Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.

Advertisements

Nggak Sabaran

Mau pengakuan, ah:

I am not the kindest and most patient mother.

Kalau lihat ibu-ibu Instagram (duileh, sumber masalah ibu-ibu jaman sekarang hahaha), kok ya sabaaaar banget bikin mainan edukasi untuk anaknya, ajarin macam-macam, bikin bento dengan tampilan yang cakep-cakep banget, dan segudang keahlian ibu-ibu lainnya yang bikin saya merasa….. “Gue kok nggak gitu, ya?”

Kesabaran saya setipis benang. Misal ajarin anak sesuatu, kalau anaknya nggak dengerin, lari sana sini, tanduk saya langsung muncul, lalu intonasi naik 7 oktaf. Lain waktu, suapin anak juga nggak sabaran. Kaleb itu hobi banget makan diemut (udah dicoba berbagai strategi; ganti menu makanan tiap 3x makan, beliin piring dan gelas yang lucu, dll. Kalau anaknya lagi nggak mau,  ya diemut aja makannya). Jadi udah bisa dipastikan mata melotot, teriakan membahana. Begitupun soal tidur, kalau udah diajak tidur, matiin lampu, kasih susu, tiduran di atas dada saya sambil pegang-pegang tetek, trus nggak tidur juga sementara saya udah ngantuk banget, mulai deh merepet ngomel-ngomel.

Makanya saya suka merasa profesi guru anak-anak itu hebat sekali. Saya ngadepin satu anak aja lelah luar biasa, ini ngadepin beberapa anak dengan beberapa tingkah laku. Luar bisa hebatnya lah. Suatu hari ketika saya masih polos dan merasa anak kecil itu lucu, saya pun bercita-cita jadi guru TK. Mendaftarlah saya ke sebuah preschool. Pemiliknya baik sekali dan ajak saya untuk saat itu juga cobain jadi guru preschool, menghadapi lebih dari 10 anak kicik-kicik yang lucu. At the end of the day, I gave up. Hahahaha, they were so cute, tapi saya nggak sanggup menghadapi mereka semua, denger suara teriakan dan rengekan, rebutan bicara dan perhatian. Energi saya habis blas dan seharian rasanya nggak pengen ketemu siapa-siapa lagi. Oh, life as an introvert. Sejak itu saya belajar, I’m no good with kids. Kurang nurturing banget saya. XD

Ketika punya anak, kesabaran jadi ujian saya. Dulu bahagia banget rasanya pas Kaleb pertama kali bisa manggil Mami. Setiap dia panggil Mami rasanya berbunga-bunga dan terasa seperti suara terindah. Sekarang, anaknya dikit-dikit, “MAMI MAMI MAMI!”. Saya menarik napas dalam dan bilang ke anaknya, “Panggil Papa aja. Minta tolong Papa aja. Sama Papa dulu, ya.” Give me a break lah, jangan dikit-dikit Mami. Hahaha.

Pas Lebaran di mana Mbak pulang kampung adalah masa-masa kesabaran paling diuji. Harus bersihin rumah dan ngurusin anak itu menguras emosi. Mana saya orangnya semuanya harus serba teratur, beres, bersih, jadi capek sendiri. Itu aja saya udah bilang ke diri sendiri, nggak usahlah ngepel tiap hari, nggak perlu cuci baju tiap hari, nggak perlu tempat tidur rapi-rapi amat. Kenyataannya, lho kok rumah berdebu kan jadi jorok; PEL! Cuci baju Kaleb ajalah karena dia kan banyak ganti baju karena keringetan mulu. Kenyataannya; ya udahlah sekalian aja cuci baju sendiri. TIAP HARI. Yang ada capek sendiri, kesel sendiri, kesabaran menipis.

Saya punya beberapa idealisme yang akhirnya bikin saya capek sendiri. Misal, weekdays itu harus cepat pulang karena gantian ngurus Kaleb sama Mbak dan Opung. Kasihan mereka udah seharian jaga Kaleb dan saya ngerasa nggak tega harus nongkrong pulang kantor sementara mereka udah kecapekan. So I give up my social life on weekdays (makanya ajak saya ketemu pas makan siang aja, deh. Hahaha). Di weekend, saya yang 100% pegang Kaleb dari bikin makanan, mandiin, suapin, dan lain-lain. Makanya ke mana pun saya jalan pas weekend, Kaleb ikut. Mbak kerjaannya nggak banyak pas weekend biar bisa istirahat karena saya tahu ngurus anak tuh capek banget.

Makanya saya sangat terbantu banget ada Mbak yang bisa beresin rumah dan masakin makanan, walau masakannya itu-itu aja. Hahaha. Nggak papa, weekend saya yang masak. Ada suami yang paham banget, tiap pulang kerja saya butuh me-time sendiri setidaknya 30-45 menit sehingga suami yang ajak Kaleb main dan jalan-jalan dulu. Bahkan kadang-kadang kalau di rumah, saya minta Mbak yang nemenin Kaleb jalan-jalan keliling komplek walau Kaleb maunya sama saya. Sungguh saya butuh waktu sebentar untuk diri sendiri. Maaf ya, Kaleb.

Mana sekarang Kaleb udah bisa berkomunikasi lancar 2 arah, jadinya udah bisa ngeyel. Semakin dilarang, semakin dilakukan. Disuruh beresin mainan pake tarik urat dulu, drama nangis-nangis kayak disuruh maju perang. Mainannya sih diberesin, tapi masukin 1 mainan aja luamanyaaa minta ampun. Akhirnya ujung-ujungnya lebih banyak saya juga yang beresin mainannya. Ya daripada kesel sendiri, kan? *failed amat sih! Hahaha* Diajak mandi susah banget, disuruh udahan mandi juga susah. Belum lagi di kamar mandi apa-apa maunya sendiri. Bagus, dong? Nggak juga soalnya sampo dibuangin, odol dihabisin, sabun buat bersihin tembok. Lucu, ya? Nggak lucu lagi sih kalau udah keseringan (plus mamak bisa bangkrut lah bentar-bentar beli sabun). Hahaha.

Itulah kenapa saya jarang posting aktivitas Kaleb di sosmed. Ya karena, hampir nggak ada yang luar biasa. Aktivitasnya main-main, bukan yang pake mainan edukasi atau apalah yang kekinian sekarang. Hahaha, duh mamak pemalas, ya. Habis berantakin mainannya, trus jalan-jalan di luar. Itu pun sukanya jalan-jalan ke supermarket supaya bisa main dorong-dorongan troli kecil dan ambilin apapun yang dia suka. Ya terserah aja, deh. Hahaha.

Itu juga yang bikin pas weaning nunggu waktunya Kaleb sendiri yang siap karena sesungguhnya saya malas dan nggak punya energi untuk mendengar teriakan marah-marah dia kalau nggak dikasih nenen. Udahlah ngantuk, harus denger teriakan lagi. Oh, sungguh saya nggak sabar. Toilet training Kaleb pun nggak jago-jago banget. Kaleb masih suka kelupaan ngompol. Ya mungkin karena saya kurang konsisten kalau pergi ke luar rumah masih dipakein diapers dan nggak cukup sabar bawa dia ke WC tiap jam. Hahaha, jangan ditiru, ya.

