Review: Legend of Noodle

Setelah kemarin seringnya makan pizza, sekarang saya mau review restoran Korea. Walaupun saya suka banget nonton drama Korea, tapi saya hampir nggak pernah tertarik makan makanan Korea. Sebabnya adalah kalau di drama mereka makannya suka bunyi. Kan bukannya bikin saya nafsu pengen nyicip, tapi malah geli. Kalau mereka masak mie, biasanya pancinya langsung ditaro di meja dan makannya ya langsung dari panci. Jangan lupa seruputan mie-nya pasti kedengeran banget. Hahaha. Selain itu, saya juga merasa makanan mereka aneh. Kayak misalnya waktu itu saya lihat mereka makan daging, trus dagingnya dimasukin ke dalam daun, baru dimakan. Ini makanan apa, sik?

Sebagai orang yang nggak suka coba makanan baru yang aneh, ya tentu saja saya nggak tertarik untuk mencoba makanan Korea.

Tapi kemarin saya ditraktir seorang teman yang hobi banget makan makanan Korea, dan restoran ini adalah salah satu restoran Korea favoritnya, namanya Legend of Noodle. Letaknya di Senopati.

Tidak seperti resto di Senopati lainnya yang tampak hits dengan desain menarik, Legend of Noodle ini bukan tempat nongkrong berlama-lama, tapi ya untuk makan serius yang nggak pake nongkrong. Di depannya ada plang nama gede Legend of Noodle.

Masuk ke dalam, interiornya biasa aja. Ada meja makan dan kursi, hiasannya sedikit. Beneran buat makan lah dan bukan buat tempat foto yang instagramable.

IMG_20171127_133534.jpgIMG_20171127_133539.jpgIMG_20171127_133550.jpgIMG_20171127_133650.jpg

Kebanyakan yang datang ke restoran ini adalah orang Korea asli. Jadi pas di dalam berasa banyak amat yang ngomong bahasa Korea, semacam kayak di negeri aslinya.

Oh ya, makanan di sini ada yang mengandung pork ya. Tapi yang mengandung pork akan ditulis kok menu yang mana aja, jadi kalau nggak makan pork bisa pesan menu lainnya.

Sebagai orang buta makanan Korea, saya membiarkan teman saya yang memilih. Kita pesan makanan tengah karena kata teman saya porsinya besar. Yang kami pesan ini nggak ada yang mengandung pork karena teman saya Muslim.

IMG_20171127_122226_HHT.jpg

IMG_20171127_122229_HHT.jpg

Ini makanan pembukanya sambil nunggu menu utama muncul. Ini dikasih gratis. Saya nggak coba sih karena kok kelihatan aneh, tapi kata teman saya yang di atas itu rasanya kayak lobak.

IMG_20171127_122538.jpg

Jja Jang Myeon. Semacam mie goreng dan manis. 

IMG_20171127_122541_HHT.jpg

Haemul Jjampong. Mie kuah seafood. Seafoodnya buanyak banget, dari kerang, kepiting, udang. Beuh, pesta pora seafood lah. Kuahnya segar banget. 

IMG_20171127_123201.jpg

Ini menu baru, lupa namanya. Tapi ini semacam bihun tapi dingin. Kalau di menunya dibilang pedas, tapi buat kami nggak pedas, kok. Dia akan kasih botol cabe kalau kami merasa kurang pedas dan segelas kaldu kalau kami merasa kepedasan. Sebenarnya rasanya enak, cuma bihunnya terlalu kenyal jadi susah digigit. Kami aja motongnya pake gunting. Dan saya nggak kebiasa makan bihun tapi sedingin es jadi kurang terasa sedap, sih. Mungkin kalau hangat lebih enak.

IMG_20171127_123219.jpg

Aduh, ini blur banget, yak. Hahaha. Ini cheese chicken katsu. Ayam katsunya gede banget, ditambah cheese di dalamnya meleleh banget waktu dipotong. Enak banget nget rasanya. Dan ini adalah menu paling standar yang nggak terlalu ke-Korea-an sehingga kami semua bisa makan. Hahaha.

Untuk minumnya kami minum teh jagung yang sudah tersedia di meja dan bisa refill sampe kembung. Untuk harganya sendiri, kalau nggak salah paling murah Rp 85.000. Kalau kata teman saya, ini hitungannya murah karena porsinya GEDE banget. Beneran kayak bisa nyemplung di mangkoknya saking gedenya. Jadi bisa banget satu mangkok makan rame-rame. Dan dibandingkan restoran Korea lain, di mana Jja Jang Myeon harganya di atas Rp 100.000, yang ini hitungannya murah.

Oh ya, kami udah berasa makanan ini porsinya gede banget, kan. Sampai di tengah makan tuh perut udah begah banget dan kami harus bungkus. Tapi pas lihat sekeliling di mana orang Korea asli yang makan, mereka makan satu porsi itu untuk sendiri. Daebak! Perutnya segede apa, ya?

Karena bumbunya cukup banyak dan bisa ciprat ke baju, kita boleh lho minta celemek. Kami sih minta celemek karena lihat orang-orang Korea itu minta duluan. Karena kalau nggak kami nggak tahu ada celemek dan nggak ditawarin juga.

Jadi begitulah pengalaman pertama saya makan makanan Korea. Kalau menurut saya yang sukanya makan makanan standar, yah okelah, masih bisa saya makan. Tapi kayaknya emang makanan Korea tuh bukan favorit saya banget, deh. Hahaha *balik lagi makan pizza*. Tapi kalau mau coba segala macam mie Korea yang otentik, cobain deh Legend of Noodle ini. Resto ini sih selalu rame, ya. Jadi harusnya enak, setidaknya bagi orang asli Korea sih senang banget makan di sini. Dan ingat, jangan makan sendirian karena porsinya super gede.

Selamat mencoba!

Legend of Noodle
Jl. Senopati No. 81, Senopati, Jakarta

 

Advertisements

Makan Pizza, Yuk!

Beberapa minggu belakangan ini ada beberapa restoran pizza yang saya coba. Iya, saya segitu sukanya sama pizza sampai kalau ada restoran pizza baru, saya pasti coba. Hahahaha.

Pizza Place
Pizza Place ini terletak di Como Park, Kemang. Tempatnya kecil, benar-benar sempit. Bukan untuk tempat nongkrong lama-lama karena pasti banyak yang antri mau duduk juga. Karena letaknya dekat taman luas di mana bisa bawa anjing main-main di sini, jadi pizza-nya bisa di-take away sambil nongkrong di luar nungguin anjing-anjingnya main.

Pizza-nya dijual per slice dan potongannya gede banget. Saking gedenya, cukup makan 1 slice udah kenyang banget. Harganya rata-rata Rp 30.000. Murah, tapi dengan rasa yang enak. Cheese-nya berasa, dagingnya nggak pelit. Bumbunya di meja juga lengkap. Ada permesan, chilli, saos yang bisa diambil sepuasnya. Sedap! Pilihan pizza-nya ada cheese pizza, pepperoni pizza, ricotta white pizza, dan sicilian square pizza. Untuk minumannya mereka jual air mineral dan berbagai minuman soda kayak Coca Cola, Fanta, dll.

Saya suka banget ke sini karena sambil bisa bawa Kaleb main sama anjing-anjing di taman yang lucunya minta ampun. Biasanya saya tinggal ngawasin di pinggir taman sambil makan pizza dan Kaleb main sampe puas.

IMG_20171007_170234IMG_20171007_170903IMG_20171007_171223IMG_20171007_173512

 

Pizza Place
Como Park, Jl. Kemang Timur Raya No. 998, Kemang, Jakarta

Pizza Time
Pizza Time ini baru buka banget di dekat Permata Hijau. Letaknya di pinggir jalan raya dan tulisan Pizza Time yang besar dan penuh lampu bikin penasaran bikin pengen coba.

