata Kaleb udah mau batuk, jadi udah deh semalaman dia nggak bisa tidur nahan tangan sakit, batuk-batuk, dan demam *mamak pun begadang, kena muntah karena batuk berdahak, gendong semalaman horeee*. Untungnya begitu dikasih obat penurun demam, demamnya langsung turun. Paginya, Kaleb bilang tangannya udah nggak sakit. Yeay!

Dokternya mengingatkan nanti bulan Januari ada vaksin DPT lagi yang kedua, jangan lupa. Oke, dok!

Kebayang nggak bahayanya nggak vaksin? Kaleb aja yang vaksinnya lengkap, “terpaksa” harus vaksin ulang lagi karena ada wabah ini. Ngulang lagi deh tuh proses sakitnya, begadang karena demam. Padahal saya udah bahagia banget merasa bisa ongkang-ongkang kaki karena semua vaksin Kaleb udah lengkap, tinggal nanti vaksin ulangan pas 5 tahun.

Saya ingat waktu saya baru melahirkan, perawat memberi saya jadwal vaksin yang buanyaknya minta ampun itu, “Jangan lupa divaksin anaknya, ya Bu.” Sebagai ibu baru, ya saya iya aja. Nggak merasa bahwa vaksin itu pilihan; bisa ya dan bisa tidak. Buat saya vaksin itu kewajiban saya sebagai orang tua dan hak anak untuk hidup sehat. No choice.

Baru kemudian saya sadar, harga vaksin itu mahal banget. Dan nggak semua vaksin ditanggung pemerintah. Kalau nggak salah ada Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT-HB), Polio, Campak, MR. Bisa didapatkan gratis di Posyandu dan Puskesmas terdekat.

Nah, yang nggak ditanggung lebih banyak lagi dan harganya emang bikin kantong meringis. Tapi sama kayak sekolah yang merupakan kewajiban orang tua untuk menyediakan, maka ya mending nabung dan ngirit daripada nggak divaksin. Secara psikologis bikin hati orang tua juga lebih tenang karena merasa anaknya dapat proteksi yang baik. Kalau pun memang tidak mampu dan berat banget, tetap aja harus ikut vaksin yang disediakan gratis oleh pemerintah. Harus lengkap itu semua.

Kalau keputusan orang tua untuk tidak memvaksin anaknya HANYA berakibat pada anaknya ya nggak papa, masalahnya penyakit yang divaksin ini biasanya menular, jadi wabah, dan mematikan. Taruhannya nyawa, bok. Satu anak nggak divaksin, lalu nularin anak lainnya, lalu satu komunitas semua kena penyakit, jadi wabah, dan meninggal. Bayangin, kalau anak-anak di Indonesia banyak yang meninggal karena wabah. Mau di kemanain generasi selanjutnya? 😦

Ketika kita tidak memvaksin anak kita, kita membahayakan anak lainnya. So, you’re being so selfish. Egois dan jahat. Ikhtiar itu bukan pasrah, tapi berusaha untuk melakukan yang terbaik buat diri sendiri dan orang di sekitar. Kecuali, kamu memutuskan untuk tinggal di bulan di mana cuma ada kamu dan anakmu, bolehlah kamu nggak memvaksin anakmu. Kalau masih tinggal di bumi, hidup bareng orang lain, ada anak lagi, keputusanmu bukan cuma berakibat pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Ya kecuali nggak merasa perlu bergaul ke luar, ngurung diri di kamar aja jadi virusnya ya bolak-balik di situ.

Jadi tolong anaknya divaksin ya. Ini soal nyawa, bukan soal keegoisan diri sendiri.

Advertisements

Agree To Disagree

Saya mau cerita tentang satu teman saya yang unik banget. Sepanjang sejarah persahabatan saya dengan banyak orang, she is the most unique one.

Saya punya teman satu geng yang isinya 7 orang perempuan, semua kuliah di jurusan psikologi. Udah pastilah ya semua sifat dasarnya mampu berempati. Kecuali 1 orang ini. Kita sebut saja Bunga. Bunga ini teman SMP saya, dulu nggak dekat-dekat banget. Nggak sengaja ketemu lagi pas kuliah. Eh, ternyata satu jurusan dan satu kelas pula, tapi dia masuk jurusan psikologi karena disuruh emaknya. Dia ogah sebenernya, tapi nggak punya pilihan. Jadilah sepanjang 4 tahun kuliah, dia ngintilin saya karena dia nggak bisa punya teman dekat. Why oh why?

Dia adalah orang yang sangat mengutamakan logika. Dia berani berdebat sama dosen kalau dirasa aturannya nggak masuk akal dan apa tujuannya? Dia berani keluar dari kelas kalau dia merasa kuliahnya tidak berguna. Gila ya. Makanya nggak ada yang mau sekelompok ama dia daripada ribet kan, ya. Tersisalah kami berenam yang dengan senang hati menerima keanehannya. Ya aneh dong. Di antara mahasiswa-mahasiswa psikologi yang mostly pakenya feeling, terdamparlah satu orang ini yang logika banget.

Nggak tahu berapa kali kami berdebat, berantem, sebel-sebelan, tapi selalu berakhir baikan lagi. Karena enaknya temenan sama orang yang logis adalah dia nggak baperan. Berantem karena satu topik, tapi itu nggak berarti bakal berkepanjangan. Bahkan dia nggak nyebut itu berantem, dia nyebutnya bertukar pikiran. Tsaaah!

Sampai sekarang kami satu grup masih sering berdebat dengan Bunga. Terakhir kami berdebat panjang lebar cuma karena milih tempat ngumpul. Secara tempat tinggal kami tersebar dari Jakarta Barat ke Jakarta Utara, jadi biasanya pilih tempat yang di tengah-tengah. Nah, dia mengusulkan nginep di apartemen tengah kota, seperti Kuningan, Sudirman, dsb. Apartemennya harus dekat mall dan harus ada layanan taksi 24 jam, dengan harga yang jangan mahal-mahal banget lah. Bagus kan idenya.

