Mengejar Ahok

Udah tahulah ya, kalau saya suka, ngefans, mengidolakan Ahok. Levelnya udah sampai kebawa mimpi lah. Hahaha. Nah, ngefans bukan cuma baru-baru aja, tapi ya dari awal lihat sepak terjangnya yang luar biasa, bikin saya ngefans.

Dulu, saya pernah ketamu Ahok (ceritanya di sini) waktu dia masih jadi wakil gubernur. Crowdnya biasa aja, lowong, nggak sumpek, bisa lihat dari dekat, TAPI KOK NGGAK FOTO BARENG? *toyor kepala sendiri*. Sungguh menyesal. Waktu itu lebih ke masih terpana dan bengong lihatin beliau, trus dengan santai ngobrol-ngobrol. Tapi tetap, kan nggak ada fotonya! 😥

Makin ke sini makin ngefans dan makin pengen foto bareng. Tapi ya lagi-lagi belum kesampaian. Sampai waktu itu Mama saya ajak ke tempat kampanye Ahok karena kabarnya Ahok ada di sana. Okelah, saya ikut. Demi foto bareng. Sampai jam 11 malam Ahok nggak datang dan batal datang. TIDAAAAAAK! *nangis di tengah RPTRA* Belum jodoh.

Nah, Senin kemarin, habis jalan-jalan naik TJ, saya lalu kepikiran eh kenapa nggak nemuin Ahok ke Balai Kota aja. Kan doi suka menerima pengaduan langsung, harusnya bisa foto bareng juga kan, ya. #ambisius Langsung kasih tahu teman-teman senasib fans Ahok hahaha, geng Merlyns tercinta. Nggak pake babibu langsung yuk cuss berangkat!

Yenny kasih tahu kalau di grup-grup lainnya dia ada yang mau datang rame-rame hari Rabu, 26 April 2017 sambil kirim bunga. Setelah kami pikir-pikir, ih kalau rame-rame nanti nggak kebagian foto bareng Ahok, dong. NO WAY JOSE!

Pilihannya hari Selasa atau Kamis. Selasa, kami pikir Ahok bakal sidang jadi kayaknya nggak di Balai Kota. Jadi terpilihlah hari Kamis. Yang ternyata, lumayan salah karena akibat kehebohan ribuan orang yang datang hari Rabu, hari Kamisnya animo masyarakat jadi heboh dan pada banyak yang berdatangan. Selasa ternyata paginya Ahok ke Balai Kota dan orang nggak banyak yang datang, bisa leluasa foto sama beliau.

Oke, lanjut ke ceritanya lagi. Janjian jam 5 pagi untuk berangkat bareng (kerja aja saya nggak bangun jam 5 pagi, sih. Ini cuma mau ketemu Ahok bangun jam 04.30 pagi. HAHAHA!) Belum makan, cuma minum segelas air putih, tapi super excited!

Sampai Balai Kota jam 6 pagi. Masih lowong, walau udah ada yang datang. Bahkan, ada yang niat datang dari jam 4 pagi. TOTALITAS! :)))))

IMG_20170427_062225

Masih pagi, masih kece, orang masih belum banyak yang datang. 

IMG_20170427_062313

Bunga buat Pak Ahok dan Pak Djarot. Niatnya mau dikasih langsung, tapi nggak boleh dibawa ke dalam. Jadi ditaruh aja di teras Balai Kota

IMG-20170427-WA0004

Baru pertama kali ke Balai Kota dan ternyata bagus. Jadi norak foto-foto, deh. :)))

IMG_20170427_063246.jpg

Antrian ini masih belum panjang (belum panjang aja segini)

Di depan saya, ada Bapak dengan dua anaknya yang masih ABG ikut antri. Dia cerita udah 3 hari ke Balai Kota tapi belum kesampaian foto sama Ahok, cuma foto dari jauh aja. Bapak ini tinggal di Belanda udah 30 tahun. Datang ke Jakarta cuma demi nyoblos. Bahkan anaknya nggak bisa Bahasa Indonesia lagi, diajak terus ke Balai Kota buat ketemu Ahok. Dia tiap hari datang dengan impian foto sama Ahok karena hari Sabtu dia harus udah balik ke Belanda. Sampai tukeran no HP loh kita berdua. Hahaha. Bapak baik ini juga yang nolongin saya and the gank waktu didorong sesak napas di tengah kerumunan orang.

IMG-20170427-WA0034

Dengan Bapak dari Belanda yang baik hati

Jadi awalnya antrian tuh rapi banget. Memanjang dan orang-orang teratur. Sampai akhirnya ada petugas yang kasih pengumuman bilang kalau antriannya lurus panjang, nanti mobil nggak bisa lewat. Jadi jangan lurus panjang tapi belok ke kiri, biar mobil bisa lewat. Yang ada, orang-orang nggak paham dan menyerusuk ke depan sampai akhirnya nggak ada antrian lagi. Diaturin lagi lah ama si petugas. Awalnya mau, tapi begitu Ahok datang, sekitar jam 7 pagi, bubar jalan semua. Desak-desakan, dorong-dorongan, sampai sesak napas, kaki keinjak. Barbar banget lah orang-orang ini padahal petugas bilang semua pasti dapat bagian jadi santai aja. Tapi semua ketakutan nggak bisa foto sama Ahok. Kasihan sebelah saya ada nenek tua yang kedempet. Akhirnya saya teriak-teriak, “INI ADA IBU-IBU KASIHAN. JANGAN DORONG-DORONG!” Bapak depan saya akhirnya berusaha menghalau orang dan berusaha agar nenek ini masuk duluan. Saya dan teman-teman harus sambil gandengan supaya nggak kepisah karena beneran parah banget dorong-dorongannya.

IMG_20170427_074304.jpg

Ada Pak AHok. OMG OMG! *brb ambil oksigen sesak napas*

IMG_20170427_074319

Maap ya kami norak. Ada Pak Ahok di belakang jadi mau selfie-an. *trus takut dibentak petugas*

Karena animo masyarakat sangat besar, sekarang foto dengan Ahok nggak bisa sendiri-sendiri, tapi harus per-20 orang. Ya iyalah, kasihan kan ya Bapak juga mau kerja buat warganya, bukan cuma foto-foto doang. Nah, petugas yang di dalam bagus banget tegas dan galaknya. Hahaha. Ada ibu-ibu depan saya, berdua doang, yang keukeuh maunya foto personal sama Ahok. Langsung dimarahin lho, “Kalau ibu nggak mau ikut aturan, silahkan keluar antri lagi saja. Saya antarkan!” Ibu itu langsung jiper dong, takut nggak bisa foto bareng. Hahaha. Emang paling bener petugasnya harus galak biar antriannya teratur dan rapi. Nah, yang di luar itu harusnya segalak yang di dalam, sih.

Di dalam sudah disediakan bangku-bangku. Per batch fotonya. Pake 1 kamera aja, kamera punya warga sih. Warga yang lain disuruh sharing aja dikirim fotonya. Sebelum foto langsung ingetin ke teman dulu, “Eh, lipstick masih kelihatan kan, ya? Jangan sampe kelihatan pucat.” :))))) #perempuangbanget. Nah, kebetulan habis batch sebelumnya, bangku-bangku itu masih kosong. Orang-orang di belakang saya kayaknya belum nyadar itu bangku udah boleh didudukin, jadi saya dan teman saya langsung duduk. Bangku untuk Ahok lebih besar beda sendiri, jadi bisa diperkirakan Ahok duduk di mana.

