Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Advertisements

Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Review: Beauty and the Beast (2017)

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Pic from here

Sebagai pecinta Princess, tentu saja saya nggak akan melewatkan nonton Beauty and the Beast. Wong, pas tinggal beberapa hari lagi lahiran saya keukeuh nonton Cinderella di bioskop, kok. Sama seperti pas nonton Mirror Mirror (Snow White) dan Cinderella yang sendirian, nonton Beauty and the Beast pun sendirian. Alasannya karena nonton sama suami, udah pastilah dia nggak suka dan nggak paham kenapa begitu merasuknya film Disney Princess ini. Jadi daripada dia nonton sambil nguap, muka datar, dan nggak dapat esensi ngayalnya lebih baik nggak usah. Nonton sama teman juga nggak jadi opsi karena belum nemuin teman yang satu frekuensi tergila-gila sama Disney Princess. Jadi, paling benar adalah nonton sendirian. Dapat fangirlingnya, dapat me-time-nya. Super menyenangkan.

I LOVE IT SO MUCH! Aaak!

Beauty and the Beast versi live action-nya beneran dibikin sama dengan versi kartunnya. That is why I love it so much. Semua yang dulu cuma bisa dilihat dan dibayangkan di film kartun, sekarang jadi kenyataan lihat orang-orangnya beneran. Menurut saya, ini yang bikin film ini jadi bagus ya karena penonton jaman dahulunya akan bisa memunculkan ingatan masa kecilnya sehingga jadinya berkesan.

The details are superb. Istananya, kostum-kostum yang cantik nan ribet, peralatan rumah tangga yang bicara, even Gaston yang mirip banget sama kartunnya. Ditambah lagi lagu-lagunya yang sama kayak versi kartun dan nggak banyak diubah. It’s like seeing your childhood dream comes true. Senang dan terharu.

Secara akting, kayaknya sih biasa aja ya Emma Watson ini. Nggak jelek, tapi ya bukan yang luar biasa banget. Tapi saya ikutan berkaca-kaca sedih, ikutan senyum lebar bahagia, dan nyanyi lagu-lagunya di bioskop. Gila, itu 2 jam masuk ke dunia masa kecil lagi dan rasanya indah banget. Makanya mau aktingnya biasa aja, tapi untuk seorang fans berasa sampai hati banget dan jadi emosional karena memori yang indah dulu.

Oh ya, paling suka banget kostum Belle pas adegan terakhir dance sama pangeran. Putih bunga-bunga cantik. Tapi tentu saja adegan favorit adalah waktu Belle dansa dengan Beast pake dress warna kuning diiringi lagu Beauty and the Beast. Saya sambil nyanyi dengan mata berbinar-binar, ikutan bahagia akhirnya mereka saling jatuh cinta aja. Dan ini cuma tokoh dongeng, lho!

Soal adegan LGBT yang dihebohin orang-orang. Well, ini pendapat saya. Di dalam film itu emang ada karakter LeFou, seorang prajurit yang agak lemah gemulai. Bukan bencong, tapi ya perasaannya cukup sensitif dan perilakunya lembut seperti perempuan. Di masyarakat banyak kok yang kayak gini. Malahan sinetron Indonesia lebih parah dalam menggambarkan cowok lemah gemulai, yang benar-benar mirip bencong. Kalau ini masih kayak cowok lah. Nah, adegan gay yang dimaksud mungkin adegan tatap-tatapan LeFou sama satu cowok. Cuma berlangsung 1 detik. Sekejap aja. Mungkin ini yang dimaksud adegan gay. Orang yang nonton bisa sadar, bisa tidak, kalau yang dimaksud adalah gay. Kalau anak kecil mungkin nggak sadar sama sekali karena ya sekelebat, nggak terlalu penting. Analoginya sama kayak para LGBT ini ada di tengah masyarakat, kita tahu preferensi mereka berbeda, tapi ya udah. Mereka nggak ganggu, nggak vulgar, dan banyakan nggak tahu keberadaan mereka. Jadi nggak perlu takut, lebay, histeris bilang film ini mengajarkan anak-anak jadi LGBT. Doh, nggak sesederhana itu untuk jadi LGBT keleus! Sip, ya!

Malah, kalau boleh menilai, saya lebih khawatir adegan berantemnya dibandingkan adegan LGBT. Ada beberapa adegan berantem yang bikin saya sampai kaget, sih. Takutnya anak-anak lebih kaget. Itu aja yang jadi concern. Selebihnya, aman banget kok filmnya buat anak-anak.

Jadi kalau ditanya reviewnya, saya sih akan super bias karena saya suka banget princess begini. But seriously, it is a good movie. :’)

 

 

Kekoreaan di 2016

Sebagai pecinta Korea newbie, tahun 2016 adalah tahun di mana saya lumayan banyak nonton drama Korea. Awalnya karena tiap nenenin anak nggak tahu mau ngapain, apakah fokus sama wajah anak (bisaaaa, tapi ya bosen juga diliatin mulu, kan) atau main HP (ya seringan sih ini yang dilakukan). Bosen juga lama-lama.

