Berkawan Dengan Hewan di Faunaland dan De Ranch Puncak

Demi usaha supaya nggak ke mall terus, beberapa waktu lalu saya ajak Kaleb ke tempat-tempat outdoor yang kesemuanya berhubungan dengan hewan.

Faunaland
Faunaland ini terletak di Ancol, tepatnya di area Ecopark. Waktu itu kebetulan saya datang pas hari Jumat dan tanggal merah. Saya udah mikir bakal kena harga weekend, nih. Tapi ternyata nggak, lho. Harga yang berlaku adalah kalau weekdays (Senin-Jumat) Rp 60.000, weekend (Sabtu-Minggu) Rp 75.000. Fiuh, lumayan banget kan bedanya. Anak umur 3 tahun sudah bayar.

Areanya tidak terlalu luas dan hewannya nggak banyak macamnya, tapi hewan-hewannya dipelihara dengan sangat baik. Tempatnya juga bersih.

Kebetulan pada saat kami datang lagi ada bird show. Lumayanlah ya pembawa acaranya interaktif ketika berkomunikasi sama penonton. Ragam burung-burungnya juga lumayan banyak. Karena kami telat masuknya, jadi nggak terlalu lihat banyak. Tapi overall bagus kok pertunjukannya.

Setelah lihat bird show, kami ngikutin path yang ada di situ sehingga bisa mengelilingi seluruh Faunaland. Pertama-tama kami lihat area burung. Di situ bisa foto pegang burung. Tentu saja suami yang semangat, saya bagian foto aja. Kenapa? Karena dulu saya pernah sok banget mau foto sama ular trus berakhir saya ketakutan. Siapa tau kalau burung bisa matuk juga, kan? Okeh, baik….saya kayaknya penakut. XD Awalnya cuma suami yang mau foto bareng burung, tapi kemudian saya bujuk Kaleb juga siapa tahu dia mau. Eh, dia mau. Jadi burungnya ditaro di tangannya dan dia malah ketawa lucu. Gemes!

IMG_20180330_160416.jpg

Setelah mengitari area burung, kami ke area singa putih. Di depan area singa putih ada kura-kura galapagos yang ukurannya gedeeee banget dan usianya udah ratusan tahun. Saya udah sering baca soal hewan-hewan unik di Galapagos tapi baru kali ini akhirnya bisa lihat kura-kura Galapagos beneran.

IMG_20180330_161122.jpg

Setelah itu, kami menuju singa putih yang ukurannya gede serta beneran berwarna putih. Yang jantan ukurannya lebih besar daripada yang betina. Amaze banget lihatnya karena warnanya cantik dan bagus. Badannya pun gemuk dan dirawat dengan baik. Kandangnya dilapisi kaca jadi pas singa ini duduk dekat kaca serasa deketan banget. Wow!

IMG_20180330_161419.jpgIMG_20180330_161445.jpgIMG_20180330_161514.jpg

Dari area singa, ada keledai dan kuda pony. Kemudian ke area monyet. Ada monyet Dufan juga di situ, lucu bener bentuknya. Lalu ada area binatang-binatang kecil seperti kucing hutan, tarsisius, dsb. Ada tapir juga. Dia suka berendam di danau. Tapi yang paling bikin takjub adalah black panther yang galak banget. Dia letaknya di area depan. Pas kami deketin ke kaca, dia langsung nomprok ke kaca. Gila, kaget! Padahal pas di area singa yang badannya lebih besar, pas banyak orang lihat ke kaca, si singa santai aja duduk. Nah si black panther ini malah ngamuk. Mana yang lihat cuma kami bertiga. Setelah diperhatikan lagi, kakinya cuma 3. Dia lumpuh. Huhuhu, kasihan! Kayaknya dia diselamatkan, deh.

IMG_20180330_163814.jpgIMG_20180330_164010.jpg

Setelah puas mengelilingi Faunaland yang nggak terlalu besar, kami main di Ecopark. Ecopark nih cocok banget buat anak pecicilan kayak Kaleb karena areanya gede dan luas jadi dia bisa lari-lari sepuasnya. Akibatnya, disuruh pulang dia ngamuk. XD

IMG_20180330_162532.jpg

De Ranch, Puncak
Dulu kami pernah ke De Ranch, Bandung dan menurut kami bagus dan areanya luas banget. Makanya kami penasaran dengan De Ranch, Puncak. Setiap orang dikenai biaya Rp 20.000 yang bisa ditukarkan dengan segelas susu, dibayar pada saat masuk parkiran. Untuk mobil dikenai biaya Rp 10.000, dibayar pada saat pulang.

IMG_20180501_124214.jpg

Masuk ke area De Ranch, kami langsung ke loket untuk menukarkan tiket dengan susu. Ada pilihan rasa plain, coklat, dan strawberry. Setelahnya kami langsung menuju ke area permainan. Nah, kalau merasa tiket masuknya murah, itu karena di dalam tiap permainan dan makanan hewan harus bayar lagi. Harganya pun nggak murah. Kalau di Kuntum dengan harga Rp 5000 bisa dapat sekeranjang sayur dan wortel, di De Ranch Rp 25.000 cuma dapat beberapa helai sayur dan 1 wortel. SEDIKIT!

Jadi Kaleb mencoba area panahan boneka, pancing ikan (mana yah ikannya boongan, ada sih yang beneran tapi ikan kecil-kecil di kolam), masuk ke kandang domba dan kasih makan, naik kuda, masuk ke kandang kelinci dan kasih makan. Masing-masing permainan bayar Rp 25.000. Jadi kami mengeluarkan Rp 125.000 lagi di dalam. Dari semuanya yang paling berkesan adalah kasih makan domba. Karena kasih makannya masuk ke dalam kandang domba jadi kami bisa pegang dombanya. Ternyata domba itu ganas banget kalau lihat makanan. Jadi dia mau ambil sayur yang saya pegang sampai berdiri dan nomprok saya. Kaget banget. Makanya saya jadi cupu dan deketnya sama domba-domba kecil yang masih imut aja. Hahaha. Dan bulu domba tuh enak banget dipegangnya, ya. Halus kayak wool. YAH EMANG BUAT WOOL! XD

IMG_20180501_110400.jpgIMG_20180501_110456.jpgIMG_20180501_110531.jpg

IMG_20180501_111250.jpg

Ketika Mamak ditomprok domba

IMG_20180501_111255.jpgIMG_20180501_111443.jpgIMG_20180501_111639.jpgIMG_20180501_113101.jpg

Secara keseluruhan, De Ranch Puncak ini areanya lebih kecil dan lebih kelihatan sumpek. Lebih berasa alam bebas pas di De Ranch Bandung, sih. Selain itu, charge untuk tiap mainnya mahal bener. Berasa tongpes dibanding pas di Kuntum, sih jadinya.

 

Advertisements

Makan Enak Weekend Kemarin

Weekend kemarin senang banget karena bisa nyobain restoran baru dan enak-enak semua. My tummy was happy! Dan lebih senangnya lagi karena nemu 2 restoran ini nggak sengaja.

Sari Laut Jala-Jala, Kuningan City
Hari Sabtu kemarin habis pulang kerja, saya, Suami, dan Kaleb mau nonton Infinity War yang kesohor banget itu. Biar nggak capek ngantri dan kehabisan tiket, kami buka M-Tix dan cari bioskop yang sekiranya nggak penuh dan ada di mall biar bisa makan siang dulu. Akhirnya kami dapat spot di KunCit. Setelah dapat tiket, saya langsung buka Zomato untuk cari restoran di sana.

KunCit tuh bukan mall favorit saya. Selain karena letaknya di Kuningan yang ajegile macet, mall-nya juga sepi banget. Nggak bisa buat cuci mata karena nggak banyak yang bisa dilihat. Tapi ya, kalau cuma buat makan dan nonton doang mah boleh lah. Pas buka Zomato kami udah dapat gambaran restoran apa aja yang ada di sana, tapi belum memutuskan mau makan di mana.

Kebetulan parkir di lantai 3 dekat bioskop. Pas masuk, ada beberapa restoran. Salah satunya Sari Laut Jala-Jala yang paling rame di antara yang lainnya. Pas lihat menunya sekilas, well oke-lah banyak variasi makanan yang bisa memenuhi selera kami bertiga.

Restorannya ya selayaknya restoran Chinese umumnya. Bukan yang instagrammable, ya. Lampu-lampunya memancarkan cahaya biru sehingga kami rasanya kayak ada di aquarium. Hahaha. Menunya segede dosa. Gede banget. :)))) Mungkin saking gedenya per meja cuma dikasih satu menu karena menuh-menuhin tempat banget.

Karena kalau makan tengah, kami cuma 2 orang dewasa dan 1 anak terlalu banyak, jadi kami pesan menu per porsi aja. Saya pesan Lamien Ayam Katsu Sup ala Jala-Jala, suami pesan kwetiaw siram kepiting, Kaleb pesan mie pangsit ayam jamur. Kaleb sekarang udah dipesenin menu sendiri karena dia udah bisa milih dan makannya mulai banyak. Kalau makannya barengan, saya nggak kenyang. Walau kalau 1 porsi dia tetap masih nyisa. Ya tugas bapaknya lah yang ngabisin. Hihihi.

Pas semua makanan datang, nggak ada satu pun yang fail. Enak endeus lezatos banget! Sampai pas kami makan berkali-kali bilang, “Gila, ini enak banget!” Sampe terharu gitu. Hahaha. Lamien saya porsinya besar banget, kuahnya gurih, ditambah dia kasih bubuk cabe. Duh, enak banget! Sup mie pangsit Kaleb juga rasanya kayak terbang melayang-layang saking enaknya. Sementara suami pun muji kwetiaw siramnya berasa banget kepitingnya dan nggak pelit. Senang!

