Main Basket, Yuk!

IMG_20170909_150919

Beberapa bulan ini, saya lagi nyari kegiatan buat Kaleb. Kaleb belum mau dimasukkan ke sekolah, tapi dia sangat suka bersosialisasi (ehm, dia lebih kenal tetangga daripada saya. Hahaha), dan dia butuh kegiatan yang lebih terarah. Satu-satunya kegiatan Kaleb sekarang adalah sekolah minggu. Tapi nggak mau yang harus setiap hari berkegiatan karena nanti dia capek. Kan dia masih 2 tahun.

Awalnya mau les musik. Kebetulan di Yamaha ada kegiatan untuk anak 2 tahun: Music Fantasy. Setelah survey dan lihat kegiatannya, saya cukup ragu karena mostly kegiatannya adalah menyanyi bareng di tempat (YAEYALAH, KAN LES MUSIK, MI! XD), dan didampingi orang tua. Ini pertimbangan lainnya, saya pikir Kaleb sudah cukup besar untuk menerima instruksi dan ingin dia lebih mandiri, jadi berharapnya orang tua nggak perlu ikut di dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir kelas aja. Kalau cuma menyanyi dan dance, Kaleb rasanya akan cukup bosan karena di sekolah minggu sama persis yang dilakukan. Tiap di sekolah minggu anaknya di tengah kegiatan bosan dan akhirnya sibuk lari-lari.

Oh ya, sampai saat ini saya masih cukup yakin Kaleb adalah anak kinestetik yang mana dominan sekali menyukai kegiatan yang membutuhkan fisik, gerakan, praktek. Akhirnya saya pikir, Kaleb akan cocok dengan kegiatan olahraga. Sempat survey ke beberapa tempat, termasuk Rockstar Gym. Untuk anak 2 tahun dengan bayaran cukup besar, kegiatan Kaleb terbatas. Banyakan ke baby gym, baby dance, yang mana Kaleb kurang suka.

Kaleb suka sesuatu yang bentuknya permainan dan olahraga beneran, seperti sepak bola. Saya pun cari les sepak bola. Susahnya adalah jarang banget untuk anak toddler, biasanya untuk anak yang lebih besar, seperti 3-4 tahun ke atas. Tapi akhirnya nemu di @littlekickers_id. Senangnya Little Kickers ini ada beberapa cabang. Yang paling dekat dengan rumah (walau nggak dekat-dekat banget) ada di PIK. Sayangnya, ternyata kuota belum mencukupi sehingga belum bisa dibuka. Yah, kuciwa!

Sampai suatu hari, @lilhoopsters mengirimkan DM ke saya, entah tahunya dari mana. Pas saya cek, loh loh loh… les basket dan bisa untuk anak toddler dari 18 bulan. PAS BANGET! Mana mereka nawarin free trial, kan. Tentu saja akyu mau!

Kendalanya adalah, tempatnya lumayan jauh dari rumah, yaitu di Kemang. Tapi setelah diskusi sama suami, Kemang masih bisa dicapai dengan tol JORR 2 yang membuat akses cukup mudah dan cepat. Plus waktunya sore hari sehingga nggak drama bangunin Kaleb buru-buru pas pagi hari.

Sebelum membuat keputusan, saya berkali-kali nanya ke Kaleb dulu, secara dia yang bakal jalanin, “Kaleb, mau les musik atau bola?”. Selalu dijawal bola. Ditanya lagi, “Kaleb, mau les bola atau basket?” Dijawab basket. Lalu pertanyaannya diubah-ubah lagi urutan pilihannya. Selalu pilih basket. Yang paling nggak pernah dipilih adalah les musik. Hahaha. Jadi fix memilih basket. Karena kalau dia pilih bola, Mamak akan tetap mengarahkan ke basket karena les bolanya belum buka. Hahaha.

Awalnya, Kaleb daftar untuk kelas Junior (18 bulan – 2,5 tahun). Tapi pas hari H, karena kecepatan datang, yang mulai duluan adalah kelas Rookie (2,5 -3,5 tahun). Jadi Kaleb ikutan aja. Lagian bulan ini Kaleb tepat 2,5 tahun. Untuk kelas Rookie, orang tua tidak wajib berpartisipasi lagi dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir lapangan aja. Anak akan full bersama coach-nya.

Latihannya sederhana sih, seperti melempar bola ke arah yang ditentukan, dribble, masukin bola ke tiang basket, lari zig-zag, dsb. Diawali dengan warming up dan diakhiri dengan cooling down. Tadinya khawatir Kaleb nggak akan paham, karena di kelas itu dia peserta paling kecil. Tapi ternyata dia paham semua instruksinya, ikutan setiap kegiatannya, dan paling excited kalau udah harus pegang bola dan masukin ke tiang. Bahkan kalau ada water break, Kaleb cuma minum dikit, trus langsung nanya, “Bolanya manaa?” Woy, istirahat dulu bentar! :))))

Ini bikin terharu sih karena kalau di sekolah minggu, Kaleb ogah-ogahan ikut gerakan dance. Kaleb patuh sih duduk di depan, ikut dengerin, tapi nggak ikut gerakan dance atau nyanyi. Yang ada rusuh muter-muter. XD Jadi pas dia ternyata tertib ikutin instruksi dari awal sampai habis, saya jadi senang. Ternyata dia akan lebih mau melakukan sesuatu, kalau dia suka.

Selesai main basket, anaknya langsung bilang, “Kaleb suka main basket.” :’) Trus pas di rumah dia ulang lagi gerakan-gerakan pas stretching. Hahaha, lucuk!

Anyway, Lil’ Hoopsters ini cukup serius dalam bikin kurikulumnya karena coach-nya sendiri adalah Pringgo Regowo, atlet basket nasional dari Aspac. Kalau ditanya dia siapa sungguh awalnya saya nggak tahu karena saya nggak paham basket. Tapi akhirnya saya googling dan kagum dengan prestasinya. Dan ternyata dia sendiri yang turun tangan melatih pas basket kemarin. Yang paling penting, mereka punya passion untuk mengajar anak-anak dan tetap mengedepankan sisi fun-nya.

Ada yang mau ikutan Kaleb main basket?

 

 

 

 

Advertisements

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (3)

Setelah dibiarkan menunggu lama di House of Raminten, apakah kali ini akan ada kisah yang sama? Check this out.

Taman Sari

Taman Sari ini letaknya dekat Alun-Alun Selatan. Konon Taman Sari ini dulu tempat berenangnya para putri raja dan bulan madu-nya Sultan. Bangunan yang ada sekarang sama sekali belum pernah dipugar jadi asli sli!

Lagi-lagi tak lupa diingatkan untuk pake sunblock karena ini ruang terbuka dan panasnya ajegila. Lagian hobi banget sih datang hampir siang jadinya kebagian matahari terik, kan. Hahaha.

Harga tiketnya murce bener, untuk lokal Rp 5.000. Anak di bawah 3 tahun pun gratis. Tentunya untuk wisata mancanegara ya beda lah harganya. Tapi saya nggak tanya kenapa. Kalau bawa kamera (bukan kamera HP, ya) dicharge Rp 2.000. Tapi anehnya nggak ada yang periksa itu tiket kamera juga. Jadi kalau mau bohong ya bisa aja. YANG MANA JANGAN BOHONG, ya. Kan udah murah, jadi nggak perlu tipu-tipu. Okeh!

Ada kejadian lucu pas lagi beli tiket. Jadi setelah saya bayar untuk 2 orang, tiba-tiba Kaleb ikutan nongol di loket tiket. Mbak kasirnya lihat Kaleb, trus langsung nanya ke saya untuk memastikan, “Mbak, suaminya bule, ya?”. Kebetulan Bapake lagi balik ke parkiran untuk ambil tripod. Saya jawab, “Nggak Mbak, suami saya bukan bule.” Pengen lanjut, suami saya itu kulitnya aja coklat banget. Ini anaknya cetakan bule karena dulu ngidam anak bule, sih. Hahahaha. Bukan apa-apa, kalau nanti saya bilang bule, disuruh bayar mahal lagi tiketnya. Cinta lokal aja deh makanya.

Di dalam banyak tour guide yang menawarkan jasanya. Kami nggak pake, tapi mungkin akan lebih baik pake karena curi-curi dengar yang pake tour guide sih ceritanya asik banget. Tapi hati-hati kalau nggak mau pake, tour guide suka tibat-tiba ajak ngobrol ceritain singkat mengenai sejarahnya, lalu kita tertarik, trus lama-lama udah dibawa jalan dan di-guide aja sama mereka. Kan jadi bayar, ya. Jadi waspada aja, jawab seramahnya. Kalau nggak mau pake ditolak manis, tapi kalau mau lanjut pake silahkan.

I can not tell much about the building because it’s just the building. Isinya yang bangunan lampau kosong. Tapi ada besar banget dan letaknya terpisah-pisah. Semakin ke bawah, semakin lembab dan gelap. Ada tempat semedi Sultan, sauna, masjid bawah tanah, terowongan, dll. Taman Sari ini dikelilingi oleh Kampung Batik yang mana isinya para pengrajin Batik, bisa dibeli juga karyanya. Jadi kalau mau keluar masuk Taman Sari kita juga akan lewatin Kampung Batik ini. Seru sih karena Kampung Batik ini rumahnya kecil-kecil di gang, tapi apik banget.

IMG_8522

Masuk-masuk dapat pemandangan segar kayak gini. Airnya bersih banget. Sepertinya rajin dikuras, sih.

IMG_8516

Kang bawa tripod lagi bekerja. Jangan diganggu.

IMG_8512

Lagi-lagi Kang Tripod sibuk ama alatnya.

IMG_8541

IMG_8562

Kampung Batik yang cantik

Ada kejadian seru nih pas di Taman Sari. Kami kan foto-foto dari luar ya. Tiap ada bangunan foto. Kaleb seperti biasa heboh sana-sini. Pas saya lagi foto, Kaleb nemu dua buah permen di sudut bangunan. Dia ambillah. Tentu saja saya bilang, “Awas jangan dimakan. Itu jorok udah dibuang orang.” Ya masa dari lantai dimakan, kan, walau masih dibungkus, tapi tetap aja jorok. Pas masuk ke dalam, Kaleb nemu permen lagi. Kali ini dekat kolam permandian. Kemudian saya perhatikan lagi, kok di tiap sudut selalu ada permen, ya? Jumlahnya pun sama persis: 2. Baru saya sadar, jangan-jangan itu sesajen. HUWAA! Langsung saya larang Kaleb untuk ambil lagi itu permen.

IMG_8487

Pertama kali tercyduk ambil permen di sudut

IMG_8502

Lagi-lagi tertangkap basah ambil permen di sudut

Di dalam pas ketemu dengan rombongan yang pake tour guide, kebetulan dengar tour guide cerita. Jadi tiap hari ada ibu-ibu dari Bali yang selalu bawa sesajen berupa permen-permen itu untuk ditaro di sudut ruangan. Dikasih untuk “penunggu” Taman Sari. Tapi katanya kalau mau makan permennya ya makan aja. Ya keleus mau makan permen buat sesajen. Mending beli segerobak di Carrefour, deh. Makan permen sampe mabok. Huhu!

