Review: Film Terbang Menembus Langit

Terbang-Menembus-Langit

Saya udah nunggu film Terbang ini dari mereka syuting dan suka posting foto-foto syutingnya, yang mana kece banget! Kerasa banget jadulnya. Ditambah lagi pemainnya adalah Dion Wiyoko, yang saya udah ngefans banget dari dia main di Cek Toko Sebelah. Berharap banget dia dapat peran yang menantang kemampuan aktingnya. Dan senang banget di film Terbang ini kemampuan aktingnya dikeluarkan semua.

Sinopsis: kisah perjuangan Onggy yang berasal dari keluarga miskin di Tarakan berjuang untuk meraih kesuksesan.

Onggy berasal dari keluarga Cina di Tarakan yang miskin. Ayahnya cuma pegawai di toko kelontong. Anak-anaknya nggak semua bisa sekolah. Sampai suatu hari Onggy pengen sekolah, namun biayanya nggak ada. Kakak Onggy harus membujuk kepala sekolah bahwa adiknya ini akan sepintar dirinya kalau diijinkan untuk sekolah.

Satu hal yang menyentuh banget di film ini adalah bagaimana ayahnya yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk kumpul bersama makan. Kalau ada yang belum kumpul, maka akan ditunggu sampai datang. Harus makan bersama. Stay together when it’s ups or downs. :’)

Makanya pas Onggy mau melanjutkan kuliah di Surabaya, walau kakak-kakaknya pun miskin, mereka bekerja sama untuk membiayai Onggy sekolah di Surabaya. Di Surabaya hidupnya nggak lebih baik juga. Harus hidup di kos-kosan 3x3m yang diisi oleh 4 orang. Tapi justru di kamar kos kecil itu, Onggy menemukan sahabat-sahabat baiknya. Ada kalanya kakak-kakaknya nggak mampu mengirim uang ke Onggy sehingga Onggy harus putar otak untuk cari uang. Dari usaha jual apel, jagung bakar, dll. Sedihnya lagi usahanya nggak selalu berjalan mulus, sering banget ditipu dan dia harus mulai dari nol lagi.

Selesai kuliah, Onggy sewa rumah dan jualan kerupuk. Awalnya usahanya bagus, tapi kemudian lagi-lagi dia ditipu. Adegan Onggy makan kerupuk sambil nangis itu JUARA banget nyeseknya. Ya ampun, rasanya pengen peluk si Onggy yang kayaknya hidupnya kok susah mulu. Sedih.

Yang mengharukan lagi walau Onggy terpuruk, waktu keluarga kakaknya mau numpang di rumahnya karena mereka mau cari kerja di Surabaya, dia tetap menerima dengan tangan terbuka.

Salah satu adegan paling menyenangkan untuk ditonton adalah adegan Onggy jatuh cinta pada Candra, capster di salon kecil yang cantik banget. Laura Basuki, kamu makan apa, sih? Dion Wiyoko bisa menggambarkan perasaan jatuh cinta, grogi, awkard dengan baik. Dan Laura Basuki tuh emang auranya menyenangkan banget ya jadi kita mudah jatuh cinta juga dengan dia.

Saat itu, Onggy udah kerja jadi pegawai. Hidupnya mulai membaik, pekerjaannya juga baik. Tapi ketika ada seorang pegawai yang curhat bagaimana hidupnya berlalu dengan cepat dengan menjadi pegawai doang, Onggy jadi terbakar lagi dengan mimpinya untuk punya bisnis sendiri. Dia pun meninggalkan pekerjaanya untuk mulai usaha sebagai motivator. Salah satu keputusan yang bikin miris sih sebenernya karena kehidupan Onggy dan Candra jadi terpuruk. Ditambah saati itu Candra sedang hamil.

Ada saatnya mereka diusir dari kontrakan karena nggak bisa bayar sewa lagi, tinggal di kamar super sempit, nggak bisa bayar uang lahiran anaknya sampe ngutang. Ada adegan di mana Onggy udah terpuruk banget, dia cuma bisa terduduk berserah sama Tuhan sambil nangis. Ambyaaar, dada saya ikut sesak kayak teriris-iris. Duh, hidup kok bisa seberat ini, ya?

Candra sebagai istri tuh suportif banget. Ngikutin ke mana kemauan suaminya dan percaya suaminya akan sukses. Ada kalanya Candra juga marah, tapi dia akan kembali dukung suaminya lagi. Istri hebat banget lah.

Buat saya adegan paling bikin hati perih adalah di saat Onggy dan Candra baru beli AC, tapi kemudian terjadilah kerusuhan Mei 1998. Gimana mereka hampir aja dibunuh karena mereka Chinese. Pahit banget rasanya.

Sinematografi di film ini bagus banget. Tone colornya bikin kita merasa film ini jadul. Untuk kostum dan setting 90annya mah juara banget. Aslik, itu Dion Wiyoko sampe dibikin belah tengah kayak jaman dulu banget. Inget kan ya, model rambut hits belah tengah ala Andy Lau dan Jimmy Lin. Kostumnya pun pas banget, kelihatan kedodoran, celana gombrong, sepatu jadul. Dan itu konsisten di semua pemain. Nggak ada yang rambutnya kayak terlalu diblow atau terlalu kekinian. Detilnya bagus. Bahkan jalanan, mobil, toko, dan yang lain-lainnya pas. Nostalgia ke jaman dulu banget. Keren!

Selanjutnya silahkan ditonton sendiri, ya. Film yang bagus harus ditonton orang banyak, dong. Dan Dion Wiyoko, aku padamu banget!

 

 

Advertisements

Review: Yowis Ben

Baiklah, mau review film lagi. Jadi Maret ini saya cukup sering nonton film Indonesia. Salah satunya adalah Yowis Ben. Awalnya saya nggak tahu film ini sama sekali, tapi setelah beberapa minggu tayang dan jumlah penontonnya lumayan banget serta review yang positif, akhirnya memberanikan nonton. Kenapa memberanikan? Karena film ini 90% pake bahasa Jawa dan pemeran utamanya nggak cakep. HAHAHAHA, ya maap selama ini kan nonton drakor aja pilih yang pemeran utamanya harus cakep dulu.

Sinopsis: Bayu menyukai Susan sejak lama, namun merasa minder dengan keadaan dirinya yang pas-pasan. Bayu bertekad mengubah dirinya menjadi lebih populer dari Roy, pacar Susan yang gitaris band. Ia membentuk band bersama teman-temannya, yang dinamai Yowis Ben. Langkah Bayu dan teman-temannya tidak mudah. Terjadi perpecahan antar personil band. Berhasilkah Bayu mempertahankan band-nya dan mendapatkan Susan?

Review:

Ceritanya sederhana banget sebenarnya, tentang persahabatan anak band. Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dan Tutus Thomson adalah anak-anak tidak poupler yang punya permasalahannya sendiri dan ingin lebih dianggap dengan menjadi anak band yang populer. Nandan (Brandon Salim) sebenarnya anak populer sih, cuma dia sebel karena tiap dia upload kemampuan bermain piano-nya di Youtube selalu komennya, “KYAAAA, GANTENG BANGET!”, bukannya fokus pada kemampuan dia. Nah, Bayu, Doni, dan Yayan ngajak Nando ikutan band mereka karena tahu kalau semua anggotanya tampangnya pas-pasan pasti nggak bakal populer, jadi harus ada satu anggota yang mukanya cakep biar menarik perhatian cewek-cewek.

Jadilah mereka band anak sekolahan yang main musik genre alternatif (?) pake bahasa Jawa tapi tema lagunya lucu-lucu, ada yang tentang pelajaran, sekolahan, dsb.

Anyway, lagu-lagunya bagussss banget. Walau pake bahasa Jawa tapi catchy banget lagu-lagunya. Favorit saya tentunya Gak Iso Turu yang sekali denger bikin saya nyanyiin terus dan langsung download.

Bahkan ada lagunya yang judulnya Oso Bolos Pelajaran yang jadi official song di Kemendikbud RI. Keren, ya!

Yang bikin film ini menyenangkan banget adalah chemistry persahabatan dari keempat pemerannya bagus banget. Berasa banget mereka temenan beneran dan asik aja gitu dari cara ngobrol dan becandaan mereka. Walau 90% ngobrolnya pake bahasa Jawa, nggak perlu khawatir karena pastinya ada subtitle dan nggak perlu takut nanti roaming karena becandaannya pasti kita paham banget dan bikin ngakak. Kita bisa banget relate, apalagi anak-anak sekolah di sini bukan yang high class jadi bisa kita temui sehari-hari. Satu kata buat film ini: segar! Saat ini ditulis jumlah penonton udah 900 penonton dengan jumlah layar yang sudah semakin sedikit. Berharap banget sih bisa sampai 1 juta penonton karena filmnya bagus dan pesannya oke.
Kekurangan film ini adalah dengan segala kearifan lokal yang ada di dalamnya dan malah bikin film ini unik dan sangat relatable, sayang banget yang dipilih jadi pemeran utama cewek dan saingan si Bayu dibikin terlalu bule. Bukannya apa-apa, jadi nggak terasa fit in di sekolahnya aja. Hahaha, hal minor sih tapi saya prefer yang cantiknya membaur gitu di sekolahnya jadi makin lokal lah. Paham ora? XD
Tapi secara keseluruhan film ini segar, menyenangkan, lucu, dan tonton deh kalau masih ada di bioskop. Kalau saya aja yang nggak paham kultur Jawa dan bahasa Jawa bisa ngakak banget, kebayang banget orang-orang Jawa yang nonton akan lebih ketawa lagi. 😉

Review: Love For Sale

Love For Sale adalah salah satu fulm yang saya tunggu-tunggu banget karena lihat trailernya aja udah menarik. Bayangin ada Gading Marten yang cuma pake kancut dan kaus dalam bolong-bolong lagi galer sambil ngomong ama kura-kura peliharaannya. Wow, cukup jarang sih trailer seberani dan sesederhana ini. Dengan latar belakang lagu jadul The Mercy’s – Hidupku Sunyi. Beuh, I’m sold!

