#PiknikBarengKaleb: Liburan Singkat di Bogor

Weekend kemarin kami getaway ke Bogor. Sebenarnya karena ada kawinan teman, yang mana di hari Minggu malam. Setelah dipikir-pikir, capek juga kalau harus balik lagi ke Jakarta malam-malam dan jauh, dan kami juga udah lama juga nggak liburan. Jadi akhirnya mutusin buat nginep. Kebetulan teman-teman segeng juga berpikiran sama, jadi kita barengan nginep, sama keluarga masing-masing.

Kami berangkat Minggu pagi supaya belum macet. Acara pemberkatannya sendiri jam 2 siang. Namanya bawa bocah ya, jadi tentunya ada drama dululah. Belum lagi dikasih tahu teman, kamarnya full. APAAAH?! Kan udah booking jauh-jauh hari. Setelah saya telepon ke hotel, ternyata kamar untuk queen bed yang full. Untuk kamar double bed mah masih ada, tapi adanya di lantai 2 dengan pemandangan bangunan. Nggak bagus kata mbak resepsionis. Ah, sutralah, kalau udah bawa bocah pengennya begitu sampe masuk kamar buat istirahat. Nggak papalah pemandangan tembok. *ciyaaan*. Setelah beres masalah perhotelan dan drama-drama kecil lainnya, baru akhirnya benar-benar masuk tol jam 10.30. Hahaha, niat early check in jam 10 pun bubar jalan. :’)

Untungnya perjalanan cukup lancar dan nggak mengalami banyak hambatan. Kaleb pun anteng di car seat, baru setengah perjalanan agak rewel karena minta nenen udah waktunya dia tidur. Sampai di Bogor sekitar jam setengah 12-an, tapi kami memutuskan untuk nggak langsung ke hotel karena kalau dilihat dari peta, jalanan masuk ke hotel cukup ke dalam jadinya nggak dekat restoran. Daripada ribet cari makan lagi, kami pun cari makanan. McD to the rescue. Itu pun harus muter-muter dulu lihat peta. Kalo makanan Kaleb mah aman ya, doi udah disiapin dari rumah.

Akhirnya sekitar jam 12-an sampai di hotel (btw, it is Ibis Style Bogor, baru saja dibuka 1 bulan. Letaknya sebelahan sama Novotel Bogor), check in dengan cepat, dan voilaaaaa… dapat kamar queen bed dengan pemandangan pohon-pohon hijau dan gunung. Cakeppp banget! Rejeki anak sholeh, deh. Kaleb aja hobinya berdiri depan jendela jadinya.

Quick Review of Ibis Style Bogor

Hotel Ibis Style ini baru buka sebulan. Jadi bangunannya baru, harga kamar diskon *asooy*, dan semuanya masih bersih.

Kamarnya sendiri nggak terlalu besar, tapi nggak kecil juga. Menurut saya sih pas aja. Saya pake kamar yang tempat tidurnya ukuran quenn, yang mana ternyata buat bertiga dengan anak yang tidurnya lasak jadi agak sempit, ya. Hehehe. Bantalnya empuk, tempat tidurnya bersih, semua rapi. Masih baru ya, jadi bagus semua. Oh ya, di Ibis Style ini juga dikasih bantal guling. Asik, kan? Nggak juga, karena bantal gulingnya sekeras batu. Lagian karena tempat tidurnya sempit jadi bantal guling diungsikan aja.

img_20161002_123223

img_20161002_123247

 

Bagus kan pemandangannya

Bagus kan pemandangannya

Kamar mandinya tipe yang open door. Jadi kalau dua sisi temboknya bisa dibuka jdi kelihatan toiletnya. Unik banget, sih. Kalau temboknya ditutup jadi tembok cermin buat ngaca. Toiletnya compact, tapi cukup lah. Kamar mandi dan toilet dipisah dinding kaca susu, jadi nggak kelihatan. Senang deh, toilet model beginian, jadi kalau satu mandi, satunya mau ke WC ya nggak keganggu.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Pintu kaca itu bisa digeser, jadinya menutup kamar mandi. Di belakang pintu kaca ada lemari pakaian.

Di dalam kamar disediakan gantungan, kulkas kecil, dan penyimpanan barang berharga. Cukuplah. Sayangnya tidak disediakan sendal hotel. Padahal karena lantainya tidak dilapisi karpet, kalau jalan dengan telanjang kaki jadi dingin banget. Untung kami bawa sendal jepit jadi nggak kedinginan. Kaleb pun selama di kamar tetap pake sendal atau kaus kaki biar nggak kedinginan.

Di hotel ini, ada kids corner, gratis. Tapi yah, isinya minim banget. Cuma ada satu meja bundar dengan beberapa kursi kecil. Mainannya pun cuma play station satu TV, yang tentunya Kaleb belum bisa mainin, dan balok-balok kayu. Udah itu aja. Sayang banget, ya. Soalnya anak kecil pun bosan kalau mainannya begitu doang.

Kosong melompong banget kan

Kosong melompong banget kan

Kolam renang tersedia untuk dewasa dan anak-anak. Kolamnya nggak besar. Letaknya tepat di sebelah restoran. Masalahnya adalah…. airnya dingiiiiin banget. Saya aja yang masuk ke kolam renang nggak sanggup deh lama-lama. Kaleb yang udah excited mau berenang juga jadi menggigil dan membiru bibirnya, walau dia keukeuh tetap mau berenang. Pantesan aja itu kolam renangnya sepi banget. Nggak ada yang tahan, bok. Akan lebih baik kalau kolam renangnya pake air hangat lah. Biar nggak mubazir gitu keberadaannya.

Untuk restorannya sendiri interiornya bagus, dengan warna-warna pop art. Bisa duduk di sofa atau kursi kayu biasa. Makanannya standar hotel lah, kayak nasi goreng, bihun goreng, buah, sereal, susu, roti, jus. Nggak banyak variasinya tapi cukup. Pagi-pagi kan orang juga nggak makan membabi buta, ya. Kekurangan paling utamanya adalah: nggak ada baby chair sama sekali. Untuk yang punya anak kecil kayak Kaleb, nggak bisa duduk diam di kursi biasa, nggak ada baby chair tuh macam penderitaan lah. Harus makan sambil megangin anaknya. Rempong to the max!

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

Jadi orang pertama yang makan sarapan di hotel padahal udah jam 7an.

img_20161003_064619

Untuk interior hotelnya sendiri minimalis tapi berwarna warni. Saya sih suka ya dengan warna-warna yang didominasi hijau. Kece!

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Bisa pake komputer gratis. Merk Apple bok. Tapi di semua ruangan ada wifi kok. Cukup cepatlah.

Kesimpulannya, hotelnya bagus, enak buat bermalam, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki. Oh, sama akses untuk ke tempat keramaian cukup jauh, harus pake mobil karena letak hotel ini ada di dalam perumahan yang tidak dijangkau dengan kendaraan umum.

***

Setelah istirahat sebentar– errr.. nggak istirahat sih karena nyuapin Kaleb makan– saya pun siap-siap dandan, sementara bapake gantiin baju anaknya. Tepat jam 2 siang, eh hujan deras banget. Derasnya sampai pohon-pohon di jendela bergoyang kencang banget. Waduh, padahal kawinan ini outdoor pula. Hmm, Bogor, sebagai kota hujan, dan kawinan outdoor, plus di musim hujan emang cukup riskan, sih.

Akhirnya saya berangkat ke lokasi pemberkatan nikah yang jaraknya nggak sampai 5 menit naik mobil. Pernikahan belum juga dimulai sementara banyak tamu sudah datang. Akhirnya pemberkatan dipindahkan ke gazebo, yang menurut saya jadi jauh lebih indah. It was a short, yet beautiful holy matrimony. (Btw, di Klub Golf Bogor Raya, tempat pernikahan ini, ada kolam ikan dengan ikan terbesar yang pernah saya lihat. Benar-benar besar, panjangnya kurang lebih 2-3 meter, mirip ikan lele. Dahsyat, bok! Ternyata ikan ini khusus diimpor dari Sungai Amazon. Selain itu, ada ikan aligator warna putih yang juga didatangkan langsung dari Sungai Amazon. Gilaaak, Seaworld aja ikannya nggak seaneh ini. Tapi ngomong-ngomong ini bukan ikan langka kan, ya?)

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :')

Pernikahan kecil, sedikit tamu, tapi indah :’)

Karena mulainya udah molor sekitar sejam, akhirnya begitu selesai pemberkatan jam 4an lebih, kami pun balik ke hotel. Kasian, Kaleb belum tidur siang. Saya pikir pun saya pengen tidur bentar, deh. Tapi dengan full make up dan males copot softlens, akhirnya saya nggak tidur siang, tapi nonton drama korea #teteep. Sementara suami dan bocah bolehlah bobo.

