Jalanku Bukan Jalanmu

Terserah lah kalau mau main di genangan 😑


Sebagai orang tua, pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Kalau bisa anaknya selalu bahagia, nggak susah, kaya raya, dan sehat selalu. Pokoknya semua hal yang baik, deh. Karena orang tua hidupnya sudah lebih lama juga, jadi merasa lebih tahu cara menuju kesuksesan. Sayangnya, nggak selalu jalan hidup orang tua sesuai dengan jalan hidup anak.

Untuk hal-hal yang besar, saya bersyukur orang tua nggak pernah maksa. Ngarahin iya, ngarep-ngarepin iya, maksain kriteria orang tua ke saya juga iya, tapi selalu akhirnya saya yang harus memutuskan. Kalau kata orang tua saya, kalau saya nyesel ya tanggung jawab ada di saya, bukan nyalahin orang lain. :))) Oh oke, deh.

Begitu pun juga ke Kaleb. Sedari kecil berusaha supaya membebaskan dan nggak terlalu maksa ke Kaleb. Kayak misalnya sekarang Kaleb udah bisa milih mainan. Kalau ke toko mainan dia udah bisa bilang, “Mami, beli!” atau “Papa, bayar!” sembari mengantarkan mainannya ke kasir. Dia tahu mainan di toko nggak bisa diambil begitu saja harus dibeli dan dibayar pake uang.

Kalau di toko mainan, Kaleb udah mulai bisa milih mainan mana yang dia mau. Kadang-kadang pilihan dia bikin saya pengen bilang, “Euh, warnanya norak!” atau “Doh, itu kan jelek banget bentuknya!”. Tapi ya saya diam aja, sih. Paling maksimal yang bisa saya lakukan untuk menggoyahkan pilihannya adalah, “Bener mau yang ini? Nggak mau yang itu? Yang itu warnanya bagus, lho. Eh, besar nih, bisa dibawa main ke taman.” Selanjutnya Kaleb biasanya akan melipir ke mainan yang saya tunjuk, terkadang dia setuju, lebih banyak dia pilih yang lain lagi. Kadang-kadang saya menang, kadang-kadang harus pasrah lihat Kaleb pilih mainan yang norak. :)))

Pernah saya kesengsem banget sama mainan kompor-komporan, lengkap dengan panci, gorengan, dll. Gemes pengen punya karena waktu kecil saya nggak punya. Huhu! Waktu itu ketemu warnanya biru, pas buat cowok. Cowok kan boleh main masak-masakan, ya, biar bisa jadi chef (anyway, saya nggak pernah membatasi Kaleb harus main mainan cewek atau mainan cowok. Dia main boneka boleh, main pistol oke, main masak-masak silahkan, main truk gpp). Bujuk Kaleb beli mainan kompor-komporan, anaknya nggak tertarik, malah lihat gitar-gitaran. Ah, mungkin anaknya belum paham. Padahal kan dia suka gratakan di dapur lihat mamanya masak, pasti dia suka. Jadi saya memutuskan untuk tetap beli. Nanti kalau udah dirakit mainannya, nanti dia paham dan pasti suka. Yes!

Sampai di rumah, dirakit, Kaleb emang main lah itu kompor-komporan. Saya senang, dong. Tuh kan, emang waktu itu dia belum paham aja. Eh, tapi dia hanya bertahan main kompor-komporin 2-3 hari aja. Habis itu hampir nggak pernah disentuh, atau kalaupun disentuh cuma untuk dengerin bunyi kompornya. Jiyaaah. Gagal maning!

Makanya saya pikir, ya udah lah nggak usah maksain beli mainan yang nggak disuka lagi. Biarkan Kaleb memilih biar kalau beli mainan, mainannya awet dimainanin terus, nggak dianggurin. Biar dia juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusannya, biar nggak berat hati menjalankan keputusannya, dan tetap bahagia dengan caranya. Ish, dalem banget, ya. :)))

Saya pernah bilang ke suami saya, Kaleb boleh menjadi apapun yang dia mau kalau besar, selama itu positif. Hidup dengan doktrin harus jadi jemaat di suatu gereja, padahal hati saya sama sekali nggak pernah ada di situ (dan lumayan menyiksa karena akhirnya tiap datang ke gereja itu saya ribet harus pake baju apa, cukup oke nggak nih, udah pernah dipake sebelumnya nggak –> akibat doktrin Mama yang bilang kalau ke gereja itu harus rapi maksimal. Kalau bajunya udah pernah dipake, nggak boleh dipake dalam waktu dekat). Akibatnya saya datang sibuk dengan penampilan, di gereja ngomongin penampilan orang, dan pas khotbah ngantuk (bangun kepagian, sibuk ngeblow rambut, dandan caem). Lyfe! :)) Sampai sekarang saya pun nggak punya keberanian untuk bilang, “Saya mau keluar dari jemaat itu, dong!” Takut dirajam keluarga, bok! :)))) Padahal tiap minggu bergereja di gereja lain, hanya datang ke gereja saya tiap hari raya besar aja.

Makanya, saya nggak mau Kaleb berbeban hati kayak saya. Kalau dia sudah bisa memilih nanti, dia boleh bergereja di mana saja. Termasuk di gereja saya sekarang. Yah, kalau dia hatinya di situ ya tentu boleh. Supaya hatinya riang ketika beribadah.

Pilihan-pilihan yang kita pikir benar dan paling baik untuk anak kita, kadang-kadang justru memberatkan anak kita. Mungkin tugas orang tua itu membimbing, bukan memilihkan jalan hidupnya. Anak mungkin akan jatuh, kesasar, dan tugas orang tua adalah membimbing ke jalan yang benar. Tapi pilihan kembali ke tangan anak, karena toh akhirnya dia yang akan menjalani. Susah banget pasti. Kan serasanya kita sebagai orang tua yang paling tahu (lah wong, kalau Kaleb pilih mainan jelek aja saya suka pengen arahin ke mainan yang saya anggap bagusan). Tapi tanyain ke diri sendiri dulu, ini demi ego kita atau demi anak kita? πŸ™‚

 

 

PS: tulisan ini terinspirasi dari mas AHY yang terpaksa keluar dari militer demi ambisi SBY. Semangat terus mas AHY, semoga menemukan jalan yang pas di hati, ya. πŸ™‚

 

Advertisements

One thought on “Jalanku Bukan Jalanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s