Pesta Batak Pertama Kaleb

img_20170211_110000

Seperti diketahui, pesta Batak itu selalu lamaaaa dan prosesnya panjang banget. Dari pagi sampai malam, nggak ada jeda. Nyos! Selama hampir 2 tahun ini, Kaleb nggak pernah ke pesta Batak. Pas di bawah setahun sih menghindari ke pesta Batak karena Kaleb masih hobi nenen, yang mana gimana pulak pake kebaya trus nenen. Jadi mendingan ijk absen dulu dari dunia perkewongan Batak.

Nah, kemarin sepupu saya menikah, yang mana pastilah harus ngikutin semua prosesinya dari awal sampai akhir. Akhirnya ya bisa pake kebaya lagi karena Kaleb udah mostly cuma nenen pas mau tidur doang. Sisanya kasih makan atau cemilan aja, beres. Apalagi pas di pesta nanti banyak sepupunya jadi dia akan sibuk main sama sepupunya.

Ternyata ke pesta dan punya anak itu double rempongnya. Bangun jam 4.30 pagi untuk mandi dan siap-siap ke salon. Seperti biasa, Kaleb kayak udah punya radar kalau Mamak bangun, dia pun ikut bangun. Hiyaaaa, langsung deh clingy ke Mamak-nya. Nggak mau digendong siapapun sampai akhirnya dibawa ke kamar mandi untuk nungguin saya mandi, dia pun tetap nangis minta dipeluk dan digendong. Gilingan, mana udah telat ke salon. Akhirnya diambil sama Opungnya dan dialihkan dengan mobil-mobilan dan dijanjiin jalan-jalan. Anak eike kalau udah denger jalan-jalan, mata langsung berbinar-binar.

Akhirnya saya cus ke salon, sambil ngingetin Mbak di rumah untuk mandiin Kaleb dan bikin makanan dan bekal dia nanti (kalau ke pesta gini, nggak yakin makan siangnya akan tepat waktu jadi paling aman bawa makanan sendiri).

Pulang ke rumah, siap-siap pake kebaya, cek barang bawaan Kaleb yang segerobak, lalu langsung berangkat. Kasih makan anaknya di mobil aja, kemudian dia ketiduran sampe tempat pesta. Baguslah ya, soalnya dia bakal beraktivitas seharian nanti.

Untungnya seharian itu anaknya pinter banget makannya. Pas makan siang cepat dan habis karena udah nggak sabar mau main sama sepupu-sepupunya. Dia juga sempat tidur siang walau nggak lama, cuma sejam. Tapi lumayan lah. Selanjutnya walau bawa si mbak, tetap minta gendongnya sama saya. Jadi Mamak Batak harus pake kebaya, high heels, dan gendong-gendong anak, sambil melayani tamu ngedarin makana. The power of emak-emak. Hahaha!

Hari ini sukses banget. Indikasi sukses saya adalah Kaleb makan teratur, tetap ada tidur siangnya, dan saya pun bisa menikmati pesta. Horeee! Anyway, Kaleb itu anaknya sangat nggak bisa diam. Nggak ada tuh namanya duduk manis. Never. Dia harus selalu bergerak ke sana, ke mari, jalan atau lari, nggak istirahat sama sekali. Dia hanya diam kalau bobo. Makanya tadinya berasa horor banget gimana ini seharian pesta sambil ngejar anak ini? Tapi ternyata sepupu-sepupunya yang udah lebih besar bisa jagain dan ajak main, jadi saya bisa bebas dikitlah. Mbaknya malah jadi enteng banget kerjaannya karena banyakan sama para sepupunya dijagain. Hihihi.

Pesta Batak? Siapa takut!

img_20170211_095253

Jarang pake make up kece, selfie dikit boleh lah yaa ๐Ÿ˜€

img-20170212-wa0003

Raising a gentleman

img_20170211_140405

Para sepupu

img-20170211-wa0004

Tujuh Bulanan

Minggu lalu kami akhirnya melakukan acara nujuh bulanan alias pemberian ulos mula gabe kalau di Batak. Acaranya sebenarnya simple aja, kebaktian dan diberikan ulos oleh pihak hula-hula alias pihak perempuan (pihak keluarga saya), kemudian saya dan suami disuapi 3 kali ikan arsik, nasi, dan air putih.

Tapi apakah bisa sesederhana itu? Ya tentu tidak. Mempersiapkannya aja udah rempong banget. Acara diadakan hari Minggu. Sabtunya saya masuk kerja dan minta ijin sampai jam 12 saja karena harus beresin rumah dan atur ini itu, kan? Sementara suami malah bablas minta cuti. Nggak mungkinlah kita yang berdua ini masuk kerja, sementara rumah nggak beres. Sementara acaranya akan dilakukan pagi hari sebelum matahari tinggi jam 12 siang. Begitu sih aturannya.

Paginya suami mengantarkan saya workshop di Lotte Avenue Shopping Mall. Pulang dari workshop kami ke gereja untuk minjem kursi karena sofa dan kursi di rumah nggak cukup. Mertua mempersiapkan makan untuk 100 orang. Gilaaa, banyak banget, kan?

Dari gereja, langsung beres-beres di rumah dan mengatur tempat duduk karena aturannya pihak laki-laki dan pihak perempuan harus berhadap-hadapan. Pas disusun kursinya, baru sadar kayaknya kurang, deh. Akhirnya suami harus ke rumah orang tuanya untuk minjem kursi dan kipas. Di rumah ada 2 kipas tapi rasanya nggak cukup.

Baru selesai beres-beres jam 9 malam langsung tepar! Karena takut bangun telat, saya malah nggak nyenyak tidurnya.

Jam 6.30 pagi saya ke salon untuk make up dan hair do sama Mama. Suami nungguin aja. Sampai rumah sih cepat jam 9, tapi suami masih harus beli ini itu yang belum lengkap. Akhirnya jam 10 kurang beberapa tamu datang, suami masih mandi. Zzzz!

Untungnya ketika acara dimulai semua berjalan lancar. Tamu-tamu yang diundang datang dan mendoakan kami. Selain itu tentu saja mereka memberi wejangan satu per satu alias mandok hata.

