Review: My Secret Romance

Sejak drakor Goblin berakhir di awal Januari, hidup saya rasanya hampa. Goblin ini secara kualitas bagus banget sehingga rasanya drama lain terlihat biasa-biasa aja. Jadi kerjaan saya selama beberapa bulan kekosongan ini adalah mencoba nonton beberapa drakor yang katanya bagus, baru beberapa episode lalu nggak lanjut nonton karena bosan. Hampir nggak ada drakor yang saya tonton sampai tamat, kecuali Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Kim Bok Joo bisa saya tonton sampai habis bukan karena saya suka banget ceritanya, tapi karena yah okelah, pemeran utamanya lucu, ceritanya lumayan, beklah mari dihabiskan tontonannya daripada nggak ada.

Sampai akhirnya kehampaan ini berakhir ketika muncullah drama My Secret Romance.

my-secret-romance-poster1

Diperankan oleh Song Ji Eun dan Sung Hoon

Apakah drama ini kualitasnya menandingi atau setidaknya setara dengan Goblin? Nggak. Banget. Hahaha! Jadi ini drama super receh dengan kualitas biasa aja, setara FTV kualitas Korea (bukan FTV Indonesia yang parah banget itu, ya). Ceritanya apalagi, tipikal banget dan udah ada kira-kira sejuta drama Korea yang mengusung cerita seperti ini:

Cha Jin-Wook (Sung Hoon) is a son from a wealthy family. His family runs a large company. Cha Jin-Wook only pursues short term love. He meets Lee Yoo-Mi (Song Ji-Eun) and changes. Lee Yoo-Mi has never had a boyfriend before.

Duileh picisan banget lah: cowok kaya raya, tampan, arogan, playboy, naksir cewek miskin, cantik, polos, baik hati.

Yang bikin saya suka banget sama cerita ini ternyata ya karena ceritanya receh, gampang dicerna, chemistry mereka oke, cowoknya walau dibilang arogan tapi sama sekali nggak nyebelin juteknya karena masih kelihatan hangat, dan cowoknya yang usaha banget kejar-kejar ceweknya.

Bonus banget adalah sosok Sung Hoon yang alamak Tuhan pasti lagi bahagia banget pas nyiptain dia.

sung-hoon

15873189_1357343187619274_1251578781098459455_n

Wajar kan kalau dia didapuk jadi model underwear

AAAAAKKKKKKK!! Ada ya cowok seganteng dia yang rasanya pengen panjat dada bidangnya dan didekap. Duh, Mas! Manly abis. Menurut saya, dia tipikal cowok Korea yang nggak terlalu feminin. Masalahnya banyak cowok Korea yang menurut saya cantik, kurang cowok. Kalau Sung Hoon cowok banget!

Ya gimana nggak, dulu dia atlet renang. Berhenti karena cedera, lalu jadi aktor. Udah jadi aktor, dia bisa nyanyi, seorang DJ pula. Di film My Secret Romance, badan kecenya ini tentunya harus dieksploitasi, dong. Wakakaka! Jadi ada adegan dia berenang, pake tuxedo, baju kasual, jaket kulit. Sung Hoon mau dipakein baju jelek juga jadi bagus di dia. Duh Mas, makan apa sih kamu jadi bisa ganteng gini?

Sementara Ji Eun kayak boneka, polos, cantik, dan matanya bulat. Mau pake apa juga cantik dengan rambut yang walau ada angin kencang kok jatuhnya tetap bagus? WHY?

hqdefault

Jutek aja kok ya cantik, Mbak?

Untuk menambah kerecehan drama ini, semua adegan khas bikin baper kesukaan cewek-cewek tentu saja ada:

  1. Adegan one night stand ada di episode pertama. Bayangin, adegan hot di awal cerita! UWOOOWWW! *mata nggak kedip*

c9stclsuiaarkmo

 

2. Hampir di semua episode ada kissingnya. Kissingnya tuh bisa banget lah ada di kolam renang, pas masak di dapur, pas lagi duduk di sofa, dll. Pokoknya puaslah.

 

x240-s84

 

3. Cowok ganteng bawa anak kecil main di taman dan ajak date ceweknya sambil ngangon anak kecil. Coba bayangkan, udahlah ganteng, sayang anak kecil, jiwa kebapakan mencuat ke mana-mana. Sebagai wanita, hormonku langsung meluap-luap.

a32b4d0f-9691-4cb9-b0db-432a06e75889

Udahlah ganteng, sayang anak kecil. Kelar!

4. Konfliknya pun nggak panjang, paling sekitar 2-3 episode aja. Itupun nggak ribet, nggak menguras sedih berlebihan, malah menunjukkan sosok si cowok yang makin sadar cintanya udah mentok.

Jadinya sepanjang drama ini lebih dihabiskan untuk drooling kegantengan Sung Hoon, baper lihat Sung Hoon dan Ji Eun yang super cute banget dari berantem sampai pacarannya, dan selalu diakhiri dengan hati yang hangat karena happy banget nontonnya.

Jadi ternyata yang mengisi kekosongan hati setelah ditinggalkan Goblin malahan drama receh nggak penting tapi justru bikin senang dan hangat. Coba ditonton deh, nanti habis itu kasih tahu saya ya adegan yang paling kamu suka yang mana?

Ciao, mau mengagumi Sung Hoon dulu. :))))

 

*all pics are taken from Google Images

 

Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Makan-Makan Enak

Long weekend kemarin, saya nggak ke mana-mana, tapi dalam 3 hari itu mencoba 3 restoran yang berbeda. Yuk lah dibahas aja. Tapi nggak ada fotonya karena…..orangnya laperan, tiap lihat makan langsung gragas, lupa foto. XD

1. Tako Suki

Habis ibadah ย Jumat Agung dan lagi nunggu untuk perjamuan kudus yang masih 3 jam lagi, mertua ngajakin makan di Tako Suki. Tako Suki ini rebus-rebusan khas Jepang. Restorannya sendiri sudah ada sejak lama, sering banget saya lewatin, tapi nggak pernah mampir karena saya biasanya nggak suka rebus-rebusan. Dari depan nggak kelihatan besar, parkirannya pun terbatas. Jadi kalau lagi rame banget, parkirannya bisa sampai ke jalanan.

Karena keluarga suami suka banget rebus-rebusan, ya saya pasti ngikutlah. Udah siap-siap nggak bakal makan banyak karena biasanya menu rebus-rebusan itu seafood, yang mana saya nggak suka.

