Perjalanan Panjang Menuju Stroller Impian

Mencari stroller itu kayak cari jodoh. Banyak macamnya, tapi yang cocok di hati cuma dikit. Begitu cocok, eh harganya nggak masuk budget. Browsing ulang lagi dari awal, deh. Zzz! *jambak rambut* Padahal ya stroller bukan hal yang utama untuk dicari, sih. Tapi karena dari awal udah yakin masalah perkostuman si baby mah tinggal tanya mama aja. Kalau soal pompa-memompa ASI pun udah tahu mau pake yang mana. Karena itu hal mendasar yang harus dipunya dan tahu mana yang cukup bagus dan nggak bagus, jadi sebenarnya hal-hal ini nggak terlalu bikin pusing.

Kalau stroller kan udah bentuknya beragam, range harganya pun bisa jauh banget dari yang paling murah sampai mahalnya bikin sesak napas. Karena faktor utama dalam membeli sesuatu adalah budget, jadi saya udah menentukan batas maksimal harganya. Lebih dari itu kayaknya sayang banget. Prinsipnya, kalau terlalu mahal dan nggak bikin anak saya jadi lebih pintar atau bisa langsung ngomong atau terbang, yuk dadah byebye! *dikata anaknya burung kaleee*πŸ˜„ *melambai-lambai ke Stokke, Bugaboo, dan kawan-kawannya yang mihil*.

Sebelum tahu soal faktor keselamatan, rem, manuver, reversible handle, posisi tempat duduk, dll, tentu saja sebagai perempuan yang pertama kali dilihat adalah soal desain, dong. Kece nggak dipandang mata. Hihihi. Harga emang nggak bohong, sih. Stroller yang harganya selangit, desainnya kece banget. Rasanya kayak berasa jadi artis Hollywood dorong anaknya di stroller gitu. *ditimpuk*

Udah mulai bikin daftar stroller yang harganya masuk budget dan desainnya oke-lah. Mulai follow Instagram dan online shop yang jual stroller. Setelah itu baru mulai ke soal fungsinya.Β Hasilnya makin pusing. Banyak amat, mak! Minta pendapat suami juga nggak terlalu ngaruh, mungkin nggak menarik buat dia, sih. Hihihi.

Sampai akhirnya, saya nggak puas kalau cuma melototin online shop doang. Harus lihat aslinya gimana, ngerasain ngedorongnya, mindahinnya, ngelipetnya. Soalnya kalau berdasarkan penjelasan online shop aja kan nggak tahu juga sebenarnya seperti apa.

Jadilah berkunjung ke Mothercare yang strollernya kece banget. Kali ini ngajak suami supaya dia juga bisa tahu. Baru deh begitu lihat aslinya, suami jadi makin tertarik sama per-stroller-an ini. Dia mulai coba dorong, lihat bannya, manuvernya, Kalau di Mothercare nggak sampai minta mbaknya untuk peragain soalnya harganya bikin jantungan semua (walaupun desainnya bagus). Kalaupun harganya masuk budget, tapi desainnya kurang oke, gampang goyang, atau nggak bisa dipakai dari newborn. Lewatlah, ya.

Kemudian kita berkunjung ke Birds and Bees Baby. Di tempat ini banyak yang lebih terjangkau. Salah satu incaran kita adalah stroller Cocolatte yang sering kita lihat di online shop. Langsung lah kita cobain stroller Cocolatte New Life Up. Ringan banget, cuma 3,5 kg! Tapi saking ringannya jadi kelihatan ringkih dan takutnya jadi nggak bisa menahan si baby yang makin lama makin berat. Apalagi kalau misalnya dibawa jalan-jalan di aspal pasti goyang banget dan bikin baby jadi nggak nyaman. Padahal dari segi harga oke banget, cuma Rp 1,5 juta di online shop (kalau di Birds and Bees sekitar Rp 2 juta).

cocolatte new life upStroller ini tembakannya Aprica Karoon yang lebih mahal. Serupa banget, deh. Coba lihat:

aprica-karoon-92552

Suami kurang sreg karena terlalu ringkih dan pas dia cobain kurang kokoh. Akhirnya yang ini diskip. Kemudian mata tertuju pada stroller Mamas & Papas yang ada di toko ini juga. Waktu itu yang dipajang adalah tipe Sola warna lime.