Dengan keadaan perut begah saking kenyangnya, kami penasaran pesan snow ice rasa mangga yang kabarnya best seller di sana. Aslik, itu lapar mata doang karena cuma pesan 1 doang untuk kami bertiga sampai nggak habis. Bukan karena nggak enak, tapi karena perut udah kayak mau meletus. Oh ya, snow ice-nya itu enaaak parah! Es-nya lembut banget kayak sutra, potongan mangganya nggak pelit dan manis banget, plus ada jelly rasa mangga yang juga lembut. Duh, bahagia banget lah makan di situ.

Dan yang paling bahagia adalah, total makan bertiga di sana cuma Rp 190.000! GILS, GILS, GILS! Menurut saya dengan porsi sebesar itu dan rasa seenak itu, harganya worth it banget. :’)

Resto ini cuma punya 2 cabang di Jakarta, yaitu di Kuningan City dan Mal Taman Anggrek. Yeay, ada yang dekat rumah untungnya. Kapan-kapan mau ke sini lagi, ah. Oh ya, aslinya resto ini dari Medan. Kebayang kan selera orang Medan gimana. :))))

Eh, dan saya nggak foto-foto makanannya karena udah langsung tancap mau makan aja. I’m a terrible food blogger, ya. Hahaha! Anyway, waktu itu udah pernah sempat saya video-in di snapgram saya. Siapa tahu udah ada yang lihat. 😉

Bonus foto saya dan Kaleb lagi makan di sana aja, deh. *lalu pembaca kecewa :))))))*

 

The Noodle Jet Cafe, Green Lake City
Hari Minggu, habis pulang gereja biasanya kami makan di luar. Lagi-lagi Kaleb request makan bakmi. Jadi emang kebiasaan kalau weekend kami suka makan bakmi. Kaleb jadi tergila-gila bakmi dan selalu request makan bakmi kalau weekend.

Karena mau cari suasana baru, kami ke Green Lake. Di sana buanyaaaak banget tempat makan yang enak-enak. Karena saking banyaknya tempat makan enak, jadi kami pilih yang catchy aja tempatnya, yaitu The Noodle Jet Cafe yang di depannya ada gambar pesawat. Kalau di Zomato sih ratingnya 2,8 jadi so-so aja. Tapi kami tetap masuk karena bakmi adalah segalanya. Hahaha.

Interiornya keren sekali seperti masuk ke dalam pesawat. Ada jendela-jendela pesawat, kursi yang kayak di pesawat, dan waitress dan waiternya pake baju pramugari dan pramugara. Kece!

Menu makanannya nggak terlalu banyak dan fotonya juga biasa aja, bukan yang bakal menggiurkan gitu. Suami pesan jet noodle special yang isinya ada bakso, tahu, minced beef, sama apa lagi ya lupa. Hehehe. Saya pesan kwetiaw rebus, Kaleb pesan bakmi ayam. Ekspektasi kami sih nggak tinggi, ya. Selain karena rating di Zomato yang nggak tinggi-tinggi amat dan gambar di menu yang kayaknya biasa aja, buka tipe bakmi favorit saya.

Pas datang, uwoooow kami semua puas sama pesanan kami. Kaleb bahkan habis 3/4 dengan porsi dewasa yang cukup banyak. Suami pun bilang enak. Bukan seenak dan sebahagia kemarin di Jala-Jala, sih. Tapi dengan harga yang sangat affrodable kayak gitu dan tempat yang instagramable, mie-nya bisa dibilang enak.

Total biaya yang harus kami bayar adalah Rp 113.000 sajah! Ya gimana kami nggak bahagia banget kan, ya. Perut senang, hati gembira, dompet riang! Hahaha.

IMG_20180429_114001.jpgIMG_20180429_114012.jpgIMG_20180429_114019.jpg

Tentu saja bonus foto narsis kami lah:

IMG_20180429_113132.jpgIMG_20180429_113212.jpgIMG_20180429_113754.jpg

Dan yang tanya mana sih suaminya? Ini loh, suaminya yang suka fotoin makanya nggak sering difoto. Wakakak.

IMG-20180430-WA0011.jpg

 

Review: Film Terbang Menembus Langit

Terbang-Menembus-Langit

Saya udah nunggu film Terbang ini dari mereka syuting dan suka posting foto-foto syutingnya, yang mana kece banget! Kerasa banget jadulnya. Ditambah lagi pemainnya adalah Dion Wiyoko, yang saya udah ngefans banget dari dia main di Cek Toko Sebelah. Berharap banget dia dapat peran yang menantang kemampuan aktingnya. Dan senang banget di film Terbang ini kemampuan aktingnya dikeluarkan semua.

Sinopsis: kisah perjuangan Onggy yang berasal dari keluarga miskin di Tarakan berjuang untuk meraih kesuksesan.

Onggy berasal dari keluarga Cina di Tarakan yang miskin. Ayahnya cuma pegawai di toko kelontong. Anak-anaknya nggak semua bisa sekolah. Sampai suatu hari Onggy pengen sekolah, namun biayanya nggak ada. Kakak Onggy harus membujuk kepala sekolah bahwa adiknya ini akan sepintar dirinya kalau diijinkan untuk sekolah.

Satu hal yang menyentuh banget di film ini adalah bagaimana ayahnya yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk kumpul bersama makan. Kalau ada yang belum kumpul, maka akan ditunggu sampai datang. Harus makan bersama. Stay together when it’s ups or downs. :’)

Makanya pas Onggy mau melanjutkan kuliah di Surabaya, walau kakak-kakaknya pun miskin, mereka bekerja sama untuk membiayai Onggy sekolah di Surabaya. Di Surabaya hidupnya nggak lebih baik juga. Harus hidup di kos-kosan 3x3m yang diisi oleh 4 orang. Tapi justru di kamar kos kecil itu, Onggy menemukan sahabat-sahabat baiknya. Ada kalanya kakak-kakaknya nggak mampu mengirim uang ke Onggy sehingga Onggy harus putar otak untuk cari uang. Dari usaha jual apel, jagung bakar, dll. Sedihnya lagi usahanya nggak selalu berjalan mulus, sering banget ditipu dan dia harus mulai dari nol lagi.

Selesai kuliah, Onggy sewa rumah dan jualan kerupuk. Awalnya usahanya bagus, tapi kemudian lagi-lagi dia ditipu. Adegan Onggy makan kerupuk sambil nangis itu JUARA banget nyeseknya. Ya ampun, rasanya pengen peluk si Onggy yang kayaknya hidupnya kok susah mulu. Sedih.

Yang mengharukan lagi walau Onggy terpuruk, waktu keluarga kakaknya mau numpang di rumahnya karena mereka mau cari kerja di Surabaya, dia tetap menerima dengan tangan terbuka.

Salah satu adegan paling menyenangkan untuk ditonton adalah adegan Onggy jatuh cinta pada Candra, capster di salon kecil yang cantik banget. Laura Basuki, kamu makan apa, sih? Dion Wiyoko bisa menggambarkan perasaan jatuh cinta, grogi, awkard dengan baik. Dan Laura Basuki tuh emang auranya menyenangkan banget ya jadi kita mudah jatuh cinta juga dengan dia.

Saat itu, Onggy udah kerja jadi pegawai. Hidupnya mulai membaik, pekerjaannya juga baik. Tapi ketika ada seorang pegawai yang curhat bagaimana hidupnya berlalu dengan cepat dengan menjadi pegawai doang, Onggy jadi terbakar lagi dengan mimpinya untuk punya bisnis sendiri. Dia pun meninggalkan pekerjaanya untuk mulai usaha sebagai motivator. Salah satu keputusan yang bikin miris sih sebenernya karena kehidupan Onggy dan Candra jadi terpuruk. Ditambah saati itu Candra sedang hamil.

Ada saatnya mereka diusir dari kontrakan karena nggak bisa bayar sewa lagi, tinggal di kamar super sempit, nggak bisa bayar uang lahiran anaknya sampe ngutang. Ada adegan di mana Onggy udah terpuruk banget, dia cuma bisa terduduk berserah sama Tuhan sambil nangis. Ambyaaar, dada saya ikut sesak kayak teriris-iris. Duh, hidup kok bisa seberat ini, ya?

Candra sebagai istri tuh suportif banget. Ngikutin ke mana kemauan suaminya dan percaya suaminya akan sukses. Ada kalanya Candra juga marah, tapi dia akan kembali dukung suaminya lagi. Istri hebat banget lah.

Buat saya adegan paling bikin hati perih adalah di saat Onggy dan Candra baru beli AC, tapi kemudian terjadilah kerusuhan Mei 1998. Gimana mereka hampir aja dibunuh karena mereka Chinese. Pahit banget rasanya.

Sinematografi di film ini bagus banget. Tone colornya bikin kita merasa film ini jadul. Untuk kostum dan setting 90annya mah juara banget. Aslik, itu Dion Wiyoko sampe dibikin belah tengah kayak jaman dulu banget. Inget kan ya, model rambut hits belah tengah ala Andy Lau dan Jimmy Lin. Kostumnya pun pas banget, kelihatan kedodoran, celana gombrong, sepatu jadul. Dan itu konsisten di semua pemain. Nggak ada yang rambutnya kayak terlalu diblow atau terlalu kekinian. Detilnya bagus. Bahkan jalanan, mobil, toko, dan yang lain-lainnya pas. Nostalgia ke jaman dulu banget. Keren!

Selanjutnya silahkan ditonton sendiri, ya. Film yang bagus harus ditonton orang banyak, dong. Dan Dion Wiyoko, aku padamu banget!

 

 

Seru-Seruan di Kuntum Farmfield

Holaaaaa! Setelah hampir 1 bulan nggak ngeblog karena kerjaan lagi datang bertubi-tubi banget sampai hampir nggak sempat blog walking, apalagi nulis blog. Fiuh! Untung sekarang udah agak santai, jadi mari kita ngeblog.