Sementara mereka tidur nyenyak, saya pun siap-siap lagi, touch up, rapihin rambut, pake baju, siapin baju Kaleb dan suami. Sekitar jam setengah 7 malam, bangunin para lelaki, mereka siap-siap bentar dan cusss berangkat.

Resepsinya outdoor, dekornya sederhana aja, banyak lampu dan itu udah bikin indah banget. Tapi sayangnya pas datang lagi hujan gerimis. Huhuhu, kasian kan bawa bocah. Untungnya saya bawa payung. Satu-satunya tamu yang sambil ngambil prasmanan sambil megangin payung. Wakakak. Maklum bok, demi ambil makanan buat Kaleb. Untungnya di pinggir-pinggirnya beratap jadi banyak yang berteduh di sana.

Kira-kira setengah jam kemudian, hujan berhenti, acara makin seru. Karena yang menikah adalah orang Afrika (ehm, saya lupa tepatnya dari mana berasal), jadi tamu-tamu Afrikanya seru banget joged-joged pake lagu yang seru juga. Plus ngajak orang-orang ikutan joged juga. Ternyata di belahan dunia nun jauh di sana tariannya mirip poco-poco gerakannya. Saya dan suami sangat menikmati banget acara joged-joged ini karena bikin acara nggak kaku dan membosankan.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Seruuu banget. Dancing all night long.

Setelah seru joged-joged sampai acaranya habis, akhirnya kami pulang juga. Tepar banget. Nggak sampe lama, langsung pada bobo semua.

Besokannya kami bangun jam 6. Leyeh-leyeh sebentar dan makan di restoran bawah. Habis itu berenang dengan air es, jadi kurang seru. Setelah itu boboin Kaleb dan mariii check out.

Tujuan pertama adalah ketemu teman-teman dari Jakarta yang kebetulan lagi piknik ke Bogor. Kami janjian di Tier Siera Cafe and Lounge. I tell you, this cafe sucks! Karena kami pilih tempat yang outdoor, jadi agak panas. Eh, ternyata sebelahnya entah sekolah, jadi suara anak-anak ribut dan guru mengajar terdengar banget. Yang paling menohok adalah, kami dikasih buku menu, tapi hampir semua menu yang kami pesan kalau nggak belum siap, habis, nggak dikeluarkan lagi. Intinya cuma tersedia sedikit menu. Mau ngamuk nggak, sih? Padahal itu udah jam 12 siang. Pas makanannya keluar pun rasanya kurang enak. Jadi, restoran ini nggak recommended sama sekali lah.

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Cafe-nya nggak banget, tapi orang-orangnya seru

Karena masih lapar, akhirnya saya dan suami melipir ke Kedai Soto Ibu Rahayu. Makanan lokal FTW lah! Tempatnya sederhana, tapi bersih banget, pelayannya tanggap, ramah, ada baby chair, dan wifi. Nah, gini dong kalau mau usaha kuliner. Menu sotonya bermacam-macam banget, bahkan sampe ada soto goreng rica-rica. Unik banget lah. Harganya pun affordable. Me love it!

Anak bocah banyak gaya

Anak bocah banyak gaya

Dengan kenyangnya kami habis makan soto, maka berakhirlah liburan singkat ini. Senang banget bisa sebentar keluar dari rutinitas. Tapiiii… kok ya nagih lagi mau liburan? *liat sisa cuti tinggal sedikit* XD

The Surprise Baby Shower

Setiap ada anggota geng Merlyns yang tinggal di luar kota dan datang ke Jakarta, pasti saya dan teman-teman ketemuan. Maklum ya bok, sekarang geng Merlyns udah tersebar ke Bali, Surabaya, dan Sydney. Jauh-jauh, bok! Makanya pas kemarin Tenyom dari Bali dan Ella dari Surabaya datang jadi kita janjian buat ketemu. Kebetulan di tanggal 2 Januari, di hari harpitnas, pada ambil cuti jadi waktunya pas.

Kebetulan Merlyns ini udah banyak yang nikah jadi suami plus anak-anaknya diajak juga (ehm, juga karena kita segeng nggak ada yang bisa nyetir jadi para suami dipergunakan untuk jadi supir, sih. Hahaha). Pagi-paginya Tenyom kasih ide supaya pake dress code biru putih jadi katanya biar tema natalnya biru putih, beda dari tahun sebelumnya yang hijau merah. Oh, baiklah. Udah wanti-wanti suami juga untuk pake baju yang dominan biru. Sip!

Udah diingetin juga jangan telat karena salah satu teman ada yang harus menjalani hari Sabat. Jadi nggak bisa terlalu malam. Tapi pet shop yang grooming Mika lamaaa banget selesainya. Padahal Mika udah dianter dari pagi jam 9 dan dia bilang antrian cuma 2 ekor aja. Masa jam 3 belum selesai juga dan baru dipegang. Heran! Akibatnya baru bisa jalan jam 16.45 (di mana janjian jam 17.00 di HongKong Cafe, Sarinah). Untungnya musim liburan bikin jalanan lancar jaya, plus nggak ada 3 in 1 jadi bisa melenggang santai di Sudirman. Sampai di HK Cafe jam 17.20.

Pas sampai udah kelihatan Merlyns di dalam dan ada dessert table. Oh, mungkin ada pengunjung lain yang lagi ulang tahun ngerayain di cafe itu, ya. Pas masuk dan cipika cipiki sama Merlyns, si para suami kok sibuk foto-fotoin saya. Trus itu dessert table letaknya di sebelah meja kita. Dengan bodohnya masih mikir, apa si Gwyneth atau Jaden (para babies Merlyns) ada yang ulang tahun, ya? Oh, aku begitu polosnya. Karena ternyataaaa………..

IT’S MY SURPRISE BABY SHOWER!

The details: the diapers cake was made beautifully by Ella herself. And the others were arranged by Tenyom, Lydia, Yenny, and Geska. :D

The details: the diapers cake was made beautifully by Ella herself. And the others were arranged by Tenyom, Lydia, Yenny, and Geska. πŸ˜€

Merlyns!

Merlyns!

Huwoooooow!

Itu juga sadar setelah mereka bilang surpriseeeee! *toyor kepala sendiri*

Terharuuuu banget karena sempat kepikiran pengen punya baby shower dengan dessert table yang lucu (biar eksis gitu. Hahaha). Udah browsing cake, cupcakes, dll. Trus nanti digabung sama acara 7 bulanan adat aja. Eh, tapi makin ke sini makin males karena acara 7 bulanan adat lebih menguras energi dan kayaknya rumahnya bakal nggak muat kalau ngundang sekalian teman-teman. Secara ya bok keluarga Batak besarnya minta ampun.

Jadi dibikinin baby shower gini senang banget! Karena akhirnya punya baby shower sendiri. Hihihihi! Plus temanya biru seperti yang saya pengenin. Awww, baby’s luck! πŸ˜€

Thank you, Merlyns! I AM VERY HAPPY! πŸ™‚

PS: Saking happy-nya saya nggak bisa tidur semalaman lho sesudanya. Hahaha!

Natal Tahun Ini

Selamat Natal dan tahun baru 2015!

Karena akhir tahun selalu sibuk jadi belum sempat update blog, deh *kedip-kedip mata*. Jadi mari kita recap semuanya. Dimulai dari Natal, ya.

Natal tahun ini ngambil cuti tanggal 24 dan 26 Desember 2014. Tahun sebelumnya paling cuma ngambil cuti di tanggal 26 Desember. Tahun ini karena hamdun jadi sehari sebelumnya juga cuti karena takut kecapekan. Biasa deh kalau Natal kan banyak kegiatan jadi takutnya kalau dari kantor (yang mana nggak dipulangin setengah hari) dan langsung capcus ke gereja, plus ada acara setelahnya bisa tepar seketika. Kebetulan suami juga cuti. Horee!

Pagi-pagi masih santai banget, paling beresin rumah aja sama suami. Siangnya karena keukeh nggak mau ke salon buat ngeblow rambut (ehm, biasanya pas Natal saya selalu ngeblow ke salon biar tampak kece. Hahaha), jadi mau ke mall buat beli bulu mata palsu (ngeblow nggak perlu karena udah punya catokan handal yang bikin rambut serasa keluar dari salon).

Kalau dilihat-lihat, orang akan kelihatan jedar matanya kalau pake bulu mata palsu, ya (macam Syahrince gitu, deh. Hihihi) jadi siapa tahu mata saya jadi membesar dengan pake bulu mata palsu. Sebelumnya, saya udah nontonin Youtube cara pake bulu mata palsu itu gimana. Kayaknya nggak susah, deh. Sip, tinggal beli aja!

Di mall beli bulu mata yang harganya murah aja, Rp 30.000. Kalau gagal kan tinggal buang, nggak berasa nyesek. Trus masih belum berani beli yang lebat banget takut kayak KD kw 5. Jadi masih yang natural aja.

