Kaleb 12 Bulan

Di usianya yang 12 bulan, Kaleb belum bisa jalan. Sementara teman-teman sepantarannya, atau bahkan di bawahnya udah bisa jalan, Kaleb masih setia merangkak dan jalan merambat sambil pegangan. Udah mau belajar dititah, tapi setelah sakit batuk pilek kemarin, dia lagi fase males latihan lagi. Yo weis, terserah Kaleb aja.

Tapi dari segi linguistik, kosa-kata Kaleb bertambah pesat. Dia udah bisa manggil Mama, Papa, mamam (makan), bem bem (mobil), meong (kucing), groaar (singa), apung (opung), ba (cilukba), hah hah (pedas), ampu (lampu), wuf (anjing). Gemesin banget ya!

Sekarang kalau mau makan, dia langsung bilang “Mamam!”. Lalu dia akan melipat tangannya buat berdoa. Karena biasanya sebelum makan saya ajak berdoa, sekarang tiap mau makan apapun, termasuk cemilan, dia langsung lipat tangan. Ih, terharu lho! Nah, akhir-akhir ini dia juga langsung lipat tangan kalau mau tidur karena biasanya saya aja berdoa dulu sebelum bobo. Lucu banget!

Karena sekarang komunikasinya udah lumayan bisa 2 arah, jadi kami suka nanya:

“Kaleb mau apa?”, nanti dia jawab “Mamam!”

“Suara kucing gimana, sih?” kemudian dia akan bilang “Meonggg!”

Kalau diajak naik mobil, dia akan bilang “Bem-Bem”. Ditaro di belakang setir, dia akan pura-pura masukin kunci mobil untuk starter mobil. Malah pernah di jalan yang macetnya sampai berhenti, Opungnya pangku Kaleb di belakang setir (jangan ditiru ya, ini pas mobil lagi berhenti), eh tiba-tiba Kaleb pegang kunci mobil dan matiin mesin mobil. Opungnya sampai panik kenapa mobil tiba-tiba mati. Eh, ternyata kelakuan si bocah! :))) Makanya sekarang hati-hati banget lah di depan si krucil soalnya dia diam-diam memperhatikan dan mencontoh.

Kaleb juga suka banget joged. Favoritnya sekarang adalah lagu Gong Xi dari Badanamu. Jadi Badanamu ini nursery songs kayak Super Simple Songs. Entah sejak kapan, Kaleb mulai bosen sama Super Simple Songs, dan tertarik dengan lagu  Gong Xi (sambil menggoyang-goyangkan tangannya layaknya minta angpao). Dapatlah channel Badanamu yang ternyata lagunya baru-baru dan kebanyakan upbeat. Kaleb kurang suka lagu slow, sukanya lagu upbeat karena dia suka joged. Nah, kalau ditanya joged kayak gimana sih, Kaleb? Dia akan langsung heboh menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya. Dia joged bisa di mana aja, asal ada lagu upbeat. Misal, di tengah mall ada lagu upbeat, tiba-tiba dia langsung joged. Kalau udah gede sukanya ajeb-ajeb jangan-jangan. Hahaha!

Soal makan, Kaleb habis sakit makannya jadi agak susah. Padahal sebelum sakit makannya heboh banget dan gampang banget lah. Mamaknya jadi ongkang-ongkang kaki nggak perlu mikirin menu buat Kaleb toh dia akan makan apa aja yang dimasak Mamak. Eh, pas sakit mogok makan! Putar otak, akhirnya yuk makanan diblender lagi. Sebelumnya makanannya udah nasi tim. Sekarang balik lagi blender. Nah, habis sakit, dia bosen sama makanan apapun yang dikasih. Onde mande, Mamak yang nggak jago masak ini ya pusing 7 keliling. Maka dari itu googling lah resep makanan.

Diperkirakan Kaleb bosan sama tekstur makanannya yang terlalu lembut, padahal giginya kan udah 8. Jadilah sekarang lauknya harus dipikirin baik-baik. Nasi mulai nasi biasa, plus sup. Kadang-kadang sama sup aja bosen. Jadilah sekarang makanannya udah kayak orang dewasa alias table food. Kalau orang rumah dikasih makanan apa aja ya disikat juga. Kaleb bosenan! Jadi ya harus kreatif cari resep. Misal kemarin telur goreng kecap, pagi ini dia makan nasi goreng, siangnya sup sosis telur puyuh. Yah, begitulah. Mamak keriting cari resep tiap hari.

