Senja di Monas

Hari libur kemarin kembali kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Monas lagi? IYA. Soalnya kemarin cuma baru sampai halaman Monas aja. Salahnya adalah kami datang jam 11 siang pas matahari lagi terik-teriknya. Nggak sanggup banget harus ke Monas jalan kaki di bawah terik matahari. Kayak kebakar, men! Padahal sebenarnya ada kereta yang bisa nganterin sampai ke tugu Monas. Tapi karena panas banget, semua orang mau naik kereta itu jadi antriannya panjang. Oke, next time aja.

Nah, kemarin kami berangkat sore. Sampai Monas jam 17.30. Udah adem, orang juga ternyata kalau sore banyak. Antriannya naik kereta juga nggak panjang karena banyak orang yang mau jalan kaki. Kan adem, ya.

Kami naik kereta ke tugu Monas, haltenya cuma 2, di pintu masuk IRTI dan di tugu Monas. Udah itu aja rutenya. Kaleb sih senang banget naik kereta walau cuma singkat. Sampai di tugu Monas, kami turun ke bawah tempat untuk pembelian tiket. Jadi tiketnya bisa milih mau sampai ke cawan atau ke puncak Monas. Bisa juga kalau mau dua-duanya pake tiket terusan. Masalahnya, tugu Monas itu ternyata nggak dibuka setiap saat. Pagi-siang dan sore-malam. Kalau malam jam bukanya pukup 19.00-22.00. Pantes pas kami ngantri kok ya nggak jalan-jalan antriannya. Ya karena loketnya belum buka. Itu masih jam 18.00. Oh ya, kalau malam pengunjung dibatasi sampai 700 orang saja. Siang kalau nggak salah 1000 orang. Jadi kalau kapasitasnya udah penuh, nggak akan dijual lagi tiketnya.

IMG_20170511_173157

Ngantri nungu masuk ke kereta wisata. Antriannya nggak terlalu panjang kalau sore.

Nah, karena nunggunya masih 1 jam lagi kami pikir kelamaan. Lain kali aja, deh. Kali ini jalan-jalan aja sekitar Monas. Ternyata di sekitarnya ada lapangan voli dan futsal (hm, atau basket juga kali, ya). Bisa dipakai gratis oleh siapapun. Lapangannya bagus dan memadai. Jadi banyak yang olahraga di sekitar sana. Kalau pun nggak dapat lapangan ya mereka main aja di halaman Monas, kayak main bulu tangkis, bola, dsb. Seru banget, lho. Kaleb bisa bebas puas lari-larian, main bola juga. Oh ya, Monas juga bersih banget dan saat itu orang taat banget sama peraturan. Nggak kelihatan yang injak-injak rumput atau buang sampah sembarang. Keren lah!

IMG_20170511_175429

Terima kasih Mas yang udah bantuin foto. Kami jadi punya foto bertiga. 

IMG_20170511_175727

Cantik ya Monas pas malam

Ada beberapa hal sih yang membekas kemarin. Kami kan kalau ke tempat begini nggak pernah foto bertiga, ya. Nggak punya tongsis juga, sis! Pengen minta bantuan orang buat fotoin, tapi saya selalu takut ntar malah HP saya dibawa kabur. Oke, saya mulai jadi orang yang parnoan, sih. Tapi kemudian suami saya minta orang yang lewat buat fotoin. Mana 2 orang itu anak muda cowok. Duh, saya mulai mikir aneh-aneh, deh. Tapi 2 orang ini malah baik banget. Dia fotoin kami, malah ngarahin gaya kami, dan memastikan fotonya pas. Ajak ngobrol Kaleb pula.  Duh, kok ya baik banget, ya.

Kejadian kedua, adalah pas lagi nonton orang main futsal. Di pinggir-pinggirnya juga banyak orang yang main bola. Orangnya udah pada gede-gede, nggak ada yang anak kecil. Kaleb nonton aja, walau dia kepengen tapi ya nggak berani ambil bola orang lain.

Lalu ada cowok masih muda dan teman-temannya yang lagi main bola tiba-tiba pinjemin bolanya ke Kaleb. Bukan cuma pinjemin, dia ajak Kaleb main bola. Bahkan ketika orang-orang yang main bola selesai dan lapangannya kosong, dia ajak Kaleb main ke lapangan ajarin jadi kiper dan menendang bola. Kaleb bahagia banget!

Cuma kejadian-kejadian kecil, ya. Tapi di saat situasi kayak gini, di mana sebenarnya saya mulai apatis ada orang baik. Bawaannya parno aja sama orang. Perasaannya nggak ada deh orang yang benar-benar tulus. Tapi ternyata masih ada. Masih banyak orang baik, masih banyak yang tulus. Saat itu juga saya menitikkan air mata. Saya mikir, Indonesia tuh nggak sekecil orang-orang demo kasar di jalanan. Indonesia tuh besar, yang baik tuh banyak. Cuma yang banyak itu nggak banyak disorot. Di saat keadaan kayak gini saya jadi merasa bisa menghargai kebaikan orang sekecil apapun. Ketika mereka baik tanpa nanya elo agamanya apa, sukunya apa, pilihannya siapa.

Lalu saya melihat ke sekeliling, Monas jadi bagus dan menyenangkan kayak gini. Benar-benar tempat yang enak banget lah buat kumpul, main, olahraga, jalan-jalan. Teratur dan bersih. Yang bikin Ahok. Yang bikin lagi di penjara. Penjara yang mungkin sempit, sementara kami di luar menikmati hasil kerjanya. Lagi-lagi saya nangis. Di Monas. Mamak emang jadi baperan banget sekarang. Sedihnya ampun-ampunan. Ini kayak ditinggalin mantan, tapi peninggalannya ada di mana-mana, tiap hari dirasain. Gimana bisa lupain?

Apalagi habis itu kami nyeberang ke Balai Kota. Banyak orang berkumpul, nyalain lilin sambil nyanyi lagu-lagu kebangsaan, berusaha kumpulin KTP untuk bisa menjamin penangguhan penahanan Ahok. Banyak yang nangis di sana, pelukan, sedih bersama.

Kemudian saya sadar. Yang jahat dan pengen hancurin Indonesia itu cuma segelintir orang. Tapi segelintir orang itu yang diekspos terus-terusan dan akhirnya meluas. Padahal banyak yang masih sayang sama Indonesia. Masih banyak yang berjuang untuk persatuan dan mereka mulai bicara dan bangkit. Banyak yang akhirnya tergerak untuk bergerak, karena Ahok telah memulainya. Kita nggak pengen perjuangannya, sampai harus masuk ke penjara, sia-sia begitu saja. Karena Indonesia itu penuh harapan, kok.

Semoga kita tumbuh menjadi bangsa yang penuh cinta, bukan apatis, apalagi radikal. 🙂

 

#Kaleb2Tahun

YEAY! Kaleb udah 2 tahun! Welcome terrible two! Oh well, sebelum 2 tahun pun udah ada tanda-tanda terrible two, sih. #MamakKuduSetrong

Seperti biasa menyambut ulang tahun, saya selalu labil. Niat awal selalu, udahlah nggak usah rame-rame, tiup lilin bertigaan aja di rumah. Anaknya pun belum paham banget, walau udah mulai tahu nyanyi happy birthday dan tiup lilin. Tapi nggak paham kalau ulang tahun itu sesuatu yang spesial. Oke sip!

Tapi sebagai Mamak yang suka perayaan dan rempong sendiri, jadilah dari yang tiup lilin bertiga aja jadi birthday lunch kayak tahun lalu. #eaaa #labil Tentunya kalau birthday lunch, Mamak mana bisa santai. Nggak bisa ya udah yuk ngumpul di resto ini, kita makan bareng. No! Maunya spesial, dong. Untuk itulah semua kerempongan ini dimulai. :)))

Kalau tahun lalu baru coba-coba bikin table set, tahun ini meningkatkan tantangan sendiri. Tahun ini full semua dibuat sendiri, tanpa percetakan, tanpa template. Dibuat dari 0 dengan printilan lebih banyak. #MamakRempong #RibetSendiri.

Karena Kaleb lagi tergila-gila truck, tiap hari main truck, tiap hari minta nonton truck. Yasalam, anak cowok begini amat mainannya, mobil-mobilan mulu. Mamak sampai harus ngapalin jenis-jenis truck dan mengarang bebas tiap ditanyain truck yang berbeda, jadilah truck pasir, truck semen, truck bensi, truck, sampah, dsb. Maka tema tahun ini adalah: Under Construction. Alias jadi tukang di proyek dengan segala macam trucknya.

Demi menghemat biaya, tapi banyak mau, jadi saya blusukan ke pasar-pasar, dari Pasar Perniagaan (ini Kaleb kalau diajak ke sini pasti heboh dengan mainan truck yang banyak dan murah banget), Pasar Mayestik (beli kain buat taplak), Pasar Santa, Pasar Pagi Mangga Dua, dan Pasar Meruya. Bapake yang nemenin dari semangat sampai ilfil kayaknya saya bisa ngubek-ngubek pasar seharian dan nggak bosan.