Niatnya sih beli bulu mata palsu doang trus langsung pulang ke rumah. Kenyataannya berbeza, pemirsa! Sale di mana-mana bikin saya sama suami belanja sampe kalap. Bahkan pas lihat jam, udah sore banget dan udah mepet banget mau ke gereja. OMG!

Akhirnya langsung pulang ke rumah, buru-buru mandi dan siap-siap. Saat itu juga praktek pake bulu mata palsu dan voilaaaaa….berhasil! Bangganya hatiku! *ngaca 1000x* Kalau dipikir-pikir bisa hemat nih nggak perlu dandan ke salon. Hihihi.

Lumayan ya buat pemula yang baru bisa pasang bulu mata palsu

Lumayan ya buat pemula yang baru bisa pasang bulu mata palsu

Sampai di gereja, walaupun nggak telat, tapi tempat duduk di dalam udah penuh. Tapi orang gereja kayaknya kasihan deh lihat bumil masa duduk di luar jadi ditambahin kursi lipat buat saya duduk di dalam. Asiiik! Selayaknya bumil lainnya, pegel juga duduk selama 2,5 jam lebih selama kebaktian. Encok punggungnya!

Selesai gereja jam 21.30 malam (beuh malamnya!), masih stay di gereja buat ngobrol-ngobrol dan foto-foto. Baru sekitar jam 10 malam saya dan keluarga suami ke restoran buat christmas eve dinner. Selalu di tempat yang sama, yaitu Hay Thien Puri Indah. Saya yang tadinya nggak suka rebus-rebusan akhirnya udah terbiasa dan bisa menikmati sekarang. Hihihi. Baru selesai makan malam sekitar jam 12 malam dan baru sampai rumah jam 00.30. RUAR BIASA capeknya!

Christmas eve dinner with the in laws

Christmas eve dinner with the in laws

Karena besoknya harus kebaktian Natal di pagi hari dan saking kecapekannya, saya jadi nggak bisa tidur nyenyak. Susah banget buat tidur karena takut telat. Jadi yah, lumayan deh cuma tidur 2 jam aja.

Pagi-pagi walau dengan sempoyongan ngantuk tapi tetap dong bulu mata harus ON. Hahaha! Sebagai pemula lumayanlah masangnya udah bisa 5 menit aja.

Di gereja nggak kebagian duduk di dalam, tapi nggak papa juga karena di luar ada Mama yang nemenin. Tapi karena cuaca yang luar biasa panas (disinyalir waktu itu suhunya sampai 42 derajat) rasanya jadi haus mulu. Belum lagi kebaktian yang lama banget karena ada perjamuan kudus di mana jemaat maju ke depan satu-satu. Bayangin udah panas, jemaat yang ratusan maju ke depan satu-satu. Alhasil kebaktian plus perjamuan kudus berlangsung selama 3 jam! *pingsan*

the girls

the girls

Karena nggak sempat makan, jadi habis kebaktian (dan lagi-lagi foto-foto) saya, suami, dan orang tua capcus ke resto terdekat. Nggak sempat makan pagi tadi, bok! Saya langsung buru-buru pesan air putih super dingin karena udah kayak kebakaran panasnya. Baru habis itu sesi makan tak henti-hentinya. Hahaha gembul, deh!

Selesai makan siang yang sampai sore itu, orang tua inspeksi ke rumah untuk bantuin bersih-bersih yang mana banyak kotornya. Hahaha! Jadi sampai malam bersih-bersih rumah dan tepar!

Nah, ini gunanya libur tanggal 26 Desembernya. Besokannya beneran seharian saya di kamar cuma buat tidur saking capeknya. Keluar buat cari makan, habis itu tidur lagi. Jompo banget badan ini ternyata. πŸ˜€

Ini cerita Natal saya. Kamu Natal ngapain aja?

The Wedding: Lydia & Andi

Dari martumpol, langsung pergi ke daerah Gading untuk make up kawinan salah satu anggota Merlyns, Lydia. Dari Kramat Jati ke Gading itu jauh plus macet. Jadi yang pengennya jam 3 sore sampe di sana, apa daya baru jam 15.30-an sampe. Untungnya udah ada Tenyom yang lagi di-make up dan Yenny yang lagi dikerjain hair do-nya.

Oh ya, untuk make up kita pake tim-nya Mbak Sofia yang dulu ngerjain make up saya pas menikah. Karena Mbak Sofia-nya lagi sibuk dengan make up pengantin, jadi yang diutus adalah Mbak Vera, (kalau nggak salah) adiknya Mbak Sofia. Kalau sama tim-nya Mbak Sofia, saya udah nggak ragu lagi, pasti hasilnya cantik. Pas di-make up aja cuma ditanyain bajunya warna apa dan dia pun langsung mengerjakan dengan baik. Seperti yang saya bilang sebelumnya kalau saya concern dengan mata yang sipit, eh Mbak Vera udah langsung tahu, lho (kebetulan dulu pas retouch kawinan saya adalah Mbak Vera). Dia langsung bilang mau bikin mata saya lebih besar. Ah, langsung senang! Emang ya kalau udah percaya sama yang make up, hati tuh langsung plong aja, nggak pake khawatir hasilnya bakal jelek. Auranya jadi positif gitu. Hihihi. Dan emang hasilnya memuaskan, saya langsung berasa kece, pipi tirus, dan hidung mancung. Ih, ini beneran saya bukan, sih? Cantik amat! *muji diri sendiri* X))

Untuk hair do pun saya juga santai. Saya cuma bilang pengen rambut saya ada kepangnya dan di-curly juga. Biasanya orang salon suka gagal kalau mau kepang rambut saya dan hasilnya jelek. Tapi ini nggak sampe 30 menit, rambut saya kepangannya sempurna dan hasilnya kece banget. Boleh nggak sih make up dan hair do ini nggak dihapus sampe seminggu ke depan? Hahaha.

Selesai make up dan pakai dress, saya, suami, dan Tenyom (yang juga penerima tamu) meluncur ke gedung Angkasa Pura di daerah Kemayoran. Masalahnya kita bertiga nggak ada yang tahu gedung itu ada di mana dan waktunya udah mepet banget. Akhirnya pake aplikasi Waze di HP dan tadaaaaa…. bisa sampai gedung dengan selamat dan sebelum jam 7 malam. SIP!

Udah pake lari-larian (dengan dress dan high heels) ke gedung karena udah diteleponin berkali-kali, pas sampai WO-nya baik langsung nyuruh kita makan dulu supaya nanti nggak kelaparan. Tau aja perut udah meronta pengen diisi (kenapa sih masalah saya selalu dengan kelaperan. Hahaha).

Acara berlangsung dengan baik, lancar, dan menyenangkan. Bisa kumpul dengan Merlyns lengkap (bahkan cabang Surabaya dan Sydney pun datang, lho), ada baby Gwyneth dan baby Jaden (akhirnya bisa gendong baby Gwen. Horeee!), dan ketawa sampe sakit perut. Persis sama seperti kuliah dulu. :’)

I had a great time at the party. Happy wedding Lydia & Andi. I wish you a marriage full of blessing and happines. πŸ™‚

Merlyns!

Merlyns!

Pretty in pink

Pretty in pink

Make up by Sofia. Pretty!

Make up by Sofia. Pretty!

Teman kuliah yang kelakuannya tetap sama walaupun udah lewat 11 tahun. :')

Teman kuliah yang kelakuannya tetap sama walaupun udah lewat 11 tahun. :’)

Terima kasih suami udah nemenin seharian dari pesta ke pesta. You're the best! :*

Terima kasih suami udah nemenin seharian dari pesta ke pesta. You’re the best! :*

Martumpol: David & Heni

Setelah istirahat satu hari di hari Jumat, yang mana nggak istirahat juga karena malah jalan-jalan ke mall dan nganterin Mika grooming, hari Sabtu dilanjutkan dengan kitiran dari pesta ke pesta. Acara pertama adalah Martumpol (pertunangan) seorang teman gereja di HKBP Kramat Jati. Jauh ya bok dari rumah.

Acaranya sendiri dimulai jam 12 siang. Berangkat jam 10.30 dan jemput teman dulu yang rumahnya nggak jauh. Harusnya 1,5 jam bisa sampai dong, ya. Spare waktunya kan udah cukup lama. Tapi ternyata, jalanan Jakarta hari itu macet banget. Kita yang lewat tol dalam kota aja bisa stuck nggak bergerak. Heran deh ini ada apa? Mana sebenarnya kita nggak tahu jalan ke arah Kramat Jati sana. Thanks to google map, deh, akhirnya bisa sampai juga di Kramat Jati tanpa banyak nyasar.