Gara-gara cerita si tour guide itu saya jadi ketar-ketir, dong. Maklum anaknya penakut banget. Diceritain horror dikit saya mah langsung mengkerut. Saya udah merengek ke suami aja untuk udahan jalan-jalan di Taman Sari. Atau nggak saya nunggu di atas dekat abang es dawet sambil nyeruput es. Tapi diomelin suami, dong. Masa gitu aja takut katanya. Hahaha. Trus dia obsesi mau dapat foto di tangga melingkar yang tersohor itu. Huft, mau nggak mau jalan lagi dengan setengah hati.

IMG_8549

Sesaat setelah dengar cerita horor.

Taman Sari ini saking gedenya sampai capek juga, bok. Plus, cuaca terik banget jadi bikin energinya terkuras. Mana letaknya agak berjauhan dan nggak ada peta, jadi harus rajin nanya atau ya ikutin aja orang-orang jalan ke mana. Akhirnya ketemu juga tangga melingkar itu dan penuh banget sama orang-orang. Suami mau foto pun susah karena berdesakan sama orang. Tuh kan suami, mending duduk santai makan es dawet aja. Hahaha.

IMG_8564

Tangga tersohor yang rame banget. Ini udah paling sepi aja masih kelihatan di sekitarnya ada photobomb orang-orang.

Bakmi Jowo Mbah Gito

Dari Taman Sari, meluncurlah kami untuk makan siang di Bakmi Jowo Mbah Gito. Kebetulan letaknya nggak terlalu jauh. Bahkan pas sampai di restonya ya banyak ketemu orang-orang yang habis dari Taman Sari juga. Hahaha.

Mbah Gito ini unik banget interiornya. Penuh kayu-kayu semacam di hutan. Tempat duduknya hampir semua lesehan. Mungkin ada yang pake bangku tapi nggak lihat waktu itu. Lesehannya spacenya gede dan luas jadi walau Kaleb lari-larian juga masih aman. Nggak ada AC sama sekali karena walau di dalam tapi ruangannya terbuka banget jadi adem angin semilir.

IMG_8481

Ini tampak depan. Semacam rumah kayu di hutan, ya.

IMG_8578

Dapurnya open kitchen jadi bisa kelihatan yang lagi masak.

IMG_8579

Ada beberapa patung bapak-bapak yang setinggi manusia.

IMG_8583

Ada 2 lantai. Bisa makan di atas juga.

Waktu minta buku menu, mereka nggak punya. Menunya ya ada di tempat nulis bonnya. Jadi nggak bisa kebayang lah itu penampakan makanannya gimana. Di bonnya pilihan makanannya nggak banyak, yaitu bakmi goreng, bakmi rebus, nasi goreng, capcay goreng. Yang saya ingat sih itu, ya. Saya pesan nasi goreng dan air mineral, suami pesan capcay dan jeruk nipis hangat.

Selain pelayannya yang jutek padahal sih bukan yang lagi super rame sampe ngantri, lagi-lagi makanannya datang super lama. Lebih dari 30 menit. Huhuhu! Sampai akhirnya kami berkesimpulan mungkin memang kalau di Jogja itu semua makanan sampainya lama. Sing sabar, Mbaknya.

Dengan lamanya makanan yang datang, berharapnya makanannya juga enak, dong. Kalau menurut suami capcaynya enak, kalau menurut saya nasi gorengnya biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi kurang gurih. Lebih enak abang-abang nasi goreng dekat rumah favorit saya. Tapi kalau kata suami, untuk total bayar Rp 57.000 mah terima aja kalau pesanan datang lama dan nggak terlalu endeus rasanya. Enel ugha kamoh!

IMG_8589

Pintu masuknya. Lagi-lagi ada patung setinggi manusia. Mungkin dia si Mbah Gito.

Anyway, setelah dipikir-pikir lagi lidah Sumatera saya kayaknya merasa makanan di Jogja tuh overall terlalu manis dan hambar. Bumbunya nggak terlalu tajam dan nggak pedas. Maklum, orang Batak biasa makannya pedas level andaliman. Hahaha.

Jalan Malioboro
Belum sah ke Jogja kalau belum ke Jalan Malioboro, dong. Kami aja sampai 2 hari berturut-turut ke jalan yang super ramai dan padat ini. Jalanan lain nggak ada yang macet, Malioboro mah tetap macet. Mungkin ini juga karena sedang ada pelebaran trotoar. Jadi trotoarnya luas banget dan bisa asik jalan kaki di sana. Selain itu, juga ada Trans Jogja, tapi ya nggak ada jalur busway kayak di Jakarta. Jadi jalur Trans Jogja barengan sama jalur kendaraan biasa. Bisnya nggak sebesar dan sepanjang TransJakarta, tapi cocok untuk ukuran Jogja yang jalanannya bukan yang besar-besar banget kayak di Jakarta.

Seru banget jalan-jalan di Malioboro ini karena banyak banget yang bisa dilihat, terutama dari jajanan pinggir jalan dan dagangannya super murah. Belum lagi banyak bangunan sejarah yang letaknya di sekitar jalan ini, seperti Benteng Vrederburg, monumen serangan 1 Maret, Alun-Alun Utara, dan Kerator Jogja. Oh tak lupa ada Gudeg Yu Djum yang beken itu.

Kebetulan kami nggak belanja sama sekali selama di Jogja karena rempong ya bok bawa anak kicik nggak bisa diam pake belanja sambil nawar. Apalagi pas masuk ke Pasar Beringharjo (pasarnya tutup jam 5 sore ya), wuidih RAME POL! Sejauh mata memandang batik semua dan kece-kece. Tapi apalah hamba yang nggak paham model batik dan harganya, mau beli tapi nggak bisa nawar takut kemahalan. Ya udah lewatin aja lah.

IMG_8389

IMG_8382

Jalanan yang rame dan sibuk.

IMG_8394

IMG_8383

Penyanyi jalanan yang lagunya asik-asik.

IMG_8406

Museum Vrederburg yang belum sempat kami masuki karena keburu tutup. Numpang foto di depannya aja.

Di sepanjang jalan banyak becak yang bisa diajak keliling Malioboro. Becaknya udah banyak yang pake motor, bukan pake sepeda. Lebih baik lah, karena kasihan kan bapaknya gowes berat pake sepeda. Selain bentor, juga ada banyak delman dengan bapak-bapak berpakaian Jawa tradisional lengkap dengan blankon.

Karena ada delman, Kaleb suka banget lah lihatin itu kuda, dielus-elus pengen naik. Ya udah deh, kebetulan kami parkir di Alun-alun utara jadi lumayan jauh dari jalan Malioboro. Kami pikir ya udah ke sananya naik delman aja biar Kaleb senang. Padahal kalau naik bentor bisa lebih cepat dan cuma bayar Rp 10.000 bisa keliling Malioboro dan mampir ke 3 tempat. Awalnya Pak Delman buka harga Rp 60.000 dan menawarkan udahlah sekalian aja keliling Malioboro. Tapi kan kami nggak mau keliling Malioboro karena udah keliling jalan kaki, masa balik lagi. Plus, udah pengen balik ke hotel aja kecapekan. Ditawar Rp 30.000 nggak mau, ditinggal pun didiemin aja sama Pak Delmannya. HAHAHA. Trus Kaleb bilang, “Papa, kok nggak jadi naik kuda?” Lah, ciyan amat anakku. Ya udah akhirnya mampir ke delman berikutnya dan cuma nawar Rp 50.000 aja biar nggak ditolak lagi *anaknya insecure abis, bok! Hahaha*. Untungnya Pak Delman mau. Lagian kan cuma sampe Alun-alun yang dekat.

IMG_8609

Akhirnya ku naik delman. Walau di foto nggak senyum tapi anak ini bahagia banget naik delman.

IMG_8604

Tapi tampang Mamaknya kelihatan lebih bahagia sih ya. 

Seru sih ya naik delman, mandangin sekitar. 15 menit kemudian udah sampe di Alun-alun bagian belakang. Kami pikir, oh tinggal jalan dikit udah sampe ke parkiran mobil, nih. Ternyata kami diturunin jauh banget dari parkiran. Yasalam, tahu gitu mendingan sekalian bayar buat keliling Malioboro kalau ujung-ujungnya jalan jauh juga, sih.

Kami udah sampai masuk halaman Kraton Jogja untuk sampai parkiran, tapi kok nggak sampai juga. Ngiterin komplek perumahan, jalan-jalan kecil, tapi nggak kelihatan Alun-alunnya. Mana udah capek, terik, Bapake gendong Kaleb. Pegel bener. Sampai akhirnya mutusin buat udahlah naik bentor aja. Ya tahu gitu dari Malioboro sekalian aja naik bentor ke Alun-alun cuma Rp 10.000 *hayati lelah*. Panggillah Pak bentor. Pak bentor nawarin Rp 10.000 sambil keliling Maliboro. Saya nawar dong. Soalnya nggak mau keliling Malioboro, cuma mau ke Alun-alun yang mana itu deket banget. Jadi saya tawar Rp 5.000. Pak delman nggak mau, malah tetap keukeu Rp 10.000 aja keliling Malioboro. Yo weis, sak karepmu, Pak. Tak tinggal, nih. Walau dalam ketar-ketir juga karena udah pegel bener jalan kaki. Untungnya Pak delman mau Rp 5.000. Dan bener aja untuk sampai ke alun-alun cuma 5 menit doang. Deket banget. Sampai di mobil saya dan suami ngakak heran karena Pak delman kok ya lebih milih capek keliling Malioboro Rp 10.000 daripada selempar kolor Rp 5.000 dan habis itu bisa dapat penumpang lainnya lagi. :))))

IMG_8596

Alun-alun utara. Di setiap alun-alun Jogja selalu ada 2 pohon beringin yang dipagari. Kan tersohor tuh katanya kalau bisa lewatin dua pohon beringin kembar ini sambil tutup mata nanti semua permintaannya dikabulkan. Kabarnya susah banget bisa lewatin lurus pohon kembar ini. Orang-orang biasanya jalannya malah miring ke kiri atau kanan. Suami iseng cobalah. Lah, kok gampang amat bisa lewatinnya. Ealah, setelah digoogling ternyata pohon beringin kembar di alun-alun selatan, bukan di utara ini. Salah pohon, Mas!

IMG_8592

Baru sempat masuk ke pelataran Kraton Jogja. Seru banget lihat Abdi Dalam Kraton yang ternyata masih memegang tradisi telanjang kaki. Nggak peduli panas juga.

Panties Pizza

Selama di Jogja karena Nanamia Pizza, Kaleb ngidam pizza mulu. Waktu itu kami lagi bingung mau makan apa dan nanya Kaleb, langsung doi jawab mau makan pizza. Jadilah kami cari restoran pizza lagi. Kebetulan di Jogja banyak bener pilihan resto pizza. Jatuhlah pilihan ke Panties Pizza karena namanya unik. *cetek*

Hari itu malam minggu jadi Panties Pizza rame banget, walau tetap gampang dapat tempat, sih. Ramenya sama ABG pada pacaran sama anak-anak kuliah lagi ngerjain tugas. Adek-adek ini rajin banget ya malam minggu mikirin tugas kuliah. Dulu saya mah malam minggu buku udah disimpan rapat dan nggak ditengok lagi. Haram hukumnya. :))) Berasa tua banget kan ke Panties Pizza sambil ngangon anak. Hahaha.