Dua minggu lalu, kami jalan-jalan ke Kuntum Farm Field. Perjalanan spontan di pagi hari karena nggak tahu mau ke mana. Tadinya mau berangkat pagi-pagi banget, tapi tentu saja banyak drama yang terjadi, akhirnya baru berangkat sekitar jam 9. Dan ternyata Bogor macet banget. Nget! Mana sampai di Bogor pakai nyasar pula karena Google Mapsnya salah. Jadi kami nyasar ke sebuah gang kecil super macet dan buntu. Dan ternyata banyak yang salah juga lewat jalan situ karena Google Maps. Jadi kalau mau ke Kuntum pake Waze aja, deh.

Karena udah keburu nyasar, jadi kami mendingan makan dulu karena udah jam 12 siang. Iya, 3 jam sajah ke Bogor. Kami makan di Daiji Ramen. Pilih di situ karena kebetulannya lewat situ jadi ya udah. Ramennya biasa banget. Apalagi kalau udah coba ramen sekelas Ikkudo, Menya Sakura, dsb. Lewat banget lah. Tapi dengan harga yang affordable banget, dimaklumi sajalah. Lagian untuk rasa bukan nggak enak, kok. Jadi masih tetap bisa dinikmati. Oh, ocha-nya bisa refill, tapi maksimal 3 kali. Biar nggak maruk kali, ya.

Lupa ini pesan apa aja. Tapi semua pesan yang berbeda. Kaleb lahap banget sih makan di sini. Satu porsi normal habis 3/4-nya.

IMG_20180414_130953.jpgIMG_20180414_131018.jpgIMG_20180414_122552.jpgIMG_20180414_122534.jpg

Setelah makan, kami lanjut ke Kuntum yang nggak terlalu jauh dari Daiji. Dikirain bakal panas banget ya, tapi untungnya mataharinya lagi baik. Nggak terlalu menyengat, lumayan adem. Kalau ke Kuntum siap-siap bawa topi aja mendingan. Tapi di sana ada topi caping yang bisa dipakai gratis, sih.

Kuntum ini biaya masuknya Rp 40.000 per orang. Untuk anak di atas 3 tahun udah bayar full. Hewannya lumayan banyak seperti kambing, domba, kelinci, ikan lele super besar (wow, mamak aja sampe terkejoedh), rusa, sapi, ayam, angsa, dsb. Di gambar ada kuda sih ya, tapi kemarin saya nggak lihat ada kuda.

Kaleb senang banget main di sini karena bisa interaksi langsung dengan hewan-hewan. Dia kasih susu ke kambing pake dot, kasih kelinci makan. Untuk susu dan makanan sekeranjang masing-masing beli lagi harganya Rp 5.000. Lalu ada juga kolam kecil untuk nangkap ikan pake tangan atau pake ember. Nah, yang tangkap ikan ini Kaleb suka banget. Jadi dia masuk ke dalam kolam ikan, basah-basahan (ups, saya mana nggak bawa handuk, untungnya baju ganti bawa, sih). Seru banget sih liatnya kayak anak-anak di daerah yang terjun ke sungai langsung nyari ikan.

IMG_20180414_134227.jpgIMG_20180414_135216.jpgIMG_20180414_135501.jpgIMG_20180414_135544.jpgIMG_20180414_135758.jpgIMG_20180414_140207.jpgIMG_20180414_140845.jpgIMG_20180414_141052.jpg

Habis main nangkap ikan, bisa bilas di shower-shower yang disediakan di sekitarnya. Tapi kayaknya kalau sabun harus bawa sendiri, sih. Di shower depan dekat gerbang ada sabun cair, tapi nggak tahu itu disediakan Kuntum atau ada orang yang bawa.

IMG_20180414_143811.jpg

Kami menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam di sana. Puas banget karena tempatnya luas, bersih, hewan-hewannya dipelihara, dan anak-anak bahagia banget ada di sana. Kalau menurut saya, enakan ke sana siang menjelang sore, jadi nggak panas-panas banget kayak saya kemarin.

Nah, ini bonus foto narsis Mamak. XD

IMG_20180414_142933.jpgIMG_20180414_143107.jpgIMG_20180414_143207.jpgIMG_20180414_141751.jpg

 

Kuntum Farmfield

Alamat: Jl. Raya Tajur No.291, Sindangrasa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat 16145.
Jam Buka ⋅ 10.00-18.00
Tiket: Rp 40.000/orang
Telepon0877-2078-1000

Review: Eiffel, I’m In Love 2

eiffel i'm in love

Eiffel I’m In Love 2 adalah salah satu film yang saya tunggu-tunggu karena dulu saya menikmati banget nonton Eiffel I’m In Love. Saya gemes banget sama Adit-Tita dan menikmati berantem-berantem lucu mereka. Makanya pas keluar yang ke-2, saya penasaran banget mau nonton. Kali ini saya ajak (atau tepatnya maksa) suami saya buat nonton. Waktu itu nonton Dilan kan dia suka, siapa tahu yang ini juga suka.

Sinopsis: Adit-Tita yang sudah LDR 12 tahun, tapi belum juga ada tanda-tanda mau menikah. Kemudian Tita sekeluarga pindah ke Paris, jadi lebih dekat dengan Adit.

Review:
[AWAS SPOILER]

Saya nggak pernah merasa semenderita ini 2 jam di dalam bioskop. Muka tuh rasanya udah kenceng banget saking menguji kewarasan banget film ini. Suami bahkan sempat ketiduran dan pas bangun, nyinyirin film ini sampai habis. Sungguh hiburan saya cuma denger komen-komennya si suami yang bikin ngakak sampe keluar air mata.

Jadii Tita yang sekarang udah umur 27 tahun punya ibu yang protektif banget. Saking protektifnya pergi ke kawinan teman dekat aja jam 8 malam udah disuruh pulang. BUK, kawinan aja baru mulai biasanya jam 7 malam. Baru ngantri makanan udah disuruh pulang tuh gimanaa?

Lalu dia nggak punya HP. Tahun 2018 di Jakarta ada yang nggak punya HP. Dilarang emaknya. WOW! Saya mulai mikir, ini ibunya yakin sehat mentalnya? Punya anak kok kayak mau dipenjarain gitu, sih? Jadi saking dia nggak punya HP, ke pesta kawinan aja harus dikuntit sama pembantunya. Karena pembantunya yang harus jagain dia dan yang punya HP. Jadi nanti ibunya hubungan lewat pembantunya. TANTE, NYUSAHIN AJA WOY! Cobak bayangin umur 27 tahun masih dijagain baby sitter, trus ibunya yang super khawatir malah nggak bekalin anaknya pake HP, malah baby sitternya yang punya HP. Sungguh ku ingin ajak ibunya ngomong baik-baik, siapa tahu dia punya gangguan. Lagian ya, Tita kan udah kerja ya, nggak bisa beli HP sendiri gitu? Yang harga Rp 500.000 juga nggak papa, asal bisa sms dan telepon. Di ITC banyak tuh.

giphy6

Lalu di perjalanan pulang dia lapar. Jam 8 malam disuruh pulang, mungkin ngantri salaman aja udah 30 menit sendiri, trus pas mau ngantri makanan disuruh pulang. Yah wajar, lapar jadinya. Lalu ke McD lah dia, beli cheese burger dari drive thru. Ealah, nggak sabaran banget anaknya, baru bayar udah ngomel-ngomel cheese burgernya lama. Tiba-tiba muncul Adam, teman yang sudah di-friendzone Tita selama 11 tahun, dan voilaaa..kasih 2 cheese burger sesuai pesanan Tita. KOK BISA? Kalau nggak sengaja pesan yang sama, biasanya cuma 1 aja, sih. Ini pas lho 2 cheese burger. Hmm, peramal dia rupanya. Ini Adam atau Dilan?

Keluarga Tita tiba-tiba mau pindah ke Paris karena mau urus bisnis restoran keluarga Adit. Nah, seluruh keluarga harus banget ikut, termasuk kakaknya dan kakak iparnya yang lagi mengandung, dan Tita. Kakak iparnya ini nggak tahu kerjaannya apa sampe harus ngekor mulu ke mana pun keluarganya pergi. Emang Bapake nggak ada bisnis di Jakarta yang bisa diurus kakaknya? Kalau Tita diajak, yah wajar. Umur 27 tahun tapi mental age 15 tahun, kalau dibiarin sendiri di Jakarta nanti gawat, bisa linglung dia. Untungnya baby sitternya nggak dibawa juga. Mahal tiketnya, kakaak!

Nah, pas ultah Tita yang ke-27, tiba-tiba Adam muncul di depan rumah ngasih kado iPad. Katanya supaya mereka bisa komunikasi lewat chat atau e-mail. Ku ingin mempertanyakan hadiah Adam, nggak sekalian Mas-nya kasih telepon aja gitu biar lebih gampang dibawa ke mana-mana daripada dikasih iPad? Ya udah, lagi-lagi nggak papa, saya juga kalau dikasih iPad nggak menolak, kok.

Pas di Paris, ketemuan sama Adit, adegannya lumayan persis sama Eiffel 1. Ngamuk-ngamuk berantem nggak jelas dulu, baru kemudian masuk kamar dan lihat kamar sudah dihias (dulu pake mawar, sekarang pake boneka anjing di mana-mana), kaget dan mau terima kasih, tapi lalu berantem lagi. Ku lelah lihatnya.