OMG! SAYA DUDUK SEBELAH AHOK! *nangis pelangi*

IMG-20170427-WA0012

Ketahuan ya mupeng banget, duduknya mepet si Bapak. Gimana Bapak, saya mau selfie, Pak! *diusir* :))))

Gila ya, Ahok tepat sebelah saya jadi intuisi banget lah saya langsung mepet-mepet ke dia. MAAP MAMAK GENIT! HABIS NGEFANS SIH! :)))))))) Belum bisa foto wefie berdua jadi bolehlah ya foto mepet biar nanti foto grupnya bisa dicrop jadinya foto saya sama Ahok doang! HAHAHA!

IMG-20170427-WA0012_1493255379916

Di-CROP! HAHAHAHA! Biar dunia bisa lihat lebih jelas Naomi dan idolanya. :)))))

Fotonya 2 kali, lalu habis itu Ahok berdiri ke pintu dan salamin warganya satu per satu. Bok, satu per satu! Terharu nggak sih! :’) Udah nggak bisa ngobrol lagi karena terlalu banyak orang dan Ahok nggak punya banyak waktu. Tapi pas saya salam dia, saya langsung bilang, “Pak, habis ini jadi Presiden aja, ya.” Ahok kelihatan terkejut tapi habis itu ketawa-ketawa. :’))))

Selesai foto, saya dan teman-teman langsung kayak mau nangis bahagia. YEAY, KITA FOTO SAMA AHOK, DONG! #makinbaper #makinsusahmoveon #makinjatuhcinta

Absurd, berasa groupies, alay banget. Tapi sungguh, I am honored to be served by Ahok. Jadi sebelum Bapak turun, mau foto bareng. Sebenarnya mau ngucapin banyak hal, tapi ya nggak ada kesempatan. Jadi kapan nih bisa ngopi-ngopi sama Ahok sambil ngomongin negara? #tsaaaah

Kapan-kapan kita harus foto selfie bareng ya, Pak. Sama masih pengen foto sama Pak Djarot (yang entah tadi mungkin belum datang karena nggak kelihatan ada di sana) dan foto sama Ibu Vero. :’)

Bahagia minta ampun. Banget banget! :’)

Jadi gimana bisa move on nih, Pak Ahok?

 

 

Advertisements

Bistronomy

Sabtu sore kemarin saya dan teman kantor akhirnya mencoba resto yang lagi hip di Jakarta: Bistronomy. Ternyata dekat banget dari kantor. Jalan kaki juga bisa (ya tapi agak capek, sih).

Karena masih sore, jadi restonya nggak terlalu rame di bagian dalam. Di bagian outdoor malah kosong sama sekali. Takut hujan juga kali, ya. Pelayannya cukup ramah. Kita disambut dengan baik dan bisa memilih mau duduk di sebelah mana. Jadi kita milih di bagian dalam dekat jendela.

Buat saya keunggulan Bistronomy ada di interior ruangannya. Interiornya bertemakan vintage tapi terkesan mewah. Di setiap tempat duduk disediakan serbet dan sendok, garpu, plus pisau makan lengkap. Wuidih, diharapkan makannya menu set lengkap kali, ya. Interiornya emang kece banget, deh. Cocok kalau mau foto-foto #lah.

Tapiiii… minusnya adalah makanannya pricey dan rasanya kurang meninggalkan kesan. Untuk harga semahal itu kayaknya sih saya cukup nggak rela, ya. Waktu itu saya pesan spaghetti carbonara yang rasanya cukup enak tapi nggak luar biasa, salad tuna yang tunanya dikit banget, serta satu lagi entah menu apa namanya. Gongnya adalah sebelum makan kita dikasih roti buat cemil-cemil nunggu menu utama, yang mana rasanya……datar. Lebih enak bikin roti sendiri di rumah, deh. Belum lagi roti garlic-nya nggak kerasa garlic-nya. Lah, piye, toh?

Setelah makan, beranjak ke toilet. Wajib bener nih untuk lihat bersih atau nggak. Toiletnya terletak di luar. Kalau diperhatikan sih kebersihannya baik. Nggak ada tisue berhamburan atau becek. Tapi mungkin karena temanya vintage jadi toiletnya remang-remang dan berkesan menakutkan. Teman saya sampai nggak berani ke toilet walaupun kita udah tungguin di toiletnya, lho. Saya sih masih bisa pipis karena masih terang di luar, kalau malam sih nggak berani, deh. Hihihi.

Kesimpulannya: Bistronomy kece buat foto-foto, tapi buat makan dan harga kurang ciamiklah. 😀

IMG_20131110_061833

IMG_20131109_160303

IMG-20131109-WA0020

Bistronomy
Jalan Ciniru 1 No.2, Kebayoran Baru, South Jakarta City, Jakarta 12180
(021) 7396655

Bangkok In A Glimpse 3

Lanjuuut kita?

Day 4
Hari terakhir di Bangkok. Huhuhu, belum puas belanjanya *teteeep loh, lama-lama buka online shop aja kali, ya*. Hari ini jadwal kita cuma ke Chatuchak yang buka pas weekend aja. Kebetulan pesawat kita terbang jam 9 malam jadi bisa dong dipuas-puasin belanja di pasar yang katanya segala macam ada dan murah-murah.

Saatnya menghabiskan uang *tebar-tebar uang sampe kere*!

Seperti biasa kita pergi ke Chatuchak naik taksi. Letaknya agak jauh jadi menghabiskan sekitar 100 THB. Sampai di sana, kita menentukan dulu letak meeting point karena semua HP kita nggak bisa dipake dan nggak mau ganti nomor (katanya: mendingan uangnya dipake buat belanja). Meeting point kita di JJ mall, sebelah Chatuchak.

Begitu menentukan meeting point dan jam ketemuan nanti, kita pun langsung menyebar untuk belanja sendiri-sendiri. Chatuchak itu luasnya minta ampun dan tentu saja karena di alam terbuka jadi ya panas. Untungnya waktu itu saya pake singlet dan celana pendek. Adem! Rambut pun langsung diiket supaya nggak panas.

Emang ya, Chatuchak itu segala macam ada! Segala barang-barang vintage tersebar di mana-mana. Gimana saya rasanya nggak mau beli semuanya #kemudianliatdompet #uanghabis. Saya pun beli mobil vintage yang di atasnya bisa ditaro pot bunga kecil, bunga-bunga artificial yang jauh lebih murah daripada di IKEA, beli berbagai kaos untuk suami, dan sepatu boot untuk suami, beli undies, cushion cover 4, lukisan, dan masih banyak hal lainnya lagi. Itu semua cuma ngabisin sekitar 1500 THB. Gimana nggak bahagia? #terharu

Di Chatuchak semua tersedia: baju, sepatu, makanan, seprei, pajangan, makanan berbagai rupa, alat pertukangan, bahkan pet shop pun ada. Heraaan, ini seluas apa sih sampe semuanya ada?

