Kaleb Vaksin DPT (Lagi)

Kebayang nggak tahun 2017 tiba-tiba ada outbreak Difteri (untuk penjelasan difteri bisa baca di sini) sampai di Jakarta sendiri pemerintah menyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Di Indonesia sendiri udah meninggal sekitar 30 orang anak. 😦

Sedih banget deh, padahal udah ada vaksin DPT yang bisa gratis didapatkan di posyandu atau puskesmas untuk bisa mencegahnya. Sebagai ibu yang khawatiran, saya langsung cek apakah Kaleb udah lengkap belum vaksinnya. Ternyata Kaleb udah lengkap ada 4 kali vaksin DPT, nanti yang ke-5 pada saat ia berumur 5 tahun. Tapi karena Jakarta dinyatakan KLB, pemerintah pun mewajibkan semua anak di bawah 19 tahun untuk divaksin DPT lagi, apapun status imunisasi sebelumnya. Berarti harus ikut semua, ya.

Kemarin Kaleb ke puskesmas dianterin Opungnya, karena saya lagi kerja. Dari hari sebelumnya saya udah bilang ke Kaleb, nanti divaksin sakit sedikit, jangan nangis. Biar nanti sehat dan kuat. Kebetulan beberapa hari sebelumnya Kaleb ikut ke dokter hewan untuk vaksin Mika (iyes deh, punya anak balita dan anjing tuh ganti-gantian aja jadwal vaksinnya). Mika nggak nangis atau menggonggong pas disuntik *iyalaaah, wong vaksinnya di kulit luar, bukan nembus sampe ke daging-daging jadi hewan nggak bakal kesakitan*. Jadi saya selalu kasih contoh, “Kayak Mika ya berani, disuntik nggak nangis. Sakit sedikit aja.” Kaleb sih iya-iya aja.

Waktu di puskesmas (oh untungnya waktu itu di puskesmas dekat rumah saya masih ada karena di puskesmas sekitar lainnya, kata tetangga saya lagi habis, baru direstock besokannya), dokternya baik-baik banget. Masih muda dan cakep gitu *berdasarkan pemantauan Opungnya hahahaha*. Terjadilah percakapan ini:

Dokter: Namanya siapa?
Kaleb: Kaleb.
Dokter: Udah sekolah belum Kaleb?
Kaleb: Udah.
Dokter: Wah, sekolah di mana?
Kaleb: Sekolah minggu di gereja. *wakakakaka, ya bener juga sih. Soalnya kami selalu bilang sekolah minggu. :))))*
Dokter: Udah kelas berapa?
Kaleb: Kelas dua. *kalau ditanya angka, kelas, umur, Kaleb selalu nyebut angka 2 karena pas mau ultah kedua dibrain wash berkali-kali mau umur 2 hahaha*
Dokter: Di sekolah belajar apa, sih?
Kaleb: Belajar Tuhan Yesus. *Ya bener juga XD*

Si dokter pun senyum-senyum sendiri karena Kaleb bisa aja jawabnya. Pas mau disuntik dokter minta opungnya untuk pegang tangan Kaleb supaya nggak bergerak-gerak. Trus Kaleb nyeletuk: “Kata Mami kalau disuntik nggak boleh nangis.”

Dokternya langsung ketawa, “Iya, jangan nangis, ya.”

Tapi pas disuntik Kaleb agak kaget dan dia agak teriak, lalu dokter bilang, “Katanya nggak boleh nangis.” Trus langsung Kaleb inget dan nggak jadi nangis. Gengsi doi, bok. Hahaha.

Sebelumnya Kaleb biasanya pake vaksin DPT yang nggak bikin demam, jadi saya nggak pernah ngerasain anak demam karena vaksin. Kalau pun ada vaksin yang bikin demam, Kaleb nggak pernah demam. Nah, kali ini karena diadakan pemerintah, vaksin DPTnya tentu yang bikin demam (karena kalau yang nggak bikin demam mahal, kasihan pemerintah dong, ya). Puskesmas sekalian kasih obat penurun demam jaga-jaga kalau demam.

Nah, benar aja menjelang sore tangan bekas suntikan mulai bengkak dan Kaleb mulai mengeluh tangannya sakit. Lalu, malamnya Kaleb demam. Plus, ternyata Kaleb udah mau batuk, jadi udah deh semalaman dia nggak bisa tidur nahan tangan sakit, batuk-batuk, dan demam *mamak pun begadang, kena muntah karena batuk berdahak, gendong semalaman horeee*. Untungnya begitu dikasih obat penurun demam, demamnya langsung turun. Paginya, Kaleb bilang tangannya udah nggak sakit. Yeay!

Dokternya mengingatkan nanti bulan Januari ada vaksin DPT lagi yang kedua, jangan lupa. Oke, dok!

Kebayang nggak bahayanya nggak vaksin? Kaleb aja yang vaksinnya lengkap, “terpaksa” harus vaksin ulang lagi karena ada wabah ini. Ngulang lagi deh tuh proses sakitnya, begadang karena demam. Padahal saya udah bahagia banget merasa bisa ongkang-ongkang kaki karena semua vaksin Kaleb udah lengkap, tinggal nanti vaksin ulangan pas 5 tahun.

Saya ingat waktu saya baru melahirkan, perawat memberi saya jadwal vaksin yang buanyaknya minta ampun itu, “Jangan lupa divaksin anaknya, ya Bu.” Sebagai ibu baru, ya saya iya aja. Nggak merasa bahwa vaksin itu pilihan; bisa ya dan bisa tidak. Buat saya vaksin itu kewajiban saya sebagai orang tua dan hak anak untuk hidup sehat. No choice.

Baru kemudian saya sadar, harga vaksin itu mahal banget. Dan nggak semua vaksin ditanggung pemerintah. Kalau nggak salah ada Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT-HB), Polio, Campak, MR. Bisa didapatkan gratis di Posyandu dan Puskesmas terdekat.

Nah, yang nggak ditanggung lebih banyak lagi dan harganya emang bikin kantong meringis. Tapi sama kayak sekolah yang merupakan kewajiban orang tua untuk menyediakan, maka ya mending nabung dan ngirit daripada nggak divaksin. Secara psikologis bikin hati orang tua juga lebih tenang karena merasa anaknya dapat proteksi yang baik. Kalau pun memang tidak mampu dan berat banget, tetap aja harus ikut vaksin yang disediakan gratis oleh pemerintah. Harus lengkap itu semua.

Kalau keputusan orang tua untuk tidak memvaksin anaknya HANYA berakibat pada anaknya ya nggak papa, masalahnya penyakit yang divaksin ini biasanya menular, jadi wabah, dan mematikan. Taruhannya nyawa, bok. Satu anak nggak divaksin, lalu nularin anak lainnya, lalu satu komunitas semua kena penyakit, jadi wabah, dan meninggal. Bayangin, kalau anak-anak di Indonesia banyak yang meninggal karena wabah. Mau di kemanain generasi selanjutnya? 😦

Ketika kita tidak memvaksin anak kita, kita membahayakan anak lainnya. So, you’re being so selfish. Egois dan jahat. Ikhtiar itu bukan pasrah, tapi berusaha untuk melakukan yang terbaik buat diri sendiri dan orang di sekitar. Kecuali, kamu memutuskan untuk tinggal di bulan di mana cuma ada kamu dan anakmu, bolehlah kamu nggak memvaksin anakmu. Kalau masih tinggal di bumi, hidup bareng orang lain, ada anak lagi, keputusanmu bukan cuma berakibat pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Ya kecuali nggak merasa perlu bergaul ke luar, ngurung diri di kamar aja jadi virusnya ya bolak-balik di situ.

Jadi tolong anaknya divaksin ya. Ini soal nyawa, bukan soal keegoisan diri sendiri.

Advertisements

Dijambret

Beberapa hari lalu saya ngalamin kejadian yang nggak enak. HP saya dijambret.

:'(((((((

Biasanya pagi-pagi saya diantar oleh suami sampai tempat di mana saya akan pesan Gojek sampai kantor. Tapi karena pagi-pagi itu jalanan super macet dan kalau suami anterin saya ke tempat itu, dia bakal telat karena kantor kami sebenarnya berlawanan arah. Jadi saya diturunin di jalan, suami bisa langsung masuk tol. Saya sambung pake angkot. Karena saya pikir kalau langsung pesan Gojek dari situ kejauhan dan saya bakal kepanasan banget. Nggak tahan, bok! XD

Saya duduk di depan, samping supir. Jarak dari naik angkot ke tempat Gojek sebenarnya nggak jauh, sekitar 15 menit aja. Selama naik angkot itu, saya nggak pegang HP. Baru deh, beberapa ratus meter mau sampai, saya keluarin HP dan pesan Gojek. Waktu itu tepat banget saya baru klik Order. Trus tiba-tiba, HP saya dijambret dari orang yang naik motor. Tangannya masuk ke dalam angkot, ambil HP saya.

Saya langsung teriak, dong. Bapak supir langsung ngebut mau ngejar copetnya. Tapi karena kondisinya di depan adalah lampu merah, jadi tertahan lampu merah, sedangkan si copet udah ngebut belok. Si Bapak supir bahkan sempat turun dan lari ngejar, cuma nggak kekejar.

Kaget banget lah saya. Tapi detik itu juga saya pasrah kalau HP saya nggak bakal balik. Saya nggak sempat baca plat nomor motornya, nggak lihat juga tampang yang copet kayak apa.

Saya cuma turun dari angkot, menghampiri Pak Polantas di dekat situ, bilang HP saya dicuri dan minjem HP Pak Polisi buat nelepon suami. Yang saya khawatirkan cuma satu: HP itu berisi semua data penting, termasuk nomor rekening. Huhuhu!

Setelah kabari suami, Pak Polisi minta saya lapor di kantor polisi terdekat. Waktu itu saya nggak kepikiran lapor polisi atau minta polisi ngejar karena…saya malas berhubungan sama polisi. Dua kali rumah orang tua saya kemalingan dan lapor polisi, tapi polisinya malah mintain uang. :((( Malingnya tetap nggak dapat. Jadi nggak deh, makasih.

Saya pun nyeberang ke lokasi tempat saya biasa ambil Gojek yang kebetulan ada ATM centre, cek-cek rekening. Trus pas keluar, kebetulan ada Gojek. Eh, itu ternyata Gojek yang saya pesan tadi! Ternyata udah sempat diorder. Akhirnya saya minta diantar ke kantor polisi aja untuk bikin surat keterangan buat ngurus ini-itu.

Abang Gojek-nya baik banget. Dia nanya apa saya butuh telepon untuk ngabarin HP saya dicuri. Tapi karena sudah ngabarin suami, jadi saya menolak.

