Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.

Advertisements

Nggak Sabaran

Mau pengakuan, ah:

I am not the kindest and most patient mother.

Kalau lihat ibu-ibu Instagram (duileh, sumber masalah ibu-ibu jaman sekarang hahaha), kok ya sabaaaar banget bikin mainan edukasi untuk anaknya, ajarin macam-macam, bikin bento dengan tampilan yang cakep-cakep banget, dan segudang keahlian ibu-ibu lainnya yang bikin saya merasa….. “Gue kok nggak gitu, ya?”

Kesabaran saya setipis benang. Misal ajarin anak sesuatu, kalau anaknya nggak dengerin, lari sana sini, tanduk saya langsung muncul, lalu intonasi naik 7 oktaf. Lain waktu, suapin anak juga nggak sabaran. Kaleb itu hobi banget makan diemut (udah dicoba berbagai strategi; ganti menu makanan tiap 3x makan, beliin piring dan gelas yang lucu, dll. Kalau anaknya lagi nggak mau,  ya diemut aja makannya). Jadi udah bisa dipastikan mata melotot, teriakan membahana. Begitupun soal tidur, kalau udah diajak tidur, matiin lampu, kasih susu, tiduran di atas dada saya sambil pegang-pegang tetek, trus nggak tidur juga sementara saya udah ngantuk banget, mulai deh merepet ngomel-ngomel.

Makanya saya suka merasa profesi guru anak-anak itu hebat sekali. Saya ngadepin satu anak aja lelah luar biasa, ini ngadepin beberapa anak dengan beberapa tingkah laku. Luar bisa hebatnya lah. Suatu hari ketika saya masih polos dan merasa anak kecil itu lucu, saya pun bercita-cita jadi guru TK. Mendaftarlah saya ke sebuah preschool. Pemiliknya baik sekali dan ajak saya untuk saat itu juga cobain jadi guru preschool, menghadapi lebih dari 10 anak kicik-kicik yang lucu. At the end of the day, I gave up. Hahahaha, they were so cute, tapi saya nggak sanggup menghadapi mereka semua, denger suara teriakan dan rengekan, rebutan bicara dan perhatian. Energi saya habis blas dan seharian rasanya nggak pengen ketemu siapa-siapa lagi. Oh, life as an introvert. Sejak itu saya belajar, I’m no good with kids. Kurang nurturing banget saya. XD

Ketika punya anak, kesabaran jadi ujian saya. Dulu bahagia banget rasanya pas Kaleb pertama kali bisa manggil Mami. Setiap dia panggil Mami rasanya berbunga-bunga dan terasa seperti suara terindah. Sekarang, anaknya dikit-dikit, “MAMI MAMI MAMI!”. Saya menarik napas dalam dan bilang ke anaknya, “Panggil Papa aja. Minta tolong Papa aja. Sama Papa dulu, ya.” Give me a break lah, jangan dikit-dikit Mami. Hahaha.

Pas Lebaran di mana Mbak pulang kampung adalah masa-masa kesabaran paling diuji. Harus bersihin rumah dan ngurusin anak itu menguras emosi. Mana saya orangnya semuanya harus serba teratur, beres, bersih, jadi capek sendiri. Itu aja saya udah bilang ke diri sendiri, nggak usahlah ngepel tiap hari, nggak perlu cuci baju tiap hari, nggak perlu tempat tidur rapi-rapi amat. Kenyataannya, lho kok rumah berdebu kan jadi jorok; PEL! Cuci baju Kaleb ajalah karena dia kan banyak ganti baju karena keringetan mulu. Kenyataannya; ya udahlah sekalian aja cuci baju sendiri. TIAP HARI. Yang ada capek sendiri, kesel sendiri, kesabaran menipis.

Saya punya beberapa idealisme yang akhirnya bikin saya capek sendiri. Misal, weekdays itu harus cepat pulang karena gantian ngurus Kaleb sama Mbak dan Opung. Kasihan mereka udah seharian jaga Kaleb dan saya ngerasa nggak tega harus nongkrong pulang kantor sementara mereka udah kecapekan. So I give up my social life on weekdays (makanya ajak saya ketemu pas makan siang aja, deh. Hahaha). Di weekend, saya yang 100% pegang Kaleb dari bikin makanan, mandiin, suapin, dan lain-lain. Makanya ke mana pun saya jalan pas weekend, Kaleb ikut. Mbak kerjaannya nggak banyak pas weekend biar bisa istirahat karena saya tahu ngurus anak tuh capek banget.

Makanya saya sangat terbantu banget ada Mbak yang bisa beresin rumah dan masakin makanan, walau masakannya itu-itu aja. Hahaha. Nggak papa, weekend saya yang masak. Ada suami yang paham banget, tiap pulang kerja saya butuh me-time sendiri setidaknya 30-45 menit sehingga suami yang ajak Kaleb main dan jalan-jalan dulu. Bahkan kadang-kadang kalau di rumah, saya minta Mbak yang nemenin Kaleb jalan-jalan keliling komplek walau Kaleb maunya sama saya. Sungguh saya butuh waktu sebentar untuk diri sendiri. Maaf ya, Kaleb.

Mana sekarang Kaleb udah bisa berkomunikasi lancar 2 arah, jadinya udah bisa ngeyel. Semakin dilarang, semakin dilakukan. Disuruh beresin mainan pake tarik urat dulu, drama nangis-nangis kayak disuruh maju perang. Mainannya sih diberesin, tapi masukin 1 mainan aja luamanyaaa minta ampun. Akhirnya ujung-ujungnya lebih banyak saya juga yang beresin mainannya. Ya daripada kesel sendiri, kan? *failed amat sih! Hahaha* Diajak mandi susah banget, disuruh udahan mandi juga susah. Belum lagi di kamar mandi apa-apa maunya sendiri. Bagus, dong? Nggak juga soalnya sampo dibuangin, odol dihabisin, sabun buat bersihin tembok. Lucu, ya? Nggak lucu lagi sih kalau udah keseringan (plus mamak bisa bangkrut lah bentar-bentar beli sabun). Hahaha.

Itulah kenapa saya jarang posting aktivitas Kaleb di sosmed. Ya karena, hampir nggak ada yang luar biasa. Aktivitasnya main-main, bukan yang pake mainan edukasi atau apalah yang kekinian sekarang. Hahaha, duh mamak pemalas, ya. Habis berantakin mainannya, trus jalan-jalan di luar. Itu pun sukanya jalan-jalan ke supermarket supaya bisa main dorong-dorongan troli kecil dan ambilin apapun yang dia suka. Ya terserah aja, deh. Hahaha.

Itu juga yang bikin pas weaning nunggu waktunya Kaleb sendiri yang siap karena sesungguhnya saya malas dan nggak punya energi untuk mendengar teriakan marah-marah dia kalau nggak dikasih nenen. Udahlah ngantuk, harus denger teriakan lagi. Oh, sungguh saya nggak sabar. Toilet training Kaleb pun nggak jago-jago banget. Kaleb masih suka kelupaan ngompol. Ya mungkin karena saya kurang konsisten kalau pergi ke luar rumah masih dipakein diapers dan nggak cukup sabar bawa dia ke WC tiap jam. Hahaha, jangan ditiru, ya.

Makanya punya anak itu jadi refleksi banget buat saya. Ternyata saya orangnya nggak sabaran. Pake banget nget. Hahaha. Dan jadi ibu bikin saya paham bahwa saya nggak bisa sempurna dan nggak perlu jadi sempurna. Saya harus paham kelemahan saya di mana dan berusaha menurunkan idealisme saya. Jadi ibu itu harus mengutamakan kebahagiaannya sendiri dulu karena ketika ibunya bahagia, moodnya bagus, dan happy ngurus anak juga jadi lebih gampang (eh, ngurus anak sih nggak pernah gampang sih, ya. Hahaha). Semoga kesabaran saya bertambah-tambah sebanyak pasir di laut, ya.

Ibuk-ibuk di sini ada yang nggak sabaran juga nggak? Sharing dong.

 

Belum Siap

Weekend ini dimulai dengan Mbak yang sakit. Awalnya kakinya sakit cantengan jadi jalannya pincang, lalu tiba-tiba perutnya nyeri sampai dia tiduran. Akhirnya pulang kantor langsung dibawa ke Puskesmas (pengen cerita soal Puskesmas yang sekarang keren banget, tapi di lain postingan aja, deh). Ternyata Mbak kakinya infeksi dan maag akut sehingga weekend ini saya bebaskan tugas dan biarin aja dia istirahat. Alhasil, Sabtu dimulai dengan belanja ke pasar, masak makanan Kaleb dan Mbak, tidurin dan mandiin Kaleb, kasih makan Kaleb, endesbrei endesbrei. No leyeh-leyeh.

Lalu Bapake telepon bilang kalau dese nggak enak badan, muntah-muntah, diare, meriang. Hm, perasaan kemarin baik-baik aja. Setelah ditelusuri, kemarin di kantornya ada acara tumpengan dan dia makan nasi tumpeng. Besoknya beberapa orang yang makan nasi tumpeng diare juga.

Sudah selesai? Belum. Malamnya Kaleb sumeng. Belum sampai panas, sih. Masih dikisaran 37,2 derajat, anaknya masih ceria dan aktif. Tapi jadi moody dan seharian nggak nafsu makan, serta clingy banget. Eh, pas malamnya malah muntah-muntah.

Mamak, Puji Tuhan, baik-baik aja. Emosinya aja yang terganggu karena orang serumah sakit. Hahaha!

Nah, jadi kalau ditanya kapan nambah anak lagi, I will remember this day. One of the hardest days of my motherhood journey.

Masih ingat cerita waktu saya tahu hamil dulu? Ceritanya di sini. Singkat cerita, waktu itu setelah 2 tahun ngotot hamil dengan segala cara, saya bilang ke Tuhan kalau saya siap punya anak. Siap yang disertai rasa ikhlas dan pasrah. Jadi, kalau Tuhan mau kasih puji Tuhan, kalau Tuhan belum mau kasih mari nikmati hidup. Rasanya hati plong banget karena merasa apapun yang diputuskan Tuhan, saya siap. Saya ingat banget waktu itu berdoa seperti itu di perjalanan pulang habis jenguk sepupu yang baru melahirkan di awal bulan Juli 2014. Dua minggu kemudian, saya baru tahu saya hamil 5 minggu. Berarti Tuhan sudah memberikan sebelum saya meminta, kan. Isn’t He amazing?

