#AbeBirthdayTrip

Ealah, udah hampir sebulan nggak update blog. Bukan sibuk, kok, cuma lagi males aja. Males kok ya dipelihara, sih. XD

Tepat tanggal 30 Mei kemarin Pak Suami ulang tahun. Setelah merasakan serunya #KalebBirthdayTrip kemarin, jadi pas Pak Suami ultah pun mendingan kita trip lagi aja. Karena nggak punya banyak cuti, jadi kita jalan-jalan yang dekat-dekat aja: Bogor.

Pagi-pagi rayain ulang tahun Pak Suami dulu. Udah bertahun-tahun nikah dan hampir selalu barengan, dia tetap nggak nyadar kapan saya beli kue ulang tahun. Hahaha!

IMG_6052

Bapak yang berbahagia dengan Kaleb yang sibuk liatin lilin

Yuk kita mulai #AbeBirthdayTrip ini. Sekitar jam 10 pagi kita berangkat ke Bogor. Tadinya mikir udah kesiangan, nih. Tapi ternyata berangkat jam 10 itu tepat banget karena udah nggak macet lagi akibat orang pergi ke kantor. Perjalanan ke Bogor pun lancar tanpa macet berarti.

Tujuan pertama kita adalah makan di restoran Lemongrass yang lagi hits. Restoran ini terletak di pinggir Jl Padjajaran. Sayangnya plang namanya ketutupan pohon jadi kurang jelas, akhirnya kita kelewatan dan harus muter balik. Untungnya pas kita sampai restorannya belum terlalu rame, karena ternyata nggak lama kemudian restorannya langsung penuh.

Kenapa sih resto ini hits banget? Interiornya instragamable, pelayannya ramah dan tanggap, bersih, makanannya afordable dan cukup enak. Jadi kita puassss banget makan di situ.

IMG_7385

Cakep banget kan interiornya. Banyak bunga-bungaaaa *tiduran di rumput ala Syahrince*

IMG_7382

Suami aja bilang ini enak banget

IMG_7402

Wajib foto di tempat yang ada tulisannya dong

IMG_7411

Jalan bak model majalah keluarga

Setelah kenyang dan puas, kita pun melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Tempatnya pun nggak jauh, tinggal lurus aja dari Lemongrass. Bogor hari itu lagi mendung dan agak hujan rintik-rintik tapi nggak papalah ya, makin adem.

Tiket masuk ke KRB Rp 14.000 per orang (anak kecil seumuran Kaleb masih gratis) dan mobil Rp 30.000. Cukup murah untuk ukuran kebon berhektar-hektar gitu. Tadinya kita mau masuk ke Istana Bogor tapi sayangnya udah tutup kalau siang gitu. Jadi kita pun bersantai di tamannya aja.

Kaleb kayaknya senang banget liat yang taman yang besaaar dan hijau, plus adem. Dia duduk anteng di strollernya *ajaib* dan menikmati banget pemandangan. Sesekali dia kita biarin main di rumput. Happy banget dia.

KRB ini emang bagus banget, ya. Koleksi tanamannya banyak, tapi sayang ada beberapa pengunjung yang bandel buang sampah sembarangan. Pengen ditoyor banget nggak, sih!

IMG_7431

IMG_7440

Aku senang di siniiii!

IMG_7416

IMG_7459

Udah cucok belum jadi model majalah, nih?

IMG_7475

IMG_7464

Ciyeeeh!

IMG_7419

Si manis yang anteng duduk di stroller. Mamas & Papas terbukti handal di medan yang naik turun, berlubang, terjal. Kece!

IMG_7444

Hijau, adem, tenang

Setelah puas berjalan jauh, tapi nggak berasa karena cuaca adem. Kita pun nyantai dulu di Grand Garden Cafe yang dulu namanya Kafe Dedaunan. Udaranya kan sejuk jadi paling enak ngemil pisang goreng dan poffertjes, plus bandrek dan bajigur. Sebenarnya rasa makanannya biasa banget, nggak istimewa, plus porsi kecil. Tapi kongkow di cafe ini emang beneran enak karena pemandangannya yang ke KRB yang hijau tenang. Duh, suka banget deh berlama-lama di sini. Oh ya, saking sejuknya Kaleb sampe ketiduran cukup lama, lho selama kita nongkrong.

Sekitar jam 4 sore pun kita pulang biar nggak kena macet. Untungnya lawan arah kemacetan jadi pulangnya pun lancar jaya. Ah, senang banget hari ini bisa refreshing sejenak. Pak Suami yang ulang tahun pun happy banget. Ulang tahun lainnya kita adain trip lagi ya Pak Suami!

