Politik dan Agama Bisa Akur?

Selain agama, hal yang paling sensitif lainnya adalah politik. Apalagi kalau politik dan agama digabungkan… KELAR SEMUA! :)))

Dari dulu saya paling males kalau di Gereja udah mulai ngomongin politik. Apalagi dulu pas masa-masanya reformasi dan banyak parpol baru bermunculan. Muncullah parpol berbau agama Kristen/Katolik, seperti PDS, Parkindo, endesbrei endesbrei. Udah pasti nggak bakal saya pilih karena….buat apa sik, agama bikin parpol? Kalau mau bikin perkumpulan, toh udah banyak perkumpulan berbau agama, seperti PGI.

Apakah maksudnya bikin parpol berbau agama supaya aspirasi agamanya didengar gitu? Menurut saya kurang perlu, karena merujuk pada UU bahwa negara (seharusnya) menjamin semua warga negaranya untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, maka wakil rakyat– apapun agamanya– harus memperjuangkan setiap hak warga negaranya, tanpa memandang ras, suku, dan agama.

Makanya kalau Pendeta khotbah diselingi pesan-pesan politik untuk mendukung si anu atau si inu, muka saya langsung macam gini:

–________________________–

Apalagi kalau sampai menjelek-jelekkan parpol atau tokoh tertentu dengan alasan kalau si inu terpilih nanti orang Kristen bakal susah beribadah dan disiksa. OYAAMPUN, serem amat! Akhirnya banyak jemaat yang memilih si anu karena takut si inu menghalangi kegiatan beribadahnya, bukan karena program-programnya. Jadi ya, si tokoh yang terpilih mau program kerjanya jelek nggak papa karena yang milih mikir, asal gue nggak susah beribadahnya.

Termasuk di dalamnya, menakut-nakuti dengan ayat Alkitab *eh, ini paham kan ya maksudnya, nanti dikira penistaan agama X))))*. Tentunya ini terjadi banget di lingkungan saya. Nggak perlu lingkungan yang besar, lingkungan keluarga inti aja bisa pake ayat Alkitab supaya saya nurut, nggak banyak nanya. Misal, kalau saya lagi berdebat dengan orang tua, maka saya akan dikasih ayat 10 perintah Allah yang ke-5, yaitu wajib menghormati orang tua.

“Itu ada ayatnya di Alkitab, wajib hormati orang tua. Kamu nggak boleh membantah Mama!” ngomong dengan nada tinggi karena kesal. Dengan harapan anaknya akan diam saja dan nurut karena udah di-skak mat pake ayat itu.

Saya pasti kesal kalau ujung-ujungnya dikasih ayat itu karena saya tidak merasa tidak menghormati orang tua, tapi saya cuma tidak setuju dengan pendapat orang tua. Dua hal yang berbeda, kan?

Karena saya orangnya berusaha logis, ya saya nggak nyerah walau dikasih ayat itu. :)))) Kemudian, perdebatan akan berakhir saling kesal dan berantem diem-dieman. Well, we agree to disagree aja jadinya. Toh, pada akhirnya family sticks together, dan akan kembali baikan.

Sepertinya di blog-blog yang lalu saya pernah cerita bahwa ada satu pendeta yang mengajarkan saya untuk tidak membabi buta percaya dengan perkataan pendeta. Dia bilang, pendeta juga manusia, bisa salah juga dalam menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab itu sangat kompleks, dibuat bukan dengan bahasa lugas yang mudah dimengerti, dan banyak perumpamaan. Ayat-ayat itu pun ditulis dengan latar belakang kejadian yang sangat berbeda dari sekarang. Jadi untuk memahami satu ayat, harus memahami dulu konteksnya, nggak bisa langsung secara harafiah diartikan. Maka dari itu, setiap jemaat harus dan wajib baca Alkitab sendiri supaya nggak dibodohi pake ayat. *ealaah, ternyata kalimat ini akan sering digunakan, mirip kalimat penista agama, yes XD*

Suatu hari saya punya (mantan) pacar yang relijius banget, saya mah kalah jauh. Dia tiap hari baca Alkitab dan nggak pernah bolos gereja. Soal ayat Alkitab mah dia jago. Apalah saya yang baca Alkitab nggak tiap hari, ke gereja sering males. Makanya saya kagum membabi buta sama dia. Sampai pada akhirnya dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang saya yakini. Saya bilang ke dia, loh di Alkitab kan nggak boleh begitu? Tentu saja, dia lebih pandai menjawab dan memberi saya ayat Alkitab detil mengenai perbuatan tersebut boleh, kok.

Hah, masa, sih?

Berbekal keyakinan bahwa kalau nggak yakin sama suatu ayat, maka harus baca sendiri dan pahami konteksnya, maka ya itu yang saya lakukan. Ayat yang diberikan cuma sepotong, tapi saya baca satu injil untuk memahami maksud ayatnya apa, sih. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa, oh well, kamu cuma pake satu ayat untuk merasionalisasi perbuatan kamu, padahal sebenarnya bukan gitu.