Tapi kalau ditanya sekarang, apakah saya siap untuk anak lagi? Saya biasanya diam sebentar, tutup mata, membayangkan proses melahirkan SC kemarin yang masih bikin trauma, masa-masa newborn yang sungguhlah lelah luar biasa, sempat baby blues, masa-masa pumping non stop kejar setoran selama 20 bulan, dan menyusui 2 tahun 4 bulan. Sungguh ya, itu lelahnya aja masih berasa banget.

Saya baru bisa bernapas lega 2 bulan terakhir karena anaknya udah stop nenen dan baru di usia 2 tahun ini anaknya bisa tidur sepanjang malam. Sebelum itu, tidur ya selalu kebangun karena Kaleb minta nenen. Jadi disuruh ngulang itu semua lagi sekarang? Stop, nanti dulu, deh.

Waktu itu saya pernah nanya ke Mama saya, “Kok pengen punya anak lagi? Emang nggak ingat sakitnya pas melahirkan?”. Mama saya menjawab, “Lama-lama akan lupa kok sakitnya, digantikan kepengen punya bayi lagi.” Oh ya? Kok saya masih ingat rasanya jantung mau copot masuk ke kamar operasi, sendirian menggigil kedinginan di kamar pemulihan, pertama kali belajar duduk dan jalan yang sakitnya ampun-ampunan, sembelit karena habis operasi yang bikin mau pup aja sampe nangis, selama 1 bulan bekas jahitan masih sakit yang bikin mau gerak juga susah tapi harus gerak untuk ngurus anak (anyway, saya sampai sekarang aja masih nggak berani lihat bekas jahitan sc sendiri, lho). Rasa sakitnya masih jelas buat saya karena walau setelah 1 bulan itu udah nggak terasa, tapi begitu ketendang anak yang nyeri juga rasanya.

Sebagai orang yang juga pencemas, buat saya masa-masa ASI eksklusif juga menjadi tekanan buat saya. I love breastfeeding. Tapi saya nggak suka pumping. Rasanya lihat botol hasil perahan tuh semacam kayak ngumpulin ujian. Nggak mood dikit, langsung hasilnya dikit. Jaga mood itu susah banget! Konsisten pumping demi ASIP tercukupi juga melelahkan.

Selain hal-hal di atas, ada banyak hal juga yang jadi pertimbangan lainnya. Salah satunya, Kaleb yang belum siap. Beberapa kali saya tanya ke Kaleb, “Mau punya adik nggak?”. Yang dijawab, “NGGAK!”, lain waktu dia bilang, “Mami, tempat tidur ini sempit, buat Mami sama Kaleb aja.” Dih, padahal tempat tidurnya lebar. Bisa aja doi! XD Kalau ngomongin soal adik, dia bisa pura-pura nggak dengar, mengalihkan pembicaraan, atau langsung peluk saya sambil bilang, “Kaleb sayang Mami”, biar saya nggak ngomongin adik lagi. Belum lagi kalau saya lagi gendong anak orang, dia akan marah, pegang saya kuat, dan bilang, “Mami, jatuhin aja adiknya!”. Ebuset, anak orang itu, Kaleb! So I guess, he’s not ready yet.

Jadi kalau ditanya orang kapan nambah anak lagi, saya pasti bilang, “Nanti-nanti, deh!”.

 

 

 

 

(Sebenarnya ada lebih banyak alasan lagi kenapa belum mau nambah, tapi mungkin akan ditulis di post lain. Hihihihi)

 

 

 

 

 

Review: Madagascar PS

Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman ke Madagascar Plaza Senayan, restoran bergaya hutan yang baru buka dan punya konsep yang seru banget. Sebagai mamak-mamak punya krucil, kami excited mau ke sana karena anak-anak pasti suka.

Waktu itu saya yang pertama kali datang, sekitar jam 13.00. Ada resepsionis di depan dan harus waiting list. Udah ketebak sih, secara lagi hits banget jadi pasti banyak orang yang mau ke sana, plus waktu itu weekend. Diminta untuk meninggalkan nomor telepon karena ketika ready mereka akan menelepon saya. Beklah. Kesan pertama, yang bagian resepsionisnya kurang ramah, nggak ada senyum sama sekali, dan terkesan jutek. Dia nggak pake baju seragam, jadi mungkin pemiliknya? Anak pemiliknya? Manajer? Entahlah.

Sepertinya masih lama menunggu, jadi saya memutuskan makan di restoran lain dulu karena bawa anak kecil, kan. Gawat aja kalau udah cranky karena kelaparan. Pas makan, teman-teman saya datang ke restoran lain itu karena kami tahunya akan ditelepon. Selama belum ditelepon, kami menunggu di tempat lain, dong.

Udah puas, kenyang, ngobrol ngalor-ngidul sampe 2 jam, baru sadar lho kok belum ditelepon. Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke atas lagi. Pada waktu tanya ke bagian resepsionis di depan yang tadi jutek, mereka bilang, “Oh iya, udah ready, nih.” Hmm, jadi bagian mananya nih yang bakal ditelepon?

Begitu memasuki pintu, emang suasananya bagus banget, kayak di hutan beneran dengan pohon-pohon menjuntai, lampu yang agak temaram, dan replika hewan-hewan seperti jerapah, gorila, macan, gajah yang gede banget seperti aslinya. Beberapa hewan bahkan bisa bergerak. Uwow, keren! Anyway, karena pencahaannya temaram jadi kalau mau foto harus pake flash atau ya hati-hati karena banyakan jadi blur. Huhuhu.

Kami duduk di meja ujung dekat gajah. Anak-anak sih excited banget karena serasa ada di kebun binatang. Secara dekorasi interior luar biasa bagus, sih. Empat jempol.

Sayangnya, lagi-lagi service-nya kurang. Pelayan di dalam nggak ada yang senyum, mungkin karena overload dengan banyaknya pengunjung, tapi tetap aja karena kami merasa sering dicuekin. Minta sesuatu susahnya minta ampun karena dengan tempat seluas itu, mereka nggak ada di dekat meja kami yang terletak di ujung, jadi kalau mau manggil ya ngamperin mereka.

Waktu itu kami pesan pizza, french fries, dan minuman. Iyes, akhirnya pesan snack aja saking kelamaannya nunggu jadi udah kenyang makan di tempat lain. Ketika diantarkan pizza dan french fries, hanya diberikan satu cup kecil sambal. Pada waktu meminta tambahan sambal, pelayannya hampir menolak. Loh, kaget dong kita. Kok minta sambal aja nggak boleh. Lalu kami bilang, “Sambal botol lho, Mbak.” Akhirnya baru boleh. Jadi sepertinya kalau minta sambal default racikan mereka untuk pizza itu nggak boleh nambah (karena dia lihat dulu ke meja kita sambalnya), tapi kalau sambal botol boleh. Duh, capek ya minta sambal aja repot. Rasa makanannya sendiri, sayang sekali biasa aja. Nothing’s special. Huhu.

Ada ular di atasnya!

Jadi kesimpulannya, tempatnya bagus banget, cakep buat foto-foto, tapi rasa makanan kurang, dan yang paling kurang adalah service-nya. Setelah selesai makan, kami kompak bilang satu sama lain, “Pelayannya pada jutek semua, ya.”

Semoga servicenya bisa diperbaiki, ya. 🙂

 

Main Basket, Yuk!

IMG_20170909_150919

Beberapa bulan ini, saya lagi nyari kegiatan buat Kaleb. Kaleb belum mau dimasukkan ke sekolah, tapi dia sangat suka bersosialisasi (ehm, dia lebih kenal tetangga daripada saya. Hahaha), dan dia butuh kegiatan yang lebih terarah. Satu-satunya kegiatan Kaleb sekarang adalah sekolah minggu. Tapi nggak mau yang harus setiap hari berkegiatan karena nanti dia capek. Kan dia masih 2 tahun.

Awalnya mau les musik. Kebetulan di Yamaha ada kegiatan untuk anak 2 tahun: Music Fantasy. Setelah survey dan lihat kegiatannya, saya cukup ragu karena mostly kegiatannya adalah menyanyi bareng di tempat (YAEYALAH, KAN LES MUSIK, MI! XD), dan didampingi orang tua. Ini pertimbangan lainnya, saya pikir Kaleb sudah cukup besar untuk menerima instruksi dan ingin dia lebih mandiri, jadi berharapnya orang tua nggak perlu ikut di dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir kelas aja. Kalau cuma menyanyi dan dance, Kaleb rasanya akan cukup bosan karena di sekolah minggu sama persis yang dilakukan. Tiap di sekolah minggu anaknya di tengah kegiatan bosan dan akhirnya sibuk lari-lari.

Oh ya, sampai saat ini saya masih cukup yakin Kaleb adalah anak kinestetik yang mana dominan sekali menyukai kegiatan yang membutuhkan fisik, gerakan, praktek. Akhirnya saya pikir, Kaleb akan cocok dengan kegiatan olahraga. Sempat survey ke beberapa tempat, termasuk Rockstar Gym. Untuk anak 2 tahun dengan bayaran cukup besar, kegiatan Kaleb terbatas. Banyakan ke baby gym, baby dance, yang mana Kaleb kurang suka.

Kaleb suka sesuatu yang bentuknya permainan dan olahraga beneran, seperti sepak bola. Saya pun cari les sepak bola. Susahnya adalah jarang banget untuk anak toddler, biasanya untuk anak yang lebih besar, seperti 3-4 tahun ke atas. Tapi akhirnya nemu di @littlekickers_id. Senangnya Little Kickers ini ada beberapa cabang. Yang paling dekat dengan rumah (walau nggak dekat-dekat banget) ada di PIK. Sayangnya, ternyata kuota belum mencukupi sehingga belum bisa dibuka. Yah, kuciwa!