Pesannya langsung ke kasir. Pizzanya banyak banget macamnya dan unik-unik rasanya. Semua dalam ukuran personal pan. Untuk 2 pizza personal pan, 1 kopi, 1 es coklat, totalnya Rp 80.000. Enak ya, selama di Jogja nggak pernah sekali makan ngeluarin lebih dari Rp 100.000. Semua di bawah Rp 100.000, bok. Sedap!

Walaupun ukurannya personal, tapi porsinya gede banget. Mantaplah! Uniknya kalau biasanya pizza topingnya di atas, Panties Pizza ini topingnya di dalam. Keju mozarella banyak banget dan nggak pelit jadi pas diangkat kelihatan banget lelehan kejunya. Sebagai pecinta keju saya bahagia banget lah lihat lelehan keju kayak gini.

Overall Panties Pizza ini sangat mengenyangkan dan rasanya enak. Kabar baiknya lagi Panties Pizza ini sebenarnya baru buka di Jakarta. Letaknya di Slipi Jaya. Lumayan nggak jauh dari rumah. Kalau Kaleb ngidam pizza lagi mau bawa ke sini ah.

IMG_8616

Spot mejeng buat foto

IMG_8620

Kejunya banyak banget. Lihatnya aja bikin kepengen lagi.

 

Nah, itu semua tempat yang saya datangi pas ke Jogja kemarin. Nggak terlalu banyak, ya karena kalau bawa bocah benar-benar harus disesuaikan sama kondisi bocahnya. Nggak bisa diforsir dari pagi sampe malam, atau menclak-menclok dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga nggak menikmati perjalanan. Pokoknya prinsipnya, Kaleb harus nyaman. Kalau kami merasa capek, ya kami balik dulu ke hotel untuk istirahat. Atau kalau udah nggak sanggup jalan-jalan lagi malamnya, ya udah makan aja di restoran hotelnya. Pokoknya liburannya jangan sampai malah terlalu capek dan nggak menikmati. Terutama bocah harus tidurnya cukup biar nggak cranky.

Ada banyak banget tempat yang mau dikunjungi lagi di Jogja. Berarti ada alasan untuk selanjutnya balik lagi ke Jogja. Yeay!

Posting berikutnya akan review hotel tempat kami menginap. See ya. πŸ˜€

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (2)

Lanjut lagi ya cerita jalan-jalan ke Jogja-nya. Untuk mau tahu tempat-tempat yang kami datangi sebelumya bisa dilihat di sini.

Candi Borobudur

Catatan penting untuk ke Borobudur adalah: jangan lupa pake sunblock! Gila ya, saya nggak pake sunblock dan kebetulan pake baju kutung, pulang-pulang bahu dan tangan langsung kebakar merah. Hahaha!

Lagian salah kami juga sih ya, sampai di sana jam 10 pagi yang mana udah terik banget lah matahari. Niatnya sih mau bangun pagi-pagi banget, tapi apa daya baru bangun jam 7 pagi, sarapan sampai jam 8 pagi, siap-siap baru berangkat jam 9 pagi. Perjalanan dari Jogja ke Magelang sekitar 1 jam. Sebenarnya Magelang ini dekat gunung, cakep banget pemandangannya. Tapi ya tetep, kalau jam segitu mah ya panas atuh.

Oh ya, jangan lupa bawa kacamata hitam dan topi. Saya sih nggak pake topi, tapi terselamatkan dengan kacamata hitam. Kalau Kaleb wajib pake topi karena panas kan. Kalau nggak bawa juga banyak dijual di sana topi dan kacamata hitam yang wajib ditawar. Jadi ceritanya saya sok nyobain blankon buat anak kecil karena lucu banget lah dipake Kaleb. Tapi nggak niat beli karena toh Kaleb nggak betah pake topi. Iseng nanya harganya Rp 60.000. Karena nggak mau beli ya udah ucapin terima kasih lalu pergi. Eh, penjualnya langsung aja turunin harga sampe Rp 30.000. Hm, jangan-jangan kalau ditawar bisa murah lagi. Jadi tawarlah setengah harga, ya. Di sana juga ada sewa payung Rp 5.000-10.000 sepuasnya. Lumayan juga nih buat kalau panas. Tapi saya malas rempong jadi nggak mau sewa payung. Yang paling penting: wajib bawa air minum. Bakalan haus dan capek jadi butuh minum. Beli di mini market aja karena di sana mahal.

Untuk tiket lokal harganya Rp 40.000 (beda dengan tiket warga internasional) dan anak di bawah 3 tahun belum perlu bayar. Yeay! Untuk tiket yang nggak terlalu mahal worth it banget lah. Borobudur sangat bersih, WC-nya pun bersih (kalau di depan bayar Rp 2000), banyak petugas dan penjaga yang kalau dari atas Borobudur bisa kita lihat banyak banget keliling. Good job!

Di gerbang masuk, kita akan diperiksa tasnya. Nggak boleh bawa makanan sama sekali, tapi bawa minum boleh. Yaeyalah, bisa pingsan kehausan! Kan sebelum masuk gerbang banyak penjual yang menawarkan dagangannya karena nanti di dalam nggak ada tukang jualan, ya. TETOT! Di dalam ada tukang jualan kayak mereka juga. Nggak banyak sih, dan cuma di depan setelah gerbang masuk. Tapi kan harusnya nihil, ya.

Untuk sampai ke Candi-nya melewati hiasan payung-payung warna warni yang cakep banget buat foto. Saya sih pengen banget ya banyak foto di situ, tapi sungguh terik matahari lah yang menghalangi. Panas, cyin!

IMG_8306

Kelihatan kan payung warna-warninya. Makin dekat makin cantik. Kalau kata suami, “Fungsinya payung di atas buat nutupin biar nggak panas, ya? Daripada digantung mending dipegang aja deh payungnya. Jelas adem.” Hahaha.

Sebelum candi ada penyewaan sarung gratis. Tapi ini agak membingungkan sih. Siapa yang harusnya pake sarung? Pakaian seperti apa yang harus pake sarung? Karena nggak semua orang pake sarung. Mau pakaiannya celana pendek pun tetap aja bisa ngeloyor masuk dan nggak papa. Saya dan suami memutuskan pake sarung karena saya pake rok pendek dan suami pake celana pendek. Saya pikir ini rumah ibadah jadi harus tetap menghormati dengan memakai sarung.

IMG_8323

Sarungnya pendek juga, sih

Masuk ke Borobudur mulai berdesakan karena banyak banget orang. Mungkin karena jalan naiknya dibikin 1 dan dipisahkan dengan jalan keluarnya. Jadi kalau mau foto-foto nggak perlu di pintu masuknya, nanti di dalam banyak kok yang tampak seperti pintu masuk dan sepi.

Borobudur ini emang cantik banget, ya. Tiap ukirannya sangat detil. Kan jadi kepikiran itu jaman dahulu gimana caranya bawa batu-batu ke atas sana dan diukir. Capek gila. Maklum ya ijk naik ke Borobudur udah mau semaput napas ngos-ngosan. Apalagi tangga di Borobudur cukup curam jadi hati-hati banget lah.

IMG_8318

Ini masih di bawah. Di ujung ada spot sepi jadi nggak kelihatan banyak orang.

Nah, karena tangganya cukup curam pas mau naik ke stupa, jadi Kaleb mendingan digendong pake Ergo. Tangga ke atas cukup sempit dan naiknya tinggi, kalau anak kecil naik sendiri sih serem banget, ya. Jadi mendingan digendong pake gendongan biar tangan orang tuanya juga bisa pegangan sama tangga dan nggak goyah. Kalau soal gendong mah urusan Bapake ya, soalnya Mamak mau gendong juga udah rempong sama urusan napas ngos-ngosan dan keseimbangan yang kurang. Hahaha.

IMG_8319

Naik ke atas gendong di belakang. Anaknya kesel karena susah ngeliat ke depan.

IMG_8354

Turun ke bawah gendong depan biar Kaleb bisa lihat pemandangan. Gendongan Ergo mailaf!

Di atas harus hati-hati banget karena ada beberapa spot yang direnovasi atau nggak ada pengaman langsung menuju tangga atau ke bawah. Serem! Untuk Kaleb yang hobi lari sana-sini saya sih cukup sport jantung karena dia sempat mau lari ke pinggiran. OH NO! Nah, untuk anak kayak Kaleb cukup tricky, nih. Begitu dia di pinggiran kalau saya langsung kejar, dia akan semakin lari karena mikir lagi diajak main (miriplah, kalau lah sama doggy, kalau kita heboh lari, mereka juga heboh ikutan lari karena dipikir mau main). Jadi saya teriak keras dengan nada tinggi, baru kemudian dia mau stop, freeze, dan nengok ke saya. Kalau udah gitu langsung geret anaknya dari pinggir. GILA, ITU KALO JATUH GIMANA? Huft! Jadi, pegang erat-erat anaknya, deh.

But overall, Borobudur itu cakep banget. Apalagi pas pemandangannya ke arah gunung. Segar banget lihatnya. Di bawahnya juga terdapat hamparan hijau. Keren! Kapan nih bisa nginep di Hotel Plataran Borobudur biar bangun-bangun bisa lihat sunrise Borobudur? #eaaa

IMG_8335

Cakep banget pemandangan di belakang, kan.

IMG_8326

IMG_8345

IMG_8350

Turun dari candi, seperti biasa langsung dihampiri buanyak pedangan lagi. Kadang-kadang jadi gengges karena mereka nggak mau stop waktu kita bilang nggak. Anyway, waktu baru turun penjual baju jualnya Rp 100.000 dapat 5 kaos. Nanti di ujung jalan-jalan dapat yang Rp 100.000 dapat 7. Nah 7 kaos Rp 100.000 udah maksimal, nggak ada yang nawarin 8 kaos soalnya. Hahaha.

Keluar dari gerbang Borobudur, untuk sampai ke parkiran melewati BUANYAAAAAK banget kios-kios suvenir dan itu harus lewat situ, nggak ada jalan lain. Gilingan ya, udah capek, kepanasan di Borobudur, masih harus melewati toko-toko suvenir berkelok-kelok yang panjang banget. Capcay! Tapi untungnya ada teh poci sih jadi lumayan bisa mengatasi haus. Dikirain teh poci di Jogja bakal lebih endeus daripada di Jakarta. Sama aja ternyata. Hahaha, tapi lebih murah pastinya. Rp 5.000 untuk gelas kecil, Rp 8.000 untuk gelas besar.

House of Raminten

Tempat makan ini kan beken bener, ya. Di mana-mana, entah di TripAdvisor ataupun situs-situs wisata lain pasti bilang harus cobain makan di House of Raminten. Beklah, mari kita coba.