Saya pikir jam 12 itu udah mulai martumpol, tapi ternyata pas kita datang (yang mana udah telat, jam 12.30) masih acara marhusip (kebetulan marhusip dan martumpol digabung satu hari). Baru selesai acara marhusip jam 12.45 dan baru martumpol jam 13.00. Giliiing, saya dan teman-teman udah mulai crancky karena lapar. Di sana pun baru bakal disediain makan setelah setelah selesai martumpol. Bok, lama banget! Apalagi sekitar jam 2-an saya harus langsung pergi karena jam 3 udah harus make up di daerah Gading untuk jadi penerima tamu kawinan teman (SIBUK AMAT, CEU?). Akhirnya kita pun inisiatif delivery McD ke gereja. Hihihi. Jadi di tengah acara martumpol, kita keluar untuk makan dulu. Yah, nama pun perut udah meronta minta diisi kan, ya. πŸ˜€

Selesai makan, pas acara martumpolnya selesai. Jadi kita pun tinggal nunggu salaman dan foto-foto. Selamat martumpol David dan Heni! πŸ™‚

IMG_20140517_151912

Menjelajah Pulau Pari

Hey, I’m back from a short vacation (again)! Jadi liburan singkat ini direncanakan juga dalam waktu yang singkat. Kebetulan Yuan, mantan teman sekantor saya, whatsapp ngajak liburan. Kemudian saya ajak teman-teman sedivisi, yaitu Citra, Edel, dan tambahannya Mia, beda divisi. Tadinya mau ke Bandung, tapi bosen. Eh, kepikiran gimana kalau ke Pulau Seribu aja. Dekat, nggak mahal, dan lautnya bagus. Sip, bungkus! Kurang dari sebulan cari travel agent, cari tanggal yang kebetulan ada long weekend di akhir bulan, bayar DP, dan….. berangkat. Cepat, ya. πŸ˜€

Drama dimulai di hari keberangkatan. Karena mikirnya Muara Angke, tempat janjian ngumpul, dekat dari rumah dan hari itu Minggu jadi santai aja. Janjian jam 6 di sana, berangkat dari rumah jam 5.30. Santai kayak di pantai, kan ada tol yang langsung keluar Pluit.

Awalnya sih semua sesuai rencana. Jakarta lancar banget. Eh, tapi justru mendekati Muara Angke macet masyaampun! Nggak bergerak. Ini ada apa, sih? Di situ ada kayaknya 30 menit. Mulailah di mobil saya senewen. Kapal kan berangkat jam 7. Bagaimana iniih? Suami nyuruh saya jalan kaki aja. Soalnya teman saya, Citra, udah nyerah ngantri, dia jalan kaki ke pom bensin Muara Angke, tempat kita ketemuan. Aduh, masalahnya saya nggak tahu di mana itu pom bensin. Mana udah gaya pake celana super pendek kan agak malu ya jalan kaki pinggir jalan. Hahaha!

Akhirnya karena udah nggak sanggup lagi sama macetnya, si suami putar balik parkir mobil dan nemenin saya jalan kaki. Bener aja, semua orang yang mau ke sana juga jalan kaki karena lalu lintas nggak bergerak. Yang paling yahud adalah jalanan becek jadi kaki saya penuh cipratan air. Belum lagi suasana pasar ikan yang asoy baunya. Pas udah kelihatan pom bensinnya, jalan ke sana banjir. Haduh, gimana ini? Tiba-tiba di depan mata ada becak motor yang lagi ngetem dan langsung naik aja. Nggak nanya dulu dia mau ke mana. Percaya aja, soalnya tampaknya yang lain juga naik itu. Di tengah bentor baru sibuk kasak-kusuk sama abangnya nanya ini ke pom bensin nggak. Udah gitu, kasak-kusuk ke penumpang lainnya ini bayar berapa. Belom lagi bawaan saya yang super rempong, satu tas backpack, satu tas jinjing, satu tripod, dan satu kamera. Ribet! πŸ˜›

Sampai di pom bensin udah penuh dengan lautan manusia. Beneran penuh banget sama manusia, karena ini long weekend, yang berdesak-desakan sampe jalan kaki aja bisa macet. Yasalam! Untuk nyari orang susahnya minta ampun.

Di pom bensin udah ketemu Edel yang sibuk koordinir sana-sini. Citra entah terdampar di mana, Yuan yang salah masuk tol, dan Mia yang belum bangun. Emang ya, nggak asik kalau nggak nggak ada dramanya. Sementara saya kebelet pipis, saya langsung ke wc yang antriannya udah kayak antrian waktu H&M buka di Jakarta. Panjang banget! Pilihannya sabar aja ngantri panjang banget atau nggak usah pipis tapi tahan 2 jam sampe ke Pulau Pari. Ih, daripada darah tinggi di kapal mending antri ke WC, deh. Pas udah mau dekat baru deh orang-orang yang antri di depan kasak-kusuk bilang aduh nggak ada air, bau banget. Mamak, cobaan apa lagi ini? Keukeuh tetap antri soalnya kebelet. Sebelum masuk, saya tutup hidung pake tisue dan masuk ke wc dengan tutup mata supaya nggak jijay. Pas tau nggak ada air, saya nggak cek lagi, deh. Cobaan berat banget ini. Begitu selesai, PLONG! Langsung menyingkir dari WC aja, deh. Hihihi.

Begitu semuanya ngumpul, kita diarahin sama tour guide ke kapal. Antriannya gilak banget dengan kondisi jalanan becek. Untung banget pake sendal jepit. Jorok juga gpp, deh. Udah antriannya panjang banget, udaranya panas, ditambah bau amis ikan-ikan. Komplit! Naik ke kapalnya pun susah karena harus manjat tembok dan lompatin satu kapal lain. Sampai di kapal pun modelnya macam kapal nelayan besar di mana kita duduk lesehan aja di bawah. Petualangan macam di film, deh. Tapi karena bareng orang-orang yang menyenangkan, berasanya jadi seru dan malah bikin happy. Semacam pengalaman baru. πŸ˜€

Di kapal langsung minum antimo biar bisa blas tidur dan nggak mabok laut. Bener aja begitu kapalnya berangkat, saya dan teman-teman udah kayak langsung dibius. Tidur nyenyak. Sekitar 1,5 jam kemudian kita sampe di Pulau Pari. Karena nyampenya pas jam 9.30-an, mataharinya lagi terik dan yang kita pengenin cuma AC. Anak kota banget, sih! :)))

Di Pulau Pari, kita akan ditemani oleh Mas Saman, tour guide kita yang baik dan tepat waktu banget. Dia nganterin kita ke tempat home stay di rumah penduduk. Well, home stay-nya bukan yang bagus banget tapi udah ber-AC dan kamar mandi bersih jadi yang cukuplah. Istirahat sebentar, dikasih makan siang, dan disuruh siap-siap karena mau snorkeling. Horeee!

Snorkeling dilakukan jam 2 siang tengah bolong. Ya habes, biar terumbu karang dan ikan-ikannya kelihatan jelas, kan. Tadinya sih kita ogah snorkeling siang karena takut kulitnya hitam, tapi Mas Saman bilang nanti nggak sempat ngapa-ngapain, lho. Oh, baiklah nurut aja.

Pas mau berangkat pake kapal nelayan yang kali ini hanya diisi kita berlima aja, kita nggak lihat di mana kapalnya. Ternyata ada di tengah laut aja, lho! Untuk ke tengah laut, kita harus jalan kaki melewati air yang lumayan jauh. Kenapa kapalnya nggak ke pinggir? Karena airnya cetek jadi takut kapalnya nyangkut. Yo weis, mari jalan lagi. Tapiii karena airnya bersiiih banget dan warnya toska jadi malah berasa seru. Bukannya cepat sampai, di tengah-tengah kita malah sibuk foto-foto. Maaf ya Mas Saman harus ngurusin perempuan-perempuan rempong banci foto. Hihihi!

IMG_5797

IMG_5806

Perjalanan dari Pulau Pari ke Bintang Rama Spot (tempat budidaya terumbu karang) nggak terlalu lama, paling 30 menit. Begitu sampai kita langsung terkagum-kagum karena terumbu karangnya cantik banget. Sebenarnya nggak perlu pake snorkel untuk lihat ke bawah air karena dari atas pun kelihatan jelas saking jernihnya lautnya. Belum lagi ikan-ikan kecil berwarna-warni yang sliweran bikin makin cantik.

Udah lah ya, kita langsung berenang aja. Yang tadinya pake pelampung dan kaki katak, lama-lama tambah berani pelampung dan kaki kataknya dilepas. Berenang kayak berenang di kolam renang aja. Seruuuu banget! Mana si Mas Saman bawa kamera underwater jadi dia foto-fotoin kita di laut. Yah nama pun, cewek banci foto, kita pun minta Mas Saman berulang-ulang fotoin kita sampe dapat foto yang kece. Hihihihi! Dari yang tadinya mau sebentar aja snorkelingnya karena takut hitam, malah jadi lamaaa banget sampe sore karena keasikan berenang. I would love to do diving someday. It would be awesome! :’)

DSCN1321

IMG_5850

Puas berenang kita pun ke Pulau Tikus. Pulau ini kalau dari atas bentuknya seperti tikus. Sebenarnya ini cuma pulau kecil yang nggak ada penghuninya tapi karena pantainya bersih dan pemandangannya bagus, kita pun minta mampir ke sana cuma untuk foto-foto bak model. Hihihi.

