Pak Pendeta dan Orang Gay

Beberapa waktu lalu Jakarta lagi dihebohkan dengan berita pesta seks gay di Kelapa Gading. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya nggak terlalu memperhatikan berita ini karena ya biasa aja, sih. Bukannya sering ya ada razia pesta seks gitu? Biasa aja kan, ya. Memang pesta seks nggak boleh.

Tapi kemudian yang bikin risau adalah kok itu beredar foto para pelaku lagi telanjang dan digiring keluar, sih? Apakah karena mereka GAY jadi polisi merasa WAJAR memperlakukan mereka seperti itu? Buat saya itu nggak etis banget, deh.

Kenapa sih pandangan masyarakat bisa buruk banget soal homoseksual? Mungkin, salah satunya adalah karena ajaran agama. Saya percaya di banyak agama menentang adanya homoseksual. Begitu pun ajaran agama saya yang percaya bahwa homoseksual adalah dosa.

Seperti khotbah Pendeta kemarin bilang, “Kalau ada Bapak dan Ibu di sini yang homoseksual, BERTOBATLAH!” Si Pendeta melanjutkan dengan menyudutkan kaum homoseksual.

Dan rasanya pengen tunjuk tangan dan maju ke depan ngomong, “Sini Pak Pendeta, kita ngobrol dulu, yuk.”

Saya tidak menentang bahwa di ajaran Kristen menyatakan bahwa homoseksual adalah dosa. Tidak terbantahkan. Dan bahwa kebenaran itu harus diketahui, itu juga tidak saya bantah.

Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana banyak Pendeta/gereja seringkali membentuk perilaku menghakimi dan seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang berhak menentukan dosa orang lain. Pendeta/gereja lupa bahwa tertulis di Markus 2:17:

12543194_819639548146769_1083455726_n

Bahwa tugas Pendeta/Gereja selaku simbol utusan Tuhan di dunia adalah merangkul orang yang berdosa. Bukan menyudutkan yang salah. Tujuan gereja kan sebenarnya membawa sebanyak-banyaknya orang bertobat. Tapi kalau cara melakukannya dengan menunjuk hidung orang bahwa dia dosa dan menghakimi, kira-kira mau nggak orangnya bertobat? Yang ada juga makin kesal dan pergi dari gereja. Tujuannya nggak tercapai, deh.

Ada satu cerita yang saya suka banget tentang bagaimana Tuhan memperhatikan orang berdosa, yaitu ketika ada seorang pelacur yang mau dirajam sama masyarakat. Lalu Yesus datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa silahkan melempar perempuan ini dengan batu.” Akhirnya nggak ada yang melempar sama sekali karena tidak ada orang yang tidak berdosa. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tapi Tuhan malah mengampuni si pelacur dan bilang bahwa Ia tidak akan menghukumnya. Pelacur tersebut pergi dan bertobat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan aja yang Hakim besar, yang jelas punya hak menghukum manusia dan menentukan dosa, tidak melakukan itu. Ia mengampuni karena Ia mengasihi.

Kita seringkali lupa bahwa hukum terutama adalah KASIH. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27

Gampang ya hukumnya. Nggak dibilang, kasihilah kalau agamanya sama, kasihilah kalau dia baik sama kita, kasihilah kalau satu suku, kasihilah kalau dia straight, kasihilah kalau dia nggak dosa. Jelas tertulis, kasihilah sesamamu manusia, tanpa kecuali. Termasuk homoseksual juga.

Dari segi psikologi, homoseksual tidak masuk DSM lagi. DSM itu semacam kitab sucinya psikolog yang isinya berbagai klasifikasi gangguan mental. Udah sejak lama, homoseksual tidak dijadikan gangguan mental lagi karena homoseksual adalah preferensi seksual. Semacam kamu suka warna biru, saya suka warna merah; kamu suka manggis, saya suka apel; kamu suka Anies Baswedan, saya suka Ahok; kamu suka sesama jenis, saya suka beda jenis. Kesukaan; pilihan.

Kenapa nggak dimasukkan ke DSM lagi? Karena secara perilaku sosial, homoseksual dan heteroseksual tidak berbeda. Mereka bisa bekerja dengan baik, bisa berperilaku dengan baik, dan tidak berperilaku yang melanggar aturan. Mereka bisa mematuhi lalu lintas dengan baik, bisa berprestasi jadi juara Olimpiade Fisika, bisa jadi perenang handal, bisa jadi dokter, bisa jadi guru aja. Secara perilaku mereka normal, kok. Hanya preferensi seksualnya yang berbeda. Dan apakah itu merugikanmu? Harusnya tidak, ya. Di DSM hanya dimasukkan: sexual orientation disturbance. Artinya, gangguan orientasi seksual, tidak disebutkan bahwa itu adalah homoseksual, karena heteroseksual bisa juga memiliki gangguan orientasi seksual. Disebut gangguan jika ia sudah tidak bisa berfungsi baik secara sosial dan mengganggu lingkungan. Misal, seorang homoseksual berperilaku wajar, tidak melanggar aturan, apakah mengganggu? Tidak, tapi mungkin kalian terganggu dengan bayangan bahwa mereka berbeda dan itu menjijikkan karena dosa. Jadi secara aturan hukum tidak mengganggu, tapi pikiran kita sendiri yang terganggu.

