Baju Bekas? Kenapa Tidak!

flea-market24

Saya selalu beli baju itu kalau nggak di tokonya langsung atau online shop. Jarang di bazaar, apalagi garage sale. Tapi beberapa bulan terakhir baru tahu kalau tiap akhir/awal bulan, pokoknya tepat di saat tanggal muda lah, selalu ada bazaar di Blok S, dekat kantor. Bazaar ini utamanya kayak garage sale, jual baju, sepatu, asesoris, tas bekas, tapi ada juga sih yang baru. Bazaarnya pun bukan bazaar besar, tempatnya kecil, panas (namanya aja pinggir lapangan), nggak fancy.

TAPI… kalau rajin ngubek-ngubek bisa dapat harta karun banget! Harga per baju berkisar antara Rp 25.000-100.000. Rata-rata sih Rp 25.000. Rp 100.000 tuh udah paling mahal dan harus bagussss banget atau dress mewah gitu. Bahkan saya pernah dapat baju denim seharga Rp 5.000 saja. Teman saya pernah dapat dress ala Audrey Hepburn hanya seharga Rp 20.0000. Saking murahnya, dia sampai mengulang lagi nanya ini beneran Rp 20.000, Mbak?

97da5e90f36d8c0022924cc59ebcd5bc

Persis mirip ini dressnya. Cakep banget!

BAHAGIA! :)))) I never knew that buying second used clothes would be this fun!

Kayak kemarin, saya dapat beberapa baju bermerk (H&M, Zara, dsb) hanya seharga Rp 50.000 dalam keadaan bersih, wangi, dan modelnya up to date-lah. Yang jual bilang, dia baru 7 bulan ini berhijab, jadi dia jualin deh semua bajunya dia yang nggak bisa dipakai lagi. Gilingan ya, saya dapat rok span denim, keren banget, hanya seharga Rp 50.000 saja. Best buy banget! Saya tahu banget rok ini harganya mahal soalnya. Hihihi.

Jadi di bazaar Blok S ini kemarin saya menghabiskan uang Rp 155.000 untuk membeli 5 baju dan 1 rok denim. Luar biasa bukan! :))))

Oh, tapi jangan mengharapkan tiap bulan isinya selalu bagus, ya. Kayak bulan ini lagi bagus-bagus banget karena ada si Mbak yang baru berhijab itu dan ada toko online shop yang mau ngabisin stock barangnya sehingga jual baju baru seharga Rp 100.000 untuk 2 baju. Yoi ma men, asoy, kan! Namun, ada kalanya bazaar kompakan barang-barangnya jelek pisan, nggak bikin napsu (ini pun biasanya kami masih ada aja yang dibeli, tapi cuma 1 atau 2 baju aja), atau baju-bajunya baru semua dan harganya seperti online shop. Nah, biasanya nggak bakal dibeli juga karena… ya buat apa. Bazaar Blok S kan biasanya untuk baju preloved lah. Jadi nggak tiap bulan selalu beruntung bisa borong baju. Kalau saya pasti cuma membatasi bawa uang Rp 200.000 maksimal, karena kalau preloved nggak perlu lah mahal-mahal. Lah, seringnya masih sisa, kan. XD

Selain Blok S, kemarin waktu ke Pasar Baru, suami nunjukin di pasarnya lantai 3, ada toko baju-baju bekas. Jangan dikira pasar tuh kayak pasar basah tempat jual daging dan ikan, ya. Bahkan pasarnya lebih bagus daripada bazaar Blok S. Tempatnya ber-AC, di dalam ruangan, nyaman banget, ada fitting room juga. Enak banget lah. Pilihan barangnya jauh lebih banyak dan nggak diuwel-uwel, alias digantung dengan rapi, diberikan kategori sesuai modelnya (misal deretan rok, deretan you can see, deretan celana, dsb), dan sesuai harganya. Jadi nggak berantakan dan gampang nyarinya.

Kalau di Pasar Baru, kebanyakan barang-barangnya model jadul. Kalau di Blok S kan masih banyak yang up to date. Tapiii, justru di situ surganya. Tahu sendiri kan kalau fashion itu berputar. Kayak dulu jamannya kulot, sekarang ya balik lagi orang pake kulot. Dulu jaman rok flare, sekarang ya balik lagi rok flare. Pada dasarnya saya juga suka banget segala sesuatu yang berbau vintage, makanya tempat ini jadi surga buat saya.

Model jadul yang saya suka banget tapi sekarang susah banget nyarinya adalah rok tartan, kayak yang dipakai orang Scotlandia:

35

Saya kayaknya punya kenangan tersendiri sama rok tartan ini. Waktu kecil, pada jamannya rok tartan masih heitz, Mama beliin saya rok ini. Bentuknya sama persis kayak di atas. Ini kayak rok, tapi sebenarnya celana. Salah satu rok favorit saya jaman masih kecil, sampai saya selalu pake ke mana-mana. Sekarang carinya susah banget, kecuali bikin sendiri.

Waktu itu dapat overall dress tartan warna merah kayak di atas, bekasnya Diana Rikasari. Kece banget, dress panjang. Tapi karena saya nggak suka panjang, jadi saya pendekin lagi. Nah, sekarang pengen banget cari model roknya aja. Kemarin akhirnya dapat dong persis gambar di atas. Rok tartan idamanku! Senang banget, deh. Eh, tapi pas dicoba kesempitan. TIDAAAAAAAKK! Sedih loh! Padahal udah suka banget. Hiks!

Akhirnya ngubek-ngubek lagi (tentunya suami sampai bosen nungguin), dan nemu rok tartan lainnya. Bukan warna merah sih, tapi teteeep tartan dan saya suka banget! Pas pula ukurannya. Harganya? Cuma Rp 30.000! Yeay!

new-look

Bentuk dan warnanya persis kayak gini. Cakep!