Puas ngabisin duit (yang nggak seberapa) di Chatuchak, beranjaklah ke JJ Mall. Di sana beli es krim lagi saking panasnya. Nah, muter-muter JJ mall ini juga sama aja bikin ngilernya. Yang paling bikin ngiler ya pajangan dan bunga-bunganya itu, deh. Nah, di sini baru inget kalo saya belum beli Nestea Thai Iced Tea pesanan suami. Heran, deh, si Nestea ini kok nggak jual thai iced tea-nya di Indonesia. Padahal enak banget. Untungnya di bawah ada supermarket jadi saya beli banyak Nestea sekalian untuk oleh-oleh juga, banyak mie instan dengan rasa-rasa unik macam tom yum, minced pork, dan sebagainya (yang setelah makan pas di rumah, enaaaak parah!). Di sini juga beli makanan khas Thailand seperti manisan mangga, keripik nanas, dll. Tapi kata Stefany agak lebih mahal 5-10 THB dibandingin di salah satu mall yang letaknya 15 menit dari JJ mall naik taksi. Ya bok, jauh juga naik taksi, ya.

Lagi-lagi permasalahannya adalah belum makan karena sibuk belanja. Jadi kita pun makan di KFC di JJ Mall. Padahal sebelumnya niatnya makan di Boat Noddle, tapi letaknya agak jauh jadi udah nggak sempat. Oh, dan ayam KFC di Thailand nggak ada apa-apanya dibandingin ayam KFC di Indonesia. JAUH BANGET. Setelah diperhatikan juga, orang Thai kalo makan ayam KFC/McD kayak makan steak pake pisau dan garpu.

Puas makan di KFC dan belanja (serta jadi kere) kita pun naik taksi ke hotel untuk beres-beres dan cap cus ke bandara. Untungnya sampe bandara dengan cepat, yaitu jam 18.00.

Untung aja kita sampe cepat karena petugas check in Air Asia-nya reseee banget! Jadi dari Jakarta kita sengaja udah beli bagasi 70 kg, dibagi masing-masing 20-25 kg. Biasanya kan bisa digabung aja bagasinya. Eh, dia nggak mau dong. Harus per nama per bagasi. Sungguh rese! Untungnya pas semua tuh bagasi nggak perlu nambah. Karena kalo sampe nambah, uangnya udah habis buat belanja (tersisa di dompet 200 THB).

Pas check in kita juga minta duduknya deketan. Dia bilang udah penuh jadi nggak bisa duduk deketan. Semua percakapan dilakukan dengan muka bete, ya. Kenyataannya pas masuk pesawat pesawat cuma setengah terisi dan kursi tepat dibelakang saya satu baris kosong semua. TUH KAN! Dia pasti kesal sama kita jadi nggak mau dudukin kita bareng.

Oh ya, karena di bandara saya makan dan ngabisin 240 THB. Maka dengan terbangnya pesawat ke Jakarta, uang saya pun minus 40 THB (pas makan minjem Yenny. Hihihihi).

Apakah saya pengen balik lagi? Tentu saja! Masih pengen ke Grand Palace karena waktu itu tutup, masih pengen ke Platinum sampe puas, dan masih pengen makan di Boat Noddle.

After all, it was a nice trip with the girls. #happy 😀 😀

 

Bangkok In A Glimpse 2

Sampailah kita di hari ke-3. *kretekin jari*

Day 3
Malam sebelumnya dihabiskan dengan jalan mulu dari pagi sampe malam. Tentunya begitu sampe di hotel semua langsung tepar dan tidur kayak orang pingsan. Sukses deh hari ini bangun siangan.

Baru bangun jam 9an, deh. Habis itu buru-buru mandi karena kita akan ke Madame Tussaud. YEAAAY! Oh ya, karena lagi ada tiket promo sampe tanggal 28 Februari bagi yang memesan lewat web mereka, maka kita dapet diskon sampe 50%, jadi cuma bayar 400 THB (bok, lebih murah daripada si  boat tour itu *teteep*) dengan syarat harus masuk sebelum jam 12 siang (pulangnya sih jam berapa aja). Demi murah, ya tentu saja kita oke, dong.

Untuk mencapai Madame Tussaud di Siam Discovery, kita (lagi-lagi) naik taksi. Letaknya dekat banget sama hotel kita. Naik taksi cuma sekitar 50 THB. Siam Discovery ini merupakan mall yang juga deketan sama Siam Centre dan Siam Paragon. Mall-mall super gede dengan toko-toko yang banyak dan pastinya lebih update daripada Jakarta (lagi-lagi, whyyy, Jakarta?). Madame Tussaud terletak di lantai 6.

Karena baru pertama kali ke Madame Tussaud tentu saja kita langsung foto-foto di setiap patungnya. Yes, di tiap patung kita foto bergantian, kenal atau pun nggak kenal tokoh si patung. HUAHAHA! Senangnya adalah di sana dikasih properti buat foto lucu-lucu. Misalnya kalo di Queen Elizabeth dikasih mahkota, selendang, dan jaket bulu-bulu. Kalo di Michael Jackson dikasih topi ala Om Jacko. Kalo di dekat Madonna dikasih tongkat dan coat panjang. Seruuu!

Tapiii… tentu saja highlight di Madame Tussaud buat saya adalah….

JUSTIN BIEBER!

Oh, bahagianya bertemu dek Justin walaupun cuma patungnya. Langsung deh foto-foto berbagai pose dengan dek Justin. Justin, inget ya, nanti kalo ketemu beneran tak cium koe. #mulaigila X)))

Ikrib sama artis-artis

Ikrib sama artis-artis

Selesai muter-muter di Madame Tussaud sekitar jam 12-an. Mulai grasak-grusuk untuk cari makan. Untungnya keluar dari Madame Tussaud ada es krim Diary Queen yang di sana murah banget, nggak kayak di Jakarta. Sekitar 39 THB. Murce, bok! *makan semua*

Karena letaknya di mall, kita pun mau mencoba makan di foodcourt-nya aja. Eh, dasar wanita, mall itu kan tempat yang banyak godaan syaiton. Mampirlah ke Forever 21. Yang niatnya nggak beli, jadilah beli anting-anting lucu karena harganya murah aje gitu (sekitar 75 THB) *kekep dompet*.

Sampailah kita ke Food Republic, semacam foodcourt yang banyak pilihan makan dan bersih. Nah, akhirnya setelah 3 hari di sana ketemu juga sama beef noodle soup idaman yang dulu pernah dimakan di Phuket #bahagiaitusederhana. Harganya cuma 65 THB alias Rp 20.000-an. ASOOOY! Oh ya, bodohnya adalah di Thailand itu untuk sambel cabe adanya cuma sambel bubuk. Pengalaman dengan sambel bubuk di Jakarta yang nggak pernah pedas, maka saya tuang banyak-banyak cabe bubuk itu ke noodle soup. Serius, pedasnya bikin bibir serasa terbakar. Tapi semua tetap dihabisin saking enaknya. Slllrrp! #habisitusakitperut

Dari foodcourt kita lanjut jalan ke Siam Paragon. Mall ini juga kece banget. Branded semua barangnya macam LV, Prada, Hermes. Udah lah ya, cuma liat sekilas aja dari luar (sambil ngences). Tujuan ke Siam Paragon karena kita mau ke H&M yang baru buka juga di sana. Hampir kalap, tapi nggak, tuh. Di kepala selalu bilang, “Inget habis ini mau ke MBK dan Platinum. Ingeeet!” Oke deh, kakak. Tutup mata aja, yuk.