Karena diracunin sama sebuah grup WA, akhirnya saya mulai lah iseng nonton drama Korea. Aksesnya gampang karena banyak web online yang bisa streaming drama Korea, trus bisa nonton pake iPad jadi bisa sambil tiduran, bawa ke kamar mandi, sambil masak, dsc. Bisa multitasking lah. *niat amat, buk!*

Jadi saya mau bikin daftar drama Korea apa aja yang berhasil saya tonton, sampai habis maupun tidak:

Cheese In The Trap (CITT)
Kayaknya saya mulai konsisten nonton drama Korea sejak CITT. Di sini juga saya mulai naksir abis-abisan sama Park Hae Jin karena pembawaannya yang misterius, tinggi, jarang senyum, tapi sekalinya senyum…..alamaaaaaak pingsan!

Ceritanya sendiri tentang anak kuliahan di mana cowoknya misterius, punya sisi kelam, dan naksir cewek berambut orange keriting jelek, nggak kaya, dan suka canggung. Walau temanya biasa aja, ceritanya menarik, dan chemisty Park Hae Jin dan Kim Go Eun dapet banget lah. Sayangnya, endingnya gantung. Ku tak suka ending gantung. Huhuhuhu! Tapi tetap ini salah satu drama yang saya suka banget.

Descendants of the Sun
Berhasil nonton sampai episode 7, tapi kemudian stop karena nggak tahan sama ceritanya yang menurut saya membosankan. Ah, maafkan saya DOTS lovers, kayaknya ini bukan cerita tipe saya. Penasaran sebenarnya sama Song Hye Kyo yang masih kece berat dan mahkluk ganteng Song Jong Ki dan memang sampai episode 7 itu bertahan karena kedua orang cakep ini. Tapi akhirnya menyerah sama ceritanya.

Aku pun akhirnya melewatkan hip Song Song Couple. Bye!

Madam Antoine
Tertarik nonton ini karena tokoh utamanya Psikolog. Jadi banyak kasus psikologi di drama ini, bisa sekalian refleksi lah. Kalau soal ceritanya sih biasa aja, si psikolog yang takut jatuh cinta, ternyata jatuh cinta sama peramal. Kisah cintanya biasa aja, tapi tetap saya nonton sampai terakhir. Ceritanya ringan, nggak njelimet, dan nggak sampai ngebosenin.

W – Two Worlds
Ceritanya absurd, tentang cowok di dalam komik yang jatuh cinta dengan cewek di dunia nyata. Tapi tiap episodenya bikin penasaran. Ini jarang terjadi saya penasaran tiap episode di drama Korea. Jalan ceritanya cepat, nggak bertele-tele, gambarnya bagus, endingnya juga oke.

Paling terutama adalah Lee Jong Suk dan Han Hyo Jo my laff! Chemistry mereka kuat banget di serial ini (kabarnya pas off screen pun begitu), kiss scenenya mantap (duh, adegan di penjara adalah favorit banget hihihi). Sampai sekarang masih suka stalking Jong Suk sama Hyo Jo karena serial ini.

Doctors
Penasaran setelah sekian lama mau lihat akting Park Shin Hye. Yah, walau dia bukan aktris favorit saya, tapi terakhir nonton dia pas The Heirs. Udah lama ya.

Menurut saya akting Kim Rae Won udah oke banget. Kissingnya juga mantap. Ealah dibalas datar sama Park Shin Hye (seperti biasa). Cerita percintaan mereka juga ya datar-datar aja, nggak ada halangan berarti, mulus kayak jalan tol, tanpa konflik, trus tiba-tiba tamat. Jiyah, kentang!

Fokus drama ini lebih ke konflik profesi dokter dan di rumah sakitnya. Itu pun yang bikin saya walau bosen tapi nonton sampai akhir karena saya suka cerita kedokteran.

Cinderella and Four Knights
Berharap ceritanya ala Cinderella, tapi kemudian cuma bertahan sampai 3 episode karena kok pemeran utamanya kurang ganteng, ya. Aku mah selemah itu kalau nonton drama Korea. Nggak ganteng, langsung cao. BHAY! Haha.

K2
Sebenarnya bukan tipe drama yang saya sukai. Banyakan berantem dan politik njelimetnya. Eh, tapi tahu-tahu saya bisa selesaiin sampai tamat. Kok tahu-tahu? Ya, karena saya sebenarnya masih ngarep ada banyak adegan romantisnya, tapi tiba-tiba habis. *penonton kuciwa*

Ceritanya tentang bodyguard yang jatuh cinta sama anak rahasia politikus. Yang dihighlight begitu, jadi ngarep ada banyak kisah percintaannya, dong. NGGAK. Dikiiiit banget, mana akting Yoona kaku dan keberadaan dia nggak begitu penting, kerjaan nangis mulu, lemah pula. Duh, suka nggak tahan karakter macam gini.

Bertahan karena Ji Chang Wook ganteng mampus. Tipe cowok Korea berkulit agak cokelat, mata belok. Jarang banget, kan. Trus malahan chemistry si bodyguard dan ibu tiri yang jahat lebih dapet.

Makanya pas tiba-tiba tamat, saya pun sampai bergumam, “LOH, udah selesai? MANAAA DRAMANYA?”.

Uncontrollably Fond
Penasaran sama Kim Woo Bin yang ganteng. Tapi lagi-lagi cuma berhasil sampai episode 5 atau 7. Dikarenakan……ini napa deh cowoknya udah sekarat tapi marah-marah muluk! Kesel ijk lihatnya! Udah gitu jalan ceritanya yang super lambat bikin tiap nonton ketiduran. Oke deh, kita kurang berjodoh Mas Woo Bin. Bhay!

