Akhir Kisah Menyusui

Dua bulan sebelum Kaleb berulang tahun kedua, saya mulai sering bilang ke Kaleb bahwa dia sudah besar dan waktunya berhenti nenen. Setiap malam sebelum tidur, saya bilang begitu terus karena anaknya belum bisa tidur tanpa nenen kalau ada saya. Hasilnya, dia ngamuk. Kaleb nangis dan bilang, “Mami, Kaleb mau bayi terus aja.” XD

Kan awal menyusui baik-baik, ya. Kaleb suka, Mamak suka. Yuk, lanjutin nenen. Makanya berhentinya pun maunya baik-baik. Nggak pake paksaan. Jadi, kalau Kaleb ngamuk, ya udah lep kasih nenen lagi lah. Saya anggap dia belum siap. Nanti dia bakal siap sendiri kok. Plus, saya malas kalau udah mau tidur malam, saya udah capek dan ngantuk, masih harus dengerin anak drama nggak dikasih nenen. Lelah hayati. Hahaha. Karena itu juga, saya nggak pernah berusaha melarang dia untuk nenen. Peraturannya, kalau udah 2 tahun adalah hanya nenen kalau mau tidur. Nggak di tempat umum, nggak di mobil, nggak di mana-mana. Hanya di tempat tidur. Sip, ya.

Pas umur ulang tahun kedua, anaknya tetap keukeuh harus nenen. Hiyaa, mana ini ungkapan kalau anaknya diberi pengertian jauh-jauh hari akan paham. Kaleb menolak keras untuk berhenti nenen. Nenen is a must lah! Akhirnya saya pasrah aja kalau Kaleb akan nenen lebih dari usia 2 tahun dan yo weislah toh nenen nggak memberikan dia pengaruh buruk, kan?

Tapi sebenarnya saya kali yang nggak siap untuk stop nenen. Iya, saya bosen nenenin tiap mau tidur, iya saya capek harus tidur miring terus, tapi dalam hati saya nggak siap melepaskan anak sendiri untuk lebih mandiri. Makanya saya nggak pernah benar-benar berusaha untuk dia stop nenen. Sepertinya saya lagi mengumpulkan kesiapan, begitu pun Kaleb. Stop dari aktivitas yang 2 tahunan ini bikin kita lengket kayak amplop dan perangko ternyata nggak mudah, ya.

Sambil mengumpulkan kesiapaan, saya terus bilangin dia tiap hari untuk berhenti nenen karena udah besar. Cuma bilangin aja, sih. Nggak maksa. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu dia sungguh sangat posesif sama nenen, udah ketiduran pun begitu saya lepas dia tersadar dan berusaha nenen lagi. Masalahnya, giginya kan udah banyak ya, jadi sering banget nggak sengaja kegigit. Duh ampun, sakit bos! Dulu pas dia tumbuh gigi kayaknya cuma sekali tetek saya digigit dia, habis itu nggak pernah lagi. Lah, ini udah besar malah sering nggak sengaja kegigit. Keinginan untuk stop nenen jadi membesar dan saya makin siap.

Perlahan-lahan saya mengubah sugesti saya ke Kaleb karena setelah dipikir-pikir kalau makin dilarang, dia pasti makin sebel. Gila, nenen adalah hal paling favorit dari lahir sampai sekarang kok malah dilarang? Ya no way jose lah. Itu pasti sesuatu yang bikin dia merasa nyaman banget. Jadi ya nggak perlu dipaksa. He would know when to stop. Kalau mau tidur dan dia minta nenen, saya bilang, “Oke nenen sebentar aja ya, nanti Mami elus.” Maksudnya elus punggung dia sambil ketiduran. Dan ternyata dia paham lho. Jadi tiap nenen, saya kasih waktu sekitar 5 menit, lalu saya bilang, “Yuk Kaleb, nenen udahan. Mami elus.” Dia pun langsung stop dan balik punggung untuk dielus. Oh, ternyata ungkapan yang lebih positif bikin dia lebih secure. Nggak menakutkan kayak waktu disuruh stop nenen.

Keadaan nenen bentar dan elus ini seiring-iring berubah karena Kaleb lebih memilih untuk habis nenen, mending pegang tetek. XD Ya udahlah saya pikir, nggak capek ngelus punggung dia sampai ketiduran pula.

Sekitar 3 minggu lalu, Kaleb demam. Seperti biasa demam pasti bikin dia nggak bisa tidur dan milih untuk digendong saya mulu. Pegel, bok! Waktu itu saya pikir kalau gendong sambil duduk, saya juga bakal capek karena nggak bisa tidur. Jadi saya bilang ke Kaleb gendong, tapi sayanya sambil tiduran. Jadi posisinya dia tidur di atas dada saya sambil saya peluk. Dia pun ketiduran sambil pegang tetek saya.

Nah sejak itu, setelah nenen, dia minta tidur digendong sambil pegang tetek. Tapi 2 minggu ini, out of nowhere, nggak dipaksa, nggak disuruh, tiap mau tidur dia nggak merengek minta nenen, tapi langsung bilang, “Mami, mau tidur diendong aja.” Awalnya saya nggak sadar sih dia nggak nenen lagi, sampai suatu hari pas saya ingat-ingat, lho udah seminggu Kaleb nggak nenen. Dia cuma minta minta diendong sambil pegang tetek sebelum tidur aja.

Is it the time for he’s weaning himself?

Jadi saya perhatikan lagi deh seminggu ke depannya. Iya, nggak minta nenen, lho. Tapi sekarang ritual tidurnya begini: masuk kamar, matiin lampu, tak lupa dia cek tetek saya. Kalau masih pake BH, dia akan bilang, “Mami, buka BH-nya!” HAHAHAHA. Tiap hari dia ingetin saya buka BH. Lalu dia sambil tiduran pegang tetek saya dia pernah bilang, “Mami, kok teteknya kecil?” Saya cuekin. Dia tanya ulang lagi. Asem! :))) Teteknya kecil kebanyakan nyusuin kamu!

Jadi kayaknya ini akhir perjalanan menyusui saya. 2 tahun 4 bulan. LEGA banget karena akhirnya bisa stop menyusui tanpa drama dan ternyata kalau dua-duanya siap emang semudah itu. :’)

Apakah saya kangen moment menyusui? BELOM ya! :))) Gilakkk, I finally have my freedom. Saya nyusuin sambil tiduran itu bukan berarti ikutan tidur karena saya orangnya gampang kebangun. Nggak bisa posisi kaku miring trus ketiduran. Pasti harus nunggu anaknya selesai nenen dulu baru ketiduran. Baru sadar 2 tahun 4 bulan tidurnya begitu terus. PEGEL, cing!

Tapi bukan berarti selalu mulus, ya. Kayak tadi malam, Kaleb tiba-tiba ingat nenen dan bilang, “Mami, mau nenen.” Wah, deg-degan juga saya. Apa nanti kalau nggak dikasih dia akan ngamuk? Saya bilang, “Nggak usah nenen, deh. Mami gendong aja, ya.” Dan ya udah dia diam, trus oke digendong. Mungkin dia lagi kangen momen nenen, ya.