Begitu masuk, ternyata restorannya besar banget, areanya luas sampai ke belakang. Ada aquarium besar dengan ikan-ikan dan udang yang masih ย hidup, jadi makanannya cukup segar. Ada panggung kecil, jika mau ada perayaan atau ulang tahun, ada pojokan untuk kids corner (nggak besar, cuma ada lego-legoan, tapi bikin anak cukup betah main-main di sini), baby chair yang banyak, dan toilet yang bersih. Secara keseluruhan, cukup nyaman dan menyenangkan.

Di tiap meja ada kompor untuk panci rebusan. Pancinya terbagi dua, untuk sup biasa dan tom yum. Untuk isi rebusannya, bisa diambil dan dipilih sendiri, nanti yang merebus waitressnya. Di buku menu, selain rebusan, ada banyak banget pilihan menu lainnya, seperti nasi goreng, ikan-ikanan, mie, dsb. Dessertnya pun macam-macam, seperti es cendol, ice milk tea, es podeng, dsb. Jadi apapun seleranya, walau berbeda-beda, Tako Suki ini aman karena pilihannya banyak.

Untuk rebusan sendiri, sebagai orang yang nggak suka makan rebus-rebusan, I can say that it was very good. Rasanya segar dan kuah tom yum-nya enak banget. Berasa pedas dan asamnya. Nasi goreng HongKongnya lezat, sampai Kaleb nambah mulu. Nggak terlalu asin, tapi nggak hambar juga.

Untuk pertama kalinya, saya bilang ke suami, “Yuk, kita balik lagi ke restoran ini.” It was that good. ๐Ÿ™‚

Tako Suki

Jl. Pesanggrahan No. 78D, Puri Indah, Jakarta Barat

 

2. Happy Day Restaurant

Hari Sabtu kemarin, rencananya mau jalan-jalan ke Monas, tapi udah kesorean jadi udah tutup. HIKS! Plus, tiba-tiba hujan. Ya udah lah melipir ke restoran di dekat situ aja, pilihan jatuh ke Happy Day Restaurant. Sering banget lewat restoran ini tapi nggak pernah mampir. Padahal penasaran karena nama restorannya Happy Day, kayaknya menyenangkan #cetek. Akhirnya kesampaian deh nyobain juga.

Begitu masuk suka banget sama suasananya karena kayak lagi di pedesaan luar negeri sana. Interiornya dibuat kayak rumah kayu, pohon-pohonan, dan di atasnya kayak ada semacam kincir. Ih seru. Kaleb senang banget lihatin kincirnya. Kalau saya sih berasa pengen nyanyi The Sound of Music jadinya. Hahahaha!

Kami pesan nasi goreng buntut (suami dan Kaleb berebutan banget karena enak), cheese pizza (lagi-lagi Kaleb berebutan sama saya karena kejunya berasa banget), french fries (seporsi dapat banyak dan garing), es doger, dan es teh manis (ukuran gelas tehnya besar jadi puas).

Saya suka banget sama pilihan beragam dari menunya. Suami kebanyakan suka menu lokal, sementara saya tergila-gila pizza jadi semua terakomodir dengan damai. Suasananya juga menyenangkan, pelayannya ramah banget, dan yang paling penting nih, harganya affordable. Untuk semua makanan itu kayaknya cuma habis sekitar Rp 160.000. Dompet pun bahagia. ๐Ÿ˜€

Happy Day Restaurant

Jl. Ir. H. Juanda No 19, Gambir, Jakarta

 

3. Ton Thip

Hari Minggunya, sehabis gereja, seperti biasa dilanda kebingungan mau makan apa. Tiba-tiba ingat kalau di Lippo Mall Puri ada restoran Thai baru, namanya Ton Thip. Saya selalu suka sama masakan Thai, tapi nggak suka seafood. Banyakan resto Thai di Jakarta ya makanannya seafood. Hiks, ku sedih! Dulu pas ke Thailand, pernah coba noodle soup-nya yang rasanya endeus banget. Sayangnya, entah kenapa, menu ini jarang banget ada di resto Thai kebanyakan di Jakarta. Ada sih satu gerai makanan Thai di Urban Kitchen Senayan City yang nyediain noodle soup ini, tapi dagingnya terlalu keras jadi ya saya jarang balik ke situ lagi.

Sebelum sampai ke makanan apa saja yang saya pesan, ada satu kejadian di Ton Thip ini. Cara pemesanan di sini adalah pesan makanan dan langsung bayar makanan di kasir, lalu nunggu makanannya diantar. Pas mau bayar, kasir bilang kalau struknya nggak ada karena mesinnya rusak. Di depannya dia tertulis, “TANPA STRUK, FREE OF CHARGE.” Lalu ada nomor telepon dan email untuk feedback. Saya langsung tunjuk tulisan itu, tapi kasir langsung bilang nggak boleh, harus tetap bayar. LAH, GIMANA MBAKE? Karena saya malas ribut, saya bilang ya udah saya boleh laporin ya mbak ke nomor yang tertera. Mbaknya bilang, silahkan saja (aneh nggak, sih?). Saya tanya nama Mbak-nya, foto jumlah pembayaran saya, dan foto kertas feedback tersebut. Kemudian saya bayar dan tunggu makanannya. Sambil nunggu makanan, ya saya email pengaduan saya.

Pada saat saya lagi menikmati makanan, tiba-tiba ownernya datang menanyakan tentang keluhan saya. Saya ceritalah, ya. Dia minta maaf dan nanya seberapa total pembelian saya, dia akan kembalikan uangnya. Saya jelaskan ke dia, bukan soal harga makanannya dan saya nggak mau dikembalikan uangnya, kok. Cuma soal konsistensi dan servis aja. Harusnya kalau memang peraturan itu tidak bisa dijalankan atau pegawainya takut melakukan itu, sebaiknya ya tidak perlu ditulis. Buat apa ditulis, kalau memang tidak mampu dijalankan. Atau kalau ada kerusakan seperti itu, bisa pake bon manual saja. Beberapa kali, saya mendapati ada tulisan kalau nggak ada struk, maka gratis, tapi nggak pernah sekalipun mereka langsung legowo menjalankan aturan yang dibuat sendiri, yang ada customer tarik urat dulu untuk aturan yang mereka buat. Aneh, kan?

