Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.

Advertisements

Belum Siap

Weekend ini dimulai dengan Mbak yang sakit. Awalnya kakinya sakit cantengan jadi jalannya pincang, lalu tiba-tiba perutnya nyeri sampai dia tiduran. Akhirnya pulang kantor langsung dibawa ke Puskesmas (pengen cerita soal Puskesmas yang sekarang keren banget, tapi di lain postingan aja, deh). Ternyata Mbak kakinya infeksi dan maag akut sehingga weekend ini saya bebaskan tugas dan biarin aja dia istirahat. Alhasil, Sabtu dimulai dengan belanja ke pasar, masak makanan Kaleb dan Mbak, tidurin dan mandiin Kaleb, kasih makan Kaleb, endesbrei endesbrei. No leyeh-leyeh.

Lalu Bapake telepon bilang kalau dese nggak enak badan, muntah-muntah, diare, meriang. Hm, perasaan kemarin baik-baik aja. Setelah ditelusuri, kemarin di kantornya ada acara tumpengan dan dia makan nasi tumpeng. Besoknya beberapa orang yang makan nasi tumpeng diare juga.

Sudah selesai? Belum. Malamnya Kaleb sumeng. Belum sampai panas, sih. Masih dikisaran 37,2 derajat, anaknya masih ceria dan aktif. Tapi jadi moody dan seharian nggak nafsu makan, serta clingy banget. Eh, pas malamnya malah muntah-muntah.

Mamak, Puji Tuhan, baik-baik aja. Emosinya aja yang terganggu karena orang serumah sakit. Hahaha!

Nah, jadi kalau ditanya kapan nambah anak lagi, I will remember this day. One of the hardest days of my motherhood journey.

Masih ingat cerita waktu saya tahu hamil dulu? Ceritanya di sini. Singkat cerita, waktu itu setelah 2 tahun ngotot hamil dengan segala cara, saya bilang ke Tuhan kalau saya siap punya anak. Siap yang disertai rasa ikhlas dan pasrah. Jadi, kalau Tuhan mau kasih puji Tuhan, kalau Tuhan belum mau kasih mari nikmati hidup. Rasanya hati plong banget karena merasa apapun yang diputuskan Tuhan, saya siap. Saya ingat banget waktu itu berdoa seperti itu di perjalanan pulang habis jenguk sepupu yang baru melahirkan di awal bulan Juli 2014. Dua minggu kemudian, saya baru tahu saya hamil 5 minggu. Berarti Tuhan sudah memberikan sebelum saya meminta, kan. Isn’t He amazing?

Tapi kalau ditanya sekarang, apakah saya siap untuk anak lagi? Saya biasanya diam sebentar, tutup mata, membayangkan proses melahirkan SC kemarin yang masih bikin trauma, masa-masa newborn yang sungguhlah lelah luar biasa, sempat baby blues, masa-masa pumping non stop kejar setoran selama 20 bulan, dan menyusui 2 tahun 4 bulan. Sungguh ya, itu lelahnya aja masih berasa banget.

Saya baru bisa bernapas lega 2 bulan terakhir karena anaknya udah stop nenen dan baru di usia 2 tahun ini anaknya bisa tidur sepanjang malam. Sebelum itu, tidur ya selalu kebangun karena Kaleb minta nenen. Jadi disuruh ngulang itu semua lagi sekarang? Stop, nanti dulu, deh.

Waktu itu saya pernah nanya ke Mama saya, “Kok pengen punya anak lagi? Emang nggak ingat sakitnya pas melahirkan?”. Mama saya menjawab, “Lama-lama akan lupa kok sakitnya, digantikan kepengen punya bayi lagi.” Oh ya? Kok saya masih ingat rasanya jantung mau copot masuk ke kamar operasi, sendirian menggigil kedinginan di kamar pemulihan, pertama kali belajar duduk dan jalan yang sakitnya ampun-ampunan, sembelit karena habis operasi yang bikin mau pup aja sampe nangis, selama 1 bulan bekas jahitan masih sakit yang bikin mau gerak juga susah tapi harus gerak untuk ngurus anak (anyway, saya sampai sekarang aja masih nggak berani lihat bekas jahitan sc sendiri, lho). Rasa sakitnya masih jelas buat saya karena walau setelah 1 bulan itu udah nggak terasa, tapi begitu ketendang anak yang nyeri juga rasanya.

Sebagai orang yang juga pencemas, buat saya masa-masa ASI eksklusif juga menjadi tekanan buat saya. I love breastfeeding. Tapi saya nggak suka pumping. Rasanya lihat botol hasil perahan tuh semacam kayak ngumpulin ujian. Nggak mood dikit, langsung hasilnya dikit. Jaga mood itu susah banget! Konsisten pumping demi ASIP tercukupi juga melelahkan.

Selain hal-hal di atas, ada banyak hal juga yang jadi pertimbangan lainnya. Salah satunya, Kaleb yang belum siap. Beberapa kali saya tanya ke Kaleb, “Mau punya adik nggak?”. Yang dijawab, “NGGAK!”, lain waktu dia bilang, “Mami, tempat tidur ini sempit, buat Mami sama Kaleb aja.” Dih, padahal tempat tidurnya lebar. Bisa aja doi! XD Kalau ngomongin soal adik, dia bisa pura-pura nggak dengar, mengalihkan pembicaraan, atau langsung peluk saya sambil bilang, “Kaleb sayang Mami”, biar saya nggak ngomongin adik lagi. Belum lagi kalau saya lagi gendong anak orang, dia akan marah, pegang saya kuat, dan bilang, “Mami, jatuhin aja adiknya!”. Ebuset, anak orang itu, Kaleb! So I guess, he’s not ready yet.

Jadi kalau ditanya orang kapan nambah anak lagi, saya pasti bilang, “Nanti-nanti, deh!”.

 

 

 

 

(Sebenarnya ada lebih banyak alasan lagi kenapa belum mau nambah, tapi mungkin akan ditulis di post lain. Hihihihi)

 

 

 

 

 

Kangen Film RomCom

Jadi gimana Senin ini? Sudah move on-kah dari #PatahHatiNasional Jilid 2. Ih, minggu lalu tuh bukan cuma Babang Hamish yang bikin patah hati, lho. Buat saya minggu lalu minggu yang sungguh double patah hatinya karena Koko Dion Wiyoko juga menikah minggu lalu.

Hamish Daud kan emang nggak diragukanlah gantengnya maksimal, kalau senyum bikin perempuan kelepek-kelepek, manalah cowok banget dengan olahraga diving, panjat gunung, dsb. Beuh, pengen minta dilindungi banget sih sama Babang Hamish. XD Sementara Dion Wiyoko itu tipikal yang berkarisma. Senyumannya tuh meneduhkan, kalem, dan seksi. Dion dulunya aktingnya biasa banget dan sering main di film abg-abg, tapi sekarang…beuh, aktingnya keren banget. Di film Cek Toko Sebelah aja, dia yang paling mencuri perhatian saya. Ernest tuh jadi nggak kelihatan seperti tokoh utamanya. Sama tonton deh serial pendeknya dia: Sore. Duh, semacam pengen nyebelin tapi habis itu pengen dirangkul. Unch unch!

Jadi yah, setelah melewati patah hati Dion Wiyoko menikah, beberapa hari kemudian menghadapi Hamish menikah jadi lebih ringan. APA SIK, MI? XD

Nggak, postingan kali ini bukan tentang #PatahHatiNasional kok. Soalnya mau bahas kawinan Raisa-Hamish nanti eike jadi nyinyir. Wakakaka *jahit mulut*.