Lalu kami semua memberi ide lah. Ada yang kasih ide sewa villa yang ada kolam renangnya, ada yang nawarin tempat tinggalnya jadi tempat ngumpul aja karena lumayan luas walau jauh di pinggir kota, ada yang nyaranin daerah A, B, C. Kami tampunglah semua idenya, tapi si Bunga ini keukeuh harus di tengah kota karena berbagai alasannya tadi. Masalahnya adalah yang lainnya tidak masalah di mana pun yang penting tempatnya nyaman buat anak-anak karena mostly udah punya anak. Bunga tetap menggiring opini bahwa harus di tengah kota dan di apartemen.

Sampai akhirnya kami merasa terganggu karena pointnya bukan cuma soal tempat, tapi lebih ke kepentingan dan kenyamanan kami semua. Kenyamanan bukan cuma soal jaraknya di tengah kota saja, tapi kepentingan teman-teman lain yang bisa jadi pertimbangan. Kami nggak masalah kalau harus ngumpul di rumah teman walau jauh karena toh tanggal yang diharapkan adalah hari libur jadi nggak macet. Dia bilang dia nggak mau jauh karena akan ribet dia ke sananya, padahal dibandingkan teman-teman lain yang lebih jauh, rumah dia termasuk di pusat kota yang dekat ke mana-mana, termasuk ke rumah teman ini.

Dan kami sebagai emak-emak nggak masalah mau di apartemen, villa, rumah orang yang penting semua nyaman dan sepakat aja. Lalu kami pun mulai berdebat. Dan dia mulai mengeluarkan alasan, “Coba cek secara statistik mana yang lebih memudahkan? Apakah di tengah kota di mana semua aksesnya mudah atau di dalam komplek di mana cari makan aja susah?”. Ya jelas jawabannya di tengah kota, tapi kan kami maunya sama-sama memilih tempat yang kami suka. Bukan cuma dia yang pilih dan semua orang harus ikut pilihannya. Tapi dia tetap ngotot bahwa dia sudah membuat pilihan yang paling logis dan nyaman buat kami semua secara jarak dan ketersediaan restoran.

Perdebatan akhirnya dihentikan. WA grup diam selama beberapa hari. Sampai akhirnya, satu orang memulai pembicaraan lagi dan karena deadlock, kita putuskan aja nggak usah nginep tapi ngumpul di rumah satu orang sambil potluck bawa makanan. Semua setuju, kecuali si Bunga tentunya. Hahaha. Dia bilang, “Have fun, ya. Gue nggak ikut karena ribet ke sananya.” Padahal ngumpul lengkap itu cuma 1 tahun sekali karena nunggu teman yang tinggal di Sydney dan Surabaya balik dulu. Dan beberapa orang rumahnya lebih jauh dari dia dan oke-oke saja harus mengarungi setengah Jakarta asal bisa kumpul bareng.

Tapi ya udah, that’s her decision. Nggak ada yang sebel, bete, dan kesal. Nggak mungkin kan sampe nyeret dia untuk datang demi ngumpul bertujuh kalau memang dia tidak mau (bukan tidak bisa ya. Tapi tidak mau saja). Setelah itu, ya biasa aja. Kami becanda kayak biasanya, ngobrol kayak biasanya seperti nggak pernah gontok-gontokan. Hihihi.

The point is cara berpikir kami berbeda. Dia yang sangat logis, tidak bisa memahami cara pikir kami yang pake feeling. Sementara kami yang pake feeling, nggak bisa paham kenapa dia nggak menurunkan egonya sedikit dan berempati. So most of the time, we agree to disagree. Karena memang sudut pandang kami dalam melihat sesuatu sudah berbeda jadi akan bersebrangan pendapatnya. Plus, tidak perlu disatukan karena toh bukan hal besar yang menyangkut kepentingan hidup bersama, keberlangsungan negara, atau kesejahteran hidup orang banyak. Hahaha, serius ini. We don’t sweat the small things. That’s why we’ve been friends for 14 years. Egile lamanya!

Hal ini sama yang terjadi ketika saya membaca satu tulisan heboh yang bikin panas jagat per-blog-an beberapa hari ini. Satu orang yang memberikan alasan logis menurutnya, lalu menggeneralisir satu Indonesia. Banyak yang kesal, banyak yang marah, banyak yang merasa tersinggung. Wajar, karena bahasanya cukup provoking, sih.

But I put it this way. Dia sama kayak teman unik saya si Bunga. Dia mungkin berpikiran logis, sehingga kurang memiliki empati. Bahwa satu kejadian itu tidak bisa dilihat dari satu sisi logis aja, tapi tetap ada sisi emosionalnya karena kita hidup bermasyarakat dan tidak sendiri. Ada perasaan orang yang perlu dipertimbangkan, ada situasi lain yang mungkin tidak bisa digeneralisir, ada sisi emosional yang tanpa sadar berperan terhadap keputusan seseorang. That’s what makes us human. Kita mempunyai kelebihan budi pekerti, tidak cuma berpikir logika seperti robot.

Tapi, sebagai orang yang berseberangan dengannya, sama seperti ketika saya menghadapi si Bunga, I should say we agree to disagree. Karena sampai mulut berbusa, we will think differently. Sudut pandang sudah berbeda, cara berpikir berbeda, jadi ya sulit untuk disatukan. No need to feel hard feeling karena balik lagi kalau dia tidak menyusahkan negara, bukan sebagai pengambil keputusan di Indonesia, tidak membahayakan keberlangsungan hidup masyarakat, dan tidak menunjuk langsung secara personal untuk siapa tulisan itu, yah let it go.

Karena ketika kita reaktif dan menunjukkannya ke banyak orang; orang-orang malah jadi penasaran dan pengen baca tulisannya. Lalu semakin banyak orang yang marah, lalu membesarlah. Padahal kadang-kadang kita nggak kenal di dunia nyata, tapi akhirnya malah berantem di dunia maya. Dan itu salah satu yang bikin sedih karena banyak perpecahan terjadi saat ini cuma karena berantem di sosmed, lalu menjalar ke dunia nyata (cue: Pilkada).

I hope we say this more often to something that doesn’t worth our energy: we agree to disagree. And just let it go. 🙂

Intinya: cuekin aja. XD

 

PS: Saya senang banget kenalan sama teman-teman baru di blog dan akhirnya saya follow Instagramnya dan ada beberapa yang jadi saling DM. I hope you know this is me not taking any side, but seeing this from other perspectives. 🙂

 

 

 

 

 

Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.

