Main Di Luar

Bulan lalu Kaleb sakit. Demam diserta batuk dan pilek. Sebenarnya biasa aja ya anak kecil sakit demam, batuk, pilek, tapi ini benar-benar lemas, nggak ada makanan yang masuk, dan muntah. Saya tadinya mau strict ke aturan 3 hari demam baru dibawa ke dokter. Tapi pas hari kedua, Kaleb telepon dari rumah bilang, “Mami, Kaleb mau ke dokter.” Wah, mungkin anaknya udah berasa nggak enak banget, ya. Ya udah, minta tolong sama nyokap untuk anterin Kaleb ke dokter. Jadi anaknya terkena bakteri yang bikin batuk dan demam. Dikasih lah obat racikan, obat mual, dan antibiotik. Dokter saya ini kebetulan dokter yang nggak akan pernah resepin antibiotik kalau nggak perlu. Waktu dulu Kaleb sakit aja dia pernah cuma resepin madu doang. Dan bener sembuh.

Nah, karena batuk-batuk dan curiganya alergi, banyak yang nyaranin untuk bawa ke pantai pagi-pagi. Kabarnya udara pantai baik untuk pernapasan, sekaligus dijemur juga. Jadilah selama 2 minggu berturut-turut kami menghabiskan waktu di Ancol. Selain itu, kami juga jadi menerapkan lagi lebih sering main di luar daripada di mall biar bakteri dan virus yang mutar-mutar di ruangan tertutup nggak tertular ke Kaleb.

Ancol Beach City dan Ecopark
Pilih di Ancol Beach City karena pantainya paling bersih dan nggak rame. Jadi menyenangkan banget buat anak main-main. Selain itu, deket sama mall-nya dan Indomaret jadi kalau ada perlu apa-apa bisa langsung beli di situ. Oh ya, masuknya gratis dan parkirnya juga gampang di dalam mall.

Kaleb senang banget main di sini karena kalau pagi banyak anak-anak juga di sini. Jadi biasanya saya udah bawa perlengkapan buat main pasir dan biarin aja dia main entah di pasir atau di pinggir laut. Jangan lupa dipakein sunblock ya biar nggak hitam. Hihihi.

Biasanya kalau matahari udah mulai terik, saya pindah ke Ecopark untuk main di tamannya. Di sana ada penyewaan sepeda, tapi Kaleb bawa sepeda sendiri karena lebih nyaman. Bawa sepeda sendiri kena charge Rp 35.000. Lebih untung sih karena kalau sewa sepeda Rp 35.000 per jam.

Kaleb juga senang banget main di sini karena dia lagi senang-senangnya bisa main sepeda sendiri. Plus, di taman super gede gini mah dia bisa lari-lari sepuasnya. Jumpalitan juga bisa.

Nah, susahnya kalau main di Ancol adalah….anaknya nggak mau diajak pulang. XD

The Playground, Kemang
Udah mau ke The Playground dari dulu, tapi belum sempat karena nggak terlalu suka ke daerah Kemang yang macet banget. Zzz! Tapi akhirnya kesampaian karena kebetulan ada beberapa tujuan yang letaknya di Kemang semua jadi pas-lah.

Letaknya di daerah perumahan dan bukan daerah pinggir jalan. Kalau saya sih suka banget tempatnya yang masuk ke dalam ini jadi udaranya masih enak. Kalau ke The Playground jangan lupa bawa baju renang karena ada tempat untuk mainan airnya.  Tiket masuknya Rp 75.000 sepuasnya, sudah termasuk 2 orang pendamping. Enak banget kan. Biasanya pendamping cuma boleh satu aja.

Jam paling menyenangkan untuk datang adalah sore hari karena udah nggak terlalu panas. Tempatnya menyenangkan. Ada cafe kecil kalau mau makan (tapi mahal, nggak boleh bawa makanan dari luar), tempat duduk dan meja tunggu terletak di mana-mana jadi enak.

Mainannya pun beragam, ada jalur main sepeda juga jadi silahkan bawa sepeda, dan ada lapangan basket kecil untuk anak-anak. Kaleb senang banget main di sini. Nah karena mainnya pas sore dan kita nggak kepanasan, jadi Kaleb kami biarin main sepuasnya sampai dia yang minta pulang sendiri.

img_20180529_153135img_20180529_153138img_20180529_160723img_20180529_161034img_20180529_163613img_20180529_163620

Btw, di sini banyakan keluarga bule gitu yang datang. Jarang banget sih orang Indonesia-nya jadi gemes sendiri liat Kaleb main sama anak-anak bule dan saling ngobrol bahasa sendiri-sendiri tapi tetap paham. Hahaha.

Oh bonus, pulang dari The Playground kami ke Dia.lo.gue di Kemang juga karena ada pameran Namaku Pram, mengenai penulis Pramoedya Ananta Toer. Pamerannya gratis dan saya belajar banyak mengenai beliau. Sayangnya 3 Juni kemarin pamerannya udah selesai. Semoga banyak pameran kayak gini lagi ya karena menambah pengetahuan banget. :’)

img_20180529_1748381img_20180529_1748561img_20180529_175029img_20180529_175430img_20180529_175548_hhtimg_20180529_180223_hht

Dan tak lupa foto-foto di tangga terkenal-nya Dia.lo.gue.

Advertisements

Seru-Seruan di Kuntum Farmfield

Holaaaaa! Setelah hampir 1 bulan nggak ngeblog karena kerjaan lagi datang bertubi-tubi banget sampai hampir nggak sempat blog walking, apalagi nulis blog. Fiuh! Untung sekarang udah agak santai, jadi mari kita ngeblog.

Dua minggu lalu, kami jalan-jalan ke Kuntum Farm Field. Perjalanan spontan di pagi hari karena nggak tahu mau ke mana. Tadinya mau berangkat pagi-pagi banget, tapi tentu saja banyak drama yang terjadi, akhirnya baru berangkat sekitar jam 9. Dan ternyata Bogor macet banget. Nget! Mana sampai di Bogor pakai nyasar pula karena Google Mapsnya salah. Jadi kami nyasar ke sebuah gang kecil super macet dan buntu. Dan ternyata banyak yang salah juga lewat jalan situ karena Google Maps. Jadi kalau mau ke Kuntum pake Waze aja, deh.

Karena udah keburu nyasar, jadi kami mendingan makan dulu karena udah jam 12 siang. Iya, 3 jam sajah ke Bogor. Kami makan di Daiji Ramen. Pilih di situ karena kebetulannya lewat situ jadi ya udah. Ramennya biasa banget. Apalagi kalau udah coba ramen sekelas Ikkudo, Menya Sakura, dsb. Lewat banget lah. Tapi dengan harga yang affordable banget, dimaklumi sajalah. Lagian untuk rasa bukan nggak enak, kok. Jadi masih tetap bisa dinikmati. Oh, ocha-nya bisa refill, tapi maksimal 3 kali. Biar nggak maruk kali, ya.

Lupa ini pesan apa aja. Tapi semua pesan yang berbeda. Kaleb lahap banget sih makan di sini. Satu porsi normal habis 3/4-nya.

IMG_20180414_130953.jpgIMG_20180414_131018.jpgIMG_20180414_122552.jpgIMG_20180414_122534.jpg

Setelah makan, kami lanjut ke Kuntum yang nggak terlalu jauh dari Daiji. Dikirain bakal panas banget ya, tapi untungnya mataharinya lagi baik. Nggak terlalu menyengat, lumayan adem. Kalau ke Kuntum siap-siap bawa topi aja mendingan. Tapi di sana ada topi caping yang bisa dipakai gratis, sih.

Kuntum ini biaya masuknya Rp 40.000 per orang. Untuk anak di atas 3 tahun udah bayar full. Hewannya lumayan banyak seperti kambing, domba, kelinci, ikan lele super besar (wow, mamak aja sampe terkejoedh), rusa, sapi, ayam, angsa, dsb. Di gambar ada kuda sih ya, tapi kemarin saya nggak lihat ada kuda.

Kaleb senang banget main di sini karena bisa interaksi langsung dengan hewan-hewan. Dia kasih susu ke kambing pake dot, kasih kelinci makan. Untuk susu dan makanan sekeranjang masing-masing beli lagi harganya Rp 5.000. Lalu ada juga kolam kecil untuk nangkap ikan pake tangan atau pake ember. Nah, yang tangkap ikan ini Kaleb suka banget. Jadi dia masuk ke dalam kolam ikan, basah-basahan (ups, saya mana nggak bawa handuk, untungnya baju ganti bawa, sih). Seru banget sih liatnya kayak anak-anak di daerah yang terjun ke sungai langsung nyari ikan.

IMG_20180414_134227.jpgIMG_20180414_135216.jpgIMG_20180414_135501.jpgIMG_20180414_135544.jpgIMG_20180414_135758.jpgIMG_20180414_140207.jpgIMG_20180414_140845.jpgIMG_20180414_141052.jpg

Habis main nangkap ikan, bisa bilas di shower-shower yang disediakan di sekitarnya. Tapi kayaknya kalau sabun harus bawa sendiri, sih. Di shower depan dekat gerbang ada sabun cair, tapi nggak tahu itu disediakan Kuntum atau ada orang yang bawa.

IMG_20180414_143811.jpg

Kami menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam di sana. Puas banget karena tempatnya luas, bersih, hewan-hewannya dipelihara, dan anak-anak bahagia banget ada di sana. Kalau menurut saya, enakan ke sana siang menjelang sore, jadi nggak panas-panas banget kayak saya kemarin.

Nah, ini bonus foto narsis Mamak. XD

IMG_20180414_142933.jpgIMG_20180414_143107.jpgIMG_20180414_143207.jpgIMG_20180414_141751.jpg

 

Kuntum Farmfield

Alamat: Jl. Raya Tajur No.291, Sindangrasa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat 16145.
Jam Buka ⋅ 10.00-18.00
Tiket: Rp 40.000/orang
Telepon: 0877-2078-1000

Kaleb Umur 3

Bulan Maret ini Kaleb berulang tahun ke-3. Wow, anakku sebentar lagi udah mau sekolah. :’)

Tahun ini saya beneran malas merayakan ulang tahun Kaleb. Selain karena mertua masih sakit, ya males sama printilannya aja. Biasanya dari akhir Februari saya udah heboh cari tema dan segala macamnya. Tapi ini sampai masuk Maret, saya masih santai aja. Plan-nya adalah ajak Kaleb bersenang-senang di playground mana pun yang dia suka, beli hadiahnya sendiri (nah, setahun belakangan ini Kaleb diajarin rajin menabung receh di celengan. Kemarin dibongkar deh celengannya dan terkumpul lah uang yang akan dia belikan hadiahnya sendiri), dan paling makan bersama aja.