Anyway, manajemen cukup cepat dalam merespon keluhan saya baik secara langsung, maupun via email. So, I guess it’s a good thing. Tidak defensif, memberi penjelasan dengan baik, menawarkan penggantian, dan berjanji untuk memperbaiki hal tersebut. Buat saya cukup baik banget karena customer jadi nggak sebel. Oh ya, kemarin akhirnya mereka memberikan kami komplimen berupa 2 buah dessert. Good gesture banget, ya. ๐Ÿ™‚

Oke, kembali lagi ke soal makanannya. Kami pesan beef noodle soup, tom yum, ice thai tea, plus bonus dessert mango sticky rice, dan singkong yang di atasnya ditaburi semacam fla (nggak nemu namanya di buku menu). ALL ARE DELICIOUS! Akhirnya saya nemuin makanan Thai yang sama rasanya seperti di Thai sana. AKU BAHAGIA! :’) Beef noodle soup-nya enak banget, rasa kuahnya gurih, dagingnya tebal tapi empuk dan gampang dipotong dan dimakan, Tom Yum-nya juga berasa banget asam dan gurihnya. Ada cabe potong khas Thai juga. Untuk mango sticky rice dan singkong itu juga enak banget. Mangganya manis, ketannya empuk. Ketannya ada 2 jenis, yang manis dan rasa pandan. Enak parah! Suami sampai bilang, “Aku pasti bakal balik lagi ke sini. Ini enak banget!” Couldn’t agree more. :’) Btw, setelah email-emailan, ternyata ownernya asli orang Thai jadi mungkin makanannya jadi berasa otentik, ya.

Oh ya, restoran ini belum ada baby chair, tapi kata manajemen mereka sudah berencana akan mengadakan baby chair. Maklum ya bok, untuk anak nggak bisa diam kayak Kaleb, no baby chair is disaster lah. Lagu-lagu yang dipasang pun lagu Thai. Senang banget karena jadi menambah experience berasa Thai-nya. Yang paling penting harganya affordable banget, nggak ada yang di atas Rp 50.000. Cobain, deh. ๐Ÿ˜‰

Ton Thip

Lippo Mall Puri, Lantai Lower Ground 79, Jl. Puri Indah Boulevard Blok U No. 1, Puri Indah, Jakarta

 

Selamat mencoba! Perut dan dompetku bahagia karena 3 hari makan enak tapi harganya nggak bikin sakit hati. ๐Ÿ˜€

Review: Scientia Square Park

IMG_20170327_094515.jpg

Di harpitnas kemarin, kebetulan banget suami dan saya cuti. Ya biar ngerasa long weekend walau nggak ke mana-mana. Kami ngajak Kaleb ke Scientia Square Park (SQP) demi supaya Kaleb lebih banyak main di alam terbuka. Pikirnya sih lebih murah karena hitungannya weekdays ya, harusnya Rp 30.000. Ternyata sampai sana ada festival film anak, jadinya tiket dihitung weekend, yaitu Rp 50.000. Anak di atas 2 tahun sudah bayar. Ya udah nggak papa, nanti bisa ikutan nonton film, kan. Plus boleh keluar masuk taman, jadi mikirnya bisa lah sampai sore.

Kami sampai agak siangan, sekitar jam 10. Tentunya matahari lagi terik. Kalau ke sana mending siap-siap bawa topi, pake sunblock, dan kaca mata hitam. Di sana juga nggak dilarang bawa makanan dan minuman, jadi bisa banget kalau mau piknik.

Dengan harga tiket Rp 50,000, ekspektasinya SQP ini besar buanget, ya. Tapi ternyata ya nggak besar-besar banget juga. Juga karena lagi terik, jadi cukup sepi. Kalau di foto-foto kan ada ayunan berbentuk lingkaran itu, ya. Dikira itu ada banyak. Ternyata cuma satu aja, loh! Trus pas saya datang nggak ada bean bag di rumput yang banyak di foto-foto. Hiks, aku kuciwa.

Buat Kaleb SQP ini tetap menyenangkan, sih. Dia bisa lari-larian sepuasnya, main ayunan, lihat kelinci, naik kuda, dan naik kerbau. Ada beberapa point kesan saya tentang SQP:

  • Kupu-kupu di Butterfly Park nggak banyak. Jadi jangan ngarep bakal lihat berbagai macam kupu-kupu beterbangan. Iya, ada kupu-kupu, tapi dibandingin luas tempatnya jadi nggak sebanding dan nggak kelihatan. Warna kupu-kupunya pun kebanyakan hitam. Kaleb bahkan nggak sadar kami masuk ke Butterfly Park. Dia malah sibuk lari-lari keliling taman aja.
  • Corn field-nya ya udah begitu aja. Enak sih buat duduk-duduk di gubuk lihatin corn field. Tapi buat Kaleb, lihatin kebun jagung, bhay mendingan lari-lari aja.
  • Taman kelincinya menarik. Kelincinya dirawat dengan baik sehingga kelihatan gemuk semua. Boleh dipegang, dikasih makan (harusnya untuk makanan bayar lagi, tapi kemarin Kaleb dikasih gratis). Kaleb senang banget kejar-kejaran sama kelinci di sini.
  • Tiket masuk Rp 50.000 beneran cuma untuk tiket masuk. Karena di dalam, beberapa ya nambah lagi. Kayak naik kuda bayar Rp 20.000, sewa in line skate bayar, naik trampolin bayar, main remote control ya bawa sendiri. Intinya, sedia uang lebih dari tiket masuk aja.
  • Ada kerbau yang bisa dinaikin. Tapi nggak ada penjaganya aja gitu loh! Sampai bingung ini minta tolong ke siapa karena areanya terbuka dan luas, masa teriak-teriak. Akhirnya ada penjaga yang lewat, nanya boleh dinaikin nggak kerbaunya. Dia bilang boleh, terus ngeloyor pergi. Lah? Ini kerbau kalau ngamuk atau gimana-gimana? Ya sudahlah foto-foto bentar dekat kerbau aja.
  • Ada water play, di mana anak-anak bisa main basah-basahan dan ada air mancur. Tapi tempatnya kecil. Dan yang paling nyebelin, lantainya lumutan. Anak-anak harus banget ada yang pegangin karena orang dewasa aja sering kepeleset, apalagi anak kecil. Kaleb senang sih main di sini, tapi karena berlumut saya jadi geli.
  • Nah, karena udah basah-basahan di water play, plus lantainya lumutan, jadi harus bilas, dong. Di dekat water play ada toilet, dikira bisa untuk bilas. Karena, logika aja sih, kalau ada tempat main basah-basahan, harusnya bisa bilas mandi. Ternyata di toilet (btw, toiletnya bersih kok), nggak ada tempat untuk bilas. Zzz! Akhirnya nanya ke penjaga ini bilasnya di mana, disuruh ke luar dari area water play, di dekat parkiran. Mayan ya, jauh loh jalannya. Plus Kaleb karena udah basah banget seluruh badan, ya udah buka baju dan celana, trus digendong di bawah terik matahari. Karena nggak ada tulisan bilas atau ruko yang ditunjukin penjaga tadi, akhirnya malah nyasar ke Scientia Residence. Beberapa orang nggak helpful dan nggak tahu keberadaan tempat bilas ini, yang ternyata cukup jauh dari SQP. Aneh nggak sih, SQP di mana, tapi bilasnya dekat parkiran. Pas masuk ruko, entah ini kantor marketingnya atau apalah, kelihatannya masih setengah jadi atau renovasi. Bau cat dan berantakan. Karyawannya bingung kenapa kami masuk, kurang ramah waktu ditanya mana tempat bilas, dan kayak orang kumur-kumur ngomongnya. Anyway, tempat bilasnya bersih dan memang ada beberapa shower, shampo, dan sabun. Terawat dan bagus. Habis mandi dan mau keluar, ditagih bayar Rp 10.000 untuk bilas .APAAAAAA? Saya ngamuklah. Bukan soal duit Rp 10.000, tapi soal ditagih tapi nggak ada tertulis jelas aturannya (jadi diasumsikan dia bisa aja bohong atau ngarang-ngarang, dong), nggak masuk akal kalau harus bayar terutama karena tiket masuk sudah lumayan mahal, dan ada water play di situ, lalu jarak antara SQP dan tempat bilas jauh. Terutama karena menurut saya orang-orangnya nggak ramah.
  • Nggak ada playground untuk anak, kayak perosotan, jungkat-jungkit, panjat-panjatan untuk anak kecil sebesar balita (well, ada sih, nyempil kecil sampai pas ditanya ke petugasnya aja dia bilang nggak ada. Bok, dia aja nggak tahu keberadaan perosotan ini). Ini mungkin karena gedung sebelah ada playground berbayar jadi biar nggak saingan kali. Sayang sekali, karena saya berharap anak balita bisa main di semacam playground di taman.
  • Ada mall sebelah SQP yang dalamnya hampir nggak ada apa-apa, nggak menarik, tapi di luar banyak tempat makan outdoor, mayanlah buat yang kalau kelaparan. Bonus, banyak mahasiswa yang makan di situ. Kalau banyak mahasiswa berarti makanannya banyak yang murah-murah.
IMG_20170327_095338

