Kaki-Kakiku

Dear kaki-kakiku,

Hari ini pasti kamu kesakitan banget, ya. Seharian aku memaksa kamu untuk berdiri di atas high-heels baruku. Ehm, aku tahu, sih, ukuran high heelsku ini satu nomor lebih kecil dari yang biasa aku pakai. Habis gimana dong, kemarin toko sepatu favoritku lagi diskon dan sepatu itu cuma ada sepasang. Kamu tahu kan, aku paling nggak tahan sama sepatu yang bagus. Jadi, walaupun kekecilan tetap saja aku beli.

Akibatnya hari ini, kamu lecet dan merah. Aduh, perih juga, ya. Kamu pasti mau menjerit kesakitan di dalam sana. Tapi aku tetap memaksamu berada di sepatu itu. Kamu sesak napas nggak di sana? Duh duh… Semoga kamu baik-baik saja.

Nah, kakiku, kesenanganku sama sepatu baru ini mungkin nggak akan lama, kok. Beberapa bulan saja biasanya. Sampai aku menemukan sepatu lain yang lebih menarik lagi. Sampai hari itu tiba, kamu sabar ya kalau aku paksa pakai high heels itu. Tapi kamu kelihatan makin seksi, lho. Bener, deh. Nggak boong. *sogok salep* L

Salam pijit,

Pemilik kakimu.

 

The Hero Dies In This One

Dear kamu,

Kamu ingat lagu The Ataris yang judulnya “The Hero Dies In This One”? Pasti kamu nggak akan lupa sama lagu ini karena kamu yang mengirimkan buat aku.

Aku ingat, malam itu kita melakukan aktivitas favorit kita, chatting via Yahoo Messenger. At first it was fun. No, you were always fun for me. Kita selalu menikmati waktu berbincang kita di depan komputer. Membayangkan wajahmu mungkin sedang tersenyum dan tentu saja, aku di sini juga tersenyum. Kita bisa berjam-jam mengobrol di YM. Oh, bahkan kita pernah nggak tidur semalaman karena keasikan ngobrol di chat. Kamu memang selalu menyenangkan.

Tapi malam itu berbeda. Tidak seperti biasanya, malam ini kita membicarakan tentang kita. Hubungan kita. Kita memang dekat, sangat dekat. Sampai mungkin, kita lebih dari sekedar sahabat. Seberapa sering kamu mengatakan mencintaiku, kan? Dan aku nggak pernah berani mengatakan aku mencintaimu juga. Tapi aku tahu aku tertarik padamu. Ketertarikan yang kuat sampai melihat Idmu muncul di YM mampu membuat jantungku berdebar, menanti di depan komputer menjadi hobi baruku, dan diam-diam melirik wajahmu adalah kesenangan buat aku. Aku suka saat kamu mengantarkanku pulang dan tiba-tiba kamu membelai rambutku pelan. Aku suka kamu membangunkan aku dari tidur dengan menelepon hanya untuk mengobrol hal-hal ringan di tengah malam. Aku suka setiap perjalanan rahasia kita ke tempat-tempat baru. Tentu saja kita nggak pernah melakukannya di depan orang. Entahlah, aku menikmati hubungan kita, tapi mungkin terlalu takut untuk mengakuinya di depan orang. Menurutmu kenapa aku begitu, ya?

Dengan segala kompleksitas hubungan kita, kamu mempertanyakan apa yang kurasakan malam itu. Aku tak mampu menguraikannya dalam kata-kata tapi aku tahu aku menyukai saat-saat bersamamu. Namun untuk sebuah status yang lebih, aku bahkan nggak berani untuk memikirkannya. Kamu mungkin marah dan kecewa padaku malam itu. Mungkin kamu pikir aku mempermainkan perasaanmu. Katamu rasa sakitnya terlalu dalam dan aku sudah menusukmu hingga perih. Kamu memutuskan untuk pergi, kembali seperti ke keadaan semula saat kamu dan aku tidak saling mengenal. Kamu tahu, malam itu aku menangis diam-diam di depan komputer. Aku baru sadar membayangkan kamu nggak ada lagi membuat hatiku terasa diiris-iris. Sakit. Ketika percakapan kita selesai dan kamu sign out dari YM, aku pun menyadari satu hal: aku juga mencintaimu.

Aku tidak tidur malam itu. Aku bahkan menangis sepanjang hari tapi harus berpura-pura tersenyum di depan orang-orang. Berulang kali aku membaca SMS-SMS lama darimu yang tersimpan di Hpku. Semakin aku membacanya, semakin aku ingin menangis. Semuanya harus terhenti. Nggak akan ada lagi SMS yang mengucapkan selamat pagi saat aku bangun, nggak ada deringan telepon di tengah malam untuk percakapan konyol kita, nggak ada chatting via YM lagi. Yang terutama, nggak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Aku mengutuki diriku yang terlalu bodoh sehingga baru menyadari bahwa aku sayang kamu setelah kamu pergi.

Hari kedua kamu pergi, aku ingat kamu menulis note di Facebook. Sesuatu yang nggak pernah kamu lakukan sebelumnya. Kamu men-tag namaku di bagian teratas. Aku tahu note-mu kali ini untuk aku. Sebuah lirik lagu dari The Ataris- The Hero Dies In This Night.

As I leave here today, apartment 108
I’ll always keep you in my heart.
Anderson is cold tonight,
The leaves are scattered on the ground.
I miss the seasons,
And the comfort of your smile.