Selain itu, saya juga dapat flare denim skirt dan kulot denim. Kulot kan lagi ngetrend lagi ya sekarang, nah ini surganya kulot banget. Sungguh lho, kulotnya kece-kece dengan berbagai warna. Belum lagi berbagai macam rok dengan motif lucu-lucu banget. Oh, sungguh nggak tahan banget untuk beli semuanya. Kalau dipikir-pikir, I’m a fan of 80s and 90s style. Makanya tempat kayak ginian bikin saya berbinar-binar.

glamorous-denim-light-wash-flared-denim-skirt-product-1-11626601-711322706

Ini ngetrend lagi kan? Lagian, denim is always timeless. Cuma Rp 20.000

vintage-90s-blue-denim-jeans-high-waisted-cullotte-shorts-6bhaeaceyjt5mvpnsn2i0kawfji2i4s745hkoef7j3q

Inget nggak sih waktu kecil kita suka pake celana model kayak gini dan sekarang trend lagi. Ini pun cuma Rp 20.000

Sungguh lah bahagia banget. Oh ya, semua itu masih dalam kondisi yang bagus banget, nggak ada noda sama sekali, ya. Harus jeli banget liatnya, apakah ada noda, kancingnya putus, dan kondisi lainnya. Overall, semuanya masih dalam kondisi yang oke. Kalau misal udah suka banget, tapi ada noda yang masih bisa dibersihkan atau kancing yang putus, ya tawar aja. Biasanya sih bisa ditawar. Itu kemarin saya nawar juga, kok walau kondisinya semua oke. Belum nawar kan belum sahih, ya. Hihihi!

Oh ya, kalau di Pasar Baru, baju yang di dalam toko biasanya udah dicuci dan disetrika makanya nggak bau dan nggak lecek. Harganya pun lebih mahal dikit, sekitar Rp 25.000 ke atas. Kalau yang agak di depan toko, baru dikeluarin banget, jadi belum dicuci dan disetrika harganya Rp 20.000 ke bawah. Tapi yang udah dicuci lebih banyak daripada yang belum dicuci, sih. Kalau yang modelnya baju atasan bahkan cuma Rp 10.000.

Total belanjaan berburu baju bekas di Blok S dan Pasar Baru untuk 9 potong baju cuma Rp 225.000! SUPER MURAH, SUPER BAHAGIA! :’)

Kalau kemarin nggak kemalaman, udah pasti saya masih berkutat blusukan cari baju bekas yang kece. Sayang udah malam dan suami udah mati gaya nungguinnya. Hahaha.

Tips untuk ke flea market:

  • Pake baju senyaman mungkin. Kalau tempatnya nggak ada fitting room jadi bisa cobain di tempat.
  • Cek kondisi baju dengan teliti. Lihat ada nodakah, ada yang rusakkah, atau kancingnya masih bisa digunakan dengan baikkah. Kalau kondisi udah minor, tawar lagi harganya. Kecuali kalau udah murah banget, kayak Rp 5.000. Ya udah itu mah terima aja. :)))
  • Rajin lihatin baju satu per satu. Kadang-kadang ada baju yang ditumpuk gitu aja kayak gunung. Bongkarin aja satu-satu karena biasanya nemu yang bagus. Seninya justru menemukan baju yang bagus di antara tumpukan itu.
  • Sebisa mungkin selalu dicoba, karena nggak bisa dibalikin kalau nggak pas.
  • Coba beramah tamah sama penjualnya, siapa tahu dikasih diskon. Ini saya sering lho. Hihi.
  • Nggak perlu jijikan. Kebanyakan baju yang dijual sudah dicuci dan disetrika. Kalaupun ada yang belum, harganya jadi murah banget. Kalau kamu jijik nggak usah dibeli. Kalau saya sih, tinggal cuci aja sampai bersih di rumah. No problemo!

Kamu pernah punya pengalaman beli baju bekas nggak? 😉

 

 

 

 

PS: semua gambar dicomot dari Google Images.

 

Advertisements

Review: Stroller Mamas & Papas Sola 2

Ups! Sampai Kaleb umur 8,5 bulan saya belum pernah review stroller Mamas & Papas padahal dulu nyarinya heboh banget. Hihihi! Setelah 8,5 bulan memakai Mamas & Papas Sola 2, I’d say I love it!

Dari Kaleb baru lahir sampai sekarang, dia masih pakai stroller ini. Karena bentuknya yang luas jadi Kaleb nggak berasa kesempitan. Waktu newborn sampai kira-kira 3 bulan karena Kaleb masih kecil banget jadi strollernya dipakein liner biar empuk (pesan di @jojohandmade).

Stroller ini berjasa banget. Ada masanya kalau siang Kaleb cuma mau tidur di stroller dan di depan TV. Dia bisa anteng banget tidurnya, asal kita juga sambil gerakin strollernya ke depan dan ke belakang biar dia berasa digendong. Sampai sekarang pun, kalau siang dia masih sering ditaro di stroller, walau tidurnya udah nggak lama lagi.

Salah satu alasan pilih Mamas & Papas karena bentuknya yang kokoh. Niatnya kan supaya pas dibawa jalan-jalan ke luar, goyangannya nggak terlalu berasa. Bener aja, kalau jalan di permukaan yang kasar, Kaleb bisa tetap anteng karena nggak terlalu terganggu dengan jalanan kasar. Stroller ini sering banget dibawa ke jalanan berbatu yang nggak rata.

Sampai saat ini, stroller ini selalu setia menemani ke manapun kita pergi. Harus banget dibawa. Walau sekarang Kaleb mulai males di stroller, tapi tiap pergi ke mana-mana dia harus wajib awalnya duduk di stroller. Soalnya kalau dibiasain digendong, walau pakai baby carrier, lama-lama pegel juga. Biasanya kalau udah bosen, dia akan merengek-rengek minta digendong. Biasanya sih kita gendong, tapi lama-lama ditaro lagi di stroller. Hahaha, sudahlah Nak, stroller itu kan kendaraanmu.

Tapi so far, Kaleb sih suka aja di stroller. Kekurangan stroller ini cuma satu: bulky banget! Kalau bawa berat dan makan space di mobil. Tapi masih belum kepikiran buat beli yang lebih ringan, sih. Soalnya toh kalau pergi saya nggak pernah berdua doang sama Kaleb jadi selalu ada yang nolongin buat buka dan lipatin lagi. Selain itu, sebenarnya nggak ribet juga buka dan tutupnya.