Anyway, ada yang bosen nggak sih sama jenis film-film bioskop sekarang? Kok saya bosen banget, ya. Genre yang lagi ngetren sekarang tuh action, horror, dan kartun. Drama jarang banget, apalagi romcom hampir nggak ada. Kalau mau cari yang drama dan romcom ya beralih ke film Indonesia. Tapi untuk nemuin karakter yang chemistrynya bagus banget tuh jarang. Terakhir nonton Critical Eleven yang chemistrynya nyambung banget. Sementara romcom atau drama perlu banget tokoh-tokohnya punya chemistry yang bagus.

Jadi tiap ke bioskop tuh nonton, merasa kagum dan menikmati, tapi bukan yang pengen ngulang nonton berkali-kali. I don’t get the warm feeling after watching the movies. Makanya akhir-akhir ini jarang nonton ke bioskop. Sebagai gantinya, saya streaming film-film drama dan romcom jaman dahulu, kayak Bride Wars, The Proposal, A Walk to Remember, Hannah Montana, A Cinderella Story, Drive Me Crazy, She’s All That, Serendipity, dll.

Setelah nonton dan ternyata saya masih suka. Saya bisa terhibur dan merasa hangat bersamaan. Nggak capek dengan segala macam tembak-tembakan dan kejar-kejaran, tapi ya menikmati aja. Kayak misalnya kemarin nonton The Proposal. Saking lamanya nonton film itu, saya jadi lupa jalan ceritanya dan berakhir saya nangis terharu. Yah, mungkin karena lagi PMS sih, tapi yah senang aja akhirnya bisa merasakan perasaan yang dirasakan si tokoh utama.

Selain nonton film lama, saya juga jadi sering baca chicklit di Wattpad. Ternyata banyak cerita bagus, ya. Saat ini saya lagi baca yang judulnya “Resign!!!”. Ceritanya tentang anak buah dan bos yang tentunya diselingi romance. Aslik, ini ceritanya lucu banget sampe saya ngakak-ngakak sendiri tiap baca. Dan saya ngebayangin kalau novel ini dibikin film pasti menyenangkan, deh. Sayangnya, ceritanya masih on going jadi masih harap-harap cemas nunggu lanjutannya.

Kegiatan dua ini ternyata mengisi kehausan saya akan romcom yang nggak bisa terpenuhi beberapa tahun ini. Coba aja deh, serial tv yang romcom yang asik akhir-akhir ini apa? Nyaris nggak ada. Mentok paling saya masih ngikutin Modern Family. Oh, sama This Is Us. Habis itu nggak ada lagi. Dahaga bener sama cerita-cerita manis.

Ada yang kayak gitu juga nggak sih? Kasih ide dong film romcom atau buku chicklit yang bagus apa lagi?

Tentang Etika dan Bahasa Alay

Salah satu alasan saya mengajarkan Kaleb berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah di jaman sekarang saya lebih gampang nemu ABG yang nulis alay sampai saya nggak paham maksudnya, daripada berbahasa Indonesia. Saya pernah jadi anak alay sih (WHO DIDN’T? HAHAHA) yang simpan kontak di HP dengan huruf besar dan kecil. TAPI… saya nggak pernah nulis sms atau kirim surat atau apapun yang berbentuk tertulis dengan bahasa alay, bahkan ke teman sendiri dengan konteks santai. Never. Makanya saya bergidik geli lihat sebegitu ignorant-nya anak-anak ABG sekarang dengan bahasa.

Bukan cuma itu aja. Kalau situasi non formal aja suka geli lihat bahasa alay, sekarang malah ada banyak kejadian di situasi formal. Misalnya, kirim lamaran pekerjaan ke suatu perusahaan. Di body e-mail nggak ada perkenalan atau apalah, nggak ada cover letter. Blank. Kosong. Cuma attach CV. Ini diibaratkan mau minta kerja, tapi nggak sopan caranya. Yang ada e-mail lamaran kerjaan kamu langsung di-delete aja, tanpa dilihat sama sekali.

Ada yang namanya ETIKA, lho dan ini bagian yang penting.

Jadi suatu ketika ada promotor. Promotor ini tampaknya memang baru. Project-nya baru menangani beberapa event artis-artis indo semacam artis GGS untuk fanmeeting. Kemudian mereka melebarkan sayap dan berusaha mendatangkan seorang artis luar negeri. Wuidih, keren dong, ya.

Karena event fanmeeting ini belum ada sponsor, jadi mereka berusaha untuk mendekati fanbase-fanbase si artis ini di Indonesia. Beberapa fanbase punya followers puluhan ribu di Instagram dan masih aktif, yang mana akan jadi peluang untuk si promotor untuk promosi dong, ya.

Masalahnya adalah etika bisnis mereka parah! Parahnya seperti ini (mereka mengirimkan pesan via DM Instagram, padahal jelas di kontak bio fanbase ini ada e-mail resmi):

A: “Min, minta kontaknya, dong.”
–> Ujuk-ujuk datang nanya kontak. Kesel nggak bacanya? Siapa elo, udah nggak kenal, enak aja nanya kontak pribadi. Gini lho, etikanya adalah perkenalkan diri, jelaskan tujuannya dengan baik dan detil, lalu tanyakan dengan sopan adakah kontak yang bisa dihubungi (tapi sebenarnya kalau mau baca dulu, udah ada di bio, sih).
–> Akan lebih baik begini: Hai, nama saya Ani. Saya adalah bagian dari EO yang akan menyelenggarakan fanmeeting Incess pada tanggal 10 Desember 2020 di Monas. Sehubungan dengan fanmeeting ini, kami ingin meminta bantuan untuk promosi. Adakah e-mail atau nomor telepon yang dapat kami hubungi sehingga kami bisa jelaskan dengan lebih detil? Terima kasih untuk perhatiannya. Salam, Ani.

B: “Halo min, followermu ada berapa? Ada yang mau ikut fanmeeting?”
–> Banyaknya followers bisa dilihat di IG. Lah, emang si mimin cenayang tahu followersnya siapa aja yang mau ikut fanmeeting?
–> Kalimat tanya kayak gini juga nggak jelas. Mau apa nanya siapa yang ikut fanmeeting? Mau sekedar tanya aja? Mau kasih free ticket? Mau suruh promoin? Atau apa?

C: “Selamat pagi min, boleh minta bantuannya untuk promosi fanmeeting incess?”
–> Helloooo, ini sapose ujuk-ujuk datang nyuruh promosiin fanmeeting orang? Sekali lagi, kalau mau minta bantuan orang, perkenalkan diri, jelaskan maksud dan tujuan dengan detil, tanyakan kontak resmi agar bisa menulis proposal dengan resmi, dan ucapkan terima kasih.

D: “Tengkio, min.”
–> Bahasa apa itu tengkio? Kalau ngomong ke sesama teman ya suka-suka hati kalianlah. Tapi kalau ini situasi yang formal, apalagi untuk kepentingan bisnis: jangan gunakan bahasa alay. Keep it for yourself. Orang yang dituju nggak perlu tahu di kehidupan nyata kamu alay. Pakailah bahasa yang resmi dan wajar saja, seperti terima kasih. Jangan disingkat-singkat, jangan diganti pake bahasa alay, jangan dicampur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apalagi bahasa alay. NO! DON’T! NEVER!

Logikanya gini ya, kamu meminta bantuan orang, jadilah orang yang sopan. Bukan nggak punya etika langsung nodong orang melakukan sesuatu untuk kamu. PERKENALKAN DIRI itu penting! Emang kalau ada orang nggak jelas siapa dan tujuannya apa, kamu mau bantu? Males, kan?