IMG_5865

IMG_5883

IMG_5872

Karena udah mau maghrib, kita pun terpaksa pulang. Di dalam kapal kita bisa melihat matahari terbenam. Cantiknya minta ampun. Kita sampe di Pulau Pari sekitar jam 6 sore. Langsung mandi karena badan udah lengket banget. Jam 7-an makan malam datang.

Setelah itu, saya dan Citra keliling pulau naik sepeda. Seru banget lihat kehidupan penduduk di sana yang sebagian besar penghasilannya dari menyewakan homestay, sepeda, dan alat snorkeling. Ada yang homestaynya bagus udah modern, ada yang masih sederhana. Yang lucunya, tempat tinggal penduduk di sana masih sederhana, nggak sebagus homestay yang mereka sewakan. It was always good to know about local culture.

Capek naik sepeda saya dan Citra balik ke homestay karena jam 9 kita akan barbeque di pantai. Jadi, di belakang Pulau Pari, ada namanya Pantai Pasir Perawan yang bagus banget. Nggak kelihatan sih kalau malam hari karena gelap. Kalau malam banyak digunakan untuk barbeque, main sepeda, dan main voli.

Kenyang makan ikan, kita pun buru-buru tidur karena besoknya akan bangun pagi buta untuk lihat sunrise. Benar aja, Mas Saman udah ngetok kamar kita jam 5.30. Nah, sebagai cewek rempong, kita nggak ada yang mandi, cuma cuci muka dan gosok gigi, tapiiiii…..udah ganti baju yang kece dan dandan karena tau habis ini foto-foto. Hahaha!

Sunrise-nya bagus banget. Karena baru pertama kali ngeliat sunrise, saya jadi bengong-bengong sendiri melihat matahari yang tadinya sembunyi, perlahan-lahan naik ke atas sampai kelihatan bulat banget. Dan semua itu terjadi hanya dalam waktu 30 menit. Keren!

IMG_5933

IMG_5936

Puas lihatin matahari, kita pun ke Pasir Pantai Perawan untuk naik sampan. Jadi baru pagi ini kita lihat bentuk Pasir Pantai Perawan yang mana kece banget dengan warna air toska. Pas kita naik ke sampan makin kelihatan deh cantiknya. Belum lagi di sekelilingnya banyak pohon mangrove. Makin kelihatan cantik ya ciptaan Tuhan ini. :’)

IMG_5981

IMG_5984

IMG_5994

IMG-20140331-WA0041

IMG_5996

Kelar naik sampan, kita pun naik sepeda ke ujung Pulau Pari ke LIPI di mana ada budi daya bintang laut. Jadi fokus LIPI saat ini adalah membudidayakan terumbu karang karena banyak yang udah rusak. Bintang laut ini juga salah satu yang dibudidayakan. Jadi di sana kita bisa pegang bintang lautnya tapi nggak boleh dibawa pulang (yaeyalaah).

IMG-20140331-WA0108

Setelah puas, kita pun balik ke homestay, siap-siap, dan meluncur ke kapal karena nggak mau nggak dapat duduk yang ada senderannya. Hihihi! Terima kasih Mas Saman yang udah mau nemenin para perempuan rempong ini. It was a great short vacation. Will looking for more trips with you, guys! πŸ˜€

 

Baby Merlyns

Postingan sebelumnya berat ya, bok. Ahahaha! Now let’s go to the fun part: akhirnya ketemu Merlyns lagi! WOHOOOO!

Ella, Merlyns cabang Surabaya, lagi datang ke Jakarta. Tentunya wajib kudu ketemu dong, ya. Sabtu itu kita janjian di Pacific Place. Semuanya bisa kumpul kecuali Marisol, cabang Sydney (tapi tetap hadir dalam bentuk Face Time).

Ini untuk pertama kalinya kita ngumpul rame-rame dengan para babies. Ada Jaden (baby-nya Yenny) dan Gwyneth (baby-nya Ella). Jaden lucuuuuuu banget dengan tubuh bulatnya yang bikin gemes dan pengen dicubit. Umurnya baru 6 bulan tapi pas saya gendong…..mak, tangan langsung kram karena udah 11 kg aja. Tapi dia manissss sekali karena anteng dan mau digendong-gendong. Sementara Gwyneth manis sekali dan mukanya bikin pengen dicium-cium. Sayang pas saya datang, dia baru disusui, habis itu pup, habis itu pas digendong dia ngantuk jadi rewel banget. Uhuhuhu, next time harus gendong lebih lama lagi.

IMG_20140209_101005

IMG-20140209-WA0001

The cute babies

The cute babies

It was always nice to meet them. Berasa balik kuliah lagi. Happy!

Bangkok In A Glimpse 3

Lanjuuut kita?

Day 4
Hari terakhir di Bangkok. Huhuhu, belum puas belanjanya *teteeep loh, lama-lama buka online shop aja kali, ya*. Hari ini jadwal kita cuma ke Chatuchak yang buka pas weekend aja. Kebetulan pesawat kita terbang jam 9 malam jadi bisa dong dipuas-puasin belanja di pasar yang katanya segala macam ada dan murah-murah.

Saatnya menghabiskan uang *tebar-tebar uang sampe kere*!

Seperti biasa kita pergi ke Chatuchak naik taksi. Letaknya agak jauh jadi menghabiskan sekitar 100 THB. Sampai di sana, kita menentukan dulu letak meeting point karena semua HP kita nggak bisa dipake dan nggak mau ganti nomor (katanya: mendingan uangnya dipake buat belanja). Meeting point kita di JJ mall, sebelah Chatuchak.

Begitu menentukan meeting point dan jam ketemuan nanti, kita pun langsung menyebar untuk belanja sendiri-sendiri. Chatuchak itu luasnya minta ampun dan tentu saja karena di alam terbuka jadi ya panas. Untungnya waktu itu saya pake singlet dan celana pendek. Adem! Rambut pun langsung diiket supaya nggak panas.

Emang ya, Chatuchak itu segala macam ada! Segala barang-barang vintage tersebar di mana-mana. Gimana saya rasanya nggak mau beli semuanya #kemudianliatdompet #uanghabis. Saya pun beli mobil vintage yang di atasnya bisa ditaro pot bunga kecil, bunga-bunga artificial yang jauh lebih murah daripada di IKEA, beli berbagai kaos untuk suami, dan sepatu boot untuk suami, beli undies, cushion cover 4, lukisan, dan masih banyak hal lainnya lagi. Itu semua cuma ngabisin sekitar 1500 THB. Gimana nggak bahagia? #terharu

Di Chatuchak semua tersedia: baju, sepatu, makanan, seprei, pajangan, makanan berbagai rupa, alat pertukangan, bahkan pet shop pun ada. Heraaan, ini seluas apa sih sampe semuanya ada?

Puas ngabisin duit (yang nggak seberapa) di Chatuchak, beranjaklah ke JJ Mall. Di sana beli es krim lagi saking panasnya. Nah, muter-muter JJ mall ini juga sama aja bikin ngilernya. Yang paling bikin ngiler ya pajangan dan bunga-bunganya itu, deh. Nah, di sini baru inget kalo saya belum beli Nestea Thai Iced Tea pesanan suami. Heran, deh, si Nestea ini kok nggak jual thai iced tea-nya di Indonesia. Padahal enak banget. Untungnya di bawah ada supermarket jadi saya beli banyak Nestea sekalian untuk oleh-oleh juga, banyak mie instan dengan rasa-rasa unik macam tom yum, minced pork, dan sebagainya (yang setelah makan pas di rumah, enaaaak parah!). Di sini juga beli makanan khas Thailand seperti manisan mangga, keripik nanas, dll. Tapi kata Stefany agak lebih mahal 5-10 THB dibandingin di salah satu mall yang letaknya 15 menit dari JJ mall naik taksi. Ya bok, jauh juga naik taksi, ya.

Lagi-lagi permasalahannya adalah belum makan karena sibuk belanja. Jadi kita pun makan di KFC di JJ Mall. Padahal sebelumnya niatnya makan di Boat Noddle, tapi letaknya agak jauh jadi udah nggak sempat. Oh, dan ayam KFC di Thailand nggak ada apa-apanya dibandingin ayam KFC di Indonesia. JAUH BANGET. Setelah diperhatikan juga, orang Thai kalo makan ayam KFC/McD kayak makan steak pake pisau dan garpu.

Puas makan di KFC dan belanja (serta jadi kere) kita pun naik taksi ke hotel untuk beres-beres dan cap cus ke bandara. Untungnya sampe bandara dengan cepat, yaitu jam 18.00.