Oh ya, sekarang harga stroller Sola 2 ini harganya melambung jauh banget. Beda harganya sama dulu saya beli sampai Rp 1 juta lebih *what!*. Nggak tahu deh kenapa bisa melambung mahal begitu, padahal harga Sola 1 masih stabil. Jadi kalau sekarang orang lihat mikirnya stroller ini mahal banget, padahal dulu harganya nggak segitu. Hihihi. Rejeki anak soleh! 😀

Kaleb saat usia 6 hari. Rumah boleh kedatangan banyak tamu, tapi Kaleb anteng di stroller.

Kaleb saat usia 6 hari. Rumah boleh kedatangan banyak tamu, tapi Kaleb anteng di stroller.

Kaleb pas tepat 1 bulan. Waktunya ngemol! Sepanjang di mall bobo mulu di stroller.

Kaleb pas tepat 1 bulan. Waktunya ngemol! Sepanjang di mall bobo mulu di stroller.

Kebiasaan tiap hari: bobo siang di stroller. Pakai seat pad yang tebal biar empuk berasa digendong.

Kebiasaan tiap hari: bobo siang di stroller. Pakai seat pad yang tebal biar empuk berasa digendong.

Besaran dikit, strollernya mulai setengah duduk posisinya.

Besaran dikit, strollernya mulai setengah duduk posisinya.

Sekarang udah nggak perlu pake seatpad lagi dan udah bisa duduk tegak. Tetap lega! :D

Sekarang udah nggak perlu pake seatpad lagi dan udah duduk tegak. Tetap lega! 😀

Peralatan MPASI

Setelah berkontemplasi *tsah, bisa aja bahasanya* mengenai peralatan dan menu MPASI, maka saya mengambil kesimpulan makanan anak itu harus simple dan peralatannya jangan repot. Kebanyakan peralatan makan (dan tentunya peralatan bayi lainnya) itu sebenarnya cuma nice to have tapi nggak terlalu perlu. Berdasarkan panduan dari situs ini, peralatan makan bayi sebenarnya yang ada aja di rumah. Jadi berikut peralatan MPASI Kaleb yang nggak ribet dan mudah ditemui di mana-mana:

  1. Pigeon Feeding Set
    Alat makan dasar yang kayaknya dipunya semua orang. Satu set terdiri dari 2 sendok panjang dan pendek, 2 piring, 1 mangkok, dan 1 gelas yang bisa berubah fungsi dari pake dot, sedotan, dan gelas biasa yang ada tutupnya.

    Bisa ditemui di mana-mana, saya beli di Carrefour

  2. Baby Home Food Maker
    Beli ini karena semua alatnya lengkap, ada semacam tongkat kecil buat ulekan, saringan buah, perasan jeruk, dan parutan. Nggak makan tempat karena bisa digabung-gabung jadi satu. Saya beli entah merk apa di baby shop.
    Lengkap kan satu pake segala ada
  3. Talenan dan Pisau
    Ini pasti di semua rumah ada kan, ya. Tapi saya beli yang baru supaya terpisah dari makanan orang rumah, biar lebih bersih. Kalau menurut saya sih pake yang di rumah aja asal dicuci bersih juga bisa, sih.

    Talenan dan pisau baruuu dengan motif centil supaya yang masak semangat

    Talenan dan pisau baruuu dengan motif centil supaya yang masak semangat

  4. Bibs
    Bibsnya terbuat dari plastik jadi biar gampang dibersihin. Praktis, kan!

    Semacam ini nih bibsnya, terbuat dari plastik dan dibagian bawah ada kantong jadi kalau makanan jatuh bisa ditampung dan nggak ngotorin meja atau lantai.

  5. Baby cubes
    Namanya juga ibu bekerja ya, jadi masaknya ya sekalian aja dari pagi sampai sore, makanya nanti makanannya akan ditaro di ice cubes, disimpen di freezer/kulkas, begitu waktunya makan tinggal dihangatin, deh. Saya nggak pake yang khusus baby cubes. Saya beli ice cubes di supermarket berbentuk kotak-kotak kecil yang ada tutupnya.
    Bentuknya semacam ini. Ada tutupnya biar nggak terkontaminasi bau makanan yang lain.

Udah! Itu aja yang saya beli. Nggak banyak dan nggak sampe mengeluarkan uang lebih dari Rp 300.000. Hemat bener kan, ya. 😀 Nah, ini karena di rumah udah ada slow cooker (embat aja punya emak. Kabarnya kan kalau working mom perlu slow cooker yang memudahkan hidup), blender (udah punya dari dulu waktu berniat hidup sehat cuma menguap begitu saja di hanyalah niat jadi blendernya nganggur, deh), dan panci kukusan (lagi-lagi embat punya emak). We’re ready to go!

PS: semua gambar diambil dari Mbah Google. Bukan punya saya, ya. 😉

Belanja: Anakkin Baby Shop

Sebagai orang yang nggak visual tapi senang lihatin barang-barang di online shop, saya suka kesusahan membayangkan barangnya kayak apa aslinya. Biasanya kalau beli di online shop barang-barang yang kalau salah, ya udahlah direlakan aja. Nah, pas belanja kebutuhan bayi, tentu saja online shop jadi acuan untuk segala macam barang murah. Makanya saya prefer online shop yang ada toko aslinya. Nggak banyak sih yang begitu, makanya ribet juga.

Setelah ubek-ubek Instagram, ada 3 toko yang saya percaya untuk keperluan bayi: Yukibabyshop, Sweetmomshop, dan Anakkinbabyshop. Yuki dan Sweet Mom udah saya ceritain pas beli stroller dan baby box, ya. Sekarang saya mau cerita soal Anakkin Baby Shop.

Saya nemuin Anakkinbabyshop di Instagram pas lagi nyari baby crib. Dari semua antero Instagram dapatlah Anakkin yang jual baby crib dengan harga paling murah: Rp 1,3 juta udah dapat baby crib dari kayu, matras, kelambu, dan mainan bayi. Murah banget, kan. Akhirnya saya follow instagramnya (walau nggak jadi beli baby crib-nya). Online shop ini menjual perlengkapan bayi yang cukup lengkap dari hal printilan macam botol, sepatu, baju, sampai stroller dan car seat. Lengkap, deh.