Makanya punya anak itu jadi refleksi banget buat saya. Ternyata saya orangnya nggak sabaran. Pake banget nget. Hahaha. Dan jadi ibu bikin saya paham bahwa saya nggak bisa sempurna dan nggak perlu jadi sempurna. Saya harus paham kelemahan saya di mana dan berusaha menurunkan idealisme saya. Jadi ibu itu harus mengutamakan kebahagiaannya sendiri dulu karena ketika ibunya bahagia, moodnya bagus, dan happy ngurus anak juga jadi lebih gampang (eh, ngurus anak sih nggak pernah gampang sih, ya. Hahaha). Semoga kesabaran saya bertambah-tambah sebanyak pasir di laut, ya.

Ibuk-ibuk di sini ada yang nggak sabaran juga nggak? Sharing dong.

 

Akhir Kisah Menyusui

Dua bulan sebelum Kaleb berulang tahun kedua, saya mulai sering bilang ke Kaleb bahwa dia sudah besar dan waktunya berhenti nenen. Setiap malam sebelum tidur, saya bilang begitu terus karena anaknya belum bisa tidur tanpa nenen kalau ada saya. Hasilnya, dia ngamuk. Kaleb nangis dan bilang, “Mami, Kaleb mau bayi terus aja.” XD

Kan awal menyusui baik-baik, ya. Kaleb suka, Mamak suka. Yuk, lanjutin nenen. Makanya berhentinya pun maunya baik-baik. Nggak pake paksaan. Jadi, kalau Kaleb ngamuk, ya udah lep kasih nenen lagi lah. Saya anggap dia belum siap. Nanti dia bakal siap sendiri kok. Plus, saya malas kalau udah mau tidur malam, saya udah capek dan ngantuk, masih harus dengerin anak drama nggak dikasih nenen. Lelah hayati. Hahaha. Karena itu juga, saya nggak pernah berusaha melarang dia untuk nenen. Peraturannya, kalau udah 2 tahun adalah hanya nenen kalau mau tidur. Nggak di tempat umum, nggak di mobil, nggak di mana-mana. Hanya di tempat tidur. Sip, ya.

Pas umur ulang tahun kedua, anaknya tetap keukeuh harus nenen. Hiyaa, mana ini ungkapan kalau anaknya diberi pengertian jauh-jauh hari akan paham. Kaleb menolak keras untuk berhenti nenen. Nenen is a must lah! Akhirnya saya pasrah aja kalau Kaleb akan nenen lebih dari usia 2 tahun dan yo weislah toh nenen nggak memberikan dia pengaruh buruk, kan?

Tapi sebenarnya saya kali yang nggak siap untuk stop nenen. Iya, saya bosen nenenin tiap mau tidur, iya saya capek harus tidur miring terus, tapi dalam hati saya nggak siap melepaskan anak sendiri untuk lebih mandiri. Makanya saya nggak pernah benar-benar berusaha untuk dia stop nenen. Sepertinya saya lagi mengumpulkan kesiapan, begitu pun Kaleb. Stop dari aktivitas yang 2 tahunan ini bikin kita lengket kayak amplop dan perangko ternyata nggak mudah, ya.

Sambil mengumpulkan kesiapaan, saya terus bilangin dia tiap hari untuk berhenti nenen karena udah besar. Cuma bilangin aja, sih. Nggak maksa. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu dia sungguh sangat posesif sama nenen, udah ketiduran pun begitu saya lepas dia tersadar dan berusaha nenen lagi. Masalahnya, giginya kan udah banyak ya, jadi sering banget nggak sengaja kegigit. Duh ampun, sakit bos! Dulu pas dia tumbuh gigi kayaknya cuma sekali tetek saya digigit dia, habis itu nggak pernah lagi. Lah, ini udah besar malah sering nggak sengaja kegigit. Keinginan untuk stop nenen jadi membesar dan saya makin siap.

Perlahan-lahan saya mengubah sugesti saya ke Kaleb karena setelah dipikir-pikir kalau makin dilarang, dia pasti makin sebel. Gila, nenen adalah hal paling favorit dari lahir sampai sekarang kok malah dilarang? Ya no way jose lah. Itu pasti sesuatu yang bikin dia merasa nyaman banget. Jadi ya nggak perlu dipaksa. He would know when to stop. Kalau mau tidur dan dia minta nenen, saya bilang, “Oke nenen sebentar aja ya, nanti Mami elus.” Maksudnya elus punggung dia sambil ketiduran. Dan ternyata dia paham lho. Jadi tiap nenen, saya kasih waktu sekitar 5 menit, lalu saya bilang, “Yuk Kaleb, nenen udahan. Mami elus.” Dia pun langsung stop dan balik punggung untuk dielus. Oh, ternyata ungkapan yang lebih positif bikin dia lebih secure. Nggak menakutkan kayak waktu disuruh stop nenen.

Keadaan nenen bentar dan elus ini seiring-iring berubah karena Kaleb lebih memilih untuk habis nenen, mending pegang tetek. XD Ya udahlah saya pikir, nggak capek ngelus punggung dia sampai ketiduran pula.

Sekitar 3 minggu lalu, Kaleb demam. Seperti biasa demam pasti bikin dia nggak bisa tidur dan milih untuk digendong saya mulu. Pegel, bok! Waktu itu saya pikir kalau gendong sambil duduk, saya juga bakal capek karena nggak bisa tidur. Jadi saya bilang ke Kaleb gendong, tapi sayanya sambil tiduran. Jadi posisinya dia tidur di atas dada saya sambil saya peluk. Dia pun ketiduran sambil pegang tetek saya.

Nah sejak itu, setelah nenen, dia minta tidur digendong sambil pegang tetek. Tapi 2 minggu ini, out of nowhere, nggak dipaksa, nggak disuruh, tiap mau tidur dia nggak merengek minta nenen, tapi langsung bilang, “Mami, mau tidur diendong aja.” Awalnya saya nggak sadar sih dia nggak nenen lagi, sampai suatu hari pas saya ingat-ingat, lho udah seminggu Kaleb nggak nenen. Dia cuma minta minta diendong sambil pegang tetek sebelum tidur aja.

Is it the time for he’s weaning himself?

Jadi saya perhatikan lagi deh seminggu ke depannya. Iya, nggak minta nenen, lho. Tapi sekarang ritual tidurnya begini: masuk kamar, matiin lampu, tak lupa dia cek tetek saya. Kalau masih pake BH, dia akan bilang, “Mami, buka BH-nya!” HAHAHAHA. Tiap hari dia ingetin saya buka BH. Lalu dia sambil tiduran pegang tetek saya dia pernah bilang, “Mami, kok teteknya kecil?” Saya cuekin. Dia tanya ulang lagi. Asem! :))) Teteknya kecil kebanyakan nyusuin kamu!

Jadi kayaknya ini akhir perjalanan menyusui saya. 2 tahun 4 bulan. LEGA banget karena akhirnya bisa stop menyusui tanpa drama dan ternyata kalau dua-duanya siap emang semudah itu. :’)

Apakah saya kangen moment menyusui? BELOM ya! :))) Gilakkk, I finally have my freedom. Saya nyusuin sambil tiduran itu bukan berarti ikutan tidur karena saya orangnya gampang kebangun. Nggak bisa posisi kaku miring trus ketiduran. Pasti harus nunggu anaknya selesai nenen dulu baru ketiduran. Baru sadar 2 tahun 4 bulan tidurnya begitu terus. PEGEL, cing!