Untung aja kita sampe cepat karena petugas check in Air Asia-nya reseee banget! Jadi dari Jakarta kita sengaja udah beli bagasi 70 kg, dibagi masing-masing 20-25 kg. Biasanya kan bisa digabung aja bagasinya. Eh, dia nggak mau dong. Harus per nama per bagasi. Sungguh rese! Untungnya pas semua tuh bagasi nggak perlu nambah. Karena kalo sampe nambah, uangnya udah habis buat belanja (tersisa di dompet 200 THB).

Pas check in kita juga minta duduknya deketan. Dia bilang udah penuh jadi nggak bisa duduk deketan. Semua percakapan dilakukan dengan muka bete, ya. Kenyataannya pas masuk pesawat pesawat cuma setengah terisi dan kursi tepat dibelakang saya satu baris kosong semua. TUH KAN! Dia pasti kesal sama kita jadi nggak mau dudukin kita bareng.

Oh ya, karena di bandara saya makan dan ngabisin 240 THB. Maka dengan terbangnya pesawat ke Jakarta, uang saya pun minus 40 THB (pas makan minjem Yenny. Hihihihi).

Apakah saya pengen balik lagi? Tentu saja! Masih pengen ke Grand Palace karena waktu itu tutup, masih pengen ke Platinum sampe puas, dan masih pengen makan di Boat Noddle.

After all, it was a nice trip with the girls. #happy πŸ˜€ πŸ˜€

 

Bangkok In A Glimpse 2

Sampailah kita di hari ke-3. *kretekin jari*

Day 3
Malam sebelumnya dihabiskan dengan jalan mulu dari pagi sampe malam. Tentunya begitu sampe di hotel semua langsung tepar dan tidur kayak orang pingsan. Sukses deh hari ini bangun siangan.

Baru bangun jam 9an, deh. Habis itu buru-buru mandi karena kita akan ke Madame Tussaud. YEAAAY! Oh ya, karena lagi ada tiket promo sampe tanggal 28 Februari bagi yang memesan lewat web mereka, maka kita dapet diskon sampe 50%, jadi cuma bayar 400 THB (bok, lebih murah daripada siΒ  boat tour itu *teteep*) dengan syarat harus masuk sebelum jam 12 siang (pulangnya sih jam berapa aja). Demi murah, ya tentu saja kita oke, dong.

Untuk mencapai Madame Tussaud di Siam Discovery, kita (lagi-lagi) naik taksi. Letaknya dekat banget sama hotel kita. Naik taksi cuma sekitar 50 THB. Siam Discovery ini merupakan mall yang juga deketan sama Siam Centre dan Siam Paragon. Mall-mall super gede dengan toko-toko yang banyak dan pastinya lebih update daripada Jakarta (lagi-lagi, whyyy, Jakarta?). Madame Tussaud terletak di lantai 6.

Karena baru pertama kali ke Madame Tussaud tentu saja kita langsung foto-foto di setiap patungnya. Yes, di tiap patung kita foto bergantian, kenal atau pun nggak kenal tokoh si patung. HUAHAHA! Senangnya adalah di sana dikasih properti buat foto lucu-lucu. Misalnya kalo di Queen Elizabeth dikasih mahkota, selendang, dan jaket bulu-bulu. Kalo di Michael Jackson dikasih topi ala Om Jacko. Kalo di dekat Madonna dikasih tongkat dan coat panjang. Seruuu!

Tapiii… tentu saja highlight di Madame Tussaud buat saya adalah….

JUSTIN BIEBER!

Oh, bahagianya bertemu dek Justin walaupun cuma patungnya. Langsung deh foto-foto berbagai pose dengan dek Justin. Justin, inget ya, nanti kalo ketemu beneran tak cium koe. #mulaigila X)))

Ikrib sama artis-artis

Ikrib sama artis-artis

Selesai muter-muter di Madame Tussaud sekitar jam 12-an. Mulai grasak-grusuk untuk cari makan. Untungnya keluar dari Madame Tussaud ada es krim Diary Queen yang di sana murah banget, nggak kayak di Jakarta. Sekitar 39 THB. Murce, bok! *makan semua*

Karena letaknya di mall, kita pun mau mencoba makan di foodcourt-nya aja. Eh, dasar wanita, mall itu kan tempat yang banyak godaan syaiton. Mampirlah ke Forever 21. Yang niatnya nggak beli, jadilah beli anting-anting lucu karena harganya murah aje gitu (sekitar 75 THB) *kekep dompet*.

Sampailah kita ke Food Republic, semacam foodcourt yang banyak pilihan makan dan bersih. Nah, akhirnya setelah 3 hari di sana ketemu juga sama beef noodle soup idaman yang dulu pernah dimakan di Phuket #bahagiaitusederhana. Harganya cuma 65 THB alias Rp 20.000-an. ASOOOY! Oh ya, bodohnya adalah di Thailand itu untuk sambel cabe adanya cuma sambel bubuk. Pengalaman dengan sambel bubuk di Jakarta yang nggak pernah pedas, maka saya tuang banyak-banyak cabe bubuk itu ke noodle soup. Serius, pedasnya bikin bibir serasa terbakar. Tapi semua tetap dihabisin saking enaknya. Slllrrp! #habisitusakitperut

Dari foodcourt kita lanjut jalan ke Siam Paragon. Mall ini juga kece banget. Branded semua barangnya macam LV, Prada, Hermes. Udah lah ya, cuma liat sekilas aja dari luar (sambil ngences). Tujuan ke Siam Paragon karena kita mau ke H&M yang baru buka juga di sana. Hampir kalap, tapi nggak, tuh. Di kepala selalu bilang, “Inget habis ini mau ke MBK dan Platinum. Ingeeet!” Oke deh, kakak. Tutup mata aja, yuk.

Mejeng di depan Siam Paragon

Mejeng di depan Siam Paragon

Siam Centre

Siam Centre

 

Sekitar jam empat sore, kita jalan kaki ke MBK, semacam ITC di sana. Jalan dari Siam Centre, lalu nyeberang lewat jembatan penyebrangan ke MBK.

Di jembatan penyebrangan pun harus foto

Di jembatan penyebrangan pun harus foto

Yenny dan Stefany udah kecapekan. Kita pun melipir sebentar ke Dunkin Donuts MBK. Di situ saya udah mulai sakit perut karena banyak makan pedas, tapi nggak mau ke WC pas di Siam Paragon karena nggak ada air. EUUUH! Kalo kata Lydia, uniknya di Bangkok adalah di mall bagus dan besar malah nggak ada air di toiletnya, tapi kalo di mall kelas ITC malah ada air. Oke deh, tahan aja, yuk. Bodohnya, saya malah minum thai iced tea di Dunkin. Makin memperparah sakit perut aja. Hihihi.

Karena di itinerary habis dari MBK masih mau ke mall Platinum yang kabarnya lebih murah dibandingin MBK, jadi saya, Tenyom, dan Lydia pun janji muter-muter MBK cuma 1 jam aja. Begitu keluar dari Dunkin, saya langsung ngesot cari toilet. Di MBK bayar 2 THB untuk ke toilet. Tapi toiletnya bersih dan kering. Paling penting sih ada air. YEAAAY!

Setelah itu muter-muter MBK. Kalau menurut saya barangnya agak kurang menarik, ya. Tapi teteep sih di sana saya beli sepatu flat seharga 300 THB juga. Hihihi.

Jam 16.30 kita beranjak pergi dari MBK. Tentu saja mau ke Platinum naik taksi, dong. Kita mau ambil taksi di depan MBK, tapi ternyata nggak boleh. Bahkan taksinya nggak mau pake argo. Hih, nyebelin! Ya udah, kita pun ngambil taksi di tempat yang resmi, di bagian belakang mall MBK. Tapi ya harus antri cukup panjang.

Ke Platinum ini nggak butuh waktu lama sebenarnya karena masih satu area, tapi waktu itu lagi macet di perempatan lampu merah. Nah, supir taksi yang kita naikin ini agak nyebelin. Nunggu macet lampur merah yang cuma 15 menit aja nggak sabaran banget! Dia misuh-misuh aja gitu. Yaoloh Pak, kalo di Jakarta macet mah sampe 2 jam. Mau coba nggak? Kita pun diturunin di seberang Platinum karena dia males muter balik macet. Duileeeh, nyebelinnya!

Sampai di Platinum, mata kita pun terbelalak. Ini mall semacam ITC juga. Tagline-nya adalah Platinum: Fashion Mall. Emang bener banget, buanyak banget pakaian-pakaian kece yang dijual di online shop dan toko-toko semacam NYLA yang harganya miring. Bahkan, makin banyak beli, makin murah harganya.