Happy birthday dear hubby. May God give you what you want and may you grow as the man of God. I love you most! :*

The Sweetest

My husband is probably the sweetest person.

Sejak hamil, tubuh rasanya berubah 180 derajat. Pegel, capek, pusing, eneg, lemah. Setiap pulang ke rumah, yang pengen dilakukan cuma rebahan di tempat tidur. Nggak kepikiran mau bersihin rumah atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Hey, I’m focusing on this aching body. Tentunya suami adalah orang pertama yang jadi tempat sampah keluh kesah saya.

“Aku pegel. Badanku semua sakit. Capek banget.” kata-kata pertama yang dilontarkan ketika bertemu suami sehabis pulang kantor.

“Aduh, kamu lama banget sih datangnya. Aku udah mau pingsan nih saking pusingnya.” terucap ketika suami terlambat menjemput.

Dan sejuta keluhan lainnya lagi. Ada kalanya saking sakitnya nggak hilang-hilang dan nafsu makan berkurang karena eneg terus, saya mau nangis karena nggak tahu harus gimana.

But my husband is the sweetest person. Sejak pertama tahu saya hamil, dia mengambil seluruh tugas rumah tangga. Dia membiarkan saya langsung masuk kamar sejak pulang kantor untuk istirahat karena tahu saya pasti lagi kesakitan. Dia langsung menyiapkan makanan. Bukan cuma menyiapkan, tapi dia memasak. Pertama kalinya memasak, sedangkan saya cuma memberi instruksi saja. Ketika makanan siap, dia akan memanggil saya untuk makan. Kemudian, ia masih harus mencuci piring dan segala macam perabotan makan lainnya. Sementara tentu saja saya sudah balik lagi ke kamar. Tidak lupa, dia juga masih harus memberi makan anjing kami, si Mika.

Sebelum saya tidur, dia akan masuk kamar untuk memijit punggung saya yang pegal dan mengusapkan minyak kayu putih di punggung. Kadang-kadang dia tertidur ketika sedang memijit saya. Tapi biasanya ketika saya sudah mengeluh seharian badannya sakit, dia akan memastikan akan memijit sampai tuntas tanpa ketiduran. Pijitannya membuat saya tidur lebih nyenyak dan keesokan harinya bangun dengan lebih segar.

Sehabis memijit saya, dia masih harus membawa Mika jalan-jalan keliling komplek. Kalau rumah sudah kotor, dia akan lanjut menyapu dan mengepel. Kadang-kadang pekerjaannya baru selesai hampir tengah malam. Tiap malam dia juga tidak lupa merebus sari kacang hijau untuk saya minum. Untuk refreshing, dia tidak langsung tidur tapi lanjut main komputer dulu. Biasanya sekitar jam 01.00 saya terbangun dan melihat belum ada suami di samping saya. Ketika saya panggil baru dia masuk kamar untuk tidur.

Waktu baru awal kehamilan dan tiap pagi disertai rasa pegal tak tertahankan, suami yang membuatkan sarapan. Bukan cuma membuatkan sarapan, dia juga memasak lagi untuk bekal makan siang kami. Sampai kadang-kadang dia lupa untuk makan pagi karena saking sibuknya. Dia harus tergopoh-gopoh untuk mandi dan siap-siap ke kantor. Membereskan tempat tidur kami karena dia tahu saya nggak suka meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan. Waktu itu saya sungguh malas sekali membereskan kamar. Tidak meminta suami juga untuk membereskan kamar, tapi dia melakukannya sendiri. :’)

Setelah membereskan kamar, dia akan memanaskan mobil, memberikan Mika makan, dan membuang pup Mika di halaman. Baru kemudian kami berangkat ke kantor bersama-sama. Pulangnya kami bertemu di tengah-tengah antara kantor kami untuk sama-sama pulang. Di tengah jalan ketika saya mengeluh, dia pun mengelus punggung saya dan selalu bilang, “Nanti aku pijitin sampai lama, ya.”

Semua rutinitas itu berulang setiap hari. Bayangkan betapa capeknya dia mengurusi saya. Sampai dia pernah sakit karena terlalu capek. He really takes good care of me. I can’t ask for a better husband because I already got the sweetest one. There is no doubt that he’s gonna be a good father too. I am forever lucky to have him. :’)

Akibat Piala Dunia

Selamat datang Piala Dunia 2014!