Belum Siap

Weekend ini dimulai dengan Mbak yang sakit. Awalnya kakinya sakit cantengan jadi jalannya pincang, lalu tiba-tiba perutnya nyeri sampai dia tiduran. Akhirnya pulang kantor langsung dibawa ke Puskesmas (pengen cerita soal Puskesmas yang sekarang keren banget, tapi di lain postingan aja, deh). Ternyata Mbak kakinya infeksi dan maag akut sehingga weekend ini saya bebaskan tugas dan biarin aja dia istirahat. Alhasil, Sabtu dimulai dengan belanja ke pasar, masak makanan Kaleb dan Mbak, tidurin dan mandiin Kaleb, kasih makan Kaleb, endesbrei endesbrei. No leyeh-leyeh.

Lalu Bapake telepon bilang kalau dese nggak enak badan, muntah-muntah, diare, meriang. Hm, perasaan kemarin baik-baik aja. Setelah ditelusuri, kemarin di kantornya ada acara tumpengan dan dia makan nasi tumpeng. Besoknya beberapa orang yang makan nasi tumpeng diare juga.

Sudah selesai? Belum. Malamnya Kaleb sumeng. Belum sampai panas, sih. Masih dikisaran 37,2 derajat, anaknya masih ceria dan aktif. Tapi jadi moody dan seharian nggak nafsu makan, serta clingy banget. Eh, pas malamnya malah muntah-muntah.

Mamak, Puji Tuhan, baik-baik aja. Emosinya aja yang terganggu karena orang serumah sakit. Hahaha!

Nah, jadi kalau ditanya kapan nambah anak lagi, I will remember this day. One of the hardest days of my motherhood journey.

Masih ingat cerita waktu saya tahu hamil dulu? Ceritanya di sini. Singkat cerita, waktu itu setelah 2 tahun ngotot hamil dengan segala cara, saya bilang ke Tuhan kalau saya siap punya anak. Siap yang disertai rasa ikhlas dan pasrah. Jadi, kalau Tuhan mau kasih puji Tuhan, kalau Tuhan belum mau kasih mari nikmati hidup. Rasanya hati plong banget karena merasa apapun yang diputuskan Tuhan, saya siap. Saya ingat banget waktu itu berdoa seperti itu di perjalanan pulang habis jenguk sepupu yang baru melahirkan di awal bulan Juli 2014. Dua minggu kemudian, saya baru tahu saya hamil 5 minggu. Berarti Tuhan sudah memberikan sebelum saya meminta, kan. Isn’t He amazing?

Tapi kalau ditanya sekarang, apakah saya siap untuk anak lagi? Saya biasanya diam sebentar, tutup mata, membayangkan proses melahirkan SC kemarin yang masih bikin trauma, masa-masa newborn yang sungguhlah lelah luar biasa, sempat baby blues, masa-masa pumping non stop kejar setoran selama 20 bulan, dan menyusui 2 tahun 4 bulan. Sungguh ya, itu lelahnya aja masih berasa banget.

Saya baru bisa bernapas lega 2 bulan terakhir karena anaknya udah stop nenen dan baru di usia 2 tahun ini anaknya bisa tidur sepanjang malam. Sebelum itu, tidur ya selalu kebangun karena Kaleb minta nenen. Jadi disuruh ngulang itu semua lagi sekarang? Stop, nanti dulu, deh.

Waktu itu saya pernah nanya ke Mama saya, “Kok pengen punya anak lagi? Emang nggak ingat sakitnya pas melahirkan?”. Mama saya menjawab, “Lama-lama akan lupa kok sakitnya, digantikan kepengen punya bayi lagi.” Oh ya? Kok saya masih ingat rasanya jantung mau copot masuk ke kamar operasi, sendirian menggigil kedinginan di kamar pemulihan, pertama kali belajar duduk dan jalan yang sakitnya ampun-ampunan, sembelit karena habis operasi yang bikin mau pup aja sampe nangis, selama 1 bulan bekas jahitan masih sakit yang bikin mau gerak juga susah tapi harus gerak untuk ngurus anak (anyway, saya sampai sekarang aja masih nggak berani lihat bekas jahitan sc sendiri, lho). Rasa sakitnya masih jelas buat saya karena walau setelah 1 bulan itu udah nggak terasa, tapi begitu ketendang anak yang nyeri juga rasanya.

Sebagai orang yang juga pencemas, buat saya masa-masa ASI eksklusif juga menjadi tekanan buat saya. I love breastfeeding. Tapi saya nggak suka pumping. Rasanya lihat botol hasil perahan tuh semacam kayak ngumpulin ujian. Nggak mood dikit, langsung hasilnya dikit. Jaga mood itu susah banget! Konsisten pumping demi ASIP tercukupi juga melelahkan.

Selain hal-hal di atas, ada banyak hal juga yang jadi pertimbangan lainnya. Salah satunya, Kaleb yang belum siap. Beberapa kali saya tanya ke Kaleb, “Mau punya adik nggak?”. Yang dijawab, “NGGAK!”, lain waktu dia bilang, “Mami, tempat tidur ini sempit, buat Mami sama Kaleb aja.” Dih, padahal tempat tidurnya lebar. Bisa aja doi! XD Kalau ngomongin soal adik, dia bisa pura-pura nggak dengar, mengalihkan pembicaraan, atau langsung peluk saya sambil bilang, “Kaleb sayang Mami”, biar saya nggak ngomongin adik lagi. Belum lagi kalau saya lagi gendong anak orang, dia akan marah, pegang saya kuat, dan bilang, “Mami, jatuhin aja adiknya!”. Ebuset, anak orang itu, Kaleb! So I guess, he’s not ready yet.

Jadi kalau ditanya orang kapan nambah anak lagi, saya pasti bilang, “Nanti-nanti, deh!”.

 

 

 

 

(Sebenarnya ada lebih banyak alasan lagi kenapa belum mau nambah, tapi mungkin akan ditulis di post lain. Hihihihi)

 

 

 

 

 

Kangen Film RomCom

Jadi gimana Senin ini? Sudah move on-kah dari #PatahHatiNasional Jilid 2. Ih, minggu lalu tuh bukan cuma Babang Hamish yang bikin patah hati, lho. Buat saya minggu lalu minggu yang sungguh double patah hatinya karena Koko Dion Wiyoko juga menikah minggu lalu.