Di kantor polisi sampai kira-kira jam 8.30. Semua polisi meeting. Nunggu lama, baru habis itu ada polisi yang tugasnya ngurus kehilangan. Saya bilang HP saya dicuri, saya mau bikin surat keterangan hilang. Dia bilang nggak bisa bikin surat keterangan hilang, harus lapor dulu ke lantai 2 untuk bikin berita pencurian. Beklah, kalau itu prosedurnya. Tapiii karena lagi pada meeting yang mereka pun bilang kira-kira sejam lebih selesainya, saya disuruh nunggu lagi. -_-

Daripada nunggu di lantai 2 sendirian, nggak ada HP buat dimainin, saya pun nunggu di pojok baca buat anak kecil karena ada 2 orang ibu-ibu beserta anak batitanya di situ. Mayan, ngobrol-ngobrol aja lah.

Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata kedua ibu ini suaminya ditangkap polisi. Satu karena dituduh menjambret HP (yang mana kejadiannya persis saya; naik motor dan ambil HP orang yang lagi jalan), tapi dia bilang suaminya itu cuma nyetir motor, yang jambret teman yang dia bonceng, dan suaminya nggak tahu apa-apa (YOU THINK?!). Satunya lagi suaminya ditangkap karena narkoba. Teman suaminya ketangkap basah bawa narkoba, suaminya sih nggak. Tapi pas ada polisi doi kabur. LAAAH, ngapain kabur? Dia bawa anaknya yang masih 1 tahunan, bilang ke istrinya mau ke rumah ibunya di Kebon Jeruk. Kejadian penangkapan di Tanah Abang. Cobaklah ibu pikir, jujur kau rasa itu suamimu?

Setelah ngobrol ngalor ngidul sama para istri pelaku yang kayaknya pada polos-polos amat suaminya jujur *maap, ijk jadi skeptis kan*. Tiba-tiba satu polisi datang nanya ke saya, “Ibu, mau lapor kecurian biar diproses atau langsung buat surat kehilangan aja?”

Saya bilang saya nggak mau proses, mau buat surat kehilangan aja. Trus dibolehin. YA BAPAK, DARI TADI AJA NAPA? UDAH SEJAM DI SINI GETOH!

Habis bikin surat keterangan hilang yang cuma 5 menit itu, saya pun pulang. Nggak balik ke kantor karena rasanya nggak tenang kalau belum urusin data-data di HP, blokir SIM Card dan segala macam.

Untunglah punya suami yang kayaknya bisa difungsikan sebagai tukang service HP. Suami bilang untungnya HP saya dipassword, trus pake finger print. Untuk ngebobolnya susah banget. Kalau pun dia mau bongkar passwordnya, itu HP harus di-flashing yang berarti semuaaaaa data akan hilang bersih baru bisa dibuka. Soalnya dulu waktu PRT di rumah ketahuan nyuri, si mbak baru saya beliin HP yang bakal dia cicil. Dia nggak mau balikin HP-nya. Jadi pas ke rumahnya saya ambil HPnya, eh ternyata di-password. Setelah dikuta-katik suami, ternyata jalan satu-satunya ya di-restore semua data dari komputer sampai hilang, baru bisa kebuka. Dan itu prosesnya ribet banget. OK, baiklah.

Sorenya saya ke kantor suami untuk minta dianterin urus pemblokiran dan segala macamnya. Untungnya jaman now udah canggih banget, ya. Semua data-data di HP lama itu bisa dihapus pake google. Kalau punya playstore kan pasti login pake e-mail kan. Nah, saya login pake e-mail saya, trus bisa hapus deh semua data di HP lama, termasuk contacts, foto, app, dsb. Lalu ketika ada HP baru, semua data itu bisa di-retrieve kembali pake e-mail yang saya. Duh, terberkatilah teknologi.

Untuk SIM card pun, kebetulan saya pake XL, saya tinggal ke XL centre. Minta diblokir dan dibalikin nomor saya. Layanannya katanya gratis, tapi wajib beli pulsa minimal Rp 50.000. YA SAMA AJA BAYAR, mbake! Tapi nggak papa, dapet pulsa Rp 50.000, mayan bisa hura-hura teleponan ama abang Gojek. Hahaha.

Baru deh semua beres dan saya legaaaaa banget! FIUH!

Oh, dan saya beli HP baru dong. HP yang sama persis kayak HP lama. Soalnya saya anaknya susah move on. :’)

Hati-hati di jalan ya, gengs!

 

Review: Legend of Noodle

Setelah kemarin seringnya makan pizza, sekarang saya mau review restoran Korea. Walaupun saya suka banget nonton drama Korea, tapi saya hampir nggak pernah tertarik makan makanan Korea. Sebabnya adalah kalau di drama mereka makannya suka bunyi. Kan bukannya bikin saya nafsu pengen nyicip, tapi malah geli. Kalau mereka masak mie, biasanya pancinya langsung ditaro di meja dan makannya ya langsung dari panci. Jangan lupa seruputan mie-nya pasti kedengeran banget. Hahaha. Selain itu, saya juga merasa makanan mereka aneh. Kayak misalnya waktu itu saya lihat mereka makan daging, trus dagingnya dimasukin ke dalam daun, baru dimakan. Ini makanan apa, sik?

Sebagai orang yang nggak suka coba makanan baru yang aneh, ya tentu saja saya nggak tertarik untuk mencoba makanan Korea.

Tapi kemarin saya ditraktir seorang teman yang hobi banget makan makanan Korea, dan restoran ini adalah salah satu restoran Korea favoritnya, namanya Legend of Noodle. Letaknya di Senopati.

Tidak seperti resto di Senopati lainnya yang tampak hits dengan desain menarik, Legend of Noodle ini bukan tempat nongkrong berlama-lama, tapi ya untuk makan serius yang nggak pake nongkrong. Di depannya ada plang nama gede Legend of Noodle.

Masuk ke dalam, interiornya biasa aja. Ada meja makan dan kursi, hiasannya sedikit. Beneran buat makan lah dan bukan buat tempat foto yang instagramable.

IMG_20171127_133534.jpgIMG_20171127_133539.jpgIMG_20171127_133550.jpgIMG_20171127_133650.jpg

Kebanyakan yang datang ke restoran ini adalah orang Korea asli. Jadi pas di dalam berasa banyak amat yang ngomong bahasa Korea, semacam kayak di negeri aslinya.

Oh ya, makanan di sini ada yang mengandung pork ya. Tapi yang mengandung pork akan ditulis kok menu yang mana aja, jadi kalau nggak makan pork bisa pesan menu lainnya.

Sebagai orang buta makanan Korea, saya membiarkan teman saya yang memilih. Kita pesan makanan tengah karena kata teman saya porsinya besar. Yang kami pesan ini nggak ada yang mengandung pork karena teman saya Muslim.

IMG_20171127_122226_HHT.jpg

IMG_20171127_122229_HHT.jpg

Ini makanan pembukanya sambil nunggu menu utama muncul. Ini dikasih gratis. Saya nggak coba sih karena kok kelihatan aneh, tapi kata teman saya yang di atas itu rasanya kayak lobak.

IMG_20171127_122538.jpg

Jja Jang Myeon. Semacam mie goreng dan manis. 

IMG_20171127_122541_HHT.jpg

Haemul Jjampong. Mie kuah seafood. Seafoodnya buanyak banget, dari kerang, kepiting, udang. Beuh, pesta pora seafood lah. Kuahnya segar banget. 

IMG_20171127_123201.jpg

Ini menu baru, lupa namanya. Tapi ini semacam bihun tapi dingin. Kalau di menunya dibilang pedas, tapi buat kami nggak pedas, kok. Dia akan kasih botol cabe kalau kami merasa kurang pedas dan segelas kaldu kalau kami merasa kepedasan. Sebenarnya rasanya enak, cuma bihunnya terlalu kenyal jadi susah digigit. Kami aja motongnya pake gunting. Dan saya nggak kebiasa makan bihun tapi sedingin es jadi kurang terasa sedap, sih. Mungkin kalau hangat lebih enak.

IMG_20171127_123219.jpg

Aduh, ini blur banget, yak. Hahaha. Ini cheese chicken katsu. Ayam katsunya gede banget, ditambah cheese di dalamnya meleleh banget waktu dipotong. Enak banget nget rasanya. Dan ini adalah menu paling standar yang nggak terlalu ke-Korea-an sehingga kami semua bisa makan. Hahaha.

Untuk minumnya kami minum teh jagung yang sudah tersedia di meja dan bisa refill sampe kembung. Untuk harganya sendiri, kalau nggak salah paling murah Rp 85.000. Kalau kata teman saya, ini hitungannya murah karena porsinya GEDE banget. Beneran kayak bisa nyemplung di mangkoknya saking gedenya. Jadi bisa banget satu mangkok makan rame-rame. Dan dibandingkan restoran Korea lain, di mana Jja Jang Myeon harganya di atas Rp 100.000, yang ini hitungannya murah.

Oh ya, kami udah berasa makanan ini porsinya gede banget, kan. Sampai di tengah makan tuh perut udah begah banget dan kami harus bungkus. Tapi pas lihat sekeliling di mana orang Korea asli yang makan, mereka makan satu porsi itu untuk sendiri. Daebak! Perutnya segede apa, ya?

Karena bumbunya cukup banyak dan bisa ciprat ke baju, kita boleh lho minta celemek. Kami sih minta celemek karena lihat orang-orang Korea itu minta duluan. Karena kalau nggak kami nggak tahu ada celemek dan nggak ditawarin juga.

Jadi begitulah pengalaman pertama saya makan makanan Korea. Kalau menurut saya yang sukanya makan makanan standar, yah okelah, masih bisa saya makan. Tapi kayaknya emang makanan Korea tuh bukan favorit saya banget, deh. Hahaha *balik lagi makan pizza*. Tapi kalau mau coba segala macam mie Korea yang otentik, cobain deh Legend of Noodle ini. Resto ini sih selalu rame, ya. Jadi harusnya enak, setidaknya bagi orang asli Korea sih senang banget makan di sini. Dan ingat, jangan makan sendirian karena porsinya super gede.

Selamat mencoba!

Legend of Noodle
Jl. Senopati No. 81, Senopati, Jakarta

 

Makan Pizza, Yuk!

Beberapa minggu belakangan ini ada beberapa restoran pizza yang saya coba. Iya, saya segitu sukanya sama pizza sampai kalau ada restoran pizza baru, saya pasti coba. Hahahaha.

