Review: Madagascar PS

Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman ke Madagascar Plaza Senayan, restoran bergaya hutan yang baru buka dan punya konsep yang seru banget. Sebagai mamak-mamak punya krucil, kami excited mau ke sana karena anak-anak pasti suka.

Waktu itu saya yang pertama kali datang, sekitar jam 13.00. Ada resepsionis di depan dan harus waiting list. Udah ketebak sih, secara lagi hits banget jadi pasti banyak orang yang mau ke sana, plus waktu itu weekend. Diminta untuk meninggalkan nomor telepon karena ketika ready mereka akan menelepon saya. Beklah. Kesan pertama, yang bagian resepsionisnya kurang ramah, nggak ada senyum sama sekali, dan terkesan jutek. Dia nggak pake baju seragam, jadi mungkin pemiliknya? Anak pemiliknya? Manajer? Entahlah.

Sepertinya masih lama menunggu, jadi saya memutuskan makan di restoran lain dulu karena bawa anak kecil, kan. Gawat aja kalau udah cranky karena kelaparan. Pas makan, teman-teman saya datang ke restoran lain itu karena kami tahunya akan ditelepon. Selama belum ditelepon, kami menunggu di tempat lain, dong.

Udah puas, kenyang, ngobrol ngalor-ngidul sampe 2 jam, baru sadar lho kok belum ditelepon. Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke atas lagi. Pada waktu tanya ke bagian resepsionis di depan yang tadi jutek, mereka bilang, “Oh iya, udah ready, nih.” Hmm, jadi bagian mananya nih yang bakal ditelepon?

Begitu memasuki pintu, emang suasananya bagus banget, kayak di hutan beneran dengan pohon-pohon menjuntai, lampu yang agak temaram, dan replika hewan-hewan seperti jerapah, gorila, macan, gajah yang gede banget seperti aslinya. Beberapa hewan bahkan bisa bergerak. Uwow, keren! Anyway, karena pencahaannya temaram jadi kalau mau foto harus pake flash atau ya hati-hati karena banyakan jadi blur. Huhuhu.

Kami duduk di meja ujung dekat gajah. Anak-anak sih excited banget karena serasa ada di kebun binatang. Secara dekorasi interior luar biasa bagus, sih. Empat jempol.

Sayangnya, lagi-lagi service-nya kurang. Pelayan di dalam nggak ada yang senyum, mungkin karena overload dengan banyaknya pengunjung, tapi tetap aja karena kami merasa sering dicuekin. Minta sesuatu susahnya minta ampun karena dengan tempat seluas itu, mereka nggak ada di dekat meja kami yang terletak di ujung, jadi kalau mau manggil ya ngamperin mereka.

Waktu itu kami pesan pizza, french fries, dan minuman. Iyes, akhirnya pesan snack aja saking kelamaannya nunggu jadi udah kenyang makan di tempat lain. Ketika diantarkan pizza dan french fries, hanya diberikan satu cup kecil sambal. Pada waktu meminta tambahan sambal, pelayannya hampir menolak. Loh, kaget dong kita. Kok minta sambal aja nggak boleh. Lalu kami bilang, “Sambal botol lho, Mbak.” Akhirnya baru boleh. Jadi sepertinya kalau minta sambal default racikan mereka untuk pizza itu nggak boleh nambah (karena dia lihat dulu ke meja kita sambalnya), tapi kalau sambal botol boleh. Duh, capek ya minta sambal aja repot. Rasa makanannya sendiri, sayang sekali biasa aja. Nothing’s special. Huhu.

Ada ular di atasnya!

Jadi kesimpulannya, tempatnya bagus banget, cakep buat foto-foto, tapi rasa makanan kurang, dan yang paling kurang adalah service-nya. Setelah selesai makan, kami kompak bilang satu sama lain, “Pelayannya pada jutek semua, ya.”

Semoga servicenya bisa diperbaiki, ya. 🙂

 

Advertisements

Review: Burza Hotel Jogja

OH IYA, belum sempat nulis review tempat saya menginap di Jogja, ya. Hihihi.

Pengennya nginep di Yats Colony ya, tapi sayang sekali hotel hits satu ini udah full booking. Huhu, ya sudah cari hotel lain lah. Pertimbangan cari hotel waktu itu adalah harus dekat ke mana-mana, terutama ke tempat wisata. Tadinya saya pikir Jalan Malioboro lah, tapi untungnya nggak pilih hotel di daerah sana karena macet banget. Harus ada kolam renang, karena walau bakal pergi-pergi terus, tapi siapa tahu pengen berenang di hari terakhir. Nggak perlu terlalu mahal karena, sekali lagi bakal lebih banyak di luar daripada di hotel. Harus ada sarapan karena nggak mau pusing mikirin sarapan ke mana tiap pagi, plus ada bocah yang perut harus diisi penuh dulu sebelum pergi daripada cranky.

Akhirnya dapatlah Burza Hotel di Jl. Jogokaryan. Secara lokasi sempurna banget karena dekat ke mana-mana. Dekat ke Alun-alun selatan, Taman Sari, Keraton, Jl Malioboro. Selempar kolor doang kalau mau ke Nanamia Pizza, Tempo Gelato, dan restoran hits lainnya. Pokoknya ke mana-mana asik dan nggak susah banget kalau cari makanan. Love!

Setiap kali pilih hotel, yang paling utama adalah nggak mau terlalu tradisional karena ku sungguh penakut. Jadi tentunya pilih yang minimalis modern clean ajalah. Tapi Burza ini menggabungkan keduanya. Lobinya dibikin kayak pendopo sehingga masih terlihat tradisional, tapi interiornya kamarnya modern minimalis jadi nggak ngeri buat saya. Bantalnya super empuk. Jarang-jarang saya bisa tidur nyenyak di hotel tapi di hotel ini saya bisa tidur nyenyak dari hari pertama. Alamak nikmatnya. Plus, lampu kamarnya nggak remang-remang sehingga saya nggak merasa gelap dan takut.

IMG_8628

Kamarnya nggak terlalu besar, but well cukup banget buat kami bertiga. Kamar mandinya juga kecil, tapi lagi-lagi bukan kekecilan lah. AC kamarnya nggak super dingin kayak di kutub selatan dan bisa diatur suhunya, plus dimatiin. Buat yang nggak kuat dingin kayak saya ini penting banget. Seringnya karena suhu yang terlalu dingin saya malah jadi nggak bisa tidur. Tapi no worries di sini suhunya bisa diatur dengan pas jadi tidur pun nyenyak.

