Belajar Dari Kasus TOP Big Bang

big-bang-top

Beberapa hari lalu heboh berita TOP Big Bang dikabarkan ketahuan pakai ganja, padahal dia masih dalam masa wajib militer. Udahlah ya, langsung TOP dihujat habis-habisan. Kalau yang saya dengar, publik Korea tuh emang judgemental dan kejam banget ngritik idol-nya. Semacam idol tuh harus sempurna, nggak boleh ada cela. Bahkan kemarin saya baca berita TOP keluar dari kantor polisi sambil senyum dikit, dihujat abis-abisan, lho! Katanya kok masih bisa senyum? Nggak merasa bersalah, ya? Belum tahu aja gimana koruptor di Indonesia kalau ketangkap malah tebar pesona sambil melambaikan tangan. :)))

Setelahnya, TOP dikabarkan tak sadarkan diri setelah makan banyak obat penenang. Percobaan bunuh diri katanya. TOP dilarikan ke rumah sakit dan kesadarannya sangat menurun sampai ia tidak memberikan respon. Untungnya hari ini ia sudah lebih baik dan mulai sadarkan diri.

Walaupun saya nggak tahu siapa itu TOP Big Bang, tapi karena Kaleb suka Big Bang jadi saya suka dengerin lagunya. Makanya pas ada berita ini saya suka ikut nimbrung ngobrolin ada apa sih sama si TOP ini?

Yang luar biasa adalah respon banyak orang bukannya menunjukkan empati, tapi banyak yang malah judgemental, bilang, “TOP mah lemah amat sih, namanya juga di industri entertainment Korea itu berat. Gampang stres nih orangnya. Larinya malah ke ganja. Harusnya udah tahu dong resikonya. Dulu juga gosipnya dia pernah mau bunuh diri habis putus cinta sama Shin Min Ah. Masa gara-gara putus cinta aja gitu, sih.”

LIKE, WHAT?

Sedih ya, lihat komentar-komentar tidak empati seperti ini. Dianggapnya bahwa percobaan bunuh diri itu SALAH ORANGNYA karena mentalnya lemah, karena nggak tanggung jawab, masalah gitu doang.

Nggak semudah itu, lho.

Bunuh diri adalah usaha untuk membaskan diri dari perasaan menderita yang nggak bisa seseorang tahan lagi. Entah itu karena terbutakan oleh perasaan benci diri sendiri, nggak punya harapan, atau terisolasi. Orang yang mencoba bunuh diri tidak melihat cara lain untuk merasa lebih baik, kecuali kematian. Walau mereka berusaha untuk mengakhiri rasa sakitnya, sebenarnya orang yang kepikiran buat bunuh diri punya konflik tersendiri lagi apakah ia harus mengakhiri hidupnya atau nggak. Mereka berharap ada pilihan lain selain bunuh diri, tapi mereka tidak bisa melihatnya.

Yang menjadikan masalah itu besar atau nggak, itu bukan soal kenyataan seberapa besarnya masalah tersebut, tapi bagaimana seseorang mempersepsikan dan menghayati masalah tersebut. Buat A patah hati tuh semacam mainan yang dia punya hilang, besok tinggal beli lagi. Gampang lah. Buat B, ia mempersepsikan bahwa mainan tersebut satu-satunya yang ia punya dan sayang, kalau nggak ada mainan itu hidupnya hampa. Padahal mainannya sama, misalnya mobil-mobilan seharga Rp 5000. Tapi bagaimana kita melihat mainan tersebut dan hubungannya dengan kita yang membuatnya berbeda.

Setiap orang dilahirkan dengan kapasitas mental yang berbeda-beda dan kemampuan mengatasi stres yang berbeda. Kalau kita tangguh banget orangnya, belum tentu orang lain begitu. Kemampuan mengatasi masalah seseorang juga bisa sangat berbeda. Ada yang memang kurang mampu mengatasi masalah dengan baik sehingga coping-nya seringkali tidak efektif dan akhirnya menimbulkan stresor yang lain. Ada yang coping-nya efektif dan akhirnya bisa mengatasi masalah dengan baik. Semua bisa dipelajari, tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Masalah psikologis itu kompleks banget. Makanya banyak orang yang terkena gangguan butuh waktu yang lama untuk terapi atau konseling. Terkadang bisa bertahun-tahun. Karena ya tidak semudah yang dibayangkan orang-orang. But, they surely need help.

Orang yang mengalami gangguan juga bukan berarti dia satu-satunya yang patut disalahkan, karena ada orang di sekitarnya yang “seharusnya” bertanggung jawab ikut andil terhadap dirinya.

Ini yang jadi concern saya. Sebelum jadi orang yang judgemental, put yourself in other’s shoes. Kalau ada orang yang memang butuh cerita, apapun masalahnya, seremeh apapun kita menganggap masalahnya, tolong didengarkan dulu. Tempatkan dirimu jika ada di posisinya dan berempatilah. Kadang-kadang emang susah sih berempati, apalagi kalau masalahnya cetek banget dan kita mikir, “Kalau gue jadi dia, gue sih bakal bla bla bla. Nggak bakal kayak gini lah.” IYA, itu kamu. Bukan dia. Berusaha tempatkan diri jadi orang tersebut.

Tahu nggak ungkapan paling menyebalkan yang sering kita katakan kepada orang yang udah stres atau depresi adalah:

“Sabar, ya. Nanti akan baik-baik saja.” –> BASI! Apa yang dia lakukan sekarang itu sudah sampai pada tahap tidak bisa bersabar karena perasaan buruk itu sudah terlalu dalam. Dengan kita bilang sabar, kita malah mengabaikan perasaannya dan bagaimana ia mempersepsikan masalah tersebut. Kita juga menganggap enteng apa yang ia rasakan dan akhirnya ia merasa semakin terabaikan dan lebih depresi lagi.

“Bersyukur aja. Masih banyak yang lebih menderita dari kamu.”ย –>ย In times like this, bersyukur is not an option. Percayalah mungkin itu yang berusaha mereka katakan pada diri sendiri awalnya, mungkin mereka pun sudah berusaha berdoa juga. But the painful is just too big that they can’t handle it anymore.

Tolong, jangan ucapkan kata-kata klise di atas karena di dalam hati mereka sudah tahu harus melakukan hal tersbut, tapi bukan itu yang mereka butuhkan. Kadang-kadang kita merasa orang ini lebay, terlalu drama, atau ngancem mau bunuh diri padahal nggak bakalan mati juga. No. Buat kita lebay dan drama, buat mereka nggak. Kadang-kadang ungkapan selintas mau bunuh diri harusnya jadi warning buat kita bahwa apa yang mereka rasakan sudah serius.

Jadi apa sih yang bisa kita lakukan ketika kita tahu teman/keluarga kita bermasalah dan mempunyai pikiran bunuh diri?

  1. Biarkan ia tahu, bahwa kita peduli dengan mereka, bahwa ia tidak sendiri.ย 
  2. Dengarkan. Biarkan ia mengeluarkan semua unek-uneknya, perasaannya, kemarahannya, kesedihannya. Tidak peduli seberapa negatif pembicaraannya, fakta bahwa dia mau membuka diri adalah hal yang positif.
  3. Berusaha simpati, tidak judgmental, tenang, sabar, dan terima ia dengan segala keluh kesahnya. Biarkan ia bicara mengenai perasaannya.
  4. Tawarkan pertolongan. Ajak ia menemui psikolog/psikiater untuk membantunya dengan lebih baik dan bahwa perasaan bunuh diri yang ia rasakan hanya sementara. Biarkan ia tahu, bahwa hidupnya berarti untukmu.
  5. Jangan remehkan dia, anggap ia serius. Jika ia bilang, “Saya depresi, nggak bisa melanjutkan hidup lagi.” Kita bisa tanya, “Apakah kamu terpikir untuk bunuh diri?” Bukan berarti kita sedang memberi dia ide untuk bunuh diri, tapi kita sedang menunjukkan bahwa kita peduli dan bahwa menganggap masalah mereka serius. It’s okay for them to share their pain with you.

