Review Baper: Go Back Couple

I need to write one post alone about this drama after it’s completely finished. Ceritanya masih baper banget karena tiba-tiba habis. Padahal rencananya 16 episode, tapi jadi 12 episode saja. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.  #eaaa

Btw, nanti saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia karena saya nggak mampu menemukan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang nggak terlalu cheesy.

The Casts

confession-spouses-son-ho-jun-and-jang-na-ra-2

*tepuk tangan buat akting 2 orang ini*

Kalau Jang Nara aktingnya jago banget mengaduk-aduk emosi mungkin orang bisa maklum karena di drama-drama sebelumnya dia pun bermain bagus. Tapi angkat topi untuk Son Ho Joon yang sungguhlah keren banget aktingnya. This is his first lead male role on a drama, but he did so good. Their chemistry is so good and belivable. When they are happy, I am happy; when they cry, I cry; when they are angry, I am angry too. That good.

The Story Line

It was so good because it was a story that everybody can relate too, especially if you’re married. It can happen to anyone, it might be you, it might be you friends, it might be your family. It is not just about love. Probably I wouldn’t cry much if it’s just about ordinary love, but it’s about family. You will experience the warmth of the family and the friendship. The relationship between Ma Jin Joo and her mother is making you want to hug your mother. They’re just lovable. You will fall in love and broken hearted as well. You will laugh and cry with them.

Everytime Choi Ban Do and Ma Jin Joo remembered Seo Jin, their toddler son, my heart was broken into pieces. Their journey to feel their love again touched my heart.

No, it’s not a all-episodes sad drama. In fact, it was funny and refreshing. But at the same time it was so touching that you feel all their pains and struggles.

It was a heart wrenching and heart warming story.

My Thoughts

A lot of viewers were torn between the lead male and second lead male. Choi Ban Do, as the lead male, was probably not everyone’s favorite in the beginning. Dia tengil, kelihatan ngeselin, dan cuek. Tipe suami yang nggak peduli kesusahan istrinya di rumah. Sementara Nam Gil kebalikannya, terlepas dari wajah gantengnya yang ampun bikin ngiler, dia adalah orang yang manis, sopan, dan perhatian.

But I am always #teamChoiBanDo because as you get deeper into the story, you’ll find out how hard he works for the family and how big his love for his own family and Ma Jin Joo’s family. Choi Ban Do adalah orang yang merasa bahwa sebagai suami dan ayah, dia yang harus melindungi keluarganya, berjuang mencari nafkah, berusaha tampak tough di depan istri dan anaknya dan mengesampingkan emosinya sendiri demi keluarganya bahagia. He hated his job, he hated how he had to kiss some asses to make his job worked, but he did it anyway because he’d do anything for his family.

As he struggled at work, he went back home to find out his wife feeling sorrow due to her mother death. He thought, he had to be the tough one, he had to be happy all the time to make his wife happy. He forgot that sometimes a wife needed his husband to cry with her to feel her sadness.

While Nam Gil probably liked Ma Jin Joo, who was trapped in 20 year old girl, because she gave him motherly love. Nam Gil was left by his mother, his father married again with other woman. So, Nam Gil had this hole in his heart. He didn’t have the love he needed from his mother and it made him feeling angry towards his mother. When Jin Joo came, he got all the love he needed from his mother. I guess, Nam Gil needed to heal his scar first. That is why, he was still confuse with his feeling. He liked Jin Joo but it wasn’t love. And it wasn’t as big as Ban Do’s love.

Nam Gil stayed in his place when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He knew the car was coming, but he didn’t move or try to save Jin Joo. Because the love wasn’t that big to willing to sacrifice his life. He didn’t try to hug or comfort Jin Joo when Jin Joo cried on bended knees. He just saw her tearing apart, just because he was confused with his feeling.

It was different with Ban Do. Ban Do wasn’t thinking when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He ran saving Jin Joo because Jin Joo’s life is his happiness. The moment when Ban Do decided to stay in the past just because he saw Jin Joo needed to be with her mother than be with him or Seo Jin.

As Ban Do said, “You who fill my heart is more important than Seo Jin who fill my mind”. Crying. Such a family man.

*BYAR. NANGIS LAH GUE!*

He was willing to lose the chance to meet his son just to make his wife happy. *tisu mana tisu*

Adegan lainnya yang sungguh ku suka banget dan bikin terharu adalah ketika ibu Jin Joo bilang, “You can live without your parents, but you can’t live without your child.”

*pel air mata*

I guess what Jin Joo needed after all this time was a closure with her mother. Dulu ibunya meninggal dan Jin Joo tidak bisa menemani di saat terakhir karena harus “menyelamatkan” Ban Do. Akhirnya dia terus-menerus merasa marah terhadap Ban Do dan merasa tidak punya perpisahan yang baik dengan ibunya. Ketika sekarang bisa ketemu ibunya dan ibunya melepaskan dia pergi, that was the closure she needed all this time. That made her able to focus on her future with her own family and leave her sorrow behind.

Senang banget karena pada akhirnya bukan cuma mereka menyadari bahwa mereka masih punya cinta yang besar, tapi akhirnya mereka berusaha keras mengembalikan keluarga mereka. :’)

The scenes

23668030_333266483811939_356199522101100544_n

Kelar. Bajir air mata banget di sini.

Banyaaaak banget adegan favorit:

  • Waktu Ban Do lihat Jin Joo kesakitan karena mens. Dia langsung ke apotek beli obat kram, pilih yang dosisnya paling baik buat Jin Joo, lalu membelikan pembalut. Bahkan dia ingat pembalutnya harus yang bersayap supaya Jin Joo merasa nyaman. Kemudian dia bawain air putih karena Jin Joo kebiasaan makan obat pake soda. Lalu dia memberikan tasnya sebagai alas supaya Jin Joo bisa merebahkan kepalanya di atas tas itu dan dia mulai pijat pinggang Jin Joo yang kram. Ternyata, dulu Ban Do selalu mijitin Jin Joo tiap dia kram, mau sampe ngantuk sekalipun. *boleh ku minta dipijitin juga?*
  • Semua adegan Jin Joo dengan ibunya. Terutama adegan terakhir waktu closure, ketika ibunya melepaskan Jin Joo. Sungguh ya semua ucapan ibunya pengen dijadiin quotes karena bagusss semua. Lalu ucapan terakhirnya adalah, “You can do anything if you raise a child.” *duh duh duh jangan nangis, jangan nangis. TIDAK, AKU PASTI NANGIS!*
  • Sebelum berpisah, Ibu Jin Joo bilang bahwa nanti ketika dia sudah tidak ada tolong kunjungi ayahnya dan hibur dia. Selama ini Jin Joo menyimpan kekesalan sama ayahnya, karena setahun setelah ibunya meninggal ayahnya bilang dia mau nikah lagi. Gimana bisaaa? Air mata Jin Joo aja belum kering, kok ayahnya tega menikah lagi. Ternyata oh ternyata, ayahnya sengaja bilang seperti itu supaya Jin Joo nggak merasa sedih. Dan sementara Jin Joo sibuk sama rasa dukanya yang berkepanjangan, Ban Do lah yang selalu mengunjungi dan menghibur ayah Jin Joo. *Nam Gil nggak ada apa-apanya kalau kayak gini. Hiks.*
  • Cinta Ban Do yang besar banget buat keluarga Jin Joo. Diam-diam Ban Do selalu memberikan uang ke ibu Jin Joo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal Ban Do sendiri mati-matian dalam pekerjaannya.
  • Waktu Ban Do memutuskan untuk membiarkan Jin Joo bersama ibunya walau artinya mereka nggak bakal bisa ketemu anaknya. Kebahagiaan Jin Joo lebih penting. *di sini saya kayaknya udah bengek nangis terus, deh*
  • Waktu Jin Joo bilang ke Ban Do, “Yeobo, let’s go to our home.” *iya, saya nangis lagi. Sudah jangan dihitung berapa kali saya nangis*
  • Ketika akhirnya Ban Do dan Jin Joo kembali ke masa sekarang dan bertemu anaknya. Mereka bertiga pelukan. *bengkak deh mata saya*
  • Kayaknya post ini nggak bakal tamat kalau saya ceritain semua adegan favorit soalnya banyak banget.