Sampai suatu hari, @lilhoopsters mengirimkan DM ke saya, entah tahunya dari mana. Pas saya cek, loh loh loh… les basket dan bisa untuk anak toddler dari 18 bulan. PAS BANGET! Mana mereka nawarin free trial, kan. Tentu saja akyu mau!

Kendalanya adalah, tempatnya lumayan jauh dari rumah, yaitu di Kemang. Tapi setelah diskusi sama suami, Kemang masih bisa dicapai dengan tol JORR 2 yang membuat akses cukup mudah dan cepat. Plus waktunya sore hari sehingga nggak drama bangunin Kaleb buru-buru pas pagi hari.

Sebelum membuat keputusan, saya berkali-kali nanya ke Kaleb dulu, secara dia yang bakal jalanin, “Kaleb, mau les musik atau bola?”. Selalu dijawal bola. Ditanya lagi, “Kaleb, mau les bola atau basket?” Dijawab basket. Lalu pertanyaannya diubah-ubah lagi urutan pilihannya. Selalu pilih basket. Yang paling nggak pernah dipilih adalah les musik. Hahaha. Jadi fix memilih basket. Karena kalau dia pilih bola, Mamak akan tetap mengarahkan ke basket karena les bolanya belum buka. Hahaha.

Awalnya, Kaleb daftar untuk kelas Junior (18 bulan – 2,5 tahun). Tapi pas hari H, karena kecepatan datang, yang mulai duluan adalah kelas Rookie (2,5 -3,5 tahun). Jadi Kaleb ikutan aja. Lagian bulan ini Kaleb tepat 2,5 tahun. Untuk kelas Rookie, orang tua tidak wajib berpartisipasi lagi dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir lapangan aja. Anak akan full bersama coach-nya.

Latihannya sederhana sih, seperti melempar bola ke arah yang ditentukan, dribble, masukin bola ke tiang basket, lari zig-zag, dsb. Diawali dengan warming up dan diakhiri dengan cooling down. Tadinya khawatir Kaleb nggak akan paham, karena di kelas itu dia peserta paling kecil. Tapi ternyata dia paham semua instruksinya, ikutan setiap kegiatannya, dan paling excited kalau udah harus pegang bola dan masukin ke tiang. Bahkan kalau ada water break, Kaleb cuma minum dikit, trus langsung nanya, “Bolanya manaa?” Woy, istirahat dulu bentar! :))))

Ini bikin terharu sih karena kalau di sekolah minggu, Kaleb ogah-ogahan ikut gerakan dance. Kaleb patuh sih duduk di depan, ikut dengerin, tapi nggak ikut gerakan dance atau nyanyi. Yang ada rusuh muter-muter. XD Jadi pas dia ternyata tertib ikutin instruksi dari awal sampai habis, saya jadi senang. Ternyata dia akan lebih mau melakukan sesuatu, kalau dia suka.

Selesai main basket, anaknya langsung bilang, “Kaleb suka main basket.” :’) Trus pas di rumah dia ulang lagi gerakan-gerakan pas stretching. Hahaha, lucuk!

Anyway, Lil’ Hoopsters ini cukup serius dalam bikin kurikulumnya karena coach-nya sendiri adalah Pringgo Regowo, atlet basket nasional dari Aspac. Kalau ditanya dia siapa sungguh awalnya saya nggak tahu karena saya nggak paham basket. Tapi akhirnya saya googling dan kagum dengan prestasinya. Dan ternyata dia sendiri yang turun tangan melatih pas basket kemarin. Yang paling penting, mereka punya passion untuk mengajar anak-anak dan tetap mengedepankan sisi fun-nya.

Ada yang mau ikutan Kaleb main basket?

 

 

 

 

Review: Burza Hotel Jogja

OH IYA, belum sempat nulis review tempat saya menginap di Jogja, ya. Hihihi.

Pengennya nginep di Yats Colony ya, tapi sayang sekali hotel hits satu ini udah full booking. Huhu, ya sudah cari hotel lain lah. Pertimbangan cari hotel waktu itu adalah harus dekat ke mana-mana, terutama ke tempat wisata. Tadinya saya pikir Jalan Malioboro lah, tapi untungnya nggak pilih hotel di daerah sana karena macet banget. Harus ada kolam renang, karena walau bakal pergi-pergi terus, tapi siapa tahu pengen berenang di hari terakhir. Nggak perlu terlalu mahal karena, sekali lagi bakal lebih banyak di luar daripada di hotel. Harus ada sarapan karena nggak mau pusing mikirin sarapan ke mana tiap pagi, plus ada bocah yang perut harus diisi penuh dulu sebelum pergi daripada cranky.

Akhirnya dapatlah Burza Hotel di Jl. Jogokaryan. Secara lokasi sempurna banget karena dekat ke mana-mana. Dekat ke Alun-alun selatan, Taman Sari, Keraton, Jl Malioboro. Selempar kolor doang kalau mau ke Nanamia Pizza, Tempo Gelato, dan restoran hits lainnya. Pokoknya ke mana-mana asik dan nggak susah banget kalau cari makanan. Love!

Setiap kali pilih hotel, yang paling utama adalah nggak mau terlalu tradisional karena ku sungguh penakut. Jadi tentunya pilih yang minimalis modern clean ajalah. Tapi Burza ini menggabungkan keduanya. Lobinya dibikin kayak pendopo sehingga masih terlihat tradisional, tapi interiornya kamarnya modern minimalis jadi nggak ngeri buat saya. Bantalnya super empuk. Jarang-jarang saya bisa tidur nyenyak di hotel tapi di hotel ini saya bisa tidur nyenyak dari hari pertama. Alamak nikmatnya. Plus, lampu kamarnya nggak remang-remang sehingga saya nggak merasa gelap dan takut.

IMG_8628

Kamarnya nggak terlalu besar, but well cukup banget buat kami bertiga. Kamar mandinya juga kecil, tapi lagi-lagi bukan kekecilan lah. AC kamarnya nggak super dingin kayak di kutub selatan dan bisa diatur suhunya, plus dimatiin. Buat yang nggak kuat dingin kayak saya ini penting banget. Seringnya karena suhu yang terlalu dingin saya malah jadi nggak bisa tidur. Tapi no worries di sini suhunya bisa diatur dengan pas jadi tidur pun nyenyak.

IMG_8221

Ga besar, tapi cukup banget. Tempat tidurnya cukup lega. Bantalnya ada 4. Jadi ga rebutan bantal. Paling penting, empuk banget nget.

Restorannya bentuknya open space. Makanannya lumayan banyak dan selayaknya makanan pagi di hotel lainnya. Ada egg station, sereal, makanan berat kayak nasi dan lauk-pauknya, macam-macam roti, dessert puding dan cake, bubur, juice, susu, dan buah. Lengkap lah. Tinggal pilih mau makan yang mana.

Untuk rasa makanannya sih biasa aja, ya. Tapi lagi-lagi ini nggak bisa dijustifikasi karena 3 hari di Jogja, walaupun makan di restoran yang direkomendasi sekalipun, buat saya nggak ada yang istimewa. Yah oke, tapi bukan yang istimewa sampe pengen ngulang makan di situ. Kecuali Pizza-nya. Pizza di Jogja royal banget kasih keju yang bikin saya nagih dan berkali-kali makan pizza di sana. Makanan di Jogja itu menurut saya terlalu manis. Untuk lidah Batak yang sukanya pedas, hmmm… ku seperti makan makanan hambar. Nggak masalah sih, tapi kurang bikin terkenang. Eaaa!

Servicenya oke, semuanya ramah, penuh senyum, kalau minta apa-apa cepat. Dan harga makanan di restonya nggak mahal. Gilak, apa karena di Jogja semua murah ya? Jadi kalau udah kecapekan banget dan nggak mau keluar lagi, makan malam di hotel aja. Buku menunya pun mencantumkan harga udah disertai tax jadi nggak pusingin mikirin total harganya nanti jadi berapa. Efisien.

IMG_8285

Nah itu di balik itu kolam renangnya. Nggak terlalu besar, tapi cocoklah buat anak-anak. Ada balon flaminggo itu buat mainan dan foto-foto cantik. Dan kami malah nggak sempat berenang. Hahaha.

Itu semua kelebihannya ya. Nah, di bawah ini ada beberapa kekurangannya. Nggak sampai bikin kesal juga sih, tapi akan lebih baik jika diperbaiki:

  • Access cardnya cuma dikasih satu per kamar. Apalagi untuk naik lift perlu pake access card untuk pencet tombolnya. Jadi misal saya lagi di kamar dan suami turun ke bawah, dia harus pinjem access card ke pelayan untuk bisa naik ke atas. Ribet banget, kan. Misal, waktu itu dia masih main laptop di lobi, sementara saya udah tidur. Untuk masuk ke kamar, terpaksa dia ketuk-ketuk kamarnya dan bangunin saya. Coba kalau ada 2 access card jadi nggak susah, kan.
  • Handuk-handuknya bukan yang putih bersih, ya. Jadi karena udah keseringan dipake dan dicuci jadi kelihatan kusam. Huhu, serius deh yang ini perlu diganti banget.
  • Air di kamar mandinya ada panas dan dingin, berfungsi dengan baik. Kecuali kalau satu hotel mandi barengan. Kayak pagi hari gitu kan banyak tamu yang pasti mandi di jam-jam dari jam 6-9 pagi. Nah, kalau udah barengan gitu, suhu airnya nggak konsisten, tiba-tiba hangat, trus dingin. Lah, gimane? Padahal kalau mandi di jam yang nggak samaan, kayak di malam hari, suhunya konsisten, lho.
  • Baby chair cuma ada satu. Harus ganti-gantian, deh.

Itu aja sih kekurangannya. Selain dari itu, kami menikmati hotel tempat kami menginap, bisa tidur nyenyak, tidak ada keluhan. Jadi…. Yats Colony kapan nih nggak penuhnya? Hihihi.