Ini hatinya udah mantap banget karena mendekati hari H pun, saya beneran nggak ada persiapan apa pun. Kagumlah sama kewolesan diri sendiri. Tumben. :)))

Tapi kemudian, beberapa hari sebelum Kaleb ulang tahun, adik saya ngabarin kalau giliran dia yang dapat arisan keluarga besar. Dia nanya gimana kalau arisannya tanggal 25 Maret, yang mana pas banget sama ulang tahun Mama. Jadi rencananya tiup lilin bareng Kaleb juga, kan kebetulan sepupunya pada datang.

BHAIQUE!

Naomi tuh dikasih beginian mah bikin jiwa rempongnya keluar. Dari yang nggak mau bikin apa-apa sama sekali, akhirnya jadi bikin apa-apa. Tema ulang tahunnya adalah Fire Fighter karena Kaleb lagi suka segala sesuatu yang berbau pemadam kebakaran dan kebetulan banget punya kostumnya.

Akhirnya kerempongan dimulai dari pergi ke Pasar Perniagaan demi beli goody bag (pasti kalap bener deh kalau ke sini), ngedesain tag, topper, sticker untuk snack, dll. Makasih suami yang mau diribetin bikin desainnya. Guntingin dan nempelin semua sendiri sampai encok bener. XD Semua dilakukan dalam seminggu saja.

Sementara untuk di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan berlebihan. Kebetulan saya lagi cuti karena Mbak lagi pulang kampung jadi seharian saya mengabulkan keinginan Kaleb. Dimulai dari makan bakmi Bangka kesukaan dia, tapi harus naik angkot. Lalu, main di Chipmunks Neo Soho berjam-jam sampe rasanya saya bosan, tapi bertahan untuk nggak ajak dia pulang sampai dia mau sendiri. Anyway, Chipmunks ini menurut saya mahal banget, harganya untuk anak di atas 2 tahun (di price list ditulisnya 3 tahun ke atas) Rp 185.000, tapi kenyataannya anak usia 2 tahun lebih harganya segitu juga. Areanya lumayan besar dan bisa main dengan waktu unlimited. Tapi ya tetap aja, dengan harga segitu sih nggak worth it sih menurut saya. Pas saya main kan hari Jumat ya, di mana hitungannya belum weekend, tapi dihitung harga weekend. Pas ditanya kenapa, Mbaknya tuh kayak nggak bisa jelasin. Sampai akhirnya saya minta supervisornya jelasin.

IMG_20180316_134626.jpgIMG_20180316_153019.jpgIMG_20180316_153029.jpgIMG_20180316_145657.jpg

Malamnya kami makan malam di Pizza Hut karena Kaleb request mau makan pizza di ulang tahunnya. Waktu itu makan bareng dadakan karena kebetulan orang tua saya juga baru pulang dari rumah saudara dan adik saya kebetulan lagi meeting di Pizza Hut juga. Papanya nyusul dari kantor. Karena kayaknya belum sah kalau belum tiup lilin tepat di hari ulang tahunnya, maka suruh Papanya beli kue kecil aja. Dan itu beneran kecil banget kuenya, tapi Kaleb suka banget karena bentuknya Minion. :)))

IMG_20180316_234800_641.jpgIMG-20180316-WA0018.jpg

He was having a blast time and we were so happy. :’)

Fast forward seminggu kemudian ke acara ulang tahun Kaleb dan Mama yang nebeng arisan keluarga. Ini tampilan goody bag Kaleb.

IMG_20180325_064937.jpg

Tas McQueen pilihan Kaleb sendiri. Nggak ada yang pemadam kebakaran soalnya. Yang penting warnanya merah.

IMG_20180325_064922.jpg

Cemilannya cuma 2 ini aja. Nggak mau yang berbau mecin jadi ambil yang aman dimakan buat anak kecil. Di tiap snack-nya dikasih sticker.

IMG_20180325_064906.jpg

Tempat makan dan botol minum yang udah dibungkus dari sananya, jadi nggak perlu repot lagi. Oh ya, tempat makannya berbagai macam warna dan gambarnya beda-beda.

IMG_20180325_064850.jpg

Susu Ultra Mimi full cream (lagi-lagi biar yang rasanya nggak kebanyakan gula). Bungkusnya itu PR banget, ye. Pegel bener. Hahaha.

Untuk kue-nya sendiri saya pilih donut cake di Dunkin Donut. Pilih donat karena dari pengalaman sebelumnya, kalau beli cake suka luamaaaa banget habisnya. Pada dasarnya kami nggak terlalu suka cake dan manis-manis. Jadi milih donat karena Kaleb suka donat dan pasti kemakan banyak orang. Oh ya, donut tower ini bisa dipesan 3 hari sebelum hari H dan cuma request warna pink atau biru. Ya udah saya cuma pesan banyakan biru aja, nggak perlu pink, dan banyakin donat monster cookiesnya biar lucu. Dan pas diambil…. kyaaaa, ku suka banget! Bagus!

IMG-20180325-WA0037.jpg

Topper pemadam kebakarannya bikin sendiri semua. Dan teteeep ada muka Kaleb dong. Hahaha!

IMG-20180325-WA0035.jpg

IMG-20180325-WA0040.jpg

Pas lihat donut tower ini Kaleb excited banget dan mau langsung comot aja. Lalu dia bangga banget ada mukanya yang lagi pake seragam pemadam kebakaran di situ. Priceless lihat ekspresinya. :’)

Sebelum acara mulai dan dekor masih cakep-cakepnya, maka foto dulu dong.

IMG-20180325-WA0001.jpgC360_2018-03-26-09-53-52-934.jpgIMG-20180325-WA0008.jpgIMG-20180325-WA0020.jpgIMG-20180325-WA0078.jpg

IMG_8735

Selamat bertambah umur, anak kesayangan Papa Mami. :’)

Tentunya pas udah banyak tamu yang datang bentukannya udah nggak begini lagi karena udah heboh lari sana-sini sama para sepupunya. Jadi pas ulang tahun udah ganti baju lagi. Ternyata bulan Maret ini banyak yang ulang tahun jadi tiup lilinnya bareng-bareng.

Dear Kaleb,
Selamat ulang tahun. Semoga semesta menjadikanmu mahkluk kesayangannya sehingga dipermudah semua langkahmu dan keberuntungan menemanimu dalam mencapai tujuan hidupmu. Tetaplah mudah berbahagia untuk hal-hal sederhana, tertawalah dan seringlah menertawakan hidup karena seringkali hidup itu lucu dan Tuhan sedang ingin becanda denganmu.

Jadilah apapun yang kamu mau, selama itu baik, dan semoga kami mampu menerima papaun keputusanmu dalam hidup. Jangan takut menjadi manusia yang unik karena sungguh kamu memang istimewa dan pasti Tuhan sedang sangat bahagia ketika menciptakanmu.

Terima kasih telah menjadi guru bagi kami selama 3 tahun ini. Tanpa kehadiranmu, kami tak akan pernah menjadi orang tua dan belajar banyak untuk mengenal lebih baik tentang diri kami sendiri.

Selamat 3 tahun, Kaleb. Dunia menunggumu untuk menjadikannya lebih berwarna dan lebih baik.

Kami yang mencintaimu,

Papa dan Mami.

 

Sampai jumpa di ulang tahun Kaleb ke-4! 😀

Naik Kereta Api Tut Tut Tut!

IMG_20180218_093843_465.jpg

Sudah hampir 2 bulan ini Kaleb suka banget sama kereta. Akhirnya ada juga yang menggeser kesukaannya pada truk. *mamak capek ngapalin nama-nama truk*. Saking sukanya sama kereta, tiap weekend dia nyuruh kami harus lewat jalan rel kereta. Dia suka denger bunyi gerbang kereta ditutup ketika kereta mau lewat dan memandangi kereta lewat.

Kami sering nawarin Kaleb untuk naik cho-cho train di mall. Lucunya, Kaleb nggak mau. Buat dia, kereta itu harus sama persis kayak yang dia liat di Youtube. Bukan kereta-keretaan.

Bhaik!

Jadilah untuk mengakomodasi kesukaannya pada kereta, di suatu Sabtu nan cerah kami mau naik kereta beneran. Kami naik dari stasiun Rawa Buaya, yang paling dekat dengan rumah kami. Tujuannya ke mana…. entah. Dan ternyata, harus tahu tujuannya pas beli tiket. Karena clueless banget, ya kami bilang aja ke Kota.

Mau naik dari peron yang mana aja, kami celinguk-celinguk dulu kayak orang bego. Beneran deh, terakhir kali naik kereta tuh ke Bandung, eh atau pas kuliah di Depok, ya? Pokoknya udah lupa banget cara naik kereta tuh gimana.

Kami tunggu lah di bangku. Kemudian, baru sadar kereta kan ada jadwalnya dan kami nggak tahu jadwalnya kapan. Akhirnya balik lagi ke petugas nanya jam berapa kereta datang. Ternyata masih lama, 20 menit lagi. Kaleb sih excited banget lihat rel kereta, lihat kereta lain lewat, dengar pengeras suara. Anak kecil mah gampang disenangkan. Sementara Mamak udah kepanasan. Hahaha.

Akhirnya 20 menit kemudian, datanglah kereta yang dinantikan. Di jam 12 siang itu, kereta penuh banget. Kami nggak dapat duduk. Kaleb digendong sama Bapake. Kaleb mah senang ya mau naik kereta sambil berdiri. Tapi, saya kayaknya males ya berdiri sampai kota. Bukan apa-apa, udah waktunya makan siang, cuy. Laper.

Akhirnya setelah mempertimbangkan isi perut yang meronta-ronta, kami putuskan untuk turun di stasiun Grogol. Dari stasiun, kami naik angkot ke Citraland untuk cari makan. Pas udah ketemu AC mall tuh rasanya ruar biasa seger. Hahaha. Di kereta walau ada AC, tapi kalau penuh kan nggak terlalu berasa, ya.

Kelar makan dan jalan-jalan bentar, kami kembali lagi mau naik kereta. Nah, karena cuaca nggak terik dan sedikit mendung, suami menyarankan nggak usah naik angkot, tapi jalan kaki aja dari Citraland ke stasiun Grogol. Uwooow, apakah ku sanggup? Yo weis, karena suami yang gendong Kaleb dan matahari nggak kejam-kejam amat, mari kita jalan. Ternyata benar, nggak terlalu jauh, kok. Iya, asal nggak terik, ya. Kalau terik mendingan naik angkot aja, deh.

Begitu masuk stasiun, kami mau tap kartu. Lho, kok nggak bisa? Ternyata nggak bisa karena walau kami beli tiket PP, tapi kan tadi tujuannya ke Kota, bukan Grogol. Harus sesuai tujuan ternyata kartunya. Baiklah, jadi kami harus beli lagi deh.

Di stasiun Grogol ini lumayan adem dan nggak terlalu rame. Kayaknya karena stasiunnya baru direnovasi juga. Tapi, itu kenapa tempat duduk buat nunggunya nggak datar gitu. Mau duduk lama-lama juga nggak enak. Hiks.