Dan begitulah yang terjadi selanjutnya, Tita ngebet banget kawin karena dikomporin sama Uni, yang jadi kakak iparnya. Tita dan Adit ini sebenarnya pasangan yang aneh, sih. Misal, Adit kasih Tita dress cantik untuk dipake pas kencan nanti. Ya Tita udah mikir kencannya pasti di resto fancy. Malah diajak ke McD, pesan cheese burger, karena itu kan resto favorit Tita. Ya nggak salah juga. Tapii ya Adit, kalau makan di McD enakan pake kaos dan jeans aja biar bisa duduk sambil ngangkang *loh, situ makan di warteg?*. Sempit amat harus pake dress ketat gitu. Maka karena Tita ngambek, mereka cari resto fancy. Udah dapet, Tita pesan cheese burger dan milk shake. MAU NGAMUK, nggak? *tebalikin meja restoran*

giphy7

Kemudian, mereka jalan-jalan, Tita maksa dance di pinggir sungai, yang entah apa maksudnya. Bukannya romantis, kok ya malu-maluin diliatin banyak orang. Tita udah ngarep banget mau dilamar, ternyata Adit malah bilang belum siap nikah. Zonk abes!

Putuslah mereka. Eh, nggak berapa lama setelah putus, Uni nyamperin bilang besok mereka mau pindah apartemen karena rumah Adit mau dijual. Ini keluarga kurang terbuka atau gimana, yak? Mau pindahan tapi nggak bilang-bilang.

Nah, si Uni kompor ini punya suatu teori luar biasa, “Yuk, kita kuntitin Adit, ada perasaan sedih nggak di mukanya? Kalau kelihatan sedih, berarti dia menyesal putus.” Hah? Emang orang bakal nangis-nangis sedih di depan umum gitu? Jadi mereka kuntit Adit yang dari mukanya biasa aja, malah lagi jalan sambil dengerin musik. Trus makan di restoran seperti menikmati hidup. Bahkan, genggam tangan cewek lain di restoran. Cembokur lah itu si Tita!

Lagi galau gitu dia curhat ke Adam, bilang dia putus. Mungkin Adam ini semacam keturunan konglomerat yang nggak ada kerjaan, jadi Tita bilang putus, dese langsung terbang ke Paris. Tajiiir! Bagi uwitnya dong, kakak!

Adam ngajak Tita ke toko coklat. Di mana dia udah mempersiapkan coklat spesial buat Tita. Jadi ada sekotak coklat di dalam kotak dan ada yang di luar kotak. Tita disuruh nyobain. Kalau logikanya sih, mending cobain yang di luar kotak dulu karena udah dikeluarin kan dari kotaknya. Tapi Tita memilih yang ada di dalam kotak. Pas makan, ternyata di dalam coklatnya ada cincin. Begini ya, di dalam kotak itu ada 12 coklat. Tita milih random, KOK BISA PAS YANG ADA CINCINNYA?

Trus komen Tita adalah, “Wah, coklatnya pasti mahal banget sampai ada cincinnya.”

KU INGIN MENANGIS SAJALAH.

giphy8

Bisa ditebak, Adam melamar Tita. Pede amat ya, Mas-nya. Situ kan di-friendzone 11 tahun. Trus apa gitu yang membuat situ yakin kalau Tita putus dari Adit, dese langsung mau sama Mas Adam? *bukan suaminya Inul*. Ya ditolak lah. Tapi ya saking Adam ini baik hati, atau bego, dia malah bantuin Adit dan Tita jadian lagi.

Dia ajak Tita ke menara Eiffel. Ternyata di sana malah ada Adit. Adit bilang dia nggak pernah ajak Tita ke menara Eiffel karena takut ketinggian. Dear Adit, pacaran 12 tahun tapi bilang takut ketinggian aja nggak jujur tuh gimanaaa? Kalian kalau teleponan pas LDR tuh ngomongin apa, sih? Oh lupa, berantem mulu sih, ya.

Di menara Eiffel, akhirnya mereka baikan dan ciuman. Ciuman yang menurut Shandy dan Sammy hot karena udah 12 tahun LDR kan. Kenyataannya kok ya basi banget, ya? 12 tahun pacaran ciumannya tanpa emosi sehingga kita mikir ini cinta beneran atau nggak, nih?

Trus katanya Sammy harus jual rumahnya karena mau bayar utang rumah sakit bapaknya yang udah meninggal. TAPI LALU, dia beli apartemen mewah yang lokasinya tepat di depan menara Eiffel, jadi pemandangannya Eiffel. INI UANGNYA DARI MANA, MAS? Lokasi premium gitu biasanya jauh lebih mahal daripada rumah di pinggiran. Lagian kerjanya Adit apa juga nggak jelas, kayaknya arsitek. Pokoknya punya rumah, mobil mewah, dan bisa kongkow-kongkow mulu. Tapi jarang kelihatan kerja. Ku ingin hidup mewah kayak Adit. Hambur-hambur uang tapi tetap kaya.

giphy9

Tapi tenang saja, sudah dibuat menderita melihat 2 anak berantem mulu, udah pasti akhirnya happy ending. Yah, kalau mau dibuat Eiffel 3 juga bisa, tapi JANGAN. Ku nggak tahan nanti Adit Tita punya anak tapi kelakuan kayak bocah. :((

KESIMPULAN:

Masih seperti 12 tahun yang lalu, Adit-Tita masih suka berantem. Berantem nggak penting yang awalnya lucu, lama-lama jadi annoying. Kayak semua hal bisa diberantemin lho ama mereka. Dua belas tahun LDR kalau kayak gini tiap hari nggak mau putus aja gitu? Yang nonton 2 jam aja gerah lihatnya. :((

Karakter mereka yang 27 tahun dan 32 tahun sama persis kayak 12 tahun yang lalu. Kayak lihat anak ABG yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Kalau pas SMA mereka kelakuannya childish kayak gini, saya masih bisa paham banget. It looked cute. Tapi kalau udah sedewasa ini, kelakuannya kayak bocah kan ya pengen jambak rambut. *rambutnya Adit dan Tita*

Udah gitu permasalahan biasa orang yang udah pacaran lama adalah ditanyain kapan nikah. Wajar ya bok, 12 tahun pacaran nggak kunjung dinikahin, saya juga ngamuk sih digituin. Tapi kelakuan bocah kayak Tita gitu bikin saya maklum kenapa Adit belum mau menikahi Tita. Pusing nggak sih punya istri demanding gitu? Pacaran LDR berantem mulu, ketemuan juga berantem mulu. Saya nggak paham kapan mereka saling sayangnya?

Jadi setelah 2 jam penuh siksaan dan ujian bagi intelegensi saya, saya lega banget pas filmnya selesai. Duh, kayak gini mah jadi FTV aja lah. Bagi yang penasaran, silahkan menonton, tapi mendingan di bioskop murah aja biar nggak merasa rugi. Yang nggak mau nonton, udah tepat sekali itu keputusanmu. Jangan kayak saya terjebak 2 jam. :)))

giphy10

*mandi kembang 7 hari 7 malam*

 

Review: Trilogi Buku Dilan

Masih tentang Dilan. Kali ini saya mau ngomongin trilogi bukunya.

95504_f

Jauh sebelum Dilan mau difilmkan, buku Dilan ini booming banget. Awalnya saya nggak tahu, tapi karena banyak yang ngomongin, akhirnya jadi penasaran. Beberapa kali cari ke toko buku selalu sold out. Langka kayak sembako aja. Biasanya yang di toko buku adanya Dilan 1991 dan Milea, yang merupakan kelanjutan Dilan 1990. Lah, nanti saya nggak ngerti dong kalau nggak baca buku pertamanya.

Sampai akhirnya terlupakanlah mau beli bukunya. Jadi saya tuh nggak nyari banget, seketemunya aja di toko buku. Biasanya tiap ke mall selalu ke toko buku, sih. Suatu hari, saya download Google Playbooks. Awalnya mau beli buku lain, tapi di halaman depannya di bagian best seller ada e-book Dilan 1990. Ditambah lagi kalau pertama kali beli dapat diskon besar, jadi super murah. Kalau nggak salah beli dengan harga Rp 8.000. Gokil, kan!

Untuk Dilan 1990 sendiri dulu saya merasa kesulitan untuk menyelesaikannya. Mungkin karena saya nggak terbiasa dengan gaya bahasanya, yang kebanyakan berupa petikan percakapan dan minim detil. Karena minim detil saya jadi clueless Dilan tuh kayak gimana, Milea tuh gimana. Plus, nggak ada konflik yang berarti. Kayak baca buku diary anak SMA lagi tulis pengalaman jatuh cintanya aja. Jadi saya butuh berhari-hari lah untuk menyelesaikannya. Bahkan kayaknya nggak selesai baca. Tapi setelah nonton Dilan 1990 dan suka banget, akhirnya jadi lanjut 2 bab terakhir dan lebih dapet feel-nya karena sekarang saya bisa visualisasiin Dilan dan Milea itu kayak gimana.

Setelah selesai Dilan 1990, saya langsung download Dilan 1991 dan Milea. Dan….. saya suka banget. Mungkin karena terpengaruh filmnya juga. Saya udah emotionally attached sama buku sebelumnya karena filmnya, jadi feel di buku-buku selanjutnya juga lebih dapet. Ditambah lagi di 2 buku selanjutnya, ceritanya lebih bisa membangun emosi dan ada konflik jadi nggak datar aja. Berasa banget serunya. Dan ketika bukunya berakhir, pasti akan terpecah belah antara #TimMilea dan #TimDilan. Bakal seru banget kalau difilmin si Dilan 1991 ini dan bakal sangat challenging buat Iqbaal dan Sasha untuk meranin Dilan dan Milea. Emosi mereka di sini akan lebih dieskplorasi dan banyak adegan yang bakal lebih menantang, sih. Hahahaha, kenapa tuh?

