Stereo Mania

Sebagai emak-emak yang lagi cuti melahirkan dan jarang keluar rumah karena jagain bayi, maka hiburan saya adalah nonton TV. Salahkan jaringan internet yang buruk sehingga saya nggak bisa streaming serial Korea *hiks*. Semua tontonan dari infotainment, berita, musik, sinetron, sampai serial Bollywood saya tonton. Bahkan karena si Mama sering nonton acara D’Academy, saya pun jadi ikut nonton. Duileh, resmilah saya jadi ibu-ibu yang jadi segmennya Inbox, Dahsyat, dkk.

Tapi tenang aja, saya masih waras untuk memilih tontonan yang jadi favorit. Akhir-akhir ini saya lagi suka serial Stereo di NET TV. Sebenarnya serial ini mirip Glee, tentang klub musik di sebuah universitas dengan drama-dramanya. Tapi karena dikemas dengan bagus, nggak terlalu sinetron dengan mata melotot di-zoom in zoom out, plus aransemen lagu-lagunya bagus, saya jadi suka. Ditambah lagi ada Dikta Yovie n Nuno sebagai Vigo yang di situ perannya cowok tengil dan gombal, tapi kalau naksir cewek jadi manis. Duh, ngingetin sama jaman ABG, deh.

Jadi kalau cari saya di hari Minggu jam 6 sore, maaf ya saya pasti nggak bisa. Soalnya saya pasti lagi nongkrong di depan TV nonton Stereo. Wakakak, abegeh pisan!

Balada Lipstik

Sejak hamil dan merasa badan menggendut dan tampilan sungguh memprihatinkan, saya jadi bertekad untuk nggak mau tampil jelek. Maklum ya, self-esteem lagi rendah banget karena berat badan naik drastis, jadi gimana caranya supaya terangkat dikitlah itu self-esteem. Salah satunya adalah dengan dandan. Setidaknya muka harus enak dilihat, nggak bikin pengen orang berpaling melihatnya *pede gilak lo, Mi!*.

Karena itulah saya jadi senang banget lihat-lihat alat make-up, terutama lipstik. Entah kenapa penampilan langsung berasa kece banget kalau warna lipstiknya bagus. Waktu hamil, saya pernah beli 4 lipstik dalam sebulan dengan warna yang hampir sama, tapi beda merk aja. Hahaha! Sempat tergila-gila warna merah sehingga tiap datang ke counter lipstik pasti selalu coba yang merah; dari merah terang sampai merah gelap. Kayaknya belum nemu yang pas di muka merahnya. Dari Revlon, NYX Lip Cream, Bourjois Rouge Velvet, Wet n Wild, sampai Maybelline, saya punya semua shade merahnya. Setiap beli warna merah lagi, suami pun selalu bertanya apa bedanya dengan merah yang kemarin. Dih, beda kaleee!

Sampai akhirnya pencarian merah saya berhenti di Colourpop Lippiestix shade bossy. Sekali diulas warnanya langsung kelihatan jelas dan tahan lama. Udah pake minum dan makan masih bertahan. Kece bener lah pokoknya.

: Warna merah idaman yang paling pas di bibir

Pertama kali lihat Colourpop di online shop, tertarik karena bentuknya lucu. Kayak crayon. Iya, saya emang visual banget orangnya. Hahaha. Pas dilihat, harganya pun nggak mahal, berkisar antara Rp 110.000-Rp 120.000 di online shop. Karena nggak mahal itulah, sekali beli langsung 2. Satunya lagi shade I Heart This:

Warna Fuschia

Setelah mendapat merah yang cocok apakah pencarian lipstik berhenti? Ternyata nggak sodara-sodara. Saya malah makin cinta sama lipstik, tapi udah nggak terobsesi lagi dengan warna merah. Saya jadi penasaran dengan warna lainnya, seperti warna nude.

Sempat mau beli NYX Lip Cream dengan warna nude, tapi setelah dicoba saya seperti orang anemia. Pucat banget. Kayaknya emang nggak cocok sama warna nude, deh. Tapi kan perlu juga punya lipstik warna yang nggak terlalu gonjreng. Sementara kebanyakan saya punyanya warna merah atau pink tapi bold. Karena nggak cocok nude, tapi nggak mau gonjreng, jadi pilih warna lipstik yang agak kecoklatan atau rada pink. Sempat coba Wardah yang long lasting, yang mana warnanya kece, tapi ya nggak tahan lama. Tapi dengan harga Rp 40.000, nggak perlu ekspektasi yang tinggi, kan? Kalau warnanya pudar, tinggal oles aja.

Lalu teman saya, Iin, pernah ngetwit soal lipstik Silky Girl Moisture Boost Lipcolor Balm. Pas kebetulan lewat counter Silky Girl, jadi penasaran dan lihat-lihat. Ya tentunya berakhir dengan beli warna wine dan orange. Asiik, punya warna baru! Oh ya, Silky Girl Moisture Boost ini bukan lipstik matte. Kata mbaknya, awalnya glossy, tapi kelihatannya jadi matte, jadi semi matte. Untuk warna wine, hasilnya cukup matte, tapi warna orange lebih ke glossy dan harus dioleskan berkali-kali supaya warnanya kelihatan. Untuk harga yang nggak mahal (Rp 60.000-an) Silky Girl Moisture Balm ini kece banget. Saya sukaaa!

Nah, karena si orange yang terasa kurang kelihatan warnanya, sekarang saya jadi terobsesi punya lipstik warna orange. Sungguh racun itu online shop di Instagram sehingga tiap hari kerjaan saya lihatin lipstik berbagai merk. Cuih! Setelah dilihat-lihat berbagai merk, saya pun jatuh cinta dengan lipstik LA Girl Matte Pigment Gloss shade Instinct yang berwarna orange.