Kalau untuk kepentingan bisnis (inget lho, promotor ini tujuannya adalah mendapatkan keuntungan materi dari menyelenggarakan fanmeeting) tawarkan imbalan, bisa berupa fee promosi, barter sesuatu, tiket gratis, voucher, diskon, atau apalah. Karena tujuannya bisnis. You HAVE TO thank properly people who help your business. Kamu dapat uangnya, sementara yang promosiin gigit jari aja? That’s unfair.

Jadi tolonglah, kalian boleh muda, kalian boleh masih belia, tapi etika itu harus ada. Apalagi kalau untuk tujuan formal, nggak ada excuse bahwa kalian masih muda, masih baru saja memulai usaha. Belajar, jangan cuek, sopan, PUNYA ETIKA.

Sungguh lho, waktu saya SMP aja, di sekolah saya ada pelajaran surat-menyurat resmi, di SMA pun ada pelajaran administrasi, yang salah satunya berhubungan dengan surat menyurat, apalagi pas kuliah..beuh, banyak banget diajarin soal berbahasa yang baik karena harus banyak praktek ke institusi, interview orang-orang dalam situasi formal, dan ditekankan banget soal beginian. Lagian, seharusnya etika dimulai dari rumah, kan?

Mulai sekarang, yuk belajar buat lebih berbahasa yang baik dan benar. Bahasa alay-mu tolong dipakai buat diri sendiri dan teman-temanmu aja. Bukan buat situasi formal lainnya, ya. Jangan karena kamu hubunginnya lewat sosmed atau e-mail jadi nggak bersikap sopan. Dengan siapapun kita berhubungan, apalagi nggak kenal, coba tolong perhatikan etika yang benar. Sip!

Jadi ada yang mau nonton Incess nggak? XD

 

 

Vaksin Itu WAJIB!

Huft, tahun 2017 ternyata masih ada yang antivaksin, nih?

*menghela napas sampai sesak*

Oh ya, belajar dari kasus Jupe yang terkena kanker serviks; vaksin serviks itu udah ada lho dari dulu dan mampu mencegah kanker serviks. Idealnya perempuan umur 11 tahun sudah bisa vaksin serviks. Jadi dari masa puber lebih baik. Tapi kalau dulu nggak tahu, bisa juga dipake sebelum berhubungan seksual. Tapi kalau misalnya sudah berhubungan seksual, cek papsmear dulu, ya. Baru kalau hasil papsmearnya bersih, lanjut vaksin serviks.

Ini pengalaman saya vaksin serviks 6 tahun lalu, sebelum menikah. Permasalahannya adalah banyak yang enggan untuk papsmear atau vaksin serviks karena pertanyaan dari tenaga medis adalah, “Mbak sudah menikah atau belum?”. Err! Begini lho, vaksin serviks itu sebaiknya dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual, terlepas dia sudah menikah atau belum. Papsmear sebaiknya dilakukan 1-2 tahun kalau sudah berhubungan seksual secara aktif, lagi-lagi terlepas dia sudah menikah atau belum.

Jadi pertanyaan sudah menikah atau belum dari tenaga medis akan jatuhnya menghakimi. Misal, dia jawab belum menikah tapi mau papsmear, yang mengindikasikan berarti sudah berhubungan seksual sebelum menikah. Lalu pandangan si tenaga medis akan berubah dan judging. Bikin pasien jadi nggak nyaman dan akhirnya enggan untuk balik lagi.

Saya sadar di Indonesia normanya adalah belum berhubungan seksual sebelum menikah. Tapi pada kenyataannya ADA yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah. Dan apakah yang sudah berhubungan seksual sebelum nikah tidak boleh mendapatkan perlakuan medis yang baik, tanpa ada tatapan menghakimi?

Akan jauh lebih baik  kalau tenaga medis tidak perlu memperhalus pertanyaan dengan “sudah menikah atau belum?”, tapi langsung straight to the point, “sudah berhubungan seksual aktif atau belum?”. Dan nggak perlu kepo jugalah kalau sudah berhubungan seksual berarti dia sudah menikah. Keep it simple, no judgment. Pasien juga pastinya lebih nyaman karena dia akan di-treat berdasarkan keluhan, bukan dihakimi moralnya.

Nah, soal antivaksin pada anak. Prinsip saya cuma satu, kalau itu terbaik untuk anak dan membuat anak saya lebih sehat, serta secara ilmiah sudah terbukti, let’s do it! Berusaha jadi alamiah, tapi habis itu mengorbankan kesehatan anak is a big NO for me. Plus, vaksin itu bukan cuma soal imunitas diri sendiri tapi imunitas kelompok. Harapannya suatu saat kalau semua anak sudah divaksin, maka penyakit tersebut punah. Nah, para dokter seluruh dunia udah gencar mau bikin punah itu penyakit, trus kucuk-kucuk orang sok tahu bilang nggak usah vaksin lalu anaknya terkena penyakit. Maleh, kapan itu penyakit punah jadinya? Kan jadi outbreak lagi. *nangis di pojokan*

Gini ya, nggak perlu sok anti kimia. Udara yang kita hirup setiap hari aja itu kimia, namanya oksigen alias O2. Gimana caranya bisa anti kimia buat anaknya kalau udara aja sudah berbentuk zat?

Jangan bilang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan. IYA emang dari Tuhan. Tapi Tuhan juga menciptakan manusia dengan akal budi jadi harus juga berusaha menjaga kesehatan dan berusaha juga untuk makan obat ketika sakit. Baru deh Tuhan yang menentukan mau disembuhin atau nggak. Kalau vaksin aja nggak mau, ya wajar aja Tuhan kasih penyakit. Lagian kalau emang penyakit dan kesembuhan dari Tuhan, kalau lagi sakit nggak perlu berobat ke dokter, ya. Cukup berdoa aja. Nanti imanmu  yang menyembuhkan. Oke sip!

Jadi jadi orang tua itu harus bijaksana. Saya termasuk yang sebisa mungkin anak nggak pakai obat kalau emang nggak perlu sakitnya, saya juga berusaha bijaksana dalam penggunaan antiobiotik, tapi saya tidak anti dengan obat dan antibiotik. Kalau misal anaknya sakit batuk pilek sampai tahap sudah tidak nyaman, nggak bisa tidur, nggak mau makan, trus saya maksa nggak pake obat dan bergantung pada minyak esensial aja, ya berarti saya egois. Tentu saja obat to the rescue lah. Tujuannya bukan soal pake obat atau nggak, tapi soal anak merasa nyaman karena ia sehat.

Jadi ibu itu harus bisa fleksibel. Tidak ada satu teori parenting yang paling benar. Semuanya cocok-cocokan dan disesuaikan dengan kondisi anaknya juga. Makanya jadi ibu itu nggak ada sekolahnya, lah wong prakteknya bisa beda-beda tiap anak, kok. Tapi yang pasti, fokusnya adalah anak. Logical reasonsnya pun harus benar. Patokan saya: kalau sudah ada penelitiannya berarti valid. Jadi, antivaksin is a big no. Gunakan nalar yang benar, bukan cuma soal keyakinan membabi buta.