Jatuh cinta pada pandangan pertama

Jatuh cinta pada pandangan pertama

Langsung minta mas-nya cobain dan peragakan fungsi-fungsinya. Sejauh ini sesuai dengan yang saya dan suami mau: kokoh, manuvernya oke, rodanya nggak kekecilan jadi kalau jalan di aspal nggak goyang-goyang, bisa menghadap yang dorong dan sebaliknya, tempat duduknya cukup luas, tempat taruh barang di bawah juga besar, kanopinya besar dan ada jendela buat ngintip, dan yang paling penting desainnya keren! Lihat deh, desain di bawah kanopinya bagus. Jadi secara fungsi dan desain udah terpenuhi. Oh ya, kekurangannya menurut saya sih bentuknya yang bulky dan berat (10 kg), tapi faktor yang ini agak diabaikan karena toh akan ditaro di bagasi mobil dan kata suami bukan saya juga yang bakal angkat-angkat. Hihihi. Harganya gimana? Di Birds and Bess dijual dengan harga Rp 4.800.000. Sempat diskon sih jadi 4.200.000. Tapi alamak, ini mah di luar budget banget.

Akhirnya mulai deh browsing di online shop lagi. Ih, di kebanyakan online shop harganya bahkan nggak sampai menyentuh Rp 4.000.000. Bahkan perbedaannya bisa sampai sejutaan lebih. Jauh banget, ya.

Udah kadung jatuh cinta, saya dan suami pun kayaknya susah berpindah ke lain hati. Tapi belum dibeli juga karena belum 7 bulan. Ditambah lagi masih pengen lihat stroller lainnya siapa tahu ada yang lebih murah dan kece. Kenyataannya, beberapa bulan kemudian, masih belum ada yang bisa ngalahin si Mamas & Papas Sola ini di hati. Ciyeeeh!

Saya pun mulai obsesif, buka online shop yang jual si Mamas & Papas ini dengan harga termurah. Pantengin mulu harganya takut naik, apalagi sempat ada kenaikan BBM dan dollar, kan. Komat-kamit dalam hati semoga jangan sampai naik. Ya, harganya sih nggak naik karena rata-rata yang jual ready stock, tapi…lama-lama kan ada yang beli, plus warna incaran saya jadi tinggal dikit stocknya. Hiks!

Oh ya, soal warna. Saya cinta banget sama Mamas & Papas ini yang selalu bikin warna yang bold, alias ngejreng. Nggak pake warna soft. Mirip deh ama kesukaan saya yang serba ngejreng, nggak pake malu-malu *apa toh ini*. Awalnya jatuh cinta dengan Sola 1 warna plum, yang mana suami langsung ngernyit karena terlalu cewek. Iya sih. Habis manis banget warnanya, semacam ungu campur fuschia. Akhirnya kita sepakat warnanya harus gender free karena akan dipakai turun temurun kalau suatu saat punya anak cewek. Pilihannya Sola warna lime. Eh, nggak beberapa lama kemudian, keluar Mamas & Papas Sola 2 dengan harga yang beda Rp 100.000 aja. Ada warna merah yang saya suka. Di Sola 1 saya nggak terlalu suka desain warna merahnya. Di Sola 2, warna merahnya seperti kesukaan saya, dan desain kanopinya bagus. Ehm, kebetulan banget merah adalah warna kesukaan saya dan dipakai cewek ataupun cowok merah tetap kelihatan kece.πŸ˜€

Tapi lagi-lagi saya cuma bisa berbinar-binar lihatin online shop karena belum waktunya beli. Sampai akhirnya saya bosan dan nggak lihat-lihat stroller lagi untuk waktu yang lama. Capek bok, lihat tapi nggak beli. Hahaha. Bahkan saya udah mengunjungi beberapa Birds and Bees cuma untuk minta lihat aslinya. Anyway, di Birds and Bees waktu itu cuma lihat warna yang lime dan plum aja.