IMG_8221

Ga besar, tapi cukup banget. Tempat tidurnya cukup lega. Bantalnya ada 4. Jadi ga rebutan bantal. Paling penting, empuk banget nget.

Restorannya bentuknya open space. Makanannya lumayan banyak dan selayaknya makanan pagi di hotel lainnya. Ada egg station, sereal, makanan berat kayak nasi dan lauk-pauknya, macam-macam roti, dessert puding dan cake, bubur, juice, susu, dan buah. Lengkap lah. Tinggal pilih mau makan yang mana.

Untuk rasa makanannya sih biasa aja, ya. Tapi lagi-lagi ini nggak bisa dijustifikasi karena 3 hari di Jogja, walaupun makan di restoran yang direkomendasi sekalipun, buat saya nggak ada yang istimewa. Yah oke, tapi bukan yang istimewa sampe pengen ngulang makan di situ. Kecuali Pizza-nya. Pizza di Jogja royal banget kasih keju yang bikin saya nagih dan berkali-kali makan pizza di sana. Makanan di Jogja itu menurut saya terlalu manis. Untuk lidah Batak yang sukanya pedas, hmmm… ku seperti makan makanan hambar. Nggak masalah sih, tapi kurang bikin terkenang. Eaaa!

Servicenya oke, semuanya ramah, penuh senyum, kalau minta apa-apa cepat. Dan harga makanan di restonya nggak mahal. Gilak, apa karena di Jogja semua murah ya? Jadi kalau udah kecapekan banget dan nggak mau keluar lagi, makan malam di hotel aja. Buku menunya pun mencantumkan harga udah disertai tax jadi nggak pusingin mikirin total harganya nanti jadi berapa. Efisien.

IMG_8285

Nah itu di balik itu kolam renangnya. Nggak terlalu besar, tapi cocoklah buat anak-anak. Ada balon flaminggo itu buat mainan dan foto-foto cantik. Dan kami malah nggak sempat berenang. Hahaha.

Itu semua kelebihannya ya. Nah, di bawah ini ada beberapa kekurangannya. Nggak sampai bikin kesal juga sih, tapi akan lebih baik jika diperbaiki:

  • Access cardnya cuma dikasih satu per kamar. Apalagi untuk naik lift perlu pake access card untuk pencet tombolnya. Jadi misal saya lagi di kamar dan suami turun ke bawah, dia harus pinjem access card ke pelayan untuk bisa naik ke atas. Ribet banget, kan. Misal, waktu itu dia masih main laptop di lobi, sementara saya udah tidur. Untuk masuk ke kamar, terpaksa dia ketuk-ketuk kamarnya dan bangunin saya. Coba kalau ada 2 access card jadi nggak susah, kan.
  • Handuk-handuknya bukan yang putih bersih, ya. Jadi karena udah keseringan dipake dan dicuci jadi kelihatan kusam. Huhu, serius deh yang ini perlu diganti banget.
  • Air di kamar mandinya ada panas dan dingin, berfungsi dengan baik. Kecuali kalau satu hotel mandi barengan. Kayak pagi hari gitu kan banyak tamu yang pasti mandi di jam-jam dari jam 6-9 pagi. Nah, kalau udah barengan gitu, suhu airnya nggak konsisten, tiba-tiba hangat, trus dingin. Lah, gimane? Padahal kalau mandi di jam yang nggak samaan, kayak di malam hari, suhunya konsisten, lho.
  • Baby chair cuma ada satu. Harus ganti-gantian, deh.

Itu aja sih kekurangannya. Selain dari itu, kami menikmati hotel tempat kami menginap, bisa tidur nyenyak, tidak ada keluhan. Jadi…. Yats Colony kapan nih nggak penuhnya? Hihihi.

 

Review: Kids@work

IMG_20170723_162138

Kemarin Kaleb main di Kids@work Gandaria City. Udah lama sih emaknya pengen bawa Kaleb main ke sini karena Kaleb kan suka banget sama segala sesuatu yang berbau truk dan kawan-kawannya. Tapi karena jarang ke Gandaria City, plus itu mahal (Rp 150.000 untuk 3 kali alat @5 menit) jadi yah belum jadi-jadi. Untungnya kemarin aunty-nya yang ajak. Horee!

Kids@work di Gandaria City adalah tempat main yang temanya Under Construction (sama kayak tema ultah Kaleb kemarin ya. Hihihi). Di sana anak-anak bisa experience menjalankan escavator beneran. Di tengah-tengahnya ada pasir. Anak-anak akan dikasih jaket dan topi pengaman kayak pekerja konstruksi beneran. Ada sekitar 5 escavator dengan fungsi yang berbeda-beda. Kalau masih kecil banget kayak Kaleb bisa ditemani sama pendamping, sih.

Nah, kemarin pas lewatin Kids@work ini Kaleb excited banget karena sesuai dengan kesukaan dia. Pas diajak main, awalnya excited banget bisa menjalankan si escavator. Eh, nggak menjalankan beneran sih, karena dia kan masih cukup kecil jadi ya dibantu pendamping dia cuma ikut-ikutan aja di kemudi. Tapi lama-kelamaan dia bosen karena ya selama 5 menit gerakannya itu-itu aja dan dia nggak terlalu paham cara menjalankannya, escavatornya juga diam di tempat. Jadi sebelum 5 menit, dia merengek cobain yang lain. Begitu cobain yang lain, bosen lagi juga dia karena gerakannya itu-itu aja. Yang ada dia malah pengen udahan karena udah ke-distract tempat mainan sebelah yang lebih heboh. Untung ya bukan Mamak yang bayarin. HAHAHAHA!

IMG_20170723_162400

Kesimpulannya, untuk anak umur 2 tahun belum terlalu cocok sih karena mereka belum terlalu paham cara kerjanya. Ditambah Kaleb punya ride on escavator di rumah yang sering dibawa ke taman yang ada pasirnya sehingga dia punya otoritas penuh untuk angkat dan turunin pasir, serta jalanin escavatornya. Kalau escavatornya besar kayak di Kids@work dan cara memainkannya agak rumit bikin anak 2 tahun nggak tertarik, nggak bisa jalan juga escavatornya.