Yuk, barengan vaksin biar sama-sama sehat. Jangan sampai nanti nangis-nangis panik pas anaknya sakit karena nggak vaksin kayak mbake itu loh. 😀

 

 

Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? 🙂

 

Semacam Baru Dicharge Lagi

IMG_20170528_220840_434

Kemarin untuk pertama kalinya saya ke gereja setelah berbulan-bulan nggak. Sejak Kaleb umur 1 tahun, saya merasa dia udah siap untuk sekolah minggu. Ya, masih main-main dan belum bisa fokus, sih. Tapi di gereja ada kelas bayi untuk umur 0-24 bulan. Kegiatannya simple banget; nyanyi lagu-lagu sederhana, dengerin cerita Alkitab singkat paling lama 10 menit, dan udah main-main aja, maksimal 30 menit. Cukup banget buat Kaleb bersosialisasi dan dia memang senang. Ketika umur 2 tahun, Kaleb naik kelas toddler. Di sini kegiatannya lebih panjang, sekitar 1 jam; nyanyiannya lebih panjang dan banyak, khotbahnya lebih panjang, dan kegiatannya lebih banyak.

Saya selalu nemenin Kaleb masuk ke sekolah minggu karena dia belum bisa kan ditinggalin sendiri. Guru sekolah minggunya maksimal 3-4 orang. Sementara anak-anaknya bisa 30an orang. Banyak bener, kan. Makanya pendamping diharapkan ikut kalau yang masih kecil banget. Kalau yang udah 3-4 tahun bisa dilepas.

Sebenarnya bisa aja saya minta bantuan Mbak untuk ikut ke sekolah minggu jagain Kaleb, sementara saya beribadah di ibadah dewasa. Tapi, kok ya rasanya tanggung jawab bawa anak ke gereja itu tanggung jawab saya. Plus, saya juga mau tahu apa yang diajarkan di sekolah minggu, sehingga saya bisa ulang lagi di rumah. Makanya, sudah berbulan-bulan saya nggak ke ibadah dewasa. Demi anak! XD

Sampai akhirnya sebulan ini saya kok ngerasa kosong banget, ya. Kayak jiwanya butuh direcharge lagi karena udah low batt. Beberapa minggu sebelumnya sempat minta suami gantian yang jagain Kaleb. Awalnya suami yang ragu karena ya dia bakal jadi cowok sendiri yang jagain anak. Biasanya kan ibuk-ibuk atau susternya, ya. Berasa aneh kali, ya. Ya udah, balik lagi saya yang jagain Kaleb. Minggu lalu bilang lagi ke suami, gantian dong jaganya. Suami udah oke. Eh, Kalebnya yang nangis minta ditemenin Mami. Oke deh, batal lagi.

Kemarin saya lagi-lagi belum menyerah minta gantian jagain Kaleb. Suami langsung oke karena udah beberapa kali ikut saya jagain Kaleb dan nggak sulit lah, cuma perhatiin Kaleb aja, atau ambilin minum dan cemilan kalau dia mau. Kemudian, saya pamitan ke Kaleb. Eh, Kaleb langsung mau. Malah langsung paham kalau nanti dia sama Papa-nya dan cium saya. YEAY!

Dan ternyataaa rasanya luar biasa, lho! I never thought that I needed church time that much. Kayak kembang yang layu dikasih pupuk dan disiram. Segar banget. Sebelum ke gereja itu rasanya kayak badan pegal, nggak enak badan, lemas. Like I had no energy to do something. Setelah gereja langsung kayak sehat banget, hati plong, dan semangat lagi. Gila ya efeknya! 😀

Jadi sekarang udah janjian sama suami kalau tiap minggu akan gantian jagain Kaleb di sekolah minggu. Semoga Kaleb konsisten mau dijagain gantian, ya. Kalau nggak entar mamak kayak bunga layu lagi, deh. Hehehe.

Ada yang pernah merasa begini?

Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

19 April 2017.

It was the most emotional election for me. I was (I am still) broken heart.

I will put it here what I’ve been feeling. You might not understand, especially if you support Anies-Sandi. But let me tell you from my side.

Saya adalah salah satu orang yang mendukung Anies Baswedan ketika ia menjadi juru bicara kampanye Jokowi saat mencalonkan diri jadi presiden. Slogan “turun tangan”nya bikin saya bergerak untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Perubahan yang lebih baik katanya. Saya sering menghadiri diskusi yang ada Anies. Sungguh, saya kagum banget sama cara berpikirnya dan tutur katanya. Luar biasa. Saya bahkan sempat foto bareng dengan dia.

Ketika Jokowi mengumumkan kabinetnya dan Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya bersorak gembira karena Anies mendapatkan posisi yang tepat. Pendidikan adalah dasar negara, harus dimulai dari orang yang paham benar soal pendidikan, dan orang itu Anies Baswedan.

Betapa terkejutnya saya karena sebelum 2 tahun kinerjanya, Jokowi memberhentikan Anies sebagai Mendikbud; dicukupkan kalau kata Anies. Saya pikir waktu itu, ini Jokowi kenapa, sih? Anies kan keren, hebat, paling cocok. Nggak pernah ada yang tahu alasannya, selain mengira-ngira. Pokoknya menurut Jokowi, kinerja Anies buruk.

Ketika Anies mencalonkan diri menjagi cagub Jakarta, saya mulai bingung. Saya suka Anies, tapi merasa cagub bukanlah posisi yang pas. Tapi toh saya berpikir, dia orang baik. Siapapun pemenang gubernur nanti, Jakarta akan mendapatkan orang yang baik.

And I was so wrong. He failed me.

Pilkada ini ribut dengan isu agama dan ras. Betapa pusingnya saya setiap berangkat dan pulang kantor, saya harus lihat spanduk besar bertuliskan, “Ganyang Cina, Bunuh kafir!”, “FPI mendukung Anies-Sandi”, dan banyak spanduk provokasi lainnya. Belum sampai di situ saja, Anies mendobrak dengan datang ke markas FPI, bertemu Rizieq Shihab dan memuji-muji (oke, sebenarnya menjilat) Rizieq. Padahal kita semua tahu Rizieq dan FPI adalah salah satu kelompok radikal yang mampu memecah belah bangsa ini. Anies merangkulnya.

Saya sedih, kecewa, dan merasa tertipu. Apakah ini Anies yang sama dengan orang yang saya kagumi dulu?

Everything didn’t get better from there. Anies cuma diam ketika isu agama menguntungkannya. Dia tidak meredam, mengecam, orang-orang yang mengintimidasi pihak yang lain. Spanduk-spanduk intimidasi makin banyak, masjid-masjid selalu khotbah mengenai harus memilih pemimpin muslim, menolak menyolatkan jenazah yang memilih Ahok, mengatai orang-orang kafir, dan selalu bertanya, “Apa agamamu?”. Anies diam. Dia diuntungkan.

Bukan cuma itu aja, Anies mulai tidak konsisten dengan ucapannya dulu. Dia mulai nyinyir kepada Ahok, dan tidak memberi solusi atas semua masalah Jakarta. Intinya semua bisa diselesaikan dengan bahasa yang santun, keberpihakan, dan OK OCE. Saya nggak paham program mereka.

Sebagai minoritas, isu agama sungguh sangat menakutkan bagi kami. Dari kecil saya terbiasa mendengar orang tua saya bercerita bahwa mereka nggak bisa naik pangkat karena agama mereka. Karena mereka bukan Islam. Mau sebagus apapun performa mereka, tapi mencapai jabatan tertinggi itu sulit. Bukan Islam katanya. Mayoritas mungkin nggak paham ini, tapi kami sungguh paham. Kami sudah terbiasa dinomor duakan karena agama kami berbeda.