Oh ya, Kaleb suka banget sama nasi goreng, mirip mamaknya banget ini! Kebetulan waktu itu Kaleb makan nasi goreng saya, jadi agak pedas dikit. Jadi selama makan dia bilang “Hah hah hah!” kepedasan tapi minta nambah terus. Ih, anak mamak banget sukanya pedas. Haha!

Beberapa waktu lalu kulit telapak tangan dan telapak kaki Kaleb sempat agak kuning. Ih bikin panik aja. Kenapa nih kuning? Setelah baca-baca Kaleb kebanyakan makan makanan yang mengandung betakaroten, seperti wortel. Iya sih Kaleb bisa makan wortel tiap hari, plus sayuran lainnya yang mengandung betakaroten jadi satu. Overdosis bok! Untungnya ya nggak papa. Memang sering terjadi sama anak kecil. Makanya sekarang lagi cari sayuran yang betakarotennya rendah dan harus kreatif menunya, jangan sama mulu.

Nah, segitu dulu perkembangan Kaleb di usia 12 bulan ini. Semoga di usia 13 bulan nanti Kaleb bisa jalan, ya!

Nih, bonus anak kicik:

IMG_5608

Naik choco train dulu ya

IMG_5551

Saking kecapekannya, lagi main dan mau turun tempat tidur, eh tiba-tiba ketiduran! Zzz.

 

Catatan awal MPASI Kaleb

Seminggu lagi Kaleb pas 7 bulan yang artinya udah 1 bulan ini dia makan MPASI. Selama kurang lebih sebulanan ini, Kaleb lumayan banyak variasi makanannya, sesuai acuan ajaran WHO. Untuk jadwal yang telah disiapkan jadi nggak terlalu saklek karena tergantung bahan persediaan di tukang sayur atau supermarket aja. Tapi panduannya tetap sama.

Pada saat pertama kali makan, Kaleb diperkenalkan pada pisang. Pilihan buah karena lebih mudah dan tidak perlu diolah lagi. Frekuensinya 1 kali dalam sehari, kemudian 3 hari kemudian naik 2 kali sehari, masih buah. Minggu depannya diperkenalkan kepada karbo, seperti kentang, jagung,serelia, dan labu. Kemudian beberapa hari kemudian diperkenalkan pada sayur, seperti wortel, brokoli, dan buncis. Pada saat memasuki minggu ketiga Kaleb udah makan dengan menu lengkap: karbo, sayur, protein, buah, dan ASI. Jadwal makan Kaleb sekarang udah 3 kali sehari makan utama dan 1 kali makan buah. Udah mirip jadwal makan orang dewasa. Teksturnya masih halus sekali biar dia nggak kaget. Rencananya bulan ke-7 mau dinaikin teksturnya jadi agak kasar.

Berikut adalah makanan yang sudah dicoba Kaleb:

Buah: pisang, pepaya, alpukat, apel, pear, melon, semangka, jeruk.
Sayur: wortel, brokoli, buncis, bayam
Karbo: kentang, kabocha, sereal, beras putih, jagung
Protein: ayam dan salmon

Sejauh ini belum ada yang alergi (Puji Tuhan!) dan Kaleb tampaknya suka sama banyak makanan (nggak kayak mamanya. Hore!). Secara kalau bikin makanan bayi kan harus dicoba dulu, ya, jadi saya sekarang coba-coba makanan baru juga, deh. Hihihi. Oh ya, pertama kali mencoba solid food, Kaleb nggak pup selama 3 hari. Awalnya dikira jangan-jangan sembelit, tapi anaknya sih nggak kelihatan kesakitan dan ceria aja. Ternyata pas pertama kali mencoba solid food, biasanya pencernaan akan beradaptasi mencerna lebih berat, jadi frekuensi pupnya pun melambat. Tapi setelah 3 hari itu, Kaleb pup tiap hari. Tekstur pupnya pun berubah mengikuti kepadatan makanan (ehm, bahkan kadang-kadang mengikuti warna makanan).