Yang paling disyukuri adalah…. cuaca cerah. Sempat sih hujan sebentar tapi cuma 5 menit. Takut banget hujan karena catering ditaruh di depan rumah, sementara kalau hujan terasnya tampias. Duh, bisa-bisa orang kebasahan, deh. Tapi untungnya hujan cuma sebentar banget dan itu pun nggak deras. Hore banget, deh! Selain itu, kursinya cukup, semua orang bisa duduk, walaupun rumah kelihatan super penuh karena kebanyakan orang yang datang. Hahaha.

Senangnya semua berjalan lancar. Semoga kehamilan dan persalinannya juga lancar, ya. Dua bulan lagi! *deg-deg-deg*

Diberi ulos mula gabe sebagai lambang awal dari sebuah kehidupan yang baru.

Diberi ulos mula gabe sebagai lambang awal dari sebuah kehidupan yang baru.

Martumpol: David & Heni

Setelah istirahat satu hari di hari Jumat, yang mana nggak istirahat juga karena malah jalan-jalan ke mall dan nganterin Mika grooming, hari Sabtu dilanjutkan dengan kitiran dari pesta ke pesta. Acara pertama adalah Martumpol (pertunangan) seorang teman gereja di HKBP Kramat Jati. Jauh ya bok dari rumah.

Acaranya sendiri dimulai jam 12 siang. Berangkat jam 10.30 dan jemput teman dulu yang rumahnya nggak jauh. Harusnya 1,5 jam bisa sampai dong, ya. Spare waktunya kan udah cukup lama. Tapi ternyata, jalanan Jakarta hari itu macet banget. Kita yang lewat tol dalam kota aja bisa stuck nggak bergerak. Heran deh ini ada apa? Mana sebenarnya kita nggak tahu jalan ke arah Kramat Jati sana. Thanks to google map, deh, akhirnya bisa sampai juga di Kramat Jati tanpa banyak nyasar.

Saya pikir jam 12 itu udah mulai martumpol, tapi ternyata pas kita datang (yang mana udah telat, jam 12.30) masih acara marhusip (kebetulan marhusip dan martumpol digabung satu hari). Baru selesai acara marhusip jam 12.45 dan baru martumpol jam 13.00. Giliiing, saya dan teman-teman udah mulai crancky karena lapar. Di sana pun baru bakal disediain makan setelah setelah selesai martumpol. Bok, lama banget! Apalagi sekitar jam 2-an saya harus langsung pergi karena jam 3 udah harus make up di daerah Gading untuk jadi penerima tamu kawinan teman (SIBUK AMAT, CEU?). Akhirnya kita pun inisiatif delivery McD ke gereja. Hihihi. Jadi di tengah acara martumpol, kita keluar untuk makan dulu. Yah, nama pun perut udah meronta minta diisi kan, ya. ๐Ÿ˜€

Selesai makan, pas acara martumpolnya selesai. Jadi kita pun tinggal nunggu salaman dan foto-foto. Selamat martumpol David dan Heni! ๐Ÿ™‚

IMG_20140517_151912

Kawinan Si Sepupu

Long weekend kemarin, saya khusus ambil cuti. Buat liburan? Oh, kali ini bukan liburan. Tapi demi kawinan si sepupu. Udah pastilah ya kalau kawinan Batak, apalagi dari pihak saya (yang mana artinya jadi parhobas = yang sibuk kerja wara wiri sepanjang hari) bakal capek banget karena dimulai dari subuh sampai tengah malam. Jadi lebih baik besoknya cuti supaya nggak pingsan di kantor.

Kamis kemarin saya bangun jam 4 pagi, langsung mandi air dingin (untungnya udara Jakarta makin panas jadi walaupun mandi air dingin nggak berasa kedinginan tapi malah jadi segar), ngemil martabak 2 biji (berat ya bok!), dan nunggu dijemput Mama untuk ke salon karena janjian di salon jam 5 pagi. Pagi bener, cyin!

Salonnya di daerah Bendungan Hilir, namanya Java Salon. Ini salon langganan si Mama karena cucok sama dia dan harganya cukup terjangkau. Untuk hair do dan make up Rp 150.000. Kalau buat saya sih agak kurang memuaskan karena harus cerewet kasih tahu maunya kita apa dan berkali-kali diubah karena nggak sesuai. Jadi kalau mau ke sini harus bawel, ya (kalau kata si Mama ya kalau . harganya murah jangan minta macam-macam, toh. Hihihi).

Concern saya kan ke mata yang sipit ini, jadi wanti-wanti kalau mata saya harus dibuat besar. Dia bilang oke, tapi… kok jatuhnya biasa aja. Udah gitu, saya kasih tau warna kebayanya apa, trus dese malah nanya lagi mau warna apa buat eyeshadow-nya? LAH, kan udah dikasih tau warna kebayanya, tinggal dicocokin aja. Kalau saya ngerti soal make up ya saya dandan sendiri aja, deh. Saya bingung, dia bingung. Glek! Belum lagi soal rambut. Udah ditunjukin foto yang saya mau (dan itu nggak susah, lho), doi pun udah bilang oke. Pas jadi, nggak mirip *nangis*. Akhirnya minta ubah lagi sekaligus nunjukin fotonya lagi. Tetap nggak mirip, berakhir pasrah aja, deh.

Akhirnya setelah bolak-balik koreksi make up dan hair do, jadi juga mendekati yang saya mau.

Make up and hair do by Java Salon

Make up and hair do by Java Salon

Selesai dendong, pakailah kebaya dari QZM. Hasilnya gimana setelah diperbaiki? Cukup oke, cuma kurang di bagian panjang tangannya. Kenapa jadi ngantung gitu padahal pas terakhir kali fitting udah pas panjangnya. Terpaksa deh habis pesta harus dibalikin untuk diperbaiki lagi. Tapi cukup puas dengan hasilnya, kok.

Jam 7 langsung meluncur ke HKBP Jati Asih, yang mana jauh banget itu. Perut laper karena baru makan 2 martabak. Sempat mampir ke rumah saudara yang rumahnya deketan sama gereja, tapi dia pun karena buru-buru jadi nggak bikin makanan. Untungnya dia punya sisa satu roti yang direlakannya buat saya yang udah cranky berat karena lapar. Maklum, bisa tumbuh taring nanti kalau nggak dikasih makan. Hihihi.

Sebelum pemberkatan nikah dimulai, acara foto-foto keluarga dulu. Nama pun keluarga saya besaaar banget, jadi banyak banget yang minta foto (sedangkan keluarga perempuan lebih sedikit). Mungkin karena banyak banget yang harus foto sama pengantin, eh pengantin perempuannya ngambek. LAH?!