Kondisinya kita habis dari Borobudur sekitar jam 13.00 mau ke House of Raminten di tengah kota yang perlu menempuh waktu satu jam. Udah laper dong, bok. Anak eike mah walau lapar dia selow, yang penting jalan-jalan dan udah dikasih pisang. Lumayan buat ganjel perut. Tapi emak bapaknya kan ya nggak ganjel apa-apa, paling keripik, ya lapar gila lah.

Sampai sana sampai jam 14.00. Tempatnya unik sih, semacam banyak printilannya. Ada tempat tunggunya sambil dipasang TV berisi acara kabaret. Jadi House of Raminten ini walau buka 24 jam tapi tetep rame jadi harus waiting list mulu. Nggak papa, buat orang yang penasaran, walau lapar, tetap dijabanin.

IMG_8358

Ini tempat menunggunya. Disuguhi tontonan kabaret di TV. Nah, itu patung ibu Raminten yang ternyata aslinya cowok. Haha.

IMG_8357

Tulisan di dindingnya sebenarnya lucu-lucu. Tapi saya udah terlalu capek dan laper untuk foto jadi fotonya aja dari tempat duduk nunggu. Di bagian tengah bawah ada sesajen. Itu pintu masuk buat ke dalam restorannya kalau udah dapat panggilan.

Waiternya kebanyakan cowok. Yang usher-nya aja cowok, cucok meong, bok. Alias ganteng dengan badan kekar. Mana seragam atasnya kan semacam kemeja lengan pendek berdasi kupu-kupu dan pake rompi, tapi bawahnya sarung. Jadi kelihatan lah itu otot-otot. Awalnya saya pikir, oh mas di depan kebetulan ganteng. Tapi nggak loh, semua waiter cowoknya ganteng berbadan kekar. Uhlala! Suami aja nyadar dan nanya ini emang kualifikasinya harus ganteng dan anak gym, ya? Apakah bos House of Raminten membiayai karyawannya dengan fasilitas member gym? Hihihi. Gosip-gosip tetangga nih, kabarnya mereka kurang tertarik dengan lawan jenis. Eh, tapi ini gosip loh. Coba tolong dibuktikan kebenarannya. Digodain gitu mas-nya siapa tahu berjodoh. Hahaha.

Kami duduk di lantai atas yang lesehan. YANG MANA INI DISASTER, ya. Lesehan dengan anak kayak Kaleb nggak bisa diam, plus ruangan semacam terbuka. Takut jatuh, bro! Walau kayaknya nggak mungkin jatuh sih karena ada pembatasnya, tapi tetap aja sebagai emak panikan dan anak pecicilan, saya parno banget sampai nggak bisa tenang. Jadi mending minta di bawah yang ada bangkunya, deh. Tapi mostly emang lesehan sih tempat duduknya.

IMG_8375

Ku sedih minuman udah datang, tapi makanan baru datang seabad kemudian.

Udah manis nih duduk di atas, disodorin buku menu juga. LOH, tapi kok nggak ada tampak waiter di atas? Cemana mau pesan? Apakah harus turun ke bawah juga? Kebetulan setelah 15 menit kebingungan, ada kelihatan waiter ganteng naik. Akhirnya kita panggil mau pesan. Tapi ternyata disuruh nunggu dulu karena nanti ada yang akan catat pesanan. Oh baiklah. Nunggunya aja lama bos! Baru 15 menit kemudian datang.

Yang bertugas catat pesanan ternyata waitress cewek. Kostumnya seksi abis. Berkemben dan memakai sarung dengan make up tebal ala mau syuting sinetron. Satu mbak ini mencatat giliran seluruh pesanan yang ada di lantai 2. Bayangin aja, sampai ke meja saya yang letaknya di ujung dekat tangga lama bener. Setelah catat pesanan, harus langsung bayar saat itu juga dengan cash. Semacam Bakmi GM dan Solaria, ya. Hahaha. Tapi point plusnya nih, makanannya murce semua bok. Saya pesan bakso mie, bakmi goreng, gudeg, jus mangga, tempe crispy 5 potong, es teh manis cuma Rp 87.000 saja. Selama di Jogja ini dompetku bahagia banget, nggak cepet tipisnya. Hahaha.

Udah bahagia bayar dengan murah tinggal tunggu makanannya, dong. Ditunggu-tunggu kok ya nggak datang juga. Ebuset sampai 45 menit makanan baru datang. Ini dimasak di kompor emas atau gimana nih kalau leh tau? Dari lapar pengen ngamuk sampai diam seribu bahasa karena energi udah habis. Ku sungguh lelah. Sampai akhirnya saya dan suami bikin jokes, “Inget ini di Jogja. Prinsipnya alon-alon asal kelakon. Makanya semua serba pelan. Yang penting nanti juga keluar makanannya.” Inggih, mas *nyemilin meja kayu*.

Sekitar jam 3 lewat makanannya baru datang. Ya langsung lah kita makan kalap membabi buta tanpa sisa. Ya udah lapar gila ini mah. Rasanya sih biasa aja, ya. Bukan yang istimewa banget. Kenyang di liatin mas-mas ganteng seliweran aja sih. Hahaha. Tapi untuk harga yang murah, hati ini legowo aja makannya.

Sebelum pulang, mau ke toilet dulu, kan. Turunlah ke lantai bawah mau ke toilet yang letaknya di belakang. Melewati bath tub bulat besar kosong yang entah apa gunanya (btw, di resto ini juga banyak sesajen diletakkan di sudut-sudut. Mungkin memang tradisinya begitu, tapi nggak horor sama sekali, kok). Menuju toilet, tiba-tiba ada benda besar bergerak warna hitam. Saya KAGET banget dikirain ada ular anaconda dipelihara (iyaaa, anaknya mah emang drama banget). Ternyata itu adalah…… KUDA! Jangan terkejut dulu, karena ternyata di bagian belakang ada LIMA kandang kuda. Epic banget lah ini restoran. Hahaha. Entah apa maksudnya di bagian belakang ada kandang kuda. Lalu di bagian luar belakang ada kereta kuda macam jaman kerajaan Cinderella. Cakep sih kereta kudanya. Nah, kuda begini nih yang bikin Kaleb bolak-balik minta ke belakang mulu. Saya mah udah serem sendiri lihatnya karena walau di kandang, tetap aja itu kuda gede bener.

IMG_8377

Di belakang situ ada 5 kandang kuda dengan kuda yang besar-besar. Di tengahnya adalah tempat cuci piring massal. Mas, kok bisa cuci piring ditemani kuda-kuda, toh?

IMG_8378

Kereta kuda yang diparkir di samping restoran. Semuanya ditutupi plastik biar nggak kena debu. Bentuknya bagus banget dan mewah, dibandingkan dengan kereta kuda di Malioboro.

Btw, House of Raminten ini punya kabaret show tiap Jumat dan Sabtu malam di Malioboro,di lantai atas Batik Mirota. Harga tiketnya reguler Rp 50.000 dan VIP Rp 60.000. Saya sih nggak nonton. XD

Jadi kalau punya waktu luang bolehlah berkunjung ke House of Raminten ini. Tapi kalau lapar banget kayak saya mendingan nggak. Emosi jiwa broh nunggu makannya. Plus pas nyuapin anak jadi nggak sabar karena udah pengen makan orang aja. Hahaha!

Tempo Gelato

Tempo gelato ini lagi hits banget. Letaknya di Jalan Prawirotaman yang banyak dihuni para bule. Untuk menemukan Tempo Gelato nggak sulit karena tokonya paling rame. Cuma karena jalannya di gang dan nggak ada area parkir untuk mobil, jadi mendingan sebelum Tempo Gelato udah diparkir aja mobilnya di pinggir jalan. Kalau nggak ntar kayak saya yang harus muter balik lagi karena semakin mendekati Tempo Gelato semakin nggak dapat parkiran.

Begitu masuk udah kayak pasar, RUAME banget. Semua tempat duduk full. Jadi ya sabar aja nungguin orang yang selesai makan, ya. Untuk harganya sendiri nggak mahal: 1 cup isi 2 scoop Rp 20.000, 1 cone isi 2 scoop Rp 25.000. Ada yang lebih besar lagi sih, cuma saya lupa berapa harganya. Kami pesan yang pake cone. Setelah bayar di kasir, dikasih nomor antrian, baru nanti menuju etalase untuk pesan mau rasa apa. Walau membludak banyaknya orang tapi saya sih nggak sampai nunggu lama.

IMG_8446

Macam mau antri sembako aja, kan.

IMG_8447

Kenapa bisa enak? Jawabannya ada di atas.

Rasanya ada macem-macem banget. Kami pesan rasa caramel coffee, oreo gold, strawberry, dan vanilla. Masih ada banyak macam lainnya yang lebih unik lagi, kayak buah naga, leci, kemangi, jahe, dll.

Ukurannya besar banget. Satu scoop aja udah gede, ini dapet 2 scoop. Dijamin kenyang banget. Conenya pun enak banget untuk dimakan. Puas banget pokoknya. Oh soal rasa es krimnya bener-bener enak dan asli banget. Kayak caramel coffee, berasa bener itu kopinya. Saya pesan strawberry karena saya pikir rasanya akan kayak es krim walls yang manis karena kebanyakan susu daripada strawberry. Tapi ini rasanya asem segar kayak buah strawberry asli. Berasa makan buah beneran jadinya.

IMG_8428

IMG_8431

Gede banget kan tuh. Hampir sebadannya Kaleb.

IMG_8463

Kaleb yang jarang-jarang dibolehin makan es krim, tentunya kalau liburan boleh dong makan es krim. Dia langsung suka banget sama es krim rasa kopinya (anaknya emang suka kopi) dan habis itu satu cone gede. Uhlala enak!

IMG_8460

Penasaran kan habis ini mau ke mana lagi. Ditunggu post selanjutnya, ya.

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (1)

Post sebelumnya tentang persiapan dan perjalanannya yang heboh. Sekarang mau cerita tempat-tempat yang kita datangi selama tour de Java (aseeek!):

Soto Sokaraja Pak Suradi (Purwokerto)
Waktu di Tegal mencari tempat makan untuk sarapan (well, jatuhnya brunch karena udah jam 10), nggak ada rekomendasi tempat makan di Tegal. Akhirnya cari tempat makan di kota terdekat, yaitu Purwokerto. Di TripAdvisor rekomendasi nomor 1 adalah Soto Sokaraja Pak Suradi ini. Jadi walau jaraknya sekitar 20 menit dari Kota Purwokerto ya dijabanin aja, deh. Lagian penasaran banget Soto Sokaraja kayak gimana, sih?

Begitu sampe Sokaraja nggak terlalu sulit mencari Soto Sokaraja Pak Suradi (iyalah nggak susah, kan pake Waze hihihi). Letaknya di pinggir jalan besar. Kalau mau parkir mobil bisa masuk ke gang dan parkir di halaman restorannya langsung.

Dari luar Soto Sokaraja Pak Suradi ini terlihat kecil sampai saya ragu ini beneran bersih nggak? Enak nggak? Kok nggak meyakinkan gini tempatnya? Tapi ternyata pas masuk, dalamnya luas banget. Bahkan ada banyak halaman untuk parkir, toilet yang banyak, dan mushola. Di dindingnya ada banyak foto orang ternama seperti Pak SBY, Ahmad Albar, Indro Warkop, dll.