Shopping King Louie
Ini ceritanya tentang cowok yang gila belanja, super tajir, hilang ingatan, lalu jatuh cinta sama cewek miskin dan polos. STD kan? Tapi karena sederhana dan lucu, jadi menarik untuk ditonton dan bikin ketawa.

Oh ya, ini juga belum saya selesaiin karena waktu itu banyak banget drama Korea yang lagi saya tonton. Tapi sisa 3 episode lagi bakal saya habisin.

The Man Living In Our House
Ceritanya tentang cowok yang tinggal di rumah mendiang ibu si cewek karena disinyalir adalah suami ibunya walau perbedaan umur jauh banget. Konflik bermulai dari situ. Ya tentu saja nanti si anak jatuh cinta dengan mantan suami ibunya. Nah, bingung, kan? Makanya ditonton. Hihihi.

Kim Young Kwang di sini cakep banget lah. Tinggi, badannya bagus, senyumannya bikin meleleh. Saya nonton sampai 13 episode tapi belum ditamatin. Ceritanya agak lambat dan membosankan. Tapi terlanjur nonton sampai banyak karena pesona Yong Kwang.

Seven First Kisses
Mini series super ngayal. Ceritanya cewek biasa-biasa aja yang bisa kencan sama 7 cowok ganteng (seperti Lee Jong Suk, Park Hae Jin, Ji Chang Wook, Lee Min Ho, dll). Satu episode paling 10 menit aja. Saking recehnya, nggak perlu mikir, nggak perlu eneg, udah nikmatin aja. Mayan buat ngendorin otak dan ngayal ala Cinderella. Hahaha.

Legend of the Blue Sea
Tentunya drama yang digadang-gadang bakal meraih rating tinggi ini bikin penasaran semua orang karena dibintangi oleh Lee Min Ho dan Jun Ji Hyun. Plus, ceritanya tentang Mermaid, syuting di Barcelona pula. Komplit, kan.

Tapi sungguh saya bosan banget sama ceritanya. Jalan cerita lambat, nggak bikin penasaran, banyakin ngandelin gambar bagus dan Lee Min Ho cakep (eaaa). Akhirnya saya stuck di episode 14. Dikirain episode 16 tamat, tapi ternyata tamatnya di episode 20. TIDAAAAK, lama amat bro!

Ya udah deh, nanti aja tamatinnya. Toh, nggak terlalu penasaran juga.

Romantic Doctor, Teacher Kim
Cerita kedokteran lagi, banyak kasus medis yang saya suka. Jadi ya saya tonton sampai habis. Tapi di balik cerita kedokteran, ada terselip cerita percintaan, walau nggak mendominasi. Munculnya baru pas di akhir-akhir. Tapi chemistry Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin benar-benar bikin gemas dan tersenyum-senyum sendiri saat menyaksikan mereka saling suka tapi malu-malu. Ku suka banget lah.

She Was Pretty
Ceritanya dua orang pas kecil saling jatuh cinta, terpisah jauh, baru ketemu pas udah gede. Tapi si cewek yang kecilnya cantik, pas udah besar jadi jelek, cowoknya nggak kenalin.

Yah, mirip cerita Cinderella, nanti berubah jadi cantik. Ceritanya sederhana, gampang ditebak, tapi karena ijk orangnya gampangan, jadi suka banget. Mana cowoknya walau nggak ganteng, tapi kok ya manis amat gitu ke ceweknya. Trus ceritanya happy ending sampai nikah dan punya anak. Awwww!

Doctor Stranger
Nonton drama lama ini karena lagi tergila-gila Jong Suk dan Park Hae Jin. Satu paket banget kan. Tentang kedokteran lagi. Tentu saja biasanya kalau tentang kedokteran pasti saya sampai tamat. Subjektif abis ya. Hahaha.

Ceritanya gabungan medis dan politik. Lumayan ribet tapi nggak sampai pusing. Jong Suk di sini jelek amat rambutnya keriting, tapi Park Hae Jin seperti biasa ganteng misterius, walau perannya agak jahat. Hahaha.

Oh My Venus
Lagi pengen cerita ringan, nemu Oh My Venus. So Ji Sub sebenarnya kurang ganteng dan ketuaan, tapi Shin Min Ah kece, plus fierce banget di sini. Ceritanya tentang cewek idola pas remaja, tapi besarnya jadi gendut yang jatuh cinta sama trainernya. Cerita ringan, nggak banyak konflik.

Suka sama percintaan yang lumayan dewasa, nggak kaku, nggak sok malu-malu dicium, tapi malah mupeng hahaha.

Goblin
Tentu saja saya terseret pada drama yang heboh banget ini. Tadinya saya skeptis banget sama drama ini karena apaan nih ceritanya ada-ada aja. Tapi yah karena semua orang nonton, saya pun nonton. Dan saya jatuh cinta.

Saya suka banget semua adegan bromance Goblin dan Grim Reaper karena kocak dan konyol banget. Saya suka chemistry Goblin dan Eun Tak, chemistry Grim Reaper dan Sunny. Saya suka gambar-gambarnya yang bagus banget. Paling penting, akting Gong Yoo dan Kim Go Eun benar-benar bagus. Kalau ketawa bikin ikut senang, kalau nangis, bikin sesak. Plus, jalan cerita yang memang menarik dan nggak membosankan. Favorit banget!

***

Jadi lumayanlah ya drama Korea yang saya tonton selama tahun 2016 ini. Saya jadi bisa me-time sebelum tidur dengan nonton drama Korea. Nah, ada rekomendasi drama Korea yang bagus lagi?