Arena skate park

IMG_20170327_095551

Rice field

IMG_20170327_100008.jpg

Mengejar kelinci

IMG_20170327_100719.jpg

Butterfly park

IMG_20170327_103518

IMG_20170327_102234.jpg

Katanya jinak, tapi kan kalau nggak ada yang jagain serem juga

Kesimpulannya, walaupun Kaleb sangat menikmati acara bermainnya hari ini, tapi kami ngerasa nggak worth it, sih. Areanya cukup luas, tapi tidak seluas itu. Setidaknya kami hanya bertahan 2 jam dan sudah memainkan semuanya. Servisnya kurang, apa-apa harus bayar lagi. Mungkin karena bayar, ekspektasi saya tinggi. Jadi yah lumayan kecewa karena orangnya nggak ramah, jarang yang standby pula.

Lagipula, kami akhirnya nggak nonton filmnya karena Kaleb nggak mungkin bisa diam di dalam jadi dilewatkan begitu saya. Menurut saya festival film anak dan tiket SQP yang dijadikan satu itu bikin kecewa. Lebih baik, tiket festival sendiri, tiket SQP sendiri. Kalau nggak mau nonton film kan jadi nggak harus bayar lebih.

Mau lagi ke sana? Hm, sampai saat ini sih belum, ya. Hahaha, masih banyak taman lagi, atau RPTRA sekalian yang lebih worth it (RPTRA Kalijodo yang gratis aja playground untuk anak balitanya besar, lho).

 

 

Review: Beauty and the Beast (2017)

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Pic fromย here

Sebagai pecinta Princess, tentu saja saya nggak akan melewatkan nonton Beauty and the Beast. Wong, pas tinggal beberapa hari lagi lahiran saya keukeuh nonton Cinderella di bioskop, kok. Sama seperti pas nonton Mirror Mirror (Snow White) dan Cinderella yang sendirian, nonton Beauty and the Beast pun sendirian. Alasannya karena nonton sama suami, udah pastilah dia nggak suka dan nggak paham kenapa begitu merasuknya film Disney Princess ini. Jadi daripada dia nonton sambil nguap, muka datar, dan nggak dapat esensi ngayalnya lebih baik nggak usah. Nonton sama teman juga nggak jadi opsi karena belum nemuin teman yang satu frekuensi tergila-gila sama Disney Princess. Jadi, paling benar adalah nonton sendirian. Dapat fangirlingnya, dapat me-time-nya. Super menyenangkan.

I LOVE IT SO MUCH! Aaak!

Beauty and the Beast versi live action-nya beneran dibikin sama dengan versi kartunnya. That is why I love it so much. Semua yang dulu cuma bisa dilihat dan dibayangkan di film kartun, sekarang jadi kenyataan lihat orang-orangnya beneran. Menurut saya, ini yang bikin film ini jadi bagus ya karena penonton jaman dahulunya akan bisa memunculkan ingatan masa kecilnya sehingga jadinya berkesan.

The details are superb. Istananya, kostum-kostum yang cantik nan ribet, peralatan rumah tangga yang bicara, even Gaston yang mirip banget sama kartunnya. Ditambah lagi lagu-lagunya yang sama kayak versi kartun dan nggak banyak diubah. It’s like seeing your childhood dream comes true. Senang dan terharu.

Secara akting, kayaknya sih biasa aja ya Emma Watson ini. Nggak jelek, tapi ya bukan yang luar biasa banget. Tapi saya ikutan berkaca-kaca sedih, ikutan senyum lebar bahagia, dan nyanyi lagu-lagunya di bioskop. Gila, itu 2 jam masuk ke dunia masa kecil lagi dan rasanya indah banget. Makanya mau aktingnya biasa aja, tapi untuk seorang fans berasa sampai hati banget dan jadi emosional karena memori yang indah dulu.

Oh ya, paling suka banget kostum Belle pas adegan terakhir dance sama pangeran. Putih bunga-bunga cantik. Tapi tentu saja adegan favorit adalah waktu Belle dansa dengan Beast pake dress warna kuning diiringi lagu Beauty and the Beast. Saya sambil nyanyi dengan mata berbinar-binar, ikutan bahagia akhirnya mereka saling jatuh cinta aja. Dan ini cuma tokoh dongeng, lho!