 

Kangen Film RomCom

Jadi gimana Senin ini? Sudah move on-kah dari #PatahHatiNasional Jilid 2. Ih, minggu lalu tuh bukan cuma Babang Hamish yang bikin patah hati, lho. Buat saya minggu lalu minggu yang sungguh double patah hatinya karena Koko Dion Wiyoko juga menikah minggu lalu.

Hamish Daud kan emang nggak diragukanlah gantengnya maksimal, kalau senyum bikin perempuan kelepek-kelepek, manalah cowok banget dengan olahraga diving, panjat gunung, dsb. Beuh, pengen minta dilindungi banget sih sama Babang Hamish. XD Sementara Dion Wiyoko itu tipikal yang berkarisma. Senyumannya tuh meneduhkan, kalem, dan seksi. Dion dulunya aktingnya biasa banget dan sering main di film abg-abg, tapi sekarang…beuh, aktingnya keren banget. Di film Cek Toko Sebelah aja, dia yang paling mencuri perhatian saya. Ernest tuh jadi nggak kelihatan seperti tokoh utamanya. Sama tonton deh serial pendeknya dia: Sore. Duh, semacam pengen nyebelin tapi habis itu pengen dirangkul. Unch unch!

Jadi yah, setelah melewati patah hati Dion Wiyoko menikah, beberapa hari kemudian menghadapi Hamish menikah jadi lebih ringan. APA SIK, MI? XD

Nggak, postingan kali ini bukan tentang #PatahHatiNasional kok. Soalnya mau bahas kawinan Raisa-Hamish nanti eike jadi nyinyir. Wakakaka *jahit mulut*.

Anyway, ada yang bosen nggak sih sama jenis film-film bioskop sekarang? Kok saya bosen banget, ya. Genre yang lagi ngetren sekarang tuh action, horror, dan kartun. Drama jarang banget, apalagi romcom hampir nggak ada. Kalau mau cari yang drama dan romcom ya beralih ke film Indonesia. Tapi untuk nemuin karakter yang chemistrynya bagus banget tuh jarang. Terakhir nonton Critical Eleven yang chemistrynya nyambung banget. Sementara romcom atau drama perlu banget tokoh-tokohnya punya chemistry yang bagus.

Jadi tiap ke bioskop tuh nonton, merasa kagum dan menikmati, tapi bukan yang pengen ngulang nonton berkali-kali. I don’t get the warm feeling after watching the movies. Makanya akhir-akhir ini jarang nonton ke bioskop. Sebagai gantinya, saya streaming film-film drama dan romcom jaman dahulu, kayak Bride Wars, The Proposal, A Walk to Remember, Hannah Montana, A Cinderella Story, Drive Me Crazy, She’s All That, Serendipity, dll.

Setelah nonton dan ternyata saya masih suka. Saya bisa terhibur dan merasa hangat bersamaan. Nggak capek dengan segala macam tembak-tembakan dan kejar-kejaran, tapi ya menikmati aja. Kayak misalnya kemarin nonton The Proposal. Saking lamanya nonton film itu, saya jadi lupa jalan ceritanya dan berakhir saya nangis terharu. Yah, mungkin karena lagi PMS sih, tapi yah senang aja akhirnya bisa merasakan perasaan yang dirasakan si tokoh utama.

Selain nonton film lama, saya juga jadi sering baca chicklit di Wattpad. Ternyata banyak cerita bagus, ya. Saat ini saya lagi baca yang judulnya “Resign!!!”. Ceritanya tentang anak buah dan bos yang tentunya diselingi romance. Aslik, ini ceritanya lucu banget sampe saya ngakak-ngakak sendiri tiap baca. Dan saya ngebayangin kalau novel ini dibikin film pasti menyenangkan, deh. Sayangnya, ceritanya masih on going jadi masih harap-harap cemas nunggu lanjutannya.

Kegiatan dua ini ternyata mengisi kehausan saya akan romcom yang nggak bisa terpenuhi beberapa tahun ini. Coba aja deh, serial tv yang romcom yang asik akhir-akhir ini apa? Nyaris nggak ada. Mentok paling saya masih ngikutin Modern Family. Oh, sama This Is Us. Habis itu nggak ada lagi. Dahaga bener sama cerita-cerita manis.

Ada yang kayak gitu juga nggak sih? Kasih ide dong film romcom atau buku chicklit yang bagus apa lagi?

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (3)

Setelah dibiarkan menunggu lama di House of Raminten, apakah kali ini akan ada kisah yang sama? Check this out.

Taman Sari

Taman Sari ini letaknya dekat Alun-Alun Selatan. Konon Taman Sari ini dulu tempat berenangnya para putri raja dan bulan madu-nya Sultan. Bangunan yang ada sekarang sama sekali belum pernah dipugar jadi asli sli!

Lagi-lagi tak lupa diingatkan untuk pake sunblock karena ini ruang terbuka dan panasnya ajegila. Lagian hobi banget sih datang hampir siang jadinya kebagian matahari terik, kan. Hahaha.

Harga tiketnya murce bener, untuk lokal Rp 5.000. Anak di bawah 3 tahun pun gratis. Tentunya untuk wisata mancanegara ya beda lah harganya. Tapi saya nggak tanya kenapa. Kalau bawa kamera (bukan kamera HP, ya) dicharge Rp 2.000. Tapi anehnya nggak ada yang periksa itu tiket kamera juga. Jadi kalau mau bohong ya bisa aja. YANG MANA JANGAN BOHONG, ya. Kan udah murah, jadi nggak perlu tipu-tipu. Okeh!

Ada kejadian lucu pas lagi beli tiket. Jadi setelah saya bayar untuk 2 orang, tiba-tiba Kaleb ikutan nongol di loket tiket. Mbak kasirnya lihat Kaleb, trus langsung nanya ke saya untuk memastikan, “Mbak, suaminya bule, ya?”. Kebetulan Bapake lagi balik ke parkiran untuk ambil tripod. Saya jawab, “Nggak Mbak, suami saya bukan bule.” Pengen lanjut, suami saya itu kulitnya aja coklat banget. Ini anaknya cetakan bule karena dulu ngidam anak bule, sih. Hahahaha. Bukan apa-apa, kalau nanti saya bilang bule, disuruh bayar mahal lagi tiketnya. Cinta lokal aja deh makanya.

Di dalam banyak tour guide yang menawarkan jasanya. Kami nggak pake, tapi mungkin akan lebih baik pake karena curi-curi dengar yang pake tour guide sih ceritanya asik banget. Tapi hati-hati kalau nggak mau pake, tour guide suka tibat-tiba ajak ngobrol ceritain singkat mengenai sejarahnya, lalu kita tertarik, trus lama-lama udah dibawa jalan dan di-guide aja sama mereka. Kan jadi bayar, ya. Jadi waspada aja, jawab seramahnya. Kalau nggak mau pake ditolak manis, tapi kalau mau lanjut pake silahkan.

I can not tell much about the building because it’s just the building. Isinya yang bangunan lampau kosong. Tapi ada besar banget dan letaknya terpisah-pisah. Semakin ke bawah, semakin lembab dan gelap. Ada tempat semedi Sultan, sauna, masjid bawah tanah, terowongan, dll. Taman Sari ini dikelilingi oleh Kampung Batik yang mana isinya para pengrajin Batik, bisa dibeli juga karyanya. Jadi kalau mau keluar masuk Taman Sari kita juga akan lewatin Kampung Batik ini. Seru sih karena Kampung Batik ini rumahnya kecil-kecil di gang, tapi apik banget.

IMG_8522

Masuk-masuk dapat pemandangan segar kayak gini. Airnya bersih banget. Sepertinya rajin dikuras, sih.

IMG_8516

Kang bawa tripod lagi bekerja. Jangan diganggu.

IMG_8512

Lagi-lagi Kang Tripod sibuk ama alatnya.

IMG_8541

IMG_8562

Kampung Batik yang cantik

Ada kejadian seru nih pas di Taman Sari. Kami kan foto-foto dari luar ya. Tiap ada bangunan foto. Kaleb seperti biasa heboh sana-sini. Pas saya lagi foto, Kaleb nemu dua buah permen di sudut bangunan. Dia ambillah. Tentu saja saya bilang, “Awas jangan dimakan. Itu jorok udah dibuang orang.” Ya masa dari lantai dimakan, kan, walau masih dibungkus, tapi tetap aja jorok. Pas masuk ke dalam, Kaleb nemu permen lagi. Kali ini dekat kolam permandian. Kemudian saya perhatikan lagi, kok di tiap sudut selalu ada permen, ya? Jumlahnya pun sama persis: 2. Baru saya sadar, jangan-jangan itu sesajen. HUWAA! Langsung saya larang Kaleb untuk ambil lagi itu permen.

IMG_8487

Pertama kali tercyduk ambil permen di sudut

IMG_8502

Lagi-lagi tertangkap basah ambil permen di sudut

Di dalam pas ketemu dengan rombongan yang pake tour guide, kebetulan dengar tour guide cerita. Jadi tiap hari ada ibu-ibu dari Bali yang selalu bawa sesajen berupa permen-permen itu untuk ditaro di sudut ruangan. Dikasih untuk “penunggu” Taman Sari. Tapi katanya kalau mau makan permennya ya makan aja. Ya keleus mau makan permen buat sesajen. Mending beli segerobak di Carrefour, deh. Makan permen sampe mabok. Huhu!

Gara-gara cerita si tour guide itu saya jadi ketar-ketir, dong. Maklum anaknya penakut banget. Diceritain horror dikit saya mah langsung mengkerut. Saya udah merengek ke suami aja untuk udahan jalan-jalan di Taman Sari. Atau nggak saya nunggu di atas dekat abang es dawet sambil nyeruput es. Tapi diomelin suami, dong. Masa gitu aja takut katanya. Hahaha. Trus dia obsesi mau dapat foto di tangga melingkar yang tersohor itu. Huft, mau nggak mau jalan lagi dengan setengah hati.

IMG_8549

Sesaat setelah dengar cerita horor.