Nggak, saya nggak suka bola, kok. Musiman aja sukanya. Itu pun kayaknya musim ini nggak terlalu ngikutin. Seperti biasa saya akan dukung Italia, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dulu sih alasannya karena ada Fabio Cannavaro. Sekarang doi udah pensiun dan saya kehilangan arah gini. Hahaha! Jadi ya tetap dukung Italia, tapi nggak tahu karena apa. Oh, mungkin karena itu negaranya Cannavaro. *cetek abis, mak!*

Oh ya, Cannavaro baru datang ke Indonesia awal bulan ini, lho. Yang lebih bikin dadaku sesak adalah………..kenapa Jupe yang disuruh nyambut mereka? WHYYYY? Dapet kan tuh cium pipi dan peluk-peluk Cannavaro. Hiks! *iri setengah modar* Tega kamu, Jupe! #drama

Anyway, selama musim bola ini tentu saja suami tercinta nonton, dong. Masalahnya adalah hak siar Piala Dunia di Indonesia dikuasai oleh klan Bakrie *cis!*: ANTV dan TV One. Udah deh, saya yang pake TV kabel First Media mah tinggal gigit jari aja karena tayangannya diblok. Belum lagi internet juga pake First Media jadi juga nggak bisa streaming. Tapi demi memuaskan hasrat suami nonton bola, saya pun ngetwit nonton di mana selain ANTV dan TV One. Ada yang menyarankan nonton di wiziwig(dot)tv. Jadi saya kasih tau suami dan bener aja bisa streaming. Hore! Tapi ya mana puas sih nonton di layar komputer doang.

Sebenarnya kita punya antena dalam untuk TV di kamar. Itu antena hampir nggak kepake karena saya jarang nonton TV di kamar. Nggak suka berisik, bok! Lagian walaupun udah pake antena di TV kamar tetap gambarnya semut berbaris. Nggak bisa liat apa-apa juga. Eh, apa karena kamar saya terletak di bagian ujung rumah jadi susah nangkap sinyal, ya?

Akhirnya saya bilang suami untuk pake antena kamar aja di TV ruang tamu. Siapa tau hasilnya lebih kece. Bener aja, gambarnya lebih jelas. Suami pun bahagia tak terkira karena bisa nonton di layar besar dan bisa sambil tidur-tiduran di sofa. Pesan istri cuma satu, habis Piala Dunia kelar tolong itu antena dibalikin ke kamar karena kalau di luar merusak pemandangan. Hahaha, teteeep fokusnya estetika.

Bagaimanakah nasib istri di Piala Dunia kali ini? Istri mendapatkan tempat tidurnya untuk seorang diri aja. Lega bener, bok! Akibat nonton bola, suami jadi lebih sering ketiduran di depan tv sampe pagi. Pisah ranjang gitu jadinya, bok. Hahaha. Nggak denger suara ngorok lagi. Eh, tapi lama-lama sepi juga, ya. Nggak ada yang pijetin sebelum tidur, plus nggak ada yang gangguin kalau tidur. Hihihi. Suamiiii, ayo balik lagi ke kamar habis nonton bola!

Maka dengan ini saya deklarasikan bahwa istri hanya berada di urutan kedua di bawah bola. HAHAHA. Selamat nonton bola semuanya!

Go Italy! πŸ˜€

My Birthday Boy

Jumat, 30 Mei kemarin, suami berulang tahun. Ayo, coba tebak berapa umurnya? Yang pasti, belum terlalu tua sampe nggak asik lagi. Hihihi.

Untuk ulang tahun kali ini saya clueless mau kasih apa dan mau diapain. Pertama, dia pengen skateboard, yang saya tolak mentah-mentah. Bok, main skateboard di mana? Jalanan Jakarta aja nggak rata, susah kan main skateboard. Palingan di Senayan sana kali, ya. Itu pun kalau nggak rutin kan sayang soalnya harga skateboard ternyata mahal. Kedua, dia pengen ganti HP bututnya yang masih pake BB. Sebenarnya secara tampilan fisik sih HP-nya masih oke banget tapi seperti masalah BB lainnya, tiap saat muncul jam pasir. Bikin emosi jiwa, yes?

Hari Jumat itu, kita berdua kerja seperti biasa. Saya cuma ngucapin ulang tahun pas pagi aja dan foto-foto bentar. Nggak pake kue karena belum beli. Mau ngumpetin gimana kalau suami pasti buka kulkas. Hahaha. Tahun kemarin kan kebetulan saya libur pas dia ulang tahun jadi bisa ngumpetin kue dan bikin surprise. Jadi saya pikir nanti aja pulang kantor beli cake-nya. Plus, biar suami nggak curiga jadi saya biasa-biasa aja terhadap ulang tahun dia. Hihihi.