The Kiss

23667864_145083569462475_6596798586715897856_n

Won’t complain even if this the only kiss on the drama. A beautiful one.

The one and only kiss between Ban Do and Jin Joo. The kiss that worths all those tears. A simple kiss that tied the knot again. It’s beautiful. And most importantly you can see Ban Do and Jin Joo’s love through the kiss.

The Soundtrack
Lagu-lagunya bagus dan pas banget. Sampai kalau lagi dengerin lagunya, saya masih bisa tahu ini untuk adegan mana. Terlalu melekat.

The post-drama syndrome

Oh, jadi begini rasanya baper banget sama satu drama, ya. Padahal happy ending, tapi kayak ada perasaan hampa begitu selesai. Saya kayak mengalami satu journey yang terlalu mengaduk-aduk emosi, sampai saya harus mengulang berkali-kali tiap episode-nya untuk mencerna rasanya. Saya bahkan sampai menganalisis kenapa saya harus nangis berkali-kali nonton drama ini. Awalnya saya pikir karena waktu itu lagi PMS jadi lebih sensitif. Tapi kemudian saya tonton adegan yang sama di lain waktu ketika tidak PMS lagi dan hasilnya ya nangis juga. Malah untuk 2 episode terakhir, antisipasi supaya saya nggak nangis-nangis amat, malamnya saya lihat semua spoiler-nya di Instagram, yah walau belum ada teks, ya. Semua adegan yang berpotensi bikin sedih udah saya antisipasi. Paginya pas nonton, udah cek dulu bukan lagi PMS dan nggak lagi mens *hahahaha penting bok!* dan udah yakin nggak bakal nangis karena udah tahu adegannya. Ternyata ku salah menduga. Paham arti dari setiap adegannya akhirnya bikin saya nangis tersedu-sedu lagi. Sambil dalam hati bilang, “Sial, kenapa gue nangis? Kan gue udah persiapan!” *ambil tisu sekotak* *mata bengkak*

Dan kayaknya ini drama Korea satu-satunya yang bisa bikin saya nangis sesenggukan tiap episode. Dan sebel banget gitu karena awalnya saya pikir ini lucu. Iya emang lucu, tapi kalau udah mengharukan bikin nangis banjir. Baper banget karena rasanya terlalu dekat di hati, terlalu real, terlalu hangat, terlalu bagus. Oh ya, quotes di drama ini bagus-bagus semua rasanya pengen ditulis dan dikumpulkan di satu buku. Moral of the story is marriage is hard even though you have the love. But as long as you want to work that love out, you will find the way. :’)

 

Jadi kamu udah nonton Go Back Couple belum? Kalau udah cerita-cerita sama saya, yuk.

 

 

Advertisements

Quick Review: Go Back Couple & Because This Is My First Life

Dari 5 drama Korea yang saya tonton: While You Were Sleeping, Because This Is My First Life, Mad Dog, Go Back Couple, dan Revolutionary Love; belum ada yang tamat. Semuanya masih on going. Tapi ada 2 yang paling menarik banget buat saya: Because This Is My First Life dan Go Back Couple.

Go Back Couple

5130_gobackcouple_nowplay_small

Awalnya nonton drama ini karena ada Jang Nara. Suka banget sama dia sejak main di My Love Patzzi, tahun 2002. Udah 15 tahun yang lalu, cing! Dan mukanya doi awet muda aja, kayak waktu berhenti dan dia nggak bertambah tua. Ku harus menyembah keajaiban skin care Korea.

Sinopsis: Sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun (?) dan punya seorang anak balita. Kehidupan pernikahannya jadi hambar, penuh dengan rutinitas dan salah paham, sibuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lupa saling cinta. They’re growing apart. Satu waktu rasa muaknya memuncak dan mereka memutuskan cerai. Tiba-tiba mereka kembali ke masa kuliah, saat pertama kali ketemu. And the story begins… (again).

Karena poster serialnya yang lucu, saya pikir ini awalnya romcom dong, ya. Bakal ketawa ngakak-ngakak. Iya bener, ada yang lucu. Tapi yang tidak diantisipasi adalah………kenapa saya bisa nangis termehek-mehek waktu nonton? Bukan cuma satu, tapi di dua episode! (sejauh ini udah ada 10 episode. Yang bikin nangis episode 8 dan 10).

Sungguh drama yang mencabik-cabik emosi dan hati.

Selama sejarah nonton drakor, mau sesedih apapun, saya nggak pernah nangis. Ini tuh sampai nangis sesenggukan, kan ajaib yah. Hahaha.

Ternyata yang bikin nangis adalah karena sebagai orang yang menikah agak lamaan dikit dan punya seorang anak balita, jalan ceritanya relatable banget. Sibuk sama kerjaan, jalani rutinitas tiap hari, ngurus anak, kelelahan, stres, berantem. Saking terlalu dekatnya, saya suka ngomong, “Ah, gue tahu itu rasanya.” Langsung gloomy, sedih, trus pengen meluk suami dan anak. 😦 Marriage is not easy.

Tapi ketika mereka balik ke jaman 90an pas masih kuliah. Aduh, ini lucu. Jadi ingat masa-masa 90an semacam golden memories, trus kangen karena saat itu hidup rasanya lebih muda dan menyenangkan sekali. Saat naksir-naksiran satu kampus dan jadi semangat kuliah dan rasanya apa sih yang nggak bisa kita capai waktu itu. Ah, those naive thoughts.

Ketika awal Ma Jin Joo dan Choi Ban Do balik ke masa lalu, mereka happy banget, “Gila, ini waktunya gue restart semuanya. Nggak bakal bego lagi jatuh cinta ama dia, apalagi sampai nikah. Gue bakal pacarin orang yang dari dulu gue taksir dan have fun. Wohoo!”

Dan iya, mereka jadi dekat dengan gebetan masing-masing pas kuliah. Karena dengan mental age yang dewasa, tapi terperangkap di tubuh anak kuliahan, mereka jadi lebih pede dong untuk deketin gebetannya. Akhirnya gebetannya juga naksir. Sounds perfect, ya.

Tapi mereka lupa bahwa cinta dan bonding yang mereka punya selama 10 tahun nggak langsung hilang begitu saja. They still care for each other. Terutama ketika ingat anaknya; di mana kalau mereka kuliah berarti anaknya belum ada. Pas Ma Jin Joo sering nangis tersedu-sedu ingat anaknya dan Choi Ban Do kangen anaknya; duh sebagai ibu saya langsung berasa hati ini retak. Tahu banget rasanya, tahu banget sakitnya. Kayak jadi bingung, “Gue senang bisa mulai yang baru, bisa dekat sama gebetan gue, dunia kayaknya indah. Tapi gue kangen banget anak gue. Kalau gue ga nikah sama dia, gue ga bakal ada anak gue yang gue sayang banget.” Dilema abis. Hfft.

*garuk-garuk tembok*

Kim Nam Gil, sebagai second lead male, tuh mencuri perhatian banget. Wajah mah udah ganteng, postur tinggi tegap, baik hati, tajir melintir, care, hanya hati yang sedikit rapuh aja. Sementara Choi Ban Do itu sosok muka yah standar, jauhlah dibandingin Kim Nam Gil; postur nggak terlalu tinggi, tengil, nyebelin, cuek. Pokoknya awal-awal sebel lah sama Choi Ban Do.