Pizza Place
Pizza Place ini terletak di Como Park, Kemang. Tempatnya kecil, benar-benar sempit. Bukan untuk tempat nongkrong lama-lama karena pasti banyak yang antri mau duduk juga. Karena letaknya dekat taman luas di mana bisa bawa anjing main-main di sini, jadi pizza-nya bisa di-take away sambil nongkrong di luar nungguin anjing-anjingnya main.

Pizza-nya dijual per slice dan potongannya gede banget. Saking gedenya, cukup makan 1 slice udah kenyang banget. Harganya rata-rata Rp 30.000. Murah, tapi dengan rasa yang enak. Cheese-nya berasa, dagingnya nggak pelit. Bumbunya di meja juga lengkap. Ada permesan, chilli, saos yang bisa diambil sepuasnya. Sedap! Pilihan pizza-nya ada cheese pizza, pepperoni pizza, ricotta white pizza, dan sicilian square pizza. Untuk minumannya mereka jual air mineral dan berbagai minuman soda kayak Coca Cola, Fanta, dll.

Saya suka banget ke sini karena sambil bisa bawa Kaleb main sama anjing-anjing di taman yang lucunya minta ampun. Biasanya saya tinggal ngawasin di pinggir taman sambil makan pizza dan Kaleb main sampe puas.

IMG_20171007_170234IMG_20171007_170903IMG_20171007_171223IMG_20171007_173512

 

Pizza Place
Como Park, Jl. Kemang Timur Raya No. 998, Kemang, Jakarta

Pizza Time
Pizza Time ini baru buka banget di dekat Permata Hijau. Letaknya di pinggir jalan raya dan tulisan Pizza Time yang besar dan penuh lampu bikin penasaran bikin pengen coba.

Tempat parkirnya nggak besar. Jadi kalau nggak kedapatan parkir, bisa parkir di jalanan samping Pizza Time (tinggal belok kiri aja). Kalau udah kelewatan Pizza Time ini akan cukup jauh dan macet putar baliknya. Jadi kalau nggak dapat parkir tepat di depannya, langsung belok kiri aja, ada jalanan kecil tepat di samping Pizza Time bisa untuk parkir juga.

Masuk ke dalam, ruangannya terasa besar karena atap yang tinggi jadi kelihatan luas. Ada indoor dan outdoor untuk smooking. Desainnya kesannya maskulin dengan dinding berwarna hitam dan dinding batu-bata.

Beli-nya langsung ke kasir, bayar, dan nanti diantarkan makanannya. Selain pizza, ada pasta, gelato, rice bowl, dan snack seperti french fries.

Pilihan menunya cukup banyak. Ada big pizza yang berbentuk lingkaran dan dibagi beberapa slice. Di atasnya diberi topping, kayak pizza Domino’s atau Pizza Hut. Lalu ada pizza calzone, di mana topingnya justru ada di dalam pizza-nya. Kalau ini bentuknya setengah lingkaran. Untuk yang calzone ada yang sweet calzone jadi isinya manis, seperti coklat, dll. Pizza di sini nggak tebal rotinya, tipis. Karena tipis itulah jadi berasa banget topingnya, bukan yang cepat kenyang karena roti.

Untuk big pizza harganya Rp 37.000-39.000, tergantung toping pizzanya. Kalau untuk calzone Rp 24.000-30.000, tergantung isinya juga. Buat saya sih enak banget.

Gelatonya harganya Rp 14.000 per scoop. Menurut saya gelatonya biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi bukan yang luar biasa enak. Apa karena saya pernah makan Tempo Gelato yang rasanya endeus banget, besar, dan cone-nya tuh garing banget ya?

 

Pizza Time
Jl. Panjang Arteri Klp. Dua, Kebon Jeruk, Jakarta
@pizzatime_jakarta

Mastercheese Pizza
Nah, ini baru banget buka. Kemarin saya datang ke sini masih banyak papan bunga ucapan selamat di depannya. Letaknya di Tanjung Duren.

Tempatnya nggak seberapa besar, tapi jarak antar mejanya nggak terlalu berdekatan jadi cukup ada space. Sama seperti tempat pizza sebelumnya, kita datang ke kasir, pilih menu, dan bayar. Nanti akan diantarkan ke meja kita.

Uniknya, yang pertama kali mereka tawarkan adalah pilih minuman dulu, baru pizzanya. Untuk pizza-nya sendiri adalah jenis pizza yang topingnya ada di dalam, bukan di luar. Dan spesialisasi di sini adalah cheese. Jadi mau pizza apapun, pasti mozarellanya meleleh. Sebagai orang yang suka banget keju, saya bahagia banget lah dapat pizza kayak gini.

Ditambah lagi, pilihan sausnya ada 3, yaitu blackpepper, barbeque, dan cheese. Karena saya pesan cheese pizza, jadi saya minta sauce-nya rasa barbeque. Suami pesan pepperoni pizza, sauce-nya black pepper. Menurut saya, sauce barbequenya nggak terlalu enak, saya nggak suka jadi nggak diabisin. Tapi black peppernya enak banget dan pas rasanya.

Harga pizza-nya rata-rata Rp 26.000.

Selain itu kami coba cheesy wagyu hotplate rice dengan keju mozarella. Kalau nggak salah harganya Rp 29.000. Telornya bisa diminta setengah matang atau matang. Nanti semua toppingnya akan diaduk. Rasanya enak, wagyunya berasa. Nasinya jadi berasa lembek karena ada campuran keju dan telor.

IMG_20171126_130006.jpg

Kyaaa, kejunya banyak sekali

IMG_20171126_133048.jpg

Mastercheese Pizza
Jl. Tanjung Duren Raya No 363, Jakarta Barat (sebelah Foto Praga Fujifilm)
@mastercheesepizza

Dari ketiga pizza ini, saya sih suka semuanya. Semuanya kenyangnya pas, rasanya pun enak-enak. Paling penting, mereka nggak pelit sama keju. Hahaha. Udah pasti saya mau balik lagi, dong.

Tempat pizza favorit kamu di mana? Share, dong.

 

 

 

Review Baper: Go Back Couple

I need to write one post alone about this drama after it’s completely finished. Ceritanya masih baper banget karena tiba-tiba habis. Padahal rencananya 16 episode, tapi jadi 12 episode saja. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.  #eaaa

Btw, nanti saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia karena saya nggak mampu menemukan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang nggak terlalu cheesy.

The Casts

confession-spouses-son-ho-jun-and-jang-na-ra-2

*tepuk tangan buat akting 2 orang ini*

Kalau Jang Nara aktingnya jago banget mengaduk-aduk emosi mungkin orang bisa maklum karena di drama-drama sebelumnya dia pun bermain bagus. Tapi angkat topi untuk Son Ho Joon yang sungguhlah keren banget aktingnya. This is his first lead male role on a drama, but he did so good. Their chemistry is so good and belivable. When they are happy, I am happy; when they cry, I cry; when they are angry, I am angry too. That good.

The Story Line

It was so good because it was a story that everybody can relate too, especially if you’re married. It can happen to anyone, it might be you, it might be you friends, it might be your family. It is not just about love. Probably I wouldn’t cry much if it’s just about ordinary love, but it’s about family. You will experience the warmth of the family and the friendship. The relationship between Ma Jin Joo and her mother is making you want to hug your mother. They’re just lovable. You will fall in love and broken hearted as well. You will laugh and cry with them.

Everytime Choi Ban Do and Ma Jin Joo remembered Seo Jin, their toddler son, my heart was broken into pieces. Their journey to feel their love again touched my heart.

No, it’s not a all-episodes sad drama. In fact, it was funny and refreshing. But at the same time it was so touching that you feel all their pains and struggles.

It was a heart wrenching and heart warming story.

My Thoughts

A lot of viewers were torn between the lead male and second lead male. Choi Ban Do, as the lead male, was probably not everyone’s favorite in the beginning. Dia tengil, kelihatan ngeselin, dan cuek. Tipe suami yang nggak peduli kesusahan istrinya di rumah. Sementara Nam Gil kebalikannya, terlepas dari wajah gantengnya yang ampun bikin ngiler, dia adalah orang yang manis, sopan, dan perhatian.

But I am always #teamChoiBanDo because as you get deeper into the story, you’ll find out how hard he works for the family and how big his love for his own family and Ma Jin Joo’s family. Choi Ban Do adalah orang yang merasa bahwa sebagai suami dan ayah, dia yang harus melindungi keluarganya, berjuang mencari nafkah, berusaha tampak tough di depan istri dan anaknya dan mengesampingkan emosinya sendiri demi keluarganya bahagia. He hated his job, he hated how he had to kiss some asses to make his job worked, but he did it anyway because he’d do anything for his family.

As he struggled at work, he went back home to find out his wife feeling sorrow due to her mother death. He thought, he had to be the tough one, he had to be happy all the time to make his wife happy. He forgot that sometimes a wife needed his husband to cry with her to feel her sadness.

While Nam Gil probably liked Ma Jin Joo, who was trapped in 20 year old girl, because she gave him motherly love. Nam Gil was left by his mother, his father married again with other woman. So, Nam Gil had this hole in his heart. He didn’t have the love he needed from his mother and it made him feeling angry towards his mother. When Jin Joo came, he got all the love he needed from his mother. I guess, Nam Gil needed to heal his scar first. That is why, he was still confuse with his feeling. He liked Jin Joo but it wasn’t love. And it wasn’t as big as Ban Do’s love.

Nam Gil stayed in his place when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He knew the car was coming, but he didn’t move or try to save Jin Joo. Because the love wasn’t that big to willing to sacrifice his life. He didn’t try to hug or comfort Jin Joo when Jin Joo cried on bended knees. He just saw her tearing apart, just because he was confused with his feeling.

It was different with Ban Do. Ban Do wasn’t thinking when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He ran saving Jin Joo because Jin Joo’s life is his happiness. The moment when Ban Do decided to stay in the past just because he saw Jin Joo needed to be with her mother than be with him or Seo Jin.

As Ban Do said, “You who fill my heart is more important than Seo Jin who fill my mind”. Crying. Such a family man.

*BYAR. NANGIS LAH GUE!*

He was willing to lose the chance to meet his son just to make his wife happy. *tisu mana tisu*

Adegan lainnya yang sungguh ku suka banget dan bikin terharu adalah ketika ibu Jin Joo bilang, “You can live without your parents, but you can’t live without your child.”

*pel air mata*

I guess what Jin Joo needed after all this time was a closure with her mother. Dulu ibunya meninggal dan Jin Joo tidak bisa menemani di saat terakhir karena harus “menyelamatkan” Ban Do. Akhirnya dia terus-menerus merasa marah terhadap Ban Do dan merasa tidak punya perpisahan yang baik dengan ibunya. Ketika sekarang bisa ketemu ibunya dan ibunya melepaskan dia pergi, that was the closure she needed all this time. That made her able to focus on her future with her own family and leave her sorrow behind.