Eh ternyata dia punya toko fisik dan daerahnya di Ciledug. Nggak jauh dari rumah saya. Huwooow, senangnya! Karena saya tinggal melengkapi printilan macam botol susu (yang sungguh membuat dilema mau merk apa karena banyak yang cerita botol itu soal cocok-cocokan bayinya, jadi nggak mau beli satu merk sekaligus banyak), sisir bayi, dan pengen lihat sepatu prewalkernya yang dijual seharga Rp 55.000, sementara online shop lain rata-rata jualnya Rp 75.000. Beda jauh, kan?

Kemarin akhirnya saya mengunjungi toko ini. Letaknya nggak susah dicari karena di pinggir jalan raya dan papan namanya besar sekali jadi pasti kelihatan (dekat banget sama Giant Kreo). Tokonya berlantai 2, nggak terlalu besar, tapi lengkap. Mbaknya sabar banget melayani saya yang banyak tanya dan bawel, apalagi banyakan liat-liatnya, trus naik turun atas bawah. Hihihi. Lantai 1 untuk perlengkapan bayi, lantai 2 untuk baby crib, stroller, dan car seat. Pembayarannya bisa cash, debit (semua bank), dan kartu kredit.

Tadinya cuma pengen beli sepatu prewalker dan lihat-lihat saja. Berakhir, nggak beli sepatu prewalker dan beli yang lain. Hahaha! Saya akhirnya beli cooler bag Gabag (tentunya harganya di bawah rata-rata harga online shop di instagram). Awalnya pas lihat di instagram, saya pengen tipe yang lain karena kelihatan bentuknya besar. Pas lihat aslinya, ternyata talinya pendek jadi kalau ditenteng nggak nyaman. Akhirnya malah naksir tipe milky cow yang motifnya lebih bagus dan space-nya luas.

Selain itu, beli baby bag. Tahu kan ya, baby bag yang motifnya kece pasti harganya di atas Rp 500.000 atau kalau mau yang murah motifnya kekanak-kanakan macam kartun gitu. Baby bag bakal kepake pastinya karena printilan bayi banyak bener. Nah, suami akan jadi salah satu orang yang bantuin nenteng si baby bag ini. Kalau motifnya terlalu anak-anak kan jadi kurang kece ya dibawa suami. Misalnya, suami udah tampang gahar, eh nenteng tas hello kitty. Drop shay! Di Anakkin ini, dia jual baby bag yang motifnya nggak kekanak-kanakan dengan harga yang relatif murah (paling mahal Rp 250.000). Nah, setelah liat instagramnya saya udah ngincer tas hitam polkadot putihnya karena warnanya netral. Tapi setelah dilihat-lihat, kok kurang pas kalau ditenteng suami. Akhirnya saya malah nemu motif polkadot lainnya, tapi warna navy dengan space yang lebih luas, harga yang lebih murah, dan model yang postman bag yang lebih kece. Rejeki banget iniiih! *girang*

Selain itu saya beli satu set perlengkapan tidur (2 bantal guling, bantal peang, dan alas ompol) dengan harga murah dan motif kece, sisir bayi, dan botol dot Avent (tentunya semua lebih murah). Total belanjaannya nggak bikin bangkrut banget, deh *bahagia*.

Jadi kalau rumahnya di daerah Ciledug dan sekitarnya, boleh mampir ke toko bayi Anakkin. Atau cek aja instagramnya di @anakkinbabystore. Saya sih lebih puas ke tokonya karena ada barang yang belum dia upload, macam baby bag navy itu, yang akhirnya malah jadi jodoh saya. Hihihihi.

Dengan keluarnya saya dari toko Anakkin berarti belanjaan saya udah cukup lengkap. Tinggal nunggu hadiah (ngarep aja, Mbak. Hahaha!) dan beres-beres barang aja. Bahkan, saya nggak beli baju pergi si baby, lho. Soalnya paling ada yang kado-in dan bayi itu cepat besar jadi kalau beli sekarang takut nggak kepake lagi. Benar-benar perlengkapan dasar si bayi: pakaian sehari-hari, alat mandi, perlengkapan tidur, dan perlengkapan menyusui. Sudah! 😀

Eh, belum beli seprei, deh. Hahahaha! Tunggu petualangan selanjutnya. ;P

Balada Baby Box

Setelah balada pencarian stroller yang membuat galau, barang besar selanjutnya yang akan dibeli adalah baby box. Seperti biasa, bingung dulu antara baby box atau baby crib seperti yang pernah diceritakan sebelumnya. Kalau soal kece tentunya baby crib berkayu putih idamanku. Tapi, harganya relatif lebih mahal, lebih besar sehingga makan tempat, dan susah mau dipindahinnya. Tanya ke mertua dan mama, jawabannya sama: paling nanti bayinya jarang tidur di box, lebih banyak di tempat tidur. Duh, eike jadi dilema. Kalau menurut pengalaman mereka begitu kan jadi agak sia-sia, ya.

Berbekal kemungkinan bayi nggak ditidurin di tempat tidurnya, tapi saya tetap berharap bayi bisa tidur di tempat tidurnya sendiri, terutama kalau siang hari, jadi diputuskanlah pake baby box yang jaring-jaring itu.Pertama, lebih fleksibel bisa dilipat dan diberdiriin lagi, kedua karena bentuknya jaring jadi nggak takut kepentok (walaupun di tempat tidur kayu ada bumper, tapi tetap aja takut bayinya udah banyak gerak trus kejedot kayu), ketiga suatu hari nanti kalau udah lebih besar matrasnya bisa diturunin dan dijadiin tempat mainnya dia.

Pemilihan baby box sih nggak sedrama stroller. Dari awal karena tahu bayi bisa aja nggak tidur di situ, budget nggak boleh mahal. Beli yang mahal kalau nggak kepake kan sakit hati, ya *nunjuk dompet*. Ukurannya nggak boleh terlalu kecil karena nanti kan ada bantal dan bantal guling juga ditaruh di sana. Kalau kekecilan, belum apa-apa udah sumpek sama perlengkapan tidurnya dia. Kaciyaaan! Oh, sama modelnya nggak boleh terlalu ribet. Harus ringkes, warna netral, nggak banyak gambar heboh. Ibunya pusing liatnya, kakak!