Tapi semakin dalam ceritanya, semakin bisa melihat dari sudut pandang Choi Ban Do, sungguh hati ini meleleh nggak kuat. Iya dia tengil, iya dia cuek, tapi sesungguhnya dia sayang banget sama Ma Jin Joo dan Seo Jin, anaknya. Dia kerja mati-matian sebagai sales obat, rela dikacungin sama Dokter Park untuk nyembunyiin perselingkuhan dese, entertaining orang-orang supaya mau beli obatnya, kadang-kadang harus merendah banget sampe diinjak-injak harga dirinya. Semua demi berusaha cari uang yang banyak demi keluarganya. Karena sering lembur, sampe rumah udah malam, udah capek, bawaannya pasti emosi, tapi nggak bisa cerita juga kondisi kerjaannya ke istrinya.

Sementara Ma Jin Joo sosok ibu rumah tangga lulusan universitas yang merasa duh gue harusnya bisa lebih daripada sekedar di rumah. Tapi dia memutuskan untuk mengurus rumah dan anaknya. Ibu-ibu pasti tahu stresnya ngurus anak sendiri sambil beresin rumah *ingat masa-masa nggak ada ART pas lebaran.* Nggak sempat ngurus sendiri karena udah tahulah anak balita itu clingy banget sama ibunya. Ke kamar mandi diikutin, ke mana-mana harus lihat Mama, rumah berantakan, beresin, diberantakin lagi, ulang 100 kali. Nggak sempat dandan, nggak sempat merhatiin diri sendiri. Pas keluar rumah penampilan busuk banget sampai bikin self-esteem jatuh. Suami pulang malam terus, nggak sempat ngobrol mendalam, dua-duanya emosi karena capek, jadi ya makin lama makin hambar.

Tapi ketika mereka balik lagi ke jaman muda dan tidak dihadapkan pada situasi mereka terikat pernikahan dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan, akhirnya baru sadar sebenarnya Choi Ban Do peduli banget sama Ma Jin Joo. Ya mungkin dulu salahnya tidak diutarakan, mungkin dia nggak pengen bikin pusing istrinya kalau tahu kondisi kerjaannya seperti itu, mungkin karena sibuk memenuhi kebutuhan hidup dia jadi nggak ingat merayakan ulang tahun pernikahan, memberi hadiah, dsb. Tapi pada dasarnya cuma Choi Ban Do sayang banget sama Ma Jin Joo. Cuma ya biasalah, cewek kan pengennya pasangannya romantis, perayaan itu adalah big deal, mau didengerin dan ditanyain hari-harinya gimana, dsb.

Scenes yang bikin saya nangis ada di episode 8, waktu mereka nangis diam-diam karena sama-sama kangen anak. Udahlah ya kalau menyangkut anak, ijk bisa sensitif banget. Di episode 10 nangis pas Choi Ban Do menemui Ma Jin Joo nangis sambil bilang dia juga kangen mertuanya (yang di kehidupan sekarang udah meninggal) dan kenapa dia selalu aja bikin segala sesuatunya jadi salah. BYAR KELAR GUE NANGIS!

Sementara adegan-adegan kecil lainnya yang bikin hati ini tersentuh adalah pas Ma Jin Joo selalu menolak dibawain buah peach sama ibunya karena Choi Ban Do alergi buah peach, padahal buah peach itu kesukaan Ma Jin Joo. Trus pas Ma Jin Joo keram karena mens, Choi Ban Do langsung beliin pembalut dan obat kram. Lalu dia datang bawa air putih karena tau Ma Jin Joo pasti minum obat sama minuman ringan dan refleks pijit-pijit punggung Ma Jin Joo. Ternyata pas mereka nikah, Ma Jin Joo emang selalu kesakitan pas mens dan Choi Ban Do langsung pijit-pijit, mau lagi ngantuk juga tetap dipijit. AKU MELELEH! :’)

Masih 10 episode dari kabarnya 16 episode. Tolong, ini tingkat kebaperan dan air mata yang dikeluarkan sudah banyak, semoga endingnya nggak mengecewakan. Saya #teamChoiBanDo banget, jadi walau Kim Nam Gil sungguhlah sempurna dan kayaknya masa depan Ma Jin Joo bisa lebih enak, tapi semoga itu bukan itu endingnya *harap-harap cemas*. That I hope it says, “marriage is hard, at some point we take each other for granted, we misunderstood, but love stays, love will find the way.” Jangan bikin air mata ini terbuang sia-sia! XD

Becuse This Is My First Life

because_this_is_my_first_life-p1

Drama ini baru saya lirik ketika sudah 6 episode penayangan. Awalnya nggak tertarik karena tokoh cowoknya kok ya kurang sedap dipandang mata; rambut alay belah tengah, kaku, baju ala nerd. Duh, sungguh kurang menggoda iman untuk dikecengin. Tapi karena banyak yang bilang bagus, baiklah mari kita coba.

Dan benar bagus!

Sinopsis: Nam Se Hee sewain kamar di rumahnya karena butuh dana tambahan buat bayar KPR rumahnya yang masih luama banget habisnya. Sementara Ji Ho butuh tempat tinggal yang nggak pake deposit. Ketemulah mereka. Eh, tiba-tiba kejebak kawin kontrak.

Tema kawin kontrak ini udah umum banget. Paling entar lama-lama cinta bersemi. Yang bikin beda adalah Nam Se Hee ini adalah cowok paling logis, rasional, muka datar, nggak punya emosi, yang cinta mati sama rumahnya dan kucingnya, lainnya nggak dianggap. Ketemu sama Ji Ho yang lebih lively, tapi polos banget, umur 30 tahun nggak pernah pacaran. Tinggallah serumah mereka berdua, jadinya hanya hal-hal absurd yang terjadi. Kocak banget!

Selain kocak, cinta yang muncul secara awkard dan berusaha dijelaskan pake logika oleh Nam Se Hee ini yang bikin makin jatuh cinta. Cinta tuh buat dia nggak ada, tapi dia nggak mampu menolak rasa itu tumbuh ketika Ji Ho datang. Makanya ketika dia merasakan emosi senang, cemburu, sayang, tapi berusaha dia jelaskan dengan rasional itu lucu banget. Bahkan pas mau cium Ji Ho aja dia jelaskan dulu perbedaan ciuman yang benar dan salah. Harus rasional. Oh tampang boleh nerd, tapi soal ciuman HE’S THE BEST! Diam-diam doi menyimpan kemampuan kissing yang daebak! *lalu mupeng*

Worry no more karena sealay apapun orang, tapi di tangan mbak capster salon, orang yang tadinya alay jadi ganteng banget bok. The power of poni di cowok-cowok Korea itu emang dahsyat ya (sekarang tahu kan kenapa poni Kaleb kayak jamur. Siapa tahu mirip Oppa-Oppa Korea, hahaha). Jadi sekarang kita bisa mengagumi wajah ganteng dan postur tinggi Nam Se Hee.

Ceritanya hangat, ringan, lucu banget, dan rasanya bikin berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sama ketika kita jatuh cinta pertama kali.

***

Jadi weekend-nya biasanya saya dihempaskan oleh kenyataan hidup di pernikahan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do, kemudian Senin-Selasa saya disadarkan lagi bahwa cinta itu sesuatu yang manis dan menyenangkan. Jadi ada semangat lagi deh untuk mencintai. #eaa

Kamu udah nonton 2 serial ini belum?

 

(Bukan Sekedar) Review: Film Posesif

Wuih, ternyata saya hampir 1 bulan menghilang nggak nulis blog. Sebulanan ini lagi sibuk banget. Sibuk nonton drama Korea tiap  hari. Hahaha. Serius, saya lagi ngikutin 5 drama Korea yang bikin akhirnya sibuk mantengin oppa-oppa ganteng di sosmed. XD

Anyway, kemarin saya nonton film Indonesia di bioskop. Judulnya Posesif. Yang main Adipati Dolken dan Putri Marino. Cukup niat untuk nonton film ini karena saya sampai rela nonton di Plaza Senayan karena layarnya udah mulai dikit dan yang paling dekat di PS. Keniatan ini disebabkan banyak yang bilang film ini bagus karena temanya tentang relationship abusive alias kekerasan dalam hubungan. Berat ya bok!

unnamed (1).jpg

Baru di film ini, saya ngerasa Adipati Dolken cakep banget. Hihi. Plus, aktingnya bagus.