 

 

Diromantisin Jong Suk

Hellooo, kembali bahas drama Korea, yuk. Sebagai orang yang biasa aja, nggak pernah hapal muka pemainnya, apalagi nama-namanya yang njelimet, maka saya jadi penikmat yang angot-angotan. Kadang berusaha ngikutin serial Korea yang lagi heitz tapi suka stop di tengah jalan karena jalan ceritanya terlalu lambat dan membosankan.

Waktu lagi hangat-hangatnya drama Descendant of the Sun (DOTS), saya berusaha ngikutin banget karena… (1) Song Hye Kyo main di drama ini. (2) pemain cowoknya, yang belakangan diketahui bernama Jong Ki *iyees sekarang mah hapal* ganteng juga. Awal-awal nonton masih terasa membosankan, tapi tetap ditonton karena euforia orang-orang heboh banget sama serial ini. Saya beneran berusaha mendalami sampai episode 7, kemudian menyerah. Stop. Udah lah, saya nggak terlalu suka sama serial ini karena buat saya membosankan. Saya nggak suka serial perang walau dibumbui cinta-cintaan sekalipun. BHAY!

Malahan saya nonton drakor berjudul Madam Antoine yang kurang populer dan kurang ngetop di sana cuma karena tokoh utama cowoknya (yang entah namanya siapa) adalah seorang psikolog jadi banyak kisah unik berbau psikologis yang diceritain juga. Tapi ya secara drama cinta-cintaan ya biasa aja, plus tokoh utama perempuannya juga umurnya jauh lebih tua dan dikisahkan udah punya anak remaja. Jadi ceritanya naksir brondong gitu lah. Wakakak!

Kemudian teman-teman saya heboh nonton Doctors yang mana kabarnya udah ditunggu-tunggu dan bakal sukses karena yang main Park Shin Ye dan Kim Rae Won.

bd520dc0c25c7d122f23fd240ae614ed

Doctors

Ini ceritanya cowoknya jauh lebih tua juga. Jadi dipilih Kim Rae Won yang udah matang. Awalnya kisahnya menarik karena Park Shin Ye badass banget, bisa bela diri tendang sana tendang sini tapi pinter banget. Seru. Tapi lama-lama mulai membosankan dan datar-datar aja. Nggak ada konflik yang mencekam atau dramatis. Kisahnya berputar pada bagaimana dunia kedokteran dan bagaimana mereka menolong pasien dan banyak adegan operasi yang memperlihatkan otak dibuka, darah bermuncratan. Hahaha, kalau takut mending diskip aja. Tapi kisah percintaan mereka ya cukup mulus, tokoh lainnya secara garis besar nggak ada yang gangguin percintaan mereka. Saya sering ketiduran di tengah-tengah nonton, tapi ya tetap masih dilanjutkan karena pada dasarnya saya suka kisah berbau medis, plus ya tanggung juga keleus udah nonton sampai 14 episode. Hahaha. Oh ya, seperti biasa Park Shin Ye kalau ciuman datar banget jadi emosinya nggak tersampaikan dengan baik.

Lalu muncullah W – Two Worlds di mana tiap orang yang nonton bilang ini bagusss banget dan unik ceritanya. Berbau fiksi. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik cerita seperti ini, terutama karena dulu saya nonton You Who Came From The Stars yang dihebohkan orang-orang tapi saya nonton biasa aja karena mikirnya: ngapain pacaran sama alien, sik?! Plus tokoh utama pria di serial ini si Lee Jong Suk, yang mana dulu dia main di drama Pinnochio sama Park Shin Ye, tapi di situ dia kurang ganteng. Cetek ya alasannya. Hahaha.

lee-jong-suk-pinocchio

dek Jong Suk kala itu

Sudah lupakan tampang kucel dan rambut aneh dek Jong Suk di Pinnochio. Seiring berjalannya waktu di drama itu dia jadi ganteng kok, tapi kurang berkarisma aja. Hihihi.

Kemudian saya mulai menonton serial W.

w45

W – two worlds

W ini dibintangi Lee Jong Suk sebagai Kang Chul dan Han Hyo Joo sebagai Oh Yeon Joo. Saking bodohnya dalam menghapal nama Korea, ini aja saya harus googling nama mereka dulu. Hihihi.

Oh ya, ini sinopsisnya begini berdasarkan Wikipedia:

Cardiothoracic surgeon Oh Yeon-joo’s (Han Hyo-joo) father mysteriously went missing while writing the last chapter of his webtoon “W”. Yeon-joo goes to his office and is shocked to see a scene of a bloodied Kang Cheol (Lee Jong-suk), the main character of W, on her father’s monitor. While reading something left behind by her father, a hand from the monitor pulled her in. She found herself on the rooftop of a building, next to man lying down in blood. She manages to save him but is shocked to realise that the person she saved was Kang Cheol. She then found out that she can only enter and leave the webtoon based on Kang Cheol’s change in feelings.

IYA, jadi ini kisah antara dunia nyata dan dunia komik alias webtoon. Unik banget, kan! Ditambah lagi dibumbui oleh thriller di mana penjahatnya sampai sekarang belum ketahuan siapa.

Tiap episode dibikin tegang dan pasti diakhiri penasaran. Jalan ceritanya cepat, Yeon Joo sebagai tokoh utama cewek kocak dan nggak menye-menye, plus Kang Chul karismanya bertebaran ke mana-mana, lucu, dan manis banget ya ampun. Boleh nggak saya simpan di lemari rumah saya?

