#KalebBirthdayTrip: Bali (2)

Yuk, lanjut cerita #KalebBirthdayTrip di hari ketiga dan keempat.

Hari ketiga

Belajar dari pengalaman drama kemarin, maka kali ini persiapaannya lebih baik. Benar-benar masak dan memastikan nggak akan dingin di perjalanan (kemarin tempat makannya nggak tertutup rapat cobaaa), dan bawa Heinz yang tinggal dipanasin. Jadi kalau pun makanannya dingin dan Kaleb nggak mau, ada Heinz yang pasti enak dan tinggal minta orang restoran buat panasin. Yuk sip!

Karena masih ingin ke pantai tapi bingung ke pantai mana, tadinya ingin ke Finn’s Beach tapi karena masih banyak bebatuan di situ, kurang cucok buat Kaleb, pas kebangun tengah malam saya sibuk browsing pantai yang ada di Bali. Ketemulah satu pantai namanya Virgin Beach alias Pantai Perasi di Karangasem. Kalau baca-baca jaraknya sekitar 1,5 jam dari Sanur. Agak jauh, tapi saya pikir worth to try karena pantainya bersih dan nggak rame, plus 1,5 jam harusnya nggak lama ya karena kan di Jakarta aja ke mana-mana pasti butuh waktu segitu. Nekat! Anaknya lupa kemarin Kaleb di mobil sejam aja ngamuk. Hahaha!

Sebelum ke pantai mau ke supermarket Hardy’s dulu beli baju renang (baju renang saya dan suami belum kering dan penuh pasir) dan beli cemilan Kaleb. Tapi ternyata Hardy’s belum buka jam 9.30. Akhirnya kita mampir ke McD buat makan. Cuma saya yang makan padahal udah sarapan sebelumnya. Lalu meluncur ke Hardy’s. Niatnya cuma bentar banget langsung cus ke Virgin Beach. Kenyataannya, saya milih baju renang aja lamaaaa banget. Belum lagi belanja cemilan (ini sih cepat), trus pas ke lantai 2-nya ternyata segala perlengkapan lengkaaaaaap banget. Berakhir saya beli sendal buat Kaleb. Trus baru mau jalan ke Karangasem jam 12 siang. Terik kakaaak!

Yang saya nggak tau adalah: Karangasem beneran jauh! Supaya nggak ngamuk lagi, tepat jam 12 siang, di mobil saya kasih makan Kaleb. Setelah itu dia bablas tidur sampai setengah perjalanan, sehingga saya pun bisa tidur. Pas saya bangun, udah ada di Candidasa yang mana pemandangannya bagus banget. Masih banyak pohon-pohon, langit biru, dan pantai yang jernih. Karena sudah jam 13.30, saya minta suami cari restoran buat makan. Tapi kita nggak tau makan di mana. Akhirnya berbekal sinyal yang minim, berhasil juga googling restoran yang banyak direview orang: Lezat Beach Restaurant. Sip, yuk ke sana.

Le-Zat Beach Restaurant ini ternyata restoran di dalam hotel yang pemandangannya langsung ke tepi laut. Mata segar banget. Selain pemandangan yang bagus, makanan dan minuman yang segar, serviece-nya juara banget. Para waiternya ramah, tapi bukan lebay ramahnya. Pas lah ramahnya. Mereka ramah terhadap anak kecil (ada baby chair!), mau ajak becanda saat Kaleb mulai ribut, dan pas tau tujuan kita ke mana, mereka menggambarkan petanya buat kita dan memberitahu tempat bagus lainnya. Aku terharu! :’) Very good experience.

The view

The view

12670514_10154747582244298_4293674115193573196_n

Pusing Pala Ken! :))))

Pusing Pala Ken! :))))

Enaaaak!

Enaaaak!

Setelah kenyang makan, perjalanan masih sekitar 20 menit lagi ke Virgin Beach. Dua puluh menit yang diwarnai dengan pemandangan gunung dan laut yang kayak di kartu pos. Keren banget. Adem hati ini, Bang!

