Being A Mother

Selamat hari Ibu untuk semua ibu, calon ibu, atau pun perempuan-perempuan yang mengurus anak-anak lainnya seperti ibu, dan yang memutuskan untuk nggak jadi ibu.

Selama 21 bulan (plus 9 bulan mengandung) jadi Ibu, saya merasa belum jadi ibu yang baik. Setiap hari pasti ada rasa bersalahnya karena nggak bisa jadi ibu yang sempurna buat Kaleb. Salah satu hal terbesar yang bikin merasa bersalah adalah karena saya nggak bisa 24 jam bareng Kaleb karena bekerja. *bentar sis, nangis dulu!* I missed his first words and I missed his first steps. Bukan saya yang menyaksikan pertama kali tiap perkembangannya walau saya pasti selalu diinformasikan setiap detil perkembangannya tiap hari.

Seringkali waktu saya lagi cerita sama Opungnya, “Masa Kaleb udah bisa A, lho!”, trus Opungnya bilang, “Lho, emang iya udah bisa.” Duh, bukan saya lagi yang lihat.

Saya berusaha banget untuk memberikan yang terbaik buat Kaleb, sampai akhirnya saya menaruh ekspektasi yang besar, yang kadang-kadang bikin ribut sih sama suami. Tapi ini karena perasaan bersalah merasa saya bukan ibu seutuhnya karena praktis yang ngasih dia makan 3 kali sehari, nidurin dia siang, ajak dia main, ngajarin dia hal-hal kecil adalah Opungnya. Sebenarnya dia anak Opung atau anak mamak?

Kalau Kaleb lagi susah banget makan, saya suka bertanya-tanya pada diri sendiri, kok Opungnya bisa kasih dia makan sampai habis? What did I do wrong? Apa makanan saya nggak enak? Apa saya kurang sabar kasih dia makan? Lalu kemudian saya akan jadi stres dan kesal sendiri.

Makanya kompensasinya adalah selain jam kerja, saya akan mendedikasikan seluruh waktu saya untuk Kaleb. Super strict, yang kadang-kadang bikin saya nggak bisa punya me-time untuk diri sendiri dan bareng suami. No, saya cuma pernah satu kali nonton bioskop sama suami sejak Kaleb lahir. Itu pun untuk mengurangi rasa bersalah karena di hari libur kok malah nggak bareng Kaleb, saya ajak dulu dia ke mall, lalu pas jam bioskop baru mulai minta Opungnya antar Kaleb pulang. Selesai nonton bioskop ya langsung pulang, nggak pake window shopping lagi.

Pulang kantor nggak ada namanya saya nongkrong sama teman-teman. Saya menolak semua ajakan nongkrong karena Kaleb terbiasa tidur malam harus bareng saya, dia harus nenen dulu. Pernah jam 9 malam belum pulang karena macet, Kaleb sudah gelisah di rumah, rewel, dan maunya nunggu di depan gerbang nungguin saya pulang. Sedih banget deh saya. Makanya sejak punya anak, saya benci banget sama yang namanya macet karena artinya mengurangi waktu saya dengan Kaleb.

Kalau weekend pasti saya yang masak buat Kaleb. Saya yang sangat nggak suka masak dan nggak bisa masak juga, sih, jadi belajar dan cari resep baru untuk Kaleb. Kalau dia makannya lahap, bahkan sampai minta nambah, saya jadi merasa lebih hebat dari Chef Gordon Ramsey. Senangnya minta ampun!

Weekend pula waktunya saya menghabiskan seluruh waktu dengan Kaleb. Main bareng, bobo bareng, saya yang suapin, saya yang masak. Lelah luar biasa, tapi senangnya minta ampun. Saya nggak pernah ninggalin Kaleb kalau weekend. Dia ikut ke mana pun saya pergi. Makanya saya menghindari acara nongkrong-nongkrong di atas jam 7 malam. Pasti kelarnya malam banget, sementara anaknya udah waktunya bobo. Saya nggak mau mengorbankan kesehatan dia, cuma untuk egoisme saya.