Sejak itu saya melihat seseorang dengan berbeda. Saya nggak lagi kagum berlebihan sama orang yang rajin ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin beraktivitas di gereja. Saya cenderung lebih lihat gimana sih cara dia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Karena orang yang baik dan mencerminkan gambaran Tuhan, harusnya adalah orang yang bisa berbuat baik dan tulus dengan orang di sekitarnya. Jangan sampe jadi pelayan di gereja, tapi habis itu menjelek-jelekkan orang yang bergereja di tempat lain #kejadiannyata #seringterjadi #digerejague. X)))

Makanya, saya nggak pernah suka politik digabungin sama agama. Menurut saya, setiap orang bebas berpolitik sesuai dengan idealismenya sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan agama yang dianut. Nggak perlulah karena milih politik yang berbeda dengan pendeta akhirnya malah dibully dan dianggap salah. Trus ditakut-takuti pake ayat-ayat.

Seorang teman saya, situasi di keluarganya panas banget karena keluarganya jadi terpecah antara yang pro-Ahok dan anti-Ahok. Ibunya yang anti-Ahok menggebu-gebu membenci Ahok, yang mana hak dia juga kalau mau nggak suka Ahok, toh pilihannya dia. Sementara anaknya pro-Ahok. Akhirnya ibunya mengeluarkan semua jurus ayat-ayat yang merasionalisasi kenapa dia membenci Ahok dan kenapa anaknya harus banget benci Ahok. Karena nggak pernah ketemu di tengah-tengah, akhirnya si Ibu bilang, “Kalau kamu nggak percaya, tempat kamu di neraka!” JIYAAAAAH, skak mat! Anaknya langsung diam, antara takut masuk neraka dan males ngadepin ibunya. Jadi mending dia diam aja dan menghindari topik politik di rumah. Ngomong yang happy-happy aja lah daripada berantam dan dimarahi ibunya. Lucunya, mereka bukan warga Jakarta. :)))))

Nggak usah teman saya, saya pun mengalaminya. Jadi saya punya grup whatsapp. Suatu hari kita ngomongin demo dan gimana demo itu bikin takut, harusnya nggak perlu demo lah, toh Ahok udah diproses hukum. Tiba-tiba muncul teman saya yang dengan berapi-api bilang bahwa demo itu harus ada, dia pun mau turun ke jalan, Ahok salah dan harus dihukum. Teman saya yang lain bilang sebaliknya dan mengutarakan pendapatnya yang lain. Akhirnya daripada panas, saya bilang, “Ya udah, we agree to disagree, ya”. Keadaan damai sebentar, tapi kemudian si yang nggak setuju nggak pernah muncul di grup lagi dan keluar dari grup. JIYAAAAAH, kok ngambek? Padahal kita nggak berantem, nggak ngebahas soal Ahok lagi. Cuma ya jadi diambil ke hati.

Kecenderungan orang Indonesia masih suka baper. Buat sebagian dari kita, berbeda itu salah. Yang benar itu harus sama. Kalau nggak sama, berarti lo salah. Makanya daripada dianggap salah dan dibully atau nggak diajak temenan, ya udah deh nurut aja. Atau ya udah deh ngikut aja sama mayoritas bilang apa, kan udah pasti benar. Padahal kita bisa lho cek dan ricek kebenarannya. Yang paling penting, kita bisa lho berbeda pendapat tanpa membenci. Beda itu nggak papa. Anak kembar pun nggak 100% sama. Kenapa harus takut beda?

Akhirnya saya jadi malas ngomongin politik di sosmed, karena nanti saya takut dibully atau dikomentarin, “Lo bela Ahok karena lo Kristen, kan?”. Dih, sebodo teuing sama agama doi. Itu HT agama sama, rajin bikin konser Natal besar-besaran, tapi udah pasti nggak bakal saya pilih kalau dia mencalonkan diri lagi. Saya takut disumpahin pake ayat dan dibilang kafir. Wakakak, sungguh lho, saya cuma beda pilihan politik aja. 🙂

Tolonglah berbeda pilihan politik itu wajar banget. Nggak perlulah ditakut-takutin pake agama supaya mempunyai pilihan yang sama. Kita bisa tetap temenan akur kok, walau pilihannya beda. Tapi, kita nggak bisa temenan kalau udah ada yang paksa-paksa pake ayat untuk menyetujui pendapatnya. Wong, pacar saya aja saya putusin karena memaksakan kehendaknya pake ayat Alkitab. 😄

Maybe we should say this more: agree to disagree. 🙂

Cheers!

Advertisements

4 thoughts on “Politik dan Agama Bisa Akur?

  1. Makanya kan dibilang Firman Tuhan itu hidup. Ayat 1 bisa berbicara A kesitu, tapi bisa bicara B kesini. Dan betul banget, paling males kalau agama campur politik.. Dari dulu Bokap selalu ngomong, politik itu dunia abu2, jgn dicampur..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s