Tapi bukan berarti selalu mulus, ya. Kayak tadi malam, Kaleb tiba-tiba ingat nenen dan bilang, “Mami, mau nenen.” Wah, deg-degan juga saya. Apa nanti kalau nggak dikasih dia akan ngamuk? Saya bilang, “Nggak usah nenen, deh. Mami gendong aja, ya.” Dan ya udah dia diam, trus oke digendong. Mungkin dia lagi kangen momen nenen, ya.

Belum lagi Kaleb baru bisa tidur sepanjang malam itu pas umur 2 tahun. Sebelum 2 tahun, ya masih kebangun-bangun untuk nenen. Saya emang nggak sleep training dia. Karena saya lebih baik tinggal buka baju nyusuin bentar, lalu dia tidur lagi; daripada malam-malam ngadepin Kaleb ngamuk, susah dibalikin tidur lagi, dan bikin saya jadi zombie di kantor karena kurang tidur. No, buat saya tidur cukup itu penting dan saya nggak perlu drama persusuan tengah malam. Hahaha. Makanya pas Kaleb umur 2 tahun dia tiba-tiba tidur sepanjang malam, malah sayanya yang kaget. Saya masih otomatis kebangun tengah malam, trus bengong mikir, “Anak gue kok tumben belum kebangun buat nenen?” Eh, ternyata anaknya mutusin perlahan-lahan untuk mengurangi frekuensi nenen dia. :’)

Jadi, saya pikir anak tuh cukup pintar untuk mengatur waktunya sendiri. Kapan dia siap untuk mandiri secara emosional. Orang tua tuh cuma bantu aja, jangan maksa, tapi encourage dia dengan positif. Waktu proses weaning pun, saya nggak akan ingetin dia untuk nenen. Jadi saya diemin aja. Kalau dia minta nenen, saya kasih. Tapi kalau nggak minta, saya nggak akan sodorin. Kalau kita sodorin lagi, misal pas dia lagi ngamuk biar cepat berhenti ngamuknya, nanti nggak konsisten dan dia nggak akan siap-siap untuk lebih mandiri.

This whole breastfeeding journey worth all the pain, nipple cracking, never ending pumping sessions, all the breastfeeding boosters, sleepless nights, swollen breasts, and all those troubles we’ve got. Because in the end, breastfeeding isn’t just about milk, it’s about love.

I make milk. What’s your super power? 🙂

Toilet Training Kaleb

Kaleb udah sekitar 3 bulanan ini belajar toilet training. Awalnya karena saya pikir dia udah usia 2 tahun, belum mau lepas nenen, dan belum toilet training sama sekali. Hm, harus ada yang dicapai nih karena kan dia semakin besar, harus semakin mandiri. Untuk berhenti ASI karena buat saya dan Kaleb sifatnya sacred (satu-satunya yang nggak bisa digantiin siapapun ya cuma kegiatan nenen ini. Only me and Kaleb), jadi saya menyerahkan keputusan dan kesiapan Kaleb untuk berhenti. Yah, walau saya selalu mengingatkan dia kalau sudah besar dan waktunya berhenti, lho. Tapi dia belum mau, jadi ya sudah.

Nah, untuk toilet training awalnya juga ragu. Dia cuma mau pup kalau mau mojok di sudut ruangan. Dibawa ke toilet selalu ngamuk. Berkali-kali dicoba dan gagal. Benar-benar pesimis, deh. Tapi toh saya pikir, dia sebenarnya sudah bisa, kok. Dia sudah bisa bicara, bisa membedakan mau pipis dan pup, tahu letak toilet, bisa membuka celana sendiri. Jadi mari kita coba.

Awalnya saya pakai training pants yang bentuknya lumayan tebal sehingga kalau pipis nggak langsung basah ke lantai. Tapi toh itu cuma punya 3 doang. Yang lainnya, saya pakai celana dalam biasa karena tujuan akhirnya kan pake celana dalam, ya.

Ternyata saya suka underestimate Kaleb karena toh dia bisa, lho. Di hari pertama dia lepas diapers, dia cuma gagal sekali pas pipis lagi tidur. Wajarlah, namanya lagi tidur jadi dia pasti nggak bisa nahan pipis. Tapi untuk pup, surprisingly dia nggak pernah gagal. Awalnya ngamuk nggak mau ke toilet, tapi lama-lama dia paham untuk pup di toilet. Dia sekarang kalau mau pup selalu bilang.

Nah, kalau pipis ini yang masih jadi masalah. Tiap hari di rumah udah no diaper. Tiap jam diajak ke WC. Kadang-kadang dia malah iseng bilang mau pipis, padahal pipisnya dikit banget. Ya udah gpp, demi keberhasilan nggak pipis di celana, kan. Tapi kalau dia udah sibuk main dan heboh, dia ya lupa bilang pipis. Kadang-kadang saya merasa dia nggak lupa bilang pipis sih, tapi dia nggak mau waktu mainnya diganggu atau diberhentikan dengan harus ke toilet. Jadi ya dia sibuk aja main.

Yang lucu karena pernah dia kebelet pas jalan-jalan, akhirnya Opungnya suruh pipis di pinggir got. Lah, habis itu dia nggak mau pipis di toilet, maunya di halaman rumah atau got! Pernah ke Ancol, dia bilang mau pipis. Opungnya udah ajak ke toilet mall, eh dia nggak mau pipis. Pas mau masuk mobil dia bilang mau pipis, tapi maunya di jalanan aja. Hadeuh! -_____________-*

Alasan mau pipis ini dijadikan Kaleb untuk main-main air. Jadi kalau lagi di mall atau di mana gitu, dia bilang mau pipis biar dia bisa main flush di toilet. Udah dibawa pipis, trus nanti 5 menit kemudian dia bilang mau pipis. Padahal kalau dibawa masuk ke kamar mandi ya nggak pipis juga, cuma mau main air. Zzz!

Untuk tidur malam, Kaleb masih pake diaper karena mamaknya masih males bangun tiap beberapa jam untuk ajak dia pipis. Lagian anaknya tipe yang kalau dibangunin pas masih ngantuk dia ngamuk, plus drama, trus nanti susah ditidurinnya karena dia udah sadar. Mamak pingsanlah kalau sampai kurang tidur. Tapi sebelum tidur dia diajak pipis dulu sih dan pas bangun diajak pipis lagi.

Jadi selama 3 bulan ini udah lumayanlah, tapi masih belum berhasil 100%. Ada yang toilet trainingnya sudah berhasil? Ceritain, dong. 😀

Drama Tantrum Kaleb

Akhirnya masa-masa anak kicik manis penurut tergantikan juga dengan masa TANTRUM. Selamat datang anak guling-guling sambil ngamuk teriak-teriak ketika keinginannya tak terpenuhi *mamak pijat kepala*.

Kayak pagi ini, anaknya tantrum pas saya lagi mau berangkat kerja. Mana udah telat lagi karena bangunnya kesiangan *huft* Pas saya siap-siap Kaleb masih tidur nyenyak kayak malaikat. Lalu bapake selesai mandi dan mau ganti baju jadi nyalain lampu (tidur selalu dengan lampu dimatikan). Anaknya kebangun dan minta lampu dimatiin. Baiklah, bapake matiin lampu.

Kemudian datanglah saya yang gantian mau pake baju habis mandi, nyalain lampu. Anaknya nyuruh matiin lampu, tapi karena saya nggak bisa lihat apa-apa dan sebagai cewek ribet kan ya harus milih baju dulu, dandan dulu, pake softlens, dan seabrek kegiatan lain yang manalah bisa dilakukan dengan keadaan mati lampu. Akhirnya saya bujuk-bujuk, anaknya minta susu. Diambilin susu, tapi dia nggak mau. Lanjutlah dengan serial ke-cranky-annya. Ngamuk-ngamuk, saya nggak boleh dandan, minta digendong terus. Akhirnya batal lah dandan dan sisiran, udahlah entar aja. Matiin lampu kamar aja biar anaknya tenang. Tenang, dong?

