Ketika Kaleb Sakit

Kaleb itu jarang banget sakit. Sakit terakhir di bulan Juli lalu, pas masuk RS karena diare, dan beberapa minggu kemudian Roseola. Itu pun pas dirawat di RS, aktifnya minta ampun. Satu-satunya pasien anak yang nggak betah di kamar, harus jalan-jalan keluar, mau turun tempat tidur, dan nafsu makan masih oke. Pas Roseola pun walau demam, tapi aktif banget.

Jadi, pas kemarin Kaleb mulai demam dan masih aktif, saya nggak khawatir, nggak dikasih obat penurun panas juga. Patokannya kalau belum 38 derajat dan masih aktif, ya masih oke-lah. Ceritanya kan mau serasional mungkin pake obat. Waktu Kaleb mulai flu beberapa minggu lalu pun, cuma disupply sama madu aja untuk memperkuat imun tubuhnya. Nggak lama, sembuh.

Jumat tengah malam, Kaleb panasnya semakin tinggi, berkisar 38-39 derajat, dan tidurnya sangat nggak nyenyak. Kebangun tiap 15-30 menit. Kebayang dong saya tampangnya kayak zombie. Karena udah mulai gelisah, dikasih obat penurun panas, yang mana dia ngamuk setengah mati sampai pipet plastiknya retak dia gigit. Oh no, tapi untung bisa dikeluarin, sih.

Paginya suhu badan masih berkisar 39 derajat, lemas, dan berkali-kali bilang, “Mami, endong. Mami, peluk!” Cuma mau sama mami, nggak mau sama yang lain. Tapi masih mau makan sampai habis jadi masih lega.

Siangnya, kok suhunya nggak membaik, ya? Anaknya pun sulit tidur, mengigau terus, nempel terus. Pokoknya nggak aktif. Nggak aktif itu bukan Kaleb. Karena sepertinya mengkhawatirkan, akhirnya diputuskan ke dokter.

Antrian dokter pun panjang minta ampun. Ternyata sekarang musim sakit jadi rumah sakit penuh. Sepanjang menunggu, Kaleb lemas maunya digendong, nggak banyak ngomong, dan mau tidur tapi nggak bisa. Huhuhu, sedih banget.

Padahal tadinya hari Sabtu ini Kaleb natalan sekolah minggu. Karena dia udah mulai paham Natal, saya jadi excited. Sibuk beliin dia baju baru, suruh Papanya pulang cepat juga. Eh, Tuhan berkehendak lain. Anaknya sakit, dan nggak mungkin ikut Natalan. Ya sudah, Natal kan bukan soal baju baru, ya. #ciyeeehbijaksana

Pas masuk ke dokter dan diperiksa, dokter bilang ini kena virus. Nggak perlu khawatir, kalau dalam 2-3 hari panasnya turun berarti oke, nggak perlu balik. Karena obat penurun demam masih ada di rumah, dokter cuma meresepkan racikan obat batuk aja. Senang deh kalau obatnya nggak macam-macam dan sesuai gejala aja.

Pas pulang, dokter kasih sticker ke Kaleb. Kaleb teriak-teriak, “Nggak! Nggak!” Kayaknya dia takut habis diperiksa tadi dan mau buru-buru keluar aja.

Oke deh, kalau nggak mau. Mami aja yang terima. Eh, pas mau keluar, Kaleb nunjuk stickernya, “Mami, bawa! Bawa!”

JIYAAAAH, gengsi dipelihara, Nak? Sok nggak mau tapi pengen juga. Wakakaka!

Sampai rumah, Kaleb dikasih makan lagi, yang mana nggak mau. Jadi apapun yang dia mau aja, ya roti, regal, apa ajalah. Itu pun nggak banyak. Habis itu dikasih obat. Nggak berapa lama setelah dikasih obat, dia batuk dan muntah. Kayaknya muntah lendir dari batuknya. Justru bagus nih berarti lendirnya keluar biar dia makin lega. Kejadian muntah-muntah ini terjadi beberapa kali sampai dia tidur jam 10 malam. Tidurnya malam banget karena dia gelisah banget. Berkali-kali minta gendong, peluk, elus, nenen, dll. Berkali-kali pula diturutin, tapi dia kayak kesal nggak tahu maunya apa, karena badannya nggak enak. Akhirnya saya pun lelah dan diam aja nggak merespon lagi. Nggak berapa lama anaknya kecapekan sendiri dan tidur.

Malam itu Kaleb tidur lumayan nyenyak. Masih kebangun tapi nggak terlalu gelisah. Kebangun pun bukan minta nenen, tapi minta air putih, lalu tidur. Kayaknya dia haus banget.

Pagi-pagi demamnya sudah turun, sekitar 37 derajat, anaknya mulai aktif, walau belum kembali normal. Mau diajak jalan-jalan dan minta naik sepeda. Tapi habis itu cengeng lagi, nggak mau makan, dan minta sama Mami terus. Yok, kita istirahat tidur aja.

Jam 12-an, Kaleb kebangun dengan jauh lebih segar dan aktif. Langsung saya kasih makan lagi karena tadi pagi cuma makan 2 sendok aja. Wuidih, kali ini Kaleb udah sangat cerewet dan makanannya sampai nambah 3 kali! Bahkan minta teri pedas. Walau kepedasan tapi sikat terooos! :)))

LEGAAAA BANGET!

Papanya pergi ke arisan sebentar, sementara Kaleb main ke rumah Opung sambil nunggu tukang pijit datang soalnya kayaknya anaknya masuk angin juga, deh.

Sorenya sempat pergi belanja ke Carrefour sebentar, lalu makan di Bakmi GM. Ealah Bakmi GM super penuh sampai makanan lama banget datangnya. Dari awal Kaleb udah lapar. Sempat didistraksi dengan diajak main ke playground, tapi dia bosan dan kembali ingat dia lapar akhirnya balik lagi ke meja.

Di meja dia mulai nggak sabar melihat kok makanan belum ada. Jadilah dia bawel banget panggil, “MAAAASSS! MASSSSS! Makan!” Nggak usah kamu, Nak. Mami aja sampe capek manggil Mas minta makanannya dipercepat. Huft!

*serius nggak ada yang ajarin dia panggil Mas ke waitress cowok. Kayaknya dia dengar kita suka panggil gitu*

Sehabis makan, Kaleb balik ke rumah Opung untuk dipijat. Awalnya takut karena nggak kenal sama orangnya, tapi lama-kelamaan, Kaleb menikmati banget. Nagih, nih ye! Hahaha!

Tadi malam tidurnya sudah nyenyak, sudah nggak panas, tapi masih batuk. Akibatnya pas ditinggal kerja sama Opungnya, Kaleb yang biasanya langsung bilang “Dadaaaaah!” pas orang tuanya mau berangkat kerja, kali ini nangis jerit-jerit. Huhuhu, sedih ya.

Semoga virus-virus berjauhan, dan nggak datang lagi, ya! HUSH!

 

3 thoughts on “Ketika Kaleb Sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s