Tempat parkirnya nggak besar. Jadi kalau nggak kedapatan parkir, bisa parkir di jalanan samping Pizza Time (tinggal belok kiri aja). Kalau udah kelewatan Pizza Time ini akan cukup jauh dan macet putar baliknya. Jadi kalau nggak dapat parkir tepat di depannya, langsung belok kiri aja, ada jalanan kecil tepat di samping Pizza Time bisa untuk parkir juga.

Masuk ke dalam, ruangannya terasa besar karena atap yang tinggi jadi kelihatan luas. Ada indoor dan outdoor untuk smooking. Desainnya kesannya maskulin dengan dinding berwarna hitam dan dinding batu-bata.

Beli-nya langsung ke kasir, bayar, dan nanti diantarkan makanannya. Selain pizza, ada pasta, gelato, rice bowl, dan snack seperti french fries.

Pilihan menunya cukup banyak. Ada big pizza yang berbentuk lingkaran dan dibagi beberapa slice. Di atasnya diberi topping, kayak pizza Domino’s atau Pizza Hut. Lalu ada pizza calzone, di mana topingnya justru ada di dalam pizza-nya. Kalau ini bentuknya setengah lingkaran. Untuk yang calzone ada yang sweet calzone jadi isinya manis, seperti coklat, dll. Pizza di sini nggak tebal rotinya, tipis. Karena tipis itulah jadi berasa banget topingnya, bukan yang cepat kenyang karena roti.

Untuk big pizza harganya Rp 37.000-39.000, tergantung toping pizzanya. Kalau untuk calzone Rp 24.000-30.000, tergantung isinya juga. Buat saya sih enak banget.

Gelatonya harganya Rp 14.000 per scoop. Menurut saya gelatonya biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi bukan yang luar biasa enak. Apa karena saya pernah makan Tempo Gelato yang rasanya endeus banget, besar, dan cone-nya tuh garing banget ya?

 

Pizza Time
Jl. Panjang Arteri Klp. Dua, Kebon Jeruk, Jakarta
@pizzatime_jakarta

Mastercheese Pizza
Nah, ini baru banget buka. Kemarin saya datang ke sini masih banyak papan bunga ucapan selamat di depannya. Letaknya di Tanjung Duren.

Tempatnya nggak seberapa besar, tapi jarak antar mejanya nggak terlalu berdekatan jadi cukup ada space. Sama seperti tempat pizza sebelumnya, kita datang ke kasir, pilih menu, dan bayar. Nanti akan diantarkan ke meja kita.

Uniknya, yang pertama kali mereka tawarkan adalah pilih minuman dulu, baru pizzanya. Untuk pizza-nya sendiri adalah jenis pizza yang topingnya ada di dalam, bukan di luar. Dan spesialisasi di sini adalah cheese. Jadi mau pizza apapun, pasti mozarellanya meleleh. Sebagai orang yang suka banget keju, saya bahagia banget lah dapat pizza kayak gini.

Ditambah lagi, pilihan sausnya ada 3, yaitu blackpepper, barbeque, dan cheese. Karena saya pesan cheese pizza, jadi saya minta sauce-nya rasa barbeque. Suami pesan pepperoni pizza, sauce-nya black pepper. Menurut saya, sauce barbequenya nggak terlalu enak, saya nggak suka jadi nggak diabisin. Tapi black peppernya enak banget dan pas rasanya.

Harga pizza-nya rata-rata Rp 26.000.

Selain itu kami coba cheesy wagyu hotplate rice dengan keju mozarella. Kalau nggak salah harganya Rp 29.000. Telornya bisa diminta setengah matang atau matang. Nanti semua toppingnya akan diaduk. Rasanya enak, wagyunya berasa. Nasinya jadi berasa lembek karena ada campuran keju dan telor.

IMG_20171126_130006.jpg

Kyaaa, kejunya banyak sekali

IMG_20171126_133048.jpg

Mastercheese Pizza
Jl. Tanjung Duren Raya No 363, Jakarta Barat (sebelah Foto Praga Fujifilm)
@mastercheesepizza

Dari ketiga pizza ini, saya sih suka semuanya. Semuanya kenyangnya pas, rasanya pun enak-enak. Paling penting, mereka nggak pelit sama keju. Hahaha. Udah pasti saya mau balik lagi, dong.

Tempat pizza favorit kamu di mana? Share, dong.

 

 

 

Review Baper: Go Back Couple

I need to write one post alone about this drama after it’s completely finished. Ceritanya masih baper banget karena tiba-tiba habis. Padahal rencananya 16 episode, tapi jadi 12 episode saja. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.  #eaaa

Btw, nanti saya nulisnya campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia karena saya nggak mampu menemukan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang nggak terlalu cheesy.

The Casts

confession-spouses-son-ho-jun-and-jang-na-ra-2

*tepuk tangan buat akting 2 orang ini*

Kalau Jang Nara aktingnya jago banget mengaduk-aduk emosi mungkin orang bisa maklum karena di drama-drama sebelumnya dia pun bermain bagus. Tapi angkat topi untuk Son Ho Joon yang sungguhlah keren banget aktingnya. This is his first lead male role on a drama, but he did so good. Their chemistry is so good and belivable. When they are happy, I am happy; when they cry, I cry; when they are angry, I am angry too. That good.

The Story Line

It was so good because it was a story that everybody can relate too, especially if you’re married. It can happen to anyone, it might be you, it might be you friends, it might be your family. It is not just about love. Probably I wouldn’t cry much if it’s just about ordinary love, but it’s about family. You will experience the warmth of the family and the friendship. The relationship between Ma Jin Joo and her mother is making you want to hug your mother. They’re just lovable. You will fall in love and broken hearted as well. You will laugh and cry with them.

Everytime Choi Ban Do and Ma Jin Joo remembered Seo Jin, their toddler son, my heart was broken into pieces. Their journey to feel their love again touched my heart.

No, it’s not a all-episodes sad drama. In fact, it was funny and refreshing. But at the same time it was so touching that you feel all their pains and struggles.

It was a heart wrenching and heart warming story.

My Thoughts

A lot of viewers were torn between the lead male and second lead male. Choi Ban Do, as the lead male, was probably not everyone’s favorite in the beginning. Dia tengil, kelihatan ngeselin, dan cuek. Tipe suami yang nggak peduli kesusahan istrinya di rumah. Sementara Nam Gil kebalikannya, terlepas dari wajah gantengnya yang ampun bikin ngiler, dia adalah orang yang manis, sopan, dan perhatian.

But I am always #teamChoiBanDo because as you get deeper into the story, you’ll find out how hard he works for the family and how big his love for his own family and Ma Jin Joo’s family. Choi Ban Do adalah orang yang merasa bahwa sebagai suami dan ayah, dia yang harus melindungi keluarganya, berjuang mencari nafkah, berusaha tampak tough di depan istri dan anaknya dan mengesampingkan emosinya sendiri demi keluarganya bahagia. He hated his job, he hated how he had to kiss some asses to make his job worked, but he did it anyway because he’d do anything for his family.

As he struggled at work, he went back home to find out his wife feeling sorrow due to her mother death. He thought, he had to be the tough one, he had to be happy all the time to make his wife happy. He forgot that sometimes a wife needed his husband to cry with her to feel her sadness.

While Nam Gil probably liked Ma Jin Joo, who was trapped in 20 year old girl, because she gave him motherly love. Nam Gil was left by his mother, his father married again with other woman. So, Nam Gil had this hole in his heart. He didn’t have the love he needed from his mother and it made him feeling angry towards his mother. When Jin Joo came, he got all the love he needed from his mother. I guess, Nam Gil needed to heal his scar first. That is why, he was still confuse with his feeling. He liked Jin Joo but it wasn’t love. And it wasn’t as big as Ban Do’s love.

Nam Gil stayed in his place when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He knew the car was coming, but he didn’t move or try to save Jin Joo. Because the love wasn’t that big to willing to sacrifice his life. He didn’t try to hug or comfort Jin Joo when Jin Joo cried on bended knees. He just saw her tearing apart, just because he was confused with his feeling.