Selamatlah uang Mamak, ye kan? Hihihi.

Review: Suspicious Partner

tumblr_oolnq5i4xe1u98dbho2_500

Siapa yang sedih Suspicious Partner berakhir minggu ini?

 

SAYA!

 

Jadi sehabis My Secret Romance yang sunggu membuatku sampai sekarang klepek-klepek tiap lihat Sung Hoon (apalagi setelah dramanya habis mereka masih ada event fan meeting, drama concert, dll), saya nonton Suspicious Partner. Sederhana aja nonton ini karena ada Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun, dan drama ini bukan action kayak biasanya, tapi lebih ke romcom dibumbui dengan misteri pembunuhan.

Suspicious Partner bercerita tentang Eun Bong Hee dan Noh Ji Wook dalam menghadapi satu pembunuh yang amnesia. Tentu saja dibumbui dengan percintaan Bong Hee dan Ji Wook di dalamnya. Duh, sinopsis saya nggak nolong banget, ya. Hahaha. Ya udah cek di sini aja biar lebih lengkap.

Drama ini udah bisa bikin saya suka dari episode pertama karena ke-charming-an Ji Chang Wook (YAH TENTU SAJA), tapi terutama karena ceritanya yang bikin penasaran, terutama soal pembunuhan. Karena latar belakangnya hukum dan persidangan jadi selain misteri utama tadi, ada cerita-cerita pengadilan lainnya jadi seru. Nam Ji Hyun di sini sungguh lucu, menarik, dan bukan cewek menye-menye tapi cewek pemberani yang bisa tae kwon do. Kece!

Yang paling saya suka adalah setelah sekian lama nonton Ji Chang Wook dengan adegan actionnya yang tanpa akhir dan pamer badan six pack yang bikin saya ngiler mulu, di sini Ji Chang Wook nggak ada berantem-beranteman heboh. Main di serial romcon kayak gini bikin saya bisa lebih banyak lihat Chang Wook yang lebih santai, hangat, banyak senyum, kocak, manis. Sisi yang jarang diperlihatkan kalau doi main action. Pas banget sama Nam Ji Hyun yang juga kocak, jadi mereka berdua nggak ada jaim-jaimnya di serial ini.

Chemistry Ji Chang Wook dan Nam Ji Hyun dapet banget di serial ini. Mereka bukan pasangan lovey dovey, tapi lebih ke pasangan yang dikit-dikit berantem tapi habis itu kangen-kangenan. Uhuy. Nggak ada air mata berlebihan untuk menye-menye. Pokoknya tough girl lah.

Senangnya lagi, selain pembunuhnya, yang twistnya oke banget di akhir-akhir episode dan mengalami masalah psikologis, yang jahat, teman-teman dan lingkungan sekitar kedua tokoh utama ini nggak ada yang jahat. Yang ada temen-temennya kocak bener, ngeselin, tapi mau bantu kalau kesusahan, nggak ada cemburu lalu berbuat jahat tuh no way. Menurut saya justru kayak kehidupan nyata yang sebel tapi nggak sampai kejam.

Episode terakhirnya saya sukaaaaa banget karena nggak seperti serial Korea lain yang biasanya cerita bahagianya 10 menit terakhir (WHY?), ini khusus 1 episode untuk closing yang menyenangkan pas mereka berdua pacaran. Pacaran yang beneran pacaran, yang pake berantem-berantem kecil, trus si cewek curhat ke gengnya dan cowoknya sok nggak mau curhat tapi toh cerita juga ke gengnya, cemburu kocak, ngedate tapi kehalang kerjaan, dll. Kayak hubungan di dunia nyata aja. Bukan cuma menyenangkan, tapi lucu, manis, kocak, dan….sedih kenapa sih harus berakhir. Ih, gemes!

Huft. Dan sekarang setelah serial ini berakhir, aku harus nonton apa, dong? Hampanya hidupku. :))))

Oh ya, ini serial terakhir Ji Chang Wook sebelum masuk wamil bulan Agustus besok. Ada yang udah kangen doi? SAYA! Semoga habis ini, Ji Chang Wook mailaf semakin banyak main serial romcom lagi ya. Serius auranya hangat dan menyenangkan banget lihatnya. Laff!

 

 

Review: My Secret Romance

Sejak drakor Goblin berakhir di awal Januari, hidup saya rasanya hampa. Goblin ini secara kualitas bagus banget sehingga rasanya drama lain terlihat biasa-biasa aja. Jadi kerjaan saya selama beberapa bulan kekosongan ini adalah mencoba nonton beberapa drakor yang katanya bagus, baru beberapa episode lalu nggak lanjut nonton karena bosan. Hampir nggak ada drakor yang saya tonton sampai tamat, kecuali Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Kim Bok Joo bisa saya tonton sampai habis bukan karena saya suka banget ceritanya, tapi karena yah okelah, pemeran utamanya lucu, ceritanya lumayan, beklah mari dihabiskan tontonannya daripada nggak ada.

Sampai akhirnya kehampaan ini berakhir ketika muncullah drama My Secret Romance.

my-secret-romance-poster1

Diperankan oleh Song Ji Eun dan Sung Hoon

Apakah drama ini kualitasnya menandingi atau setidaknya setara dengan Goblin? Nggak. Banget. Hahaha! Jadi ini drama super receh dengan kualitas biasa aja, setara FTV kualitas Korea (bukan FTV Indonesia yang parah banget itu, ya). Ceritanya apalagi, tipikal banget dan udah ada kira-kira sejuta drama Korea yang mengusung cerita seperti ini:

Cha Jin-Wook (Sung Hoon) is a son from a wealthy family. His family runs a large company. Cha Jin-Wook only pursues short term love. He meets Lee Yoo-Mi (Song Ji-Eun) and changes. Lee Yoo-Mi has never had a boyfriend before.

Duileh picisan banget lah: cowok kaya raya, tampan, arogan, playboy, naksir cewek miskin, cantik, polos, baik hati.

Yang bikin saya suka banget sama cerita ini ternyata ya karena ceritanya receh, gampang dicerna, chemistry mereka oke, cowoknya walau dibilang arogan tapi sama sekali nggak nyebelin juteknya karena masih kelihatan hangat, dan cowoknya yang usaha banget kejar-kejar ceweknya.