Belum lagi Kaleb baru bisa tidur sepanjang malam itu pas umur 2 tahun. Sebelum 2 tahun, ya masih kebangun-bangun untuk nenen. Saya emang nggak sleep training dia. Karena saya lebih baik tinggal buka baju nyusuin bentar, lalu dia tidur lagi; daripada malam-malam ngadepin Kaleb ngamuk, susah dibalikin tidur lagi, dan bikin saya jadi zombie di kantor karena kurang tidur. No, buat saya tidur cukup itu penting dan saya nggak perlu drama persusuan tengah malam. Hahaha. Makanya pas Kaleb umur 2 tahun dia tiba-tiba tidur sepanjang malam, malah sayanya yang kaget. Saya masih otomatis kebangun tengah malam, trus bengong mikir, “Anak gue kok tumben belum kebangun buat nenen?” Eh, ternyata anaknya mutusin perlahan-lahan untuk mengurangi frekuensi nenen dia. :’)

Jadi, saya pikir anak tuh cukup pintar untuk mengatur waktunya sendiri. Kapan dia siap untuk mandiri secara emosional. Orang tua tuh cuma bantu aja, jangan maksa, tapi encourage dia dengan positif. Waktu proses weaning pun, saya nggak akan ingetin dia untuk nenen. Jadi saya diemin aja. Kalau dia minta nenen, saya kasih. Tapi kalau nggak minta, saya nggak akan sodorin. Kalau kita sodorin lagi, misal pas dia lagi ngamuk biar cepat berhenti ngamuknya, nanti nggak konsisten dan dia nggak akan siap-siap untuk lebih mandiri.

This whole breastfeeding journey worth all the pain, nipple cracking, never ending pumping sessions, all the breastfeeding boosters, sleepless nights, swollen breasts, and all those troubles we’ve got. Because in the end, breastfeeding isn’t just about milk, it’s about love.

I make milk. What’s your super power? 🙂

Tentang Menjadi Mahmud

Hamil dan melahirkan proses di mana saya merasa jelek banget. Bentuk badan berubah sejadi-jadinya, dada yang tadinya rata, tiba-tiba membesar kayak sapi, pinggul besar, lemak di mana-mana. Kepercayaan diri jatuh ke titik nol. Mak, gondut kali lah aku!

Makanya waktu hamil, saya berusaha banget untuk dandan, terlihat cantik, dan nggak mau kelihatan kumal. Orang suka nebak anaknya cewek karena saya, kata mereka, glowing. Nope, anaknya cowok. Saya emang jadi hobi beli peralatan lenong, plus lipstik segudang (yang sekarang nggak habis-habis dipakenya). Lalu kemudian saya menyadari, glowing itu nggak terjadi dengan sendirinya. Iya, auranya emang bahagia, tapi harus ditambah dengan usaha untuk mempercantik diri juga.

Tiap mau keluar rumah, saya usaha banget pilih baju yang nyaman, mix and match, coba lipstik baru, nyatok rambut. Kalau di rumah mah boro-boro, deh. Yang ada pake pakaian suami, belel, dan kucel kayak dugong. Hahaha!

Nah, sesudah melahirkan, kembali lagi badan yang acak adut, gemuk banget (bukan sulap, bukan sihir, badan saya cuma turun dikit banget keluar dari RS). Duh, 1,5 bulan pertama saya paling males kalau harus bawa diri sendiri dan Kaleb kontrol ke dokter karena nggak ada baju yang muat! Entah berapa lama saya harus meratapi lemari baju karena walau sudah pake baju adik saya yang size-nya lebih besar dari saya tapi kok tetap kelihatan jelek. Huhuhu. Aku sungguh tak percaya diri! Kalau di luar pun jadi males lama-lama karena ya nggak nyaman sama tubuh sendiri.

Setiap hari di rumah, ngurus anak, pake daster, rambut berantakan, bau susu. Jatuhlah kepercayaan diri saya. I can’t be like this. :((( Untungnya, menyusui itu memang bikin berat badan saya turun. Butek di rumah juga bikin saya pengen ke luar rumah. Tapi kalau ke luar saya pengen kelihatan cantik.

Perlahan-lahan seiring dengan menurunnya berat badan saya, size baju adik saya pun muat. Saya mulai bisa pake baju agak kece, mulai dandan lagi, langsung cat rambut 2 minggu setelah melahirkan (penantian setelah 9 bulan hahaha), mulai semangat kalau diajak keluar karena artinya lipstik-lipstik yang dibeli selama cuti hamil bisa dipake, potong rambut ke salon. Rambut yang panjangnya udah nggak karuan dipotong jadi sebahu. Ih, segar banget! Berat badan emang belum balik seperti semula, tapi I start to feel good about myself.

Waktu saya pertama kali masuk kerja setelah cuti melahirkan, berat badan saya sekitar 62 kg, yang berarti masih sisa 4 kg dari pertama hamil. Tapi justru orang-orang bilang saya udah kurus dan segar. Keseringan lihat saya yang kurus banget kali, ya. Dengan masuk kantor, saya merasa happy karena tiap hari pake baju bagus, dandan, dan pake high heels. Saya nggak bau susu lagi. Yihaaa!

Dari dulu, saya selalu bercita-cita jadi mamah muda kece #halah. Saya nggak pengen jadi mahmud yang kucel, butek, berantakan, cuma karena alasan ngurus anak. Seumur hidup saya lihat mama saya yang punya anak 3, tapi tiap ke mana-mana selalu kece, dan anak-anaknya juga terurus rapi, plus dia perhatikan setiap detil kerapihan dan baju-baju anak-anaknya. Beuh, idola banget, kan?

Cita-cita saya yang kayak Mama saya. Jadi tiap mau pergi ke mana-mana, saya emang butuh waktu lebih lama. Pertama ngurus Kaleb dulu dengan segala printilannya. Kalau dia udah selesai, maka saya pun mulai mengurus diri sendiri. Tapi namanya udah punya anak ya, mana bisa dandan lama-lama lagi. Jadi saya belajar untuk dandan secepat kilat. Mana Kaleb masih menyusui dan nggak mau ASIP kalau ada saya, jadi saya harus pintar-pintar mix and match baju yang gampang untuk menyusui tapi tetap kece. FYI, saya nggak punya baju khusus menyusui. Jadi emang baju biasa yang mudah untuk menyusui aja.

Kalau di kantor, saya curi-curi waktu untuk creambath atau potong rambut. Oh ya, setelah 2 tahunan ini rambut saya tanpa poni, sebulanan ini saya potong rambut dengan poni. Biar makin muda dan makin pede. Setelah itu, saya mewarnai rambut saya, bahkan di-ombre. Ini juga ke salon sambil bawa Kaleb, nyusuin, pas break kasih makan. Heboh banget pokoknya. Hahaha.

I feel good about myself. Saya merasa pede dengan penampilan saya sekarang. Saya nggak merasa terlalu ibu-ibu banget. Tapi tentunya nggak semuanya sempurna. Sebenarnya, masih banyak lemak di tubuh saya, walau badan saya udah lebih kurus daripada berat badan pertama kali hamil, tapi lemak di perut itu sungguh mengganggu. Cita-cita pake bikini di pantai pun kurang berhasil. Waktu liburan di Bali, perut saya menyembul. Huhuhu! Dan emang itu perut nggak bisa diapa-apain kecuali harus olahraga. Masalahnya saya sungguh malas sekali olahraga karena ‘merasa’ nggak punya waktu. Seharian kerja, pulang ngurus Kaleb, plus masih nyusuin tengah malam bikin saya pengennya tidur aja kalau ada waktu luang.

Tapiiii…. kalau perempuan yang usianya sama kayak saya ini bisa badannya sekece ini dengan usia anak yang beda 2 minggu doang sama Kaleb, saya kayaknya jadi tertantang nih.

landscape-1452867160-landscape-1452786809-untitled-1

Ini gimana caranya pas hamil dan melahirkan badan bisa beginiiii? :O

Sarah Stage adalah model berusia 30 tahun yang ketika hamil badannya tetap kencang. Bahkan perutnya pun tetap six pack! Dia banyak dikritik oleh ibu-ibu karena dianggap tidak sayang kepada bayi yang dikandungnya karena perutnya kecil sekali. Selama hamil, dia naik 12 kg (saya naik 15 kg, tapi kelihatan gemuk sih nggak kayak doi), tapi dia memang berusaha olahraga, jauh sebelum hamil, dia memang rajin banget olahraga, (saya malah malas-malasan di tempat tidur). Ketika orang-orang mengkhawatirkan keadaan janinnya karena dianggap perutnya kecil, ternyata dia melahirkan bayi laki-laki sehat dengan berat 3,8 kg dan panjang 55 cm. Voilaaaa! Sementara perut besar dan kumpulan lemak saya menghasilkan Kaleb seberat 2,6 kg. Jadi, ketahuan kan semua lemak itu larinya ke mana?

