Mata Bengkak Karena Keluarga Cemara

Mengawali tahun 2019 ini dengan nonton Keluarga Cemara di bioskop. Tadinya Keluarga Cemara nggak termasuk di daftar film yang bakal saya tonton. Walau dulu suka banget nonton sinetronnya, tapi bukan yang favorit banget. Lalu, Teppy kasih skor 9,5/10 untuk film ini. Skor tertinggi yang pernah dia kasih untuk sebuah film. WOW banget, kan. Karena film tentang keluarga, saya ajak suami untuk nonton.

Sinopsis: Abah (Ringgo Agus Rahman) mengalami kebangkrutan sehingga keluarganya harus pindah ke peninggalan rumah Aki di desa bersama Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48), dan Ara (Widuri Puteri). Dari yang tadinya mapan, sekarang harus beradaptasi dengan hidup yang jauh lebih sederhana.

Review:

Buat saya film ini bagus banget nget nget. Senangnya karena awal tahun udah disuguhi film sehangat, semenyenangkan, dan penuh cinta seperti ini. Hati rasanya hangat.

Di film ini semua aktingnya pas, nggak ada yang berlebihan. Ringgo Agus Rahman yang selalu identik dengan peran-peran lucu dan konyol, di sini bisa jadi Abah yang tegar, tapi juga lembut, hangat, dan bertanggung jawab. Abah yang mau melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya. Akting Ringgo benar-benar bagus dan keluar dari peran tipikalnya yang biasanya lucu dan konyol. Saya bisa lihat di raut wajahnya ketika ia berusaha tersenyum, padahal hatinya hancur. Duh.

Nirina Zubir sebagai Emak bisa memerankan seorang ibu sebagai tiang keluarga yang bisa menghangatkan keluarga. Tanpa Emak, keluarga ini mungkin akan runtuh. Nirina mampu menggambarkan sosok Emak yang bijaksana dalam tiap mimik terkecilnya. Saya jarang banget suka akting Nirina, tapi di sini dia main bagus sekali.

Saya cuma pernah lihat akting Zara di film Dilan sebagai adik Dilan. Perannya kecil banget, tapi cukup mencuri perhatian. Di Keluarga Cemara, Zara sebagai Euis bermain bagus banget. Yang paling teringat adalah ketika Euis tersenyum getir. Berusaha senyum, tapi terpaksa dan mau nahan nangis. Hatiku hancur, Mak!

Dan, Widuri sebagai Ara adalah scene stealer banget. Perannya sangat lovable, lucu, menyenangkan, selalu membuat tertawa. Untuk film pertamanya, dia bisa berakting dengan luwes dan nggak kaku. Keren banget.

Untuk pemeran sampingan lainnya, nggak ada yang gagal. Porsinya pas, kelucuannya nggak dibuat-buat. Nggak ada yang terasa dipaksakan harus melucu. Membandingkan dengan film terakhir yang saya tonton, Milly dan Mamet, masih ada peran-peran yang menurut saya sia-sia dan dipaksakan, tanpa peran itu film akan tetap berjalan dengan baik. Nah, di film ini nggak ada peran yang sia-sia. Semuanya punya peranan penting untuk keberlangsungan film.

Dramanya bukan dibuat untuk menye-menye, tapi karena dia berusaha banget nggak menye-menye, semuanya terasa lebih menyentuh. Mungkin buat saya ini jadi emosional banget karena sebagai orang tua, saya tahu semua yang dirasakan Abah dan Emak. Saya paham rasanya ingin selalu membahagiakan anak, tapi sebenarnya kita sendiri sedang hancur. Tahu rasanya ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak, tapi nggak mampu. Kenal dengan rasa melarang anak melakukan sesuatu, bukan karena nggak bisa, tapi karena takut ia merasa luka yang lebih dalam. Dan sampai saya nulis ini, saya masih bisa merasakan perihnya, sedihnya, dan sayangnya. Being a parent is hard, yet it’s rewarding. :’) Dan sebagai anak, saya bisa paham rasanya jadi Euis, yang seringkali harus ngalah sama adik, yang harus berusaha dewasa dan kuat padahal rasanya ingin nangis guling-guling, yang cemas banget sama keadaan orang tua tapi mau ngomong sama siapa karena nggak ingin nambah kecemasan orang tua. *nangis segerobak*

Dan belum cukup juga, soundtracknya bagus banget. Di Youtube dan iTunes baru keluar 2 soundtrack yang dinyanyiin oleh BCL. Masih ada lagu-lagu lainnya, yang sama bagusnya dengan liriknya yang bagus banget.

Cobak, gimana nggak nangis dengar suara lembut BCL nyanyi lagu Harta Yang Berharga?

Lalu dengarkan lagu ini. Saya nangis banget pas lirik:

“Di sini juga tak apa

Asalkan saling punya.

Begini juga tak apa

Karena kita bersama.

Percaya saja akhirnya

Satu hari nantinya

Semua ini akan jadi

Cerita yang indah.”

Monmaap, ini lagu dikasih bawang atau gimana, kok selalu bikin mewek?

Saya mau banget disuruh nonton film ini berkali-kali lagi. Tapi kayaknya saya perlu menetralisir emosi dulu karena sungguh habis nangis sepanjang film, terbitlah kepala pusing. Hahaha. Sebagus itu lah filmnya.

Ya udah ya, tolong ditonton filmnya di bioskop. Kalau udah kabari saya, nangis berapa ember? 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Mata Bengkak Karena Keluarga Cemara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s