Bonus banget adalah sosok Sung Hoon yang alamak Tuhan pasti lagi bahagia banget pas nyiptain dia.

sung-hoon

15873189_1357343187619274_1251578781098459455_n

Wajar kan kalau dia didapuk jadi model underwear

AAAAAKKKKKKK!! Ada ya cowok seganteng dia yang rasanya pengen panjat dada bidangnya dan didekap. Duh, Mas! Manly abis. Menurut saya, dia tipikal cowok Korea yang nggak terlalu feminin. Masalahnya banyak cowok Korea yang menurut saya cantik, kurang cowok. Kalau Sung Hoon cowok banget!

Ya gimana nggak, dulu dia atlet renang. Berhenti karena cedera, lalu jadi aktor. Udah jadi aktor, dia bisa nyanyi, seorang DJ pula. Di film My Secret Romance, badan kecenya ini tentunya harus dieksploitasi, dong. Wakakaka! Jadi ada adegan dia berenang, pake tuxedo, baju kasual, jaket kulit. Sung Hoon mau dipakein baju jelek juga jadi bagus di dia. Duh Mas, makan apa sih kamu jadi bisa ganteng gini?

Sementara Ji Eun kayak boneka, polos, cantik, dan matanya bulat. Mau pake apa juga cantik dengan rambut yang walau ada angin kencang kok jatuhnya tetap bagus? WHY?

hqdefault

Jutek aja kok ya cantik, Mbak?

Untuk menambah kerecehan drama ini, semua adegan khas bikin baper kesukaan cewek-cewek tentu saja ada:

  1. Adegan one night stand ada di episode pertama. Bayangin, adegan hot di awal cerita! UWOOOWWW! *mata nggak kedip*

c9stclsuiaarkmo

 

2. Hampir di semua episode ada kissingnya. Kissingnya tuh bisa banget lah ada di kolam renang, pas masak di dapur, pas lagi duduk di sofa, dll. Pokoknya puaslah.

 

x240-s84

 

3. Cowok ganteng bawa anak kecil main di taman dan ajak date ceweknya sambil ngangon anak kecil. Coba bayangkan, udahlah ganteng, sayang anak kecil, jiwa kebapakan mencuat ke mana-mana. Sebagai wanita, hormonku langsung meluap-luap.

a32b4d0f-9691-4cb9-b0db-432a06e75889

Udahlah ganteng, sayang anak kecil. Kelar!

4. Konfliknya pun nggak panjang, paling sekitar 2-3 episode aja. Itupun nggak ribet, nggak menguras sedih berlebihan, malah menunjukkan sosok si cowok yang makin sadar cintanya udah mentok.

Jadinya sepanjang drama ini lebih dihabiskan untuk drooling kegantengan Sung Hoon, baper lihat Sung Hoon dan Ji Eun yang super cute banget dari berantem sampai pacarannya, dan selalu diakhiri dengan hati yang hangat karena happy banget nontonnya.

Jadi ternyata yang mengisi kekosongan hati setelah ditinggalkan Goblin malahan drama receh nggak penting tapi justru bikin senang dan hangat. Coba ditonton deh, nanti habis itu kasih tahu saya ya adegan yang paling kamu suka yang mana?

Ciao, mau mengagumi Sung Hoon dulu. :))))

 

*all pics are taken from Google Images

 

Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Makan-Makan Enak

Long weekend kemarin, saya nggak ke mana-mana, tapi dalam 3 hari itu mencoba 3 restoran yang berbeda. Yuk lah dibahas aja. Tapi nggak ada fotonya karena…..orangnya laperan, tiap lihat makan langsung gragas, lupa foto. XD

1. Tako Suki

Habis ibadah  Jumat Agung dan lagi nunggu untuk perjamuan kudus yang masih 3 jam lagi, mertua ngajakin makan di Tako Suki. Tako Suki ini rebus-rebusan khas Jepang. Restorannya sendiri sudah ada sejak lama, sering banget saya lewatin, tapi nggak pernah mampir karena saya biasanya nggak suka rebus-rebusan. Dari depan nggak kelihatan besar, parkirannya pun terbatas. Jadi kalau lagi rame banget, parkirannya bisa sampai ke jalanan.

Karena keluarga suami suka banget rebus-rebusan, ya saya pasti ngikutlah. Udah siap-siap nggak bakal makan banyak karena biasanya menu rebus-rebusan itu seafood, yang mana saya nggak suka.

Begitu masuk, ternyata restorannya besar banget, areanya luas sampai ke belakang. Ada aquarium besar dengan ikan-ikan dan udang yang masih  hidup, jadi makanannya cukup segar. Ada panggung kecil, jika mau ada perayaan atau ulang tahun, ada pojokan untuk kids corner (nggak besar, cuma ada lego-legoan, tapi bikin anak cukup betah main-main di sini), baby chair yang banyak, dan toilet yang bersih. Secara keseluruhan, cukup nyaman dan menyenangkan.

Di tiap meja ada kompor untuk panci rebusan. Pancinya terbagi dua, untuk sup biasa dan tom yum. Untuk isi rebusannya, bisa diambil dan dipilih sendiri, nanti yang merebus waitressnya. Di buku menu, selain rebusan, ada banyak banget pilihan menu lainnya, seperti nasi goreng, ikan-ikanan, mie, dsb. Dessertnya pun macam-macam, seperti es cendol, ice milk tea, es podeng, dsb. Jadi apapun seleranya, walau berbeda-beda, Tako Suki ini aman karena pilihannya banyak.

Untuk rebusan sendiri, sebagai orang yang nggak suka makan rebus-rebusan, I can say that it was very good. Rasanya segar dan kuah tom yum-nya enak banget. Berasa pedas dan asamnya. Nasi goreng HongKongnya lezat, sampai Kaleb nambah mulu. Nggak terlalu asin, tapi nggak hambar juga.