Di tengah-tengah foto bareng keluarga di altar, dia tiba-tiba turun dan duduk aja gitu, sambil ngomel, “Udah kamu aja yang foto! Aku capek! Kipasnya mana?” HAH? HAH? Baru kali ini liat ada pengantin yang capek difoto. -___________-*

Terlepas dari insiden si pengantin perempuan ngambek (yang mana pastinya akan jadi ingatan keluarga selamanya. Hohoho), acara pemberkatan berjalan lancar dan khidmat. Langsung dilanjutkan dengan acara adat di Gedung Sejahtera, Pondok Gede *jauh, mak!)

Karena pengalaman sebelumnya yang kalau nggak cepat-cepat makan di pesta Batak akan berakhir kelaparan, setelah menyambut karung beras tamu (adatnya kalau dari pihak perempuan bawa karung beras untuk simbol berkat, CMIIW), saya pun langsung ngibrit ke gedung nasional. Eh, ternyata acaranya belum mulai (yang mana makanan belum dibuka, dong) karena nunggu pengantin lagi retouch make up. Setelah pengantin datang dan kata sambutan sebentar, resmi acara nasional dimulai dan makanan dibuka (HOREEE!). Sementara tamu-tamu lain langsung mengerubungi pengantin karena mau foto (jangan ngambek lagi yey *BAHAS TERUSS!* hahaha) dan salaman, saya langsung mendekati meja prasmanan. Dengan bangga saya jadi orang pertama yang makan, lho! Hahaha! Masalahnya kalau nggak makan sekarang dengan cepat, sebentar lagi pasti udah dipanggil para tetua untuk ngerjain ini-itu dan nggak punya waktu makan lagi.

Benar aja, setelah makan langsung ngalor-ngidul kerjain banyak hal. Bagiin makanan ke seluruh tamu yang datang (dari air mineral, soft drink, bir, kopi, teh, lapet, ketupat, kacang, kembang loyang, ikan mas arsik, dan segudang pembagian lainnya yang kayaknya nggka habis-habis), dipanggil-panggil dan disuruh-suruh berbagai macam orang (yang kadang saya juga bengong jawabnya. Hahaha), lalu sampai lipetin ulos yang rasanya tak berujung. Semua dilakukan dengan high heels, kebaya super ketat, dan make up tebal (mau ngeluh apa lagi kamu wahai para pria *lirik sepatu pantofel, jas, dan no make up para cowok*).

Acara adat selesai jam 18.30. Apakah sudah selesai sebelumnya? Oh tentu tidak! Masih ada acara penyambutan pengantin baru di rumah nanti. Kalau yang ini biasanya hanya dihadiri keluarga dekat saja, plus pakaiannya santai. Oleh karena itu, pas di mobil saya dan Mama langsung ganti kebaya dan pake baju casual. LEGA BANGET! *lempar kebaya ke atap*.

Sampai di rumah sepupu sekitar jam 8 malam. Udah pada kelaperan banget, kan. Saya bahkan nggak ngapus make up (dan wajah udah berminyak) karena hanya fokus pada makanan di meja makan. Laper gila, mak! Tapi oh tapi, karena si pengantin lagi ganti baju dan acara makan baru boleh dimulai bareng si pengantin jadi kita harus menunggu lagi. Perut udah keroncongan, jadi akhirnya nyomot-nyomot babi panggang yang ada di meja. Hihihi.

Kenapa sih si pengantin lama amat? Karena oh karena, ketika semua orang udah nunggu kelaperan di bawah, dia pake mandi dulu. YASALAM! *pingsan* Akhirnya daripada semua cranky karena lapar, dimulailah doa makan tanpa si pengantin perempuan. Yang mana beberapa lama kemudian, dese turun tanpa basa-basi langsung makan dan saya pun menatap setajam silet. Ups!

Happy tummy, happy mood. Lanjut acara penyambutan pengantin. Acaranya cuma ngumpul sambil masing-masih orang kasih selamat dan nasehat. Yihaaa, kesempatan banget untuk negur soal kejadian ngambek foto tadi. Hihihi! Ya abesss, gregetan banget, bok!

Rangkaian acara ini selesai jam 10 malam (yang mana itu hitungannya cepat. Biasanya sampai jam 12 malam). Selamat menempuh hidup baru, Bang D dan Eda C *jangan ngambek lagi, ya *TETEEEEP*) ;P

Para sepupu perempuan

Para sepupu perempuan

The sisters (bukan nama grupnya Shireen Sungkar dan kakaknya itu loh)

The sisters (bukan nama grupnya Shireen Sungkar dan kakaknya itu loh)

Baru selesai nyalon

Baru selesai nyalon

The most handsome man (because he's the only man among his pretty sisters)

The most handsome man (because he’s the only man among his pretty sisters)

Para sepupu dengan pengantin (sebelum insiden itu. Hihihi)

Para sepupu dengan pengantin (sebelum insiden itu. Hihihi)

 

Jadi Parhobas

Alohaaaa!

*sapu-sapu debu* *dari blog*

Udah lama banget ya nggak ngeblog. Maklum deh kerjaan kantor lagi menyita perhatian banget sampe mau cerita-cerita di blog pun nggak sempat. *jambak rambut*. Anyway, mau cerita soal pernikahan sepupu saya kemarin di mana saya pertama kali jadi parhobas di adat setelah resmi jadi Nyonya. *ciyeeeh*

Kalo dulu ngerasa pernikahan batak yang memakan waktu 20 jam lebih bikin capek, oh sodara-sodara percayalah itu nggak ada apa-apanya dibandingin parhobas. *pijat-pijat kaki* Oh ya parhobas itu artinya melayani di pesta adat karena saya adalah boru. Lebih jelasnya lihat di sini.