 

Namun, ada hal-hal yang juga tidak boleh kita lakukan:

  1. Membantah apa yang mereka rasakan. Hindari kata-kata, “Kamu tuh harusnya bersyukur. Kalau kamu mati itu bakal nyakitin keluarga kamu. Lihat dong hal lain yang patut disyukuri.” NO. BIG NO.
  2. Berakting kaget, lalu menguliahi bahwa hidup itu penting dan berarti, bahwa bunuh diri itu dosa. Again, NO!
  3. Berjanji bahwa kamu akan merahasiakan ini. Kalau dia bilang kamu harus merahasiakannya, tolong jangan. Hidup seseorang sedang dalam bahaya dan mungkin kamu perlu bicara pada ahlinya, seperti psikolog atau psikiater agar orang tersebut bisa lebih baik. Tapi kalau kamu sudah janji, terpaksa kamu harus melanggarnya.
  4. Menawarkan cara untuk memperbaiki masalah mereka, memberi nasehat, atau membuat mereka merasa bahwa bunuh diri itu tepat. Bukan soal seberapa parah masalahnya, tapi seberapa buruk hal tersebut mempengaruhi perasaannya.

 

 

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang bermasalah. Judging dan mengkritik, bukanlah salah satunya. Jadi seberapa pun kamu anggap teman kamu lebay, drama, hargai apa yang ia rasakan. Kalau ia sudah merasa tidak mampu lagi, anjurkan ia untuk ke psikolog/psikiater agar bisa menolongnya dengan lebih baik.

Yuk, lebih peka terhadap orang di sekitar kita. ๐Ÿ™‚

 

Love and kindness are never wasted. They always make a difference. They bless the one who receives them, and they bless you, the giver. – Barbara De Angelis

 

 

 

Review: My Secret Romance

Sejak drakor Goblin berakhir di awal Januari, hidup saya rasanya hampa. Goblin ini secara kualitas bagus banget sehingga rasanya drama lain terlihat biasa-biasa aja. Jadi kerjaan saya selama beberapa bulan kekosongan ini adalah mencoba nonton beberapa drakor yang katanya bagus, baru beberapa episode lalu nggak lanjut nonton karena bosan. Hampir nggak ada drakor yang saya tonton sampai tamat, kecuali Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Kim Bok Joo bisa saya tonton sampai habis bukan karena saya suka banget ceritanya, tapi karena yah okelah, pemeran utamanya lucu, ceritanya lumayan, beklah mari dihabiskan tontonannya daripada nggak ada.

Sampai akhirnya kehampaan ini berakhir ketika muncullah drama My Secret Romance.

my-secret-romance-poster1

Diperankan oleh Song Ji Eun dan Sung Hoon

Apakah drama ini kualitasnya menandingi atau setidaknya setara dengan Goblin? Nggak. Banget. Hahaha! Jadi ini drama super receh dengan kualitas biasa aja, setara FTV kualitas Korea (bukan FTV Indonesia yang parah banget itu, ya). Ceritanya apalagi, tipikal banget dan udah ada kira-kira sejuta drama Korea yang mengusung cerita seperti ini:

Cha Jin-Wook (Sung Hoon) is a son from a wealthy family. His family runs a large company. Cha Jin-Wook only pursues short term love. He meets Lee Yoo-Mi (Song Ji-Eun) and changes. Lee Yoo-Mi has never had a boyfriend before.

Duileh picisan banget lah: cowok kaya raya, tampan, arogan, playboy, naksir cewek miskin, cantik, polos, baik hati.

Yang bikin saya suka banget sama cerita ini ternyata ya karena ceritanya receh, gampang dicerna, chemistry mereka oke, cowoknya walau dibilang arogan tapi sama sekali nggak nyebelin juteknya karena masih kelihatan hangat, dan cowoknya yang usaha banget kejar-kejar ceweknya.

Bonus banget adalah sosok Sung Hoon yang alamak Tuhan pasti lagi bahagia banget pas nyiptain dia.

sung-hoon

15873189_1357343187619274_1251578781098459455_n

Wajar kan kalau dia didapuk jadi model underwear

AAAAAKKKKKKK!! Ada ya cowok seganteng dia yang rasanya pengen panjat dada bidangnya dan didekap. Duh, Mas! Manly abis. Menurut saya, dia tipikal cowok Korea yang nggak terlalu feminin. Masalahnya banyak cowok Korea yang menurut saya cantik, kurang cowok. Kalau Sung Hoon cowok banget!

Ya gimana nggak, dulu dia atlet renang. Berhenti karena cedera, lalu jadi aktor. Udah jadi aktor, dia bisa nyanyi, seorang DJ pula. Di film My Secret Romance, badan kecenya ini tentunya harus dieksploitasi, dong. Wakakaka! Jadi ada adegan dia berenang, pake tuxedo, baju kasual, jaket kulit. Sung Hoon mau dipakein baju jelek juga jadi bagus di dia. Duh Mas, makan apa sih kamu jadi bisa ganteng gini?

Sementara Ji Eun kayak boneka, polos, cantik, dan matanya bulat. Mau pake apa juga cantik dengan rambut yang walau ada angin kencang kok jatuhnya tetap bagus? WHY?

hqdefault

Jutek aja kok ya cantik, Mbak?

Untuk menambah kerecehan drama ini, semua adegan khas bikin baper kesukaan cewek-cewek tentu saja ada:

  1. Adegan one night stand ada di episode pertama. Bayangin, adegan hot di awal cerita! UWOOOWWW! *mata nggak kedip*

c9stclsuiaarkmo

 

2. Hampir di semua episode ada kissingnya. Kissingnya tuh bisa banget lah ada di kolam renang, pas masak di dapur, pas lagi duduk di sofa, dll. Pokoknya puaslah.

 

x240-s84

 

3. Cowok ganteng bawa anak kecil main di taman dan ajak date ceweknya sambil ngangon anak kecil. Coba bayangkan, udahlah ganteng, sayang anak kecil, jiwa kebapakan mencuat ke mana-mana. Sebagai wanita, hormonku langsung meluap-luap.

a32b4d0f-9691-4cb9-b0db-432a06e75889

Udahlah ganteng, sayang anak kecil. Kelar!

4. Konfliknya pun nggak panjang, paling sekitar 2-3 episode aja. Itupun nggak ribet, nggak menguras sedih berlebihan, malah menunjukkan sosok si cowok yang makin sadar cintanya udah mentok.

Jadinya sepanjang drama ini lebih dihabiskan untuk drooling kegantengan Sung Hoon, baper lihat Sung Hoon dan Ji Eun yang super cute banget dari berantem sampai pacarannya, dan selalu diakhiri dengan hati yang hangat karena happy banget nontonnya.

Jadi ternyata yang mengisi kekosongan hati setelah ditinggalkan Goblin malahan drama receh nggak penting tapi justru bikin senang dan hangat. Coba ditonton deh, nanti habis itu kasih tahu saya ya adegan yang paling kamu suka yang mana?

Ciao, mau mengagumi Sung Hoon dulu. :))))

 

*all pics are taken from Google Images

 

Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? ๐Ÿ™‚

 

Semacam Baru Dicharge Lagi

IMG_20170528_220840_434

Kemarin untuk pertama kalinya saya ke gereja setelah berbulan-bulan nggak. Sejak Kaleb umur 1 tahun, saya merasa dia udah siap untuk sekolah minggu. Ya, masih main-main dan belum bisa fokus, sih. Tapi di gereja ada kelas bayi untuk umur 0-24 bulan. Kegiatannya simple banget; nyanyi lagu-lagu sederhana, dengerin cerita Alkitab singkat paling lama 10 menit, dan udah main-main aja, maksimal 30 menit. Cukup banget buat Kaleb bersosialisasi dan dia memang senang. Ketika umur 2 tahun, Kaleb naik kelas toddler. Di sini kegiatannya lebih panjang, sekitar 1 jam; nyanyiannya lebih panjang dan banyak, khotbahnya lebih panjang, dan kegiatannya lebih banyak.

Saya selalu nemenin Kaleb masuk ke sekolah minggu karena dia belum bisa kan ditinggalin sendiri. Guru sekolah minggunya maksimal 3-4 orang. Sementara anak-anaknya bisa 30an orang. Banyak bener, kan. Makanya pendamping diharapkan ikut kalau yang masih kecil banget. Kalau yang udah 3-4 tahun bisa dilepas.