Taman Sari ini saking gedenya sampai capek juga, bok. Plus, cuaca terik banget jadi bikin energinya terkuras. Mana letaknya agak berjauhan dan nggak ada peta, jadi harus rajin nanya atau ya ikutin aja orang-orang jalan ke mana. Akhirnya ketemu juga tangga melingkar itu dan penuh banget sama orang-orang. Suami mau foto pun susah karena berdesakan sama orang. Tuh kan suami, mending duduk santai makan es dawet aja. Hahaha.

IMG_8564

Tangga tersohor yang rame banget. Ini udah paling sepi aja masih kelihatan di sekitarnya ada photobomb orang-orang.

Bakmi Jowo Mbah Gito

Dari Taman Sari, meluncurlah kami untuk makan siang di Bakmi Jowo Mbah Gito. Kebetulan letaknya nggak terlalu jauh. Bahkan pas sampai di restonya ya banyak ketemu orang-orang yang habis dari Taman Sari juga. Hahaha.

Mbah Gito ini unik banget interiornya. Penuh kayu-kayu semacam di hutan. Tempat duduknya hampir semua lesehan. Mungkin ada yang pake bangku tapi nggak lihat waktu itu. Lesehannya spacenya gede dan luas jadi walau Kaleb lari-larian juga masih aman. Nggak ada AC sama sekali karena walau di dalam tapi ruangannya terbuka banget jadi adem angin semilir.

IMG_8481

Ini tampak depan. Semacam rumah kayu di hutan, ya.

IMG_8578

Dapurnya open kitchen jadi bisa kelihatan yang lagi masak.

IMG_8579

Ada beberapa patung bapak-bapak yang setinggi manusia.

IMG_8583

Ada 2 lantai. Bisa makan di atas juga.

Waktu minta buku menu, mereka nggak punya. Menunya ya ada di tempat nulis bonnya. Jadi nggak bisa kebayang lah itu penampakan makanannya gimana. Di bonnya pilihan makanannya nggak banyak, yaitu bakmi goreng, bakmi rebus, nasi goreng, capcay goreng. Yang saya ingat sih itu, ya. Saya pesan nasi goreng dan air mineral, suami pesan capcay dan jeruk nipis hangat.

Selain pelayannya yang jutek padahal sih bukan yang lagi super rame sampe ngantri, lagi-lagi makanannya datang super lama. Lebih dari 30 menit. Huhuhu! Sampai akhirnya kami berkesimpulan mungkin memang kalau di Jogja itu semua makanan sampainya lama. Sing sabar, Mbaknya.

Dengan lamanya makanan yang datang, berharapnya makanannya juga enak, dong. Kalau menurut suami capcaynya enak, kalau menurut saya nasi gorengnya biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi kurang gurih. Lebih enak abang-abang nasi goreng dekat rumah favorit saya. Tapi kalau kata suami, untuk total bayar Rp 57.000 mah terima aja kalau pesanan datang lama dan nggak terlalu endeus rasanya. Enel ugha kamoh!

IMG_8589

Pintu masuknya. Lagi-lagi ada patung setinggi manusia. Mungkin dia si Mbah Gito.

Anyway, setelah dipikir-pikir lagi lidah Sumatera saya kayaknya merasa makanan di Jogja tuh overall terlalu manis dan hambar. Bumbunya nggak terlalu tajam dan nggak pedas. Maklum, orang Batak biasa makannya pedas level andaliman. Hahaha.

Jalan Malioboro
Belum sah ke Jogja kalau belum ke Jalan Malioboro, dong. Kami aja sampai 2 hari berturut-turut ke jalan yang super ramai dan padat ini. Jalanan lain nggak ada yang macet, Malioboro mah tetap macet. Mungkin ini juga karena sedang ada pelebaran trotoar. Jadi trotoarnya luas banget dan bisa asik jalan kaki di sana. Selain itu, juga ada Trans Jogja, tapi ya nggak ada jalur busway kayak di Jakarta. Jadi jalur Trans Jogja barengan sama jalur kendaraan biasa. Bisnya nggak sebesar dan sepanjang TransJakarta, tapi cocok untuk ukuran Jogja yang jalanannya bukan yang besar-besar banget kayak di Jakarta.

Seru banget jalan-jalan di Malioboro ini karena banyak banget yang bisa dilihat, terutama dari jajanan pinggir jalan dan dagangannya super murah. Belum lagi banyak bangunan sejarah yang letaknya di sekitar jalan ini, seperti Benteng Vrederburg, monumen serangan 1 Maret, Alun-Alun Utara, dan Kerator Jogja. Oh tak lupa ada Gudeg Yu Djum yang beken itu.

Kebetulan kami nggak belanja sama sekali selama di Jogja karena rempong ya bok bawa anak kicik nggak bisa diam pake belanja sambil nawar. Apalagi pas masuk ke Pasar Beringharjo (pasarnya tutup jam 5 sore ya), wuidih RAME POL! Sejauh mata memandang batik semua dan kece-kece. Tapi apalah hamba yang nggak paham model batik dan harganya, mau beli tapi nggak bisa nawar takut kemahalan. Ya udah lewatin aja lah.

IMG_8389

IMG_8382

Jalanan yang rame dan sibuk.

IMG_8394

IMG_8383

Penyanyi jalanan yang lagunya asik-asik.

IMG_8406

Museum Vrederburg yang belum sempat kami masuki karena keburu tutup. Numpang foto di depannya aja.

Di sepanjang jalan banyak becak yang bisa diajak keliling Malioboro. Becaknya udah banyak yang pake motor, bukan pake sepeda. Lebih baik lah, karena kasihan kan bapaknya gowes berat pake sepeda. Selain bentor, juga ada banyak delman dengan bapak-bapak berpakaian Jawa tradisional lengkap dengan blankon.

Karena ada delman, Kaleb suka banget lah lihatin itu kuda, dielus-elus pengen naik. Ya udah deh, kebetulan kami parkir di Alun-alun utara jadi lumayan jauh dari jalan Malioboro. Kami pikir ya udah ke sananya naik delman aja biar Kaleb senang. Padahal kalau naik bentor bisa lebih cepat dan cuma bayar Rp 10.000 bisa keliling Malioboro dan mampir ke 3 tempat. Awalnya Pak Delman buka harga Rp 60.000 dan menawarkan udahlah sekalian aja keliling Malioboro. Tapi kan kami nggak mau keliling Malioboro karena udah keliling jalan kaki, masa balik lagi. Plus, udah pengen balik ke hotel aja kecapekan. Ditawar Rp 30.000 nggak mau, ditinggal pun didiemin aja sama Pak Delmannya. HAHAHA. Trus Kaleb bilang, “Papa, kok nggak jadi naik kuda?” Lah, ciyan amat anakku. Ya udah akhirnya mampir ke delman berikutnya dan cuma nawar Rp 50.000 aja biar nggak ditolak lagi *anaknya insecure abis, bok! Hahaha*. Untungnya Pak Delman mau. Lagian kan cuma sampe Alun-alun yang dekat.

IMG_8609

Akhirnya ku naik delman. Walau di foto nggak senyum tapi anak ini bahagia banget naik delman.

IMG_8604

Tapi tampang Mamaknya kelihatan lebih bahagia sih ya. 

Seru sih ya naik delman, mandangin sekitar. 15 menit kemudian udah sampe di Alun-alun bagian belakang. Kami pikir, oh tinggal jalan dikit udah sampe ke parkiran mobil, nih. Ternyata kami diturunin jauh banget dari parkiran. Yasalam, tahu gitu mendingan sekalian bayar buat keliling Malioboro kalau ujung-ujungnya jalan jauh juga, sih.

Kami udah sampai masuk halaman Kraton Jogja untuk sampai parkiran, tapi kok nggak sampai juga. Ngiterin komplek perumahan, jalan-jalan kecil, tapi nggak kelihatan Alun-alunnya. Mana udah capek, terik, Bapake gendong Kaleb. Pegel bener. Sampai akhirnya mutusin buat udahlah naik bentor aja. Ya tahu gitu dari Malioboro sekalian aja naik bentor ke Alun-alun cuma Rp 10.000 *hayati lelah*. Panggillah Pak bentor. Pak bentor nawarin Rp 10.000 sambil keliling Maliboro. Saya nawar dong. Soalnya nggak mau keliling Malioboro, cuma mau ke Alun-alun yang mana itu deket banget. Jadi saya tawar Rp 5.000. Pak delman nggak mau, malah tetap keukeu Rp 10.000 aja keliling Malioboro. Yo weis, sak karepmu, Pak. Tak tinggal, nih. Walau dalam ketar-ketir juga karena udah pegel bener jalan kaki. Untungnya Pak delman mau Rp 5.000. Dan bener aja untuk sampai ke alun-alun cuma 5 menit doang. Deket banget. Sampai di mobil saya dan suami ngakak heran karena Pak delman kok ya lebih milih capek keliling Malioboro Rp 10.000 daripada selempar kolor Rp 5.000 dan habis itu bisa dapat penumpang lainnya lagi. :))))

IMG_8596

Alun-alun utara. Di setiap alun-alun Jogja selalu ada 2 pohon beringin yang dipagari. Kan tersohor tuh katanya kalau bisa lewatin dua pohon beringin kembar ini sambil tutup mata nanti semua permintaannya dikabulkan. Kabarnya susah banget bisa lewatin lurus pohon kembar ini. Orang-orang biasanya jalannya malah miring ke kiri atau kanan. Suami iseng cobalah. Lah, kok gampang amat bisa lewatinnya. Ealah, setelah digoogling ternyata pohon beringin kembar di alun-alun selatan, bukan di utara ini. Salah pohon, Mas!

IMG_8592

Baru sempat masuk ke pelataran Kraton Jogja. Seru banget lihat Abdi Dalam Kraton yang ternyata masih memegang tradisi telanjang kaki. Nggak peduli panas juga.

