Critical Eleven Yang Bikin Baper

critical-oke-360x360

Sungguh mereka berdua bikin baper loh!

Udah sejak lama saya suka karya-karyanya Ika Natassa, termasuk Critical Eleven. Kalau menurut saya, dibanding Antologi Rasa, Critical Eleven ini lebih sederhana, nggak terlalu ruwet, tapi kena di hati. Pertama kali saya baca, saya nangis. Kalau soal hamil dan melahirkan, udahlah sejak jadi ibu saya gampang tersentuh.

Begitu Critical Eleven mau difilmkan dengan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya, saya excited banget. Reza dan Asti ini chemistry-nya bagus banget di film Kapan Kawin. Makanya penasaran banget bagaimana mereka di filmnya.

Oh ya untuk sinopsisnya bisa di lihat di sini ya.

Tentu saja saking excited-nya harus nonton di hari pertama pemutarannya, dong. Dari awal saya memutuskan untuk nggak nonton sama suami karena….this is too cheesy for men. Pas nonton AADC sama suami, dia bilangnya bagus. Tapi ya itu, sepanjang film mukanya datar dan diam aja. Ku tak bisaaa! Kan pengen sama-sama ber-awwwww awwwww. Nontonin romantisan begini paling cocok sama teman cewek karena bakal bisa giggling, berbinar-binar, sama terharu bareng. Seru! Saya nonton sama 2 teman cewek, keduanya jomblo (siapa yang mau? Hahaha!).

Overall, I love the movie! Seperti yang sudah diperkirakan kekuatan film ini ada pada chemistry Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lihat akting mereka bisa bikin senyum-senyum karena bisa merasakan oh gini ya rasanya jatuh cinta. Mereka menggemaskan banget. Akhirnya perasaan penonton bisa terhubung dengan perasaan Ale dan Anya. They look sweet, adorable, and meant to be together. Buat saya hal paling penting dalam drama atau komedi romantis selain jalan cerita adalah chemistry. Kalau chemistry-nya dapet mau ceritanya sesederhana apa pun jadi bagus.

Kalau baca novelnya ada satu adegan yang bikin nangis, di filmnya ada beberapa adegan yang bikin nangis. Lagi-lagi, mungkin karena saya pernah hamil dan melahirkan jadi tema ini bisa jadi lebih sensitif buat saya.

Kekurangannya adalah durasi filmnya yang panjang banget, 2 jam lebih. Kepanjangan sih untuk film romcom. Saya merasa terutama kepanjangan di adegan New York, di mana too many sweet moments yang mau dipaparkan, tapi sebenarnya nggak perlu-perlu banget. We knew they were sweet. Tapi buat saya pribadi, saya nggak bermasalah dengan hal ini karena justru scene New York adalah scene favorit di seluruh film. Dan saya nggak nolak berlama-lama nontonin betapa cakepnya New York, sih. Mungkin buat orang lain, ini akan terlalu lama dan membosankan.

Justru karena adegan New York panjang banget, akhirnya adegan crucialnya jadi terlalu singkat. Misal, ini kenapa sih mereka tiba-tiba diam-diaman sejak momen melahirkan itu? Kalau baca novelnya sih nggak masalah ya, pasti paham. Tapi kalau nggak, mungkin jadi agak nggak ngerti ini kenapa sih? Lho kok gitu sih?

Fokus film ini emang di Ale dan Anya, sehingga tokoh lainnya jadi kurang penting kehadirannya. Seperti Harris Risjad ini sebenarnya perannya cukup penting lho. Hubungannya dengan Keara jadi favorit buat pembaca. Tapi di film, Harris dan Keara tiba-tiba udah ada di rumah keluarga Risjad dan kalau orang awam bingung ini udah nikah atau masih pacaran atau siapa sih ini 2 orang? Dan tokoh Donny alias Hamish Daud menurut saya kurang penting. Ada atau nggak ada dia nggak akan berpengaruh apapun sama Anya, sih. Jadi nggak paham kenapa butuh tambahan tokoh Donny, yang di buku nggak ada. Tapi saya maklum sih, film itu nggak bisa sedetil novel. Penggambaran emosi pun bergantung pada kemampuan akting aktornya.