Sebenarnya bisa aja saya minta bantuan Mbak untuk ikut ke sekolah minggu jagain Kaleb, sementara saya beribadah di ibadah dewasa. Tapi, kok ya rasanya tanggung jawab bawa anak ke gereja itu tanggung jawab saya. Plus, saya juga mau tahu apa yang diajarkan di sekolah minggu, sehingga saya bisa ulang lagi di rumah. Makanya, sudah berbulan-bulan saya nggak ke ibadah dewasa. Demi anak! XD

Sampai akhirnya sebulan ini saya kok ngerasa kosong banget, ya. Kayak jiwanya butuh direcharge lagi karena udah low batt. Beberapa minggu sebelumnya sempat minta suami gantian yang jagain Kaleb. Awalnya suami yang ragu karena ya dia bakal jadi cowok sendiri yang jagain anak. Biasanya kan ibuk-ibuk atau susternya, ya. Berasa aneh kali, ya. Ya udah, balik lagi saya yang jagain Kaleb. Minggu lalu bilang lagi ke suami, gantian dong jaganya. Suami udah oke. Eh, Kalebnya yang nangis minta ditemenin Mami. Oke deh, batal lagi.

Kemarin saya lagi-lagi belum menyerah minta gantian jagain Kaleb. Suami langsung oke karena udah beberapa kali ikut saya jagain Kaleb dan nggak sulit lah, cuma perhatiin Kaleb aja, atau ambilin minum dan cemilan kalau dia mau. Kemudian, saya pamitan ke Kaleb. Eh, Kaleb langsung mau. Malah langsung paham kalau nanti dia sama Papa-nya dan cium saya. YEAY!

Dan ternyataaa rasanya luar biasa, lho! I never thought that I needed church time that much. Kayak kembang yang layu dikasih pupuk dan disiram. Segar banget. Sebelum ke gereja itu rasanya kayak badan pegal, nggak enak badan, lemas. Like I had no energy to do something. Setelah gereja langsung kayak sehat banget, hati plong, dan semangat lagi. Gila ya efeknya! ๐Ÿ˜€

Jadi sekarang udah janjian sama suami kalau tiap minggu akan gantian jagain Kaleb di sekolah minggu. Semoga Kaleb konsisten mau dijagain gantian, ya. Kalau nggak entar mamak kayak bunga layu lagi, deh. Hehehe.

Ada yang pernah merasa begini?

Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Senja di Monas

Hari libur kemarin kembali kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Monas lagi? IYA. Soalnya kemarin cuma baru sampai halaman Monas aja. Salahnya adalah kami datang jam 11 siang pas matahari lagi terik-teriknya. Nggak sanggup banget harus ke Monas jalan kaki di bawah terik matahari. Kayak kebakar, men! Padahal sebenarnya ada kereta yang bisa nganterin sampai ke tugu Monas. Tapi karena panas banget, semua orang mau naik kereta itu jadi antriannya panjang. Oke, next time aja.

Nah, kemarin kami berangkat sore. Sampai Monas jam 17.30. Udah adem, orang juga ternyata kalau sore banyak. Antriannya naik kereta juga nggak panjang karena banyak orang yang mau jalan kaki. Kan adem, ya.

Kami naik kereta ke tugu Monas, haltenya cuma 2, di pintu masuk IRTI dan di tugu Monas. Udah itu aja rutenya. Kaleb sih senang banget naik kereta walau cuma singkat. Sampai di tugu Monas, kami turun ke bawah tempat untuk pembelian tiket. Jadi tiketnya bisa milih mau sampai ke cawan atau ke puncak Monas. Bisa juga kalau mau dua-duanya pake tiket terusan. Masalahnya, tugu Monas itu ternyata nggak dibuka setiap saat. Pagi-siang dan sore-malam. Kalau malam jam bukanya pukup 19.00-22.00. Pantes pas kami ngantri kok ya nggak jalan-jalan antriannya. Ya karena loketnya belum buka. Itu masih jam 18.00. Oh ya, kalau malam pengunjung dibatasi sampai 700 orang saja. Siang kalau nggak salah 1000 orang. Jadi kalau kapasitasnya udah penuh, nggak akan dijual lagi tiketnya.

IMG_20170511_173157

Ngantri nungu masuk ke kereta wisata. Antriannya nggak terlalu panjang kalau sore.

Nah, karena nunggunya masih 1 jam lagi kami pikir kelamaan. Lain kali aja, deh. Kali ini jalan-jalan aja sekitar Monas. Ternyata di sekitarnya ada lapangan voli dan futsal (hm, atau basket juga kali, ya). Bisa dipakai gratis oleh siapapun. Lapangannya bagus dan memadai. Jadi banyak yang olahraga di sekitar sana. Kalau pun nggak dapat lapangan ya mereka main aja di halaman Monas, kayak main bulu tangkis, bola, dsb. Seru banget, lho. Kaleb bisa bebas puas lari-larian, main bola juga. Oh ya, Monas juga bersih banget dan saat itu orang taat banget sama peraturan. Nggak kelihatan yang injak-injak rumput atau buang sampah sembarang. Keren lah!

IMG_20170511_175429

Terima kasih Mas yang udah bantuin foto. Kami jadi punya foto bertiga.ย 

IMG_20170511_175727

Cantik ya Monas pas malam

Ada beberapa hal sih yang membekas kemarin. Kami kan kalau ke tempat begini nggak pernah foto bertiga, ya. Nggak punya tongsis juga, sis! Pengen minta bantuan orang buat fotoin, tapi saya selalu takut ntar malah HP saya dibawa kabur. Oke, saya mulai jadi orang yang parnoan, sih. Tapi kemudian suami saya minta orang yang lewat buat fotoin. Mana 2 orang itu anak muda cowok. Duh, saya mulai mikir aneh-aneh, deh. Tapi 2 orang ini malah baik banget. Dia fotoin kami, malah ngarahin gaya kami, dan memastikan fotonya pas. Ajak ngobrol Kaleb pula. ย Duh, kok ya baik banget, ya.

Kejadian kedua, adalah pas lagi nonton orang main futsal. Di pinggir-pinggirnya juga banyak orang yang main bola. Orangnya udah pada gede-gede, nggak ada yang anak kecil. Kaleb nonton aja, walau dia kepengen tapi ya nggak berani ambil bola orang lain.

Lalu ada cowok masih muda dan teman-temannya yang lagi main bola tiba-tiba pinjemin bolanya ke Kaleb. Bukan cuma pinjemin, dia ajak Kaleb main bola. Bahkan ketika orang-orang yang main bola selesai dan lapangannya kosong, dia ajak Kaleb main ke lapangan ajarin jadi kiper dan menendang bola. Kaleb bahagia banget!

Cuma kejadian-kejadian kecil, ya. Tapi di saat situasi kayak gini, di mana sebenarnya saya mulai apatis ada orang baik. Bawaannya parno aja sama orang. Perasaannya nggak ada deh orang yang benar-benar tulus. Tapi ternyata masih ada. Masih banyak orang baik, masih banyak yang tulus. Saat itu juga saya menitikkan air mata. Saya mikir, Indonesia tuh nggak sekecil orang-orang demo kasar di jalanan. Indonesia tuh besar, yang baik tuh banyak. Cuma yang banyak itu nggak banyak disorot. Di saat keadaan kayak gini saya jadi merasa bisa menghargai kebaikan orang sekecil apapun. Ketika mereka baik tanpa nanya elo agamanya apa, sukunya apa, pilihannya siapa.

Lalu saya melihat ke sekeliling, Monas jadi bagus dan menyenangkan kayak gini. Benar-benar tempat yang enak banget lah buat kumpul, main, olahraga, jalan-jalan. Teratur dan bersih. Yang bikin Ahok. Yang bikin lagi di penjara. Penjara yang mungkin sempit, sementara kami di luar menikmati hasil kerjanya. Lagi-lagi saya nangis. Di Monas. Mamak emang jadi baperan banget sekarang. Sedihnya ampun-ampunan. Ini kayak ditinggalin mantan, tapi peninggalannya ada di mana-mana, tiap hari dirasain. Gimana bisa lupain?

Apalagi habis itu kami nyeberang ke Balai Kota. Banyak orang berkumpul, nyalain lilin sambil nyanyi lagu-lagu kebangsaan, berusaha kumpulin KTP untuk bisa menjamin penangguhan penahanan Ahok. Banyak yang nangis di sana, pelukan, sedih bersama.

Kemudian saya sadar. Yang jahat dan pengen hancurin Indonesia itu cuma segelintir orang. Tapi segelintir orang itu yang diekspos terus-terusan dan akhirnya meluas. Padahal banyak yang masih sayang sama Indonesia. Masih banyak yang berjuang untuk persatuan dan mereka mulai bicara dan bangkit. Banyak yang akhirnya tergerak untuk bergerak, karena Ahok telah memulainya. Kita nggak pengen perjuangannya, sampai harus masuk ke penjara, sia-sia begitu saja. Karena Indonesia itu penuh harapan, kok.

