Nggak Boleh Makan Cokelat, Ya!

Sampai usianya 20 bulan saat ini, Kaleb hampir nggak pernah makan makanan sembarangan. Padahal dulu pas masa-masa MPASI, udah niat aja, selepas setahun nggak usah mompa dan Kaleb kalau lagi pergi-pergi ikut makan di luar aja lah. Biar mamak santai dikit lah.

Cita-cita tinggallah cita-cita. Saya ternyata belum rela Kaleb makan makanan nggak bergizi yang nggak jelas kandungannya apa dan cara masaknya gimana. Jadi kalau pergi ke luar, pasti saya masak dulu buat bekal Kaleb. Begitu pun soal mompa. Pas mompa ngeluh capek, bosan, males, tapi ya dilakukan juga 3 kali sehari tiap hari. Masih tetap deg-degan kalau bawa ASIP dikit dan keukeuh nyobain berbagai macam booster ASI.

Sampai akhirnya, di usia 16 bulan, ASIP saya habis. Hanya mengandalkan ASIP yang tiap hari dipompa aja. Lama-kelamaan ya makin dikit, memang karena demandnya berkurang juga, jadi Kaleb mulai minum ASIP dan UHT kalau saya kerja. Pas usia 18 bulan, malah lebih banyak UHT daripada ASIP karena Kaleb jadi nggak terlalu suka ASIP dan suka banget UHT, terutama kalau dikasih dingin. Padahal UHT yang dikasih ke dia cuma full cream aja. Saya masih menahan diri untuk kasih berbagai macam rasa biar nggak kenal rasa terlalu manis dan jadi malas makan. Nanti ajalah selepas 2 tahun.

Karena udah banyakan UHT, makin malaslah saya mompa, walau tetap 3 kali sehari. Tapi udah nggak baper lagi kalau hasilnya dikit. Santai aja. Bikin saya lebih enak, sih. Kalau ke-skip satu kali ya udah, tapi kalau nggak mompa seharian tetap aja merasa bersalah. Di kantor, cuma saya yang masih mompa sampai usia anak 20 bulan. Yang lain biasanya selepas setahun udah nggak mompa lagi. Sempat diledekin, “Anak lo kan udah remaja, bok. Masih mompa aja”. Saya sih biasanya ketawain aja.

Sampai akhirnya saya burn out, capek, males, lelah, dan sudah berkali-kali memikirkan untuk stop mompa tapi takut ASI-nya berhenti. Kemudian ngobrol-ngobrollah sama teman kantor yang anaknya nenen sampai usia 3 tahun. Dia bilang, dia stop mompa di usia 1 tahun, pas kantor ya anak minum UHT, pas malam nenen. ASI-nya tetap ada sampai anaknya benar-benar stop, sih.

Setelah dipikir-pikir, Kaleb udah banyakan makan, fungsi ASI juga bukan buat sumber utama makanannya, tapi karena dia merasa nyaman dekat ibunya. Dia jarang banget nenen lamaaaa, tapi dia tetap suka nenen sebentar-sebentar, masih nyari nenen pas malam ย karena haus. Tapi ya itu, nggak lama. Kalau ada mamak sih sebentar-sebentar minta nenen, tapi kalau nggak, dia sebenarnya lebih pilih UHT.

Karena anaknya udah rela melepas ASIP, maka dengan keikhlasan, saya stop mompa di usia Kaleb 20 bulan. Rasanya luar biasa senang nggak harus mompa dan bisa lebih santai dan nggak banyak bawa barang bawaan ke kantor. HORE! Kalau soal nenen sih, saya bakal lanjut terus sampai Kaleb rela melapas nenen mamak, entah kapan. Nggak yakin pas usia 2 tahun dia siap nyapih karena sampai saat ini kalau ada mamak dia kayak liat harta berharga dan bilang, “NENEN!”. :)))))

Itu kalau soal ASI. Dari segi makanan, tiap hari, terutama weekdays, 3x sehari makan makanan rumah yang diperhatikan komposisinya, plus snacknya ya buah. Snack kayak biskuit udah bisa macam-macam, tapi saya belum kasih dia snack cokelat, atau berbagai macam rasa yang banyak gula. Paling banter regal, atau biskuit rasa susu. Kaleb belum pernah coba permen sama sekali atau biskuit kayak Oreo. Puk puk puk! Hahaha. Jangan dululah yang banyak gula, karena menurut penelitian gula itu lebih berbahaya buat kesehatan anak (coba googling soal ini, ibuk-ibuk).

Sampai menjelang 20 bulan, Kaleb tiap pergi ke luar masih bawa bekal makanan dari rumah. Rempong banget kan tiap mau pergi. Hahaha. Nggak papa, biar dia terbiasa sama makanan sehat. Kalau di mall, mamak ngemil bubble tea, Kaleb cuma ngemil susu UHT atau air putih. Sehat bener anaknya. Hahaha. Cemilan paling sering wajib buah berbagai rasa.

