Masuk Tipi

OH YA, ada lagi yang kelupaan diceritain.

Inget kan waktu itu saya cerita soal mau tampil di TV? Ternyata acaranya mulai lebih cepat jadi pas saya buka eh udah kelewatan. *nangis seember* Macam mana pulak ini padahal mau lihat muka sendiri di TV *iyeee, saya norak X))*

Padahal waktu itu udah ngumpulin massa untuk nonton saya di TV. Apa daya karena dari sananya ditayangin kecepatan maka nggak ada yang ngeliat. Onde mande, gagal maning!

Oleh karena itu, saya pun minta tayangannya ke Metro TV yang lama bener kayaknya direspon. Ya udah, maka dari itu tanyalah ke mbah Google. Tentu saja apa sih yang nggak bisa ditemukan di sana. Oleh karena itu saya persembahkan link ini:

http://www.metrotvnews.com/lifestyle/video/2013/02/20/913/171622/Anorexia-dan-Bulimia-Merupakan-Masalah-Kejiwaan

Dikarenakan saya gaptek parah, saya nggak tahu gimana download-nya, jadi cuma bisa kasih link aja. Hahaha. Nanti kalo udah bisa akan di-posting di sini, ya. πŸ˜€

 

Bunda Omi

Seminggu ini lagi sibuk banget. Lihat blog aja nggak sempat. Gilak, canggih ya kesibukannya *kemudian hidung memanjang*. Hihihi.

Beberapa hari lalu, seorang teman kirim foto ini:

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Ciyeeeh, masuk tabloid nih, ye! *tersipu-sipu malu*

Wawancara ini dilakukan udah beberapa minggu lalu oleh tabloid Femme. I had no idea when it would be published. Udah lupa juga malahan. πŸ˜€ Sebenarnya ini bukan pertama kali muncul di majalah, tapi ini pertama kalinya saya muncul disertai dengan foto *penting*. Tau gitu kasih foto dari studio foto kan, ya *lalu dikira mbak-mbak tahun 90an*.

Dulu, nulis di majalah karena saya jurnalisnya. Itu aja udah senang setengah mati setiap lihat nama saya ditulis di bawah artikel. Dulu sering disuruh menghubungi psikolog untuk menambahkan informasi di artikel yang saya tulis. Waktu itu saya mikir, ih pengen deh jadi psikolog yang jadi narasumber.

Lalu kemudian saat udah kerja dapat kesempatan dapat kesempatan lagi untuk nulis artikel tetap di tabloid Bintang Indonesia. Dikasih kesempatan gitu ya senang banget dong, apalagi ini sesuai dengan kapasitas saya yang udah jadi psikolog. Tapi… tapi… kan pengen ngerasain diwawancara gitu, lho *cita-cita cetek* XD

Pertama kali jadi psikolog narasumber di majalah Cleo yang terbit tahun lalu. Ternyata rasanya jadi narasumber dan namanya dicetak tebal di artikel itu bikin senang dan bangga banget. Hei, saya kelihatan pinter banget kayaknya. Ini toh rasanya jadi Bunda Romi? *kenapa Bunda Romi cobaaa?* Tapi di situ belum ada foto saya. Jadi ya cuma tampak nama aja. Sayangnya lagi, saking senangnya dibawa ke mana-mana deh majalah Cleo itu sehingga saya lupa di mana naronya. Gimana nih cita-cita pengen nunjukin ke anaknya kelak kalau mamanya pernah masuk majalah? *cita-cita kejauhan*

Nah, kali ini saya diwawancara oleh tabloid Femme. Mereka meminta saya untuk mengirimkan foto juga. Alamaaak, saya kurang punya foto yang bergaya profesional gini. Misalnya, kayak lagi duduk di meja kerja sambil tersenyum elegan gitu. Aduh, gawat! Ya udahlah ya, terpaksa kasih foto yang ada di laptop kantor yang sekiranya ukurannya besar. Yang penting nggak terlalu malu-maluin kalo ditaro.