Semua printilan kecilnya, saya print, gunting, dan tempelin sendiri. Nyicil banget karena ada banyak dan kalau di rumah anak bocah suka gangguin banget, kan. Jadi harus diam-diam ngerjainnya. Bapake bantuin bikin logo dan undangan untuk ultah Kaleb. Tentunya diprint sendiri aja. #hematpangkalkaya

Untuk kue ulang tahun, karena niat dari awal semua kreasi sendiri, maka mau beli kue polos dan hias sendiri aja. Kebetulan banget Rere baru aja buka toko kue online. Rere ini kalau lihat IG-nya suka buatin makanan MPASI buat anaknya trus variasi canggih-canggih, plus tentunya suka bikin kue. Nah, pas banget dia bikin cake bolu classic. Duh, saya suka banget sama kue bolu. Tentunya langsung lah saya pesan.

PR-nya di hari-hari terakhir adalah cari abang untuk isi gas helium. Untungnya ada pasar di dekat rumah dan abangnya bisa dimintain isi balon helium. Diambil di hari H. Siip beres!

Tepat di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan khusus, nggak ada kado juga dari orang tuanya *orang tua macam apahhhhh. Hahahaha!*. Untungnya malam sebelum Kaleb ulang tahun, Opungnya tiba-tiba datang bawa kado sepeda buat Kaleb. Horee! Mayan kan pas dia bangun ada kado jadinya. Hihihi.

Pas Kaleb bangun langsung tiup lilin di kue kecil, lalu langsung ajak main sepeda. Oh ya, dari beberapa minggu sebelumnya kami suka nanya ke Kaleb, “Ulang tahun mau kado apa, Kaleb?” Selalu dijawab, “Kado kue cokelat”. Ciyaaan, jarang dikasih cake cokelat jadi ngidam doi. Hahahaha. Jadilah di hari spesialnya, dia dapat hadiah kue walau bukan cokelat, tapi rainbow cake.

kaleb

Selamat 2 tahun anak lanang! 

Kemudian, kami ajak jalan-jalan Kaleb dan sepeda barunya ke RPTRA Kalijodo. Sebulan lalu ke sini, belum ada playground buat anak-anak kecil, eh pas datang udah ada playgroundnya, banyak mainan, lapangan sepakbole, perpustakaan kecil, dan aula. Makin kece aja lah taman ini. Jangan ditanya perasaan Kaleb. Dia suka banget sama taman ini sampai pas disuruh pulang karena udah mau malam, doi ngamuk. -_____-”

IMG_20170316_175305.jpg

IMG_20170316_175029

IMG_20170316_170907.jpg

IMG_20170316_174710.jpg

Tentunya kurang lengkap kalau ulang tahun tapi belum makan bakmie panjang umur #serasacina. Jadi kami pun lanjut makan malam di Bakmi Aloi. Sebelumnya Kaleb nggak menunjukkan ketertarikan pada bakmi, suka keselek juga kalau nggak dipotong kecil-kecil, tapi hari ini dia jago banget banget bakminya, bahkan porsinya dia habis semua. Ketauan anak mami banget karena suka bakmi. :)))

Untuk birthday lunch Kaleb diadakan hari Minggu-nya. Yang diundang pun cuma keluarga inti saya dan suami aja. Karena semua dilakukan sendiri, jadi saya lumayan panik nih, takut terlambat datang dan pas tamu datang saya belum selesai mendekor. Apalagi beneran cuma saya dan suami aja yang dekor, mbak jaga Kaleb.

Kenyataannya, hampir semua dekor saya yang kerjain sendiri. Suami dikasih tugas nempel tulisan HAPPY BIRTHDAY di dinding dan karena saking ingin sempurna jadi luamaaa banget. Yo weis, meja urusan saya semua. Aku rapopo. :))

Dekor mendekor kelar tepat jam 12 siang, tapi ternyata oh ternyata… tamunya baru datang jam 1 siang. Tau gitu tadi bisa selow aja bro, sis!

Demi maksimalnya tema Under Construction ini, tentunya harus ada dress code, dong. Dress code-nya baju tukang atau denim. Beberapa tamu dibekali dengan rompi proyek juga biar makin oke oce. Untuk baju Kaleb, tadinya cari kostum tukang proyek. Tapi kok yang ada untuk anak 3 tahun ke atas, kegedean, dong. Ya udah, harus kreatif maksimalkan yang ada aja. Kebetulan banget konstumnya bisa di-mix and match baju yang udah ada di rumah. Sepatu boots udah ada. Untuk topi proyek dan alat pertukangannya, cukup beli mainan tukang seharga Rp 25.000 aja. Murah meriah oye! Begini penampakannya:

PhotoGrid_1490064242320.png

Si Mandor

Gladly, everything went okay (kecuali bagian mau tiup lilin, pasang lagu, dan lagunya nggak bisa dipasang. Zzz! Ya udah nyanyi sendiri aja, eh tiba-tiba lagunya nyala. Ngajak becanda aja).

17308851_10155817217684298_3449034627910831562_n

17264673_10155817217839298_3554742146348617057_n

17361956_10155817217444298_4643026274723027505_n

17308735_10155817217824298_2018560775120517329_n

 

17362900_10155817217499298_1447871474353193334_n

17424678_10155817218119298_5982305439694484414_n

17424630_10155817348339298_8405039647938908217_n

Mandor dan truck-nya

17424839_10155817218869298_6716909165396734078_n

Bolu ini enaaaak banget. Sukaaa!

17309274_10155817217659298_67344096231381177_n

17353487_10155817220479298_8521263809292653477_n

IMG_20170319_132615.jpg

IMG_20170319_120820.jpg

IMG_20170319_194100_554.jpg

Mandor cilik dan anak buahnya :)))

Dengan segala keribetan dan kerempongan yang ada, plus salah sendiri semuanya mau dikerjain sendiri, maka dengan ini Mamak masih mengibarkan bendera putih untuk mengadakan pesta ulang tahun penuh dengan anak-anak. Ku belum sanggup (dengan kehebohan dan keberisikan anak-anak). :))

Jalanku Bukan Jalanmu

Terserah lah kalau mau main di genangan 😑


Sebagai orang tua, pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Kalau bisa anaknya selalu bahagia, nggak susah, kaya raya, dan sehat selalu. Pokoknya semua hal yang baik, deh. Karena orang tua hidupnya sudah lebih lama juga, jadi merasa lebih tahu cara menuju kesuksesan. Sayangnya, nggak selalu jalan hidup orang tua sesuai dengan jalan hidup anak.

Untuk hal-hal yang besar, saya bersyukur orang tua nggak pernah maksa. Ngarahin iya, ngarep-ngarepin iya, maksain kriteria orang tua ke saya juga iya, tapi selalu akhirnya saya yang harus memutuskan. Kalau kata orang tua saya, kalau saya nyesel ya tanggung jawab ada di saya, bukan nyalahin orang lain. :))) Oh oke, deh.

Begitu pun juga ke Kaleb. Sedari kecil berusaha supaya membebaskan dan nggak terlalu maksa ke Kaleb. Kayak misalnya sekarang Kaleb udah bisa milih mainan. Kalau ke toko mainan dia udah bisa bilang, “Mami, beli!” atau “Papa, bayar!” sembari mengantarkan mainannya ke kasir. Dia tahu mainan di toko nggak bisa diambil begitu saja harus dibeli dan dibayar pake uang.

Kalau di toko mainan, Kaleb udah mulai bisa milih mainan mana yang dia mau. Kadang-kadang pilihan dia bikin saya pengen bilang, “Euh, warnanya norak!” atau “Doh, itu kan jelek banget bentuknya!”. Tapi ya saya diam aja, sih. Paling maksimal yang bisa saya lakukan untuk menggoyahkan pilihannya adalah, “Bener mau yang ini? Nggak mau yang itu? Yang itu warnanya bagus, lho. Eh, besar nih, bisa dibawa main ke taman.” Selanjutnya Kaleb biasanya akan melipir ke mainan yang saya tunjuk, terkadang dia setuju, lebih banyak dia pilih yang lain lagi. Kadang-kadang saya menang, kadang-kadang harus pasrah lihat Kaleb pilih mainan yang norak. :)))

Pernah saya kesengsem banget sama mainan kompor-komporan, lengkap dengan panci, gorengan, dll. Gemes pengen punya karena waktu kecil saya nggak punya. Huhu! Waktu itu ketemu warnanya biru, pas buat cowok. Cowok kan boleh main masak-masakan, ya, biar bisa jadi chef (anyway, saya nggak pernah membatasi Kaleb harus main mainan cewek atau mainan cowok. Dia main boneka boleh, main pistol oke, main masak-masak silahkan, main truk gpp). Bujuk Kaleb beli mainan kompor-komporan, anaknya nggak tertarik, malah lihat gitar-gitaran. Ah, mungkin anaknya belum paham. Padahal kan dia suka gratakan di dapur lihat mamanya masak, pasti dia suka. Jadi saya memutuskan untuk tetap beli. Nanti kalau udah dirakit mainannya, nanti dia paham dan pasti suka. Yes!