Semoga kita tumbuh menjadi bangsa yang penuh cinta, bukan apatis, apalagi radikal. ๐Ÿ™‚

 

Mengejar Ahok

Udah tahulah ya, kalau saya suka, ngefans, mengidolakan Ahok. Levelnya udah sampai kebawa mimpi lah. Hahaha. Nah, ngefans bukan cuma baru-baru aja, tapi ya dari awal lihat sepak terjangnya yang luar biasa, bikin saya ngefans.

Dulu, saya pernah ketamu Ahok (ceritanya di sini) waktu dia masih jadi wakil gubernur. Crowdnya biasa aja, lowong, nggak sumpek, bisa lihat dari dekat, TAPI KOK NGGAK FOTO BARENG? *toyor kepala sendiri*. Sungguh menyesal. Waktu itu lebih ke masih terpana dan bengong lihatin beliau, trus dengan santai ngobrol-ngobrol. Tapi tetap, kan nggak ada fotonya! ๐Ÿ˜ฅ

Makin ke sini makin ngefans dan makin pengen foto bareng. Tapi ya lagi-lagi belum kesampaian. Sampai waktu itu Mama saya ajak ke tempat kampanye Ahok karena kabarnya Ahok ada di sana. Okelah, saya ikut. Demi foto bareng. Sampai jam 11 malam Ahok nggak datang dan batal datang. TIDAAAAAAK! *nangis di tengah RPTRA* Belum jodoh.

Nah, Senin kemarin, habis jalan-jalan naik TJ, saya lalu kepikiran eh kenapa nggak nemuin Ahok ke Balai Kota aja. Kan doi suka menerima pengaduan langsung, harusnya bisa foto bareng juga kan, ya. #ambisius Langsung kasih tahu teman-teman senasib fans Ahok hahaha, geng Merlyns tercinta. Nggak pake babibu langsung yuk cuss berangkat!

Yenny kasih tahu kalau di grup-grup lainnya dia ada yang mau datang rame-rame hari Rabu, 26 April 2017 sambil kirim bunga. Setelah kami pikir-pikir, ih kalau rame-rame nanti nggak kebagian foto bareng Ahok, dong. NO WAY JOSE!

Pilihannya hari Selasa atau Kamis. Selasa, kami pikir Ahok bakal sidang jadi kayaknya nggak di Balai Kota. Jadi terpilihlah hari Kamis. Yang ternyata, lumayan salah karena akibat kehebohan ribuan orang yang datang hari Rabu, hari Kamisnya animo masyarakat jadi heboh dan pada banyak yang berdatangan. Selasa ternyata paginya Ahok ke Balai Kota dan orang nggak banyak yang datang, bisa leluasa foto sama beliau.

Oke, lanjut ke ceritanya lagi. Janjian jam 5 pagi untuk berangkat bareng (kerja aja saya nggak bangun jam 5 pagi, sih. Ini cuma mau ketemu Ahok bangun jam 04.30 pagi. HAHAHA!) Belum makan, cuma minum segelas air putih, tapi super excited!

Sampai Balai Kota jam 6 pagi. Masih lowong, walau udah ada yang datang. Bahkan, ada yang niat datang dari jam 4 pagi. TOTALITAS! :)))))

IMG_20170427_062225

Masih pagi, masih kece, orang masih belum banyak yang datang.ย 

IMG_20170427_062313

Bunga buat Pak Ahok dan Pak Djarot. Niatnya mau dikasih langsung, tapi nggak boleh dibawa ke dalam. Jadi ditaruh aja di teras Balai Kota

IMG-20170427-WA0004

Baru pertama kali ke Balai Kota dan ternyata bagus. Jadi norak foto-foto, deh. :)))

IMG_20170427_063246.jpg

Antrian ini masih belum panjang (belum panjang aja segini)

Di depan saya, ada Bapak dengan dua anaknya yang masih ABG ikut antri. Dia cerita udah 3 hari ke Balai Kota tapi belum kesampaian foto sama Ahok, cuma foto dari jauh aja. Bapak ini tinggal di Belanda udah 30 tahun. Datang ke Jakarta cuma demi nyoblos. Bahkan anaknya nggak bisa Bahasa Indonesia lagi, diajak terus ke Balai Kota buat ketemu Ahok. Dia tiap hari datang dengan impian foto sama Ahok karena hari Sabtu dia harus udah balik ke Belanda. Sampai tukeran no HP loh kita berdua. Hahaha. Bapak baik ini juga yang nolongin saya and the gank waktu didorong sesak napas di tengah kerumunan orang.

IMG-20170427-WA0034

Dengan Bapak dari Belanda yang baik hati

Jadi awalnya antrian tuh rapi banget. Memanjang dan orang-orang teratur. Sampai akhirnya ada petugas yang kasih pengumuman bilang kalau antriannya lurus panjang, nanti mobil nggak bisa lewat. Jadi jangan lurus panjang tapi belok ke kiri, biar mobil bisa lewat. Yang ada, orang-orang nggak paham dan menyerusuk ke depan sampai akhirnya nggak ada antrian lagi. Diaturin lagi lah ama si petugas. Awalnya mau, tapi begitu Ahok datang, sekitar jam 7 pagi, bubar jalan semua. Desak-desakan, dorong-dorongan, sampai sesak napas, kaki keinjak. Barbar banget lah orang-orang ini padahal petugas bilang semua pasti dapat bagian jadi santai aja. Tapi semua ketakutan nggak bisa foto sama Ahok. Kasihan sebelah saya ada nenek tua yang kedempet. Akhirnya saya teriak-teriak, “INI ADA IBU-IBU KASIHAN. JANGAN DORONG-DORONG!” Bapak depan saya akhirnya berusaha menghalau orang dan berusaha agar nenek ini masuk duluan. Saya dan teman-teman harus sambil gandengan supaya nggak kepisah karena beneran parah banget dorong-dorongannya.

IMG_20170427_074304.jpg

Ada Pak AHok. OMG OMG! *brb ambil oksigen sesak napas*

IMG_20170427_074319

Maap ya kami norak. Ada Pak Ahok di belakang jadi mau selfie-an. *trus takut dibentak petugas*

Karena animo masyarakat sangat besar, sekarang foto dengan Ahok nggak bisa sendiri-sendiri, tapi harus per-20 orang. Ya iyalah, kasihan kan ya Bapak juga mau kerja buat warganya, bukan cuma foto-foto doang. Nah, petugas yang di dalam bagus banget tegas dan galaknya. Hahaha. Ada ibu-ibu depan saya, berdua doang, yang keukeuh maunya foto personal sama Ahok. Langsung dimarahin lho, “Kalau ibu nggak mau ikut aturan, silahkan keluar antri lagi saja. Saya antarkan!” Ibu itu langsung jiper dong, takut nggak bisa foto bareng. Hahaha. Emang paling bener petugasnya harus galak biar antriannya teratur dan rapi. Nah, yang di luar itu harusnya segalak yang di dalam, sih.

Di dalam sudah disediakan bangku-bangku. Per batch fotonya. Pake 1 kamera aja, kamera punya warga sih. Warga yang lain disuruh sharing aja dikirim fotonya. Sebelum foto langsung ingetin ke teman dulu, “Eh, lipstick masih kelihatan kan, ya? Jangan sampe kelihatan pucat.” :))))) #perempuangbanget. Nah, kebetulan habis batch sebelumnya, bangku-bangku itu masih kosong. Orang-orang di belakang saya kayaknya belum nyadar itu bangku udah boleh didudukin, jadi saya dan teman saya langsung duduk. Bangku untuk Ahok lebih besar beda sendiri, jadi bisa diperkirakan Ahok duduk di mana.

OMG! SAYA DUDUK SEBELAH AHOK! *nangis pelangi*

IMG-20170427-WA0012

Ketahuan ya mupeng banget, duduknya mepet si Bapak. Gimana Bapak, saya mau selfie, Pak! *diusir* :))))

Gila ya, Ahok tepat sebelah saya jadi intuisi banget lah saya langsung mepet-mepet ke dia. MAAP MAMAK GENIT! HABIS NGEFANS SIH! :)))))))) Belum bisa foto wefie berdua jadi bolehlah ya foto mepet biar nanti foto grupnya bisa dicrop jadinya foto saya sama Ahok doang! HAHAHA!