Soal adegan LGBT yang dihebohin orang-orang. Well, ini pendapat saya. Di dalam film itu emang ada karakter LeFou, seorang prajurit yang agak lemah gemulai. Bukan bencong, tapi ya perasaannya cukup sensitif dan perilakunya lembut seperti perempuan. Di masyarakat banyak kok yang kayak gini. Malahan sinetron Indonesia lebih parah dalam menggambarkan cowok lemah gemulai, yang benar-benar mirip bencong. Kalau ini masih kayak cowok lah. Nah, adegan gay yang dimaksud mungkin adegan tatap-tatapan LeFou sama satu cowok. Cuma berlangsung 1 detik. Sekejap aja. Mungkin ini yang dimaksud adegan gay. Orang yang nonton bisa sadar, bisa tidak, kalau yang dimaksud adalah gay. Kalau anak kecil mungkin nggak sadar sama sekali karena ya sekelebat, nggak terlalu penting. Analoginya sama kayak para LGBT ini ada di tengah masyarakat, kita tahu preferensi mereka berbeda, tapi ya udah. Mereka nggak ganggu, nggak vulgar, dan banyakan nggak tahu keberadaan mereka. Jadi nggak perlu takut, lebay, histeris bilang film ini mengajarkan anak-anak jadi LGBT. Doh, nggak sesederhana itu untuk jadi LGBT keleus! Sip, ya!

Malah, kalau boleh menilai, saya lebih khawatir adegan berantemnya dibandingkan adegan LGBT. Ada beberapa adegan berantem yang bikin saya sampai kaget, sih. Takutnya anak-anak lebih kaget. Itu aja yang jadi concern. Selebihnya, aman banget kok filmnya buat anak-anak.

Jadi kalau ditanya reviewnya, saya sih akan super bias karena saya suka banget princess begini. But seriously, it is a good movie. :’)

 

 

Perkara Rengginang Nyangkut

Seminggu lalu saya melakukan hal bodoh. Waktu itu lagi ngemil rengginang, tapi rengginangnya keras banget. Karena saya anaknya gragas, jadi walau keras, tapi tetap saya makan. Padahal rasanya ya begitu aja, bukan yang enak-enak banget. Lapar mata aja, bok! Kemudian datanglah azab untuk orang yang rakus….

Serpihan rengginang nyangkut di gusi dinding mulut bagian atas. Nyes! Masuknya dalam pula, jadi nggak bisa dikorek pake tusuk gigi. Ganjel banget di mulut. Huhuhu! Gusi saya jadi sakit dan bengkak. Gosok gigi aja susah. Makan walau masih bisa, tapi kalau kena ya sakit. Tiap saat kerjaan saya ngorek-ngorek yang nyangkut pake lidah. Tetep loh bandel banget nggak mau keluar atau bergeser. Duh!

Akhirnya ngadu sama suami, tapi dipikir nyangkut makanan di gigi kan soal sepele, jadi nggak digubris. Tidaaaak! Padahal udah nggak nyaman banget dan akhirnya jadi ganggu karena gigi ngilu. Pfft!

Akhirnya memutuskan, sudahlah ke dokter aja. Ini udah lewat 4 hari dan nggak keluar sendiri itu rengginang walau udah diusahakan berbagai cara. Nah, saya nggak punya dokter gigi langganan. Tiap ke dokter gigi selalu ganti-ganti dokter dan ya pengalamannya nggak ada yang spesial sampe bikin saya wow!

Karena saya sering lewatin Puskesmas Kebon Jeruk yang sekarang bagus banget dengan banyak pelayanan, jadi pikir ya udah ke puskesmas aja. Toh, perkara rengginang nyangkut doang. Huhu! Mau sekalian coba BPJS juga, sih. Bisa jalan nggak nih programnya?

Sebenarnya ada puskesmas yang lebih dekat rumah, tapi kok kelihatan dari luar kayak gelap dan nggak terurus, ya. Saya kan jadi nggak yakin sama pelayanannya. Jadilah ke puskesmas Kebon Jeruk yang agak jauhan dikit.

Saya datang pagi hari, langsung ambil nomor antrian di mesin yang terletak di lobi. Untuk setiap poli di puskesmas ini juga bisa daftar online. Canggih, ya. Setelah itu naik ke lantai 2 untuk menukarkan nomor antrian di poli gigi dan dicatat nomor BPJS oleh petugas. Semua petugasnya ramah, murah senyum, dan informatif.

Setelah dapat nomor antrian baru deh nunggu di depan polinya untuk dipanggil. Nggak nunggu lama, sekitar 15 menit, saya pun dipanggil masuk. Jadi di satu ruangan ada 3 kursi untuk pemeriksaan gigi, makanya antriannya jadi nggak lama.

Sebelum diperiksa dokter menanyakan keluhannya apa. Hanya boleh satu tindakan per hari. Jadi kayak saya kemarin, keluhannya gigi bolong dan makanan nyangkut, saya disuruh milih mau ditindak yang mana. Sebenarnya ini yang bikin cepat sih karena dokter cuma boleh menangani satu tindakan, tapi jadi nggak efektif karena harus bolak balik di lain hari untuk tindakan lainnya, dong.

Setelah dokternya periksa gigi dan menjelaskan kondisi gigi, dia nanya ke saya mana yang mau dibenerin dulu. Ya, saya sih tanya aja mana yang paling urgent. Ternyata ya si rengginang nyangkut itu karena gusi saya udah bengkak dan takutnya bernanah. EUH! Pengerjaannya teliti dan sabar sih sampai benar-benar masalahnya selesai dan bersih.

Setelah selesai pemeriksaan, dokter kasih resep. Oh ya, di awal dokter menjelaskan kalau walau saya pake BPJS tapi nggak bisa gratis karena saya ke puskesmas bukan di rayon saya. Jadilah harus bayar. Oh, baiklah nggak papa, deh. Mikirnya udah mahal, dong. Secara biasanya ke dokter gigi mahal banget. Pas dikasih biayanya: biaya kuret gigi Rp 25.000 dan biaya pendaftaran Rp 2000. OMG beneran nih semurah iniiii? Nggak sampe Rp 50.000, bok! Saya sampai melongo banget.

Selesai membayar, saya kasih nomor antrian ke apotik karena ada obat yang harus dimakan. Saya udah siap-siap bayar obat lagi, dong. Di rumah sakit atau klinik kan begitu, ya. Eh, pas dikasih obatnya, nggak ada biaya lagi dong. APAAAA?! Beneran nih, cuma Rp 27.000 aja yang saya bayar dan segala perkara rengginang nyangkut dan gusi bengkak kelar? Saking murahnya sampai nggak percaya. Bahagia banget! :)))

Jadi ya wajar juga sih, udah cuma bayar murah trus besoknya disuruh balik lagi untuk tindakan lain ya nggak papa juga. HAHAHA. Toh bisa cari puskesmas yang ada poli giginya dekat kantor aja biar nggak usah bolos, kan.