Alat masak yang dipake masih yang sederhana dan (harusnya) ada di dapur tiap rumah, seperti panci, kukusan, blender, talenan, dan pisau. Pernah pake slow cooker buat masak bubur beras putih dan ayam, tapi ternyata malah gosong. Aduh, nggak berbakat banget, sik! Hahaha! Karena makannya masih sedikit jadi sampai saat ini yang paling enak ya masih masak pake panci, kemudian diblender.

Apakah harus jadi bangun lebih pagi? Iya. Saya cuma majuin bangun 30 menit lebih pagi aja, kok. Nggak harus yang pagi buta. Untuk bikin bubur beserta lauk-pauknya butuh sekitar 20 menit, kemudian diblender. Itu udah bisa dapat untuk makan 2 hari. Kalau untuk bubur nasi, saya taruh di kulkas bagian bawah, karena nggak bisa dibekukan. Untuk buah dan kaldu bisa dibekukan di freezer jadi bisa lebih tahan lama. Malam sebelumnya dipindahin ke bawah kalau mau dimakan. Hangatinnya juga nggak susah, saya sih taruh makanan di mangkok, lalu rendam di air panas. Jadi deh hangat.

Untuk belanja makanan juga cuma seminggu sekali dan belinya dalam porsi yang dikit aja. Kalau kebanyakan takut jadi basi dan malah kebuang. Bayi belum perlu makan banyak. Misal seperti hari ini: beras putih 1,5 sdm, 1 kentang, sepotong kecil salmon, 2 potong kecil brokoli, 2 buncis, dan kaldu ayam. Dengan menu seperti ini aja udah bisa untuk 2 hari makan 3 kali sehari. 😀

Dari pengalaman ini, saya berpendapat kalau peralatan MPASI nggak harus mahal, it should be as simple as possible, karena tujuan akhirnya adalah si anak akan makan bersama kita jadi jangan beli peralatan yang cuma bertahan sebentar aja.

Selamat ber-MPASI ria! 😀

PS: Nggak ada foto-foto karena masaknya selalu pagi jadi habis itu rempong siap-siap mau ke kantor. Nggak sempat foto. Hihihi! 😀

Waktunya Makan

Udah beres ya beli alat-alat MPASI. Secara eike nggak terlalu suka masak jadi emang nggak terlalu tergiur beli macam-macam alat MPASI, sih. Wong yang simple aja nggak bikin nafsu masak apalagi yang ribet. Yuk mare!

Concern saya dari awal adalah soal menu MPASI. Sebagai mamak-mamak kurang berpengalaman di dapur dan susah makan pas masih kecil dulu soal MPASI ini bikin sutris! Saya berasa kayak mau ujian dan harus browsing sana-sini soal MPASI dan berbagai metodenya. Setelah membaca berbagai aliran MPASI, saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti aliran WHO.

Kenapa WHO?
Karena ternyata pas bayi 6 bulan dia udah bisa menerima hampir semua jenis makanan dari karbo, buah, sayuran, protein, lemak. Komposisi ASI, walau di usia 6-7 bulan masih mendominasi sumber gizi bayi sekitar 70% dan makanan hanya 30% saja, tapi ada beberapa sumber gizinya yang kurang, seperti zat besi. Secara pas hamil dulu eike didiagnosa anemia zat besi, yang ternyata lazim juga dialami oleh bayi-bayi Asia, jadi sepertinya masuk akal bahwa bayi harus mendapat gizi penuh dari usia 6 bulan.

Untuk MPASI WHO ini saya banyak belajar dari situs ini.

Walau saya kurang bersahabat dengan dapur dan kurang napsu masak, tapi untuk makanan Kaleb sebisa mungkin harus home made *ejiyeeeh gaya*. Saya nggak anti makanan instan, sih. Snack buat gigit-gigit Kaleb aja beli instan. Kalau traveling mungkin saya juga lebih prefer makanan instan daripada harus bawa sekarung bahan makanan, plus alat masaknya. Ses, eike mau libur bukan mau masak-masak. Tapi kalau di rumah (dan bayi banyakan mah di rumah ya) maka Kaleb makan masakan saya.