Hamish Daud kan emang nggak diragukanlah gantengnya maksimal, kalau senyum bikin perempuan kelepek-kelepek, manalah cowok banget dengan olahraga diving, panjat gunung, dsb. Beuh, pengen minta dilindungi banget sih sama Babang Hamish. XD Sementara Dion Wiyoko itu tipikal yang berkarisma. Senyumannya tuh meneduhkan, kalem, dan seksi. Dion dulunya aktingnya biasa banget dan sering main di film abg-abg, tapi sekarang…beuh, aktingnya keren banget. Di film Cek Toko Sebelah aja, dia yang paling mencuri perhatian saya. Ernest tuh jadi nggak kelihatan seperti tokoh utamanya. Sama tonton deh serial pendeknya dia: Sore. Duh, semacam pengen nyebelin tapi habis itu pengen dirangkul. Unch unch!

Jadi yah, setelah melewati patah hati Dion Wiyoko menikah, beberapa hari kemudian menghadapi Hamish menikah jadi lebih ringan. APA SIK, MI? XD

Nggak, postingan kali ini bukan tentang #PatahHatiNasional kok. Soalnya mau bahas kawinan Raisa-Hamish nanti eike jadi nyinyir. Wakakaka *jahit mulut*.

Anyway, ada yang bosen nggak sih sama jenis film-film bioskop sekarang? Kok saya bosen banget, ya. Genre yang lagi ngetren sekarang tuh action, horror, dan kartun. Drama jarang banget, apalagi romcom hampir nggak ada. Kalau mau cari yang drama dan romcom ya beralih ke film Indonesia. Tapi untuk nemuin karakter yang chemistrynya bagus banget tuh jarang. Terakhir nonton Critical Eleven yang chemistrynya nyambung banget. Sementara romcom atau drama perlu banget tokoh-tokohnya punya chemistry yang bagus.

Jadi tiap ke bioskop tuh nonton, merasa kagum dan menikmati, tapi bukan yang pengen ngulang nonton berkali-kali. I don’t get the warm feeling after watching the movies. Makanya akhir-akhir ini jarang nonton ke bioskop. Sebagai gantinya, saya streaming film-film drama dan romcom jaman dahulu, kayak Bride Wars, The Proposal, A Walk to Remember, Hannah Montana, A Cinderella Story, Drive Me Crazy, She’s All That, Serendipity, dll.

Setelah nonton dan ternyata saya masih suka. Saya bisa terhibur dan merasa hangat bersamaan. Nggak capek dengan segala macam tembak-tembakan dan kejar-kejaran, tapi ya menikmati aja. Kayak misalnya kemarin nonton The Proposal. Saking lamanya nonton film itu, saya jadi lupa jalan ceritanya dan berakhir saya nangis terharu. Yah, mungkin karena lagi PMS sih, tapi yah senang aja akhirnya bisa merasakan perasaan yang dirasakan si tokoh utama.

Selain nonton film lama, saya juga jadi sering baca chicklit di Wattpad. Ternyata banyak cerita bagus, ya. Saat ini saya lagi baca yang judulnya “Resign!!!”. Ceritanya tentang anak buah dan bos yang tentunya diselingi romance. Aslik, ini ceritanya lucu banget sampe saya ngakak-ngakak sendiri tiap baca. Dan saya ngebayangin kalau novel ini dibikin film pasti menyenangkan, deh. Sayangnya, ceritanya masih on going jadi masih harap-harap cemas nunggu lanjutannya.

Kegiatan dua ini ternyata mengisi kehausan saya akan romcom yang nggak bisa terpenuhi beberapa tahun ini. Coba aja deh, serial tv yang romcom yang asik akhir-akhir ini apa? Nyaris nggak ada. Mentok paling saya masih ngikutin Modern Family. Oh, sama This Is Us. Habis itu nggak ada lagi. Dahaga bener sama cerita-cerita manis.

Ada yang kayak gitu juga nggak sih? Kasih ide dong film romcom atau buku chicklit yang bagus apa lagi?

Tentang Etika dan Bahasa Alay

Salah satu alasan saya mengajarkan Kaleb berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah di jaman sekarang saya lebih gampang nemu ABG yang nulis alay sampai saya nggak paham maksudnya, daripada berbahasa Indonesia. Saya pernah jadi anak alay sih (WHO DIDN’T? HAHAHA) yang simpan kontak di HP dengan huruf besar dan kecil. TAPI… saya nggak pernah nulis sms atau kirim surat atau apapun yang berbentuk tertulis dengan bahasa alay, bahkan ke teman sendiri dengan konteks santai. Never. Makanya saya bergidik geli lihat sebegitu ignorant-nya anak-anak ABG sekarang dengan bahasa.

Bukan cuma itu aja. Kalau situasi non formal aja suka geli lihat bahasa alay, sekarang malah ada banyak kejadian di situasi formal. Misalnya, kirim lamaran pekerjaan ke suatu perusahaan. Di body e-mail nggak ada perkenalan atau apalah, nggak ada cover letter. Blank. Kosong. Cuma attach CV. Ini diibaratkan mau minta kerja, tapi nggak sopan caranya. Yang ada e-mail lamaran kerjaan kamu langsung di-delete aja, tanpa dilihat sama sekali.

Ada yang namanya ETIKA, lho dan ini bagian yang penting.

Jadi suatu ketika ada promotor. Promotor ini tampaknya memang baru. Project-nya baru menangani beberapa event artis-artis indo semacam artis GGS untuk fanmeeting. Kemudian mereka melebarkan sayap dan berusaha mendatangkan seorang artis luar negeri. Wuidih, keren dong, ya.

Karena event fanmeeting ini belum ada sponsor, jadi mereka berusaha untuk mendekati fanbase-fanbase si artis ini di Indonesia. Beberapa fanbase punya followers puluhan ribu di Instagram dan masih aktif, yang mana akan jadi peluang untuk si promotor untuk promosi dong, ya.

