Akhir Kisah Menyusui

Dua bulan sebelum Kaleb berulang tahun kedua, saya mulai sering bilang ke Kaleb bahwa dia sudah besar dan waktunya berhenti nenen. Setiap malam sebelum tidur, saya bilang begitu terus karena anaknya belum bisa tidur tanpa nenen kalau ada saya. Hasilnya, dia ngamuk. Kaleb nangis dan bilang, “Mami, Kaleb mau bayi terus aja.” XD

Kan awal menyusui baik-baik, ya. Kaleb suka, Mamak suka. Yuk, lanjutin nenen. Makanya berhentinya pun maunya baik-baik. Nggak pake paksaan. Jadi, kalau Kaleb ngamuk, ya udah lep kasih nenen lagi lah. Saya anggap dia belum siap. Nanti dia bakal siap sendiri kok. Plus, saya malas kalau udah mau tidur malam, saya udah capek dan ngantuk, masih harus dengerin anak drama nggak dikasih nenen. Lelah hayati. Hahaha. Karena itu juga, saya nggak pernah berusaha melarang dia untuk nenen. Peraturannya, kalau udah 2 tahun adalah hanya nenen kalau mau tidur. Nggak di tempat umum, nggak di mobil, nggak di mana-mana. Hanya di tempat tidur. Sip, ya.

Pas umur ulang tahun kedua, anaknya tetap keukeuh harus nenen. Hiyaa, mana ini ungkapan kalau anaknya diberi pengertian jauh-jauh hari akan paham. Kaleb menolak keras untuk berhenti nenen. Nenen is a must lah! Akhirnya saya pasrah aja kalau Kaleb akan nenen lebih dari usia 2 tahun dan yo weislah toh nenen nggak memberikan dia pengaruh buruk, kan?

Tapi sebenarnya saya kali yang nggak siap untuk stop nenen. Iya, saya bosen nenenin tiap mau tidur, iya saya capek harus tidur miring terus, tapi dalam hati saya nggak siap melepaskan anak sendiri untuk lebih mandiri. Makanya saya nggak pernah benar-benar berusaha untuk dia stop nenen. Sepertinya saya lagi mengumpulkan kesiapan, begitu pun Kaleb. Stop dari aktivitas yang 2 tahunan ini bikin kita lengket kayak amplop dan perangko ternyata nggak mudah, ya.

Sambil mengumpulkan kesiapaan, saya terus bilangin dia tiap hari untuk berhenti nenen karena udah besar. Cuma bilangin aja, sih. Nggak maksa. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu dia sungguh sangat posesif sama nenen, udah ketiduran pun begitu saya lepas dia tersadar dan berusaha nenen lagi. Masalahnya, giginya kan udah banyak ya, jadi sering banget nggak sengaja kegigit. Duh ampun, sakit bos! Dulu pas dia tumbuh gigi kayaknya cuma sekali tetek saya digigit dia, habis itu nggak pernah lagi. Lah, ini udah besar malah sering nggak sengaja kegigit. Keinginan untuk stop nenen jadi membesar dan saya makin siap.

Perlahan-lahan saya mengubah sugesti saya ke Kaleb karena setelah dipikir-pikir kalau makin dilarang, dia pasti makin sebel. Gila, nenen adalah hal paling favorit dari lahir sampai sekarang kok malah dilarang? Ya no way jose lah. Itu pasti sesuatu yang bikin dia merasa nyaman banget. Jadi ya nggak perlu dipaksa. He would know when to stop. Kalau mau tidur dan dia minta nenen, saya bilang, “Oke nenen sebentar aja ya, nanti Mami elus.” Maksudnya elus punggung dia sambil ketiduran. Dan ternyata dia paham lho. Jadi tiap nenen, saya kasih waktu sekitar 5 menit, lalu saya bilang, “Yuk Kaleb, nenen udahan. Mami elus.” Dia pun langsung stop dan balik punggung untuk dielus. Oh, ternyata ungkapan yang lebih positif bikin dia lebih secure. Nggak menakutkan kayak waktu disuruh stop nenen.

Keadaan nenen bentar dan elus ini seiring-iring berubah karena Kaleb lebih memilih untuk habis nenen, mending pegang tetek. XD Ya udahlah saya pikir, nggak capek ngelus punggung dia sampai ketiduran pula.

Sekitar 3 minggu lalu, Kaleb demam. Seperti biasa demam pasti bikin dia nggak bisa tidur dan milih untuk digendong saya mulu. Pegel, bok! Waktu itu saya pikir kalau gendong sambil duduk, saya juga bakal capek karena nggak bisa tidur. Jadi saya bilang ke Kaleb gendong, tapi sayanya sambil tiduran. Jadi posisinya dia tidur di atas dada saya sambil saya peluk. Dia pun ketiduran sambil pegang tetek saya.

Nah sejak itu, setelah nenen, dia minta tidur digendong sambil pegang tetek. Tapi 2 minggu ini, out of nowhere, nggak dipaksa, nggak disuruh, tiap mau tidur dia nggak merengek minta nenen, tapi langsung bilang, “Mami, mau tidur diendong aja.” Awalnya saya nggak sadar sih dia nggak nenen lagi, sampai suatu hari pas saya ingat-ingat, lho udah seminggu Kaleb nggak nenen. Dia cuma minta minta diendong sambil pegang tetek sebelum tidur aja.

Is it the time for he’s weaning himself?

Jadi saya perhatikan lagi deh seminggu ke depannya. Iya, nggak minta nenen, lho. Tapi sekarang ritual tidurnya begini: masuk kamar, matiin lampu, tak lupa dia cek tetek saya. Kalau masih pake BH, dia akan bilang, “Mami, buka BH-nya!” HAHAHAHA. Tiap hari dia ingetin saya buka BH. Lalu dia sambil tiduran pegang tetek saya dia pernah bilang, “Mami, kok teteknya kecil?” Saya cuekin. Dia tanya ulang lagi. Asem! :))) Teteknya kecil kebanyakan nyusuin kamu!

Jadi kayaknya ini akhir perjalanan menyusui saya. 2 tahun 4 bulan. LEGA banget karena akhirnya bisa stop menyusui tanpa drama dan ternyata kalau dua-duanya siap emang semudah itu. :’)

Apakah saya kangen moment menyusui? BELOM ya! :))) Gilakkk, I finally have my freedom. Saya nyusuin sambil tiduran itu bukan berarti ikutan tidur karena saya orangnya gampang kebangun. Nggak bisa posisi kaku miring trus ketiduran. Pasti harus nunggu anaknya selesai nenen dulu baru ketiduran. Baru sadar 2 tahun 4 bulan tidurnya begitu terus. PEGEL, cing!

Tapi bukan berarti selalu mulus, ya. Kayak tadi malam, Kaleb tiba-tiba ingat nenen dan bilang, “Mami, mau nenen.” Wah, deg-degan juga saya. Apa nanti kalau nggak dikasih dia akan ngamuk? Saya bilang, “Nggak usah nenen, deh. Mami gendong aja, ya.” Dan ya udah dia diam, trus oke digendong. Mungkin dia lagi kangen momen nenen, ya.