Pulangnya kita janjian di Pacific Place. Cuaca hari itu buruk banget, deh. Hujan deras dan macet parah. Udah mana itu kan Jumat malam jadi ya macetnya pasti menggila. Suami yang sampe duluan saya minta untuk cari restoran. Sebenarnya tadinya dia mau nunggu saya di lobi, tapi kalau dia nunggu di lobi gimana saya bisa beli cake, dong? Jadi saya suruh dia cari restoran dengan alasan kalau Jumat malam restoran suka penuh.

Suami cari restoran, saya langsung ke lantai paling bawah PP untuk beli Twelve Cupcakes. Kenapa cupcakes, bukan cake? Karena dari pengalaman tahun lalu beli cake pasti nggak bakal habis karena terlalu besar untuk 2 orang. Jadi daripada mubazir di kulkas mendingan beli cupcakes yang nggak terlalu banyak dan pasti habis.

Setelah beli cupcakes, saya lihat di sebelah eskalator ada yang jual bunga. Ih, suami yang nggak romantis ini kan belum pernah dapat bunga, jadi saya beliin dia bunga. Hihihi.

Buru-buru naik ke Fish and Co untuk nemuin suami yang udah nunggu. Di depan Fish and Co saya minta bunga dan cupcakes dikeluarin nanti aja pas setelah makan. Setelah itu saya duduk kayak nggak ada apa-apa. Nggak lama kemudian ada pelayan yang bisikin saya kalau cupcakesnya udah ada di belakang. YA BOK, ngapain pake bisikin, deh? Suami kan jadi bertanya-tanya itu kenapa bisik-bisik. Karena nggak tahu mau jawab apa, saya bilang aja mas-nya kasih tahu tempat ini non-smoking. TIDAK MASUK AKAL, SODARA-SODARA. Hahaha! Untung suami udah kelaperan jadi nerima aja sarannya.

Setelah makan dan perut kenyang. Lalu saya ke belakang minta kuenya dikeluarin. Ini pake lama, lho. Belum lagi, pelayannya deketin saya lagi untuk nanya, nanti mau dinyanyiin nggak? Ya iyalaaah! -___-”

Setelah nunggu beberapa saat, keluarlah itu cupcakes dan bunga serta segerombolan pelayan nyanyiin lagu Happy Birthday buat suami. Si suami sempat bingung pas ada ribut-ribut, dia pikir ada yang ulang tahun, nih. Tapi nggak kepikiran itu dia! KOCAK banget, deh! Hahahaha.

Surprise-nya sukses! Dia suka cupcakesnya, dia suka bunganya (yang mana akhirnya buat pajangan istri. Hihihi). I wish you nothing but the best, dear. I love you! :*

Surprise bunga buat suami

Surprise bunga buat suami

That wide smile after the surprise

That wide smile after the surprise

PhotoGrid_1401497567085

Belum Waktunya

Di sini saya pernah cerita tentang saya yang lagi ngecek kondisi rahim ke dokter. Bukan karena hamil, ya. Tapi karena belum hamil juga. Di bulan April itu, nggak dilakukan tindakan apa-apa, cuma dikasih vitamin aja biar alami. Hasilnya, bulan itu saya nggak hamil.

Bulan depannya, saya melanjutkan pemeriksaan. Kali ini diprogram. Jadi H+3, +7, +18 setelah mens saya harus periksa ke dokter untuk lihat perkembangan sel telurnya. Waktu itu, saya bela-belain datang pagi-pagi ke dokter ditemani Mama, habis itu langsung balik ke kantor lagi.

Setiap datang ke dokter dan di-USG hasilnya selalu baik. Sel telur berkembang dengan semestinya. Bahkan pas masa subur, telurnya ada beberapa yang ukurannya sesuai untuk ovulasi. Supaya pas ovulasinya, saya pun suntik pecah telur (yang mana mahal amit, yee). Selain disuntik, saya pun harus minum obat hormon yang harus sama jamnya. Itu perjuangan banget, deh. Kadang-kadang di tengah meeting keluar cuma buat minum obat, atau kalau lagi di pesta teteep bawa obat buat diminum tepat waktu. Biar nggak telat, saya pasang alarm pas siang dan malam hari. Saya jadi bawel harus makan sebelum minum obat, yang mana kadang-kadang situasinya nggak mungkin. Kalau situasinya lagi nggak mungkin buat makan, ya udah saya minum obat tanpa makan.

Waktu masa subur, dokter bilang hasilnya bagus dan dikasih jadwal berhubungan. Ish, saya langsung gembira berbunga-bunga, dong. Pasti jadi, nih. Semua perintah dokter dilakukan dengan baik.

