Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

19 April 2017.

It was the most emotional election for me. I was (I am still) broken heart.

I will put it here what I’ve been feeling. You might not understand, especially if you support Anies-Sandi. But let me tell you from my side.

Saya adalah salah satu orang yang mendukung Anies Baswedan ketika ia menjadi juru bicara kampanye Jokowi saat mencalonkan diri jadi presiden. Slogan “turun tangan”nya bikin saya bergerak untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Perubahan yang lebih baik katanya. Saya sering menghadiri diskusi yang ada Anies. Sungguh, saya kagum banget sama cara berpikirnya dan tutur katanya. Luar biasa. Saya bahkan sempat foto bareng dengan dia.

Ketika Jokowi mengumumkan kabinetnya dan Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saya bersorak gembira karena Anies mendapatkan posisi yang tepat. Pendidikan adalah dasar negara, harus dimulai dari orang yang paham benar soal pendidikan, dan orang itu Anies Baswedan.

Betapa terkejutnya saya karena sebelum 2 tahun kinerjanya, Jokowi memberhentikan Anies sebagai Mendikbud; dicukupkan kalau kata Anies. Saya pikir waktu itu, ini Jokowi kenapa, sih? Anies kan keren, hebat, paling cocok. Nggak pernah ada yang tahu alasannya, selain mengira-ngira. Pokoknya menurut Jokowi, kinerja Anies buruk.

Ketika Anies mencalonkan diri menjagi cagub Jakarta, saya mulai bingung. Saya suka Anies, tapi merasa cagub bukanlah posisi yang pas. Tapi toh saya berpikir, dia orang baik. Siapapun pemenang gubernur nanti, Jakarta akan mendapatkan orang yang baik.

And I was so wrong. He failed me.

Pilkada ini ribut dengan isu agama dan ras. Betapa pusingnya saya setiap berangkat dan pulang kantor, saya harus lihat spanduk besar bertuliskan, “Ganyang Cina, Bunuh kafir!”, “FPI mendukung Anies-Sandi”, dan banyak spanduk provokasi lainnya. Belum sampai di situ saja, Anies mendobrak dengan datang ke markas FPI, bertemu Rizieq Shihab dan memuji-muji (oke, sebenarnya menjilat) Rizieq. Padahal kita semua tahu Rizieq dan FPI adalah salah satu kelompok radikal yang mampu memecah belah bangsa ini. Anies merangkulnya.

Saya sedih, kecewa, dan merasa tertipu. Apakah ini Anies yang sama dengan orang yang saya kagumi dulu?

Everything didn’t get better from there. Anies cuma diam ketika isu agama menguntungkannya. Dia tidak meredam, mengecam, orang-orang yang mengintimidasi pihak yang lain. Spanduk-spanduk intimidasi makin banyak, masjid-masjid selalu khotbah mengenai harus memilih pemimpin muslim, menolak menyolatkan jenazah yang memilih Ahok, mengatai orang-orang kafir, dan selalu bertanya, “Apa agamamu?”. Anies diam. Dia diuntungkan.

Bukan cuma itu aja, Anies mulai tidak konsisten dengan ucapannya dulu. Dia mulai nyinyir kepada Ahok, dan tidak memberi solusi atas semua masalah Jakarta. Intinya semua bisa diselesaikan dengan bahasa yang santun, keberpihakan, dan OK OCE. Saya nggak paham program mereka.

Sebagai minoritas, isu agama sungguh sangat menakutkan bagi kami. Dari kecil saya terbiasa mendengar orang tua saya bercerita bahwa mereka nggak bisa naik pangkat karena agama mereka. Karena mereka bukan Islam. Mau sebagus apapun performa mereka, tapi mencapai jabatan tertinggi itu sulit. Bukan Islam katanya. Mayoritas mungkin nggak paham ini, tapi kami sungguh paham. Kami sudah terbiasa dinomor duakan karena agama kami berbeda.

Isu agama dan ras pun yang berhembus kencang saat kerusuhan 1998. Ayah saya hampir nggak bisa pulang dari kantor dan terpaksa meninggalkan mobilnya begitu saja, harus jalan dari Sudirman ke Meruya, karena mobilnya mau dibakar. Ia ditanyai apakah kamu pribumi? Agamamu apa? Ayah saya hampir meninggal cuma karena agamanya. Sedih, ya. Kami, minoritas, merasakan sakitnya seperti ini.