Mulailah cari di internet dulu berbagai model baby box. Pilihan jatuh ke baby box merk Does. Ini salah satu merk yang nggak mahal, warna kalem, spesifikasinya banyak, dan ukurannya lebih besar dari kebanyakan box-nya Cocolatte. Panduan belanja baby box yang paling sering saya lihat di yukibabyshop.com. Modelnya banyak dan ditulis spesifikasinya dengan lengkap, plus harganya paling murah. Tapi kan sebagai cewek rempong nggak puas kalau cuma lihat online, soalnya nggak bisa ngebayangin.

Eh, baru sadar ternyata adik ipar baby box-nya merk Does juga. Dulu udah pernah lihat. Cukup oke, sih. Trus suatu hari saya ke Carrefour dan lihat ada Does yang lagi dipajang. Dipegang-pegang dan dipandangi, kayaknya cukup bagus dan sesuai, tapi waktu itu di Carrefour bukan dipajang model yang diinginkan.

Nah, karena punya waktunya weekend kemarin, kita pun ke ITC Kuningan ke toko Fany Baby Shop yang jual baby box juga. Baby box-nya di situ nggak dipajang, tapi kalau mau lihat modelnya lihat dari tab-nya si koko. Sebagai anak yang nggak visual, saya jadi nggak bisa ngebayangin, deh. Jadi saya cuma bisa nanya-nanyain spesifikasinya dan ukurannya aja. Lalu kemudian bujuk-bujuk mas-nya supaya boleh lihat aslinya gimana dengan bukain kotaknya. Untungnya akhirnya masnya setuju.

Jadi syarat saya waktu itu cuma ukurannya harus 120×70. Mas-nya bilang yang ukuran segitu berarti yang tipe BravadaX, harganya Rp 950.000,-, tapi tipe ini nggak ada musiknya dan nggak ada tempat tisu-nya. Yang tipe di bawahnya ini *lupa tipe apa* harganya Rp 850.000,-, udah ada musik dan ada tempat tisu, tapi ukurannya lebih kecil. Yah yah yaaah…bingung, deh.

Akhirnya suami yang memutuskan, ambil yang lebih besar karena kasian kalau tempatnya kecil. Oh baiklah. Udah yakin beli yang besar, eh pas dibuka kotaknya motifnya nggak suka. Masalahnya, motifnya terlalu girly. Sedangkan yang kita mau, motif satunya lagi yang lebih netral. Tapi si mas nggak bisa mastiin motifnya. Kalaupun pesan, dia tetap nggak bisa mastiin. Aneh ya, bok! Ya udah akhirnya nggak jadi beli, deh. Nggak rela kalau box-nya terlalu girly. Hahaha.

Lalu kita muterin Ambas lagi untuk nyari tipe yang sama. Nihil. Iseng-iseng nanya juga merk yang lain, eh harganya lebih mahal daripada Fany Baby Shop, lho. Lebih mahalnya bisa sampai Rp 20.000-an. Lumayan buat beli 2 milk tea itu. Hahaha. Jadi, kalau mau beli udahlah ya ke Fany Baby Shop aja.

Si suami lalu ingetin kalau di Carrefour kemarin kan kita lihat Does. Beli di situ aja. Pas ke Carrefour, ternyata yang ada Does ukuran lebih kecil dengan harga yang lebih mahal jauh. Wuih, sebagai emak irit tentu saja saya nggak mau-lah. Inget ya ibuk-ibuk, barang-barang bayi di Carrefour relatif lebih mahal dibandingkan di online shop atau Ambas.

Kemudian saya inget dari kemarin kan browsingnya di Yuki Baby Shop. Kenapa nggak beli di situ aja, sih? Selain itu dia juga punya toko offline yang nggak terlalu jauh dari rumah. Akhirnya buka lagi web-nya dia dan JENG JENG JENG….harga si BravadaX yang tadi di Fany Baby Shop, di Yuki Baby Shop lebih murah Rp 925.000. Iya sih lebih murah Rp 25.000, tapi kan teteeeep namanya lebih murah. Hihihi. Eh, tapi bukan tipe itu sih yang mau saya beli. Setelah diubek-ubek lagi, ternyata di Yuki Baby Shop ada tipe Does yang ukuran 120×70 seperti BravadaX, tapi dengan harga yang lebih murah. Spesifikasinya sama persis. Harganya Rp 810.000, tipe EasyfoldXL. Kenapa lebih murah? Perkiraan mbaknya karena udah model lama, yang BravadaX model baru. Beda di motif aja. Zzzz! Karena menurut saya, tipe EasyfoldXL ini motifnya malah lebih kalem daripada si BravadaX itu. Emang ya, ada untungnya juga si Fany Baby Fox nggak punya stock yang saya mau, rejekinya emang yang lebih murah dan motifnya yang saya mau. Hihihi.

Karena hari Minggu itu, saya ada acara keluarga dan Jakarta diguyur hujan terus, jadi saya pikir udahlah beli online aja. Teman saya pernah beli langsung ke tokonya jadi bisa dipercaya, dan saya juga udah lihat aslinya baby box ini jadi nggak ragu lagi. Plus, nggak perlu ke daerah Tangerang sana yang walaupun nggak jauh dari rumah, tapi ya nggak dekat-dekat bangetlah. Kalau kata suami, ongkos bensin ke sana, ngemil-ngemil karena lapar, dan bayar parkir juga jadi sama aja dengan biaya kurirnya yang nggak mahal (toko lain dihitung per kg, untungnya di Yuki Baby Shop mereka punya kurir sendiri jadi ongkosnya nggak per kilo, murah).

Setelah order dengan Mbak Yuki yang ramah dan mau menjawab semua pertanyaan bawel saya (yes, saya bawel banget sampai untuk memastikan bahwa barangnya benar, saya kirimin foto berkali-kali, lho). Warna abu-abu yang saya pengenin lagi kosong, sih. Tapi ada satu warna coklat yang cukup netral yang ready stock. Ya udah lah ya, bungkus aja daripada nunggu kapan nggak jelas. Oh ya, sekalian beli matras di situ juga. Sebenarnya lebih murah beli matras di Fany Baby Shop, tapi harus pesan seminggu, plus beda harganya nggak jauh-jauh banget. Kalau kata suami, nggak worth it ngabisin tenaga dan waktu ke Ambas kalau bedanya cuma dikit. Ini udah tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah udah sampe barangnya. Oke, bos!