Belum lagi Kaleb baru bisa tidur sepanjang malam itu pas umur 2 tahun. Sebelum 2 tahun, ya masih kebangun-bangun untuk nenen. Saya emang nggak sleep training dia. Karena saya lebih baik tinggal buka baju nyusuin bentar, lalu dia tidur lagi; daripada malam-malam ngadepin Kaleb ngamuk, susah dibalikin tidur lagi, dan bikin saya jadi zombie di kantor karena kurang tidur. No, buat saya tidur cukup itu penting dan saya nggak perlu drama persusuan tengah malam. Hahaha. Makanya pas Kaleb umur 2 tahun dia tiba-tiba tidur sepanjang malam, malah sayanya yang kaget. Saya masih otomatis kebangun tengah malam, trus bengong mikir, “Anak gue kok tumben belum kebangun buat nenen?” Eh, ternyata anaknya mutusin perlahan-lahan untuk mengurangi frekuensi nenen dia. :’)

Jadi, saya pikir anak tuh cukup pintar untuk mengatur waktunya sendiri. Kapan dia siap untuk mandiri secara emosional. Orang tua tuh cuma bantu aja, jangan maksa, tapi encourage dia dengan positif. Waktu proses weaning pun, saya nggak akan ingetin dia untuk nenen. Jadi saya diemin aja. Kalau dia minta nenen, saya kasih. Tapi kalau nggak minta, saya nggak akan sodorin. Kalau kita sodorin lagi, misal pas dia lagi ngamuk biar cepat berhenti ngamuknya, nanti nggak konsisten dan dia nggak akan siap-siap untuk lebih mandiri.

This whole breastfeeding journey worth all the pain, nipple cracking, never ending pumping sessions, all the breastfeeding boosters, sleepless nights, swollen breasts, and all those troubles we’ve got. Because in the end, breastfeeding isn’t just about milk, it’s about love.

I make milk. What’s your super power? ๐Ÿ™‚

Toilet Training Kaleb

Kaleb udah sekitar 3 bulanan ini belajar toilet training. Awalnya karena saya pikir dia udah usia 2 tahun, belum mau lepas nenen, dan belum toilet training sama sekali. Hm, harus ada yang dicapai nih karena kan dia semakin besar, harus semakin mandiri. Untuk berhenti ASI karena buat saya dan Kaleb sifatnya sacred (satu-satunya yang nggak bisa digantiin siapapun ya cuma kegiatan nenen ini. Only me and Kaleb), jadi saya menyerahkan keputusan dan kesiapan Kaleb untuk berhenti. Yah, walau saya selalu mengingatkan dia kalau sudah besar dan waktunya berhenti, lho. Tapi dia belum mau, jadi ya sudah.

Nah, untuk toilet training awalnya juga ragu. Dia cuma mau pup kalau mau mojok di sudut ruangan. Dibawa ke toilet selalu ngamuk. Berkali-kali dicoba dan gagal. Benar-benar pesimis, deh. Tapi toh saya pikir, dia sebenarnya sudah bisa, kok. Dia sudah bisa bicara, bisa membedakan mau pipis dan pup, tahu letak toilet, bisa membuka celana sendiri. Jadi mari kita coba.

Awalnya saya pakai training pants yang bentuknya lumayan tebal sehingga kalau pipis nggak langsung basah ke lantai. Tapi toh itu cuma punya 3 doang. Yang lainnya, saya pakai celana dalam biasa karena tujuan akhirnya kan pake celana dalam, ya.

Ternyata saya suka underestimate Kaleb karena toh dia bisa, lho. Di hari pertama dia lepas diapers, dia cuma gagal sekali pas pipis lagi tidur. Wajarlah, namanya lagi tidur jadi dia pasti nggak bisa nahan pipis. Tapi untuk pup, surprisingly dia nggak pernah gagal. Awalnya ngamuk nggak mau ke toilet, tapi lama-lama dia paham untuk pup di toilet. Dia sekarang kalau mau pup selalu bilang.

Nah, kalau pipis ini yang masih jadi masalah. Tiap hari di rumah udah no diaper. Tiap jam diajak ke WC. Kadang-kadang dia malah iseng bilang mau pipis, padahal pipisnya dikit banget. Ya udah gpp, demi keberhasilan nggak pipis di celana, kan. Tapi kalau dia udah sibuk main dan heboh, dia ya lupa bilang pipis. Kadang-kadang saya merasa dia nggak lupa bilang pipis sih, tapi dia nggak mau waktu mainnya diganggu atau diberhentikan dengan harus ke toilet. Jadi ya dia sibuk aja main.

Yang lucu karena pernah dia kebelet pas jalan-jalan, akhirnya Opungnya suruh pipis di pinggir got. Lah, habis itu dia nggak mau pipis di toilet, maunya di halaman rumah atau got! Pernah ke Ancol, dia bilang mau pupus. Opungnya udah ajak ke toilet mall, eh dia nggak mau pipis. Pas mau masuk mobil dia bilang mau pipis, tapi maunya di jalanan aja. Hadeuh! -_____________-*

Alasan mau pipis ini dijadikan Kaleb untuk main-main air. Jadi kalau lagi di mall atau di mana gitu, dia bilang mau pipis biar dia bisa main flush di toilet. Udah dibawa pipis, trus nanti 5 menit kemudian dia bilang mau pipis. Padahal kalau dibawa masuk ke kamar mandi ya nggak pipis juga, cuma mau main air. Zzz!

Untuk tidur malam, Kaleb masih pake diaper karena mamaknya masih males bangun tiap beberapa jam untuk ajak dia pipis. Lagian anaknya tipe yang kalau dibangunin pas masih ngantuk dia ngamuk, plus drama, trus nanti susah ditidurinnya karena dia udah sadar. Mamak pingsanlah kalau sampai kurang tidur. Tapi sebelum tidur dia diajak pipis dulu sih dan pas bangun diajak pipis lagi.

Jadi selama 3 bulan ini udah lumayanlah, tapi masih belum berhasil 100%. Ada yang toilet trainingnya sudah berhasil? Ceritain, dong. ๐Ÿ˜€

Anak Berani

IMG_20170730_131847_910

Kemarin Kaleb baru aja vaksin Hepatitis A dan Typhoid. Tinggal sisa vaksin Hepatitis A ulangan 6 bulan lagi dan MR di Puskesmas bulan Agustus nanti, vaksin selanjutnya akan diulang 3 tahun kemudian alias pas umur 5 tahun. HORE! Mamak akhirnya bisa santai dan tarik napas dulu dari dunia pervaksinan ini yang menguras dompet. Hahaha. Demi anak!

Dua hari sebelum vaksin, saya udah sering kasih tahu Kaleb akan divaksin yang berarti akan disuntik lagi. Dua bulan sebelumnya Kaleb divaksin dan dia nangis sebentar pas disuntik, tapi setelah selesai sih diam lagi. Jadi sebenarnya dari bayi Kaleb nggak pernah yang sampai menjerit heboh ketakutan kalau disuntik.

Kebetulan suasana tempat vaksinnya menyenangkan karena banyak mainan jadi Kaleb malah sibuk main. Pas mau masuk ke ruang dokter, dia bawa mainannya juga. Melangkah dengan pasti. Hihi.