And she’s breastfeeding her son. Jadi dia upload foto dia lagi menyusui dan langsung dikritik karena napaaa sih lo foto begituan? Padahal menurut dia menyusui adalah sesuatu yang normal dan indah sehingga nggak perlu dianggap menjijikkan. Dia juga bilang menyusui membantunya untuk menurunkan berat badan. Intinya dia kece dan tetap mengutamakan kesehatan anaknya.

Untuk lebih lengkapnya bisa baca interviewnya selama hamil dan melahirkan di sini.

Tiap lihat instagram doi, saya langsung ngences. Ih, kalau dia bisa kenapa saya nggak? *bercita-cita lah setinggi langit, kan?*. Pokoknya dia adalah idola mamah muda versi saya lah. Semoga niat dan motivasi olahraga itu datang segera *raup muka*

Jadi, mamah muda versi kamu itu seperti apa?

PS: pic taken from here.

 

 

Setahun Menyusui

IMG_4962

My first time breastfeeding Kaleb

Tepat hari ini sudah setahun saya menyusui Kaleb. 366 hari Kaleb bergantung pada tetikadi Maminya. Sampai hari ini pun setiap saya di kantor masih pumping 3 kali sehari. Iyes, 3 kali sehari! Seiring dengan Kaleb udah makan, tentunya supply ASI saya berkurang, jadi ya supaya ASI-nya tetap banyak ya tetap pumping 3 kali sehari.

Dulu mikirnya kalau Kaleb udah makan maka saya bisa lah ongkang-ongkang kaki sejenak dalam soal per-pumping-an ini. Kenyataannya, nggak! Ya karena berkurang itu dan Kaleb tetap kencang minumnya jadi Mami-nya tetap empot-empotan pumpingnya.

Yang paling bikin makin heboh dunia per-pumping-an ini adalah tepat di bulan ke-7 saya mens. Nggak pake aba-aba flek dulu, langsung deras aja gitu kayak biasa. Plus ini mens nggak ada nggak teratur, langsung tiap bulan teratur datang. Masalahnya tiap seminggu sebelum dan selama mens, pasti ASI langsung seret. Dua tetikadi cuma 60 ml. Itu pun udah lama banget pumping-nya. Duileh, drama lah! Makanya langsung deh minum ASI booster (yang mana nggak terlalu ngaruh banyak) dan nambah waktu pumping (yang mana kalau udah di rumah sering banget malesnya). Ditambah kalau mens, puting sakit kayak dulu baru belajar menyusui aja. Nyos!

But then, I and Kaleb made it for A YEAR! Yeay!! Beneran nggak gampang dan banyak dramanya, tapi akhirnya tugas emak baru ini selama setahun bisa dijalani dengan baik. Gimana kelanjutan persusuan Kaleb setelah setahun? Sejauh ini masih belum kepikiran ditambah susu formula karena semoga saja ASI saya masih cukup. Tapi mau memperkenalkan Kaleb pada susu UHT. Yes! Susu UHT kan kesukaan saya banget, ya. Duh, kebayang deh lucunya emak dan anak nongkrong sambil minum susu UHT berdua. Hihihi.

Jadi, mari lanjut sampai entah kapan Kaleb maunya. Happy breastfeeding moms! 😀

 

 

Review: Unimom Allegro

Pas bingung mau nulis apa, Mira komen di blog, “Review breastpump Unimom, dong”. Oh iyaaa, walaupun sering disebut tapi ternyata soal breastpump ini nggak pernah di-review juga. Maklum kakaaak, sibuk pumping! Hihihi.

Karena niat ngASI jadi soal breastpump ini cukup jadi perhatian buat saya. Kebanyakan orang pake Medela dan reviewnya sih oke. Tapi harganya mahal ya, bok! Plus kalau elektrik tambah mahal lagi. Oh ya, emang dari awal pilihannya breastpump elektrik supaya menghemat waktu di kantor, plus tangan bisa bebas mau ngerjain yang lain (kebanyakan sih cek bebicek online shop wakakak!). Oke, kembali ke Medela. Lumayan banyak yang pake Medela Mini Elektrik, yang mana reviewnya bilang berisik banget kayak mesin pemotong sawah. Nah, setelah dipikir-pikir kalau udah mahal, trus berisik, plus kalau mau pumping harus dicolok mulu baru jalan ya kan ribet ya. Nanti nggak bisa pumping di mobil (niat mulia waktu itu sih. Hihihi).

Akhirnya browsing lagi dan nemu merk Unimom. Reviewnya banyak yang bagus. Untuk Unimom Allegro yang elektrik aja udah dapat double pump, bisa diubah jadi manual, dan….. batrenya bisa dicharge jadi nggak perlu dicolok lagi kalau mau pake. Ditambah lagi suaranya katanya nggak seberisik si Medela Mini Elektrik, plus harganya cuma Rp 1,2 juta untuk paket selengkap itu. Bonus: warnanya yang pink girly! Jatuh cinta!

unimom

Karena harganya yang lumayan, jadi minta teman-teman untuk jadi kado aja. Karena Unimom nggak sebanyak Medela yang bisa ditemuin di mana-mana, para teman yang baik hati ini sampe ke Mangga Dua nyariinnya. Baiknya!

Breastpump ini sampai 2 minggu sebelum saya melahirkan, jadi cuma sempat buka-bukain, pelajari dikit, dan belajar pasang part dan cuci-cuci. Keunggulannya adalah partnya cukup banyak (ehm, tapi saya kan nggak bisa bandingin sama yang lain karena nggak pernah pake, ya). Awalnya mikir ini bakal ribet banget deh masang-masanginnya. Maklum kan masih clueless. Tapi setelah ke sini, nggak juga tuh. Ada corong, valve, bantalan pompa, selang yang dipasangin ke motornya, dan motornya. Yang dicuci cuma corong, valve, sama bantalan aja. Jadi nggak ribet kan.

Waktu dipake, payudara nggak dibikin sakit waktu nyedotnya (mungkin karena ada bantalannya). Ada menu LDR dulu yang bikin payudara serasa dikitik-kitik dulu, kemudian secara otomatis akan mulai menyedot. Tarikannya sendiri ada 1-7. Kalau 7 kayaknya maknyos banget ya, tapi saya belum pernah coba sih. Hihihi. Saya ngikutin motornya aja yang seringnya cuma sampai tarikan ke-2.

Hasilnya ASI saya keluar cukup banyak. Terutama kalau udah dapat LDR-nya. Misal belum dapat pun dan otomatis tarikannya naik ke angka 2, saya turunin lagi ke angka 1 supaya mancing LDR. Kalau udah berasa naikin ke angka 2 untuk nyedot. Sekali pumping biasanya saya dapat 150 ml (asal sabar sih). Jadi mayan deh pas cutinya habis udah kumpulin 100 botol (walau nyicilnya sih harus sabar banget karena awal-awalnya sehari cuma dapat 1 botol @100 ml). Oh ya mau naikin sampe tarikan yang besar sekalipun kalau nggak dapat LDR nggak jadi banyak juga, sih *pengalaman naikin sampe ke tarikan ke-4 hahaha*

Untuk suara sendiri, ya tetap kedengeran sih suaranya bukan yang jadi sunyi senyap, tapi nggak berisik. Terbukti dari Kaleb dan papanya yang nggak pernah kebangun saat saya pumping.