Masalahnya adalah etika bisnis mereka parah! Parahnya seperti ini (mereka mengirimkan pesan via DM Instagram, padahal jelas di kontak bio fanbase ini ada e-mail resmi):

A: “Min, minta kontaknya, dong.”
–> Ujuk-ujuk datang nanya kontak. Kesel nggak bacanya? Siapa elo, udah nggak kenal, enak aja nanya kontak pribadi. Gini lho, etikanya adalah perkenalkan diri, jelaskan tujuannya dengan baik dan detil, lalu tanyakan dengan sopan adakah kontak yang bisa dihubungi (tapi sebenarnya kalau mau baca dulu, udah ada di bio, sih).
–> Akan lebih baik begini: Hai, nama saya Ani. Saya adalah bagian dari EO yang akan menyelenggarakan fanmeeting Incess pada tanggal 10 Desember 2020 di Monas. Sehubungan dengan fanmeeting ini, kami ingin meminta bantuan untuk promosi. Adakah e-mail atau nomor telepon yang dapat kami hubungi sehingga kami bisa jelaskan dengan lebih detil? Terima kasih untuk perhatiannya. Salam, Ani.

B: “Halo min, followermu ada berapa? Ada yang mau ikut fanmeeting?”
–> Banyaknya followers bisa dilihat di IG. Lah, emang si mimin cenayang tahu followersnya siapa aja yang mau ikut fanmeeting?
–> Kalimat tanya kayak gini juga nggak jelas. Mau apa nanya siapa yang ikut fanmeeting? Mau sekedar tanya aja? Mau kasih free ticket? Mau suruh promoin? Atau apa?

C: “Selamat pagi min, boleh minta bantuannya untuk promosi fanmeeting incess?”
–> Helloooo, ini sapose ujuk-ujuk datang nyuruh promosiin fanmeeting orang? Sekali lagi, kalau mau minta bantuan orang, perkenalkan diri, jelaskan maksud dan tujuan dengan detil, tanyakan kontak resmi agar bisa menulis proposal dengan resmi, dan ucapkan terima kasih.

D: “Tengkio, min.”
–> Bahasa apa itu tengkio? Kalau ngomong ke sesama teman ya suka-suka hati kalianlah. Tapi kalau ini situasi yang formal, apalagi untuk kepentingan bisnis: jangan gunakan bahasa alay. Keep it for yourself. Orang yang dituju nggak perlu tahu di kehidupan nyata kamu alay. Pakailah bahasa yang resmi dan wajar saja, seperti terima kasih. Jangan disingkat-singkat, jangan diganti pake bahasa alay, jangan dicampur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apalagi bahasa alay. NO! DON’T! NEVER!

Logikanya gini ya, kamu meminta bantuan orang, jadilah orang yang sopan. Bukan nggak punya etika langsung nodong orang melakukan sesuatu untuk kamu. PERKENALKAN DIRI itu penting! Emang kalau ada orang nggak jelas siapa dan tujuannya apa, kamu mau bantu? Males, kan?

Kalau untuk kepentingan bisnis (inget lho, promotor ini tujuannya adalah mendapatkan keuntungan materi dari menyelenggarakan fanmeeting) tawarkan imbalan, bisa berupa fee promosi, barter sesuatu, tiket gratis, voucher, diskon, atau apalah. Karena tujuannya bisnis. You HAVE TO thank properly people who help your business. Kamu dapat uangnya, sementara yang promosiin gigit jari aja? That’s unfair.

Jadi tolonglah, kalian boleh muda, kalian boleh masih belia, tapi etika itu harus ada. Apalagi kalau untuk tujuan formal, nggak ada excuse bahwa kalian masih muda, masih baru saja memulai usaha. Belajar, jangan cuek, sopan, PUNYA ETIKA.

Sungguh lho, waktu saya SMP aja, di sekolah saya ada pelajaran surat-menyurat resmi, di SMA pun ada pelajaran administrasi, yang salah satunya berhubungan dengan surat menyurat, apalagi pas kuliah..beuh, banyak banget diajarin soal berbahasa yang baik karena harus banyak praktek ke institusi, interview orang-orang dalam situasi formal, dan ditekankan banget soal beginian. Lagian, seharusnya etika dimulai dari rumah, kan?

Mulai sekarang, yuk belajar buat lebih berbahasa yang baik dan benar. Bahasa alay-mu tolong dipakai buat diri sendiri dan teman-temanmu aja. Bukan buat situasi formal lainnya, ya. Jangan karena kamu hubunginnya lewat sosmed atau e-mail jadi nggak bersikap sopan. Dengan siapapun kita berhubungan, apalagi nggak kenal, coba tolong perhatikan etika yang benar. Sip!

Jadi ada yang mau nonton Incess nggak? XD

 

 

Vaksin Itu WAJIB!

Huft, tahun 2017 ternyata masih ada yang antivaksin, nih?

*menghela napas sampai sesak*

Oh ya, belajar dari kasus Jupe yang terkena kanker serviks; vaksin serviks itu udah ada lho dari dulu dan mampu mencegah kanker serviks. Idealnya perempuan umur 11 tahun sudah bisa vaksin serviks. Jadi dari masa puber lebih baik. Tapi kalau dulu nggak tahu, bisa juga dipake sebelum berhubungan seksual. Tapi kalau misalnya sudah berhubungan seksual, cek papsmear dulu, ya. Baru kalau hasil papsmearnya bersih, lanjut vaksin serviks.

Ini pengalaman saya vaksin serviks 6 tahun lalu, sebelum menikah. Permasalahannya adalah banyak yang enggan untuk papsmear atau vaksin serviks karena pertanyaan dari tenaga medis adalah, “Mbak sudah menikah atau belum?”. Err! Begini lho, vaksin serviks itu sebaiknya dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual, terlepas dia sudah menikah atau belum. Papsmear sebaiknya dilakukan 1-2 tahun kalau sudah berhubungan seksual secara aktif, lagi-lagi terlepas dia sudah menikah atau belum.

Jadi pertanyaan sudah menikah atau belum dari tenaga medis akan jatuhnya menghakimi. Misal, dia jawab belum menikah tapi mau papsmear, yang mengindikasikan berarti sudah berhubungan seksual sebelum menikah. Lalu pandangan si tenaga medis akan berubah dan judging. Bikin pasien jadi nggak nyaman dan akhirnya enggan untuk balik lagi.