Review:
[SPOILER ALERT]

Di atas kan udah ngomongin teknisnya lah buku trilogi Dilan ini. Kali ini saya mau ngomongin jalan ceritanya yang bikin gemes. Makanya bakal spoiler abis banget lah. Jadi yang penasaran sama ceritanya, mending baca dulu.

Di buku Dilan 1991 diceritakan kisah Milea dan Dilan udah pacaran. Biasanya kan kisah fairy tale berakhir dengan happily ever after katanya. Tapi nggak ada yang ceritain, habis mereka bersatu tuh kayak gimana, sih? Beneran bahagia, nih? Nah Dilan 1991 tuh kayak gitu, nyeritain kisah setelah bersatu.

Jadi Dilan dan Milea pacaran lah. They are super cute dengan gombalan-gombalan dan gaya pacaran anak 17 tahun yang menggemaskan. Bikin terkenang masa-masa SMA banget, deh. Mereka saling telepon-teleponan, jalan berdua, ngedate di bioskop, sampai…. ciuman pertama mereka yang juga lucu. Pokoknya bikin meleleh, deh.

Lalu semakin dekat, semakin sayang, semakin pengen menjaga, dong. Biasanya perempuan gini, kan. Milea mulai khawatir dengan aktivitas geng motor Dilan karena kejadian Dilan berantem sama Anhar kemarin ternyata berlanjut. Dilan berantem lagi, tawuran lagi, dan akhirnya ketangkap polisi. Padahal malam sebelum Dilan berantem, Milea udah samperin dan bilang ke Dilan untuk jangan berantem lagi. Sempat berdebat kecil dan Milea sok ngancem kalau Dilan berantem lagi, mereka mendingan putus. Akhirnya Dilan janji malam itu dia nggak berantem. Eh, besokannya Milea malah dapat kabar Dilan ditangkap polisi karena berantem. Kan ngeselin!

giphy

Kalau saya jadi Milea, ini sih yang bakal saya lakukan ke Dilan.

Sebagai pacar, Milea langsung panik dan cemas lah. Tapi no worries karena bapaknya Dilan yang tentara, Dilan dijamin aman dan bakal dikeluarin. Tapi bapaknya minta Dilan ditahan seminggu biar anaknya kapok.

Namanya juga tahun 1990an, HP belum ada. Mau cari info soal Dilan juga susah. Mau jenguk ke penjara langsung masih susah. Milea galau lah, antara cemas, panik, kangen, merasa bersalah. Campur aduklah. Sampai beberapa hari kemudian, Milea bisa jenguk Dilan ke penjara. Milea udah senang bisa ketemu Dilan, eh Dilan malah ngomongin jadi putus nggak, nih? Sebenarnya cuma untuk meyakinkan beneran putus nggak? Milea yang masih sayang tentu saja bilang nggak putus, tapi jangan diulang lagi. Dilan setuju.

Setelah penjara, Dilan dipecat dari sekolah. Aelah, ribet yes pacaran ama Dilan. Milea cemas minta ampun. Khawatir nanti Dilan sekolah di mana, perasaan Dilan gimana kalau nanti dipecat. Pokoknya serba over thinking, selayaknya perempuan, deh. Eh, Dilannya malah santai aja. Kalau dipecat ya tinggal pindah sekolah. Santai kayak di pantai.

Sempat masa tenteram di mana Milea dan Dilan ke mana-mana berdua walau beda sekolah, dijemput di warung Bi Eem, ngedate bareng, diselingi beberapa kecemburuan karena Milea ada aja yang naksir.

Tapi lagi-lagi masalah terbesar adalah geng motor Dilan ini yang suka ngajak Dilan berantem. Milea minta Dilan nggak usah lah deket-deket banget sama geng motor. Dilan merasa Milea kok sekarang jadi suka ngelarang dan Dilan nggak suka dilarang. Sampai akhirnya Dilan terlibat berantem besar lagi, yang sampai bikin dia kabur dari rumah entah ke mana. Jelas Milea cemas banget nget nget. Saking cemas, bingung, khawatir, takut, begitu ketemu Dilan itu antara lega banget, senang, tapi emosi yang udah campur aduk ini bikin Milea bilang putus.

And just like that, they’re growing apart.

Milea galau setengah mati karena sebenarnya masih sayang dan kangen banget, tapi Dilan dilihat kok nggak ada usahanya untuk ngajak balikan. Dilan ya udah nggak berusaha dekat, nggak berusaha nelepon, nggak berusaha ngapa-ngapain. Sementara Milea masih berusaha cari tahu lewat teman-temannya, berusaha nelepon ke rumah Dilan (yang Dilan sengaja nggak mau telepon balik), pokoknya berusaha cari tahu lah. Sampai akhirnya Milea keterima di universitas di Jakarta, pindah ke sana, dan putus komunikasi begitu aja. Milea punya pacar di Jakarta karena ya udahlah Dilan juga kayaknya nggak usaha cari dia. Sempat ke Bandung dan ketemu Dilan di pemakaman ayah Dilan, dan Dilan juga udah punya pacar. Sempat juga Dilan magang di Jakarta dan kebetulan magangnya di kantor tempat pacar Dilan. Milea dan Dilan sempat ketemu tapi cuma saling sapa terus Dilan pergi aja. Milea sempat berusaha cari Dilan ke tempat magang lagi, ke jalan, sampai ke stasiun, tapi ya Dilan udah nggak ada.

Dan begitulah kisah Dilan 1991 ini diakhiri dengan kampretnya mereka putus dan Milea gagal move on. *tarik napas*

giphy1

Lelah hamba

Baiklah, karena sudah terjatuh ke lembah cerita Dilan-Milea, walau berakhir kampret banget, saya memutuskan untuk baca buku terakhir: Milea. Jadi Milea ini akan diceritakan dari sudut pandang Dilan. Dua buku sebelumnya kan ditulis dari sudut pandang Milea. Saya pikir, mungkin Dilan punya alasan yang tepat kenapa dia nggak ada usahanya mencari Milea. Mungkin dia punya penyakit keras, agen rahasia, atau apalah.

Di buku Milea ini mostly akan ada banyak adegan yang sama tapi diceritakan dari sudut pandang Dilan, tapi nggak redundan, kok. Kalau sekiranya Dilan sependapat, dia nggak akan ceritain lagi. Dilan juga banyak cerita soal latar belakang teman-temannya, kisah persahabatannya, geng motornya. Intinya Dilan sangat menyukai kehidupan geng motornya dan nggak bisa dipisahkan.

Kita lanjut aja langsung ke bagian mereka putus. Apa kata Dilan? Seperti juga Milea, Dilan ini masih sayang banget sama Milea. Milea tuh cinta pertamanya dia yang sungguh dia gila-gilai. Milea itu sempurna dan cocok banget buat Dilan. Tapi at some point, di mana Dilan harus memilih antara Milea atau geng motor, dia clueless banget. Buat Dilan, kenapa sih Milea dan geng motor nggak bisa get along kayak dulu? Kenapa Milea sekarang melarang-larang Dilan?

YA KARENA SITU KERJAANNYA BERANTEM TERUS, BOY!
*maap tante emosi jadinya*

Udahlah berantem, masuk penjara, temennya ada yang mati karena dikeroyok sama geng lain, kabur entah ke mana, dipecat dari sekolah. MENURUT NGANA GIMANA CEWEK NGGAK NGELARANG? Tante jadi Milea sih udah ngamuk bakar tuh motor, deh!

giphy2

Ngana pikirin aja sendiri!

 

Jadi ketika mereka putus, Dilan berpikir, “Oh, gue bukan orang yang suka maksa. Gue mau beri kebebasan sama Milea.” Jadi walau doi sengsara diputusin, ya dia diem aja. Apalagi waktu dia ngeliat Milea dijemput sama satu cowok, Dilan langsung berasumsi Milea udah punya pacar. Asumsi boleh ya, dek. Tapi mbok berusaha cari info dulu, toh. Ya pantesan aja generasi sekarang banyak kemakan hoax. Ya ini dedengkotnya si Dilan lihat sesuatu yang nggak pasti, bukannya nanya kek, eh malah bikin kesimpulan sendiri. Kemakan hoax kan lo!

Dilan yang yakin Milea udah punya pacar jadi makin galau. Doi sampai ke Jogja cuma buat galau-galauan nggak jelas. Curhat sama Bunda, Bunda udah kasih saran yang bener untuk hubungin Milea, eh doi diem aja. Jadi ya udah, bubar begitu aja. Dilan menderita, patah hati berkeping-keping. Dan karena patah hati, dengan sendirinya dia udah nggak sering lagi ngumpul sama geng motor, lebih mau ikut aturan, pulang nggak malam lagi, dan fokus buat kuliah.

YA DARI DULU AJA KAYAK GITU NGAPA, LAN! Ini nunggu putus dan galau dulu. DOH!

giphy3

Tolong hamba ya Tuhan menghadapi kisah cinta beginian.

One day, ketika mereka udah kuliah dan dua-duanya udah punya pacar, lupa gimana ceritanya, tapi mereka sempat teleponan dan ngobrolin semuaaaa perasaan mereka. *DARI DULU AJA KENAPAAA? KENAPA BUTUH BERTAHUN-TAHUN, SIK!*. Mulailah terbuka bahwa dulu yang dikira Dilan itu pacar Milea, ternyata cuma teman yang naksir aja, namanya Guntur. Dan si Guntur ini sempat kasar sama Milea. Pas Dilan dengar itu dia jadinya menyesal karena dia nggak ada di dekat Milea *YA MAKANYA JANGAN GENGSI KELEUS!*. Trus yang dikira pacar Dilan di pemakaman ayah Dilan ternyata adalah sodara Dilan, cuma Piyan ngiranya pacar Dilan jadi bilang ke Milea salah. Miskom begini anak muda jaman dulu. Ada gunanya juga sekarang ada HP dan banyak sosmed jadi bisa stalking gitu udah punya pacar atau belum, nih.