Oleh karena itu, maka saya pun membuat jadwal menu MPASI Kaleb selama sebulan:

MPASI Kaleb 6 Bulan

Pada kenyataannya, nggak semua di jadwal bisa diturutin, sih. Hahaha! Ada saatnya tergantung apa yang ada di supermarket aja. Tapi sebisa mungkin sih ikut rencana. Fleksibel aja mah.

Pada saat hari H, saya khusus dong ambil cuti. Kan pengen bisa suapin makanan pertamanya. Pagi-pagi saya cicipin snack yang dia pegang sendiri. Kaleb tampak agak kaget tapi karena snacknya ringan dan langsung meleleh di mulut jadi dimakan habis. No drama.

First snack

First snack

Siangnya saya kasih dia pisang. Alasannya supaya nggak ribet aja, sih. Masih butuh waktu tambahan kalau buat masak-masak. Hihihi. Hasilnya drama banget! Nangis kencang dan berantakan di mana-mana. Ya udah lah ya, buat saya anak makan mah nggak papa berantakan, belum bisa rapi. It’s okay baby! Tapi habis itu tidurnya langsung 3 jam.

Makan pisang kayak dikasih makan racun toh, Nak?

Makan pisang kayak dikasih makan racun toh, Nak?

Empat hari ke depan masih makan pisang. Sebenarnya aturannya per 3 hari ganti makanan sih, tapi karena pas hari keempat, Kaleb dititipin ke mertua, daripada rempong ya udah pisang lagi aja, ya.

Hari selanjutnya Kaleb langsung dicobain makan karbo: kentang. Cukup lancar. Cuma karena belum pup udah 3 hari, maka buahnya diganti pepaya. Malamnya langsung pup buanyaaaak banget dan teksturnya udah nggak cair lagi kayak dulu pas masih ASI doang.

Oh ya, sejak hari ketiga, Kaleb udah makan buah 2x sehari: pagi dan sore. Pas udah makan karbo di hari kelima, frekuensi makannya karbo 2 kali dan buah 1 kali. Sekarang hari ketujuh, saya tambahin wortel biar ada sayurnya. Jadi menunya: kentang (karbo) + wortel (sayur) 2 kali sehari dan alpukat 1 kali. Minggu depan mau mulai memperkenalkan Kaleb dengan protein.

Apakah setelah makan ASIPnya berkurang? Cuma berkurang satu botol aja. Biasanya kalau ditinggalin kerja, Kaleb menghabiskan 6 botol x @100ml ASIP. Nah, pas udah makan, walau makannya udah 3 kali sehari, Kaleb tetap bisa menghabiskan 5 botol ASIP. Jadi cita-cita memompa lebih santai sih nggak bisa tercapai, ya. Saya masih harus mompa dengan frekuensi yang sama. Hihihi.

Sampai saat ini, 7 hari Kaleb MPASI, semua makanan masih homemade. Peralatan MPASI yang kepake baru pisau, talenan, kukusan, sama blender. Curiga baby home food maker bakal jarang kepake karena udah ada alatnya di rumah semua sebenarnya. Hihihi.

Jam bangun pagi saya jadi maju. Biasanya bangun jam 6 pagi, sekarang harus bangun jam 5 pagi buat masak. Karena belum merasa perlu pake slow cooker, jadi masaknya masih pagi hari. Setelah cemplungin bahan-bahan untuk dimasak, saya langsung mandi sembari nunggu makanan matang, setelah itu untuk pagi hari saya yang kasih Kaleb makan.

Kalau udah mulai dicampur makanannya, jadi ditaro di kulkas bagian bawa untuk makan siang dan sorenya. Sampai saat ini masih belum kesulitan, sih. Agak ngantuk sih iya banget. Soalnya Kaleb masih kebangun tengah malam buat nyusu. Tapi kemarin karena udah mulai kenyang kebangunnya udah nggak per 2 jam, kemarin udah mulai per 3-4 jam. Sip, mamak bisa bobo lebih panjang. XD

Semoga ke depannya lebih lancar, nggak ada drama GTM *plis jangan*, nggak kayak mamaknya susah makan dulu. Semangat!