Pernah suatu hari lagi makan di Ikkudo Ichi Kokas. Karena tempatnya terbuka dan dilewati banyak orang, saya dan suami jadi suka tebak-tebakan merk stroller *ciyeee, keseringan mantengin stroller di online shop jadi hapal sama merknya*. Sekalian siapa tahu ada referensi yang lebih kece. Sampai lewatlah stroller yang kece banget warna biru dan saya bilang ke suami, “Ih, strollernya keren banget tuh”. Kita berdua liatin aja sampai akhirnya nyadar, “Heeey, itu kan stroller Mamas & Papas!”. Hahahaha, emang deh ya kalau udah cinta nggak bisa bohong lagi! Tetep aja matanya tertuju ke situ juga.

Kejadian lainnya adalah setelah siangnya mampir ke Birds and Bees untuk lihat-lihat Mamas & Papas ini, malamnya kita ada acara syukuran atas kelahiran anak pertama saudara (yang mana sebenarnya saya nggak kenal, tapi yah di Batak kan semua juga dianggap saudara). Pas sampai di sana, ada strollernya si bayi itu. Jeng jeng jeng, si Mamas & Papas Sola warna biru. Pertanda banget nggak sih ini? *semua dijadikan pertanda*. Saya dan suami langsung berpandang-pandangan dan bilang, “It’s a sign!” TRIIIING! Hahahaha!

Sampai pada akhirnya, udah dibolehin belanja. Belanja kebutuhan basic udah. Akhirnya keinget lagi, oh iya stroller! Hore! Mulai deh memberanikan diri untuk add para online shop di Whatsapp, BBm, dan Line. Sungguh racun banget, deh. Makin nanya-nanya sama pemilik online shop ini kan jadi makin pengen beli. Obsesif banget! Sekarang yang bikin dilema adalah warnanya. Setelah sepakat mau yang warna merah, eh ternyata di beberapa online shop warna itu udah sold out. Hiks! Sungguh lho ini bikin gregetan banget! Mau direlain aja pake warna yang lain tapi kok ya hati ini kurang sreg. Gimana inih! *suami bengong*

Saya sampai mendesak si online shop paling murah untuk kabarin kapan si merah restock atau kalau nggak saya mau pre-order, deh. Keukeh sumekeuh banget, ya. Hahaha. Tapi si mbaknya ini jawabnya lama bingits! Itu dari pagi sampai malam saya bbm-an sama dia mulu. Mungkin dia juga melayani pelanggan yang lain kali, yak. Udah gitu, saya cuma mau beli kalau mereka punya toko offline juga jadi saya tahu kualitasnya, bisa cobain, dan nggak takut salah pilih atau ketipu.

Karena si mbak online shop ini agak lama balesnya, saya pun ngobrol sama online shop lain yang jual dengan harga serupa, tapi tokonya di Jakarta Barat (yang online shop sebelumnya juga nggak jauh dari rumah sih, di Daan Mogot, Tangerang *hayoo tebak online shop apa*). Pas ditanya, eh Jakarta Barat-nya di Pasar Pagi Mangga Dua. Errr, agak jauh, ya. Dia bilang stocknya ada tapi tipis. Whoaaa, gimana ini? Padahal kemungkinan saya ke sana cuma weekend, yaitu Sabtu Minggu. Minggu dia tutup, Sabtu saya cuma bisa sore sehabis pulang kerja. Duh, kok ya susah gini ke sananya karena soal waktu dan jarak itu.

Akhirnya googling lagi toko mana aja yang jual Mamas & Papas dan harus punya toko offline. Ribet, ceu! Yang jual Mamas & Papas aja nggak banyak, nah sekarang cari yang punya toko offline. Hidupku sungguh rempong, ya. Mana anaknya kalau udah obsesi jadi gampang ditakut-takutin soal stok yang menipis. Makin pengen jambak rambutlah eike!