Tiba saatnya disuntik, dokter tanya, “Kaleb mau duduk di tempat tidur atau dipangku?”. Kaleb bilang mau duduk di tempat tidur, tetep sambil bawa mainan truknya. Dia lihat dokter sedang mempersiapkan suntikannya dan dia bilang, “Nanti Kaleb disuntik di sini, ya.” sambil tunjuk pahanya. Bad ass abis! Nggak takut. Hahaha!

Tapi akhirnya Dokter minta dipangku mamanya karena takut nanti pas disuntik meronta kaget dan jadi susah disuntik. Beklah! Kaleb duduk di pangkuan saya, lalu dokter mulai menyuntik Kaleb. Anaknya menggeliat kesakitan pada saat disuntik, tapi …. NGGAK NANGIS. Dia cuma bilang, “Sakit!”

Kemudian, beralih ke paha satunya lagi untuk disuntik. Dan lagi-lagi Kaleb nggak nangis! Habis itu dia turun dari pangkuan dan kembali main.

Saya yang bengong karena anak 2 tahun ini berani banget pas disuntik dan nggak nangis. Soalnya dulu waktu saya masih kecil, tiap mau disuntik saya mah udah kayak cacing kepanasan, lari sana-sini menghindar, bahkan sampai ngumpet di bawah meja dokter. Saya baru nggak nangis pas disuntik itu pas SD mau vaksin di sekolah karena gurunya mengancam kalau nangis akan disuntik 2 kali. YA MENURUT LO AJA. Satu kali aja bikin semaput, ini mau 2 kali. Sejak itu saya nggak nangis karena setelah dipikir-pikir ternyata sakitnya gitu doang.

Balik lagi ke Kaleb. Keluar dari ruang dokter, saya nanya ke dia, “Kaleb, tadi gimana rasanya pas disuntik?”

“Sakit sedikit aja.” kata Kaleb.

Ebuset, jawabannya aja bikin saya kaget. Sakit sedikit bok bilangnya! Hahaha!

Jadi Mamak boleh ya kembang kempis, dada membuncah penuh rasa bangga karena anaknya berani banget disuntik dan nggak pake drama. ๐Ÿ˜€

Selamat hari Senin! ๐Ÿ™‚

 

 

Review: Kids@work

IMG_20170723_162138

Kemarin Kaleb main di Kids@work Gandaria City. Udah lama sih emaknya pengen bawa Kaleb main ke sini karena Kaleb kan suka banget sama segala sesuatu yang berbau truk dan kawan-kawannya. Tapi karena jarang ke Gandaria City, plus itu mahal (Rp 150.000 untuk 3 kali alat @5 menit) jadi yah belum jadi-jadi. Untungnya kemarin aunty-nya yang ajak. Horee!

Kids@work di Gandaria City adalah tempat main yang temanya Under Construction (sama kayak tema ultah Kaleb kemarin ya. Hihihi). Di sana anak-anak bisa experience menjalankan escavator beneran. Di tengah-tengahnya ada pasir. Anak-anak akan dikasih jaket dan topi pengaman kayak pekerja konstruksi beneran. Ada sekitar 5 escavator dengan fungsi yang berbeda-beda. Kalau masih kecil banget kayak Kaleb bisa ditemani sama pendamping, sih.

Nah, kemarin pas lewatin Kids@work ini Kaleb excited banget karena sesuai dengan kesukaan dia. Pas diajak main, awalnya excited banget bisa menjalankan si escavator. Eh, nggak menjalankan beneran sih, karena dia kan masih cukup kecil jadi ya dibantu pendamping dia cuma ikut-ikutan aja di kemudi. Tapi lama-kelamaan dia bosen karena ya selama 5 menit gerakannya itu-itu aja dan dia nggak terlalu paham cara menjalankannya, escavatornya juga diam di tempat. Jadi sebelum 5 menit, dia merengek cobain yang lain. Begitu cobain yang lain, bosen lagi juga dia karena gerakannya itu-itu aja. Yang ada dia malah pengen udahan karena udah ke-distract tempat mainan sebelah yang lebih heboh. Untung ya bukan Mamak yang bayarin. HAHAHAHA!

IMG_20170723_162400

Kesimpulannya, untuk anak umur 2 tahun belum terlalu cocok sih karena mereka belum terlalu paham cara kerjanya. Ditambah Kaleb punya ride on escavator di rumah yang sering dibawa ke taman yang ada pasirnya sehingga dia punya otoritas penuh untuk angkat dan turunin pasir, serta jalanin escavatornya. Kalau escavatornya besar kayak di Kids@work dan cara memainkannya agak rumit bikin anak 2 tahun nggak tertarik, nggak bisa jalan juga escavatornya.

Selamatlah uang Mamak, ye kan? Hihihi.

Drama Tantrum Kaleb

Akhirnya masa-masa anak kicik manis penurut tergantikan juga dengan masa TANTRUM. Selamat datang anak guling-guling sambil ngamuk teriak-teriak ketika keinginannya tak terpenuhi *mamak pijat kepala*.

Kayak pagi ini, anaknya tantrum pas saya lagi mau berangkat kerja. Mana udah telat lagi karena bangunnya kesiangan *huft* Pas saya siap-siap Kaleb masih tidur nyenyak kayak malaikat. Lalu bapake selesai mandi dan mau ganti baju jadi nyalain lampu (tidur selalu dengan lampu dimatikan). Anaknya kebangun dan minta lampu dimatiin. Baiklah, bapake matiin lampu.

Kemudian datanglah saya yang gantian mau pake baju habis mandi, nyalain lampu. Anaknya nyuruh matiin lampu, tapi karena saya nggak bisa lihat apa-apa dan sebagai cewek ribet kan ya harus milih baju dulu, dandan dulu, pake softlens, dan seabrek kegiatan lain yang manalah bisa dilakukan dengan keadaan mati lampu. Akhirnya saya bujuk-bujuk, anaknya minta susu. Diambilin susu, tapi dia nggak mau. Lanjutlah dengan serial ke-cranky-annya. Ngamuk-ngamuk, saya nggak boleh dandan, minta digendong terus. Akhirnya batal lah dandan dan sisiran, udahlah entar aja. Matiin lampu kamar aja biar anaknya tenang. Tenang, dong?

Tentu tidak.

Anaknya karena udah cranky lanjut dramanya. Minta saya tidur aja nemenin dia, mamak nggak boleh kerja. Lanjut ngumpet di balik gorden, nutup pintu kamar, guling-guling marah, dibujuk apapun nggak mau. Pening!

Kalau lagi cranky gini, saya sebisa mungkin tetap tenang dan nggak terpengaruh. Karena semakin kita emosional, dia akan makin parah ngamuk-ngamuknya. Biasanya saya akan bilang, “Kalau Kaleb udah selesai ngamuknya, Kaleb datang ke Mami bilang Kaleb kenapa, ya.” trus ya udah saya biarin dia nangis aja sampe keluar semua emosinya. Tapi berhubung ini pagi-pagi, udah telat, dan dia pake tantrum segala, mau nggak mau saya bujukin. Berhasil? Ya gagal, dong.