It was different with Ban Do. Ban Do wasn’t thinking when he saw Jin Joo was almost hit by a car. He ran saving Jin Joo because Jin Joo’s life is his happiness. The moment when Ban Do decided to stay in the past just because he saw Jin Joo needed to be with her mother than be with him or Seo Jin.

As Ban Do said, “You who fill my heart is more important than Seo Jin who fill my mind”. Crying. Such a family man.

*BYAR. NANGIS LAH GUE!*

He was willing to lose the chance to meet his son just to make his wife happy. *tisu mana tisu*

Adegan lainnya yang sungguh ku suka banget dan bikin terharu adalah ketika ibu Jin Joo bilang, “You can live without your parents, but you can’t live without your child.”

*pel air mata*

I guess what Jin Joo needed after all this time was a closure with her mother. Dulu ibunya meninggal dan Jin Joo tidak bisa menemani di saat terakhir karena harus “menyelamatkan” Ban Do. Akhirnya dia terus-menerus merasa marah terhadap Ban Do dan merasa tidak punya perpisahan yang baik dengan ibunya. Ketika sekarang bisa ketemu ibunya dan ibunya melepaskan dia pergi, that was the closure she needed all this time. That made her able to focus on her future with her own family and leave her sorrow behind.

Senang banget karena pada akhirnya bukan cuma mereka menyadari bahwa mereka masih punya cinta yang besar, tapi akhirnya mereka berusaha keras mengembalikan keluarga mereka. :’)

The scenes

23668030_333266483811939_356199522101100544_n

Kelar. Bajir air mata banget di sini.

Banyaaaak banget adegan favorit:

  • Waktu Ban Do lihat Jin Joo kesakitan karena mens. Dia langsung ke apotek beli obat kram, pilih yang dosisnya paling baik buat Jin Joo, lalu membelikan pembalut. Bahkan dia ingat pembalutnya harus yang bersayap supaya Jin Joo merasa nyaman. Kemudian dia bawain air putih karena Jin Joo kebiasaan makan obat pake soda. Lalu dia memberikan tasnya sebagai alas supaya Jin Joo bisa merebahkan kepalanya di atas tas itu dan dia mulai pijat pinggang Jin Joo yang kram. Ternyata, dulu Ban Do selalu mijitin Jin Joo tiap dia kram, mau sampe ngantuk sekalipun. *boleh ku minta dipijitin juga?*
  • Semua adegan Jin Joo dengan ibunya. Terutama adegan terakhir waktu closure, ketika ibunya melepaskan Jin Joo. Sungguh ya semua ucapan ibunya pengen dijadiin quotes karena bagusss semua. Lalu ucapan terakhirnya adalah, “You can do anything if you raise a child.” *duh duh duh jangan nangis, jangan nangis. TIDAK, AKU PASTI NANGIS!*
  • Sebelum berpisah, Ibu Jin Joo bilang bahwa nanti ketika dia sudah tidak ada tolong kunjungi ayahnya dan hibur dia. Selama ini Jin Joo menyimpan kekesalan sama ayahnya, karena setahun setelah ibunya meninggal ayahnya bilang dia mau nikah lagi. Gimana bisaaa? Air mata Jin Joo aja belum kering, kok ayahnya tega menikah lagi. Ternyata oh ternyata, ayahnya sengaja bilang seperti itu supaya Jin Joo nggak merasa sedih. Dan sementara Jin Joo sibuk sama rasa dukanya yang berkepanjangan, Ban Do lah yang selalu mengunjungi dan menghibur ayah Jin Joo. *Nam Gil nggak ada apa-apanya kalau kayak gini. Hiks.*
  • Cinta Ban Do yang besar banget buat keluarga Jin Joo. Diam-diam Ban Do selalu memberikan uang ke ibu Jin Joo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal Ban Do sendiri mati-matian dalam pekerjaannya.
  • Waktu Ban Do memutuskan untuk membiarkan Jin Joo bersama ibunya walau artinya mereka nggak bakal bisa ketemu anaknya. Kebahagiaan Jin Joo lebih penting. *di sini saya kayaknya udah bengek nangis terus, deh*
  • Waktu Jin Joo bilang ke Ban Do, “Yeobo, let’s go to our home.” *iya, saya nangis lagi. Sudah jangan dihitung berapa kali saya nangis*
  • Ketika akhirnya Ban Do dan Jin Joo kembali ke masa sekarang dan bertemu anaknya. Mereka bertiga pelukan. *bengkak deh mata saya*
  • Kayaknya post ini nggak bakal tamat kalau saya ceritain semua adegan favorit soalnya banyak banget.

The Kiss

23667864_145083569462475_6596798586715897856_n

Won’t complain even if this the only kiss on the drama. A beautiful one.

The one and only kiss between Ban Do and Jin Joo. The kiss that worths all those tears. A simple kiss that tied the knot again. It’s beautiful. And most importantly you can see Ban Do and Jin Joo’s love through the kiss.

The Soundtrack
Lagu-lagunya bagus dan pas banget. Sampai kalau lagi dengerin lagunya, saya masih bisa tahu ini untuk adegan mana. Terlalu melekat.

The post-drama syndrome

Oh, jadi begini rasanya baper banget sama satu drama, ya. Padahal happy ending, tapi kayak ada perasaan hampa begitu selesai. Saya kayak mengalami satu journey yang terlalu mengaduk-aduk emosi, sampai saya harus mengulang berkali-kali tiap episode-nya untuk mencerna rasanya. Saya bahkan sampai menganalisis kenapa saya harus nangis berkali-kali nonton drama ini. Awalnya saya pikir karena waktu itu lagi PMS jadi lebih sensitif. Tapi kemudian saya tonton adegan yang sama di lain waktu ketika tidak PMS lagi dan hasilnya ya nangis juga. Malah untuk 2 episode terakhir, antisipasi supaya saya nggak nangis-nangis amat, malamnya saya lihat semua spoiler-nya di Instagram, yah walau belum ada teks, ya. Semua adegan yang berpotensi bikin sedih udah saya antisipasi. Paginya pas nonton, udah cek dulu bukan lagi PMS dan nggak lagi mens *hahahaha penting bok!* dan udah yakin nggak bakal nangis karena udah tahu adegannya. Ternyata ku salah menduga. Paham arti dari setiap adegannya akhirnya bikin saya nangis tersedu-sedu lagi. Sambil dalam hati bilang, “Sial, kenapa gue nangis? Kan gue udah persiapan!” *ambil tisu sekotak* *mata bengkak*

Dan kayaknya ini drama Korea satu-satunya yang bisa bikin saya nangis sesenggukan tiap episode. Dan sebel banget gitu karena awalnya saya pikir ini lucu. Iya emang lucu, tapi kalau udah mengharukan bikin nangis banjir. Baper banget karena rasanya terlalu dekat di hati, terlalu real, terlalu hangat, terlalu bagus. Oh ya, quotes di drama ini bagus-bagus semua rasanya pengen ditulis dan dikumpulkan di satu buku. Moral of the story is marriage is hard even though you have the love. But as long as you want to work that love out, you will find the way. :’)

 

Jadi kamu udah nonton Go Back Couple belum? Kalau udah cerita-cerita sama saya, yuk.

 

 

Quick Review: Go Back Couple & Because This Is My First Life

Dari 5 drama Korea yang saya tonton: While You Were Sleeping, Because This Is My First Life, Mad Dog, Go Back Couple, dan Revolutionary Love; belum ada yang tamat. Semuanya masih on going. Tapi ada 2 yang paling menarik banget buat saya: Because This Is My First Life dan Go Back Couple.

Go Back Couple

5130_gobackcouple_nowplay_small

Awalnya nonton drama ini karena ada Jang Nara. Suka banget sama dia sejak main di My Love Patzzi, tahun 2002. Udah 15 tahun yang lalu, cing! Dan mukanya doi awet muda aja, kayak waktu berhenti dan dia nggak bertambah tua. Ku harus menyembah keajaiban skin care Korea.