Udah deh ya, pas di sini udah nggak pake nungguin teman, kita langsung mencar. Sayangnya karena kita datang telat, waktu itu jam 18.30, sementara kebanyakan toko tutup jam 19.00 atau 19.30, jadi ya kita kejar-kejaran sama toko mau tutup. Masaaa, dapet baju yang dijual di OL shop cuma seharga 200 THB untuk 2 baju! Menggila nggak, sih! Hihihi. Lalu juga dapet tas dan clutch di bawah 400 THB. Matiklah ini, kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih ke sini? Huhuhu! *nangis tapi sambil belanja*. Bahkan si bumil Yenny aja yang tadinya capek, dia ikut muter-muter belanja, lho!

Kita beneran ada di sana sampe mall itu tutup. Setelah itu tentunya kita kelaperan, dong. Pas keluar mall, eh masa ada banyak jualan di trotoar. Barangnya segala macam ada, kayak scarf, USB, jam, casing iPhone, tas, dll. Mamaaah, ini gimana keluar dari jerat belanja?

Kita udah sama-sama bilang, “Udah ya pandangan mata harus lurus ke depan, jangan noleh-noleh”. Kenyataan: begitu satu noleh dan dapat barang lucu, yang lain ikutan noleh dan akhirnya semua beli. HAHAHAHA! Bahkan pas di bagian scarf, saking capeknya tapi tetap pengen milih-milih scarf lucu dan murah itu (100 THB untuk 1 scarf, kita beli 11 scarf), kita pun akhirnya duduk ngejogrok di trotoar aja, dong. Hihihi. Nah, di trotoar ini berhasil belanja 2 scarf, 2 gelang (harganya di bawah 100 THB), dan 1 flash disc buat oleh-oleh. Manaaa janjimu nggak liat-liat lagi?

Ngejogrok di trotoar demi belanja

Ngejogrok di trotoar demi belanja

Selesai belanja jam 9 malam aja. Cari makanan yang buka dan kayaknya pas di perut ya apalagi kalo bukan McD. Di Jakarta jarang makan junk food, eh di Bangkok kerjaannya makan junkfood mulu. Kelar makan kira-kira jam 10an lewat.

Nah, di depan mall Platinum adanya tuk-tuk. Lah, kita kan bareng bumil. Serem juga kalo naik tuk-tuk yang hobi ngebut dan bisa masuk angin. Jadi kita jalan dikit ke dekat Hotel Novotel untuk cari taksi. Nunggu 30 menit nggak ada taksi yang mau ngangkut kita. Sekalinya mau langsung nembak 200 THB, nggak mau pake argo. Nyebelin amat. Tapi karena udah hampir jam 11 akhirnya yang tadinya nggak rela ngeluarin 200 THB, terpaksa deh direlain juga. Kenyataannya: hotel kita ternyata dekat banget sama Platinum. Paling 15 menit aja. Tuh kan, diboongin lagi. HUH!

*to be continued*

 

Bangkok In A Glimpse 1

Halo!

Minggu lalu saya baru aja liburan bareng Merlyns (minus Marisol dan Ella) ke Bangkok. Trip ini udah direncanakan lamaaa banget. Beli tiketnya kira-kira udah setahun yang lalu. Tapi benar-benar baru dipersiapkan 1 bulan sebelum pergi, sih. Hihihi, emang kita deadliner abis! πŸ˜€

Day 1
Kita naik pesawat Air Asia (seperti biasalah pesawat murah meriah yang kalo dipikir-pikir tiket ini nggak murah juga, sik! Flight-nya sore jam 16.45. Untungnya pesawat nggak pake delay. Karena kita check in nggak barengan jadi kita duduknya jauh-jauhan. Yang duduk deketan cuma Lydia dan Yenny (oh ya, Yenny lagi hamil 4 bulan, lho). Sementara saya dan Stefany duduk jauhan. Tenyom berangkat dari Penang karena beberapa hari sebelumnya dia liburan di Singapore dan Malaysia (hih, enaknya!).

Seperti biasa deh, ya. Saya yang takut naik pesawat ini disuruh bertahan di pesawat selama 3,5 jam sih PR banget, deh. Mana saya nggak dapat tempat duduk di dekat jendela (walaupun penakut, saya wajib duduk dekat jendela karena ngeliatin sayap pesawat membuat saya merasa aman. Hihihi). Dua seat sebelah saya adalah sepasang kakek-nenek. Mereka nggak nyebelin, sih. Cuma ya itu, jendelanya ditutup cobaaak! *gelisah*. Selama 1 jam pertama saya komat-kamit berdoa dengan wajah pucat. Karena udah ketakutan saya beli air mineral seharga Rp 9.000 (mahal gilaaak) dan berniat untuk minum Antimo supaya ngantuk. Tapi nggak saya minum juga karena berusaha bertahan dong ya ceritanya. Emang turbulensinya gede banget? Ya nggak, sik. Namanya juga takut naik pesawat, goncangan kecil juga bikin merinding, deh.

Untungnya tiba-tiba Stefany datang dan ngajak pindah duduk di belakang barengan Lydia dan Yenny. Penyelamat banget, deh! Sisa 2,5 jam itu jadi nggak berasa karena kita ngobrol terus. Fokus saya udah nggak di turbulensi lagi. Hihihi. Senangnya lagi, pesawatnya sampai lebih cepat 20 menit. Jadi jam 8 malam kita udah sampe di Bangkok. Yeay!

Kita mendarat di Bandara Don Muaeng. Bandara lama yang mirip Soekarno Hatta. Begitu sampe, saya langsung ke informasi mengenai taksi. Ditawarin taksi seharga 700 THB. Whaaaat, mahal amiiit! Langsung deh saya bilang maunya yang murah aja *turis medit*, ya udah ditunjukin naik taksi ber-argo seharga 350 THB. Yes, hemat setengahnya! Tapi ya itu dia, karena kebanyakan turis memilih taksi ini ngantrinya juga panjaaang banget. Nggak papa deh, ya. Demi murah.

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Setelah nunggu taksi 15 menit, masuklah kita ke sebuah taksi berwarna pink dengan supir yang untungnya ngerti bahasa Inggris dan nggak cerewet. Kita naik 2 kali tol sampe akhirnya sampe ke hotel kita di daerah Silom. Hotel kita ini emang kecil, mirip hostel. Namanya Take A Nap. Senangnya adalah hotel ini punya berbagai pilihan tema kamar dan ukuran kamar dan bed. Karena kita pergi berlima, kita pesan satu kamar dengan 5 beds. Kamarnya luas banget! Masing-masing dapat tempat tidur yang bersih, handuk, gantungan, dan breakfast. Hotelnya juga bersih dan dirapihin tiap hari. Lebih dari cukup untuk liburan yang sebagian besar waktunya dipake di luar dan cuma numpang tidur aja.

Luas banget kamarnya

Luas banget kamarnya

Karena udah malam, sekitar jam 21.30 dan ada bumil yang kelaparan, kita berlima jalan kaki cari makan. Jalanlah ke belakang hotel. Daerahnya rame banget, banyak tempat karaoke dan restoran Jepang. Tentunya banyak orang Jepang juga. Oh, dan perempuan-perempuan berpakaian seksi. Entahlah ini daerah apa. Hahahaha! Bukannya pergi dari sini, kita tetap aja jalan menyusuri jalan itu. Nggak ada yang ganggu kita juga. Akhirnya terdamparlah kita di satu restoran Thai yang sepi. Karena lapar jadi kita pesan makanan yang ternyata rasanya nggak enak dengan harga mahal. Ya udahlah yaaa… yang penting perutnya keisi. Oh ya, saya sempat beli crepes di pinggir jalan juga seharga 20 THB. Enak banget!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Crepes kesukaanku

Crepes kesukaanku

 

Sehabis puas makan, kita balik lagi kehotel dan siap-siap untuk tidur. Besok masih banyak rencana. Asiiik! *bobo cantik*

Day 2
Karena excited, kita pun bangun pagi. Rencana hari ini adalah keliling kuil di Grand Palace dan Wat Arun, serta belanja di Ikea.

Karena ada bumil seluruh perjalanan di Bangkok ini dilakukan dengan taksi (bye bye BTS dan MRT). Oh ya, karena satu taksi berlima jadi emang lebih murah sih kalo naik taksi daripada BTS/MRT. Naik MRT per orang kalo jaraknya jauh bisa 40 THB. Sementara kalo naik taksi perjalanan paling menghabiskan 100 THB, tinggal bagi 5 aja. Murah, kan?

Hari ini matahari teriknya minta ampun. Kalo mau ke daerah kuil, kita harus pake baju yang sopan, alias jangan pake hot pants dan kaus kutung. Entar nggak boleh masuk. Kita turun di depan Grand Palace. Waktu baru turun kita ketemu satu penduduk lokal yang lagi jalan. Ngakunya sih dia teacher. Dia ngeliat kita lagi kebingungan dan jelasin kalo hari itu Grand Palace lagi tutup paginya karena ada upacara untuk mendoakan keluarga kerajaan. Lah, sial amat, nih. Tapi Wat Arun yang ada di seberang Sungai Chao Phraya tetap bisa dikunjungi. Dia menyarankan naik tuk-tuk ke dermaga, habis itu ikut boat tour selama 1 jam nunggu Grand Palace buka. Oh, oke, deh.