Pas lagi ASI seret, saya pernah pake double pump, yang mana nggak saya suka karena tangan saya jadi nggak bebas ngapa-ngapain. Hahaha. Kalau pake single pump kan tangan satu lagi masih bisa lihatin HP plus chatting. Jadi so far walau ada fasilitas double pump, saya tetap pake yang single pump. Untuk manualnya sendiri saya juga nggak pernah pake karena…. belum perlu aja, sih. Cuma kenapa dulu milih Allegro ya supaya bisa diubah jadi manual. Kalau ada apa-apa sama yang elektrik, bisa pake manualnya.

Karena motornya bisa dicharge jadi Allegro ini bisa dipake di mana aja, bahkan di mobil sekalipun. Saya biasanya charge sampe penuh *nggak lama pula* dan nggak perlu khawatir nggak ada colokan, deh. Sampai pernah pumping di mobil, di mall, di mana aja tanpa khawatir cari colokan. Kalau pumping di kantor pun kalau udah dicharge dari rumah saya nggak pake colokan. Lumayan banget seharian nggak perlu charge.

Untuk Unimom sendiri part-nya nggak mahal, jadi kalau rusak bisa dibeli tanpa harus ngais duit dulu, plus kayaknya ada tempat servisnya *cek lagi ya*.

Sehari-hari saya pake tas Gabag yang ini:

 

cooler bag gabag milky cow

Jadi bagian atasnya untuk charger dan motornya. Bagian bawah untuk 3 botol Unimom, corong, dan 2 ice gel. Muat semua! Allegro ini bentuknya nggak besar dan nggak berat jadi enteng banget dibawa ke mana-mana.

Sampai sekarang Unimom Allegro masih awet banget. Belum ada yang rusak dan masih maksimal banget jalannya. Saya masih pumping 3 kali sehari di kantor jadi dia masih kepake banget. Belum lagi masa-masa ngejar ASIP, karena ada 2 corong (yang harusnya dipake untuk double pump) jadi kalau malam bisa pake corong satunya lagi.

Kekurangannya: bantalan pompanya harus pasang yang benar, kalau nggak bisa netes. Tapi bukan big deal sih buat saya. Mungkin karena udah kelamaan dipake jadi mulai saya juga mulai nggak telaten masang dengan sempurna. Hihihi.

Jadi intinya puas banget sama Unimom Allegro ini. Cara kerjanya maksimal, bisa dipake di mana aja, nggak berisik, harganya nggak bikin tongpes, plus tangan bisa bebas browsing *apalagi kalau botolnya disanggah pake siku tangan hihihi*.

 

Selamat Datang PMS!

Setelah 16 bulan absen haid, akhirnya resmi pada 26 Oktober 2015 ini saya menstruasi lagi. Rasanya kayak, “Ha! I knew you’d come!”

Kira-kira seminggu ini saya keputihan lumayan banyak. Biasanya nggak seperti itu. Awalnya biasa aja sih karena mikirnya lagi kecapekan atau jangan-jangan lagi kurang bersih. Tapi kemudian dibarengi dengan nyeri perut. Bukan kayak mules, maag, atau nyeri bekas jahitan operasi sc kemarin. Tapi nyeri kayak mau dapet. Udah sempat sounding ke suami, “Ih, jangan-jangan ini aku mau mens, deh”. Tapi nggak yakin juga karena walau nyeri dan keputihan tapi mens tak kunjung datang.

Tanda berikutnya adalah nafsu makanku menggragas. Sebenarnya sejak menyusui nafsu makan saya sih emang besar. Tapi ini kayak laperan mulu. Baru makan pagi jam 6, eh jam 8 pagi udah laper lagi. Lapernya tuh kebangetan sampe perut bunyi. Makanya saya kerjaannya ngunyah mulu. Tapi tentu saja lagi-lagi saya menyalahkan karena lagi menyusui. Hihihi.

Kemudian, kemarin puncaknya adalah Kaleb cranky dan saya pun kayak burn out, capek, dan mood berantakan banget sampai saya minta suami yang pegang Kaleb. Saya perlu menjauh dulu supaya nggak ngomel-ngomel. Begitu sampai di rumah rasanya capek luar biasa. Pengen kayaknya rebahan aja.

Hari ini juga berasa capek banget di kantor dan mood berantakan padahal sih nggak ada apa-apa. Saya pikir saya masih capek karena weekend kemarin belum sempat istirahat yang maksimal. Plus hari ini laper banget sehingga sebelum jam 12 aja saya udah makan berat dan habis itu langsung ngacir beli cemilan karena masih lapar. Wow banget deh ini kapasitas perut saya. Ditambah lagi hari ini pumping kok hasilnya nggak sebanyak biasanya. Saya sih menyalahkan mood saya yang lagi kurang oke.

Waktu itu saya lagi whatsapp-an sama teman saya dan nanya, “Eh, lo udah mens belum sih setelah melahirkan?”. Dia tanya pertanyaan yang sama dan saya jawab belum mens lagi, tuh.

Sore hari ketika ke WC, eh ternyata ada bercak merah di celana dalam.

Welcome, HAID!

Walaupun hari ini perut nggak terasa sakit dan payudara nggak nyeri tapi ternyata si tamu bulanan akhirnya datang juga. Lucu banget karena ternyata insting saya masih kuat aja si tamu bulanan bakal datang. Hihihi.

Duh, jadi inget kan ada utang belum datang ke obgyn lagi. Padahal waktu itu obgyn saya suruh datang pas 6 bulan setelah melahirkan untuk pasang kontrasepsi karena biasanya setelah 6 bulan, kesuburan akan muncul. Nah kan, sekarang malah udah mens. Soalnya terakhir kali cek ricek ke obgyn, dia bilang bahwa sel telur saya bagus. Tuh kan, eike kan masih belum pengen hamil lagi. Lucu ya, dulu masalahnya pengen hamil, kalau sekarang masalahnya belum pengen hamil lagi. Oh, manusia!

Maka dengan ini saya resmikan ucapan, “Hati-hati, gue lagi PMS!” Hahaha!

Catatan 6 Bulan NgASI

Yeay, akhirnya udah 6 bulan Kaleb ASIX *elap keringat*. Cuma mau bilang: siapa bilang kasih ASI itu lebih mudah? *kepret*. Hidup saya justru lebih ribet bin rempong bin stres gara-gara ASI ini. Dramanya banyak banget! Ngalah-ngalahin drama keluarga KD vs Aurel dan Jiel deh *eh*.

Oleh karena itu, post ini untuk merangkum semua hal yang berhubungan dengan 6 bulan ASIX versi saya:

  1. Komitmen. Dari hamil saya dan suami berkomitmen untuk kasih si bocah ASI. Alasannya lebih karena ASI punya antibodi alami yang baik untuk bayi, jadi lumayan deh nggak bolak balik sakit jadi ibunya bisa belenjeus. :))) Jadi kita udah sepakat apapun yang terjadi, walau badai menghadang, maka anak harus dapat ASI. Di postingan sebelumnya udah diceritain kalau tantangan datang dari ibu saya yang minim banget informasi soal ASI eksklusif. Maka dari itu pilihlah rumah sakit yang pro ASI supaya jangan ada intervensi sufor kalau bukan karena alasan medis.
  2. Belajar. Karena niat udah mau ASI jadi harus membekali diri dengan segudang informasi tentang ASI. Misalnya, 3 hari pertama bayi nggak papa nggak minum karena masih ada cadangan dari ibunya, produksi ASI berpengaruh dari mood happy ibunya, semakin banyak diminum dan dipompa produksi ASI semakin banyak, dsb. Jadi begitu ada yang bilang, “ASInya dikit kali! ASInya nggak keluar! Jangan dipompa terus nanti habis!” Maka dengan tenang dan segudang percaya diri, eike menatap mata orang itu dan berkata dengan tegas, “ASInya cukup”. Serius, I did that. :)))
  3. Pumping terus. Pertama pumping yang keluar cuma ngotorin pantat botol. Tapi emang benar, begitu makin sering dipompa ya makin banyak. ASI saya juga bukan yang buanyak banget. Untuk ngumpulin 1 botol aja kadang-kadang butuh beberapa kali pumping. Jadi ya ngumpulin ASIP sampai 1 kulkas butuh waktu lama banget.
  4. Tekad baja. Puting lecet macam disilet mah udah lah ya terima aja. Bayi iseng gigit-gigit puting ya nikmatin aja. Belum lagi bayi ASI cenderung cepat lapar jadi udah lah bye bye aja sama tidur nyenyak. Sampai bayi saya mau 6 bulan tiap malam masih nyusu per 2 jam sekali. Malah karena udah mau mendekati makan, jadi kayaknya dia lebih gampang lapar, kadang-kadang kalau malam bangunnya 1 jam sekali. Mata sepet udah biasaaa! *padahal kalau di kantor udah kayak zombie*
  5. ASI itu (seharusnya) cukup. Jadi kalau ada yang masih nangis habis disusuin, mungkin dia bukan lapar, tapi pengen dipeluk, digendong, lagi growth spurt, atau perutnya nggak enak. Bayi nangis bukan selalu karena lapar. Ada masanya Kaleb ya mau disusuin juga habis itu nangis, ya udah saya peluk-peluk aja. Ada fase di mana dia ngamuk terus, ya udah ibunya sabar aja dengar raungan anaknya. Tandanya ASI cukup adalah frekuensi pipis dan berat badannya naik. Ada kalanya saya juga nggak yakin ASI saya mencukupi, tapi toh tiap nimbang berat badan, Kaleb naiknya minimal 1 kg. Jadi ASInya cukup ternyata.
  6. ASI nggak bisa habis. Mau udah dipumping dulu, pas diminumin ya masih ada. Kabarnya maksimal ASI yang bisa dipompa itu cuma 70%, jadi sisanya yang masih ada. Bahkan lebih sering diminumin, lebih banyak lagi hasilnya.
  7. Nggak murah. Siapa bilang ASI itu murah? Karena ASI itu soal psikologis yang happy, maka ibu harus happy dong. Untuk bikin ibu happy banyak entertainment-nya lah *itu gue aja kaleee*. Jadi harus sering belanja, sering diajak makan di luar, sering ke mall, sering digombalin pake kata-kata romantis *hihihi*. Percayalah, habis melakukan hal-hal itu ASI saya emang deras banget. Hihihi. Jadi kalau suami lagi ngeselin, saya tinggal mengeluarkan jurus pamungkas, “Mau anaknya ASI nggak? Makanya jangan bikin kesal, dong!” It works all the time! Hihihi.
  8. Tiba waktunya kerja, maka pumping jadi hal yang wajib. Saya udah membagi waktu 3 kali untuk pumping di kantor: pagi pas baru datang, makan siang, sebelum pulang. Kebetulan kantor saya banyakan perempuan yang mana mengerti banget soal ASI, jadi saya nggak pernah disusahin soal pumping. Kebetulan juga saya punya ruang kerja sendiri yang nyaman jadi mudah kalau mau pumping. Jadi untuk semua itu saya ucapkan haleluya! Tapi ya nggak selamanya mulus. Ada waktunya pasien banyak atau bertabrakan dengan waktu meeting dan harus buru-buru pumping jadi hasilnya dikit. Wajarlah, produksi ASI kan naik turun. Belum lagi selama 6 bulan ngASI saya nggak pernah mampir ke mana-mana karena ya supaya nggak banyak stok ASIP yang kepake. Jadi ya berkorban waktu hang out, deh.
  9. Ada kalanya ASI seret. Aduh itu bikin stres karena hasilnya nggak seperti biasanya. Walaupun udah tau kalau stres malah bikin ASI seret, tapi namanya orang kan ya sesekali bisa stres. Langsung sibuk googling artikel maupun blog orang untuk ngatasin ASI seret. Semua artikel intinya bilang pompa lebih sering biar kasih sinyal ke tubuh bahwa bayi butuh lebih banyak ASI. Awalnya nggak percaya. Yakeen, ente? Tapi karena udah desperate coba berbagai macam cara, seperti makan daun katuk, minum booster ASI tapi yah segitu aja, maka suatu hari di kantor saya minta ijin untuk 2 jam sekali pumping. Sehari itu ya nggak kelihatan hasilnya. Ngepas banget, bikin sedih. Eh, tapi besoknya pas pumping, tiba-tiba banyak lagi. Horeee, Om Google ternyata nggak bohong. Sejak itu saya selalu pumping 4 kali di kantor.
  10. Demi dapat sugesti positif, saya langsung beli ASI booster, Milmor; ditambah makan katuk, ngemil oatmeal, makan buanyak, minum susu 1 liter per hari. Hasilnya karena merasa ada yang ngebantu, ASIP saya naik lagi. Jadi nggak papa pake ASI booster kalau itu bisa bikin kita lebih tenang dan mengembalikan mood lebih positif.
  11. Drama mati lampu. Dari 5 bulan ke 6 bulan ini banyak banget dramanya. Dari kuantitas ASI yang berkurang sampai tiba-tiba gardu PLN dekat rumah kebakaran yang menyebabkan mati listrik. Dari siang pas dapat kabar itu langsung heboh kasih tahu nyokap supaya jangan buka freezer, lalu minta mertua buat cek kulkas satu lagi di rumah saya apakah nyala listriknya. Untungnya di rumah saya listrik nyala, tapi justru ASIP fresh di rumah nyokap listriknya mati. Langsung telepon PLN nanya kapan nyala dan nggak tahu kapan. Berusaha pulang ke rumah cepat-cepat karena mau menyelamatkan ASIP tapi terjebak macet 3 jam di jalan karena lampu lalu lintas juga ikut mati. Sampai rumah ASIP mulai mencair. Hati udah berdarah-darah rasanya, air mata udah mulai menggantung. Dengan gelap-gelapan minta suami segera bawa semua ASIP ke rumah saya, padahal hari itu ada kebaktian juga di rumah mertua. Belum lagi Kaleb udah kegerahan karena panas. Karena mobil semua lagi dipake, hari itu untuk pertama kalinya Kaleb dibawa naik motor di tengah kegelapan. Sungguh dramanya bikin jungkir balik. ASI oh ASI!
  12. Ini salah satu hal yang sepele sih, tapi…. aku kangen pake dress! Dikarenakan nggak punya baju menyusui, jadi andalan saya selalu baju atasan dan bawahan supaya gampang menyusui Kaleb. Belum lagi bra menyusui saya yang kurang kece, macam bra nenek-nenek, jadi kalau mau pake tank top yang talinya tipis juga malu kalau tali bra besar itu bakal kelihatan. Berakhir dengan, ya udahlah nggak usah pake tank top, pake baju biasa aja. Jadi sudah 6 bulan model baju saya ya itu-itu aja: atasan dan bawahan.
  13. Itu juga yang bikin saya malas ke pesta karena merasa nggak punya baju. Kalau pake dress, nanti Kaleb harus bawa ASIP pake botol. Nanti ASIPnya berkurang, dong. Nggak rela banget. Ya udah deh, nggak usah ke pesta aja sekalian. Orang-orang maklum kan ya, busui siboook ngumpulin ASIP *padahal pengen juga*.
  14. Pulang kerja nggak bisa ngelayap lagi karena buru-buru pulang demi supaya ASIPnya nggak terpakai banyak. Sebenarnya kangen lho, habis ngantor kongkow bentar, pulang dalam keadaan fresh. Tapi pilihannya adalah ASIP terpakai vs bersenang-senang. Ya, yang menang si ASIP lah. Mama senang-senang ditunda sampai waktu yang kurang bisa diprediksi. XD
  15. Support system. Ini paling penting. Kalau nggak ada suami yang selalu dukung untuk kasih ASI, rela cuci botol-botol ASIP plus botok-botol dot tiap malam, beliin bubble tea tiap hari, cemilan yang tiada akhir, nganterin ke mall demi busui senang; plus Mama yang seiya sekata kasih full ASI dan mertua yang dukung ASI; plus kantor yang cukup fleksibel membiarkan saya sering banget pumping mungkin semuanya akan lebih berat. Support system itu penting banget karena ibu menyusui nggak bisa sendirian ngadepin drama ASI. Harus ada lingkungan yang mendukung dan membantu saat drama ASI muncul dan bikin perasaan ibu lebih nyaman. Harus ada yang ngingetin ibu untuk keras kepala kasih ASI.
  16. Enjoy breastfeding. Walaupun awalnya susah, nggak mudah, ada ups and downs-nya, but truly it’s amazing knowing that God already provides food for your baby from your own body. It’s not easy, but it’s worth it. Melihat Kaleb yang sampai 6 bulan ini hampir nggak pernah sakit (kenapa hampir, karena pernah sehari dia pilek ketularan saya) dan aktif bikin semua rempong bin ribet bin stres di atas terbayar semua.  Jadi, lanjut ASI-nya? Lanjut! *pasang ikat kepala menghadapi drama selanjutnya* 🙂