Mejeng di depan Siam Paragon

Mejeng di depan Siam Paragon

Siam Centre

Siam Centre

 

Sekitar jam empat sore, kita jalan kaki ke MBK, semacam ITC di sana. Jalan dari Siam Centre, lalu nyeberang lewat jembatan penyebrangan ke MBK.

Di jembatan penyebrangan pun harus foto

Di jembatan penyebrangan pun harus foto

Yenny dan Stefany udah kecapekan. Kita pun melipir sebentar ke Dunkin Donuts MBK. Di situ saya udah mulai sakit perut karena banyak makan pedas, tapi nggak mau ke WC pas di Siam Paragon karena nggak ada air. EUUUH! Kalo kata Lydia, uniknya di Bangkok adalah di mall bagus dan besar malah nggak ada air di toiletnya, tapi kalo di mall kelas ITC malah ada air. Oke deh, tahan aja, yuk. Bodohnya, saya malah minum thai iced tea di Dunkin. Makin memperparah sakit perut aja. Hihihi.

Karena di itinerary habis dari MBK masih mau ke mall Platinum yang kabarnya lebih murah dibandingin MBK, jadi saya, Tenyom, dan Lydia pun janji muter-muter MBK cuma 1 jam aja. Begitu keluar dari Dunkin, saya langsung ngesot cari toilet. Di MBK bayar 2 THB untuk ke toilet. Tapi toiletnya bersih dan kering. Paling penting sih ada air. YEAAAY!

Setelah itu muter-muter MBK. Kalau menurut saya barangnya agak kurang menarik, ya. Tapi teteep sih di sana saya beli sepatu flat seharga 300 THB juga. Hihihi.

Jam 16.30 kita beranjak pergi dari MBK. Tentu saja mau ke Platinum naik taksi, dong. Kita mau ambil taksi di depan MBK, tapi ternyata nggak boleh. Bahkan taksinya nggak mau pake argo. Hih, nyebelin! Ya udah, kita pun ngambil taksi di tempat yang resmi, di bagian belakang mall MBK. Tapi ya harus antri cukup panjang.

Ke Platinum ini nggak butuh waktu lama sebenarnya karena masih satu area, tapi waktu itu lagi macet di perempatan lampu merah. Nah, supir taksi yang kita naikin ini agak nyebelin. Nunggu macet lampur merah yang cuma 15 menit aja nggak sabaran banget! Dia misuh-misuh aja gitu. Yaoloh Pak, kalo di Jakarta macet mah sampe 2 jam. Mau coba nggak? Kita pun diturunin di seberang Platinum karena dia males muter balik macet. Duileeeh, nyebelinnya!

Sampai di Platinum, mata kita pun terbelalak. Ini mall semacam ITC juga. Tagline-nya adalah Platinum: Fashion Mall. Emang bener banget, buanyak banget pakaian-pakaian kece yang dijual di online shop dan toko-toko semacam NYLA yang harganya miring. Bahkan, makin banyak beli, makin murah harganya.

Udah deh ya, pas di sini udah nggak pake nungguin teman, kita langsung mencar. Sayangnya karena kita datang telat, waktu itu jam 18.30, sementara kebanyakan toko tutup jam 19.00 atau 19.30, jadi ya kita kejar-kejaran sama toko mau tutup. Masaaa, dapet baju yang dijual di OL shop cuma seharga 200 THB untuk 2 baju! Menggila nggak, sih! Hihihi. Lalu juga dapet tas dan clutch di bawah 400 THB. Matiklah ini, kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih ke sini? Huhuhu! *nangis tapi sambil belanja*. Bahkan si bumil Yenny aja yang tadinya capek, dia ikut muter-muter belanja, lho!

Kita beneran ada di sana sampe mall itu tutup. Setelah itu tentunya kita kelaperan, dong. Pas keluar mall, eh masa ada banyak jualan di trotoar. Barangnya segala macam ada, kayak scarf, USB, jam, casing iPhone, tas, dll. Mamaaah, ini gimana keluar dari jerat belanja?

Kita udah sama-sama bilang, “Udah ya pandangan mata harus lurus ke depan, jangan noleh-noleh”. Kenyataan: begitu satu noleh dan dapat barang lucu, yang lain ikutan noleh dan akhirnya semua beli. HAHAHAHA! Bahkan pas di bagian scarf, saking capeknya tapi tetap pengen milih-milih scarf lucu dan murah itu (100 THB untuk 1 scarf, kita beli 11 scarf), kita pun akhirnya duduk ngejogrok di trotoar aja, dong. Hihihi. Nah, di trotoar ini berhasil belanja 2 scarf, 2 gelang (harganya di bawah 100 THB), dan 1 flash disc buat oleh-oleh. Manaaa janjimu nggak liat-liat lagi?

Ngejogrok di trotoar demi belanja

Ngejogrok di trotoar demi belanja

Selesai belanja jam 9 malam aja. Cari makanan yang buka dan kayaknya pas di perut ya apalagi kalo bukan McD. Di Jakarta jarang makan junk food, eh di Bangkok kerjaannya makan junkfood mulu. Kelar makan kira-kira jam 10an lewat.

Nah, di depan mall Platinum adanya tuk-tuk. Lah, kita kan bareng bumil. Serem juga kalo naik tuk-tuk yang hobi ngebut dan bisa masuk angin. Jadi kita jalan dikit ke dekat Hotel Novotel untuk cari taksi. Nunggu 30 menit nggak ada taksi yang mau ngangkut kita. Sekalinya mau langsung nembak 200 THB, nggak mau pake argo. Nyebelin amat. Tapi karena udah hampir jam 11 akhirnya yang tadinya nggak rela ngeluarin 200 THB, terpaksa deh direlain juga. Kenyataannya: hotel kita ternyata dekat banget sama Platinum. Paling 15 menit aja. Tuh kan, diboongin lagi. HUH!

*to be continued*

 

Bangkok In A Glimpse 1

Halo!

Minggu lalu saya baru aja liburan bareng Merlyns (minus Marisol dan Ella) ke Bangkok. Trip ini udah direncanakan lamaaa banget. Beli tiketnya kira-kira udah setahun yang lalu. Tapi benar-benar baru dipersiapkan 1 bulan sebelum pergi, sih. Hihihi, emang kita deadliner abis! 😀

Day 1
Kita naik pesawat Air Asia (seperti biasalah pesawat murah meriah yang kalo dipikir-pikir tiket ini nggak murah juga, sik! Flight-nya sore jam 16.45. Untungnya pesawat nggak pake delay. Karena kita check in nggak barengan jadi kita duduknya jauh-jauhan. Yang duduk deketan cuma Lydia dan Yenny (oh ya, Yenny lagi hamil 4 bulan, lho). Sementara saya dan Stefany duduk jauhan. Tenyom berangkat dari Penang karena beberapa hari sebelumnya dia liburan di Singapore dan Malaysia (hih, enaknya!).