Saya biasanya udah punya jadwal weekend apa yang mau saya lakukan bareng Kaleb, ya. Apakah berenang, ke mall, atau yang lainnya. Hari Minggu pun, walaupun bisa ajak Mbak untuk bantuin jagain dia di sekolah minggu, tapi saya memutuskan untuk harus saya yang nemenin dia di sekolah minggu. Biar saya tahu apa sih yang dia pelajari dan bisa saya terapkan.

I make sure that I make up all my time with him on weekend.

Tapi bukan berarti Kaleb dimanjakan. Saya nggak terlalu sering beliin dia mainan karena toh kalau ke toko mainan anaknya nggak minta apapun dan sekarang masih terobsesi sama mobil-mobilannya dan dia juga jarang jajan karena saya memang membatasi dia jajan. Kadang-kadang saya jadi ibu yang galak kalau dia mulai bertingkah *oh well, namanya pun menjelang terrible two kan, ya*. Walau tentu saja saya suka merasa bersalah banget habis marahin dia dan lihat dia sedih, tapi biasanya saya peluk dan aja ngomong baik-baik, dan dia biasa-biasa aja habis itu. Ibunya kayaknya kebanyakan baper. Hehe.

Ada perasaan takut karena setiap hari Kaleb dititipin ke Opungnya. Takut dia lebih dekat dengan Opung atau Mbaknya daripada dengan saya. Saya bisa patah hati setengah mati kalau itu sampai terjadi. Tapi untungnya saat ini, walau Kaleb sangat dekat dengan Opungnya dan happy kalau dititipin (pagi-pagi dia udah nggak drama lagi dan langsung dadahin saya dan Papanya kalau mau berangkat kerja), tapi dia akan gelisah kalau saya telat pulang dan akan langsung nempel saya kalau sudah pulang. Biasanya kita suka godain, “Mau tidur sama Opung aja, nggak?”. Lalu dia akan berkali-kali bilang, “Nggak!” Maunya sama Mami aja! Yeay!

Kalau sakit, dia harus dan wajib nempel sama Mami. Opung pun nggak laku karena ada Mami. Makanya saya bisa ikutan drop kalau Kaleb sakit karena maunya apa-apa sama saya, ya dari gendong, tidur, peluk, makan, dsb, “Mami, endong! Mami, peluk! Mami, nenen!”

Suka lihat kalau ibu-ibu lain anaknya menjelang 2 tahun, udah bisa ke gym. Lalu saya bertanya, kok bisa, ya? Oh, salahnya ada di saya. Saya merasa bersalah lagi kalau harus menghabiskan waktu nggak terlalu penting lainnya untuk hal-hal yang saya sukai dan mengurangi waktu bareng Kaleb. Kadang-kadang akhirnya suka stres sendiri, capek, lelah, gampang marah. I know I’m being tough on myself, but until today there is no single day when I am not feeling guilty for leaving him for work.

Jadi ibu itu sepaket dengan perasaan bersalah dan perasaan, “I am not good enough for my child”. Belum lagi perasaan khawatir, cemas, stres. Saya sering berdoa supaya suatu hari nanti saya bisa dan siap untuk mengurus Kaleb 24 jam. Tapi sampai masa itu tiba, saya berdoa Kaleb tetap jadi anak yang bahagia, tidak kekurangan suatu apa pun, dan memaafkan saya karena saat ini saya nggak bisa jadi orang pertama yang lihat kemajuan perkembangan dia. But I want him to know that I put him first on my to-do-list everyday, in my pray, and in my life.

I love you so much, baby son!

Thank you for making me a mother.

 

2 thoughts on “Being A Mother

  1. hihi emang ya dimana mana Ibu sepaket sama perasaan bersalah.
    aku juga gitu, sampai akhirnya K mulai bisa ditinggal lebih lama karena udah bisa main lebih lama & betah sama sepupunya yang tinggal samping rumah mulai deh bergaul lagi sama temen temen.
    Sempet juga khawatir kalau K lebih milih mbaknya, tapi ya ternyata walopun ditinggal tinggal tetep lebih milih ibunya :p

    You’re doing great! Selamat hari Ibu πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s