Belajar Dari Kasus TOP Big Bang

big-bang-top

Beberapa hari lalu heboh berita TOP Big Bang dikabarkan ketahuan pakai ganja, padahal dia masih dalam masa wajib militer. Udahlah ya, langsung TOP dihujat habis-habisan. Kalau yang saya dengar, publik Korea tuh emang judgemental dan kejam banget ngritik idol-nya. Semacam idol tuh harus sempurna, nggak boleh ada cela. Bahkan kemarin saya baca berita TOP keluar dari kantor polisi sambil senyum dikit, dihujat abis-abisan, lho! Katanya kok masih bisa senyum? Nggak merasa bersalah, ya? Belum tahu aja gimana koruptor di Indonesia kalau ketangkap malah tebar pesona sambil melambaikan tangan. :)))

Setelahnya, TOP dikabarkan tak sadarkan diri setelah makan banyak obat penenang. Percobaan bunuh diri katanya. TOP dilarikan ke rumah sakit dan kesadarannya sangat menurun sampai ia tidak memberikan respon. Untungnya hari ini ia sudah lebih baik dan mulai sadarkan diri.

Walaupun saya nggak tahu siapa itu TOP Big Bang, tapi karena Kaleb suka Big Bang jadi saya suka dengerin lagunya. Makanya pas ada berita ini saya suka ikut nimbrung ngobrolin ada apa sih sama si TOP ini?

Yang luar biasa adalah respon banyak orang bukannya menunjukkan empati, tapi banyak yang malah judgemental, bilang, “TOP mah lemah amat sih, namanya juga di industri entertainment Korea itu berat. Gampang stres nih orangnya. Larinya malah ke ganja. Harusnya udah tahu dong resikonya. Dulu juga gosipnya dia pernah mau bunuh diri habis putus cinta sama Shin Min Ah. Masa gara-gara putus cinta aja gitu, sih.”

LIKE, WHAT?

Sedih ya, lihat komentar-komentar tidak empati seperti ini. Dianggapnya bahwa percobaan bunuh diri itu SALAH ORANGNYA karena mentalnya lemah, karena nggak tanggung jawab, masalah gitu doang.

Nggak semudah itu, lho.

Bunuh diri adalah usaha untuk membaskan diri dari perasaan menderita yang nggak bisa seseorang tahan lagi. Entah itu karena terbutakan oleh perasaan benci diri sendiri, nggak punya harapan, atau terisolasi. Orang yang mencoba bunuh diri tidak melihat cara lain untuk merasa lebih baik, kecuali kematian. Walau mereka berusaha untuk mengakhiri rasa sakitnya, sebenarnya orang yang kepikiran buat bunuh diri punya konflik tersendiri lagi apakah ia harus mengakhiri hidupnya atau nggak. Mereka berharap ada pilihan lain selain bunuh diri, tapi mereka tidak bisa melihatnya.

Yang menjadikan masalah itu besar atau nggak, itu bukan soal kenyataan seberapa besarnya masalah tersebut, tapi bagaimana seseorang mempersepsikan dan menghayati masalah tersebut. Buat A patah hati tuh semacam mainan yang dia punya hilang, besok tinggal beli lagi. Gampang lah. Buat B, ia mempersepsikan bahwa mainan tersebut satu-satunya yang ia punya dan sayang, kalau nggak ada mainan itu hidupnya hampa. Padahal mainannya sama, misalnya mobil-mobilan seharga Rp 5000. Tapi bagaimana kita melihat mainan tersebut dan hubungannya dengan kita yang membuatnya berbeda.

