Senja di Monas

Hari libur kemarin kembali kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Monas lagi? IYA. Soalnya kemarin cuma baru sampai halaman Monas aja. Salahnya adalah kami datang jam 11 siang pas matahari lagi terik-teriknya. Nggak sanggup banget harus ke Monas jalan kaki di bawah terik matahari. Kayak kebakar, men! Padahal sebenarnya ada kereta yang bisa nganterin sampai ke tugu Monas. Tapi karena panas banget, semua orang mau naik kereta itu jadi antriannya panjang. Oke, next time aja.

Nah, kemarin kami berangkat sore. Sampai Monas jam 17.30. Udah adem, orang juga ternyata kalau sore banyak. Antriannya naik kereta juga nggak panjang karena banyak orang yang mau jalan kaki. Kan adem, ya.

Kami naik kereta ke tugu Monas, haltenya cuma 2, di pintu masuk IRTI dan di tugu Monas. Udah itu aja rutenya. Kaleb sih senang banget naik kereta walau cuma singkat. Sampai di tugu Monas, kami turun ke bawah tempat untuk pembelian tiket. Jadi tiketnya bisa milih mau sampai ke cawan atau ke puncak Monas. Bisa juga kalau mau dua-duanya pake tiket terusan. Masalahnya, tugu Monas itu ternyata nggak dibuka setiap saat. Pagi-siang dan sore-malam. Kalau malam jam bukanya pukup 19.00-22.00. Pantes pas kami ngantri kok ya nggak jalan-jalan antriannya. Ya karena loketnya belum buka. Itu masih jam 18.00. Oh ya, kalau malam pengunjung dibatasi sampai 700 orang saja. Siang kalau nggak salah 1000 orang. Jadi kalau kapasitasnya udah penuh, nggak akan dijual lagi tiketnya.

IMG_20170511_173157

Ngantri nungu masuk ke kereta wisata. Antriannya nggak terlalu panjang kalau sore.

Nah, karena nunggunya masih 1 jam lagi kami pikir kelamaan. Lain kali aja, deh. Kali ini jalan-jalan aja sekitar Monas. Ternyata di sekitarnya ada lapangan voli dan futsal (hm, atau basket juga kali, ya). Bisa dipakai gratis oleh siapapun. Lapangannya bagus dan memadai. Jadi banyak yang olahraga di sekitar sana. Kalau pun nggak dapat lapangan ya mereka main aja di halaman Monas, kayak main bulu tangkis, bola, dsb. Seru banget, lho. Kaleb bisa bebas puas lari-larian, main bola juga. Oh ya, Monas juga bersih banget dan saat itu orang taat banget sama peraturan. Nggak kelihatan yang injak-injak rumput atau buang sampah sembarang. Keren lah!

IMG_20170511_175429

Terima kasih Mas yang udah bantuin foto. Kami jadi punya foto bertiga.Β 

IMG_20170511_175727

Cantik ya Monas pas malam

Ada beberapa hal sih yang membekas kemarin. Kami kan kalau ke tempat begini nggak pernah foto bertiga, ya. Nggak punya tongsis juga, sis! Pengen minta bantuan orang buat fotoin, tapi saya selalu takut ntar malah HP saya dibawa kabur. Oke, saya mulai jadi orang yang parnoan, sih. Tapi kemudian suami saya minta orang yang lewat buat fotoin. Mana 2 orang itu anak muda cowok. Duh, saya mulai mikir aneh-aneh, deh. Tapi 2 orang ini malah baik banget. Dia fotoin kami, malah ngarahin gaya kami, dan memastikan fotonya pas. Ajak ngobrol Kaleb pula. Β Duh, kok ya baik banget, ya.

Kejadian kedua, adalah pas lagi nonton orang main futsal. Di pinggir-pinggirnya juga banyak orang yang main bola. Orangnya udah pada gede-gede, nggak ada yang anak kecil. Kaleb nonton aja, walau dia kepengen tapi ya nggak berani ambil bola orang lain.

Lalu ada cowok masih muda dan teman-temannya yang lagi main bola tiba-tiba pinjemin bolanya ke Kaleb. Bukan cuma pinjemin, dia ajak Kaleb main bola. Bahkan ketika orang-orang yang main bola selesai dan lapangannya kosong, dia ajak Kaleb main ke lapangan ajarin jadi kiper dan menendang bola. Kaleb bahagia banget!

Cuma kejadian-kejadian kecil, ya. Tapi di saat situasi kayak gini, di mana sebenarnya saya mulai apatis ada orang baik. Bawaannya parno aja sama orang. Perasaannya nggak ada deh orang yang benar-benar tulus. Tapi ternyata masih ada. Masih banyak orang baik, masih banyak yang tulus. Saat itu juga saya menitikkan air mata. Saya mikir, Indonesia tuh nggak sekecil orang-orang demo kasar di jalanan. Indonesia tuh besar, yang baik tuh banyak. Cuma yang banyak itu nggak banyak disorot. Di saat keadaan kayak gini saya jadi merasa bisa menghargai kebaikan orang sekecil apapun. Ketika mereka baik tanpa nanya elo agamanya apa, sukunya apa, pilihannya siapa.

Lalu saya melihat ke sekeliling, Monas jadi bagus dan menyenangkan kayak gini. Benar-benar tempat yang enak banget lah buat kumpul, main, olahraga, jalan-jalan. Teratur dan bersih. Yang bikin Ahok. Yang bikin lagi di penjara. Penjara yang mungkin sempit, sementara kami di luar menikmati hasil kerjanya. Lagi-lagi saya nangis. Di Monas. Mamak emang jadi baperan banget sekarang. Sedihnya ampun-ampunan. Ini kayak ditinggalin mantan, tapi peninggalannya ada di mana-mana, tiap hari dirasain. Gimana bisa lupain?

Apalagi habis itu kami nyeberang ke Balai Kota. Banyak orang berkumpul, nyalain lilin sambil nyanyi lagu-lagu kebangsaan, berusaha kumpulin KTP untuk bisa menjamin penangguhan penahanan Ahok. Banyak yang nangis di sana, pelukan, sedih bersama.

Kemudian saya sadar. Yang jahat dan pengen hancurin Indonesia itu cuma segelintir orang. Tapi segelintir orang itu yang diekspos terus-terusan dan akhirnya meluas. Padahal banyak yang masih sayang sama Indonesia. Masih banyak yang berjuang untuk persatuan dan mereka mulai bicara dan bangkit. Banyak yang akhirnya tergerak untuk bergerak, karena Ahok telah memulainya. Kita nggak pengen perjuangannya, sampai harus masuk ke penjara, sia-sia begitu saja. Karena Indonesia itu penuh harapan, kok.

Semoga kita tumbuh menjadi bangsa yang penuh cinta, bukan apatis, apalagi radikal. πŸ™‚

 

Advertisements

6 thoughts on “Senja di Monas

  1. ga ada yang buang sampah sembarangan? kemajuan banget… waktu kapan itu aku ke monas sama mertua dan ipar siang2, ada yang piknik gelar tiket, dan pada buang sampah sembarangan… jadi pengen ke monas juga nih sore2… waktu itu siang panas bener hahahaha…

    • Di dalam area Monas sih nggak ada sampah, tapi di luarnya banyak yg buang sampah sembarangan, terutama yang lg ngantri city tour. Hiks sedih deh blm disiplin.

  2. Kok jd sedih lg baca postingan mu ya naomi hahhaha
    Duhh semoga semuany ttp teratur dan terawat ya wlpn yg empu punya pekerjaan lg di penjara,…setidakny orang2 mulai sadar dan mencintai fasilitas umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s