Sama kayak tadi berangkat, kami tetap lupa nanya jadwal keretanya datang. Jadi balik lagi nanya ke petugas kapan keretanya lama. Ternyata ya 20 menit lagi. Lama ugha ya.

IMG_20180218_093843_475.jpg

Untungnya kami naik di gerbong yang agak jauhan, jadi kereta nggak terlalu penuh. Longgar, tapi ya tetap nggak dapat tempat duduk. Tapi ada mbak yang baik, dia memberikan tempat duduk buat saya dan Kaleb. Makasih ya, Mbak. Akhirnya kaki ini bisa diluruskan juga.

Begitulah petualangan Kaleb naik kereta beneran. Begitu selesai anaknya bilang, “Mami, Kaleb senang! Naik kereta lagi, yuk!”

Mamak hanya melirik Bapake dengan penuh makna, “Kamu aja gih, aku capek.” HAHAHA.

 

Keterangan:
Anak di atas 90 cm sudah membayar. Tiket per orang Rp 3.000,-.

 

Persoalan Pup

IMG-20180102-WA0042.jpg

Disclaimer: Tulisan ini akan membicarakan persoalan pup, jadi kalau jijikan skip aja. XD

Kaleb ini karena tiap orang tuanya kerja dititipin sama Opungnya dan Opungnya adalah orang yang sangat bersih, jadi Kaleb ini ketularan. WC harus bersih, nggak basah, dan nggak bau. Akibatnya kalau WC-nya nggak memenuhi kualifikasinya dia, dia nggak mau pipis atau pup di luar; atau muntah. Asli jijikan banget, deh.

giphy5

Permasalahannya adalah libur tahun baruan kemaren, kami harus sering berada di luar seharian; ya ke rumah sakit nengok mertua, ya ke acara keluarga (karena di Batak tahun baru itu semacam Lebaran, jadi kerjaannya kumpul-kumpul di rumah saudara).

Dimulai dari tanggal 31 Desember 2017, di mana kami ngunjungin mertua ke RS. Lumayan lama banget di sana. Kaleb tiba-tiba kebelet pup. Langsung lah dibawa ke WC. WC-nya bukan yang kotor banget, masih normal dan tergolong bersih. Tapi bukan sebersih WC mall yang tiap orang keluar langsung dielap-elap, ya. Jadi dia nggak mau pup. Ditahanlah itu pup.

Sorenya kami ke gereja. Harus diakui gereja ini kotor banget WC-nya. Sungguh lah, saya kalau masih bisa ditahan walau kebelet pipis pun mendingan ditahan aja lah. Ini berkali-kali udah sering saya bilang ke orang gereja. WC sih di-upgrade, ya. Lebih baik banget dibanding dulu, TAPI kenapa tetap bau pesing? Bener deh, mental orang-orangnya yang kurang beres banget ini mah!

Ya tentu saja pas diajak ke WC, Kaleb nolak. Ditahan lagi itu pup.

Besokannya pas tahun baru, lagi-lagi kami akan ke rumah sakit paginya. Pas sebelum berangkat, Kaleb bilang mau pup. Didudukin di WC kayak biasa. Nggak biasanya dia ngeden dan tampak kesusahan banget mau pup. Ada kali 30 menit lebih dia di WC struggling banget mau pup. Sampe akhirnya karena pupnya keras, dia pun udahan aja walau belum tuntas. Jalan pun susah, duduk di car seat nggak tenang. Mukanya udah memelas. Saya langsung beliin dia yoghurt dan yakult.

Pas sampai parkiran RS, kayaknya dia ngeden nih. Jadi begitu sampai RS, langsung dibawa ke WC. Untungnya dia saya pakein diapers. Saya suruh dia tutup hidung aja pake tisu basah. Udah ya beres, dong. Walau di RS dia nggak pup, tapi yah mayan selama di jalan udah keluar.

Sorenya, Kaleb diajak aunty-nya main ke McD. Ternyata pas di McD, doi mau pup lagi. Udah nangis-nangis deh dia mau pup. Diajak ke WC, ternyata WC-nya becek, gagal pup lagi deh.

Rabu-nya, Kaleb diajak Mama saya jalan-jalan. Dia sempat mau pup sampe muter-muter nangis. Pas diajak ke WC dia nggak mau karena WC-nya bau. Sungguh deh tingkat kebersihan dia tuh tinggi banget, pokoknya WC itu nggak boleh berbau sama sekali.

Malamnya pas udah pulang ke rumah, dia bilang mau pup. Udah nangis-nangis lagi, tapi nolak dibawa ke kamar mandi. Ya mungkin dia trauma juga karena beberapa kali ke WC dan mau pup tuh kesakitan banget. Saya udah bujuk-bujuk supaya nggak papa ke WC, ditemenin, dibolehin sambil nonton Youtube. Dia tetap nangis nolak. Tapi kelihatan banget dia kesakitan. Bujuk sampe 15 menit nggak berhasil juga, tapi tetap nangis kesakita, saya dan suami kan frustasi juga. Antara cemas karena dia nggak mau pup, dan kesal karena kok susah amat dibilanginnya.

Setelah 30 menit membujuk, memaksa, dan mengancam (pokoknya segala cara dilakukan supaya dia mau pup), tiba-tiba dia bilang udah padahal belum pup. Pas dia berdiri, keluarlah darah dari anusnya.

Gila, horor banget itu! Ya bukan darah yang berceceran buanyak banget, tapi tetap aja harusnya pup nggak mengeluarkan darah, kan. Langsung saat itu juga saya bilang harus ke dokter. Langsung ganti baju dan segala macam.

Kaleb lihat saya panik gitu, langsung tiba-tiba meluk saya, “Sorry, Mami.” mukanya memelasss banget.

Duh, retak deh hati ini. Jadi Kaleb minta maaf karena dia pikir saya marah. Padahal nggak marah, cuma lagi panik jadi ya kayak blingsatan ganti baju, beres ini itu biar cepat ke dokter.

giphy6

Di mobil, Kaleb nggak bisa duduk sama sekali. Dia kesakitan banget jadi dia milih berdiri di kursi belakang sambil pegang jok. Bener deh mau nangis banget lihatnya dia kesakitan kayak gitu. Trus dia beberapa kali bilang, “Sorry Mami.”

Patah hati banget lihatnya. Perasaan dia merasa bersalah padahal sebenarnya dia nggak salah. Saya dan suami aja yang nggak sabaran menghadapi traumanya dia mau pup. Yang ada saya peluk dan bilang, “Sorry ya Kaleb. Mami nggak marah, kok. Mami cuma takut Kaleb perutnya sakit kalau nahan pup terus.”

Di tengah jalan dia ngeden keras banget dan akhirnya pup. Turun dari mobil dia bilang, “Mami, Kaleb nggak sakit lagi.” Bersihin di WC dan masih ada darah. Mungkin karena pupnya keras.

Selesai dibersihin, dia peluk Papanya dan bilang, “Sorry, Papa.” Doh, Papa-nya ikutan mellow, deh. Jadinya saling bilang sorry macam Lebaran aje. XD

Dokternya nggak kasih obat apa-apa karena anak kecil nggak boleh makan obat pencahar. Jadi cuma dikasih suplemen mineral. Darah itu asalnya dari anusnya luka karena pupnya keras. Kalau pupnya lembek akan sembuh sendirinya. Yang penting bersih aja pantatnya. Dan dokter pun menasehati, banyak-banyak makan buah dan sayur, ya.

Kaleb ini kalau makan buah mah lancar, nggak pernah nolak. Tapi kalau sayur, dia akan lepeh. Harus nggak boleh ketahuan ada sayur. Karena dokter bilang gitu ke Kaleb, besokannya dia makan sayur dengan lancar banget, trus makan pepaya buanyak banget.

Pupnya langsung lancar, nggak keras lagi, dan sehari bisa sampai 4 kali. Itu kotoran 2 hari dikeluarin semua kayaknya. Hahaha. Doh, no more poop problems, deh!

giphy7

Dari kejadian ini Kaleb belajar buat rajin makan sayur, dan saya belajar untuk lebih sabar dan nggak frustasi sendiri, padahal harusnya anaknya yang lebih stres dengan keadaan kayak gitu. Belajar juga karena Kaleb ternyata manis juga ya. *rabid mama detected* hahaha.

 

 

Bioskop Pertama di Mall Pinggir Pantai

Akhirnya Kaleb nonton bioskop juga!

giphy3

Setelah colongan ikut ke bioskop kemarin dan melihat Kaleb bisa tenang, akhirnya memutuskan bahwa di usianya yang 2 tahun 9 bulan, Kaleb siap ke bioskop.

Saya selalu ragu-ragu mau bawa Kaleb ke bioskop karena dulu anaknya nggak bisa tenang banget, selalu heboh. Belum lagi kemampuannya untuk fokus masih pendek. Jadi saya nggak pernah bawa dia ke bioskop. Tapi semakin dia besar, semakin bisa paham dengan apa yang saya katakan, plus kemampuan fokusnya lebih panjang (bisa nonton film kartun sampai selesai), saya pun memberanikan diri ajak Kaleb nonton.

Setelah cek jadwal, ada 3 film kartun yang lagi tayang: Coco, Ferdinand, dan Si Juki. Coco, saya udah nonton. Selain itu temanya tentang after life cukup sulit buat anak sekecil Kaleb (sulit, atau males aja jelasin, buk? Hehehe). Sedangkan Si Juki, ku tak paham itu film tentang apa, jadi skip ajuah. Then Ferdinand it is.

Film Ferdinand ini sisa tayang tinggal 4 bioskop lagi: Plasa Senayan, PIM, Gading, dan Baywalk Mall. Saya pilih Baywalk karena lewat tol dekat banget dan penasaran sama mall yang letaknya di pinggir pantai ini.

Ferdinand ini ceritanya sederhana aja, tentang banteng yang sukanya sama bunga dan kedamaian, dibanding berantem di arena sama matador. Padahal jadi banteng yang kuat dan jago berantem itu kebanggaan banteng pada umumnya.

Kaleb excited banget mau nonton. Sengaja pilih siang karena dia pasti masih segar. Saya pun beli popcorn supaya dia bisa ngemil kalau bosan. Senangnya lagi karena ini musim libur sekolah, jadi banyak banget anak-anak yang nonton. Semacam karya wisata di bioskop.

C360_2017-12-29-21-31-56-285.jpg

Perdana nonton di bioskop, nih. Ahey!

Sepanjang film, Kaleb fokus banget nontonnya. Surprisingly, dia nggak banyak nanya. Mungkin saking gampangnya itu film dimengerti (kalau buat ibunya, jadi ngantuk dan membosankan banget, sih. Hahaha). Di pertengahan film, Kaleb mulai ngantuk jadi minta saya pangku. Saya pikir, dia bakal tidur nih sebentar lagi. Ternyata, malah saya yang ketiduran dan dia melek nonton sampai habis.