Untuk pernikahan si sepupu ini, saya dan Mama sih seperti biasa udah heboh duluan soal kebaya. Kita bikin kebaya baru warnanya hijau toska. Seperti biasa bikinnya di QZM. Murmer dan bagus sih, ya. Kalo kata si Mama, kebaya saya bisa-bisa ngalahin kebaya pengantin karena heboh. Fufufu, gimana ya Ma It’s in the blood! *ditabok pengantin* *jiwa eksis*

Ngeceng di depan mobil pengantin

Kerempongan dimulai sejak pagi hari. Saya, mama, dan adik manggil tukang yang make up ke rumah. Bok, ternyata dese lambreta bener. Udah mana dia bikin mata saya jadi kelihatan ngantuk. Bawel dong saya minta mata dibenerin. Akhirnya… telat. Bapak dan suami udah pergi duluan dan para cewek masih sibuk aja nyalon. Kerempongan seperti ini mengakibatkan si emak spanning dan memburu-burui kita semua. Akhirnya sampe gereja di bilangan Jatinegara pun telat.

-_________________-*

HKBP Jatinegara

Sampe di gereja bahkan udah selesai khotbah. Belum sampe duduk 5 menit, kita udah disuruh berangkat duluan ke gedung Mayoria di bilangan Kelapa Gading. Geeez… di tengah kebaya yang sesak, dan dandanan heboh, matahari Gading tampak lebih panas 10 kali (eh, emang kenyataan di sana lebih panas, sik).

Begitu sampe di gedung. Laaaah, belum ada tanda-tanda kehidupan. Kita yang pertama kali datang. Jeng jeng! Ya udah deh ongkang-ongkang kaki sambil berjemur di bawah teriknya matahari. Gedungnya emang bikin pengen pake bikini daripada pake kebaya, sih. Hihihihi.

Mirip Tom Cruise & Katie Holmes, kan? *diseruduk banteng*

Setelah nunggu sekitar 45 menit, akhirnya datang juga si pengantin. *sujud syukur* *udah kepanasan* Dimulailah prosesi adat dan dimulailah peran saya sebagai parhobas. HOBAAAAH! *singsingkan lengan*

Cewek-cewek cantik parhobas. Masih seger, belum sadar apa yang akan dihadapi selanjutnya. XD

Tugas pertama adalah memegang karung beras yang dibawakan pihak hula-hula. Masih enteng. Cuma pegang karung beras doang mah gampil. Eh, tapi jangan salah! Pekerjaan berat akan menanti, jenderal! Dengan high heels, kebaya ketat, dan make up mentereng harus bolak-balik bawa makanan, gotong-gotong dus air mineral, dipanggil sana-sini, benerin ini-itu, dll. Intinya memastikan para tamu kebagian semua makanan dan semua jalannya adat sesuai dengan yang direncanakan. #pegel

Tapi gong-nya adalah: BERDIRI 3 JAM NGELIPETIN ULOS. YAOLOOOOH, berasa disetrap di depan nggak boleh ke mana-mana. Tahu kan ya kalo acara mangulosi lamanya minta ampun. Bayangkan seluruh undangan yang berjumlah lebih dari 500 harus memberi ulos untuk pengantin. Satu per satu. Kalo cuma kasih ulos nggak ada embel apa-apanya sih mungkin cepat. Tapi ini disertai dengan nyanyian dan ucapan pidato. Yak, tahan aja deh berdiri terus sambil ngelipetin ulos yang dikasih buat pengantin.

Begitu acara selesai jam 7 malam, itu rasanya kayak pengen gelosoran di lantai sambil dipijatin. Capek banget, deh! Apakah udah selesai? Belum sodara-sodara! Acara masih berlanjut di rumah paranak. Kayak acara penyambutan menantu yang akan jadi anggota keluarga baru. Nah, sebagai orang yang udah menikah, saya juga harus mandok hata alias ngomong pesan kesan untuk pengantin. Ish, mana saya paling nggak bisa deh ngomong-ngomong begituan. Dua bulan nikah kok ya disuruh kasih pesan, ya masih belajar jugalah.

Baru selesai semua rangkaian acara jam 22.30! Itu pun masih berlanjut saya dan suami ke rumah mertua untuk ngasih bungkusan arsik lalu ngobrol-ngobrol. Yang ada baru sampe rumah jam 00.30. Cuci muka bentar dan tidur dengan rambut masih kasar karena penuh dengan sisa hair spray. Bodo deh, capek!

But anywaaay, ini pengalaman yang sangat menyenangkan. Lulus dong ya saya jadi parhobas yang baik. Hihihi.

The newlywed Andre & Lia

me and mom (kayak kakak-adik kan ya)

dengan inangtua

diulosi *ciyeeh*

The Vendors

Mari kita mereview vendor-vendor yang dipake di pernikahan, ya.

1. Gedung Mulia (Mulia & Raja) – 8
Sebagai orang Batak, kayaknya nggak ada pilihan lain selain pake gedung Batak, ya. Ada 2 pilihan waktu itu Gedung Mulia dan Dhanapala. Tapi akhirnya yang dipilih Gedung Mulia karena langit-langitnya lebih tinggi jadi dilihatnya luas dan besar.

Pertama kali menghubungi mereka lewat telepon, langsung tanya tanggal yang avalaible (yup, nikah itu emang tergantung ketersediaan gedung. Semua tanggal itu hari baik, kan? ;p). Dapatlah 2 tanggal yang diinginkan. Satu di bulan Maret, satunya lagi di bulan April. Satunya lagi kosong, satunya lagi masih di antrian pertama. Dikasih waktu 3 hari untuk memutuskan. Kurang dari 3 hari mereka mengabarkan kalau di bulan April kosong. Jadi dipilihlah April karena tanggalnya genap, di bulan Maret tanggalnya ganjil. Saya suka angka genap, sesederhana itu. Nggak harus saklek 3 hari, kok. Asal mereka kita bilang udah pasti OK, mereka akan catat nama kita. Saya bayar DP masih dua minggu setelahnya dan DP-nya nawar pula. Hihihi. Oh ya, saya booking gedung 10 bulan sebelum nikah. Kalau ada yang bilang, booking gedung adalah hal yang paling ribet. Buat saya sih nggak sama sekali. Telepon gedung, dapat tanggal, jadi deh.

Suka sekali dengan gedung ini. Kapasitasnya besar, ber-AC, dan dilarang merokok. Jadi selama di dalam nggak ada deh tuh bau-bau aneh dan bikin mata perih dari asap rokok. Staf mereka juga kooperatif. Seminggu sebelum hari H, mereka ngumpulin keluarga untuk technical meeting. Pas di hari H mereka juga bantuin time keeper. Jadi pas saya dan suami lagi asik makan di resepsi atas, staf mereka udah langsung ngingetin bahwa kita harus masuk ke gedung bawah untuk adat. Ramah dan gesit. Oh ya, WC-nya juga lumayan bersih. Hehehe, penting banget ini buat saya.