Ish, senang banget deh berobat ke puskesmas ini. Pelayanannya bagus dan harganya murah. Jadi jangan takut datang ke puskesmas karena sekarang pelayanan mereka sama bagusnya dengan dokter swasta, kok. ๐Ÿ™‚

 

Review: Ivory by Ayola Hotel

Ke Bandung kemarin baru pesan hotel lewat Traveloka, beberapa hari sebelumnya. Kebanyakan ragu karena ada beberapa pertimbangan. Pertama, mau di Clove Garden Hotel yang letaknya di Dago Pakar. Kece banget hotelnya, murah pula, ada kolam renang dengan ala infinity pool. Hotelnya kayaknya lagi hits. Tapi sayangnya menurut review, aksesnya kurang bagus, butuh 15 menit jalan ke hotel dengan kondisi terpencil dan jalanan rusak. Oke deh, bawa anak kecil dan susah keluar untuk cari ini itu kayaknya bukan pilihan yang tepat. Skip aja.

Pilihan selanjutnya d House Sangkuriang yang letaknya di Dago. Tempat udah di tengah kota, akses ke mana-mana mudah, ada kolam renang ala infinity pool juga. Interiornya agak jadul tapi kayaknya memang itu gaya hotelnya. Galau berkepanjangan memikirkan interior kamarnya yang kayaknya di foto agak creepy, walaupun kesengsem juga. Pas udah mau deket dicek, kamar yang kami mau udah sold out. Belum jodoh!

Akhirnya pilih Ivory by Ayola Hotel yang terletak di Jl. Bahureksa, selemparan kolor doang dari Jl. Riau. Mau ke Heritage tinggal jalan kaki, sekitarnya banyak cafe dan tempat makan. Pas banget lah kalau nanti sekiranya mager dan nggak mau jauh dari hotel. Lagian dari dulu penasaran banget sama hotel ini karena disinyalir cafe-nya kece dan makanannya walau kurang beragam tapi enak-enak. Sip, perut lebih penting yes!

Hotelnya sendiri nggak terlalu besar, tapi interiornya chick. Saya nggak paham ya jelasin itu interior model apa, tapi bagus untuk dipandang dan paling penting bersih banget. Saya pesan kamar superior, yang sayangnya nggak city view karena pemandangan kamar malah ke rumah-rumah orang. Kamarnya sendiri standar, nggak ada lemari, tapi super bersih.

Yang paling menyenangkan adalah tempat tidurnya King Koil dan bantal dan guling dari bulu angsa. Empuk banget! Saya tipe orang yang mau hotelnya sekeren apapun, nggak gampang tidur nyenyak di hotel, tapi di Ivory saya langsung bisa tidur nyenyak. Point plus lainnya adalah AC-nya bukan AC sentral jadi bisa diatur dinginnya. Kalau AC sentral walau ada pengatur suhu, tetap aja kayak berasa di kutub ya dinginnya. Kalau ini dinginnya pas.

Kekurangannya adalah kamar mandinya super kecil sampe kayaknya sulit bergerak. Compact banget. Untuk mandiin anak bocah super lasak jadinya ribet. Mana showernya nggak ada hand shower jadi makin susah lah mandiin anak kecil. Seandainya ukuran kamar mandi diperbesar akan lebih sip lagi.

Nah, untuk breakfastnya sungguh menyenangkan. Interiornya bagus, agak pop art, makanannya emang nggak terlalu banyak, tapiiii semuanya enak. Penting banget ini! Biasanya rasanya standar, tapi ini enak. Selain itu dapat 2 voucher kopi spesial bikinan Cafe Everjoy. Sedap!

Oh ya, mereka menyediakan baby chair, so sangat yeay!

 

Apakah mau balik lagi ke sini? Ya tentu saja mau, karena dekat ke mana-mana dan kasurnya empuk banget.

Kulit Mulus ala Korea

Suatu hari saya baca sebuah blog yang bahas tentang 10 langkah perawatan ala Korea. Pas baca, saya nggak paham yang dia omongin apa. Puyeng duluan! Akhirnya saya tutup lagi post itu.

Waktu itu saya mah awam banget soal skin care. Alasannya karena: 1) Saya pemalas (HAHAHAHA, duh, harus ya mukanya dibersihin habis pulang kantor?); 2) Untungnya muka saya nggak bandel, jarang banget jerawatan.

Walau begitu, karena nggak perawatan sama sekali, ya muka saya nggak bagus-bagus amatlah. Kusam, pori-porinya besar, dan kejadian terakhir kulit kering banget sampe mengelupas. Waktu itu pernah di-make up-in orang dan dia ngira saya lagi perawatan karena kulit wajah saya lagi mengelupas. Hiks.

Sampai suatu hari, saya lihat teman saya mukanya mulus banget. Eh, tapi dia emang rajin banget perawatan wajah karena mukanya sensitif sekali. Saya pikir, dia ke dokter mana lagi nih. Ternyata dia bilang sedang melakukan perawatan 10 langkah ala Korea. Wuidih, rajin bener! Tapi hasilnya emang langsung kelihatan. Karena kepo, akhirnya saya tanya, langkahnya apa aja, merk skin care-nya apa? Ternyata nggak penting merk skin care-nya yang penting konsisten melakukan 10 langkah itu.

Karena penasaran, akhirnya saya pun mau ikut coba. Di rumah sih saya nggak punya 10 macam skin care kayak yang disebutkan. Saya cuma punya cleansing milk, make up remover, toner, facial wash, sama sleeping pack. Semuanya, kecuali facial wash, jarang dipake. Jadi ya udah deh, saya coba pake itu. Berarti cuma 5 langkah aja, ya.Toh, ternyata setelah dicoba nggak ribet dan nggak butuh waktu lama. Paling cuma 5 menit aja.

Nggak ada ekspektasi apapun karena sebelumnya sering beli skin care tapi nggak ada efeknya. Jadi ya biasa aja. Eh ternyata seminggu kemudian, kok muka ijk lebih halus, ya? Dua minggu kemudian, kulit udah nggak mengelupas dan bersiiiih banget. Saking kagetnya sampai suruh suami megang pipi saya apakah benar sehalus itu. Dia pun bilang hal yang sama. Ulalala, senang banget!

Karena senangnya, saya akhirnya baca lagi langkah-langkah lainnya. Sampai saat ini saya melakukan baru 8 langkah, karena belum ketemu eye cream dan moizturiser yang mau saya pakai. Tapiii 8 aja udah bikin komedo saya hilang.

Terpujilah kau orang-orang Korea! Pantesan aja kulitnya mulus-mulus amat! Ternyata nggak bohong, ya.

