Kawinan Si Sepupu

Long weekend kemarin, saya khusus ambil cuti. Buat liburan? Oh, kali ini bukan liburan. Tapi demi kawinan si sepupu. Udah pastilah ya kalau kawinan Batak, apalagi dari pihak saya (yang mana artinya jadi parhobas = yang sibuk kerja wara wiri sepanjang hari) bakal capek banget karena dimulai dari subuh sampai tengah malam. Jadi lebih baik besoknya cuti supaya nggak pingsan di kantor.

Kamis kemarin saya bangun jam 4 pagi, langsung mandi air dingin (untungnya udara Jakarta makin panas jadi walaupun mandi air dingin nggak berasa kedinginan tapi malah jadi segar), ngemil martabak 2 biji (berat ya bok!), dan nunggu dijemput Mama untuk ke salon karena janjian di salon jam 5 pagi. Pagi bener, cyin!

Salonnya di daerah Bendungan Hilir, namanya Java Salon. Ini salon langganan si Mama karena cucok sama dia dan harganya cukup terjangkau. Untuk hair do dan make up Rp 150.000. Kalau buat saya sih agak kurang memuaskan karena harus cerewet kasih tahu maunya kita apa dan berkali-kali diubah karena nggak sesuai. Jadi kalau mau ke sini harus bawel, ya (kalau kata si Mama ya kalau . harganya murah jangan minta macam-macam, toh. Hihihi).

Concern saya kan ke mata yang sipit ini, jadi wanti-wanti kalau mata saya harus dibuat besar. Dia bilang oke, tapi… kok jatuhnya biasa aja. Udah gitu, saya kasih tau warna kebayanya apa, trus dese malah nanya lagi mau warna apa buat eyeshadow-nya? LAH, kan udah dikasih tau warna kebayanya, tinggal dicocokin aja. Kalau saya ngerti soal make up ya saya dandan sendiri aja, deh. Saya bingung, dia bingung. Glek! Belum lagi soal rambut. Udah ditunjukin foto yang saya mau (dan itu nggak susah, lho), doi pun udah bilang oke. Pas jadi, nggak mirip *nangis*. Akhirnya minta ubah lagi sekaligus nunjukin fotonya lagi. Tetap nggak mirip, berakhir pasrah aja, deh.

Akhirnya setelah bolak-balik koreksi make up dan hair do, jadi juga mendekati yang saya mau.

Make up and hair do by Java Salon

Make up and hair do by Java Salon

Selesai dendong, pakailah kebaya dari QZM. Hasilnya gimana setelah diperbaiki? Cukup oke, cuma kurang di bagian panjang tangannya. Kenapa jadi ngantung gitu padahal pas terakhir kali fitting udah pas panjangnya. Terpaksa deh habis pesta harus dibalikin untuk diperbaiki lagi. Tapi cukup puas dengan hasilnya, kok.

Jam 7 langsung meluncur ke HKBP Jati Asih, yang mana jauh banget itu. Perut laper karena baru makan 2 martabak. Sempat mampir ke rumah saudara yang rumahnya deketan sama gereja, tapi dia pun karena buru-buru jadi nggak bikin makanan. Untungnya dia punya sisa satu roti yang direlakannya buat saya yang udah cranky berat karena lapar. Maklum, bisa tumbuh taring nanti kalau nggak dikasih makan. Hihihi.

Sebelum pemberkatan nikah dimulai, acara foto-foto keluarga dulu. Nama pun keluarga saya besaaar banget, jadi banyak banget yang minta foto (sedangkan keluarga perempuan lebih sedikit). Mungkin karena banyak banget yang harus foto sama pengantin, eh pengantin perempuannya ngambek. LAH?!

Di tengah-tengah foto bareng keluarga di altar, dia tiba-tiba turun dan duduk aja gitu, sambil ngomel, “Udah kamu aja yang foto! Aku capek! Kipasnya mana?” HAH? HAH? Baru kali ini liat ada pengantin yang capek difoto. -___________-*

Terlepas dari insiden si pengantin perempuan ngambek (yang mana pastinya akan jadi ingatan keluarga selamanya. Hohoho), acara pemberkatan berjalan lancar dan khidmat. Langsung dilanjutkan dengan acara adat di Gedung Sejahtera, Pondok Gede *jauh, mak!)

Karena pengalaman sebelumnya yang kalau nggak cepat-cepat makan di pesta Batak akan berakhir kelaparan, setelah menyambut karung beras tamu (adatnya kalau dari pihak perempuan bawa karung beras untuk simbol berkat, CMIIW), saya pun langsung ngibrit ke gedung nasional. Eh, ternyata acaranya belum mulai (yang mana makanan belum dibuka, dong) karena nunggu pengantin lagi retouch make up. Setelah pengantin datang dan kata sambutan sebentar, resmi acara nasional dimulai dan makanan dibuka (HOREEE!). Sementara tamu-tamu lain langsung mengerubungi pengantin karena mau foto (jangan ngambek lagi yey *BAHAS TERUSS!* hahaha) dan salaman, saya langsung mendekati meja prasmanan. Dengan bangga saya jadi orang pertama yang makan, lho! Hahaha! Masalahnya kalau nggak makan sekarang dengan cepat, sebentar lagi pasti udah dipanggil para tetua untuk ngerjain ini-itu dan nggak punya waktu makan lagi.

Benar aja, setelah makan langsung ngalor-ngidul kerjain banyak hal. Bagiin makanan ke seluruh tamu yang datang (dari air mineral, soft drink, bir, kopi, teh, lapet, ketupat, kacang, kembang loyang, ikan mas arsik, dan segudang pembagian lainnya yang kayaknya nggka habis-habis), dipanggil-panggil dan disuruh-suruh berbagai macam orang (yang kadang saya juga bengong jawabnya. Hahaha), lalu sampai lipetin ulos yang rasanya tak berujung. Semua dilakukan dengan high heels, kebaya super ketat, dan make up tebal (mau ngeluh apa lagi kamu wahai para pria *lirik sepatu pantofel, jas, dan no make up para cowok*).

Acara adat selesai jam 18.30. Apakah sudah selesai sebelumnya? Oh tentu tidak! Masih ada acara penyambutan pengantin baru di rumah nanti. Kalau yang ini biasanya hanya dihadiri keluarga dekat saja, plus pakaiannya santai. Oleh karena itu, pas di mobil saya dan Mama langsung ganti kebaya dan pake baju casual. LEGA BANGET! *lempar kebaya ke atap*.

Sampai di rumah sepupu sekitar jam 8 malam. Udah pada kelaperan banget, kan. Saya bahkan nggak ngapus make up (dan wajah udah berminyak) karena hanya fokus pada makanan di meja makan. Laper gila, mak! Tapi oh tapi, karena si pengantin lagi ganti baju dan acara makan baru boleh dimulai bareng si pengantin jadi kita harus menunggu lagi. Perut udah keroncongan, jadi akhirnya nyomot-nyomot babi panggang yang ada di meja. Hihihi.