Setiap orang dilahirkan dengan kapasitas mental yang berbeda-beda dan kemampuan mengatasi stres yang berbeda. Kalau kita tangguh banget orangnya, belum tentu orang lain begitu. Kemampuan mengatasi masalah seseorang juga bisa sangat berbeda. Ada yang memang kurang mampu mengatasi masalah dengan baik sehingga coping-nya seringkali tidak efektif dan akhirnya menimbulkan stresor yang lain. Ada yang coping-nya efektif dan akhirnya bisa mengatasi masalah dengan baik. Semua bisa dipelajari, tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Masalah psikologis itu kompleks banget. Makanya banyak orang yang terkena gangguan butuh waktu yang lama untuk terapi atau konseling. Terkadang bisa bertahun-tahun. Karena ya tidak semudah yang dibayangkan orang-orang. But, they surely need help.

Orang yang mengalami gangguan juga bukan berarti dia satu-satunya yang patut disalahkan, karena ada orang di sekitarnya yang “seharusnya” bertanggung jawab ikut andil terhadap dirinya.

Ini yang jadi concern saya. Sebelum jadi orang yang judgemental, put yourself in other’s shoes. Kalau ada orang yang memang butuh cerita, apapun masalahnya, seremeh apapun kita menganggap masalahnya, tolong didengarkan dulu. Tempatkan dirimu jika ada di posisinya dan berempatilah. Kadang-kadang emang susah sih berempati, apalagi kalau masalahnya cetek banget dan kita mikir, “Kalau gue jadi dia, gue sih bakal bla bla bla. Nggak bakal kayak gini lah.” IYA, itu kamu. Bukan dia. Berusaha tempatkan diri jadi orang tersebut.

Tahu nggak ungkapan paling menyebalkan yang sering kita katakan kepada orang yang udah stres atau depresi adalah:

“Sabar, ya. Nanti akan baik-baik saja.” –> BASI! Apa yang dia lakukan sekarang itu sudah sampai pada tahap tidak bisa bersabar karena perasaan buruk itu sudah terlalu dalam. Dengan kita bilang sabar, kita malah mengabaikan perasaannya dan bagaimana ia mempersepsikan masalah tersebut. Kita juga menganggap enteng apa yang ia rasakan dan akhirnya ia merasa semakin terabaikan dan lebih depresi lagi.

“Bersyukur aja. Masih banyak yang lebih menderita dari kamu.”Β –>Β In times like this, bersyukur is not an option. Percayalah mungkin itu yang berusaha mereka katakan pada diri sendiri awalnya, mungkin mereka pun sudah berusaha berdoa juga. But the painful is just too big that they can’t handle it anymore.

Tolong, jangan ucapkan kata-kata klise di atas karena di dalam hati mereka sudah tahu harus melakukan hal tersbut, tapi bukan itu yang mereka butuhkan. Kadang-kadang kita merasa orang ini lebay, terlalu drama, atau ngancem mau bunuh diri padahal nggak bakalan mati juga. No. Buat kita lebay dan drama, buat mereka nggak. Kadang-kadang ungkapan selintas mau bunuh diri harusnya jadi warning buat kita bahwa apa yang mereka rasakan sudah serius.

Jadi apa sih yang bisa kita lakukan ketika kita tahu teman/keluarga kita bermasalah dan mempunyai pikiran bunuh diri?

  1. Biarkan ia tahu, bahwa kita peduli dengan mereka, bahwa ia tidak sendiri.Β 
  2. Dengarkan. Biarkan ia mengeluarkan semua unek-uneknya, perasaannya, kemarahannya, kesedihannya. Tidak peduli seberapa negatif pembicaraannya, fakta bahwa dia mau membuka diri adalah hal yang positif.
  3. Berusaha simpati, tidak judgmental, tenang, sabar, dan terima ia dengan segala keluh kesahnya. Biarkan ia bicara mengenai perasaannya.
  4. Tawarkan pertolongan. Ajak ia menemui psikolog/psikiater untuk membantunya dengan lebih baik dan bahwa perasaan bunuh diri yang ia rasakan hanya sementara. Biarkan ia tahu, bahwa hidupnya berarti untukmu.
  5. Jangan remehkan dia, anggap ia serius. Jika ia bilang, “Saya depresi, nggak bisa melanjutkan hidup lagi.” Kita bisa tanya, “Apakah kamu terpikir untuk bunuh diri?” Bukan berarti kita sedang memberi dia ide untuk bunuh diri, tapi kita sedang menunjukkan bahwa kita peduli dan bahwa menganggap masalah mereka serius. It’s okay for them to share their pain with you.