Kalau ditanya skin care apa yang saya pake, saya cuma pake skin care yang ada di supermarket, seperti Ponds, Garnier, Viva, dsb. Nggak pake mahal sama sekali. Oh ya, nggak perlu 10 merk yang sama, ya. Tergantung kulit kita aja cocoknya yang mana. Sekali lagi, karena kulit saya nggak susah, jadi saya cap cip cup aja beli skin care-nya.

Intinya cuma rajin dan konsisten aja. Sebelumnya saya bayangin bakal ribet dan memakan waktu lama, tapi nggak, kok. Maksimal 10 menit lah. Seringnya kurang dari itu, kok. Jadi buat ibu-ibu kayak saya yang anak non-stop manggil mulu, tetap bisa dilakukan.

Selamat menikmati kulit mulus ala Song Hye Kyo!

Review: Astana Pengembak

Setelah beres cerita #KalebBirthdayTrip, sekarang mau review Hotel Astana Pengembak di Sanur yang jadi rumah kita selama 4 hari 3 malam di Bali. Awalnya pengen nginel di Kuta Terrace Hotel lagi seperti 2 tahun lalu karena puas banget dengan tempatnya. Tapi setelah dipikir-pikir karena bawa Kaleb kriteria kita untuk mencari hotel pun berbeza.

 

Ada beberapa kriteria hotel yang kita mau:
1. Ruangan yang cukup luas. Kaleb yang lagi heboh-hebohnya merangkak dan belajar jalan butuh ruangan yang lumayan luas supaya bebas bergerak dan nggak kepentok sana-sini.

2. Ada dapur. ย Tadinya nggak mau masak dan Kaleb akan makan apapun yang tersedia di restoran. Tapi setelah dipikir-pikir kok ya kasihan kalau dia nggak suka masakannya karena belum terbiasa. Jadi saya pun memutuskan untuk masak sewaktu liburan, tapi tentu masakan sederhana dan dibantu food prepackaged yang tinggal dipanasin.

3. Kolam renang. Kaleb suka banget berenang maka dari itu wajib ada kolam renang.

4. Daerah yang nggak terlalu ramai. Kuta dan Legian daerahnya hiruk pikuk dan bising, selain itu sering banget macet. Duh, kalau bawa bayi di daerah bising plus suka macet tambah stres ya bok. Jadi pilih Sanur yang lebih damai dan dekat tol.

Setelah browsing sana-sini plus galau antara hotel A dan B, akhirnya kita memilih Astana Pengembak di Sanur. Astana Pengembak ini memenuhi segala kriteria kita, plus kita minta kamar di bawah karena bawa bayi kan serem ya kalau kamarnya di atas, nanti kalau Kaleb main ke balkon duuh, dan dipenuhilah request kita. Jadi begitu buka pintu kamar…. taraaaa di depan mata langsung kolam renang berwarna toska. Adem!

996694_10154747552309298_1468137848111830974_n

Kamarnya luas banget. Supaya lebih luas lagi buat Kaleb bergerak, meja yang ada tatakannya itu, saya geser ke tembok jadi benar-benar plong. Btw, sofanya empuk banget sampe suami suka ketiduran di situ.

1936983_10154747552304298_7481787072954790622_n

Dapur kecil. Di dalam laci ada sendok, garpu, pisau, dan panci. Di dalam lemari ada kulkas dan microwave. Sudah disediakan sabun cuci piring juga. Semua peralatan masak berfungsi dengan baik.

12417867_10154747552314298_5650256211703601497_n

Kamar mandinya luas. Dibedakan antara kamar mandi basah dan kering. Ini yang difoto kamar mandi basah. Showenya ada kacanya, dipisahkan dengan toiletnya. Sementara kamar mandi kering adalah tempat lemari pakaian, wastafel, dan hair dryer.

12472453_10154747552384298_802555012094098924_n

Begitu buka pintu langsung kolam renang. Favorit saya banget ini. Kalau pagi-pagi jadi adem banget.

12321371_10154747552634298_3419950319376592691_n

Kolam renangnya nggak besar tapi nggak kecil juga. Di pinggir kolam renang ada pepohonan yang bikin nggak panas, air kolam renangnya hangat jadi mau berenang pagi hari juga nggak kedinginan. Kolam renangnya khusus dewasa karena cukup dalam.

Plus:

  • Keadaan di foto dan aslinya sama. Jadi nggak kuciwa.
  • Pihak hotel memastikan semua peralatan berfungsi dengan baik dan sudah siap dipakai.
  • Ada banyak sepeda gratis yang disediakan hotel dan bisa langsung dipake.
  • Lokasi nggak susah ditemukan, dan dekat banget ke ByPass.
  • Ruangannya luas.
  • Kolam renangnya hangat jadi jam berapa pun berenang tetap enak (terbukti ada yang berenang pagi banget, ada yang berenang malam banget)
  • Banyakan orang luar negeri yang tinggal di sini, kami satu-satunya orang lokal. Ini mungkin persepsi saya aja, tapi suasananya jadi tenang banget, nggak ada yang ribut. Padahal kalau ketemu pas sarapan, ternyata beberapa keluarga bawa anak yang masih kecil. Tapi nggak ada suara ribut-ribut, lho.
  • Sofa, tempat tidur, bantal empuk. Saya yang biasanya nggak bisa tidur nyenyak di hotel, ini bisa tidur bablas dengan nyenyak.
  • Lampu ruangannya terang. Ini bahagia banget lho saya dapat penerangan yang bagus. Di Bali kan banyakan hotel lampunya remang-remang ya. Di kamar hotel ini, ada banyak lampu jadi bisa milih mau remang-remang atau terang. Ya saya pilih nyalain semua lampu biar terang lah. Hahaha.
  • Pihak hotel memperhatikan permintaan kita dengan baik. Saya kirim e-mail mau early check in dan minta kamar di bawah biar berhadapan langsung dengan kolam renang, eh dikabulin lho. Senangnya!

Minus:

  • Hotel ini termasuk sudah lama beroperasi jadi ada beberapa bagian yang udah agak terkelupas, misal wallpaper di dinding ujungnya terlepas.
  • Kebersihan di bagian meja sofa agak kurang diperhatikan. Tapi setelah saya coba bersihkan sendiri juga nggak bisa. Jadi mungkin sudah waktunya kainnya diganti biar nggak kelihatan kotor/kumal.
  • Di hari pertama, air di kamar mandi tergenang karena ternyata banyak rambut yang menyumbat. Mungkin lupa dibersihkan.
  • Yang paling parah adalah sarapannya. Jadi sarapannya bukan model buffet yang kita ambil sesukanya dan sebanyak-banyaknya. Jadi model sarapannya ala carte, di mana kita dikasih menu dan memilih menu yang kita mau. Tetap sih ada appertizer, buah, main course, jus dalam satu paket, tapi kan aku ingin makan membabi buta pas sarapan *anaknya emang kalap kalau sarapan*. Hiks, nggak bisa nambah dan icip-icip, deh.