Seperti biasa deh, ya. Saya yang takut naik pesawat ini disuruh bertahan di pesawat selama 3,5 jam sih PR banget, deh. Mana saya nggak dapat tempat duduk di dekat jendela (walaupun penakut, saya wajib duduk dekat jendela karena ngeliatin sayap pesawat membuat saya merasa aman. Hihihi). Dua seat sebelah saya adalah sepasang kakek-nenek. Mereka nggak nyebelin, sih. Cuma ya itu, jendelanya ditutup cobaaak! *gelisah*. Selama 1 jam pertama saya komat-kamit berdoa dengan wajah pucat. Karena udah ketakutan saya beli air mineral seharga Rp 9.000 (mahal gilaaak) dan berniat untuk minum Antimo supaya ngantuk. Tapi nggak saya minum juga karena berusaha bertahan dong ya ceritanya. Emang turbulensinya gede banget? Ya nggak, sik. Namanya juga takut naik pesawat, goncangan kecil juga bikin merinding, deh.

Untungnya tiba-tiba Stefany datang dan ngajak pindah duduk di belakang barengan Lydia dan Yenny. Penyelamat banget, deh! Sisa 2,5 jam itu jadi nggak berasa karena kita ngobrol terus. Fokus saya udah nggak di turbulensi lagi. Hihihi. Senangnya lagi, pesawatnya sampai lebih cepat 20 menit. Jadi jam 8 malam kita udah sampe di Bangkok. Yeay!

Kita mendarat di Bandara Don Muaeng. Bandara lama yang mirip Soekarno Hatta. Begitu sampe, saya langsung ke informasi mengenai taksi. Ditawarin taksi seharga 700 THB. Whaaaat, mahal amiiit! Langsung deh saya bilang maunya yang murah aja *turis medit*, ya udah ditunjukin naik taksi ber-argo seharga 350 THB. Yes, hemat setengahnya! Tapi ya itu dia, karena kebanyakan turis memilih taksi ini ngantrinya juga panjaaang banget. Nggak papa deh, ya. Demi murah.

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Setelah nunggu taksi 15 menit, masuklah kita ke sebuah taksi berwarna pink dengan supir yang untungnya ngerti bahasa Inggris dan nggak cerewet. Kita naik 2 kali tol sampe akhirnya sampe ke hotel kita di daerah Silom. Hotel kita ini emang kecil, mirip hostel. Namanya Take A Nap. Senangnya adalah hotel ini punya berbagai pilihan tema kamar dan ukuran kamar dan bed. Karena kita pergi berlima, kita pesan satu kamar dengan 5 beds. Kamarnya luas banget! Masing-masing dapat tempat tidur yang bersih, handuk, gantungan, dan breakfast. Hotelnya juga bersih dan dirapihin tiap hari. Lebih dari cukup untuk liburan yang sebagian besar waktunya dipake di luar dan cuma numpang tidur aja.

Luas banget kamarnya

Luas banget kamarnya

Karena udah malam, sekitar jam 21.30 dan ada bumil yang kelaparan, kita berlima jalan kaki cari makan. Jalanlah ke belakang hotel. Daerahnya rame banget, banyak tempat karaoke dan restoran Jepang. Tentunya banyak orang Jepang juga. Oh, dan perempuan-perempuan berpakaian seksi. Entahlah ini daerah apa. Hahahaha! Bukannya pergi dari sini, kita tetap aja jalan menyusuri jalan itu. Nggak ada yang ganggu kita juga. Akhirnya terdamparlah kita di satu restoran Thai yang sepi. Karena lapar jadi kita pesan makanan yang ternyata rasanya nggak enak dengan harga mahal. Ya udahlah yaaa… yang penting perutnya keisi. Oh ya, saya sempat beli crepes di pinggir jalan juga seharga 20 THB. Enak banget!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Crepes kesukaanku

Crepes kesukaanku

 

Sehabis puas makan, kita balik lagi kehotel dan siap-siap untuk tidur. Besok masih banyak rencana. Asiiik! *bobo cantik*

Day 2
Karena excited, kita pun bangun pagi. Rencana hari ini adalah keliling kuil di Grand Palace dan Wat Arun, serta belanja di Ikea.

Karena ada bumil seluruh perjalanan di Bangkok ini dilakukan dengan taksi (bye bye BTS dan MRT). Oh ya, karena satu taksi berlima jadi emang lebih murah sih kalo naik taksi daripada BTS/MRT. Naik MRT per orang kalo jaraknya jauh bisa 40 THB. Sementara kalo naik taksi perjalanan paling menghabiskan 100 THB, tinggal bagi 5 aja. Murah, kan?

Hari ini matahari teriknya minta ampun. Kalo mau ke daerah kuil, kita harus pake baju yang sopan, alias jangan pake hot pants dan kaus kutung. Entar nggak boleh masuk. Kita turun di depan Grand Palace. Waktu baru turun kita ketemu satu penduduk lokal yang lagi jalan. Ngakunya sih dia teacher. Dia ngeliat kita lagi kebingungan dan jelasin kalo hari itu Grand Palace lagi tutup paginya karena ada upacara untuk mendoakan keluarga kerajaan. Lah, sial amat, nih. Tapi Wat Arun yang ada di seberang Sungai Chao Phraya tetap bisa dikunjungi. Dia menyarankan naik tuk-tuk ke dermaga, habis itu ikut boat tour selama 1 jam nunggu Grand Palace buka. Oh, oke, deh.

Pertama kali naik tuk-tuk perasaannya adalah…..takut, mak! Coba bayangin aja tuk-tuk itu semacam  bajaj tapi hobinya ngebut. Gilaaaa, langsung pegangan erat-erat, deh. Oh ya, naik tuk-tuk ke dermaga Chao Phraya itu 20 THB. Pas turun langsung ada orang yang menawarkan boat tour dengan harga 700 THB. Mahal gilak! Padahal di itinerary, nyebrang ke Wat Arun itu cuma 3 THB, lho. Wah, salah turun dermaga, nih. Curiga si teacher tadi kerjasama dengan tuk-tuk dan boat tour buat nganterin kita ke sana.

Tentu saja sebagai turis hemat, 700 THB mah mendingan buat belanja, ya. Tapi ternyata setelah berdiskusi ya udahlah boleh juga diikutin soalnya dia bilang ada kebun bunga, ikan-ikan, dan floating market. Teringat bahwa semua yang ada di Bangkok itu bisa ditawar jadi saya tawar dong jadi 500 THB. Awalnya dia nggak mau. Trus saya bilang, “Saya udah 2 kali lho ikut ini. Dulu nggak mahal, kok.”

Tour guide: “Ih, Anda bohong, ya. Ini kan baru buka.”

KWANG KWANG! Ketauan deh boongnya. Hihihi.

Tebal muka aja dan keukeuh pada 500 THB. Eh, dia mau. Oke deh mari naik kapal. Sungai Chao Phraya itu jangan dibayangkan bersih, ya. Warnanya coklat dan masih banyak sampah di sungainya. Agak malesin, sih.