Kenapa sih si pengantin lama amat? Karena oh karena, ketika semua orang udah nunggu kelaperan di bawah, dia pake mandi dulu. YASALAM! *pingsan* Akhirnya daripada semua cranky karena lapar, dimulailah doa makan tanpa si pengantin perempuan. Yang mana beberapa lama kemudian, dese turun tanpa basa-basi langsung makan dan saya pun menatap setajam silet. Ups!

Happy tummy, happy mood. Lanjut acara penyambutan pengantin. Acaranya cuma ngumpul sambil masing-masih orang kasih selamat dan nasehat. Yihaaa, kesempatan banget untuk negur soal kejadian ngambek foto tadi. Hihihi! Ya abesss, gregetan banget, bok!

Rangkaian acara ini selesai jam 10 malam (yang mana itu hitungannya cepat. Biasanya sampai jam 12 malam). Selamat menempuh hidup baru, Bang D dan Eda C *jangan ngambek lagi, ya *TETEEEEP*) ;P

Para sepupu perempuan

Para sepupu perempuan

The sisters (bukan nama grupnya Shireen Sungkar dan kakaknya itu loh)

The sisters (bukan nama grupnya Shireen Sungkar dan kakaknya itu loh)

Baru selesai nyalon

Baru selesai nyalon

The most handsome man (because he's the only man among his pretty sisters)

The most handsome man (because he’s the only man among his pretty sisters)

Para sepupu dengan pengantin (sebelum insiden itu. Hihihi)

Para sepupu dengan pengantin (sebelum insiden itu. Hihihi)

 

Princess Kebaya

Setelah sekian lama nggak bikin kebaya (terakhir tampaknya tahun lalu), akhirnya saya harus bikin kebaya lagi karena sepupu mau nikah. Sebenarnya nggak mau bikin kebaya, sih, soalnya yang kemarin-kemarin aja bikin cuma dipakai satu kali habis itu nggak dipakai lagi. Tapi dibujuk si Mama untuk pakai kain brokat sisanya dia, akhirnya luluh juga, deh.

Seperti biasa kalau bikin kebaya ke QZM karena cukup terjangkau (dari segi harga) dan biasanya hasilnya kece. Untuk kebaya ini saya cuma datang 3 kali: pas kasih bahan dan ukur badan, fitting pertama, dan fitting final. Yang lainnya yang ngurusin si Mama.

Untuk kebaya kali ini, si Mama yang pilihin modelnya dan kebetulan saya suka. Cuma satu catatan saya: I’m dying to have a lower back kebaya. Ehm, pengen punggungnya tampak backless gitulah. Kalau dulu pas mau nikah pengennya begini tapi dipelototin si Mama karena katanya seksi banget, tapi sekarang dia oke-oke aja karena saya kan nggak bakal jadi pusat perhatian. Bisa berkreasi sesuka-sukanya. Jadi saya minta bagian punggungnya rendah. Karena banyak pakai bahan sisa brokat si Mama, jadi sebenarnya sisanya dikit. Nggak papa, bisa dikreasiin pake tile. Jatuhnya jadi lebih modern (bahasa halus untuk seksi, sih. Hahaha). Bagian depannya, di bagian leher sampai agak ke dada, banyak pakai tile, begitupun di lengan, dan punggung. Dikreasikan dengan pita di bagian pinggang.

Nah, untuk pesta Batak biasanya perempuan yang sudah menikah pake songket. I am supposed to wear one too. Tapi… pas fitting pertama, waktu mau bikin bustier dan pilih warna bustiernya, I fell in love with the bustier color. Warnanya pink pastel yang muda banget (hampir menyerupai warna kulit — karena tadinya niatnya mau warna kulit). Jadi langsung tanya Mama, what if I didn’t wear songket? Apa wajib? Ada peraturannya kah? Mama cuma bilang nggak ada peraturannya sih, cuma kebiasannya seperti itu. Actually, kebiasaan yang hampir jadi kewajiban kayaknya. Hahaha. Tapi Mama oke aja kalau saya mau bikin bawahannya senada dengan warna bustier, jadi semacam rok panjang. Katanya asal pede aja. So I said, bring it on! :)))

Saya cuma bilang sama Pak Kosim, “Saya mau model rok-nya kayak rok princess”. Hahahaha. Oh, didn’t I say that I was crazy of Disney’s princesses and hoped to be one. πŸ˜‰

Jadi kemarin saya fitting untuk terakhir kalinya and here what I got:

my unfinished kebaya

my unfinished kebaya

See, that was my mom taking photo of me? πŸ˜€ Maafkan tampang kucel berminyak karena udah seharian di sana.

I got my princess kebaya. Yeay! Kebayanya masih belum selesai. Bagian lehernya kesempitan sehingga bikin kecekek, bagian bahunya jahitannya belum dilepas, bustier-nya kebesaran, dan roknya kepanjangan.

Karena udah mepet banget waktunya, tinggal seminggu lagi sebelum hari H jadi kemarin saya menghabiskan waktu seharian di sana. Habis fitting nungguin rok, pita, dan kebaya dibenerin sampai selesai karena mau dibawa pulang untuk dicuci dulu. Sementara kebaya masih harus ditinggal karena cukup lama untuk memperbaikinya.

Excited pengen lihat kebayanya jadi! Will tell you once it’s done. πŸ˜€ (Oh well, tapi nggak excited membayangkan para tetua yang melirik tajam lihat saya nggak pake songket. Hahaha! *cross fingers*)

Jadi Parhobas

Alohaaaa!

*sapu-sapu debu* *dari blog*

Udah lama banget ya nggak ngeblog. Maklum deh kerjaan kantor lagi menyita perhatian banget sampe mau cerita-cerita di blog pun nggak sempat. *jambak rambut*. Anyway, mau cerita soal pernikahan sepupu saya kemarin di mana saya pertama kali jadi parhobas di adat setelah resmi jadi Nyonya. *ciyeeeh*

Kalo dulu ngerasa pernikahan batak yang memakan waktu 20 jam lebih bikin capek, oh sodara-sodara percayalah itu nggak ada apa-apanya dibandingin parhobas. *pijat-pijat kaki* Oh ya parhobas itu artinya melayani di pesta adat karena saya adalah boru. Lebih jelasnya lihat di sini.

Untuk pernikahan si sepupu ini, saya dan Mama sih seperti biasa udah heboh duluan soal kebaya. Kita bikin kebaya baru warnanya hijau toska. Seperti biasa bikinnya di QZM. Murmer dan bagus sih, ya. Kalo kata si Mama, kebaya saya bisa-bisa ngalahin kebaya pengantin karena heboh. Fufufu, gimana ya Ma It’s in the blood! *ditabok pengantin* *jiwa eksis*

Ngeceng di depan mobil pengantin

Kerempongan dimulai sejak pagi hari. Saya, mama, dan adik manggil tukang yang make up ke rumah. Bok, ternyata dese lambreta bener. Udah mana dia bikin mata saya jadi kelihatan ngantuk. Bawel dong saya minta mata dibenerin. Akhirnya… telat. Bapak dan suami udah pergi duluan dan para cewek masih sibuk aja nyalon. Kerempongan seperti ini mengakibatkan si emak spanning dan memburu-burui kita semua. Akhirnya sampe gereja di bilangan Jatinegara pun telat.