Sampai di rumah, dirakit, Kaleb emang main lah itu kompor-komporan. Saya senang, dong. Tuh kan, emang waktu itu dia belum paham aja. Eh, tapi dia hanya bertahan main kompor-komporin 2-3 hari aja. Habis itu hampir nggak pernah disentuh, atau kalaupun disentuh cuma untuk dengerin bunyi kompornya. Jiyaaah. Gagal maning!

Makanya saya pikir, ya udah lah nggak usah maksain beli mainan yang nggak disuka lagi. Biarkan Kaleb memilih biar kalau beli mainan, mainannya awet dimainanin terus, nggak dianggurin. Biar dia juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusannya, biar nggak berat hati menjalankan keputusannya, dan tetap bahagia dengan caranya. Ish, dalem banget, ya. :)))

Saya pernah bilang ke suami saya, Kaleb boleh menjadi apapun yang dia mau kalau besar, selama itu positif. Hidup dengan doktrin harus jadi jemaat di suatu gereja, padahal hati saya sama sekali nggak pernah ada di situ (dan lumayan menyiksa karena akhirnya tiap datang ke gereja itu saya ribet harus pake baju apa, cukup oke nggak nih, udah pernah dipake sebelumnya nggak –> akibat doktrin Mama yang bilang kalau ke gereja itu harus rapi maksimal. Kalau bajunya udah pernah dipake, nggak boleh dipake dalam waktu dekat). Akibatnya saya datang sibuk dengan penampilan, di gereja ngomongin penampilan orang, dan pas khotbah ngantuk (bangun kepagian, sibuk ngeblow rambut, dandan caem). Lyfe! :)) Sampai sekarang saya pun nggak punya keberanian untuk bilang, “Saya mau keluar dari jemaat itu, dong!” Takut dirajam keluarga, bok! :)))) Padahal tiap minggu bergereja di gereja lain, hanya datang ke gereja saya tiap hari raya besar aja.

Makanya, saya nggak mau Kaleb berbeban hati kayak saya. Kalau dia sudah bisa memilih nanti, dia boleh bergereja di mana saja. Termasuk di gereja saya sekarang. Yah, kalau dia hatinya di situ ya tentu boleh. Supaya hatinya riang ketika beribadah.

Pilihan-pilihan yang kita pikir benar dan paling baik untuk anak kita, kadang-kadang justru memberatkan anak kita. Mungkin tugas orang tua itu membimbing, bukan memilihkan jalan hidupnya. Anak mungkin akan jatuh, kesasar, dan tugas orang tua adalah membimbing ke jalan yang benar. Tapi pilihan kembali ke tangan anak, karena toh akhirnya dia yang akan menjalani. Susah banget pasti. Kan serasanya kita sebagai orang tua yang paling tahu (lah wong, kalau Kaleb pilih mainan jelek aja saya suka pengen arahin ke mainan yang saya anggap bagusan). Tapi tanyain ke diri sendiri dulu, ini demi ego kita atau demi anak kita? 🙂

 

 

PS: tulisan ini terinspirasi dari mas AHY yang terpaksa keluar dari militer demi ambisi SBY. Semangat terus mas AHY, semoga menemukan jalan yang pas di hati, ya. 🙂

 

Naik Kuda di Branchsto

HAPPY NEW YEAR 2017!

Telat banget, woy! Ini udah mau akhir bulan Januari 2017. Duh, begitu masuk tahun baru, kerjaan langsung bak bik buk banyak banget. Nggak sempat colong waktu buat blogging, sampai rumah pastinya tepar walau diusahakan mengejar drama Korea yang lagi diikutin (Mas Gong Yoo, aku padamu banget loh!), dan weekend….sibuk. Namanya orang Batak ya, tahun baru itu jadi ajang silaturahmi ke seluruh keluarga besar dari kenal dan nggak kenal tapi disinyalir masih saudara. Jadi kegiatan setiap weekend ya membelah diri untuk acara keluarga. Ke mall pun aku belum sempat. Tidaaaak!

Tapi akhirnya kemarin nemu satu hari kosong. Hore! Walaupun badan remuk redam karena Sabtunya ada workshop di kantor sampai sore, lalu lanjut ke rumah saudara di Bekasi (yang namanya acara Batak manalah bisa sebentar, plus sambil kejar-kejar bocah yang heboh banget ketemu sepupu-sepupunya *pengsan*). Pulang langsung tepar. Pagi bangun sebentar untuk kasih instruksi ke Mbak di rumah buat masak apa, trus maunya lanjut tidur, tapi malah tergoda lanjutin nonton Goblin sambil tiduran. Baru benar-benar bangun siangan (jam 07.30 saja. Bocah nggak bisa tidur lebih siang dari itu. Zzz!).

Niat hati pengen istirahat di rumah, tapi kasian bocah yang aktivitasnya kok di rumah aja. Yo weislah, saya pun googling aktivitas bukan mall buat anak-anak, tapi jangan jauh-jauh. Akhirnya menuju Playparq Bintaro lah kita.

Begitu sampai, tempatnya sepiiii banget. Cuma ada 2 anak yang lagi main. Berasanya jadi garing banget. Krik krik krik. Si bocah pun nggak terlalu tertarik main air mancur. Jadi kami pun mengubah tujuan. Tetap masih seputaran Bintaro.

Branchsto.

Branchsto ini sebenarnya restoran, tapi ada ranch kecil di mana anak-anak bisa menaiki kuda poni dan kuda besar, main kereta-keretaan, dan memanah.

Pada waktu kami datang, parkiran penuh banget sehingga parkir agak jauh dan harus jalan kaki. Begitu masuk, langsung ada loket tiket jadi harus langsung menentukan mau main apa. Kaleb sih tujuannya langsung naik kuda poni @Rp 25.000 untuk sekali naik. Nanti di dalam bisa beli seember wortel untuk kasih makan kuda poni seharaga Rp 10.000.

Kami masuk jam 11.30, langsung antri untuk naik kuda poni. Perlu diingat, arena permainan ini ada jam istirahatnya, yaitu jam 12.15-13.00. Kuda poninya asal New Zealand, terawat banget, nggak kurus, sekal dan gempal badannya. Bikin gemas banget, deh. Kaleb senang banget naik kuda dan berani tanpa dipegang.

Setelah naik kuda poni, kami membeli wortel untuk kasih makan kuda poni. Ada sekitar 5 kandang kuda poni yang semua kandangnya bersih, kudanya sehat, dan nggak kurus. Baik-baik banget kudanya.

Selesai kasih makan, kebetulan tepat arena permainan mau istirahat, jadi kami pun makan di restorannya. Sayangnya, walau pasti banyak yang datang anak-anak, mereka cuma punya baby chair 2! Harus ganti-gantian banget, nih. Sementara tempat duduknya sendiri kan dibikin ala ranch, jadi nggak ada senderannya. Untuk anak kayak Kaleb yang nggak bisa diam mah kelar banget kalau nggak ada baby chair. Akhirnya dia didudukin dulu di stroller, lalu nunggu baby chair kosong (ini juga harus inisiatif kita nyari, karena walau udah bilang petugasnya, mereka lupa. Suasana hari itu hectic banget).

Menu makanannya sih nggak terlalu mahal, range-nya Rp 30.000-50.0000, ada kids meal juga, tapi porsinya nggak besar, dan rasanya datar. Kaleb pesan kids meal french fries dan nugget. Nuggetnya keras banget kayak batu. Huhu, kasihan sih anak kecil kalau makan. Jadi ya, makanan di restonya kurang recommended. Kami makan di situ karena masih punya jatah satu tiket lagi, dan udah keburu kepotong jam istirahat. Saran saya, datang jauh sebelum jam istirahat, atau setelah jam istirahat. Trus makan di luar aja lah. Hihihi.

Habis makan, lanjut mau main kereta karena tiketnya sebenarnya main kereta gantung. Tapi karena keretanya kecil dan harus dikayuh di ketinggian, bapake nggak muat. Sementara mamak takut ketinggian. Hahaha. Untungnya tiketnya bisa dipake untuk naik kuda poni lagi. Kaleb mah malah suka banget!

Kelar naik kuda poni, kami ke kandang belakang untuk lihat kuda besarnya. Kudanya jauh lebih besar dari kuda lokal dan terawat semua. Senang banget lihat dijaga peliharaannya.

Selesai semuanya, sambil nunggu bapake ambil mobil, Kaleb main perosotan, jungkat-jungkit, dan kuda mainan di area depan. Pas pulang, berkali-kali Kaleb bilang dia senang.

Mamak juga senang banget! Tempat main yang affordable dan bukan mall. Pas di hati. Kapan-kapan balik lagi, deh!

img_20170122_114524

My brave little kid

img_20170122_114903

Family picture

img_20170122_115251

Kasih makan kuda poni

img_20170122_130223

Naik kereta gantung. Nggak jadi karena kaki bapake kepanjangan untuk ke kayuhnya hahaha

img_20170122_131712

Kuda putih paling besar, gagah, tinggi. Kuda ini sering ikut lomba dan juara, lho. Itu medalinya ada 3 dipajang

 

Natal di Bandung (2)

Lanjut lagi, ya. Saya sebenarnya nggak terlalu ngincer tempat ngopi di Bandung atau tempat yang lagi ngetrend lainnya karena bawa bocil. Ngopi-ngopi sambil bawa bocil super aktif? Yang ada mejanya berantakan karena dia bosan liatin kita ngopi. Maka dari itu skip lah semua yang lagi ngetrend.