Mau saya gendong tapi dia terus meronta-ronta jadi nggak bisa digendong. Dibujuk bapake juga gagal. Ya udah saya pura-pura mau pergi keluar, eh dia keukeuh di dalam. Kuat-kuatan aja sih kalau kayak gini. Saya bertahan di luar beberapa saat, sampai akhirnya dia ke luar juga. Pas di luar lanjut tantrumnya. Dia guling-guling di pagar depan rumah sampe diliatin tetangga. Hohoho.

Prinsip paling penting dalam menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, percaya diri, dan tidak jadi panik yang akhirnya malah bikin anaknya merasa bisa menguasai kita. Jadi saya santai aja bilang, “Mami tunggu Kaleb di mobil, ya.” Pada akhirnya bapake sih yang gendong anaknya ke mobil. Hahaha. Di mobil dia dipeluk dan lebih tenang. Huft sungguh drama pagi.

Kemarin di twitter ramai banget karena ada yang bilang kalau anak-anaknya ngamuk tolonglah diurusin karena ganggu sekitarnya. Orang yang bilang belum punya anak. Ehehehe. -_-*

Sungguh lho kalau ada pilihan ibuk-ibuk juga males banget ngadepin anak tantrum. Belum lagi kalau tantrum di tempat umum pasti lah orang-orang akan menghakimi, malu, dan panik karena sebagai orang tua kita juga merasa akan mengganggu ketenangan sekitar, nih. Pressure banget!

Tapi yang bisa kita lakukan cuma tenang dan nggak panik, abaikan tatapan menghakimi orang lain. Salah satu cara biar anak tantrum tenang adalah ya didiamin aja. Tunggu mereka tenang, barulah kita bisa ngomong. Bisa juga sih kita ajak dia ke tempat yang lebih sepi. Tapi kalau kasusnya kayak Kaleb, dia jadi susah digendong karena meronta-ronta dan menggeliat sehingga saya kehilangan keseimbangan dan bisa bikin dia jatuh. Ribet cuy mindahinnya.

Perlu dicatat, tantrum itu bukan karena anaknya bandel atau nggak diajarin, ya. Tantrum itu emang proses yang biasanya akan dialami anak seumuran Kaleb atau pas balita karena mereka nggak ngerti bagaimana harus mengekspresikan emosi yang mereka rasakan karena rasanya campur aduk, plus mereka pengen cari perhatian biar keinginannya diturutin. Masalahnya, nggak semua hal bisa diturutin, kan. Jadi janganlah menganggap anak tantrum itu nakal, atau orang tuanya nggak becus ngurusin anaknya.

Sejak punya anak dan tahu hal seperti ini, setiap melewati ibu yang lagi membujuk anak tantrumnya saya cuma akan senyum sama ibunya dan ya udah lewat aja. Nggak pasang muka terganggu. Si ibu pun akan lebih tenang menghandle anaknya sehingga tantrum anaknya akan cepat selesai.

Jadi ada yang anaknya suka tantrum juga? Tos yuk!

Drama Hari Pertama Kerja

Haiiii, gimana liburan Lebarannya?

Sebelumnya mau mengucapkan,

“Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf kalau ada yang salah ucap di blog ini. Kita mulai dari 0 lagi, ya.” *semacam iklan bensin*

Libur Lebaran saya nggak ke mana-mana. Memang nggak pernah ke mana-mana sih biasanya kalau Lebaran karena tiket mahal, di luar kota macyeeet, nitipin anjing susah karena pet shop penuh, dan mau menikmati Jakarta yang sepi sehingga bisa ke mana-mana. Yihaaa!

Lebaran kali ini sungguh bahu-membahu sama suami dalam membereskan rumah dan jaga Kaleb. Dari yang sayang-sayangan, marah-marahan, kesal-kesalan, balik lagi ke sayang-sayangan. Sungguh ujian fisik dan mental saat bersama balita, ya. Hahaha.

Anyway, mau cerita tentang drama hari pertama masuk kerja. Jadi karena ART pulang, full deh bareng Kaleb 24 jam selama 9 hari penuh. Mayan loh. Mayan menguras emosi; pagi bangun peluk-pelukan, cium-ciuman, oh anakku paling manis sedunia. Siangnya mulai rusuh non-stop, rambut berdiri, makan susah, barang-barang diberantakin, ngomong harus pake volume maksimal, hukuman diberlakukan. Sorenya, daripada kepala butek, bau ketek nggak sempat mandi, yuk cus jalan-jalan ke luar rumah biar hati adem dan anak senang. Malam, balik peluk-pelukan lagi. Tiap hari begini. Hahaha.

Dua hari sebelum masuk udah sounding ke Kaleb nanti Mami masuk kerja, Kaleb sama Opung lagi, ya. Anaknya masa bodo. Satu hari sebelumnya, sounding lagi. Anaknya cuma bilang, “Kaleb mau ikut kerja aja”. Tapi masih santai anaknya. Oke deh.

Oh ya, Kaleb ini tipe anak yang selow santai no baper. Dari kecil ditinggal kerja, saya selalu pamitan dengan dia, jarang banget nangis, apalagi teriak-teriak. Yang ada dia malah dadah-dadah, “Dadah Mami, Dadah Papa.” trus bodo amat main lagi. Sebagai orang tua langsung hidung kembang kempis anaknya bukan tipe yang selalu nangis kalau orang tua kerja. Tenang banget lah ninggalin ke kantor jadinya.

Nah, tapi kan Kaleb mulai besar dan mulai paham. Sembilan hari penuh sama orang tuanya pasti bikin makin tak terpisahkan. Dimulai dari pagi, dia mulai merengek ketika saya lagi siap-siap. Seperti biasa, saya nyalain lampu dan matiin lampu tidur. Yang ada anaknya keukeuh lampu tidur harus nyala dan lampu kamar mati. Minta peluk, minta gendong, maunya di kamar aja.

Sampai akhirnya saya pake sepatu kerja, dia langsung tantrum.

“MAMIIII, LEPAS BAJUNYA!”

“MAMIIIII, JANGAN PAKE BAJU INI. PAKE BAJU BOBO AJA.”

Yang tadinya saya biasa aja, kan ya sedih juga. HUWAAAAA, pertahanan retak-retak juga. Akhirnya saya ikutan nangis. Anaknya makin nangis lah. Yang biasanya senang kalau diajak naik mobil, kali ini di mobil minta turun. Bahkan mau ke setir bapaknya dan minta balik terus. Diajakin mampir ke Alfa beli susu pisang, tetap nggak mau. Dikasih nenen yang biasanya berhasil, dia tolak. Tough!

Sampai akhirnya di rumah Opung, dia makin menjerit.

“NGGAK MAU KE SINI! MAU KE RUMAH KALEB AJA!”

Dia langsung ngumpet di bawah setir sambil teriak-teriak nangis. Duh, berat cuy bujuknya.

Akhirnya karena nggak sanggup gendong meronta-ronta terus, minta bapaknya yang angkat dia dari mobil. Dramanya sungguh luar biasa, di pintu rumah dia guling-guling di lantai nangis. Segala bujuk rayu gagal.