Sinopsis singkatnya tentang Yudhis dan Lala, anak SMA, yang pacaran. Lalu kemudian hubungannya mengarah ke kekerasan. Udah sesederhana itu.

Menurut saya, film ini bukan film yang menghibur, tapi film ini PENTING banget untuk ditonton. Bahwa kejadian kayak gini banyak terjadi di sekitar kita.

Mungkin ada yang mikir Lala kok bodoh banget ya, mau bolak-balik sama Yudhis padahal udah jelas Yudhis kasar, menyeramkan. Rela mengorbankan karir gemilangnya jadi atlet loncat indah, demi ngikutin Yudhis. Udahlah hampir dicekek, tapi malah Lala yang cariin Yudhis untuk kabur bareng.

Kelihatannya bodoh banget buat kita yang ada di hubungan yang normal. Tapi nggak semudah itu untuk keluar dari hubungan yang abusive.

Kebetulan saya punya beberapa pasien yang mengalami kekerasan dalam hubungannya. Dalam kasus saya, mereka semua sudah menikah. Mereka datang ke saya, bukan dengan keluhan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, mereka nggak sadar sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saya kasih contoh 2 pasien. Si Mawar dan Melati.

Mawar datang ke saya dengan keluhan insomnia sampai harus makan obat tidur dari dokter dengan dosis yang cukup tinggi, itu pun dia masih sulit tidur. Setelah ditelusuri, ternyata dia punya kecemasan suaminya akan membakar dirinya ketika tidur. Iya, dibakar. Dulu pernah ada kejadian di mana Mawar sedang tidur dan suaminya menyiram minyak tanah ke kamarnya. Untungnya tidak sampai nyala api. Suami Mawar ternyata mengalami bipolar disorders. Dia akan sangat baik ketika minum obat teratur, tetapi ketika tidak minum obat, moodnya langsung kacau balau. Masalahnya, suami Mawar merasa dia tidak bermasalah dan memutuskan untuk berhenti minum obat. Setiap malam Mawar hidup dengan penuh ketakutan. Mawar bukan orang yang berkekurangan, bahkan cukup kaya. Siangnya dia menghabiskan waktu untuk mempercantik diri di klinik kecantikan, lalu ikut kegiatan sosialisasi. Dia aktif di gereja.

Karena aktif di gereja pula, ia pun beberapa kali konseling mengenai pernikahannya. Namanya juga konseling di lembaga gereja ya, sarannya adalah bertahan dalam pernikahan dan doakan agar suami berubah. Begitu pula ketika ia cerita ke keluarganya, mereka menyarankan hal yang sama karena kita suci melarang adanya perceraian.

Sebagai orang yang cukup taat terhadap agamanya, didukung oleh lingkungan yang melarangnya untuk berpisah dari suaminya, Mawar akhirnya memutuskan untuk bertahan dalam pernikahannya walau konsekuensinya hidup penuh ketakutan dan dapat membahayakan jiwanya. Satu-satunya harapan adalah suaminya akan berubah.

Sekarang kita beralih ke cerita Melati. Melati menikah dengan suaminya tanpa proses pacaran lama. Waktu itu pertimbangannya, suaminya dari keluarga yang baik dan mapan. Selama 7 tahun menikah, mereka punya 2 anak. Semua orang memandang mereka sebagai keluarga yang bahagia. Tidak ada masalah dalam keluarganya, kata Melati. Hanya ada satu kekurangannya, suaminya hiperseksual dan suka meminta gaya aneh-aneh dalam berhubungan seks, sementara Melati merasa tidak mampu. Suaminya seringkali kecewa dan mencibir Melati. Sampai 2 tahun belakangan, Melati baru tahu suaminya selingkuh. Bukan cuma selingkuh, tetapi juga sering berhubungan seksual dengan PSK. Karena sakit hati, Melati pun selingkuh dengan temannya yang tinggal di luar kota sampai akhirnya ketahuan suaminya. Melati memutuskan untuk meninggalkan pacarnya dan mau memperbaiki pernikahannya.

Hubungan Melati dan suaminya terasa baik-baik aja. Waktu Melati ulang tahun, suaminya kasih surprise datang ke kantor sambil bawa kue. Waktu wedding anniversary, suaminya ajak makan di fine dining. Orang-orang di sekitarnya langsung bilang, “Suaminya baik dan romantis, ya.” Masalahnya, setiap habis melakukan kebaikan, suaminya akan mengungkit-ungkit kesalahan Melati, “Aku suami yang baik, kan? Nggak kayak kamu dulu selingkuh. Aku ini ML sama cewek lain nggak pake hati. Kamu itu pake hati. Beda banget!” Sampai akhirnya Melati merasa mikir dia memang bukan istri yang baik. Suaminya pun berkali-kali memaksanya untuk berhubungan seks, di saat Melati tidak mau.

Akhir-akhir ini Melati mendapati suaminya baru saja menginap di sebuah hotel. Waktu dikonfrontasi, si suami bilang iya dia emang nginep di hotel sama cewek, tapi nggak ML, kok *MUNGKIN GA, SIH?*. Kemudian dikonfrontasi ke ceweknya, ya tentu saja mereka ML lah. Suami langsung baik-baikin Melati, minta maaf, manis banget. Bikin Melati goyah.

Dalam kasus Melati, dia punya ibu yang sangat suportif yang sangat mendukungnya kalau mau bercerai. Melati pun merasa dia punya pekerjaan yang bagus, secara finansial stabil, dan punya rumah sendiri (rumah yang mereka tempati sekarang adalah punya keluarga Melati). Tapi Melati ragu untuk keluar dari pernikahannya karena berpikir, seharusnya Melati jadi istri yang baik supaya suaminya tidak selingkuh.

Dua kisah di atas cukup berbeda, tapi sama-sama mengalami kekerasan. Kekerasan itu bukan cuma mukul, lho. Tapi kayak di kasus Melati, dia mengalami emotional abuse dan sexual abuse.

Kalau kamu ada di hubungan di mana tiap saat pasanganmu merendahkanmu, membuat self-esteem mu jatuh, kamu akan tumbuh menjadi orang yang percaya bahwa apa yang dikatakan pasanganmu itu benar. Kayak misalnya waktu kecil, kamu dibilang bodoh terus sama orang tua, lama-lama kamu akan percaya bahwa kamu bodoh dan bahwa ya udah takdirnya kamu bakal gagal sebelum kamu berusaha.

Sama seperti orang-orang yang ada di hubungan yang penuh kekerasan, yang akan disasar duluan oleh abusernya adalah emosinya. Seperti kisah di film Posesif, Yudhis selalu bilang, “Cuma aku yang cinta kamu di dunia, aku nggak akan ninggalin kamu, cuma aku yang ngerti dan bakal melindungi kamu.” Begitu terus, sampai akhirnya Lala merasa tanpa Yudhis, dia nggak akan bisa bertahan di dunia ini.

Lala marah banget ketika Yudhis kasar dan langsung mutusin. Tapi Yudhis minta maaf sampai memohon-mohon dan baik-baikin Lala dan teman-temannya. Lala akhirnya mikir, “Oh, mungkin kali ini Yudhis akan berubah.”

Perempuan itu tipikalnya nurturing, seringkali mikir bahwa kita bisa mengubah seseorang. No, kita nggak bisa mengubah seseorang kalau orang itu nggak mau berubah. Kecil sekali kemungkinannya orang yang berlaku kasar akan tiba-tiba sekejap berubah.

Akhirnya ketika memaafkan, maka muncul honeymoon phase. Fase manis, baik, dunia milik berdua dan dia adalah pasangan sempurna.

Seperti ini fase kekerasan dalam hubungan:

Honeymoon phase (ketika semua dalam hubungan terasa sangat manis) –> mulai terjadi konflik dan ketegangan –> terjadi kekerasan. Lalu kemudian, abuser akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan balik lagi deh ke honeymoon phase. Siklusnya akan selalu seperti itu. Maka satu-satunya cara adalah keluar dari siklus itu.