Lewat masa subur mulai deh berhati-hati biar nanti jadi bayi. Jalan hati-hati, makan hati-hati, nggak mau kecapekan. Pokoknya semua hati-hati. Menjelang H+30, kok ya nggak menunjukkan gejala hamil. Badan tetap fit, nggak pusing-pusing, nggak mual, nggak bolak-balik pengen pipis. Pokoknya biasa banget, deh. Udah deh mulai pesimis kayaknya gagal lagi.

Tepat di H+30, mens datang pas saya lagi di kantor. Itu udah nggak kebendung lagi gimana meweknya saya. Rasanya hati hancur berkebing-keping. Ekspektasi udah setinggi langit, dokter bilang udah bagus, tapi.. tapi… kenapa gagal juga.

Saya langsung bbm suami ngasih tau kalo saya mens. Dia pun ikut sedih. Hari itu saya yang harusnya pulang jam 6 sore, nggak kuat lagi nunggu selama itu akhirnya ijin jam 5 sore pulang. Sampe rumah, langsung masuk tempat tidur dan mewek lagi. Sediih, mak! Ini kok kayaknya susah amat mau hamil, padahal orang-orang kok ya hamil kayak ngeluarin telur. Gampil!

Untungnya punya suami yang lebih nggak gampang down dibanding saya. Dia pun peluk-peluk saya, beliin makanan, dan biarin saya tidur lebih awal.

Berkali-kali saya bilang dalam hati, belum waktunya dikasih. Waktunya mungkin buat senang-senang pacaran berdua dulu. Semudah-mudahnya untuk berusaha ikhlas dan pasrah, kenyataannya itu susaaah banget. Lebih susah lagi waktu si Mama nanyain gimana hasilnya dan saya harus dengan sok cool-nya bilang lagi mens, tuh. Kenapa nggak curhat aja? Because I would cry like a baby and that was the last thing I wanted to do. Menceritakan betapa sedihnya saya waktu itu sungguh bikin hati tercabik-cabik, sih. Melihat orang menunjukkan empatinya dan kemudian mengasihani saya malah bikin saya makin sedih. JadiΒ  waktu itu saya memutuskan untuk (pura-pura) cool dan seperti biasanya aja.

Setelah dua bulan mencoba (dan cukup bikin saya stres), akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dulu ke dokter. Istirahat dari segala treatment yang bikin capek mental dan fisik. Milih untuk bersenang-senang dulu dan tetap berdoa, serta meyakini mungkin emang belum waktunya. πŸ™‚

So yes, semoga lain kali ada berita bahagia, ya. πŸ™‚

Demi!

Halo Pak Dokter (lagi)!

Hari ini, tepat di masa subur, saya disuruh balik untuk cek kondisi sel telur dan dinding rahim. Nah, karena itu di weekdays, Pak Dokter bilang jam 16.00-19.00 dia praktek di PacHealth Plaza Indonesia. Oh, baiklah mari kita ke sana.

Supaya cepat, pulang kantor saya langsung naik busway. Saya langsung naik ke lantai 7 tempat PacHealth berada. Begitu keluar dari lift langsung disambut dan ditanyakan keperluannya. Saya pun diantarkan ke resepsionis. Kesan pertama adalah berasa di hotel berbintang 5. Ruangannya luas, bersih, dan mewah.

Yang terlintas pertama kali di pikiran saya, “Ini berapa biayanya?”. GLEK! Tapi muka sih sok iye aja.

Setelah registrasi dan difoto untuk kartu member (yang kayaknya mikir sejuta kali buat berobat ke sana lagi), saya pun diantarkan ke bagian obgyn. Haish, ruang tunggunya aja keren: sofa embuk, karpet halus, dan banyak majalah ibukota. Saya langsung dilayani perawat untuk tensi dan timbang badan. Ehm, tapi peralatannya masih manual, bok! Beda sama RS Bunda yang tensi dan timbangannya udah digital.

Setelah cek, saya ditanya, “Mau minum apa, Bu? Air putih, teh, kopi, atau jus?”. Bingung deh saya. Ini minuman gratis atau bayar. Kebayang nggak mahalnya berapa kalo bayar. Ya udah, saya pun cuma pesan air putih hangat. *kekep dompet erat-erat*

Nunggu nggak terlalu lama, saya pun dipanggil ketemu Pak Dokter. Lagi-lagi USG Trans V (dan lagi-lagi saya tetap tegang. Hahaha!). Kata Pak Dokter, dinding rahim udah pas tebalnya (yeay!), endometrium bagus, sel telur saya banyak, tapi…. kecil. Kalau dilihat cuma ada 1 tel telur yang besar, yang lainnya kecil dan belum memadai untuk ovulasi. Tapi si Pak Dokter kelihatan positif-positif aja mukanya. Jadi saya pun nggak takut.