Senang banget karena pada akhirnya bukan cuma mereka menyadari bahwa mereka masih punya cinta yang besar, tapi akhirnya mereka berusaha keras mengembalikan keluarga mereka. :’)

The scenes

23668030_333266483811939_356199522101100544_n

Kelar. Bajir air mata banget di sini.

Banyaaaak banget adegan favorit:

  • Waktu Ban Do lihat Jin Joo kesakitan karena mens. Dia langsung ke apotek beli obat kram, pilih yang dosisnya paling baik buat Jin Joo, lalu membelikan pembalut. Bahkan dia ingat pembalutnya harus yang bersayap supaya Jin Joo merasa nyaman. Kemudian dia bawain air putih karena Jin Joo kebiasaan makan obat pake soda. Lalu dia memberikan tasnya sebagai alas supaya Jin Joo bisa merebahkan kepalanya di atas tas itu dan dia mulai pijat pinggang Jin Joo yang kram. Ternyata, dulu Ban Do selalu mijitin Jin Joo tiap dia kram, mau sampe ngantuk sekalipun. *boleh ku minta dipijitin juga?*
  • Semua adegan Jin Joo dengan ibunya. Terutama adegan terakhir waktu closure, ketika ibunya melepaskan Jin Joo. Sungguh ya semua ucapan ibunya pengen dijadiin quotes karena bagusss semua. Lalu ucapan terakhirnya adalah, “You can do anything if you raise a child.” *duh duh duh jangan nangis, jangan nangis. TIDAK, AKU PASTI NANGIS!*
  • Sebelum berpisah, Ibu Jin Joo bilang bahwa nanti ketika dia sudah tidak ada tolong kunjungi ayahnya dan hibur dia. Selama ini Jin Joo menyimpan kekesalan sama ayahnya, karena setahun setelah ibunya meninggal ayahnya bilang dia mau nikah lagi. Gimana bisaaa? Air mata Jin Joo aja belum kering, kok ayahnya tega menikah lagi. Ternyata oh ternyata, ayahnya sengaja bilang seperti itu supaya Jin Joo nggak merasa sedih. Dan sementara Jin Joo sibuk sama rasa dukanya yang berkepanjangan, Ban Do lah yang selalu mengunjungi dan menghibur ayah Jin Joo. *Nam Gil nggak ada apa-apanya kalau kayak gini. Hiks.*
  • Cinta Ban Do yang besar banget buat keluarga Jin Joo. Diam-diam Ban Do selalu memberikan uang ke ibu Jin Joo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal Ban Do sendiri mati-matian dalam pekerjaannya.
  • Waktu Ban Do memutuskan untuk membiarkan Jin Joo bersama ibunya walau artinya mereka nggak bakal bisa ketemu anaknya. Kebahagiaan Jin Joo lebih penting. *di sini saya kayaknya udah bengek nangis terus, deh*
  • Waktu Jin Joo bilang ke Ban Do, “Yeobo, let’s go to our home.” *iya, saya nangis lagi. Sudah jangan dihitung berapa kali saya nangis*
  • Ketika akhirnya Ban Do dan Jin Joo kembali ke masa sekarang dan bertemu anaknya. Mereka bertiga pelukan. *bengkak deh mata saya*
  • Kayaknya post ini nggak bakal tamat kalau saya ceritain semua adegan favorit soalnya banyak banget.

The Kiss

23667864_145083569462475_6596798586715897856_n

Won’t complain even if this the only kiss on the drama. A beautiful one.

The one and only kiss between Ban Do and Jin Joo. The kiss that worths all those tears. A simple kiss that tied the knot again. It’s beautiful. And most importantly you can see Ban Do and Jin Joo’s love through the kiss.

The Soundtrack
Lagu-lagunya bagus dan pas banget. Sampai kalau lagi dengerin lagunya, saya masih bisa tahu ini untuk adegan mana. Terlalu melekat.

The post-drama syndrome

Oh, jadi begini rasanya baper banget sama satu drama, ya. Padahal happy ending, tapi kayak ada perasaan hampa begitu selesai. Saya kayak mengalami satu journey yang terlalu mengaduk-aduk emosi, sampai saya harus mengulang berkali-kali tiap episode-nya untuk mencerna rasanya. Saya bahkan sampai menganalisis kenapa saya harus nangis berkali-kali nonton drama ini. Awalnya saya pikir karena waktu itu lagi PMS jadi lebih sensitif. Tapi kemudian saya tonton adegan yang sama di lain waktu ketika tidak PMS lagi dan hasilnya ya nangis juga. Malah untuk 2 episode terakhir, antisipasi supaya saya nggak nangis-nangis amat, malamnya saya lihat semua spoiler-nya di Instagram, yah walau belum ada teks, ya. Semua adegan yang berpotensi bikin sedih udah saya antisipasi. Paginya pas nonton, udah cek dulu bukan lagi PMS dan nggak lagi mens *hahahaha penting bok!* dan udah yakin nggak bakal nangis karena udah tahu adegannya. Ternyata ku salah menduga. Paham arti dari setiap adegannya akhirnya bikin saya nangis tersedu-sedu lagi. Sambil dalam hati bilang, “Sial, kenapa gue nangis? Kan gue udah persiapan!” *ambil tisu sekotak* *mata bengkak*

Dan kayaknya ini drama Korea satu-satunya yang bisa bikin saya nangis sesenggukan tiap episode. Dan sebel banget gitu karena awalnya saya pikir ini lucu. Iya emang lucu, tapi kalau udah mengharukan bikin nangis banjir. Baper banget karena rasanya terlalu dekat di hati, terlalu real, terlalu hangat, terlalu bagus. Oh ya, quotes di drama ini bagus-bagus semua rasanya pengen ditulis dan dikumpulkan di satu buku. Moral of the story is marriage is hard even though you have the love. But as long as you want to work that love out, you will find the way. :’)

 

Jadi kamu udah nonton Go Back Couple belum? Kalau udah cerita-cerita sama saya, yuk.

 

 

Agree To Disagree

Saya mau cerita tentang satu teman saya yang unik banget. Sepanjang sejarah persahabatan saya dengan banyak orang, she is the most unique one.

Saya punya teman satu geng yang isinya 7 orang perempuan, semua kuliah di jurusan psikologi. Udah pastilah ya semua sifat dasarnya mampu berempati. Kecuali 1 orang ini. Kita sebut saja Bunga. Bunga ini teman SMP saya, dulu nggak dekat-dekat banget. Nggak sengaja ketemu lagi pas kuliah. Eh, ternyata satu jurusan dan satu kelas pula, tapi dia masuk jurusan psikologi karena disuruh emaknya. Dia ogah sebenernya, tapi nggak punya pilihan. Jadilah sepanjang 4 tahun kuliah, dia ngintilin saya karena dia nggak bisa punya teman dekat. Why oh why?

Dia adalah orang yang sangat mengutamakan logika. Dia berani berdebat sama dosen kalau dirasa aturannya nggak masuk akal dan apa tujuannya? Dia berani keluar dari kelas kalau dia merasa kuliahnya tidak berguna. Gila ya. Makanya nggak ada yang mau sekelompok ama dia daripada ribet kan, ya. Tersisalah kami berenam yang dengan senang hati menerima keanehannya. Ya aneh dong. Di antara mahasiswa-mahasiswa psikologi yang mostly pakenya feeling, terdamparlah satu orang ini yang logika banget.

Nggak tahu berapa kali kami berdebat, berantem, sebel-sebelan, tapi selalu berakhir baikan lagi. Karena enaknya temenan sama orang yang logis adalah dia nggak baperan. Berantem karena satu topik, tapi itu nggak berarti bakal berkepanjangan. Bahkan dia nggak nyebut itu berantem, dia nyebutnya bertukar pikiran. Tsaaah!

Sampai sekarang kami satu grup masih sering berdebat dengan Bunga. Terakhir kami berdebat panjang lebar cuma karena milih tempat ngumpul. Secara tempat tinggal kami tersebar dari Jakarta Barat ke Jakarta Utara, jadi biasanya pilih tempat yang di tengah-tengah. Nah, dia mengusulkan nginep di apartemen tengah kota, seperti Kuningan, Sudirman, dsb. Apartemennya harus dekat mall dan harus ada layanan taksi 24 jam, dengan harga yang jangan mahal-mahal banget lah. Bagus kan idenya.

Lalu kami semua memberi ide lah. Ada yang kasih ide sewa villa yang ada kolam renangnya, ada yang nawarin tempat tinggalnya jadi tempat ngumpul aja karena lumayan luas walau jauh di pinggir kota, ada yang nyaranin daerah A, B, C. Kami tampunglah semua idenya, tapi si Bunga ini keukeuh harus di tengah kota karena berbagai alasannya tadi. Masalahnya adalah yang lainnya tidak masalah di mana pun yang penting tempatnya nyaman buat anak-anak karena mostly udah punya anak. Bunga tetap menggiring opini bahwa harus di tengah kota dan di apartemen.

Sampai akhirnya kami merasa terganggu karena pointnya bukan cuma soal tempat, tapi lebih ke kepentingan dan kenyamanan kami semua. Kenyamanan bukan cuma soal jaraknya di tengah kota saja, tapi kepentingan teman-teman lain yang bisa jadi pertimbangan. Kami nggak masalah kalau harus ngumpul di rumah teman walau jauh karena toh tanggal yang diharapkan adalah hari libur jadi nggak macet. Dia bilang dia nggak mau jauh karena akan ribet dia ke sananya, padahal dibandingkan teman-teman lain yang lebih jauh, rumah dia termasuk di pusat kota yang dekat ke mana-mana, termasuk ke rumah teman ini.

Dan kami sebagai emak-emak nggak masalah mau di apartemen, villa, rumah orang yang penting semua nyaman dan sepakat aja. Lalu kami pun mulai berdebat. Dan dia mulai mengeluarkan alasan, “Coba cek secara statistik mana yang lebih memudahkan? Apakah di tengah kota di mana semua aksesnya mudah atau di dalam komplek di mana cari makan aja susah?”. Ya jelas jawabannya di tengah kota, tapi kan kami maunya sama-sama memilih tempat yang kami suka. Bukan cuma dia yang pilih dan semua orang harus ikut pilihannya. Tapi dia tetap ngotot bahwa dia sudah membuat pilihan yang paling logis dan nyaman buat kami semua secara jarak dan ketersediaan restoran.