Saya pun harus pasang muka lempeng lagi pas pamitan, “Kaleb, Mami pergi kerja dulu, ya. Nanti malam Mami pulang kita main lagi.” cium keningnya, melangkah ke luar rumah like a hero! No turning back!

Padahal hati mah udah patah seribu dan rasanya pengen langsung sms bos bilang, “Bos, anak eike ngamuk nggak mau ditinggal kerja, saya nggak masuk hari ini, ya. Bhay!” Apa daya, cuti tinggal dikit cuy!

Jadi di mobil berangkat ke kantor sedih-sedihan. Eh, sejam kemudian dikirimin foto sama Opungnya, anaknya lagi main mobil-mobilan, udah mandi, sambil ketawa lebar.

Sungguh anakku drama. Trus emaknya terbawa drama anaknya pula!

Ayo sini, ibuk-ibuk yang kerja gimana hari pertama ninggalin anak lagi di rumah? Ada drama juga nggak?

 

Senja di Monas

Hari libur kemarin kembali kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Monas lagi? IYA. Soalnya kemarin cuma baru sampai halaman Monas aja. Salahnya adalah kami datang jam 11 siang pas matahari lagi terik-teriknya. Nggak sanggup banget harus ke Monas jalan kaki di bawah terik matahari. Kayak kebakar, men! Padahal sebenarnya ada kereta yang bisa nganterin sampai ke tugu Monas. Tapi karena panas banget, semua orang mau naik kereta itu jadi antriannya panjang. Oke, next time aja.

Nah, kemarin kami berangkat sore. Sampai Monas jam 17.30. Udah adem, orang juga ternyata kalau sore banyak. Antriannya naik kereta juga nggak panjang karena banyak orang yang mau jalan kaki. Kan adem, ya.

Kami naik kereta ke tugu Monas, haltenya cuma 2, di pintu masuk IRTI dan di tugu Monas. Udah itu aja rutenya. Kaleb sih senang banget naik kereta walau cuma singkat. Sampai di tugu Monas, kami turun ke bawah tempat untuk pembelian tiket. Jadi tiketnya bisa milih mau sampai ke cawan atau ke puncak Monas. Bisa juga kalau mau dua-duanya pake tiket terusan. Masalahnya, tugu Monas itu ternyata nggak dibuka setiap saat. Pagi-siang dan sore-malam. Kalau malam jam bukanya pukup 19.00-22.00. Pantes pas kami ngantri kok ya nggak jalan-jalan antriannya. Ya karena loketnya belum buka. Itu masih jam 18.00. Oh ya, kalau malam pengunjung dibatasi sampai 700 orang saja. Siang kalau nggak salah 1000 orang. Jadi kalau kapasitasnya udah penuh, nggak akan dijual lagi tiketnya.

IMG_20170511_173157

Ngantri nungu masuk ke kereta wisata. Antriannya nggak terlalu panjang kalau sore.

Nah, karena nunggunya masih 1 jam lagi kami pikir kelamaan. Lain kali aja, deh. Kali ini jalan-jalan aja sekitar Monas. Ternyata di sekitarnya ada lapangan voli dan futsal (hm, atau basket juga kali, ya). Bisa dipakai gratis oleh siapapun. Lapangannya bagus dan memadai. Jadi banyak yang olahraga di sekitar sana. Kalau pun nggak dapat lapangan ya mereka main aja di halaman Monas, kayak main bulu tangkis, bola, dsb. Seru banget, lho. Kaleb bisa bebas puas lari-larian, main bola juga. Oh ya, Monas juga bersih banget dan saat itu orang taat banget sama peraturan. Nggak kelihatan yang injak-injak rumput atau buang sampah sembarang. Keren lah!

IMG_20170511_175429

Terima kasih Mas yang udah bantuin foto. Kami jadi punya foto bertiga.ย 

IMG_20170511_175727

Cantik ya Monas pas malam

Ada beberapa hal sih yang membekas kemarin. Kami kan kalau ke tempat begini nggak pernah foto bertiga, ya. Nggak punya tongsis juga, sis! Pengen minta bantuan orang buat fotoin, tapi saya selalu takut ntar malah HP saya dibawa kabur. Oke, saya mulai jadi orang yang parnoan, sih. Tapi kemudian suami saya minta orang yang lewat buat fotoin. Mana 2 orang itu anak muda cowok. Duh, saya mulai mikir aneh-aneh, deh. Tapi 2 orang ini malah baik banget. Dia fotoin kami, malah ngarahin gaya kami, dan memastikan fotonya pas. Ajak ngobrol Kaleb pula. ย Duh, kok ya baik banget, ya.

Kejadian kedua, adalah pas lagi nonton orang main futsal. Di pinggir-pinggirnya juga banyak orang yang main bola. Orangnya udah pada gede-gede, nggak ada yang anak kecil. Kaleb nonton aja, walau dia kepengen tapi ya nggak berani ambil bola orang lain.

Lalu ada cowok masih muda dan teman-temannya yang lagi main bola tiba-tiba pinjemin bolanya ke Kaleb. Bukan cuma pinjemin, dia ajak Kaleb main bola. Bahkan ketika orang-orang yang main bola selesai dan lapangannya kosong, dia ajak Kaleb main ke lapangan ajarin jadi kiper dan menendang bola. Kaleb bahagia banget!

Cuma kejadian-kejadian kecil, ya. Tapi di saat situasi kayak gini, di mana sebenarnya saya mulai apatis ada orang baik. Bawaannya parno aja sama orang. Perasaannya nggak ada deh orang yang benar-benar tulus. Tapi ternyata masih ada. Masih banyak orang baik, masih banyak yang tulus. Saat itu juga saya menitikkan air mata. Saya mikir, Indonesia tuh nggak sekecil orang-orang demo kasar di jalanan. Indonesia tuh besar, yang baik tuh banyak. Cuma yang banyak itu nggak banyak disorot. Di saat keadaan kayak gini saya jadi merasa bisa menghargai kebaikan orang sekecil apapun. Ketika mereka baik tanpa nanya elo agamanya apa, sukunya apa, pilihannya siapa.

Lalu saya melihat ke sekeliling, Monas jadi bagus dan menyenangkan kayak gini. Benar-benar tempat yang enak banget lah buat kumpul, main, olahraga, jalan-jalan. Teratur dan bersih. Yang bikin Ahok. Yang bikin lagi di penjara. Penjara yang mungkin sempit, sementara kami di luar menikmati hasil kerjanya. Lagi-lagi saya nangis. Di Monas. Mamak emang jadi baperan banget sekarang. Sedihnya ampun-ampunan. Ini kayak ditinggalin mantan, tapi peninggalannya ada di mana-mana, tiap hari dirasain. Gimana bisa lupain?

Apalagi habis itu kami nyeberang ke Balai Kota. Banyak orang berkumpul, nyalain lilin sambil nyanyi lagu-lagu kebangsaan, berusaha kumpulin KTP untuk bisa menjamin penangguhan penahanan Ahok. Banyak yang nangis di sana, pelukan, sedih bersama.