IMG_8202

Ini tampak ke arah depan, di belakang masih luas lagi.

Begitu masuk langsung ada etalase untuk pemesanan. Pilihannya soto semua, cuma isinya bisa pilih daging/ati, ayam, campur. Saya pilih ayam. Begitu sampai cuma sotonya aja. Saya bingung dong. Soto di Jakarta kan pasti ada nasi-nya biar kenyang. Akhirnya saya minta nasi, tapi sayangnya belum matang nasinya. :((( Eh, tiba-tiba suami bilang itu di dalam campuran sotonya udah ada lontong jadi nggak perlu nasi lagi. LOH, ada lontong? Wah, baru kali ini coba soto ada lontongnya. Yang unik lagi, sambalnya pake sambal kacang, jadi rasanya gurih, manis, nggak terlalu pedas. Saya sih nggak lihat ada sambal cabe disediakan, ya.

IMG_8197

Isinya daging ayam, kerupuk, kuah bening, lontong, dan banyak toge

Buat saya, rasanya cukup berbeda dengan soto biasa yang sering saya makan, tapi saya suka, sih. Plusnya karena pake lontong jadi nggak ribet ada 2 piring, yang satunya nasi. Dan ternyata soto pake lontong enak juga. Tapiiii… kekurangannya buat saya adalah kurang pedas. Yah, mungkin karena pake sambal kacang, bukan sambal cabe. Lain kali makan ini minta sambal cabe, deh.

Untuk 3 mangkok soto ayam, 2 kerupuk, 2 es teh manis, dan 1 es jeruk harganya cuma Rp 76.000. Murah!

Nanamia Pizzeria (Tirtodipuran, Jogja)

IMG_8254

Depannya kayak rumah biasa, nggak kelihatan besar. Masuknya lewat samping, semacam garasinya untuk ke taman belakang.

Nanamia Pizzeria terletak di Jalan Tirtodipuran. Restoran ini dipilih karena dekat banget sama hotel kami di jalan Jogokaryan. Lokasinya di dalam gang, bukan di jalan raya besar, tapi di dalam gang tersebut banyak restoran heits Jogja. Semacam di Seminyak.

Dari depan Nanamia kelihatan seperti rumah biasa. Parkiran mobilnya pun nggak besar. Tapi ternyata begitu masuk ke dalam, waaah luas banget. Konsepnya adalah backyard. Ada ruang terbuka kayak di belakang rumah dan ada di dalam juga, tapi tidak ada pintu atau sekat. Nggak ada AC sama sekali, tapi tetap adem karena ruangannya terbuka.

IMG_8251

Begitu masuk ke halaman belakang disambut dengan dekor yang cantik dan cozy

IMG_8229

Ada pojok playground kecil untuk anak-anak main. Mainan yang disediakan semacam balok-balok, lego, dan semacamnya. Karena halamannya yang sangat luas, untuk anak pecicilan kayak Kaleb cocok banget. Dia bisa main di pojokan playground atau lari-lari di halaman. Saking terkesannya Kaleb sama resto pizza ini, selama di Jogja Kaleb minta makan pizza mulu. XD

Ketika sekitar jam 6 sore kami datang, restoran udah mulai penuh. Yang datang kebanyakan bule daripada orang Indonesia. Para bule itu juga biasanya sama keluarga dan anak mereka yang masih kecil jadi Kaleb punya teman main. Kami nggak kebagian duduk di bagian luar, akhirnya duduk di bagian dalam.

IMG_8249

Ketika lihat ada Kaleb, mereka langsung memberi baby chair dan kertas gambar serta pensil warna. Wah, atentif banget. Suka sekali! Kaleb jadi ada kesibukan sambil menunggu makanan datang.

IMG_8239

Gaya kebosanan si anak kicik

IMG_8242

Dikasih kertas gambar dan pensil warna. Anak ini langsung senang. Awalnya sibuk gambar, lama-lama pensil warnanya dipake buat pukul-pukul main drum.

Kemarin kami pesan: fetuccini carbonara, satu loyang pizza, trivolli bolognaise, es teh manis, dan satu botol bir. Porsinya besar dan mengenyangkan. Paling penting rasanya gurih, enak, pizzanya tipis dan crispy. Bikin nagih banget lah. Total kerusakan untuk semua makanan adalah Rp 160.000. Good deal banget. Kalau di Jakarta belum dapat segitu, even di Pizza Hut. 😦

IMG_8245

Enak, mengenyangkan, affordable, tempat kece. Love!

Alun-Alun Kidul Jogja
Habis perut kenyang, kami melanjutkan mengunjungi Alun-Alun Selatan Jogja atau Alun-Alun Kidul karena letaknya yang dekat banget sama Nanamia. Tujuannya apalagi kalau bukan naik mobil gowes berlampu heboh.

Karena banyaknya mobil gowes di Alun-alun jalanan jadi muacet banget dan penuh orang. Kaleb mah langsung excited lihat mobil heboh penuh lampu bergambar tokoh kartun. Anaknya udah langsung mau naik aja.

Walau penuh, untuk cari parkiran nggak terlalu susah. Selama di Jogja, satu hal yang kami sadari, tukang parkirnya beneran niat kalau parkiran alias perfeksionis. Hahaha. Jadi misal ada spot kosong, suami mau parkir lah. Seperti biasa diarahin sama tukang parkir, tapi tukang parkirnya beneran arahin sampe detil banget sehingga parkirnya presisi dan rapi. Bravo hahaha! Kalau kata suami, kalau kayak gini mah kasih uang parkir rela banget karena pas parkirin masnya niat, pas mau keluar masnya juga bantuin banget. Beda yes, kalau di Jakarta tukang parkir hanya muncul pas mau ambil uang aja. Huh! Untuk tarif parkir dipatok Rp 10.000 selama apa pun. Itu resmi karena kami dikasih karcis resmi pemda.

IMG_8263

Heboh bener ya mobilnya

Sepanjang Alun-alun tinggal pilih mana mobil gowes yang mau dinaikin. Kaleb ternyata pilihannya nggak mau yang heboh, semacam Hello Kitty, Pikachu, Doraemon. Dia mau yang gambarnya sayap aja. Anakku minimalis. Hahaha. Untuk sekali putaran Rp 50.000. Semua udah sepakat harganya sama. Sempat nawar trus ditolak dan pas sok ditinggalin Mas-nya bodo amat. Ku gagal menawar. :(( Kalau menurut Mas-nya itu sekali putaran aja macet banget jadi kembalinya lama banget. Iya sih, macet banget. Ya udah deh kasihan abangnya. *lemah*

IMG_8264

Cara mengendarainya sih gampang, ya kayak naik sepeda aja cuma butuh digowes. Tapi ternyata berat juga, cyin. Kalau kata suami, “Udahlah bayar mahal, capek juga ngendarainnya. Betis jadi gede, nih!” HAHAHAHA, eymber! Tapi buat saya dan Kaleb sih menyenangkan aja. Karena Kaleb bisa duduk di pangkuan Bapake sambil ikutan nyetir (kalau naik mobil kan nggak boleh karena bahaya) dan saya bisa dengerin lagu dari DVD player yang disediakan. Lagunya tuh lengkap dari lagu anak-anak masa kini dan masa jadul sampai lagu heits terbaru. Terberkatilah ada lagu Justin Bieber dan Despacito. Hahaha! Goyang, mas!

IMG_8267

sayang anak, sayang anak!

Jadi walau berakhir ngos-ngosan, kaki pegel, tapi ijk demen lah. Terutama karena bisa lihat keramaian di Alun-Alun dan banyak banget atraksi di tamannya, kayak ada robot Transformer, orang main bubble, kostum princess, dsb. Seru, euy! Btw, di Jakarta alun-alun semacam gini di mana, sih? Monas, ya?

 

 

#KalebTrip: Persiapan Kaleb Goes to Jogja

IMG_8644

Trip kali ini direncanakan mendadak karena hayati lelah sama semua rutinitas dan haus liburan. Pas lihat kalender, wah lumayan nih tanggal 17 Agustus tanggal merah. Tinggal ambil cuti sehari dapat empat hari libur.

Kali ini pilihannya ke Jogja karena saya nggak pernah ke Jawa sama sekali. Dih, ciyan amat, sik! Waktu kecil lebih sering pulang kampung ke daerah Sumatera, atau ngikut bokap dinas ke daerah lainnya di Indonesia, kecuali Jawa.

Untuk trip kali ini kita memutuskan naik mobil. Karena saya belum pernah ke Jawa jadi sekalian aja naik mobil biar sekalian bisa lihat daerah-daerah lainnya di Jawa. Penasaran banget.

Lumayan challenging juga memutuskan naik mobil karena berarti ada satu bocah yang harus dipastikan kenyamanannya selama kurang lebih 12 jam. Huwoo, sanggupkah dirikyu dan suami? Makanya untuk planning trip ini maju mundur mulu. Iya nggak nih, iya nggak nih? Sampai akhirnya yuk cuss aja lah. Kebanyakan mikir lama-lama nggak bakal ke mana-mana. *padahal ketar-ketir :))))*

Persiapannya lumayan banyak. Pertama, suami sebagai si satu-satunya yang bakal nyetir (eike nggak bisa nyetir mobil, bok) udah mulai jaga pola makan biar bugar dan minum vitamin, serta olahraga. Penting banget nih, soalnya kalau doi drop, saya dan Kaleb gimandose nasibnyaaa?

Di mobil ada car seat yang dipake Kaleb sehari-hari kalau perjalanan singkat di Jakarta. Nah, kita mikir banget nih apakah car seat tetap dipake atau dilepas aja biar mobil lebih lega? Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya car seat tetap dipake karena: 1) hopefully selama setengah perjalanan kalau dia akan manis dan tenang duduk di car seat sehingga tidak membahayakan. 2) anak ini sungguh pecicilan banget jadi kalau nggak di car seat, dia akan bisa pindah dari depan, tengah, sampai ke kursi belakang. Luar biasa nggak bisa diamnya. Sementara kalau soal tidur, dia anaknya bisa tidur dalam posisi apapun, nggak harus tiduran jadi nggak terlalu butuh space luas. Makanya car seat to the rescue!

Kami pergi Kamis dini hari jam 3.00. Karena excited jadi nggak ngantuk. Kaleb lagi tidur langsung digotong aja masih lengkap dengan piyamanya. Untungnya dia nggak kebangun dan lanjut tidur.

Sekitar jam 6 pagi, di sekitar Cirebon, kami mampir ke rest area dulu. Kaleb kebangun dan diajak pipis dan dipakein jaket karena udah mulai dingin. Kemudian Kaleb dipindahin ke car seat untuk minum susu. Sekitar satu jam dia bangun heboh dan excited karena mau jalan-jalan. Menjelang jam 7 dia minta dipeluk karena mau tidur lagi. Oke sip.

IMG_20170817_062109

Masih manis di car seat. Wajib banget selimutnya dibawa.