Tapi secara keseluruhan OK-lah hotelnya. Kita nyaman waktu ada di sana, nggak ada complain berarti, dan bisa tidur dengan nyenyak. Impresinya cukup baik. Tapi apakah mau balik ke sana? Hmm, kayaknya mau coba hotel lain lagi ah. ๐Ÿ˜€

 

 

No Struk = Gratis?

Kejadian ini sudah terjadi kira-kira 2 bulan lalu, tapi lupa saya tulis di sini. Jadi suatu hari saya mau beli bubble tea di Sh*re Tea (kita singkat saja ST) di Taman Anggrek. Waktu itu belum terlalu malam, mungkin jam 7-an. Saya pergi bertiga dengan suami dan Kaleb. Kaleb lagi bobo di strollernya.

Suami dan Kaleb saya minta tunggu dengan duduk di meja yang disediakan di ST, sementara saya mengantri. Eh, nggak mengantri juga sih, karena di meja kasir cuma ada saya sebagai pembeli. Sementara di ST ada 1 kasir, 1 supervisor, dan 1 pembuat bubble tea. Sang supervisor tampaknya lagi sibuk membenarkan komputer atau entah apa.

Kasir langsung nanya, “Mau pesan apa?”

“Classic Pearl Milk Tea, less sugar, less ice” ini default pesanan saya tiap beli bubble tea.

Sambil menunggu Mas Kasir memasukkan order, saya baca tulisan besar di depan komputer kasir, “JIKA TIDAK MENDAPATKAN STRUK, MAKA PEMBELIAN ANDA GRATIS. Untuk keluhan, hubungi xxx”. Tulisannya cukup besar dan ada di beberapa spot sehingga jelas terlihat. Trus saya mikir dalam hati, emang pernah ada kejadian struk nggak keluar?

Kemudian Mas Kasir menyebut jumlah harga yang harus dibayar untuk pesanan saya. Saya pun langsung memberikan uang sebesar Rp 50.000 dan dikembalikan Rp 25.000. Beres kan, ya. Tapi kok si Mas Kasir ini kayak gelisah, walau kemudian dia memerintahkan Mas Pembuat Bubble Tea untuk mengerjakan pesanan saya. Sip!

Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba saya ingat, eh saya belum dikasih struk. Ini gara-gara baca tulisan di depan komputer kasir juga, sih.

“Mas, struknya mana?”

Mas Kasir terlihat gelisah dan panik, “Mbak, ini struknya nggak bisa keluar karena ada bla bla bla,” saya lupa dia ngomong apa. Intinya masalah teknis di komputer.

“Oh,” kemudian saya tunjuk tulisan besar di depan komputer kasir, “Berarti gratis dong .ya, Mas.”

“Ya, jangan, dong!” kata si Mas Kasir.

Oke, di sini saya yang tadinya santai dan cuma godain tulisan di kasir itu akhirnya malah jadi sedikit kesal. Pertama, nggak sopan kalau dia langsung bilang jangan, padahal terpampang nyata ada tulisan no struk = gratis. Kedua, nggak terlihat nada menyesal atau minta maaf. Sebenarnya dari awal dia tahu ada masalah dengan komputernya, dan artinya struk nggak bisa keluar. Dia bisa menolak order dulu, tapi toh dia tetap menerima order dengan harapan pembeli cincailah nggak bakal mempermasalahkan struk. Well, saya mempermasalahkan karena dia defensif. And anyway, ini hak saya, sih. Hihihi, siapa suruh ada tulisan begitu, kan?

“Tapi ini ada tulisannya, Mas. Kalau nggak ada struk berarti gratis.”

Kemudian supervisor-nya yang dari tadi utak-atik komputer angkat bicara, “Ini ada masalah di komputernya bla bla bla bla (menjelaskan permasalahan, saya nggak paham, deh), jadi kita harus nunggu struknya keluar.”

Saya manggut-manggut, “Oke, berapa lama saya tunggu, Mas?”

“10 menit.”

“Oke, 10 menit.”

Saya berdiri terus di depan meja kasir. Nungguin itu struk, terutama nungguin bubble tea saya yang lama banget nggak jadi. Padahal pembeli yang antri cuma saya. Kira-kira 5 menit kemudian pesanan saya selesai. Saya langsung minum sambil berdiri dan tetap nunggu di depan kasir. Saya sampai niat lho lihatin jam.

Lama-lama saya jadi kayak orang bego berdiri di depan kasir, mereka udah melampaui 10 menit juga, nggak ada niatan buat balikin uang saya, nggak ada permintaan maaf, nggak ada tanda-tanda komputernya benar juga, dan mereka melihat saya seakan-akan saya yang salah dan rese banget. Well hey, jangan tulis begitu kalau nggak mau ditagih, kan?

Saya kemudian menghampiri suami yang udah nunggu lama, menceritakan semuanya sambil menahan kesal, dan meminta suami yang ngurusin karena kayaknya kalau kelamaan ngadepin mereka saya bisa emosi. Waktu itu saya belum makan pulak!

Suami akhirnya menghampiri kasir, bilang sudah 10 menit dan meminta struk. Dicatat ya, kami fokus meminta struk, bukan uang kembali. Kalau struk nggak bisa mereka keluarkan, baru balikin uangnya, dong. Lagi-lagi si supervisor yang mengingkari janji tunggu 10 menitnya itu berkelit dengan alasan komputer bermasalah, minta tunggu lagi, atau mungkin minta direlain aja napa sih tuh uang. Suami pun menunjuk tulisan besar di depan meja kasir, “Ya kalau gitu nggak usah pasang tulisan ini, dong. Intinya nggak ada struk, gratis”.

Supervisor ini akhirnya nggak bisa berkata apa-apa dan pasrah bilang ke kasir untuk balikin Rp 25.000 saya. Yang luar biasanya, tidak ada permintaan maaf sama sekali karena sudah tidak mampu memberikan struk dan membuang-buang waktu pembeli untuk kesalahan yang mereka buat.

BAD, BAD SERVICE! ย ย 

Jadi buat ST di Taman Anggrek, kalau memang nggak sanggup mematuhi peraturan, ya jangan dibuatlah. Dan please, training pegawainya lebih sopan lagi.

Nope, I’m not coming back to that store. BHAY!