Untuk pertama kalinya, saya bilang ke suami, “Yuk, kita balik lagi ke restoran ini.” It was that good. 🙂

Tako Suki

Jl. Pesanggrahan No. 78D, Puri Indah, Jakarta Barat

 

2. Happy Day Restaurant

Hari Sabtu kemarin, rencananya mau jalan-jalan ke Monas, tapi udah kesorean jadi udah tutup. HIKS! Plus, tiba-tiba hujan. Ya udah lah melipir ke restoran di dekat situ aja, pilihan jatuh ke Happy Day Restaurant. Sering banget lewat restoran ini tapi nggak pernah mampir. Padahal penasaran karena nama restorannya Happy Day, kayaknya menyenangkan #cetek. Akhirnya kesampaian deh nyobain juga.

Begitu masuk suka banget sama suasananya karena kayak lagi di pedesaan luar negeri sana. Interiornya dibuat kayak rumah kayu, pohon-pohonan, dan di atasnya kayak ada semacam kincir. Ih seru. Kaleb senang banget lihatin kincirnya. Kalau saya sih berasa pengen nyanyi The Sound of Music jadinya. Hahahaha!

Kami pesan nasi goreng buntut (suami dan Kaleb berebutan banget karena enak), cheese pizza (lagi-lagi Kaleb berebutan sama saya karena kejunya berasa banget), french fries (seporsi dapat banyak dan garing), es doger, dan es teh manis (ukuran gelas tehnya besar jadi puas).

Saya suka banget sama pilihan beragam dari menunya. Suami kebanyakan suka menu lokal, sementara saya tergila-gila pizza jadi semua terakomodir dengan damai. Suasananya juga menyenangkan, pelayannya ramah banget, dan yang paling penting nih, harganya affordable. Untuk semua makanan itu kayaknya cuma habis sekitar Rp 160.000. Dompet pun bahagia. 😀

Happy Day Restaurant

Jl. Ir. H. Juanda No 19, Gambir, Jakarta

 

3. Ton Thip

Hari Minggunya, sehabis gereja, seperti biasa dilanda kebingungan mau makan apa. Tiba-tiba ingat kalau di Lippo Mall Puri ada restoran Thai baru, namanya Ton Thip. Saya selalu suka sama masakan Thai, tapi nggak suka seafood. Banyakan resto Thai di Jakarta ya makanannya seafood. Hiks, ku sedih! Dulu pas ke Thailand, pernah coba noodle soup-nya yang rasanya endeus banget. Sayangnya, entah kenapa, menu ini jarang banget ada di resto Thai kebanyakan di Jakarta. Ada sih satu gerai makanan Thai di Urban Kitchen Senayan City yang nyediain noodle soup ini, tapi dagingnya terlalu keras jadi ya saya jarang balik ke situ lagi.

Sebelum sampai ke makanan apa saja yang saya pesan, ada satu kejadian di Ton Thip ini. Cara pemesanan di sini adalah pesan makanan dan langsung bayar makanan di kasir, lalu nunggu makanannya diantar. Pas mau bayar, kasir bilang kalau struknya nggak ada karena mesinnya rusak. Di depannya dia tertulis, “TANPA STRUK, FREE OF CHARGE.” Lalu ada nomor telepon dan email untuk feedback. Saya langsung tunjuk tulisan itu, tapi kasir langsung bilang nggak boleh, harus tetap bayar. LAH, GIMANA MBAKE? Karena saya malas ribut, saya bilang ya udah saya boleh laporin ya mbak ke nomor yang tertera. Mbaknya bilang, silahkan saja (aneh nggak, sih?). Saya tanya nama Mbak-nya, foto jumlah pembayaran saya, dan foto kertas feedback tersebut. Kemudian saya bayar dan tunggu makanannya. Sambil nunggu makanan, ya saya email pengaduan saya.

Pada saat saya lagi menikmati makanan, tiba-tiba ownernya datang menanyakan tentang keluhan saya. Saya ceritalah, ya. Dia minta maaf dan nanya seberapa total pembelian saya, dia akan kembalikan uangnya. Saya jelaskan ke dia, bukan soal harga makanannya dan saya nggak mau dikembalikan uangnya, kok. Cuma soal konsistensi dan servis aja. Harusnya kalau memang peraturan itu tidak bisa dijalankan atau pegawainya takut melakukan itu, sebaiknya ya tidak perlu ditulis. Buat apa ditulis, kalau memang tidak mampu dijalankan. Atau kalau ada kerusakan seperti itu, bisa pake bon manual saja. Beberapa kali, saya mendapati ada tulisan kalau nggak ada struk, maka gratis, tapi nggak pernah sekalipun mereka langsung legowo menjalankan aturan yang dibuat sendiri, yang ada customer tarik urat dulu untuk aturan yang mereka buat. Aneh, kan?

Anyway, manajemen cukup cepat dalam merespon keluhan saya baik secara langsung, maupun via email. So, I guess it’s a good thing. Tidak defensif, memberi penjelasan dengan baik, menawarkan penggantian, dan berjanji untuk memperbaiki hal tersebut. Buat saya cukup baik banget karena customer jadi nggak sebel. Oh ya, kemarin akhirnya mereka memberikan kami komplimen berupa 2 buah dessert. Good gesture banget, ya. 🙂

Oke, kembali lagi ke soal makanannya. Kami pesan beef noodle soup, tom yum, ice thai tea, plus bonus dessert mango sticky rice, dan singkong yang di atasnya ditaburi semacam fla (nggak nemu namanya di buku menu). ALL ARE DELICIOUS! Akhirnya saya nemuin makanan Thai yang sama rasanya seperti di Thai sana. AKU BAHAGIA! :’) Beef noodle soup-nya enak banget, rasa kuahnya gurih, dagingnya tebal tapi empuk dan gampang dipotong dan dimakan, Tom Yum-nya juga berasa banget asam dan gurihnya. Ada cabe potong khas Thai juga. Untuk mango sticky rice dan singkong itu juga enak banget. Mangganya manis, ketannya empuk. Ketannya ada 2 jenis, yang manis dan rasa pandan. Enak parah! Suami sampai bilang, “Aku pasti bakal balik lagi ke sini. Ini enak banget!” Couldn’t agree more. :’) Btw, setelah email-emailan, ternyata ownernya asli orang Thai jadi mungkin makanannya jadi berasa otentik, ya.