Semakin yakin lagi nonton ini karena setelah special screening dan gala premier, reviewnya pada positif. Bhaique!

Sinopsis: Richard, seorang jomblo di usianya yang 41 tahun, ditantang teman-temannya untuk bawa pacar ke pernikahan temannya dengan taruhan harga diri. Akhirnya Richard menghubungi Love.inc dan mendapatkan Arini sebagai pacar bohongannya. Tapi karena suatu kejadian, Richard harus tinggal bersama Arini selama 45 hari.

Kisah tentang pacar kontrak gini udah sering banget lah jadi tema film, FTV, bahkan sinetron. Tapi Love For Sale mampu meracik kisah yang menarik. Buat saya, kekuatan film ini ada pada akting Gading yang luar biasa effortless. Gading yang image-nya joged-joged alay di Inbox, kali ini membuktikan kalau dia lebih dari itu. Nggak kebayang tokoh Richard diperankan orang lain.

Richard adalah seorang jomblo akut kesepian yang hidupnya monoton banget. Dia bahkan tidak merasa ada yang salah dengan hidup monotonnya cuma karena dia gagal move on belasan tahun yang lalu. Hidupnya cuma di rumah sekaligus kantor sepanjang hari, nggak pernah jalan-jalan ke mana pun, bahkan dari Jakarta Pusat ke Kemang aja dia bisa nyasar. Mobilnya jadul, style-nya ketinggalan 20 tahun, rambutnya belah pinggir klimis. Karena hatinya gagal move on, hidupnya pun stuck di era jadul. Hidupnya cuma sekedar rutinitas. Dan tipikal (walau tidak semua) jomblo akut di usia berkeluarga adalah dia galak banget ama karyawan-karyawannya. Kerjanya ngomel mulu dan lembur terus.

Lalu datanglah Arini. Si cantik yang lovely banget yang mengubah hidup dan hati Richard. Sungguh ya, saya yang perempuan aja naksir banget sama karakter Arini yang menyenangkan, manis, hangat, nggak neko-neko, dan sepertinya dia bisa membuat cerah suatu ruangan kalau dia masuk. Yakin banget, siapapun pasti akan jatuh cinta sama karakter Arini. Dan peran ini dimainkan dengan sangat baik oleh Della Dartyan. Padahal ini film pertamanya, lho. Kuddos!

Chemistry Gading dan Della bagus banget. Kita terbawa dengan hubungan Richard dan Della yang dibangun secara perlahan-lahan, sama seperti penonton yang dibawa jatuh cinta sama keduanya dan berharap akhir bahagia buat mereka. Perlahan-lahan hidup Richard berubah, matanya berbinar-binar, hidupnya nggak monoton, dia lebih santai, easy going, dan nggak galak lagi ke karyawannya. Efek cinta banget, ya.

Endingnya yang tidak tertebak bikin perasaan habis nonton film buat saya hampa dan perih. Jadi mungkin perasaan seperti ini yang dialami Richard; ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Saya sampai masih kepikiran sebelum tidur; kok gitu amat, sih. Dan baru bisa review lebih panjang sehari sesudahnya sampai emosi saya lebih netral. Bahkan nulis review di blog ini berhari-hari setelahnya.

Film yang bagus untuk merasakan kesepian sebenarnya. Dan semoga dari kita nggak ada yang patah hati sebegitunya banget sampai harus kayak Richard, ya.

Review: Eiffel, I’m In Love 2

eiffel i'm in love

Eiffel I’m In Love 2 adalah salah satu film yang saya tunggu-tunggu karena dulu saya menikmati banget nonton Eiffel I’m In Love. Saya gemes banget sama Adit-Tita dan menikmati berantem-berantem lucu mereka. Makanya pas keluar yang ke-2, saya penasaran banget mau nonton. Kali ini saya ajak (atau tepatnya maksa) suami saya buat nonton. Waktu itu nonton Dilan kan dia suka, siapa tahu yang ini juga suka.

Sinopsis: Adit-Tita yang sudah LDR 12 tahun, tapi belum juga ada tanda-tanda mau menikah. Kemudian Tita sekeluarga pindah ke Paris, jadi lebih dekat dengan Adit.

Review:
[AWAS SPOILER]

Saya nggak pernah merasa semenderita ini 2 jam di dalam bioskop. Muka tuh rasanya udah kenceng banget saking menguji kewarasan banget film ini. Suami bahkan sempat ketiduran dan pas bangun, nyinyirin film ini sampai habis. Sungguh hiburan saya cuma denger komen-komennya si suami yang bikin ngakak sampe keluar air mata.

Jadii Tita yang sekarang udah umur 27 tahun punya ibu yang protektif banget. Saking protektifnya pergi ke kawinan teman dekat aja jam 8 malam udah disuruh pulang. BUK, kawinan aja baru mulai biasanya jam 7 malam. Baru ngantri makanan udah disuruh pulang tuh gimanaa?

Lalu dia nggak punya HP. Tahun 2018 di Jakarta ada yang nggak punya HP. Dilarang emaknya. WOW! Saya mulai mikir, ini ibunya yakin sehat mentalnya? Punya anak kok kayak mau dipenjarain gitu, sih? Jadi saking dia nggak punya HP, ke pesta kawinan aja harus dikuntit sama pembantunya. Karena pembantunya yang harus jagain dia dan yang punya HP. Jadi nanti ibunya hubungan lewat pembantunya. TANTE, NYUSAHIN AJA WOY! Cobak bayangin umur 27 tahun masih dijagain baby sitter, trus ibunya yang super khawatir malah nggak bekalin anaknya pake HP, malah baby sitternya yang punya HP. Sungguh ku ingin ajak ibunya ngomong baik-baik, siapa tahu dia punya gangguan. Lagian ya, Tita kan udah kerja ya, nggak bisa beli HP sendiri gitu? Yang harga Rp 500.000 juga nggak papa, asal bisa sms dan telepon. Di ITC banyak tuh.

giphy6

Lalu di perjalanan pulang dia lapar. Jam 8 malam disuruh pulang, mungkin ngantri salaman aja udah 30 menit sendiri, trus pas mau ngantri makanan disuruh pulang. Yah wajar, lapar jadinya. Lalu ke McD lah dia, beli cheese burger dari drive thru. Ealah, nggak sabaran banget anaknya, baru bayar udah ngomel-ngomel cheese burgernya lama. Tiba-tiba muncul Adam, teman yang sudah di-friendzone Tita selama 11 tahun, dan voilaaa..kasih 2 cheese burger sesuai pesanan Tita. KOK BISA? Kalau nggak sengaja pesan yang sama, biasanya cuma 1 aja, sih. Ini pas lho 2 cheese burger. Hmm, peramal dia rupanya. Ini Adam atau Dilan?

Keluarga Tita tiba-tiba mau pindah ke Paris karena mau urus bisnis restoran keluarga Adit. Nah, seluruh keluarga harus banget ikut, termasuk kakaknya dan kakak iparnya yang lagi mengandung, dan Tita. Kakak iparnya ini nggak tahu kerjaannya apa sampe harus ngekor mulu ke mana pun keluarganya pergi. Emang Bapake nggak ada bisnis di Jakarta yang bisa diurus kakaknya? Kalau Tita diajak, yah wajar. Umur 27 tahun tapi mental age 15 tahun, kalau dibiarin sendiri di Jakarta nanti gawat, bisa linglung dia. Untungnya baby sitternya nggak dibawa juga. Mahal tiketnya, kakaak!

Nah, pas ultah Tita yang ke-27, tiba-tiba Adam muncul di depan rumah ngasih kado iPad. Katanya supaya mereka bisa komunikasi lewat chat atau e-mail. Ku ingin mempertanyakan hadiah Adam, nggak sekalian Mas-nya kasih telepon aja gitu biar lebih gampang dibawa ke mana-mana daripada dikasih iPad? Ya udah, lagi-lagi nggak papa, saya juga kalau dikasih iPad nggak menolak, kok.

Pas di Paris, ketemuan sama Adit, adegannya lumayan persis sama Eiffel 1. Ngamuk-ngamuk berantem nggak jelas dulu, baru kemudian masuk kamar dan lihat kamar sudah dihias (dulu pake mawar, sekarang pake boneka anjing di mana-mana), kaget dan mau terima kasih, tapi lalu berantem lagi. Ku lelah lihatnya.