Secara keseluruhan, saya suka film ini. Salah satu film adaptasi terbaik. Karena dibandingkan film adaptasi lainnya di film Indonesia yang seringnya gagal banget, film Critical Eleven ini mampu menyampaikan emosi dan cinta dengan baik. After effectnya adalah rasa hangat di hati. Yang paling penting adalah bikin baper banget, deh. Oh ya, alur cerita dan adegannya nggak sama persis novel dan itu bagus menurut saya karena jadi lebih tepat untuk produksi film.

Kalau disuruh nonton lagi ya tentu saja saya mau. Sebenarnya udah mau nonton lagi dan ajak suami. Lalu suami nanya, “Selain Critical Eleven, ada pilihan film lain nggak?” JIYAAAAAAH, ya kan maunya itu. :)))))

 

Advertisements

8 thoughts on “Critical Eleven Yang Bikin Baper

  1. Huaaa bapeeer ya? Jadi makin pengen nonton..walau Satu2nya alasan aku mau nonton CE adalah karena yang main Reza Rahadian…bcoz he never fail me deh kalau urusan akting.

    Aku justru suka CE dari cerpen (awalnya dari kumpulan cerpen di buku Autumn once more kan ya) pas udah jadi novel aku excited banget mau baca…tapi entah kenapa merasa ada yg kurang ( selera beda2 gpp ya naomi..hehe) jadi aku emang suka versi cerpennya..bikin penasaran. Dari semua karya Ika mungkin justru aku paling greget sama Antologi Rasa. Hihi pasangan favoritr ya Keara n hariss 😊

    • Dari semua karya Ika Natassa menurutku CE paling sederhana sih. Sama juga, favoritku Antologi Rasa. Jadi habis baca Antologi Rasa, trus baca CE jadinya tuh kayak oh gitu doang ya. Jauh lbh sederhana dibanding Antologi Rasa. Tapi mgkn jd paling mudah dibikin film ya (mudah tapi kok sampe New York πŸ˜‚πŸ˜‚). Pasangan favoritku jg Harris dan Keara. Suka bangetlah. Penasaran sama film ini krn Reza dan Asti. Di Kapan Kawin mereka oke banget.

      Ayo ditonton yuk. siapa tau baper bareng. 😜

  2. semua yang baca novelnya rata2 pada bilang bagus, berarti aku kudunya baca novelnya dulu dong ya baru nonton… soalnya karena pada bilang bagus, jadi ekspektasinya ketinggian, malah kecewa karena filmnya biasa aja… awal2 sih bagus, tapi setelah adegan melahirkan ampe ending jadi kayak bertele2 dan membosankan…

    • Tapi ini bener sih. Habis melahirkan sampai ending tuh cukup membosankan jg buat gue. Trus jadi sadar, eh ini film lama amat kok blm selesai?

  3. Aku baca novelnya aja udh baper bgt kak naomi hahahahaha mau nonton tp udah pasti suami ga bakal mau. Emang deh nontonnya hrs sm tmn2 cewe. Tp menurutku juga sih lbh seru antologi rasa yah. Cuma memang CE ini lbh related krn soal melahirkan sih tp buat film indo ginian 2 jam itungannya lama jg yaah hahahaha

  4. Setuju banget dengan pendapat scene New York terlalu panjang, sedangkan konflik cerita malah kependekan. Malah akhirnya kayak buru-buru diselesaikan masalahnya di akhir.

    Btw, kalo di novel aku Team Ale banget, soalnya Anya nyebelin di novel. Begitu nonton filmnya, gemes dan agak kzl sama Ale, malah lebih sayang sama Anya hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s