IMG_20171229_144107.jpg

giphy4

Habis nonton, saya ajak dia makan es krim. Di Baywalk ini, mostly restorannya pemandangannya ke laut. Jadi Kaleb senang banget nongkrong di jendela lihat laut dan pesawat terbang yang mau landing di bandara.

Baywalk mall ini sebenarnya mall biasa. Cukup besar, tapi waktu itu nggak terlalu rame, cenderung sepi. Tapi ternyata orang-orang seringnya nongkrong di resto sambil mandang laut.

Setelah makan es krim dan muter-muter mall, kami ajak Kaleb ke lantai satu tepat ke tepi lautnya. Eh, ternyata ada air mancur menari dengan lagu-lagu Natal. Yang nonton duduk di tempat duduk yang kayak tangga. Semacam kayak nonton air mancur di Marina Bay Sand dengan kearifan lokal (yaelah ini perbandingan bagusnya jauh banget, loh!). Kaleb sih happy banget ya lihat air mancur kelap-kelip bisa nari pula.

IMG_20171230_100116_347.jpgC360_2017-12-30-08-11-04-583.jpg

Habis nonton pertunjukan gratisan, kami menyusuri pinggir pantai dan mampir sebentar ke Bandar Djakarta. Bukan buat makan, tapi karena di situ ada kolam ikan dan banyak banget hewan laut di fish marketnya. Tentu Kaleb heboh banget sampai diajak pulang juga susah.

Sebenarnya ada Baywalk Garden yang mungkin mirip-mirip Garden By The Bay dengan kearifan lokal. Tapi karena udah malam dan lapar, jadi kami nggak sempat mampir. Bolehlah kapan-kapan dicoba. Semacam mall tapi banyak outdoornya jadi anak-anak suka, deh.

 

 

 

 

Main Basket, Yuk!

IMG_20170909_150919

Beberapa bulan ini, saya lagi nyari kegiatan buat Kaleb. Kaleb belum mau dimasukkan ke sekolah, tapi dia sangat suka bersosialisasi (ehm, dia lebih kenal tetangga daripada saya. Hahaha), dan dia butuh kegiatan yang lebih terarah. Satu-satunya kegiatan Kaleb sekarang adalah sekolah minggu. Tapi nggak mau yang harus setiap hari berkegiatan karena nanti dia capek. Kan dia masih 2 tahun.

Awalnya mau les musik. Kebetulan di Yamaha ada kegiatan untuk anak 2 tahun: Music Fantasy. Setelah survey dan lihat kegiatannya, saya cukup ragu karena mostly kegiatannya adalah menyanyi bareng di tempat (YAEYALAH, KAN LES MUSIK, MI! XD), dan didampingi orang tua. Ini pertimbangan lainnya, saya pikir Kaleb sudah cukup besar untuk menerima instruksi dan ingin dia lebih mandiri, jadi berharapnya orang tua nggak perlu ikut di dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir kelas aja. Kalau cuma menyanyi dan dance, Kaleb rasanya akan cukup bosan karena di sekolah minggu sama persis yang dilakukan. Tiap di sekolah minggu anaknya di tengah kegiatan bosan dan akhirnya sibuk lari-lari.

Oh ya, sampai saat ini saya masih cukup yakin Kaleb adalah anak kinestetik yang mana dominan sekali menyukai kegiatan yang membutuhkan fisik, gerakan, praktek. Akhirnya saya pikir, Kaleb akan cocok dengan kegiatan olahraga. Sempat survey ke beberapa tempat, termasuk Rockstar Gym. Untuk anak 2 tahun dengan bayaran cukup besar, kegiatan Kaleb terbatas. Banyakan ke baby gym, baby dance, yang mana Kaleb kurang suka.

Kaleb suka sesuatu yang bentuknya permainan dan olahraga beneran, seperti sepak bola. Saya pun cari les sepak bola. Susahnya adalah jarang banget untuk anak toddler, biasanya untuk anak yang lebih besar, seperti 3-4 tahun ke atas. Tapi akhirnya nemu di @littlekickers_id. Senangnya Little Kickers ini ada beberapa cabang. Yang paling dekat dengan rumah (walau nggak dekat-dekat banget) ada di PIK. Sayangnya, ternyata kuota belum mencukupi sehingga belum bisa dibuka. Yah, kuciwa!

Sampai suatu hari, @lilhoopsters mengirimkan DM ke saya, entah tahunya dari mana. Pas saya cek, loh loh loh… les basket dan bisa untuk anak toddler dari 18 bulan. PAS BANGET! Mana mereka nawarin free trial, kan. Tentu saja akyu mau!

Kendalanya adalah, tempatnya lumayan jauh dari rumah, yaitu di Kemang. Tapi setelah diskusi sama suami, Kemang masih bisa dicapai dengan tol JORR 2 yang membuat akses cukup mudah dan cepat. Plus waktunya sore hari sehingga nggak drama bangunin Kaleb buru-buru pas pagi hari.

Sebelum membuat keputusan, saya berkali-kali nanya ke Kaleb dulu, secara dia yang bakal jalanin, “Kaleb, mau les musik atau bola?”. Selalu dijawal bola. Ditanya lagi, “Kaleb, mau les bola atau basket?” Dijawab basket. Lalu pertanyaannya diubah-ubah lagi urutan pilihannya. Selalu pilih basket. Yang paling nggak pernah dipilih adalah les musik. Hahaha. Jadi fix memilih basket. Karena kalau dia pilih bola, Mamak akan tetap mengarahkan ke basket karena les bolanya belum buka. Hahaha.

Awalnya, Kaleb daftar untuk kelas Junior (18 bulan – 2,5 tahun). Tapi pas hari H, karena kecepatan datang, yang mulai duluan adalah kelas Rookie (2,5 -3,5 tahun). Jadi Kaleb ikutan aja. Lagian bulan ini Kaleb tepat 2,5 tahun. Untuk kelas Rookie, orang tua tidak wajib berpartisipasi lagi dalam kelas, tapi mengawasi dari pinggir lapangan aja. Anak akan full bersama coach-nya.

Latihannya sederhana sih, seperti melempar bola ke arah yang ditentukan, dribble, masukin bola ke tiang basket, lari zig-zag, dsb. Diawali dengan warming up dan diakhiri dengan cooling down. Tadinya khawatir Kaleb nggak akan paham, karena di kelas itu dia peserta paling kecil. Tapi ternyata dia paham semua instruksinya, ikutan setiap kegiatannya, dan paling excited kalau udah harus pegang bola dan masukin ke tiang. Bahkan kalau ada water break, Kaleb cuma minum dikit, trus langsung nanya, “Bolanya manaa?” Woy, istirahat dulu bentar! :))))

Ini bikin terharu sih karena kalau di sekolah minggu, Kaleb ogah-ogahan ikut gerakan dance. Kaleb patuh sih duduk di depan, ikut dengerin, tapi nggak ikut gerakan dance atau nyanyi. Yang ada rusuh muter-muter. XD Jadi pas dia ternyata tertib ikutin instruksi dari awal sampai habis, saya jadi senang. Ternyata dia akan lebih mau melakukan sesuatu, kalau dia suka.

Selesai main basket, anaknya langsung bilang, “Kaleb suka main basket.” :’) Trus pas di rumah dia ulang lagi gerakan-gerakan pas stretching. Hahaha, lucuk!

Anyway, Lil’ Hoopsters ini cukup serius dalam bikin kurikulumnya karena coach-nya sendiri adalah Pringgo Regowo, atlet basket nasional dari Aspac. Kalau ditanya dia siapa sungguh awalnya saya nggak tahu karena saya nggak paham basket. Tapi akhirnya saya googling dan kagum dengan prestasinya. Dan ternyata dia sendiri yang turun tangan melatih pas basket kemarin. Yang paling penting, mereka punya passion untuk mengajar anak-anak dan tetap mengedepankan sisi fun-nya.

Ada yang mau ikutan Kaleb main basket?

 

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (3)

Setelah dibiarkan menunggu lama di House of Raminten, apakah kali ini akan ada kisah yang sama? Check this out.

Taman Sari

Taman Sari ini letaknya dekat Alun-Alun Selatan. Konon Taman Sari ini dulu tempat berenangnya para putri raja dan bulan madu-nya Sultan. Bangunan yang ada sekarang sama sekali belum pernah dipugar jadi asli sli!

Lagi-lagi tak lupa diingatkan untuk pake sunblock karena ini ruang terbuka dan panasnya ajegila. Lagian hobi banget sih datang hampir siang jadinya kebagian matahari terik, kan. Hahaha.

Harga tiketnya murce bener, untuk lokal Rp 5.000. Anak di bawah 3 tahun pun gratis. Tentunya untuk wisata mancanegara ya beda lah harganya. Tapi saya nggak tanya kenapa. Kalau bawa kamera (bukan kamera HP, ya) dicharge Rp 2.000. Tapi anehnya nggak ada yang periksa itu tiket kamera juga. Jadi kalau mau bohong ya bisa aja. YANG MANA JANGAN BOHONG, ya. Kan udah murah, jadi nggak perlu tipu-tipu. Okeh!

Ada kejadian lucu pas lagi beli tiket. Jadi setelah saya bayar untuk 2 orang, tiba-tiba Kaleb ikutan nongol di loket tiket. Mbak kasirnya lihat Kaleb, trus langsung nanya ke saya untuk memastikan, “Mbak, suaminya bule, ya?”. Kebetulan Bapake lagi balik ke parkiran untuk ambil tripod. Saya jawab, “Nggak Mbak, suami saya bukan bule.” Pengen lanjut, suami saya itu kulitnya aja coklat banget. Ini anaknya cetakan bule karena dulu ngidam anak bule, sih. Hahahaha. Bukan apa-apa, kalau nanti saya bilang bule, disuruh bayar mahal lagi tiketnya. Cinta lokal aja deh makanya.

Di dalam banyak tour guide yang menawarkan jasanya. Kami nggak pake, tapi mungkin akan lebih baik pake karena curi-curi dengar yang pake tour guide sih ceritanya asik banget. Tapi hati-hati kalau nggak mau pake, tour guide suka tibat-tiba ajak ngobrol ceritain singkat mengenai sejarahnya, lalu kita tertarik, trus lama-lama udah dibawa jalan dan di-guide aja sama mereka. Kan jadi bayar, ya. Jadi waspada aja, jawab seramahnya. Kalau nggak mau pake ditolak manis, tapi kalau mau lanjut pake silahkan.