Dan begitulah yang terjadi selanjutnya, Tita ngebet banget kawin karena dikomporin sama Uni, yang jadi kakak iparnya. Tita dan Adit ini sebenarnya pasangan yang aneh, sih. Misal, Adit kasih Tita dress cantik untuk dipake pas kencan nanti. Ya Tita udah mikir kencannya pasti di resto fancy. Malah diajak ke McD, pesan cheese burger, karena itu kan resto favorit Tita. Ya nggak salah juga. Tapii ya Adit, kalau makan di McD enakan pake kaos dan jeans aja biar bisa duduk sambil ngangkang *loh, situ makan di warteg?*. Sempit amat harus pake dress ketat gitu. Maka karena Tita ngambek, mereka cari resto fancy. Udah dapet, Tita pesan cheese burger dan milk shake. MAU NGAMUK, nggak? *tebalikin meja restoran*

giphy7

Kemudian, mereka jalan-jalan, Tita maksa dance di pinggir sungai, yang entah apa maksudnya. Bukannya romantis, kok ya malu-maluin diliatin banyak orang. Tita udah ngarep banget mau dilamar, ternyata Adit malah bilang belum siap nikah. Zonk abes!

Putuslah mereka. Eh, nggak berapa lama setelah putus, Uni nyamperin bilang besok mereka mau pindah apartemen karena rumah Adit mau dijual. Ini keluarga kurang terbuka atau gimana, yak? Mau pindahan tapi nggak bilang-bilang.

Nah, si Uni kompor ini punya suatu teori luar biasa, “Yuk, kita kuntitin Adit, ada perasaan sedih nggak di mukanya? Kalau kelihatan sedih, berarti dia menyesal putus.” Hah? Emang orang bakal nangis-nangis sedih di depan umum gitu? Jadi mereka kuntit Adit yang dari mukanya biasa aja, malah lagi jalan sambil dengerin musik. Trus makan di restoran seperti menikmati hidup. Bahkan, genggam tangan cewek lain di restoran. Cembokur lah itu si Tita!

Lagi galau gitu dia curhat ke Adam, bilang dia putus. Mungkin Adam ini semacam keturunan konglomerat yang nggak ada kerjaan, jadi Tita bilang putus, dese langsung terbang ke Paris. Tajiiir! Bagi uwitnya dong, kakak!

Adam ngajak Tita ke toko coklat. Di mana dia udah mempersiapkan coklat spesial buat Tita. Jadi ada sekotak coklat di dalam kotak dan ada yang di luar kotak. Tita disuruh nyobain. Kalau logikanya sih, mending cobain yang di luar kotak dulu karena udah dikeluarin kan dari kotaknya. Tapi Tita memilih yang ada di dalam kotak. Pas makan, ternyata di dalam coklatnya ada cincin. Begini ya, di dalam kotak itu ada 12 coklat. Tita milih random, KOK BISA PAS YANG ADA CINCINNYA?

Trus komen Tita adalah, “Wah, coklatnya pasti mahal banget sampai ada cincinnya.”

KU INGIN MENANGIS SAJALAH.

giphy8

Bisa ditebak, Adam melamar Tita. Pede amat ya, Mas-nya. Situ kan di-friendzone 11 tahun. Trus apa gitu yang membuat situ yakin kalau Tita putus dari Adit, dese langsung mau sama Mas Adam? *bukan suaminya Inul*. Ya ditolak lah. Tapi ya saking Adam ini baik hati, atau bego, dia malah bantuin Adit dan Tita jadian lagi.

Dia ajak Tita ke menara Eiffel. Ternyata di sana malah ada Adit. Adit bilang dia nggak pernah ajak Tita ke menara Eiffel karena takut ketinggian. Dear Adit, pacaran 12 tahun tapi bilang takut ketinggian aja nggak jujur tuh gimanaaa? Kalian kalau teleponan pas LDR tuh ngomongin apa, sih? Oh lupa, berantem mulu sih, ya.

Di menara Eiffel, akhirnya mereka baikan dan ciuman. Ciuman yang menurut Shandy dan Sammy hot karena udah 12 tahun LDR kan. Kenyataannya kok ya basi banget, ya? 12 tahun pacaran ciumannya tanpa emosi sehingga kita mikir ini cinta beneran atau nggak, nih?

Trus katanya Sammy harus jual rumahnya karena mau bayar utang rumah sakit bapaknya yang udah meninggal. TAPI LALU, dia beli apartemen mewah yang lokasinya tepat di depan menara Eiffel, jadi pemandangannya Eiffel. INI UANGNYA DARI MANA, MAS? Lokasi premium gitu biasanya jauh lebih mahal daripada rumah di pinggiran. Lagian kerjanya Adit apa juga nggak jelas, kayaknya arsitek. Pokoknya punya rumah, mobil mewah, dan bisa kongkow-kongkow mulu. Tapi jarang kelihatan kerja. Ku ingin hidup mewah kayak Adit. Hambur-hambur uang tapi tetap kaya.

giphy9

Tapi tenang saja, sudah dibuat menderita melihat 2 anak berantem mulu, udah pasti akhirnya happy ending. Yah, kalau mau dibuat Eiffel 3 juga bisa, tapi JANGAN. Ku nggak tahan nanti Adit Tita punya anak tapi kelakuan kayak bocah. :((

KESIMPULAN:

Masih seperti 12 tahun yang lalu, Adit-Tita masih suka berantem. Berantem nggak penting yang awalnya lucu, lama-lama jadi annoying. Kayak semua hal bisa diberantemin lho ama mereka. Dua belas tahun LDR kalau kayak gini tiap hari nggak mau putus aja gitu? Yang nonton 2 jam aja gerah lihatnya. :((

Karakter mereka yang 27 tahun dan 32 tahun sama persis kayak 12 tahun yang lalu. Kayak lihat anak ABG yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Kalau pas SMA mereka kelakuannya childish kayak gini, saya masih bisa paham banget. It looked cute. Tapi kalau udah sedewasa ini, kelakuannya kayak bocah kan ya pengen jambak rambut. *rambutnya Adit dan Tita*

Udah gitu permasalahan biasa orang yang udah pacaran lama adalah ditanyain kapan nikah. Wajar ya bok, 12 tahun pacaran nggak kunjung dinikahin, saya juga ngamuk sih digituin. Tapi kelakuan bocah kayak Tita gitu bikin saya maklum kenapa Adit belum mau menikahi Tita. Pusing nggak sih punya istri demanding gitu? Pacaran LDR berantem mulu, ketemuan juga berantem mulu. Saya nggak paham kapan mereka saling sayangnya?

Jadi setelah 2 jam penuh siksaan dan ujian bagi intelegensi saya, saya lega banget pas filmnya selesai. Duh, kayak gini mah jadi FTV aja lah. Bagi yang penasaran, silahkan menonton, tapi mendingan di bioskop murah aja biar nggak merasa rugi. Yang nggak mau nonton, udah tepat sekali itu keputusanmu. Jangan kayak saya terjebak 2 jam. :)))

giphy10

*mandi kembang 7 hari 7 malam*

 

Review: Film Dilan 1990

1516914139-dilan-3

Dilan 1990

Sinopsis: Milea, anak kelas 2 SMA pindah sekolah dari Jakarta ke Bandung. Dia dideketin Dilan dengan cara yang unik, pakai bahasa yang puitis, dan beda dari yang lainnya. Settingnya sendiri di Bandung pada tahun 1990.

Saya baru aja nonton film Dilan 1990 semalam. Saya mau nonton jam 7 malam di Senayan City. Biar aman, saya udah datang dari jam 6 sore untuk beli tiket. Eh, ternyata udah full aja dong, sisa 2 baris di depan. Jadilah saya duduk di baris kedua dari depan. Seniat itu, ya. Hahaha. Nggak nyangka sepenuh itu, lho.

Saya udah lama baca buku Dilan 1990 karena buku ini kayak jadi pembicaran di mana-mana dan best seller banget. Beberapa kali ke Gramedia dan saya kehabisan bukunya. Makin penasaran, kan. Akhirnya saya beli versi pdf-nya. Setelah baca, ternyata saya merasa bukunya ya biasa aja. Karakter Dilan sendiri menarik banget, tapi ya saya bosan aja baca bukunya. Kayaknya saya belum selesaiin sampai sekarang, deh.

Pas diumumkan pemeran Dilan adalah Iqbal, eks CJR, saya lumayan mengerutkan kening, cuma ya bukan yang nggak setuju. Cuma waktu itu mikir ini Iqbal udah mumpuni belum ya aktingnya nanti. Tapi mikirnya, oh well let’s see. Pas trailernya keluar, saya lumayan terganggu sih sama cara bicaranya Iqbal. Tapiii, entah kenapa saya penasaran banget sama filmnya karena pengen tahu gimana cara mereka menggambarkan Dilan yang unik ke media film.