Sampai akhirnya nemu satu toko online; punya web, ada instagram, dan punya toko offline. Saya langsung tanya di whatsapp masih ada stoknya nggak, harganya berapa (penting!), dan lokasi di mana. Oh ya, yang jawab whatsapp saya ramah sekali. Nggak cepat jawabnya (mungkin dese juga sibuk jawabin yang lain), tapi semua pertanyaan saya dijawab dengan baik walau nggak tahu juga mau beli atau nggak. Stok masih ada tapi tinggal 2, harga sama kayak online shop yang di Tangerang itu, lokasi ternyata deket banget sama kantor suami. Saya bilang ke si ol shop kalau saya mau datang pas weekend (Minggu dia tutup, Sabtu pun sampe jam 17.00). Dia sih oke-oke aja. Karena saya orangnya nggak sabaran, langsung deh minta suami di hari itu juga datangin toko itu untuk lihatin beneran ada nggak, sih. Tokonya meyakinkan nggak? Ribet tapi parno! Hahaha. Karena dekat dengan kantornya, suami sih setuju aja. Dia pun mendatangi toko itu, bahkan berinisiatif fotoin bentuk tokonya dan bentuk strollernya. Hahaha, tahu aja istrinya nggak percayaan dan kepo. Si suami bilang si merah cuma tinggal satu, satunya lagi warna lime. Oh tidak, kenapa stokmu cuma sedikit gituh? Tentu saja saya kan masih tahu diri untuk nggak minta dia keep padahal saya nggak tahu kapan mau beli.

Akhirnya pas di rumah, saya ngobrol sama suami tentang si stroller ini mulu. Saya tanyain, tokonya terpercaya nggak, penjualnya gimana ramah nggak? Untungnya si suami positif sama tokoh ini. Tokonya memang menjual berbagai macam keperluan bayi dan penjualnya mau ngeladenin bahkan bukain strollernya walaupun dia belum mau beli. Kemudian saya bilang ke suami, “Aku nggak pernah ngidam lho selama ini, cuma ngidam stroller ini aja”. Ngidam kok ya stroller toh, mbake?πŸ˜„ Karena udah obsesif banget, diputuskanlah karena besoknya (Kamis) saya libur dan nggak ngapa-ngapain, saya akan ikut suami ke kantornya pagi-pagi dan beli itu stroller. Setelahnya suami bisa lanjut kerja dan saya pulang ke rumah naik taksi.

Pagi-pagi udah semangat bangun. Bahkan malamnya udah mimpi stroller ini (kacawww, kan? Hahaha). Hati riang gembira. Sampai kemudian dapat kabar anjing Mama saya, Bebe, mati. Pagi itu pun saya nangis bombay, mata bengkak, dan hidung merah. Tapi tetap diputuskan untuk pergi juga karena saya bisa sedih tak terkira meratapi kematian Bebe dan nggak baik buat saya jadinya. Di mobil pun saya masih nangis-nangis sedih. Ditambah Jakarta hari itu gloomy banget, seharian hujan deras. Makin retak-retaklah hati ini.

Seperti layaknya hari hujan di Jakarta, hari itu jalanan Jakarta macet parah. Saya yang rencana awalnya akan didrop di Sevel Pluit, sembari nunggu suami absen dan kerja sebentar, akhirnya berubah halauan. Suami memutuskan untuk masuk setengah hari (setelah jam makan siang) karena toh baru udah telat banget gara-gara kemacetan Jakarta. Oh iya, ceritanya saya mau datang pas toko itu baru buka jam 10.00. Takut dibeli orang kalau kesiangan. Hahaha!

Kebetulan sampai daerah Pluit udah jam 9.30, ke Sevel bentar untuk beli makanan ringan karena saya lapar banget. Setelah itu jam 10.00 cus ke tokonya. Ini kayak mau ketemu gebetan pertama kali, lho. Begitu masuk tokonya deg-degan *lebay gila*. Tokonya berada di sebuah perumahan mewah yang kalau masuk gerbang perumahannya aja dijaga semacam tentara. Di dalamnya rumahnya besar-besar, khas rumah-rumah di Pluit yang kayak istana lah. Toko ini juga adanya di rumah besar. Di depannya ada banner nama tokonya. Begitu masuk, di depannya ada banyak kardus-kardus berisi stroller atau perlengkapan besar bayi lainnya yang masih terbungkus rapi (semacam car seat, baby box, dll). Masuk ke dalam ada 2 ruangan terpisahkan pintu, satu khusus untuk ruangan yang jual mainan-mainan bayi, satu ruangan lagi khusus untuk jual baby gear. Saya masuk ke ruangan yang jual baby gear. Ketemu dengan pegawainya, si mbak ramah. Dia kayaknya udah hapal sama si suami karena dia langsung tau kita mau lihat stroller kemarin dan dikeluarin dari gudang. Ternyata yang sisa 2 stok itu, bukan warna lime dan merah, tapi warna plum dan merah. Bayangin, nggak mungkin banget saya beli warna plum yang girly. Horeee, warnanya masih ada *legaaa*.