Berantakan? Anggap aja lagi Baby Led Weaning.

Berantakan? Anggap aja lagi Baby Led Weaning.

Kalau dikasih makan Opung lebih anteng, dikasih makan saya banyak dramanya *lelah*

Kalau dikasih makan Opung lebih anteng, dikasih makan saya banyak dramanya *lelah*

Peralatan MPASI

Setelah berkontemplasi *tsah, bisa aja bahasanya* mengenai peralatan dan menu MPASI, maka saya mengambil kesimpulan makanan anak itu harus simple dan peralatannya jangan repot. Kebanyakan peralatan makan (dan tentunya peralatan bayi lainnya) itu sebenarnya cuma nice to have tapi nggak terlalu perlu. Berdasarkan panduan dari situs ini, peralatan makan bayi sebenarnya yang ada aja di rumah. Jadi berikut peralatan MPASI Kaleb yang nggak ribet dan mudah ditemui di mana-mana:

  1. Pigeon Feeding Set
    Alat makan dasar yang kayaknya dipunya semua orang. Satu set terdiri dari 2 sendok panjang dan pendek, 2 piring, 1 mangkok, dan 1 gelas yang bisa berubah fungsi dari pake dot, sedotan, dan gelas biasa yang ada tutupnya.

    Bisa ditemui di mana-mana, saya beli di Carrefour

  2. Baby Home Food Maker
    Beli ini karena semua alatnya lengkap, ada semacam tongkat kecil buat ulekan, saringan buah, perasan jeruk, dan parutan. Nggak makan tempat karena bisa digabung-gabung jadi satu. Saya beli entah merk apa di baby shop.
    Lengkap kan satu pake segala ada
  3. Talenan dan Pisau
    Ini pasti di semua rumah ada kan, ya. Tapi saya beli yang baru supaya terpisah dari makanan orang rumah, biar lebih bersih. Kalau menurut saya sih pake yang di rumah aja asal dicuci bersih juga bisa, sih.

    Talenan dan pisau baruuu dengan motif centil supaya yang masak semangat

    Talenan dan pisau baruuu dengan motif centil supaya yang masak semangat

  4. Bibs
    Bibsnya terbuat dari plastik jadi biar gampang dibersihin. Praktis, kan!

    Semacam ini nih bibsnya, terbuat dari plastik dan dibagian bawah ada kantong jadi kalau makanan jatuh bisa ditampung dan nggak ngotorin meja atau lantai.

  5. Baby cubes
    Namanya juga ibu bekerja ya, jadi masaknya ya sekalian aja dari pagi sampai sore, makanya nanti makanannya akan ditaro di ice cubes, disimpen di freezer/kulkas, begitu waktunya makan tinggal dihangatin, deh. Saya nggak pake yang khusus baby cubes. Saya beli ice cubes di supermarket berbentuk kotak-kotak kecil yang ada tutupnya.
    Bentuknya semacam ini. Ada tutupnya biar nggak terkontaminasi bau makanan yang lain.

Udah! Itu aja yang saya beli. Nggak banyak dan nggak sampe mengeluarkan uang lebih dari Rp 300.000. Hemat bener kan, ya. 😀 Nah, ini karena di rumah udah ada slow cooker (embat aja punya emak. Kabarnya kan kalau working mom perlu slow cooker yang memudahkan hidup), blender (udah punya dari dulu waktu berniat hidup sehat cuma menguap begitu saja di hanyalah niat jadi blendernya nganggur, deh), dan panci kukusan (lagi-lagi embat punya emak). We’re ready to go!

PS: semua gambar diambil dari Mbah Google. Bukan punya saya, ya. 😉

Menuju MPASI

Tiga minggu lagi Kaleb bakal MPASI. Hati udah mulai ketar-ketir sejak 4 bulan. Sebagai orang yang nggak suka makan (hobinya ngemil), pas kecil bermasalah dengan makan sampai tiap makan harus berantem dulu sama nyokap dan butuh waktu 3 jam untuk habisin makan *sungkem sama emak*, dan sampai besar pun kebanyakan kalau mau nelan makanan harus pake minum (setelah gede –SMA — baru mulai berusaha nggak nelan makanan pake minum di depan teman-teman karena malu), nggak suka coba makanan baru (bubur ayam baru coba pas kuliah, pempek sampe sekarang belum coba *kacian*), berakibat nggak suka masak (alat masak seadanya, ke pasar jarang, nggak ngerti apa maksudnya tim, kukus, sangrai, dsb), maka dari itu resmilah menganggap MPASI sebagai sumber ketakutan terbesar belakangan ini.