Saya sadar di Indonesia normanya adalah belum berhubungan seksual sebelum menikah. Tapi pada kenyataannya ADA yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah. Dan apakah yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah tidak boleh mendapatkan perlakuan medis yang baik, tanpa ada tatapan menghakimi?

Akan jauh lebih baik  kalau tenaga medis tidak perlu memperhalus pertanyaan dengan “sudah menikah atau belum?”, tapi langsung straight to the point, “sudah berhubungan seksual aktif atau belum?”. Dan nggak perlu kepo jugalah kalau sudah berhubungan seksual berarti dia sudah menikah. Keep it simple, no judgment. Pasien juga pastinya lebih nyaman karena dia akan di-treat berdasarkan keluhan, bukan dihakimi moralnya.

Nah, soal antivaksin pada anak. Prinsip saya cuma satu, kalau itu terbaik untuk anak dan membuat anak saya lebih sehat, serta secara ilmiah sudah terbukti, let’s do it! Berusaha jadi alamiah, tapi habis itu mengorbankan kesehatan anak is a big NO for me. Plus, vaksin itu bukan cuma soal imunitas diri sendiri tapi imunitas kelompok. Harapannya suatu saat kalau semua anak sudah divaksin, maka penyakit tersebut punah. Nah, para dokter seluruh dunia udah gencar mau bikin punah itu penyakit, trus kucuk-kucuk orang sok tahu bilang nggak usah vaksin lalu anaknya terkena penyakit. Maleh, kapan itu penyakit punah jadinya? Kan jadi outbreak lagi. *nangis di pojokan*

Gini ya, nggak perlu sok anti kimia. Udara yang kita hirup setiap hari aja itu kimia, namanya oksigen alias O2. Gimana caranya bisa anti kimia buat anaknya kalau udara aja sudah berbentuk zat?

Jangan bilang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan. IYA emang dari Tuhan. Tapi Tuhan juga menciptakan manusia dengan akal budi jadi harus juga berusaha menjaga kesehatan dan berusaha juga untuk makan obat ketika sakit. Baru deh Tuhan yang menentukan mau disembuhin atau nggak. Kalau vaksin aja nggak mau, ya wajar aja Tuhan kasih penyakit. Lagian kalau emang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan, kalau lagi sakit nggak perlu berobat ke dokter, ya. Cukup berdoa aja. Nanti imanmu  yang menyembuhkan. Oke sip!

Jadi jadi orang tua itu harus bijaksana. Saya termasuk yang sebisa mungkin anak nggak pakai obat kalau emang nggak perlu sakitnya, saya juga berusaha bijaksana dalam penggunaan antiobiotik, tapi saya tidak anti dengan obat dan antibiotik. Kalau misal anaknya sakit batuk pilek sampai tahap sudah tidak nyaman, nggak bisa tidur, nggak mau makan, trus saya maksa nggak pake obat dan bergantung pada minyak esensial aja, ya berarti saya egois. Tentu saja obat to the rescue lah. Tujuannya bukan soal pake obat atau nggak, tapi soal anak merasa nyaman karena ia sehat.

Jadi ibu itu harus bisa fleksibel. Tidak ada satu teori parenting yang paling benar. Semuanya cocok-cocokan dan disesuaikan dengan kondisi anaknya juga. Makanya jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, lah wong prakteknya bisa beda-beda tiap anak, kok. Tapi yang pasti, fokusnya adalah anak. Logical reasonsnya pun harus benar. Patokan saya: kalau sudah ada penelitiannya berarti valid. Jadi, antivaksin is a big no. Gunakan nalar yang benar, bukan cuma soal keyakinan membabi buta.

Yuk, barengan vaksin biar sama-sama sehat. Jangan sampai nanti nangis-nangis panik pas anaknya sakit karena nggak vaksin kayak mbake itu loh. 😀

 

 

Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? 🙂

 

Semacam Baru Dicharge Lagi

IMG_20170528_220840_434

Kemarin untuk pertama kalinya saya ke gereja setelah berbulan-bulan nggak. Sejak Kaleb umur 1 tahun, saya merasa dia udah siap untuk sekolah minggu. Ya, masih main-main dan belum bisa fokus, sih. Tapi di gereja ada kelas bayi untuk umur 0-24 bulan. Kegiatannya simple banget; nyanyi lagu-lagu sederhana, dengerin cerita Alkitab singkat paling lama 10 menit, dan udah main-main aja, maksimal 30 menit. Cukup banget buat Kaleb bersosialisasi dan dia memang senang. Ketika umur 2 tahun, Kaleb naik kelas toddler. Di sini kegiatannya lebih panjang, sekitar 1 jam; nyanyiannya lebih panjang dan banyak, khotbahnya lebih panjang, dan kegiatannya lebih banyak.

Saya selalu nemenin Kaleb masuk ke sekolah minggu karena dia belum bisa kan ditinggalin sendiri. Guru sekolah minggunya maksimal 3-4 orang. Sementara anak-anaknya bisa 30an orang. Banyak bener, kan. Makanya pendamping diharapkan ikut kalau yang masih kecil banget. Kalau yang udah 3-4 tahun bisa dilepas.

Sebenarnya bisa aja saya minta bantuan Mbak untuk ikut ke sekolah minggu jagain Kaleb, sementara saya beribadah di ibadah dewasa. Tapi, kok ya rasanya tanggung jawab bawa anak ke gereja itu tanggung jawab saya. Plus, saya juga mau tahu apa yang diajarkan di sekolah minggu, sehingga saya bisa ulang lagi di rumah. Makanya, sudah berbulan-bulan saya nggak ke ibadah dewasa. Demi anak! XD

Sampai akhirnya sebulan ini saya kok ngerasa kosong banget, ya. Kayak jiwanya butuh direcharge lagi karena udah low batt. Beberapa minggu sebelumnya sempat minta suami gantian yang jagain Kaleb. Awalnya suami yang ragu karena ya dia bakal jadi cowok sendiri yang jagain anak. Biasanya kan ibuk-ibuk atau susternya, ya. Berasa aneh kali, ya. Ya udah, balik lagi saya yang jagain Kaleb. Minggu lalu bilang lagi ke suami, gantian dong jaganya. Suami udah oke. Eh, Kalebnya yang nangis minta ditemenin Mami. Oke deh, batal lagi.