Sinopsis: Sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun (?) dan punya seorang anak balita. Kehidupan pernikahannya jadi hambar, penuh dengan rutinitas dan salah paham, sibuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga lupa saling cinta. They’re growing apart. Satu waktu rasa muaknya memuncak dan mereka memutuskan cerai. Tiba-tiba mereka kembali ke masa kuliah, saat pertama kali ketemu. And the story begins… (again).

Karena poster serialnya yang lucu, saya pikir ini awalnya romcom dong, ya. Bakal ketawa ngakak-ngakak. Iya bener, ada yang lucu. Tapi yang tidak diantisipasi adalah………kenapa saya bisa nangis termehek-mehek waktu nonton? Bukan cuma satu, tapi di dua episode! (sejauh ini udah ada 10 episode. Yang bikin nangis episode 8 dan 10).

Sungguh drama yang mencabik-cabik emosi dan hati.

Selama sejarah nonton drakor, mau sesedih apapun, saya nggak pernah nangis. Ini tuh sampai nangis sesenggukan, kan ajaib yah. Hahaha.

Ternyata yang bikin nangis adalah karena sebagai orang yang menikah agak lamaan dikit dan punya seorang anak balita, jalan ceritanya relatable banget. Sibuk sama kerjaan, jalani rutinitas tiap hari, ngurus anak, kelelahan, stres, berantem. Saking terlalu dekatnya, saya suka ngomong, “Ah, gue tahu itu rasanya.” Langsung gloomy, sedih, trus pengen meluk suami dan anak. 😦 Marriage is not easy.

Tapi ketika mereka balik ke jaman 90an pas masih kuliah. Aduh, ini lucu. Jadi ingat masa-masa 90an semacam golden memories, trus kangen karena saat itu hidup rasanya lebih muda dan menyenangkan sekali. Saat naksir-naksiran satu kampus dan jadi semangat kuliah dan rasanya apa sih yang nggak bisa kita capai waktu itu. Ah, those naive thoughts.

Ketika awal Ma Jin Joo dan Choi Ban Do balik ke masa lalu, mereka happy banget, “Gila, ini waktunya gue restart semuanya. Nggak bakal bego lagi jatuh cinta ama dia, apalagi sampai nikah. Gue bakal pacarin orang yang dari dulu gue taksir dan have fun. Wohoo!”

Dan iya, mereka jadi dekat dengan gebetan masing-masing pas kuliah. Karena dengan mental age yang dewasa, tapi terperangkap di tubuh anak kuliahan, mereka jadi lebih pede dong untuk deketin gebetannya. Akhirnya gebetannya juga naksir. Sounds perfect, ya.

Tapi mereka lupa bahwa cinta dan bonding yang mereka punya selama 10 tahun nggak langsung hilang begitu saja. They still care for each other. Terutama ketika ingat anaknya; di mana kalau mereka kuliah berarti anaknya belum ada. Pas Ma Jin Joo sering nangis tersedu-sedu ingat anaknya dan Choi Ban Do kangen anaknya; duh sebagai ibu saya langsung berasa hati ini retak. Tahu banget rasanya, tahu banget sakitnya. Kayak jadi bingung, “Gue senang bisa mulai yang baru, bisa dekat sama gebetan gue, dunia kayaknya indah. Tapi gue kangen banget anak gue. Kalau gue ga nikah sama dia, gue ga bakal ada anak gue yang gue sayang banget.” Dilema abis. Hfft.

*garuk-garuk tembok*

Kim Nam Gil, sebagai second lead male, tuh mencuri perhatian banget. Wajah mah udah ganteng, postur tinggi tegap, baik hati, tajir melintir, care, hanya hati yang sedikit rapuh aja. Sementara Choi Ban Do itu sosok muka yah standar, jauhlah dibandingin Kim Nam Gil; postur nggak terlalu tinggi, tengil, nyebelin, cuek. Pokoknya awal-awal sebel lah sama Choi Ban Do.

Tapi semakin dalam ceritanya, semakin bisa melihat dari sudut pandang Choi Ban Do, sungguh hati ini meleleh nggak kuat. Iya dia tengil, iya dia cuek, tapi sesungguhnya dia sayang banget sama Ma Jin Joo dan Seo Jin, anaknya. Dia kerja mati-matian sebagai sales obat, rela dikacungin sama Dokter Park untuk nyembunyiin perselingkuhan dese, entertaining orang-orang supaya mau beli obatnya, kadang-kadang harus merendah banget sampe diinjak-injak harga dirinya. Semua demi berusaha cari uang yang banyak demi keluarganya. Karena sering lembur, sampe rumah udah malam, udah capek, bawaannya pasti emosi, tapi nggak bisa cerita juga kondisi kerjaannya ke istrinya.

Sementara Ma Jin Joo sosok ibu rumah tangga lulusan universitas yang merasa duh gue harusnya bisa lebih daripada sekedar di rumah. Tapi dia memutuskan untuk mengurus rumah dan anaknya. Ibu-ibu pasti tahu stresnya ngurus anak sendiri sambil beresin rumah *ingat masa-masa nggak ada ART pas lebaran.* Nggak sempat ngurus sendiri karena udah tahulah anak balita itu clingy banget sama ibunya. Ke kamar mandi diikutin, ke mana-mana harus lihat Mama, rumah berantakan, beresin, diberantakin lagi, ulang 100 kali. Nggak sempat dandan, nggak sempat merhatiin diri sendiri. Pas keluar rumah penampilan busuk banget sampai bikin self-esteem jatuh. Suami pulang malam terus, nggak sempat ngobrol mendalam, dua-duanya emosi karena capek, jadi ya makin lama makin hambar.

Tapi ketika mereka balik lagi ke jaman muda dan tidak dihadapkan pada situasi mereka terikat pernikahan dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan, akhirnya baru sadar sebenarnya Choi Ban Do peduli banget sama Ma Jin Joo. Ya mungkin dulu salahnya tidak diutarakan, mungkin dia nggak pengen bikin pusing istrinya kalau tahu kondisi kerjaannya seperti itu, mungkin karena sibuk memenuhi kebutuhan hidup dia jadi nggak ingat merayakan ulang tahun pernikahan, memberi hadiah, dsb. Tapi pada dasarnya cuma Choi Ban Do sayang banget sama Ma Jin Joo. Cuma ya biasalah, cewek kan pengennya pasangannya romantis, perayaan itu adalah big deal, mau didengerin dan ditanyain hari-harinya gimana, dsb.

Scenes yang bikin saya nangis ada di episode 8, waktu mereka nangis diam-diam karena sama-sama kangen anak. Udahlah ya kalau menyangkut anak, ijk bisa sensitif banget. Di episode 10 nangis pas Choi Ban Do menemui Ma Jin Joo nangis sambil bilang dia juga kangen mertuanya (yang di kehidupan sekarang udah meninggal) dan kenapa dia selalu aja bikin segala sesuatunya jadi salah. BYAR KELAR GUE NANGIS!

Sementara adegan-adegan kecil lainnya yang bikin hati ini tersentuh adalah pas Ma Jin Joo selalu menolak dibawain buah peach sama ibunya karena Choi Ban Do alergi buah peach, padahal buah peach itu kesukaan Ma Jin Joo. Trus pas Ma Jin Joo keram karena mens, Choi Ban Do langsung beliin pembalut dan obat kram. Lalu dia datang bawa air putih karena tau Ma Jin Joo pasti minum obat sama minuman ringan dan refleks pijit-pijit punggung Ma Jin Joo. Ternyata pas mereka nikah, Ma Jin Joo emang selalu kesakitan pas mens dan Choi Ban Do langsung pijit-pijit, mau lagi ngantuk juga tetap dipijit. AKU MELELEH! :’)

Masih 10 episode dari kabarnya 16 episode. Tolong, ini tingkat kebaperan dan air mata yang dikeluarkan sudah banyak, semoga endingnya nggak mengecewakan. Saya #teamChoiBanDo banget, jadi walau Kim Nam Gil sungguhlah sempurna dan kayaknya masa depan Ma Jin Joo bisa lebih enak, tapi semoga itu bukan itu endingnya *harap-harap cemas*. That I hope it says, “marriage is hard, at some point we take each other for granted, we misunderstood, but love stays, love will find the way.” Jangan bikin air mata ini terbuang sia-sia! XD

Becuse This Is My First Life

because_this_is_my_first_life-p1

Drama ini baru saya lirik ketika sudah 6 episode penayangan. Awalnya nggak tertarik karena tokoh cowoknya kok ya kurang sedap dipandang mata; rambut alay belah tengah, kaku, baju ala nerd. Duh, sungguh kurang menggoda iman untuk dikecengin. Tapi karena banyak yang bilang bagus, baiklah mari kita coba.

