Natal di Bandung (2)

Lanjut lagi, ya. Saya sebenarnya nggak terlalu ngincer tempat ngopi di Bandung atau tempat yang lagi ngetrend lainnya karena bawa bocil. Ngopi-ngopi sambil bawa bocil super aktif? Yang ada mejanya berantakan karena dia bosan liatin kita ngopi. Maka dari itu skip lah semua yang lagi ngetrend.

Cafe d’Pakar
Sebelum liburan suami bilang pengen ke Tebing Keraton karena pemandangannya yang bagus. Tapi saya tolak mentah-mentah karena bawa Kaleb, rempong banget harus ke lembah, gunung, bukit. Takut nyusruk jatuh.

Tapi pagi itu kita clueless mau ke mana. Jadi iseng-iseng coba deh ke Cafe d’Pakar, toh nggak jauh juga. Ternyata Cafe d’Pakar ini satu area sama Tebing Keraton. Suami bersemangat lagi deh mau ke Tebing Keraton. Yuk ah, daripada penasaran, kan.

Jalan ke sana naik tinggi dan berbatu. Kurang nyaman, sih. Malah ada mobil yang akhirnya mogok karena nggak kuat nanjak. Sampai di ujung, kami harus parkir mobil dan melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton pake ojek. Bayarnya @Rp 50.000 bolak balik (sekitar 3 km). Ish, mahal gilak! Nggak mau ditawar pula.

Saya udah bilang ke suami dia aja yang pergi kalau penasaran karena kalau kami semua ikut, ya berarti pake 2 ojek, Rp 100.000. Kurang rela ya, bok! Plus, ada anak kecil pula, kayaknya cukup bahaya, deh. Tapi akhirnya suami nggak mau pergi sendiri, sekaligus nggak rela juga. Hahaha.

Akhirnya kami turun sedikit ke Cafe d’Pakar. Seperti yang sudah diperkirakan, masuk ke sana waiting list. Doh, padahal kan udah lapar, ya. Tapi ternyata yang paling panjang waiting list-nya yang mau duduk di outdoor. Kalau mau duduk di indoor, cuma 1 orang lagi. Tentu saja kami pilih di indoor, karena konturnya yang berbukit dan berlembah, cukup bahaya buat anak kecil nggak bisa diam duduk di tepian lembah. Lagian lumayan panas nggak ada atap, dan sebenarnya bisa aja makan indoor, baru pas foto-foto outdoor. Solusi aman banget.

Makanannya sendiri ada minimal order Rp 25.ooo per orang. Nggak mahal, sih. Tapi makanannya ya cemilan-cemilan standar yang rasanya standar pulak! Nggak ngenyangin banget. Jadi setalah makan, foto-foto, lihat pemandangan sebentar, kami pun cus pergi cari tempat makan beneran.

Kalau disuruh balik lagi sih no no lah. Soalnya tempatnya bagus, tapi makanannya biasa aja, jalan ke sananya ribet. Tipikal tempat hipster lah. Hahaha.

img_7921

Keluar numpang foto doang. Dilihat dari tempat duduknya, bahaya banget kan buat anak kicik super aktif.

img_7925

img_7935

Warung Lela (Wale)
Ini tempat wajib banget harus didatangin kalau ke Bandung karena mie yaminnya yang endeus. Saya nggak pernah skip ke tempat ini kalau ke Bandung. Apalagi habis dari Cafe d’Pakar yang nggak nendang makanannya, butuh asupan lagi, kan. Haha.

Senangnya menu makanan di sini udah nambah. Nggak cuma melulu mie ayam. Ada sop ayam dan nasi yang pas banget buat Kaleb. Duh, mamak happy lah. Tadinya mikir mau kasih Kaleb mie ayam aja, tapi kurang sehat ya karena itu kan karbo semua (MAMAK, INI LAGI LIBURAN KELEUS! –> mungkin begitu pikir Kaleb. Hahaha). Makanya nasi sup ayam ini penyelamat banget. Kaleb pun suka banget sampai habis makannya. Sedap!