Oh ya, restoran ini belum ada baby chair, tapi kata manajemen mereka sudah berencana akan mengadakan baby chair. Maklum ya bok, untuk anak nggak bisa diam kayak Kaleb, no baby chair is disaster lah. Lagu-lagu yang dipasang pun lagu Thai. Senang banget karena jadi menambah experience berasa Thai-nya. Yang paling penting harganya affordable banget, nggak ada yang di atas Rp 50.000. Cobain, deh. 😉

Ton Thip

Lippo Mall Puri, Lantai Lower Ground 79, Jl. Puri Indah Boulevard Blok U No. 1, Puri Indah, Jakarta

 

Selamat mencoba! Perut dan dompetku bahagia karena 3 hari makan enak tapi harganya nggak bikin sakit hati. 😀

Review: Scientia Square Park

IMG_20170327_094515.jpg

Di harpitnas kemarin, kebetulan banget suami dan saya cuti. Ya biar ngerasa long weekend walau nggak ke mana-mana. Kami ngajak Kaleb ke Scientia Square Park (SQP) demi supaya Kaleb lebih banyak main di alam terbuka. Pikirnya sih lebih murah karena hitungannya weekdays ya, harusnya Rp 30.000. Ternyata sampai sana ada festival film anak, jadinya tiket dihitung weekend, yaitu Rp 50.000. Anak di atas 2 tahun sudah bayar. Ya udah nggak papa, nanti bisa ikutan nonton film, kan. Plus boleh keluar masuk taman, jadi mikirnya bisa lah sampai sore.

Kami sampai agak siangan, sekitar jam 10. Tentunya matahari lagi terik. Kalau ke sana mending siap-siap bawa topi, pake sunblock, dan kaca mata hitam. Di sana juga nggak dilarang bawa makanan dan minuman, jadi bisa banget kalau mau piknik.

Dengan harga tiket Rp 50,000, ekspektasinya SQP ini besar buanget, ya. Tapi ternyata ya nggak besar-besar banget juga. Juga karena lagi terik, jadi cukup sepi. Kalau di foto-foto kan ada ayunan berbentuk lingkaran itu, ya. Dikira itu ada banyak. Ternyata cuma satu aja, loh! Trus pas saya datang nggak ada bean bag di rumput yang banyak di foto-foto. Hiks, aku kuciwa.

Buat Kaleb SQP ini tetap menyenangkan, sih. Dia bisa lari-larian sepuasnya, main ayunan, lihat kelinci, naik kuda, dan naik kerbau. Ada beberapa point kesan saya tentang SQP:

  • Kupu-kupu di Butterfly Park nggak banyak. Jadi jangan ngarep bakal lihat berbagai macam kupu-kupu beterbangan. Iya, ada kupu-kupu, tapi dibandingin luas tempatnya jadi nggak sebanding dan nggak kelihatan. Warna kupu-kupunya pun kebanyakan hitam. Kaleb bahkan nggak sadar kami masuk ke Butterfly Park. Dia malah sibuk lari-lari keliling taman aja.
  • Corn field-nya ya udah begitu aja. Enak sih buat duduk-duduk di gubuk lihatin corn field. Tapi buat Kaleb, lihatin kebun jagung, bhay mendingan lari-lari aja.
  • Taman kelincinya menarik. Kelincinya dirawat dengan baik sehingga kelihatan gemuk semua. Boleh dipegang, dikasih makan (harusnya untuk makanan bayar lagi, tapi kemarin Kaleb dikasih gratis). Kaleb senang banget kejar-kejaran sama kelinci di sini.
  • Tiket masuk Rp 50.000 beneran cuma untuk tiket masuk. Karena di dalam, beberapa ya nambah lagi. Kayak naik kuda bayar Rp 20.000, sewa in line skate bayar, naik trampolin bayar, main remote control ya bawa sendiri. Intinya, sedia uang lebih dari tiket masuk aja.
  • Ada kerbau yang bisa dinaikin. Tapi nggak ada penjaganya aja gitu loh! Sampai bingung ini minta tolong ke siapa karena areanya terbuka dan luas, masa teriak-teriak. Akhirnya ada penjaga yang lewat, nanya boleh dinaikin nggak kerbaunya. Dia bilang boleh, terus ngeloyor pergi. Lah? Ini kerbau kalau ngamuk atau gimana-gimana? Ya sudahlah foto-foto bentar dekat kerbau aja.
  • Ada water play, di mana anak-anak bisa main basah-basahan dan ada air mancur. Tapi tempatnya kecil. Dan yang paling nyebelin, lantainya lumutan. Anak-anak harus banget ada yang pegangin karena orang dewasa aja sering kepeleset, apalagi anak kecil. Kaleb senang sih main di sini, tapi karena berlumut saya jadi geli.
  • Nah, karena udah basah-basahan di water play, plus lantainya lumutan, jadi harus bilas, dong. Di dekat water play ada toilet, dikira bisa untuk bilas. Karena, logika aja sih, kalau ada tempat main basah-basahan, harusnya bisa bilas mandi. Ternyata di toilet (btw, toiletnya bersih kok), nggak ada tempat untuk bilas. Zzz! Akhirnya nanya ke penjaga ini bilasnya di mana, disuruh ke luar dari area water play, di dekat parkiran. Mayan ya, jauh loh jalannya. Plus Kaleb karena udah basah banget seluruh badan, ya udah buka baju dan celana, trus digendong di bawah terik matahari. Karena nggak ada tulisan bilas atau ruko yang ditunjukin penjaga tadi, akhirnya malah nyasar ke Scientia Residence. Beberapa orang nggak helpful dan nggak tahu keberadaan tempat bilas ini, yang ternyata cukup jauh dari SQP. Aneh nggak sih, SQP di mana, tapi bilasnya dekat parkiran. Pas masuk ruko, entah ini kantor marketingnya atau apalah, kelihatannya masih setengah jadi atau renovasi. Bau cat dan berantakan. Karyawannya bingung kenapa kami masuk, kurang ramah waktu ditanya mana tempat bilas, dan kayak orang kumur-kumur ngomongnya. Anyway, tempat bilasnya bersih dan memang ada beberapa shower, shampo, dan sabun. Terawat dan bagus. Habis mandi dan mau keluar, ditagih bayar Rp 10.000 untuk bilas .APAAAAAA? Saya ngamuklah. Bukan soal duit Rp 10.000, tapi soal ditagih tapi nggak ada tertulis jelas aturannya (jadi diasumsikan dia bisa aja bohong atau ngarang-ngarang, dong), nggak masuk akal kalau harus bayar terutama karena tiket masuk sudah lumayan mahal, dan ada water play di situ, lalu jarak antara SQP dan tempat bilas jauh. Terutama karena menurut saya orang-orangnya nggak ramah.
  • Nggak ada playground untuk anak, kayak perosotan, jungkat-jungkit, panjat-panjatan untuk anak kecil sebesar balita (well, ada sih, nyempil kecil sampai pas ditanya ke petugasnya aja dia bilang nggak ada. Bok, dia aja nggak tahu keberadaan perosotan ini). Ini mungkin karena gedung sebelah ada playground berbayar jadi biar nggak saingan kali. Sayang sekali, karena saya berharap anak balita bisa main di semacam playground di taman.
  • Ada mall sebelah SQP yang dalamnya hampir nggak ada apa-apa, nggak menarik, tapi di luar banyak tempat makan outdoor, mayanlah buat yang kalau kelaparan. Bonus, banyak mahasiswa yang makan di situ. Kalau banyak mahasiswa berarti makanannya banyak yang murah-murah.
IMG_20170327_095338