Dan benar bagus!

Sinopsis: Nam Se Hee sewain kamar di rumahnya karena butuh dana tambahan buat bayar KPR rumahnya yang masih luama banget habisnya. Sementara Ji Ho butuh tempat tinggal yang nggak pake deposit. Ketemulah mereka. Eh, tiba-tiba kejebak kawin kontrak.

Tema kawin kontrak ini udah umum banget. Paling entar lama-lama cinta bersemi. Yang bikin beda adalah Nam Se Hee ini adalah cowok paling logis, rasional, muka datar, nggak punya emosi, yang cinta mati sama rumahnya dan kucingnya, lainnya nggak dianggap. Ketemu sama Ji Ho yang lebih lively, tapi polos banget, umur 30 tahun nggak pernah pacaran. Tinggallah serumah mereka berdua, jadinya hanya hal-hal absurd yang terjadi. Kocak banget!

Selain kocak, cinta yang muncul secara awkard dan berusaha dijelaskan pake logika oleh Nam Se Hee ini yang bikin makin jatuh cinta. Cinta tuh buat dia nggak ada, tapi dia nggak mampu menolak rasa itu tumbuh ketika Ji Ho datang. Makanya ketika dia merasakan emosi senang, cemburu, sayang, tapi berusaha dia jelaskan dengan rasional itu lucu banget. Bahkan pas mau cium Ji Ho aja dia jelaskan dulu perbedaan ciuman yang benar dan salah. Harus rasional. Oh tampang boleh nerd, tapi soal ciuman HE’S THE BEST! Diam-diam doi menyimpan kemampuan kissing yang daebak! *lalu mupeng*

Worry no more karena sealay apapun orang, tapi di tangan mbak capster salon, orang yang tadinya alay jadi ganteng banget bok. The power of poni di cowok-cowok Korea itu emang dahsyat ya (sekarang tahu kan kenapa poni Kaleb kayak jamur. Siapa tahu mirip Oppa-Oppa Korea, hahaha). Jadi sekarang kita bisa mengagumi wajah ganteng dan postur tinggi Nam Se Hee.

Ceritanya hangat, ringan, lucu banget, dan rasanya bikin berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sama ketika kita jatuh cinta pertama kali.

***

Jadi weekend-nya biasanya saya dihempaskan oleh kenyataan hidup di pernikahan Ma Jin Joo dan Choi Ban Do, kemudian Senin-Selasa saya disadarkan lagi bahwa cinta itu sesuatu yang manis dan menyenangkan. Jadi ada semangat lagi deh untuk mencintai. #eaa

Kamu udah nonton 2 serial ini belum?

 

(Bukan Sekedar) Review: Film Posesif

Wuih, ternyata saya hampir 1 bulan menghilang nggak nulis blog. Sebulanan ini lagi sibuk banget. Sibuk nonton drama Korea tiap  hari. Hahaha. Serius, saya lagi ngikutin 5 drama Korea yang bikin akhirnya sibuk mantengin oppa-oppa ganteng di sosmed. XD

Anyway, kemarin saya nonton film Indonesia di bioskop. Judulnya Posesif. Yang main Adipati Dolken dan Putri Marino. Cukup niat untuk nonton film ini karena saya sampai rela nonton di Plaza Senayan karena layarnya udah mulai dikit dan yang paling dekat di PS. Keniatan ini disebabkan banyak yang bilang film ini bagus karena temanya tentang relationship abusive alias kekerasan dalam hubungan. Berat ya bok!

unnamed (1).jpg

Baru di film ini, saya ngerasa Adipati Dolken cakep banget. Hihi. Plus, aktingnya bagus.

Sinopsis singkatnya tentang Yudhis dan Lala, anak SMA, yang pacaran. Lalu kemudian hubungannya mengarah ke kekerasan. Udah sesederhana itu.

Menurut saya, film ini bukan film yang menghibur, tapi film ini PENTING banget untuk ditonton. Bahwa kejadian kayak gini banyak terjadi di sekitar kita.

Mungkin ada yang mikir Lala kok bodoh banget ya, mau bolak-balik sama Yudhis padahal udah jelas Yudhis kasar, menyeramkan. Rela mengorbankan karir gemilangnya jadi atlet loncat indah, demi ngikutin Yudhis. Udahlah hampir dicekek, tapi malah Lala yang cariin Yudhis untuk kabur bareng.

Kelihatannya bodoh banget buat kita yang ada di hubungan yang normal. Tapi nggak semudah itu untuk keluar dari hubungan yang abusive.

Kebetulan saya punya beberapa pasien yang mengalami kekerasan dalam hubungannya. Dalam kasus saya, mereka semua sudah menikah. Mereka datang ke saya, bukan dengan keluhan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, mereka nggak sadar sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saya kasih contoh 2 pasien. Si Mawar dan Melati.

Mawar datang ke saya dengan keluhan insomnia sampai harus makan obat tidur dari dokter dengan dosis yang cukup tinggi, itu pun dia masih sulit tidur. Setelah ditelusuri, ternyata dia punya kecemasan suaminya akan membakar dirinya ketika tidur. Iya, dibakar. Dulu pernah ada kejadian di mana Mawar sedang tidur dan suaminya menyiram minyak tanah ke kamarnya. Untungnya tidak sampai nyala api. Suami Mawar ternyata mengalami bipolar disorders. Dia akan sangat baik ketika minum obat teratur, tetapi ketika tidak minum obat, moodnya langsung kacau balau. Masalahnya, suami Mawar merasa dia tidak bermasalah dan memutuskan untuk berhenti minum obat. Setiap malam Mawar hidup dengan penuh ketakutan. Mawar bukan orang yang berkekurangan, bahkan cukup kaya. Siangnya dia menghabiskan waktu untuk mempercantik diri di klinik kecantikan, lalu ikut kegiatan sosialisasi. Dia aktif di gereja.

Karena aktif di gereja pula, ia pun beberapa kali konseling mengenai pernikahannya. Namanya juga konseling di lembaga gereja ya, sarannya adalah bertahan dalam pernikahan dan doakan agar suami berubah. Begitu pula ketika ia cerita ke keluarganya, mereka menyarankan hal yang sama karena kita suci melarang adanya perceraian.

Sebagai orang yang cukup taat terhadap agamanya, didukung oleh lingkungan yang melarangnya untuk berpisah dari suaminya, Mawar akhirnya memutuskan untuk bertahan dalam pernikahannya walau konsekuensinya hidup penuh ketakutan dan dapat membahayakan jiwanya. Satu-satunya harapan adalah suaminya akan berubah.

Sekarang kita beralih ke cerita Melati. Melati menikah dengan suaminya tanpa proses pacaran lama. Waktu itu pertimbangannya, suaminya dari keluarga yang baik dan mapan. Selama 7 tahun menikah, mereka punya 2 anak. Semua orang memandang mereka sebagai keluarga yang bahagia. Tidak ada masalah dalam keluarganya, kata Melati. Hanya ada satu kekurangannya, suaminya hiperseksual dan suka meminta gaya aneh-aneh dalam berhubungan seks, sementara Melati merasa tidak mampu. Suaminya seringkali kecewa dan mencibir Melati. Sampai 2 tahun belakangan, Melati baru tahu suaminya selingkuh. Bukan cuma selingkuh, tetapi juga sering berhubungan seksual dengan PSK. Karena sakit hati, Melati pun selingkuh dengan temannya yang tinggal di luar kota sampai akhirnya ketahuan suaminya. Melati memutuskan untuk meninggalkan pacarnya dan mau memperbaiki pernikahannya.