Setelah itu, saya lupa deh pernah diwawancara sampai suatu ketika teman saya ngirimin foto saya di tabloid. Yihaaa, kesempatan jadi narasumber sebagai psikolog dan dengan foto tercapai *walau dengan foto kurang ciamik tapi udah keliatan unsur modelnya kan, ya? Siapa tau ada yang nawarin jadi model gitu?* *muntah kelabang*.

Oh ya, sampai sekarang bahkan saya nggak punya tabloidnya. Sedangkan mama saya langsung buru-buru ke tukang majalah dan beli tabloid saya serta menunjukkan ke mana-mana. Emang deh si mama penggemar nomor satuku. Hihihi *kemudian membuat fan base* XD.

Okeh, cita-cita selanjutnya, bagaimana kalo seterkenal Bunda Romi dan wara-wiri di TV mengomentari kelakuan artis di infotainment gitu? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Ketika Semesta Mendengar

Sore kemarin di saat saya libur dan sibuk memanjakan diri di salon, datanglah e-mail kantor ke BB saya. E-mailnya berisi bahwa besok ada syuting Metro TV yang meliput kegiatan terapi, salah satunya di bagian saya. Saya cuma baca sekilas. Perkiraan sih paling cuma disyuting diambil gambarnya aja, tanpa perlu ngomong. Kayak beberapa kali yang pernah dilakukan.

Pagi ini karena saya baru potong rambut (ehem, sekarang rambutnya agak pendek) dan efek blow masih keliatan jadi pake baju yang manis, deh. Pagi-pagi diisi dengan meeting mengenai eating disorders awarness, lanjut dengan online couse mengenai eating disorders. Oh ya, kantor saya emang sedang mengadakan eating disorders campaign, di mana gangguan ini semakin meningkat. Sejauh ini hari saya berjalan normal.

Sorenya Metro TV datang. Ternyata oh ternyata, dia mau syuting mengenai eating disorders campaign ini dan tentu fokusnya ada di bagian saya, dong. Mana hari itu teman saya lagi libur dan psikolog satu lagi udah pulang. Jadi semua ada di saya. Eng Ing Eng!

Syutingnya ternyata serius. Beneran meliput kegiatan terapi dan apa yang saya lakukan, lengkap dengan apa yang diomongin. Belum selesai sampai di situ, mereka meminta untuk mewawancara saya sendiri. Close up dan ngomongin eating disorders.

Yang biasanya nggak pernah syuting dan diwawancara langsung on TV, sekarang melakukan itu semua tanpa persiapan ya bikin deg-degan juga. Tangan dan kaki langsung dingin. Gugup banget! Buru-buru baca sekilas hasil online course saya. Berusaha ngapal secepat kilat.

Mereka pun meminta saya memasang clip on, briefing apa saja yang akan ditanyakan, dan men-syuting muka saya segede gaban (untung rambut udah oke karena baru dari salon. Hihi). Mengalirlah itu pertanyaan-pertanyaan seputar eating disorders. Sungguh aku deg-degan tapi harus berusaha cool dan santai sambil tetap senyum. Susyeeeh!

Dengan ini saya akan resmi tampil di TV dalam konteks saya sebagai psikolog. IHIIIIY! πŸ˜€

Jadi inget dari jaman kuliah dulu, saya selalu bilang, “Gue mau jadi terkenal, dong. Tampil di TV, majalah, tabloid.” Tapi dari dulu nggak mau jadi artis, mau jadinya psikolog aja. Biar kalo terkenal keliatannya pinter banget. Keliatan keren, kan? Hahahaha! Ini saya bilang ke semua orang sampe teman-teman saya menjuluki saya psikolog artis. Hihihi.

Untuk orang yang introvert dan pemalu kayak saya tampil di depan umum itu jadi salah satu hambatan. Writing suits me more. Bisa bikin karya tanpa harus tampil di depan umum. Pertama kali nama saya tercantum di majalah waktu saya kerja di majalah remaja. Nama saya tercantum sebagai jurnalis yang membuat artikel itu bikin bangga banget. :’) Ada sensasi luar biasa melihat nama sendiri di karya yang saya buat.