Itupun yang terjadi sama Lala dan Yudhis serta Mawar dan Melati. Ketika Lala balik ke Yudhis dan tampak bahagia, saya sampai tegang sendiri di kursi dan berharap ini bukan ending. Karena kalau ending-nya mereka happy bersama-sama akan menjadi pesan yang salah untuk banyak orang dan merasa bahwa mereka hanya perlu bertahan lebih lama agar bahagia dengan pasangannya dan pasangannya akan berubah.

Walau endingnya mereka tidak bersama, tapi sesungguhnya saya agak kecewa juga karena Lala pisah dengan Yudhis bukan karena Lala MAU, tetapi karena akhirnya hati nurani Yudhis tumbuh dan merasa dia akan mengulang hal yang sama ke Lala sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan Lala. Masalahnya, di kehidupan nyata nggak banyak abuser yang akhirnya sadar bahwa perbuatannya ini bisa membahayakan. Seringnya mereka nggak sadar dan tetap memaksa pasangannya berada di hubungan ini.

Jadi, kalau kamu merasa kok ada ya orang mau bertahan dalam hubungan yang menyakitkan seperti itu, bodoh sekali. Bukan, mereka nggak bodoh kok, tapi secara emosional mereka sudah terganggu sehingga mereka akan merasa pantas berada dalam hubungan seperti. Please help them out. Jangan memberikan harapan semu, seperti mereka akan berubah, coba berdoa lebih banyak. Iya bagus kalau berubah, kalau misalnya malah makin parah dan temanmu dalam bahaya gimana? Si abuser butuh diterapi dan si korban juga butuh dapat tempat yang aman dulu.

Akhir kata, coba ajak teman-temannya nonton film Posesif biar awarnessnya lebih besar lagi dan nggak ada kejadian seperti Lala dan Yudhis lagi.

 

 

 

Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Review: Beauty and the Beast (2017)

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Pic from here

Sebagai pecinta Princess, tentu saja saya nggak akan melewatkan nonton Beauty and the Beast. Wong, pas tinggal beberapa hari lagi lahiran saya keukeuh nonton Cinderella di bioskop, kok. Sama seperti pas nonton Mirror Mirror (Snow White) dan Cinderella yang sendirian, nonton Beauty and the Beast pun sendirian. Alasannya karena nonton sama suami, udah pastilah dia nggak suka dan nggak paham kenapa begitu merasuknya film Disney Princess ini. Jadi daripada dia nonton sambil nguap, muka datar, dan nggak dapat esensi ngayalnya lebih baik nggak usah. Nonton sama teman juga nggak jadi opsi karena belum nemuin teman yang satu frekuensi tergila-gila sama Disney Princess. Jadi, paling benar adalah nonton sendirian. Dapat fangirlingnya, dapat me-time-nya. Super menyenangkan.

I LOVE IT SO MUCH! Aaak!

Beauty and the Beast versi live action-nya beneran dibikin sama dengan versi kartunnya. That is why I love it so much. Semua yang dulu cuma bisa dilihat dan dibayangkan di film kartun, sekarang jadi kenyataan lihat orang-orangnya beneran. Menurut saya, ini yang bikin film ini jadi bagus ya karena penonton jaman dahulunya akan bisa memunculkan ingatan masa kecilnya sehingga jadinya berkesan.

The details are superb. Istananya, kostum-kostum yang cantik nan ribet, peralatan rumah tangga yang bicara, even Gaston yang mirip banget sama kartunnya. Ditambah lagi lagu-lagunya yang sama kayak versi kartun dan nggak banyak diubah. It’s like seeing your childhood dream comes true. Senang dan terharu.

Secara akting, kayaknya sih biasa aja ya Emma Watson ini. Nggak jelek, tapi ya bukan yang luar biasa banget. Tapi saya ikutan berkaca-kaca sedih, ikutan senyum lebar bahagia, dan nyanyi lagu-lagunya di bioskop. Gila, itu 2 jam masuk ke dunia masa kecil lagi dan rasanya indah banget. Makanya mau aktingnya biasa aja, tapi untuk seorang fans berasa sampai hati banget dan jadi emosional karena memori yang indah dulu.

Oh ya, paling suka banget kostum Belle pas adegan terakhir dance sama pangeran. Putih bunga-bunga cantik. Tapi tentu saja adegan favorit adalah waktu Belle dansa dengan Beast pake dress warna kuning diiringi lagu Beauty and the Beast. Saya sambil nyanyi dengan mata berbinar-binar, ikutan bahagia akhirnya mereka saling jatuh cinta aja. Dan ini cuma tokoh dongeng, lho!

Soal adegan LGBT yang dihebohin orang-orang. Well, ini pendapat saya. Di dalam film itu emang ada karakter LeFou, seorang prajurit yang agak lemah gemulai. Bukan bencong, tapi ya perasaannya cukup sensitif dan perilakunya lembut seperti perempuan. Di masyarakat banyak kok yang kayak gini. Malahan sinetron Indonesia lebih parah dalam menggambarkan cowok lemah gemulai, yang benar-benar mirip bencong. Kalau ini masih kayak cowok lah. Nah, adegan gay yang dimaksud mungkin adegan tatap-tatapan LeFou sama satu cowok. Cuma berlangsung 1 detik. Sekejap aja. Mungkin ini yang dimaksud adegan gay. Orang yang nonton bisa sadar, bisa tidak, kalau yang dimaksud adalah gay. Kalau anak kecil mungkin nggak sadar sama sekali karena ya sekelebat, nggak terlalu penting. Analoginya sama kayak para LGBT ini ada di tengah masyarakat, kita tahu preferensi mereka berbeda, tapi ya udah. Mereka nggak ganggu, nggak vulgar, dan banyakan nggak tahu keberadaan mereka. Jadi nggak perlu takut, lebay, histeris bilang film ini mengajarkan anak-anak jadi LGBT. Doh, nggak sesederhana itu untuk jadi LGBT keleus! Sip, ya!

Malah, kalau boleh menilai, saya lebih khawatir adegan berantemnya dibandingkan adegan LGBT. Ada beberapa adegan berantem yang bikin saya sampai kaget, sih. Takutnya anak-anak lebih kaget. Itu aja yang jadi concern. Selebihnya, aman banget kok filmnya buat anak-anak.

Jadi kalau ditanya reviewnya, saya sih akan super bias karena saya suka banget princess begini. But seriously, it is a good movie. :’)

 

 

Kekoreaan di 2016

Sebagai pecinta Korea newbie, tahun 2016 adalah tahun di mana saya lumayan banyak nonton drama Korea. Awalnya karena tiap nenenin anak nggak tahu mau ngapain, apakah fokus sama wajah anak (bisaaaa, tapi ya bosen juga diliatin mulu, kan) atau main HP (ya seringan sih ini yang dilakukan). Bosen juga lama-lama.

Karena diracunin sama sebuah grup WA, akhirnya saya mulai lah iseng nonton drama Korea. Aksesnya gampang karena banyak web online yang bisa streaming drama Korea, trus bisa nonton pake iPad jadi bisa sambil tiduran, bawa ke kamar mandi, sambil masak, dsc. Bisa multitasking lah. *niat amat, buk!*

Jadi saya mau bikin daftar drama Korea apa aja yang berhasil saya tonton, sampai habis maupun tidak:

Cheese In The Trap (CITT)
Kayaknya saya mulai konsisten nonton drama Korea sejak CITT. Di sini juga saya mulai naksir abis-abisan sama Park Hae Jin karena pembawaannya yang misterius, tinggi, jarang senyum, tapi sekalinya senyum…..alamaaaaaak pingsan!