Tentu tidak.

Anaknya karena udah cranky lanjut dramanya. Minta saya tidur aja nemenin dia, mamak nggak boleh kerja. Lanjut ngumpet di balik gorden, nutup pintu kamar, guling-guling marah, dibujuk apapun nggak mau. Pening!

Kalau lagi cranky gini, saya sebisa mungkin tetap tenang dan nggak terpengaruh. Karena semakin kita emosional, dia akan makin parah ngamuk-ngamuknya. Biasanya saya akan bilang, “Kalau Kaleb udah selesai ngamuknya, Kaleb datang ke Mami bilang Kaleb kenapa, ya.” trus ya udah saya biarin dia nangis aja sampe keluar semua emosinya. Tapi berhubung ini pagi-pagi, udah telat, dan dia pake tantrum segala, mau nggak mau saya bujukin. Berhasil? Ya gagal, dong.

Mau saya gendong tapi dia terus meronta-ronta jadi nggak bisa digendong. Dibujuk bapake juga gagal. Ya udah saya pura-pura mau pergi keluar, eh dia keukeuh di dalam. Kuat-kuatan aja sih kalau kayak gini. Saya bertahan di luar beberapa saat, sampai akhirnya dia ke luar juga. Pas di luar lanjut tantrumnya. Dia guling-guling di pagar depan rumah sampe diliatin tetangga. Hohoho.

Prinsip paling penting dalam menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, percaya diri, dan tidak jadi panik yang akhirnya malah bikin anaknya merasa bisa menguasai kita. Jadi saya santai aja bilang, “Mami tunggu Kaleb di mobil, ya.” Pada akhirnya bapake sih yang gendong anaknya ke mobil. Hahaha. Di mobil dia dipeluk dan lebih tenang. Huft sungguh drama pagi.

Kemarin di twitter ramai banget karena ada yang bilang kalau anak-anaknya ngamuk tolonglah diurusin karena ganggu sekitarnya. Orang yang bilang belum punya anak. Ehehehe. -_-*

Sungguh lho kalau ada pilihan ibuk-ibuk juga males banget ngadepin anak tantrum. Belum lagi kalau tantrum di tempat umum pasti lah orang-orang akan menghakimi, malu, dan panik karena sebagai orang tua kita juga merasa akan mengganggu ketenangan sekitar, nih. Pressure banget!

Tapi yang bisa kita lakukan cuma tenang dan nggak panik, abaikan tatapan menghakimi orang lain. Salah satu cara biar anak tantrum tenang adalah ya didiamin aja. Tunggu mereka tenang, barulah kita bisa ngomong. Bisa juga sih kita ajak dia ke tempat yang lebih sepi. Tapi kalau kasusnya kayak Kaleb, dia jadi susah digendong karena meronta-ronta dan menggeliat sehingga saya kehilangan keseimbangan dan bisa bikin dia jatuh. Ribet cuy mindahinnya.

Perlu dicatat, tantrum itu bukan karena anaknya bandel atau nggak diajarin, ya. Tantrum itu emang proses yang biasanya akan dialami anak seumuran Kaleb atau pas balita karena mereka nggak ngerti bagaimana harus mengekspresikan emosi yang mereka rasakan karena rasanya campur aduk, plus mereka pengen cari perhatian biar keinginannya diturutin. Masalahnya, nggak semua hal bisa diturutin, kan. Jadi janganlah menganggap anak tantrum itu nakal, atau orang tuanya nggak becus ngurusin anaknya.

Sejak punya anak dan tahu hal seperti ini, setiap melewati ibu yang lagi membujuk anak tantrumnya saya cuma akan senyum sama ibunya dan ya udah lewat aja. Nggak pasang muka terganggu. Si ibu pun akan lebih tenang menghandle anaknya sehingga tantrum anaknya akan cepat selesai.

Jadi ada yang anaknya suka tantrum juga? Tos yuk!

Drama Hari Pertama Kerja

Haiiii, gimana liburan Lebarannya?

Sebelumnya mau mengucapkan,

“Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf kalau ada yang salah ucap di blog ini. Kita mulai dari 0 lagi, ya.” *semacam iklan bensin*

Libur Lebaran saya nggak ke mana-mana. Memang nggak pernah ke mana-mana sih biasanya kalau Lebaran karena tiket mahal, di luar kota macyeeet, nitipin anjing susah karena pet shop penuh, dan mau menikmati Jakarta yang sepi sehingga bisa ke mana-mana. Yihaaa!

Lebaran kali ini sungguh bahu-membahu sama suami dalam membereskan rumah dan jaga Kaleb. Dari yang sayang-sayangan, marah-marahan, kesal-kesalan, balik lagi ke sayang-sayangan. Sungguh ujian fisik dan mental saat bersama balita, ya. Hahaha.

Anyway, mau cerita tentang drama hari pertama masuk kerja. Jadi karena ART pulang, full deh bareng Kaleb 24 jam selama 9 hari penuh. Mayan loh. Mayan menguras emosi; pagi bangun peluk-pelukan, cium-ciuman, oh anakku paling manis sedunia. Siangnya mulai rusuh non-stop, rambut berdiri, makan susah, barang-barang diberantakin, ngomong harus pake volume maksimal, hukuman diberlakukan. Sorenya, daripada kepala butek, bau ketek nggak sempat mandi, yuk cus jalan-jalan ke luar rumah biar hati adem dan anak senang. Malam, balik peluk-pelukan lagi. Tiap hari begini. Hahaha.

Dua hari sebelum masuk udah sounding ke Kaleb nanti Mami masuk kerja, Kaleb sama Opung lagi, ya. Anaknya masa bodo. Satu hari sebelumnya, sounding lagi. Anaknya cuma bilang, “Kaleb mau ikut kerja aja”. Tapi masih santai anaknya. Oke deh.

Oh ya, Kaleb ini tipe anak yang selow santai no baper. Dari kecil ditinggal kerja, saya selalu pamitan dengan dia, jarang banget nangis, apalagi teriak-teriak. Yang ada dia malah dadah-dadah, “Dadah Mami, Dadah Papa.” trus bodo amat main lagi. Sebagai orang tua langsung hidung kembang kempis anaknya bukan tipe yang selalu nangis kalau orang tua kerja. Tenang banget lah ninggalin ke kantor jadinya.

Nah, tapi kan Kaleb mulai besar dan mulai paham. Sembilan hari penuh sama orang tuanya pasti bikin makin tak terpisahkan. Dimulai dari pagi, dia mulai merengek ketika saya lagi siap-siap. Seperti biasa, saya nyalain lampu dan matiin lampu tidur. Yang ada anaknya keukeuh lampu tidur harus nyala dan lampu kamar mati. Minta peluk, minta gendong, maunya di kamar aja.

Sampai akhirnya saya pake sepatu kerja, dia langsung tantrum.

“MAMIIII, LEPAS BAJUNYA!”

“MAMIIIII, JANGAN PAKE BAJU INI. PAKE BAJU BOBO AJA.”