Oh ya ini spesifikasi Does yang EasyfoldXL:

  • All around safe environment for your small one
  • Maximum air circulation & safe
  • Music box and vibrate –> canggih ya? Walaupun buat saya ada atau nggak ada, nggak terlalu penting, sih. Kalau nggak ada musik, tinggal emaknya aja yang nyanyi. *kayak suaranya bagus*
  • Free movable toys –> supaya si baby nggak bosen kali ya
  • 4pcs arm holder
  • Rocking –> bisa digoyang-goyang gitu maksudnya?
  • Adjustable heights beds ( 2 position ) –> penting nih. Kalau udah besar dan belajar berdiri posisinya bisa diturunin jadi si baby bisa berdiri.
  • Mosquito net with holder –> secara nyamuk Jakarta ganas.
  • Ultra compact for storage / movable –> penting banget bisa gampang dipindah-pindahin. Kalau ada tamu pengen lihat, box-nya bisa dipindahin, daripada masuk kamar kan males.
  • Size : 120x70cm –> Paling penting! Ukurannya besar.

Beres, deh! Nggak pake banyak drama, kan? Hihihi. Tinggal beli seprei dan siap ditidurin deh sama si baby. 😀

Saatnya Belanja!

Sebenarnya tujuh bulan alias 28 minggu jatuh di awal Januari. Udah boleh belanja, dong. Si emak udah heboh nanya kapan beli popok dan baju bayi. Lah, malah dese yang nggak sabar. Jangan-jangan sebenarnya selama ini mama udah ngebet pengen belanja. Masalahnya, habis liburan tahun baru itu kerjaan menampar bak badai di siang bolong. Banyaaaak banget sampai saya harus sering lembur. Boro-boro deh mikirin mau belanja keperluan bayi. Ditambah bulan-bulan sebelumnya udah terlalu nafsu liatin online shop dan daftar belanjaan sampai akhirnya bosen karena belum boleh beli juga. Berakhir sekarang malas. Hihihi. Alasan lainnya adalah mau beli barang-barangnya setelah acara nujuh bulanan aja, biar kelihatannya sah gitu *apaan sih, Mi!*.

Berhubung acara nujuh bulanan dilakukan di pertengahan Januari, jadi rencananya mau beli awal Februari aja. Mepet abis ya, Mak! Nggak papa, santai aja (padahal serem mau ngeluarin uang banyak buat perlengkapan bayi. Takut shock, bok! XD).

Sehari setelah acara nujuh bulanan, saya dan suami cuti. Nggak sanggup raga ini masuk kantor setelah dua hari heboh ngadain acara (hari pertama, beres-beres rumah seharian dan ke sana ke mari melengkapi keperluan acara; hari kedua, acara nujuh bulanan seharian *namanya pun Batak ya, kalau nggak seharian ngumpulnya kayaknya kurang afdol*). Bangun siang dengan nikmatnya karena hujan. Lalu males keramas padahal rambut udah kayak hantu karena penuh hair spray bekas kemarin nggak langsung dicuci. Langsung ajak suami buat creambath. Alasan utama sebenarnya pengen keramas aja, tapi bolehlah sekalian creambath (sejak hamil, pijit-memijit waktu creambath kurang bermanfaat karena habis dipijat, toh besok-besoknya tetap pegel, sakit pinggang, sakit punggung. Udahlah ya, suami to the rescue!). Nah, pas lagi dicreambath itu tiba-tiba kepikiran untuk….haloooo, yuk mumpung suami lagi cuti, ini weekedays jadi ITC nggak penuh, maka marilah membeli perlengkapan bayi. Langsung nanya suami, dia setuju aja, plus kabarin si Mama pun dia oke. Yuk, cus! Oh ya, ini mau beli perlengkapan bayi yang ikut segrambreng, lho: saya, suami, Mama, dan Bapa.

Sampai ITC, Bapa dan suami melipir ke tempat makan (heyalaaah, tujuannya beda ternyata); saya dan Mama langsung meluncur ke Fany Baby Shop. Nggak pake lihat sana-sini karena toh semua orang pada beli di sana, disinyalir lebih murah. Saya juga nggak bawa daftar belanjaan karena di toko udah disediakan, tinggal tanya Mama aja butuh berapa banyak.

TERNYATA BANYAK YA BARANG BAYI ITU! *shock*

Bedong lah, baju lengan panjang, popok, bla bla bla bla… *pingsan*. Mama sih yang kasih tahu butuh berapa banyaknya biar nggak berlebihan, toh bayi itu cepat besar jadi nanti pasti beli lagi *WEW, jadi nanti belanja lagi!*. Banyak juga barang-barang ajaib yang nggak kepikiran seperti penyedot ingus (oh, jadi kita yang nyedot ingusnya, toh), sikat botol yang berbagai macam bentuknya dan kegunaannya sampai kayaknya kecanggihan, botol yang beda-beda bentuknya dan dotnya, sisir bayi (nggak kepikiran bayi harus sisiran, soalnya rambutnya kan segitu aja, plus dikirain pake sisir emaknya aja bisa. Hahaha), detergen dan sabun cuci yang khusus bayi (ini harus dibeli tiap bulan, ya *lirik dompet*), segala macam perlengkapan mandi yang banyaknya minta ampun (lotion lah, cream lah. Hey, emaknya aja nggak punya lotion sebanyak itu), dan segudang benda-benda kecil lainnya yang lucu kalau dilihat, tapi miris kalau pas ngebayar. Hahaha! *ambil dompet bapaknya*. Itu aja yang dibeli bener-bener yang basic. Segala macam jumper atau baju lucu buat jalan-jalan nggak dibeli. Beneran baju untuk kehidupan dasarnya dia aja.