Ceritanya sendiri tentang anak kuliahan di mana cowoknya misterius, punya sisi kelam, dan naksir cewek berambut orange keriting jelek, nggak kaya, dan suka canggung. Walau temanya biasa aja, ceritanya menarik, dan chemisty Park Hae Jin dan Kim Go Eun dapet banget lah. Sayangnya, endingnya gantung. Ku tak suka ending gantung. Huhuhuhu! Tapi tetap ini salah satu drama yang saya suka banget.

Descendants of the Sun
Berhasil nonton sampai episode 7, tapi kemudian stop karena nggak tahan sama ceritanya yang menurut saya membosankan. Ah, maafkan saya DOTS lovers, kayaknya ini bukan cerita tipe saya. Penasaran sebenarnya sama Song Hye Kyo yang masih kece berat dan mahkluk ganteng Song Jong Ki dan memang sampai episode 7 itu bertahan karena kedua orang cakep ini. Tapi akhirnya menyerah sama ceritanya.

Aku pun akhirnya melewatkan hip Song Song Couple. Bye!

Madam Antoine
Tertarik nonton ini karena tokoh utamanya Psikolog. Jadi banyak kasus psikologi di drama ini, bisa sekalian refleksi lah. Kalau soal ceritanya sih biasa aja, si psikolog yang takut jatuh cinta, ternyata jatuh cinta sama peramal. Kisah cintanya biasa aja, tapi tetap saya nonton sampai terakhir. Ceritanya ringan, nggak njelimet, dan nggak sampai ngebosenin.

W – Two Worlds
Ceritanya absurd, tentang cowok di dalam komik yang jatuh cinta dengan cewek di dunia nyata. Tapi tiap episodenya bikin penasaran. Ini jarang terjadi saya penasaran tiap episode di drama Korea. Jalan ceritanya cepat, nggak bertele-tele, gambarnya bagus, endingnya juga oke.

Paling terutama adalah Lee Jong Suk dan Han Hyo Jo my laff! Chemistry mereka kuat banget di serial ini (kabarnya pas off screen pun begitu), kiss scenenya mantap (duh, adegan di penjara adalah favorit banget hihihi). Sampai sekarang masih suka stalking Jong Suk sama Hyo Jo karena serial ini.

Doctors
Penasaran setelah sekian lama mau lihat akting Park Shin Hye. Yah, walau dia bukan aktris favorit saya, tapi terakhir nonton dia pas The Heirs. Udah lama ya.

Menurut saya akting Kim Rae Won udah oke banget. Kissingnya juga mantap. Ealah dibalas datar sama Park Shin Hye (seperti biasa). Cerita percintaan mereka juga ya datar-datar aja, nggak ada halangan berarti, mulus kayak jalan tol, tanpa konflik, trus tiba-tiba tamat. Jiyah, kentang!

Fokus drama ini lebih ke konflik profesi dokter dan di rumah sakitnya. Itu pun yang bikin saya walau bosen tapi nonton sampai akhir karena saya suka cerita kedokteran.

Cinderella and Four Knights
Berharap ceritanya ala Cinderella, tapi kemudian cuma bertahan sampai 3 episode karena kok pemeran utamanya kurang ganteng, ya. Aku mah selemah itu kalau nonton drama Korea. Nggak ganteng, langsung cao. BHAY! Haha.

K2
Sebenarnya bukan tipe drama yang saya sukai. Banyakan berantem dan politik njelimetnya. Eh, tapi tahu-tahu saya bisa selesaiin sampai tamat. Kok tahu-tahu? Ya, karena saya sebenarnya masih ngarep ada banyak adegan romantisnya, tapi tiba-tiba habis. *penonton kuciwa*

Ceritanya tentang bodyguard yang jatuh cinta sama anak rahasia politikus. Yang dihighlight begitu, jadi ngarep ada banyak kisah percintaannya, dong. NGGAK. Dikiiiit banget, mana akting Yoona kaku dan keberadaan dia nggak begitu penting, kerjaan nangis mulu, lemah pula. Duh, suka nggak tahan karakter macam gini.

Bertahan karena Ji Chang Wook ganteng mampus. Tipe cowok Korea berkulit agak cokelat, mata belok. Jarang banget, kan. Trus malahan chemistry si bodyguard dan ibu tiri yang jahat lebih dapet.

Makanya pas tiba-tiba tamat, saya pun sampai bergumam, “LOH, udah selesai? MANAAA DRAMANYA?”.

Uncontrollably Fond
Penasaran sama Kim Woo Bin yang ganteng. Tapi lagi-lagi cuma berhasil sampai episode 5 atau 7. Dikarenakan……ini napa deh cowoknya udah sekarat tapi marah-marah muluk! Kesel ijk lihatnya! Udah gitu jalan ceritanya yang super lambat bikin tiap nonton ketiduran. Oke deh, kita kurang berjodoh Mas Woo Bin. Bhay!

Shopping King Louie
Ini ceritanya tentang cowok yang gila belanja, super tajir, hilang ingatan, lalu jatuh cinta sama cewek miskin dan polos. STD kan? Tapi karena sederhana dan lucu, jadi menarik untuk ditonton dan bikin ketawa.

Oh ya, ini juga belum saya selesaiin karena waktu itu banyak banget drama Korea yang lagi saya tonton. Tapi sisa 3 episode lagi bakal saya habisin.

The Man Living In Our House
Ceritanya tentang cowok yang tinggal di rumah mendiang ibu si cewek karena disinyalir adalah suami ibunya walau perbedaan umur jauh banget. Konflik bermulai dari situ. Ya tentu saja nanti si anak jatuh cinta dengan mantan suami ibunya. Nah, bingung, kan? Makanya ditonton. Hihihi.

Kim Young Kwang di sini cakep banget lah. Tinggi, badannya bagus, senyumannya bikin meleleh. Saya nonton sampai 13 episode tapi belum ditamatin. Ceritanya agak lambat dan membosankan. Tapi terlanjur nonton sampai banyak karena pesona Yong Kwang.

Seven First Kisses
Mini series super ngayal. Ceritanya cewek biasa-biasa aja yang bisa kencan sama 7 cowok ganteng (seperti Lee Jong Suk, Park Hae Jin, Ji Chang Wook, Lee Min Ho, dll). Satu episode paling 10 menit aja. Saking recehnya, nggak perlu mikir, nggak perlu eneg, udah nikmatin aja. Mayan buat ngendorin otak dan ngayal ala Cinderella. Hahaha.

Legend of the Blue Sea
Tentunya drama yang digadang-gadang bakal meraih rating tinggi ini bikin penasaran semua orang karena dibintangi oleh Lee Min Ho dan Jun Ji Hyun. Plus, ceritanya tentang Mermaid, syuting di Barcelona pula. Komplit, kan.

Tapi sungguh saya bosan banget sama ceritanya. Jalan cerita lambat, nggak bikin penasaran, banyakin ngandelin gambar bagus dan Lee Min Ho cakep (eaaa). Akhirnya saya stuck di episode 14. Dikirain episode 16 tamat, tapi ternyata tamatnya di episode 20. TIDAAAAK, lama amat bro!

Ya udah deh, nanti aja tamatinnya. Toh, nggak terlalu penasaran juga.

Romantic Doctor, Teacher Kim
Cerita kedokteran lagi, banyak kasus medis yang saya suka. Jadi ya saya tonton sampai habis. Tapi di balik cerita kedokteran, ada terselip cerita percintaan, walau nggak mendominasi. Munculnya baru pas di akhir-akhir. Tapi chemistry Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin benar-benar bikin gemas dan tersenyum-senyum sendiri saat menyaksikan mereka saling suka tapi malu-malu. Ku suka banget lah.

She Was Pretty
Ceritanya dua orang pas kecil saling jatuh cinta, terpisah jauh, baru ketemu pas udah gede. Tapi si cewek yang kecilnya cantik, pas udah besar jadi jelek, cowoknya nggak kenalin.

Yah, mirip cerita Cinderella, nanti berubah jadi cantik. Ceritanya sederhana, gampang ditebak, tapi karena ijk orangnya gampangan, jadi suka banget. Mana cowoknya walau nggak ganteng, tapi kok ya manis amat gitu ke ceweknya. Trus ceritanya happy ending sampai nikah dan punya anak. Awwww!