Tapi saya pikir Indonesia akan lebih baik. Saya orang paling skeptis sama Indonesia. Dulu saat pemilihan cagub antara Foke dan Adang Darajatun, kami sekeluarga tidak mendapatkan kartu pemilih. Dihilangkan begitu saja. Reaksi kami sekeluarga, bodo amat. Nggak berusaha protes, nggak berusaha mengurus. Karena dalam pikiran kami, siapapun yang menang Jakarta akan tetap sama, nggak berubah, nggak ngefek ke kehidupan kami. Pesimis, nggak punya harapan.

Bahkan saat Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub, saya nggak memilih mereka di putaran pertama. Bahkan reputasi mereka yang bagus aja, saya nggak yakin sama mereka. Masa sih beneran ada orang baik di negara ini? Cih, palsu! Paling supaya menang aja, tuh! I was that skeptical. Di putaran kedua akhirnya saya pilih Jokowi-Ahok bukan juga karena saya suka mereka, tapi karena saya nggak pengen lawannya menang yang entah siapa itu dan kayaknya lebih busuk dengan sederetan kasusnya.

But they proved me wrong. Jokowi dan Ahok langsung bekerja cepat, memberantas korupsi, membenarkan birokrasi, mempercantik Jakarta, menangani banjir, membangun infrastruktur. Bukan cuma dengar kata orang aja, tapi saya merasakannya. RPTRA di dekat rumah adalah tempat bermain favorit Kaleb, perpustakaannya lengkap dengan buku-buku baru yang bikin saya hobi ke sana nemenin Kaleb main, trotoar di dekat rumah diperbesar, jalanan diperluas sehingga akses ke rumah berkurang macetnya. Buat ibu-ibu kayak saya, ini penting karena berarti saya bisa lebih cepat pulang bertemu anak, kualitas hidup meningkat. Ahok membuka banyak line untuk pengaduan. Saya suka banget pake aplikasi Qlue karena saya gampang ngadunya dan mereka beneran mengerjakan, plus dikirimin bukti foto hasil kerja mereka. Ahok served me right. Saya merasa terkoneksi dengan gubernur. Kok gampang ya sekarang ngadu ini-itu? Kok saya merasa didengarkan, ya? Kok saya merasa diperhatikan, ya? Percayalah, setelah hidup individualis dan nggak merasa diperhatikan oleh pemerintah dari lahir, Ahok membuktikan hal yang berbeda.

Saya mulai sayang dengan gubernur saya. Saya merasa memiliki Jakarta. Saya mulai punya harapan untuk bangsa ini. Masih banyak ternyata orang baik yang cinta Indonesia. Masih banyak ternyata orang yang nggak haus kekayaan. Masih ada ternyata pemimpin yang cinta saya. Saya yang sebelumnya skeptis belajar untuk cinta bangsa ini dan mau berbuat sesuatu.

Tapi sungguh 19 April 2017 adalah hari paling emosional buat saya. Saya patah hati untuk Jakarta. Ternyata sebagian besar warga Jakarta lebih percaya isu agama daripada logika. Terserah kalian mau beropini apa, tapi kenyataan (dan survey publik) berkata demikian. Gubernur dipilih berdasarkan agamanya. Kelompok radikal merasa punya hak berkuasa dan mengintimidasi lagi. Kami yang minoritas, mulai dibayang-bayangi tindakan diskriminasi, disebut kafir, dan tidak sama haknya di Jakarta. Bukan Ahok yang kalah kemarin, tapi kami warga Jakarta yang kalah. Kalah oleh rasa takut. Dan jujur, saya takut.

Ketika quick count mulai menunjukkan Ahok kalah, saya sedang menyuapi Kaleb. Saya langsung peluk dia dan bilang, “Maaf Nak, kamu harus bekerja lebih keras lagi di negara ini. Karena yang pertama kali orang lihat adalah agamamu, bukan kemampuanmu.” Saya nangis karena saya nggak bisa kasih kehidupan dan kesempatan yang lebih baik untuk anak saya. Kamu akan dinilai berdasarkan agamamu. Dan itu kenyataannya.