Hubungan Melati dan suaminya terasa baik-baik aja. Waktu Melati ulang tahun, suaminya kasih surprise datang ke kantor sambil bawa kue. Waktu wedding anniversary, suaminya ajak makan di fine dining. Orang-orang di sekitarnya langsung bilang, “Suaminya baik dan romantis, ya.” Masalahnya, setiap habis melakukan kebaikan, suaminya akan mengungkit-ungkit kesalahan Melati, “Aku suami yang baik, kan? Nggak kayak kamu dulu selingkuh. Aku ini ML sama cewek lain nggak pake hati. Kamu itu pake hati. Beda banget!” Sampai akhirnya Melati merasa mikir dia memang bukan istri yang baik. Suaminya pun berkali-kali memaksanya untuk berhubungan seks, di saat Melati tidak mau.

Akhir-akhir ini Melati mendapati suaminya baru saja menginap di sebuah hotel. Waktu dikonfrontasi, si suami bilang iya dia emang nginep di hotel sama cewek, tapi nggak ML, kok *MUNGKIN GA, SIH?*. Kemudian dikonfrontasi ke ceweknya, ya tentu saja mereka ML lah. Suami langsung baik-baikin Melati, minta maaf, manis banget. Bikin Melati goyah.

Dalam kasus Melati, dia punya ibu yang sangat suportif yang sangat mendukungnya kalau mau bercerai. Melati pun merasa dia punya pekerjaan yang bagus, secara finansial stabil, dan punya rumah sendiri (rumah yang mereka tempati sekarang adalah punya keluarga Melati). Tapi Melati ragu untuk keluar dari pernikahannya karena berpikir, seharusnya Melati jadi istri yang baik supaya suaminya tidak selingkuh.

Dua kisah di atas cukup berbeda, tapi sama-sama mengalami kekerasan. Kekerasan itu bukan cuma mukul, lho. Tapi kayak di kasus Melati, dia mengalami emotional abuse dan sexual abuse.

Kalau kamu ada di hubungan di mana tiap saat pasanganmu merendahkanmu, membuat self-esteem mu jatuh, kamu akan tumbuh menjadi orang yang percaya bahwa apa yang dikatakan pasanganmu itu benar. Kayak misalnya waktu kecil, kamu dibilang bodoh terus sama orang tua, lama-lama kamu akan percaya bahwa kamu bodoh dan bahwa ya udah takdirnya kamu bakal gagal sebelum kamu berusaha.

Sama seperti orang-orang yang ada di hubungan yang penuh kekerasan, yang akan disasar duluan oleh abusernya adalah emosinya. Seperti kisah di film Posesif, Yudhis selalu bilang, “Cuma aku yang cinta kamu di dunia, aku nggak akan ninggalin kamu, cuma aku yang ngerti dan bakal melindungi kamu.” Begitu terus, sampai akhirnya Lala merasa tanpa Yudhis, dia nggak akan bisa bertahan di dunia ini.

Lala marah banget ketika Yudhis kasar dan langsung mutusin. Tapi Yudhis minta maaf sampai memohon-mohon dan baik-baikin Lala dan teman-temannya. Lala akhirnya mikir, “Oh, mungkin kali ini Yudhis akan berubah.”

Perempuan itu tipikalnya nurturing, seringkali mikir bahwa kita bisa mengubah seseorang. No, kita nggak bisa mengubah seseorang kalau orang itu nggak mau berubah. Kecil sekali kemungkinannya orang yang berlaku kasar akan tiba-tiba sekejap berubah.

Akhirnya ketika memaafkan, maka muncul honeymoon phase. Fase manis, baik, dunia milik berdua dan dia adalah pasangan sempurna.

Seperti ini fase kekerasan dalam hubungan:

Honeymoon phase (ketika semua dalam hubungan terasa sangat manis) –> mulai terjadi konflik dan ketegangan –> terjadi kekerasan. Lalu kemudian, abuser akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan balik lagi deh ke honeymoon phase. Siklusnya akan selalu seperti itu. Maka satu-satunya cara adalah keluar dari siklus itu.

Itupun yang terjadi sama Lala dan Yudhis serta Mawar dan Melati. Ketika Lala balik ke Yudhis dan tampak bahagia, saya sampai tegang sendiri di kursi dan berharap ini bukan ending. Karena kalau ending-nya mereka happy bersama-sama akan menjadi pesan yang salah untuk banyak orang dan merasa bahwa mereka hanya perlu bertahan lebih lama agar bahagia dengan pasangannya dan pasangannya akan berubah.

Walau endingnya mereka tidak bersama, tapi sesungguhnya saya agak kecewa juga karena Lala pisah dengan Yudhis bukan karena Lala MAU, tetapi karena akhirnya hati nurani Yudhis tumbuh dan merasa dia akan mengulang hal yang sama ke Lala sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan Lala. Masalahnya, di kehidupan nyata nggak banyak abuser yang akhirnya sadar bahwa perbuatannya ini bisa membahayakan. Seringnya mereka nggak sadar dan tetap memaksa pasangannya berada di hubungan ini.

Jadi, kalau kamu merasa kok ada ya orang mau bertahan dalam hubungan yang menyakitkan seperti itu, bodoh sekali. Bukan, mereka nggak bodoh kok, tapi secara emosional mereka sudah terganggu sehingga mereka akan merasa pantas berada dalam hubungan seperti. Please help them out. Jangan memberikan harapan semu, seperti mereka akan berubah, coba berdoa lebih banyak. Iya bagus kalau berubah, kalau misalnya malah makin parah dan temanmu dalam bahaya gimana? Si abuser butuh diterapi dan si korban juga butuh dapat tempat yang aman dulu.

Akhir kata, coba ajak teman-temannya nonton film Posesif biar awarnessnya lebih besar lagi dan nggak ada kejadian seperti Lala dan Yudhis lagi.

 

 

 

Review: Madagascar PS

Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman ke Madagascar Plaza Senayan, restoran bergaya hutan yang baru buka dan punya konsep yang seru banget. Sebagai mamak-mamak punya krucil, kami excited mau ke sana karena anak-anak pasti suka.

Waktu itu saya yang pertama kali datang, sekitar jam 13.00. Ada resepsionis di depan dan harus waiting list. Udah ketebak sih, secara lagi hits banget jadi pasti banyak orang yang mau ke sana, plus waktu itu weekend. Diminta untuk meninggalkan nomor telepon karena ketika ready mereka akan menelepon saya. Beklah. Kesan pertama, yang bagian resepsionisnya kurang ramah, nggak ada senyum sama sekali, dan terkesan jutek. Dia nggak pake baju seragam, jadi mungkin pemiliknya? Anak pemiliknya? Manajer? Entahlah.

Sepertinya masih lama menunggu, jadi saya memutuskan makan di restoran lain dulu karena bawa anak kecil, kan. Gawat aja kalau udah cranky karena kelaparan. Pas makan, teman-teman saya datang ke restoran lain itu karena kami tahunya akan ditelepon. Selama belum ditelepon, kami menunggu di tempat lain, dong.

Udah puas, kenyang, ngobrol ngalor-ngidul sampe 2 jam, baru sadar lho kok belum ditelepon. Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke atas lagi. Pada waktu tanya ke bagian resepsionis di depan yang tadi jutek, mereka bilang, “Oh iya, udah ready, nih.” Hmm, jadi bagian mananya nih yang bakal ditelepon?

Begitu memasuki pintu, emang suasananya bagus banget, kayak di hutan beneran dengan pohon-pohon menjuntai, lampu yang agak temaram, dan replika hewan-hewan seperti jerapah, gorila, macan, gajah yang gede banget seperti aslinya. Beberapa hewan bahkan bisa bergerak. Uwow, keren! Anyway, karena pencahaannya temaram jadi kalau mau foto harus pake flash atau ya hati-hati karena banyakan jadi blur. Huhuhu.