Panties Pizza

Selama di Jogja karena Nanamia Pizza, Kaleb ngidam pizza mulu. Waktu itu kami lagi bingung mau makan apa dan nanya Kaleb, langsung doi jawab mau makan pizza. Jadilah kami cari restoran pizza lagi. Kebetulan di Jogja banyak bener pilihan resto pizza. Jatuhlah pilihan ke Panties Pizza karena namanya unik. *cetek*

Hari itu malam minggu jadi Panties Pizza rame banget, walau tetap gampang dapat tempat, sih. Ramenya sama ABG pada pacaran sama anak-anak kuliah lagi ngerjain tugas. Adek-adek ini rajin banget ya malam minggu mikirin tugas kuliah. Dulu saya mah malam minggu buku udah disimpan rapat dan nggak ditengok lagi. Haram hukumnya. :))) Berasa tua banget kan ke Panties Pizza sambil ngangon anak. Hahaha.

Pesannya langsung ke kasir. Pizzanya banyak banget macamnya dan unik-unik rasanya. Semua dalam ukuran personal pan. Untuk 2 pizza personal pan, 1 kopi, 1 es coklat, totalnya Rp 80.000. Enak ya, selama di Jogja nggak pernah sekali makan ngeluarin lebih dari Rp 100.000. Semua di bawah Rp 100.000, bok. Sedap!

Walaupun ukurannya personal, tapi porsinya gede banget. Mantaplah! Uniknya kalau biasanya pizza topingnya di atas, Panties Pizza ini topingnya di dalam. Keju mozarella banyak banget dan nggak pelit jadi pas diangkat kelihatan banget lelehan kejunya. Sebagai pecinta keju saya bahagia banget lah lihat lelehan keju kayak gini.

Overall Panties Pizza ini sangat mengenyangkan dan rasanya enak. Kabar baiknya lagi Panties Pizza ini sebenarnya baru buka di Jakarta. Letaknya di Slipi Jaya. Lumayan nggak jauh dari rumah. Kalau Kaleb ngidam pizza lagi mau bawa ke sini ah.

IMG_8616

Spot mejeng buat foto

IMG_8620

Kejunya banyak banget. Lihatnya aja bikin kepengen lagi.

 

Nah, itu semua tempat yang saya datangi pas ke Jogja kemarin. Nggak terlalu banyak, ya karena kalau bawa bocah benar-benar harus disesuaikan sama kondisi bocahnya. Nggak bisa diforsir dari pagi sampe malam, atau menclak-menclok dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga nggak menikmati perjalanan. Pokoknya prinsipnya, Kaleb harus nyaman. Kalau kami merasa capek, ya kami balik dulu ke hotel untuk istirahat. Atau kalau udah nggak sanggup jalan-jalan lagi malamnya, ya udah makan aja di restoran hotelnya. Pokoknya liburannya jangan sampai malah terlalu capek dan nggak menikmati. Terutama bocah harus tidurnya cukup biar nggak cranky.

Ada banyak banget tempat yang mau dikunjungi lagi di Jogja. Berarti ada alasan untuk selanjutnya balik lagi ke Jogja. Yeay!

Posting berikutnya akan review hotel tempat kami menginap. See ya. 😀

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (2)

Lanjut lagi ya cerita jalan-jalan ke Jogja-nya. Untuk mau tahu tempat-tempat yang kami datangi sebelumya bisa dilihat di sini.

Candi Borobudur

Catatan penting untuk ke Borobudur adalah: jangan lupa pake sunblock! Gila ya, saya nggak pake sunblock dan kebetulan pake baju kutung, pulang-pulang bahu dan tangan langsung kebakar merah. Hahaha!

Lagian salah kami juga sih ya, sampai di sana jam 10 pagi yang mana udah terik banget lah matahari. Niatnya sih mau bangun pagi-pagi banget, tapi apa daya baru bangun jam 7 pagi, sarapan sampai jam 8 pagi, siap-siap baru berangkat jam 9 pagi. Perjalanan dari Jogja ke Magelang sekitar 1 jam. Sebenarnya Magelang ini dekat gunung, cakep banget pemandangannya. Tapi ya tetep, kalau jam segitu mah ya panas atuh.

Oh ya, jangan lupa bawa kacamata hitam dan topi. Saya sih nggak pake topi, tapi terselamatkan dengan kacamata hitam. Kalau Kaleb wajib pake topi karena panas kan. Kalau nggak bawa juga banyak dijual di sana topi dan kacamata hitam yang wajib ditawar. Jadi ceritanya saya sok nyobain blankon buat anak kecil karena lucu banget lah dipake Kaleb. Tapi nggak niat beli karena toh Kaleb nggak betah pake topi. Iseng nanya harganya Rp 60.000. Karena nggak mau beli ya udah ucapin terima kasih lalu pergi. Eh, penjualnya langsung aja turunin harga sampe Rp 30.000. Hm, jangan-jangan kalau ditawar bisa murah lagi. Jadi tawarlah setengah harga, ya. Di sana juga ada sewa payung Rp 5.000-10.000 sepuasnya. Lumayan juga nih buat kalau panas. Tapi saya malas rempong jadi nggak mau sewa payung. Yang paling penting: wajib bawa air minum. Bakalan haus dan capek jadi butuh minum. Beli di mini market aja karena di sana mahal.

Untuk tiket lokal harganya Rp 40.000 (beda dengan tiket warga internasional) dan anak di bawah 3 tahun belum perlu bayar. Yeay! Untuk tiket yang nggak terlalu mahal worth it banget lah. Borobudur sangat bersih, WC-nya pun bersih (kalau di depan bayar Rp 2000), banyak petugas dan penjaga yang kalau dari atas Borobudur bisa kita lihat banyak banget keliling. Good job!

Di gerbang masuk, kita akan diperiksa tasnya. Nggak boleh bawa makanan sama sekali, tapi bawa minum boleh. Yaeyalah, bisa pingsan kehausan! Kan sebelum masuk gerbang banyak penjual yang menawarkan dagangannya karena nanti di dalam nggak ada tukang jualan, ya. TETOT! Di dalam ada tukang jualan kayak mereka juga. Nggak banyak sih, dan cuma di depan setelah gerbang masuk. Tapi kan harusnya nihil, ya.

Untuk sampai ke Candi-nya melewati hiasan payung-payung warna warni yang cakep banget buat foto. Saya sih pengen banget ya banyak foto di situ, tapi sungguh terik matahari lah yang menghalangi. Panas, cyin!

IMG_8306

Kelihatan kan payung warna-warninya. Makin dekat makin cantik. Kalau kata suami, “Fungsinya payung di atas buat nutupin biar nggak panas, ya? Daripada digantung mending dipegang aja deh payungnya. Jelas adem.” Hahaha.

Sebelum candi ada penyewaan sarung gratis. Tapi ini agak membingungkan sih. Siapa yang harusnya pake sarung? Pakaian seperti apa yang harus pake sarung? Karena nggak semua orang pake sarung. Mau pakaiannya celana pendek pun tetap aja bisa ngeloyor masuk dan nggak papa. Saya dan suami memutuskan pake sarung karena saya pake rok pendek dan suami pake celana pendek. Saya pikir ini rumah ibadah jadi harus tetap menghormati dengan memakai sarung.

IMG_8323

Sarungnya pendek juga, sih

Masuk ke Borobudur mulai berdesakan karena banyak banget orang. Mungkin karena jalan naiknya dibikin 1 dan dipisahkan dengan jalan keluarnya. Jadi kalau mau foto-foto nggak perlu di pintu masuknya, nanti di dalam banyak kok yang tampak seperti pintu masuk dan sepi.

Borobudur ini emang cantik banget, ya. Tiap ukirannya sangat detil. Kan jadi kepikiran itu jaman dahulu gimana caranya bawa batu-batu ke atas sana dan diukir. Capek gila. Maklum ya ijk naik ke Borobudur udah mau semaput napas ngos-ngosan. Apalagi tangga di Borobudur cukup curam jadi hati-hati banget lah.

IMG_8318

Ini masih di bawah. Di ujung ada spot sepi jadi nggak kelihatan banyak orang.

Nah, karena tangganya cukup curam pas mau naik ke stupa, jadi Kaleb mendingan digendong pake Ergo. Tangga ke atas cukup sempit dan naiknya tinggi, kalau anak kecil naik sendiri sih serem banget, ya. Jadi mendingan digendong pake gendongan biar tangan orang tuanya juga bisa pegangan sama tangga dan nggak goyah. Kalau soal gendong mah urusan Bapake ya, soalnya Mamak mau gendong juga udah rempong sama urusan napas ngos-ngosan dan keseimbangan yang kurang. Hahaha.

IMG_8319

Naik ke atas gendong di belakang. Anaknya kesel karena susah ngeliat ke depan.

IMG_8354

Turun ke bawah gendong depan biar Kaleb bisa lihat pemandangan. Gendongan Ergo mailaf!

Di atas harus hati-hati banget karena ada beberapa spot yang direnovasi atau nggak ada pengaman langsung menuju tangga atau ke bawah. Serem! Untuk Kaleb yang hobi lari sana-sini saya sih cukup sport jantung karena dia sempat mau lari ke pinggiran. OH NO! Nah, untuk anak kayak Kaleb cukup tricky, nih. Begitu dia di pinggiran kalau saya langsung kejar, dia akan semakin lari karena mikir lagi diajak main (miriplah, kalau lah sama doggy, kalau kita heboh lari, mereka juga heboh ikutan lari karena dipikir mau main). Jadi saya teriak keras dengan nada tinggi, baru kemudian dia mau stop, freeze, dan nengok ke saya. Kalau udah gitu langsung geret anaknya dari pinggir. GILA, ITU KALO JATUH GIMANA? Huft! Jadi, pegang erat-erat anaknya, deh.

But overall, Borobudur itu cakep banget. Apalagi pas pemandangannya ke arah gunung. Segar banget lihatnya. Di bawahnya juga terdapat hamparan hijau. Keren! Kapan nih bisa nginep di Hotel Plataran Borobudur biar bangun-bangun bisa lihat sunrise Borobudur? #eaaa

IMG_8335

Cakep banget pemandangan di belakang, kan.

IMG_8326

IMG_8345

IMG_8350

Turun dari candi, seperti biasa langsung dihampiri buanyak pedangan lagi. Kadang-kadang jadi gengges karena mereka nggak mau stop waktu kita bilang nggak. Anyway, waktu baru turun penjual baju jualnya Rp 100.000 dapat 5 kaos. Nanti di ujung jalan-jalan dapat yang Rp 100.000 dapat 7. Nah 7 kaos Rp 100.000 udah maksimal, nggak ada yang nawarin 8 kaos soalnya. Hahaha.