Sayangnya, walau tempatnya sudah diperluas, tapi tetap nggak ada baby chair. Duh, ribet banget lah kalau bawa anak kecil yang lagi aktif-aktifnya dan nggak bisa diam kayak Kaleb. Huhuhu. Semoga semua restoran mempertimbangkan adanya baby chair. Nggak perlu yang artistik atau mahal (pernah ada yang baby chair kayu keren banget, tapi pas dipake anaknya gampang merosot), cukup baby chair murahan beli di IKEA atau informa yang pas banget buat makan. Meringankan beban stres saat kasih makan di luar. Hahaha.

Naik kuda di ITB
Sebenarnya nggak kepikiran naik kuda, tapi kebetulan lewat ITB. Eh, trus sadar Kaleb belum pernah punya pengalaman naik kuda. Waktu kecil, saya sering banget liburan ke Puncak dan pasti naik kuda. Rasanya menyenangkan, sampai suatu ketika pas lagi naik kuda di tanjakan, kudanya berdiri. MATEK! Ya ada abangnya yang megangin, sih. Tapi cukup bikin saya trauma karena saya hampir jatuh. Habis itu saya nggak mau naik kuda lagi.

Tapi kan saya nggak pengen Kaleb begitu, ya. Apalagi Kaleb suka banget sama hewan. Jadi saya tanya Kaleb, mau naik kuda nggak? Dia sih jawabnya nggak. Dih, mamak kan jadi tertantang untuk bikin dia suka naik kuda (mamak suka maksa deh, ih!). Jangan menyerah sebelum coba. #prinsip

Kami pun parkir dan langsung didatangi sama abang kuda. Tadinya dia kasih harga Rp 40.000 sekali putaran, ditawar jadi Rp 30.000. Sip! Bapaknya lah yang nemenin naik kuda, saya kan penakut. Hahaha.

Kaleb tampak senang, ketawa-ketawa, dan malah nagih. Pas putarannya selesai, dia malah nggak mau turun! Lalu dia minta saya yang nemenin naik kuda. OH NOOOOO! Demi banget ngajarin anak suka kuda, saya pun menepis ketakutan naik kuda. Pas di atas kuda, takutnya minta ampun! Keringat dingin, jantung berdebar, takut jatuh, mau nangis. Saya sampai ngomong terus ke abangnya, “Bang, ini nggak ada pengaman lain? Bang, saya takut! Ini bakal jatuh nggak, sih? Jangan lari kudanya, bang!” Saking takutnya baru beberapa langkah, saya udah merengek ke abang kuda minta turun biar digantiin Papanya aja. Hahaha, CEMEN! Tapi abangnya menyemangati bahwa semua aman. Akhirnya dikuat-kuatinlah demi anak banget nih, bok! Saya minta ke abangnya putarannya nggak jauh-jauh, yang dekat aja. Nggak sanggup.

Setelah selesai, abangnya nagih Rp 90.000 karena menurutnya kami naik 3 putaran. APAAAA! *zoom in, zoom out*. Jadi abangnya rese dan kayaknya modus nipu abang kuda tuh begini. Pas ada di belokan, dia nanya sama suami, “Mau lurus atau belok?”, karena Kaleb suka, jadi suami bilang lurus biar putarannya gede. Dia ngakunya udah bilang ke suami kalau udah ditanya kok mau 2 putaran atau 1 putaran. Tapi dia bilangnya mau lurus atau belok. BEDA BANGET ITU PERTANYAANNYA, BANG! Pas saya naik aja, dia juga nanyanya mau lurus atau belok. Saya minta belok karena nggak sanggup jauh-jauh.

Ya udah saya marah dan bilang abang nipu kalau ngomongnya gitu. Enak aja, nggak relalah saya. Akhirnya tentu saja saya nggak mau bayar Rp 90.000. Saya bilang, “Bang, mau terima nggak nih uangnya, kalau nggak saya pergi!”. Saya kasih 2 putaran saja.

Gila lo bang, gue mau ditipu! NEHI!

Jadi yang mau naik kuda di ITB hati-hati ya, abangnya suka nipu.

 

Nah, berakhir deh perjalanan kami di Bandung. Nggak banyak tempat yang dikunjungi karena ngikutin moodnya bocil dan supaya kami juga bisa istirahat di hotel, nggak terlalu kecapekan. Selanjutnya review soal hotel ya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s