Isu agama dan ras pun yang berhembus kencang saat kerusuhan 1998. Ayah saya hampir nggak bisa pulang dari kantor dan terpaksa meninggalkan mobilnya begitu saja, harus jalan dari Sudirman ke Meruya, karena mobilnya mau dibakar. Ia ditanyai apakah kamu pribumi? Agamamu apa? Ayah saya hampir meninggal cuma karena agamanya. Sedih, ya. Kami, minoritas, merasakan sakitnya seperti ini.

Tapi saya pikir Indonesia akan lebih baik. Saya orang paling skeptis sama Indonesia. Dulu saat pemilihan cagub antara Foke dan Adang Darajatun, kami sekeluarga tidak mendapatkan kartu pemilih. Dihilangkan begitu saja. Reaksi kami sekeluarga, bodo amat. Nggak berusaha protes, nggak berusaha mengurus. Karena dalam pikiran kami, siapapun yang menang Jakarta akan tetap sama, nggak berubah, nggak ngefek ke kehidupan kami. Pesimis, nggak punya harapan.

Bahkan saat Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub, saya nggak memilih mereka di putaran pertama. Bahkan reputasi mereka yang bagus aja, saya nggak yakin sama mereka. Masa sih beneran ada orang baik di negara ini? Cih, palsu! Paling supaya menang aja, tuh! I was that skeptical. Di putaran kedua akhirnya saya pilih Jokowi-Ahok bukan juga karena saya suka mereka, tapi karena saya nggak pengen lawannya menang yang entah siapa itu dan kayaknya lebih busuk dengan sederetan kasusnya.

But they proved me wrong. Jokowi dan Ahok langsung bekerja cepat, memberantas korupsi, membenarkan birokrasi, mempercantik Jakarta, menangani banjir, membangun infrastruktur. Bukan cuma dengar kata orang aja, tapi saya merasakannya. RPTRA di dekat rumah adalah tempat bermain favorit Kaleb, perpustakaannya lengkap dengan buku-buku baru yang bikin saya hobi ke sana nemenin Kaleb main, trotoar di dekat rumah diperbesar, jalanan diperluas sehingga akses ke rumah berkurang macetnya. Buat ibu-ibu kayak saya, ini penting karena berarti saya bisa lebih cepat pulang bertemu anak, kualitas hidup meningkat. Ahok membuka banyak line untuk pengaduan. Saya suka banget pake aplikasi Qlue karena saya gampang ngadunya dan mereka beneran mengerjakan, plus dikirimin bukti foto hasil kerja mereka. Ahok served me right. Saya merasa terkoneksi dengan gubernur. Kok gampang ya sekarang ngadu ini-itu? Kok saya merasa didengarkan, ya? Kok saya merasa diperhatikan, ya? Percayalah, setelah hidup individualis dan nggak merasa diperhatikan oleh pemerintah dari lahir, Ahok membuktikan hal yang berbeda.

Saya mulai sayang dengan gubernur saya. Saya merasa memiliki Jakarta. Saya mulai punya harapan untuk bangsa ini. Masih banyak ternyata orang baik yang cinta Indonesia. Masih banyak ternyata orang yang nggak haus kekayaan. Masih ada ternyata pemimpin yang cinta saya. Saya yang sebelumnya skeptis belajar untuk cinta bangsa ini dan mau berbuat sesuatu.

Tapi sungguh 19 April 2017 adalah hari paling emosional buat saya. Saya patah hati untuk Jakarta. Ternyata sebagian besar warga Jakarta lebih percaya isu agama daripada logika. Terserah kalian mau beropini apa, tapi kenyataan (dan survey publik) berkata demikian. Gubernur dipilih berdasarkan agamanya. Kelompok radikal merasa punya hak berkuasa dan mengintimidasi lagi. Kami yang minoritas, mulai dibayang-bayangi tindakan diskriminasi, disebut kafir, dan tidak sama haknya di Jakarta. Bukan Ahok yang kalah kemarin, tapi kami warga Jakarta yang kalah. Kalah oleh rasa takut. Dan jujur, saya takut.

Ketika quick count mulai menunjukkan Ahok kalah, saya sedang menyuapi Kaleb. Saya langsung peluk dia dan bilang, “Maaf Nak, kamu harus bekerja lebih keras lagi di negara ini. Karena yang pertama kali orang lihat adalah agamamu, bukan kemampuanmu.” Saya nangis karena saya nggak bisa kasih kehidupan dan kesempatan yang lebih baik untuk anak saya. Kamu akan dinilai berdasarkan agamamu. Dan itu kenyataannya.

Saya patah hati. Ternyata saya begitu cinta Indonesia sampai saya merasa begitu sakit hati. Saya kira saya akan hidup menjadi lebih baik, tapi sungguh ternyata saya salah. Koruptor, kelompok radikal masih menjadi raja di negara ini. Logika dan akal sehat masih dikesampingkan. Nggak papa, yang penting seagama dan santun. Sedih.

Bukan, saya nggak lebay. Tapi itu yang saya rasakan. Mayoritas mungkin nggak tahu rasanya karena kalian dapat priviledge di negara ini. Kami, harus sekali lagi menerima kenyataan bahwa kami warga kelas dua, tidak berhak banyak di negara ini.

Ini bukan soal kampanye 2 calon gubernur dengan program-programnya. Mungkin kalau mereka debat program, saya akan dengan senang hati menerima siapapun yang menang. Ini soal kebinekaan, kemajemukan, dan keberagaman yang diperjuangkan. Dan mungkin saat ini Jakarta, atau Indonesia, harus mundur lagi. Kami kalah oleh kebencian saudara kami sendiri.

Harapan saya saat ini, semoga Anies dan Sandi membuktikan bahwa saya salah. Bahwa mereka akan kembali menenun tenun kebangsaan, bahwa hak kami dijamin, dan bahwa apapun agama dan ras kami tidak akan diintimidasi. Kami punya hak yang sama di negara ini. Tolong, buktikan saya salah, Pak.

Kepada Pak Ahok dan Djarot, terima kasih untuk pengabdiannya, terima kasih untuk sudah melawan koruptor yang menggerogoti Jakarta, terima kasih sudah begitu sayang sama bangsa ini. Terima kasih sudah membuat saya berubah dan yakin bahwa kami punya anak bangsa yang baik. Terima kasih sudah begitu luar biasa. Tapi maaf Pak, kami tampaknya masih belum siap mempunyai gubernur sebaik Bapak. We don’t deserve you. Mungkin nanti, mungkin lain kali. It will be the hardest 6 months for me to let you go. Tapi saya berharap, Bapak tetap bekerja untuk Indonesia, tetap berjuang untuk kami karena Bapak sudah memberi harapan untuk kami semua. Jangan menyerah, Pak!

Terima kasih untuk 5 tahun terbaik dalam hidup saya tinggal di Jakarta. Tuhan berkati Pak Ahok dan Pak Djarot. Indonesia masih butuh Bapak berdua. Selamat berjuang kembali, di mana pun kalian berada. We love you, Pak! :’)

 

 

Baju Bekas? Kenapa Tidak!

flea-market24

Saya selalu beli baju itu kalau nggak di tokonya langsung atau online shop. Jarang di bazaar, apalagi garage sale. Tapi beberapa bulan terakhir baru tahu kalau tiap akhir/awal bulan, pokoknya tepat di saat tanggal muda lah, selalu ada bazaar di Blok S, dekat kantor. Bazaar ini utamanya kayak garage sale, jual baju, sepatu, asesoris, tas bekas, tapi ada juga sih yang baru. Bazaarnya pun bukan bazaar besar, tempatnya kecil, panas (namanya aja pinggir lapangan), nggak fancy.