Perdebatan akhirnya dihentikan. WA grup diam selama beberapa hari. Sampai akhirnya, satu orang memulai pembicaraan lagi dan karena deadlock, kita putuskan aja nggak usah nginep tapi ngumpul di rumah satu orang sambil potluck bawa makanan. Semua setuju, kecuali si Bunga tentunya. Hahaha. Dia bilang, “Have fun, ya. Gue nggak ikut karena ribet ke sananya.” Padahal ngumpul lengkap itu cuma 1 tahun sekali karena nunggu teman yang tinggal di Sydney dan Surabaya balik dulu. Dan beberapa orang rumahnya lebih jauh dari dia dan oke-oke saja harus mengarungi setengah Jakarta asal bisa kumpul bareng.

Tapi ya udah, that’s her decision. Nggak ada yang sebel, bete, dan kesal. Nggak mungkin kan sampe nyeret dia untuk datang demi ngumpul bertujuh kalau memang dia tidak mau (bukan tidak bisa ya. Tapi tidak mau saja). Setelah itu, ya biasa aja. Kami becanda kayak biasanya, ngobrol kayak biasanya seperti nggak pernah gontok-gontokan. Hihihi.

The point is cara berpikir kami berbeda. Dia yang sangat logis, tidak bisa memahami cara pikir kami yang pake feeling. Sementara kami yang pake feeling, nggak bisa paham kenapa dia nggak menurunkan egonya sedikit dan berempati. So most of the time, we agree to disagree. Karena memang sudut pandang kami dalam melihat sesuatu sudah berbeda jadi akan bersebrangan pendapatnya. Plus, tidak perlu disatukan karena toh bukan hal besar yang menyangkut kepentingan hidup bersama, keberlangsungan negara, atau kesejahteran hidup orang banyak. Hahaha, serius ini. We don’t sweat the small things. That’s why we’ve been friends for 14 years. Egile lamanya!

Hal ini sama yang terjadi ketika saya membaca satu tulisan heboh yang bikin panas jagat per-blog-an beberapa hari ini. Satu orang yang memberikan alasan logis menurutnya, lalu menggeneralisir satu Indonesia. Banyak yang kesal, banyak yang marah, banyak yang merasa tersinggung. Wajar, karena bahasanya cukup provoking, sih.

But I put it this way. Dia sama kayak teman unik saya si Bunga. Dia mungkin berpikiran logis, sehingga kurang memiliki empati. Bahwa satu kejadian itu tidak bisa dilihat dari satu sisi logis aja, tapi tetap ada sisi emosionalnya karena kita hidup bermasyarakat dan tidak sendiri. Ada perasaan orang yang perlu dipertimbangkan, ada situasi lain yang mungkin tidak bisa digeneralisir, ada sisi emosional yang tanpa sadar berperan terhadap keputusan seseorang. That’s what makes us human. Kita mempunyai kelebihan budi pekerti, tidak cuma berpikir logika seperti robot.

Tapi, sebagai orang yang berseberangan dengannya, sama seperti ketika saya menghadapi si Bunga, I should say we agree to disagree. Karena sampai mulut berbusa, we will think differently. Sudut pandang sudah berbeda, cara berpikir berbeda, jadi ya sulit untuk disatukan. No need to feel hard feeling karena balik lagi kalau dia tidak menyusahkan negara, bukan sebagai pengambil keputusan di Indonesia, tidak membahayakan keberlangsungan hidup masyarakat, dan tidak menunjuk langsung secara personal untuk siapa tulisan itu, yah let it go.

Karena ketika kita reaktif dan menunjukkannya ke banyak orang; orang-orang malah jadi penasaran dan pengen baca tulisannya. Lalu semakin banyak orang yang marah, lalu membesarlah. Padahal kadang-kadang kita nggak kenal di dunia nyata, tapi akhirnya malah berantem di dunia maya. Dan itu salah satu yang bikin sedih karena banyak perpecahan terjadi saat ini cuma karena berantem di sosmed, lalu menjalar ke dunia nyata (cue: Pilkada).

I hope we say this more often to something that doesn’t worth our energy: we agree to disagree. And just let it go. 🙂

Intinya: cuekin aja. XD

 

PS: Saya senang banget kenalan sama teman-teman baru di blog dan akhirnya saya follow Instagramnya dan ada beberapa yang jadi saling DM. I hope you know this is me not taking any side, but seeing this from other perspectives. 🙂

 

 

 

 

 

Quick Review: Go Back Couple & Because This Is My First Life

Dari 5 drama Korea yang saya tonton: While You Were Sleeping, Because This Is My First Life, Mad Dog, Go Back Couple, dan Revolutionary Love; belum ada yang tamat. Semuanya masih on going. Tapi ada 2 yang paling menarik banget buat saya: Because This Is My First Life dan Go Back Couple.

Go Back Couple

5130_gobackcouple_nowplay_small

Awalnya nonton drama ini karena ada Jang Nara. Suka banget sama dia sejak main di My Love Patzzi, tahun 2002. Udah 15 tahun yang lalu, cing! Dan mukanya doi awet muda aja, kayak waktu berhenti dan dia nggak bertambah tua. Ku harus menyembah keajaiban skin care Korea.

Sinopsis: Sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun (?) dan punya seorang anak balita. Kehidupan pernikahannya jadi hambar, penuh dengan rutinitas dan salah paham, sibuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lupa saling cinta. They’re growing apart. Satu waktu rasa muaknya memuncak dan mereka memutuskan cerai. Tiba-tiba mereka kembali ke masa kuliah, saat pertama kali ketemu. And the story begins… (again).

Karena poster serialnya yang lucu, saya pikir ini awalnya romcom dong, ya. Bakal ketawa ngakak-ngakak. Iya bener, ada yang lucu. Tapi yang tidak diantisipasi adalah………kenapa saya bisa nangis termehek-mehek waktu nonton? Bukan cuma satu, tapi di dua episode! (sejauh ini udah ada 10 episode. Yang bikin nangis episode 8 dan 10).

Sungguh drama yang mencabik-cabik emosi dan hati.

Selama sejarah nonton drakor, mau sesedih apapun, saya nggak pernah nangis. Ini tuh sampai nangis sesenggukan, kan ajaib yah. Hahaha.

Ternyata yang bikin nangis adalah karena sebagai orang yang menikah agak lamaan dikit dan punya seorang anak balita, jalan ceritanya relatable banget. Sibuk sama kerjaan, jalani rutinitas tiap hari, ngurus anak, kelelahan, stres, berantem. Saking terlalu dekatnya, saya suka ngomong, “Ah, gue tahu itu rasanya.” Langsung gloomy, sedih, trus pengen meluk suami dan anak. 😦 Marriage is not easy.

Tapi ketika mereka balik ke jaman 90an pas masih kuliah. Aduh, ini lucu. Jadi ingat masa-masa 90an semacam golden memories, trus kangen karena saat itu hidup rasanya lebih muda dan menyenangkan sekali. Saat naksir-naksiran satu kampus dan jadi semangat kuliah dan rasanya apa sih yang nggak bisa kita capai waktu itu. Ah, those naive thoughts.

Ketika awal Ma Jin Joo dan Choi Ban Do balik ke masa lalu, mereka happy banget, “Gila, ini waktunya gue restart semuanya. Nggak bakal bego lagi jatuh cinta ama dia, apalagi sampai nikah. Gue bakal pacarin orang yang dari dulu gue taksir dan have fun. Wohoo!”

Dan iya, mereka jadi dekat dengan gebetan masing-masing pas kuliah. Karena dengan mental age yang dewasa, tapi terperangkap di tubuh anak kuliahan, mereka jadi lebih pede dong untuk deketin gebetannya. Akhirnya gebetannya juga naksir. Sounds perfect, ya.

Tapi mereka lupa bahwa cinta dan bonding yang mereka punya selama 10 tahun nggak langsung hilang begitu saja. They still care for each other. Terutama ketika ingat anaknya; di mana kalau mereka kuliah berarti anaknya belum ada. Pas Ma Jin Joo sering nangis tersedu-sedu ingat anaknya dan Choi Ban Do kangen anaknya; duh sebagai ibu saya langsung berasa hati ini retak. Tahu banget rasanya, tahu banget sakitnya. Kayak jadi bingung, “Gue senang bisa mulai yang baru, bisa dekat sama gebetan gue, dunia kayaknya indah. Tapi gue kangen banget anak gue. Kalau gue ga nikah sama dia, gue ga bakal ada anak gue yang gue sayang banget.” Dilema abis. Hfft.

*garuk-garuk tembok*

Kim Nam Gil, sebagai second lead male, tuh mencuri perhatian banget. Wajah mah udah ganteng, postur tinggi tegap, baik hati, tajir melintir, care, hanya hati yang sedikit rapuh aja. Sementara Choi Ban Do itu sosok muka yah standar, jauhlah dibandingin Kim Nam Gil; postur nggak terlalu tinggi, tengil, nyebelin, cuek. Pokoknya awal-awal sebel lah sama Choi Ban Do.

Tapi semakin dalam ceritanya, semakin bisa melihat dari sudut pandang Choi Ban Do, sungguh hati ini meleleh nggak kuat. Iya dia tengil, iya dia cuek, tapi sesungguhnya dia sayang banget sama Ma Jin Joo dan Seo Jin, anaknya. Dia kerja mati-matian sebagai sales obat, rela dikacungin sama Dokter Park untuk nyembunyiin perselingkuhan dese, entertaining orang-orang supaya mau beli obatnya, kadang-kadang harus merendah banget sampe diinjak-injak harga dirinya. Semua demi berusaha cari uang yang banyak demi keluarganya. Karena sering lembur, sampe rumah udah malam, udah capek, bawaannya pasti emosi, tapi nggak bisa cerita juga kondisi kerjaannya ke istrinya.

Sementara Ma Jin Joo sosok ibu rumah tangga lulusan universitas yang merasa duh gue harusnya bisa lebih daripada sekedar di rumah. Tapi dia memutuskan untuk mengurus rumah dan anaknya. Ibu-ibu pasti tahu stresnya ngurus anak sendiri sambil beresin rumah *ingat masa-masa nggak ada ART pas lebaran.* Nggak sempat ngurus sendiri karena udah tahulah anak balita itu clingy banget sama ibunya. Ke kamar mandi diikutin, ke mana-mana harus lihat Mama, rumah berantakan, beresin, diberantakin lagi, ulang 100 kali. Nggak sempat dandan, nggak sempat merhatiin diri sendiri. Pas keluar rumah penampilan busuk banget sampai bikin self-esteem jatuh. Suami pulang malam terus, nggak sempat ngobrol mendalam, dua-duanya emosi karena capek, jadi ya makin lama makin hambar.