Arena skate park

IMG_20170327_095551

Rice field

IMG_20170327_100008.jpg

Mengejar kelinci

IMG_20170327_100719.jpg

Butterfly park

IMG_20170327_103518

IMG_20170327_102234.jpg

Katanya jinak, tapi kan kalau nggak ada yang jagain serem juga

Kesimpulannya, walaupun Kaleb sangat menikmati acara bermainnya hari ini, tapi kami ngerasa nggak worth it, sih. Areanya cukup luas, tapi tidak seluas itu. Setidaknya kami hanya bertahan 2 jam dan sudah memainkan semuanya. Servisnya kurang, apa-apa harus bayar lagi. Mungkin karena bayar, ekspektasi saya tinggi. Jadi yah lumayan kecewa karena orangnya nggak ramah, jarang yang standby pula.

Lagipula, kami akhirnya nggak nonton filmnya karena Kaleb nggak mungkin bisa diam di dalam jadi dilewatkan begitu saya. Menurut saya festival film anak dan tiket SQP yang dijadikan satu itu bikin kecewa. Lebih baik, tiket festival sendiri, tiket SQP sendiri. Kalau nggak mau nonton film kan jadi nggak harus bayar lebih.

Mau lagi ke sana? Hm, sampai saat ini sih belum, ya. Hahaha, masih banyak taman lagi, atau RPTRA sekalian yang lebih worth it (RPTRA Kalijodo yang gratis aja playground untuk anak balitanya besar, lho).

 

 

Review: Beauty and the Beast (2017)

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Pic from here

Sebagai pecinta Princess, tentu saja saya nggak akan melewatkan nonton Beauty and the Beast. Wong, pas tinggal beberapa hari lagi lahiran saya keukeuh nonton Cinderella di bioskop, kok. Sama seperti pas nonton Mirror Mirror (Snow White) dan Cinderella yang sendirian, nonton Beauty and the Beast pun sendirian. Alasannya karena nonton sama suami, udah pastilah dia nggak suka dan nggak paham kenapa begitu merasuknya film Disney Princess ini. Jadi daripada dia nonton sambil nguap, muka datar, dan nggak dapat esensi ngayalnya lebih baik nggak usah. Nonton sama teman juga nggak jadi opsi karena belum nemuin teman yang satu frekuensi tergila-gila sama Disney Princess. Jadi, paling benar adalah nonton sendirian. Dapat fangirlingnya, dapat me-time-nya. Super menyenangkan.

I LOVE IT SO MUCH! Aaak!

Beauty and the Beast versi live action-nya beneran dibikin sama dengan versi kartunnya. That is why I love it so much. Semua yang dulu cuma bisa dilihat dan dibayangkan di film kartun, sekarang jadi kenyataan lihat orang-orangnya beneran. Menurut saya, ini yang bikin film ini jadi bagus ya karena penonton jaman dahulunya akan bisa memunculkan ingatan masa kecilnya sehingga jadinya berkesan.

The details are superb. Istananya, kostum-kostum yang cantik nan ribet, peralatan rumah tangga yang bicara, even Gaston yang mirip banget sama kartunnya. Ditambah lagi lagu-lagunya yang sama kayak versi kartun dan nggak banyak diubah. It’s like seeing your childhood dream comes true. Senang dan terharu.

Secara akting, kayaknya sih biasa aja ya Emma Watson ini. Nggak jelek, tapi ya bukan yang luar biasa banget. Tapi saya ikutan berkaca-kaca sedih, ikutan senyum lebar bahagia, dan nyanyi lagu-lagunya di bioskop. Gila, itu 2 jam masuk ke dunia masa kecil lagi dan rasanya indah banget. Makanya mau aktingnya biasa aja, tapi untuk seorang fans berasa sampai hati banget dan jadi emosional karena memori yang indah dulu.

Oh ya, paling suka banget kostum Belle pas adegan terakhir dance sama pangeran. Putih bunga-bunga cantik. Tapi tentu saja adegan favorit adalah waktu Belle dansa dengan Beast pake dress warna kuning diiringi lagu Beauty and the Beast. Saya sambil nyanyi dengan mata berbinar-binar, ikutan bahagia akhirnya mereka saling jatuh cinta aja. Dan ini cuma tokoh dongeng, lho!

Soal adegan LGBT yang dihebohin orang-orang. Well, ini pendapat saya. Di dalam film itu emang ada karakter LeFou, seorang prajurit yang agak lemah gemulai. Bukan bencong, tapi ya perasaannya cukup sensitif dan perilakunya lembut seperti perempuan. Di masyarakat banyak kok yang kayak gini. Malahan sinetron Indonesia lebih parah dalam menggambarkan cowok lemah gemulai, yang benar-benar mirip bencong. Kalau ini masih kayak cowok lah. Nah, adegan gay yang dimaksud mungkin adegan tatap-tatapan LeFou sama satu cowok. Cuma berlangsung 1 detik. Sekejap aja. Mungkin ini yang dimaksud adegan gay. Orang yang nonton bisa sadar, bisa tidak, kalau yang dimaksud adalah gay. Kalau anak kecil mungkin nggak sadar sama sekali karena ya sekelebat, nggak terlalu penting. Analoginya sama kayak para LGBT ini ada di tengah masyarakat, kita tahu preferensi mereka berbeda, tapi ya udah. Mereka nggak ganggu, nggak vulgar, dan banyakan nggak tahu keberadaan mereka. Jadi nggak perlu takut, lebay, histeris bilang film ini mengajarkan anak-anak jadi LGBT. Doh, nggak sesederhana itu untuk jadi LGBT keleus! Sip, ya!