Si Mbak langsung praktekin cara penggunaannya. Kali ini si suami memperhatikan dan mencoba dengan seksama karena nanti akan benar-benar dipergunakan. Saya juga pegang-pegang dan cobain lagi untuk meyakinkan diri bahwa…this is it! Oke, suami yakin, istri apalagi. Bungkus! *mata berbinar-binar terharu*

Perkenalkan, stroller idaman saya:

Si merah idaman

Si merah idaman

Stroller ini sekarang ditaruh di kamar. Jadi mau tidur dan bangun tidur bisa langsung dipandangi. Kadang-kadang saya cobain dorong di sekitar kamar. Hihihihi. Nggak sabar sebentar lagi akan ada yang pakai stroller ini. :’) Ngidamnya udah terpuaskan. Terus karena udah ada strollernya, sekarang lagi suka lihatin online shop untuk cari stroller pad alias alas stroller dengan motif kece juga. Yasalam, nggak kelar-kelar ini mah!πŸ˜„

PS: Toko tempat saya beli stroller ini namanya Sweet Mom Shop. Ada Instagramnya juga dengan nama yang sama. Dia menjual berbagai macam tipe stroller favorit para ibuk-ibuk. Range pilihannya banyak sekali. Penjualnya juga melayani dengan ramah dan sabar: online maupun offline.πŸ™‚

PS lagi: Ini selebriti Hollywood yang juga pake stroller Mamas & Papas walau beda tipe. Tentunya tipe dese lebih mahal dong, ya.πŸ˜„ *info ini penting banget nggak, sik? Hahaha!*

Gwen Stefany dan Kelly Preston pake Mamas & Papas tipe Urbo (justjared.com)

Gwen Stefany dan Kelly Preston pake Mamas & Papas tipe Urbo
(justjared.com)

Bahkan si Kim Kardashian pun pake Mamas & Papas Urbo 2 (tapi kayaknya dia punya banyak stroller, deh. Soalnya waktu bayi banget si North kelihatan pake Stokke) (fliistrade.com)

Bahkan si Kim Kardashian pun pake Mamas & Papas Urbo 2 (tapi kayaknya dia punya banyak stroller, deh. Soalnya waktu bayi banget si North kelihatan pake Stokke)
(fliistrade.com)

13 thoughts on “Perjalanan Panjang Menuju Stroller Impian

  1. panjang ya kak ceritanya *yg baca ngosh-ngosh-an hahahaha.
    Over budget, tapi puas kan? *hampir semua ce jg pakai motto ini demi menyelamatkan diri dari rasa bersalah.
    hahahaha.cakep loh kak stroller-nya.

  2. Aiiiiih! Meski blm ada rencana beli stroller dalam waktu dekat, tapi aku sukak banget postingan inih!! Sama soalnya, aku juga kalo udah pengen sesuatu, pagi siang sore malem itu mulu yg dipikirin dan dibrowsing’in sampe akhirnya kesel sendiri karena blom kebeli jugak! Hahaha. Congrats ya Naomi. Seneng deh baca nyaπŸ™‚

    • Hahaha sama kita. Kadang-kadang sampe kesel sendiri dan jadi gampang ditakut2in dengan bilang stok tinggal dikit, lho. Hih, kan jadi makin kepikiran. Hihihi.

  3. Mbak, aku juga naksir strollernya pas banget warna merah juga.
    Dulu kena harga brp?sekarang aku lihat harga sola sama sola 2 kok beda jauh ya bisa sampai 1jutaan lebih. hiiks

    • Hai! Dulu aku beli 3,2 juta. Iya ya sekarang harganya melonjak banget sampai naik 1 jutaan lebih. Padahal duu sola 1 dan 2 cuma beda Rp 100 ribu aja.😦

    • Hai, yang aku tau udah aku tulis di blog ini. Dulu ada di birds and bees di mall, tapi sekarang tampaknya mereka nggak jual lagi. Sama ada juga di ITC Kuningan di lantai paling bawah, tapi lupa nama baby shopnya apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s