Tapi ketika mereka balik lagi ke jaman muda dan tidak dihadapkan pada situasi mereka terikat pernikahan dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan, akhirnya baru sadar sebenarnya Choi Ban Do peduli banget sama Ma Jin Joo. Ya mungkin dulu salahnya tidak diutarakan, mungkin dia nggak pengen bikin pusing istrinya kalau tahu kondisi kerjaannya seperti itu, mungkin karena sibuk memenuhi kebutuhan hidup dia jadi nggak ingat merayakan ulang tahun pernikahan, memberi hadiah, dsb. Tapi pada dasarnya cuma Choi Ban Do sayang banget sama Ma Jin Joo. Cuma ya biasalah, cewek kan pengennya pasangannya romantis, perayaan itu adalah big deal, mau didengerin dan ditanyain hari-harinya gimana, dsb.

Scenes yang bikin saya nangis ada di episode 8, waktu mereka nangis diam-diam karena sama-sama kangen anak. Udahlah ya kalau menyangkut anak, ijk bisa sensitif banget. Di episode 10 nangis pas Choi Ban Do menemui Ma Jin Joo nangis sambil bilang dia juga kangen mertuanya (yang di kehidupan sekarang udah meninggal) dan kenapa dia selalu aja bikin segala sesuatunya jadi salah. BYAR KELAR GUE NANGIS!

Sementara adegan-adegan kecil lainnya yang bikin hati ini tersentuh adalah pas Ma Jin Joo selalu menolak dibawain buah peach sama ibunya karena Choi Ban Do alergi buah peach, padahal buah peach itu kesukaan Ma Jin Joo. Trus pas Ma Jin Joo keram karena mens, Choi Ban Do langsung beliin pembalut dan obat kram. Lalu dia datang bawa air putih karena tau Ma Jin Joo pasti minum obat sama minuman ringan dan refleks pijit-pijit punggung Ma Jin Joo. Ternyata pas mereka nikah, Ma Jin Joo emang selalu kesakitan pas mens dan Choi Ban Do langsung pijit-pijit, mau lagi ngantuk juga tetap dipijit. AKU MELELEH! :’)

Masih 10 episode dari kabarnya 16 episode. Tolong, ini tingkat kebaperan dan air mata yang dikeluarkan sudah banyak, semoga endingnya nggak mengecewakan. Saya #teamChoiBanDo banget, jadi walau Kim Nam Gil sungguhlah sempurna dan kayaknya masa depan Ma Jin Joo bisa lebih enak, tapi semoga itu bukan itu endingnya *harap-harap cemas*. That I hope it says, “marriage is hard, at some point we take each other for granted, we misunderstood, but love stays, love will find the way.” Jangan bikin air mata ini terbuang sia-sia! XD

Becuse This Is My First Life

because_this_is_my_first_life-p1

Drama ini baru saya lirik ketika sudah 6 episode penayangan. Awalnya nggak tertarik karena tokoh cowoknya kok ya kurang sedap dipandang mata; rambut alay belah tengah, kaku, baju ala nerd. Duh, sungguh kurang menggoda iman untuk dikecengin. Tapi karena banyak yang bilang bagus, baiklah mari kita coba.

Dan benar bagus!

Sinopsis: Nam Se Hee sewain kamar di rumahnya karena butuh dana tambahan buat bayar KPR rumahnya yang masih luama banget habisnya. Sementara Ji Ho butuh tempat tinggal yang nggak pake deposit. Ketemulah mereka. Eh, tiba-tiba kejebak kawin kontrak.

Tema kawin kontrak ini udah umum banget. Paling entar lama-lama cinta bersemi. Yang bikin beda adalah Nam Se Hee ini adalah cowok paling logis, rasional, muka datar, nggak punya emosi, yang cinta mati sama rumahnya dan kucingnya, lainnya nggak dianggap. Ketemu sama Ji Ho yang lebih lively, tapi polos banget, umur 30 tahun nggak pernah pacaran. Tinggallah serumah mereka berdua, jadinya hanya hal-hal absurd yang terjadi. Kocak banget!

Selain kocak, cinta yang muncul secara awkard dan berusaha dijelaskan pake logika oleh Nam Se Hee ini yang bikin makin jatuh cinta. Cinta tuh buat dia nggak ada, tapi dia nggak mampu menolak rasa itu tumbuh ketika Ji Ho datang. Makanya ketika dia merasakan emosi senang, cemburu, sayang, tapi berusaha dia jelaskan dengan rasional itu lucu banget. Bahkan pas mau cium Ji Ho aja dia jelaskan dulu perbedaan ciuman yang benar dan salah. Harus rasional. Oh tampang boleh nerd, tapi soal ciuman HE’S THE BEST! Diam-diam doi menyimpan kemampuan kissing yang daebak! *lalu mupeng*

Worry no more karena sealay apapun orang, tapi di tangan mbak capster salon, orang yang tadinya alay jadi ganteng banget bok. The power of poni di cowok-cowok Korea itu emang dahsyat ya (sekarang tahu kan kenapa poni Kaleb kayak jamur. Siapa tahu mirip Oppa-Oppa Korea, hahaha). Jadi sekarang kita bisa mengagumi wajah ganteng dan postur tinggi Nam Se Hee.

Ceritanya hangat, ringan, lucu banget, dan rasanya bikin berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sama ketika kita jatuh cinta pertama kali.

***

Jadi weekend-nya biasanya saya dihempaskan oleh kenyataan hidup di pernikahan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do, kemudian Senin-Selasa saya disadarkan lagi bahwa cinta itu sesuatu yang manis dan menyenangkan. Jadi ada semangat lagi deh untuk mencintai. #eaa

Kamu udah nonton 2 serial ini belum?

 

Drama Aku vs Selebtwit

Halo Senin!

Biasanya kalau Senin gini kan agak jetlag ya dari weekend kemarin *berasa weekend-nya di Eropa aje*. Jadi mari cerita sebuah drama di sosmed yang terjadi antara diriku dan seorang selebtwit/selebgram kondyang. Yuk, cus!

Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika baru pulang ke rumah dari kantor dengan jalanan macet ajegile, seperti biasa ribet dulu ngurus Kaleb. Gantiin baju dengan ditemani kejar-kejaran karena si anak 2 tahun ini milih telanjang daripada pake piyama. *_* Tentunya sebagai ibuk-ibuk multitasking, ngurus anak itu bisa disambi dengan kegiatan lainnya seperti, seperti pegang HP dan buka sosmed. Mata sesekali cek notifikasi sambil pakein baju anak, trus teriak-teriak kejar-kejaran sama anak yang udah ngibrit aja kalau mata kita meleng dikit. Ada ibu-ibu yang ngerasa begini juga?

Di Instagram ada notif dari teman, ngomentarin gambar pemandangan warna pink punyanya selebtwit. Komennya pun nggak penting banget karena si teman bilang, “Eh, ini pemandangannya pink. Si artis itu kan dulu pernah ke sini.” Doi mention saya dan seorang teman lagi. Ya namanya ibuk-ibuk lagi rempong sama anak, dimention gitu ya bales cepat aja, nggak merhatiin gambarnya, apalagi baca captionnya. Saya bales, “Ini diedit ga, sih?” reply ke teman saya. Nggak mention si empunya IG. Habis itu taro HP dan rempong lagi sama anak dong, ya.

Nggak lama kemudian, ambil HP buka notiflagi, tiba-tiba si selebtwit kondyang yang terkenal sebagai kokoh penulis naskah sinetron dan suka travelling ke seluruh dunia ini ngamuk, bok! Ngamuk karena saya nggak baca caption. Berikut kisah drama kumbara sosmed ini yang berhasil discreen shot karena habis itu doi hapus semua komen-komen saya dan hanya menyisakan komen-komen pujian manis pada dirinya.

1509725559917

Pada mulanya

1509725557931

Kemudian, si kokoh tiba-tiba muncul dan menurut saya ketus amat sih ngomongnya. Jadi ya saya minta maaf tapi keberatan dia ngomongnya kayak gitu. Habis itu, drama lah dia.

1509725555960 (1)

Saya jelasin dong kenapa sih nggak bisa caption. Lagi ribet ngurus anak, bro! Eh, doi bilang alesan aja. Maklumin aja, belum pernah ribet sama anak pastinya. 🙂

1509725600087

Trus saya akhiri aja dong. Soalnya nggak bakal berakhir juga kalau si kokoh kekeuh saya pokoknya orang paling salah sedunia, dia mah kebenaran yang mutlak.

1509725600087

Komen netizen

1509725554051

Komen teman yang bingung juga napa si kokoh ngomel-ngomel

1509727346169

Komen sesama ibuk-ibuk yang merasakan ribetnya bersosmed sambil ngurusin anak. Hahaha.

1509725601999

Komen netizen

 

 

Intinya, doi kesal karena saya nggak baca caption. Iya saya salah nggak baca caption, tapi in my defense:

  • Saya nggak nanya dia, cuma nanya ke teman basa-basi sekedar reply.
  • Saya lagi rempong multitasking sama ngurus anak-anak; yang menurut doi saya lebay banget lah, excuse banget. HAHAHAHA, tunggu kisanak punya anak ya baru tahu rasanya.
  • Yang paling penting: Dia boleh menegur saya, tapi DIA TIDAK PUNYA HAK NGAMUK-NGAMUK KE SAYA. Pertama, kita nggak kenal sama sekali. Dua, itu nggak sopan. Tiga, well dia suka koar-koar di sosmed soal manner. HAHAHA. Empat, ini cuma soal nggak baca caption, nggak nanya ke dia juga. Kalau dia merasa terganggu dia bisa cuekin saya atau tegur dengan baik-baik. Jadi buat saya, dia marah-marah itu sungguh tidak masuk akal.

Saya dari awal say sorry karena nggak baca caption, tapi saya menolak kalau dia berkata kasar. Eh, doi malah bilang saya excuse bla bla bla. Ngeselin ya, bok. Akhirnya saya merasa konyol sendiri ngeladenin orang arogan kayak gini karena seberapa berbusanya mulut saya, doi tuh egonya setinggi langit, nggak bisa dibantah, jadi lebih baik tinggalkan percakapan bodoh ini.

Setelah curhat panjang lebar sama teman yang saling mention tadi, yang kaget juga lah ini orang lagi PMS atau gimana nih kok marah-marah nggak jelas, sih? Saya buka lagi IG doi dan akhirnya malah tambah rame dengan komen-komen para netizen lainnya. Lucunya, NGGAK ADA SATUPUN yang bela dia. Serius, nggak satu pun. Padahal saya nggak kenal para netizen ini, lho. So objectively, tindakan selebtwit itu emang salah. Dan dalam hati saya girang kesenangan karena HEY, followers lo aja nggak ada yang belain. HAHAHA. BHAY!