Hubungi:
Mulia Raja
Telp: 021-8518466, 021-8518666

2. Sofia Make Up – 9
Sejak dari dulu, bertahun-tahun sebelum merencanakan pernikahan, saya udah jatuh cinta sama make up dari Mbak Sofia. Awalnya dulu lihat hasil make up untuk pernikahan kakak sahabat saya. Dia chinese, tapi menikah dengan orang Batak jadi pernikahannya dengan adat Batak. Ya ampun, dia jadi cantik banget. Manglingi. Sejak itu saya kasak-kusuk nanya siapa perias pengantinnya dan dapatlah Mbak Sofia ini. Langsung saat itu juga saya add FB-nya dia.

Seiring berjalannya waktu, beberapa teman saya juga pake dia dan emang jadi cantik banget. Itu saya udah ribet nanya price list-nya dia. Untunglah masih terjangkau. Padahal ya waktu itu pacaran sama si suami juga belum. Hihihi. Emang udah naksir ya, ceu!

Nah, pas udah berencana mau nikah, ini adalah vendor kedua yang langsung saya booking setelah gedung. Kira-kira 9 bulan sebelum menikah. Untuk datang ke tempatnya harus janjian dulu, soalnya Mbak Sofia nggak selalu ada di tempat. Pertama kali datang dengan Mama tentunya. Mbak Sofia langsung menunjukkan portfolionya dia dan lagi-lagi saya jatuh cinta. Nggak perlu test make up lagi, langsung deh DP Mbak Sofia untuk make up pengantin dan martumpol.

Juara deh make upnya! Concern saya adalah mata yang turun dan sipit, dia bisa bikin mata saya kelihatan besar. Kalau kata orang-orang sih manglingi. *GR jaya* Udah gitu make up-nya tahan sampe malam. Mbak Sofia ini sangat tepat waktu dan baik. Menyenangkan. Saran-sarannya dia juga oke. Jadi pas di gereja dia saranin saya pake warna soft, pas di gedung di-touch up pake warna yang lebih bold untuk lipstik karena gedungnya lebih besar. Trus pas di gedung saya nggak pake veil lagi, jadi diganti dengan bunga melati pendek. Manis.

Look at my eyes! It’s big and beautiful. Perfect! *girang*

Pemberkatan di gereja dengan veil

Waktu acara adat, ditambah bunga melati tanpa veil

Percayalah, saya sampe nggak rela ngapus make up-nya saking bagusnya.

Hubungi:
Telp: 021-53673954
FB: Sofia Make Up
E-mail: sofia@sofiamakeup.com

3. Fish Photo – 9
Fish Photo ini bukan rekanan Gedung Mulia. Nekat ya saya dengan nggak memakai rekanan padahal charge-nya sampe 2,5 juta, lho. Jadi ceritanya pas awal rencanain nikah dan ngambil brosur di Mulia, nggak ada yang bikin sreg untuk foto. Buat saya foto itu crucial, bukti otentik yang akan disimpan seumur hidup, jadi harus bagus.

Nah, pas ngobrol ama Mbak Sofia untuk make up, ternyata suaminya itu mengelola wedding photograpy. Dia pun bilang ke saya, kalau saya pake dia nanti dia bantu bayar charge gedungnya. Karena udah jatuh cinta dengan album yang dia bikin bagus dan cara dia ngambil foto juga oke, jadi langsung deh saya booking, sekalian sama prewed-nya.

Nggak nyesel sama sekali karena hasilnya maksimal. Foto prewed hasilnya oke semua. Udah sama make up dengan Mbak Sofia pula. Bayangin aja untuk hasil foto mentahnya aja sampe 600 lebih. Gempor juga milihnya karena rasanya semua pengen diedit dan dicetak karena bagus semua. Oh ya, untuk frame juga dipinjami mereka. Total ada 4 frame yang diberikan. Untuk hasil editannya sendiri, bagus banget! Nggak asal edit aja, tapi bikin nuansanya beda banget dari foto mentahnya.

Karena udah jatuh cinta (dan nggak mau repot lagi), pas martumpol pun pake mereka. Jangan ditanya, hasilnya bagus banget. Mereka all out ngambilnya. Bener-bener mikirin angle yang bagus.

Pas hari H, di mana pasti orang-orang Batak itu bawel dan semua mau ngatur, tapi mereka tetap sabar dan profesional. Keukeuh lho mereka mau udah dimarahin juga, tapi tetap berusaha ngambil angle yang ciamik. Bahkan pas lagi kita di jalan tol menuju gedung, tiba-tiba mobil fotografer lewat di sebelah kita dan buka jendela fotoin kita. Berasa paparazi. Niat banget!

Tinggal tunggu hasil album dan videonya aja, nih.

Hubungi:
Vera
Telp: 087881021322
E-mail: contact@fishphoto.net
Website: http://www.fish-photo.net

4. Laspados – 8
Saya pilih Laspados, simply karena Bang Tua Sirait satu gereja sama saya. Kalo disuruh milih pemusik Batak yang bagus mana sih saya nggak ngerti. Di kuping saya semuanya sama. Tapi dari banyak review orang, mereka bagus, kok. Orang tua pun langsung setuju.

Bang Tua Sirait ini orangnya kooperatif dan inisiatif dalam bikin acara. Dia pun mau mendengarkan saran dan jadi MC wedding pas resepsi jadi buat saya itu udah cukup menyenangkan.

Hubungi:
Tua Sirait
Telp: 021-70572716
021-92140083
08161145356

5. Rotorang – 9
Pas booking Rotorang, saya ikut sampai ke rumahnya. Pemiliknya baik dan blak-blakan orangnya. Hasilnya, semua tepat waktu. Pokoknya untuk vendor yang satu ini nggak banyak complain, tapi mereka udah gerak aja.

Secara selama pesta saya hampir nggak makan. Sempat nyobaik ikan arsik dan nasi, yang kalo di lidah sih tampaknya baik-baik aja. ย Tapi kalau kata orang-orang sih makanan nggak pernah habis dan mengalir terus serta enak. Itu udah bikin puas buat saya. ๐Ÿ˜€

 

Hubungi:
Rotorang Catering
Telp:ย 021-862 6593

6. Bali Indah – 9
Bali Indah udah di-booking dari awal, bahkan sebelum ketemu orangnya. Jadi si Mama telepon aja dan langsung bayar. Kenapa dipilih Bali Indah? Feelingnya si Mama aja sih, jadi saya tinggal ngikut.