-_________________-*

HKBP Jatinegara

Sampe di gereja bahkan udah selesai khotbah. Belum sampe duduk 5 menit, kita udah disuruh berangkat duluan ke gedung Mayoria di bilangan Kelapa Gading. Geeez… di tengah kebaya yang sesak, dan dandanan heboh, matahari Gading tampak lebih panas 10 kali (eh, emang kenyataan di sana lebih panas, sik).

Begitu sampe di gedung. Laaaah, belum ada tanda-tanda kehidupan. Kita yang pertama kali datang. Jeng jeng! Ya udah deh ongkang-ongkang kaki sambil berjemur di bawah teriknya matahari. Gedungnya emang bikin pengen pake bikini daripada pake kebaya, sih. Hihihihi.

Mirip Tom Cruise & Katie Holmes, kan? *diseruduk banteng*

Setelah nunggu sekitar 45 menit, akhirnya datang juga si pengantin. *sujud syukur* *udah kepanasan* Dimulailah prosesi adat dan dimulailah peran saya sebagai parhobas. HOBAAAAH! *singsingkan lengan*

Cewek-cewek cantik parhobas. Masih seger, belum sadar apa yang akan dihadapi selanjutnya. XD

Tugas pertama adalah memegang karung beras yang dibawakan pihak hula-hula. Masih enteng. Cuma pegang karung beras doang mah gampil. Eh, tapi jangan salah! Pekerjaan berat akan menanti, jenderal! Dengan high heels, kebaya ketat, dan make up mentereng harus bolak-balik bawa makanan, gotong-gotong dus air mineral, dipanggil sana-sini, benerin ini-itu, dll. Intinya memastikan para tamu kebagian semua makanan dan semua jalannya adat sesuai dengan yang direncanakan. #pegel

Tapi gong-nya adalah: BERDIRI 3 JAM NGELIPETIN ULOS. YAOLOOOOH, berasa disetrap di depan nggak boleh ke mana-mana. Tahu kan ya kalo acara mangulosi lamanya minta ampun. Bayangkan seluruh undangan yang berjumlah lebih dari 500 harus memberi ulos untuk pengantin. Satu per satu. Kalo cuma kasih ulos nggak ada embel apa-apanya sih mungkin cepat. Tapi ini disertai dengan nyanyian dan ucapan pidato. Yak, tahan aja deh berdiri terus sambil ngelipetin ulos yang dikasih buat pengantin.

Begitu acara selesai jam 7 malam, itu rasanya kayak pengen gelosoran di lantai sambil dipijatin. Capek banget, deh! Apakah udah selesai? Belum sodara-sodara! Acara masih berlanjut di rumah paranak. Kayak acara penyambutan menantu yang akan jadi anggota keluarga baru. Nah, sebagai orang yang udah menikah, saya juga harus mandok hata alias ngomong pesan kesan untuk pengantin. Ish, mana saya paling nggak bisa deh ngomong-ngomong begituan. Dua bulan nikah kok ya disuruh kasih pesan, ya masih belajar jugalah.

Baru selesai semua rangkaian acara jam 22.30! Itu pun masih berlanjut saya dan suami ke rumah mertua untuk ngasih bungkusan arsik lalu ngobrol-ngobrol. Yang ada baru sampe rumah jam 00.30. Cuci muka bentar dan tidur dengan rambut masih kasar karena penuh dengan sisa hair spray. Bodo deh, capek!

But anywaaay, ini pengalaman yang sangat menyenangkan. Lulus dong ya saya jadi parhobas yang baik. Hihihi.

The newlywed Andre & Lia

me and mom (kayak kakak-adik kan ya)

dengan inangtua

diulosi *ciyeeh*

The Vendors

Mari kita mereview vendor-vendor yang dipake di pernikahan, ya.

1. Gedung Mulia (Mulia & Raja) – 8
Sebagai orang Batak, kayaknya nggak ada pilihan lain selain pake gedung Batak, ya. Ada 2 pilihan waktu itu Gedung Mulia dan Dhanapala. Tapi akhirnya yang dipilih Gedung Mulia karena langit-langitnya lebih tinggi jadi dilihatnya luas dan besar.

Pertama kali menghubungi mereka lewat telepon, langsung tanya tanggal yang avalaible (yup, nikah itu emang tergantung ketersediaan gedung. Semua tanggal itu hari baik, kan? ;p). Dapatlah 2 tanggal yang diinginkan. Satu di bulan Maret, satunya lagi di bulan April. Satunya lagi kosong, satunya lagi masih di antrian pertama. Dikasih waktu 3 hari untuk memutuskan. Kurang dari 3 hari mereka mengabarkan kalau di bulan April kosong. Jadi dipilihlah April karena tanggalnya genap, di bulan Maret tanggalnya ganjil. Saya suka angka genap, sesederhana itu. Nggak harus saklek 3 hari, kok. Asal mereka kita bilang udah pasti OK, mereka akan catat nama kita. Saya bayar DP masih dua minggu setelahnya dan DP-nya nawar pula. Hihihi. Oh ya, saya booking gedung 10 bulan sebelum nikah. Kalau ada yang bilang, booking gedung adalah hal yang paling ribet. Buat saya sih nggak sama sekali. Telepon gedung, dapat tanggal, jadi deh.

Suka sekali dengan gedung ini. Kapasitasnya besar, ber-AC, dan dilarang merokok. Jadi selama di dalam nggak ada deh tuh bau-bau aneh dan bikin mata perih dari asap rokok. Staf mereka juga kooperatif. Seminggu sebelum hari H, mereka ngumpulin keluarga untuk technical meeting. Pas di hari H mereka juga bantuin time keeper. Jadi pas saya dan suami lagi asik makan di resepsi atas, staf mereka udah langsung ngingetin bahwa kita harus masuk ke gedung bawah untuk adat. Ramah dan gesit. Oh ya, WC-nya juga lumayan bersih. Hehehe, penting banget ini buat saya.

Hubungi:
Mulia Raja
Telp: 021-8518466, 021-8518666

2. Sofia Make Up – 9
Sejak dari dulu, bertahun-tahun sebelum merencanakan pernikahan, saya udah jatuh cinta sama make up dari Mbak Sofia. Awalnya dulu lihat hasil make up untuk pernikahan kakak sahabat saya. Dia chinese, tapi menikah dengan orang Batak jadi pernikahannya dengan adat Batak. Ya ampun, dia jadi cantik banget. Manglingi. Sejak itu saya kasak-kusuk nanya siapa perias pengantinnya dan dapatlah Mbak Sofia ini. Langsung saat itu juga saya add FB-nya dia.