Keluar dari gerbang Borobudur, untuk sampai ke parkiran melewati BUANYAAAAAK banget kios-kios suvenir dan itu harus lewat situ, nggak ada jalan lain. Gilingan ya, udah capek, kepanasan di Borobudur, masih harus melewati toko-toko suvenir berkelok-kelok yang panjang banget. Capcay! Tapi untungnya ada teh poci sih jadi lumayan bisa mengatasi haus. Dikirain teh poci di Jogja bakal lebih endeus daripada di Jakarta. Sama aja ternyata. Hahaha, tapi lebih murah pastinya. Rp 5.000 untuk gelas kecil, Rp 8.000 untuk gelas besar.

House of Raminten

Tempat makan ini kan beken bener, ya. Di mana-mana, entah di TripAdvisor ataupun situs-situs wisata lain pasti bilang harus cobain makan di House of Raminten. Beklah, mari kita coba.

Kondisinya kita habis dari Borobudur sekitar jam 13.00 mau ke House of Raminten di tengah kota yang perlu menempuh waktu satu jam. Udah laper dong, bok. Anak eike mah walau lapar dia selow, yang penting jalan-jalan dan udah dikasih pisang. Lumayan buat ganjel perut. Tapi emak bapaknya kan ya nggak ganjel apa-apa, paling keripik, ya lapar gila lah.

Sampai sana sampai jam 14.00. Tempatnya unik sih, semacam banyak printilannya. Ada tempat tunggunya sambil dipasang TV berisi acara kabaret. Jadi House of Raminten ini walau buka 24 jam tapi tetep rame jadi harus waiting list mulu. Nggak papa, buat orang yang penasaran, walau lapar, tetap dijabanin.

IMG_8358

Ini tempat menunggunya. Disuguhi tontonan kabaret di TV. Nah, itu patung ibu Raminten yang ternyata aslinya cowok. Haha.

IMG_8357

Tulisan di dindingnya sebenarnya lucu-lucu. Tapi saya udah terlalu capek dan laper untuk foto jadi fotonya aja dari tempat duduk nunggu. Di bagian tengah bawah ada sesajen. Itu pintu masuk buat ke dalam restorannya kalau udah dapat panggilan.

Waiternya kebanyakan cowok. Yang usher-nya aja cowok, cucok meong, bok. Alias ganteng dengan badan kekar. Mana seragam atasnya kan semacam kemeja lengan pendek berdasi kupu-kupu dan pake rompi, tapi bawahnya sarung. Jadi kelihatan lah itu otot-otot. Awalnya saya pikir, oh mas di depan kebetulan ganteng. Tapi nggak loh, semua waiter cowoknya ganteng berbadan kekar. Uhlala! Suami aja nyadar dan nanya ini emang kualifikasinya harus ganteng dan anak gym, ya? Apakah bos House of Raminten membiayai karyawannya dengan fasilitas member gym? Hihihi. Gosip-gosip tetangga nih, kabarnya mereka kurang tertarik dengan lawan jenis. Eh, tapi ini gosip loh. Coba tolong dibuktikan kebenarannya. Digodain gitu mas-nya siapa tahu berjodoh. Hahaha.

Kami duduk di lantai atas yang lesehan. YANG MANA INI DISASTER, ya. Lesehan dengan anak kayak Kaleb nggak bisa diam, plus ruangan semacam terbuka. Takut jatuh, bro! Walau kayaknya nggak mungkin jatuh sih karena ada pembatasnya, tapi tetap aja sebagai emak panikan dan anak pecicilan, saya parno banget sampai nggak bisa tenang. Jadi mending minta di bawah yang ada bangkunya, deh. Tapi mostly emang lesehan sih tempat duduknya.

IMG_8375

Ku sedih minuman udah datang, tapi makanan baru datang seabad kemudian.

Udah manis nih duduk di atas, disodorin buku menu juga. LOH, tapi kok nggak ada tampak waiter di atas? Cemana mau pesan? Apakah harus turun ke bawah juga? Kebetulan setelah 15 menit kebingungan, ada kelihatan waiter ganteng naik. Akhirnya kita panggil mau pesan. Tapi ternyata disuruh nunggu dulu karena nanti ada yang akan catat pesanan. Oh baiklah. Nunggunya aja lama bos! Baru 15 menit kemudian datang.

Yang bertugas catat pesanan ternyata waitress cewek. Kostumnya seksi abis. Berkemben dan memakai sarung dengan make up tebal ala mau syuting sinetron. Satu mbak ini mencatat giliran seluruh pesanan yang ada di lantai 2. Bayangin aja, sampai ke meja saya yang letaknya di ujung dekat tangga lama bener. Setelah catat pesanan, harus langsung bayar saat itu juga dengan cash. Semacam Bakmi GM dan Solaria, ya. Hahaha. Tapi point plusnya nih, makanannya murce semua bok. Saya pesan bakso mie, bakmi goreng, gudeg, jus mangga, tempe crispy 5 potong, es teh manis cuma Rp 87.000 saja. Selama di Jogja ini dompetku bahagia banget, nggak cepet tipisnya. Hahaha.

Udah bahagia bayar dengan murah tinggal tunggu makanannya, dong. Ditunggu-tunggu kok ya nggak datang juga. Ebuset sampai 45 menit makanan baru datang. Ini dimasak di kompor emas atau gimana nih kalau leh tau? Dari lapar pengen ngamuk sampai diam seribu bahasa karena energi udah habis. Ku sungguh lelah. Sampai akhirnya saya dan suami bikin jokes, “Inget ini di Jogja. Prinsipnya alon-alon asal kelakon. Makanya semua serba pelan. Yang penting nanti juga keluar makanannya.” Inggih, mas *nyemilin meja kayu*.

Sekitar jam 3 lewat makanannya baru datang. Ya langsung lah kita makan kalap membabi buta tanpa sisa. Ya udah lapar gila ini mah. Rasanya sih biasa aja, ya. Bukan yang istimewa banget. Kenyang di liatin mas-mas ganteng seliweran aja sih. Hahaha. Tapi untuk harga yang murah, hati ini legowo aja makannya.

Sebelum pulang, mau ke toilet dulu, kan. Turunlah ke lantai bawah mau ke toilet yang letaknya di belakang. Melewati bath tub bulat besar kosong yang entah apa gunanya (btw, di resto ini juga banyak sesajen diletakkan di sudut-sudut. Mungkin memang tradisinya begitu, tapi nggak horor sama sekali, kok). Menuju toilet, tiba-tiba ada benda besar bergerak warna hitam. Saya KAGET banget dikirain ada ular anaconda dipelihara (iyaaa, anaknya mah emang drama banget). Ternyata itu adalah…… KUDA! Jangan terkejut dulu, karena ternyata di bagian belakang ada LIMA kandang kuda. Epic banget lah ini restoran. Hahaha. Entah apa maksudnya di bagian belakang ada kandang kuda. Lalu di bagian luar belakang ada kereta kuda macam jaman kerajaan Cinderella. Cakep sih kereta kudanya. Nah, kuda begini nih yang bikin Kaleb bolak-balik minta ke belakang mulu. Saya mah udah serem sendiri lihatnya karena walau di kandang, tetap aja itu kuda gede bener.

IMG_8377

Di belakang situ ada 5 kandang kuda dengan kuda yang besar-besar. Di tengahnya adalah tempat cuci piring massal. Mas, kok bisa cuci piring ditemani kuda-kuda, toh?

IMG_8378

Kereta kuda yang diparkir di samping restoran. Semuanya ditutupi plastik biar nggak kena debu. Bentuknya bagus banget dan mewah, dibandingkan dengan kereta kuda di Malioboro.

Btw, House of Raminten ini punya kabaret show tiap Jumat dan Sabtu malam di Malioboro,di lantai atas Batik Mirota. Harga tiketnya reguler Rp 50.000 dan VIP Rp 60.000. Saya sih nggak nonton. XD

Jadi kalau punya waktu luang bolehlah berkunjung ke House of Raminten ini. Tapi kalau lapar banget kayak saya mendingan nggak. Emosi jiwa broh nunggu makannya. Plus pas nyuapin anak jadi nggak sabar karena udah pengen makan orang aja. Hahaha!

Tempo Gelato

Tempo gelato ini lagi hits banget. Letaknya di Jalan Prawirotaman yang banyak dihuni para bule. Untuk menemukan Tempo Gelato nggak sulit karena tokonya paling rame. Cuma karena jalannya di gang dan nggak ada area parkir untuk mobil, jadi mendingan sebelum Tempo Gelato udah diparkir aja mobilnya di pinggir jalan. Kalau nggak ntar kayak saya yang harus muter balik lagi karena semakin mendekati Tempo Gelato semakin nggak dapat parkiran.

Begitu masuk udah kayak pasar, RUAME banget. Semua tempat duduk full. Jadi ya sabar aja nungguin orang yang selesai makan, ya. Untuk harganya sendiri nggak mahal: 1 cup isi 2 scoop Rp 20.000, 1 cone isi 2 scoop Rp 25.000. Ada yang lebih besar lagi sih, cuma saya lupa berapa harganya. Kami pesan yang pake cone. Setelah bayar di kasir, dikasih nomor antrian, baru nanti menuju etalase untuk pesan mau rasa apa. Walau membludak banyaknya orang tapi saya sih nggak sampai nunggu lama.

IMG_8446

Macam mau antri sembako aja, kan.

IMG_8447

Kenapa bisa enak? Jawabannya ada di atas.

Rasanya ada macem-macem banget. Kami pesan rasa caramel coffee, oreo gold, strawberry, dan vanilla. Masih ada banyak macam lainnya yang lebih unik lagi, kayak buah naga, leci, kemangi, jahe, dll.