Doctor Stranger
Nonton drama lama ini karena lagi tergila-gila Jong Suk dan Park Hae Jin. Satu paket banget kan. Tentang kedokteran lagi. Tentu saja biasanya kalau tentang kedokteran pasti saya sampai tamat. Subjektif abis ya. Hahaha.

Ceritanya gabungan medis dan politik. Lumayan ribet tapi nggak sampai pusing. Jong Suk di sini jelek amat rambutnya keriting, tapi Park Hae Jin seperti biasa ganteng misterius, walau perannya agak jahat. Hahaha.

Oh My Venus
Lagi pengen cerita ringan, nemu Oh My Venus. So Ji Sub sebenarnya kurang ganteng dan ketuaan, tapi Shin Min Ah kece, plus fierce banget di sini. Ceritanya tentang cewek idola pas remaja, tapi besarnya jadi gendut yang jatuh cinta sama trainernya. Cerita ringan, nggak banyak konflik.

Suka sama percintaan yang lumayan dewasa, nggak kaku, nggak sok malu-malu dicium, tapi malah mupeng hahaha.

Goblin
Tentu saja saya terseret pada drama yang heboh banget ini. Tadinya saya skeptis banget sama drama ini karena apaan nih ceritanya ada-ada aja. Tapi yah karena semua orang nonton, saya pun nonton. Dan saya jatuh cinta.

Saya suka banget semua adegan bromance Goblin dan Grim Reaper karena kocak dan konyol banget. Saya suka chemistry Goblin dan Eun Tak, chemistry Grim Reaper dan Sunny. Saya suka gambar-gambarnya yang bagus banget. Paling penting, akting Gong Yoo dan Kim Go Eun benar-benar bagus. Kalau ketawa bikin ikut senang, kalau nangis, bikin sesak. Plus, jalan cerita yang memang menarik dan nggak membosankan. Favorit banget!

***

Jadi lumayanlah ya drama Korea yang saya tonton selama tahun 2016 ini. Saya jadi bisa me-time sebelum tidur dengan nonton drama Korea. Nah, ada rekomendasi drama Korea yang bagus lagi?

 

 

Diromantisin Jong Suk

Hellooo, kembali bahas drama Korea, yuk. Sebagai orang yang biasa aja, nggak pernah hapal muka pemainnya, apalagi nama-namanya yang njelimet, maka saya jadi penikmat yang angot-angotan. Kadang berusaha ngikutin serial Korea yang lagi heitz tapi suka stop di tengah jalan karena jalan ceritanya terlalu lambat dan membosankan.

Waktu lagi hangat-hangatnya drama Descendant of the Sun (DOTS), saya berusaha ngikutin banget karena… (1) Song Hye Kyo main di drama ini. (2) pemain cowoknya, yang belakangan diketahui bernama Jong Ki *iyees sekarang mah hapal* ganteng juga. Awal-awal nonton masih terasa membosankan, tapi tetap ditonton karena euforia orang-orang heboh banget sama serial ini. Saya beneran berusaha mendalami sampai episode 7, kemudian menyerah. Stop. Udah lah, saya nggak terlalu suka sama serial ini karena buat saya membosankan. Saya nggak suka serial perang walau dibumbui cinta-cintaan sekalipun. BHAY!

Malahan saya nonton drakor berjudul Madam Antoine yang kurang populer dan kurang ngetop di sana cuma karena tokoh utama cowoknya (yang entah namanya siapa) adalah seorang psikolog jadi banyak kisah unik berbau psikologis yang diceritain juga. Tapi ya secara drama cinta-cintaan ya biasa aja, plus tokoh utama perempuannya juga umurnya jauh lebih tua dan dikisahkan udah punya anak remaja. Jadi ceritanya naksir brondong gitu lah. Wakakak!

Kemudian teman-teman saya heboh nonton Doctors yang mana kabarnya udah ditunggu-tunggu dan bakal sukses karena yang main Park Shin Ye dan Kim Rae Won.

bd520dc0c25c7d122f23fd240ae614ed

Doctors

Ini ceritanya cowoknya jauh lebih tua juga. Jadi dipilih Kim Rae Won yang udah matang. Awalnya kisahnya menarik karena Park Shin Ye badass banget, bisa bela diri tendang sana tendang sini tapi pinter banget. Seru. Tapi lama-lama mulai membosankan dan datar-datar aja. Nggak ada konflik yang mencekam atau dramatis. Kisahnya berputar pada bagaimana dunia kedokteran dan bagaimana mereka menolong pasien dan banyak adegan operasi yang memperlihatkan otak dibuka, darah bermuncratan. Hahaha, kalau takut mending diskip aja. Tapi kisah percintaan mereka ya cukup mulus, tokoh lainnya secara garis besar nggak ada yang gangguin percintaan mereka. Saya sering ketiduran di tengah-tengah nonton, tapi ya tetap masih dilanjutkan karena pada dasarnya saya suka kisah berbau medis, plus ya tanggung juga keleus udah nonton sampai 14 episode. Hahaha. Oh ya, seperti biasa Park Shin Ye kalau ciuman datar banget jadi emosinya nggak tersampaikan dengan baik.

Lalu muncullah W – Two Worlds di mana tiap orang yang nonton bilang ini bagusss banget dan unik ceritanya. Berbau fiksi. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik cerita seperti ini, terutama karena dulu saya nonton You Who Came From The Stars yang dihebohkan orang-orang tapi saya nonton biasa aja karena mikirnya: ngapain pacaran sama alien, sik?! Plus tokoh utama pria di serial ini si Lee Jong Suk, yang mana dulu dia main di drama Pinnochio sama Park Shin Ye, tapi di situ dia kurang ganteng. Cetek ya alasannya. Hahaha.

lee-jong-suk-pinocchio

dek Jong Suk kala itu

Sudah lupakan tampang kucel dan rambut aneh dek Jong Suk di Pinnochio. Seiring berjalannya waktu di drama itu dia jadi ganteng kok, tapi kurang berkarisma aja. Hihihi.

Kemudian saya mulai menonton serial W.

w45

W – two worlds

W ini dibintangi Lee Jong Suk sebagai Kang Chul dan Han Hyo Joo sebagai Oh Yeon Joo. Saking bodohnya dalam menghapal nama Korea, ini aja saya harus googling nama mereka dulu. Hihihi.

Oh ya, ini sinopsisnya begini berdasarkan Wikipedia:

Cardiothoracic surgeon Oh Yeon-joo’s (Han Hyo-joo) father mysteriously went missing while writing the last chapter of his webtoon “W”. Yeon-joo goes to his office and is shocked to see a scene of a bloodied Kang Cheol (Lee Jong-suk), the main character of W, on her father’s monitor. While reading something left behind by her father, a hand from the monitor pulled her in. She found herself on the rooftop of a building, next to man lying down in blood. She manages to save him but is shocked to realise that the person she saved was Kang Cheol. She then found out that she can only enter and leave the webtoon based on Kang Cheol’s change in feelings.

IYA, jadi ini kisah antara dunia nyata dan dunia komik alias webtoon. Unik banget, kan! Ditambah lagi dibumbui oleh thriller di mana penjahatnya sampai sekarang belum ketahuan siapa.

Tiap episode dibikin tegang dan pasti diakhiri penasaran. Jalan ceritanya cepat, Yeon Joo sebagai tokoh utama cewek kocak dan nggak menye-menye, plus Kang Chul karismanya bertebaran ke mana-mana, lucu, dan manis banget ya ampun. Boleh nggak saya simpan di lemari rumah saya?

Yang paling menyenangkan dari serial ini adalah buanya amat skinshipnya, plus kiss hampir di tiap episode. Duh, Mamak suka lah yang beginian. Hahaha. Udah gitu intensitas kiss-nya semakin meningkat. Duh duh, begini dong kalau harus adegan romantis, nggak datar sama sekali. Chemistry mereka berdua pun klop banget.