Saya patah hati. Ternyata saya begitu cinta Indonesia sampai saya merasa begitu sakit hati. Saya kira saya akan hidup menjadi lebih baik, tapi sungguh ternyata saya salah. Koruptor, kelompok radikal masih menjadi raja di negara ini. Logika dan akal sehat masih dikesampingkan. Nggak papa, yang penting seagama dan santun. Sedih.

Bukan, saya nggak lebay. Tapi itu yang saya rasakan. Mayoritas mungkin nggak tahu rasanya karena kalian dapat priviledge di negara ini. Kami, harus sekali lagi menerima kenyataan bahwa kami warga kelas dua, tidak berhak banyak di negara ini.

Ini bukan soal kampanye 2 calon gubernur dengan program-programnya. Mungkin kalau mereka debat program, saya akan dengan senang hati menerima siapapun yang menang. Ini soal kebinekaan, kemajemukan, dan keberagaman yang diperjuangkan. Dan mungkin saat ini Jakarta, atau Indonesia, harus mundur lagi. Kami kalah oleh kebencian saudara kami sendiri.

Harapan saya saat ini, semoga Anies dan Sandi membuktikan bahwa saya salah. Bahwa mereka akan kembali menenun tenun kebangsaan, bahwa hak kami dijamin, dan bahwa apapun agama dan ras kami tidak akan diintimidasi. Kami punya hak yang sama di negara ini. Tolong, buktikan saya salah, Pak.

Kepada Pak Ahok dan Djarot, terima kasih untuk pengabdiannya, terima kasih untuk sudah melawan koruptor yang menggerogoti Jakarta, terima kasih sudah begitu sayang sama bangsa ini. Terima kasih sudah membuat saya berubah dan yakin bahwa kami punya anak bangsa yang baik. Terima kasih sudah begitu luar biasa. Tapi maaf Pak, kami tampaknya masih belum siap mempunyai gubernur sebaik Bapak. We don’t deserve you. Mungkin nanti, mungkin lain kali. It will be the hardest 6 months for me to let you go. Tapi saya berharap, Bapak tetap bekerja untuk Indonesia, tetap berjuang untuk kami karena Bapak sudah memberi harapan untuk kami semua. Jangan menyerah, Pak!

Terima kasih untuk 5 tahun terbaik dalam hidup saya tinggal di Jakarta. Tuhan berkati Pak Ahok dan Pak Djarot. Indonesia masih butuh Bapak berdua. Selamat berjuang kembali, di mana pun kalian berada. We love you, Pak! :’)

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Jakarta Doesn’t Deserve Ahok

  1. Tulisan lo sangat menggambarkan apa yg gw rasain. Gw juga ikutan nangis baca postingan ini. Bener, ini bukan masalah ahok kalah, tp gw menangisi kenyataan kalo ternyata isu SARA masih sangat ampuh disini, dan segala upaya memecah belah dan penyebaran kebencian berhasil. Gw sedih ngeliat kenyataan seperti apa mayoritas penduduk jakarta. Benar, mngkn emang jakarta doesnt deserve ahok.

  2. sebagai bukan pemegang KTP Jakarta tetep aja gw berharap ada miracle waktu penghitungan suara, tapi yaudahlah.. sekarang cuma berharap Anies konsisten nerusin program program bagus yang sudah jalan, dan bisa ‘melindungi’ semua warganya.
    Dan cukup yakin kalo Ahok gak akan disia-sia, pasti udah ada rencana selanjutnya buat beliau. amin yaa..

  3. Gw nangis baca postingan lo Naomi.. Gw gak pernah sesedih ini soal pilkada.. Gw jg bersyukur tinggal dilingkungan yg mayoritas muslim tapi gak pernah sekalipun mereka ngejelek-jelekin agama manapun dan semua nangis waktu Ahok kalah.. Spanduk yg isinya sara mereka copot2 semua, coba semua warga Jakarta kaya orang2 didaerah tmpt tinggal gw.. Semoga Anies n Sandi nanti bisa ngelunasin janji2nya

  4. Biar sy bukan warga jakarta, saya juga sedih.takut. indonesia gimana kedepannya.tapi kembali lagi,semua terjadi atas izin Tuhan dan Dia tdk akan tinggalin anak-anakNya. Itu yg saya percaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s