Cafe d’Pakar
Sebelum liburan suami bilang pengen ke Tebing Keraton karena pemandangannya yang bagus. Tapi saya tolak mentah-mentah karena bawa Kaleb, rempong banget harus ke lembah, gunung, bukit. Takut nyusruk jatuh.

Tapi pagi itu kita clueless mau ke mana. Jadi iseng-iseng coba deh ke Cafe d’Pakar, toh nggak jauh juga. Ternyata Cafe d’Pakar ini satu area sama Tebing Keraton. Suami bersemangat lagi deh mau ke Tebing Keraton. Yuk ah, daripada penasaran, kan.

Jalan ke sana naik tinggi dan berbatu. Kurang nyaman, sih. Malah ada mobil yang akhirnya mogok karena nggak kuat nanjak. Sampai di ujung, kami harus parkir mobil dan melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton pake ojek. Bayarnya @Rp 50.000 bolak balik (sekitar 3 km). Ish, mahal gilak! Nggak mau ditawar pula.

Saya udah bilang ke suami dia aja yang pergi kalau penasaran karena kalau kami semua ikut, ya berarti pake 2 ojek, Rp 100.000. Kurang rela ya, bok! Plus, ada anak kecil pula, kayaknya cukup bahaya, deh. Tapi akhirnya suami nggak mau pergi sendiri, sekaligus nggak rela juga. Hahaha.

Akhirnya kami turun sedikit ke Cafe d’Pakar. Seperti yang sudah diperkirakan, masuk ke sana waiting list. Doh, padahal kan udah lapar, ya. Tapi ternyata yang paling panjang waiting list-nya yang mau duduk di outdoor. Kalau mau duduk di indoor, cuma 1 orang lagi. Tentu saja kami pilih di indoor, karena konturnya yang berbukit dan berlembah, cukup bahaya buat anak kecil nggak bisa diam duduk di tepian lembah. Lagian lumayan panas nggak ada atap, dan sebenarnya bisa aja makan indoor, baru pas foto-foto outdoor. Solusi aman banget.

Makanannya sendiri ada minimal order Rp 25.ooo per orang. Nggak mahal, sih. Tapi makanannya ya cemilan-cemilan standar yang rasanya standar pulak! Nggak ngenyangin banget. Jadi setalah makan, foto-foto, lihat pemandangan sebentar, kami pun cus pergi cari tempat makan beneran.

Kalau disuruh balik lagi sih no no lah. Soalnya tempatnya bagus, tapi makanannya biasa aja, jalan ke sananya ribet. Tipikal tempat hipster lah. Hahaha.

img_7921

Keluar numpang foto doang. Dilihat dari tempat duduknya, bahaya banget kan buat anak kicik super aktif.

img_7925

img_7935

Warung Lela (Wale)
Ini tempat wajib banget harus didatangin kalau ke Bandung karena mie yaminnya yang endeus. Saya nggak pernah skip ke tempat ini kalau ke Bandung. Apalagi habis dari Cafe d’Pakar yang nggak nendang makanannya, butuh asupan lagi, kan. Haha.

Senangnya menu makanan di sini udah nambah. Nggak cuma melulu mie ayam. Ada sop ayam dan nasi yang pas banget buat Kaleb. Duh, mamak happy lah. Tadinya mikir mau kasih Kaleb mie ayam aja, tapi kurang sehat ya karena itu kan karbo semua (MAMAK, INI LAGI LIBURAN KELEUS! –> mungkin begitu pikir Kaleb. Hahaha). Makanya nasi sup ayam ini penyelamat banget. Kaleb pun suka banget sampai habis makannya. Sedap!

Sayangnya, walau tempatnya sudah diperluas, tapi tetap nggak ada baby chair. Duh, ribet banget lah kalau bawa anak kecil yang lagi aktif-aktifnya dan nggak bisa diam kayak Kaleb. Huhuhu. Semoga semua restoran mempertimbangkan adanya baby chair. Nggak perlu yang artistik atau mahal (pernah ada yang baby chair kayu keren banget, tapi pas dipake anaknya gampang merosot), cukup baby chair murahan beli di IKEA atau informa yang pas banget buat makan. Meringankan beban stres saat kasih makan di luar. Hahaha.

Naik kuda di ITB
Sebenarnya nggak kepikiran naik kuda, tapi kebetulan lewat ITB. Eh, trus sadar Kaleb belum pernah punya pengalaman naik kuda. Waktu kecil, saya sering banget liburan ke Puncak dan pasti naik kuda. Rasanya menyenangkan, sampai suatu ketika pas lagi naik kuda di tanjakan, kudanya berdiri. MATEK! Ya ada abangnya yang megangin, sih. Tapi cukup bikin saya trauma karena saya hampir jatuh. Habis itu saya nggak mau naik kuda lagi.

Tapi kan saya nggak pengen Kaleb begitu, ya. Apalagi Kaleb suka banget sama hewan. Jadi saya tanya Kaleb, mau naik kuda nggak? Dia sih jawabnya nggak. Dih, mamak kan jadi tertantang untuk bikin dia suka naik kuda (mamak suka maksa deh, ih!). Jangan menyerah sebelum coba. #prinsip

Kami pun parkir dan langsung didatangi sama abang kuda. Tadinya dia kasih harga Rp 40.000 sekali putaran, ditawar jadi Rp 30.000. Sip! Bapaknya lah yang nemenin naik kuda, saya kan penakut. Hahaha.

Kaleb tampak senang, ketawa-ketawa, dan malah nagih. Pas putarannya selesai, dia malah nggak mau turun! Lalu dia minta saya yang nemenin naik kuda. OH NOOOOO! Demi banget ngajarin anak suka kuda, saya pun menepis ketakutan naik kuda. Pas di atas kuda, takutnya minta ampun! Keringat dingin, jantung berdebar, takut jatuh, mau nangis. Saya sampai ngomong terus ke abangnya, “Bang, ini nggak ada pengaman lain? Bang, saya takut! Ini bakal jatuh nggak, sih? Jangan lari kudanya, bang!” Saking takutnya baru beberapa langkah, saya udah merengek ke abang kuda minta turun biar digantiin Papanya aja. Hahaha, CEMEN! Tapi abangnya menyemangati bahwa semua aman. Akhirnya dikuat-kuatinlah demi anak banget nih, bok! Saya minta ke abangnya putarannya nggak jauh-jauh, yang dekat aja. Nggak sanggup.

Setelah selesai, abangnya nagih Rp 90.000 karena menurutnya kami naik 3 putaran. APAAAA! *zoom in, zoom out*. Jadi abangnya rese dan kayaknya modus nipu abang kuda tuh begini. Pas ada di belokan, dia nanya sama suami, “Mau lurus atau belok?”, karena Kaleb suka, jadi suami bilang lurus biar putarannya gede. Dia ngakunya udah bilang ke suami kalau udah ditanya kok mau 2 putaran atau 1 putaran. Tapi dia bilangnya mau lurus atau belok. BEDA BANGET ITU PERTANYAANNYA, BANG! Pas saya naik aja, dia juga nanyanya mau lurus atau belok. Saya minta belok karena nggak sanggup jauh-jauh.

Ya udah saya marah dan bilang abang nipu kalau ngomongnya gitu. Enak aja, nggak relalah saya. Akhirnya tentu saja saya nggak mau bayar Rp 90.000. Saya bilang, “Bang, mau terima nggak nih uangnya, kalau nggak saya pergi!”. Saya kasih 2 putaran saja.

Gila lo bang, gue mau ditipu! NEHI!

Jadi yang mau naik kuda di ITB hati-hati ya, abangnya suka nipu.

 

Nah, berakhir deh perjalanan kami di Bandung. Nggak banyak tempat yang dikunjungi karena ngikutin moodnya bocil dan supaya kami juga bisa istirahat di hotel, nggak terlalu kecapekan. Selanjutnya review soal hotel ya.

 

Natalan di Bandung (1)

Natal kemarin, 24-25 Desember 2016, kami memutuskan untuk liburan. Biasanya di keluarga besar kami, pas Natal nggak ada yang terlalu spesial: pergi ke gereja, makan bareng, selesai. Makanya habis itu biasanya clueless dan ujung-ujungnya ke mall. Yang paling spesial dan kumpul bareng rame-rame justru pas tahun baru kalau di Batak.

Oleh karena itu, saya punya ide gimana kalau Natalan sekalian liburan. Mumpung saya dan suami bisa cuti jadi bisa ajak Kaleb liburan. Akhirnya terpilihlah yang dekat-dekat aja: Bandung.

Oh ya, sehari sebelum berangkat ada berita kalau jembatan Cisomang di tol Cipularang retak. Matek nggak? Mobil golongan 1 masih boleh lewat sih. Tapi secara saya penakut banget, saya wanti-wanti suami untuk lewat Purwakarta ajalah. Serem kan bok, ya!