Pertama kali naik tuk-tuk perasaannya adalah…..takut, mak! Coba bayangin aja tuk-tuk itu semacam Β bajaj tapi hobinya ngebut. Gilaaaa, langsung pegangan erat-erat, deh. Oh ya, naik tuk-tuk ke dermaga Chao Phraya itu 20 THB. Pas turun langsung ada orang yang menawarkan boat tour dengan harga 700 THB. Mahal gilak! Padahal di itinerary, nyebrang ke Wat Arun itu cuma 3 THB, lho. Wah, salah turun dermaga, nih. Curiga si teacher tadi kerjasama dengan tuk-tuk dan boat tour buat nganterin kita ke sana.

Tentu saja sebagai turis hemat, 700 THB mah mendingan buat belanja, ya. Tapi ternyata setelah berdiskusi ya udahlah boleh juga diikutin soalnya dia bilang ada kebun bunga, ikan-ikan, dan floating market. Teringat bahwa semua yang ada di Bangkok itu bisa ditawar jadi saya tawar dong jadi 500 THB. Awalnya dia nggak mau. Trus saya bilang, “Saya udah 2 kali lho ikut ini. Dulu nggak mahal, kok.”

Tour guide: “Ih, Anda bohong, ya. Ini kan baru buka.”

KWANG KWANG! Ketauan deh boongnya. Hihihi.

Tebal muka aja dan keukeuh pada 500 THB. Eh, dia mau. Oke deh mari naik kapal. Sungai Chao Phraya itu jangan dibayangkan bersih, ya. Warnanya coklat dan masih banyak sampah di sungainya. Agak malesin, sih.

Eh, ternyata di sebelah dermaga kita adalah dermaga dengan perahu seharga 3 THB. Aaa, harusnya jalan aja ke situ. Tapi kita menghibur diri dengan bilang… kan yang ini ikut tour. Jadi lihat lebih banyak. *puk-puk diri sendiri*

Taman bunga? HAH?

Taman bunga? HAH?

Menyusuri Chao Phraya

Menyusuri Chao Phraya

 

Tujuan pertama adalah Wat Arun. Kuil ini berdiri megah di tepi sungai. Cantik banget! Tangga untuk naik ke kuil ini tajam banget. Cuma saya dan Stefany yang naik ke atas kuil. Itu aja kaki saya udah gemeteran saking miringnya itu tangga. Takut, mak! Tapi pemandangan di atas emang menakjubkan. Apalagi langit kelihatan biru banget hari itu. Sempurna!

Wat Arun dari kejauhan

Wat Arun dari kejauhan

IMG_2234

Nice view

Nice view

Dari Wat Arun kita naik kapal lagi menyusuri Chao Phraya. Awalnya sih kita ber-wow wow, tapi lama-lama membosankan juga tour ini. Yang tadi disebut taman bunga itu cuma bunga-bunga seiprit yang ditanam di rumah orang di pinggir sungai. Oh ya, ikan-ikan itu juga semacam ikan lele gede yang kurang menarik juga, sih. Jadi nggak recommended banget. Mendingan naik boat 3 THB dan nyeberang ke Wat Arun aja.

Setelah 1 jam, kita diturunkan di restoran tepi sungai. Waktu itu udah jam 12.30. Laper banget, bok! Untungnya restoran ini ber-AC. Kali ini makanannya enak banget. Segala macem Pad Thai, Thai iced tea, dll kita pesan. Udah gitu harganya lebih murah daripada restoran Thai kemarin pulak. Ya udah deh, kita makannya nggragas banget. Macam nggak lihat makanan dari bayi aja.

Perut kenyang, tentu saja hati senang. Lanjuuut! Kita jalan kaki ke arah Grand Palace. Ternyata seperti si teacher itu bilang Grand Palace lagi tutup. Huhuhu! Dia menyarankan kita naik tuk-tuk seharga 30 THB ke 3 Wat dekat Grand Palace. Seakan nggak bosen ditipu, kita pun mengikuti saran itu.

Yang pertama ke suatu kuil yang entah apa namanya. Bagus! Si tuk-tuk mau nungguin kita keliling kuil itu. Oh ya, untuk masuk harus bayar 20 THB.

IMG_2297

IMG_2305

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Muter-muter kuil itu udah jam 3 sore aja. Kita udah mulai capek dan dehidrasi karena cuaca panas banget. Kita mutusin buat stop aja tur keliling kuilnya dan langsung menuju IKEA. Pas kita bilang ke supir tuk-tuk, dia bilang nggak boleh. Lah, piye, toh? Padahal untung di dia kan ya kalo kita nggak sampe habis tapi bayar full. Ternyata dia kerja sama dengan toko perhiasan dan batu-batu hiasan kalo bisa bawa turis ke sana, dia akan dapat bensin gratis. Makanya itu charge tuk-tuk kita murah. Oh gitu. Oke, deh. Kasian juga dia. Kita ikut deh ke toko perhiasan itu.

Di dalam toko itu nggak boleh foto, ya. Kita ditawari banyak perhiasan. Yang mana kita lirik sekilas aja soalnya harganya lebih mahal daripada uang yang kita bawa buat 4 hari. HAHAHAHA! Seandainya mereka tau kita datang dengan budget pas-pasan pasti mereka males deh ngeladenin kita. Hihihi.

Dari toko itu kita langsung dianterin ke Big Buddha lewat jalan belakang yang mana adalah pasar. Di pasar ini jual banyak makanan khas Thai, salah satunya adalah serangga goreng, seperti kecoa (AMPUN DEH GELI!) dan belalang. Kita cuma mendelik geli aja deh liat makanan macam begitu. Kita cuma melewati Big Buddha dan nggak mampir karena udah kegerahan. Kita langsung cari taksi aja ke IKEA di Mega Bangna.

Pasar di belakang Big Buddha

Pasar di belakang Big Buddha

Cek warna-warni yang bikin ngiler

Cake warna-warni yang bikin ngiler

Cari taksi untuk ke Mega Bangna cukup sulit juga. Jarang yang mau ke sana, atau sekalinya mau ke sana nggak mau pake argo. Hih! Kita keukeuh dong cari taksi yang pake argo. Jadi ternyata Mega Bangna itu letaknya jauh banget. Semacam Bekasi-nya Jakarta kali, ya. Untungnya kita dapat taksi yang mau pake argo dan menghabiskan sekitar 100 THB. Jauh banget kan berarti.

Begitu menjejakkan kaki di Mega Bangna yang merupakan sebuah mall gede banget, hati langsung adem. Banyak banget tempat makan yang familiar kayak Toast Box, Starbucks, KFC, McD, dll. Senaaang!

Gede banget mall ini

Gede banget mall ini

Kita ngemil dulu di Toast Box. Habis itu masuk ke mall mau cari WC… yang berakhir malam kalap belanja di Cotton On karena lagi sale. HAHAHA! Di mall ini ada semua toko-toko ciamik yang nggak buka di Jakarta. WHY JAKARTA, WHY? 😦

Setelah agak kere karena belanja langsung tutup mata dan lurus terus ke IKEA. IKEA-nya gedeee banget. Begitu masuk IKEA, kita yang tadinya jalan sama-sama udah lupa diri, deh dan akhirnya misah dengan sendirinya. Sibuk dengan belanjaannya masing-masing. Ya Tuhan godaannya terlalu berat di IKEA. Kalo boleh nginep aja di IKEA, deh. Eh, di Jakarta kapan bukanya, sik? Kok nggak ada kabarnya lagi? Bohong ya kamu! #drama

Kalap!

Kalap!

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Tebak kita selesai belanja jam berapa. Jam 9 malam! Kalap, mak! Segala macam vas bunga, lukisan, lampu, bantal dibeliin. HUAHAHAHA tutup mata aja, ah. Oh ya beli barang sebanyak itu cuma ngabisin 1000 THB alias 300 ribuan. Murce kan, ya.

Setelah kalap belanja baru deh lapar banget. Kita naik ke lantai atas makan McD. Serius itu frenc fries di McD berasa enak banget karena baru dimasak dan gurih. Sampe kita pun nambah. Hihihihi.

Sampe mall-nya tutup jam 10 malam kita baru kelar. Nunggu taksi pun harus antri karena banyak yang mau pulang naik taksi. Kali ini kita dapat taksi yang pake argo dan ramah.

Dia pasangin kita lagu top 40 seperti Celine Dion dan Mariah Carey. Dia juga inisiatif telponin hotel kita untuk nanya arah jalan. Keren, deh.

Sampai hotel, tinggal kaki yang pegal minta ampun. Baru deh berasa mau patah dan capek. Tapi hati senang. Hihihi.

*to be continued*