Sampai akhirnya mereka saling bilang rindu dan masih sayang.

*yeay.. pasti habis ini balikan, deh.*

NOT.

Nggak balikan juga karena mereka masing-masing udah punya pacar. Jadi pacar mereka ini ada karena mereka merasa nyaman dan mereka baik. Tapi level rasa sayangnya belum sampai rasa sayang Dilan dan Milea. Nggak enak diputusin.

Jadi dengan bodohnya, mereka memilih tetap dengan pacar masing-masing, hidup galau, dan gagal move on sampai menikah.

Tamat.

giphy4

Habis baca, ingin rasanya merobek-robek bukunya.

Sekarang kalian paham kan kenapa saya #TimMilea.

Setelah baca buku Dilan 1991, walau endingnya putus saya masih berusaha tetap positif lah. Ini pasti ada alasan besar kenapa Dilan menjauh seperti itu. Yakin lah. Dilan yang udah bikin hati hangat dengan gombalannya, mati-matian ngejar dan jagain Milea, pantang mundur di buku Dilan 1990; pasti dese punya alasan kuat kenapa harus menjauh.

Ealah, setelah baca buku Milea, malah makin kesel sama Dilan. Nggak ada alasan berarti, cuy! Dilan cuma kena hoax, gengsi berbalutkan ingin memberi kebebasan ke Milea, galau nggak jelas. Gini ya dek Dilan, tante mau kasih tahu satu hal sederhana tentang cinta:

KALAU CINTA YA DIPERJUANGKAN!

Udah capek-capek usahanya ngejar Milea sampai Milea akhirnya jatuh hati dan putus sama Beni, trus pas udah jadi pacar nggak ada usaha lebih untuk mempertahankan hubungan. Ini tuh gimana, ya? Tante nggak paham, loh ama hubungan ABG macam gini.

Paham banget lah kalau cowok tuh nggak suka dilarang-larang kalau udah berkaitan dengan kesenangannya. Wajar, Dilan jadi nggak nyaman dengan Milea. Tapi kesenangan Dilan tuh ngancem nyawa banget. Ya sampai tawuran dan dipenjara tuh kek gimana nggak dilarang? Cobak kau pikirkan dulu. Padahal pas udah ditinggalin Milea, eh bisa aja tuh menjauh dari geng motornya. Pengen toyor kan jadinya.

Trus kenapa gitu Milea yang selalu cari cara untuk hubungin Dilan, sementara Dilan selalu menghindar. Udahlah nggak ada usahanya, tapi galau berat juga. Masih sayang, tapi bingung. Duh, sungguh ingin diasah golok jadinya.

Masalahnya adalah kalau setelah putus dan galau bertahun-tahun habis itu menemukan pasangan lain yang membuat bahagia dan mampu melupakan mantan sih nggak papa, ya. Kehidupan kan emang begitu, cinta pertama biasanya paling membekas di hati, tapi akhirnya kita bisa move on dan mendapatkan pasangan yang lebih tepat dan mampu membuat segala sesuatunya lebih make sense buat dijalani. Tapi ini kan nggak. Udah bertahun-tahun, punya pacar lagi, bahkan nikah….tapi masih galau terkenang mantan. Gagal move on pol!

Jadi begitulah kira-kira perasaan saya habis baca trilogi buku ini: perih, cuy!

giphy5

Bagai meneteskan jeruk nipis ke luka yang dalam.

Kayak pengen ajak Dilan dan Milea bermediasi dan memikirkan segala sesuatunya dengan lebih jernih, terbuka, akal sehat, dan perasaan yang benar sehingga musyawarah untuk mufakat.

Tapi mungkin begitulah cara pikir anak ABG, seringkali nggak masuk akal. Namanya juga cinta pertama, cyin! Masih belajar bahwa berkomitmen itu nggak gampang (tapi jangan bego bertahun-tahun juga, sih).

Jadi apakah bukunya jelek dan menyesal karena udah baca? Nggak. Bukunya bagus banget, bikin emosi campur aduk dan baper. Makanya saya sampai bikin satu posting sendiri buat ngomongin buku ini. Hahaha. Ngingetin bahwa kadang-kadang cinta pertama emang akhirnya tragis, ya. Kayak cinta pertama saya dulu. #eeaaa #jadicurcol

Dan karena buku kedua dan ketiga lebih banyak konflik, bakal seru banget deh nanti kalau dijadikan film. Bikin nggak sabar banget buat nonton filmnya nanti dan semoga aktingnya sudah jauh lebih bagus, ya.

Jadi kamu #timDilan atau #timMilea, nih?

Review: Film Dilan 1990

1516914139-dilan-3

Dilan 1990

Sinopsis: Milea, anak kelas 2 SMA pindah sekolah dari Jakarta ke Bandung. Dia dideketin Dilan dengan cara yang unik, pakai bahasa yang puitis, dan beda dari yang lainnya. Settingnya sendiri di Bandung pada tahun 1990.

Saya baru aja nonton film Dilan 1990 semalam. Saya mau nonton jam 7 malam di Senayan City. Biar aman, saya udah datang dari jam 6 sore untuk beli tiket. Eh, ternyata udah full aja dong, sisa 2 baris di depan. Jadilah saya duduk di baris kedua dari depan. Seniat itu, ya. Hahaha. Nggak nyangka sepenuh itu, lho.

Saya udah lama baca buku Dilan 1990 karena buku ini kayak jadi pembicaran di mana-mana dan best seller banget. Beberapa kali ke Gramedia dan saya kehabisan bukunya. Makin penasaran, kan. Akhirnya saya beli versi pdf-nya. Setelah baca, ternyata saya merasa bukunya ya biasa aja. Karakter Dilan sendiri menarik banget, tapi ya saya bosan aja baca bukunya. Kayaknya saya belum selesaiin sampai sekarang, deh.

Pas diumumkan pemeran Dilan adalah Iqbal, eks CJR, saya lumayan mengerutkan kening, cuma ya bukan yang nggak setuju. Cuma waktu itu mikir ini Iqbal udah mumpuni belum ya aktingnya nanti. Tapi mikirnya, oh well let’s see. Pas trailernya keluar, saya lumayan terganggu sih sama cara bicaranya Iqbal. Tapiii, entah kenapa saya penasaran banget sama filmnya karena pengen tahu gimana cara mereka menggambarkan Dilan yang unik ke media film.

Fun fact: dari awal muncul Cowboy Junior, saya suka banget sama mereka, lho. Sempat yang hapal banget lagunya yang Kamu, Eaaa, Mengapa Kenapa. HAHAHA. *alay detected*

Sebelum mulai ke cerita, saya harus angkat topi untuk detilnya yang keren banget. Gila ya, itu baju-baju pemainnya beneran era 90an banget sampe geli sendiri liatnya. Yang cowok pake celana cutbray, kemeja kebesaran. Sementara si Milea pake celana cordurai dengan kaos dimasukin. Yah macam tahun 90an.

Segala mobilnya jadul semua, telepon rumah, telepon umum, motor jadul. Sampe baju sekolahnya juga nggak ada yang ketat, gombrong aja gitu. Sungguh ngingetin banget jaman dahulu. Semacam nostalgia jadinya. Senang, deh.

Karena ekspektasi saya yang rendah banget untuk film ini, turned out…. filmnya bagus!

Chemistry Iqbal dan Vanesha dapet banget. Awal-awalnya kita akan mengernyit sih sama cara ngomongnya Dilan yang baku banget, tapi lama-lama terbiasa. Akting Iqbal pas banget untuk menghidupkan Dilan. Sepanjang film dia masuk banget ke karakter Dilan. Sementara Vanesha, awalnya agak kaku, tapi cukup bisa mengimbangi. Perannya sebagai Milea yang jutek, tapi kemudian jatuh cinta dengan Dilan.

Sepanjang film itu satu bioskop cekikikan bareng dengerin gombalan Dilan yang aslik smooth banget. Lalu kita semua langsung heboh, “Kyaaaa kyaaaa!” Kayak pengen bilang, “Aelah Dilan, bisa amat deh lo!” sambil senyum-senyum sendiri dan tanpa sadar pipi kita bersemu.

Lihat Dilan dan Milea itu sungguh menggemaskan banget nget. Tek tokan mereka ketika saling menggombal tuh pas banget, bikin kita tuh berbinar-binar banget lihatnya. Gemeslah! Mengingatkan masa-masa SMA di mana kita masih polos. Ngingetin banget rasanya berbunga-bunga ketika ngerasain jatuh cinta pertama kali pas sekolah dulu. Duh, pengen balik jadi anak SMA lagi deh. Padahal dulu pas SMA nggak ada yang ngejar-ngejar saya kayak Dilan, sih. Hahaha.

Ini beberapa gombalan Dilan yang aslik bikin saya merasa itu buat saya soalnya kok malah saya yang malu-malu senang dengarnya. Hihihi.

quotes-novel-milea

Yang ada saya makin nggak bisa tidur kalo digombali gini. Fufufu!

hipwee-file

Dek, tante GR loh ini.

img_20170809_103421

Bilang cemburu aja kayak gini! XD

14350794_1403711096313581_8761771384494882816_n

WOY, udah udah! Mau bilang cantik aja ngomongnya begini. Aww!

dilan07-ca08fa58f6db80914dde552028ebf38c_600xauto

Mau bikin saya terbang ke langit, dek?