Yang tadinya saya biasa aja, kan ya sedih juga. HUWAAAAA, pertahanan retak-retak juga. Akhirnya saya ikutan nangis. Anaknya makin nangis lah. Yang biasanya senang kalau diajak naik mobil, kali ini di mobil minta turun. Bahkan mau ke setir bapaknya dan minta balik terus. Diajakin mampir ke Alfa beli susu pisang, tetap nggak mau. Dikasih nenen yang biasanya berhasil, dia tolak. Tough!

Sampai akhirnya di rumah Opung, dia makin menjerit.

“NGGAK MAU KE SINI! MAU KE RUMAH KALEB AJA!”

Dia langsung ngumpet di bawah setir sambil teriak-teriak nangis. Duh, berat cuy bujuknya.

Akhirnya karena nggak sanggup gendong meronta-ronta terus, minta bapaknya yang angkat dia dari mobil. Dramanya sungguh luar biasa, di pintu rumah dia guling-guling di lantai nangis. Segala bujuk rayu gagal.

Saya pun harus pasang muka lempeng lagi pas pamitan, “Kaleb, Mami pergi kerja dulu, ya. Nanti malam Mami pulang kita main lagi.” cium keningnya, melangkah ke luar rumah like a hero! No turning back!

Padahal hati mah udah patah seribu dan rasanya pengen langsung sms bos bilang, “Bos, anak eike ngamuk nggak mau ditinggal kerja, saya nggak masuk hari ini, ya. Bhay!” Apa daya, cuti tinggal dikit cuy!

Jadi di mobil berangkat ke kantor sedih-sedihan. Eh, sejam kemudian dikirimin foto sama Opungnya, anaknya lagi main mobil-mobilan, udah mandi, sambil ketawa lebar.

Sungguh anakku drama. Trus emaknya terbawa drama anaknya pula!

Ayo sini, ibuk-ibuk yang kerja gimana hari pertama ninggalin anak lagi di rumah? Ada drama juga nggak?

 

Jangan Jadi Ibu Lebay

Di sekolah minggu kemarin, seperti biasa Kaleb saya biarin main-main dan saya nunggu di pinggir kelas. Kaleb senang keramaian, curious, tapi nggak ganggu orang. Dia bukan orang yang suka pukul-pukul, apalagi ke orang yang nggak dikenal, kecuali diajarin dan dilihat. Misal dia lihat ada orang dorong-dorongan dan orang yang didorong ketawa. Nah, dia akan nganggap dorong-dorongan itu nggak papa dan wajar. Kecuali kalau pas didorong nangis atau marah, dia nggak akan mencontoh. Yah, intinya Kaleb lagi di tahap modelling.

Kemarin Kaleb lagi main sama anak perempuan yang kalau dideketin dikit, ekspresinya lebay. Anak ini udah lebih besar, sekitar umur 3 tahun. Lebay dalam arti kalau didekatin, jerit-jerit. L E B A Y ! Kaleb kalau ada yang ekspresinya lebay, justru makin dia deketin karena ya dia penasaran dan menganggap itu hal yang positif. Jadi dia deketin, anak itu jerit-jerit, Kaleb lari jauhin sambil ketawa senang, anak itu diam. Lalu, berulang lagi siklusnya. Yah, tipikal anak lagi main-main. Saya nggak intervensi, karena nggak ada yang membahayakan.

Sampai hal itu beberapa kali berulang, ibu si anak langsung ngambil anaknya dan dicup-cup, seakan-akan anaknya diapain. Oh, kemudian saya sadar, pantesan lah anaknya lebay, ibunya tipe overprotektif, jadi reaksi anaknya berlebihan dan penakut juga. Oke sip. Kaleb pun kembali ke saya dan main-main biasa lagi, alias lari-larian.

Anak itu pun udah dilepas dari ibunya, Kaleb yang ngelewatin anak itu malah didekatin anak itu sambil ketawa-ketawa dan diajak main kayak tadi lagi. Jadi, sebenarnya anak itu menikmati permainan didekatin, lalu dia jerit-jerit, dan kemudian dapat perhatian. Ya udah balik deh mereka main kayak tadi lagi, si anak nggak jerit-jerit tapi ketawa. Lalu mereka salaman, dan pelukan. Kaleb tipikal yang kalau peluk, artinya sayang. Jadi dia mau sayang elus-elus rambut anak itu. Di rumah diajarinnya kalau sayang, dielus rambutnya, kan. Karena si ibu lebay, DIKIRANYA Kaleb mau nyentuh matanya. Jadi Kaleb DIMARAHIN, “Jangan pegang-pegang mata, ya! Nggak baik!”

EH BUSET!

Saya yang ada di pojok ruangan memperhatikan nggak intervensi, sih. Saya pengen tahu gimana reaksi Kaleb meng-handle hal semacam itu. Would he cry, run to me, or else? Kaleb ternyata diam (saya nggak bisa lihat wajahnya sih, karena membelakangi saya), tidak bereaksi, dan ketika ia menoleh, ia tersenyum lebar. No baper. Main lagi kayak biasa. Top!

Saya tetap menasehati Kaleb sih, bilang nggak semua suka untuk dielus-elus, terutama kalau nggak dikenal, jadi mendingan nggak usah main sama anak itu, main sama yang lain aja. Kalau Kaleb sudah mampu berpikir kompleks sih pengen bilang, “Ibunya nggak asik, mendingan nggak usah main sama dia, deh!”

Gini lho ibu-ibu, I know how much you LOVE your kids. I surely KNOW that feeling. Kalau bisa jangan sampai anak kita merasakan sakit sedikitpun, nyamuk aja nggak boleh gigit, dan harus selalu HAPPY. But that’s not how the world goes. Sometimes they feel sad, sometimes they’re disappointed, sometimes they’re angry, sometimes they worry. Pada akhirnya mereka harus mengalami dan merasakan apa sih emosi negatif itu. Pengalaman-pengalaman hidupnya tidak akan selalu membahagiakan dan berjalan seperti rencananya. Dia tidak akan selalu diselamatkan atau dikabulkan permintaannya oleh orang-orang sekelilingnya. Let them experience it and handle the problems.

Sakit hati nggak Kaleb dimarahin gitu? SAKIT HATI BANGET lah. Gilingan, anaknya happy kok main sama Kaleb, dia yang ngajak main lagi. Kok anak gue pas lagi mau sayang, malah diomelin? Gilingan! Tapi ya, walau marah, kesal, sakit hati, tapi saya nggak mau apa-apa terlalu membela dan melindungi Kaleb. Kaleb juga harus belajar, yah ada orang yang nggak suka dia peluk. Ya udah terima aja kalau dia dimarahin. Walau menurut saya caranya nggak oke ya. Pertama, dia nggak kenal Kaleb. Kedua, nada marahnya tinggi. Well, siapa elo marahin anak gue semena-mena? HAH! Kalau perlu, yuk kita gulat-gulatan berantem, daripada dia marahin Kaleb. Tapi itu kan nggak mendidik. Saya juga perlu tahu Kaleb bisa nggak mengatasi hal tersebut. Kemampuan problem solving itu penting, lho. Ternyata he did a great job. So I don’t have to worry much. *tapi tetap bilang ke suami, lihat aja nih nanti pas sekolah minggu selesai, I’ll talk to her! Tapi nggak kejadian karena saya pulang duluan, Kaleb cranky karena nggak enak badan*

Being a mother means sometimes you have to step back so your kids will step forward. Anakmu bukan yang selalu paling hebat dan nggak bisa salah sehingga hal-hal di sekitarnya yang harus selalu disalahkan melulu. Jadi ibu yang realistis, yuk. 🙂

Have a happy Monday!