 

maxresdefault

Ciuman pertama. Masih biasa aja yes.

13745172_952526124856920_1303035504_n

Kiss kedua, di kamar mandi sambil pegang pistol. Duh duh!

episode_5_kiss_scene

Kiss ketiga di atap rumah sakit.

hqdefault

Dan inilah kiss favorit Mamak! Kiss keempat, deep kiss. OMGGGGG!

Selain skinship dan kiss yang bertebaran di mana-mana, adegan-adegannya pun manis banget. Duh, mau dong diiketin rambutnya sama Jong Suk. Hahaha.

Tapi drama ini bukan soal romantis-romantisan aja, karena di akhir episode 7 kesukaan saya karena berisikan adegan super romantis, selanjutnya banyak adegan tegang dan bikin penasaran, plus tampaknya si tokoh jahat mulai menampakkan diri dan mengguncang dunia mereka, deh *apa deh gue*.

Jadi, kamu udah nonton W belum? 😉

PS: semua foto bukan punya saya dan dicomot dari google image.

Seberapa Kenal?

Dari sekian banyak interview cast AADC di Youtube yang rata-rata pertanyaan sama dan kayaknya Mbak Mirles, Riri Riza, dan semua karakter AADC punya jawaban default untuk pertanyaan yang sama itu, ada satu video yang pertanyaannya cukup beda.

Dian dan Nico saling mewawancarai satu sama lain mengenai karakter Cinta dan Rangga. Dari pembicaraan mereka mengalirlah conversation seberapa dalamnya mereka kenal karakter kedua tokoh ini di film. Paling suka Nico kayaknya beneran kenal karakter Rangga dengan baik sampai dia yakin dengan semua jawabannya dan mikirin detil-detilnya. Sementara Dian kadang-kadang suka ketukar antara karakter Dian atau Cinta.

Suka banget juga karena mereka cukup cerdas menjawabnya. 🙂

 

#masihbelummoveondariAADC

 

Demi Iron Man dan Rangga

Sebagai mamak-mamak pekerja tukang galau, kalau mau nonton di bioskop itu sejak melahirkan nggak segampang, “Ih, ada film bagus. Beli tiket, yuk!” Capcus ke bioskop ngantri tiket. Kelar.

Kalau sekarang, mau ninggalin beberapa jam di luar jam kantor berasa guilty feeling, “KOK AKU MENTINGIN NONTON FILM DARIPADA MAIN SAMA ANAK?” Galau! Belum lagi kalau ditinggalin bentar berarti asip kepake. Duh, meres asip kan mayan capek ya.

Karena beberapa kegalauan di ataslah maka sampai sekarang jaraaaang banget nonton bioskop. Pertimbangan nonton bioskop adalah harus film yang disuka banget dan reviewnya bagus. Review jelek walau kayaknya bakal suka, BHAY!

Nah, minggu ini ada 2 film yang pengen banget ditonton: Civil War dan AADC2. Civil War ini pengen banget nonton bukan karena film Captain America, tapi karena ada Robert Downey Jr si Iron Man. Kalau AADC2, ini mah sebagai anak generasi remaja 2000-an wajib bener ditonton, demi Nicholas Saputra my lafff! *geser Cinta*. Maka diputuskanlah ini saat yang tepat untuk mengakhiri masa hibernasi nonton bioskop.

Nonton bioskop aja persiapannya banyak. Pertama nonton Civil War sama suami. Waktu itu saya libur, suami pun khusus cuti. Kita nggak bisa nonton malam-malam karena Kaleb kalau tidur malam maunya sama saya dan nyusu langsung. Kalau sama Opungnya dia malah hawanya main dan nggak tidur. Lagipula dia masih bangun 2-3 jam sekali buat nyusu jadi kasian Opungnya nanti nggak tidur. Jadi wajib nonton siang atau sore hari.

Karena hari itu libur dan supaya nggak merasa bersalah, siangnya ajak Kaleb dulu jalan-jalan ke mall dan main-main sambil kita antri tiket. Pas filmnya mau main, minta Opungnya jemput Kaleb ke mall. Walau pas serah terima ke Opung, Kaleb nangis yah tapi mayanlah udah disogok main di mall.

Untungnya Civil War bagus gus gus! Saya ini bukan penggemar Avengers, walau tiap filmnya selalu nonton. Soalnya mikir, idih lawannya segitu doang kok ya butuh superheroes segambreng. Cih, lemah! Tapi di Civil War ini musuhnya emang cuma satu, tapi worth it banget dilawan sama segambreng superheroes karena dia bukan superheroes yang kuat, otot segede gaban, menakutkan, tapi lebih ke dia nyerang psikis dan emosi si superheroes. Semacam psikopat lah. Pantes banget dilawan banyak jagoan. Dan tentu saja apapun alasannya, idolaku adalah #teamironman. Wohooo! Oh ya, kalau nonton jangan beranjak karena ada 2 scenes tambahan setelah filmnya selesai.

***

Film kedua yang wajib ditonton adalah AADC2. Ini udah sounding dari beberapa bulan sebelumnya ke teman kantor sedivisi kalau kita wajib nonton bareng. Kenapa pilihannya adalah geng isinya cewek-cewek semua karena hanya teman wanitalah yang bisa diajak ngiler berjamaah memandangi kegantengan Nicholas Saputra. Lagipula 14 tahun yang lalu nontonnya sama sepupu cowok (duh, kasian amat akika!) yang sekarang kayaknya doi mendingan nonton ama istrinya. Hahaha!

Nontonnya di hari Jumat pas jam istirahat kantor yang panjang. Kita ini ijin ke bos loh. Bos kece kita pun oke aja. Dari pilihan bioskop yang sekiranya sepi dan nggak ngantri dipikirkan baik-baik.

Pilihan yang tepat sekali (ucapkan dengan nada mbak Pizza Hut) nonton bareng cewek-cewek karena…. sepanjang film kita komen tiada henti. Apalagi kalau Rangga muncul.. aww aww awww! Trus ketawa ngikik, mesem-mesem, tersipu malu. Ini yang digombalin Rangga siapa sik, kok kita yang heboh sendiri. Senangnya lagi sebioskop yang rata-rata seumuran juga reaksinya heboh kayak kita.

Duh, nostalgia masa remaja banget!

Terlepas dari filmnya yang saya rasa durasinya cukup panjang dan geng Cinta yang chemistry-nya oke sih tapi kurang greget dikit lagi. Plus ada beberapa adegan yang dipaksain dan nggak masuk akal, tapiiii kalau udah disuguhin pemandangan Nicholas Saputra dengan suara berat dan puisi-puisinya mah KELAR SUDAH! Semua penilaian jadi subjektif dan termaafkan semuanya. Bagus banget, Mak! *elap iler*

Buat saya yang paling mencuri perhatian justru Adinia Wirasti. Dibandingkan jaman dulu doi yang terlihat paling kucel, sekarang doi cantiiiik banget dengan kulitnya yang berwarna kecoklatan tapi bersih, rambut keritingnya yang kece berat, plus bentuk badannya yang hasil olahraga jadi nggak kelihatan lemak-lemak. Duh, kapanlah saya bisa punya badan bagus kayak gitu *dilempar barbel*. Di film, Karmen ini mau pake baju cuma kaos melar dan celana cutbray dan bandana aja langsung kelihatan kece. Lah saya kalau pakai kayak gitu kok ya berasa jelek banget. Jadi di antara Geng Cinta ini Karmen lah yang paling oke. Sementara, maaf banget, sejujurnya yang lainnya kelihatan udah emak-emak. Kenyataan nggak bisa bohong. LOL! *tos sama Geng Cinta*

IMG_5710

Geng Cinta ala ala!

Pokoknya minggu ini sangat menyenangkan dengan adanya 2 film ini. Mamak-mamak yang bosen ini jadi punya energi baru buat…. ngangon anak lagi. Hihihi.