Yang paling menyenangkan dari serial ini adalah buanya amat skinshipnya, plus kiss hampir di tiap episode. Duh, Mamak suka lah yang beginian. Hahaha. Udah gitu intensitas kiss-nya semakin meningkat. Duh duh, begini dong kalau harus adegan romantis, nggak datar sama sekali. Chemistry mereka berdua pun klop banget.

 

maxresdefault

Ciuman pertama. Masih biasa aja yes.

13745172_952526124856920_1303035504_n

Kiss kedua, di kamar mandi sambil pegang pistol. Duh duh!

episode_5_kiss_scene

Kiss ketiga di atap rumah sakit.

hqdefault

Dan inilah kiss favorit Mamak! Kiss keempat, deep kiss. OMGGGGG!

Selain skinship dan kiss yang bertebaran di mana-mana, adegan-adegannya pun manis banget. Duh, mau dong diiketin rambutnya sama Jong Suk. Hahaha.

Tapi drama ini bukan soal romantis-romantisan aja, karena di akhir episode 7 kesukaan saya karena berisikan adegan super romantis, selanjutnya banyak adegan tegang dan bikin penasaran, plus tampaknya si tokoh jahat mulai menampakkan diri dan mengguncang dunia mereka, deh *apa deh gue*.

Jadi, kamu udah nonton W belum? 😉

PS: semua foto bukan punya saya dan dicomot dari google image.

Seberapa Kenal?

Dari sekian banyak interview cast AADC di Youtube yang rata-rata pertanyaan sama dan kayaknya Mbak Mirles, Riri Riza, dan semua karakter AADC punya jawaban default untuk pertanyaan yang sama itu, ada satu video yang pertanyaannya cukup beda.

Dian dan Nico saling mewawancarai satu sama lain mengenai karakter Cinta dan Rangga. Dari pembicaraan mereka mengalirlah conversation seberapa dalamnya mereka kenal karakter kedua tokoh ini di film. Paling suka Nico kayaknya beneran kenal karakter Rangga dengan baik sampai dia yakin dengan semua jawabannya dan mikirin detil-detilnya. Sementara Dian kadang-kadang suka ketukar antara karakter Dian atau Cinta.

Suka banget juga karena mereka cukup cerdas menjawabnya. 🙂

 

#masihbelummoveondariAADC

 

Demi Iron Man dan Rangga

Sebagai mamak-mamak pekerja tukang galau, kalau mau nonton di bioskop itu sejak melahirkan nggak segampang, “Ih, ada film bagus. Beli tiket, yuk!” Capcus ke bioskop ngantri tiket. Kelar.

Kalau sekarang, mau ninggalin beberapa jam di luar jam kantor berasa guilty feeling, “KOK AKU MENTINGIN NONTON FILM DARIPADA MAIN SAMA ANAK?” Galau! Belum lagi kalau ditinggalin bentar berarti asip kepake. Duh, meres asip kan mayan capek ya.

Karena beberapa kegalauan di ataslah maka sampai sekarang jaraaaang banget nonton bioskop. Pertimbangan nonton bioskop adalah harus film yang disuka banget dan reviewnya bagus. Review jelek walau kayaknya bakal suka, BHAY!

Nah, minggu ini ada 2 film yang pengen banget ditonton: Civil War dan AADC2. Civil War ini pengen banget nonton bukan karena film Captain America, tapi karena ada Robert Downey Jr si Iron Man. Kalau AADC2, ini mah sebagai anak generasi remaja 2000-an wajib bener ditonton, demi Nicholas Saputra my lafff! *geser Cinta*. Maka diputuskanlah ini saat yang tepat untuk mengakhiri masa hibernasi nonton bioskop.

Nonton bioskop aja persiapannya banyak. Pertama nonton Civil War sama suami. Waktu itu saya libur, suami pun khusus cuti. Kita nggak bisa nonton malam-malam karena Kaleb kalau tidur malam maunya sama saya dan nyusu langsung. Kalau sama Opungnya dia malah hawanya main dan nggak tidur. Lagipula dia masih bangun 2-3 jam sekali buat nyusu jadi kasian Opungnya nanti nggak tidur. Jadi wajib nonton siang atau sore hari.

Karena hari itu libur dan supaya nggak merasa bersalah, siangnya ajak Kaleb dulu jalan-jalan ke mall dan main-main sambil kita antri tiket. Pas filmnya mau main, minta Opungnya jemput Kaleb ke mall. Walau pas serah terima ke Opung, Kaleb nangis yah tapi mayanlah udah disogok main di mall.

Untungnya Civil War bagus gus gus! Saya ini bukan penggemar Avengers, walau tiap filmnya selalu nonton. Soalnya mikir, idih lawannya segitu doang kok ya butuh superheroes segambreng. Cih, lemah! Tapi di Civil War ini musuhnya emang cuma satu, tapi worth it banget dilawan sama segambreng superheroes karena dia bukan superheroes yang kuat, otot segede gaban, menakutkan, tapi lebih ke dia nyerang psikis dan emosi si superheroes. Semacam psikopat lah. Pantes banget dilawan banyak jagoan. Dan tentu saja apapun alasannya, idolaku adalah #teamironman. Wohooo! Oh ya, kalau nonton jangan beranjak karena ada 2 scenes tambahan setelah filmnya selesai.