Sempat nyoba beberapa kali test food di 2 wedding expo. Selalu suka masakannya. Kalau dari penyajian mereka rapi dan bersih. Kalo di wedding expo aja sampah mereka nggak kelihatan. Kan geli ya kalau makan tapi dekat tempat sampah. Makanan mereka yang paling saya suka itu adalah Beef Wellington. Katanya sih habis ludes pas hari H karena banyak yang suka. Habis ludes sampai saya pun nggak dapet. Meja VIP di atas juga mempermudah tamu-tamu VIP, keluarga dekat, dan pengantin untuk bisa duduk makan dan berbaur dengan tamu. Dekornya juga juara. Sesuai sama temanya.

Hubungi:
Bali Indah Catering
Telp:ย 021-8195185 / 021-8502937

7. De Riz – 7
Dari awal cuma ada 2 pilihan dekor yang saya suka: Rich Art sama De Riz ini. Kenapa cuma dua ini? Karena cuma mereka berdua yang dekornya modern. Yang lainnya agak serupa ya, terlalu Batak menurut saya. Batak itu kayak gimana? Kayak gini, nih.

google.images.com

atau

google.images.com

Dua dekor ini bisa memberikan tema yang lebih modern. Soalnya saya nggak terlalu suka pake gorga, kesannya Batak banget. Padahal kan gedungnya sendiri udah ada Gorga-nya jadi di pelaminan nggak perlu ada rumah gorga lagi. Disetujui langsung oleh Mama.

Awalnya saya minta temanya adalah warna burgundy dan silver. Beberapa hari sebelum hari H juga udah sempat kirim-kiriman warna supaya nggak salah dekornya. Intinya saya mau warna seperti yang pernah saya kasih. Pas di hari H, kenapa jadi ada pink dan gold-nya lebih ke kuning ya? Dia bilang nggak punya kain warna burgundy seperti itu. Punyanya maroon. Bok, ya dicari toh. Ya masa mereka nggak mau beli untuk properti, sih?

Udah gitu, mereka udah jelasin kalau di bagian kiri kanan dinding akan di-frame ulos Batak. Kenyataannya, nggak ada ulos Bataknya. Sayang ya, sebenarnya apa yang saya pengenin meleset banget.

Tapiii.. yang bikin nggak jadi marah adalah… dekornya bagus banget! Banyak yang muji dan kalau difoto keliatan wow! Anyway, untuk di gedung ini saya emang sengaja nggak mau pake gorga biar nggak batak banget.

 

Hubungi:
Yanti Sinaga
Telp: 081213996311 / 021-92448442

8. Wedding car Sewa Classicku – 8
Dari awal, saya dan suami emang pengen banget pake mobil klasik. Googlinglah dan dapat blog-nya Mas Ferdian. Sukaaa ย banget sama vendor yang ini. Mas Ferdian sangat kooperatif dan menyenangkan. Dia nggak telat dan di hari H dikasih 2 mobil. Untuk yang dipake pengantin pake mobil klasik limo dan ada satu lagi mobil cadangan klasik kalau seandainya mobil utama mogok. Kekurangannya adalah pas di hari H, asesoris bunga di mobil lepas dan mobil harus berhenti untuk benerin. Nah, ini bikin orang-orang sedikit panik karena dikira mogok, padahal sih nggak. Mungkin lain kali harus lebih erat masangnya.

Classic Car by Mas Ferdian

Classic car by Mas Ferdian

Hubungi:
Ferdian
E-mail: sewa_classicku@yahoo.com

9. Kebaya Martumpol by QZM – 8
Hasilnya bagus banget! Ketat di sana-sini tapi tetap bisa bebas bergerak. Sayangnya untuk ke QZM ini harus rela bolak-balik, betulin mulu, butuh waktu yang lama. Jadi harus sabar-sabar, ya. Oh ya harganya relatif terjangkau. Untuk orang tua sendiri, mereka jahit di sana dari martumpol sampe ke hari H.

Kebaya martumpol dan kebaya para Mama by QZM

Hubungi:
QZM – Pasar Sunan Giri, Jakarta Timur
Telp: 021-4722872

10. Kebaya Pernikahan by Hen’s – 9
Oh, I love their ย kebaya. Hen’s ini terletak di Istana Pasar Baru. Dua desainer ini, Om Hen dan Om Ivan benar-benar sangat informatif. Tahu benar apa yang saya mau dan berusaha mewujudkannya. Udah gitu, dia juga kasih saran make up yang bagus gimana, model rambutnya gimana, cara jalannya gimana. Yang paling bikin senang adalah timeline mereka sangat baik. Jadi nggak ada tuh saya ngamuk karena jadwalnya molor. Semua serba tepat waktu dan sesuai pada waktunya. Nggak pake deg-degan. Oh ya, veil yang saya pakai waktu pemberkatan itu juara, lho. Secara nggak pernah ada yang pake veil tampaknya di HKBP tempat saya, jadi banyak yang komen suka. Ih, senang! ๐Ÿ˜€

Kebaya full payet dan swaroski, berat banget. Tapi cantik!

Bros dari Hen’s juga

 

Hubungi:
Hen’s Fashion – Istana Pasar Baru
Telp: 021-34833762

11. Kartu Undangan dan Souvenir by Kartu Pesona – 6
Saya nggak suka undangan adat saya karena undangannya warna merah, sementara amplopnya warna putih. Salah banget, deh. Mana kalau kita complain mereka juga ngeyel jadi kesannya kita yang salah. Pokoknya ribet banget, deh. Not recommended. Untuk souvenir, sebenarnya saya suka. Tapi lagi-lagi karena mereka salah dengar, harusnya diembos malah jadi nggak diembos. Ih, gregetan! Tapi untung masih bisa dimaklumi. Grr!