Fun fact: dari awal muncul Cowboy Junior, saya suka banget sama mereka, lho. Sempat yang hapal banget lagunya yang Kamu, Eaaa, Mengapa Kenapa. HAHAHA. *alay detected*

Sebelum mulai ke cerita, saya harus angkat topi untuk detilnya yang keren banget. Gila ya, itu baju-baju pemainnya beneran era 90an banget sampe geli sendiri liatnya. Yang cowok pake celana cutbray, kemeja kebesaran. Sementara si Milea pake celana cordurai dengan kaos dimasukin. Yah macam tahun 90an.

Segala mobilnya jadul semua, telepon rumah, telepon umum, motor jadul. Sampe baju sekolahnya juga nggak ada yang ketat, gombrong aja gitu. Sungguh ngingetin banget jaman dahulu. Semacam nostalgia jadinya. Senang, deh.

Karena ekspektasi saya yang rendah banget untuk film ini, turned out…. filmnya bagus!

Chemistry Iqbal dan Vanesha dapet banget. Awal-awalnya kita akan mengernyit sih sama cara ngomongnya Dilan yang baku banget, tapi lama-lama terbiasa. Akting Iqbal pas banget untuk menghidupkan Dilan. Sepanjang film dia masuk banget ke karakter Dilan. Sementara Vanesha, awalnya agak kaku, tapi cukup bisa mengimbangi. Perannya sebagai Milea yang jutek, tapi kemudian jatuh cinta dengan Dilan.

Sepanjang film itu satu bioskop cekikikan bareng dengerin gombalan Dilan yang aslik smooth banget. Lalu kita semua langsung heboh, “Kyaaaa kyaaaa!” Kayak pengen bilang, “Aelah Dilan, bisa amat deh lo!” sambil senyum-senyum sendiri dan tanpa sadar pipi kita bersemu.

Lihat Dilan dan Milea itu sungguh menggemaskan banget nget. Tek tokan mereka ketika saling menggombal tuh pas banget, bikin kita tuh berbinar-binar banget lihatnya. Gemeslah! Mengingatkan masa-masa SMA di mana kita masih polos. Ngingetin banget rasanya berbunga-bunga ketika ngerasain jatuh cinta pertama kali pas sekolah dulu. Duh, pengen balik jadi anak SMA lagi deh. Padahal dulu pas SMA nggak ada yang ngejar-ngejar saya kayak Dilan, sih. Hahaha.

Ini beberapa gombalan Dilan yang aslik bikin saya merasa itu buat saya soalnya kok malah saya yang malu-malu senang dengarnya. Hihihi.

quotes-novel-milea

Yang ada saya makin nggak bisa tidur kalo digombali gini. Fufufu!

hipwee-file

Dek, tante GR loh ini.

img_20170809_103421

Bilang cemburu aja kayak gini! XD

14350794_1403711096313581_8761771384494882816_n

WOY, udah udah! Mau bilang cantik aja ngomongnya begini. Aww!

dilan07-ca08fa58f6db80914dde552028ebf38c_600xauto

Mau bikin saya terbang ke langit, dek?

Pokoknya tiap Dilan ngomong tuh wajib banget dijadiin quotes saking uniknya cara dia mikir. Duh, lutut tante sampe lemes digombalin sepanjang film.

giphy17

Di akhir film, satu bioskop langsung tepuk tangan. Gila ya, ini cuma film ABG tapi kami semua puas banget pas nonton. Dan yang nonton mostly yang udah dewasa, bukan yang ABG. Mungkin karena bikin nostalgia banget, ya. ABG jaman sekarang mungkin nggak paham ribetnya pacaran pake telepon umum, nulis surat cinta, nganterin pulang naik angkot, dibonceng naik motor sambil peluk dari belakang. Momen-momen ngangenin yang cuma bisa dipahami remaja tahun 90an banget lah.

Dan bukan cuma cewek yang senang, lho. Kemarin banyak banget cowok yang nonton. Saya pun ajak suami buat nonton walau dia clueless banget Dilan itu apa, sih. Hahaha. Tapi pas nonton dia ketawa tertawa terbahak-bahak sambil bilang, “Anjir! Bisa aja si Dilan. Smooth banget gombalnya!” Sementara saya udah sibuk cekikikan sambil sesekali cubit-cubit gemas si suami. Efeknya adalah… suami, akoh kangen digombalin loh ini! Hihihi.

giphy18

Butuh gombalan. #eaaa

Akhir kata, Dilan 1990 sungguh memberi efek hangat ketika nonton, nostalgia yang menyenangkan saat masa SMA, dan sungguh sangat menggemaskan. Kalau ada yang mau nonton lagi, ajak saya ya. :)))

Review: I’m Not A Robot

I’m back with my next favorite Kdrama.

I’M NOT A ROBOT

11-3-2

Sinopsis: Kim Min Kyu (Yoo Seung Ho) yang alergi terhadap sentuhan manusia jatuh cinta pada seorang perempuan yang dikiranya robot (Jo Ji Ah/Aji 3) diperankan Chae Soo Bin.

Setelah beberapa bulan lalu hari-hariku disibukkan dengan nonton Kdrama tiap hari dan kemudian mereka tamat bersamaan. Mulailah pencarian terhadap drama baru. Biasanya kalau habis nonton drama yang keren banget bagusnya dari segi cerita, saya bakal susah move on dan susah untuk cari drama baru. Drama beberapa saat yang lalu kan bagus-bagus semua, ya. Nah, biasanya kalau udah gini saya akan cari drama paling receh. Dari beberapa drama yang tayang: Jugglers, Wise Prison Life, Just Between Lovers. Semua ini paling banyak dibicarakan orang, deh. Jugglers sempat nonton sampai 10 episode, tapi ternyata ku tetap tak tertarik. Jadi bhay aja. Wise Prison Life tertarik nonton tapi sub-nya lama, jadi entar aja lah tunggu tamat. Just Between Lovers dilihat dari cuplikannya kok kayaknya ceritanya sedih. Oh, ku tak sanggup menye-menye.

Terseliplah drama I’m Not A Robot ini. Dari segi cerita paling receh di antara lainnya (terbukti dari sinopsis yang begitu doang, kan. Hahaha). Baiklah mari kita tonton.

Dan ternyata….. SUNGGUH RECEH! XD

Jalan ceritanya ya tentang robot-robot apalah, entah ku tak paham dan nggak penting juga. Kekuatan drama receh ini ada pada akting Seung Ho yang bagus bangettt. Dia mampu bikin penonton merasakan emosi yang dia keluarkan. Kalau dia sedih, duh perih banget rasanya pengen meluk. Kalau dia bahagia, auranya nular banget sampai bikin kita senyum-senyum sendiri. Menurut saya, tanpa Seung Ho drama ini ya akan jadi cerita yang biasaaaa banget karena jalan ceritanya ya biasa aja. Tapi karena ada Seung Ho, dramanya jadi bagus. Percaya deh, pas nanti nonton coba perhatikan kalau kita ternyata jadi ikutan senyum-senyum sendiri dan sedih.

Belum lagi di drama ini karena Kim Min Kyu ini alergi terhadap sentuhan manusia, jadi dia mengurung diri di dalam rumah selama 15 tahun dan nggak punya teman. Temannya ya robot itu *ciyaaan*. Nah, pas dia mengalami jatuh cinta kayak lihat ABG yang baru pertama kali jatuh cinta; ya polos, awkward, kangen-kangenan, bingung mau ciuman tuh harus gimana. Pengen yang rasanya… duh sini dek, kakak ajarin caranya pelukan dan ciuman. *SMOOOOCH*. Pokoknya Kim Min Kyu ini sosok yang sangat menggemaskan dan tiap kemunculannya bikin pengen bilang, “awwww” lalu blushing.

Dan ehm…. kok saya baru tahu kalau di dunia ini ada mahkluk se-charming Seung Ho, sih? Sungguh lho, auranya dia sangat menyenangkan banget.

Yang saya nggak antisipasi, karena awalnya nonton drama ini kan tanpa harapan apa-apa, ternyata drama robot-robotan begini malah bikin baper banget. WHY?

Chemistry Seung Ho dan Soo Bin dapet banget. Sangat manis lihat mereka berinteraksi, ngobrol, berantem. Sampai akhirnya kita merasa, “I WANT THEM TO BE TOGETHER!”. Jadi pas scenes mulai sedih, itu sedih dan perihnya berasa banget. Duh, kayak pertama kali patah hati; retak-retak hatinya. Dan kita tahu kan rasanya patah hati pas cinta pertama itu duh pengen tenggelam aja. Nah, ini yang kita rasain buat pasangan ini. Kita rasanya pengen jadi emak-emak rempong yang sibuk mempersatukan kembali saat mereka putus.

Saat mereka akhirnya menyadari kalau mereka saling cinta dan mau memaafkan; ini bagian terbaiknya…. kita akan disuguhi adegan-adegan mereka pacaran kayak anak ABG yang kita semua pasti pernah senorak dan alay kayak gitu, tapi KENAPA MEREKA MANIS BANGET?