Ukurannya besar banget. Satu scoop aja udah gede, ini dapet 2 scoop. Dijamin kenyang banget. Conenya pun enak banget untuk dimakan. Puas banget pokoknya. Oh soal rasa es krimnya bener-bener enak dan asli banget. Kayak caramel coffee, berasa bener itu kopinya. Saya pesan strawberry karena saya pikir rasanya akan kayak es krim walls yang manis karena kebanyakan susu daripada strawberry. Tapi ini rasanya asem segar kayak buah strawberry asli. Berasa makan buah beneran jadinya.

IMG_8428

IMG_8431

Gede banget kan tuh. Hampir sebadannya Kaleb.

IMG_8463

Kaleb yang jarang-jarang dibolehin makan es krim, tentunya kalau liburan boleh dong makan es krim. Dia langsung suka banget sama es krim rasa kopinya (anaknya emang suka kopi) dan habis itu satu cone gede. Uhlala enak!

IMG_8460

Penasaran kan habis ini mau ke mana lagi. Ditunggu post selanjutnya, ya.

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (1)

Post sebelumnya tentang persiapan dan perjalanannya yang heboh. Sekarang mau cerita tempat-tempat yang kita datangi selama tour de Java (aseeek!):

Soto Sokaraja Pak Suradi (Purwokerto)
Waktu di Tegal mencari tempat makan untuk sarapan (well, jatuhnya brunch karena udah jam 10), nggak ada rekomendasi tempat makan di Tegal. Akhirnya cari tempat makan di kota terdekat, yaitu Purwokerto. Di TripAdvisor rekomendasi nomor 1 adalah Soto Sokaraja Pak Suradi ini. Jadi walau jaraknya sekitar 20 menit dari Kota Purwokerto ya dijabanin aja, deh. Lagian penasaran banget Soto Sokaraja kayak gimana, sih?

Begitu sampe Sokaraja nggak terlalu sulit mencari Soto Sokaraja Pak Suradi (iyalah nggak susah, kan pake Waze hihihi). Letaknya di pinggir jalan besar. Kalau mau parkir mobil bisa masuk ke gang dan parkir di halaman restorannya langsung.

Dari luar Soto Sokaraja Pak Suradi ini terlihat kecil sampai saya ragu ini beneran bersih nggak? Enak nggak? Kok nggak meyakinkan gini tempatnya? Tapi ternyata pas masuk, dalamnya luas banget. Bahkan ada banyak halaman untuk parkir, toilet yang banyak, dan mushola. Di dindingnya ada banyak foto orang ternama seperti Pak SBY, Ahmad Albar, Indro Warkop, dll.

IMG_8202

Ini tampak ke arah depan, di belakang masih luas lagi.

Begitu masuk langsung ada etalase untuk pemesanan. Pilihannya soto semua, cuma isinya bisa pilih daging/ati, ayam, campur. Saya pilih ayam. Begitu sampai cuma sotonya aja. Saya bingung dong. Soto di Jakarta kan pasti ada nasi-nya biar kenyang. Akhirnya saya minta nasi, tapi sayangnya belum matang nasinya. :((( Eh, tiba-tiba suami bilang itu di dalam campuran sotonya udah ada lontong jadi nggak perlu nasi lagi. LOH, ada lontong? Wah, baru kali ini coba soto ada lontongnya. Yang unik lagi, sambalnya pake sambal kacang, jadi rasanya gurih, manis, nggak terlalu pedas. Saya sih nggak lihat ada sambal cabe disediakan, ya.

IMG_8197

Isinya daging ayam, kerupuk, kuah bening, lontong, dan banyak toge

Buat saya, rasanya cukup berbeda dengan soto biasa yang sering saya makan, tapi saya suka, sih. Plusnya karena pake lontong jadi nggak ribet ada 2 piring, yang satunya nasi. Dan ternyata soto pake lontong enak juga. Tapiiii… kekurangannya buat saya adalah kurang pedas. Yah, mungkin karena pake sambal kacang, bukan sambal cabe. Lain kali makan ini minta sambal cabe, deh.

Untuk 3 mangkok soto ayam, 2 kerupuk, 2 es teh manis, dan 1 es jeruk harganya cuma Rp 76.000. Murah!

Nanamia Pizzeria (Tirtodipuran, Jogja)

IMG_8254

Depannya kayak rumah biasa, nggak kelihatan besar. Masuknya lewat samping, semacam garasinya untuk ke taman belakang.

Nanamia Pizzeria terletak di Jalan Tirtodipuran. Restoran ini dipilih karena dekat banget sama hotel kami di jalan Jogokaryan. Lokasinya di dalam gang, bukan di jalan raya besar, tapi di dalam gang tersebut banyak restoran heits Jogja. Semacam di Seminyak.

Dari depan Nanamia kelihatan seperti rumah biasa. Parkiran mobilnya pun nggak besar. Tapi ternyata begitu masuk ke dalam, waaah luas banget. Konsepnya adalah backyard. Ada ruang terbuka kayak di belakang rumah dan ada di dalam juga, tapi tidak ada pintu atau sekat. Nggak ada AC sama sekali, tapi tetap adem karena ruangannya terbuka.

IMG_8251

Begitu masuk ke halaman belakang disambut dengan dekor yang cantik dan cozy

IMG_8229

Ada pojok playground kecil untuk anak-anak main. Mainan yang disediakan semacam balok-balok, lego, dan semacamnya. Karena halamannya yang sangat luas, untuk anak pecicilan kayak Kaleb cocok banget. Dia bisa main di pojokan playground atau lari-lari di halaman. Saking terkesannya Kaleb sama resto pizza ini, selama di Jogja Kaleb minta makan pizza mulu. XD

Ketika sekitar jam 6 sore kami datang, restoran udah mulai penuh. Yang datang kebanyakan bule daripada orang Indonesia. Para bule itu juga biasanya sama keluarga dan anak mereka yang masih kecil jadi Kaleb punya teman main. Kami nggak kebagian duduk di bagian luar, akhirnya duduk di bagian dalam.

IMG_8249

Ketika lihat ada Kaleb, mereka langsung memberi baby chair dan kertas gambar serta pensil warna. Wah, atentif banget. Suka sekali! Kaleb jadi ada kesibukan sambil menunggu makanan datang.

IMG_8239

Gaya kebosanan si anak kicik

IMG_8242

Dikasih kertas gambar dan pensil warna. Anak ini langsung senang. Awalnya sibuk gambar, lama-lama pensil warnanya dipake buat pukul-pukul main drum.

Kemarin kami pesan: fetuccini carbonara, satu loyang pizza, trivolli bolognaise, es teh manis, dan satu botol bir. Porsinya besar dan mengenyangkan. Paling penting rasanya gurih, enak, pizzanya tipis dan crispy. Bikin nagih banget lah. Total kerusakan untuk semua makanan adalah Rp 160.000. Good deal banget. Kalau di Jakarta belum dapat segitu, even di Pizza Hut. 😦

IMG_8245

Enak, mengenyangkan, affordable, tempat kece. Love!

Alun-Alun Kidul Jogja
Habis perut kenyang, kami melanjutkan mengunjungi Alun-Alun Selatan Jogja atau Alun-Alun Kidul karena letaknya yang dekat banget sama Nanamia. Tujuannya apalagi kalau bukan naik mobil gowes berlampu heboh.

Karena banyaknya mobil gowes di Alun-alun jalanan jadi muacet banget dan penuh orang. Kaleb mah langsung excited lihat mobil heboh penuh lampu bergambar tokoh kartun. Anaknya udah langsung mau naik aja.

Walau penuh, untuk cari parkiran nggak terlalu susah. Selama di Jogja, satu hal yang kami sadari, tukang parkirnya beneran niat kalau parkiran alias perfeksionis. Hahaha. Jadi misal ada spot kosong, suami mau parkir lah. Seperti biasa diarahin sama tukang parkir, tapi tukang parkirnya beneran arahin sampe detil banget sehingga parkirnya presisi dan rapi. Bravo hahaha! Kalau kata suami, kalau kayak gini mah kasih uang parkir rela banget karena pas parkirin masnya niat, pas mau keluar masnya juga bantuin banget. Beda yes, kalau di Jakarta tukang parkir hanya muncul pas mau ambil uang aja. Huh! Untuk tarif parkir dipatok Rp 10.000 selama apa pun. Itu resmi karena kami dikasih karcis resmi pemda.

IMG_8263

Heboh bener ya mobilnya

Sepanjang Alun-alun tinggal pilih mana mobil gowes yang mau dinaikin. Kaleb ternyata pilihannya nggak mau yang heboh, semacam Hello Kitty, Pikachu, Doraemon. Dia mau yang gambarnya sayap aja. Anakku minimalis. Hahaha. Untuk sekali putaran Rp 50.000. Semua udah sepakat harganya sama. Sempat nawar trus ditolak dan pas sok ditinggalin Mas-nya bodo amat. Ku gagal menawar. :(( Kalau menurut Mas-nya itu sekali putaran aja macet banget jadi kembalinya lama banget. Iya sih, macet banget. Ya udah deh kasihan abangnya. *lemah*

IMG_8264

Cara mengendarainya sih gampang, ya kayak naik sepeda aja cuma butuh digowes. Tapi ternyata berat juga, cyin. Kalau kata suami, “Udahlah bayar mahal, capek juga ngendarainnya. Betis jadi gede, nih!” HAHAHAHA, eymber! Tapi buat saya dan Kaleb sih menyenangkan aja. Karena Kaleb bisa duduk di pangkuan Bapake sambil ikutan nyetir (kalau naik mobil kan nggak boleh karena bahaya) dan saya bisa dengerin lagu dari DVD player yang disediakan. Lagunya tuh lengkap dari lagu anak-anak masa kini dan masa jadul sampai lagu heits terbaru. Terberkatilah ada lagu Justin Bieber dan Despacito. Hahaha! Goyang, mas!

IMG_8267

sayang anak, sayang anak!

Jadi walau berakhir ngos-ngosan, kaki pegel, tapi ijk demen lah. Terutama karena bisa lihat keramaian di Alun-Alun dan banyak banget atraksi di tamannya, kayak ada robot Transformer, orang main bubble, kostum princess, dsb. Seru, euy! Btw, di Jakarta alun-alun semacam gini di mana, sih? Monas, ya?