Sometimes this all feels like a dream.
I’m waiting for someone to just wake me up,
From this life.

As I look out at these fairgrounds,
I remember how our family split apart.
I don’t think I ever told you,
But I know you always did your best.
And the hard times,
They only made us stronger.

As I sit here all alone,
I wonder how I’m suppose to carry on when you’re gone.
I’ll never be the same without you,
I love you more then you will ever know.
So maybe now you finally know.
Sometimes we’re helpless and alone,
But you can’t let it keep you weighted down.
You must go on.

Do you ever feel like crying?
Do you ever feel like giving up?
I raise my hands up towards the sky,
I say this prayer for you tonight,
Because nothing is impossible.

Kamu mungkin nggak pandai melukiskan perasaanmu saat itu. Tapi aku tahu semua yang tercakup di lirik lagu ini adalah perasaan kamu. Pagi itu, aku menangis lagi. Menyakitkan mengetahui bahwa kamu mencintaiku lebih dari yang aku tahu, dan aku bahkan terlalu bodoh untuk merasakannya. Dadaku terasa sesak. Perih itu datang lagi. Aku merindukanmu lebih dari sebelumnya.

Di hari keempat, satu SMS dari kamu membuat hatiku melonjak. Kamu mengirim pesan padaku setelah sebelumnya kamu mengatakan bahwa sebaiknya kita menyudahi saja semuanya. Kamu menanyakan kabarku dan mengatakan bahwa kamu merindukanku. Kamu bilang beberapa hari ini adalah hari yang berat buat kamu. Kamu tahu, itu berat buatku juga dan tentu saja aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Kamu mengajakku mengobrol malamnya, menuntaskan apa yang belum tuntas. Tentu saja, aku menyetujuinya.

Kita nggak mempersoalkan lagi status kita seperti apa. Kamu ingin bersamaku dan aku ingin bersamamu. Kamu akan menungguku sampai aku siap dengan hubungan kita. Seperti apapun bentuknya saat ini, kamu tahu kita akan menikmatinya. Our hearts belonged together and we wouldn’t screw that for the sake’s of relationship status this time.

Lagu The Ataris dan percakapan malam itu jadi awal yang membuatku sadar aku menyayangimu dan ingin mengeksklusifkan diriku dengan kamu. Tanpa perlu kata-kata maukah kamu jadi pacarku, kamu tahu aku ingin bersamamu.

Terima kasih karena sabar menungguku. Dan sekarang aku berani mengatakan, aku sayang kamu. Tanpa malu, di depan orang.

Aku yang menyayangimu,

Naomi.

 

You Know Me So Well

24 Januari 2011

Dear SM*SH,

Untuk nulis surat ini aja, aku sembunyi-sembunyi, lho. Takut ketahuan sama teman-temanku. Bukannya apa-apa, mereka pasti ngetawain aku dan jadiin aku bahan celaan selama berhari-hari, eh apa berbulan-bulan, ya? Ya pokoknya, gitu, deh.

Kamu itu guilty pleasure-ku. Ngakunya nggak suka dan nggak tertarik, tapi yah diam-diam kalau kamu ada di TV, aku nggak pernah ganti channel, lho. Aku dengerin lagu kamu yang I Heart You itu sampai habis bis bis. Malahan, kalau lagi karaoke, pasti lagu kamu yang bakal aku nyanyiin pertama kali. Udah pasti, deh, teman-temanku cekikikan dengerin aku nyanyi.

Bukan itu aja, aku juga pernah mendownload video kamu di BB. Aku nggak sengaja nyari, kok. Suwer! Beneran! Ceritanya di twitter lagi heboh ngomongin kamu, trus ada yang kasih link kamu. Ya udah karena penasaran aku download aja dan.. ehm.. aku simpan di BB. Tiap aku lagi bete, aku pasti langsung buka BB dan lihat viedo kamu. Langsung, deh, mood-ku kembali bagus. You know me so well, SM*SH.

Kemarin waktu lagi di mobil, ada lagu kamu di radio. Spontan aku langsung besarin volume radionya dan nyanyi lagu kamu keras-keras. Eh, kok, aku bisa hapal gini, sih? Aku nggak pernah sengaja hapalin, lho. Si pacar yang lagi nyetir langsung mengangkat salah satu alisnya mendengar aku nyanyiin lagu kamu. Dia kaget mungkin, ya. Eh, tapi nggak lama kemudian dia ikut nyanyiin lagu kamu juga, lho. Dia hapal juga! Ih, padahal kan dia suka nyela kamu. Ternyata oh ternyata, itu guilty pleasure dia juga.

SM*SH, makasih ya udah ada di dunia musik Indonesia. Nggak papa deh kamu dibilang nyontek boyband Korea, yang penting aku suka lagu kamu. Bikin joget-joget sendiri. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku diam-diam suka dengerin lagu kamu. Entar imageku yang cool ternoda, dong. Pokoknya, ini rahasia kita, ya, SM*SH. Aku suka kalian sampai hatiku selalu cenat-cenut denger kalian nyanyi. Terus nyanyi, yah. Aku tunggu kemunculan kalian di layar TV atau radio. Pasti, deh, aku perhatiin sampai habis. Ooh, I heart you banget, deh.

Ayo, kita joget cenat-cenut, yuk.

Your secret admirer,

Aku.