Hubungi:
Kartu Pesona – Pasar Tebet Barat Lt. Basement BKS No 1-4-17
Telp: 021-8354357 / 021-83702162

12. Donamici – 9
Tahu sepatu Donamici tentu saja dari googling dan review yang positif dari calon pengantin lainnya. Langsung deh meluncur ke Mangga Dua. Untuk sepatu pernikahan full blink-blink dan udah kelihatan mewah banget. Harganya di bawah 1 juta. Jauh lebih murah daripada Paulista di mall-mall itu. Jangan khawatir, rasanya nyaman banget. Saya pake hak 7 cm dan kayak nggak berasa pake sepatu tinggi. Kaki nggak dibuat pegal dan empuk. Enak banget.

Sepatu Donamici

Hubungi:
Donamici – ITC Mangga Dua lt. 3 Blok A No 25
Telp: 021-6126303 / 021-92950979
13. Paulista – 9
Siapa sih yang nggak kenal Paulista. Untuk sepatu martumpol, saya pake Paulista yang lagi diskon. Modelnya sederhana dan nggak heboh karena nggak mau ngalahin sepatu pernikahan nanti. Untuk hak saya pake 5 cm biar bisa bebas ke mana-mana. Dan biar saya nggak terlalu tinggi kayak tiang listrik. Tentu saja, Paulista ini rasanya nyaman dan enak dipake.

Sepatu Paulista untuk martumpol

Overall, semua vendor berusaha bekerja dengan baik. Semuanya berasa bagus-bagus aja karena tamu senang dan responnya positif. So, I am happy. ๐Ÿ˜€

Foto-Foto Martumpol

Akhirnyaaa punya waktu juga untuk meng-upload foto-foto martumpol. Ini sedikit hasil fotonya, ya. Enjoy the pics!

Briefing di ruang konsistori

Berdoa sebelum Martumpol

Me and the fiancee

Me with my mom

The moms

Tukar cincin

Me and the sister

Family

 

 

Martumpol

Finally, I am officially enganged. Jadi kemarin Sabtu, 31 Maret 2012, akhirnya Martumpol dilaksanakan juga. Semuanya berjalan lancar dan menyenangkan.

Sehari sebelumnya saking merasa excitednya saya jadi nggak bisa tidur. Ditambah twitter lagi seru-serunya ngomongin masalah sidang kenaikan harga BBM. Baru bisa tidur sekitar jam 12 malam.

Jam 5 pagi saya udah bangun untuk siap-siap ke salon dengan Mama dan adik. Perasaan masih datar aja. Mungkin karena masih ngantuk kali, ya. Jam 7 sampe di salon Sofia di Kemanggisan. Beberapa hari sebelumnya saya udah diskusi dengan Mbak Sofia mengenai make up dan hair do. Dia mengirimkan beberapa contoh gambar hair do yang kira-kira akan saya suka. Sebagai anak labil, saya jadi bingung milih yang mana dan minta Mama memilihkan yang cocok untuk saya. Terpilihlah hair do ala BCL (itu juga saya tahu setelah di Salon).

Make up Mbak Sofia bener-bener ciamik. Bikin mata saya terlihat besar. Bok, soalnya pake bulu mata palsu sampe 2. Setelah itu pake konde ala BCL itu. Itu kan lumayan gede, ya. Eh, ternyata nggak berat, lho. Canggih deh masangnya.

Make up selesai jam 8.30 dan langsung menuju daerah dekat gereja. Kita masih sempat beli sarapan dulu sambil nunggu pihak laki-laki supaya masuk gerejanya beriringan.

Sampe di gereja jam 9.30 dan gereja udah rame. Wuiiih, senangnya lihat banyak orang yang datang. Soalnya kita kan satu wilayah dan satu gereja pula, tadinya kita pikir dikit yang datang karena pasti undangannya sama. Eh, ternyata penuh lho gerejanya. Yeay!

Prosesi masuk diiringi lagu I Found Love – Bebe & Cece Winans yang dinyanyikan dengan sempurna oleh David Samosir dengan piano dari Mely Purba. Bikin merinding.

Pas jalan menuju altar itu rasanya deg-deg-ser. Apalagi semua mata memandang menuju kita. Wuih, inikah rasanya jadi Kate Middleton? Hahahaha!

Bagian favorit saya adalah pas tukar cincin diiringi lagu Tak Sebebas Merpati-nya Kahitna. Bok, ini lagu impian saya dari dulu dan ternyata beneran bisa dinyanyiin. Ih, terharu banget deh rasanya.

Bahagia sampe ke puncak begitu banyak yang datang, ngucapin selamat, terutama dari orang-orang terdekat. We are so blessed. Bibir dan gigi sampe kering karena senyum dan ketawa terus, deh. Happy!

So, it’s official to call him my fiancee. And it’s 2 weeks before the wedding. Excited! ๐Ÿ˜€

PS: Foto-foto masih ada di fotografer jadi di bawah ini sedikit foto dari BB teman. ๐Ÿ™‚

Buku acara martumpol. Bikinan saya sendiri, lho. *bangganya orang awam*

With my best high school friends.

Malamnya setelah acara. Masih kelihatan OK kan? #maksa

 

(Resmi) Dilamar

Setelah penundaan sekitar 3 minggu, akhirnya 3 Maret 2012 kemarin saya Marhusip. Marhusip itu semacam lamaran resmi. Jadi udah menyangkut keluarga besar dan Raja Parhata kedua belah pihak.

Karena sifatnya yang resmi, jadi di sini udah mulai pake pakaian yang bagus juga karena saya dan pasangan akan diperkenalkan ke keluarga pasangan masing-masing.

Sehari sebelumnya terjadi kehebohan. Masih inget pakaian yang harusnya saya kenakan untuk Marhusip di sini? Nah, pakaian itu gagal karena kurang pas. Untungnya si Mama dulu nggak sengaja jahit baju untuk saya. Waktu dicoba kemarin pas banget. Masalahnya adalah belum ada bawahannya. Pengennya bawahannya kain batik selutut. Karena kesibukan tak terhingga, satu hari sebelum hari Marhusip kain itu belum dibeli juga.

Karena panik, pulang dari kantor saya langsung ke mall cari kain itu, tapi ternyata nggak ada yang selutut. Mana badan udah lemas dan pegal karena habis foto prewed yang jumpalitan. Si Mama bilang pulang aja karena nanti dia bongkar kain-kain yang ada di rumah.

Sampai di rumah, badan udah rontok. Orang rumah masih sibuk beres-beresin ruangan, sementara saya pamit buat tidur karena udah nggak kuat lagi. Untungnya saya tidur karena besokannya badan udah cerah ceria dan segar banget.