IMG-20170427-WA0012_1493255379916

Di-CROP! HAHAHAHA! Biar dunia bisa lihat lebih jelas Naomi dan idolanya. :)))))

Fotonya 2 kali, lalu habis itu Ahok berdiri ke pintu dan salamin warganya satu per satu. Bok, satu per satu! Terharu nggak sih! :’) Udah nggak bisa ngobrol lagi karena terlalu banyak orang dan Ahok nggak punya banyak waktu. Tapi pas saya salam dia, saya langsung bilang, “Pak, habis ini jadi Presiden aja, ya.” Ahok kelihatan terkejut tapi habis itu ketawa-ketawa. :’))))

Selesai foto, saya dan teman-teman langsung kayak mau nangis bahagia. YEAY, KITA FOTO SAMA AHOK, DONG! #makinbaper #makinsusahmoveon #makinjatuhcinta

Absurd, berasa groupies, alay banget. Tapi sungguh, I am honored to be served by Ahok. Jadi sebelum Bapak turun, mau foto bareng. Sebenarnya mau ngucapin banyak hal, tapi ya nggak ada kesempatan. Jadi kapan nih bisa ngopi-ngopi sama Ahok sambil ngomongin negara? #tsaaaah

Kapan-kapan kita harus foto selfie bareng ya, Pak. Sama masih pengen foto sama Pak Djarot (yang entah tadi mungkin belum datang karena nggak kelihatan ada di sana) dan foto sama Ibu Vero. :’)

Bahagia minta ampun. Banget banget! :’)

Jadi gimana bisa move on nih, Pak Ahok?

 

 

#KalebTrip: Naik TransJakarta dan City Tour

Seperti biasa kalau long weekend biasanya berusaha cari kegiatan outdoor. Kalau dilihat dari tipikal Kaleb yang nggak bisa diam dan nggak betah di rumah, dia emang bukan tipe yang suka ke mall kayak mamaknya, sih. Dia suka males kalau saya udah mulai sibuk di department store dan biasanya ulahnya adalah lari-lari ke lorong-lorong baju. Ehm, bikin Bapaknya yang jagain jadi gempor. :))) Solusinya, Kaleb diajak main ke playgorund. Tapi playground mall kan mahal ya, bok. Setidaknya Rp 100.000 untuk sejam. Bayangkan kalau setiap minggu ke playground, yah Mamak tekor lah (tekor nggak bisa belanja buat diri sendiri hihihihi).

Jadi Senin kemarin, paginya kami ajak Kaleb berenang. Karena jarang berenang, anaknya jadi drama banget pas masuk air. Udah pake ban, tetap loh nangis-nangis teriak takut. Oke, Mamak nggak nyerah dong, ya. Menurut saya renang itu salah satu basic lesson dalam hidup. Sebaiknya semua orang bisa berenang karena bisa digunakan dalam keadaan mendesak. Plus, snorkeling, diving, dan berenang di pantai itu seru banget, lho!

Akhirnya setelah lepas ban, kami pikir ribet juga pake ban, trus membiarkan Kaleb menapak dasar kolam renang dan menyadari bahwa dia baik-baik aja walau dilepas, anaknya langsung heboh dan bahagia dong. Berakhir, ngamuk pas disuruh udahan. DERAMAH! :))))

Setelah berenang, dilanjutkan dengan tujuan berikutnya: Monas. Mau ajak Kaleb lebih kenal Jakarta. Monas adalah ikon Jakarta dan wajib banget dikunjungi. Dulu waktu kecil, saya sering banget diajak piknik ke Monas dan rasanya bahagia banget. So, we’ll pass it on to Kaleb.

Karena udah menjelang jam 12 siang dan kalau langsung ke Monas rasanya kayak lagi bakar diri saking panasnya. Kami pun mampir ke Plaza Semanggi. Banyak mall lain sih, tapi Plangi ini mengingatkan pada jaman kuliah dulu. Sayangnya, banyak banget yang tutup. Ini mall macam nggak ada kehidupan. Sepi banget lah. Tapi justru di situ seninya, ada tempat playground gratis yang banyak colokan dan tempat duduk jadi Kaleb main, sendirian nggak ada anak lain, orang tua bisa nunggu sambil ngecharge HP. Ih senang! Mana lumayan pula playgroundnya ada perosotan, jungkat jungkit, rumah-rumahan, dan terowongan.

Pas sekitar jam 2 siang dan mulai mati gaya, cek keluar kok matahari udah nggak terik lagi. Kayaknya bisa nih ke Monas sekarang. Dipikir-pikir lagi, ngapain bawa mobil, ya. Naik TransJakarta (TJ) aja pasti lebih seru. True Jakartans must at least once riding a TJ. Plus Kaleb itu suka banget nonton segala jenis kendaraan besar kayak truk, bis, kereta, dsb di Youtube, jadi pas banget lah. Disambut semangat oleh Bapake. Sebelum berangkat mampir dulu beli roti-rotian biar nggak lapar di Monas nanti.

Terakhir naik TJ itu mungkin 5 tahun yang lalu. Masih ingat dulu rasanya mau mampus naik TJ, terutama kalau di Halte Harmoni, karena desak-desakannya bikin mau nangis, bisnya lama datang sampai bisa bikin rambut beruban, dan haltenya sumpek. Oh ya, dulu sih karcis dibeli cash, pakai kartu untuk masuk. Tapi di beberapa koridor TJ, malah cuma pake karcis doang dan sampah-sampah karcisnya ngotorin banget. Sejak itu malas sih naik TJ lagi.

Kemarin kami naik dari Halte Benhil. Pas mau masuk lupa dong kalau sekarang udah cashless, masuk harus pake kartu. Dikirain harus beli kartu lagi, kan. Saya punya e-money bekas dulu masuk ke Ragunan, tapi dibawa. DOH! Eh, ternyata pilihannya bukan cuma e-money aja, tapi bisa pake Flazz. Kebetulan banget lah! Akhirnya saya top up Rp 20.000. Kaleb dihitung gratis.

Di haltenya sekarang udah ada layar petunjuk ketibaan bis. Dulu kan di Benhil cuma rute Blok M-Kota, lah sekarang ternyata rutenya buanyak banget. Berasa jadi newbie lagi nih. Harus lihat rute bis, nomor bis, dan jadwal tibanya. Dan bener, bisnya datang cepat banget. Saya nggak sampai 5 menit nunggunya. Keren banget ini sekarang jadinya.

Kaleb yang pertama kali naik TJ langsung tepuk tangan riang di dalam bis. Kalau kata Kaleb, lebih enak naik bis daripada naik mobil. Hihihi.

18058083_10154780275832950_1743547763013420441_n

Anaknya heboh tepuk tangan pas di dalam TJ. Seru ya, Nak! ๐Ÿ˜€

Kami turun di halte Monas. Oh ya, di halte TJ sekarang banyak tanaman gantung jadi segar banget lihatnya. Di seberang halte Monas ada Museum Nasional. Di depannya ada replika badan pesawat. Wuih, Kaleb excited banget. Akhirnya kami pikir, iya ya kenapa nggak ajak Kaleb ke museum aja sekalian. Untuk nyeberang ada lampu merah yang kalau kita pencet tombolnya jadi lampu hijau untuk pejalan kaki dan lampu merah untuk pengendara. Kaleb senang banget karena saya biarkan dia yang pencet tombolnya waktu kami mau nyeberang. Sayangnya, orang Jakarta belum sadar pentingnya lampu merah itu jadi mereka tetap jalan, tapi kalau kita maksain mau nyeberang mereka akhirnya pada berhenti, sih. Jadi jangan tunggu mobilnya lewat mulu, ya. Mereka nggak bakal berhenti kalau kita tungguin. :))))

Museum Nasional ternyata lagi tutup untuk renovasi. Yah, sayang sekali. Tapi akan jadi daftar PR yang akan dikunjungi nanti, deh. Kami nyeberang balik ke sisi satunya lagi untuk ke Monas. Sebenarnya jalan dari halte ke gerbang Monas itu lumayan jauh. Untungnya trotoar besar dan ada banyak bangku, serta tanamannya rindang jadi menyenangkan lah untuk bisa jalan kaki. Kalau capek tinggal duduk aja di bangku.

Sayang, ternyata Monas tiap Senin itu tutup. Zonk! Hahahaha, ketahuan nggak googling, deh. Akhirnya kami cuma foto-foto depan Monas aja, yang penting Monasnya kelihatan. :))) Itu aja udah seru banget. Berarti PR selanjutnya harus ke Monas pas buka. Kebetulan di depan Monas ada mobil satpol PP lagi parkir. Si bocah cilik langsung minta naik. Dikira mobil polisi. Ya tentu saja dinaikin, dong. Dia bahagia banget lah pokoknya.