 

Namun, ada hal-hal yang juga tidak boleh kita lakukan:

  1. Membantah apa yang mereka rasakan. Hindari kata-kata, “Kamu tuh harusnya bersyukur. Kalau kamu mati itu bakal nyakitin keluarga kamu. Lihat dong hal lain yang patut disyukuri.” NO. BIG NO.
  2. Berakting kaget, lalu menguliahi bahwa hidup itu penting dan berarti, bahwa bunuh diri itu dosa. Again, NO!
  3. Berjanji bahwa kamu akan merahasiakan ini. Kalau dia bilang kamu harus merahasiakannya, tolong jangan. Hidup seseorang sedang dalam bahaya dan mungkin kamu perlu bicara pada ahlinya, seperti psikolog atau psikiater agar orang tersebut bisa lebih baik. Tapi kalau kamu sudah janji, terpaksa kamu harus melanggarnya.
  4. Menawarkan cara untuk memperbaiki masalah mereka, memberi nasehat, atau membuat mereka merasa bahwa bunuh diri itu tepat. Bukan soal seberapa parah masalahnya, tapi seberapa buruk hal tersebut mempengaruhi perasaannya.

 

 

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang bermasalah. Judging dan mengkritik, bukanlah salah satunya. Jadi seberapa pun kamu anggap teman kamu lebay, drama, hargai apa yang ia rasakan. Kalau ia sudah merasa tidak mampu lagi, anjurkan ia untuk ke psikolog/psikiater agar bisa menolongnya dengan lebih baik.

Yuk, lebih peka terhadap orang di sekitar kita. πŸ™‚

 

Love and kindness are never wasted. They always make a difference. They bless the one who receives them, and they bless you, the giver. – Barbara De Angelis

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Belajar Dari Kasus TOP Big Bang

  1. Huaaa..jd inget pengalaman masa lalu. Putus cinta+ ayahku pas bgt drop sampai masuk ICU. Ketika itu jujur aja dunia rasanya gelap.. kehilangan sesuatu yg berharga dlm waktu hampir bersamaan, dan emg sempet kepikir pgn bunuh diri aja, ngerasa kaya dititik bawah bgt.. saking tkt jg kehilangan ayah. (untung ga jadi). Waktu itu cm support dr sahabat2 yg menguatkan (well, ga berani cerita ke kluarga kl wktu itu break up, krn kondisi bokap kritis kn). Pasca itu semua pun saya smpet minta bantuan profesional buat healing stlh putus, maybe bwt sebagian org itu lebay.. tp itu yg saya butuhkan wktu itu.. saya konseling bbrp kali sama dosen psikologi saya, dan voila.. perlahan move on, dan skrg jauuuh lebih bahagia. Ya ammpun maap ini komen panjang bener :p salam knl mba πŸ™‚

  2. Wkakaka bawa2 koruptor…. Tapi emang bener sih πŸ˜†
    Yang nguliahin ‘bunuh diri = dosa’ kayaknya antara gak pernah depresi, emang pembawaannya nyantai makanya gapernah nganggep serius suatu masalah, atau simply orangnya gada empati banget ya kak. Orang teh lagi butuh nasehat & bantuan bukannya ceramah LOL

  3. Ya gt deh naomi…netizen korea lbh parah drpd netizen indonesia, smp2 bawa mao lapor ke lembaga yg berwenang
    jd inget kasusny goblin yg smpt di gugat ma netizen kr menampilkan percintaan anak smu umur 19th ma om2 umur ratusan tahun wkkwkwkw kagak tau dia di indonesia cew 19th mah udh ada yg punya anak 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s