Eh, ternyata di sebelah dermaga kita adalah dermaga dengan perahu seharga 3 THB. Aaa, harusnya jalan aja ke situ. Tapi kita menghibur diri dengan bilang… kan yang ini ikut tour. Jadi lihat lebih banyak. *puk-puk diri sendiri*

Taman bunga? HAH?

Taman bunga? HAH?

Menyusuri Chao Phraya

Menyusuri Chao Phraya

 

Tujuan pertama adalah Wat Arun. Kuil ini berdiri megah di tepi sungai. Cantik banget! Tangga untuk naik ke kuil ini tajam banget. Cuma saya dan Stefany yang naik ke atas kuil. Itu aja kaki saya udah gemeteran saking miringnya itu tangga. Takut, mak! Tapi pemandangan di atas emang menakjubkan. Apalagi langit kelihatan biru banget hari itu. Sempurna!

Wat Arun dari kejauhan

Wat Arun dari kejauhan

IMG_2234

Nice view

Nice view

Dari Wat Arun kita naik kapal lagi menyusuri Chao Phraya. Awalnya sih kita ber-wow wow, tapi lama-lama membosankan juga tour ini. Yang tadi disebut taman bunga itu cuma bunga-bunga seiprit yang ditanam di rumah orang di pinggir sungai. Oh ya, ikan-ikan itu juga semacam ikan lele gede yang kurang menarik juga, sih. Jadi nggak recommended banget. Mendingan naik boat 3 THB dan nyeberang ke Wat Arun aja.

Setelah 1 jam, kita diturunkan di restoran tepi sungai. Waktu itu udah jam 12.30. Laper banget, bok! Untungnya restoran ini ber-AC. Kali ini makanannya enak banget. Segala macem Pad Thai, Thai iced tea, dll kita pesan. Udah gitu harganya lebih murah daripada restoran Thai kemarin pulak. Ya udah deh, kita makannya nggragas banget. Macam nggak lihat makanan dari bayi aja.

Perut kenyang, tentu saja hati senang. Lanjuuut! Kita jalan kaki ke arah Grand Palace. Ternyata seperti si teacher itu bilang Grand Palace lagi tutup. Huhuhu! Dia menyarankan kita naik tuk-tuk seharga 30 THB ke 3 Wat dekat Grand Palace. Seakan nggak bosen ditipu, kita pun mengikuti saran itu.

Yang pertama ke suatu kuil yang entah apa namanya. Bagus! Si tuk-tuk mau nungguin kita keliling kuil itu. Oh ya, untuk masuk harus bayar 20 THB.

IMG_2297

IMG_2305

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Muter-muter kuil itu udah jam 3 sore aja. Kita udah mulai capek dan dehidrasi karena cuaca panas banget. Kita mutusin buat stop aja tur keliling kuilnya dan langsung menuju IKEA. Pas kita bilang ke supir tuk-tuk, dia bilang nggak boleh. Lah, piye, toh? Padahal untung di dia kan ya kalo kita nggak sampe habis tapi bayar full. Ternyata dia kerja sama dengan toko perhiasan dan batu-batu hiasan kalo bisa bawa turis ke sana, dia akan dapat bensin gratis. Makanya itu charge tuk-tuk kita murah. Oh gitu. Oke, deh. Kasian juga dia. Kita ikut deh ke toko perhiasan itu.

Di dalam toko itu nggak boleh foto, ya. Kita ditawari banyak perhiasan. Yang mana kita lirik sekilas aja soalnya harganya lebih mahal daripada uang yang kita bawa buat 4 hari. HAHAHAHA! Seandainya mereka tau kita datang dengan budget pas-pasan pasti mereka males deh ngeladenin kita. Hihihi.

Dari toko itu kita langsung dianterin ke Big Buddha lewat jalan belakang yang mana adalah pasar. Di pasar ini jual banyak makanan khas Thai, salah satunya adalah serangga goreng, seperti kecoa (AMPUN DEH GELI!) dan belalang. Kita cuma mendelik geli aja deh liat makanan macam begitu. Kita cuma melewati Big Buddha dan nggak mampir karena udah kegerahan. Kita langsung cari taksi aja ke IKEA di Mega Bangna.

Pasar di belakang Big Buddha

Pasar di belakang Big Buddha

Cek warna-warni yang bikin ngiler

Cake warna-warni yang bikin ngiler

Cari taksi untuk ke Mega Bangna cukup sulit juga. Jarang yang mau ke sana, atau sekalinya mau ke sana nggak mau pake argo. Hih! Kita keukeuh dong cari taksi yang pake argo. Jadi ternyata Mega Bangna itu letaknya jauh banget. Semacam Bekasi-nya Jakarta kali, ya. Untungnya kita dapat taksi yang mau pake argo dan menghabiskan sekitar 100 THB. Jauh banget kan berarti.

Begitu menjejakkan kaki di Mega Bangna yang merupakan sebuah mall gede banget, hati langsung adem. Banyak banget tempat makan yang familiar kayak Toast Box, Starbucks, KFC, McD, dll. Senaaang!

Gede banget mall ini

Gede banget mall ini

Kita ngemil dulu di Toast Box. Habis itu masuk ke mall mau cari WC… yang berakhir malam kalap belanja di Cotton On karena lagi sale. HAHAHA! Di mall ini ada semua toko-toko ciamik yang nggak buka di Jakarta. WHY JAKARTA, WHY? 😦

Setelah agak kere karena belanja langsung tutup mata dan lurus terus ke IKEA. IKEA-nya gedeee banget. Begitu masuk IKEA, kita yang tadinya jalan sama-sama udah lupa diri, deh dan akhirnya misah dengan sendirinya. Sibuk dengan belanjaannya masing-masing. Ya Tuhan godaannya terlalu berat di IKEA. Kalo boleh nginep aja di IKEA, deh. Eh, di Jakarta kapan bukanya, sik? Kok nggak ada kabarnya lagi? Bohong ya kamu! #drama

Kalap!

Kalap!

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Tebak kita selesai belanja jam berapa. Jam 9 malam! Kalap, mak! Segala macam vas bunga, lukisan, lampu, bantal dibeliin. HUAHAHAHA tutup mata aja, ah. Oh ya beli barang sebanyak itu cuma ngabisin 1000 THB alias 300 ribuan. Murce kan, ya.

Setelah kalap belanja baru deh lapar banget. Kita naik ke lantai atas makan McD. Serius itu frenc fries di McD berasa enak banget karena baru dimasak dan gurih. Sampe kita pun nambah. Hihihihi.

Sampe mall-nya tutup jam 10 malam kita baru kelar. Nunggu taksi pun harus antri karena banyak yang mau pulang naik taksi. Kali ini kita dapat taksi yang pake argo dan ramah.

Dia pasangin kita lagu top 40 seperti Celine Dion dan Mariah Carey. Dia juga inisiatif telponin hotel kita untuk nanya arah jalan. Keren, deh.

Sampai hotel, tinggal kaki yang pegal minta ampun. Baru deh berasa mau patah dan capek. Tapi hati senang. Hihihi.