I can not tell much about the building because it’s just the building. Isinya yang bangunan lampau kosong. Tapi ada besar banget dan letaknya terpisah-pisah. Semakin ke bawah, semakin lembab dan gelap. Ada tempat semedi Sultan, sauna, masjid bawah tanah, terowongan, dll. Taman Sari ini dikelilingi oleh Kampung Batik yang mana isinya para pengrajin Batik, bisa dibeli juga karyanya. Jadi kalau mau keluar masuk Taman Sari kita juga akan lewatin Kampung Batik ini. Seru sih karena Kampung Batik ini rumahnya kecil-kecil di gang, tapi apik banget.

IMG_8522

Masuk-masuk dapat pemandangan segar kayak gini. Airnya bersih banget. Sepertinya rajin dikuras, sih.

IMG_8516

Kang bawa tripod lagi bekerja. Jangan diganggu.

IMG_8512

Lagi-lagi Kang Tripod sibuk ama alatnya.

IMG_8541

IMG_8562

Kampung Batik yang cantik

Ada kejadian seru nih pas di Taman Sari. Kami kan foto-foto dari luar ya. Tiap ada bangunan foto. Kaleb seperti biasa heboh sana-sini. Pas saya lagi foto, Kaleb nemu dua buah permen di sudut bangunan. Dia ambillah. Tentu saja saya bilang, “Awas jangan dimakan. Itu jorok udah dibuang orang.” Ya masa dari lantai dimakan, kan, walau masih dibungkus, tapi tetap aja jorok. Pas masuk ke dalam, Kaleb nemu permen lagi. Kali ini dekat kolam permandian. Kemudian saya perhatikan lagi, kok di tiap sudut selalu ada permen, ya? Jumlahnya pun sama persis: 2. Baru saya sadar, jangan-jangan itu sesajen. HUWAA! Langsung saya larang Kaleb untuk ambil lagi itu permen.

IMG_8487

Pertama kali tercyduk ambil permen di sudut

IMG_8502

Lagi-lagi tertangkap basah ambil permen di sudut

Di dalam pas ketemu dengan rombongan yang pake tour guide, kebetulan dengar tour guide cerita. Jadi tiap hari ada ibu-ibu dari Bali yang selalu bawa sesajen berupa permen-permen itu untuk ditaro di sudut ruangan. Dikasih untuk “penunggu” Taman Sari. Tapi katanya kalau mau makan permennya ya makan aja. Ya keleus mau makan permen buat sesajen. Mending beli segerobak di Carrefour, deh. Makan permen sampe mabok. Huhu!

Gara-gara cerita si tour guide itu saya jadi ketar-ketir, dong. Maklum anaknya penakut banget. Diceritain horror dikit saya mah langsung mengkerut. Saya udah merengek ke suami aja untuk udahan jalan-jalan di Taman Sari. Atau nggak saya nunggu di atas dekat abang es dawet sambil nyeruput es. Tapi diomelin suami, dong. Masa gitu aja takut katanya. Hahaha. Trus dia obsesi mau dapat foto di tangga melingkar yang tersohor itu. Huft, mau nggak mau jalan lagi dengan setengah hati.

IMG_8549

Sesaat setelah dengar cerita horor.

Taman Sari ini saking gedenya sampai capek juga, bok. Plus, cuaca terik banget jadi bikin energinya terkuras. Mana letaknya agak berjauhan dan nggak ada peta, jadi harus rajin nanya atau ya ikutin aja orang-orang jalan ke mana. Akhirnya ketemu juga tangga melingkar itu dan penuh banget sama orang-orang. Suami mau foto pun susah karena berdesakan sama orang. Tuh kan suami, mending duduk santai makan es dawet aja. Hahaha.

IMG_8564

Tangga tersohor yang rame banget. Ini udah paling sepi aja masih kelihatan di sekitarnya ada photobomb orang-orang.

Bakmi Jowo Mbah Gito

Dari Taman Sari, meluncurlah kami untuk makan siang di Bakmi Jowo Mbah Gito. Kebetulan letaknya nggak terlalu jauh. Bahkan pas sampai di restonya ya banyak ketemu orang-orang yang habis dari Taman Sari juga. Hahaha.

Mbah Gito ini unik banget interiornya. Penuh kayu-kayu semacam di hutan. Tempat duduknya hampir semua lesehan. Mungkin ada yang pake bangku tapi nggak lihat waktu itu. Lesehannya spacenya gede dan luas jadi walau Kaleb lari-larian juga masih aman. Nggak ada AC sama sekali karena walau di dalam tapi ruangannya terbuka banget jadi adem angin semilir.

IMG_8481

Ini tampak depan. Semacam rumah kayu di hutan, ya.

IMG_8578

Dapurnya open kitchen jadi bisa kelihatan yang lagi masak.

IMG_8579

Ada beberapa patung bapak-bapak yang setinggi manusia.

IMG_8583

Ada 2 lantai. Bisa makan di atas juga.

Waktu minta buku menu, mereka nggak punya. Menunya ya ada di tempat nulis bonnya. Jadi nggak bisa kebayang lah itu penampakan makanannya gimana. Di bonnya pilihan makanannya nggak banyak, yaitu bakmi goreng, bakmi rebus, nasi goreng, capcay goreng. Yang saya ingat sih itu, ya. Saya pesan nasi goreng dan air mineral, suami pesan capcay dan jeruk nipis hangat.

Selain pelayannya yang jutek padahal sih bukan yang lagi super rame sampe ngantri, lagi-lagi makanannya datang super lama. Lebih dari 30 menit. Huhuhu! Sampai akhirnya kami berkesimpulan mungkin memang kalau di Jogja itu semua makanan sampainya lama. Sing sabar, Mbaknya.

Dengan lamanya makanan yang datang, berharapnya makanannya juga enak, dong. Kalau menurut suami capcaynya enak, kalau menurut saya nasi gorengnya biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi kurang gurih. Lebih enak abang-abang nasi goreng dekat rumah favorit saya. Tapi kalau kata suami, untuk total bayar Rp 57.000 mah terima aja kalau pesanan datang lama dan nggak terlalu endeus rasanya. Enel ugha kamoh!

IMG_8589

Pintu masuknya. Lagi-lagi ada patung setinggi manusia. Mungkin dia si Mbah Gito.

Anyway, setelah dipikir-pikir lagi lidah Sumatera saya kayaknya merasa makanan di Jogja tuh overall terlalu manis dan hambar. Bumbunya nggak terlalu tajam dan nggak pedas. Maklum, orang Batak biasa makannya pedas level andaliman. Hahaha.

Jalan Malioboro
Belum sah ke Jogja kalau belum ke Jalan Malioboro, dong. Kami aja sampai 2 hari berturut-turut ke jalan yang super ramai dan padat ini. Jalanan lain nggak ada yang macet, Malioboro mah tetap macet. Mungkin ini juga karena sedang ada pelebaran trotoar. Jadi trotoarnya luas banget dan bisa asik jalan kaki di sana. Selain itu, juga ada Trans Jogja, tapi ya nggak ada jalur busway kayak di Jakarta. Jadi jalur Trans Jogja barengan sama jalur kendaraan biasa. Bisnya nggak sebesar dan sepanjang TransJakarta, tapi cocok untuk ukuran Jogja yang jalanannya bukan yang besar-besar banget kayak di Jakarta.

Seru banget jalan-jalan di Malioboro ini karena banyak banget yang bisa dilihat, terutama dari jajanan pinggir jalan dan dagangannya super murah. Belum lagi banyak bangunan sejarah yang letaknya di sekitar jalan ini, seperti Benteng Vrederburg, monumen serangan 1 Maret, Alun-Alun Utara, dan Kerator Jogja. Oh tak lupa ada Gudeg Yu Djum yang beken itu.

Kebetulan kami nggak belanja sama sekali selama di Jogja karena rempong ya bok bawa anak kicik nggak bisa diam pake belanja sambil nawar. Apalagi pas masuk ke Pasar Beringharjo (pasarnya tutup jam 5 sore ya), wuidih RAME POL! Sejauh mata memandang batik semua dan kece-kece. Tapi apalah hamba yang nggak paham model batik dan harganya, mau beli tapi nggak bisa nawar takut kemahalan. Ya udah lewatin aja lah.

IMG_8389

IMG_8382

Jalanan yang rame dan sibuk.

IMG_8394

IMG_8383

Penyanyi jalanan yang lagunya asik-asik.

IMG_8406

Museum Vrederburg yang belum sempat kami masuki karena keburu tutup. Numpang foto di depannya aja.

Di sepanjang jalan banyak becak yang bisa diajak keliling Malioboro. Becaknya udah banyak yang pake motor, bukan pake sepeda. Lebih baik lah, karena kasihan kan bapaknya gowes berat pake sepeda. Selain bentor, juga ada banyak delman dengan bapak-bapak berpakaian Jawa tradisional lengkap dengan blankon.

Karena ada delman, Kaleb suka banget lah lihatin itu kuda, dielus-elus pengen naik. Ya udah deh, kebetulan kami parkir di Alun-alun utara jadi lumayan jauh dari jalan Malioboro. Kami pikir ya udah ke sananya naik delman aja biar Kaleb senang. Padahal kalau naik bentor bisa lebih cepat dan cuma bayar Rp 10.000 bisa keliling Malioboro dan mampir ke 3 tempat. Awalnya Pak Delman buka harga Rp 60.000 dan menawarkan udahlah sekalian aja keliling Malioboro. Tapi kan kami nggak mau keliling Malioboro karena udah keliling jalan kaki, masa balik lagi. Plus, udah pengen balik ke hotel aja kecapekan. Ditawar Rp 30.000 nggak mau, ditinggal pun didiemin aja sama Pak Delmannya. HAHAHA. Trus Kaleb bilang, “Papa, kok nggak jadi naik kuda?” Lah, ciyan amat anakku. Ya udah akhirnya mampir ke delman berikutnya dan cuma nawar Rp 50.000 aja biar nggak ditolak lagi *anaknya insecure abis, bok! Hahaha*. Untungnya Pak Delman mau. Lagian kan cuma sampe Alun-alun yang dekat.

IMG_8609

Akhirnya ku naik delman. Walau di foto nggak senyum tapi anak ini bahagia banget naik delman.

IMG_8604

Tapi tampang Mamaknya kelihatan lebih bahagia sih ya. 

Seru sih ya naik delman, mandangin sekitar. 15 menit kemudian udah sampe di Alun-alun bagian belakang. Kami pikir, oh tinggal jalan dikit udah sampe ke parkiran mobil, nih. Ternyata kami diturunin jauh banget dari parkiran. Yasalam, tahu gitu mendingan sekalian bayar buat keliling Malioboro kalau ujung-ujungnya jalan jauh juga, sih.