Malah, kalau boleh menilai, saya lebih khawatir adegan berantemnya dibandingkan adegan LGBT. Ada beberapa adegan berantem yang bikin saya sampai kaget, sih. Takutnya anak-anak lebih kaget. Itu aja yang jadi concern. Selebihnya, aman banget kok filmnya buat anak-anak.

Jadi kalau ditanya reviewnya, saya sih akan super bias karena saya suka banget princess begini. But seriously, it is a good movie. :’)

 

 

Perkara Rengginang Nyangkut

Seminggu lalu saya melakukan hal bodoh. Waktu itu lagi ngemil rengginang, tapi rengginangnya keras banget. Karena saya anaknya gragas, jadi walau keras, tapi tetap saya makan. Padahal rasanya ya begitu aja, bukan yang enak-enak banget. Lapar mata aja, bok! Kemudian datanglah azab untuk orang yang rakus….

Serpihan rengginang nyangkut di gusi dinding mulut bagian atas. Nyes! Masuknya dalam pula, jadi nggak bisa dikorek pake tusuk gigi. Ganjel banget di mulut. Huhuhu! Gusi saya jadi sakit dan bengkak. Gosok gigi aja susah. Makan walau masih bisa, tapi kalau kena ya sakit. Tiap saat kerjaan saya ngorek-ngorek yang nyangkut pake lidah. Tetep loh bandel banget nggak mau keluar atau bergeser. Duh!

Akhirnya ngadu sama suami, tapi dipikir nyangkut makanan di gigi kan soal sepele, jadi nggak digubris. Tidaaaak! Padahal udah nggak nyaman banget dan akhirnya jadi ganggu karena gigi ngilu. Pfft!

Akhirnya memutuskan, sudahlah ke dokter aja. Ini udah lewat 4 hari dan nggak keluar sendiri itu rengginang walau udah diusahakan berbagai cara. Nah, saya nggak punya dokter gigi langganan. Tiap ke dokter gigi selalu ganti-ganti dokter dan ya pengalamannya nggak ada yang spesial sampe bikin saya wow!

Karena saya sering lewatin Puskesmas Kebon Jeruk yang sekarang bagus banget dengan banyak pelayanan, jadi pikir ya udah ke puskesmas aja. Toh, perkara rengginang nyangkut doang. Huhu! Mau sekalian coba BPJS juga, sih. Bisa jalan nggak nih programnya?

Sebenarnya ada puskesmas yang lebih dekat rumah, tapi kok kelihatan dari luar kayak gelap dan nggak terurus, ya. Saya kan jadi nggak yakin sama pelayanannya. Jadilah ke puskesmas Kebon Jeruk yang agak jauhan dikit.

Saya datang pagi hari, langsung ambil nomor antrian di mesin yang terletak di lobi. Untuk setiap poli di puskesmas ini juga bisa daftar online. Canggih, ya. Setelah itu naik ke lantai 2 untuk menukarkan nomor antrian di poli gigi dan dicatat nomor BPJS oleh petugas. Semua petugasnya ramah, murah senyum, dan informatif.

Setelah dapat nomor antrian baru deh nunggu di depan polinya untuk dipanggil. Nggak nunggu lama, sekitar 15 menit, saya pun dipanggil masuk. Jadi di satu ruangan ada 3 kursi untuk pemeriksaan gigi, makanya antriannya jadi nggak lama.

Sebelum diperiksa dokter menanyakan keluhannya apa. Hanya boleh satu tindakan per hari. Jadi kayak saya kemarin, keluhannya gigi bolong dan makanan nyangkut, saya disuruh milih mau ditindak yang mana. Sebenarnya ini yang bikin cepat sih karena dokter cuma boleh menangani satu tindakan, tapi jadi nggak efektif karena harus bolak balik di lain hari untuk tindakan lainnya, dong.

Setelah dokternya periksa gigi dan menjelaskan kondisi gigi, dia nanya ke saya mana yang mau dibenerin dulu. Ya, saya sih tanya aja mana yang paling urgent. Ternyata ya si rengginang nyangkut itu karena gusi saya udah bengkak dan takutnya bernanah. EUH! Pengerjaannya teliti dan sabar sih sampai benar-benar masalahnya selesai dan bersih.

Setelah selesai pemeriksaan, dokter kasih resep. Oh ya, di awal dokter menjelaskan kalau walau saya pake BPJS tapi nggak bisa gratis karena saya ke puskesmas bukan di rayon saya. Jadilah harus bayar. Oh, baiklah nggak papa, deh. Mikirnya udah mahal, dong. Secara biasanya ke dokter gigi mahal banget. Pas dikasih biayanya: biaya kuret gigi Rp 25.000 dan biaya pendaftaran Rp 2000. OMG beneran nih semurah iniiii? Nggak sampe Rp 50.000, bok! Saya sampai melongo banget.

Selesai membayar, saya kasih nomor antrian ke apotik karena ada obat yang harus dimakan. Saya udah siap-siap bayar obat lagi, dong. Di rumah sakit atau klinik kan begitu, ya. Eh, pas dikasih obatnya, nggak ada biaya lagi dong. APAAAA?! Beneran nih, cuma Rp 27.000 aja yang saya bayar dan segala perkara rengginang nyangkut dan gusi bengkak kelar? Saking murahnya sampai nggak percaya. Bahagia banget! :)))

Jadi ya wajar juga sih, udah cuma bayar murah trus besoknya disuruh balik lagi untuk tindakan lain ya nggak papa juga. HAHAHA. Toh bisa cari puskesmas yang ada poli giginya dekat kantor aja biar nggak usah bolos, kan.

Ish, senang banget deh berobat ke puskesmas ini. Pelayanannya bagus dan harganya murah. Jadi jangan takut datang ke puskesmas karena sekarang pelayanan mereka sama bagusnya dengan dokter swasta, kok. 🙂