*to be continued*

 

 

 

 

 

 

 

7 Hari Lagi

Seminggu lagi, saya bakal liburan sama teman-teman Merlyns. YIHAAA! Liburan ini udah direncanakan sejak setahun yang lalu. Yes, udah lama bener, ya. Bahkan saya sampai lupa saya bakal liburan. Hihihi!

Kira-kira baru 2 mingguan ini kita rempong ngurusin itinerary. Mau ke mana aja, berapa budgetnya, siapa yang ngurusin tiket, dan bla bla bla. Selama ini ke mana aja, ya. Yah, seperti kata pepatah lebih cepat lebih baik, lebih mepet lebih sip *pepatahnya siapa, toh?*.

Gimana perasaannya mau liburan? Excited sih udah pasti banget! Apalagi bakal pergi sama orang-orang yang menyenangkan dan semuanya cewek. Ihiiiy, pasti seru banget.

Tapi di  balik itu terselip perasaan galau, sih. Galau karena bakal ninggalin suami sendirian. Entar makannya dia gimana, ya? Trus yang bangunin dia kalo berangkat ke kantor siapa? Secara dia suka terlalu lelap tidur sampe nggak kedengeran suara alarm. Nanti yang nemenin di rumah siapa?

GALAU!

Yah, dia sih santai-santai aja. Makanan mah gampang tinggal beli, soalnya dekat rumah kan banyak yang jual makanan. Trus kalo kesepian sebenarnya tinggal ngesot ke rumah orang tua juga. Tapi karena udah kebiasaan, jadi yah ninggalinnya agak gimana gitu. Jadi saya suka nanya, kamu mau dibeliin apa dari sana? Hahaha, padahal itu karena kompensasi perasaan bersalah aja.

Oke, mari memupuk perasaan semangat mau liburan nati. YIHAAAA!

My Favorite Girls

Kemarin di saat orang-orang long weekend, saya tetep dong masuk kerja. Kantor saya bukan penganut libur bersama, sih. Hari itu tetap semangat masuk kerja karena habis pulang kantor bakal ketemu gadis-gadis favoritku (eh, masih bisa disebut gadis nggak, sih? Hihihi)… Merlyns. Kebetulan Marisol yang sekarang tinggal di Sydney lagi liburan di Jakarta.

Begitu jam 6, saya langsung keluar kantor. Untungnya sebagian besar warga Jakarta libur, jadi jalanan dari Santa ke Grand Indonesia lancar jaya. Kurang dari 30 menit saya sampai di sana. Teman-teman yang lain udah pada ketemuan dari siang. Jadi mereka sampe malam cuma buat nunggu saya aja. Ih, baik amat, kan? *kecup*

Pas baru datang, tiba-tiba… lho, kok Ella ada di sini? Ella ini anggota Merlyns cabang Surabaya. Ternyataaa… dia kasih surprise dengan datang ke Jakarta dan kita bisa ngumpul lengkap. Girang banget, kan! *dancing*

Jadilah malam itu kita berasa gadis lagi yang masih hang out sampai malam… all girls. Mood langsung meningkat drastis jadi baik banget. Bahkan sampe paginya bangun mood saya masih oke banget.

Ah, ketemu teman lama memang selalu menyenangkan, ya. Teman yang di depan mereka kita bisa tetap berbuat konyol dan yang kita lakukan adalah menertawakan kekonyolan itu bareng-bareng. Yang bisa diajak sharing hal-hal berat tanpa harus menilai berlebihan. Di mana lagi dapat sahabat kayak mereka? 😉

dengan Marisol; Merlyns dari cabang Sydney

Merlyn(s), Stefany udah pulang duluan

Oleh-oleh dari Marisol

Love you to the bone, girls!

Lari Pagi

Beberapa hari lalu saat berkunjung ke rumah emak, beliau berkomentar, “Ih, kamu gemukan, ya? Itu muka dan lengannya gede banget!”

JLEB!

Sebagai anak yang attachment dengan emaknya sangat kuat, walaupun sebelum-sebelumnya udah tahu kalo berat saya emang naik 5 kg sejak nikah, tapi baru kali ini rasanya perih hati ini. #lebayatun Maka dari itu, sejak diprotes, besokannya langsung dong ngatur pola makan lagi. Pagi oatmeal, siang makan biasa, dan malam makan buah aja. Tapi kayaknya kali ini harus lebih sehat lagi, jadi ditambah olahraga.

Masalahnya saya ini orang yang paling males olahraga. Rasanya ada hal lain yang lebih enak dilakukan selain olahraga, seperti…. tidur. #dilemparkutang Tapi demi penurunan berat badan ini, maka diniatin lah olahraga.

Kebetulan Kamis kemarin adalah tanggal merah. Jadi saya mengajak si suami untuk nemenin olahraga di Senayan. Eh, kebetulan beberapa teman yang rencananya hari itu ketemuan malah pengen ikutan lari pagi.

Malamnya saya pasang alarm jam 5.45 pagi. Dasar dodol, ternyata saya malah pasang jam 5.15 pagi. Udah deh kebangun lebih pagi. Ternyata pagi-pagi itu langit udah mulai terang. Padahal dulu jam segitu langit masih gelap banget.

Di hari libur bangun pagi? Ih, bukan Naomi banget. Tapii.. hari itu niat banget, sih. Jadi berbekal sarapan yang cuma oatmeal, jam 6.30 kita berangkat ke Senayan. Ternyata di sana pun udah rame banget.

Dimulai dengan pemanasan yang seadanya, kita berdua pun jalan mengitari GBK. Niatnya pas putaran ke dua lari, dong. Baru lari bentar, eh pinggang rasanya sakit, belu lagi kaki yang dari kemarin nyeri malah makin sakit. Sementara si suami udah asik lari aja. Ya udah deh, akhirnya membiarkan dia lari duluan. Saya mah lari-jalan-lari-jalan-lari-jalan-jalan-jalan dan jalan terus. Hihihihi. Lumayan lho ngiterin GBK sampe 4x dan bikin keringet ngucur. Segar!

Tiba-tiba si suami BBM dan bilang di pintu 7 ada Dian Sastro. Saya yang tadinya lagi istirahat di pintu 4, langsung dong bergegas ke pintu 7 demi liat aslinya si Dian Sastro.

IIIH, cantik amat sik, dese! Kulitnya putih kinclong (agak aneh karena dulunya dia kan berkulit coklat manis). Dia lagi istirahat bareng teman-temannya, suami, dan anaknya (yang mana anaknya ngegemis banget). Apa yang saya lakukan? Duduk di seberangnya sambil terus merhatiin dia.

Sampailah pada suatu kesimpulan: OH JADI KECANTIKAN LUAR BIASA DIAN SASTRO ITU DARI LARI PAGI! #eaaa (malamnya di Metro TV, si Dian Sastro ini ada di acara yang pake bahasa inggris dan bahasa inggrisnya fasih banget! Sempurna amat, sik! #sirik)

Nggak lama kemudian, teman saya Ade sampe ke Senayan. Saya pun muterin GBK beberapa puteran sambil ngobrol asoy. Kalo ngobrol ternyata nggak berasa lho capeknya. Habis ngobrol, langsung deh kita capcus makan pagi di abang-abang situ. Saya pesan soto padang (yang hambar rasanya), sementara dia pesan lontong sayur. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar kita pun pulang.