17991891_10154780277207950_1291032263752791084_n18119093_10154780276407950_6106572526213159577_n18119115_10154780276782950_7416360777892378337_n18119234_10154780277047950_8933779475659855022_n

18156922_10154780278097950_3952176269567074633_n

Walau kelihatannya menyenangkan, tapi diangkut satpol PP itu nggak enak loh. :))))

Dari gerbang Monas, kelihatan banyak bis City Tour. Eh, kenapa nggak jalan-jalan pake City Tour aja. Kan lumayan ya gratis dan bisnya bertingkat. Pasti seru. Bis City Tour ini hanya berhenti di halte, lho. Kalau di halte Monas lumayan antri. Mungkin karena tempat wisata. Tapi kalau bukan halte tempat wisata nggak antri biasanya.

18157201_10154780276202950_8141023441479300361_n

Lagi antri City Tour dulu. Bisnya warna warni.

Bis City Tour ini ternyata banyak juga rutenya, kayak ke Masjid Istiqlal, Kota Tua, Kalijodo, dll. Saya pikir cuma satu rute aja. Karena waktu itu udah cukup sore, jadi ada beberapa jurusan yang jauh, kayak Kota Tua yang udah jadi bis terakhir. Setelah dipikir-pikir, eh iya belum ajak Kaleb ke Kota Tua, nih. Beklah, next time, ya.

Kemarin sih kami naik bis yang available aja. Kebetulan jurusannya ke Masjid Istiqlal. Kami dapat duduk di bis atas, senangnya! Di dalam bis dilarang makan dan minum, serta nggak ada yang boleh berdiri. Jadi jangan khawatir, semua pasti dapat duduk. Petugasnya cukup helpful, ramah, tapi tegas. Good job!

Dari atas City Tour ini bisa kelihatan pembangunan MRT yang ternyata udah hampir jadi, ya. Keren banget lah. Trus baru tahu kalau Sungai Ciliwung tuh udah bersih banget. Saking bersihnya, dasarnya sampai kelihatan. Saya dan Bapake langsung terkagum-kagum karena dulu ya nggak begini. Bener-bener luar biasa lah Pak Jokowi, Pak Ahok, dan Pak Djarot ini. Hasil kerjanya kelihatan banget.

Karena ini bis terakhir, berhentinya di Masjid Istiqlal. Dikira bisa ikut balik sampai Monas lagi, tapi ternyata cuma boleh satu putaran aja. Wakakak, nggak boleh maruk, yes! Sebenarnya dari Masjid Istiqlal bisa naik City Tour lagi ke arah Monas, tapi setelah dipikir-pikir udahlah ya, sekalian ajak naik TJ karena di dekat situ ada haltenya biar langsung pulang juga.

Lagi-lagi karena udah lama nggak naik TJ jadi saya norak. Lupa kalau rute TJ udah banyak banget. Jadi saya pikir dari halte Masjid Istiqlal harus ke halte Harmoni dulu, baru bisa ke halte Monas. Tapi ternyata ada jurusan yang langsung ke halte Monas sekarang. Wah, jadi sekarang nggak perlu numpuk lagi di halte Harmoni, ya. Nah, halte Monas ini beragam banget juga jurusannya. Tinggal berdiri di pintu yang tepat karena tiap jurusan bisa beda-beda pintunya. Gampang banget kok karena papan petunjuknya ada banyak.

Lagi-lagi nunggu sampai bis datang nggak lama. Mana bisnya kosong. Saya langsung duduk di bagian depan, suami pun begitu. Eh, ternyata sekarang gerbong cewek dan cowok dipisah, ya. Jadi suami disuruh pindah ke gerbong belakang. Hahahaha.

Dengan sampainya kami di halte Benhil maka berakhir pula petualangan seru hari ini. Sebelum keluar halte harus tap lagi kartunya. Kata Pak Ahok, harus tap kartu pada saat pergi dan pulang karena biar bisa kelihat orang-orang tujuannya dari mana ke mana, sih? Biar kalau belum ada rutenya, akan dibikinin rutenya. Kayak misalnya kemarin saya kaget karena TJ ada rute ke Poris, Tangerang. Untuk seluruh petualangan seru ini cuma ngabisin Rp 14.000 saja. Cuma bisa bilang keren, keren, keren!

Kesimpulannya, Jakarta sekarang udah keren banget. Transportasinya memadai untuk membawa anak umur 2 tahun jalan-jalan. Malahan saya dan Bapake yang super excited mau keliling Jakarta lagi. PR-nya masih banyak karena kemarin intinya cuma naik TJ dan City Tour, tapi belum masuk ke tempat wisata dan museum. Jadi bakal banyak tempat yang akan dikunjungi, nih. Karena ternyata di Jakarta banyak tempat menarik dan nggak bisa dikunjungi dalam waktu sehari saja (apalagi setengah hari).

It was a very fun day. Anak bahagia, Mamak dan Bapake juga merasa seru. Sampai #KalebTrip berikutnya, ya. ๐Ÿ˜€

 

 

Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

19 April 2017.

It was the most emotional election for me. I was (I am still) broken heart.

I will put it here what I’ve been feeling. You might not understand, especially if you support Anies-Sandi. But let me tell you from my side.

Saya adalah salah satu orang yang mendukung Anies Baswedan ketika ia menjadi juru bicara kampanye Jokowi saat mencalonkan diri jadi presiden. Slogan “turun tangan”nya bikin saya bergerak untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Perubahan yang lebih baik katanya. Saya sering menghadiri diskusi yang ada Anies. Sungguh, saya kagum banget sama cara berpikirnya dan tutur katanya. Luar biasa. Saya bahkan sempat foto bareng dengan dia.

Ketika Jokowi mengumumkan kabinetnya dan Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya bersorak gembira karena Anies mendapatkan posisi yang tepat. Pendidikan adalah dasar negara, harus dimulai dari orang yang paham benar soal pendidikan, dan orang itu Anies Baswedan.

Betapa terkejutnya saya karena sebelum 2 tahun kinerjanya, Jokowi memberhentikan Anies sebagai Mendikbud; dicukupkan kalau kata Anies. Saya pikir waktu itu, ini Jokowi kenapa, sih? Anies kan keren, hebat, paling cocok. Nggak pernah ada yang tahu alasannya, selain mengira-ngira. Pokoknya menurut Jokowi, kinerja Anies buruk.

Ketika Anies mencalonkan diri menjagi cagub Jakarta, saya mulai bingung. Saya suka Anies, tapi merasa cagub bukanlah posisi yang pas. Tapi toh saya berpikir, dia orang baik. Siapapun pemenang gubernur nanti, Jakarta akan mendapatkan orang yang baik.

And I was so wrong. He failed me.

Pilkada ini ribut dengan isu agama dan ras. Betapa pusingnya saya setiap berangkat dan pulang kantor, saya harus lihat spanduk besar bertuliskan, “Ganyang Cina, Bunuh kafir!”, “FPI mendukung Anies-Sandi”, dan banyak spanduk provokasi lainnya. Belum sampai di situ saja, Anies mendobrak dengan datang ke markas FPI, bertemu Rizieq Shihab dan memuji-muji (oke, sebenarnya menjilat) Rizieq. Padahal kita semua tahu Rizieq dan FPI adalah salah satu kelompok radikal yang mampu memecah belah bangsa ini. Anies merangkulnya.

Saya sedih, kecewa, dan merasa tertipu. Apakah ini Anies yang sama dengan orang yang saya kagumi dulu?

Everything didn’t get better from there. Anies cuma diam ketika isu agama menguntungkannya. Dia tidak meredam, mengecam, orang-orang yang mengintimidasi pihak yang lain. Spanduk-spanduk intimidasi makin banyak, masjid-masjid selalu khotbah mengenai harus memilih pemimpin muslim, menolak menyolatkan jenazah yang memilih Ahok, mengatai orang-orang kafir, dan selalu bertanya, “Apa agamamu?”. Anies diam. Dia diuntungkan.

Bukan cuma itu aja, Anies mulai tidak konsisten dengan ucapannya dulu. Dia mulai nyinyir kepada Ahok, dan tidak memberi solusi atas semua masalah Jakarta. Intinya semua bisa diselesaikan dengan bahasa yang santun, keberpihakan, dan OK OCE. Saya nggak paham program mereka.