TAPI… kalau rajin ngubek-ngubek bisa dapat harta karun banget! Harga per baju berkisar antara Rp 25.000-100.000. Rata-rata sih Rp 25.000. Rp 100.000 tuh udah paling mahal dan harus bagussss banget atau dress mewah gitu. Bahkan saya pernah dapat baju denim seharga Rp 5.000 saja. Teman saya pernah dapat dress ala Audrey Hepburn hanya seharga Rp 20.0000. Saking murahnya, dia sampai mengulang lagi nanya ini beneran Rp 20.000, Mbak?

97da5e90f36d8c0022924cc59ebcd5bc

Persis mirip ini dressnya. Cakep banget!

BAHAGIA! :)))) I never knew that buying second used clothes would be this fun!

Kayak kemarin, saya dapat beberapa baju bermerk (H&M, Zara, dsb) hanya seharga Rp 50.000 dalam keadaan bersih, wangi, dan modelnya up to date-lah. Yang jual bilang, dia baru 7 bulan ini berhijab, jadi dia jualin deh semua bajunya dia yang nggak bisa dipakai lagi. Gilingan ya, saya dapat rok span denim, keren banget, hanya seharga Rp 50.000 saja. Best buy banget! Saya tahu banget rok ini harganya mahal soalnya. Hihihi.

Jadi di bazaar Blok S ini kemarin saya menghabiskan uang Rp 155.000 untuk membeli 5 baju dan 1 rok denim. Luar biasa bukan! :))))

Oh, tapi jangan mengharapkan tiap bulan isinya selalu bagus, ya. Kayak bulan ini lagi bagus-bagus banget karena ada si Mbak yang baru berhijab itu dan ada toko online shop yang mau ngabisin stock barangnya sehingga jual baju baru seharga Rp 100.000 untuk 2 baju. Yoi ma men, asoy, kan! Namun, ada kalanya bazaar kompakan barang-barangnya jelek pisan, nggak bikin napsu (ini pun biasanya kami masih ada aja yang dibeli, tapi cuma 1 atau 2 baju aja), atau baju-bajunya baru semua dan harganya seperti online shop. Nah, biasanya nggak bakal dibeli juga karena… ya buat apa. Bazaar Blok S kan biasanya untuk baju preloved lah. Jadi nggak tiap bulan selalu beruntung bisa borong baju. Kalau saya pasti cuma membatasi bawa uang Rp 200.000 maksimal, karena kalau preloved nggak perlu lah mahal-mahal. Lah, seringnya masih sisa, kan. XD

Selain Blok S, kemarin waktu ke Pasar Baru, suami nunjukin di pasarnya lantai 3, ada toko baju-baju bekas. Jangan dikira pasar tuh kayak pasar basah tempat jual daging dan ikan, ya. Bahkan pasarnya lebih bagus daripada bazaar Blok S. Tempatnya ber-AC, di dalam ruangan, nyaman banget, ada fitting room juga. Enak banget lah. Pilihan barangnya jauh lebih banyak dan nggak diuwel-uwel, alias digantung dengan rapi, diberikan kategori sesuai modelnya (misal deretan rok, deretan you can see, deretan celana, dsb), dan sesuai harganya. Jadi nggak berantakan dan gampang nyarinya.

Kalau di Pasar Baru, kebanyakan barang-barangnya model jadul. Kalau di Blok S kan masih banyak yang up to date. Tapiii, justru di situ surganya. Tahu sendiri kan kalau fashion itu berputar. Kayak dulu jamannya kulot, sekarang ya balik lagi orang pake kulot. Dulu jaman rok flare, sekarang ya balik lagi rok flare. Pada dasarnya saya juga suka banget segala sesuatu yang berbau vintage, makanya tempat ini jadi surga buat saya.

Model jadul yang saya suka banget tapi sekarang susah banget nyarinya adalah rok tartan, kayak yang dipakai orang Scotlandia:

35

Saya kayaknya punya kenangan tersendiri sama rok tartan ini. Waktu kecil, pada jamannya rok tartan masih heitz, Mama beliin saya rok ini. Bentuknya sama persis kayak di atas. Ini kayak rok, tapi sebenarnya celana. Salah satu rok favorit saya jaman masih kecil, sampai saya selalu pake ke mana-mana. Sekarang carinya susah banget, kecuali bikin sendiri.

Waktu itu dapat overall dress tartan warna merah kayak di atas, bekasnya Diana Rikasari. Kece banget, dress panjang. Tapi karena saya nggak suka panjang, jadi saya pendekin lagi. Nah, sekarang pengen banget cari model roknya aja. Kemarin akhirnya dapat dong persis gambar di atas. Rok tartan idamanku! Senang banget, deh. Eh, tapi pas dicoba kesempitan. TIDAAAAAAAKK! Sedih loh! Padahal udah suka banget. Hiks!

Akhirnya ngubek-ngubek lagi (tentunya suami sampai bosen nungguin), dan nemu rok tartan lainnya. Bukan warna merah sih, tapi teteeep tartan dan saya suka banget! Pas pula ukurannya. Harganya? Cuma Rp 30.000! Yeay!

new-look

Bentuk dan warnanya persis kayak gini. Cakep!

Selain itu, saya juga dapat flare denim skirt dan kulot denim. Kulot kan lagi ngetrend lagi ya sekarang, nah ini surganya kulot banget. Sungguh lho, kulotnya kece-kece dengan berbagai warna. Belum lagi berbagai macam rok dengan motif lucu-lucu banget. Oh, sungguh nggak tahan banget untuk beli semuanya. Kalau dipikir-pikir, I’m a fan of 80s and 90s style. Makanya tempat kayak ginian bikin saya berbinar-binar.

glamorous-denim-light-wash-flared-denim-skirt-product-1-11626601-711322706

Ini ngetrend lagi kan? Lagian, denim is always timeless. Cuma Rp 20.000

vintage-90s-blue-denim-jeans-high-waisted-cullotte-shorts-6bhaeaceyjt5mvpnsn2i0kawfji2i4s745hkoef7j3q

Inget nggak sih waktu kecil kita suka pake celana model kayak gini dan sekarang trend lagi. Ini pun cuma Rp 20.000

Sungguh lah bahagia banget. Oh ya, semua itu masih dalam kondisi yang bagus banget, nggak ada noda sama sekali, ya. Harus jeli banget liatnya, apakah ada noda, kancingnya putus, dan kondisi lainnya. Overall, semuanya masih dalam kondisi yang oke. Kalau misal udah suka banget, tapi ada noda yang masih bisa dibersihkan atau kancing yang putus, ya tawar aja. Biasanya sih bisa ditawar. Itu kemarin saya nawar juga, kok walau kondisinya semua oke. Belum nawar kan belum sahih, ya. Hihihi!

Oh ya, kalau di Pasar Baru, baju yang di dalam toko biasanya udah dicuci dan disetrika makanya nggak bau dan nggak lecek. Harganya pun lebih mahal dikit, sekitar Rp 25.000 ke atas. Kalau yang agak di depan toko, baru dikeluarin banget, jadi belum dicuci dan disetrika harganya Rp 20.000 ke bawah. Tapi yang udah dicuci lebih banyak daripada yang belum dicuci, sih. Kalau yang modelnya baju atasan bahkan cuma Rp 10.000.

Total belanjaan berburu baju bekas di Blok S dan Pasar Baru untuk 9 potong baju cuma Rp 225.000! SUPER MURAH, SUPER BAHAGIA! :’)

Kalau kemarin nggak kemalaman, udah pasti saya masih berkutat blusukan cari baju bekas yang kece. Sayang udah malam dan suami udah mati gaya nungguinnya. Hahaha.