 

Jalanku Bukan Jalanmu

Terserah lah kalau mau main di genangan 😑


Sebagai orang tua, pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Kalau bisa anaknya selalu bahagia, nggak susah, kaya raya, dan sehat selalu. Pokoknya semua hal yang baik, deh. Karena orang tua hidupnya sudah lebih lama juga, jadi merasa lebih tahu cara menuju kesuksesan. Sayangnya, nggak selalu jalan hidup orang tua sesuai dengan jalan hidup anak.

Untuk hal-hal yang besar, saya bersyukur orang tua nggak pernah maksa. Ngarahin iya, ngarep-ngarepin iya, maksain kriteria orang tua ke saya juga iya, tapi selalu akhirnya saya yang harus memutuskan. Kalau kata orang tua saya, kalau saya nyesel ya tanggung jawab ada di saya, bukan nyalahin orang lain. :))) Oh oke, deh.

Begitu pun juga ke Kaleb. Sedari kecil berusaha supaya membebaskan dan nggak terlalu maksa ke Kaleb. Kayak misalnya sekarang Kaleb udah bisa milih mainan. Kalau ke toko mainan dia udah bisa bilang, “Mami, beli!” atau “Papa, bayar!” sembari mengantarkan mainannya ke kasir. Dia tahu mainan di toko nggak bisa diambil begitu saja harus dibeli dan dibayar pake uang.

Kalau di toko mainan, Kaleb udah mulai bisa milih mainan mana yang dia mau. Kadang-kadang pilihan dia bikin saya pengen bilang, “Euh, warnanya norak!” atau “Doh, itu kan jelek banget bentuknya!”. Tapi ya saya diam aja, sih. Paling maksimal yang bisa saya lakukan untuk menggoyahkan pilihannya adalah, “Bener mau yang ini? Nggak mau yang itu? Yang itu warnanya bagus, lho. Eh, besar nih, bisa dibawa main ke taman.” Selanjutnya Kaleb biasanya akan melipir ke mainan yang saya tunjuk, terkadang dia setuju, lebih banyak dia pilih yang lain lagi. Kadang-kadang saya menang, kadang-kadang harus pasrah lihat Kaleb pilih mainan yang norak. :)))

Pernah saya kesengsem banget sama mainan kompor-komporan, lengkap dengan panci, gorengan, dll. Gemes pengen punya karena waktu kecil saya nggak punya. Huhu! Waktu itu ketemu warnanya biru, pas buat cowok. Cowok kan boleh main masak-masakan, ya, biar bisa jadi chef (anyway, saya nggak pernah membatasi Kaleb harus main mainan cewek atau mainan cowok. Dia main boneka boleh, main pistol oke, main masak-masak silahkan, main truk gpp). Bujuk Kaleb beli mainan kompor-komporan, anaknya nggak tertarik, malah lihat gitar-gitaran. Ah, mungkin anaknya belum paham. Padahal kan dia suka gratakan di dapur lihat mamanya masak, pasti dia suka. Jadi saya memutuskan untuk tetap beli. Nanti kalau udah dirakit mainannya, nanti dia paham dan pasti suka. Yes!

Sampai di rumah, dirakit, Kaleb emang main lah itu kompor-komporan. Saya senang, dong. Tuh kan, emang waktu itu dia belum paham aja. Eh, tapi dia hanya bertahan main kompor-komporin 2-3 hari aja. Habis itu hampir nggak pernah disentuh, atau kalaupun disentuh cuma untuk dengerin bunyi kompornya. Jiyaaah. Gagal maning!

Makanya saya pikir, ya udah lah nggak usah maksain beli mainan yang nggak disuka lagi. Biarkan Kaleb memilih biar kalau beli mainan, mainannya awet dimainanin terus, nggak dianggurin. Biar dia juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusannya, biar nggak berat hati menjalankan keputusannya, dan tetap bahagia dengan caranya. Ish, dalem banget, ya. :)))

Saya pernah bilang ke suami saya, Kaleb boleh menjadi apapun yang dia mau kalau besar, selama itu positif. Hidup dengan doktrin harus jadi jemaat di suatu gereja, padahal hati saya sama sekali nggak pernah ada di situ (dan lumayan menyiksa karena akhirnya tiap datang ke gereja itu saya ribet harus pake baju apa, cukup oke nggak nih, udah pernah dipake sebelumnya nggak –> akibat doktrin Mama yang bilang kalau ke gereja itu harus rapi maksimal. Kalau bajunya udah pernah dipake, nggak boleh dipake dalam waktu dekat). Akibatnya saya datang sibuk dengan penampilan, di gereja ngomongin penampilan orang, dan pas khotbah ngantuk (bangun kepagian, sibuk ngeblow rambut, dandan caem). Lyfe! :)) Sampai sekarang saya pun nggak punya keberanian untuk bilang, “Saya mau keluar dari jemaat itu, dong!” Takut dirajam keluarga, bok! :)))) Padahal tiap minggu bergereja di gereja lain, hanya datang ke gereja saya tiap hari raya besar aja.

Makanya, saya nggak mau Kaleb berbeban hati kayak saya. Kalau dia sudah bisa memilih nanti, dia boleh bergereja di mana saja. Termasuk di gereja saya sekarang. Yah, kalau dia hatinya di situ ya tentu boleh. Supaya hatinya riang ketika beribadah.

Pilihan-pilihan yang kita pikir benar dan paling baik untuk anak kita, kadang-kadang justru memberatkan anak kita. Mungkin tugas orang tua itu membimbing, bukan memilihkan jalan hidupnya. Anak mungkin akan jatuh, kesasar, dan tugas orang tua adalah membimbing ke jalan yang benar. Tapi pilihan kembali ke tangan anak, karena toh akhirnya dia yang akan menjalani. Susah banget pasti. Kan serasanya kita sebagai orang tua yang paling tahu (lah wong, kalau Kaleb pilih mainan jelek aja saya suka pengen arahin ke mainan yang saya anggap bagusan). Tapi tanyain ke diri sendiri dulu, ini demi ego kita atau demi anak kita? 🙂

 

 

PS: tulisan ini terinspirasi dari mas AHY yang terpaksa keluar dari militer demi ambisi SBY. Semangat terus mas AHY, semoga menemukan jalan yang pas di hati, ya. 🙂

 

Being A Mother

Selamat hari Ibu untuk semua ibu, calon ibu, atau pun perempuan-perempuan yang mengurus anak-anak lainnya seperti ibu, dan yang memutuskan untuk nggak jadi ibu.

Selama 21 bulan (plus 9 bulan mengandung) jadi Ibu, saya merasa belum jadi ibu yang baik. Setiap hari pasti ada rasa bersalahnya karena nggak bisa jadi ibu yang sempurna buat Kaleb. Salah satu hal terbesar yang bikin merasa bersalah adalah karena saya nggak bisa 24 jam bareng Kaleb karena bekerja. *bentar sis, nangis dulu!* I missed his first words and I missed his first steps. Bukan saya yang menyaksikan pertama kali tiap perkembangannya walau saya pasti selalu diinformasikan setiap detil perkembangannya tiap hari.

Seringkali waktu saya lagi cerita sama Opungnya, “Masa Kaleb udah bisa A, lho!”, trus Opungnya bilang, “Lho, emang iya udah bisa.” Duh, bukan saya lagi yang lihat.