Kami udah sampai masuk halaman Kraton Jogja untuk sampai parkiran, tapi kok nggak sampai juga. Ngiterin komplek perumahan, jalan-jalan kecil, tapi nggak kelihatan Alun-alunnya. Mana udah capek, terik, Bapake gendong Kaleb. Pegel bener. Sampai akhirnya mutusin buat udahlah naik bentor aja. Ya tahu gitu dari Malioboro sekalian aja naik bentor ke Alun-alun cuma Rp 10.000 *hayati lelah*. Panggillah Pak bentor. Pak bentor nawarin Rp 10.000 sambil keliling Maliboro. Saya nawar dong. Soalnya nggak mau keliling Malioboro, cuma mau ke Alun-alun yang mana itu deket banget. Jadi saya tawar Rp 5.000. Pak delman nggak mau, malah tetap keukeu Rp 10.000 aja keliling Malioboro. Yo weis, sak karepmu, Pak. Tak tinggal, nih. Walau dalam ketar-ketir juga karena udah pegel bener jalan kaki. Untungnya Pak delman mau Rp 5.000. Dan bener aja untuk sampai ke alun-alun cuma 5 menit doang. Deket banget. Sampai di mobil saya dan suami ngakak heran karena Pak delman kok ya lebih milih capek keliling Malioboro Rp 10.000 daripada selempar kolor Rp 5.000 dan habis itu bisa dapat penumpang lainnya lagi. :))))

IMG_8596

Alun-alun utara. Di setiap alun-alun Jogja selalu ada 2 pohon beringin yang dipagari. Kan tersohor tuh katanya kalau bisa lewatin dua pohon beringin kembar ini sambil tutup mata nanti semua permintaannya dikabulkan. Kabarnya susah banget bisa lewatin lurus pohon kembar ini. Orang-orang biasanya jalannya malah miring ke kiri atau kanan. Suami iseng cobalah. Lah, kok gampang amat bisa lewatinnya. Ealah, setelah digoogling ternyata pohon beringin kembar di alun-alun selatan, bukan di utara ini. Salah pohon, Mas!

IMG_8592

Baru sempat masuk ke pelataran Kraton Jogja. Seru banget lihat Abdi Dalam Kraton yang ternyata masih memegang tradisi telanjang kaki. Nggak peduli panas juga.

Panties Pizza

Selama di Jogja karena Nanamia Pizza, Kaleb ngidam pizza mulu. Waktu itu kami lagi bingung mau makan apa dan nanya Kaleb, langsung doi jawab mau makan pizza. Jadilah kami cari restoran pizza lagi. Kebetulan di Jogja banyak bener pilihan resto pizza. Jatuhlah pilihan ke Panties Pizza karena namanya unik. *cetek*

Hari itu malam minggu jadi Panties Pizza rame banget, walau tetap gampang dapat tempat, sih. Ramenya sama ABG pada pacaran sama anak-anak kuliah lagi ngerjain tugas. Adek-adek ini rajin banget ya malam minggu mikirin tugas kuliah. Dulu saya mah malam minggu buku udah disimpan rapat dan nggak ditengok lagi. Haram hukumnya. :))) Berasa tua banget kan ke Panties Pizza sambil ngangon anak. Hahaha.

Pesannya langsung ke kasir. Pizzanya banyak banget macamnya dan unik-unik rasanya. Semua dalam ukuran personal pan. Untuk 2 pizza personal pan, 1 kopi, 1 es coklat, totalnya Rp 80.000. Enak ya, selama di Jogja nggak pernah sekali makan ngeluarin lebih dari Rp 100.000. Semua di bawah Rp 100.000, bok. Sedap!

Walaupun ukurannya personal, tapi porsinya gede banget. Mantaplah! Uniknya kalau biasanya pizza topingnya di atas, Panties Pizza ini topingnya di dalam. Keju mozarella banyak banget dan nggak pelit jadi pas diangkat kelihatan banget lelehan kejunya. Sebagai pecinta keju saya bahagia banget lah lihat lelehan keju kayak gini.

Overall Panties Pizza ini sangat mengenyangkan dan rasanya enak. Kabar baiknya lagi Panties Pizza ini sebenarnya baru buka di Jakarta. Letaknya di Slipi Jaya. Lumayan nggak jauh dari rumah. Kalau Kaleb ngidam pizza lagi mau bawa ke sini ah.

IMG_8616

Spot mejeng buat foto

IMG_8620

Kejunya banyak banget. Lihatnya aja bikin kepengen lagi.

 

Nah, itu semua tempat yang saya datangi pas ke Jogja kemarin. Nggak terlalu banyak, ya karena kalau bawa bocah benar-benar harus disesuaikan sama kondisi bocahnya. Nggak bisa diforsir dari pagi sampe malam, atau menclak-menclok dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga nggak menikmati perjalanan. Pokoknya prinsipnya, Kaleb harus nyaman. Kalau kami merasa capek, ya kami balik dulu ke hotel untuk istirahat. Atau kalau udah nggak sanggup jalan-jalan lagi malamnya, ya udah makan aja di restoran hotelnya. Pokoknya liburannya jangan sampai malah terlalu capek dan nggak menikmati. Terutama bocah harus tidurnya cukup biar nggak cranky.

Ada banyak banget tempat yang mau dikunjungi lagi di Jogja. Berarti ada alasan untuk selanjutnya balik lagi ke Jogja. Yeay!

Posting berikutnya akan review hotel tempat kami menginap. See ya. 😀

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (2)

Lanjut lagi ya cerita jalan-jalan ke Jogja-nya. Untuk mau tahu tempat-tempat yang kami datangi sebelumya bisa dilihat di sini.

Candi Borobudur

Catatan penting untuk ke Borobudur adalah: jangan lupa pake sunblock! Gila ya, saya nggak pake sunblock dan kebetulan pake baju kutung, pulang-pulang bahu dan tangan langsung kebakar merah. Hahaha!

Lagian salah kami juga sih ya, sampai di sana jam 10 pagi yang mana udah terik banget lah matahari. Niatnya sih mau bangun pagi-pagi banget, tapi apa daya baru bangun jam 7 pagi, sarapan sampai jam 8 pagi, siap-siap baru berangkat jam 9 pagi. Perjalanan dari Jogja ke Magelang sekitar 1 jam. Sebenarnya Magelang ini dekat gunung, cakep banget pemandangannya. Tapi ya tetep, kalau jam segitu mah ya panas atuh.

Oh ya, jangan lupa bawa kacamata hitam dan topi. Saya sih nggak pake topi, tapi terselamatkan dengan kacamata hitam. Kalau Kaleb wajib pake topi karena panas kan. Kalau nggak bawa juga banyak dijual di sana topi dan kacamata hitam yang wajib ditawar. Jadi ceritanya saya sok nyobain blankon buat anak kecil karena lucu banget lah dipake Kaleb. Tapi nggak niat beli karena toh Kaleb nggak betah pake topi. Iseng nanya harganya Rp 60.000. Karena nggak mau beli ya udah ucapin terima kasih lalu pergi. Eh, penjualnya langsung aja turunin harga sampe Rp 30.000. Hm, jangan-jangan kalau ditawar bisa murah lagi. Jadi tawarlah setengah harga, ya. Di sana juga ada sewa payung Rp 5.000-10.000 sepuasnya. Lumayan juga nih buat kalau panas. Tapi saya malas rempong jadi nggak mau sewa payung. Yang paling penting: wajib bawa air minum. Bakalan haus dan capek jadi butuh minum. Beli di mini market aja karena di sana mahal.

Untuk tiket lokal harganya Rp 40.000 (beda dengan tiket warga internasional) dan anak di bawah 3 tahun belum perlu bayar. Yeay! Untuk tiket yang nggak terlalu mahal worth it banget lah. Borobudur sangat bersih, WC-nya pun bersih (kalau di depan bayar Rp 2000), banyak petugas dan penjaga yang kalau dari atas Borobudur bisa kita lihat banyak banget keliling. Good job!

Di gerbang masuk, kita akan diperiksa tasnya. Nggak boleh bawa makanan sama sekali, tapi bawa minum boleh. Yaeyalah, bisa pingsan kehausan! Kan sebelum masuk gerbang banyak penjual yang menawarkan dagangannya karena nanti di dalam nggak ada tukang jualan, ya. TETOT! Di dalam ada tukang jualan kayak mereka juga. Nggak banyak sih, dan cuma di depan setelah gerbang masuk. Tapi kan harusnya nihil, ya.

Untuk sampai ke Candi-nya melewati hiasan payung-payung warna warni yang cakep banget buat foto. Saya sih pengen banget ya banyak foto di situ, tapi sungguh terik matahari lah yang menghalangi. Panas, cyin!

IMG_8306

Kelihatan kan payung warna-warninya. Makin dekat makin cantik. Kalau kata suami, “Fungsinya payung di atas buat nutupin biar nggak panas, ya? Daripada digantung mending dipegang aja deh payungnya. Jelas adem.” Hahaha.

Sebelum candi ada penyewaan sarung gratis. Tapi ini agak membingungkan sih. Siapa yang harusnya pake sarung? Pakaian seperti apa yang harus pake sarung? Karena nggak semua orang pake sarung. Mau pakaiannya celana pendek pun tetap aja bisa ngeloyor masuk dan nggak papa. Saya dan suami memutuskan pake sarung karena saya pake rok pendek dan suami pake celana pendek. Saya pikir ini rumah ibadah jadi harus tetap menghormati dengan memakai sarung.

IMG_8323

Sarungnya pendek juga, sih

Masuk ke Borobudur mulai berdesakan karena banyak banget orang. Mungkin karena jalan naiknya dibikin 1 dan dipisahkan dengan jalan keluarnya. Jadi kalau mau foto-foto nggak perlu di pintu masuknya, nanti di dalam banyak kok yang tampak seperti pintu masuk dan sepi.

Borobudur ini emang cantik banget, ya. Tiap ukirannya sangat detil. Kan jadi kepikiran itu jaman dahulu gimana caranya bawa batu-batu ke atas sana dan diukir. Capek gila. Maklum ya ijk naik ke Borobudur udah mau semaput napas ngos-ngosan. Apalagi tangga di Borobudur cukup curam jadi hati-hati banget lah.

IMG_8318

Ini masih di bawah. Di ujung ada spot sepi jadi nggak kelihatan banyak orang.

Nah, karena tangganya cukup curam pas mau naik ke stupa, jadi Kaleb mendingan digendong pake Ergo. Tangga ke atas cukup sempit dan naiknya tinggi, kalau anak kecil naik sendiri sih serem banget, ya. Jadi mendingan digendong pake gendongan biar tangan orang tuanya juga bisa pegangan sama tangga dan nggak goyah. Kalau soal gendong mah urusan Bapake ya, soalnya Mamak mau gendong juga udah rempong sama urusan napas ngos-ngosan dan keseimbangan yang kurang. Hahaha.

IMG_8319

Naik ke atas gendong di belakang. Anaknya kesel karena susah ngeliat ke depan.

IMG_8354

Turun ke bawah gendong depan biar Kaleb bisa lihat pemandangan. Gendongan Ergo mailaf!