Kami duduk di meja ujung dekat gajah. Anak-anak sih excited banget karena serasa ada di kebun binatang. Secara dekorasi interior luar biasa bagus, sih. Empat jempol.

Sayangnya, lagi-lagi service-nya kurang. Pelayan di dalam nggak ada yang senyum, mungkin karena overload dengan banyaknya pengunjung, tapi tetap aja karena kami merasa sering dicuekin. Minta sesuatu susahnya minta ampun karena dengan tempat seluas itu, mereka nggak ada di dekat meja kami yang terletak di ujung, jadi kalau mau manggil ya ngamperin mereka.

Waktu itu kami pesan pizza, french fries, dan minuman. Iyes, akhirnya pesan snack aja saking kelamaannya nunggu jadi udah kenyang makan di tempat lain. Ketika diantarkan pizza dan french fries, hanya diberikan satu cup kecil sambal. Pada waktu meminta tambahan sambal, pelayannya hampir menolak. Loh, kaget dong kita. Kok minta sambal aja nggak boleh. Lalu kami bilang, “Sambal botol lho, Mbak.” Akhirnya baru boleh. Jadi sepertinya kalau minta sambal default racikan mereka untuk pizza itu nggak boleh nambah (karena dia lihat dulu ke meja kita sambalnya), tapi kalau sambal botol boleh. Duh, capek ya minta sambal aja repot. Rasa makanannya sendiri, sayang sekali biasa aja. Nothing’s special. Huhu.

Ada ular di atasnya!

Jadi kesimpulannya, tempatnya bagus banget, cakep buat foto-foto, tapi rasa makanan kurang, dan yang paling kurang adalah service-nya. Setelah selesai makan, kami kompak bilang satu sama lain, “Pelayannya pada jutek semua, ya.”

Semoga servicenya bisa diperbaiki, ya. 🙂

 

Review: Burza Hotel Jogja

OH IYA, belum sempat nulis review tempat saya menginap di Jogja, ya. Hihihi.

Pengennya nginep di Yats Colony ya, tapi sayang sekali hotel hits satu ini udah full booking. Huhu, ya sudah cari hotel lain lah. Pertimbangan cari hotel waktu itu adalah harus dekat ke mana-mana, terutama ke tempat wisata. Tadinya saya pikir Jalan Malioboro lah, tapi untungnya nggak pilih hotel di daerah sana karena macet banget. Harus ada kolam renang, karena walau bakal pergi-pergi terus, tapi siapa tahu pengen berenang di hari terakhir. Nggak perlu terlalu mahal karena, sekali lagi bakal lebih banyak di luar daripada di hotel. Harus ada sarapan karena nggak mau pusing mikirin sarapan ke mana tiap pagi, plus ada bocah yang perut harus diisi penuh dulu sebelum pergi daripada cranky.

Akhirnya dapatlah Burza Hotel di Jl. Jogokaryan. Secara lokasi sempurna banget karena dekat ke mana-mana. Dekat ke Alun-alun selatan, Taman Sari, Keraton, Jl Malioboro. Selempar kolor doang kalau mau ke Nanamia Pizza, Tempo Gelato, dan restoran hits lainnya. Pokoknya ke mana-mana asik dan nggak susah banget kalau cari makanan. Love!

Setiap kali pilih hotel, yang paling utama adalah nggak mau terlalu tradisional karena ku sungguh penakut. Jadi tentunya pilih yang minimalis modern clean ajalah. Tapi Burza ini menggabungkan keduanya. Lobinya dibikin kayak pendopo sehingga masih terlihat tradisional, tapi interiornya kamarnya modern minimalis jadi nggak ngeri buat saya. Bantalnya super empuk. Jarang-jarang saya bisa tidur nyenyak di hotel tapi di hotel ini saya bisa tidur nyenyak dari hari pertama. Alamak nikmatnya. Plus, lampu kamarnya nggak remang-remang sehingga saya nggak merasa gelap dan takut.

IMG_8628

Kamarnya nggak terlalu besar, but well cukup banget buat kami bertiga. Kamar mandinya juga kecil, tapi lagi-lagi bukan kekecilan lah. AC kamarnya nggak super dingin kayak di kutub selatan dan bisa diatur suhunya, plus dimatiin. Buat yang nggak kuat dingin kayak saya ini penting banget. Seringnya karena suhu yang terlalu dingin saya malah jadi nggak bisa tidur. Tapi no worries di sini suhunya bisa diatur dengan pas jadi tidur pun nyenyak.

IMG_8221

Ga besar, tapi cukup banget. Tempat tidurnya cukup lega. Bantalnya ada 4. Jadi ga rebutan bantal. Paling penting, empuk banget nget.

Restorannya bentuknya open space. Makanannya lumayan banyak dan selayaknya makanan pagi di hotel lainnya. Ada egg station, sereal, makanan berat kayak nasi dan lauk-pauknya, macam-macam roti, dessert puding dan cake, bubur, juice, susu, dan buah. Lengkap lah. Tinggal pilih mau makan yang mana.

Untuk rasa makanannya sih biasa aja, ya. Tapi lagi-lagi ini nggak bisa dijustifikasi karena 3 hari di Jogja, walaupun makan di restoran yang direkomendasi sekalipun, buat saya nggak ada yang istimewa. Yah oke, tapi bukan yang istimewa sampe pengen ngulang makan di situ. Kecuali Pizza-nya. Pizza di Jogja royal banget kasih keju yang bikin saya nagih dan berkali-kali makan pizza di sana. Makanan di Jogja itu menurut saya terlalu manis. Untuk lidah Batak yang sukanya pedas, hmmm… ku seperti makan makanan hambar. Nggak masalah sih, tapi kurang bikin terkenang. Eaaa!

Servicenya oke, semuanya ramah, penuh senyum, kalau minta apa-apa cepat. Dan harga makanan di restonya nggak mahal. Gilak, apa karena di Jogja semua murah ya? Jadi kalau udah kecapekan banget dan nggak mau keluar lagi, makan malam di hotel aja. Buku menunya pun mencantumkan harga udah disertai tax jadi nggak pusingin mikirin total harganya nanti jadi berapa. Efisien.

IMG_8285

Nah itu di balik itu kolam renangnya. Nggak terlalu besar, tapi cocoklah buat anak-anak. Ada balon flaminggo itu buat mainan dan foto-foto cantik. Dan kami malah nggak sempat berenang. Hahaha.

Itu semua kelebihannya ya. Nah, di bawah ini ada beberapa kekurangannya. Nggak sampai bikin kesal juga sih, tapi akan lebih baik jika diperbaiki:

  • Access cardnya cuma dikasih satu per kamar. Apalagi untuk naik lift perlu pake access card untuk pencet tombolnya. Jadi misal saya lagi di kamar dan suami turun ke bawah, dia harus pinjem access card ke pelayan untuk bisa naik ke atas. Ribet banget, kan. Misal, waktu itu dia masih main laptop di lobi, sementara saya udah tidur. Untuk masuk ke kamar, terpaksa dia ketuk-ketuk kamarnya dan bangunin saya. Coba kalau ada 2 access card jadi nggak susah, kan.
  • Handuk-handuknya bukan yang putih bersih, ya. Jadi karena udah keseringan dipake dan dicuci jadi kelihatan kusam. Huhu, serius deh yang ini perlu diganti banget.
  • Air di kamar mandinya ada panas dan dingin, berfungsi dengan baik. Kecuali kalau satu hotel mandi barengan. Kayak pagi hari gitu kan banyak tamu yang pasti mandi di jam-jam dari jam 6-9 pagi. Nah, kalau udah barengan gitu, suhu airnya nggak konsisten, tiba-tiba hangat, trus dingin. Lah, gimane? Padahal kalau mandi di jam yang nggak samaan, kayak di malam hari, suhunya konsisten, lho.
  • Baby chair cuma ada satu. Harus ganti-gantian, deh.