Tapi pas di hari H, suami keukeuh tetap lewat Cipularang karena di google maps lancar jaya. Untungnya hari itu jalanan emang lancar. Polisi stand by sebelum jembatan untuk memisahkan kendaraan golongan 1 dan lainnya. Jadi yang benar-benar masuk yang golongan 1. Lalu pas di jembatannya, banyak banget polisi berjaga-jaga di jembatan, di bawah jembatan juga dibikin pos penjagaan 24 jam. Karena kendaraan besar nggak boleh lewat, jalanan malah makin sepi, deh.

Pas lewat jembatan Cisomang saya yang penakut udah ketar-ketir dan komat-kamit berdoa. Ealah, jembatannya cuma 200 m, dilewatin nggak sampai 2 menit. Hahahaha! Amaaan!

Berikut ini beberapa tempat yang saya datangin di Bandung. Fokusnya adalah ngajak jalan-jalan Kaleb jadi sekiranya yang bakal Kaleb sukai:

Rumah Stroberi
Tempatnya masih sama kayak dulu, ada halamannya luas dan ada playgroundnya. Kaleb senang banget bisa lari-larian dan main. Tapi kalau soal makanan, kurang enak. Porsinya kecil, banyak lalat, dan waitressnya kebanyakan agak lambat. Apa mungkin karena cukup rame? Misal, saya pesan tisu lamaaa banget dianterinnya, sampe saya harus minta kedua kalinya. Suami minta nasi gorengnya dibikinin telor dadar, eh lupa dibikinin. Minta sambal, tapi mereka nggak paham, sambal itu kayak apa. DOENG!

img_7830

Halaman luas, Kaleb bisa lari-lari. Nggak difoto playgroundnya karena mamak sibuk makan. Hahaha.

Rumah Guguk
Penasaran banget pengen ke Rumah Guguk dan udah lama banget follow IG mereka. Kayaknya ini salah satu petshop paling menyenangkan. Beruntungnya pas kami ke sana, lagi ada perluasan area dan soft opening area yang baru. Mereka bikin mini zoo.

Untuk masuk setiap orang dan anak di atas satu tahun beli voucer seharga @Rp 30.000. Voucher itu bisa dipake untuk masuk ke petshop di mana berisi anjing-anjing kecil/ ditukar dengan makanan/ mini zoo yang berisi anjing besar, domba, dan kelinci. Tentu saja kami pilih di mini zoo karena lebih beragam pilihannya.

Mini zoo ini dibuat cantik banget areanya. Ada kolam ikan, rumah-rumah kecil berwarna-warni, jembatan mini. Bisa juga kasih makan domba (dombanya gemuk banget, rambutnya kriwil-kriwil lucu) dan kelinci dengan wortel seikat Rp 10.000. Nanti anaknya dipinjemin celemek biar bajunya nggak kena bulu. Cuamat sih!

Selain bisa kasih makan domba dan kelinci, bisa main sama anjing-anjing besar seperti Alaskan Malamute, Poodle, Labrador, dll (saya lupa apa jenisnya). Anjingnya manis minta ampun, fotogenik, ramah sama orang-orang. Boleh nggak sih dibawa pulang ini semuaaa? Kandangnya semua bersih, nggak ada kotoran berserakan, nggak bau, dan di sekitar kandang disediakan hand sanitizer. Mas-mas yang jagain juga helpful banget, bantuin foto kita, ajak main sama anjingya. Trus di tiap-tiap rumah itu, desainnya beda-beda, ada yang kayak rumah Belanda dan ada kostum yang bisa dipake gratis buat foto.

Kaleb senang banget main di sini. Dia lari-lari dari satu tempat ke tempat lain, kasih makan domba dan kelinci, main sama anjing, peluk-peluk anjing, lihat ikan, burung, dsb. Tentunya habis itu dia ngambek disuruh pulang. Hahaha!

We love Rumah Guguk so much!

img_7836

Mamak juga baru pertama kali ketemu domba. Aslik cakep banget pengen dibawa pulang. Mamak norak!

img_7844

Kelincinya gendut-gendut

img_7858

Ku tak takut

img_7866

Bermaksud foto bertiga, tapi Kaleb kabooor. Ya udah, mayan ajrang-jarang foto berdua

img_7869

img_7853

Akhirnya foto bertiga juga (males crop mas-mas yang nongol sebelah)

Braga Permai
Saya dan keluarga pernah ke sini tahun lalu dan jatuh cinta banget sama kejadulannya. Tapi suami belum pernah. Oh, I had to show him my favorite restaurant.

Untuk makan malam di malam Natal, saya pilih Braga Permai. Tempatnya di jalan Braga yang terkenal karena vintage, tapi setelah direnovasi jadi vintage romantis, banyak lampu.

Tahun lalu pas makan malam harus waiting list karena banyak banget yang mau makan di sini. Tahun ini sengaja datang agak sorean, sekitar jam 6. Untungnya nggak waiting list walau meja-meja utama udah banyak banget direservasi untuk makan malam Natal orang lain.

Sama seperti tahun lalu, tempat ini masih mengutamakan interior vintage-nya (yang memang udah ada sejak tahun 1930-an). Ada pohon Natal di pojok ruangan, hiasan Natal yang digantung, serta mengalun lagu-lagu Natal klasik yang dinyanyiin Nat King Cole dan Michael Buble. Cocok banget menjadikan tempat makan ini jadi syahdu, romantis, dan menyenangkan.

Untuk menu makanannya sendiri, bervariasi banget. Dari makanan barat, timur, sampai makanan lokal. Semua ada dan bisa memenuhi berbagai selera. Suami pesan mie ayam jamur (yang katanya rasanya otentik dan lezat banget), saya pesan beef ravioli (pas dicobain ke Kaleb, dia bilang itu bubur karena creamy banget. Kalau saya bilang, gilingan ini endang bambang lezatos banget. Nagih lagi!), dan nasi goreng untuk Kaleb (dia suka banget, nggak terlalu manis, tapi pas banget rasanya, tipikal chinese food). Jadi kita beriga dengan selera yang berbeda terpuaskan.

Nggak perlu khawatir selama nunggu makanan, mereka menyediakan air putih yang bisa direfill sampe kembung, dan roti-roti kecil untuk kita nikmati. Jadi Kaleb yang udah kelaperan banget bisa ganjel pake roti. Mana rotinya enak pula.

Selain itu, kami pesan Thai milk tea. Pas datang kok kayak teh manis biasa ya penampakannya. Kayak nggak ada campuran susunya. Tapi pas diminum, rasanya beneran thai milk tea. Jadi susunya nggak pake putih seperti biasa, entah pake apa, tapi enak banget.

Jangan khawatir, porsinya gede banget. Dijamin kenyang. Untuk makan hura-hura itu, kami cuma menghabiskan Rp 160.ooo. #dompetsenang #perutkenyang

Kami selesai makan sekitar jam 8 malam. Pas banget, mau ada live band (dulu sih nyanyiin lagu-lagu jadul favorit ijk, tapi malam itu nyanyi lagu Natal) dan waiting list udah panjang. Oh ya, pas kita ke luar, di area outdoornya, ada yang lagi melamar pacarnya. Aih, romantis amat!

Jadi, tempat ini akan jadi tempat yang wajib saya kunjungi tiap ke Bandung. Sesuai lah sama jiwa toku ijk! Hahaha!

img_7881

Jadul bener kan

img_7885

Di depan restoran, kalau malam udah antri

img_7882

Jadul boleh, tapi ada baby chair dan waitressnya catat pesanan pake tablet. Keren!

Tempat lainnya dibahas di post selanjutnya, termasuk hotel yang kami tinggali, ya. See ya.

 

Being A Mother

Selamat hari Ibu untuk semua ibu, calon ibu, atau pun perempuan-perempuan yang mengurus anak-anak lainnya seperti ibu, dan yang memutuskan untuk nggak jadi ibu.

Selama 21 bulan (plus 9 bulan mengandung) jadi Ibu, saya merasa belum jadi ibu yang baik. Setiap hari pasti ada rasa bersalahnya karena nggak bisa jadi ibu yang sempurna buat Kaleb. Salah satu hal terbesar yang bikin merasa bersalah adalah karena saya nggak bisa 24 jam bareng Kaleb karena bekerja. *bentar sis, nangis dulu!* I missed his first words and I missed his first steps. Bukan saya yang menyaksikan pertama kali tiap perkembangannya walau saya pasti selalu diinformasikan setiap detil perkembangannya tiap hari.

Seringkali waktu saya lagi cerita sama Opungnya, “Masa Kaleb udah bisa A, lho!”, trus Opungnya bilang, “Lho, emang iya udah bisa.” Duh, bukan saya lagi yang lihat.

Saya berusaha banget untuk memberikan yang terbaik buat Kaleb, sampai akhirnya saya menaruh ekspektasi yang besar, yang kadang-kadang bikin ribut sih sama suami. Tapi ini karena perasaan bersalah merasa saya bukan ibu seutuhnya karena praktis yang ngasih dia makan 3 kali sehari, nidurin dia siang, ajak dia main, ngajarin dia hal-hal kecil adalah Opungnya. Sebenarnya dia anak Opung atau anak mamak?