Si Pak Dokter nyuruh saya minum vitamin E Enurol. Lalu dia bilang berharap aja sel telur akan membesar setiap hari, jadi dia memberi rencana tanggal berapa aja harus berhubungan. Kalo bulan ini belum berhasil, maka bulan depan disuruh balik lagi untuk disuntik pecah telur. HAISSSH! Plis, berhasil aja, dong!

Setelah selesai konsul, ditanya perawat vitaminnya mau dibeli di situ atau nggak. Oh, tentu saja nggak. Takut mahal, bok! Nanti beli di apotik langganan aja, deh.

Keluar dari ruang konsul, saya diantarkan ke meja kasir. Mulai deh ya, harap-harap cemas bayarnya berapa. FYI, dari tadi pasien yang saya temukan bule semua. Kebayang kan kira-kira tarifnya berapa. Yak, pas disebutin totalnya Rp 610.000 untuk konsul dan USG. *kesambar petir* *tapi berusaha cool* *dalam hati senyum miris*.

Anyway, hasil foto USG di PacHealth juga nggak terlalu jelas kayak di RS Bunda. Kalo di RS Bunda, foto USG-nya jelas banget dan dapat 3 print yang berbeda. Sementara di Pac cuma dapat 1 print dan nggak jelas pula itu fotonya.

Oleh karena itu, saya memutuskan lebih baik kabur dari kantor bentar demi ke RS Bunda aja, deh. Ini mahalnya sih keterlaluan amit! Tapi demiiii si baby, ya. Demi banget! πŸ˜€

Doakan bayinya muncul di perut, ya! πŸ˜€

Imlek Tahun Ini

Gong Xi Fa Cai! Semoga tahun ular air ini membawa rejeki yang melimpah-limpah. Menurut bisik-bisik tetangga sih shio kerbau cocok sama ular. Jadi tahun ini bakal beruntung terus. Horee! *komat-kamit berdoa*

Gong xi! Gong Xi!

Gong xi! Gong Xi!

Apa yang dilakukan selama Imlek ini? Saya nggak merayakan, tapi karena sering disangka Cina jadi mari menghayatinya dengan baik. Karena mata saya sipit, kulit juga nggak item-item banget dari kecil sampe sekarang sering banget dikira Cina. Waktu sekolah juga sekolah di tempat yang mayoritas Cina jadi disangka ikut merayakan dan selalu ditanya, “Dapet ang pao berapa kemarin?”. Secara nggak merayakan tapi anaknya takut jadi minoritas *cupu* jadi suka ngarang bebas soal ang pao yang didapaet. Yes, saya pura-pura aja jadi Cina. *kekep KTP* πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Imlek tahun ini yang saya kerjakan pagi-pagi adalah beberes rumah: nyapu, ngepel, dan cuci baju. Beda sama apartemen yang cilik dan gampang banget bersihinnya, kali ini udah kayak olahraga deh nyelesein semuanya. Oh ya, tapi harusnya nggak boleh bersihin rumah ya kalo Imlek. Tapi ya saya kan Cina gadungan jadi yang ini boleh dong, ya. πŸ˜‰

Selesai bersihin rumah saya leyeh-leyeh sambil nonton TV di ruang tamu. Suami lagi pergi untuk beli mie bangka. Kata orang Cina harus makan mie biar rejekinya nggak putus-putus jadi diikuti aja dong *padahal emang pengen makan mie*. Sayang seribu sayang, mie bangka favorit saya itu tutup. Ya iyalah ya, mereka kan pasti merayakan imlek. Huiks! Terpaksa deh makan mie ayam lain yang nggak seenak mie bangka itu tapi yah lumayanlah daripada lu manyun #jokejadul XD

Maafkan kakiku yang tampak kurang oke

Maafkan kakiku yang tampak kurang oke

Kamar tidur yang baru dirapihin

Kamar tidur yang baru dirapihin

Setelah makan, kita pun siap-siap untuk arisan keluarga. Oh yes, apa lagi yang dikerjakan setelah menikah kalo nggak dari satu arisan ke arisan lainnya. Tempat arisannya di Tangerang. Jauh banget dan macet pula! Akhirnya baru sampe setelah 2 jam perjalanan. Berasa perjalanan ke Bandung ini mah.

Baru selesai arisan jam 7 malam. Tentunya kurang klop ya kalo pulangnya juga nggak macet. Tentu saja macet dan memakan waktu 1,5 jam. Sampe rumah langsung beli nasi goreng tek-tek sambil nonton Glenn Fredly di TV. Menyenangkan!