Karena jam 7 dia malah ketiduran, akhirnya malah nggak jadi cari sarapan karena kasihan dibangunin. Lagian entah kenapa di Brebes dan Tegal nggak nemu restoran yang cukup proper untuk makan. Emang nggak cari sampai ke dalam-dalam sih, cuma sekedar lewatin aja. Hihihi.

Sampe jam 9 pagi Kaleb belum bangun juga. Kami pun mulai lapar. Cek TripAdvisor untuk cari restoran tapi lagi-lagi karena masih di Tegal jadi si TripAdvisor pun bilang nggak ada restoran di dekat situ. Ya udah cek daerah dekat situ deh yang kebetulan dilewatan, yaitu Purwokerto. Menurut rekomendasi no 1-nya TripAdvisor ada tempat makan: Soto Sokaraja yang beken banget. Memutuskan untuk ke sana, tapi ternyata butuh 1,5 jam lagi dari Tegal. Jauh, yes!

Untungnya bertepatan banget udah di Purwokerto, Kaleb bangun. Pas banget lah untuk brunch. Wakakak, sekalian makan siang ini mah. Oh ya, selama liburan ini saya nggak keukeuh untuk makan tepat waktu karena nggak tahu kondisi jalannya gimana. Bebas aja lah, apalagi ada anak kicik. Yang penting, selama perjalanan wajib ada susu, cemilan, dan pisang buat ganjel dulu. Selain itu, saya nggak wajibin Kaleb makan yang sehat menu 4 bintang *duileh* dan banyak. Yang penting, sering dikasih makan, cemilan, dan anaknya suka. Soalnya kalau maksain anaknya makan banyak dan sehat terus, bisa gila lah mamak ngadepin Kaleb yang suka-suka dia aja. Pagi bisa males makan, siang nanti 3 kali minta makan, malam maunya buah aja. Sok, suka-suka mu lah. Karena pergi cuma bertiga aja, ketenteraman jiwa diutamakan. Hahaha.

Lanjut lagi ke Purwokerto, kami makan di Soto Sokaraja (nanti akan di-review terpisah, ya). Setelah makan, langsung cuss ke Jogja. Kaleb ditaruh lagi di car seat karena udah segar. Lalu, dia dikasih nonton Youtube biar tenang. Anaknya sih awal-awalnya senang, tapi lama-lama dia bosan. Zzz. Oh ya, di tengah perjalanan tiba-tiba Kaleb kayak mau muntah. Trus saya tanya, “Kaleb kenapa?”. Doi cuma jawab, “Mau muntah tadi.” Saya pastikan lagi dia masih mau muntah nggak. Dia jawab nggak sih dan mukanya juga bisa lagi. Eh, tapi 15 menit kemudian, dia tiba-tiba bilang, “Mau muntah!”. Saya perhatikan dulu mukanya, kayak biasa aja. Saya memastikan lagi, “Mau muntah kenapa?”. Lalu dia jawab, “Perutnya sakit.” Akhirnya menepi dulu karena Kaleb mau muntah. Dan beneran, anaknya muntah 2 kali. Walau dengan muka ketawa-ketawa aja. ADOOOH, anakku mabuk darat! Hahaha.

IMG_20170817_140828

Sesaat setelah muntah. Kaleb masih pake baju rumah karena ya belum ganti dari pergi. Hahaha. Entahlah Bapake lagi ngapain itu. :)))

Setelah memastikan Kaleb nggak mual lagi, akhirnya lanjut perjalanan. Kali ini Kaleb dibiarkan nggak duduk di car seat biar bebas. Dan benar, saking bebasnya doi loncat-loncatlah, nggak bisa diam. -__-Β  Total butuh 12 jam untuk sampai Jogja dari Jakarta. Not bad, dengan 2 kali berhenti masih sampai tepat waktu. Yeay!

Nah, pulangnya ternyata lebih challenging banget nget. Jadi kami pulang dari Jogja sekitar jam 10.30 pagi. Ternyata salah besar karena jalan siang hari itu banyak amat hambatannya dan lebih banyak kendaraan yang lewat.

Awalnya terasa cepat dan lancar. Bahkan kami makan siang cukup tepat waktu jam satu siang di Waroeng Djoglo, Kebumen, dengan pemandangan yang cakep banget berlatar belakang sawah dan gunung. Cantik!

Hambatan muncul setelah dari Kebumen. Pertama, Kaleb bilang dia mau muntah. Okelah, berbekal pengalaman sebelumnya akhirnya kami menepi di pinggir jalan. Anaknya ternyata nggak muntah, cuma kayak buang ludah. Ditungguin juga nggak muntah. Ternyata doi bosan di mobil dan pengen keluar aja jadi bilang mau muntah. -____-”

IMG_20170820_152211

Nggak pake sepatu karena dilepas di mobil. Nggak sempat pasangin lagi.

Lanjut lagi perjalanan. Satu jam kemudian, Kaleb bilang mau pup. Hadeuh PR banget ya mau pup di tengah jalan antah berantah. Tapi daripada nanti pup di dalam mobil, jadilah kami suruh tahan sebentar sambil mencari rest area. Dapetlah itu rest area, tapi WC-nya jongkok, sementara Kaleb selama ini selalu pake WC duduk. Hahaha, tauk deh gimana jumpalitan Bapake ajak Kaleb pup (bagian jorok-jorok emang Bapake aja karena Mamak jijikan. XD).

Habis pup, perjalanan pun dilanjutkan. Kaleb udah nggak mau duduk di car seat dan nggak mau tidur pula. Sungguh lah, dia heboh lompat sana sini, ke depan, tengah dan belakang. Ribet cuy!

Tiba di Ajibarang masih lancar dan hati senang. Eh, tapi ternyata jalan utama Ajibarang ada car free day jadi semua mobil nggak bisa lewat. Bayangin aja, car free day berisi pawai-pawai jam 6 sore. Ajegile! Akhirnya sempat muter-muter cari jalan lain karena Waze kekeuh balikin lagi ke jalan utama Ajibarang ini. Pindah pake Google Maps dan dibawa ke jalan kecil, gelap, dan jauh. Oh no! Tapi nggak ada pilihan lain.

Itu udah malam, nggak ada lampu jalan, gelap banget, nggak bisa lihat apakah di sekitar situ ada tempat makan yang cukup layak. Duh! Sampai di Kretek, ternyata ada buka tutup jalan! Ada pembangunan fly over dan harus gantian lewatnya. Kesel, deh karena kami benar-benar harus stop matiin mesin selama sejam dengan perut kelaparan dan gelap gulita. Saking bosannya, Kaleb akhirnya ketiduran.

Saking hopelessnya karena baru bisa jalan jam 9 malaman lagi, saya pun bilang apa harus nginep di Cirebon aja ya? Udah malam, capek, masih jauh pula. Tapi suami keukeuh jalan aja karena tanggung udah lebih dari setengah jalan. Yoweislah.

Saya bilang, nanti kalau ada rest area harus mampir untuk makan. Begitu masuk tol Paliaman, mampirlah ke rest area pertama dan makan CFC yang menunya hambar semua. Itu udah jam 22.30 malam. HOOOOHHH! Kaleb di sini bangun, makan dengan lahap, heboh lagi lari-lari karena dia senang keluar mobil. Suami sempat tidur sebentar tapi karena Kaleb heboh di mobil, dia ya nggak bisa tidur juga.

Untungnya, tiba-tiba Kaleb bilang dia mau duduk di car seat dan pake selimut. Kemudian dia tidur aja, sodara-sodara! Lega banget karena akhirnya ketenangan didapatkan. Hahaha. Bapake kayaknya udah ngantuk banget, jadi kami menepi lagi untuk tidur dan cuci muka. Dan itu udah jam 2 pagi! MOLOR BANGET GILA!

IMG_20170820_153244

Mau pake car seat tapi nggak mau diikat katanya. Bebas!

Sampai akhirnya Bapake mikir kalau mampir-mampir terus, bakal makin telat sampainya dan makin bikin kesal. Jadi setelah power nap, dengan kekesalan dan kelelahan jiwa, kami pun jalan lagi. Rasanya mau nangis lho nggak sampai-sampai. Kangen banget tempat tidur. Dan kami sampai jam 4.30 subuh! 18 jam di jalan dengan supir tunggal, sodara-sodara!

-___________________________________-* lelah Hayati.

Untungnya Kaleb tertidur sampai rumah di car seat. Begitu sampai, dia kebangun sebentar, happy udah sampai rumah, langsung nanyain, “Papa, Mika mana? Kaleb mau peluk kangen.” SO SWEET AMAT ANAKKU! Yang diinget malah anjingnya. Hahaha. Lalu dia samperin mainan ride on truk-truknya, dimainin keliling rumah, lalu tidur lagi. Kaleb nailed his first road trip dengan sangat baik, nggak rewel, selalu happy, dan mau makan. YEAY!

Overall, perjalanan ini sungguh menyenangkan, kayak pengalaman, dan kayaknya kalau nggak sejauh Jogja mau deh ngulang road trip lagi. Hihihi. *nggak ada kapok-kapoknya mbake!*

Tunggu postingan selanjutnya untuk tempat-tempat yang kami datangi, ya. Stay tune! πŸ˜€

 

 

Akhir Kisah Menyusui

Dua bulan sebelum Kaleb berulang tahun kedua, saya mulai sering bilang ke Kaleb bahwa dia sudah besar dan waktunya berhenti nenen. Setiap malam sebelum tidur, saya bilang begitu terus karena anaknya belum bisa tidur tanpa nenen kalau ada saya. Hasilnya, dia ngamuk. Kaleb nangis dan bilang, “Mami, Kaleb mau bayi terus aja.” XD

Kan awal menyusui baik-baik, ya. Kaleb suka, Mamak suka. Yuk, lanjutin nenen. Makanya berhentinya pun maunya baik-baik. Nggak pake paksaan. Jadi, kalau Kaleb ngamuk, ya udah lep kasih nenen lagi lah. Saya anggap dia belum siap. Nanti dia bakal siap sendiri kok. Plus, saya malas kalau udah mau tidur malam, saya udah capek dan ngantuk, masih harus dengerin anak drama nggak dikasih nenen. Lelah hayati. Hahaha. Karena itu juga, saya nggak pernah berusaha melarang dia untuk nenen. Peraturannya, kalau udah 2 tahun adalah hanya nenen kalau mau tidur. Nggak di tempat umum, nggak di mobil, nggak di mana-mana. Hanya di tempat tidur. Sip, ya.

Pas umur ulang tahun kedua, anaknya tetap keukeuh harus nenen. Hiyaa, mana ini ungkapan kalau anaknya diberi pengertian jauh-jauh hari akan paham. Kaleb menolak keras untuk berhenti nenen. Nenen is a must lah! Akhirnya saya pasrah aja kalau Kaleb akan nenen lebih dari usia 2 tahun dan yo weislah toh nenen nggak memberikan dia pengaruh buruk, kan?