“Kamu masuk duluan.”
“Kamu duluan aja.”
“Nggak, kamu aja.”
“Nggak mau ah, kamu duluan aja.”
BEGITU TERUS SAMPAI DINOSAURUS BANGKIT LAGI! *Gigit nih kalian berdua*

“Kamu cute banget, sih.”
“Ah, cuma kamu yang bilang aku cute. Nggak ada yang anggap aku cute.”
“Iya, kamu tuh cute banget. Pokoknya kamu nggak boleh cute kayak gini di depan orang ya.”
“Sini cium dulu.”
Sungguh alay! Tapi kita semua pernah se-alay gini, kan? Hahaha.

Kim Min Kyu awkward banget kalau lagi ngobrol sama kakaknya Jo Ji Ah, yang mana adalah bawahan dia. Gemes banget lah lihatnya.
Plus, doi nggak tahu mau ngapain jadi minta ketemu Jo Ji Ah mulu. Why you’re so cute lah?

Aku tuw nggak kuwat liatnya. Kyaa! *gigit bantal*

giphy13

Dan GONG-nya adalah… the kissing scene is HOT. *kipas-kipas*

giphy14

Tante kepanasan jadinya, dek!

Jadi dari episode awal sampai mau berakhir, adegan kissingnya tuh biasa banget. Yang pertama kayak cuma cup doang dan yang kedua kayaknya lebih hot, tapi ketutupan coat mereka. WHYYYYY! *drop shay!* Jadi sebagai penonton tentu saja hanya bisa pasrah bahwa adegan kissingnya kayaknya bakal biasa-biasa ajalah.

Tapi kemudian, terjadilah adegan ini:

Urat tangan Seung Ho ini kok bikin pengen bilang, “Tolong cabik-cabik aku, bang!”
KOK TIBA-TIBA RUANGAN JADI PANAS YA!

Kalau kata teman saya, “Akhirnya sutradara tidak menyia-nyiakan bakat kissing Seung Ho.” YASSSS!

giphy15

WOHOOOO!

Drama yang sehabis nonton rasanya pengen guling-guling di kamar sambil senyum-senyum seharian sehabis dapat ciuman pertama. Hangat dan bikin perut terasa tergelitik. Laff!

Tapi ini belum berakhir sampai di sini aja, dong. Dramanya udah bikin baper banget. TERNYATA…. behind the scenesnya lebih bikin baper lagi. Aku tuh lemah loh disuguhin chemistry manis gini pas off screen. Bikin pengen langsung seret ke KUA aja deh biar halal.

giphy16

Cobak bayangkan rasanya dikasih BTS macam ginilah:

BTS-nya jauh lebih hotz dibandingin pas di dramanya.
Ternyata sutradaranya sama kayak drama W. No wonder, adegan kissingnya hot bener.

Kalian bisa nggak sih biasa aja? Nggak usah manis-manis banget, nanti tante diabetes.

Jadi begitulah kira-kira review penuh kebaperan akibat baru lihat kelakuan dedek-dedek jatuh cinta pertama kali. Drama ini terlalu menggemaskan untuk dilewatkan. Yuk, baper bareng! 😀

 

 

Bioskop Pertama di Mall Pinggir Pantai

Akhirnya Kaleb nonton bioskop juga!

giphy3

Setelah colongan ikut ke bioskop kemarin dan melihat Kaleb bisa tenang, akhirnya memutuskan bahwa di usianya yang 2 tahun 9 bulan, Kaleb siap ke bioskop.

Saya selalu ragu-ragu mau bawa Kaleb ke bioskop karena dulu anaknya nggak bisa tenang banget, selalu heboh. Belum lagi kemampuannya untuk fokus masih pendek. Jadi saya nggak pernah bawa dia ke bioskop. Tapi semakin dia besar, semakin bisa paham dengan apa yang saya katakan, plus kemampuan fokusnya lebih panjang (bisa nonton film kartun sampai selesai), saya pun memberanikan diri ajak Kaleb nonton.

Setelah cek jadwal, ada 3 film kartun yang lagi tayang: Coco, Ferdinand, dan Si Juki. Coco, saya udah nonton. Selain itu temanya tentang after life cukup sulit buat anak sekecil Kaleb (sulit, atau males aja jelasin, buk? Hehehe). Sedangkan Si Juki, ku tak paham itu film tentang apa, jadi skip ajuah. Then Ferdinand it is.

Film Ferdinand ini sisa tayang tinggal 4 bioskop lagi: Plasa Senayan, PIM, Gading, dan Baywalk Mall. Saya pilih Baywalk karena lewat tol dekat banget dan penasaran sama mall yang letaknya di pinggir pantai ini.

Ferdinand ini ceritanya sederhana aja, tentang banteng yang sukanya sama bunga dan kedamaian, dibanding berantem di arena sama matador. Padahal jadi banteng yang kuat dan jago berantem itu kebanggaan banteng pada umumnya.

Kaleb excited banget mau nonton. Sengaja pilih siang karena dia pasti masih segar. Saya pun beli popcorn supaya dia bisa ngemil kalau bosan. Senangnya lagi karena ini musim libur sekolah, jadi banyak banget anak-anak yang nonton. Semacam karya wisata di bioskop.

C360_2017-12-29-21-31-56-285.jpg

Perdana nonton di bioskop, nih. Ahey!

Sepanjang film, Kaleb fokus banget nontonnya. Surprisingly, dia nggak banyak nanya. Mungkin saking gampangnya itu film dimengerti (kalau buat ibunya, jadi ngantuk dan membosankan banget, sih. Hahaha). Di pertengahan film, Kaleb mulai ngantuk jadi minta saya pangku. Saya pikir, dia bakal tidur nih sebentar lagi. Ternyata, malah saya yang ketiduran dan dia melek nonton sampai habis.

IMG_20171229_144107.jpg

giphy4

Habis nonton, saya ajak dia makan es krim. Di Baywalk ini, mostly restorannya pemandangannya ke laut. Jadi Kaleb senang banget nongkrong di jendela lihat laut dan pesawat terbang yang mau landing di bandara.

Baywalk mall ini sebenarnya mall biasa. Cukup besar, tapi waktu itu nggak terlalu rame, cenderung sepi. Tapi ternyata orang-orang seringnya nongkrong di resto sambil mandang laut.

Setelah makan es krim dan muter-muter mall, kami ajak Kaleb ke lantai satu tepat ke tepi lautnya. Eh, ternyata ada air mancur menari dengan lagu-lagu Natal. Yang nonton duduk di tempat duduk yang kayak tangga. Semacam kayak nonton air mancur di Marina Bay Sand dengan kearifan lokal (yaelah ini perbandingan bagusnya jauh banget, loh!). Kaleb sih happy banget ya lihat air mancur kelap-kelip bisa nari pula.

IMG_20171230_100116_347.jpgC360_2017-12-30-08-11-04-583.jpg

Habis nonton pertunjukan gratisan, kami menyusuri pinggir pantai dan mampir sebentar ke Bandar Djakarta. Bukan buat makan, tapi karena di situ ada kolam ikan dan banyak banget hewan laut di fish marketnya. Tentu Kaleb heboh banget sampai diajak pulang juga susah.

Sebenarnya ada Baywalk Garden yang mungkin mirip-mirip Garden By The Bay dengan kearifan lokal. Tapi karena udah malam dan lapar, jadi kami nggak sempat mampir. Bolehlah kapan-kapan dicoba. Semacam mall tapi banyak outdoornya jadi anak-anak suka, deh.

 

 

 

 

Review: Susah Sinyal

dqm8zqzu8aabntu

Dulu waktu Cek Toko Sebelah muncul, saya suka banget sama filmnya. Maka ketika Susah Sinyal tayang, saya pun bertekad harus nonton lagi. Karya Ernest Prakasa selalu kena di hati menurut saya.

Karena film ini tentang keluarga, terutama hubungan ibu dan anak, jadi saya mau ajak Mama saya nonton. Udah lama gitu nggak nonton bareng, walau Mama saya bukan penggemar bioskop karena selalu kedinginan.

Kami nonton di hari Natal jam 21.00. Malam banget, ya. Karena seharian itu banyak banget acara dan baru tersisa slot malamnya, itu pun nonton mendadak. Oh ya, untuk pertama kalinya saya ajak Kaleb nonton di bioskop. HAHAHA, makan omongan sendiri deh yang nggak mau ngajak anak nonton bioskop yang bukan umurnya dan di malam hari pula. HAHAHAHA *toyor diri sendiri*.

Jadi ceritanya, nggak ada yang bisa pegang Kaleb. Suami jagain mertua di rumah sakit, Kaleb nggak pernah berdua aja ditinggalin di rumah sama Mbak, dan adik-adik saya pergi. Makanya saya pilih nonton malam mendekati jam tidur dia supaya nanti dia tinggal tidur. Plus saya sudah memastikan filmnya bukan film kasar, porno, dsb. Kaleb juga sudah lebih bisa dibilangin, nggak semau-maunya sendiri kayak waktu kecil dulu. Sekalian mau ngetes apakah Kaleb siap untuk nanti dibawa nonton di bioskop.