Kemarin saya lagi-lagi belum menyerah minta gantian jagain Kaleb. Suami langsung oke karena udah beberapa kali ikut saya jagain Kaleb dan nggak sulit lah, cuma perhatiin Kaleb aja, atau ambilin minum dan cemilan kalau dia mau. Kemudian, saya pamitan ke Kaleb. Eh, Kaleb langsung mau. Malah langsung paham kalau nanti dia sama Papa-nya dan cium saya. YEAY!

Dan ternyataaa rasanya luar biasa, lho! I never thought that I needed church time that much. Kayak kembang yang layu dikasih pupuk dan disiram. Segar banget. Sebelum ke gereja itu rasanya kayak badan pegal, nggak enak badan, lemas. Like I had no energy to do something. Setelah gereja langsung kayak sehat banget, hati plong, dan semangat lagi. Gila ya efeknya! 😀

Jadi sekarang udah janjian sama suami kalau tiap minggu akan gantian jagain Kaleb di sekolah minggu. Semoga Kaleb konsisten mau dijagain gantian, ya. Kalau nggak entar mamak kayak bunga layu lagi, deh. Hehehe.

Ada yang pernah merasa begini?

Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

19 April 2017.

It was the most emotional election for me. I was (I am still) broken heart.

I will put it here what I’ve been feeling. You might not understand, especially if you support Anies-Sandi. But let me tell you from my side.

Saya adalah salah satu orang yang mendukung Anies Baswedan ketika ia menjadi juru bicara kampanye Jokowi saat mencalonkan diri jadi presiden. Slogan “turun tangan”nya bikin saya bergerak untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Perubahan yang lebih baik katanya. Saya sering menghadiri diskusi yang ada Anies. Sungguh, saya kagum banget sama cara berpikirnya dan tutur katanya. Luar biasa. Saya bahkan sempat foto bareng dengan dia.

Ketika Jokowi mengumumkan kabinetnya dan Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya bersorak gembira karena Anies mendapatkan posisi yang tepat. Pendidikan adalah dasar negara, harus dimulai dari orang yang paham benar soal pendidikan, dan orang itu Anies Baswedan.

Betapa terkejutnya saya karena sebelum 2 tahun kinerjanya, Jokowi memberhentikan Anies sebagai Mendikbud; dicukupkan kalau kata Anies. Saya pikir waktu itu, ini Jokowi kenapa, sih? Anies kan keren, hebat, paling cocok. Nggak pernah ada yang tahu alasannya, selain mengira-ngira. Pokoknya menurut Jokowi, kinerja Anies buruk.

Ketika Anies mencalonkan diri menjagi cagub Jakarta, saya mulai bingung. Saya suka Anies, tapi merasa cagub bukanlah posisi yang pas. Tapi toh saya berpikir, dia orang baik. Siapapun pemenang gubernur nanti, Jakarta akan mendapatkan orang yang baik.

And I was so wrong. He failed me.

Pilkada ini ribut dengan isu agama dan ras. Betapa pusingnya saya setiap berangkat dan pulang kantor, saya harus lihat spanduk besar bertuliskan, “Ganyang Cina, Bunuh kafir!”, “FPI mendukung Anies-Sandi”, dan banyak spanduk provokasi lainnya. Belum sampai di situ saja, Anies mendobrak dengan datang ke markas FPI, bertemu Rizieq Shihab dan memuji-muji (oke, sebenarnya menjilat) Rizieq. Padahal kita semua tahu Rizieq dan FPI adalah salah satu kelompok radikal yang mampu memecah belah bangsa ini. Anies merangkulnya.

Saya sedih, kecewa, dan merasa tertipu. Apakah ini Anies yang sama dengan orang yang saya kagumi dulu?

Everything didn’t get better from there. Anies cuma diam ketika isu agama menguntungkannya. Dia tidak meredam, mengecam, orang-orang yang mengintimidasi pihak yang lain. Spanduk-spanduk intimidasi makin banyak, masjid-masjid selalu khotbah mengenai harus memilih pemimpin muslim, menolak menyolatkan jenazah yang memilih Ahok, mengatai orang-orang kafir, dan selalu bertanya, “Apa agamamu?”. Anies diam. Dia diuntungkan.

Bukan cuma itu aja, Anies mulai tidak konsisten dengan ucapannya dulu. Dia mulai nyinyir kepada Ahok, dan tidak memberi solusi atas semua masalah Jakarta. Intinya semua bisa diselesaikan dengan bahasa yang santun, keberpihakan, dan OK OCE. Saya nggak paham program mereka.

Sebagai minoritas, isu agama sungguh sangat menakutkan bagi kami. Dari kecil saya terbiasa mendengar orang tua saya bercerita bahwa mereka nggak bisa naik pangkat karena agama mereka. Karena mereka bukan Islam. Mau sebagus apapun performa mereka, tapi mencapai jabatan tertinggi itu sulit. Bukan Islam katanya. Mayoritas mungkin nggak paham ini, tapi kami sungguh paham. Kami sudah terbiasa dinomor duakan karena agama kami berbeda.

Isu agama dan ras pun yang berhembus kencang saat kerusuhan 1998. Ayah saya hampir nggak bisa pulang dari kantor dan terpaksa meninggalkan mobilnya begitu saja, harus jalan dari Sudirman ke Meruya, karena mobilnya mau dibakar. Ia ditanyai apakah kamu pribumi? Agamamu apa? Ayah saya hampir meninggal cuma karena agamanya. Sedih, ya. Kami, minoritas, merasakan sakitnya seperti ini.

Tapi saya pikir Indonesia akan lebih baik. Saya orang paling skeptis sama Indonesia. Dulu saat pemilihan cagub antara Foke dan Adang Darajatun, kami sekeluarga tidak mendapatkan kartu pemilih. Dihilangkan begitu saja. Reaksi kami sekeluarga, bodo amat. Nggak berusaha protes, nggak berusaha mengurus. Karena dalam pikiran kami, siapapun yang menang Jakarta akan tetap sama, nggak berubah, nggak ngefek ke kehidupan kami. Pesimis, nggak punya harapan.