Nah, selain LA Girl, saya juga lagi naksir MUA Luxe, Sleek Me, dan LA Splash. Duileh, nggak kelar-kelar deh, nih. Hihihihi. Padahal lipstik itu juga jarang dipake, apalagi kalau cuti gini. Makanya saya semangat kalau pergi ke mall, ya karena bisa ganti-ganti pake lipstiknya.

Jadi, ada yang mau ngajak saya ke mall (sambil beliin lipstik)? XD

PS: Untuk lihat hasilnya di bibir saya, bisa lihat di Instagram aja, ya. Soalnya malas mindahin fotonya ke komputer.

Buku

Sejak masih balita, saya sering dibelikan buku. Dari buku dongeng internasional (macam Cinderella, Snow White dan kawan-kawannya) sampai dongen klasik (macam Lutung Kasarung, Bawang Merah Bawah Putih, dll). Bukunya dari yang tipis banget terbitan Elex Media bikinan Jepang sampai yang tebal banget, lebih banyak tulisan, dan sedikit ilustrasi karangan Anderson. Semua habis saya baca.

Gedean dikit, waktu SD, Bapak saya beliin sepaket buku ensiklopedia yang tiap bukunya tebal ampun-ampunan banget. Saya tahu banget untuk beli buku itu Bapak butuh spare uangnya karena mahal banget. Ensiklopedia sebesar dan setebal itu dengan full color, kertas tebal, dan bahasa inggris. WEW!

Mungkin karena masih SD dan bahasa inggris saya masih acakadul, maka supaya makin pinter, saya dibelikan sepaket buku Mengapa Begini, Mengapa Begitu yang dulu beken banget karena ada acaranya di TV. Udah nggak terhitung lagi seberapa sering buku itu saya baca. Udah sampai kumel banget deh kertasnya. Ke mana-mana pasti saya bawa dan baca. Nah, karena buku ini gampang dicerna dan setiap buku temanya berbeda, ada hewan, negara, seni, dll, maka pengetahuan saya jadi lebih banyak dibanding teman-teman sekolah. Ish, berasa pinter banget, deh. *langsung melayang*

Beranjak SMP, saya mulai bisa milih-milih buku kesukaan saya. Waktu itu tiap bulan kami punya jatah belanja buku sama Bapak. Dia bilang kami boleh beli buku apa aja, dengan maksimal harga Rp 20.000. Dua puluh ribu mah waktu itu gede banget. Senang bangetlah rasanya. Dulu, Gramedia itu macam surganya saya. Saya bisa ada di sana berjam-jam tanpa merasa bosan. Jadi kalau Mama pengen jalan-jalan ke mall tanpa saya rewel, suruh aja saya ke Gramedia. Beres!

Semakin beranjak dewasa, dari 3 anaknya, cuma saya yang penggila buku. Setiap ada buku baru saya pasti punya. Semakin tebal bukunya semakin saya excited bacanya. Bukunya bisa bermacam-macam. Waktu kecil saya suka buku dongeng dan komik.

Waktu SMA dan awal kuliah saya tergila-gila dengan segala macam buku sastra, puisi, prosa, dan buku yang njelimet bahasanya. Salah satu penulis kesukaan waktu itu adalah Remy Silado dan buku favorit adalah Ca Bau Kan. Buku tebal dibalut sejarah yang bikin saya lupa makan karena keasikan baca. Saya juga baca buku Ayu Utami, Dewi Lestari, dan penulis lainnya yang bahkan saya udah lupa.

Beranjak dewasa dan udah pusing sama tugas kuliah dan kerja, saya mulai bergeser ke novel-novel metropop. Biar kepala nggak berasap aja bacanya. Hehehe. Tapi tetap nggak menutup saya baca yang nyastra sih. Bacaan saya dari yang ringan banget, seperti chicklit, sampai gembolan berat kayak DSM 5 (Hahahha, itu karena wajib dibaca, sih).

Saya juga tergila-gila dengan Harry Potter. Buku saya lengkap kap kap, dari versi bahasa Indonesia sampai bahasa Inggris. Awalnya ragu mau beli bahasa Inggrisnya tapi Mama meyakinkan saya kalau saya bisa, kok. Yo weis, saya termasuk orang yang pesan pre order buku bahasa Inggrisnya dan baca di hari pertama kemunculannya. Setiap hari buku Harry Potter super tebal saya bawa ke mana-mana dengan Alfa link, alias kamus elektronik. Tapi lama-lama capek juga baca dikit buka kamus. Akhirnya bablas aja baca semuanya dan tetap ngerti, tuh. Thanks to Mama who believed me that I could read it well. Walau udah khatam sama buku bahasa inggrisnya, tetap aja pas buku bahasa indonesianya terbit ya dibeli juga cuma karena…. mau ngumpulin lengkap.

Cuma kamar saya yang punya lemari khusus untuk buku dan udah penuh. Bahkan, saking kepenuhannya sekarang harus diakal-akalin supaya buku baru yang dibeli tetap muat. Nah, sekarang pas udah di rumah sendiri belum punya lemari buku, tapi karena saya tetap beli buku jadi akhirnya meja belajar suami penuh dengan susunan buku saya semua. Ihiks, makanya belikan aku lemari buku dong, suamiiiik!

Saking cintanya sama buku, dulu cita-cita saya adalah pas ulang tahun dikasih uang Rp 500.000 yang akan saya belikan semua dengan buku. Pasti bahagia banget, ya. Kenyataannya nggak pernah terjadi, sih karena saya sering dibeliin barang aja.

Jadiiii, ada yang mau beliin saya buku? Saya udah punya list-nya, nih. Hihihi!