Sebelum nonton bioskop saya udah kasih tahu kondisi bioskop itu gelap, ada layar besar, suaranya besar, dingin. Jadi jangan takut. Kalau udah ngantuk bisa langsung tidur. Saya beliin Kaleb popcorn dan dia suka banget. Surprisingly, Kaleb nggak takut sama suara besar dan gelap. Mungkin ini pengalaman pertama buat dia, jadi dia excited. Karena dia nggak paham ceritanya dan buat dia membosankan, dia bilang, “Mami, Kaleb bosen.” Tapi ya dia tetap stay di tempat dan ngemil popcorn aja. Sampai nggak lama kemudian, dia ketiduran. Yeay! Jadi maafkan aku ibu-ibu yang ajak anak nonton di bioskop, ku paham emang nggak semua situasi bisa ideal. Tapi tetap sih saya prefer kalau anak masih bayi better nggak ikut ke bioskop karena kasihan aja. Tapi sekali lagi, who am I to judge? 😉

Sinopsis film ini tentang hubungan Ellen, single mother, pengacara sukses, dan anaknya Kiara. Mereka yang hubungannya nggak dekat, akhirnya harus liburan bareng di Sumba di mana sinyalnya susah padahal mereka sehari-hari selalu harus pegang HP. Nah, dari situ konflik muncul.

Buat saya sendiri, seperti tipikal film Ernest, filmnya hangat dan dibalut komedi yang cukup cerdas. Kalau dulu saya merasa akting Ernest Prakasa sebagai tokoh utama di CTS lemah sekali, saya senang di Susah Sinyal, Ernest nggak melulu harus jadi tokoh utama di filmnya. Justru dengan dia jadi Iwan, rekan Ellen, di film ini; kemampuan aktingnya jauh lebih bagus daripada di CTS. Dan sosok Iwan mampu bikin setiap adegannya lucu dan nendang banget.

Komedi favorit saya adalah waktu adegan interview Cassandra dan wartawan malah ribut berdebat bumi datar vs bumi bulat. Ini kocaknya parah banget. Tapi secara keseluruhan, justru adegan-adegan kocak itu malah pas Cassandra (Gisela Anastasia) dan suaminya (Gading) muncul. Mereka berdua scenes stealer banget. Tiap mereka muncul, dijamin ngakak lah.

Seperti biasa, akting Adinia Wirasti selalu bagus. Duh, Mak, ada gitu orang secantik Adinia. Kulit eksotis, cantik, badannya body goal banget, akting juga bagus, fashion style dia oke banget, orangnya nggak lebay drama di sosmed. Mailaf lah! Kalau Adinia yang main biasanya saya udah 50% yakin filmnya bagus karena Adinia biasanya punya taste yang bagus untuk film.

Sementara Kiara yang diperankan Aurora Ribero yah masih dimaklumi sih kalau aktingnya masih mentah. Ya karena ini film pertama dia, tapi udah dikasih peran utama. Mungkin masih perlu diasah, ya. Tapiii suara dia bagus banget lah. Awalnya saya pikir suaranya didubbing, tapi ternyata itu dia nyanyi asli. :’)

Overall, menurut saya film ini bagus dan hangat. Tapi dibandingkan dengan CTS, saya lebih suka CTS. Untuk kedalaman cerita, saya merasa Susah Sinyal masih kurang. Saya masih kurang dapat chemistry Ellen dan Kiara; kenapa mereka berantem segitunya banget, lalu tiba-tiba Ellen bisa jadi dekat sama Kiara. Saya nggak merasa ada kedekatan emosi dan perkembangan emosi yang dalam untuk mereka berdua. Yah, walau tetap saja pas adegan klimaks, ya saya berkaca-kaca juga, sih. Saya paling lemah untuk film keluarga kayak gini.

Ada beberapa komika yang ganggu karena….. I don’t get the jokes. Yang ada bukannya lucu, tapi malah jadi garing. Plus ada beberapa pelafalan yang kurang jelas atau terlalu cepat jadi saya nggak bisa catch up dengan jokesnya. Tapi secara keseluruhan, komedinya dapet banget, lebih dapat dari CTS.

Oh sama Asri Welas lebih lucu di CTS daripada di Susah Sinyal. Karena banyak banget pemainnya yang sama, jadi mau nggak mau dibandingin sama CTS, sih. Beberapa pemainnya aktingnya ya mirip-mirip di CTS dan Susah Sinyal, jadi saya susah bedain mereka udah peran atau belum, sih.

Terakhir: DARIUS GANTENG BANGET, YA LORD!

Kesimpulannya, masih layak dan bagus banget buat ditonton, kok. Tapi hati saya masih melekat di CTS. :’)

 

 

Review Baper: Go Back Couple

I need to write one post alone about this drama after it’s completely finished. Ceritanya masih baper banget karena tiba-tiba habis. Padahal rencananya 16 episode, tapi jadi 12 episode saja. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.  #eaaa

Btw, nanti saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia karena saya nggak mampu menemukan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang nggak terlalu cheesy.

The Casts

confession-spouses-son-ho-jun-and-jang-na-ra-2

*tepuk tangan buat akting 2 orang ini*

Kalau Jang Nara aktingnya jago banget mengaduk-aduk emosi mungkin orang bisa maklum karena di drama-drama sebelumnya dia pun bermain bagus. Tapi angkat topi untuk Son Ho Joon yang sungguhlah keren banget aktingnya. This is his first lead male role on a drama, but he did so good. Their chemistry is so good and belivable. When they are happy, I am happy; when they cry, I cry; when they are angry, I am angry too. That good.

The Story Line

It was so good because it was a story that everybody can relate too, especially if you’re married. It can happen to anyone, it might be you, it might be you friends, it might be your family. It is not just about love. Probably I wouldn’t cry much if it’s just about ordinary love, but it’s about family. You will experience the warmth of the family and the friendship. The relationship between Ma Jin Joo and her mother is making you want to hug your mother. They’re just lovable. You will fall in love and broken hearted as well. You will laugh and cry with them.

Everytime Choi Ban Do and Ma Jin Joo remembered Seo Jin, their toddler son, my heart was broken into pieces. Their journey to feel their love again touched my heart.

No, it’s not a all-episodes sad drama. In fact, it was funny and refreshing. But at the same time it was so touching that you feel all their pains and struggles.

It was a heart wrenching and heart warming story.

My Thoughts

A lot of viewers were torn between the lead male and second lead male. Choi Ban Do, as the lead male, was probably not everyone’s favorite in the beginning. Dia tengil, kelihatan ngeselin, dan cuek. Tipe suami yang nggak peduli kesusahan istrinya di rumah. Sementara Nam Gil kebalikannya, terlepas dari wajah gantengnya yang ampun bikin ngiler, dia adalah orang yang manis, sopan, dan perhatian.

But I am always #teamChoiBanDo because as you get deeper into the story, you’ll find out how hard he works for the family and how big his love for his own family and Ma Jin Joo’s family. Choi Ban Do adalah orang yang merasa bahwa sebagai suami dan ayah, dia yang harus melindungi keluarganya, berjuang mencari nafkah, berusaha tampak tough di depan istri dan anaknya dan mengesampingkan emosinya sendiri demi keluarganya bahagia. He hated his job, he hated how he had to kiss some asses to make his job worked, but he did it anyway because he’d do anything for his family.

As he struggled at work, he went back home to find out his wife feeling sorrow due to her mother death. He thought, he had to be the tough one, he had to be happy all the time to make his wife happy. He forgot that sometimes a wife needed his husband to cry with her to feel her sadness.

While Nam Gil probably liked Ma Jin Joo, who was trapped in 20 year old girl, because she gave him motherly love. Nam Gil was left by his mother, his father married again with other woman. So, Nam Gil had this hole in his heart. He didn’t have the love he needed from his mother and it made him feeling angry towards his mother. When Jin Joo came, he got all the love he needed from his mother. I guess, Nam Gil needed to heal his scar first. That is why, he was still confuse with his feeling. He liked Jin Joo but it wasn’t love. And it wasn’t as big as Ban Do’s love.

Nam Gil stayed in his place when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He knew the car was coming, but he didn’t move or try to save Jin Joo. Because the love wasn’t that big to willing to sacrifice his life. He didn’t try to hug or comfort Jin Joo when Jin Joo cried on bended knees. He just saw her tearing apart, just because he was confused with his feeling.

It was different with Ban Do. Ban Do wasn’t thinking when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He ran saving Jin Joo because Jin Joo’s life is his happiness. The moment when Ban Do decided to stay in the past just because he saw Jin Joo needed to be with her mother than be with him or Seo Jin.

As Ban Do said, “You who fill my heart is more important than Seo Jin who fill my mind”. Crying. Such a family man.

*BYAR. NANGIS LAH GUE!*

He was willing to lose the chance to meet his son just to make his wife happy. *tisu mana tisu*

Adegan lainnya yang sungguh ku suka banget dan bikin terharu adalah ketika ibu Jin Joo bilang, “You can live without your parents, but you can’t live without your child.”