Begitu bangun udah langsung pergi ke salon untuk make up dan hair do. Untuk rambut saya nggak pengen dimacam-macamin karena takut kelihatan tua. Jadi milih untuk diblow saja. Begitu pulang ke rumah, masih ribet cari bawahan buat baju saya. Untungnya ternyata Mama punya kain batik berwarna senada. Langsung deh si Mama bantuin untuk ikat kain tersebut dan dijadikan rok. Yeay, berhasil! *cium Mama* ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Taraaaa... make up dan hair-do

Untuk make-up dan hair do cukup di salon dekat rumah. Biasanya dia kurang bagus untuk make-up dan hair do tapi menurut orang-orang, hari itu saya kelihatan cantik dan fresh. *malu-malu tapi senang* ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Apakah aura saya keluar? Hihihi.

Setelah siap-siap, saya disembunyikan di kamar atas. Untungnya saya udah mempersiapkan hal ini. Jadi saya pasang AC, pasang TV, dan udah makan. Di kamar tinggal duduk sambil bobo. Hahaha. Tapi nggak lama kemudian, si pacar ketok kamar. Lah, dia ikutan ke atas juga. Hihihi. Jadilah kami berdua garing di atas karena… kelaparan. Krik krik. ๐Ÿ˜€ Untungnya bala bantuan segera datang bawa makanan.

Setelah makan, sepi, dan tetap belum boleh turun ke bawah, ya tentu saja ngantuk. Apalagi si pacar duduk di kursi pijat. Pas duduk tiba-tiba…. kreeek. Eh, celananya robek tepat di selangkangan. #ngakak Langsung deh telepon ke bawah untuk minta dibawain benang hitam dan jarum. Thanks to Mbak di rumah yang jahitin celana si pacar.

Si Mbak yang lagi jahitin celana pacar yang robek ;P

Setelah itu lagi-lagi kerjaan kami berdua adalah menunggu. Bahkan si pacar dan sepupu udah ketiduran aja. Tck tck, bisa-bisanya.

Si pacar dan sepupu ketiduran

Nah, akhirnyaaa.. kami dipanggil juga ke bawah. Di bawah, kami disuruh duduk di tengah-tengah. Kami dinasehati oleh Raja Parhata untuk nggak boleh ngelirik kiri-kanan lagi dan menjadikan si pasangan satu-satunya. Ciyeilaaah, suit suit! Setelah itu, kami diperkenalkan ke keluarga pasangan dan salamin satu-satu.

Selanjutnya, untuk mensahkan apa yang udah disepakati di acara tersebut, secara simbolis dibagikan uang ingot-ingot. Jadi yang ada hadir di situ akan terus inget ‘perjanjian’ yang udah dibicarakan. Uang ingot-ingot itu kalau untuk kami berdua, katanya nggak boleh dibelanjakan sampai tanggal 14 April nanti. Kalau nggak berarti nggak lagi, dong.

Nah, karena uangnya 2000an jadi agak riskan ya kalau ditaro di dompet. Nanti tiba-tiba kepake buat parkir lagi. Akhirnya saya taro di kaca lemari biar nggak kepake. Begitu pun dengan uang ingot-ingot si pacar.

Acara marhusip berlangsung sukses. Lega rasanya! Akhirnya satu tahap terlewati juga. Tinggal 2 tahap lagi: Martumpol dan pemberkatan. Doakan lancar, ya. ๐Ÿ˜€

Ini gambar-gambar dari Marhusip kemarin:

Keluarga Siahaan

Keluarga Siahaan

Keluarga Tobing

Keluarga Tobing

My sister

Makan-makan ๐Ÿ˜€

Diperkenalkan pada keluarga Siahaan

Diperkenalkan ke keluarga Tobing

Senyum-senyum sambil dinasehatin

Uang ingot-ingot

Latihan koor dari keluarga Tobing untuk acara Martumpol

 

 

Diterima Nggak Nikahnya?

Ada yang kangen sayaaa? *sodorin mic* #heniiiing

Jadiii, Minggu, 18 Desember kemarin akhirnya setelah tertunda sebulan saya marhori-hori dinding. Apa itu marhori-hori dinding? Hm, semacam perkenalan keluarga besar kedua belah pihak dan melamar. IHIIIIIY!

Jam 3 sore keluarga si pacar udah datang ke rumah. Saya diumpetin di atas nunggu dipanggil untuk turun ke bawah. Pengennya sih sok cool, ya. Tapiii di atas itu tangan dan kaki saya udah dingin dan rasanya tegang banget. Padahal di bawah tampaknya sih santai aja memperkenalkan diri. Sayanya aja yang gampang stres.

Sebenarnya saya juga clueless sih peran saya di situ apa. Secara si Mama cuma bilang, nanti jangan keluar dulu, ya. Daaan saya nggak dikasih kode apa-apa lagi. Tiba-tiba si sepupu naik ke atas dan bilang, “Mi, dipanggil ke bawah, tuh.”

“Hah, mau ngapain?”

“Mau ditanya diterima nggak lamarannya?”

“Trus gue harus jawab apa?” #geblektingkatkelurahan

“Ya jawab aja mau. Atau lo nggak mau?”

“Mauuuu dong !” –> calon pengantin yang ngebet, “Eh, apa gue jawab mauuuu nggak, ya?” #ngelunjak

Setelah itu saya turun ke bawah. Semua mata memandang saya daaan saya bengong. Saya disuruh duduk di tengah-tengah dan ditanya, “Emang bener udah ada omongan untuk pernikahan dari keluarga Siahaan?”

Yahhh, nggk jadi ย jawab mau nggak ya, deh! Akhirnya jawab, “Udah ada.” sambil senyum-senyum mupeng. #dikutuk

Dan begitulah lamaran itu diterima. Selanjutnya apa yang terjadi? Pembahasan adat dan makan-makan. Saya bahkan nggak bisa denger apa-apa lagi saking tegangnya.

Keluarga Siahaan

Keluarga Tobing

Makanan enakkk buatan Inangtua-ku ๐Ÿ˜€

Si pelamar *siapin CV* :p

Yang dilamar *yang perempuan dewasa ya, bukan yang anak kecil* #dijelasin XD

Makan-makaaan!

Eh, ternyata lupa foto berdua!

–__________________________–”