Kemudian saya sadar. Yang jahat dan pengen hancurin Indonesia itu cuma segelintir orang. Tapi segelintir orang itu yang diekspos terus-terusan dan akhirnya meluas. Padahal banyak yang masih sayang sama Indonesia. Masih banyak yang berjuang untuk persatuan dan mereka mulai bicara dan bangkit. Banyak yang akhirnya tergerak untuk bergerak, karena Ahok telah memulainya. Kita nggak pengen perjuangannya, sampai harus masuk ke penjara, sia-sia begitu saja. Karena Indonesia itu penuh harapan, kok.

Semoga kita tumbuh menjadi bangsa yang penuh cinta, bukan apatis, apalagi radikal. ๐Ÿ™‚

 

#Kaleb2Tahun

YEAY! Kaleb udah 2 tahun! Welcome terrible two! Oh well, sebelum 2 tahun pun udah ada tanda-tanda terrible two, sih. #MamakKuduSetrong

Seperti biasa menyambut ulang tahun, saya selalu labil. Niat awal selalu, udahlah nggak usah rame-rame, tiup lilin bertigaan aja di rumah. Anaknya pun belum paham banget, walau udah mulai tahu nyanyi happy birthday dan tiup lilin. Tapi nggak paham kalau ulang tahun itu sesuatu yang spesial. Oke sip!

Tapi sebagai Mamak yang suka perayaan dan rempong sendiri, jadilah dari yang tiup lilin bertiga aja jadi birthday lunch kayak tahun lalu. #eaaa #labil Tentunya kalau birthday lunch, Mamak mana bisa santai. Nggak bisa ya udah yuk ngumpul di resto ini, kita makan bareng. No! Maunya spesial, dong. Untuk itulah semua kerempongan ini dimulai. :)))

Kalau tahun lalu baru coba-coba bikin table set, tahun ini meningkatkan tantangan sendiri. Tahun ini full semua dibuat sendiri, tanpa percetakan, tanpa template. Dibuat dari 0 dengan printilan lebih banyak. #MamakRempong #RibetSendiri.

Karena Kaleb lagi tergila-gila truck, tiap hari main truck, tiap hari minta nonton truck. Yasalam, anak cowok begini amat mainannya, mobil-mobilan mulu. Mamak sampai harus ngapalin jenis-jenis truck dan mengarang bebas tiap ditanyain truck yang berbeda, jadilah truck pasir, truck semen, truck bensi, truck, sampah, dsb. Maka tema tahun ini adalah: Under Construction. Alias jadi tukang di proyek dengan segala macam trucknya.

Demi menghemat biaya, tapi banyak mau, jadi saya blusukan ke pasar-pasar, dari Pasar Perniagaan (ini Kaleb kalau diajak ke sini pasti heboh dengan mainan truck yang banyak dan murah banget), Pasar Mayestik (beli kain buat taplak), Pasar Santa, Pasar Pagi Mangga Dua, dan Pasar Meruya. Bapake yang nemenin dari semangat sampai ilfil kayaknya saya bisa ngubek-ngubek pasar seharian dan nggak bosan.

Semua printilan kecilnya, saya print, gunting, dan tempelin sendiri. Nyicil banget karena ada banyak dan kalau di rumah anak bocah suka gangguin banget, kan. Jadi harus diam-diam ngerjainnya. Bapake bantuin bikin logo dan undangan untuk ultah Kaleb. Tentunya diprint sendiri aja. #hematpangkalkaya

Untuk kue ulang tahun, karena niat dari awal semua kreasi sendiri, maka mau beli kue polos dan hias sendiri aja. Kebetulan banget Rereย baru aja buka toko kue online. Rere ini kalau lihat IG-nya suka buatin makanan MPASI buat anaknya trus variasi canggih-canggih, plus tentunya suka bikin kue. Nah, pas banget dia bikin cake bolu classic. Duh, saya suka banget sama kue bolu. Tentunya langsung lah saya pesan.

PR-nya di hari-hari terakhir adalah cari abang untuk isi gas helium. Untungnya ada pasar di dekat rumah dan abangnya bisa dimintain isi balon helium. Diambil di hari H. Siip beres!

Tepat di hari ulang tahun Kaleb, nggak ada perayaan khusus, nggak ada kado juga dari orang tuanya *orang tua macam apahhhhh. Hahahaha!*. Untungnya malam sebelum Kaleb ulang tahun, Opungnya tiba-tiba datang bawa kado sepeda buat Kaleb. Horee! Mayan kan pas dia bangun ada kado jadinya. Hihihi.

Pas Kaleb bangun langsung tiup lilin di kue kecil, lalu langsung ajak main sepeda. Oh ya, dari beberapa minggu sebelumnya kami suka nanya ke Kaleb, “Ulang tahun mau kado apa, Kaleb?” Selalu dijawab, “Kado kue cokelat”. Ciyaaan, jarang dikasih cake cokelat jadi ngidam doi. Hahahaha. Jadilah di hari spesialnya, dia dapat hadiah kue walau bukan cokelat, tapi rainbow cake.

kaleb

Selamat 2 tahun anak lanang!ย 

Kemudian, kami ajak jalan-jalan Kaleb dan sepeda barunya ke RPTRA Kalijodo. Sebulan lalu ke sini, belum ada playground buat anak-anak kecil, eh pas datang udah ada playgroundnya, banyak mainan, lapangan sepakbole, perpustakaan kecil, dan aula. Makin kece aja lah taman ini. Jangan ditanya perasaan Kaleb. Dia suka banget sama taman ini sampai pas disuruh pulang karena udah mau malam, doi ngamuk. -_____-”

IMG_20170316_175305.jpg

IMG_20170316_175029

IMG_20170316_170907.jpg

IMG_20170316_174710.jpg

Tentunya kurang lengkap kalau ulang tahun tapi belum makan bakmie panjang umur #serasacina. Jadi kami pun lanjut makan malam di Bakmi Aloi. Sebelumnya Kaleb nggak menunjukkan ketertarikan pada bakmi, suka keselek juga kalau nggak dipotong kecil-kecil, tapi hari ini dia jago banget banget bakminya, bahkan porsinya dia habis semua. Ketauan anak mami banget karena suka bakmi. :)))

Untuk birthday lunch Kaleb diadakan hari Minggu-nya. Yang diundang pun cuma keluarga inti saya dan suami aja. Karena semua dilakukan sendiri, jadi saya lumayan panik nih, takut terlambat datang dan pas tamu datang saya belum selesai mendekor. Apalagi beneran cuma saya dan suami aja yang dekor, mbak jaga Kaleb.

Kenyataannya, hampir semua dekor saya yang kerjain sendiri. Suami dikasih tugas nempel tulisan HAPPY BIRTHDAY di dinding dan karena saking ingin sempurna jadi luamaaa banget. Yo weis, meja urusan saya semua. Aku rapopo. :))

Dekor mendekor kelar tepat jam 12 siang, tapi ternyata oh ternyata… tamunya baru datang jam 1 siang. Tau gitu tadi bisa selow aja bro, sis!