Intinya: clueless!

Pas mau ASI dirasa nggak terlalu ribet seperti MPASI. Patokannya jelas, caranya di hampir semua sumber sama. Misal, cara stok ASIP ya patokannya ada, mau ASI-nya banyak ya terus susuin dan pumping terus. Kira-kira begitulah. Jadi begitu saatnya harus kasih ASI, lumayan pede dan nggak takut.

Begitu MPASI…beuh, horor. Pertama, nggak ada patokan yang jelas awalnya harus kasih apa. Aliran WHO dan Food Combining (FC) aja beda prinsip. WHO bilangnya kasih bubur/sereal dan udah bisa dicampur lauk pauk, sayur, dari usia 6 bulan. Kalau FC bilangnya harus buah-buahan dulu, nanti kalauuntuk daging sekitar 8 bulan. Tanya ke teman yang A, B, dan C, beda-beda semua jawabannya. Sebagai orang yang buta soal makanan, saya makin kayak orang tersesat di tengah hutan dengan banyak jalan keluar. Harus pilih yang mana, nih?

Belum lagi soal perlengkapan masakanya. Ada grinder, slow cooker, saringan, cubes, squirt dan banyak lagi yang sungguh saya kurang paham bentuknya kayak gimana. Ditambah metode masak pun ada kukus, tim, pure, rebus, frozen, dll. Sampai seumur segini, saya nggak tahu kukus itu gimana, pake apa, hasilnya seperti apa. Lalu muncullah kebingungan lainnya seperti nama buah-buahan, sayur-sayuran (saking clueless soal bentuk sayur, saya sampai malu nanya di carrefour kalau butuh sayur tertentu. Takut diketawain petugasnya), gasol, dan sebagainya.

Kebayang dong, ya, ribetnya hidup saya saat ini. :))))

Sekarang tiap hari kerjaan saya ya ngubek-ngubek Om Google soal MPASI ini. Udah entah berapa banyak jadwal MPASI orang yang saya print, belum lagi nonton Youtube cara bikin MPASI. Bukannya tambah pintar, yang ada tambah bengong.

Sampai akhirnya saya nemu video mengenai MPASI dari dr. Tiwi (dokter spesialis anak) yang menenangkan hati banget. Beliau adalah dokter anak yang support ASI tapi nggak fanatik. Intinya adalah beliau menitikberatkan pada pertumbuhan anak, bukan cuma melulu ASI. Idealnya ASI 6 bulan, tapi kalau berat anak nggak nambah, ya pakelah sufor. Atau kalau bayinya udah berusia 4 bulan, boleh MPASI dini kalau ASI udah nggak bisa membantu menaikkan berat badan dengan maksimal. Begitu pula soal MPASI, kalau udah usia 6 bulan sebenarnya udah boleh makan apa aja. Mau sayur duluan, buah duluan, beras duluan, bebas! Beliau pro MPASI homemade karena tentunya lebih sehat. Tapi dalam keadaan darurat atau anak susah makan sampai beratnya stagnan, ya beliau saranin makanan instan karena di dalamnya udah terkandung semua komposisi gizi. Begitu pula soal dot. Kalau bisa ya pake soft cup, sendok, atau apapun yang bukan dot. Tapi kalau yang nantinya dititipin anak ribet, ya pakelah dot. Intinya nggak ada yang saklek, harus fleksibel, dan fokusnya harus pada anak. Adem banget, ya. Berasanya nggak dihakimi. Laff!

Setelah beberapa hari ini dengerin video beliau di Youtube, saya jadi nggak terlalu takut lagi buat MPASI. Kayaknya nggak bakal ada yang salah, MPASI tuh mudah, santai aja. Bring it on, MPASI!

PS: Eh, kalau mau MPASI harus beli apa aja, sih?