Seiring berjalannya waktu, beberapa teman saya juga pake dia dan emang jadi cantik banget. Itu saya udah ribet nanya price list-nya dia. Untunglah masih terjangkau. Padahal ya waktu itu pacaran sama si suami juga belum. Hihihi. Emang udah naksir ya, ceu!

Nah, pas udah berencana mau nikah, ini adalah vendor kedua yang langsung saya booking setelah gedung. Kira-kira 9 bulan sebelum menikah. Untuk datang ke tempatnya harus janjian dulu, soalnya Mbak Sofia nggak selalu ada di tempat. Pertama kali datang dengan Mama tentunya. Mbak Sofia langsung menunjukkan portfolionya dia dan lagi-lagi saya jatuh cinta. Nggak perlu test make up lagi, langsung deh DP Mbak Sofia untuk make up pengantin dan martumpol.

Juara deh make upnya! Concern saya adalah mata yang turun dan sipit, dia bisa bikin mata saya kelihatan besar. Kalau kata orang-orang sih manglingi. *GR jaya* Udah gitu make up-nya tahan sampe malam. Mbak Sofia ini sangat tepat waktu dan baik. Menyenangkan. Saran-sarannya dia juga oke. Jadi pas di gereja dia saranin saya pake warna soft, pas di gedung di-touch up pake warna yang lebih bold untuk lipstik karena gedungnya lebih besar. Trus pas di gedung saya nggak pake veil lagi, jadi diganti dengan bunga melati pendek. Manis.

Look at my eyes! It’s big and beautiful. Perfect! *girang*

Pemberkatan di gereja dengan veil

Waktu acara adat, ditambah bunga melati tanpa veil

Percayalah, saya sampe nggak rela ngapus make up-nya saking bagusnya.

Hubungi:
Telp: 021-53673954
FB: Sofia Make Up
E-mail: sofia@sofiamakeup.com

3. Fish Photo – 9
Fish Photo ini bukan rekanan Gedung Mulia. Nekat ya saya dengan nggak memakai rekanan padahal charge-nya sampe 2,5 juta, lho. Jadi ceritanya pas awal rencanain nikah dan ngambil brosur di Mulia, nggak ada yang bikin sreg untuk foto. Buat saya foto itu crucial, bukti otentik yang akan disimpan seumur hidup, jadi harus bagus.

Nah, pas ngobrol ama Mbak Sofia untuk make up, ternyata suaminya itu mengelola wedding photograpy. Dia pun bilang ke saya, kalau saya pake dia nanti dia bantu bayar charge gedungnya. Karena udah jatuh cinta dengan album yang dia bikin bagus dan cara dia ngambil foto juga oke, jadi langsung deh saya booking, sekalian sama prewed-nya.

Nggak nyesel sama sekali karena hasilnya maksimal. Foto prewed hasilnya oke semua. Udah sama make up dengan Mbak Sofia pula. Bayangin aja untuk hasil foto mentahnya aja sampe 600 lebih. Gempor juga milihnya karena rasanya semua pengen diedit dan dicetak karena bagus semua. Oh ya, untuk frame juga dipinjami mereka. Total ada 4 frame yang diberikan. Untuk hasil editannya sendiri, bagus banget! Nggak asal edit aja, tapi bikin nuansanya beda banget dari foto mentahnya.

Karena udah jatuh cinta (dan nggak mau repot lagi), pas martumpol pun pake mereka. Jangan ditanya, hasilnya bagus banget. Mereka all out ngambilnya. Bener-bener mikirin angle yang bagus.

Pas hari H, di mana pasti orang-orang Batak itu bawel dan semua mau ngatur, tapi mereka tetap sabar dan profesional. Keukeuh lho mereka mau udah dimarahin juga, tapi tetap berusaha ngambil angle yang ciamik. Bahkan pas lagi kita di jalan tol menuju gedung, tiba-tiba mobil fotografer lewat di sebelah kita dan buka jendela fotoin kita. Berasa paparazi. Niat banget!

Tinggal tunggu hasil album dan videonya aja, nih.

Hubungi:
Vera
Telp: 087881021322
E-mail: contact@fishphoto.net
Website: http://www.fish-photo.net

4. Laspados – 8
Saya pilih Laspados, simply karena Bang Tua Sirait satu gereja sama saya. Kalo disuruh milih pemusik Batak yang bagus mana sih saya nggak ngerti. Di kuping saya semuanya sama. Tapi dari banyak review orang, mereka bagus, kok. Orang tua pun langsung setuju.

Bang Tua Sirait ini orangnya kooperatif dan inisiatif dalam bikin acara. Dia pun mau mendengarkan saran dan jadi MC wedding pas resepsi jadi buat saya itu udah cukup menyenangkan.

Hubungi:
Tua Sirait
Telp: 021-70572716
021-92140083
08161145356

5. Rotorang – 9
Pas booking Rotorang, saya ikut sampai ke rumahnya. Pemiliknya baik dan blak-blakan orangnya. Hasilnya, semua tepat waktu. Pokoknya untuk vendor yang satu ini nggak banyak complain, tapi mereka udah gerak aja.

Secara selama pesta saya hampir nggak makan. Sempat nyobaik ikan arsik dan nasi, yang kalo di lidah sih tampaknya baik-baik aja. Β Tapi kalau kata orang-orang sih makanan nggak pernah habis dan mengalir terus serta enak. Itu udah bikin puas buat saya. πŸ˜€

 

Hubungi:
Rotorang Catering
Telp:Β 021-862 6593

6. Bali Indah – 9
Bali Indah udah di-booking dari awal, bahkan sebelum ketemu orangnya. Jadi si Mama telepon aja dan langsung bayar. Kenapa dipilih Bali Indah? Feelingnya si Mama aja sih, jadi saya tinggal ngikut.

Sempat nyoba beberapa kali test food di 2 wedding expo. Selalu suka masakannya. Kalau dari penyajian mereka rapi dan bersih. Kalo di wedding expo aja sampah mereka nggak kelihatan. Kan geli ya kalau makan tapi dekat tempat sampah. Makanan mereka yang paling saya suka itu adalah Beef Wellington. Katanya sih habis ludes pas hari H karena banyak yang suka. Habis ludes sampai saya pun nggak dapet. Meja VIP di atas juga mempermudah tamu-tamu VIP, keluarga dekat, dan pengantin untuk bisa duduk makan dan berbaur dengan tamu. Dekornya juga juara. Sesuai sama temanya.