Kalau Kaleb lagi susah banget makan, saya suka bertanya-tanya pada diri sendiri, kok Opungnya bisa kasih dia makan sampai habis? What did I do wrong? Apa makanan saya nggak enak? Apa saya kurang sabar kasih dia makan? Lalu kemudian saya akan jadi stres dan kesal sendiri.

Makanya kompensasinya adalah selain jam kerja, saya akan mendedikasikan seluruh waktu saya untuk Kaleb. Super strict, yang kadang-kadang bikin saya nggak bisa punya me-time untuk diri sendiri dan bareng suami. No, saya cuma pernah satu kali nonton bioskop sama suami sejak Kaleb lahir. Itu pun untuk mengurangi rasa bersalah karena di hari libur kok malah nggak bareng Kaleb, saya ajak dulu dia ke mall, lalu pas jam bioskop baru mulai minta Opungnya antar Kaleb pulang. Selesai nonton bioskop ya langsung pulang, nggak pake window shopping lagi.

Pulang kantor nggak ada namanya saya nongkrong sama teman-teman. Saya menolak semua ajakan nongkrong karena Kaleb terbiasa tidur malam harus bareng saya, dia harus nenen dulu. Pernah jam 9 malam belum pulang karena macet, Kaleb sudah gelisah di rumah, rewel, dan maunya nunggu di depan gerbang nungguin saya pulang. Sedih banget deh saya. Makanya sejak punya anak, saya benci banget sama yang namanya macet karena artinya mengurangi waktu saya dengan Kaleb.

Kalau weekend pasti saya yang masak buat Kaleb. Saya yang sangat nggak suka masak dan nggak bisa masak juga, sih, jadi belajar dan cari resep baru untuk Kaleb. Kalau dia makannya lahap, bahkan sampai minta nambah, saya jadi merasa lebih hebat dari Chef Gordon Ramsey. Senangnya minta ampun!

Weekend pula waktunya saya menghabiskan seluruh waktu dengan Kaleb. Main bareng, bobo bareng, saya yang suapin, saya yang masak. Lelah luar biasa, tapi senangnya minta ampun. Saya nggak pernah ninggalin Kaleb kalau weekend. Dia ikut ke mana pun saya pergi. Makanya saya menghindari acara nongkrong-nongkrong di atas jam 7 malam. Pasti kelarnya malam banget, sementara anaknya udah waktunya bobo. Saya nggak mau mengorbankan kesehatan dia, cuma untuk egoisme saya.

Saya biasanya udah punya jadwal weekend apa yang mau saya lakukan bareng Kaleb, ya. Apakah berenang, ke mall, atau yang lainnya. Hari Minggu pun, walaupun bisa ajak Mbak untuk bantuin jagain dia di sekolah minggu, tapi saya memutuskan untuk harus saya yang nemenin dia di sekolah minggu. Biar saya tahu apa sih yang dia pelajari dan bisa saya terapkan.

I make sure that I make up all my time with him on weekend.

Tapi bukan berarti Kaleb dimanjakan. Saya nggak terlalu sering beliin dia mainan karena toh kalau ke toko mainan anaknya nggak minta apapun dan sekarang masih terobsesi sama mobil-mobilannya dan dia juga jarang jajan karena saya memang membatasi dia jajan. Kadang-kadang saya jadi ibu yang galak kalau dia mulai bertingkah *oh well, namanya pun menjelang terrible two kan, ya*. Walau tentu saja saya suka merasa bersalah banget habis marahin dia dan lihat dia sedih, tapi biasanya saya peluk dan aja ngomong baik-baik, dan dia biasa-biasa aja habis itu. Ibunya kayaknya kebanyakan baper. Hehe.

Ada perasaan takut karena setiap hari Kaleb dititipin ke Opungnya. Takut dia lebih dekat dengan Opung atau Mbaknya daripada dengan saya. Saya bisa patah hati setengah mati kalau itu sampai terjadi. Tapi untungnya saat ini, walau Kaleb sangat dekat dengan Opungnya dan happy kalau dititipin (pagi-pagi dia udah nggak drama lagi dan langsung dadahin saya dan Papanya kalau mau berangkat kerja), tapi dia akan gelisah kalau saya telat pulang dan akan langsung nempel saya kalau sudah pulang. Biasanya kita suka godain, “Mau tidur sama Opung aja, nggak?”. Lalu dia akan berkali-kali bilang, “Nggak!” Maunya sama Mami aja! Yeay!

Kalau sakit, dia harus dan wajib nempel sama Mami. Opung pun nggak laku karena ada Mami. Makanya saya bisa ikutan drop kalau Kaleb sakit karena maunya apa-apa sama saya, ya dari gendong, tidur, peluk, makan, dsb, “Mami, endong! Mami, peluk! Mami, nenen!”

Suka lihat kalau ibu-ibu lain anaknya menjelang 2 tahun, udah bisa ke gym. Lalu saya bertanya, kok bisa, ya? Oh, salahnya ada di saya. Saya merasa bersalah lagi kalau harus menghabiskan waktu nggak terlalu penting lainnya untuk hal-hal yang saya sukai dan mengurangi waktu bareng Kaleb. Kadang-kadang akhirnya suka stres sendiri, capek, lelah, gampang marah. I know I’m being tough on myself, but until today there is no single day when I am not feeling guilty for leaving him for work.

Jadi ibu itu sepaket dengan perasaan bersalah dan perasaan, “I am not good enough for my child”. Belum lagi perasaan khawatir, cemas, stres. Saya sering berdoa supaya suatu hari nanti saya bisa dan siap untuk mengurus Kaleb 24 jam. Tapi sampai masa itu tiba, saya berdoa Kaleb tetap jadi anak yang bahagia, tidak kekurangan suatu apa pun, dan memaafkan saya karena saat ini saya nggak bisa jadi orang pertama yang lihat kemajuan perkembangan dia. But I want him to know that I put him first on my to-do-list everyday, in my pray, and in my life.

I love you so much, baby son!

Thank you for making me a mother.

 

Ketika Kaleb Sakit

Kaleb itu jarang banget sakit. Sakit terakhir di bulan Juli lalu, pas masuk RS karena diare, dan beberapa minggu kemudian Roseola. Itu pun pas dirawat di RS, aktifnya minta ampun. Satu-satunya pasien anak yang nggak betah di kamar, harus jalan-jalan keluar, mau turun tempat tidur, dan nafsu makan masih oke. Pas Roseola pun walau demam, tapi aktif banget.

Jadi, pas kemarin Kaleb mulai demam dan masih aktif, saya nggak khawatir, nggak dikasih obat penurun panas juga. Patokannya kalau belum 38 derajat dan masih aktif, ya masih oke-lah. Ceritanya kan mau serasional mungkin pake obat. Waktu Kaleb mulai flu beberapa minggu lalu pun, cuma disupply sama madu aja untuk memperkuat imun tubuhnya. Nggak lama, sembuh.

Jumat tengah malam, Kaleb panasnya semakin tinggi, berkisar 38-39 derajat, dan tidurnya sangat nggak nyenyak. Kebangun tiap 15-30 menit. Kebayang dong saya tampangnya kayak zombie. Karena udah mulai gelisah, dikasih obat penurun panas, yang mana dia ngamuk setengah mati sampai pipet plastiknya retak dia gigit. Oh no, tapi untung bisa dikeluarin, sih.

Paginya suhu badan masih berkisar 39 derajat, lemas, dan berkali-kali bilang, “Mami, endong. Mami, peluk!” Cuma mau sama mami, nggak mau sama yang lain. Tapi masih mau makan sampai habis jadi masih lega.

Siangnya, kok suhunya nggak membaik, ya? Anaknya pun sulit tidur, mengigau terus, nempel terus. Pokoknya nggak aktif. Nggak aktif itu bukan Kaleb. Karena sepertinya mengkhawatirkan, akhirnya diputuskan ke dokter.

Antrian dokter pun panjang minta ampun. Ternyata sekarang musim sakit jadi rumah sakit penuh. Sepanjang menunggu, Kaleb lemas maunya digendong, nggak banyak ngomong, dan mau tidur tapi nggak bisa. Huhuhu, sedih banget.

Padahal tadinya hari Sabtu ini Kaleb natalan sekolah minggu. Karena dia udah mulai paham Natal, saya jadi excited. Sibuk beliin dia baju baru, suruh Papanya pulang cepat juga. Eh, Tuhan berkehendak lain. Anaknya sakit, dan nggak mungkin ikut Natalan. Ya sudah, Natal kan bukan soal baju baru, ya. #ciyeeehbijaksana

Pas masuk ke dokter dan diperiksa, dokter bilang ini kena virus. Nggak perlu khawatir, kalau dalam 2-3 hari panasnya turun berarti oke, nggak perlu balik. Karena obat penurun demam masih ada di rumah, dokter cuma meresepkan racikan obat batuk aja. Senang deh kalau obatnya nggak macam-macam dan sesuai gejala aja.

Pas pulang, dokter kasih sticker ke Kaleb. Kaleb teriak-teriak, “Nggak! Nggak!” Kayaknya dia takut habis diperiksa tadi dan mau buru-buru keluar aja.