Untuk masuk ke Virgin Beach kita dikenai biaya Rp 10.000 per orang. Dari parkiran, kita harus jalan kaki melewati jalan berbatu dan menurun sekitar 10-15 menit, tergantung napas ngos-ngosan atau nggak. Hahaha! Tapi begitu sampai… MASYA AMPUN CANTIKNYA! Laut berwarna bir toska, di dekatnya ada gunung, lalu bukit, dan pasirnya bersih. Yang paling penting: SEPI banget sampai rasanya jadi pantai pribadi. Lebih banyak bule yang ke sini.

Karena masih belum tersentuh tenaga profesional, makanya masih seadanya aja. Untuk bilas pun di kamar mandi yang nggak ada lampunya dan gelap-gelapan. Makanya sebelum ke pantai sebaiknya udah ganti baju dulu. Di sana juga disewakan sunbed. Waktu itu saya dapat Rp 30.000 per dua sunbed sepuasnya. Mayan, ya.

Seperti yang kita ketahui, Kaleb loveeeeed to be here. Dia happy-nya nggak ketulungan, orang tuanya yang sebenarnya banci pantai sepi juga happy banget. Gini ya rasanya punya pantai pribadi? Hahaha!

Is it a postcard?

Is it a postcard?

12063621_10154747743439298_6329494509554067059_n

993565_10154747744814298_5007772221406122407_n

1465136_10154747742354298_4403706989189356892_n

10983384_10154747742099298_5087196599047727846_n

12472806_10154747743264298_573973632699974306_n

12821589_10154747744724298_450089939299732046_n

1476123_10154747745369298_9179079980980563170_n

995320_10154747743759298_5551353483191859977_n

PUAS banget! Karena kita datangnya sekitar jam 3 sore jadi nggak terlalu terik tapi pantulan mataharinya masih bikin lautnya bagus, plus sepi. Sekitar jam 5 sore kita pun langsung pulang karena nggak mau Kaleb kelaparan. Karena udah belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini walau wc-nya gelap kita semua bilas dan ganti baju bersih jadi Kaleb di mobil pun bisa nenen, plus sedia cemilan yang banyak. Perjalanan 1,5 jam ke hotel pun aman tenteram damai. :’)

Niatnya mau jalan lagi cari makan, tapi kasian Kaleb udah capek dan udah waktunya tidur. Sempat pesan Gojek untuk delivery babi guling tapi karena udah kemalaman semua tutup. Hiks. Jadilah kita pun delivery KFC. Hahaha, yang penting perut kenyang.

That’s a wrap for today.

Hari keempat

Karena hari ini pulang, jadi kita santai banget. Nggak punya jadwal khusus, cuma pengen ke Krisna dan makan enak aja. Jadi dimulai dengan kita bertiga berenang di kolam renang yang hangat. Diwarnai dengan Kaleb pup di kolam lagi, tapi kali ini aman karena pake diaper (ada apa sih Kaleb dan kolam renang?).

Sebelum pup di kolam

Sebelum pup di kolam

Setelah itu kita makan kenyang di hotel, packing, dan cusss!

Tujuan pertama adalah Krisna. Saya pikir saya bakal kalap di sini, tapi ternyata nggak. Saya beneran cuma beli oleh-oleh pie susu dan kacang untuk orang rumah, beberapa baju bali buat Kaleb, dan selesai! Cuma 30 menit aja. Untuk orang yang suka belanja ini prestasi. Hahaha.

Kita langsung buru-buru ke Warung Babi Guling Pak Malen yang nggak jauh dari Krisna. Dari kemarin ngidam babi guling akhirnya hari ini kesampaian juga. Warung Pak Malen ini belum juga jam 12 siang udah penuh dan antri mobil, untungnya kita dapat tempat duduk. Nggak beberapa lama kemudian muncullah nasi dan berbagai olahan babi guling di sebuah piring. MAKNYUS! Enak banget nget. Kayaknya saya dan suami emang tipe orang yang lebih suka makanan lokal daripada internasional ya. Dari Mak Beng dan Babi Guling, dua-duanya paling membekas di sanubari *tsaaaah*. Kita juga nambah kerupuk kulit babi yang ternyata harganya Rp 30.000 dengan porsi kecil. Tapi emang itu kerupuk enaknya kayak makan kerupuk dari surga *halaah*. Pokoknya siang itu saya kenyang dan bahagia.