Demi maksimalnya tema Under Construction ini, tentunya harus ada dress code, dong. Dress code-nya baju tukang atau denim. Beberapa tamu dibekali dengan rompi proyek juga biar makin oke oce. Untuk baju Kaleb, tadinya cari kostum tukang proyek. Tapi kok yang ada untuk anak 3 tahun ke atas, kegedean, dong. Ya udah, harus kreatif maksimalkan yang ada aja. Kebetulan banget konstumnya bisa di-mix and match baju yang udah ada di rumah. Sepatu boots udah ada. Untuk topi proyek dan alat pertukangannya, cukup beli mainan tukang seharga Rp 25.000 aja. Murah meriah oye! Begini penampakannya:

PhotoGrid_1490064242320.png

Si Mandor

Gladly, everything went okay (kecuali bagian mau tiup lilin, pasang lagu, dan lagunya nggak bisa dipasang. Zzz! Ya udah nyanyi sendiri aja, eh tiba-tiba lagunya nyala. Ngajak becanda aja).

17308851_10155817217684298_3449034627910831562_n

17264673_10155817217839298_3554742146348617057_n

17361956_10155817217444298_4643026274723027505_n

17308735_10155817217824298_2018560775120517329_n

 

17362900_10155817217499298_1447871474353193334_n

17424678_10155817218119298_5982305439694484414_n

17424630_10155817348339298_8405039647938908217_n

Mandor dan truck-nya

17424839_10155817218869298_6716909165396734078_n

Bolu ini enaaaak banget. Sukaaa!

17309274_10155817217659298_67344096231381177_n

17353487_10155817220479298_8521263809292653477_n

IMG_20170319_132615.jpg

IMG_20170319_120820.jpg

IMG_20170319_194100_554.jpg

Mandor cilik dan anak buahnya :)))

Dengan segala keribetan dan kerempongan yang ada, plus salah sendiri semuanya mau dikerjain sendiri, maka dengan ini Mamak masih mengibarkan bendera putih untuk mengadakan pesta ulang tahun penuh dengan anak-anak. Ku belum sanggup (dengan kehebohan dan keberisikan anak-anak). :))

Jalanku Bukan Jalanmu

Terserah lah kalau mau main di genangan 😑


Sebagai orang tua, pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Kalau bisa anaknya selalu bahagia, nggak susah, kaya raya, dan sehat selalu. Pokoknya semua hal yang baik, deh. Karena orang tua hidupnya sudah lebih lama juga, jadi merasa lebih tahu cara menuju kesuksesan. Sayangnya, nggak selalu jalan hidup orang tua sesuai dengan jalan hidup anak.

Untuk hal-hal yang besar, saya bersyukur orang tua nggak pernah maksa. Ngarahin iya, ngarep-ngarepin iya, maksain kriteria orang tua ke saya juga iya, tapi selalu akhirnya saya yang harus memutuskan. Kalau kata orang tua saya, kalau saya nyesel ya tanggung jawab ada di saya, bukan nyalahin orang lain. :))) Oh oke, deh.

Begitu pun juga ke Kaleb. Sedari kecil berusaha supaya membebaskan dan nggak terlalu maksa ke Kaleb. Kayak misalnya sekarang Kaleb udah bisa milih mainan. Kalau ke toko mainan dia udah bisa bilang, “Mami, beli!” atau “Papa, bayar!” sembari mengantarkan mainannya ke kasir. Dia tahu mainan di toko nggak bisa diambil begitu saja harus dibeli dan dibayar pake uang.

Kalau di toko mainan, Kaleb udah mulai bisa milih mainan mana yang dia mau. Kadang-kadang pilihan dia bikin saya pengen bilang, “Euh, warnanya norak!” atau “Doh, itu kan jelek banget bentuknya!”. Tapi ya saya diam aja, sih. Paling maksimal yang bisa saya lakukan untuk menggoyahkan pilihannya adalah, “Bener mau yang ini? Nggak mau yang itu? Yang itu warnanya bagus, lho. Eh, besar nih, bisa dibawa main ke taman.” Selanjutnya Kaleb biasanya akan melipir ke mainan yang saya tunjuk, terkadang dia setuju, lebih banyak dia pilih yang lain lagi. Kadang-kadang saya menang, kadang-kadang harus pasrah lihat Kaleb pilih mainan yang norak. :)))

Pernah saya kesengsem banget sama mainan kompor-komporan, lengkap dengan panci, gorengan, dll. Gemes pengen punya karena waktu kecil saya nggak punya. Huhu! Waktu itu ketemu warnanya biru, pas buat cowok. Cowok kan boleh main masak-masakan, ya, biar bisa jadi chef (anyway, saya nggak pernah membatasi Kaleb harus main mainan cewek atau mainan cowok. Dia main boneka boleh, main pistol oke, main masak-masak silahkan, main truk gpp). Bujuk Kaleb beli mainan kompor-komporan, anaknya nggak tertarik, malah lihat gitar-gitaran. Ah, mungkin anaknya belum paham. Padahal kan dia suka gratakan di dapur lihat mamanya masak, pasti dia suka. Jadi saya memutuskan untuk tetap beli. Nanti kalau udah dirakit mainannya, nanti dia paham dan pasti suka. Yes!

Sampai di rumah, dirakit, Kaleb emang main lah itu kompor-komporan. Saya senang, dong. Tuh kan, emang waktu itu dia belum paham aja. Eh, tapi dia hanya bertahan main kompor-komporin 2-3 hari aja. Habis itu hampir nggak pernah disentuh, atau kalaupun disentuh cuma untuk dengerin bunyi kompornya. Jiyaaah. Gagal maning!

Makanya saya pikir, ya udah lah nggak usah maksain beli mainan yang nggak disuka lagi. Biarkan Kaleb memilih biar kalau beli mainan, mainannya awet dimainanin terus, nggak dianggurin. Biar dia juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusannya, biar nggak berat hati menjalankan keputusannya, dan tetap bahagia dengan caranya. Ish, dalem banget, ya. :)))

Saya pernah bilang ke suami saya, Kaleb boleh menjadi apapun yang dia mau kalau besar, selama itu positif. Hidup dengan doktrin harus jadi jemaat di suatu gereja, padahal hati saya sama sekali nggak pernah ada di situ (dan lumayan menyiksa karena akhirnya tiap datang ke gereja itu saya ribet harus pake baju apa, cukup oke nggak nih, udah pernah dipake sebelumnya nggak –> akibat doktrin Mama yang bilang kalau ke gereja itu harus rapi maksimal. Kalau bajunya udah pernah dipake, nggak boleh dipake dalam waktu dekat). Akibatnya saya datang sibuk dengan penampilan, di gereja ngomongin penampilan orang, dan pas khotbah ngantuk (bangun kepagian, sibuk ngeblow rambut, dandan caem). Lyfe! :)) Sampai sekarang saya pun nggak punya keberanian untuk bilang, “Saya mau keluar dari jemaat itu, dong!” Takut dirajam keluarga, bok! :)))) Padahal tiap minggu bergereja di gereja lain, hanya datang ke gereja saya tiap hari raya besar aja.