Di atas harus hati-hati banget karena ada beberapa spot yang direnovasi atau nggak ada pengaman langsung menuju tangga atau ke bawah. Serem! Untuk Kaleb yang hobi lari sana-sini saya sih cukup sport jantung karena dia sempat mau lari ke pinggiran. OH NO! Nah, untuk anak kayak Kaleb cukup tricky, nih. Begitu dia di pinggiran kalau saya langsung kejar, dia akan semakin lari karena mikir lagi diajak main (miriplah, kalau lah sama doggy, kalau kita heboh lari, mereka juga heboh ikutan lari karena dipikir mau main). Jadi saya teriak keras dengan nada tinggi, baru kemudian dia mau stop, freeze, dan nengok ke saya. Kalau udah gitu langsung geret anaknya dari pinggir. GILA, ITU KALO JATUH GIMANA? Huft! Jadi, pegang erat-erat anaknya, deh.

But overall, Borobudur itu cakep banget. Apalagi pas pemandangannya ke arah gunung. Segar banget lihatnya. Di bawahnya juga terdapat hamparan hijau. Keren! Kapan nih bisa nginep di Hotel Plataran Borobudur biar bangun-bangun bisa lihat sunrise Borobudur? #eaaa

IMG_8335

Cakep banget pemandangan di belakang, kan.

IMG_8326

IMG_8345

IMG_8350

Turun dari candi, seperti biasa langsung dihampiri buanyak pedangan lagi. Kadang-kadang jadi gengges karena mereka nggak mau stop waktu kita bilang nggak. Anyway, waktu baru turun penjual baju jualnya Rp 100.000 dapat 5 kaos. Nanti di ujung jalan-jalan dapat yang Rp 100.000 dapat 7. Nah 7 kaos Rp 100.000 udah maksimal, nggak ada yang nawarin 8 kaos soalnya. Hahaha.

Keluar dari gerbang Borobudur, untuk sampai ke parkiran melewati BUANYAAAAAK banget kios-kios suvenir dan itu harus lewat situ, nggak ada jalan lain. Gilingan ya, udah capek, kepanasan di Borobudur, masih harus melewati toko-toko suvenir berkelok-kelok yang panjang banget. Capcay! Tapi untungnya ada teh poci sih jadi lumayan bisa mengatasi haus. Dikirain teh poci di Jogja bakal lebih endeus daripada di Jakarta. Sama aja ternyata. Hahaha, tapi lebih murah pastinya. Rp 5.000 untuk gelas kecil, Rp 8.000 untuk gelas besar.

House of Raminten

Tempat makan ini kan beken bener, ya. Di mana-mana, entah di TripAdvisor ataupun situs-situs wisata lain pasti bilang harus cobain makan di House of Raminten. Beklah, mari kita coba.

Kondisinya kita habis dari Borobudur sekitar jam 13.00 mau ke House of Raminten di tengah kota yang perlu menempuh waktu satu jam. Udah laper dong, bok. Anak eike mah walau lapar dia selow, yang penting jalan-jalan dan udah dikasih pisang. Lumayan buat ganjel perut. Tapi emak bapaknya kan ya nggak ganjel apa-apa, paling keripik, ya lapar gila lah.

Sampai sana sampai jam 14.00. Tempatnya unik sih, semacam banyak printilannya. Ada tempat tunggunya sambil dipasang TV berisi acara kabaret. Jadi House of Raminten ini walau buka 24 jam tapi tetep rame jadi harus waiting list mulu. Nggak papa, buat orang yang penasaran, walau lapar, tetap dijabanin.

IMG_8358

Ini tempat menunggunya. Disuguhi tontonan kabaret di TV. Nah, itu patung ibu Raminten yang ternyata aslinya cowok. Haha.

IMG_8357

Tulisan di dindingnya sebenarnya lucu-lucu. Tapi saya udah terlalu capek dan laper untuk foto jadi fotonya aja dari tempat duduk nunggu. Di bagian tengah bawah ada sesajen. Itu pintu masuk buat ke dalam restorannya kalau udah dapat panggilan.

Waiternya kebanyakan cowok. Yang usher-nya aja cowok, cucok meong, bok. Alias ganteng dengan badan kekar. Mana seragam atasnya kan semacam kemeja lengan pendek berdasi kupu-kupu dan pake rompi, tapi bawahnya sarung. Jadi kelihatan lah itu otot-otot. Awalnya saya pikir, oh mas di depan kebetulan ganteng. Tapi nggak loh, semua waiter cowoknya ganteng berbadan kekar. Uhlala! Suami aja nyadar dan nanya ini emang kualifikasinya harus ganteng dan anak gym, ya? Apakah bos House of Raminten membiayai karyawannya dengan fasilitas member gym? Hihihi. Gosip-gosip tetangga nih, kabarnya mereka kurang tertarik dengan lawan jenis. Eh, tapi ini gosip loh. Coba tolong dibuktikan kebenarannya. Digodain gitu mas-nya siapa tahu berjodoh. Hahaha.

Kami duduk di lantai atas yang lesehan. YANG MANA INI DISASTER, ya. Lesehan dengan anak kayak Kaleb nggak bisa diam, plus ruangan semacam terbuka. Takut jatuh, bro! Walau kayaknya nggak mungkin jatuh sih karena ada pembatasnya, tapi tetap aja sebagai emak panikan dan anak pecicilan, saya parno banget sampai nggak bisa tenang. Jadi mending minta di bawah yang ada bangkunya, deh. Tapi mostly emang lesehan sih tempat duduknya.

IMG_8375

Ku sedih minuman udah datang, tapi makanan baru datang seabad kemudian.

Udah manis nih duduk di atas, disodorin buku menu juga. LOH, tapi kok nggak ada tampak waiter di atas? Cemana mau pesan? Apakah harus turun ke bawah juga? Kebetulan setelah 15 menit kebingungan, ada kelihatan waiter ganteng naik. Akhirnya kita panggil mau pesan. Tapi ternyata disuruh nunggu dulu karena nanti ada yang akan catat pesanan. Oh baiklah. Nunggunya aja lama bos! Baru 15 menit kemudian datang.

Yang bertugas catat pesanan ternyata waitress cewek. Kostumnya seksi abis. Berkemben dan memakai sarung dengan make up tebal ala mau syuting sinetron. Satu mbak ini mencatat giliran seluruh pesanan yang ada di lantai 2. Bayangin aja, sampai ke meja saya yang letaknya di ujung dekat tangga lama bener. Setelah catat pesanan, harus langsung bayar saat itu juga dengan cash. Semacam Bakmi GM dan Solaria, ya. Hahaha. Tapi point plusnya nih, makanannya murce semua bok. Saya pesan bakso mie, bakmi goreng, gudeg, jus mangga, tempe crispy 5 potong, es teh manis cuma Rp 87.000 saja. Selama di Jogja ini dompetku bahagia banget, nggak cepet tipisnya. Hahaha.

Udah bahagia bayar dengan murah tinggal tunggu makanannya, dong. Ditunggu-tunggu kok ya nggak datang juga. Ebuset sampai 45 menit makanan baru datang. Ini dimasak di kompor emas atau gimana nih kalau leh tau? Dari lapar pengen ngamuk sampai diam seribu bahasa karena energi udah habis. Ku sungguh lelah. Sampai akhirnya saya dan suami bikin jokes, “Inget ini di Jogja. Prinsipnya alon-alon asal kelakon. Makanya semua serba pelan. Yang penting nanti juga keluar makanannya.” Inggih, mas *nyemilin meja kayu*.

Sekitar jam 3 lewat makanannya baru datang. Ya langsung lah kita makan kalap membabi buta tanpa sisa. Ya udah lapar gila ini mah. Rasanya sih biasa aja, ya. Bukan yang istimewa banget. Kenyang di liatin mas-mas ganteng seliweran aja sih. Hahaha. Tapi untuk harga yang murah, hati ini legowo aja makannya.

Sebelum pulang, mau ke toilet dulu, kan. Turunlah ke lantai bawah mau ke toilet yang letaknya di belakang. Melewati bath tub bulat besar kosong yang entah apa gunanya (btw, di resto ini juga banyak sesajen diletakkan di sudut-sudut. Mungkin memang tradisinya begitu, tapi nggak horor sama sekali, kok). Menuju toilet, tiba-tiba ada benda besar bergerak warna hitam. Saya KAGET banget dikirain ada ular anaconda dipelihara (iyaaa, anaknya mah emang drama banget). Ternyata itu adalah…… KUDA! Jangan terkejut dulu, karena ternyata di bagian belakang ada LIMA kandang kuda. Epic banget lah ini restoran. Hahaha. Entah apa maksudnya di bagian belakang ada kandang kuda. Lalu di bagian luar belakang ada kereta kuda macam jaman kerajaan Cinderella. Cakep sih kereta kudanya. Nah, kuda begini nih yang bikin Kaleb bolak-balik minta ke belakang mulu. Saya mah udah serem sendiri lihatnya karena walau di kandang, tetap aja itu kuda gede bener.

IMG_8377

Di belakang situ ada 5 kandang kuda dengan kuda yang besar-besar. Di tengahnya adalah tempat cuci piring massal. Mas, kok bisa cuci piring ditemani kuda-kuda, toh?

IMG_8378

Kereta kuda yang diparkir di samping restoran. Semuanya ditutupi plastik biar nggak kena debu. Bentuknya bagus banget dan mewah, dibandingkan dengan kereta kuda di Malioboro.

Btw, House of Raminten ini punya kabaret show tiap Jumat dan Sabtu malam di Malioboro,di lantai atas Batik Mirota. Harga tiketnya reguler Rp 50.000 dan VIP Rp 60.000. Saya sih nggak nonton. XD

Jadi kalau punya waktu luang bolehlah berkunjung ke House of Raminten ini. Tapi kalau lapar banget kayak saya mendingan nggak. Emosi jiwa broh nunggu makannya. Plus pas nyuapin anak jadi nggak sabar karena udah pengen makan orang aja. Hahaha!

Tempo Gelato

Tempo gelato ini lagi hits banget. Letaknya di Jalan Prawirotaman yang banyak dihuni para bule. Untuk menemukan Tempo Gelato nggak sulit karena tokonya paling rame. Cuma karena jalannya di gang dan nggak ada area parkir untuk mobil, jadi mendingan sebelum Tempo Gelato udah diparkir aja mobilnya di pinggir jalan. Kalau nggak ntar kayak saya yang harus muter balik lagi karena semakin mendekati Tempo Gelato semakin nggak dapat parkiran.

Begitu masuk udah kayak pasar, RUAME banget. Semua tempat duduk full. Jadi ya sabar aja nungguin orang yang selesai makan, ya. Untuk harganya sendiri nggak mahal: 1 cup isi 2 scoop Rp 20.000, 1 cone isi 2 scoop Rp 25.000. Ada yang lebih besar lagi sih, cuma saya lupa berapa harganya. Kami pesan yang pake cone. Setelah bayar di kasir, dikasih nomor antrian, baru nanti menuju etalase untuk pesan mau rasa apa. Walau membludak banyaknya orang tapi saya sih nggak sampai nunggu lama.