Habis itu nggak berapa lama komen saya dan teman-teman, serta netizen yang menegur dia langsung dihapus semua. Bersih. Tinggal komen puji-pujian aja. Habis doi ditegur netizen, pindah lapaklah doi ke Twitter yang isinya:

Me: Gambar ini diedit dengan bla bla bla.
Netizen: Diedit ga sih?
*insert gif nangis*

Yang ditwit kebodohan saya nggak baca caption, sementara doi ngamuk-ngamuk nggak jelas tentunya dianggap tidak ada (atau emang dia ngerasa ngamuk-ngamuk ke orang itu biasa, nggak perlu dianggap salah juga hahaha). Luar biasa ya penggiringan opininya. Reply-nya kan jadi menghina-hina yang nggak baca caption, dong. Tsk.

Baru kali ini saya ngadepin kayak gini di sosmed. Sebelumnya saya follow si Kokoh ini dari awal banget dia main twitter, pas masih jadi penulis skenario sinetron, hidup ngekos, pake HP Blackberry, dan hobinya gosipin artis-artis sinetron di twitter dan akhirnya dapat banyak followers. Long way to go, dia jadi influencer beken, kehidupannya jauh meningkat, rejekinya baik, travelling mulu, dan foto-fotonya cakep-cakep banget.

Dulu saya emang suka lihat dia suka bales dengan arogan twitter followers yang menurut dia, “Kok lo bego banget, sih. Baca noh twit gue dari tahun lalu. Cuih!” Anaknya emang sensitif bener, deh, kalau ada yang nggak merhatiin twit dia. Padahal kan bisa aja followers baru, ya. 😦 Tapi saya abaikan karena tampaknya akhir-akhir ini di twitter dia kayaknya jarang ngamuk-ngamuk lagi. Eh, ternyata dramanya pindah ke IG. Kabarnya dia emang suka ngapus-ngapusin kritik dan teguran dari orang-orang. Jadi IG-nya selalu kelihatan manis.

Sungguh ku miris melihatnya. Kelakuan selebtwit zaman now. Tentunya langsung unfollow doi karena buat apa foto Instagram bagus, tapi kelakuan kayak emak-emak mau menopause, suka ngamuk nggak jelas.

Baiklah, sekian kisah drama sosmed pagi ini. Lumayan kan bikin hari Senin kalian lebih ceria karena geli sendiri? :)))))

(Bukan Sekedar) Review: Film Posesif

Wuih, ternyata saya hampir 1 bulan menghilang nggak nulis blog. Sebulanan ini lagi sibuk banget. Sibuk nonton drama Korea tiap  hari. Hahaha. Serius, saya lagi ngikutin 5 drama Korea yang bikin akhirnya sibuk mantengin oppa-oppa ganteng di sosmed. XD

Anyway, kemarin saya nonton film Indonesia di bioskop. Judulnya Posesif. Yang main Adipati Dolken dan Putri Marino. Cukup niat untuk nonton film ini karena saya sampai rela nonton di Plaza Senayan karena layarnya udah mulai dikit dan yang paling dekat di PS. Keniatan ini disebabkan banyak yang bilang film ini bagus karena temanya tentang relationship abusive alias kekerasan dalam hubungan. Berat ya bok!

unnamed (1).jpg

Baru di film ini, saya ngerasa Adipati Dolken cakep banget. Hihi. Plus, aktingnya bagus.

Sinopsis singkatnya tentang Yudhis dan Lala, anak SMA, yang pacaran. Lalu kemudian hubungannya mengarah ke kekerasan. Udah sesederhana itu.

Menurut saya, film ini bukan film yang menghibur, tapi film ini PENTING banget untuk ditonton. Bahwa kejadian kayak gini banyak terjadi di sekitar kita.

Mungkin ada yang mikir Lala kok bodoh banget ya, mau bolak-balik sama Yudhis padahal udah jelas Yudhis kasar, menyeramkan. Rela mengorbankan karir gemilangnya jadi atlet loncat indah, demi ngikutin Yudhis. Udahlah hampir dicekek, tapi malah Lala yang cariin Yudhis untuk kabur bareng.

Kelihatannya bodoh banget buat kita yang ada di hubungan yang normal. Tapi nggak semudah itu untuk keluar dari hubungan yang abusive.

Kebetulan saya punya beberapa pasien yang mengalami kekerasan dalam hubungannya. Dalam kasus saya, mereka semua sudah menikah. Mereka datang ke saya, bukan dengan keluhan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, mereka nggak sadar sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saya kasih contoh 2 pasien. Si Mawar dan Melati.

Mawar datang ke saya dengan keluhan insomnia sampai harus makan obat tidur dari dokter dengan dosis yang cukup tinggi, itu pun dia masih sulit tidur. Setelah ditelusuri, ternyata dia punya kecemasan suaminya akan membakar dirinya ketika tidur. Iya, dibakar. Dulu pernah ada kejadian di mana Mawar sedang tidur dan suaminya menyiram minyak tanah ke kamarnya. Untungnya tidak sampai nyala api. Suami Mawar ternyata mengalami bipolar disorders. Dia akan sangat baik ketika minum obat teratur, tetapi ketika tidak minum obat, moodnya langsung kacau balau. Masalahnya, suami Mawar merasa dia tidak bermasalah dan memutuskan untuk berhenti minum obat. Setiap malam Mawar hidup dengan penuh ketakutan. Mawar bukan orang yang berkekurangan, bahkan cukup kaya. Siangnya dia menghabiskan waktu untuk mempercantik diri di klinik kecantikan, lalu ikut kegiatan sosialisasi. Dia aktif di gereja.

Karena aktif di gereja pula, ia pun beberapa kali konseling mengenai pernikahannya. Namanya juga konseling di lembaga gereja ya, sarannya adalah bertahan dalam pernikahan dan doakan agar suami berubah. Begitu pula ketika ia cerita ke keluarganya, mereka menyarankan hal yang sama karena kita suci melarang adanya perceraian.

Sebagai orang yang cukup taat terhadap agamanya, didukung oleh lingkungan yang melarangnya untuk berpisah dari suaminya, Mawar akhirnya memutuskan untuk bertahan dalam pernikahannya walau konsekuensinya hidup penuh ketakutan dan dapat membahayakan jiwanya. Satu-satunya harapan adalah suaminya akan berubah.

Sekarang kita beralih ke cerita Melati. Melati menikah dengan suaminya tanpa proses pacaran lama. Waktu itu pertimbangannya, suaminya dari keluarga yang baik dan mapan. Selama 7 tahun menikah, mereka punya 2 anak. Semua orang memandang mereka sebagai keluarga yang bahagia. Tidak ada masalah dalam keluarganya, kata Melati. Hanya ada satu kekurangannya, suaminya hiperseksual dan suka meminta gaya aneh-aneh dalam berhubungan seks, sementara Melati merasa tidak mampu. Suaminya seringkali kecewa dan mencibir Melati. Sampai 2 tahun belakangan, Melati baru tahu suaminya selingkuh. Bukan cuma selingkuh, tetapi juga sering berhubungan seksual dengan PSK. Karena sakit hati, Melati pun selingkuh dengan temannya yang tinggal di luar kota sampai akhirnya ketahuan suaminya. Melati memutuskan untuk meninggalkan pacarnya dan mau memperbaiki pernikahannya.

Hubungan Melati dan suaminya terasa baik-baik aja. Waktu Melati ulang tahun, suaminya kasih surprise datang ke kantor sambil bawa kue. Waktu wedding anniversary, suaminya ajak makan di fine dining. Orang-orang di sekitarnya langsung bilang, “Suaminya baik dan romantis, ya.” Masalahnya, setiap habis melakukan kebaikan, suaminya akan mengungkit-ungkit kesalahan Melati, “Aku suami yang baik, kan? Nggak kayak kamu dulu selingkuh. Aku ini ML sama cewek lain nggak pake hati. Kamu itu pake hati. Beda banget!” Sampai akhirnya Melati merasa mikir dia memang bukan istri yang baik. Suaminya pun berkali-kali memaksanya untuk berhubungan seks, di saat Melati tidak mau.

Akhir-akhir ini Melati mendapati suaminya baru saja menginap di sebuah hotel. Waktu dikonfrontasi, si suami bilang iya dia emang nginep di hotel sama cewek, tapi nggak ML, kok *MUNGKIN GA, SIH?*. Kemudian dikonfrontasi ke ceweknya, ya tentu saja mereka ML lah. Suami langsung baik-baikin Melati, minta maaf, manis banget. Bikin Melati goyah.

Dalam kasus Melati, dia punya ibu yang sangat suportif yang sangat mendukungnya kalau mau bercerai. Melati pun merasa dia punya pekerjaan yang bagus, secara finansial stabil, dan punya rumah sendiri (rumah yang mereka tempati sekarang adalah punya keluarga Melati). Tapi Melati ragu untuk keluar dari pernikahannya karena berpikir, seharusnya Melati jadi istri yang baik supaya suaminya tidak selingkuh.

Dua kisah di atas cukup berbeda, tapi sama-sama mengalami kekerasan. Kekerasan itu bukan cuma mukul, lho. Tapi kayak di kasus Melati, dia mengalami emotional abuse dan sexual abuse.

Kalau kamu ada di hubungan di mana tiap saat pasanganmu merendahkanmu, membuat self-esteem mu jatuh, kamu akan tumbuh menjadi orang yang percaya bahwa apa yang dikatakan pasanganmu itu benar. Kayak misalnya waktu kecil, kamu dibilang bodoh terus sama orang tua, lama-lama kamu akan percaya bahwa kamu bodoh dan bahwa ya udah takdirnya kamu bakal gagal sebelum kamu berusaha.

Sama seperti orang-orang yang ada di hubungan yang penuh kekerasan, yang akan disasar duluan oleh abusernya adalah emosinya. Seperti kisah di film Posesif, Yudhis selalu bilang, “Cuma aku yang cinta kamu di dunia, aku nggak akan ninggalin kamu, cuma aku yang ngerti dan bakal melindungi kamu.” Begitu terus, sampai akhirnya Lala merasa tanpa Yudhis, dia nggak akan bisa bertahan di dunia ini.

Lala marah banget ketika Yudhis kasar dan langsung mutusin. Tapi Yudhis minta maaf sampai memohon-mohon dan baik-baikin Lala dan teman-temannya. Lala akhirnya mikir, “Oh, mungkin kali ini Yudhis akan berubah.”

Perempuan itu tipikalnya nurturing, seringkali mikir bahwa kita bisa mengubah seseorang. No, kita nggak bisa mengubah seseorang kalau orang itu nggak mau berubah. Kecil sekali kemungkinannya orang yang berlaku kasar akan tiba-tiba sekejap berubah.