*pel air mata*

I guess what Jin Joo needed after all this time was a closure with her mother. Dulu ibunya meninggal dan Jin Joo tidak bisa menemani di saat terakhir karena harus “menyelamatkan” Ban Do. Akhirnya dia terus-menerus merasa marah terhadap Ban Do dan merasa tidak punya perpisahan yang baik dengan ibunya. Ketika sekarang bisa ketemu ibunya dan ibunya melepaskan dia pergi, that was the closure she needed all this time. That made her able to focus on her future with her own family and leave her sorrow behind.

Senang banget karena pada akhirnya bukan cuma mereka menyadari bahwa mereka masih punya cinta yang besar, tapi akhirnya mereka berusaha keras mengembalikan keluarga mereka. :’)

The scenes

23668030_333266483811939_356199522101100544_n

Kelar. Bajir air mata banget di sini.

Banyaaaak banget adegan favorit:

  • Waktu Ban Do lihat Jin Joo kesakitan karena mens. Dia langsung ke apotek beli obat kram, pilih yang dosisnya paling baik buat Jin Joo, lalu membelikan pembalut. Bahkan dia ingat pembalutnya harus yang bersayap supaya Jin Joo merasa nyaman. Kemudian dia bawain air putih karena Jin Joo kebiasaan makan obat pake soda. Lalu dia memberikan tasnya sebagai alas supaya Jin Joo bisa merebahkan kepalanya di atas tas itu dan dia mulai pijat pinggang Jin Joo yang kram. Ternyata, dulu Ban Do selalu mijitin Jin Joo tiap dia kram, mau sampe ngantuk sekalipun. *boleh ku minta dipijitin juga?*
  • Semua adegan Jin Joo dengan ibunya. Terutama adegan terakhir waktu closure, ketika ibunya melepaskan Jin Joo. Sungguh ya semua ucapan ibunya pengen dijadiin quotes karena bagusss semua. Lalu ucapan terakhirnya adalah, “You can do anything if you raise a child.” *duh duh duh jangan nangis, jangan nangis. TIDAK, AKU PASTI NANGIS!*
  • Sebelum berpisah, Ibu Jin Joo bilang bahwa nanti ketika dia sudah tidak ada tolong kunjungi ayahnya dan hibur dia. Selama ini Jin Joo menyimpan kekesalan sama ayahnya, karena setahun setelah ibunya meninggal ayahnya bilang dia mau nikah lagi. Gimana bisaaa? Air mata Jin Joo aja belum kering, kok ayahnya tega menikah lagi. Ternyata oh ternyata, ayahnya sengaja bilang seperti itu supaya Jin Joo nggak merasa sedih. Dan sementara Jin Joo sibuk sama rasa dukanya yang berkepanjangan, Ban Do lah yang selalu mengunjungi dan menghibur ayah Jin Joo. *Nam Gil nggak ada apa-apanya kalau kayak gini. Hiks.*
  • Cinta Ban Do yang besar banget buat keluarga Jin Joo. Diam-diam Ban Do selalu memberikan uang ke ibu Jin Joo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal Ban Do sendiri mati-matian dalam pekerjaannya.
  • Waktu Ban Do memutuskan untuk membiarkan Jin Joo bersama ibunya walau artinya mereka nggak bakal bisa ketemu anaknya. Kebahagiaan Jin Joo lebih penting. *di sini saya kayaknya udah bengek nangis terus, deh*
  • Waktu Jin Joo bilang ke Ban Do, “Yeobo, let’s go to our home.” *iya, saya nangis lagi. Sudah jangan dihitung berapa kali saya nangis*
  • Ketika akhirnya Ban Do dan Jin Joo kembali ke masa sekarang dan bertemu anaknya. Mereka bertiga pelukan. *bengkak deh mata saya*
  • Kayaknya post ini nggak bakal tamat kalau saya ceritain semua adegan favorit soalnya banyak banget.

The Kiss

23667864_145083569462475_6596798586715897856_n

Won’t complain even if this the only kiss on the drama. A beautiful one.

The one and only kiss between Ban Do and Jin Joo. The kiss that worths all those tears. A simple kiss that tied the knot again. It’s beautiful. And most importantly you can see Ban Do and Jin Joo’s love through the kiss.

The Soundtrack
Lagu-lagunya bagus dan pas banget. Sampai kalau lagi dengerin lagunya, saya masih bisa tahu ini untuk adegan mana. Terlalu melekat.

The post-drama syndrome

Oh, jadi begini rasanya baper banget sama satu drama, ya. Padahal happy ending, tapi kayak ada perasaan hampa begitu selesai. Saya kayak mengalami satu journey yang terlalu mengaduk-aduk emosi, sampai saya harus mengulang berkali-kali tiap episode-nya untuk mencerna rasanya. Saya bahkan sampai menganalisis kenapa saya harus nangis berkali-kali nonton drama ini. Awalnya saya pikir karena waktu itu lagi PMS jadi lebih sensitif. Tapi kemudian saya tonton adegan yang sama di lain waktu ketika tidak PMS lagi dan hasilnya ya nangis juga. Malah untuk 2 episode terakhir, antisipasi supaya saya nggak nangis-nangis amat, malamnya saya lihat semua spoiler-nya di Instagram, yah walau belum ada teks, ya. Semua adegan yang berpotensi bikin sedih udah saya antisipasi. Paginya pas nonton, udah cek dulu bukan lagi PMS dan nggak lagi mens *hahahaha penting bok!* dan udah yakin nggak bakal nangis karena udah tahu adegannya. Ternyata ku salah menduga. Paham arti dari setiap adegannya akhirnya bikin saya nangis tersedu-sedu lagi. Sambil dalam hati bilang, “Sial, kenapa gue nangis? Kan gue udah persiapan!” *ambil tisu sekotak* *mata bengkak*

Dan kayaknya ini drama Korea satu-satunya yang bisa bikin saya nangis sesenggukan tiap episode. Dan sebel banget gitu karena awalnya saya pikir ini lucu. Iya emang lucu, tapi kalau udah mengharukan bikin nangis banjir. Baper banget karena rasanya terlalu dekat di hati, terlalu real, terlalu hangat, terlalu bagus. Oh ya, quotes di drama ini bagus-bagus semua rasanya pengen ditulis dan dikumpulkan di satu buku. Moral of the story is marriage is hard even though you have the love. But as long as you want to work that love out, you will find the way. :’)

 

Jadi kamu udah nonton Go Back Couple belum? Kalau udah cerita-cerita sama saya, yuk.

 

 

Quick Review: Go Back Couple & Because This Is My First Life

Dari 5 drama Korea yang saya tonton: While You Were Sleeping, Because This Is My First Life, Mad Dog, Go Back Couple, dan Revolutionary Love; belum ada yang tamat. Semuanya masih on going. Tapi ada 2 yang paling menarik banget buat saya: Because This Is My First Life dan Go Back Couple.

Go Back Couple

5130_gobackcouple_nowplay_small

Awalnya nonton drama ini karena ada Jang Nara. Suka banget sama dia sejak main di My Love Patzzi, tahun 2002. Udah 15 tahun yang lalu, cing! Dan mukanya doi awet muda aja, kayak waktu berhenti dan dia nggak bertambah tua. Ku harus menyembah keajaiban skin care Korea.

Sinopsis: Sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun (?) dan punya seorang anak balita. Kehidupan pernikahannya jadi hambar, penuh dengan rutinitas dan salah paham, sibuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lupa saling cinta. They’re growing apart. Satu waktu rasa muaknya memuncak dan mereka memutuskan cerai. Tiba-tiba mereka kembali ke masa kuliah, saat pertama kali ketemu. And the story begins… (again).

Karena poster serialnya yang lucu, saya pikir ini awalnya romcom dong, ya. Bakal ketawa ngakak-ngakak. Iya bener, ada yang lucu. Tapi yang tidak diantisipasi adalah………kenapa saya bisa nangis termehek-mehek waktu nonton? Bukan cuma satu, tapi di dua episode! (sejauh ini udah ada 10 episode. Yang bikin nangis episode 8 dan 10).

Sungguh drama yang mencabik-cabik emosi dan hati.

Selama sejarah nonton drakor, mau sesedih apapun, saya nggak pernah nangis. Ini tuh sampai nangis sesenggukan, kan ajaib yah. Hahaha.

Ternyata yang bikin nangis adalah karena sebagai orang yang menikah agak lamaan dikit dan punya seorang anak balita, jalan ceritanya relatable banget. Sibuk sama kerjaan, jalani rutinitas tiap hari, ngurus anak, kelelahan, stres, berantem. Saking terlalu dekatnya, saya suka ngomong, “Ah, gue tahu itu rasanya.” Langsung gloomy, sedih, trus pengen meluk suami dan anak. 😦 Marriage is not easy.

Tapi ketika mereka balik ke jaman 90an pas masih kuliah. Aduh, ini lucu. Jadi ingat masa-masa 90an semacam golden memories, trus kangen karena saat itu hidup rasanya lebih muda dan menyenangkan sekali. Saat naksir-naksiran satu kampus dan jadi semangat kuliah dan rasanya apa sih yang nggak bisa kita capai waktu itu. Ah, those naive thoughts.

Ketika awal Ma Jin Joo dan Choi Ban Do balik ke masa lalu, mereka happy banget, “Gila, ini waktunya gue restart semuanya. Nggak bakal bego lagi jatuh cinta ama dia, apalagi sampai nikah. Gue bakal pacarin orang yang dari dulu gue taksir dan have fun. Wohoo!”