Saya berusaha banget untuk memberikan yang terbaik buat Kaleb, sampai akhirnya saya menaruh ekspektasi yang besar, yang kadang-kadang bikin ribut sih sama suami. Tapi ini karena perasaan bersalah merasa saya bukan ibu seutuhnya karena praktis yang ngasih dia makan 3 kali sehari, nidurin dia siang, ajak dia main, ngajarin dia hal-hal kecil adalah Opungnya. Sebenarnya dia anak Opung atau anak mamak?

Kalau Kaleb lagi susah banget makan, saya suka bertanya-tanya pada diri sendiri, kok Opungnya bisa kasih dia makan sampai habis? What did I do wrong? Apa makanan saya nggak enak? Apa saya kurang sabar kasih dia makan? Lalu kemudian saya akan jadi stres dan kesal sendiri.

Makanya kompensasinya adalah selain jam kerja, saya akan mendedikasikan seluruh waktu saya untuk Kaleb. Super strict, yang kadang-kadang bikin saya nggak bisa punya me-time untuk diri sendiri dan bareng suami. No, saya cuma pernah satu kali nonton bioskop sama suami sejak Kaleb lahir. Itu pun untuk mengurangi rasa bersalah karena di hari libur kok malah nggak bareng Kaleb, saya ajak dulu dia ke mall, lalu pas jam bioskop baru mulai minta Opungnya antar Kaleb pulang. Selesai nonton bioskop ya langsung pulang, nggak pake window shopping lagi.

Pulang kantor nggak ada namanya saya nongkrong sama teman-teman. Saya menolak semua ajakan nongkrong karena Kaleb terbiasa tidur malam harus bareng saya, dia harus nenen dulu. Pernah jam 9 malam belum pulang karena macet, Kaleb sudah gelisah di rumah, rewel, dan maunya nunggu di depan gerbang nungguin saya pulang. Sedih banget deh saya. Makanya sejak punya anak, saya benci banget sama yang namanya macet karena artinya mengurangi waktu saya dengan Kaleb.

Kalau weekend pasti saya yang masak buat Kaleb. Saya yang sangat nggak suka masak dan nggak bisa masak juga, sih, jadi belajar dan cari resep baru untuk Kaleb. Kalau dia makannya lahap, bahkan sampai minta nambah, saya jadi merasa lebih hebat dari Chef Gordon Ramsey. Senangnya minta ampun!

Weekend pula waktunya saya menghabiskan seluruh waktu dengan Kaleb. Main bareng, bobo bareng, saya yang suapin, saya yang masak. Lelah luar biasa, tapi senangnya minta ampun. Saya nggak pernah ninggalin Kaleb kalau weekend. Dia ikut ke mana pun saya pergi. Makanya saya menghindari acara nongkrong-nongkrong di atas jam 7 malam. Pasti kelarnya malam banget, sementara anaknya udah waktunya bobo. Saya nggak mau mengorbankan kesehatan dia, cuma untuk egoisme saya.

Saya biasanya udah punya jadwal weekend apa yang mau saya lakukan bareng Kaleb, ya. Apakah berenang, ke mall, atau yang lainnya. Hari Minggu pun, walaupun bisa ajak Mbak untuk bantuin jagain dia di sekolah minggu, tapi saya memutuskan untuk harus saya yang nemenin dia di sekolah minggu. Biar saya tahu apa sih yang dia pelajari dan bisa saya terapkan.

I make sure that I make up all my time with him on weekend.

Tapi bukan berarti Kaleb dimanjakan. Saya nggak terlalu sering beliin dia mainan karena toh kalau ke toko mainan anaknya nggak minta apapun dan sekarang masih terobsesi sama mobil-mobilannya dan dia juga jarang jajan karena saya memang membatasi dia jajan. Kadang-kadang saya jadi ibu yang galak kalau dia mulai bertingkah *oh well, namanya pun menjelang terrible two kan, ya*. Walau tentu saja saya suka merasa bersalah banget habis marahin dia dan lihat dia sedih, tapi biasanya saya peluk dan aja ngomong baik-baik, dan dia biasa-biasa aja habis itu. Ibunya kayaknya kebanyakan baper. Hehe.

Ada perasaan takut karena setiap hari Kaleb dititipin ke Opungnya. Takut dia lebih dekat dengan Opung atau Mbaknya daripada dengan saya. Saya bisa patah hati setengah mati kalau itu sampai terjadi. Tapi untungnya saat ini, walau Kaleb sangat dekat dengan Opungnya dan happy kalau dititipin (pagi-pagi dia udah nggak drama lagi dan langsung dadahin saya dan Papanya kalau mau berangkat kerja), tapi dia akan gelisah kalau saya telat pulang dan akan langsung nempel saya kalau sudah pulang. Biasanya kita suka godain, “Mau tidur sama Opung aja, nggak?”. Lalu dia akan berkali-kali bilang, “Nggak!” Maunya sama Mami aja! Yeay!

Kalau sakit, dia harus dan wajib nempel sama Mami. Opung pun nggak laku karena ada Mami. Makanya saya bisa ikutan drop kalau Kaleb sakit karena maunya apa-apa sama saya, ya dari gendong, tidur, peluk, makan, dsb, “Mami, endong! Mami, peluk! Mami, nenen!”

Suka lihat kalau ibu-ibu lain anaknya menjelang 2 tahun, udah bisa ke gym. Lalu saya bertanya, kok bisa, ya? Oh, salahnya ada di saya. Saya merasa bersalah lagi kalau harus menghabiskan waktu nggak terlalu penting lainnya untuk hal-hal yang saya sukai dan mengurangi waktu bareng Kaleb. Kadang-kadang akhirnya suka stres sendiri, capek, lelah, gampang marah. I know I’m being tough on myself, but until today there is no single day when I am not feeling guilty for leaving him for work.

Jadi ibu itu sepaket dengan perasaan bersalah dan perasaan, “I am not good enough for my child”. Belum lagi perasaan khawatir, cemas, stres. Saya sering berdoa supaya suatu hari nanti saya bisa dan siap untuk mengurus Kaleb 24 jam. Tapi sampai masa itu tiba, saya berdoa Kaleb tetap jadi anak yang bahagia, tidak kekurangan suatu apa pun, dan memaafkan saya karena saat ini saya nggak bisa jadi orang pertama yang lihat kemajuan perkembangan dia. But I want him to know that I put him first on my to-do-list everyday, in my pray, and in my life.

I love you so much, baby son!

Thank you for making me a mother.

 

Nggak Boleh Makan Cokelat, Ya!

Sampai usianya 20 bulan saat ini, Kaleb hampir nggak pernah makan makanan sembarangan. Padahal dulu pas masa-masa MPASI, udah niat aja, selepas setahun nggak usah mompa dan Kaleb kalau lagi pergi-pergi ikut makan di luar aja lah. Biar mamak santai dikit lah.

Cita-cita tinggallah cita-cita. Saya ternyata belum rela Kaleb makan makanan nggak bergizi yang nggak jelas kandungannya apa dan cara masaknya gimana. Jadi kalau pergi ke luar, pasti saya masak dulu buat bekal Kaleb. Begitu pun soal mompa. Pas mompa ngeluh capek, bosan, males, tapi ya dilakukan juga 3 kali sehari tiap hari. Masih tetap deg-degan kalau bawa ASIP dikit dan keukeuh nyobain berbagai macam booster ASI.