Sampai akhirnya pas 20 bulan, saya memperbolehkan dia makan di luar, tapi harus di restoran yang bersih dan non fast food. Kecuali, kejadian mendesak kayak waktu itu di KFC, ya. Ish, mamak rasanya mengurangi rasa ribet pas pergi-pergi nggak usah masak lagi. Asoy lah.

Dua minggu lalu, akhirnya saya memperkenalkan Kaleb pada es krim (lagi). Sebelumnya pernah Kaleb dikasih es krim tapi nggak suka karena dingin banget. Saya pikir, oh dia nggak suka dingin. Tapi karena dia sekarang suka minum susu dingin, jadi yuk coba es krim lagi. Eh, anaknya suka, dong. Sebagai mamak keras, Kaleb cuma dapat privilege makan es krim, satu kali seminggu, pas weekend. Sudahlah Nak, mamakmu ini emang agak kejam. Hahaha!

Beberapa hari lalu, Kaleb diajak Opung jalan-jalan. Lihatlah dia kedai Thai Tea Dum-Dum yang lagi ngetrend sekarang. Dia biasanya lihat saya suka beli, tapi nggak bagi-bagi dia. Hihihi. Dia pikir itu es krim karena banyak es-nya. Dia tunjuklah itu Thai Tea ke Opung sambil bilang, “Es krim, mau mau!”. Lah, si Opung nggak paham apa itu Thai Tea, tapi karena cucu yang minta dibeliin juga lah. Jadi untuk pertama kalinya Kaleb minum Thai Tea. Setengah gelas besar habis. Bahagia ya emang kalau nggak ada Mamak. Wakakak!

Kenapa sih saya membatasi banget gula masuk? Karena saya takut giginya cepat keropos, obesitas yang bisa bikin diabetes, dan sugar rush. Kejadian sugar rush ini pernah kejadian, sih. Suatu hari aunty-nya Kaleb ulang tahun. Tentunya diijinin makan kue tart yang kebetulan manis banget karena banyak butter cream-nya. Langsung Kaleb sugar rush, heboh sana-sini lari-lari nggak berhenti sampai jam 10 malam nggak tidur, sampai kita yang lihat aja pusing, dia kayak kutu loncat lari sana sini, heboh banget nggak berhenti sedetikpun. Padahal hari itu aja dia nggak tidur siang. Biasanya jam 8 udah teler minta bobo. Ini kalau nggak dipaksa bobo, dia masih heboh. Oke, no more too much sugar, ya. Capek mamak nemenin Kaleb begadang. Hahaha.

Sebagai pecinta MSG dan bubble tea akut, saya pengen anak saya punya gaya hidup yang lebih sehat, sih. Ini juga yang ngajarin saya nggak ngemil snack macam chiki depan dia supaya dia nggak minta. Karena sekarang dia lagi fase, apa yang saya coba, dia harus coba. Mamak ikutan hidup sehat lah. Lagian kalau udah tau rasa MSG, emang nagih berat. Wakakaka, saya aja lebih pilih ngemil snack MSG daripada makan berat. Enak, cuy! Kaleb nanti-nanti ajalah, ya.

Sekarang saya paham kenapa dulu Mama saya jarang nyetok cemilan di rumah dan mewajibkan kami makan masakan rumah mulu. Ternyata kalau punya anak pengennya si anak dapat makanan terbaik dan paling sehat, ya.

Mungkin selepas 2 tahun, Kaleb akan perlahan-lahan bisa mencoba lebih banyak cemilan di luar lagi. Tapiiii… cuma boleh satu kali seminggu pas weekend, ya, Kaleb! #tetep #mamakkejam

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Nggak Boleh Makan Cokelat, Ya!

  1. ih toss.
    sampe sekarang anak kutu umur 4 tahun dia belum pernah makan permen, mungkin nanti tahun depan dikasih coba.

    kalau coklat a big no no. karena dia akan sugar rush banget.
    itu udah dibuktiin, hari hari dimana dia tanpa coklat dan suatu hari dia dikasih coklat. beuh KELAR jam 12 masih loncat loncat.
    dia sendiri tau kalo dia gak boleh makan coklat, tapi seminggu sekali kukasih dikit sih :p
    gula juga dibatesin.
    kadang diprotes orang orang “kasian anaknya, dia juga butuh gula” – nope. tidak akan goyah. Dia memang tetap perlu gula, tapi gak perlu buanyak banyak juga kok ๐Ÿ˜‰

    semangat #mamakkejam :p :))

    • Iyaa, sering banget diprotes sama Opungnya, kasian anaknya belum coba makanan manis-manis. Ya gimanaaa, pas sugar rush kemarin pusing banget ngadepin anak nggak tidur sampe tengah malam, heboh nggak berhenti-henti. Hahaha. Plus, nggak pengen giginya jadi jelek juga, sih. Kayaknya nggak banyak gula juga nggak papa lah. Jadi yaaaa… selamat ngiler kalau teman-temannya udah boleh makan permen, coklat, dll, yaaa. XDDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s