Sebagai minoritas, isu agama sungguh sangat menakutkan bagi kami. Dari kecil saya terbiasa mendengar orang tua saya bercerita bahwa mereka nggak bisa naik pangkat karena agama mereka. Karena mereka bukan Islam. Mau sebagus apapun performa mereka, tapi mencapai jabatan tertinggi itu sulit. Bukan Islam katanya. Mayoritas mungkin nggak paham ini, tapi kami sungguh paham. Kami sudah terbiasa dinomor duakan karena agama kami berbeda.

Isu agama dan ras pun yang berhembus kencang saat kerusuhan 1998. Ayah saya hampir nggak bisa pulang dari kantor dan terpaksa meninggalkan mobilnya begitu saja, harus jalan dari Sudirman ke Meruya, karena mobilnya mau dibakar. Ia ditanyai apakah kamu pribumi? Agamamu apa? Ayah saya hampir meninggal cuma karena agamanya. Sedih, ya. Kami, minoritas, merasakan sakitnya seperti ini.

Tapi saya pikir Indonesia akan lebih baik. Saya orang paling skeptis sama Indonesia. Dulu saat pemilihan cagub antara Foke dan Adang Darajatun, kami sekeluarga tidak mendapatkan kartu pemilih. Dihilangkan begitu saja. Reaksi kami sekeluarga, bodo amat. Nggak berusaha protes, nggak berusaha mengurus. Karena dalam pikiran kami, siapapun yang menang Jakarta akan tetap sama, nggak berubah, nggak ngefek ke kehidupan kami. Pesimis, nggak punya harapan.

Bahkan saat Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub, saya nggak memilih mereka di putaran pertama. Bahkan reputasi mereka yang bagus aja, saya nggak yakin sama mereka. Masa sih beneran ada orang baik di negara ini? Cih, palsu! Paling supaya menang aja, tuh! I was that skeptical. Di putaran kedua akhirnya saya pilih Jokowi-Ahok bukan juga karena saya suka mereka, tapi karena saya nggak pengen lawannya menang yang entah siapa itu dan kayaknya lebih busuk dengan sederetan kasusnya.

But they proved me wrong. Jokowi dan Ahok langsung bekerja cepat, memberantas korupsi, membenarkan birokrasi, mempercantik Jakarta, menangani banjir, membangun infrastruktur. Bukan cuma dengar kata orang aja, tapi saya merasakannya. RPTRA di dekat rumah adalah tempat bermain favorit Kaleb, perpustakaannya lengkap dengan buku-buku baru yang bikin saya hobi ke sana nemenin Kaleb main, trotoar di dekat rumah diperbesar, jalanan diperluas sehingga akses ke rumah berkurang macetnya. Buat ibu-ibu kayak saya, ini penting karena berarti saya bisa lebih cepat pulang bertemu anak, kualitas hidup meningkat. Ahok membuka banyak line untuk pengaduan. Saya suka banget pake aplikasi Qlue karena saya gampang ngadunya dan mereka beneran mengerjakan, plus dikirimin bukti foto hasil kerja mereka. Ahok served me right. Saya merasa terkoneksi dengan gubernur. Kok gampang ya sekarang ngadu ini-itu? Kok saya merasa didengarkan, ya? Kok saya merasa diperhatikan, ya? Percayalah, setelah hidup individualis dan nggak merasa diperhatikan oleh pemerintah dari lahir, Ahok membuktikan hal yang berbeda.

Saya mulai sayang dengan gubernur saya. Saya merasa memiliki Jakarta. Saya mulai punya harapan untuk bangsa ini. Masih banyak ternyata orang baik yang cinta Indonesia. Masih banyak ternyata orang yang nggak haus kekayaan. Masih ada ternyata pemimpin yang cinta saya. Saya yang sebelumnya skeptis belajar untuk cinta bangsa ini dan mau berbuat sesuatu.

Tapi sungguh 19 April 2017 adalah hari paling emosional buat saya. Saya patah hati untuk Jakarta. Ternyata sebagian besar warga Jakarta lebih percaya isu agama daripada logika. Terserah kalian mau beropini apa, tapi kenyataan (dan survey publik) berkata demikian. Gubernur dipilih berdasarkan agamanya. Kelompok radikal merasa punya hak berkuasa dan mengintimidasi lagi. Kami yang minoritas, mulai dibayang-bayangi tindakan diskriminasi, disebut kafir, dan tidak sama haknya di Jakarta. Bukan Ahok yang kalah kemarin, tapi kami warga Jakarta yang kalah. Kalah oleh rasa takut. Dan jujur, saya takut.

Ketika quick count mulai menunjukkan Ahok kalah, saya sedang menyuapi Kaleb. Saya langsung peluk dia dan bilang, “Maaf Nak, kamu harus bekerja lebih keras lagi di negara ini. Karena yang pertama kali orang lihat adalah agamamu, bukan kemampuanmu.” Saya nangis karena saya nggak bisa kasih kehidupan dan kesempatan yang lebih baik untuk anak saya. Kamu akan dinilai berdasarkan agamamu. Dan itu kenyataannya.

Saya patah hati. Ternyata saya begitu cinta Indonesia sampai saya merasa begitu sakit hati. Saya kira saya akan hidup menjadi lebih baik, tapi sungguh ternyata saya salah. Koruptor, kelompok radikal masih menjadi raja di negara ini. Logika dan akal sehat masih dikesampingkan. Nggak papa, yang penting seagama dan santun. Sedih.

Bukan, saya nggak lebay. Tapi itu yang saya rasakan. Mayoritas mungkin nggak tahu rasanya karena kalian dapat priviledge di negara ini. Kami, harus sekali lagi menerima kenyataan bahwa kami warga kelas dua, tidak berhak banyak di negara ini.

Ini bukan soal kampanye 2 calon gubernur dengan program-programnya. Mungkin kalau mereka debat program, saya akan dengan senang hati menerima siapapun yang menang. Ini soal kebinekaan, kemajemukan, dan keberagaman yang diperjuangkan. Dan mungkin saat ini Jakarta, atau Indonesia, harus mundur lagi. Kami kalah oleh kebencian saudara kami sendiri.

Harapan saya saat ini, semoga Anies dan Sandi membuktikan bahwa saya salah. Bahwa mereka akan kembali menenun tenun kebangsaan, bahwa hak kami dijamin, dan bahwa apapun agama dan ras kami tidak akan diintimidasi. Kami punya hak yang sama di negara ini. Tolong, buktikan saya salah, Pak.

Kepada Pak Ahok dan Djarot, terima kasih untuk pengabdiannya, terima kasih untuk sudah melawan koruptor yang menggerogoti Jakarta, terima kasih sudah begitu sayang sama bangsa ini. Terima kasih sudah membuat saya berubah dan yakin bahwa kami punya anak bangsa yang baik. Terima kasih sudah begitu luar biasa. Tapi maaf Pak, kami tampaknya masih belum siap mempunyai gubernur sebaik Bapak. We don’t deserve you. Mungkin nanti, mungkin lain kali. It will be the hardest 6 months for me to let you go. Tapi saya berharap, Bapak tetap bekerja untuk Indonesia, tetap berjuang untuk kami karena Bapak sudah memberi harapan untuk kami semua. Jangan menyerah, Pak!

Terima kasih untuk 5 tahun terbaik dalam hidup saya tinggal di Jakarta. Tuhan berkati Pak Ahok dan Pak Djarot. Indonesia masih butuh Bapak berdua. Selamat berjuang kembali, di mana pun kalian berada. We love you, Pak! :’)

 

 

Makan-Makan Enak

Long weekend kemarin, saya nggak ke mana-mana, tapi dalam 3 hari itu mencoba 3 restoran yang berbeda. Yuk lah dibahas aja. Tapi nggak ada fotonya karena…..orangnya laperan, tiap lihat makan langsung gragas, lupa foto. XD

1. Tako Suki

Habis ibadah ย Jumat Agung dan lagi nunggu untuk perjamuan kudus yang masih 3 jam lagi, mertua ngajakin makan di Tako Suki. Tako Suki ini rebus-rebusan khas Jepang. Restorannya sendiri sudah ada sejak lama, sering banget saya lewatin, tapi nggak pernah mampir karena saya biasanya nggak suka rebus-rebusan. Dari depan nggak kelihatan besar, parkirannya pun terbatas. Jadi kalau lagi rame banget, parkirannya bisa sampai ke jalanan.

Karena keluarga suami suka banget rebus-rebusan, ya saya pasti ngikutlah. Udah siap-siap nggak bakal makan banyak karena biasanya menu rebus-rebusan itu seafood, yang mana saya nggak suka.