***

Film kedua yang wajib ditonton adalah AADC2. Ini udah sounding dari beberapa bulan sebelumnya ke teman kantor sedivisi kalau kita wajib nonton bareng. Kenapa pilihannya adalah geng isinya cewek-cewek semua karena hanya teman wanitalah yang bisa diajak ngiler berjamaah memandangi kegantengan Nicholas Saputra. Lagipula 14 tahun yang lalu nontonnya sama sepupu cowok (duh, kasian amat akika!) yang sekarang kayaknya doi mendingan nonton ama istrinya. Hahaha!

Nontonnya di hari Jumat pas jam istirahat kantor yang panjang. Kita ini ijin ke bos loh. Bos kece kita pun oke aja. Dari pilihan bioskop yang sekiranya sepi dan nggak ngantri dipikirkan baik-baik.

Pilihan yang tepat sekali (ucapkan dengan nada mbak Pizza Hut) nonton bareng cewek-cewek karena…. sepanjang film kita komen tiada henti. Apalagi kalau Rangga muncul.. aww aww awww! Trus ketawa ngikik, mesem-mesem, tersipu malu. Ini yang digombalin Rangga siapa sik, kok kita yang heboh sendiri. Senangnya lagi sebioskop yang rata-rata seumuran juga reaksinya heboh kayak kita.

Duh, nostalgia masa remaja banget!

Terlepas dari filmnya yang saya rasa durasinya cukup panjang dan geng Cinta yang chemistry-nya oke sih tapi kurang greget dikit lagi. Plus ada beberapa adegan yang dipaksain dan nggak masuk akal, tapiiii kalau udah disuguhin pemandangan Nicholas Saputra dengan suara berat dan puisi-puisinya mah KELAR SUDAH! Semua penilaian jadi subjektif dan termaafkan semuanya. Bagus banget, Mak! *elap iler*

Buat saya yang paling mencuri perhatian justru Adinia Wirasti. Dibandingkan jaman dulu doi yang terlihat paling kucel, sekarang doi cantiiiik banget dengan kulitnya yang berwarna kecoklatan tapi bersih, rambut keritingnya yang kece berat, plus bentuk badannya yang hasil olahraga jadi nggak kelihatan lemak-lemak. Duh, kapanlah saya bisa punya badan bagus kayak gitu *dilempar barbel*. Di film, Karmen ini mau pake baju cuma kaos melar dan celana cutbray dan bandana aja langsung kelihatan kece. Lah saya kalau pakai kayak gitu kok ya berasa jelek banget. Jadi di antara Geng Cinta ini Karmen lah yang paling oke. Sementara, maaf banget, sejujurnya yang lainnya kelihatan udah emak-emak. Kenyataan nggak bisa bohong. LOL! *tos sama Geng Cinta*

IMG_5710

Geng Cinta ala ala!

Pokoknya minggu ini sangat menyenangkan dengan adanya 2 film ini. Mamak-mamak yang bosen ini jadi punya energi baru buat…. ngangon anak lagi. Hihihi.

 

 

Review: Kiss Me

Serial Kiss Me season 1 akhirnya berakhir juga! Well, I am very in love with this drama. Seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, saya nggak pernah bisa bertahan nonton versi Jepang, Taiwan, dan Korea-nya. Inti ceritanya kan cewek bodoh yang jatuh cinta sama cowok jenius. Nah, di versi sebelumnya, menurut saya ceweknya selain bodoh secara intelegensi, juga bodoh secara hati. Kayak kesihir apa aja sampai stalking mati-matian dan tetap jatuh cinta membabi buta sama si cowok jenius (maafkan aku buat para penggemar Itazura Na Kiss). Dari segi cowoknya juga dinginnya minta ampun sampai kayaknya nggak pernah nunjukin emosinya sama sekali. That’s why I never finished all of them. Bosen.

Ada ketakutan bahwa versi Thai akan mengikuti karakter seperti itu. Masalahnya serial Itazura Na Kiss bukan favorit saya banget. Tapi yah demi Aomike kan saya tonton juga. Setelah 20 episode berakhir dengan saya suka banget! Ini versi pertama dari Itazura Na Kiss yang berhasil saya tonton sampai habis. Horeee!

Kiss Me ini buat saya lebih emosional dan manusiawi. Taliw memang secara intelegensi bodoh, tapi bukan bodoh yang gengges (yang rasanya pengen saya jitak). Tapi bodohnya cute bikin pengen dicubit. Dia juga bukan yang membabi buta ngejar Tenten. Ada saatnya Taliw mengambil sikap dan memutuskan untuk nggak ngejar Tenten lagi (dan Tenten langsung jleb jleb jleb!). Tenten juga bukan cowok jenius super dingin yang nggak punya emosi. Tenten di sini lebih manusiawi. Dia nyebelin, yes. Dia arogan, yes. Dia cool, yes. Tapi ketika berdua dengan Taliw dia seakan kehilangan semua benteng dan cool-nya itu. Dia lebih bisa senyum, lucu, dan hangat. Adem hati eneng, bang jadinya! *alay detected* Dia juga lebih bisa mengekspresikan perasaan sayangnya ke Taliw. Duh, so sweet banget lah.