Selamat Imlek, kawan-kawan! *sebar ang pao virtual*

 

 

 

My Rock

Salah satu hal yang saya kagumi dari suami adalah dia mungkin punya iman yang lebih besar dari saya. Kelihatannya begitu, sih (lah, nggak yakin sendiri. Hihihi). Setidaknya dia yang selalu lebih yakin dari saya.

Ia selalu meyakinkan saya bahwa ia akan membuat saya bahagia.
“Aku pasti bikin kamu bahagia. Kita akan lebih dari yang sekarang. Lebih diberkati Tuhan. Itu pasti, dear. Aku janji.

Ada waktunya saya nggak yakin. Ada saatnya saya merengut, down, dan sedih, tapi dia selalu meyakinkan saya bahwa kami akan sama-sama bisa melalui semuanya.

One time, he ever cried and said he was afraid to not make me happy. I knew exactly that he would try head over heels to make me the happiest wife.

He is my rock and everyday I’m thankful to have him. πŸ™‚

PS: tulisan ini sebenarnya cuma jadi reminder buat saya kalo suatu saat saya misuh-misuh, saya bakal inget kalo suami saya lagi mengerjakan yang terbaik buat saya. πŸ™‚

Saingan Belanja

Dulu banget waktu baru kenal si suami, dia adalah orang yang nggak pedulian sama penampilannya. Pakaiannya adalah kaos oblong kebesaran, nggak peduli warnanya pudar, dan celana jeans gombrong, disertai dengan sepatu ala biker. Pokoknya… nggak banget!

Sampai waktu dia PDKT ke saya dan saya sebenarnya udah suka cuma ragu mau bilang suka juga karena…. penampilannya nggak oke. Kan nanti kalo dibawa ke depan teman-teman malu-maluin, ya. Kan nanti nggak sepadan sama saya, ya. *siapa elo juga!* Hihihi! Sampai teman saya yang diceritain hal ini cuma bisa melongo melihat saya yang superficial banget. Ih, ini penting tau! *membela diri*

Eh, tapi suatu hari dia tiba-tiba berubah *atau dia bisa membaca pikiran saya ya?*. Dia pake skinny jeans, sepatu converse merah, dan kaos merah. Trus rambutnya juga kelihatan oke. Pas ngeliat itu langsung saya sumringah dan teriak dalam hati, “THERE IS HOPE!”Β Karena melihat ada tanda-tanda perubahan dalam penampilan dia, maka saya pun mulai membuka hati.

Namanya juga cowok, tetap aja dia nggak segitu suka belanja. Tapi dia biasanya tahu apa yang dia mau. Jadi kalo beli baju dia bisa sendirian aja dan beli, deh. Satu ciri khas-nya adalah kemejanya selalu kotak-kotak. Makanya pas kampanye pilkada kemarin dia sering disangka jadi pendukung Jokowi-Ahok. Padahal mah ya, bajunya udah dibeli dari jaman kapan. Mungkin Jokowi yang terinspirasi dari baju dia? *Ya kale!*

Setelah menikah, urusan perkostuman kan jadi urusan saya juga, ya. Sebagaimana keinginan sang istri yang mengharapkan si suami tampak kece, maka si istri pun suka membelikan kemeja-kemeja kesukaan bertema kotak-kotak.

Saya pun pernah bilang, “Eh, rambutnya si Ernest tuh kece, ya.” Pas dia lihat, eh iya juga. Bahkan saking semangatnya, dia googling deh tuh model rambut itu, yang ternyata namanya undercut. Selain itu, dia googling deh salon gaul di Jakarta, dapatlah Salon Firman di Antasari. Suatu Sabtu, dia pergi sendiri ke situ dan minta dipotong ala undercut. Macam ABG jaman sekarang kan suamiku ini!

Dengan rambut barunya itu, dia makin suka ngaca, deh. Centil bener. Trus merasa kayaknya rambut kiri kanannya kurang tipis, deh. Dia pun pengen rapihin rambutnya tapi nggak usah ke salon mahal, cukup ke salon dekat rumah yang harganya Rp 10.000,-. Hasilnya? Rambutnya kependekan sampe hampir botak. Dan harapan untuk menjadi kece musnahlah sudah. *terdengar lagu mellow mengalun* Mana besoknya dia harus ke pesta batak. Semua sodara-sodara langsung nanyain itu kenapa rambutnya. Makin drop ke bawah tanah lah dia. Mau untung, kok malah buntung. Sejak itu hanya Salon Firman lah yang jadi kesayangannya. πŸ˜€ πŸ˜€

Kembali ke soal perkostuman. Ternyata dia rajin deh menggoggling soal trend terbaru masa kini. Dia pun bilang ke saya kalo buat cowok yang lagi beken itu celana chino. Bah, apa pula itu celana chino! Saya aja nggak tahu.

