Jangan Jadi Ibu Lebay

Di sekolah minggu kemarin, seperti biasa Kaleb saya biarin main-main dan saya nunggu di pinggir kelas. Kaleb senang keramaian, curious, tapi nggak ganggu orang. Dia bukan orang yang suka pukul-pukul, apalagi ke orang yang nggak dikenal, kecuali diajarin dan dilihat. Misal dia lihat ada orang dorong-dorongan dan orang yang didorong ketawa. Nah, dia akan nganggap dorong-dorongan itu nggak papa dan wajar. Kecuali kalau pas didorong nangis atau marah, dia nggak akan mencontoh. Yah, intinya Kaleb lagi di tahap modelling.

Kemarin Kaleb lagi main sama anak perempuan yang kalau dideketin dikit, ekspresinya lebay. Anak ini udah lebih besar, sekitar umur 3 tahun. Lebay dalam arti kalau didekatin, jerit-jerit. L E B A Y ! Kaleb kalau ada yang ekspresinya lebay, justru makin dia deketin karena ya dia penasaran dan menganggap itu hal yang positif. Jadi dia deketin, anak itu jerit-jerit, Kaleb lari jauhin sambil ketawa senang, anak itu diam. Lalu, berulang lagi siklusnya. Yah, tipikal anak lagi main-main. Saya nggak intervensi, karena nggak ada yang membahayakan.

Sampai hal itu beberapa kali berulang, ibu si anak langsung ngambil anaknya dan dicup-cup, seakan-akan anaknya diapain. Oh, kemudian saya sadar, pantesan lah anaknya lebay, ibunya tipe overprotektif, jadi reaksi anaknya berlebihan dan penakut juga. Oke sip. Kaleb pun kembali ke saya dan main-main biasa lagi, alias lari-larian.

Anak itu pun udah dilepas dari ibunya, Kaleb yang ngelewatin anak itu malah didekatin anak itu sambil ketawa-ketawa dan diajak main kayak tadi lagi. Jadi, sebenarnya anak itu menikmati permainan didekatin, lalu dia jerit-jerit, dan kemudian dapat perhatian. Ya udah balik deh mereka main kayak tadi lagi, si anak nggak jerit-jerit tapi ketawa. Lalu mereka salaman, dan pelukan. Kaleb tipikal yang kalau peluk, artinya sayang. Jadi dia mau sayang elus-elus rambut anak itu. Di rumah diajarinnya kalau sayang, dielus rambutnya, kan. Karena si ibu lebay, DIKIRANYA Kaleb mau nyentuh matanya. Jadi Kaleb DIMARAHIN, “Jangan pegang-pegang mata, ya! Nggak baik!”

EH BUSET!

Saya yang ada di pojok ruangan memperhatikan nggak intervensi, sih. Saya pengen tahu gimana reaksi Kaleb meng-handle hal semacam itu. Would he cry, run to me, or else? Kaleb ternyata diam (saya nggak bisa lihat wajahnya sih, karena membelakangi saya), tidak bereaksi, dan ketika ia menoleh, ia tersenyum lebar. No baper. Main lagi kayak biasa. Top!

Saya tetap menasehati Kaleb sih, bilang nggak semua suka untuk dielus-elus, terutama kalau nggak dikenal, jadi mendingan nggak usah main sama anak itu, main sama yang lain aja. Kalau Kaleb sudah mampu berpikir kompleks sih pengen bilang, “Ibunya nggak asik, mendingan nggak usah main sama dia, deh!”

Gini lho ibu-ibu, I know how much you LOVE your kids. I surely KNOW that feeling. Kalau bisa jangan sampai anak kita merasakan sakit sedikitpun, nyamuk aja nggak boleh gigit, dan harus selalu HAPPY. But that’s not how the world goes. Sometimes they feel sad, sometimes they’re disappointed, sometimes they’re angry, sometimes they worry. Pada akhirnya mereka harus mengalami dan merasakan apa sih emosi negatif itu. Pengalaman-pengalaman hidupnya tidak akan selalu membahagiakan dan berjalan seperti rencananya. Dia tidak akan selalu diselamatkan atau dikabulkan permintaannya oleh orang-orang sekelilingnya. Let them experience it and handle the problems.

Sakit hati nggak Kaleb dimarahin gitu? SAKIT HATI BANGET lah. Gilingan, anaknya happy kok main sama Kaleb, dia yang ngajak main lagi. Kok anak gue pas lagi mau sayang, malah diomelin? Gilingan! Tapi ya, walau marah, kesal, sakit hati, tapi saya nggak mau apa-apa terlalu membela dan melindungi Kaleb. Kaleb juga harus belajar, yah ada orang yang nggak suka dia peluk. Ya udah terima aja kalau dia dimarahin. Walau menurut saya caranya nggak oke ya. Pertama, dia nggak kenal Kaleb. Kedua, nada marahnya tinggi. Well, siapa elo marahin anak gue semena-mena? HAH! Kalau perlu, yuk kita gulat-gulatan berantem, daripada dia marahin Kaleb. Tapi itu kan nggak mendidik. Saya juga perlu tahu Kaleb bisa nggak mengatasi hal tersebut. Kemampuan problem solving itu penting, lho. Ternyata he did a great job. So I don’t have to worry much. *tapi tetap bilang ke suami, lihat aja nih nanti pas sekolah minggu selesai, I’ll talk to her! Tapi nggak kejadian karena saya pulang duluan, Kaleb cranky karena nggak enak badan*

Being a mother means sometimes you have to step back so your kids will step forward. Anakmu bukan yang selalu paling hebat dan nggak bisa salah sehingga hal-hal di sekitarnya yang harus selalu disalahkan melulu. Jadi ibu yang realistis, yuk. πŸ™‚

Have a happy Monday!

 

Advertisements

10 thoughts on “Jangan Jadi Ibu Lebay

  1. Ah Kaleb.. tante kasih jempol yaaa.. tante tampar virtual tante yang marahin kamu itu. Gemes bacanya πŸ˜… Gak etis lhoo.. marahin anak orang apalagi gak kenal dan masalahnya jg kan gak pukul2. Lain cerita kalo pukul2 ya, tetep menurut gua yg perlu ditegur ortunya lah.

  2. wah Kaleb lebih dewasa dari ibu2 lebay ituhh yaaa… πŸ˜€ emotion controlnya oke banget.. saya hrs belajar selow kaya Kaleb nih.. hehehe.. btw salam kenal mama Kaleb.. πŸ˜€

    • Hahahaha Kaleb untung selow, atau jangan-jangan nggak peduli diomelin orang. Hihihi. Salam kenal Maisie. Terima kasih sudah berkunjung. πŸ™‚

    • Kalau aku selalu ajarin anakku untuk stand up for himself dan berani. Selain itu kalau udah dijailin lgs lapor ke guru atau orangtuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s