Pokoknya tiap Dilan ngomong tuh wajib banget dijadiin quotes saking uniknya cara dia mikir. Duh, lutut tante sampe lemes digombalin sepanjang film.

giphy17

Di akhir film, satu bioskop langsung tepuk tangan. Gila ya, ini cuma film ABG tapi kami semua puas banget pas nonton. Dan yang nonton mostly yang udah dewasa, bukan yang ABG. Mungkin karena bikin nostalgia banget, ya. ABG jaman sekarang mungkin nggak paham ribetnya pacaran pake telepon umum, nulis surat cinta, nganterin pulang naik angkot, dibonceng naik motor sambil peluk dari belakang. Momen-momen ngangenin yang cuma bisa dipahami remaja tahun 90an banget lah.

Dan bukan cuma cewek yang senang, lho. Kemarin banyak banget cowok yang nonton. Saya pun ajak suami buat nonton walau dia clueless banget Dilan itu apa, sih. Hahaha. Tapi pas nonton dia ketawa tertawa terbahak-bahak sambil bilang, “Anjir! Bisa aja si Dilan. Smooth banget gombalnya!” Sementara saya udah sibuk cekikikan sambil sesekali cubit-cubit gemas si suami. Efeknya adalah… suami, akoh kangen digombalin loh ini! Hihihi.

giphy18

Butuh gombalan. #eaaa

Akhir kata, Dilan 1990 sungguh memberi efek hangat ketika nonton, nostalgia yang menyenangkan saat masa SMA, dan sungguh sangat menggemaskan. Kalau ada yang mau nonton lagi, ajak saya ya. :)))

Review: I’m Not A Robot

I’m back with my next favorite Kdrama.

I’M NOT A ROBOT

11-3-2

Sinopsis: Kim Min Kyu (Yoo Seung Ho) yang alergi terhadap sentuhan manusia jatuh cinta pada seorang perempuan yang dikiranya robot (Jo Ji Ah/Aji 3) diperankan Chae Soo Bin.

Setelah beberapa bulan lalu hari-hariku disibukkan dengan nonton Kdrama tiap hari dan kemudian mereka tamat bersamaan. Mulailah pencarian terhadap drama baru. Biasanya kalau habis nonton drama yang keren banget bagusnya dari segi cerita, saya bakal susah move on dan susah untuk cari drama baru. Drama beberapa saat yang lalu kan bagus-bagus semua, ya. Nah, biasanya kalau udah gini saya akan cari drama paling receh. Dari beberapa drama yang tayang: Jugglers, Wise Prison Life, Just Between Lovers. Semua ini paling banyak dibicarakan orang, deh. Jugglers sempat nonton sampai 10 episode, tapi ternyata ku tetap tak tertarik. Jadi bhay aja. Wise Prison Life tertarik nonton tapi sub-nya lama, jadi entar aja lah tunggu tamat. Just Between Lovers dilihat dari cuplikannya kok kayaknya ceritanya sedih. Oh, ku tak sanggup menye-menye.

Terseliplah drama I’m Not A Robot ini. Dari segi cerita paling receh di antara lainnya (terbukti dari sinopsis yang begitu doang, kan. Hahaha). Baiklah mari kita tonton.

Dan ternyata….. SUNGGUH RECEH! XD

Jalan ceritanya ya tentang robot-robot apalah, entah ku tak paham dan nggak penting juga. Kekuatan drama receh ini ada pada akting Seung Ho yang bagus bangettt. Dia mampu bikin penonton merasakan emosi yang dia keluarkan. Kalau dia sedih, duh perih banget rasanya pengen meluk. Kalau dia bahagia, auranya nular banget sampai bikin kita senyum-senyum sendiri. Menurut saya, tanpa Seung Ho drama ini ya akan jadi cerita yang biasaaaa banget karena jalan ceritanya ya biasa aja. Tapi karena ada Seung Ho, dramanya jadi bagus. Percaya deh, pas nanti nonton coba perhatikan kalau kita ternyata jadi ikutan senyum-senyum sendiri dan sedih.

Belum lagi di drama ini karena Kim Min Kyu ini alergi terhadap sentuhan manusia, jadi dia mengurung diri di dalam rumah selama 15 tahun dan nggak punya teman. Temannya ya robot itu *ciyaaan*. Nah, pas dia mengalami jatuh cinta kayak lihat ABG yang baru pertama kali jatuh cinta; ya polos, awkward, kangen-kangenan, bingung mau ciuman tuh harus gimana. Pengen yang rasanya… duh sini dek, kakak ajarin caranya pelukan dan ciuman. *SMOOOOCH*. Pokoknya Kim Min Kyu ini sosok yang sangat menggemaskan dan tiap kemunculannya bikin pengen bilang, “awwww” lalu blushing.

Dan ehm…. kok saya baru tahu kalau di dunia ini ada mahkluk se-charming Seung Ho, sih? Sungguh lho, auranya dia sangat menyenangkan banget.

Yang saya nggak antisipasi, karena awalnya nonton drama ini kan tanpa harapan apa-apa, ternyata drama robot-robotan begini malah bikin baper banget. WHY?

Chemistry Seung Ho dan Soo Bin dapet banget. Sangat manis lihat mereka berinteraksi, ngobrol, berantem. Sampai akhirnya kita merasa, “I WANT THEM TO BE TOGETHER!”. Jadi pas scenes mulai sedih, itu sedih dan perihnya berasa banget. Duh, kayak pertama kali patah hati; retak-retak hatinya. Dan kita tahu kan rasanya patah hati pas cinta pertama itu duh pengen tenggelam aja. Nah, ini yang kita rasain buat pasangan ini. Kita rasanya pengen jadi emak-emak rempong yang sibuk mempersatukan kembali saat mereka putus.

Saat mereka akhirnya menyadari kalau mereka saling cinta dan mau memaafkan; ini bagian terbaiknya…. kita akan disuguhi adegan-adegan mereka pacaran kayak anak ABG yang kita semua pasti pernah senorak dan alay kayak gitu, tapi KENAPA MEREKA MANIS BANGET?

“Kamu masuk duluan.”
“Kamu duluan aja.”
“Nggak, kamu aja.”
“Nggak mau ah, kamu duluan aja.”
BEGITU TERUS SAMPAI DINOSAURUS BANGKIT LAGI! *Gigit nih kalian berdua*

“Kamu cute banget, sih.”
“Ah, cuma kamu yang bilang aku cute. Nggak ada yang anggap aku cute.”
“Iya, kamu tuh cute banget. Pokoknya kamu nggak boleh cute kayak gini di depan orang ya.”
“Sini cium dulu.”
Sungguh alay! Tapi kita semua pernah se-alay gini, kan? Hahaha.

Kim Min Kyu awkward banget kalau lagi ngobrol sama kakaknya Jo Ji Ah, yang mana adalah bawahan dia. Gemes banget lah lihatnya.
Plus, doi nggak tahu mau ngapain jadi minta ketemu Jo Ji Ah mulu. Why you’re so cute lah?

Aku tuw nggak kuwat liatnya. Kyaa! *gigit bantal*

giphy13

Dan GONG-nya adalah… the kissing scene is HOT. *kipas-kipas*

giphy14

Tante kepanasan jadinya, dek!

Jadi dari episode awal sampai mau berakhir, adegan kissingnya tuh biasa banget. Yang pertama kayak cuma cup doang dan yang kedua kayaknya lebih hot, tapi ketutupan coat mereka. WHYYYYY! *drop shay!* Jadi sebagai penonton tentu saja hanya bisa pasrah bahwa adegan kissingnya kayaknya bakal biasa-biasa ajalah.

Tapi kemudian, terjadilah adegan ini:

Urat tangan Seung Ho ini kok bikin pengen bilang, “Tolong cabik-cabik aku, bang!”
KOK TIBA-TIBA RUANGAN JADI PANAS YA!

Kalau kata teman saya, “Akhirnya sutradara tidak menyia-nyiakan bakat kissing Seung Ho.” YASSSS!

giphy15

WOHOOOO!

Drama yang sehabis nonton rasanya pengen guling-guling di kamar sambil senyum-senyum seharian sehabis dapat ciuman pertama. Hangat dan bikin perut terasa tergelitik. Laff!

Tapi ini belum berakhir sampai di sini aja, dong. Dramanya udah bikin baper banget. TERNYATA…. behind the scenesnya lebih bikin baper lagi. Aku tuh lemah loh disuguhin chemistry manis gini pas off screen. Bikin pengen langsung seret ke KUA aja deh biar halal.

giphy16

Cobak bayangkan rasanya dikasih BTS macam ginilah:

BTS-nya jauh lebih hotz dibandingin pas di dramanya.
Ternyata sutradaranya sama kayak drama W. No wonder, adegan kissingnya hot bener.

Kalian bisa nggak sih biasa aja? Nggak usah manis-manis banget, nanti tante diabetes.

Jadi begitulah kira-kira review penuh kebaperan akibat baru lihat kelakuan dedek-dedek jatuh cinta pertama kali. Drama ini terlalu menggemaskan untuk dilewatkan. Yuk, baper bareng! 😀

 

 

Nongkrong Cantik di Cerita Cafe

Kalau weekend, tiap jenguk mertua di rumah sakit, biasanya kami jenguk di jam sore hari. Pulangnya sudah malam sekali, jadi kalau lapar cari makanan dekat rumah ajalah. Apalagi jarak rumah sakit dan rumah tuh dari timur ke barat. Jauh bener, kan.

Kebetulan kemarin kami jenguknya siang hari dan belum makan siang. Jadi kami kelaparan. Clueless banget lah di Cawang sekitarnya ada makanan enak apa. Sebenarnya di dekat UKI situ banyak lapo dan chinese food yang endeus banget. Tapi karena kami bawa si Mbak, jadi tentu saja kami nggak mungkin makan yang mengandung babi.

Akhirnya buka Zomato dan cek restoran di dekat rumah sakit. Cerita Cafe ini muncul pertama kali. Kalau dilihat dari interiornya sungguh cafe yang kekinian alias instagramable banget. Ada banyak spot cantik bisa buat foto-foto. Pas cek harga pun nggak semahal kafe-kafe heits di Jakarta Selatan. Yuk lah kita coba.