Oke deh, kalau nggak mau. Mami aja yang terima. Eh, pas mau keluar, Kaleb nunjuk stickernya, “Mami, bawa! Bawa!”

JIYAAAAH, gengsi dipelihara, Nak? Sok nggak mau tapi pengen juga. Wakakaka!

Sampai rumah, Kaleb dikasih makan lagi, yang mana nggak mau. Jadi apapun yang dia mau aja, ya roti, regal, apa ajalah. Itu pun nggak banyak. Habis itu dikasih obat. Nggak berapa lama setelah dikasih obat, dia batuk dan muntah. Kayaknya muntah lendir dari batuknya. Justru bagus nih berarti lendirnya keluar biar dia makin lega. Kejadian muntah-muntah ini terjadi beberapa kali sampai dia tidur jam 10 malam. Tidurnya malam banget karena dia gelisah banget. Berkali-kali minta gendong, peluk, elus, nenen, dll. Berkali-kali pula diturutin, tapi dia kayak kesal nggak tahu maunya apa, karena badannya nggak enak. Akhirnya saya pun lelah dan diam aja nggak merespon lagi. Nggak berapa lama anaknya kecapekan sendiri dan tidur.

Malam itu Kaleb tidur lumayan nyenyak. Masih kebangun tapi nggak terlalu gelisah. Kebangun pun bukan minta nenen, tapi minta air putih, lalu tidur. Kayaknya dia haus banget.

Pagi-pagi demamnya sudah turun, sekitar 37 derajat, anaknya mulai aktif, walau belum kembali normal. Mau diajak jalan-jalan dan minta naik sepeda. Tapi habis itu cengeng lagi, nggak mau makan, dan minta sama Mami terus. Yok, kita istirahat tidur aja.

Jam 12-an, Kaleb kebangun dengan jauh lebih segar dan aktif. Langsung saya kasih makan lagi karena tadi pagi cuma makan 2 sendok aja. Wuidih, kali ini Kaleb udah sangat cerewet dan makanannya sampai nambah 3 kali! Bahkan minta teri pedas. Walau kepedasan tapi sikat terooos! :)))

LEGAAAA BANGET!

Papanya pergi ke arisan sebentar, sementara Kaleb main ke rumah Opung sambil nunggu tukang pijit datang soalnya kayaknya anaknya masuk angin juga, deh.

Sorenya sempat pergi belanja ke Carrefour sebentar, lalu makan di Bakmi GM. Ealah Bakmi GM super penuh sampai makanan lama banget datangnya. Dari awal Kaleb udah lapar. Sempat didistraksi dengan diajak main ke playground, tapi dia bosan dan kembali ingat dia lapar akhirnya balik lagi ke meja.

Di meja dia mulai nggak sabar melihat kok makanan belum ada. Jadilah dia bawel banget panggil, “MAAAASSS! MASSSSS! Makan!” Nggak usah kamu, Nak. Mami aja sampe capek manggil Mas minta makanannya dipercepat. Huft!

*serius nggak ada yang ajarin dia panggil Mas ke waitress cowok. Kayaknya dia dengar kita suka panggil gitu*

Sehabis makan, Kaleb balik ke rumah Opung untuk dipijat. Awalnya takut karena nggak kenal sama orangnya, tapi lama-kelamaan, Kaleb menikmati banget. Nagih, nih ye! Hahaha!

Tadi malam tidurnya sudah nyenyak, sudah nggak panas, tapi masih batuk. Akibatnya pas ditinggal kerja sama Opungnya, Kaleb yang biasanya langsung bilang “Dadaaaaah!” pas orang tuanya mau berangkat kerja, kali ini nangis jerit-jerit. Huhuhu, sedih ya.

Semoga virus-virus berjauhan, dan nggak datang lagi, ya! HUSH!

 

Nggak Boleh Makan Cokelat, Ya!

Sampai usianya 20 bulan saat ini, Kaleb hampir nggak pernah makan makanan sembarangan. Padahal dulu pas masa-masa MPASI, udah niat aja, selepas setahun nggak usah mompa dan Kaleb kalau lagi pergi-pergi ikut makan di luar aja lah. Biar mamak santai dikit lah.

Cita-cita tinggallah cita-cita. Saya ternyata belum rela Kaleb makan makanan nggak bergizi yang nggak jelas kandungannya apa dan cara masaknya gimana. Jadi kalau pergi ke luar, pasti saya masak dulu buat bekal Kaleb. Begitu pun soal mompa. Pas mompa ngeluh capek, bosan, males, tapi ya dilakukan juga 3 kali sehari tiap hari. Masih tetap deg-degan kalau bawa ASIP dikit dan keukeuh nyobain berbagai macam booster ASI.

Sampai akhirnya, di usia 16 bulan, ASIP saya habis. Hanya mengandalkan ASIP yang tiap hari dipompa aja. Lama-kelamaan ya makin dikit, memang karena demandnya berkurang juga, jadi Kaleb mulai minum ASIP dan UHT kalau saya kerja. Pas usia 18 bulan, malah lebih banyak UHT daripada ASIP karena Kaleb jadi nggak terlalu suka ASIP dan suka banget UHT, terutama kalau dikasih dingin. Padahal UHT yang dikasih ke dia cuma full cream aja. Saya masih menahan diri untuk kasih berbagai macam rasa biar nggak kenal rasa terlalu manis dan jadi malas makan. Nanti ajalah selepas 2 tahun.

Karena udah banyakan UHT, makin malaslah saya mompa, walau tetap 3 kali sehari. Tapi udah nggak baper lagi kalau hasilnya dikit. Santai aja. Bikin saya lebih enak, sih. Kalau ke-skip satu kali ya udah, tapi kalau nggak mompa seharian tetap aja merasa bersalah. Di kantor, cuma saya yang masih mompa sampai usia anak 20 bulan. Yang lain biasanya selepas setahun udah nggak mompa lagi. Sempat diledekin, “Anak lo kan udah remaja, bok. Masih mompa aja”. Saya sih biasanya ketawain aja.

Sampai akhirnya saya burn out, capek, males, lelah, dan sudah berkali-kali memikirkan untuk stop mompa tapi takut ASI-nya berhenti. Kemudian ngobrol-ngobrollah sama teman kantor yang anaknya nenen sampai usia 3 tahun. Dia bilang, dia stop mompa di usia 1 tahun, pas kantor ya anak minum UHT, pas malam nenen. ASI-nya tetap ada sampai anaknya benar-benar stop, sih.

Setelah dipikir-pikir, Kaleb udah banyakan makan, fungsi ASI juga bukan buat sumber utama makanannya, tapi karena dia merasa nyaman dekat ibunya. Dia jarang banget nenen lamaaaa, tapi dia tetap suka nenen sebentar-sebentar, masih nyari nenen pas malam  karena haus. Tapi ya itu, nggak lama. Kalau ada mamak sih sebentar-sebentar minta nenen, tapi kalau nggak, dia sebenarnya lebih pilih UHT.

Karena anaknya udah rela melepas ASIP, maka dengan keikhlasan, saya stop mompa di usia Kaleb 20 bulan. Rasanya luar biasa senang nggak harus mompa dan bisa lebih santai dan nggak banyak bawa barang bawaan ke kantor. HORE! Kalau soal nenen sih, saya bakal lanjut terus sampai Kaleb rela melapas nenen mamak, entah kapan. Nggak yakin pas usia 2 tahun dia siap nyapih karena sampai saat ini kalau ada mamak dia kayak liat harta berharga dan bilang, “NENEN!”. :)))))

Itu kalau soal ASI. Dari segi makanan, tiap hari, terutama weekdays, 3x sehari makan makanan rumah yang diperhatikan komposisinya, plus snacknya ya buah. Snack kayak biskuit udah bisa macam-macam, tapi saya belum kasih dia snack cokelat, atau berbagai macam rasa yang banyak gula. Paling banter regal, atau biskuit rasa susu. Kaleb belum pernah coba permen sama sekali atau biskuit kayak Oreo. Puk puk puk! Hahaha. Jangan dululah yang banyak gula, karena menurut penelitian gula itu lebih berbahaya buat kesehatan anak (coba googling soal ini, ibuk-ibuk).

Sampai menjelang 20 bulan, Kaleb tiap pergi ke luar masih bawa bekal makanan dari rumah. Rempong banget kan tiap mau pergi. Hahaha. Nggak papa, biar dia terbiasa sama makanan sehat. Kalau di mall, mamak ngemil bubble tea, Kaleb cuma ngemil susu UHT atau air putih. Sehat bener anaknya. Hahaha. Cemilan paling sering wajib buah berbagai rasa.

Sampai akhirnya pas 20 bulan, saya memperbolehkan dia makan di luar, tapi harus di restoran yang bersih dan non fast food. Kecuali, kejadian mendesak kayak waktu itu di KFC, ya. Ish, mamak rasanya mengurangi rasa ribet pas pergi-pergi nggak usah masak lagi. Asoy lah.