Tapi kayaknya saya udah ditakdirkan untuk banyak olahraga, ya. Si suami lupa parkir di mana yang berakibat kita muterin satu GBK. Mak, capek, mak! #pingsan

Begitulah sodara-sodara, doakan saya turun berat badannya, ya. 😀

Lari pagi dengan Ade. Udah kelihatan capeknya?

Yenny and Erick Wedding

A bestfriend of mine is officially married on September 9, 2012. YEAAAAY! *sorak-sorai*

Sebelum hari pernikahannya, 3 hari sebelumnya geng Merlyns (yes, kita masih punya geng, dong! :p) udah rusuh mau ngadain surprise bridal shower untuk Yenny. Kali ini niat banget bikinnya sampe kita cari restoran yang bagus dan pake dress. #tsaah

Hari itu, kegiatan Yenny fitting. Kita udah janjian mau ketemuan dengan alibi bahwa Ella yang berdomisili di Surabaya lagi datang ke Jakarta. Untungnya Yenny nggak mengendus suatu keganjilan.

Kita janjian ketemu di Pastis, Kuningan jam 18.30. Eh, tapi Ella yang menggiring Yenny malah udah mau sampe duluan. Aish, gawat sekali ini! Untungnya (baru kali ini untung) jalanan Jakarta macet jadi terjebaklah mereka di tengah kemacetan. Saya dan Reina sampai duluan. Eh, ternyata Geska udah di sana duluan dan merapikan meja. Ih, mejanya cantik banget, deh. Warnanya pink seperti warna kesukaan Yenny.

Cantik, ya!

Oh ya, frame handmade itu dibuat satu per satu oleh Ella, lho. She’s good at creating something. Jadi kalo mau dibikinin bisa minta dia #promosi :)).

Jam 7 kurang dengan Ella dan Yenny sampai. Jadilah kita berteriak… “SURPRISEEEE!”. Dia pun nggak nyangka kalo teman-temannya yang manis ini membuatkan bridal shower untuknya.

It was a very fine night with good friends.

The bride-to-be

The good friends

9 September 2012
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu. Sebenarnya selalu excited sih kalo ada yang menikah. Tema warna pernikahan Yenny dan Erick adalah pink. Oh, tentu saja. Itu kan warna kesukaannya. Di hari itu, Yenny cantiiiik banget. Kayak putri yang ada di film Korea. Maniiis.

I had a very good day at the party.

Have a happy marriage, Yenny and Erick! 😀 😀

The beautiful bride

The newly wed

The pink wedding

Pajangan di pintu masuk

Frame made by Ella

The bride and the bridesmaid

Numpang narsis sejenak *teteeep*

 

 

 

 

 

 

 

 

Libur Lebaran (Part 2)

Selamat bekerja setelah libur lebaran, kawan! Oke, kita lanjut ceritanya, ya. *ketauan make internet kantor buat posting blog. Hihihi*

Selasa, 21 Agustus 2012
Hari ini masih nginep di rumah mertua. Karena tidurnya nyenyaaak banget, hari ini bablas tidur sampe hampir setengah 10. Ebuset, mana niatnya jadi menantu yang baik dan bangun pagi. *gone with the wind* 😀 😀 Pas bangun, langsung diajak mertua untuk makan di lapo. Karena pembantu lagi mudik, daripada ngotor-ngotorin piring dan harus nyuci lagi mending makan di luar. Pilihannya adalah makan di lapo. *yes, Batak banget kita* 😀

Udah lama banget nggak makan babi panggang, sop, dan kawan-kawannya itu bikin makan pagi jadi lahap. Sambil makan kita cerita-cerita. Trus ditanya mertua kenapa sih saya suka sama si suami. Ih, grogi bener ditanya begitu. Kalo ditanyain kan malah blank. Huehehe! Si suami pun ditanya yang sama, trus dia langsung menguraikan alasan yang memuji saya setinggi langit. Good husband! *langsung kasih hadiah* XD

Setelah makan, saya dan suami nyuci mobil dulu. Begitu sampe rumah, loh kok kosong? Kayaknya sih pada pergi lagi. Rumah sepi, baru makan, langsung deh hawa ngantuk mendera. Cabutlah ke kamar untuk tidur. Putri tidur banget nggak, sik!

Sorenya saya dan suami beres-beres untuk pulang. Stok baju udah habis, bok. Sebelum pulang disuruh makan dulu sama mertua. Makan ayam goreng yang enaknya parah. Serius! *nambah*

Setelah pulang dari rumah mertua, kita lanjut jalan ke Kemang untuk makan. Kemang yang biasanya macetnya bikin pengen tobat, kali ini lancar jaya! Yaoloh, tiap hari kek Jakarta ramah begini. *terharu*

Rabu, 22 Agustus 2012
Senangnya kembali ke apartemen dan berduaan lagi. Kembali ke realita untuk mencuci. Keukeuh nggak mau cuci di laundry kiloan karena harganya naik 2x lipat selama lebaran. Weks, I did my own laundry.

Siangnya, saya dan suami ke Ambas karena mau beli casing iPad. Ebuset, Ambas udah rame aja. Teteep deh itu parkiran penuh. Untungnya bisa dapat parkir dengan gampang.

Apa yang paling bikin senang di Ambas? Lihat-lihat DVD. Wohooo! Koleksinya lengkap banget sampai yang nggak ada di tempat DVD langganan, di situ ada, lho. Senangggg! Setelah puas muter-muter, kita makan ayam penyet di Ambas. Endeusss, mak!

Sorenya langsung cao ke Central Park karena mau ketemu teman-teman Merlyns. Kebetulan Ella yang tinggal di Bandung lagi datang ke Jakarta. Senang!

Kita makan di Kitchenette dan seperti biasanya, tentu saja menggosip. Sayangnya kurang Marisol yang udah tinggal di Sydney. Tadinya mau skype-an, tapi ternyata si Marisol ketiduran. Jiyaah! 😀

Hari ini diakhiri dengan menyenangkan karena ketemu teman-teman lama. Yeay! 😀

Merlyns – minus Marisol

Sampai rumah, kita besoknya rencana mau ke Bandung. Ini benar-benar mendadak banget karena nggak punya rencana ke sana. Dengan asumsi, hari Kamis udah banyak yang masuk kerja, jadi harusnya jalanan di Bandung udah lebih lancar. Rencana nginep satu hari aja biar nggak terlalu capek.

Akhirnya saya buka Agoda buat cari hotel. Eh tapi kok agak ragu ya pake Agoda karena akhir-akhir ini banyak keluhan pake Agoda tapi tetap nggak dapat tempat. Ya udah, saya coba telepon langsung aja ke tempat favorit saya nginep di Bandung: Cherry Home Hotel. Ini penginapan kecil yang tempatnya bersih banget. Suka nginep di sini karena dekat Pasteur.

Pas ditelepon, ternyata kata resepsionisnya telepon lagi aja besok untuk memastikan ada tempat yang kosong atau nggak. Ah, ya udahlah ya. Langsung datang aja. Kalo pun nggak ada hotel yang kosong, tinggal pulang aja. Hihihi.

Berakhirlah libur di hari ke-7 ini. Mari lanjut di post berikutnya. 😀