Akhirnya ketika memaafkan, maka muncul honeymoon phase. Fase manis, baik, dunia milik berdua dan dia adalah pasangan sempurna.

Seperti ini fase kekerasan dalam hubungan:

Honeymoon phase (ketika semua dalam hubungan terasa sangat manis) –> mulai terjadi konflik dan ketegangan –> terjadi kekerasan. Lalu kemudian, abuser akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan balik lagi deh ke honeymoon phase. Siklusnya akan selalu seperti itu. Maka satu-satunya cara adalah keluar dari siklus itu.

Itupun yang terjadi sama Lala dan Yudhis serta Mawar dan Melati. Ketika Lala balik ke Yudhis dan tampak bahagia, saya sampai tegang sendiri di kursi dan berharap ini bukan ending. Karena kalau ending-nya mereka happy bersama-sama akan menjadi pesan yang salah untuk banyak orang dan merasa bahwa mereka hanya perlu bertahan lebih lama agar bahagia dengan pasangannya dan pasangannya akan berubah.

Walau endingnya mereka tidak bersama, tapi sesungguhnya saya agak kecewa juga karena Lala pisah dengan Yudhis bukan karena Lala MAU, tetapi karena akhirnya hati nurani Yudhis tumbuh dan merasa dia akan mengulang hal yang sama ke Lala sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan Lala. Masalahnya, di kehidupan nyata nggak banyak abuser yang akhirnya sadar bahwa perbuatannya ini bisa membahayakan. Seringnya mereka nggak sadar dan tetap memaksa pasangannya berada di hubungan ini.

Jadi, kalau kamu merasa kok ada ya orang mau bertahan dalam hubungan yang menyakitkan seperti itu, bodoh sekali. Bukan, mereka nggak bodoh kok, tapi secara emosional mereka sudah terganggu sehingga mereka akan merasa pantas berada dalam hubungan seperti. Please help them out. Jangan memberikan harapan semu, seperti mereka akan berubah, coba berdoa lebih banyak. Iya bagus kalau berubah, kalau misalnya malah makin parah dan temanmu dalam bahaya gimana? Si abuser butuh diterapi dan si korban juga butuh dapat tempat yang aman dulu.

Akhir kata, coba ajak teman-temannya nonton film Posesif biar awarnessnya lebih besar lagi dan nggak ada kejadian seperti Lala dan Yudhis lagi.

 

 

 

Mungkin Nggak Sih Orang Tua Sayang Anak-Anaknya Sama Besarnya?

Saya tiga bersaudara, paling besar. Urutannya: cewek, cewek, cowok. Kebetulan adik saya yang cowok ini susah banget didapatnya. Setelah punya 2 anak cewek, besar harapan orang tua saya punya anak cowok, terutama kalau di Batak buat pembawa marga. Tapi perjalanan menuju punya anak cowok ini agak sulit.

Mama dua kali keguguran, pernah sampai kritis dan divonis dokter nggak boleh hamil lagi karena berbahaya untuk kesehatan si ibu. Papa saya sih santai aja punya 2 anak cewek, menurutnya cewek dan cowok sama saja. Tapi Mama, dengan sudah dinyinyirin dan ditanyain kiri kana -you know the pressure, mau tetap berusaha punya anak cowok. Sampai akhirnya hamil lagi dan mengalami proses melahirkan yang cukup sulit sampai adik saya harus masuk inkubator lama banget karena paru-parunya kemasukan ketuban dan hampir aja meninggal. Puji Tuhan, adik saya baik-baik aja dan sehat sampai sekarang.

Tapi…mungkin karena adik saya “anak yang diharapkan”, waktu kecil gemuk, putih, dan lucu bangeeeet (emang pengen digemesin banget lah), plus paling pintar pula, saya dan adik perempuan saya merasa, oh dia anak kesayangan orang tua, nih. Kalau dulu Mama ke saya dan adik perempuan bisa keras banget mukul pake sapu lidi, ke adik cowok saya nggak sekeras itu. Kayaknya saya nggak inget dia pernah dipukul pake sapu lidi, deh. Dan kami merasanya kok dia lebih dimanja, ya. Kayak Mama saya yang keras, kalau ke adik cowok saya nggak terlalu keras.

Sementara adik cowok saya adalah kesayangan Mama, saya merasa saya adalah kesayangan Papa. Hahaha, ini tebak-tebak buah manggis aja, sih. Nggak ada perlakuan yang beda banget. Tapi saya ngerasa saya anak kesayangan Papa karena saya anak pertama di keluarga, nurut-nurut aja, pembawa nama panggilan orang tua. Jadi Papa jarang marah ke saya. Sementara adik perempuan saya, si tengah, no one’s favorite sehingga paling rebel.

Pernah ada masanya, saya marah dan sambil drama nangis bilang, “Kenapa sih Mama lebih sayang dia?”. Dulu lebih ke iri sih karena adik dapat kemudahan, atau dimaklumi, daripada saya.

Saya akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua itu nggak bisa sama. Ada satu anak, disayang lebih dari yang lain. Sama seperti apakah poligami bisa mencintai semua istri sama besarnya, saya pikir nggak bisa.

Tapi kalau ditanya orang tua akan selalu menjawab, “Aku sayang kalian sama besarnya. Nggak ada yang dibedain. Semua sama anak Mama Papa.” Pasti begitu kan jawabnya. Is that true?

Karena saya baru punya satu anak, jadi ya saya nggak bisa tahulah jawabannya. Hahaha. Tapi sebagai anak, saya merasanya begitu.

Akhirnya belajar dan baca berbagai sumber, dan dapat jawabannya.

JENG JENG!

Jadi apakah orang tua bisa sayang ke anak sama besarnya?

Sebenarnya perlu dibedain dulu, cinta dan favorit itu hal yang berbeda. Cinta itu perasaan mendalam, rela berkorban, setia, emotional attachment yang kuat. Sementara favorit itu adalah preferensi yang disukai.

Orang tua punya perasaan cinta yang besar ke anak-anaknya. Misal punya 3 anak: mau si A, B, atau C, yang sakit, orang tua akan sama khawatirnya. Orang tua akan berjuang sama kerasnya agar si A, B, dan C punya hidup yang layak. Orang tua akan marah ke A, B, dan C jika anak-anaknya melanggar aturan. Intinya kesemuanya punya perasaan mendalam dan mau melakukan apapun untuk anaknya.

TAPI……

Yes, orang tua pasti punya anak favorit. Bukan anak yang lebih disayang atau dicintai, tapi ya anak favorit. Anak favorit itu bisa berdasarkan situasi tertentu, misalnya karena anaknya lebih gampang diatur, sementara yang satunya pemberontak; bisa karena kesamaan hobi, kesamaan gender, dsb.

Si A, anaknya nurut banget. Apa-apa dibilanginnya gampang. Sementara si B lebih sulit dibilangin, apa-apa pake emosi, teriak, marah-marah, ngeyel. Jadi si orang tua condong ke anak A karena ya nggak menghabiskan banyak emosi juga memperlakukannya.

Si C, anak yang berprestasi, bangga banget deh orang tuanya pas ambil rapot karena semua guru memuji. Sementara si D, nggak terlalu berprestasi. Banyak banget keluhan dan komentar guru kalau ambil rapot. Orang tua jadi merasa gagal mendidik si D. Akhirnya kalau berhubungan sama sekolah, orang tua semangat kalau soal si A, tapi males-malesan kalau soal si B.

Kesukaan orang tua bisa sangat subjektif. Namanya juga preferensi. Tapi anak favorit orang tua bisa juga berubah, nggak selamanya sama. Ya bisa juga sih selamanya sama. Misal, A pas kecil nurut banget, tapi pas gede keluyuran mulu nggak sempat ngobrol sama orang tua. Si B kecilnya rebel banget, tapi pas udah besar lebih perhatian ke orang tua dan sering kasih orang tua uang. Jadilah favorit orang tua berubah.

Masalahnya adalah karena orang tua punya favorit, secara nggak sadar perlakuannya pun berbeda. Kalau ke A lebih diturutin, kalau ke B belum apa-apa mukanya udah kencang duluan. Jadi si anak berasa. Kalau perlakuannya terlalu jauh bedanya, akan mempengaruhi psikologis si anak; entah anak yang difavoritin atau yang nggak difavoritin. Misal si anak favorit jadi merasa orang tuanya menaruh ekspektasi tinggi ke dia, sementara dia nggak merasa segitunya. Sementara si anak kurang favorit merasa orang tua nggak terlalu sayang dia, jadi merasa anak yang terbuang.

Kalau orang tua dikonfrontasi dia lebih sayang yang satu daripada yang lain, pasti jawabannya ya sayang semua lah. Karena sebenarnya, menjadikan satu anak favorit itu bukan dilakukan secara sadar. Plus, orang tua akan merasa bersalah kalau secara sadar mencintai anak yang satu lebih dari yang lain. Orang tua yang normal pasti akan merasa, ya semua sama disayang, emang harus begitu. Tapi mereka nggak sadar bahwa sebenarnya mereka punya anak favorit, kok. Seringnya denial aja. Hahaha.

Susah sih ya, karena namanya preferensi ya terjadi begitu saja. Solusinya, walaupun ada yang difavoritin sebisa mungkin perlakuannya jangan jauh berbeda. Inget juga kalau semua anak itu berbeda dan unik. Kalau si A lebih berprestasi mungkin karena dia suka banget belajar, ternyata si B bakatnya di olahraga. Cuma banyak orang menganggap prestasi sekolah itu yang baik, olahraga mah cuma hobi nggak bisa diseriusin. Padahal kalau bakat B dipupuk, dia bisa aja juga berprestasi dan membanggakan. Kadang kita menaruh cita-cita kita ke anak, sehingga anak merasa bahwa dia harus menjalani cita-cita orang tuanya.

Kalau misal si C lebih susah dibilangin, coba mungkin lebih digali pendekatan yang berbeda. Mungkin dia bukan orang yang directive atau suka disuruh-suruh. Kalau si D suka ngeyel, ya mungkin anaknya suka pake logika dan orang tua harus memberikan alasan yang tepat kalau menyuruh sesuatu, nggak bisa dengan kalimat, “Ya pokoknya Mama bilang harus begitu. Titik!”. Karena setiap anak unik, maka pendekatannya harus berbeda-beda.

Jadi normal kok kalau orang tua punya anak favorit. Tapi yang penting gimana caranya bisa memperlakukan anak jangan jomplang-jomplang amat lah.

Ada yang pernah merasa begini? Sharing yuk.