Setelah memutuskan untuk terjun sebagai psikolog, saya beberapa kali nulis artikel psikologi di tabloid dan jadi narasumber di majalah. Itu bangganya berlebih-lebih lagi karena saya nulis mengenai keahlian saya.

Nah, sekarang tiba-tiba syuting dan diwawancara mengenai bidang saya, saya pun langsung teringat ucapan saya beberapa tahun lalu itu. I guess the universe heard it. Masih panjang sih jalannya, tapi sudah selangkah lebih maju, kan? Kali ini saya berhasil ngalahin kegugupan dan ketakutan saya tampil di muka umum. Nggak mungkin kan terkenal tapi nggak keliatan mukanya. I conquer my fear. πŸ˜€

Terima kasih, alam semesta. Terima kasih, Tuhan. πŸ™‚

Maaaak, aye masuk tipi, nih!

PS: tayangannya akan ada di Metro TV hari Rabu, 20 Februari 2013 jam 14.00 WIB.

Ibu Jeanette

Saya nggak suka kematian (tentu saja, siapa juga yang bakal suka). Sebisa mungkin saya nggak menulis hal-hal tentang kematian di blog ini supaya nggak merasa sedih. Tapi untuk kali ini saya akan mengesampingkan aturan saya sendiri. Berikut ini mungkin cerita tentang kematian, tapi anggaplah ini berita yang menyenangkan karena saya yakin seperti itulah perasaannya sekarang.

Hari Jumat, 23 September kemarin, ketika saya baru bangun tidur dan (seperti biasa) mengecek HP saya. Berita pertama yang saya dengar pagi itu adalah salah satu dosen saya, Ibu Jeanette Murad, meninggal dunia.

DEG!

Ibu Jeanette adalah salah satu dosen favorit saya. Udah pernah saya ceritakan belum kalau kuliah S2 saya sunggu menyiksa jiwa dan raga, ditambah dosen-dosen yang ‘unik’ (kalau nggak mau dibilang rese, sih). Bu Jeanette bukan salah satu yang seperti itu. Dia adalah dosen yang baik, ramah, dan selalu tepat waktu.

Saya pernah mendapatkan bimbingan satu kasus dengan beliau. Waktu itu untuk kasus di RSMM, sebuah rumah sakit jiwa di daerah Bogor. Karena agak ribet bolak-balik Bogor-Depok (ya, saya aja kali yang males waktu itu. Hihihi), beliau menerima pertanyaan lewat sms.

Setelah selesai masa praktek di RSMM, mulailah saya bimbingan dengan beliau, disertai Mas Iman sebagai pembimbing kedua. Hal yang paling saya ingat adalah beliau selalu tepat waktu. Bahkan kalau bisa bimbingan sepagi mungkin (teman saya pernah bimbingan jam 06.30 pagi). Untungnya waktu bimbingan dengan saya nggak pernah sepagi itu. Paling pagi jam 09.00 *lega*. Waktu bimbingan mana berani saya telat. Bukan karena beliau bakal ngomel sih, tapi karena saya merasa malu kalau sampai membiarkan beliau menunggu.

Sebagai psikolog senior bergelar profesor, dia bisa aja sombong dan belagu, serta merasa ilmunya paling jago sedunia. Tapi Ibu Jeanette nggak begitu. Beliau mempercayai kemampuan saya dan nggak banyak mengutak-atik treatment saya. Beliau bilang, “Kamu yang menangani klien dan kasus ini selama satu bulan penuh. Pasti kamu yang paling tahu seperti apa dia. Percaya sama kemampuan kamu, deh.” Mendengar itu saya langsung senang banget. Dia bikin tingkat kepercayaan diri saya naik beberapa tingkat. πŸ™‚

Ketika mendengar berita beliau meninggal. Saya dan neng Melvi langsung pengen melayat. Neng Melvi mungkin punya pengalaman emosional yang lebih besar dengan beliau dibandingkan saya karena Ibu Jeanette adalah pembimbing thesis Melvi sampai 1 tahun. Bahkan Melvi sampai pernah ke rumahnya segala untuk mengantarkan thesis.

