My Cinderella Shoes

After wanting Cinderella shoes (note the word shoes) for my wedding, finally… here’s the shoes:

My cinderella shoes

Buatnya di Donamici, Mangga Dua. Dijanjikan jadinya 3-4 minggu, tapi voillaaaa… dalam seminggu udah jadi dan diantarkan ke rumah.  Senang minta ampun!

Apa kabar selop yang lama? Tenang aja, nggak bakal mubazir, kok. Selop yang lama dihibahkan untuk adikku, dong. Jadi dua-duanya sama-sama cantik. Hihihi!

Baiklah, this is recommended. 🙂 *senyum selebar baju ukuran XL*

Balada Sepatu Cinderella Part 2

Kabar terbaru adalah sepatu Donamici saya udah dikirim, lho. Hasilnya adalah…. ya gitu, deh. *kurang bersemangat*. Kalo lihat bahwa sepatu yang saya pesan sekarang adalah sepatu cadangan karena sepatu yang saya mau itu nggak boleh sama Mama dengan alasan, mana boleh pake sepatu kalau pake kebaya. Maka, selop ini dibeli dengan setengah hati. Jadi pas datang hasilnya nggak ada tuh muka berbinar-binar dan rasanya kayak melayang. Yang ada coba sebentar, dilihat sebentar, dan dimasukin ke kotak lagi.

That’s it!

Kalau urusan sepatu, rasanya masih perih membayangkan sepatu idaman saya nggak bisa dimiliki.

Huaa, Mama, aku pengen yang itu. *nangis seember*

*Brb nangis di bawah air terjun*

Perkara Sepatu Cinderella

Tahu, kan, kalau Cinderella bersatu dengan Pangeran karena sepatu? Sepatu kaca yang cantik. Jadi, sepatu itu penting dalam pernikahan. #teorisukasuka 😀

Begini lho, saya ini pecinta sepatu. Kalau lihat sepatu bagus dan nggak dibeli pasti kepikiran banget, trus kebawa mimpi, trus akhirnya beli. Padahal kalau baju bagus nggak terlalu kepikiran banget. Untuk itulah kalau di mall sebisa mungkin menghindari toko sepatu kalau lagi nggak ada budget karena…. takut kepikiran. Hihihi.

Minggu kemarin dengan semangat ’45 saya ke Donamici di Mangga Dua. Dengan 1 niat: beli sepatu untuk martumpol dan sepatu pernikahan. Karena di sana bisa di-custom, jadi saya udah bawa print sepatu yang saya pengen buat.

Niat awalnya adalah untuk sepatu pernikahan pengen model yang begini:

sepatu idaman

Bagus banget kan, ya. #ngiler. Nah, sesampainya di Donamichi, ada sepatu yang sama persis seperti di atas. Wuih, pas dicoba cantik banget! Tapi pas dilihat-lihat lagi di lemari pajangan, ada sepatu yang lebih bagus lagi. Penuh dengan bling bling. Wuih, berasa kayak punya sepatu Cinderella, deh. Langsung jatuh cinta setengah mati.

Karena hari itu saya nggak ke sana bareng Mama, langsung deh saya telepon Mama untuk minta persetujuannya mengenai sepatu itu. Apa kata si Mama? Dia bilang NO! Kalau kebaya itu nggak boleh pake sepatu model tali-tali gitu, tapi harus selop. Katanya dia nggak pernah lihat ada yang pake kebaya trus pake sepatu. Lagian nanti talinya kesangkut di songket.

Hancurlah hatiku. #nangisseember

Selanjutnya adalah pemilihan selop dengan penuh kegalauan dan semangat yang jatuh ke titik 0. Selopnya nggak ada yang secantik sepatu itu. #mewek Yah, bukan berarti jelek juga, sih. Tapi nggak ada yang menarik hati seperti yang itu (sayang nggak bisa difoto kalau belum beli). Akhirnya saya bilang ke si Mbak, “Mbak, saya minta selop yang paling cantik”.

Mbak mengeluarkan beberapa sepatu. Yah, yang paling lumenjen (cantik juga sih, tapi tetap nggak membuat jatuh cinta), adalah sepatu ini, yang akhirnya dibeli juga karena males bolak-balik beli lagi.

Karena udah dibeli jadi boleh difoto. Langsung dikirim fotonya ke Mama. Komen si Mama adalah selopnya cantik. Tapi dengan merengut, saya tetap mengagung-agungkan sepatu pilihan saya sebelumnya. Dan akhirnya Mama menyerah bilang, ya udah beli aja sepatu. Bok, telat bener. Selop ini udah dibayar lunas nas nas! Tinggal tunggu sebulan lagi penampakannya.

#pundung

Karena si Mama tahu anaknya ini kecewa berat tingkat dewa, akhirnya si Mama menawarkan untuk menemani saya ke Mangga Dua lagi untuk lihat sepatu yang saya taksir. Sepatu di atas bisa dijadiin sepatu untuk martumpol.

Karena keburu udah kuciwa dan males, saya diem aja. Lalu berulangkali menatap sepatu pernikahan saya yang sampai saat ini belum bikin jatuh cinta.

Gagal deh jadi Cinderella. 😦