Hubungi:
Bali Indah Catering
Telp:Β 021-8195185 / 021-8502937

7. De Riz – 7
Dari awal cuma ada 2 pilihan dekor yang saya suka: Rich Art sama De Riz ini. Kenapa cuma dua ini? Karena cuma mereka berdua yang dekornya modern. Yang lainnya agak serupa ya, terlalu Batak menurut saya. Batak itu kayak gimana? Kayak gini, nih.

google.images.com

atau

google.images.com

Dua dekor ini bisa memberikan tema yang lebih modern. Soalnya saya nggak terlalu suka pake gorga, kesannya Batak banget. Padahal kan gedungnya sendiri udah ada Gorga-nya jadi di pelaminan nggak perlu ada rumah gorga lagi. Disetujui langsung oleh Mama.

Awalnya saya minta temanya adalah warna burgundy dan silver. Beberapa hari sebelum hari H juga udah sempat kirim-kiriman warna supaya nggak salah dekornya. Intinya saya mau warna seperti yang pernah saya kasih. Pas di hari H, kenapa jadi ada pink dan gold-nya lebih ke kuning ya? Dia bilang nggak punya kain warna burgundy seperti itu. Punyanya maroon. Bok, ya dicari toh. Ya masa mereka nggak mau beli untuk properti, sih?

Udah gitu, mereka udah jelasin kalau di bagian kiri kanan dinding akan di-frame ulos Batak. Kenyataannya, nggak ada ulos Bataknya. Sayang ya, sebenarnya apa yang saya pengenin meleset banget.

Tapiii.. yang bikin nggak jadi marah adalah… dekornya bagus banget! Banyak yang muji dan kalau difoto keliatan wow! Anyway, untuk di gedung ini saya emang sengaja nggak mau pake gorga biar nggak batak banget.

 

Hubungi:
Yanti Sinaga
Telp: 081213996311 / 021-92448442

8. Wedding car Sewa Classicku – 8
Dari awal, saya dan suami emang pengen banget pake mobil klasik. Googlinglah dan dapat blog-nya Mas Ferdian. Sukaaa Β banget sama vendor yang ini. Mas Ferdian sangat kooperatif dan menyenangkan. Dia nggak telat dan di hari H dikasih 2 mobil. Untuk yang dipake pengantin pake mobil klasik limo dan ada satu lagi mobil cadangan klasik kalau seandainya mobil utama mogok. Kekurangannya adalah pas di hari H, asesoris bunga di mobil lepas dan mobil harus berhenti untuk benerin. Nah, ini bikin orang-orang sedikit panik karena dikira mogok, padahal sih nggak. Mungkin lain kali harus lebih erat masangnya.

Classic Car by Mas Ferdian

Classic car by Mas Ferdian

Hubungi:
Ferdian
E-mail: sewa_classicku@yahoo.com

9. Kebaya Martumpol by QZM – 8
Hasilnya bagus banget! Ketat di sana-sini tapi tetap bisa bebas bergerak. Sayangnya untuk ke QZM ini harus rela bolak-balik, betulin mulu, butuh waktu yang lama. Jadi harus sabar-sabar, ya. Oh ya harganya relatif terjangkau. Untuk orang tua sendiri, mereka jahit di sana dari martumpol sampe ke hari H.

Kebaya martumpol dan kebaya para Mama by QZM

Hubungi:
QZM – Pasar Sunan Giri, Jakarta Timur
Telp: 021-4722872

10. Kebaya Pernikahan by Hen’s – 9
Oh, I love their Β kebaya. Hen’s ini terletak di Istana Pasar Baru. Dua desainer ini, Om Hen dan Om Ivan benar-benar sangat informatif. Tahu benar apa yang saya mau dan berusaha mewujudkannya. Udah gitu, dia juga kasih saran make up yang bagus gimana, model rambutnya gimana, cara jalannya gimana. Yang paling bikin senang adalah timeline mereka sangat baik. Jadi nggak ada tuh saya ngamuk karena jadwalnya molor. Semua serba tepat waktu dan sesuai pada waktunya. Nggak pake deg-degan. Oh ya, veil yang saya pakai waktu pemberkatan itu juara, lho. Secara nggak pernah ada yang pake veil tampaknya di HKBP tempat saya, jadi banyak yang komen suka. Ih, senang! πŸ˜€

Kebaya full payet dan swaroski, berat banget. Tapi cantik!

Bros dari Hen’s juga

 

Hubungi:
Hen’s Fashion – Istana Pasar Baru
Telp: 021-34833762

11. Kartu Undangan dan Souvenir by Kartu Pesona – 6
Saya nggak suka undangan adat saya karena undangannya warna merah, sementara amplopnya warna putih. Salah banget, deh. Mana kalau kita complain mereka juga ngeyel jadi kesannya kita yang salah. Pokoknya ribet banget, deh. Not recommended. Untuk souvenir, sebenarnya saya suka. Tapi lagi-lagi karena mereka salah dengar, harusnya diembos malah jadi nggak diembos. Ih, gregetan! Tapi untung masih bisa dimaklumi. Grr!

Hubungi:
Kartu Pesona – Pasar Tebet Barat Lt. Basement BKS No 1-4-17
Telp: 021-8354357 / 021-83702162

12. Donamici – 9
Tahu sepatu Donamici tentu saja dari googling dan review yang positif dari calon pengantin lainnya. Langsung deh meluncur ke Mangga Dua. Untuk sepatu pernikahan full blink-blink dan udah kelihatan mewah banget. Harganya di bawah 1 juta. Jauh lebih murah daripada Paulista di mall-mall itu. Jangan khawatir, rasanya nyaman banget. Saya pake hak 7 cm dan kayak nggak berasa pake sepatu tinggi. Kaki nggak dibuat pegal dan empuk. Enak banget.

Sepatu Donamici

Hubungi:
Donamici – ITC Mangga Dua lt. 3 Blok A No 25
Telp: 021-6126303 / 021-92950979
13. Paulista – 9
Siapa sih yang nggak kenal Paulista. Untuk sepatu martumpol, saya pake Paulista yang lagi diskon. Modelnya sederhana dan nggak heboh karena nggak mau ngalahin sepatu pernikahan nanti. Untuk hak saya pake 5 cm biar bisa bebas ke mana-mana. Dan biar saya nggak terlalu tinggi kayak tiang listrik. Tentu saja, Paulista ini rasanya nyaman dan enak dipake.

Sepatu Paulista untuk martumpol

Overall, semua vendor berusaha bekerja dengan baik. Semuanya berasa bagus-bagus aja karena tamu senang dan responnya positif. So, I am happy. πŸ˜€

Fitting Lagi

Kayaknya hari ini lagi rajin banget nulis sampai ini adalah postingan ketiga. πŸ˜› Hari kamis kemarin, hari libur saya, saya dan Mama fitting kebaya. Tujuan pertama adalah fitting kebaya pernikahan untuk kedua kalinya di Hen’s. Sebenarnya sih udah fitting ketiga, tapi kemarin bustier-nya nggak bisa diresleting karena tampaknya badan saya membesar akibat lagi menstruasi. Jadi disuruh balik seminggu lagi untuk fitting.