Hari itu karena kesibukan di tempat kerja, kami nggak bisa melayat. Seharian itu saya gelisah, nggak tahu kenapa. Besoknya, saya belum punya pikiran untuk melayat beliau karena hari Sabtu itu saya masuk kantor dan harus berhubungan dengan banyak pasien. Anehnya, pagi itu saya pakai baju hitam-hitam. Kalau kata teman kantor saya, kayak orang mau melayat.

Sorenya ketika saya pulang kantor, ternyata neng Melvi ada di salon dekat kantor. Akhirnya saya menemui dia. Sehabis dari salon dia punya rencana untuk melayat. Saya pikir, oh saya pun ingin melayat. Maka jadilah kami pergi berdua ke rumah duka.

Ketika sampai di sana, kami langsung menuju peti di mana Ibu Jeanette berada. Ibu Jeanette terlihat tenang. Tidak seperti setahun lalu ketika beliau sedang diet keras karena terkena diabetes sehingga badannya menjadi kurus, kemarin beliau terlihat segar dan gemuk. Beliau terlihat sedang tersenyum. Biasanya saya nggak pernah berani melihat jenazah, tapi kali ini nggak ada rasa takut ketika melihat beliau.

Di sana saya dan neng Melvi pun sempat bertemu dengan Pak Murad, suami Ibu Jeanette. Pak Murad berkata dengan mata berkaca-kaca, “Nggak papa. Bu Jeanette pasti sedang bahagia sekarang. Dulu kami berdua suka ngobrol, dia bilangΒ  ‘jangan-jangan nanti kalau kita meninggal nggak ada yang bakal datang karena kita kan orangnya tertutup dan nggak punya banyak teman’. Tapi lihat sekarang banyak yang datang untuk Ibu. Dia pasti senang sekarang.”

Perkataan Pak Murad menyadarkan saya bahwa kematiannya bukan sesuatu yang harus dibuat sedih. Bu Jeanette sekarang pasti bahagia karena banyak yang mencintai beliau. Beliau nggak perlu takut karena banyak yang mengganggap beliau teman dan kepergian beliau membuat kami semua kehilangan.

Bu Jeanette dan Pak Murad tidak mempunyai anak selama perkawinan mereka. Kerabat mereka kebanyakan ada di Kanada sehingga di Jakarta mereka hanya berdua. Setahun belakangan ini Pak Murad terkena kanker dan harus menjalani kemoterapi. Ibu Jeanette setiap mendampingi Pak Murad dalam setiap kemo-nya. Bu Jeanette sering bilang kepada Pak Murad, “Aku nggak mau ya ditinggalin kamu mati duluan. Lebih baik aku yang mati duluan aja, deh. Hehehehe” dengan cengengesan khas Bu Jeanette. Dan ternyata setelah Pak Murad baikan, keinginan Bu Jeanette untuk tidak ditinggalkan Pak Murad pun terkabul.

Kalau melihat Bu Jeanette dan Pak Murad, saya selalu menggumam, saya ingin seperti mereka ketika tua nanti. Setia sampai mati.

Malamnya ketika saya tertidur. Saya memimpikan Bu Jeanette. Di mimpi saya, beliau mendatangi saya dan Melvi. Memeluk kami berdua dan berkata terima kasih karena sudah menemuinya untuk terakhir kali. Kemudian beliau pergi. Di mimpi pun Neng Melvi menangis sesenggukan.

Ketika saya terbangun, itu membuat saya terkejut. Saya percaya itu bukan sekedar mimpi. Saya percaya Bu Jeanette memang sedang mengucapkan salam perpisahan pada saya dan Neng Melvi. Kalau kata Neng Melvi, sense saya kuat (di mana saya nggak pengen punya sense yang kuat). Melihat Bu Jeanette di mimpi lagi kelihatan bahagia, saya pun merasa tenang. Benar kata Pak Murad, dia pasti bahagia sekarang.