Yang saya beli:

  1. 1 perlak polos
  2. 1 kapas 1/2
  3. 1 dus botol ASIP BKA – isi 8 botol
  4. 1 tissue pure hand and mouth — ini lagi promo jadi beli 1 dapat 3 *horee*
  5. 1 alas ompol LQ — isi 3
  6. 3 celana tutup kaki
  7. 3 stel baju panjang motif Libby
  8. 3 stel baju pendek Miyo
  9. 3 stel kutung polos
  10. 3 pak popok Libby
  11. 2 pak popok LQ
  12. 3 singlet
  13. 2 handuk jepang
  14. 1 selimut topi carter
  15. 1 sapu tangan — isi kurang lebih ada 10
  16. 2 washlap Libby
  17. 6 gurita perekat
  18. 3 bedong Libby
  19. 3 bedong katun
  20. 1 termometer digital
  21. 1 kain kassa
  22. 1 soothing Pure
  23. 1 diaper cream Pure
  24. 1 botol Pigeon –> ini masih perlu nambah lagi
  25. 1 wash 2 in 1 (sabun dan shampo) Pure
  26. 1 minyak telon plus anti nyamuk
  27. 1 minyak telon Ny Menir
  28. 1 gunting kuku bayi
  29. 1 sikat lidah Pure
  30. 1 nursing cover (ah, senangnya menemukan nursing cover yang motifnya nggak kekanak-kanakan)
  31. 1 sikat botol Avent
  32. 1 korset
  33. 1 pembalut melahirkan
  34. 1 precious bebe untuk detergen
  35. 2 BH menyusui (ternyata ukuran BH saya membesar dari no 32 atau 34 *lupa* ke……..38!)
  36. 2 jumper Miyo (buat pas keluar dari RS)
  37. 1 liquid Pure untuk cuci perlengkapan botol — beli satu gratis dua
  38. 1 pak kaus kaki petit — isi 6

Total kerusakan hari itu sekitar 2,2 juta! *elus-elus dompet yang menipis*. Oh ya, ini nggak semua daftarnya saya beli, ya. Cuma yang dibutuhkan newborn aja.

Udah semua? BELUM. Yang mahal-mahal belum dibeli dan minta dihadiahin (semacam pompa ASI, sterilizer, car seat, dll). Tapi masih banyak juga yang harus dibeli. Misalnya baby box (udah lah ya nggak usah yang mahal-mahal soalnya belum tentu anaknya mau tidur di sana. Kalau nanti malah sukanya tidur bareng orang tuanya biar nggak sakit hati tempat tidurnya nggak kemahalan. Hohoho) dan bantal-bantalnya, cooler bag untuk nyimpen ASIP, botol kaca + kantong ASIP (doakan ASI-nya lancar, ya), stroller, bak mandi bayi (ini akhirnya beli di Mothercare karena lagi diskon dan jadi seharga bak mandi Puku yang tersohor itu, tapi dengan tampilan lebih kece). Udah sih yang kepikiran itu aja, mungkin nanti nambah lagi.

Tapi percayalah, sekali pecah telor beli perlengkapan bayi, hari-hari ke depannya kerjaannya adalah lihat online shop dan kemudian semangat pergi ke ITC dan baby shop bertambah tinggi. Selamat tinggal, beli baju untuk emak bapaknya! *dadah-dadah*

Perlengkapan mandi

Perlengkapan mandi

Baju-baju kicik

Baju-baju kicik

Main Rumah-Rumahan di IKEA

Semenjak tahu IKEA mau buka di Indonesia, ehm, lebih tepatnya di Alam Sutera yang nggak terlalu jauh dari rumah, saya udah semangat banget. Kalau lagi liburan ke luar biasanya IKEA jadi salah satu daftar wajib untuk dikunjungi. Saya suka banget main rumah-rumahan di sana, liat-liatin barang-barangnya yang desainnya bagus, dan terutama kok bisa sih ruangan sempit dibikin jadi luas dan bagus. Sebelum ada IKEA aja, saya hobi banget ke Ace Hardware cuma untuk lihat barang-barangnya dan akhirnya berakhir beli barang-barang yang sebenarnya nggak penting. Hahaha!

Pas IKEA buka tanggal 15 Oktober 2014 lalu, tentu saja saya pengen datang, apalagi setelah dikirimin katalognya. Tapi ya tentu saja nggak mungkin bolos cuma untuk ke IKEA. Niat amat, Mbak! Weekend juga nggak mau pergi ke sana karena kabarnya untuk masuk aja antri banget. Weleh!

Akhirnya waktu tanggal 20 Oktober 2014 kemarin, tepat ketika Jokowi-JK dilantik sebagai presiden dan wapres, saya dan suami nggak masuk kerja karena jalanan ditutup. Males muter-muter, akhirnya kita balik arah dan pergi ke IKEA. Tentunya ide saya lah itu! Hihihi. Waktu itu berangkat dari rumah jam 10 pagi dan sudah sampai di IKEA Alam Sutera jam 10.17 lewat tol. Cepat banget! Sepagi itu aja, tempat parkir sudah banyak yang terisi, tapi masih cukup banyak juga yang kosong. Suka banget sama tempat parkirnya yang nggak luas dan penerangannya bagus jadi nggak terkesan sumpek dan gelap seperti tipikal tempat parkir mall di Jakarta.

IKEA di Alam Sutera luas banget — sama kayak IKEA di luar negeri juga, sih. Saya kira datang sepagi itu, dengan jam buka yang jam 10 pagi, IKEA belum rame. Salah, sodara-sodara! Di hari Senin pagi IKEA sudah rame banget! Nggak sampe sumpek dan berdesak-desakan, sih, tapi rame! Yang datang juga bukan perempuan atau ibu-ibu aja yang biasanya suka mendekor rumah, tapi juga bapak-bapak dan cowok-cowok. Jumlahnya cukup seimbang lah.

Seperti biasa, saya suka banget main rumah-rumahan di IKEA. Nyobain kursinya, tempat tidurnya, perhatiin penempatan barangnya, bahkan nyatet warna tembok supaya bikin ruangan kelihatan luas. Udah macam main rumah-rumahan Barbie, tapi saya Barbie-nya. Hahaha! *ditimpuk*

Udah berkeliling seluas itu (beneran luas karena mau ke toilet aja jalan jauuuh banget), saya nggak beli apa-apa. Ada sih barang-barang yang ditaksir, tapi belum butuh dan nggak tahu juga taro di mana di rumah. Plus, sejak hamil keinginan belanja menurun drastis *tepok tangan*. Yang ada setelah puas keliling, saya excited ke arah restorannya. Tapi oh tapi, antriannya puanjang banget kayak antri mau konser. Duh, males banget deh mau makan aja harus antri lama bener. Akhirnya memutuskan untuk pulang karena udah lapar banget. Untungnya di lantai bawah dekat kasir ada yang jual cemilan dan antriannya nggak panjang. Minta suami untuk antri dan beli spicy bread, hotdog, dan es krim. Spicy breadnya enak banget dan beneran pedas. Hotdognya saya nggak coba karena nggak suka sosis. Es krimnya juga enak, apalagi di saat capek.