Ajaib lho, ternyata… bustiernya pas. Pas ditimbang ternyata berat badan saya emang turun 2 kg (pffft, ketahuan deh pas mau dapet kebanyakan ngemil). Kebayanya masih berbentuk tile semua dan sedikit bordir. Belum ada brokatnya. Jadi kayaknya kalau sistem dia itu, mereka akan memotong-motong brokatnya dan menempelkan di tile.

Masih ada beberapa yang perlu diperbaiki, seperti kerahnya kurang coak dan punggung bagian belakangnya kurang turun ke bawah. Tapi so far saya percaya aja sih sama Om Hen dan Om Ivan ini. Setelah beres fitting, dia bilang akan menelepon saat kebayanya udah jadi dan dipayet. Ya ampun aku deg-degan sekali menunggu teleponnya. Kayak mau nunggu telepon dari SBY. #lebay

Untuk kebaya pernikahannya emang nggak pernah saya foto, biarlah jadi kejutan nantinya. Β *sok misterius*

Setelah dari Hen’s, saya dan Mama langsung meluncur ke QZM. Itu sekitar jam 6 sore dan QZM penuuuh banget. Seperti biasanya, tetap harus menunggu lama padahal kan sebelumnya udah ditelepon minta disiapkan.

Kalau di QZM, mau fitting kebaya Mama. Kebaya untuk acara martumpol masih harus diperbaiki, tapi kebaya untuk pernikahan udah jadi daaan kelihatan cantik banget. Warnanya tembaga dan merah. Punggung si Mama kelihatan seksi dan untungnya dia pede-pede aja.

Nah, karena tragedi dress marhusip kemarin yang nggak bener banget polanya. Jadi, kayaknya saya nggak bakal pake dress itu, deh. Untungnya si Mama dari dulu inisiatif buatin saya dress di QZM. Padahal saya nggak pernah ngukur, nggak pernah fitting, eh tiba-tiba kemarin udah jadi aja. Waktu dicoba pas banget. Jadi kayaknya untuk marhusip bakal pake yang itu, deh (anywaaay, kalau ada yang nanya, kan waktu itu udah marhusip. Dengan sedih akan kujawab marhusipnya ditunda *nangis seember*. Untuk alasannya nanti akan diceritakan kalau saya udah nggak sedih lagi, ya *lama bener sedihnya* XD).

Yang lucu adalah, waktu lagi ngobrol sama Pak Qosim, tiba-tiba dia nunjukin di BB-nya sebuah gambar. Pas dilihat… loh, itu kan foto kebaya martumpol saya tampak depan dan tampak belakang. Dapet dari mana pula gambar itu?

Kata Pak Qosim ada yang mau contoh model kebayanya. Dia juga nggak tahu dapet dari mana gambarnya, tapi saya perkirakan ada yang baca blog ini dan mengambil gambarnya. Hihihihi, perasaannya langsung senang. Ternyata tulisan iseng di blog ini beneran bisa membantu di dunia nyata. YEAY! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Sekian laporan dari perkostuman yang (untungnya) hari ini memuaskan semua.

PS: Oh ya, segala macam foto nanti diupload. Lupa difoto kemarin. Hihihi.

Tentang Waktu Yang Dibuang Tukang Jahit

Beberapa hari lagi saya Marhusip. Baju marhusip udah jadi beberapa bulan lalu, cuma dress sederhana dari Batik. Kemarin malam, saya coba lagi di rumah karena setelah dibawa pulang nggak pernah dicoba lagi.

Begitu dipake, kecewa. Jahitannya nggak rapi, bahkan ada benang yang keluar. Yang paling mengecewakan adalah, bajunya tetap nggak pas. Masih inget drama bikin dress ini di mana mereka salah ngukur dan pola harus dibongkar, bikin yang baru lagi. Well, tetap belum oke. Jadi kalau saya berdiri biasa, bahunya jadi agak naik ke atas. Nggak bagus!

Model dress saya biasa aja, yang mana harusnya penjahit mana pun bisa bikin. Tapi untuk baju sederhana begitu aja, dia pun gagal total! *nangis seember* Untuk benerin ke sana lagi, udah malesnya minta ampun. Udah tempatnya jauh, perbaikinnya lama bener, dan saya merasa mereka asal-asalan aja jahitnya. Keluhan saya didenger selewat. Udah saya bilang, tolong dicatat ya perbaikannya jadi kalau saya fitting berikutnya udah bagus, nggak perlu berkali-kali. Mereka iya-iya aja dan nggak mencatat. Fitting berikutnya tetap masih kurang enak. *mati*

Jas pacar saya untuk martumpol nanti, yang harusnya jadi bulan November 2011, sampai sekarang belum jadi. Kemarin fitting, masih tetap kekecilan aja! Padahal keluhan fitting sebelumnya adalah jas ini kekecilan di bagian dada dan selangkangan. Oh, anyway, masalah kekecilan ini udah dikomplen sampai 3 kali fitting! Well, gimana nggak mau marah coba! 3 kali fitting dan nggak ada perubahan berarti. Total pembuatan (dan masih belum jadi) 5 bulan. Go figure! *menghela napas panjang*

Iya, saya emang paling cerewet soal waktu. I didn’t have much time to go there back and forward. Terutama kalau yang harusnya diperbaiki tapi nggak diperbaiki dan asal-asalan. Waktu yang harusnya saya pakai untuk bisa mengurus ke tempat lain, dipake untuk ngurusin sesuatu di mana mereka bekerja asal-asalan.

Oh by the way, it’s (still) QZM.

Pakaian Para Handai Taulan

Setelah 2 tulisan dari si pacar yang tak kunjung selesai dan entah berapa episode lagi *macam sinetron*, baiklah mari kita berbincang-bincang saja.

Kemarin akhirnya memutuskan untuk membeli seragam untuk para pria bestmen-ku. Seragam cewek-nya sih udah dibeli dari kapan tau (dan lupa difoto). Karena temanya burgundy, jadi tentu saja seragamnya pengennya berwarna burgundy, dong. Tapi oh tapi… sulit sekali ya orang yang mengerti warna burgundy itu kayak gimana. Burgundy itu warna perpaduan merah dan ungu seperti ini:

Burgundy, sodara-sodara!

Orang biasanya cuma nyadar merah marun atau ungu sekalian. Iya, sik, saya orangnya emang nyusahin *dilempar bom dari segala penjuru* *menghindar*.

Untuk seragam perempuan, mamaku membelinya sendiri tanpa sepengetahuan saya. Dia tahu sih saya pengennya warna burgundy dan udah pernah dilihatin juga pengennya seperti apa. Jadi untuk bridesmaids-ku tercinta *melirik Merlyns* mereka akan diberikan bahan satin berwarna burgundy. Karena lupa difoto, warna yang diberikan kepada mereka seperti ini:

Bridemaids

Warnanya mirip banget sama gambar di atas. Cucok!