Makanya, saya nggak mau Kaleb berbeban hati kayak saya. Kalau dia sudah bisa memilih nanti, dia boleh bergereja di mana saja. Termasuk di gereja saya sekarang. Yah, kalau dia hatinya di situ ya tentu boleh. Supaya hatinya riang ketika beribadah.

Pilihan-pilihan yang kita pikir benar dan paling baik untuk anak kita, kadang-kadang justru memberatkan anak kita. Mungkin tugas orang tua itu membimbing, bukan memilihkan jalan hidupnya. Anak mungkin akan jatuh, kesasar, dan tugas orang tua adalah membimbing ke jalan yang benar. Tapi pilihan kembali ke tangan anak, karena toh akhirnya dia yang akan menjalani. Susah banget pasti. Kan serasanya kita sebagai orang tua yang paling tahu (lah wong, kalau Kaleb pilih mainan jelek aja saya suka pengen arahin ke mainan yang saya anggap bagusan). Tapi tanyain ke diri sendiri dulu, ini demi ego kita atau demi anak kita? ๐Ÿ™‚

 

 

PS: tulisan ini terinspirasi dari mas AHY yang terpaksa keluar dari militer demi ambisi SBY. Semangat terus mas AHY, semoga menemukan jalan yang pas di hati, ya. ๐Ÿ™‚

 

Naik Kuda di Branchsto

HAPPY NEW YEAR 2017!

Telat banget, woy! Ini udah mau akhir bulan Januari 2017. Duh, begitu masuk tahun baru, kerjaan langsung bak bik buk banyak banget. Nggak sempat colong waktu buat blogging, sampai rumah pastinya tepar walau diusahakan mengejar drama Korea yang lagi diikutin (Mas Gong Yoo, aku padamu banget loh!), dan weekend….sibuk. Namanya orang Batak ya, tahun baru itu jadi ajang silaturahmi ke seluruh keluarga besar dari kenal dan nggak kenal tapi disinyalir masih saudara. Jadi kegiatan setiap weekend ya membelah diri untuk acara keluarga. Ke mall pun aku belum sempat. Tidaaaak!

Tapi akhirnya kemarin nemu satu hari kosong. Hore! Walaupun badan remuk redam karena Sabtunya ada workshop di kantor sampai sore, lalu lanjut ke rumah saudara di Bekasi (yang namanya acara Batak manalah bisa sebentar, plus sambil kejar-kejar bocah yang heboh banget ketemu sepupu-sepupunya *pengsan*). Pulang langsung tepar. Pagi bangun sebentar untuk kasih instruksi ke Mbak di rumah buat masak apa, trus maunya lanjut tidur, tapi malah tergoda lanjutin nonton Goblin sambil tiduran. Baru benar-benar bangun siangan (jam 07.30 saja. Bocah nggak bisa tidur lebih siang dari itu. Zzz!).

Niat hati pengen istirahat di rumah, tapi kasian bocah yang aktivitasnya kok di rumah aja. Yo weislah, saya pun googling aktivitas bukan mall buat anak-anak, tapi jangan jauh-jauh. Akhirnya menuju Playparq Bintaro lah kita.

Begitu sampai, tempatnya sepiiii banget. Cuma ada 2 anak yang lagi main. Berasanya jadi garing banget. Krik krik krik. Si bocah pun nggak terlalu tertarik main air mancur. Jadi kami pun mengubah tujuan. Tetap masih seputaran Bintaro.

Branchsto.

Branchsto ini sebenarnya restoran, tapi ada ranch kecil di mana anak-anak bisa menaiki kuda poni dan kuda besar, main kereta-keretaan, dan memanah.

Pada waktu kami datang, parkiran penuh banget sehingga parkir agak jauh dan harus jalan kaki. Begitu masuk, langsung ada loket tiket jadi harus langsung menentukan mau main apa. Kaleb sih tujuannya langsung naik kuda poni @Rp 25.000 untuk sekali naik. Nanti di dalam bisa beli seember wortel untuk kasih makan kuda poni seharaga Rp 10.000.

Kami masuk jam 11.30, langsung antri untuk naik kuda poni. Perlu diingat, arena permainan ini ada jam istirahatnya, yaitu jam 12.15-13.00. Kuda poninya asal New Zealand, terawat banget, nggak kurus, sekal dan gempal badannya. Bikin gemas banget, deh. Kaleb senang banget naik kuda dan berani tanpa dipegang.

Setelah naik kuda poni, kami membeli wortel untuk kasih makan kuda poni. Ada sekitar 5 kandang kuda poni yang semua kandangnya bersih, kudanya sehat, dan nggak kurus. Baik-baik banget kudanya.

Selesai kasih makan, kebetulan tepat arena permainan mau istirahat, jadi kami pun makan di restorannya. Sayangnya, walau pasti banyak yang datang anak-anak, mereka cuma punya baby chair 2! Harus ganti-gantian banget, nih. Sementara tempat duduknya sendiri kan dibikin ala ranch, jadi nggak ada senderannya. Untuk anak kayak Kaleb yang nggak bisa diam mah kelar banget kalau nggak ada baby chair. Akhirnya dia didudukin dulu di stroller, lalu nunggu baby chair kosong (ini juga harus inisiatif kita nyari, karena walau udah bilang petugasnya, mereka lupa. Suasana hari itu hectic banget).

Menu makanannya sih nggak terlalu mahal, range-nya Rp 30.000-50.0000, ada kids meal juga, tapi porsinya nggak besar, dan rasanya datar. Kaleb pesan kids meal french fries dan nugget. Nuggetnya keras banget kayak batu. Huhu, kasihan sih anak kecil kalau makan. Jadi ya, makanan di restonya kurang recommended. Kami makan di situ karena masih punya jatah satu tiket lagi, dan udah keburu kepotong jam istirahat. Saran saya, datang jauh sebelum jam istirahat, atau setelah jam istirahat. Trus makan di luar aja lah. Hihihi.

Habis makan, lanjut mau main kereta karena tiketnya sebenarnya main kereta gantung. Tapi karena keretanya kecil dan harus dikayuh di ketinggian, bapake nggak muat. Sementara mamak takut ketinggian. Hahaha. Untungnya tiketnya bisa dipake untuk naik kuda poni lagi. Kaleb mah malah suka banget!

Kelar naik kuda poni, kami ke kandang belakang untuk lihat kuda besarnya. Kudanya jauh lebih besar dari kuda lokal dan terawat semua. Senang banget lihat dijaga peliharaannya.

Selesai semuanya, sambil nunggu bapake ambil mobil, Kaleb main perosotan, jungkat-jungkit, dan kuda mainan di area depan. Pas pulang, berkali-kali Kaleb bilang dia senang.

Mamak juga senang banget! Tempat main yang affordable dan bukan mall. Pas di hati. Kapan-kapan balik lagi, deh!

img_20170122_114524

My brave little kid

img_20170122_114903

Family picture

img_20170122_115251

Kasih makan kuda poni

img_20170122_130223

Naik kereta gantung. Nggak jadi karena kaki bapake kepanjangan untuk ke kayuhnya hahaha

img_20170122_131712

Kuda putih paling besar, gagah, tinggi. Kuda ini sering ikut lomba dan juara, lho. Itu medalinya ada 3 dipajang