Tapi sebenarnya saya kali yang nggak siap untuk stop nenen. Iya, saya bosen nenenin tiap mau tidur, iya saya capek harus tidur miring terus, tapi dalam hati saya nggak siap melepaskan anak sendiri untuk lebih mandiri. Makanya saya nggak pernah benar-benar berusaha untuk dia stop nenen. Sepertinya saya lagi mengumpulkan kesiapan, begitu pun Kaleb. Stop dari aktivitas yang 2 tahunan ini bikin kita lengket kayak amplop dan perangko ternyata nggak mudah, ya.

Sambil mengumpulkan kesiapaan, saya terus bilangin dia tiap hari untuk berhenti nenen karena udah besar. Cuma bilangin aja, sih. Nggak maksa. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu dia sungguh sangat posesif sama nenen, udah ketiduran pun begitu saya lepas dia tersadar dan berusaha nenen lagi. Masalahnya, giginya kan udah banyak ya, jadi sering banget nggak sengaja kegigit. Duh ampun, sakit bos! Dulu pas dia tumbuh gigi kayaknya cuma sekali tetek saya digigit dia, habis itu nggak pernah lagi. Lah, ini udah besar malah sering nggak sengaja kegigit. Keinginan untuk stop nenen jadi membesar dan saya makin siap.

Perlahan-lahan saya mengubah sugesti saya ke Kaleb karena setelah dipikir-pikir kalau makin dilarang, dia pasti makin sebel. Gila, nenen adalah hal paling favorit dari lahir sampai sekarang kok malah dilarang? Ya no way jose lah. Itu pasti sesuatu yang bikin dia merasa nyaman banget. Jadi ya nggak perlu dipaksa. He would know when to stop. Kalau mau tidur dan dia minta nenen, saya bilang, “Oke nenen sebentar aja ya, nanti Mami elus.” Maksudnya elus punggung dia sambil ketiduran. Dan ternyata dia paham lho. Jadi tiap nenen, saya kasih waktu sekitar 5 menit, lalu saya bilang, “Yuk Kaleb, nenen udahan. Mami elus.” Dia pun langsung stop dan balik punggung untuk dielus. Oh, ternyata ungkapan yang lebih positif bikin dia lebih secure. Nggak menakutkan kayak waktu disuruh stop nenen.

Keadaan nenen bentar dan elus ini seiring-iring berubah karena Kaleb lebih memilih untuk habis nenen, mending pegang tetek. XD Ya udahlah saya pikir, nggak capek ngelus punggung dia sampai ketiduran pula.

Sekitar 3 minggu lalu, Kaleb demam. Seperti biasa demam pasti bikin dia nggak bisa tidur dan milih untuk digendong saya mulu. Pegel, bok! Waktu itu saya pikir kalau gendong sambil duduk, saya juga bakal capek karena nggak bisa tidur. Jadi saya bilang ke Kaleb gendong, tapi sayanya sambil tiduran. Jadi posisinya dia tidur di atas dada saya sambil saya peluk. Dia pun ketiduran sambil pegang tetek saya.

Nah sejak itu, setelah nenen, dia minta tidur digendong sambil pegang tetek. Tapi 2 minggu ini, out of nowhere, nggak dipaksa, nggak disuruh, tiap mau tidur dia nggak merengek minta nenen, tapi langsung bilang, “Mami, mau tidur diendong aja.” Awalnya saya nggak sadar sih dia nggak nenen lagi, sampai suatu hari pas saya ingat-ingat, lho udah seminggu Kaleb nggak nenen. Dia cuma minta minta diendong sambil pegang tetek sebelum tidur aja.

Is it the time for he’s weaning himself?

Jadi saya perhatikan lagi deh seminggu ke depannya. Iya, nggak minta nenen, lho. Tapi sekarang ritual tidurnya begini: masuk kamar, matiin lampu, tak lupa dia cek tetek saya. Kalau masih pake BH, dia akan bilang, “Mami, buka BH-nya!” HAHAHAHA. Tiap hari dia ingetin saya buka BH. Lalu dia sambil tiduran pegang tetek saya dia pernah bilang, “Mami, kok teteknya kecil?” Saya cuekin. Dia tanya ulang lagi. Asem! :))) Teteknya kecil kebanyakan nyusuin kamu!

Jadi kayaknya ini akhir perjalanan menyusui saya. 2 tahun 4 bulan. LEGA banget karena akhirnya bisa stop menyusui tanpa drama dan ternyata kalau dua-duanya siap emang semudah itu. :’)

Apakah saya kangen moment menyusui? BELOM ya! :))) Gilakkk, I finally have my freedom. Saya nyusuin sambil tiduran itu bukan berarti ikutan tidur karena saya orangnya gampang kebangun. Nggak bisa posisi kaku miring trus ketiduran. Pasti harus nunggu anaknya selesai nenen dulu baru ketiduran. Baru sadar 2 tahun 4 bulan tidurnya begitu terus. PEGEL, cing!

Tapi bukan berarti selalu mulus, ya. Kayak tadi malam, Kaleb tiba-tiba ingat nenen dan bilang, “Mami, mau nenen.” Wah, deg-degan juga saya. Apa nanti kalau nggak dikasih dia akan ngamuk? Saya bilang, “Nggak usah nenen, deh. Mami gendong aja, ya.” Dan ya udah dia diam, trus oke digendong. Mungkin dia lagi kangen momen nenen, ya.

Belum lagi Kaleb baru bisa tidur sepanjang malam itu pas umur 2 tahun. Sebelum 2 tahun, ya masih kebangun-bangun untuk nenen. Saya emang nggak sleep training dia. Karena saya lebih baik tinggal buka baju nyusuin bentar, lalu dia tidur lagi; daripada malam-malam ngadepin Kaleb ngamuk, susah dibalikin tidur lagi, dan bikin saya jadi zombie di kantor karena kurang tidur. No, buat saya tidur cukup itu penting dan saya nggak perlu drama persusuan tengah malam. Hahaha. Makanya pas Kaleb umur 2 tahun dia tiba-tiba tidur sepanjang malam, malah sayanya yang kaget. Saya masih otomatis kebangun tengah malam, trus bengong mikir, “Anak gue kok tumben belum kebangun buat nenen?” Eh, ternyata anaknya mutusin perlahan-lahan untuk mengurangi frekuensi nenen dia. :’)

Jadi, saya pikir anak tuh cukup pintar untuk mengatur waktunya sendiri. Kapan dia siap untuk mandiri secara emosional. Orang tua tuh cuma bantu aja, jangan maksa, tapi encourage dia dengan positif. Waktu proses weaning pun, saya nggak akan ingetin dia untuk nenen. Jadi saya diemin aja. Kalau dia minta nenen, saya kasih. Tapi kalau nggak minta, saya nggak akan sodorin. Kalau kita sodorin lagi, misal pas dia lagi ngamuk biar cepat berhenti ngamuknya, nanti nggak konsisten dan dia nggak akan siap-siap untuk lebih mandiri.

This whole breastfeeding journey worth all the pain, nipple cracking, never ending pumping sessions, all the breastfeeding boosters, sleepless nights, swollen breasts, and all those troubles we’ve got. Because in the end, breastfeeding isn’t just about milk, it’s about love.

I make milk. What’s your super power? πŸ™‚

Toilet Training Kaleb

Kaleb udah sekitar 3 bulanan ini belajar toilet training. Awalnya karena saya pikir dia udah usia 2 tahun, belum mau lepas nenen, dan belum toilet training sama sekali. Hm, harus ada yang dicapai nih karena kan dia semakin besar, harus semakin mandiri. Untuk berhenti ASI karena buat saya dan Kaleb sifatnya sacred (satu-satunya yang nggak bisa digantiin siapapun ya cuma kegiatan nenen ini. Only me and Kaleb), jadi saya menyerahkan keputusan dan kesiapan Kaleb untuk berhenti. Yah, walau saya selalu mengingatkan dia kalau sudah besar dan waktunya berhenti, lho. Tapi dia belum mau, jadi ya sudah.

Nah, untuk toilet training awalnya juga ragu. Dia cuma mau pup kalau mau mojok di sudut ruangan. Dibawa ke toilet selalu ngamuk. Berkali-kali dicoba dan gagal. Benar-benar pesimis, deh. Tapi toh saya pikir, dia sebenarnya sudah bisa, kok. Dia sudah bisa bicara, bisa membedakan mau pipis dan pup, tahu letak toilet, bisa membuka celana sendiri. Jadi mari kita coba.

Awalnya saya pakai training pants yang bentuknya lumayan tebal sehingga kalau pipis nggak langsung basah ke lantai. Tapi toh itu cuma punya 3 doang. Yang lainnya, saya pakai celana dalam biasa karena tujuan akhirnya kan pake celana dalam, ya.

Ternyata saya suka underestimate Kaleb karena toh dia bisa, lho. Di hari pertama dia lepas diapers, dia cuma gagal sekali pas pipis lagi tidur. Wajarlah, namanya lagi tidur jadi dia pasti nggak bisa nahan pipis. Tapi untuk pup, surprisingly dia nggak pernah gagal. Awalnya ngamuk nggak mau ke toilet, tapi lama-lama dia paham untuk pup di toilet. Dia sekarang kalau mau pup selalu bilang.

Nah, kalau pipis ini yang masih jadi masalah. Tiap hari di rumah udah no diaper. Tiap jam diajak ke WC. Kadang-kadang dia malah iseng bilang mau pipis, padahal pipisnya dikit banget. Ya udah gpp, demi keberhasilan nggak pipis di celana, kan. Tapi kalau dia udah sibuk main dan heboh, dia ya lupa bilang pipis. Kadang-kadang saya merasa dia nggak lupa bilang pipis sih, tapi dia nggak mau waktu mainnya diganggu atau diberhentikan dengan harus ke toilet. Jadi ya dia sibuk aja main.

Yang lucu karena pernah dia kebelet pas jalan-jalan, akhirnya Opungnya suruh pipis di pinggir got. Lah, habis itu dia nggak mau pipis di toilet, maunya di halaman rumah atau got! Pernah ke Ancol, dia bilang mau pipis. Opungnya udah ajak ke toilet mall, eh dia nggak mau pipis. Pas mau masuk mobil dia bilang mau pipis, tapi maunya di jalanan aja. Hadeuh! -_____________-*

Alasan mau pipis ini dijadikan Kaleb untuk main-main air. Jadi kalau lagi di mall atau di mana gitu, dia bilang mau pipis biar dia bisa main flush di toilet. Udah dibawa pipis, trus nanti 5 menit kemudian dia bilang mau pipis. Padahal kalau dibawa masuk ke kamar mandi ya nggak pipis juga, cuma mau main air. Zzz!

Untuk tidur malam, Kaleb masih pake diaper karena mamaknya masih males bangun tiap beberapa jam untuk ajak dia pipis. Lagian anaknya tipe yang kalau dibangunin pas masih ngantuk dia ngamuk, plus drama, trus nanti susah ditidurinnya karena dia udah sadar. Mamak pingsanlah kalau sampai kurang tidur. Tapi sebelum tidur dia diajak pipis dulu sih dan pas bangun diajak pipis lagi.