Serial ini ngajak kita buat ketawa, sedih (duh, banyak adegan nangisnya, deh!), dan marah, terutama sama si Tenten! Plis lah, Ten! Belum lagi kita dibikin bimbang mau jadi #teamTenten atau #teamKing, nih. Di versi yang lainnya, sahabat yang naksir Taliw kan konyol. Kalau di Kiss Me, dia malah cakep dan gentleman abis. Dia juga yang menghapus kesedihan Taliw. Aw awww! Penonton dilema kan pilih mana.

Tenten di serial ini awalnya kan lumayan manis lah (dingin sih, tapi lumayan manis sikapnya), tapi tiba-tiba semua berubah ketika mantan pacarnya datang. Tenten langsung berpaling dan bikin kita semua KZL! Kasian Taliw dicampakkan gitu aja. Saking sebelnya, para fans sampe suka bikin meme/fan art mau lempar Tenten pake durian. Hihihi! Lebih lucunya lagi, Mike merespon dengan upload foto yang bilang, “Bukan salah gue kalau Tenten jahat. Itu disuruh sutradaranya. No durian for me, please!” Kocak! Hahaha! Jadi para fans suka bilang, boleh deh nggak dikasih durian, asal lo baek-baek sama Taliw, ya. LOL!

Tapi tenang aja, ada King sang penyelamat yang menghibur dan memperlakukan Taliw dengan sangat manis. Saking manisnya, kita pun jadi bersimpati dengan King dan diam-diam berharap ada cowok semanis King buat kita (iyee buat kita, bukan buat Taliw hihihi).

Seperti FHT, Kiss Me juga punya twist yang beda sehingga nggak sama persis dengan versi lainnya. Karena versi ini beda jadi kita tetap penasaran menunggu episode selanjutnya. Yang paling menyenangkan adalah: there are a lot of kisses! Wohooo! Kalau di versi lainnya kiss-nya pelit banget cuma ada 1 atau 2. Yah, paling banyak 3-lah. Yang ini banyak. Saya ulangi: BANYAK. Hahaha, bisa ketebak nggak sebanyak apa? Selain banyak, adegan kiss-nya juga manis, nggak ketebak, dan bikin meleleh. Duh, Tenten!

Setelah dihempaskan di beberapa episode terakhir dengan ke-plin-planan Tenten (plis lah, and you say no durian? *toyor pake durian*), episode terakhir ditutup dengan sempurna. Awas, ini bakal banyak spoiler ya. Sempurna itu adalah banyak adegan manis yang kayaknya cuma bisa dikhayalin di benar perempuan.

Paling seru adalah ada adegan Tenten ngemis cinta ke Taliw dan ditolak Taliw. Ha! Rasakan Tenten! Di versi ini Taliw girl power banget. Tenten udah tangannya diperban karena kecelakan ngejar Taliw, kehujanan, eh ditolak. YES! Setidaknya ngajarin perempuan-perempuan di luar sana bahwa otak boleh bodoh, hati mah jangan. Hihihi! Jadi kita akan melihat Tenten nangis galau ditinggal Taliw. Aciik!

Awwww sakit kan rasanya ditolak!

Awwww sakit kan rasanya ditolak!

Tapi tentu saja semua itu akan dibayar dengan happy ending (males juga kan kalau sad ending). Adegan yang bikin saya meleleh adalah adegan Tenten kasih surat masa kecilnya ke Taliw. Isi suratnya cute dan romantis banget:

Hai Teerapat,
Today I have important things to tell you. After I live for 6 years, I found that the girl that I would like to get married is you.

To be my bride is easy:
1. Eat a lot
2. Practice to do fried chicken, since I like it
3. Do not love other guys
4. No matter what happens, remember only I love you very much.

PS: Did you remember elephant that we found at zoo. You told me it is big. You never saw which one was bigger than this.

I love you more than that elephant.

Tenten

That is the cutest letter ever! *cium Tenten*

Happy ending kiss

Happy ending kiss

Adegan lainnya yang saya suka banget adalah pas Tenten melamar Taliw ke bapaknya, yang intinya dia nggak kaya (lalu dia tunjukkan sertifikat mahasiswa kedoktera, sedikit saham perusahaan bapaknya, dan deviden tahunannya), tapi dia janji akan mencintai dan menjaga Taliw seperti orang tuanya saling mencintai dan Paman Han dan Bibi Nuan (orang tua Taliw) saling mencintai. Dia juga meminta ijin untuk menikahi Taliw. Tapi kalau keberatan karena Taliw masih belum lulus kuliah, tunangan dulu nggak papa. Kemudian dia minta ijin untuk pergi kencan dengan Taliw dan akan mengantarkannya kembali sore hari nanti.

*meleleh*

Kalau saya jadi bapaknya mah udah pasti diterima, nggak perlu pikir panjang lagi. Hahaha!

Tunangan mereka pun romantis banget dengan suasana serba putih dan pink! Tenten dan Taliw cakep banget! Mana- seperti biasa- tatapan Tenten tuh menusuk ke sanubari. Awwww!

It's like real pre-wedding pictures

It’s like real pre-wedding pictures

Setelah tunangan, orang tua mereka menyuruh mereka bertenda di halaman depan rumah sebagai latihan nanti honeymoon. Katanya boleh dicium, tapi kalau tidur harus di tenda yang berbeda. Hahaha, orang tua mana yang kocak kayak gitu.

Adegan di depan tenda ini manisnya minta ampun, diikuti dengan gerak-gerak salting dari Tenten dan Taliw. Mateeek! Eh, ini Tenten Taliw atau Aom dan Mike, sih? Kok jadi nggak bisa bedain. Hihihi.