Belum lagi kalo jalan-jalan saya suka godain. Misalnya lagi waktu itu ada sale di Debenhams. Ada sepatu lucu yang kayaknya cocok nih buat suami. Saya minta dia untuk nyobain. Yah, pengen tahu aja bentuknya kayak gimana kalo dipake suami. Dia pun nggak ngarep untuk beli. Eh, tiba-tiba saya beliin sepatunya buat dia. Dia pun girang setengah mati.

Malah pernah waktu saya lagi baca-baca di kamar sebelum tidur, saya panggil-panggil dia kok nggak nyaut. Eh, ternyata dia lagi cobain sepatu barunya depan kaca. Lucu banget, kan! πŸ˜€ πŸ˜€

Oh ya, kembali ke celana chino ini. Awal bulan kemarin pas udah gajian, dia pun terbayang-bayang sama celana chino ini. Kebetulan waktu itu kita lagi jalan ke mall. Setiap ada celana chino, saya suka godain dia untuk cobain. Dia pun cobain, tapiii selalu ada aja yang bikin batal beli; ya nggak ada nomorlah, bentuknya anehlah, sampe kemahalan. Trus saya suka bilang, “Mungkin chino bukanlah jodohmu.” Dia tetap keukeuh dong. Dia percaya somewhere out there ada chino untuknya. #tsaah #suamilebay

Sampailah kami ke satu toko, di mana ada berbagai macam warna chino. Sayangnya semua nggak ada nomor dia, kecuali yang warna khaki. Kebetulan dong. Itu kan warna yang emang dipengenin. Pas dicoba, waah pas banget. Dari segi mana pun udah cocok, deh. Tapi pas ditanyain jadi beli nggak, nih. Eh, dia masih ragu-ragu, katanya lihat toko yang lain dulu, deh. Yo weis, mari kita cari ke toko lain. Sayangnya nggak ada toko lain kecuali toko itu. Si suami ragu-ragu, si istri PMS. Mulai deh drama terjadi. Kesel-keselan dan ngambek-ngambekan pun dimulai. Sampe akhirnya balik lagi ke toko itu untuk jadi beli celananya. DUILEH, ribetnya ya kita!

Nah, kemarin habis gereja, kita pun ngemall lagi. *ya apalagi lah yang dilakukan di Jakarta ini* Seperti biasa si istri window shopping. Sampailah ke New Look. Saya pun muter-muter ke bagian cowok. Eh, ada celana chino warna coklat. Saya pun nyuruh si suami nyobain. Eh, cocok loh, ya. Tapi kan bulan ini udah nggak boleh beli lagi. Jadi sabar ya suamiku! Dia pun lama muter-muter di depan kaca sambil coba celana chino dan kemeja gaul gitu, deh. Mungkin dia udah ngerasa ganteng banget ngalahin Tom Cruise. Karena nunggunya lama, saya pun tentu melipir ke bagian wanita dong, ya. Nggak lama kemudian si suami pun menghampiri dan wajahnya sumringah, “Ini akan jadi toko kesukaanku. Semua baju yang ada di sini keren. Sesuai seleraku.” Ih, apa banget kan suami saya ini. *ngikik*

Lebih GONG lagi adalah sebelum tidur dia nyeletuk, “Aku lagi mikirin celana chino cokelat tadi”. YA AMPUN, pikiran sebelum tidur adalah celana chino! Istrinya napa yang dipikirin? *cubit perutnya*

Jadi begitulah sodara-sodara, ternyata si suami lagi semangat pake baju keren. Kayaknya respon positif yang didapat dari sekitarnya bikin dia terpacu buat berpakaian lebih baik lagi. Tapi ya suami, ini kan budget belanja istri jadi berkurang kalo si suami juga semangat belanjanya. HIH! *persaingan*

πŸ˜€ πŸ˜€

 

mandangin diri sendiri ketika mencoba chino coklat

Si suami dengan celana chino, kemeja, dan sepatu barunya *glek* *kalah saingan*

 

Kompetitif

Suatu hari di Minggu siang saat si istri lagi tidur-tiduran, si suami masuk kamar dengan muka berseri,
Suami, “Aku baru aja pup. Hari ini udah tiga kali, dong.”
Istri, “Ih, aku juga tiga kali hari ini!” *nggak mau kalah*

And I knew right away that I married the right one. *ngakak kejengkang* πŸ˜€