Nah, untuk para penerima tamu nasional dan adat. Hmm, tampaknya mamaku mulai bereksperimen. Dia pun menanyakan kepada penjual bahan, apa warna yang setipe dengan burgundy. Dijawab tukang bahannya adalah…. dusty pink! Mungkin merujuk pada warna kebaya martumpol saya.

Untuk penerima tamu nasional berwarna seperti ini, berbahan satin:

Dusty pink

Untuk penerima tamu adat, yaitu adik-adik sepupuku yang masih muda belia dan bisa menjadi ajang mencari jodoh *ciyeeh*, maka nggak perlulah dipakaikan brokat yang bikin mereka tua seribu tahun. Mereka kan harus ciamik dan memikat para kumbang-kumbang di sana *tobat, Mi, tobat!*. Untuk warna (karena udah lupa, dan lagi-lagi lupa foto) kalau nggak salah ya sekitaran dusty pink dan ungu muda (tentunya pilihan si Mama). Akan dibuat model seperti ini:

Penerima tamu adat

Warnanya bukan seperti itu, ya. Itu cuma contoh aja *dijelasin*. Jadi nanti atasannya akan seperti itu dan roknya akan selutut saja dengan bahan yang lebih tebal. Semoga adik-adikku makin cantik nanti. πŸ˜€

Untuk para sepupu yang lainnya, tamu umur sudah matang akan diberikan brokat berwarna dusty pink pula. Kalau yang diberikan brokat itu berarti dia sudah berjodoh, jadi nggak papa dong ya pakai brokat. Hihihi. *dilempar parang*

Selanjutnya adalah seragam untuk para tetua yang akan manggung di pelaminan. Karena mereka sudah sesepuh dan akan duduk di panggung, tentu warna harus yang bikin mereka terlihat gonjreng dan ayu dong, ya. Jadi Mama memilihkan warna merah cabe. Pada waktu beli bahan ini tentu saja saya ikut. Nah, supaya tetap kelihatan muda, maka brokatnya minta polanya yang jarang-jarang. Biar agak seksi gimana gituh! *dipelototin tetua* Untuk bustiernya dibeli warna gold biar menyatu dengan warna kulit. Tapi tampaknya ada beberapa yang nggak pede, jadi mungkin diganti dengan warna merah.

Untuk para nantulang-nantulangku yang manis merona diberikan brokat paduan warna pink dan hijau muda. Kata mama biar lebih muda 20 tahun. Siap-siap para tulang menjaga para istrinya yang akan dilirik banyak orang. Hihihi. *menurut LO!* XD

Nah, untuk para bestmen-ku, tentu saja akan berwarna mirip seperti bridesmaidsnya. Akan diberikan kemeja berwarna burgundy dengan dasi silver seperti ini:

Bestmen

Cerita mencari seragam para pria ini lumayan melelahkan. Cari kemejanya mah gampang, selirik-dua lirik langsung ketemu. Begitu cari dasinya, capek! Susah juga memadumadankan warna burgundy ini, ya. Setelah toko dasi diberantakin akhirnya dapetlah warna silver sebagai pemenangnya *tiup terompet*.

Oh ya, untuk pandongani perempuan, dikasih brokat warna orange/merah bata. Sudah jangan ditanyakan warnanya apa, aku pun kurang mengerti. Itu sarannya si Mama yang saya pun nggak bisa mencerna warnanya. Tapiii senangnya adalah si pandonganiku itu akan memakai bahan yang dikasih untuk lamarannya. Ih, senang! πŸ˜€

Well, begitulah pencarian seragam yang cukup membuat lelah jiwa dan raga *lebayatun amat sik!*. πŸ˜€

Hm, sebelum kelupaan: My mom approved my cinderella shoes. Wohoooo! *nari tor-tor*. Gonna upload the pic later.

Ciao!*menghilang di balik asap*

Akhirnya: Kebaya Martumpol

Akhirnyaaa kebaya martumpol saya jadi juga! *sujud syukur nggak bangun-bangun* Dengan proses pembuatan selama hampir 4 bulan!

Hasilnya puas! Meleset dari apa yang saya mau awalnya, sih. Tapiii… akhirnya kerah yang saya mau bisa direalisasikan juga.

Here’s the sneak peak πŸ˜‰

Suka banget! πŸ˜€

Yang pasti sih nggak boleh nambah berat badan lagi karena semua dibikin ngepas.

Sampai balada perkostuman lainnya. πŸ˜€

PS: Untuk jahit di QZM dibutuhkan tekad yang kuat menunggu, kesabaran penuh, dan kesediaan bolak-balik dan nelepon berkali-kali. Tapi harganya relatif terjangkau, kok. Selamat mencoba. πŸ˜€

Balada Perkostuman (2)

Setelah terakhir kali datang ke QZM untuk menentukan payet, saya nggak pernah lagi tanya-tanya kapan si kebaya martumpol jadi. Males, bok! Jadinya lama bener sampe udah lumutan kayaknya.

Kebetulan si Mama mau ke QZM nganterin bahan si adik, ya sudahlah saya ikutan tanya ke sana kebaya saya udah selesai belum. Sudah katanya saudara-saudara! Langsung keesokan harinya meluncur ke sana.

Pertama kali dikeluarkan kebayanya, Mama mengernyitkan kening. Kenapa payetnya nabrak begini kalau dikasih gold. Mulai deh dia agak kecewa. Gue malah masih berpikir nggak kok bagus aja. Emang saya minta payetnya harus ngejreng, jangan kebanyakan satu warna entar nggak keliatan.

Penampakan awal

Kelihatan kusam warnanya? Yaiyalaah, namanya juga dusty pink (a.k.a pink yang berdebu). Dengan setengah kecewa si Mama nanya bisa nggak kalau payetnya diubah lagi. Untungnya Pak Qosim ada di sana, dia bilang dicoba dulu di kulit, pasti kelihatan cantiknya. Akhirnya Mama nyuruh saya buat coba.

Dan voilaaaaaaaaa… Mama diam seribu bahasa. Eh iya, jadi cantik. HAHAHA! *anak kesenangan*

Cantik! (maap ya kameranya nggak bisa menangkap warna sebenarnya ;P)

Tampak belakang

Apakah kebayanya udah bisa dibawa pulang? Tentu tidak, dong! #malahbangga Seperti sebelumnya, saya nemuin ketidaksempurnaan dalam kebaya itu. Di bagian dadanya ada tambahan kain yang kayak garis-garis gitu.

Garis-garis di atas brokat

Setelah dilihat-lihat kok jadi nggak cantik, ya. Mama minta dibongkar aja dan biarin ngikutin pola brokatnya. Pak Qosim nanya dulu nggak papa nih kalau nanti jadi agak seksi dan coak banget, bahunya kelihatan gitu?