Dan iya, mereka jadi dekat dengan gebetan masing-masing pas kuliah. Karena dengan mental age yang dewasa, tapi terperangkap di tubuh anak kuliahan, mereka jadi lebih pede dong untuk deketin gebetannya. Akhirnya gebetannya juga naksir. Sounds perfect, ya.

Tapi mereka lupa bahwa cinta dan bonding yang mereka punya selama 10 tahun nggak langsung hilang begitu saja. They still care for each other. Terutama ketika ingat anaknya; di mana kalau mereka kuliah berarti anaknya belum ada. Pas Ma Jin Joo sering nangis tersedu-sedu ingat anaknya dan Choi Ban Do kangen anaknya; duh sebagai ibu saya langsung berasa hati ini retak. Tahu banget rasanya, tahu banget sakitnya. Kayak jadi bingung, “Gue senang bisa mulai yang baru, bisa dekat sama gebetan gue, dunia kayaknya indah. Tapi gue kangen banget anak gue. Kalau gue ga nikah sama dia, gue ga bakal ada anak gue yang gue sayang banget.” Dilema abis. Hfft.

*garuk-garuk tembok*

Kim Nam Gil, sebagai second lead male, tuh mencuri perhatian banget. Wajah mah udah ganteng, postur tinggi tegap, baik hati, tajir melintir, care, hanya hati yang sedikit rapuh aja. Sementara Choi Ban Do itu sosok muka yah standar, jauhlah dibandingin Kim Nam Gil; postur nggak terlalu tinggi, tengil, nyebelin, cuek. Pokoknya awal-awal sebel lah sama Choi Ban Do.

Tapi semakin dalam ceritanya, semakin bisa melihat dari sudut pandang Choi Ban Do, sungguh hati ini meleleh nggak kuat. Iya dia tengil, iya dia cuek, tapi sesungguhnya dia sayang banget sama Ma Jin Joo dan Seo Jin, anaknya. Dia kerja mati-matian sebagai sales obat, rela dikacungin sama Dokter Park untuk nyembunyiin perselingkuhan dese, entertaining orang-orang supaya mau beli obatnya, kadang-kadang harus merendah banget sampe diinjak-injak harga dirinya. Semua demi berusaha cari uang yang banyak demi keluarganya. Karena sering lembur, sampe rumah udah malam, udah capek, bawaannya pasti emosi, tapi nggak bisa cerita juga kondisi kerjaannya ke istrinya.

Sementara Ma Jin Joo sosok ibu rumah tangga lulusan universitas yang merasa duh gue harusnya bisa lebih daripada sekedar di rumah. Tapi dia memutuskan untuk mengurus rumah dan anaknya. Ibu-ibu pasti tahu stresnya ngurus anak sendiri sambil beresin rumah *ingat masa-masa nggak ada ART pas lebaran.* Nggak sempat ngurus sendiri karena udah tahulah anak balita itu clingy banget sama ibunya. Ke kamar mandi diikutin, ke mana-mana harus lihat Mama, rumah berantakan, beresin, diberantakin lagi, ulang 100 kali. Nggak sempat dandan, nggak sempat merhatiin diri sendiri. Pas keluar rumah penampilan busuk banget sampai bikin self-esteem jatuh. Suami pulang malam terus, nggak sempat ngobrol mendalam, dua-duanya emosi karena capek, jadi ya makin lama makin hambar.

Tapi ketika mereka balik lagi ke jaman muda dan tidak dihadapkan pada situasi mereka terikat pernikahan dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan, akhirnya baru sadar sebenarnya Choi Ban Do peduli banget sama Ma Jin Joo. Ya mungkin dulu salahnya tidak diutarakan, mungkin dia nggak pengen bikin pusing istrinya kalau tahu kondisi kerjaannya seperti itu, mungkin karena sibuk memenuhi kebutuhan hidup dia jadi nggak ingat merayakan ulang tahun pernikahan, memberi hadiah, dsb. Tapi pada dasarnya cuma Choi Ban Do sayang banget sama Ma Jin Joo. Cuma ya biasalah, cewek kan pengennya pasangannya romantis, perayaan itu adalah big deal, mau didengerin dan ditanyain hari-harinya gimana, dsb.

Scenes yang bikin saya nangis ada di episode 8, waktu mereka nangis diam-diam karena sama-sama kangen anak. Udahlah ya kalau menyangkut anak, ijk bisa sensitif banget. Di episode 10 nangis pas Choi Ban Do menemui Ma Jin Joo nangis sambil bilang dia juga kangen mertuanya (yang di kehidupan sekarang udah meninggal) dan kenapa dia selalu aja bikin segala sesuatunya jadi salah. BYAR KELAR GUE NANGIS!

Sementara adegan-adegan kecil lainnya yang bikin hati ini tersentuh adalah pas Ma Jin Joo selalu menolak dibawain buah peach sama ibunya karena Choi Ban Do alergi buah peach, padahal buah peach itu kesukaan Ma Jin Joo. Trus pas Ma Jin Joo keram karena mens, Choi Ban Do langsung beliin pembalut dan obat kram. Lalu dia datang bawa air putih karena tau Ma Jin Joo pasti minum obat sama minuman ringan dan refleks pijit-pijit punggung Ma Jin Joo. Ternyata pas mereka nikah, Ma Jin Joo emang selalu kesakitan pas mens dan Choi Ban Do langsung pijit-pijit, mau lagi ngantuk juga tetap dipijit. AKU MELELEH! :’)

Masih 10 episode dari kabarnya 16 episode. Tolong, ini tingkat kebaperan dan air mata yang dikeluarkan sudah banyak, semoga endingnya nggak mengecewakan. Saya #teamChoiBanDo banget, jadi walau Kim Nam Gil sungguhlah sempurna dan kayaknya masa depan Ma Jin Joo bisa lebih enak, tapi semoga itu bukan itu endingnya *harap-harap cemas*. That I hope it says, “marriage is hard, at some point we take each other for granted, we misunderstood, but love stays, love will find the way.” Jangan bikin air mata ini terbuang sia-sia! XD

Becuse This Is My First Life

because_this_is_my_first_life-p1

Drama ini baru saya lirik ketika sudah 6 episode penayangan. Awalnya nggak tertarik karena tokoh cowoknya kok ya kurang sedap dipandang mata; rambut alay belah tengah, kaku, baju ala nerd. Duh, sungguh kurang menggoda iman untuk dikecengin. Tapi karena banyak yang bilang bagus, baiklah mari kita coba.

Dan benar bagus!

Sinopsis: Nam Se Hee sewain kamar di rumahnya karena butuh dana tambahan buat bayar KPR rumahnya yang masih luama banget habisnya. Sementara Ji Ho butuh tempat tinggal yang nggak pake deposit. Ketemulah mereka. Eh, tiba-tiba kejebak kawin kontrak.

Tema kawin kontrak ini udah umum banget. Paling entar lama-lama cinta bersemi. Yang bikin beda adalah Nam Se Hee ini adalah cowok paling logis, rasional, muka datar, nggak punya emosi, yang cinta mati sama rumahnya dan kucingnya, lainnya nggak dianggap. Ketemu sama Ji Ho yang lebih lively, tapi polos banget, umur 30 tahun nggak pernah pacaran. Tinggallah serumah mereka berdua, jadinya hanya hal-hal absurd yang terjadi. Kocak banget!

Selain kocak, cinta yang muncul secara awkard dan berusaha dijelaskan pake logika oleh Nam Se Hee ini yang bikin makin jatuh cinta. Cinta tuh buat dia nggak ada, tapi dia nggak mampu menolak rasa itu tumbuh ketika Ji Ho datang. Makanya ketika dia merasakan emosi senang, cemburu, sayang, tapi berusaha dia jelaskan dengan rasional itu lucu banget. Bahkan pas mau cium Ji Ho aja dia jelaskan dulu perbedaan ciuman yang benar dan salah. Harus rasional. Oh tampang boleh nerd, tapi soal ciuman HE’S THE BEST! Diam-diam doi menyimpan kemampuan kissing yang daebak! *lalu mupeng*

Worry no more karena sealay apapun orang, tapi di tangan mbak capster salon, orang yang tadinya alay jadi ganteng banget bok. The power of poni di cowok-cowok Korea itu emang dahsyat ya (sekarang tahu kan kenapa poni Kaleb kayak jamur. Siapa tahu mirip Oppa-Oppa Korea, hahaha). Jadi sekarang kita bisa mengagumi wajah ganteng dan postur tinggi Nam Se Hee.

Ceritanya hangat, ringan, lucu banget, dan rasanya bikin berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sama ketika kita jatuh cinta pertama kali.

***

Jadi weekend-nya biasanya saya dihempaskan oleh kenyataan hidup di pernikahan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do, kemudian Senin-Selasa saya disadarkan lagi bahwa cinta itu sesuatu yang manis dan menyenangkan. Jadi ada semangat lagi deh untuk mencintai. #eaa

Kamu udah nonton 2 serial ini belum?