Bahkan saat Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub, saya nggak memilih mereka di putaran pertama. Bahkan reputasi mereka yang bagus aja, saya nggak yakin sama mereka. Masa sih beneran ada orang baik di negara ini? Cih, palsu! Paling supaya menang aja, tuh! I was that skeptical. Di putaran kedua akhirnya saya pilih Jokowi-Ahok bukan juga karena saya suka mereka, tapi karena saya nggak pengen lawannya menang yang entah siapa itu dan kayaknya lebih busuk dengan sederetan kasusnya.

But they proved me wrong. Jokowi dan Ahok langsung bekerja cepat, memberantas korupsi, membenarkan birokrasi, mempercantik Jakarta, menangani banjir, membangun infrastruktur. Bukan cuma dengar kata orang aja, tapi saya merasakannya. RPTRA di dekat rumah adalah tempat bermain favorit Kaleb, perpustakaannya lengkap dengan buku-buku baru yang bikin saya hobi ke sana nemenin Kaleb main, trotoar di dekat rumah diperbesar, jalanan diperluas sehingga akses ke rumah berkurang macetnya. Buat ibu-ibu kayak saya, ini penting karena berarti saya bisa lebih cepat pulang bertemu anak, kualitas hidup meningkat. Ahok membuka banyak line untuk pengaduan. Saya suka banget pake aplikasi Qlue karena saya gampang ngadunya dan mereka beneran mengerjakan, plus dikirimin bukti foto hasil kerja mereka. Ahok served me right. Saya merasa terkoneksi dengan gubernur. Kok gampang ya sekarang ngadu ini-itu? Kok saya merasa didengarkan, ya? Kok saya merasa diperhatikan, ya? Percayalah, setelah hidup individualis dan nggak merasa diperhatikan oleh pemerintah dari lahir, Ahok membuktikan hal yang berbeda.

Saya mulai sayang dengan gubernur saya. Saya merasa memiliki Jakarta. Saya mulai punya harapan untuk bangsa ini. Masih banyak ternyata orang baik yang cinta Indonesia. Masih banyak ternyata orang yang nggak haus kekayaan. Masih ada ternyata pemimpin yang cinta saya. Saya yang sebelumnya skeptis belajar untuk cinta bangsa ini dan mau berbuat sesuatu.

Tapi sungguh 19 April 2017 adalah hari paling emosional buat saya. Saya patah hati untuk Jakarta. Ternyata sebagian besar warga Jakarta lebih percaya isu agama daripada logika. Terserah kalian mau beropini apa, tapi kenyataan (dan survey publik) berkata demikian. Gubernur dipilih berdasarkan agamanya. Kelompok radikal merasa punya hak berkuasa dan mengintimidasi lagi. Kami yang minoritas, mulai dibayang-bayangi tindakan diskriminasi, disebut kafir, dan tidak sama haknya di Jakarta. Bukan Ahok yang kalah kemarin, tapi kami warga Jakarta yang kalah. Kalah oleh rasa takut. Dan jujur, saya takut.

Ketika quick count mulai menunjukkan Ahok kalah, saya sedang menyuapi Kaleb. Saya langsung peluk dia dan bilang, “Maaf Nak, kamu harus bekerja lebih keras lagi di negara ini. Karena yang pertama kali orang lihat adalah agamamu, bukan kemampuanmu.” Saya nangis karena saya nggak bisa kasih kehidupan dan kesempatan yang lebih baik untuk anak saya. Kamu akan dinilai berdasarkan agamamu. Dan itu kenyataannya.

Saya patah hati. Ternyata saya begitu cinta Indonesia sampai saya merasa begitu sakit hati. Saya kira saya akan hidup menjadi lebih baik, tapi sungguh ternyata saya salah. Koruptor, kelompok radikal masih menjadi raja di negara ini. Logika dan akal sehat masih dikesampingkan. Nggak papa, yang penting seagama dan santun. Sedih.

Bukan, saya nggak lebay. Tapi itu yang saya rasakan. Mayoritas mungkin nggak tahu rasanya karena kalian dapat priviledge di negara ini. Kami, harus sekali lagi menerima kenyataan bahwa kami warga kelas dua, tidak berhak banyak di negara ini.

Ini bukan soal kampanye 2 calon gubernur dengan program-programnya. Mungkin kalau mereka debat program, saya akan dengan senang hati menerima siapapun yang menang. Ini soal kebinekaan, kemajemukan, dan keberagaman yang diperjuangkan. Dan mungkin saat ini Jakarta, atau Indonesia, harus mundur lagi. Kami kalah oleh kebencian saudara kami sendiri.

Harapan saya saat ini, semoga Anies dan Sandi membuktikan bahwa saya salah. Bahwa mereka akan kembali menenun tenun kebangsaan, bahwa hak kami dijamin, dan bahwa apapun agama dan ras kami tidak akan diintimidasi. Kami punya hak yang sama di negara ini. Tolong, buktikan saya salah, Pak.

Kepada Pak Ahok dan Djarot, terima kasih untuk pengabdiannya, terima kasih untuk sudah melawan koruptor yang menggerogoti Jakarta, terima kasih sudah begitu sayang sama bangsa ini. Terima kasih sudah membuat saya berubah dan yakin bahwa kami punya anak bangsa yang baik. Terima kasih sudah begitu luar biasa. Tapi maaf Pak, kami tampaknya masih belum siap mempunyai gubernur sebaik Bapak. We don’t deserve you. Mungkin nanti, mungkin lain kali. It will be the hardest 6 months for me to let you go. Tapi saya berharap, Bapak tetap bekerja untuk Indonesia, tetap berjuang untuk kami karena Bapak sudah memberi harapan untuk kami semua. Jangan menyerah, Pak!

Terima kasih untuk 5 tahun terbaik dalam hidup saya tinggal di Jakarta. Tuhan berkati Pak Ahok dan Pak Djarot. Indonesia masih butuh Bapak berdua. Selamat berjuang kembali, di mana pun kalian berada. We love you, Pak! :’)