IMG_8446

Macam mau antri sembako aja, kan.

IMG_8447

Kenapa bisa enak? Jawabannya ada di atas.

Rasanya ada macem-macem banget. Kami pesan rasa caramel coffee, oreo gold, strawberry, dan vanilla. Masih ada banyak macam lainnya yang lebih unik lagi, kayak buah naga, leci, kemangi, jahe, dll.

Ukurannya besar banget. Satu scoop aja udah gede, ini dapet 2 scoop. Dijamin kenyang banget. Conenya pun enak banget untuk dimakan. Puas banget pokoknya. Oh soal rasa es krimnya bener-bener enak dan asli banget. Kayak caramel coffee, berasa bener itu kopinya. Saya pesan strawberry karena saya pikir rasanya akan kayak es krim walls yang manis karena kebanyakan susu daripada strawberry. Tapi ini rasanya asem segar kayak buah strawberry asli. Berasa makan buah beneran jadinya.

IMG_8428

IMG_8431

Gede banget kan tuh. Hampir sebadannya Kaleb.

IMG_8463

Kaleb yang jarang-jarang dibolehin makan es krim, tentunya kalau liburan boleh dong makan es krim. Dia langsung suka banget sama es krim rasa kopinya (anaknya emang suka kopi) dan habis itu satu cone gede. Uhlala enak!

IMG_8460

Penasaran kan habis ini mau ke mana lagi. Ditunggu post selanjutnya, ya.

 

 

 

#KalebTrip: Kaleb Goes To Jogja (1)

Post sebelumnya tentang persiapan dan perjalanannya yang heboh. Sekarang mau cerita tempat-tempat yang kita datangi selama tour de Java (aseeek!):

Soto Sokaraja Pak Suradi (Purwokerto)
Waktu di Tegal mencari tempat makan untuk sarapan (well, jatuhnya brunch karena udah jam 10), nggak ada rekomendasi tempat makan di Tegal. Akhirnya cari tempat makan di kota terdekat, yaitu Purwokerto. Di TripAdvisor rekomendasi nomor 1 adalah Soto Sokaraja Pak Suradi ini. Jadi walau jaraknya sekitar 20 menit dari Kota Purwokerto ya dijabanin aja, deh. Lagian penasaran banget Soto Sokaraja kayak gimana, sih?

Begitu sampe Sokaraja nggak terlalu sulit mencari Soto Sokaraja Pak Suradi (iyalah nggak susah, kan pake Waze hihihi). Letaknya di pinggir jalan besar. Kalau mau parkir mobil bisa masuk ke gang dan parkir di halaman restorannya langsung.

Dari luar Soto Sokaraja Pak Suradi ini terlihat kecil sampai saya ragu ini beneran bersih nggak? Enak nggak? Kok nggak meyakinkan gini tempatnya? Tapi ternyata pas masuk, dalamnya luas banget. Bahkan ada banyak halaman untuk parkir, toilet yang banyak, dan mushola. Di dindingnya ada banyak foto orang ternama seperti Pak SBY, Ahmad Albar, Indro Warkop, dll.

IMG_8202

Ini tampak ke arah depan, di belakang masih luas lagi.

Begitu masuk langsung ada etalase untuk pemesanan. Pilihannya soto semua, cuma isinya bisa pilih daging/ati, ayam, campur. Saya pilih ayam. Begitu sampai cuma sotonya aja. Saya bingung dong. Soto di Jakarta kan pasti ada nasi-nya biar kenyang. Akhirnya saya minta nasi, tapi sayangnya belum matang nasinya. :((( Eh, tiba-tiba suami bilang itu di dalam campuran sotonya udah ada lontong jadi nggak perlu nasi lagi. LOH, ada lontong? Wah, baru kali ini coba soto ada lontongnya. Yang unik lagi, sambalnya pake sambal kacang, jadi rasanya gurih, manis, nggak terlalu pedas. Saya sih nggak lihat ada sambal cabe disediakan, ya.

IMG_8197

Isinya daging ayam, kerupuk, kuah bening, lontong, dan banyak toge

Buat saya, rasanya cukup berbeda dengan soto biasa yang sering saya makan, tapi saya suka, sih. Plusnya karena pake lontong jadi nggak ribet ada 2 piring, yang satunya nasi. Dan ternyata soto pake lontong enak juga. Tapiiii… kekurangannya buat saya adalah kurang pedas. Yah, mungkin karena pake sambal kacang, bukan sambal cabe. Lain kali makan ini minta sambal cabe, deh.

Untuk 3 mangkok soto ayam, 2 kerupuk, 2 es teh manis, dan 1 es jeruk harganya cuma Rp 76.000. Murah!

Nanamia Pizzeria (Tirtodipuran, Jogja)

IMG_8254

Depannya kayak rumah biasa, nggak kelihatan besar. Masuknya lewat samping, semacam garasinya untuk ke taman belakang.

Nanamia Pizzeria terletak di Jalan Tirtodipuran. Restoran ini dipilih karena dekat banget sama hotel kami di jalan Jogokaryan. Lokasinya di dalam gang, bukan di jalan raya besar, tapi di dalam gang tersebut banyak restoran heits Jogja. Semacam di Seminyak.

Dari depan Nanamia kelihatan seperti rumah biasa. Parkiran mobilnya pun nggak besar. Tapi ternyata begitu masuk ke dalam, waaah luas banget. Konsepnya adalah backyard. Ada ruang terbuka kayak di belakang rumah dan ada di dalam juga, tapi tidak ada pintu atau sekat. Nggak ada AC sama sekali, tapi tetap adem karena ruangannya terbuka.

IMG_8251

Begitu masuk ke halaman belakang disambut dengan dekor yang cantik dan cozy

IMG_8229

Ada pojok playground kecil untuk anak-anak main. Mainan yang disediakan semacam balok-balok, lego, dan semacamnya. Karena halamannya yang sangat luas, untuk anak pecicilan kayak Kaleb cocok banget. Dia bisa main di pojokan playground atau lari-lari di halaman. Saking terkesannya Kaleb sama resto pizza ini, selama di Jogja Kaleb minta makan pizza mulu. XD

Ketika sekitar jam 6 sore kami datang, restoran udah mulai penuh. Yang datang kebanyakan bule daripada orang Indonesia. Para bule itu juga biasanya sama keluarga dan anak mereka yang masih kecil jadi Kaleb punya teman main. Kami nggak kebagian duduk di bagian luar, akhirnya duduk di bagian dalam.

IMG_8249

Ketika lihat ada Kaleb, mereka langsung memberi baby chair dan kertas gambar serta pensil warna. Wah, atentif banget. Suka sekali! Kaleb jadi ada kesibukan sambil menunggu makanan datang.

IMG_8239

Gaya kebosanan si anak kicik

IMG_8242

Dikasih kertas gambar dan pensil warna. Anak ini langsung senang. Awalnya sibuk gambar, lama-lama pensil warnanya dipake buat pukul-pukul main drum.

Kemarin kami pesan: fetuccini carbonara, satu loyang pizza, trivolli bolognaise, es teh manis, dan satu botol bir. Porsinya besar dan mengenyangkan. Paling penting rasanya gurih, enak, pizzanya tipis dan crispy. Bikin nagih banget lah. Total kerusakan untuk semua makanan adalah Rp 160.000. Good deal banget. Kalau di Jakarta belum dapat segitu, even di Pizza Hut. 😦

IMG_8245

Enak, mengenyangkan, affordable, tempat kece. Love!

Alun-Alun Kidul Jogja
Habis perut kenyang, kami melanjutkan mengunjungi Alun-Alun Selatan Jogja atau Alun-Alun Kidul karena letaknya yang dekat banget sama Nanamia. Tujuannya apalagi kalau bukan naik mobil gowes berlampu heboh.

Karena banyaknya mobil gowes di Alun-alun jalanan jadi muacet banget dan penuh orang. Kaleb mah langsung excited lihat mobil heboh penuh lampu bergambar tokoh kartun. Anaknya udah langsung mau naik aja.

Walau penuh, untuk cari parkiran nggak terlalu susah. Selama di Jogja, satu hal yang kami sadari, tukang parkirnya beneran niat kalau parkiran alias perfeksionis. Hahaha. Jadi misal ada spot kosong, suami mau parkir lah. Seperti biasa diarahin sama tukang parkir, tapi tukang parkirnya beneran arahin sampe detil banget sehingga parkirnya presisi dan rapi. Bravo hahaha! Kalau kata suami, kalau kayak gini mah kasih uang parkir rela banget karena pas parkirin masnya niat, pas mau keluar masnya juga bantuin banget. Beda yes, kalau di Jakarta tukang parkir hanya muncul pas mau ambil uang aja. Huh! Untuk tarif parkir dipatok Rp 10.000 selama apa pun. Itu resmi karena kami dikasih karcis resmi pemda.

IMG_8263

Heboh bener ya mobilnya

Sepanjang Alun-alun tinggal pilih mana mobil gowes yang mau dinaikin. Kaleb ternyata pilihannya nggak mau yang heboh, semacam Hello Kitty, Pikachu, Doraemon. Dia mau yang gambarnya sayap aja. Anakku minimalis. Hahaha. Untuk sekali putaran Rp 50.000. Semua udah sepakat harganya sama. Sempat nawar trus ditolak dan pas sok ditinggalin Mas-nya bodo amat. Ku gagal menawar. :(( Kalau menurut Mas-nya itu sekali putaran aja macet banget jadi kembalinya lama banget. Iya sih, macet banget. Ya udah deh kasihan abangnya. *lemah*

IMG_8264

Cara mengendarainya sih gampang, ya kayak naik sepeda aja cuma butuh digowes. Tapi ternyata berat juga, cyin. Kalau kata suami, “Udahlah bayar mahal, capek juga ngendarainnya. Betis jadi gede, nih!” HAHAHAHA, eymber! Tapi buat saya dan Kaleb sih menyenangkan aja. Karena Kaleb bisa duduk di pangkuan Bapake sambil ikutan nyetir (kalau naik mobil kan nggak boleh karena bahaya) dan saya bisa dengerin lagu dari DVD player yang disediakan. Lagunya tuh lengkap dari lagu anak-anak masa kini dan masa jadul sampai lagu heits terbaru. Terberkatilah ada lagu Justin Bieber dan Despacito. Hahaha! Goyang, mas!

IMG_8267

sayang anak, sayang anak!

Jadi walau berakhir ngos-ngosan, kaki pegel, tapi ijk demen lah. Terutama karena bisa lihat keramaian di Alun-Alun dan banyak banget atraksi di tamannya, kayak ada robot Transformer, orang main bubble, kostum princess, dsb. Seru, euy! Btw, di Jakarta alun-alun semacam gini di mana, sih? Monas, ya?