Jadi selama 3 bulan ini udah lumayanlah, tapi masih belum berhasil 100%. Ada yang toilet trainingnya sudah berhasil? Ceritain, dong. πŸ˜€

Anak Berani

IMG_20170730_131847_910

Kemarin Kaleb baru aja vaksin Hepatitis A dan Typhoid. Tinggal sisa vaksin Hepatitis A ulangan 6 bulan lagi dan MR di Puskesmas bulan Agustus nanti, vaksin selanjutnya akan diulang 3 tahun kemudian alias pas umur 5 tahun. HORE! Mamak akhirnya bisa santai dan tarik napas dulu dari dunia pervaksinan ini yang menguras dompet. Hahaha. Demi anak!

Dua hari sebelum vaksin, saya udah sering kasih tahu Kaleb akan divaksin yang berarti akan disuntik lagi. Dua bulan sebelumnya Kaleb divaksin dan dia nangis sebentar pas disuntik, tapi setelah selesai sih diam lagi. Jadi sebenarnya dari bayi Kaleb nggak pernah yang sampai menjerit heboh ketakutan kalau disuntik.

Kebetulan suasana tempat vaksinnya menyenangkan karena banyak mainan jadi Kaleb malah sibuk main. Pas mau masuk ke ruang dokter, dia bawa mainannya juga. Melangkah dengan pasti. Hihi.

Tiba saatnya disuntik, dokter tanya, “Kaleb mau duduk di tempat tidur atau dipangku?”. Kaleb bilang mau duduk di tempat tidur, tetep sambil bawa mainan truknya. Dia lihat dokter sedang mempersiapkan suntikannya dan dia bilang, “Nanti Kaleb disuntik di sini, ya.” sambil tunjuk pahanya. Bad ass abis! Nggak takut. Hahaha!

Tapi akhirnya Dokter minta dipangku mamanya karena takut nanti pas disuntik meronta kaget dan jadi susah disuntik. Beklah! Kaleb duduk di pangkuan saya, lalu dokter mulai menyuntik Kaleb. Anaknya menggeliat kesakitan pada saat disuntik, tapi …. NGGAK NANGIS. Dia cuma bilang, “Sakit!”

Kemudian, beralih ke paha satunya lagi untuk disuntik. Dan lagi-lagi Kaleb nggak nangis! Habis itu dia turun dari pangkuan dan kembali main.

Saya yang bengong karena anak 2 tahun ini berani banget pas disuntik dan nggak nangis. Soalnya dulu waktu saya masih kecil, tiap mau disuntik saya mah udah kayak cacing kepanasan, lari sana-sini menghindar, bahkan sampai ngumpet di bawah meja dokter. Saya baru nggak nangis pas disuntik itu pas SD mau vaksin di sekolah karena gurunya mengancam kalau nangis akan disuntik 2 kali. YA MENURUT LO AJA. Satu kali aja bikin semaput, ini mau 2 kali. Sejak itu saya nggak nangis karena setelah dipikir-pikir ternyata sakitnya gitu doang.

Balik lagi ke Kaleb. Keluar dari ruang dokter, saya nanya ke dia, “Kaleb, tadi gimana rasanya pas disuntik?”

“Sakit sedikit aja.” kata Kaleb.

Ebuset, jawabannya aja bikin saya kaget. Sakit sedikit bok bilangnya! Hahaha!

Jadi Mamak boleh ya kembang kempis, dada membuncah penuh rasa bangga karena anaknya berani banget disuntik dan nggak pake drama. πŸ˜€

Selamat hari Senin! πŸ™‚

 

 

Review: Kids@work

IMG_20170723_162138

Kemarin Kaleb main di Kids@work Gandaria City. Udah lama sih emaknya pengen bawa Kaleb main ke sini karena Kaleb kan suka banget sama segala sesuatu yang berbau truk dan kawan-kawannya. Tapi karena jarang ke Gandaria City, plus itu mahal (Rp 150.000 untuk 3 kali alat @5 menit) jadi yah belum jadi-jadi. Untungnya kemarin aunty-nya yang ajak. Horee!

Kids@work di Gandaria City adalah tempat main yang temanya Under Construction (sama kayak tema ultah Kaleb kemarin ya. Hihihi). Di sana anak-anak bisa experience menjalankan escavator beneran. Di tengah-tengahnya ada pasir. Anak-anak akan dikasih jaket dan topi pengaman kayak pekerja konstruksi beneran. Ada sekitar 5 escavator dengan fungsi yang berbeda-beda. Kalau masih kecil banget kayak Kaleb bisa ditemani sama pendamping, sih.

Nah, kemarin pas lewatin Kids@work ini Kaleb excited banget karena sesuai dengan kesukaan dia. Pas diajak main, awalnya excited banget bisa menjalankan si escavator. Eh, nggak menjalankan beneran sih, karena dia kan masih cukup kecil jadi ya dibantu pendamping dia cuma ikut-ikutan aja di kemudi. Tapi lama-kelamaan dia bosen karena ya selama 5 menit gerakannya itu-itu aja dan dia nggak terlalu paham cara menjalankannya, escavatornya juga diam di tempat. Jadi sebelum 5 menit, dia merengek cobain yang lain. Begitu cobain yang lain, bosen lagi juga dia karena gerakannya itu-itu aja. Yang ada dia malah pengen udahan karena udah ke-distract tempat mainan sebelah yang lebih heboh. Untung ya bukan Mamak yang bayarin. HAHAHAHA!

IMG_20170723_162400

Kesimpulannya, untuk anak umur 2 tahun belum terlalu cocok sih karena mereka belum terlalu paham cara kerjanya. Ditambah Kaleb punya ride on escavator di rumah yang sering dibawa ke taman yang ada pasirnya sehingga dia punya otoritas penuh untuk angkat dan turunin pasir, serta jalanin escavatornya. Kalau escavatornya besar kayak di Kids@work dan cara memainkannya agak rumit bikin anak 2 tahun nggak tertarik, nggak bisa jalan juga escavatornya.

Selamatlah uang Mamak, ye kan? Hihihi.

Drama Tantrum Kaleb

Akhirnya masa-masa anak kicik manis penurut tergantikan juga dengan masa TANTRUM. Selamat datang anak guling-guling sambil ngamuk teriak-teriak ketika keinginannya tak terpenuhi *mamak pijat kepala*.

Kayak pagi ini, anaknya tantrum pas saya lagi mau berangkat kerja. Mana udah telat lagi karena bangunnya kesiangan *huft* Pas saya siap-siap Kaleb masih tidur nyenyak kayak malaikat. Lalu bapake selesai mandi dan mau ganti baju jadi nyalain lampu (tidur selalu dengan lampu dimatikan). Anaknya kebangun dan minta lampu dimatiin. Baiklah, bapake matiin lampu.

Kemudian datanglah saya yang gantian mau pake baju habis mandi, nyalain lampu. Anaknya nyuruh matiin lampu, tapi karena saya nggak bisa lihat apa-apa dan sebagai cewek ribet kan ya harus milih baju dulu, dandan dulu, pake softlens, dan seabrek kegiatan lain yang manalah bisa dilakukan dengan keadaan mati lampu. Akhirnya saya bujuk-bujuk, anaknya minta susu. Diambilin susu, tapi dia nggak mau. Lanjutlah dengan serial ke-cranky-annya. Ngamuk-ngamuk, saya nggak boleh dandan, minta digendong terus. Akhirnya batal lah dandan dan sisiran, udahlah entar aja. Matiin lampu kamar aja biar anaknya tenang. Tenang, dong?

Tentu tidak.

Anaknya karena udah cranky lanjut dramanya. Minta saya tidur aja nemenin dia, mamak nggak boleh kerja. Lanjut ngumpet di balik gorden, nutup pintu kamar, guling-guling marah, dibujuk apapun nggak mau. Pening!

Kalau lagi cranky gini, saya sebisa mungkin tetap tenang dan nggak terpengaruh. Karena semakin kita emosional, dia akan makin parah ngamuk-ngamuknya. Biasanya saya akan bilang, “Kalau Kaleb udah selesai ngamuknya, Kaleb datang ke Mami bilang Kaleb kenapa, ya.” trus ya udah saya biarin dia nangis aja sampe keluar semua emosinya. Tapi berhubung ini pagi-pagi, udah telat, dan dia pake tantrum segala, mau nggak mau saya bujukin. Berhasil? Ya gagal, dong.

Mau saya gendong tapi dia terus meronta-ronta jadi nggak bisa digendong. Dibujuk bapake juga gagal. Ya udah saya pura-pura mau pergi keluar, eh dia keukeuh di dalam. Kuat-kuatan aja sih kalau kayak gini. Saya bertahan di luar beberapa saat, sampai akhirnya dia ke luar juga. Pas di luar lanjut tantrumnya. Dia guling-guling di pagar depan rumah sampe diliatin tetangga. Hohoho.

Prinsip paling penting dalam menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, percaya diri, dan tidak jadi panik yang akhirnya malah bikin anaknya merasa bisa menguasai kita. Jadi saya santai aja bilang, “Mami tunggu Kaleb di mobil, ya.” Pada akhirnya bapake sih yang gendong anaknya ke mobil. Hahaha. Di mobil dia dipeluk dan lebih tenang. Huft sungguh drama pagi.

Kemarin di twitter ramai banget karena ada yang bilang kalau anak-anaknya ngamuk tolonglah diurusin karena ganggu sekitarnya. Orang yang bilang belum punya anak. Ehehehe. -_-*

Sungguh lho kalau ada pilihan ibuk-ibuk juga males banget ngadepin anak tantrum. Belum lagi kalau tantrum di tempat umum pasti lah orang-orang akan menghakimi, malu, dan panik karena sebagai orang tua kita juga merasa akan mengganggu ketenangan sekitar, nih. Pressure banget!

Tapi yang bisa kita lakukan cuma tenang dan nggak panik, abaikan tatapan menghakimi orang lain. Salah satu cara biar anak tantrum tenang adalah ya didiamin aja. Tunggu mereka tenang, barulah kita bisa ngomong. Bisa juga sih kita ajak dia ke tempat yang lebih sepi. Tapi kalau kasusnya kayak Kaleb, dia jadi susah digendong karena meronta-ronta dan menggeliat sehingga saya kehilangan keseimbangan dan bisa bikin dia jatuh. Ribet cuy mindahinnya.

Perlu dicatat, tantrum itu bukan karena anaknya bandel atau nggak diajarin, ya. Tantrum itu emang proses yang biasanya akan dialami anak seumuran Kaleb atau pas balita karena mereka nggak ngerti bagaimana harus mengekspresikan emosi yang mereka rasakan karena rasanya campur aduk, plus mereka pengen cari perhatian biar keinginannya diturutin. Masalahnya, nggak semua hal bisa diturutin, kan. Jadi janganlah menganggap anak tantrum itu nakal, atau orang tuanya nggak becus ngurusin anaknya.

Sejak punya anak dan tahu hal seperti ini, setiap melewati ibu yang lagi membujuk anak tantrumnya saya cuma akan senyum sama ibunya dan ya udah lewat aja. Nggak pasang muka terganggu. Si ibu pun akan lebih tenang menghandle anaknya sehingga tantrum anaknya akan cepat selesai.

Jadi ada yang anaknya suka tantrum juga? Tos yuk!