Menghabiskan waktu 2 jam di sana dan rasanya senang banget. Tentu saja bakal balik lagi, dong (tapi nggak tahu kapan). Habis itu langsung pulang ke rumah dan si bumil yang makin menggendut seperti dugong ini tepar sambil pusing dan mual (langganan kalau lagi capek). Ciaobellaaa!

Maafkan penampakan bumil yang melebar macam dugong! :))))

Maafkan penampakan bumil yang melebar macam dugong! :))))

Murah Tapi Bukan Murahan

C360_2014-06-30-11-33-46-585

Can you guess how much the price for my top?

It is only Rp 25.000. So cheap lah!

Jadi waktu belanja di Carrefour kemarin, di tengahnya ada yang jualan baju. Sebenarnya udah lama ada tapi saya nggak pernah ngelirik karena kayaknya barangnya nggak kece *somseeee*. Tapi kemarin akhirnya dilirik karena ada tulisan Rp 25.000. BAJU APA YANG MURAH GITU?

Ya udahlah ya, dengan pengalaman baju super murah di Ambas, maka coba dilihat-lihat dulu. Hm, nggak menarik. Hampir aja pergi, tapi entah kenapa memutuskan untuk melihat dengan seksama. Maka di antara banyaknya baju yang digantung saya nemu harta karun lagi *dancing*. Saya dapat 1 atasan, 3 blazer, dan 1 rok. Semuanya masih dalam kondisi bagus dan keren. Coba bayangkan, blazer dengan harga Rp 25.000. Bukan cuma murah, tapi ini hampir gratis. Hahaha. Cuma tinggal dicuci dan diseterika dengan baik, voilaaaaa bajunya makin keren.

I assumed that they were second clothes. Mungkin kalau di burjer gitu harganya lebih murah lagi. Teman saya pernah beli baju di burjer dengan harga LIMA RIBU RUPIAH saja. Gila, lima ribu rupiah! *masih takjub*. Asal matanya jeli dan pinter milih, pasti dapat yang kece, deh. Apalagi seringkali dapat baju yang unik dan jarang dijual di toko-toko. Makin bahagia aja rasanya. Hihihi.

Si suami manas-manasin pulak kalau di Pasar Baru atau Senen lebih murah lagi harganya. Lah, saya yang baru tau soal beginian kan langsung berbinar-binar matanya (ehm, apakah si suami manas-manasin karena biar hasrat belanja saya terpenuhi tapi nggak ngabisin uang? HAHAHA).

Ditambah lagi bos saya juga semangat cerita dia sering beli baju second di dekat rumahnya. Masalahnya adalah bos saya yang kece plus modis banget ini ternyata juga penggemar baju second. Kalau dipake dia baju second juga dikira mahal. Pernah ada pasien yang dengan berbinar-binar bilang ke dia, “Mbak, roknya bagus sekali. Ini beli di Mango, kan? Saya kemarin lihat yang persis gini.” Dan dengan tersipu-sipu bos saya bilang, “Ini beli di Mangga Dua, kok.” DWANG! Intinya kalau pinter mix and match, baju murah juga terlihat mahal. Kalau udah dasarnya norak, baju mahal malah kelihatan murahan. Ini sih yang paling kasihan. Hehehe.

Jadi kapan kita berburu baju?

Baju Dua Puluh Ribu

ITC Kuningan dan Ambasador menyimpan banyak harta karun, lho. Sabtu lalu saya dan suami ke sana dalam rangka beli hadiah ulang tahun buat suami. Hayooo, tebak apa hadiahnya. Hihihi.

Suami dapat hadiah, istri nggak mau kalah, dong. Di ITC ngapain lagi kalau nggak belanja baju-baju kece. Kita semua tau kan kalau di sana banyak barang murah dan keren. Tapiiii… bukan itu harta karunnya. Jadi, pas mau pulang kita mampir dulu ke lantai 3 atau 4, daerah yang banyak makanan Manado-nya dan tempat jual DVD. Saya mau beli bubble tea MyCha. Tepat di depan bubble tea itu ada toko –hm, bukan toko sih, tapi dagangan yang dijual tepat di sebelah tempat DVD. Sebenarnya kalau dilihat sekilas pasti nggak terlalu menarik. Cuma tertera baju yang dijual di situ seharga Rp 20.000. Bok, baju apa yang dijual seharga Rp 20.000? Tebakan saya sih baju second — si mbak bilang baju reject export.

Nah, saya isenglah liat-liat bajunya, secara suka banget segala sesuatu yang vintage. Daaaan, banyak baju kece yang nggak ada cacatnya. Tau kan kalau sekarang fashion vintage trend lagi. Jadi pas banget, deh. Selain baju vintage, baju biasa lainnya pun masih kelihatan kece banget. Jadii.. saya beli 5 baju hanya dengan harga Rp 100.000 aja. GILAAAAK, PUAS!

Ternyata ada baju-baju tertentu yang udah dipesan orang sebelumnya, alias di-booking, jadi kita nggak bisa beli. Banyak juga penggemar baju-baju yang dia jual sampe kalau keduluan ya say bye bye aja, deh.

Jadi lain kali kalau ke ITC Kuningan, wajib banget mampir ke toko tak bernama ini. You’ll find the treasure. Ihiiiy!

Outer yang dipake ini hanya seharga Rp 20.000. Kece, ya.

Outer yang dipake ini hanya seharga Rp 20.000. Kece, ya.

Baju yang saya pake warna toska itu juga harganyar RP 20.000. Tinggal tambahin pake korsase, langsung makin kece

Baju yang saya pake warna toska itu juga harganyar RP 20.000. Tinggal tambahin pake korsase, langsung makin kece

Thursday Outfit

I love denim. Denim diapain aja tetap tampak kece, ya. Saya suka pake jumpsuit (walau ngerepotin banget kalau harus pipis karena buka semuanya) dan overall. Luckily sekarang lagi ngetren lagi pake overall, ya. So, this was what I was wearing when I had my Thursday date with hubby. I love the red hat that I’m thinking to wear it to office (but of course not). Hihihi!

1398938152971