Waktu itu kami datang sekitar jam 15.30. Cafenya cukup penuh orang. Ada beberapa ruang terbuka dan sofa beanny warna-warni, tapi nggak pakai AC dan tentunya bisa merokok. Jadi kami nggak pilih ruangan itu.

Jadi kami masuk agak ke dalam, ke ruangan tertutup yang ber-AC. Ruangan ini juga cantik, didesain sofa warna-warni ala IKEA.

Kami pesan Fish n Chips (Rp 34.000), Nasi Goreng Kambing (Rp 33.000), Nasi Goreng Kampung (Rp 25.000), dan Meat & Lovers Pizza (Rp 45.000). Untuk minumannya kami pesan air mineral semua. Total kerusakan ditambah pajak Sekitar Rp 199.000. Lumayan banget, kan.

Oh, sebagai orang yang nggak bakat jadi food blogger, saya nggak foto semua makanannya. Hahaha. Duh, entah kenapa tiap udah disodorin makanan, saya nggak kepikiran foto. Udah gragas aja mau makan. Hihihi.

Sistem pembayarannya langsung dibayar setelah pesan, kayak Solaria, Bakmi GM gitu. Sebenarnya sistem pembayaran begini, kecuali untuk restoran fast food, saya nggak suka. Biasanya kalau mau nongkrong lama kan bakal pesan lagi, ya. Jadi bolak-balik harus bayar tuh ngeribetin banget. Mending open bill jadi begitu selesai semua baru bayar, lebih enak.

Untuk rasa makanannya sendiri kalau suami bilang nasi goreng kambingnya enak. Tapi untuk Fish n Chips saya, biasa aja. Bukan yang nggak enak, tapi terasa cukup hambar. Sementara untuk Pizza, nggak terlalu besar dan agak keras sehingga Kaleb agak kesusahan makannya. TAPI.. dia tetap habis sih karena suka banget sama pizza.

Kesimpulannya, makanannya bukan yang gagal banget, tapi bukan yang lezatos maknyos sampai terngiang-ngiang rasanya. Kalau saya sih bakal mau balik lagi ke sini karena cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong dan ngobrol lama di daerah Kampung Melayu. Karena sungguh ku tak paham daerah sini ada tempat nongkrong asoy lagi nggak, sih?

IMG_20180114_165015_109.jpg

Begitu masuk ada spot ini. Kece sekali kan buat foto-foto.

IMG_20180114_154235.jpg

“EH, KOK MAKANANNYA UDAH HABIS TAPI BELUM DIFOTO. Ya udah sama piring kosong aja, deh.” Me everytime.

IMG_20180114_151013.jpgIMG_20180114_151009.jpgC360_2018-01-15-07-58-30-895.jpgIMG_20180114_160248.jpg

IMG_20180114_160236.jpg

Kalau nggak hujan di sini biasanya akan ada banyak beanny warna warni kayak di La Plancha buat nongkrong-nongkrong cantik. *La Plancha ala Kampung Melayu wakakaka*

IMG_20180114_160220.jpg

WCnya bersih banget. 

 

Cerita Cafe
Jl. Otista Raya No.125-127, Kampung Melayu, Jakarta

Belajar Sabar di Kayu-Kayu

Flashback ke Natalan kemarin *JIYAAAH, sebulan juga belum ada*, kami sekeluarga christmas lunch di sebuah restoran hits baru di Alam Sutera; Kayu-Kayu Restaurant. Restoran ini baru banget dibuka, sekitar 4 bulan lalu.

Kayu-Kayu ini letaknya di pinggir jalan. Kalau dari arah tol Kebon Jeruk, tinggal keluar di gerbang Alam Sutera, belok kiri. Lurus terus aja nanti dia terletak di sebelah kiri. Bangunannya unik banget, banyak kayu-kayu (yah, mereprestasikan namanya, sih) jadi terkesan back to nature. Masuknya dari pintu samping yang ada kolam ikannya. Kolam ikannya nggak gede-gede banget, sih.

Hari itu karena Natal jadi full booked, harus reservasi dulu. Tempatnya penuh banget. Tapi ambience-nya enak, sih. Karena serba kayu dan coklat jadi kayak adem banget. Lalu ada lagu-lagu Natal berkumandang dengan volume yang pas. Tapi yah karena rame banget, jadi nggak bisa menikmati banget, sih.

Pokoknya kalau soal tempat dan desain sungguh instagramable banget lah. Apalagi ada 2 tangga melingkar besar yang dihiasi mistletoe. Romantis banget jadinya. Cucok untuk foto-foto sebanyak mungkin.

Kami pesan mie goreng, nasi goreng pete, laksa, ketan mangga (semacam mango sticky rice), martabak telor dan martabak keju dan coklat, ayam hainam, ikan bakar, dan apa lagi lupa. Oh ya, nggak ada foto karena kami sudah lapar banget jadi langsung gragas makan. Hihihi. (Ini review apa sih, nggak ada fotonya? -_-).

Rasanya?

BIASA BANGET. Huhuhu! Dengan harga yang cukup mahal (main course harganya Rp 90.000 ke atas), rasanya sungguh mengecawakan. Bukannya nggak enak, tapi dengan harga segitu bisa dapatin makanan yang lebih enak di tempat lain. Kayak pas makanan dihidangkan tuh ekspektasinya udah tinggilah. Mana bentuknya cantik, piringnya bagus. Tapi pas dicoba, semacam, “Oh, gini doang.” Huft!

Martabak telornya enak dan garing. Tapi percayalah dengan rasa kayak gitu bisa didapatkan di abang-abang. Martabak manis keju dan coklat yang harganya mihils (sekitar Rp 60.000) itu kemanisan dan rasanya seketika bisa diabetes. Jadi, martabak manisnya nggak habis karena kami nggak sanggup dengan manisnya.

Tapi, minumannya enak, sih. Kayak lychee tea atau lemon tea-nya beneran segar. Pas banget di mulut. Mango sticky rice juga oke-lah, walau tetap lebih enak mango sticky rice asli.

Nah, yang paling mengecewakan adalah servisnya. Failed dari awal sampai akhir.

Ketika kami masuk dan duduk di tempat kami, nggak ada pelayan yang nyamperin untuk kasih menu. Bahkan, nggak ada pelayan yang terlihat beredar di dekat kami. Awalnya kami maklum karena emang lagi rame banget dan mereka pasti sibuk melayani yang lain. Beklah. Kami pun yang menghampiri pelayan di meja kasir untuk minta buku menu. Tunggu punya tunggu, kok ya tetap nggak ada menunya. Kami samperin lagi ke pelayan meja kasir untuk minta menu, baru deh mereka kasih menu. Itu pun buku menunya yang berat banget itu sedikit, sedangkan kami bertujuh. Kan ya ribet ya saling liat sama-sama. Jadi lagi-lagi kami harus minta buku menu. Nggak ada inisiatif lah dari pelayannya.

Setelah pesan makanan, seperti biasa mereka mengulang orderan kami. Makanannya cukup lama datangnya. Yah, maklumin aja lagi rame, kan. Kami juga sibuk ngobrol-ngobrol. Lalu makanan mulai berdatangan, tapi ketika mulai lengkap ada 2 menu yang ketinggalan dan air mineral yang nggak keluar. Menu laksa dan ketoprak. Jadi kami ingatkan lagi bahwa ada pesanan kami yang belum sampai.

Sampai akhirnya kami selesai makan, pesanan adik saya yang laksa dan pesanan ketoprak saya belum datang, dong. Balik lagi manggil pelayannya yang ada di ujung dunia, ingetin lagi. Akhirnya setelah nunggu 1 purnama, si laksa, dong. Si ketoprak belum. Sampai si suami bilang, “Mungkin mereka lagi pesan ketoprak di abang-abang di pinggir jalan. Belum datang kali abang ketopraknya.” Hihihihi!

Si martabak manis ini yang merupakan pesanan tambahan malah datang duluan dibandingkan ketoprak saya. Akhirnya saya panggil lagi pelayannnya ingetin ketopraknya. Dan sampai semua makanan ludes di meja, ketoprak saya nggak datang juga, dong! YASALAM! Ya udahlah saya batalin aja.

giphy2

Itu saking mereka lambat banget servisnya, manajernya yang orang bule turun langsung. Manajer bulenya pun nggak ada senyum atau ramah atau say sorry lah, datar aja kayak papan penggilesan. Hayati lelah banget lah di restoran ini.

Karena makanan biasa aja dan servisnya yang buruk, jadi harapan satu-satunya adalah foto sebanyak-banyaknya karena interiornya kan kece banget, ya. Setelah sibuk foto-foto sendiri, minta tolong lah sama pelayannya untuk fotoin kami sekeluarga di tangga yang lagi hits itu. Jekrek, jekrek! Pas dilihat hasilnya, BLUR!

giphy1

Akhirnya panggil pelayan yang lain lagi untuk minta fotoin. Jekrek jekrek! Pas dilihat, fotonya GELAP! *

giphy

Sudahlah, nanti diterangin aja pake app. Lama-lama bawa tripod juga nih, biar fotonya ciamik.

Jadi, kalau mau foto-foto kece bolehlah ke sini. Tapi kalau mengharapkan rasa makanan dan servis, errr.. pikir-pikir dulu lagi aja, deh. Di Alam Sutera masih banyak resto lainnya yang endeus.

Oleh karena itu, nikmatilah foto-foto narsis kami sebagai pelampiasan perut yang kurang puas. Hahaha. Adios!

IMG_20171225_123239.jpgIMG_20171225_134532.jpgIMG_20171225_135111.jpgIMG_20171225_145300_083.jpgIMG_20171225_141047.jpgIMG_20171225_141010.jpg