Ya, akan merugikan JIKA pasangan homoseksual berhubungan seks di tempat umum, misalnya di jalanan depan rumahmu. Tapi hal tersebut juga bisa dilakukan pasangan heteroseksual, kan? Jadi tindakan asusila. Akan merugikan lagi kalau misalnya pasangan homoseksual PASTI akan jadi pemerkosa. Tapi cek deh statistiknya, lebih banyak orang homoseksual atau heteroseksual yang jadi pemerkosa? Bukan homoseksual pastinya. Bisa dilihat di sini juga salah satu hasil penelitiannya.

Menurut penelitian ini juga tidak ada hubungannya homoseksual dengan pelecehan seksual pada anak-anak, seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat:

Are homosexual adults in general sexually attracted to children and are preadolescent children at greater risk of molestation from homosexual adults than from heterosexual adults? There is no reason to believe so. The research to date all points to there being no significant relationship between a homosexual lifestyle and child molestation. There appears to be practically no reportage of sexual molestation of girls by lesbian adults, and the adult male who sexually molests young boys is not likely to be homosexual(Groth & Gary, 1982, p. 147).

Sampai sini semoga kita bisa paham bahwa homoseksual MEMANG BERBEDA dari KEBANYAKAN masyarakat, tapi SECARA PSIKOLOGIS mereka dianggap normal dan tidak mengganggu.

Nah, balik lagi ke soal Pak Pendeta tadi yang bilang, “BERTOBATLAH!” kepada orang homoseksual. Is it that easy? Coba tanya homoseksual, mau nggak mereka bertobat? Pasti banyak yang jawab mau banget. Bahwa banyak yang merasa terjebak menjadi homoseksual karena mereka dilahirkan seperti itu dan tidak punya pilihan. Ditambah sanksi sosial yang udah duluan menghukum mereka, menganggap mereka berbeda, warga kelas dua, berdosa, menjijikkan, dan asumsi negatif lainnya. Makanya karena tuntutan sosial yang begitu besar dan banyak yang merasa tidak sanggup, mereka berusaha menyangkal dan menikah dengan orang yang beda kelamin, berharap setelah itu mereka bisa menjadi normal. Banyak yang bisa berdamai bahwa mereka harus menyangkal selamanya dan hidup bahagia dengan keluarganya, banyak juga yang akhirnya menyerah karena tidak sesuai dengan jati diri mereka, tidak sedikit juga yang benci dirinya karena berbeda dari orang kebanyakan. Jadi nggak perlu kita tunjuk dan menghakimi mereka berdosa, mereka juga sudah tahu dan merasakan sanksi sosial karena preferensi seksualnya, kok. And it is SO HARD for them to accept it at the beginning. Coba lihat sekitarnya ada berapa banyak sih orang yang berani ngaku terang-terangan bahwa mereka homoseksual? Nggak banyak, kan? Seringkali kita malah harus menebak-nebak saja karena yang terus terang berani mengakui preferensi seksualnya sedikit. Mereka lebih baik menyembunyikannya daripada dikucilkan dan di-judge masyarakat. Their lives is hard already.

Pilihan bertobat akan dianggap lebih mudah JIKA homoseksual itu penyebabnya dari ikut-ikutan atau life style karena kita bisa mengubahnya. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kenapa seorang menjadi homoseksual, apakah gennya? Apakah pengaruh lingkungan sosial alias ikut-ikutan trend? Apakah trauma masa kecil? Belum ada satu faktor tertentu yang jadi penyebab utama homoseksual. Oleh karena itu sangat rumit, tidak semudah diminta untuk bertobat.

Jadi balik lagi ke apa yang dilakukan oleh Yesus tadi (untuk orang Kristen), bukan tugas kita menghakimi orang yang berdosa karena toh kita sama berdosanya. Tugas kita, Pak Pendeta, gereja adalah menerima, merangkul, dan membantu mereka dengan kasih. Yang mampu mengubah mereka cuma Tuhan saja, bukan manusia. Kembali lagi ke tujuan gereja, merangkul dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang berdosa dengan kasih. Siapapun itu, homoseksual atau bukan, berhak diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Seharusnya gereja menjadi tempat pertama yang memberi mereka perlindungan tanpa penghakiman. Karena kalau nggak, apa bedanya kita sama FPI yang fanatik dan sok jadi polisi moral itu karena merasa paling benar? πŸ™‚

 

Advertisements

7 thoughts on “Pak Pendeta dan Orang Gay

  1. HAHAHAHAHAHA couldn’t agree more to this post. Mengingat aku tinggal di Bali yang pergaulannya bebas banget, dan lebih terang2an drpd Jakarta, aku jd biasa aja sm mereka sih kak. Cukup tau aja, selama mereka gak ganggu aku ya gak masalah.
    😊

  2. setuju, asli gw antipati bgt kalau denger khotbah pendeta yang put gay on the corner, namanya orang lahir dengan kromosom berlebih, masa orang itu yang disalahin sih, pastinya kl boleh milih mereka jg maunya normal keleus ah..

    • Iya mbak fe. Namanya pun ga bisa milih ya. Kayaknya banyak yg msh mengira gay itu karena pengaruh lingkungan atau ikut2an deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s