Setelah dari Warung Pak Malen, ada sisa waktu sekitar sejam, kita pun makan gelato di Seminyak. Ini request si suami. Dia suka banget gelato dan menurutnya paling pas makan gelato di Bali. Dia nggak mau makan gelato di Jakarta. Hahahaha. Tapi udara terik emang cocok makan dingin-dingin. Kaleb pun dibolehin coba gelato. Dasar dia nggak bisa dingin, jadi dia suka es krim tapi kalau dikasih meringis kedinginan. Hahaha.

Dengan berakhirnya gelato kita, kita pun menuju bandara Ngurah Rai yang udah kece berat untuk kembali ke Jakarta. See you soon, Bali.

Kesimpulan liburan dengan bayi: CAPEK dan rempong! But we did it! *kasih piala ke diri sendiri*

Tips liburan bareng anak 1 tahun:

  • Selalu ikuti jadwalnya si anak. Kalau emang waktunya tidur, sebisa mungkin tidur, walau itu di mobil atau di hotel. Kalau nggak cranky.
  • Makannya harus tepat waktu. Kalau emang pas jam makan lagi di mobil dan nggak ada resto yang proper, ya kasih makan di mobil. Jangan sampe kelaparan dan ngamuk. Duh, ribet.
  • Sedia air putih dan cemilan yang banyak untuk bayi.
  • Saya prefer sewa mobil tanpa supir karena kalau pake supir bisa rugi kalau bawa bayi. Flow liburannya karena ngikutin jadwal bayi jadi kadang-kadang kita balik ke hotel dulu untuk istirahat, baru habis itu jalan lagi. Kalau pake supir nanti dia magabut.
  • Pastikan restoran yang ada baby chair. Karena ribet banget kalau bayi makan sambil dipangku. Apalagi bagi Kaleb yang gratakan pengen pegang ini itu. Baby chair is a must. Kalau nggak ada baby chair maka sebisa mungkin bawa tempat duduk portable. Tapi preferensi tiap orang bisa beda-beda.
  • Nggak perlu itinerary yang padat. Buat daftar aja tempat yang ingin dikunjungi dan sesuaikan dengan situasi si bayi.
  • No stroller. Jalanan di Bali nggak memungkinkan pake stroller. Saya prefer pake gendongan. Saya pake Ergo Baby 360. Lebih praktis dan Kaleb pun nyaman.
  • Jangan maksain pergi sampai malam banget. Kasian baby-nya. Kalau udah waktunya tidur, usahakan untuk pulang ke hotel dan tidur lah kayak jadwal biasa.
  • Pilih hotel yang bersih dan nyaman karena kalau bareng baby akan ada waktu-waktu kita lebih banyak di hotel. Jadi pilih hotel yang juga bisa buat liburan. Oh, sebisa mungkin ada kolam renang karena baby suka berenang (tapi beda-beda sih tiap bayi).
  • Sebelum booking hotel, pastikan apakah sarapan di hotel bisa dimakan oleh bayi. Karena waktu itu saya nggak yakin, saya bawa makanan dan pilih hotel tipe apartemen yang ada dapur dan peralatan makan.
  • Waktu di pesawat harus bawa banyak cemilan karena bayi bosan. Kaleb pas take off dan landing sih aman-aman aja walau nggak menyusui, tampaknya dia nggak mengalami sakit kuping. Karena bosan itulah Kaleb pun pas di tengah flight milih untuk nenen dan tidur. Sementara bayi sebelah saya yang umurnya beda 2 bulan dari Kaleb merasa ngantuk dan kebosanan tapi malah nggak tidur. Jadi beda-beda tiap bayi.

Sampai ketemu di #KalebTrip lainnya!πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s