Ada semangat, Ibu-Ibu?!

 

Drama ASI Seret

Kalau soal per-ASI-an nggak ada drama nggak seru, ya. Dari masuk kerja, puji Tuhan, ASI saya lancar, pumping bisa teratur, hasilnya pun memenuhi target sehari. Shantay! Drama dimulai dari bulan ke-5 menjelang ke-6. Kadang-kadang nggak punya waktu pumping di kantor karena pekerjaan padat atau pas pumping pun terburu-buru, hasilnya ASI berkurang.

Sedih bener!

Padahal ASI ini soal mood dan psikologis yang happy, kan. Tapi gimana mau happy kalau hasilnya aja berkurang. Eike panik nik nik! Mulai deh ngadu dan manyun ke suami. Pokoknya nggak mau tahu gimana caranya ASI harus naik. Titik! Suami pun berburu daun katuk (sejak masuk kerja, makin jarang makan daun katuk karena lagi nggak ada pembantu jadi nggak ada yang beliin ke pasar dan masakin. Hiks!) dan saya langsung googling heboh cara meningkatkan supply ASI. Semua jawabannya rata-rata: pumping lebih sering. DUH! Bukan itu maksudnya! Ada pil canggih apa kek yang bisa nambah ASI dalam sekejap.

Akhirnya saya langsung ke apotik dan beli ASI booster Milmor yang dulu pas baru lahiran diresepin dokter ke saya. Cuma karena merasa nggak ada bedanya pake ASI booster dan nggak, maka saya stop. Nah, ini karena lagi seret jadi langsung beli lagi. Ajaib, nggak lama kemudian ASI saya deras lagi. Horeee!

Berhenti sampai situ? Nggak, dong, ya.

Yang seret kemarin itu masih cetek masalahnya karena cuma seret 3 hari doang. Kira-kira seminggu kemudian ASI saya seret lagi! OH MY! Ini apa lagi, sih? Iya, sih saya emang lagi hectic banget di kantor, plus stres, plus capek banget, jadi kemungkinan ASI bisa seret. Sebenarnya kalau mau gampang ya pake aja ASIP yang dulu udah dipompa susah payah pas lagi cuti melahirkan. Tapi eike anaknya visioner banget. Kalau menggampangkan pake ASIP, trus ASIPnya habis, padahal ASI kan masih dibutuhkan sampai nanti bagaimana?

Makin panik, makin kesal, makin sedih, makin drop ASI-nya. Muter-muter di situ aja, deh. Makin lama kan makin sedikit. Bayangin udah 1 jam perah, cuma dapat 60 ml, dua tetikadi. Streys! Padahal si bocil selama ditinggal ke kantor minumnya 600 ml. Jauh bener dari hasil pumping, kan.

Awalnya pikir karena udah nggak teratur lagi minum si Milmor. Akhirnya beli Milmor lagi, minum teratur. Trus googling makanan apa yang meningkatkan supply ASI. Langsung makan daun katuk segambreng, plus ngemil oatmeal karena disinyalir bisa menambahkan ASI. Oh, sama minum susu seliter tiap hari. Ditambah pumping dini hari sampai 2 kali, yang hasilnya 100 ml aja juga nggak. Mana katanya kalau pumping subuh bisa banyak? Cih! *ngambek* (anyway, saya emang nggak pernah pumping subuh sebelumnya karena udah terlalu capek, jadi ini demi meningkatkan ASIP pumpinglah subuh). Heboh lah ya ceritanya meningkatkan gizi supaya ASI-nya banyak.

Hasilnya? Tetap seret! *menangis semalam*

Saya tahu menyerah itu bukan pilihan. Mungkin saya yang harus menerima bahwa lama-kelamaan hasil pumping semakin menurun, seperti kata obgyn saya, karena kalau masuk kerja mulai stres, mulai nggak ada waktu pumping, jadi kemungkinan supply ASI menurun.

Sampai akhirnya suatu hari, saya menuruti apa kata semua artikel di Mbah Google: pumping lebih sering! Jadi, satu hari itu saya minta ijin ke rekan kantor bahwa hari itu saya akan sering menghilang untuk pumping. Untungnya mereka teman-teman yang manis, jadi tentu saja nggak ada halangan. Tiap 2 jam saya pumping. Hasilnya ya tentu saja tetap sedikit. Tapi saya terus pumping per 2 jam selama 1 jam dalam satu hari itu. Tapi lumayan lah, walau masih defisit, tapi ada yang dibawa pulang buat si bocah.

Surprisingly, besoknya ASI saya meningkat. Oke, belum kembali seperti semula, sih, tapi udah kelihatan lebih deras dan nggak sesedikit sebelumnya, serta waktu pumping pun nggak lama. Kayaknya ada hasilnya, nih. Maka hari itu pun saya tetap pumping 2 jam sekali, paling lama per 2,5 jam. Keesokan harinya… voila… ASI saya kembali seperti semula. It was even better, karena saya konsisten pumping 2 jam sekali, saya bahkan bisa menambah banyaknya botol pulang, plus waktu pumping jadi lebih singkat, jadi efisien, deh. Hati langsung senang! 😀

Saya pun bilang ke suami, “Eh, ternyata google benar ya, kalau mau hasilnya banyak harus pumping lebih sering”.

HAHAHA! Siapalah aku ini meragukan kepintaran Google!

Semoga nggak ada kehebohan drama ASI seret lagi, ya.

 

Akhirnya 58!

Selama hamil, saya nggak bisa ngontrol nafsu makan saya yang macam nggak pernah dikasih makan dari lahir. Kalau orang lain 3 bulan pertama beratnya turun karena mual dan muntah, saya mah lempeng aja naik terus. Saya nggak ngalamin mual yang dahsyat, apalagi muntah. Kalau pun mual, solusinya adalah: makan. Pantes ya bok, sebulan bisa naik 3 kg. Zzz!