Begitu masuk, ternyata restorannya besar banget, areanya luas sampai ke belakang. Ada aquarium besar dengan ikan-ikan dan udang yang masih ย hidup, jadi makanannya cukup segar. Ada panggung kecil, jika mau ada perayaan atau ulang tahun, ada pojokan untuk kids corner (nggak besar, cuma ada lego-legoan, tapi bikin anak cukup betah main-main di sini), baby chair yang banyak, dan toilet yang bersih. Secara keseluruhan, cukup nyaman dan menyenangkan.

Di tiap meja ada kompor untuk panci rebusan. Pancinya terbagi dua, untuk sup biasa dan tom yum. Untuk isi rebusannya, bisa diambil dan dipilih sendiri, nanti yang merebus waitressnya. Di buku menu, selain rebusan, ada banyak banget pilihan menu lainnya, seperti nasi goreng, ikan-ikanan, mie, dsb. Dessertnya pun macam-macam, seperti es cendol, ice milk tea, es podeng, dsb. Jadi apapun seleranya, walau berbeda-beda, Tako Suki ini aman karena pilihannya banyak.

Untuk rebusan sendiri, sebagai orang yang nggak suka makan rebus-rebusan, I can say that it was very good. Rasanya segar dan kuah tom yum-nya enak banget. Berasa pedas dan asamnya. Nasi goreng HongKongnya lezat, sampai Kaleb nambah mulu. Nggak terlalu asin, tapi nggak hambar juga.

Untuk pertama kalinya, saya bilang ke suami, “Yuk, kita balik lagi ke restoran ini.” It was that good. ๐Ÿ™‚

Tako Suki

Jl. Pesanggrahan No. 78D, Puri Indah, Jakarta Barat

 

2. Happy Day Restaurant

Hari Sabtu kemarin, rencananya mau jalan-jalan ke Monas, tapi udah kesorean jadi udah tutup. HIKS! Plus, tiba-tiba hujan. Ya udah lah melipir ke restoran di dekat situ aja, pilihan jatuh ke Happy Day Restaurant. Sering banget lewat restoran ini tapi nggak pernah mampir. Padahal penasaran karena nama restorannya Happy Day, kayaknya menyenangkan #cetek. Akhirnya kesampaian deh nyobain juga.

Begitu masuk suka banget sama suasananya karena kayak lagi di pedesaan luar negeri sana. Interiornya dibuat kayak rumah kayu, pohon-pohonan, dan di atasnya kayak ada semacam kincir. Ih seru. Kaleb senang banget lihatin kincirnya. Kalau saya sih berasa pengen nyanyi The Sound of Music jadinya. Hahahaha!

Kami pesan nasi goreng buntut (suami dan Kaleb berebutan banget karena enak), cheese pizza (lagi-lagi Kaleb berebutan sama saya karena kejunya berasa banget), french fries (seporsi dapat banyak dan garing), es doger, dan es teh manis (ukuran gelas tehnya besar jadi puas).

Saya suka banget sama pilihan beragam dari menunya. Suami kebanyakan suka menu lokal, sementara saya tergila-gila pizza jadi semua terakomodir dengan damai. Suasananya juga menyenangkan, pelayannya ramah banget, dan yang paling penting nih, harganya affordable. Untuk semua makanan itu kayaknya cuma habis sekitar Rp 160.000. Dompet pun bahagia. ๐Ÿ˜€

Happy Day Restaurant

Jl. Ir. H. Juanda No 19, Gambir, Jakarta

 

3. Ton Thip

Hari Minggunya, sehabis gereja, seperti biasa dilanda kebingungan mau makan apa. Tiba-tiba ingat kalau di Lippo Mall Puri ada restoran Thai baru, namanya Ton Thip. Saya selalu suka sama masakan Thai, tapi nggak suka seafood. Banyakan resto Thai di Jakarta ya makanannya seafood. Hiks, ku sedih! Dulu pas ke Thailand, pernah coba noodle soup-nya yang rasanya endeus banget. Sayangnya, entah kenapa, menu ini jarang banget ada di resto Thai kebanyakan di Jakarta. Ada sih satu gerai makanan Thai di Urban Kitchen Senayan City yang nyediain noodle soup ini, tapi dagingnya terlalu keras jadi ya saya jarang balik ke situ lagi.

Sebelum sampai ke makanan apa saja yang saya pesan, ada satu kejadian di Ton Thip ini. Cara pemesanan di sini adalah pesan makanan dan langsung bayar makanan di kasir, lalu nunggu makanannya diantar. Pas mau bayar, kasir bilang kalau struknya nggak ada karena mesinnya rusak. Di depannya dia tertulis, “TANPA STRUK, FREE OF CHARGE.” Lalu ada nomor telepon dan email untuk feedback. Saya langsung tunjuk tulisan itu, tapi kasir langsung bilang nggak boleh, harus tetap bayar. LAH, GIMANA MBAKE? Karena saya malas ribut, saya bilang ya udah saya boleh laporin ya mbak ke nomor yang tertera. Mbaknya bilang, silahkan saja (aneh nggak, sih?). Saya tanya nama Mbak-nya, foto jumlah pembayaran saya, dan foto kertas feedback tersebut. Kemudian saya bayar dan tunggu makanannya. Sambil nunggu makanan, ya saya email pengaduan saya.

Pada saat saya lagi menikmati makanan, tiba-tiba ownernya datang menanyakan tentang keluhan saya. Saya ceritalah, ya. Dia minta maaf dan nanya seberapa total pembelian saya, dia akan kembalikan uangnya. Saya jelaskan ke dia, bukan soal harga makanannya dan saya nggak mau dikembalikan uangnya, kok. Cuma soal konsistensi dan servis aja. Harusnya kalau memang peraturan itu tidak bisa dijalankan atau pegawainya takut melakukan itu, sebaiknya ya tidak perlu ditulis. Buat apa ditulis, kalau memang tidak mampu dijalankan. Atau kalau ada kerusakan seperti itu, bisa pake bon manual saja. Beberapa kali, saya mendapati ada tulisan kalau nggak ada struk, maka gratis, tapi nggak pernah sekalipun mereka langsung legowo menjalankan aturan yang dibuat sendiri, yang ada customer tarik urat dulu untuk aturan yang mereka buat. Aneh, kan?

Anyway, manajemen cukup cepat dalam merespon keluhan saya baik secara langsung, maupun via email. So, I guess it’s a good thing. Tidak defensif, memberi penjelasan dengan baik, menawarkan penggantian, dan berjanji untuk memperbaiki hal tersebut. Buat saya cukup baik banget karena customer jadi nggak sebel. Oh ya, kemarin akhirnya mereka memberikan kami komplimen berupa 2 buah dessert. Good gesture banget, ya. ๐Ÿ™‚

Oke, kembali lagi ke soal makanannya. Kami pesan beef noodle soup, tom yum, ice thai tea, plus bonus dessert mango sticky rice, dan singkong yang di atasnya ditaburi semacam fla (nggak nemu namanya di buku menu). ALL ARE DELICIOUS! Akhirnya saya nemuin makanan Thai yang sama rasanya seperti di Thai sana. AKU BAHAGIA! :’) Beef noodle soup-nya enak banget, rasa kuahnya gurih, dagingnya tebal tapi empuk dan gampang dipotong dan dimakan, Tom Yum-nya juga berasa banget asam dan gurihnya. Ada cabe potong khas Thai juga. Untuk mango sticky rice dan singkong itu juga enak banget. Mangganya manis, ketannya empuk. Ketannya ada 2 jenis, yang manis dan rasa pandan. Enak parah! Suami sampai bilang, “Aku pasti bakal balik lagi ke sini. Ini enak banget!” Couldn’t agree more. :’) Btw, setelah email-emailan, ternyata ownernya asli orang Thai jadi mungkin makanannya jadi berasa otentik, ya.

Oh ya, restoran ini belum ada baby chair, tapi kata manajemen mereka sudah berencana akan mengadakan baby chair. Maklum ya bok, untuk anak nggak bisa diam kayak Kaleb, no baby chair is disaster lah. Lagu-lagu yang dipasang pun lagu Thai. Senang banget karena jadi menambah experience berasa Thai-nya. Yang paling penting harganya affordable banget, nggak ada yang di atas Rp 50.000. Cobain, deh. ๐Ÿ˜‰

Ton Thip

Lippo Mall Puri, Lantai Lower Ground 79, Jl. Puri Indah Boulevard Blok U No. 1, Puri Indah, Jakarta

 

Selamat mencoba! Perut dan dompetku bahagia karena 3 hari makan enak tapi harganya nggak bikin sakit hati. ๐Ÿ˜€