Tips untuk ke flea market:

  • Pake baju senyaman mungkin. Kalau tempatnya nggak ada fitting room jadi bisa cobain di tempat.
  • Cek kondisi baju dengan teliti. Lihat ada nodakah, ada yang rusakkah, atau kancingnya masih bisa digunakan dengan baikkah. Kalau kondisi udah minor, tawar lagi harganya. Kecuali kalau udah murah banget, kayak Rp 5.000. Ya udah itu mah terima aja. :)))
  • Rajin lihatin baju satu per satu. Kadang-kadang ada baju yang ditumpuk gitu aja kayak gunung. Bongkarin aja satu-satu karena biasanya nemu yang bagus. Seninya justru menemukan baju yang bagus di antara tumpukan itu.
  • Sebisa mungkin selalu dicoba, karena nggak bisa dibalikin kalau nggak pas.
  • Coba beramah tamah sama penjualnya, siapa tahu dikasih diskon. Ini saya sering lho. Hihi.
  • Nggak perlu jijikan. Kebanyakan baju yang dijual sudah dicuci dan disetrika. Kalaupun ada yang belum, harganya jadi murah banget. Kalau kamu jijik nggak usah dibeli. Kalau saya sih, tinggal cuci aja sampai bersih di rumah. No problemo!

Kamu pernah punya pengalaman beli baju bekas nggak? 😉

 

 

 

 

PS: semua gambar dicomot dari Google Images.

 

Kenalan, Dong!

Lagi blogwalking dan judulnya semua Tak Kenal Maka Tak Sayang dari para blogger kece. Kebetulan Dea nge-tag dan nggak ada ide banget buat ngeblog, yuk mari makan kuota gratisan dari kantor dulu buat ngerjain tag ini. Hihihi.

Anyway, saya belum pernah ketemu dengan teman-teman blogger, walau hampir tiap hari saya blogwalking. Kalau ada acara kopdar juga belum pernah ikutan, belum pernah daftar segala pula. Blame my introvert side. Kerjaan saya sebagai psikolog yang mengharuskan untuk ketemu berbagai macam orang dan menjadi ekstrovert ternyata menyerap energi banget. Seringnya pas weekend butuh diam, nggak diajak ngobrol, doing my own things in my own thinking. Pokoknya sendirian aja lah. Makanya punya anak yang disinyalir ekstrovert yang nggak ngebiarin mamaknya bersemedi dan harus diajak ngobrol, plus jalan-jalan ke luar, bikin saya jadi ngos-ngosan. Jadinya kalau ada ketemuan dengan orang baru lagi, saya suka mikir, “Do I have energy left for that?”. Super introvert banget, ya. Mungkin saya lebih memilih untuk ketemu beberapa orang atau sedikit orang dulu daripada sekaligus banyak biar nggak terlalu ngabisin energi. Oh well, tapi I’d be so happy to meet all the bloggers out there.

Baiklah sekian prolognya yang kepanjangan. Mari kita mulai. Here we go:

  1. Waktu kecil, rambut saya keriting banget, bikin nggak pede. Yah, macam kayak gini:
maxresdefault

Meriam Bellina tahun 80an. Doi rambut kayak gini tetap kece, kalau saya….amburadul.

Sungguh bikin drop shay! Makanya kamera bukanlah sahabat saya. Paling males kalau difoto soalnya hasilnya jelek banget gara-gara si rambut keriting. Sampe sekarang aja saya males lihatnya. Karena rambut keriting inilah, waktu kecil ngotot rambut harus panjang biar bisa diikat dan keritingnya nggak kelihatan (diikat setiap hari, bok), atau dipotong cepak biar keritingnya hilang (sumpah, ini lebih bikin ilfil lagi karena bukannya cakep, saya malah kayak anak cowok. Ampun!), sampai akhirnya dibonding (bikin ilfil pas masa-masa bondingnya hilang, jadi rambut setengah keriting dan setengah lurus. Jijay, kan?). Untungnya semakin dewasa, si keriting makin sadar diri jadi nggak lebay keriting, tapi bergelombang. Sekarang saya bersahat sama catokan kalau mau lurus dan nggak dicatok kalau mau rambut bergelombang. Yes!

2. Control freak. Mungkin karena saya anak pertama, hobinya ngatur dan semua harus sesuai rencana. Di kepala saya udah ada to-do list mau ngapain aja, lengkap dari hal printilan. Misal, kalau harus berangkat jam 11, maka jam 6 bangun, bikin makanan Kaleb, suapin Kaleb, susun baju yang akan dipake Kaleb, lalu saya mandi, pake make up, catokan, pakein baju Kaleb, ingetin suami mandi dan siap-siap, susun perlengkapan apa aja yang harus dibawa Kaleb, rapihin kamar tidur, ingetin suami masukin stroller ke mobil, milihin sepatu Kaleb, dsb. List-nya bisa panjang banget dan ada target kapan selesainya jadi nggak telat. Masalahnya, orang-orang di sekitar saya seringnya slow motion banget. Diingetin mandi, tapi masih santai di depan tv *lirik suami*, eh pas mandi bisa luaaaamaaa banget. Belum lagi ART yang inisiatifnya kurang jadi apa-apa nunggu perintah saya (well, but I don’t complain though, karena walau dia lelet, tapi dia sabar banget sama Kaleb dan persistence kalau kasih makan. Jadi bisa dimaklumi). Every day. Kebayang saya jadi gampang kesel, ngomel, bete, dan capek. Begitu pun pas liburan, bilangnya mau santai aja di sana terserah ngapain. Tapi kemudian saya pasti bikin worksheet jadwal ngapain aja di sana, lengkap dari tempat, jam, biaya, dsb. Kzl ya. Capek sendiri. Positifnya, saya jarang nggak selesai atau meleset dalam ngerjaian tugas, sih. Semua sesuai target. Yay for that.

3. Harus banget tidur minimal 8 jam. Itu sebelum punya anak. I never thought having a baby would make me have to endure lack of sleep and it was so painful. Lebay, ya. Tapi begitulah kenyataannya. Saya paling nggak bisa tidur kurang. Begitu tidur kurang, duh seharian bisa kayak zombie, bete, capek, kesel, bad mood. Orang bingung kok bisa ya jam 9 udah tidur. Bisa banget lah, target tidur kan 8 jam. Begitu masuk ke keluarga suami yang seringnya tidur malam, saya shock. Oh tidak, saya sungguh nggak kuat ngobrol ngalor ngidul sampai begadang. Pas punya anak, tidur keganggu, well sampai sekarang pun saya udah lupa apa itu tidur 8 jam secara anaknya masih suka kebangun buat nenen, akhirnya saya berasa capek dan nggak punya tenaga buat ngapa-ngapain. I need my bed. Masalah tidur keganggu ini yang bikin saya mikir-mikir lagi untuk sekarang nambah anak. Plislah, biar saya ngerasa tidur 8 jam dulu. Hihi.

4. Saya minum banyak banget air putih. Sehari kayaknya bisa minum lebih dari 4 liter. Kalau di restoran, bukannya pelit nggak mau pesan minuman selain air putih, tapi kalau nggak minum air putih berasa masih seret mau minumnya seenak apapun.