Dari sekian banyak orang yang meng-encourage saya untuk banyak makan, obgyn saya adalah yang paling concern sama berat badan saya. Dari awal dia udah wanti-wanti kenaikan berat badan yang sehat adalah 1-1,5 kg per bulan. Yang artinya 9 bulan itu kenaikan berat yang normal adalah 12-16 kg. Awalnya belagu, dong. Cih, gampil! Kalau bisa sih naik 10 kg aja! Kenyataannya, bablas banget nambahnya. Tiap kontrol jadi dag-dig-dug kalau mau nimbang. Akuh takut dimarahin dokter.

Sampai pas bulan terakhir hamil, nggak ada kontraksi apa pun, perut makin begah, cuti udah dimulai, bosen di rumah, makan pun makin mengganas. Alhasil, naik 15 kg. Bye bye lah, yang namanya mau keliatan langsing dan perutnya doang yang besar. Padahal saya tahu banget dari sebelum hamil pun bahwa kalau hamil itu bukan berarti makan untuk 2 orang karena si calon bayi kan keciiiil banget. Yang bener cuma ditambahkan asupan kalorinya sebanyak 300-500 kalori aja, yang mana itu nggak banyak lho. Mungkin sebanyak sepotong roti aja *NAH LHO, kaget, kan!*. Saya juga tahu yang saya makan juga kebanyakan ya cemilan, macam bubble tea yang kandungan gizinya nggak ada. Jadi badan melebar, bayi pun biasa aja pertumbuhan beratnya.

Sudahlah ya, masih ada harapan kalau bayinya dikeluarkan, setidaknya ngarep 5 kg langsung ilang lah ya dari badan ini. Kenyataannya, hari terakhir pulang dari RS dan nimbang, yang turun cuma 2 kilo saja! Apa-apaan ini! Bayi saya aja beratnya 2,6 kg. Katanya air ketuban berat, kok saya malah defisit gini turunnya. Ditambah perut masih besar macam hamil 8 bulan. Coba jawab sini gimana caranya Kate Middleton sehari setelah melahirkan badannya langsing kece mampus gitu?! Hancur hatiku. *mengalun lagu Dewa* *nangis berurai air mata*

Permasalahan banget mau pake baju jadinya. Nggak usah baju pergi (ya dengan badan segede gini, maleslah pergi keluar. Ngaca aja males *self-esteem menguap*), baju rumah aja sampe minjem baju nyokap. Eh, masih kesempitan, lho! Padahal size nyokap adalah L. Sungguh rasanya pengen terjun dari Monas aja.

Seminggu setelah melahirkan, kontrol ke dokter, dan saya langsung menatap dokter dengan tatapan tajam, “DOKTER, KOK SAYA MASIH GENDUT?” *puk puk dokter yang punya pasien drama begini*. Tentu saja dokter saya baik, ya. Dia menyemangati bahwa dengan menyusui pasti berat badannya akan turun dengan cepat. CIS! *masih ngambek ceritanya*

Minggu-minggu pertama setelah melahirkan tentu saja nggak kepikiran buat berat badan. Masih jetlag banget punya anak. Yang kepikiran mah kapan bisa tidur *mata panda*. Tapi ya karena saking nggak percaya dirinya, saya nggak pernah foto muka sendiri. Yang difoto anak mulu. Males liat muka sendiri.

Setelah bisa keluar rumah pun, PR banget mau pake baju apa. Jadi kalau ada baju yang bisa dipake, ya pakenya itu mulu. Trus karena baju saya nggak muat semua, ya yang dipake baju adek saya yang kebetulan size-nya lebih besar dari saya. Itu pun masih kekecilan. *JLEB*

Tapi ternyata dokterku nggak bohong. Tiap kontrol ke dokter pasca kehamilan, turunnya langsung banyak. Uwooow! Padahal di rumah saya nggak diet. Ya nggak mungkin lah ya bok. Mamak saya cekokin saya makanan mulu, biar katanya ASInya banyak. Saya sih mangap aja. Tapi saking repotnya, ya emang saya makan cuma 3 kali sehari, tanpa ngemil. Tapi sekali makan kayak orang habis nguli. Banyak.

Berat badan udah mulai turun, hati mulai happy. Eh, tapi liat di TV, Olla Ramlan yang pas hamil naiknya 20 kiloan lebih kok udah langsung singset. Dia lebih berat dari saya, sekarang lebih kecil dari saya. Ketidakadilan apa lagi ini? *nangis di bawah hujan deras*. Rahasianya dia cuma menyusui dan nggak ngemil, tapi tetap makan 3 kali sehari. Kok, mirip rahasia saya, tapi hasilnya beda. Tapi ya sudahlah ya.

Selama 3 bulan cuti, concern saya adalah saya harus kembali kurus pas masuk kerja karena saya kan kerja di klinik obesitas. Ada tanggung jawab moril bahwa saya nggak boleh gemuk, dong. Kan saya udah tau cara-caranya, masa tetap gemuk juga. Hidup tuh berat amat, ya. *lebay, mbak*

Sampai akhirnya, saya udah mulai bisa ngatur waktu, udah tau jadwal anak sehingga udah mulai pengen ngemil. Tiap hari diasupin sama suami Pocky strawberry, Taro, Ring, dsb. Hati senang. Nah, karena pengen cepat turun lagi berat-badannya, maka saya mengultimatum suami, “Jangan kasih aku cemilan lagi!”. Udah deh nggak dibeliin cemilan sama suami. Sampai suatu hari pas pumping kok ya seret. Hatiku sedih tiada terkira. Tiba-tiba suami datang dan makan ayam KFC di depan saya. Saya pun ikutan makan ayam KFC dan kulitnya yang asoy banget itu. Senang banget rasanya. Habis itu kembali pumping dan ASInya langsung deras. Ya udah lah ya, mulai saat itu saya tahu kalau ASI booster saya adalah makanan. Huahaha!

Supaya tetap sehat, maka saya pun banyakin makan sayur dan lauk, nasi dikurangin aja. Nasi putih kan nggak terlalu penting sebenarnya, plus gulanya banyak. Tapi selain itu, yang lainnya teteep. Saya nggak pernah berusaha melaparkan diri. Inget lah ya, ASI booster saya makanan. Tapi sebisa mungkin makanannya sehat.

Pas masuk kerja, berat saya sekitar 62 kg. Berat sebelum hamil 58 kg. Nah, mulai deh 3 bulan setelah melahirkan, berat badan makin susah aja turunnya. Kalau dulu seminggu bisa langsung 2 kg. Ini mah seminggu 0,5 kg juga nggak. Sempat ketar-ketir juga apa jangan-jangan saya nggak bisa balik ke berat saya yang dulu. Hiks baju-baju lamaku *efek nggak mau beli baju baru*. Akhirnya saya menggiatkan makan sehat lagi. Nasi sedikit, lauk banyak, kecap dikit, banyakin rebusan. Untuk cemilan, yang ini nggak bisa ditolak. Saya tetap ngemil karena itu bikin saya happy, biar ASInya banyak *alasaaaan*.

Saya sih udah pasrah aja kalau berat badan stuck di 62 kg. Mikirnya, nanti deh setelah ASI eksklusif 6 bulan mulai diet lagi. EH, tapi kok ternyata tiap nimbang berat badan tetap turun, ya. Ini udah pake minum bubble tea tiap hari lho (iya, kamu nggak salah baca. Saya minum bubble tea tiap hari). Sampai akhirnya tepat di bulan ke-5 setelah melahirkan, berat badan saya kembali ke angka 58 kg. Angka yang sama sebelum saya hamil. :’) *tebar confetti* *haloooo, baju-baju lamaku*

Rasanya saya pengen langsung whatsapp dokter saya *yang mana nggak saya lakukan karena nomornya hilang* dan bilang, “Dokter, kamu benar! Berat badan saya turun terus kalau menyusui!”. So, yes, I LOVE breastfeeding because I can lose weight without even trying. Si suami sampai iri sama saya karena dia juga lagi program penurunan berat badan, nggak makan nasi sama sekali, kalau pagi makan oatmeal doang, tapi beratnya turun bagai keong jalan. Lambat. Sementara saya yang makannya ganas banget bisa turun terus beratnya. Yang selalu saya jawab, “Makanya menyusui, dong!” WAKAKAKA *kalah telak ente*!