Dua minggu lalu, akhirnya saya memperkenalkan Kaleb pada es krim (lagi). Sebelumnya pernah Kaleb dikasih es krim tapi nggak suka karena dingin banget. Saya pikir, oh dia nggak suka dingin. Tapi karena dia sekarang suka minum susu dingin, jadi yuk coba es krim lagi. Eh, anaknya suka, dong. Sebagai mamak keras, Kaleb cuma dapat privilege makan es krim, satu kali seminggu, pas weekend. Sudahlah Nak, mamakmu ini emang agak kejam. Hahaha!

Beberapa hari lalu, Kaleb diajak Opung jalan-jalan. Lihatlah dia kedai Thai Tea Dum-Dum yang lagi ngetrend sekarang. Dia biasanya lihat saya suka beli, tapi nggak bagi-bagi dia. Hihihi. Dia pikir itu es krim karena banyak es-nya. Dia tunjuklah itu Thai Tea ke Opung sambil bilang, “Es krim, mau mau!”. Lah, si Opung nggak paham apa itu Thai Tea, tapi karena cucu yang minta dibeliin juga lah. Jadi untuk pertama kalinya Kaleb minum Thai Tea. Setengah gelas besar habis. Bahagia ya emang kalau nggak ada Mamak. Wakakak!

Kenapa sih saya membatasi banget gula masuk? Karena saya takut giginya cepat keropos, obesitas yang bisa bikin diabetes, dan sugar rush. Kejadian sugar rush ini pernah kejadian, sih. Suatu hari aunty-nya Kaleb ulang tahun. Tentunya diijinin makan kue tart yang kebetulan manis banget karena banyak butter cream-nya. Langsung Kaleb sugar rush, heboh sana-sini lari-lari nggak berhenti sampai jam 10 malam nggak tidur, sampai kita yang lihat aja pusing, dia kayak kutu loncat lari sana sini, heboh banget nggak berhenti sedetikpun. Padahal hari itu aja dia nggak tidur siang. Biasanya jam 8 udah teler minta bobo. Ini kalau nggak dipaksa bobo, dia masih heboh. Oke, no more too much sugar, ya. Capek mamak nemenin Kaleb begadang. Hahaha.

Sebagai pecinta MSG dan bubble tea akut, saya pengen anak saya punya gaya hidup yang lebih sehat, sih. Ini juga yang ngajarin saya nggak ngemil snack macam chiki depan dia supaya dia nggak minta. Karena sekarang dia lagi fase, apa yang saya coba, dia harus coba. Mamak ikutan hidup sehat lah. Lagian kalau udah tau rasa MSG, emang nagih berat. Wakakaka, saya aja lebih pilih ngemil snack MSG daripada makan berat. Enak, cuy! Kaleb nanti-nanti ajalah, ya.

Sekarang saya paham kenapa dulu Mama saya jarang nyetok cemilan di rumah dan mewajibkan kami makan masakan rumah mulu. Ternyata kalau punya anak pengennya si anak dapat makanan terbaik dan paling sehat, ya.

Mungkin selepas 2 tahun, Kaleb akan perlahan-lahan bisa mencoba lebih banyak cemilan di luar lagi. Tapiiii… cuma boleh satu kali seminggu pas weekend, ya, Kaleb! #tetep #mamakkejam

 

 

 

Tentang Pemakaian Gadget

Sebagai ibu idealis masa kini, awalnya saya keukeuh nggak mau Kaleb kenal gadget. Biar lah Kaleb main di luar bersama kupu-kupu, burung, jatuh di tanah *ini rumahnya di pedesaan apa, yak? XD*. Kenyataannya: BUBAR JALAN!

Tiga bulan pertama, Kaleb sering banget nangis kencang banget kayak nggak ada hari esok, kemungkinan karena kolik. Tentunya orang di rumah pusing minta ampun. Udah diapa-apain tetap nangis. Suatu hari saya udah menyerah karena nangisnya nggak berhenti, saya capek, lelah, ngantuk. Dengan segala perasaan bersalah dan putus asa, saya ampil iPad dan cari lagu anak-anak. Surprisingly, anaknya mulai tenang. WOW, keajaiban alam apa ini? Waktu itu Kaleb suka sekali dengar Super Simple Songs.

Saya nggak terlalu sering kasih iPad, kecuali memang nggak ada pilihan. Bukan takut dia ketergantungan gadget sih, lebih ke takut matanya rusak dan harus pake kacamata. Semakin dia besar, terutama ketika dia mulai bisa guling-guling dan merangkak, saya mulai kewalahan banget, terutama kalau saya harus tinggal sebentar untuk mandi atau makan. Waktu itu saya ngurus Kaleb sendirian, ada Mama tapi mostly saya yang pegang. Jadi kalau saya mandi, saya nyalain super simple songs, buka pintu kamar mandi (kebetulan kamar mandi ada di kamar), mandi secepat kilat, sambil ngomong, “Kaleb dengerin lagu, ya. Kaleb jangan ke mana-mana di situ aja tunggu Mami mandi, ya.” Takut anaknya jatuh, gelinding, atau apalah. Huhuhu!

Masalahnya, Kaleb nggak betah diam dan cuma nonton aja. Maksimal banget dia bisa tahan nonton Youtube adalah 10 menit. Nggak lebih dari itu. Kurang sih sering banget. Hahaha. Makanya dalam watu 10 menit, saya harus menyelesaikan segala sesuatunya dengan terburu-buru. Rempong to the max lah.

Ternyata Kaleb bukan anak yang hobi nonton. Dia suka dengerin lagu, makanya kalau nonton lagu anak-anak dia suka, tapi kalau nonton kartun dia nggak terlalu suka. Sesuka-sukanya pun, nggak tahan lama kalau nonton. Dia sukanya ngobrol, nggak mau main sendiri, dan explore benda-benda yang ada di sekitarnya. Benda-benda, bukan mainannya. Hahaha. Selain itu, dia sukanya jalan-jalan ke luar rumah, ke taman, naik sepeda, ketemu orang. Duduk pasif sama sekali nggak suka. Hm, kalau dipikir-pikir sampai sekarang pun Kaleb nggak bisa duduk lebih dari 5 menit, kecuali di baby chair, karena ada penghalangnya. Kalau di kursi biasa nggak bisa, tentu saja dia lebih milih buat lari-larian.

Sekarang Kaleb mulai tertarik sama lagu anak-anak Indonesia karena dia bisa nyanyiin. Lagu yang sudah penuh dia hapal adalah Cicak-Cicak di Dinding. Makanya tiap hari minta dipasang lagu Cicak-Cicak dengan berbagai versi. Untuk kartun, dia mulai suka nonton Upin-Ipin karena odolnya dia merek Upin-Ipin, jadi dia terbiasa lihat si Upin-Ipin. Pernah dia ngambek tengah malam nggak bisa tidur karena pilek, saya pasang lah Upin-Ipin, tenang loh dia. Hahaha.

Karena ananya bosenan, dia nggak pernah nonton habis 1 episode Upin-Ipin pun. Yang ada dia langsung pencet sendiri ganti yang lain, begitu terus. Lagu anak-anak pun dia ganti terus. Jadi kalau dipikir-pikir, dia nonton Youtube tuh bukan karena tertarik acaranya, tapi karena pengen tau kalau diganti berubah jadi apa, sih.

Nonton di iPad ini berguna banget sekarang karena dia suka ngintilin saya ke mana pun, termasuk ke kamar mandi. Susah banget mandi jadinya. Akhirnya saya bawa iPad ke kamar mandi supaya dia nonton sambil liatin saya mandi. Iyeee, mandi saya nggak pernah tenang, deh. Hahaha. Kalau saya mandi kelamaan dan dia mulai bosen liat Youtube, mulai deh dia mendekati saya dan mau ikutan main basah-basahan. OH TIDAAAK, padahal seringnya dia udah mandi atau nanti malah prosesnya jadi lama, misalnya karena saya buru-buru mau ke kantor.

Kebetulan iPad saya ini cuma bisa terkoneksi sama wi-fi. Nggak bisa dipake di jalan deh jadinya. Akhirnya pergi ke mana pun, saya nggak pernah bawa iPad. Jadi kalau makan di luar, ya nggak pegang iPad dan sibuk sendiri. Lumayan sih, jadinya kami ngobrol karena Kaleb anaknya suka ngobrol dan nggak suka dicuekin kalau kami sibuk sama HP.

Akhirnya kembali ke masing-masing keluarga dan anaknya seperti apa. Kalau saya, gadget berguna sekali untuk mendistraksi Kaleb di saat saya harus mengerjakan sesuatu dulu. Saya juga lihat selama ini Kaleb nggak ketergantungan dan cari-cari iPad kalau nggak ada jadinya saya merasa penggunaan dia masih batas wajar. Dengerin lagu di Ipad bikin kosa-katanya cukup banyak dan tiba-tiba bisa nyanyi sendiri. Kalau saya, nggak memperbolehkan Kaleb nonton gadget di luar sampai saat ini. Rempong banget sih harus melayani dia ngobrol terus dan nggak bisa diam pastinya, tapi ya balik lagi, saya nggak mau dia ketergantungan nonton.

Ada Papa Mami yang bisa ditonton, kok. Kurang lucu apa sih kita? Hahaha.