5. Saya pecinta Disney Princesses. Cinderella, Snow White, Little Mermaid, Beauty and The Beast. Saya berharap saya adalah Putri dan diperlakukan seperti Putri. Hahaha. Makanya pas ada film Cinderella di bioskop, tentu saja saya rela nonton sendirian walau tinggal menunggu waktu lahiran. Nah, sekarang bakal ada Beauty and The Beast nih, udah pasti saya bakal nonton sendirian lagi. Nggak ajak suami, karena pasti dia nggak bakal paham khayalan saya. Hahaha.

6. Berkaitan sama no 5, saya nggak masalah nonton sendirian. Buat saya itu me-time paling menyenangkan. Bebas milih film sendiri, mau se-cheesy, sekonyol apapun, dan nggak perlu khawatir teman nonton yang nggak asik. Kalau kita udah asik ngakak, terus teman nonton biasa aja kan berasa males, ya. Selain nonton, saya juga nggak masalah makan sendirian di tempat umum. Menyenangkan banget malah. Dulu waktu kuliah, saya bisa makan sendirian, ngayal sendirian, dan nggak peduli sama orang-orang sekitar.

7. Saya suka dikasih surprise. Mungkin karena terpengaruh kebanyakan ngayal nonton film Disney, saya suka tuh dibikinin surprise, diperlakukan spesial pas ulang tahun. Sayangnya, sekitar saya agak kurang kreatif, ya *lagi-lagi lirik suami* jadi bukannya dapat surprise, saya malah suka ngingetin, “Bentar lagi aku ulang tahun, lho. Jangan lupa, ya.” Ngarepnya dikasih surprise, berakhir biasa aja. Kesel sendiri. Padahal sering bilang ke diri sendiri, jangan ketinggian ekspektasinya, orangnya kan begitu. Tapi dalam hati tetap ngarep. Dear suami, kamu pasti baca ini, tolong ulang tahun nanti kasih saya surprise manis. Ada amin, saudara-saudara? Hehehe.

8. I love crafting. Kalau ada yang ulang tahun, saya bikin kartunya sendiri, saya hias sendiri, saya bungkus kadonya sendiri. Makanya pas punya anak, setiap mau bilang udahlah pas ulang tahun tiup lilin aja. Berakhir gagal, karena I want to make it special. Jadi saya bikin semua printilan ulang tahun sendiri, blusukan ke pasar, dan cari ide. Sayangnya saya nggak bisa design di komputer, ya. Jadi masih suka gangguin suami buat bikinin design. Mungkin suatu hari nanti saya harus les design.

9. Sampai sekarang, saya nggak pernah clubbing sama sekali. Saya nggak suka musik yang terlalu keras, musik heboh macam disko, rock, dll, nggak tahan asap rokok, dan nggak bisa tidur malam. Jadilah nggak pernah coba, nggak tertarik, dan nggak menyesal juga. Hihihi.

10. Walaupun saya introvert, tapi saya suka kegiatan outdoor. Saya suka pantai, suka ke taman, suka berada di alam, suka mencoba hal-hal baru kecuali mall. Walau sebagai anak Jakarta, yang paling gampang dilakukan ya lagi-lagi ke mall. Tapi sekarang lagi bikin kegiatan untuk Kaleb di mana weekend nggak ke mall.

11. Nggak suka WC yang kotor karena gelian. Makanya lebih baik nahan pipis daripada WC-nya kotor. Traumatis adalah pas honeymoon ke Phuket, di Maya Bay ke WC, WC-nya super jorok. Gara-gara itu, memori saya tentang honeymoon jadi kurang bagus. Lupa indahnya Phuket, ketutup sama joroknya WC. Hahaha.

12. Bukan pecinta makanan. Saya tipe main aman, jarang coba makanan baru. Makanya kalau ada cafe hits, saya nggak terlalu heboh pengen coba, sih. Kalau pun coba, pasti menu yang dipesan yang aman-aman aja, yang sekiranya saya pernah coba, supaya nggak gagal di mulut. Kalau udah suka satu makanan, ya udah itu aja yang dipesan terus. Kebalikan sama suami, yang suka coba jenis makanan baru. Makanya kalau ada makanan baru, saya cicip punya dia, tapi tetap berakhir saya puas sama makanan saya yang nggak berubah. Hahaha. Makanya saya jarang foto makanan, karena ya kalau lapar, saya makan, nggak sempat pamerin ke sosmed makan apa aja. I’m not a food lover lah. Kalau pun orang upload makanannya, saya juga nggak sering ngiler kalau saya nggak tahu itu apa. Kecuali, dia upload bakso, bakwan, mie, ramen, pizza. Hmm, habis itu langsung cus pengen beli.

13. Saya nggak berani nyetir mobil. Ada masanya saya pernah bawa mobil ke kantor, udah seberani itu. Tapi kemudian nyali ciut lagi karena pengalaman saya sama nyetir mobil kurang oke. Kemampuan spasial saya yang kurang bikin saya kurang bisa memperkirakan harus sedekat apa, beloknya udah pas belum, bakal nabrak depan nggak. Makanya seringnya saya markir mundur, eh nabrak, trus mau belok, malah keserempet motor. Hfft!  Makanya kalau yang lagi nyetir minta tolong saya lihatin sisi saya udah mepet atau masih jauh, saya susah jawabnya. Mepetnya segimana, nih? Perasaan udah mepet, sih, tapi kayaknya masih bisa lewat. Aaaah, tidaaaaak! Ku bimbang dan tak paham lah! Sungguh lho, saya pengen berani nyetir mobil. Tapi sampai sekarang belum berani. Doakan supaya keberaniannya muncul, ya.

14. Sejak rumah kemalingan dan laptop Vaio pink kesayangan saya ikut dicuri sekitar 6 tahun lalu, sampai sekarang saya nggak punya laptop sendiri. Pas kehilangan laptop itu perasaan saya numb alias tumpul banget. Nggak merasa sedih, marah, atau kesal. Pokoknya datar aja. Padahal semua data, kerjaan, hidup saya ada di situ. Tapi ya datar aja rasanya. Mungkin waktu itu saya nggak punya waktu untuk meratapi, tapi di pikiran bawah sadar, saya merasa laptop itu nggak tergantikan. Makanya saya belum punya laptop lagi (pun, merk Vaio udah nggak diproduksi lagi. Kenapa sih Sony? Itu kan merk kesukaan saya!) dan belum berniat beli. Sekarang saya pakai laptop kantor, bisa dibawa pulang tapi jarang dibawa juga karena males di rumah buka laptop. Atau pinjem laptop suami. No laptop, no worries.

15. Kalau nggak suka, saya nggak akan berbasa-basi bilang, “Wah, cantik, ya. Bajunya keren, ya.” dsb. Saya nggak jago basa-basi dan bermulut manis. Tapi ketika emang bagus, saya pasti puji dengan setulus hati dan penuh kekaguman. Kadang-kadang ini bikin jadi saya kelihatan jutek dan bukan jadi orang yang terlalu menyenangkan pastinya. Orang kan suka dipuji-puji, tapi saya males muji kalau emang biasa aja buat saya. Bahkan kadang-kadang nggak kepikiran muji karena ya nggak kepikiran. Pas orang lain muji, baru deh dalam hati mikir, kenapa sih gue nggak berbasa-basi dikit biar lebih gampang disukai orang. Ih! Sering dikira jutek juga jadinya. Padahal bener, deh, kalau diajak ngobrol saya suka banget.

Akhirnyaaaaa, udah 15 juga! *tiup kuku*

Jadi kapan ketemuan, nih?

Btw, saya nggak nge-tag siapapun karena kayaknya semua yang di dunia per-blog-an udah nulis ini. Hihihi. Feel free kalau mau ikutan nulis bagi yang belum, ya. 🙂