Masih ada sisa 1 bulan lagi sebelum masa ASI eksklusif berakhir, jadi saya pengen nikmati sebaik-baiknya momen bisa makan banyak tapi berat badan turun terus ini. I’m a happy momma! *selfie sepanjang saat* *udah pede ceritanya* :)))))

 

 

 

Tentang Memberi ASI

Mumpung baby K lagi dipegang opungnya, emaknya bisa bebas main gadget dulu. Hihihi.

Haloooo, apa kabar semua? *sapuin blog dari debu*

Sejak hamil (eh, malah sebelum hamil) saya udah bertekad bahwa baby K harus ASI eksklusif. Saya nggak masalah dengan sufor. Ada orangtua yang dengan pertimbangan tertentu memberikan sufor. Yo weis, silakan. Tapi saya berharap bisa memberikan baby K ASI karena itu haknya si baby dan menurut saya ASI yang terbaik. Ya, sekalian biar hemat juga nggak beli sufor yang terkenal mahal. Hahaha. *medit*

Makanya saya investasi di perlengkapan menyusui. Apalagi nanti saya bakal kerja lagi, kan. Jadi alat semacam breastpump (minta dikadoin yang elektrik dan manual), sterilizer (kado juga), steamer (lagi-lagi kado), botol ASIP, cooler bag, ice gel, dll udah ada di tangan sebelum melahirkan. Oh ya, walaupun ASI itu gratis, tapi alat-alatnya, terutama breastpump, lumayan mahal. Jadi mendingan kalau ada yang nanyain mau dikadoin apa, mending minta breastpump, sekalian yang jelas merk dan tipe apa. Kita jadi hemat kan, bok. Hihihi.

Sebagai pemilik payudara kecil, dulu sempat ragu apa saya bakal punya ASI banyak. Tapi kemudian seiring dengan kehamilan saya, payudara semakin membesar sampai pada ukuran yang membuat saya pengen bilang, “Hey, boobs, stop growing! You’re being too big!” Hahaha. Aku merasa setara dengan Jupe sekarang. Hahahaha!

Waktu baby K dikasih ke tangan saya, suster tanya ASI-nya udah keluar? Err… Mana eike tahu ya. Secara mana pernah nyusuin. Akhirnya suster memencet puting saya dan…..voilaaaaa…..keluar ASI. Bersyukur banget bahwa ASI bisa keluar dengan cepat. Soalnya kalau baca blog orang ada yang sampai berhari-hari nggak keluar. Baby K bisa langsung nyusuin. Rasa menyusui itu…agak sakit ya karena dia kan ngemut puting kita.

Menyusui itu perlu tekad sekuat baja. Soalnya ASI yang deras berhubungan dengan pikiran yang positif. Ada kalanya orang-orang di sekitar kita selalu memborbadir dengan pertanyaan, “ASI-nya cukup nggak?”. Apalagi kalau baby K nyusu sambil rewel, pasti ada aja yang bilang, “ASInya nggak ada lagi kali.” Bok, senewen juga digituin pas lagi nyusu. Tapi saya selalu berkeyakinan ASI saya pasti cukup. Wong kadang-kadang suka rembes gitu, kok. Jadi tutup kuping dan harus tenang aja. Pasti cukup.

Kalau lihat di TV menyusui itu kayaknya indah banget, ya. Hahaha, kenyataannya sulit! Seminggu pertama, tiap mau menyusui pasti bergulat dulu sama baby K nemuin posisi yang nyaman supaya dia bisa minum. Belum lagi dia pasti udah nangis kejer karena lapar dan kesal karena nggak bisa minum. Emaknya stres, anaknya kesel. Satu hal yang paling saya ingat dari dokter laktasi adalah jangan panik, nanti baby-nya ikut panik. Jadi lumayanlah ya sekarang saya udah cukup bisa tenang walau baby K nangis kalau mau nyusu.

Sejak menyusui, payudara saya jadi benda umum yang bisa dilihat siapa aja. Hahaha. Mau pake apron di rumah kan panas banget ya. Jadi kalau di rumah ya buka di mana aja. Hahaha. Belum lagi kalau ada yang jenguk dan keukeuh mau lihat saya nyusuin. Awkward, sih. Tapi kalau yang ada di situ para sesepuh yang keukeuh lihat ya mana berani ngusir saya. Hahaha. Belum lagi sarannya suka ajaib. Misal, “Kocok dulu teteknya.” Hah, maksudnya?! Jadi saya wajib goyangin payudara saya biar ASInya tercampur rata. Dikata susu bubuk kali. Zzz!

Sering baca kalau banyak kejadian saat nyusuin payudara lecet, bahkan berdarah-darah. Serem! Kenyataannya saya merasakan payudara lecet. Belum lagi kalau udah lecet, payudaranya digigit. Mak, mau nangis! Sampai sekarang sih payudara saya masih suka perih. Sempat kepikiran si baby K disusuin pake ASIP aja soalnya sakitnya ga tahan. Tapi tabungan ASIP saya juga belum banyak jadi nggak rela juga kalau dipake di saat nggak genting. Jadi solusinya, tahan-tahanin aja tuh rasa sakit. *solusi nggak guna*

Belum lagi nyusuin tiap 2 jam dan harus begadang. Kepala pusing banget. Apalagi saya penganut harus tidur 8 jam kalau malam. Percayalah, begadang itu siksaan. Di saat seperti ini saya berharap cowok bisa mengeluarkan ASi juga. Sayangnya itu mustahil. Jadi lagi-lagi, tahanin aja! Hihihi. Di minggu kedua baby K lahir, di saat jahitan caesar masih nyeri, batuk yang bikin nekan bekas operasi,payudara lecet, dan begadang akhirnya tiap malam saya nangis tersedu-sedu. Kok rasanya begini amat, sih? Shock, bok! Belum lagi orang rumah yang menganggap ngapain nangis, kan ini emang udah kewajiban. Nggak bantu banget ye. Di saat inilah peran suami penting banget. Dia harus bisa memahami perasaan kita supaya kita juga jadi lebih waras. Hehehe.

Selain hal menyakitkan di atas, hal paling menyenangkan dari menyusui adalah berat badan saya cepat turun. Hahaha. Waktu hamil, BB saya naik 15 kg. pulang dari RS, ngarep dong turunnya banyak. Kenyataannya saya cuma turun 2 kg sajah! Lah, si baby aja beratnya 2,6 kg. gimana saya cuma bisa turun cuma 2 kg. Auk ah gelap! Yang pasti pipi saya bengkak, paha saya sebesar gelondongan. Zzz! Eh, tapi pas minggu depannya kontrol, udah turun 3 kg lagi. Minggu depannya turun lagi. Jadi dengan menyusui, dalam 2 minggu berat badan saya udah turun 7 kg. sekarang hampir 1 bulan belum nimbang lagi, tapi celana yang kemarin nggak muat sekarang udah muat lagi, lho. Oh ya, saya nggak pake diet. Makan besar 3 kali sehari, masih ngemil juga. The power of breastfeeding, deh! Hihihi.

Jadi kalau lagi merasakan perih saat menyusui, kesal karena begadang, saya kembali ingat gara-gara menyusui berat badan saya cepat turun tanpa ngurangin makanan. Hahaha. Nikmat!

Masih panjang perjuangan buat ASIX. Doakan saya bisa melaluinya dengan mental baja, ya. Postingan selanjutnya mau cerita soal pompa-memompa ASI.

See you! 😀