Selamat jalan, Ibu Jeanette. Ibu pasti akan selalu diingat. Terima kasih untuk keyakinannya ya, Bu. :’)

Neuroku Benci, Neuroku Sayang

Dulu waktu jaman S1, saya pernah dapat kuliah neuropsikologi. Satu-satunya kuliah di mana saya dapat nilai D dan harus ngulang! Gimana nggak ngulang, waktu itu kuliah 1 semester dipadatin jadi 2 minggu karena dosennya adalah ahli neuropsikologi dari Belanda. Kalau ngomong kayak orang kumur-kumur.

Pas mau ujian harus ngapalin segambreng istilah-istilah neuropsikologi dalam bahasa Inggris. Duh, mendingan nyebrangin Selat Sunda bolak-balik aja, deh (ya kayak sanggup aja gue!). Setelah mengulang, ya lumayan ngerti tapi seperti biasa setelah ujian selesai dan lulus, semua ilmunya menguap begitu aja. Bablas!

Nah, pas S2 ngambil kuliah yang berhubungan dengan klinis. Lagi-lagi ketemu sama si neuropsikologi ini. Duh, mak! Jodoh kali awak sama kuliah ini. Kalau dulu dapat bule yang ngomongnya kayak kumur-kumur, sekarang dapat profesor berumur 80 tahunan yang kuliahnya selalu jam 8 kurang (dan dipastikan mahasiswa ini telat karena pagi-pagi harus ngejar Bis Debora yang entah kapan datangnya). Sampai kelas udah pasti ngos-ngosan dan capek. Ditambah lagi profesor itu ngomongnya pelan dan kayak nyanyiin lagu Nina Bobo. Mau saya duduk di barisan paling depan atau tengah atau belakang, saya tetap ngantuk. Nggak ngerti dia ngomong apa. Mana bahan-bahan ujian berasal dari buku karangan dia yang istilah kata-katanya setara dengan kata-kata pas Indonesia baru merdeka. Jadul berat! Alhasil, pengetahuan saya tentang Neuro itu antara ada dan tiada. Oh, untuk kuliah ini saya malah lulus dengan nilai gemilang. Dapat dari mana nilainya? Nggak tahu juga. Cuma berbekal rajin ngerjain tugas. Itu pun suka ngerjainnya sama teman-teman. Err.. nggak sama-sama juga, sih. Lebih tepatnya saya yang lebih sering menyalin.

Nah, pas kerja di bagian klinis. Alamakjang, si dokter ternyata lulusan jurusan Neuroscience Behavior. Pas dia bilang dia akan memulai neurotherapy di kliniknya dan meminta saya untuk jadi terapis, saya mulai cenat-cenut. Duh, salah apa gue selama ini sampai mata kuliah yang paling nggak disuka jadi kerjaan sehari-hari.

Jadi neurotherapy ini adalah terapi untuk melatih gelombang otak. Misalnya supaya berhenti ngemil, supaya lebih fokus, supaya nggak hiperaktif, dan segala macamnya. Semua hal itu kan pusatnya di otak. Mulai deh si dokter ngajarin saya di mana letak emosi, logika, kontrol diri, dan sebagainya. Tentu saja dulu saya pernah dapat ini di kuliah, tapi ya itu tadi, udah lupa semua. Kenapa saya harus ngapalin letak-letak itu di otak, karena akan adakabel yang dipasang ke bagian otak yang diterapi. Jadi misalnya dia punya masalah emosi, berarti yang dilatih adalah otak bagian emosi.

Ajaibnya, ternyata kalau langsung praktek, saya bisa langsung hapal di mana letak-letaknya. Emang ya kayaknya saya nggak bisa ngerti kalau cuma baca doang. Saya butuh mengalami langsung baru deh melekat di otak. Jadi hari ini untuk pertama kalinya saya melakukan neurotherapy sendirian. Daaan… berhasil! Wohoooooo! *bangga*

Seperti kata orang-orang jaman dulu, nggak boleh sebel sama sesuatu, entar malah dapatnya yang itu. Ini juga berlaku dalam soal jodoh, kan? XD