Langsung dengan semangat 45 saya jawab: MAU! #eaaa #diserudukFPI

Selain itu bagian pinggulnya mau dikecilin. Pokoknya ketat sana-sinilah biar cakep bentuknya. Jadi si kebaya ditinggalin lagi di QZM untuk final finishing.

Tapiii pas mau pulang, si Mama punya ide untuk merombak kain batiknya dengan cara dibelah depannya dan dikasih bordir. Belum sampe bilang ke mereka sih karena pengen lihat dulu hasil finalnya cocok nggak digituin. Sejauh ini, saya suka sama kebaya saya.

Ihiiiy!

 

Balada Perkostuman

Hari Minggu kemarin saya dan pacar ke QZM (lagi). Setelah misuh-misuh karena pelayanan mereka buruk sekali minggu sebelumnya (oh, mungkin karena minggu lalu pengunjungnya membludak), minggu ini sudah lebih baik. Sebelum datang ke QZM, saya menelepon dulu untuk memastikan bahwa kebaya, dress, dan beskap si pacar udah disiapkan. Jangan sampai kejadian nunggu dicariin 2 jam kayak minggu kemarin.

Sampai di QZM kira-kira jam 13.00. Pemandangan pertama yang dijumpai adalah: lagi nggak ada pengunjung! *sujud syukur* *cium lantai* Betapa senangnya hati, QZM lagi nggak penuh, jadi fokus bisa ke kita. #customerposesip XD

Kebaya, dress, dan beskap dengan cepat langsung dikeluarkan karena udah disiapkan. Pas pertama kali liat kebayanya, hmm… cukup ragu masih ada yang perlu diperbaiki, nih.

Kebaya martumpol tampak depan

Bustier masih kesempitan bikin sesak napas (eh, apa pertanda kurusin aja perutnya, ya? Hihihi). Bagian tangan kebayanya ngepas banget, tapi nggak papa, deh, demi dapat efek melekat di tubuh. Nah, yang masih kurang itu, bagian kerahnya itu kurang turun ke bawah. Kurang seksi gitu. Hahahaha, inget kan kalau saya mau kebayanya seksi! *dibuang ke api neraka* πŸ˜› Jadi untuk bagian depannya, saya minta diturunin lagi. *keukeh tiap fitting minta diturunin mulu*

Baiklah, sekarang kita lihat tampak belakangnya:

Kebaya martumpol tampak belakang

Dari belakang udah lumayan oke, nih. Tapi tetap: kurang seksi! Maklum hasrat punya baju backless belum kesampaian, jadinya pengennya dibikin ke kebaya backless. Berkali-kali nanya si pacar,

“Eh, ini kayaknya kurang seksi, ya?”

“Nggak kok, udah bagus.”

“Masa sih? Kurang turun kayaknya.”

“Lama-lama sekalian aja diturunin semua. Topless dan backless.”

” –___________________________–“

Untuk kebaya ini masih perlu di-fitting lagi sama Qosim-nya langsung. Sekalian menentukan mau dipayet seperti apa dan warna apa. Untuk itu si Mama harus ikut, nih. Nggak pede kalau sendirian.

Selanjutnya adalah mencoba songket. Hmm, nggak komen banyak soal ini. Kayaknya sih udah pas. Jadi langsung dibawa pulang ke rumah aja. Oh ya, karena saya ketinggian dan kain songketnya cuma 90-100 cm, maka ditambahin bordirnya di bagian atas biar nggak kelihatan kosong.

Songket

Setelah mencoba songket, sekarang giliran si dress buat Marhusip yang dicoba. Oh nooo! Kenapa belum ada perubahan dari kemarin, sih? Bahunya masih kekecilan sama kayak minggu kemarin. Sum-nya juga masih kelihatan asal-asalan. Usut punya usut, setelah diukur ulang, ternyata emang si penjahitnya bikin kekecilan, nggak sesuai dengan ukuran yang tertulis. Dia bilang harus dibongkar dan dibikin pola yang baru.

Errr… bukannya itu yang mereka bilang minggu lalu juga, ya? Harus dibikin pola baru. Terus kenapa sampai sekarang belum dibongkar dan dibikin pola baru juga? Jadi bagian bahunya cuma dicubit gitu (nggak tahu maksudnya apa), yang mana nggak menolong sama sekali karena bahunya masih tetap kekecilan dan nggak proporsional. Dari sini agak mendapat kesan kalau mereka males bikin pola baru dan bongkar lagi padahal dari minggu lalu mereka tahu itu satu-satunya cara supaya baju itu bener. GRAUK! *makan penjahitnya*

Oh, ini hasilnya:

Dress marhusip dari kain tenun Bali

Secara kasat mata sih udah kelihatan bentuknya dan saya suka banget! Kemeja si pacar juga dari kain tenun dengan dasar yang sama, yaitu abu-abu cuma dia dikombinasikan dengan warna hijau. Biar nanti serasi pas Marhusip. Hihihi!

Back to topic. Agak kecewa juga sih karena untuk desain terusan yang nggak terlalu susah, dia butuh waktu sekitar 2 bulan untuk membuatnya dan setelah bolak-balik 3 kali fitting belum jadi juga! Minggu depan mau fitting ke-4! FIUH!

Untuk baju-baju saya semua beres di-fitting, sekarang giliran beskap untuk martumpol-nya si pacar. Saya belum pernah liat si pacar pake beskap ini. Dulu sih saya tentang habis-habisan dia mau pake beskap. Kayaknya aneh dan nggak lazim aja martumpol batak pake beskap. Oh, dia bahkan nggak tahu kalo itu bentuknya beskap. Dia cuma bilang mau jas kayak Neo-nya Matrix atau Jet Lee di film apa gitu. Pas datang ke QZM, mereka bilang itu beskap. Krik! Ternyata tokoh jagoan di film luar itu pake beskap buat berantem. Hihihi.

Anywaaay, ini hasil fitting ke-2 beskap si pacar:

*merasa* Ala Neo di Matrix πŸ˜›

Kalo diliat-liat cukup pas, ya. Bentuknya pas di badan dan nggak bikin dia kelihatan gemuk. Cakeps! Tapi begitu dia duduk…………. kancingnya hampir kebuka dan celananya berkerut karena kesempitan. Jadi mau nggak mau harus dirombak lagi. Dia disuruh balik lagi tapi ketemu langsung sama Qosim-nya biar langsung sang komandan yang perbaikin.

Untuk fitting kali ini walaupun masih dibumbui sedikit kekecewaan, tapi yah lumayanlah. Si mbak-nya nggak jutek lagi dan fokus sama keluh-kesah saya. Tapi teteeep, harus balik lagi ke sana minggu depan. *pingsan*

Oh, dan setelah kami datang langsung datang banyak pengunjung ibu-ibu dan anak gadis buat bikin kebaya. Langsung sumpeklah si QZM ini. Oke, pertanda harus pulang.

Sampai jumpa di kisah fitting selanjutnya. πŸ˜€