Itu aja sih kekurangannya. Selain dari itu, kami menikmati hotel tempat kami menginap, bisa tidur nyenyak, tidak ada keluhan. Jadi…. Yats Colony kapan nih nggak penuhnya? Hihihi.

 

Review: Kids@work

IMG_20170723_162138

Kemarin Kaleb main di Kids@work Gandaria City. Udah lama sih emaknya pengen bawa Kaleb main ke sini karena Kaleb kan suka banget sama segala sesuatu yang berbau truk dan kawan-kawannya. Tapi karena jarang ke Gandaria City, plus itu mahal (Rp 150.000 untuk 3 kali alat @5 menit) jadi yah belum jadi-jadi. Untungnya kemarin aunty-nya yang ajak. Horee!

Kids@work di Gandaria City adalah tempat main yang temanya Under Construction (sama kayak tema ultah Kaleb kemarin ya. Hihihi). Di sana anak-anak bisa experience menjalankan escavator beneran. Di tengah-tengahnya ada pasir. Anak-anak akan dikasih jaket dan topi pengaman kayak pekerja konstruksi beneran. Ada sekitar 5 escavator dengan fungsi yang berbeda-beda. Kalau masih kecil banget kayak Kaleb bisa ditemani sama pendamping, sih.

Nah, kemarin pas lewatin Kids@work ini Kaleb excited banget karena sesuai dengan kesukaan dia. Pas diajak main, awalnya excited banget bisa menjalankan si escavator. Eh, nggak menjalankan beneran sih, karena dia kan masih cukup kecil jadi ya dibantu pendamping dia cuma ikut-ikutan aja di kemudi. Tapi lama-kelamaan dia bosen karena ya selama 5 menit gerakannya itu-itu aja dan dia nggak terlalu paham cara menjalankannya, escavatornya juga diam di tempat. Jadi sebelum 5 menit, dia merengek cobain yang lain. Begitu cobain yang lain, bosen lagi juga dia karena gerakannya itu-itu aja. Yang ada dia malah pengen udahan karena udah ke-distract tempat mainan sebelah yang lebih heboh. Untung ya bukan Mamak yang bayarin. HAHAHAHA!

IMG_20170723_162400

Kesimpulannya, untuk anak umur 2 tahun belum terlalu cocok sih karena mereka belum terlalu paham cara kerjanya. Ditambah Kaleb punya ride on escavator di rumah yang sering dibawa ke taman yang ada pasirnya sehingga dia punya otoritas penuh untuk angkat dan turunin pasir, serta jalanin escavatornya. Kalau escavatornya besar kayak di Kids@work dan cara memainkannya agak rumit bikin anak 2 tahun nggak tertarik, nggak bisa jalan juga escavatornya.

Selamatlah uang Mamak, ye kan? Hihihi.

Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Review: My Secret Romance

Sejak drakor Goblin berakhir di awal Januari, hidup saya rasanya hampa. Goblin ini secara kualitas bagus banget sehingga rasanya drama lain terlihat biasa-biasa aja. Jadi kerjaan saya selama beberapa bulan kekosongan ini adalah mencoba nonton beberapa drakor yang katanya bagus, baru beberapa episode lalu nggak lanjut nonton karena bosan. Hampir nggak ada drakor yang saya tonton sampai tamat, kecuali Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Kim Bok Joo bisa saya tonton sampai habis bukan karena saya suka banget ceritanya, tapi karena yah okelah, pemeran utamanya lucu, ceritanya lumayan, beklah mari dihabiskan tontonannya daripada nggak ada.

Sampai akhirnya kehampaan ini berakhir ketika muncullah drama My Secret Romance.

my-secret-romance-poster1

Diperankan oleh Song Ji Eun dan Sung Hoon

Apakah drama ini kualitasnya menandingi atau setidaknya setara dengan Goblin? Nggak. Banget. Hahaha! Jadi ini drama super receh dengan kualitas biasa aja, setara FTV kualitas Korea (bukan FTV Indonesia yang parah banget itu, ya). Ceritanya apalagi, tipikal banget dan udah ada kira-kira sejuta drama Korea yang mengusung cerita seperti ini:

Cha Jin-Wook (Sung Hoon) is a son from a wealthy family. His family runs a large company. Cha Jin-Wook only pursues short term love. He meets Lee Yoo-Mi (Song Ji-Eun) and changes. Lee Yoo-Mi has never had a boyfriend before.

Duileh picisan banget lah: cowok kaya raya, tampan, arogan, playboy, naksir cewek miskin, cantik, polos, baik hati.

Yang bikin saya suka banget sama cerita ini ternyata ya karena ceritanya receh, gampang dicerna, chemistry mereka oke, cowoknya walau dibilang arogan tapi sama sekali nggak nyebelin juteknya karena masih kelihatan hangat, dan cowoknya yang usaha banget kejar-kejar ceweknya.

Bonus banget adalah sosok Sung Hoon yang alamak Tuhan pasti lagi bahagia banget pas nyiptain dia.

sung-hoon

15873189_1357343187619274_1251578781098459455_n

Wajar kan kalau dia didapuk jadi model underwear

AAAAAKKKKKKK!! Ada ya cowok seganteng dia yang rasanya pengen panjat dada bidangnya dan didekap. Duh, Mas! Manly abis. Menurut saya, dia tipikal cowok Korea yang nggak terlalu feminin. Masalahnya banyak cowok Korea yang menurut saya cantik, kurang cowok. Kalau Sung Hoon cowok banget!

Ya gimana nggak, dulu dia atlet renang. Berhenti karena cedera, lalu jadi aktor. Udah jadi aktor, dia bisa nyanyi, seorang DJ pula. Di film My Secret Romance, badan kecenya ini tentunya harus dieksploitasi, dong. Wakakaka! Jadi ada adegan dia berenang, pake tuxedo, baju kasual, jaket kulit. Sung Hoon mau dipakein baju jelek juga jadi bagus di dia. Duh Mas, makan apa sih kamu jadi bisa ganteng gini?

Sementara Ji Eun kayak boneka, polos, cantik, dan matanya bulat. Mau pake apa juga cantik dengan rambut yang walau ada angin kencang kok jatuhnya tetap bagus? WHY?

hqdefault

Jutek aja kok ya cantik, Mbak?

Untuk menambah kerecehan drama ini, semua adegan khas bikin baper kesukaan cewek-cewek tentu saja ada:

  1. Adegan one night stand ada di episode pertama. Bayangin, adegan hot di awal cerita! UWOOOWWW! *mata nggak kedip*

c9stclsuiaarkmo

 

2. Hampir di semua episode ada kissingnya. Kissingnya tuh bisa banget lah ada di kolam renang, pas masak di dapur, pas lagi duduk di sofa, dll. Pokoknya puaslah.

 

x240-s84

 

3. Cowok ganteng bawa anak kecil main di taman dan ajak date ceweknya sambil ngangon anak kecil. Coba bayangkan, udahlah ganteng, sayang anak kecil, jiwa kebapakan mencuat ke mana-mana. Sebagai wanita, hormonku langsung meluap-luap.

a32b4d0f-9691-4cb9-b0db-432a06e75889

Udahlah ganteng, sayang anak kecil. Kelar!

4. Konfliknya pun nggak panjang, paling sekitar 2-3 episode aja. Itupun nggak ribet, nggak menguras sedih berlebihan, malah menunjukkan sosok si cowok yang makin sadar cintanya udah mentok.

Jadinya sepanjang drama ini lebih dihabiskan untuk drooling kegantengan Sung Hoon, baper lihat Sung Hoon dan Ji Eun yang super cute banget dari berantem sampai pacarannya, dan selalu diakhiri dengan hati yang hangat karena happy banget nontonnya.

Jadi ternyata yang mengisi kekosongan hati setelah ditinggalkan Goblin malahan drama receh nggak penting tapi justru bikin senang dan hangat. Coba ditonton deh, nanti habis itu kasih tahu saya ya adegan yang paling kamu suka yang mana?

Ciao, mau mengagumi Sung Hoon dulu. :))))

 

*all pics are taken from Google Images