Is is Tenten & Taliw or Mike & Aom? ;D

Is is Tenten & Taliw or Mike & Aom? ;D

It ended perfectly!

Seperti biasa, Mike’s and Aom’s chemistry is undeniably matched! You’ll believe that they’re in love in real life (or are they? *wink*). Jadi ini versi Itazura Na Kiss favorit saya. Sebisa mungkin dinilai dengan objektif (walau pasti banyak subjektifnya. Hahaha). Eh, tapi ditonton dulu ya buat membuktikannya.

Selamat jatuh cinta!

PS: all the pics are taken from IG @romant1c_pr1ncess

Review: Ugly Duckling – Perfect Match

Sebenarnya saya lumayan suka nonton serial Korea, walau nggak terlalu heboh banget dan nggak hapal nama-namanya. Tapi sejak melahirkan susah banget punya waktu buat nonton serial Korea. Terutama karena kalau nonton harus streaming di laptop, yang mana nggak bisa lama-lama buka laptop. Ke lapak DVD juga udah jarang jadi nggak tahu perkembangan serial Korea.

Supaya ringkas dan nggak ribet, saya lebih suka nonton serial yang udah diupload ke Youtube karena bisa saya tonton di iPad dan bisa dibawa ke mana-mana sambil ngerjain banyak hal sekaligus (kalau laptop kan susah ya, bok!). Entah saya yang gaptek atau kurang gaul, saya jarang nemuin serial Korea yang lagi hits di Youtube. Kalau mau nonton ya streaming di web-nya dan itu nggak nyala kalau pake iPad. Persoalan hidup banget lah.

Oleh karena itu, pasrah aja nonton serial yang ada di Youtube. Akhirnya suatu hari saya nemu serial Thailand yang judulnya Ugly Duckling – Perfect Match. Dari judulnya aja udah ketebak kan kira-kira ceritanya bagaimana. Paling lah seputar cewek jelek naksir cowok cakep. Serial ini juga cuma 9 episode aja. Pas lah ditonton sama yang cuma pengen hiburan tanpa mikir dan nggak perlu panjang-panjang. Sip!

Sinopsisnya kira-kira begini: Junior (Mook) adalah seorang gadis cantik dan kaya yang hidupnya sempurna banget, punya banyak teman, dan pacar ganteng. Suatu hari, dia memutuskan untuk melakukan operasi plastik karena dia nggak tahan teman-temannya bilang pipinya tembem. Dia nggak tahu kalau dia alergi pada kimia yang terdapat di operasi plastik sehingga wajahnya jadi penuh jerawat kayak bisul. Setelah kejadian itu, pacar dan teman-temannya menjauhi dia. Dia pun nggak tahan dengan tekanan sosial yang dihadapi sehingga membujuk ibunya agar memperbolehkannya kuliah di desa, sekaligus melakukan perawatan pada seorang dokter kulit di kampus tersebut. Di sana dia ketemua Seua (Push), seorang pria tampan. Kemudian ceritanya berlanjut dari sana.

Menurut saya, serial ini punya potensi untuk jadi bagus, tapi kurang dimaksimalkan. Untuk sampai pemeran utamanya jatuh cinta itu butuh waktu lama dan nggak perlu menurut saya. Karakter Suea juga agak pervert kali ya. Kayaknya dia demen banget kalau diajak satu kamar ama Joo. Hahaha! Tipe slengean gitu. Yang paling sayangnya adalah chemistry mereka berdua kurang dapet. Jadi kelihatan agak garing.

Tapi yang paling menarik adalah Push cakep banget deh! *mata berbinar-binar penuh cinta*. Tipe cowok yang dengan senyuman aja bikin cewek klepek-klepek. Plus, di serial ini dia pamer badannya yang six pack bikin air liur meleleh. Kayaknya kalau udah cakepnya kayak dia mah digodain macam apa aja juga aku rela. Hmm, setelah dipikir-pikir faktor terbesar saya bertahan nonton serial ini ya karena si Push cakep aja, sih. Kalau nggak, saya kayaknya udah kebosanan dan nggak melanjutkan. Hahaha!

Manis amat senyumannya, Mas!

Duh, lemes aku, bang!

Eh, tapi serial ini nggak sepenuhnya buruk, lho. Kalau cuma sekedar buat menghibur sih cukup menghibur banget, kok. Jadi masih layak ditonton.

Sekian review abal-abal dari saya. XD

Get Ready to Kiss Me

Who’s missing Aomike? Me for sure! *belum kelar-kelar mbak sukanya?* Hihihi!

So get ready for this cute couple in their new drama: Kiss Me!

IMG_0303

IMG_0304

Lihat teasernya aja udah bikin gemetz banget kan, ya? Kabarnya serialnya akan tayang bulan September 2015 ini. Selama ini proyek Kiss Me selalu dirahasiakan karena masih mengurus ijin remake-nya ke Korea sana (?). Iya, Kiss Me ini remake dari Playful Kiss/Itazura Na Kiss/Naughty Kiss. Kalau nonton versi Korea dan Jepangnya sih walau di judul ada kata kiss tapi kenyataannya kiss-nya dikit banget. Semoga yang versi Thailand nggak, ya *wooooy, bulan puasa hawa nafsu tolong dikurangin dong. Hihihi*

So, get ready to fall in love with them again. At least, I will. 😉

PS: all the pics are not mine. I took it from Instagram.