Sampai akhirnya, di usia 16 bulan, ASIP saya habis. Hanya mengandalkan ASIP yang tiap hari dipompa aja. Lama-kelamaan ya makin dikit, memang karena demandnya berkurang juga, jadi Kaleb mulai minum ASIP dan UHT kalau saya kerja. Pas usia 18 bulan, malah lebih banyak UHT daripada ASIP karena Kaleb jadi nggak terlalu suka ASIP dan suka banget UHT, terutama kalau dikasih dingin. Padahal UHT yang dikasih ke dia cuma full cream aja. Saya masih menahan diri untuk kasih berbagai macam rasa biar nggak kenal rasa terlalu manis dan jadi malas makan. Nanti ajalah selepas 2 tahun.

Karena udah banyakan UHT, makin malaslah saya mompa, walau tetap 3 kali sehari. Tapi udah nggak baper lagi kalau hasilnya dikit. Santai aja. Bikin saya lebih enak, sih. Kalau ke-skip satu kali ya udah, tapi kalau nggak mompa seharian tetap aja merasa bersalah. Di kantor, cuma saya yang masih mompa sampai usia anak 20 bulan. Yang lain biasanya selepas setahun udah nggak mompa lagi. Sempat diledekin, “Anak lo kan udah remaja, bok. Masih mompa aja”. Saya sih biasanya ketawain aja.

Sampai akhirnya saya burn out, capek, males, lelah, dan sudah berkali-kali memikirkan untuk stop mompa tapi takut ASI-nya berhenti. Kemudian ngobrol-ngobrollah sama teman kantor yang anaknya nenen sampai usia 3 tahun. Dia bilang, dia stop mompa di usia 1 tahun, pas kantor ya anak minum UHT, pas malam nenen. ASI-nya tetap ada sampai anaknya benar-benar stop, sih.

Setelah dipikir-pikir, Kaleb udah banyakan makan, fungsi ASI juga bukan buat sumber utama makanannya, tapi karena dia merasa nyaman dekat ibunya. Dia jarang banget nenen lamaaaa, tapi dia tetap suka nenen sebentar-sebentar, masih nyari nenen pas malam  karena haus. Tapi ya itu, nggak lama. Kalau ada mamak sih sebentar-sebentar minta nenen, tapi kalau nggak, dia sebenarnya lebih pilih UHT.

Karena anaknya udah rela melepas ASIP, maka dengan keikhlasan, saya stop mompa di usia Kaleb 20 bulan. Rasanya luar biasa senang nggak harus mompa dan bisa lebih santai dan nggak banyak bawa barang bawaan ke kantor. HORE! Kalau soal nenen sih, saya bakal lanjut terus sampai Kaleb rela melapas nenen mamak, entah kapan. Nggak yakin pas usia 2 tahun dia siap nyapih karena sampai saat ini kalau ada mamak dia kayak liat harta berharga dan bilang, “NENEN!”. :)))))

Itu kalau soal ASI. Dari segi makanan, tiap hari, terutama weekdays, 3x sehari makan makanan rumah yang diperhatikan komposisinya, plus snacknya ya buah. Snack kayak biskuit udah bisa macam-macam, tapi saya belum kasih dia snack cokelat, atau berbagai macam rasa yang banyak gula. Paling banter regal, atau biskuit rasa susu. Kaleb belum pernah coba permen sama sekali atau biskuit kayak Oreo. Puk puk puk! Hahaha. Jangan dululah yang banyak gula, karena menurut penelitian gula itu lebih berbahaya buat kesehatan anak (coba googling soal ini, ibuk-ibuk).

Sampai menjelang 20 bulan, Kaleb tiap pergi ke luar masih bawa bekal makanan dari rumah. Rempong banget kan tiap mau pergi. Hahaha. Nggak papa, biar dia terbiasa sama makanan sehat. Kalau di mall, mamak ngemil bubble tea, Kaleb cuma ngemil susu UHT atau air putih. Sehat bener anaknya. Hahaha. Cemilan paling sering wajib buah berbagai rasa.

Sampai akhirnya pas 20 bulan, saya memperbolehkan dia makan di luar, tapi harus di restoran yang bersih dan non fast food. Kecuali, kejadian mendesak kayak waktu itu di KFC, ya. Ish, mamak rasanya mengurangi rasa ribet pas pergi-pergi nggak usah masak lagi. Asoy lah.

Dua minggu lalu, akhirnya saya memperkenalkan Kaleb pada es krim (lagi). Sebelumnya pernah Kaleb dikasih es krim tapi nggak suka karena dingin banget. Saya pikir, oh dia nggak suka dingin. Tapi karena dia sekarang suka minum susu dingin, jadi yuk coba es krim lagi. Eh, anaknya suka, dong. Sebagai mamak keras, Kaleb cuma dapat privilege makan es krim, satu kali seminggu, pas weekend. Sudahlah Nak, mamakmu ini emang agak kejam. Hahaha!

Beberapa hari lalu, Kaleb diajak Opung jalan-jalan. Lihatlah dia kedai Thai Tea Dum-Dum yang lagi ngetrend sekarang. Dia biasanya lihat saya suka beli, tapi nggak bagi-bagi dia. Hihihi. Dia pikir itu es krim karena banyak es-nya. Dia tunjuklah itu Thai Tea ke Opung sambil bilang, “Es krim, mau mau!”. Lah, si Opung nggak paham apa itu Thai Tea, tapi karena cucu yang minta dibeliin juga lah. Jadi untuk pertama kalinya Kaleb minum Thai Tea. Setengah gelas besar habis. Bahagia ya emang kalau nggak ada Mamak. Wakakak!

Kenapa sih saya membatasi banget gula masuk? Karena saya takut giginya cepat keropos, obesitas yang bisa bikin diabetes, dan sugar rush. Kejadian sugar rush ini pernah kejadian, sih. Suatu hari aunty-nya Kaleb ulang tahun. Tentunya diijinin makan kue tart yang kebetulan manis banget karena banyak butter cream-nya. Langsung Kaleb sugar rush, heboh sana-sini lari-lari nggak berhenti sampai jam 10 malam nggak tidur, sampai kita yang lihat aja pusing, dia kayak kutu loncat lari sana sini, heboh banget nggak berhenti sedetikpun. Padahal hari itu aja dia nggak tidur siang. Biasanya jam 8 udah teler minta bobo. Ini kalau nggak dipaksa bobo, dia masih heboh. Oke, no more too much sugar, ya. Capek mamak nemenin Kaleb begadang. Hahaha.

Sebagai pecinta MSG dan bubble tea akut, saya pengen anak saya punya gaya hidup yang lebih sehat, sih. Ini juga yang ngajarin saya nggak ngemil snack macam chiki depan dia supaya dia nggak minta. Karena sekarang dia lagi fase, apa yang saya coba, dia harus coba. Mamak ikutan hidup sehat lah. Lagian kalau udah tau rasa MSG, emang nagih berat. Wakakaka, saya aja lebih pilih ngemil snack MSG daripada makan berat. Enak, cuy! Kaleb nanti-nanti ajalah, ya.

Sekarang saya paham kenapa dulu Mama saya jarang nyetok cemilan di rumah dan mewajibkan kami makan masakan rumah mulu. Ternyata kalau punya anak pengennya si anak dapat makanan terbaik dan paling sehat, ya.

Mungkin selepas 2 tahun, Kaleb akan perlahan-lahan bisa mencoba lebih banyak cemilan di luar lagi. Tapiiii… cuma boleh satu kali seminggu pas weekend, ya, Kaleb! #tetep #mamakkejam