Konseling Pra-Nikah?

Alkisah pada masanya, saya dan calon suami (waktu itu) mau menikah. Udah daftar ke Gereja. Pada saat itu, Pendeta mengingatkan beberapa kali, “Jangan lupa lho, konseling pra nikah 2 kali sebelum hari H.” SIP!

Sebagai anak psikologi, tentu saja saya penasaran kayak apa, sih, konseling pra nikah yang diadakan Gereja, walau saya tahu banget tipikal Gereja saya kayaknya nggak menitikberatkan pada konseling ini. Dalam hati kecil terdalam, saya berharap konselingnya agak mirip konseling psikologi yang terstruktur, mendalam, dan diharapkan mempersiapkan calon pengantin mengahadapi riak-riak pernikahan. #tsaaah

Hari itu saya dan calon suami janjian sama Pak Pendeta, selepas pulang kantor. Udah siap nih, nanti bakal diapain, ya. Bakal ditanyain masing-masing trus dicocokin jawabannya nggak, ya?

Kenyataannya begitu kami duduk di hadapan Pak Pendeta, beliau bilang, “Oke, kalian berdua udah cukup berpendidikan, ya. Lulusan S2 semua. Pasti ngertilah pernikahan bakal kayak gimana. Jadi saya nggak perlu banyak kasih tahu lagi. Nah, kalian baca 10 aturan pernikahan ini dengan bersuara, ya.”

Disodorkanlah 10 aturan pernikahan yang harus kami baca sama-sama dengan bersuara, macam anak SD belajar membaca.

“Oke. Diingat baik-baik, ya. Sekarang kita berdoa bareng.”

Berdoalah kami dipimpin Pak Pendeta.

“Kita sudah selesai. Nggak perlu ada pertemuan kedua. Semoga lancar pernikahannya.” Beliau menyalami kami berdua yang nggak tahu harus bereaksi apa.

LAH? Udah? Kelar, nih? Nggak ditanya apapun?

*bengong*

Dan itu adalah satu di antara banyak kekecewaan yang membuat saya jarang gereja di sana lagi. THAT WAS TOO ABSURD, MAN! X))))

Semoga Pendeta kalian nggak begini-begini amat lah, ya. :))

 

8 thoughts on “Konseling Pra-Nikah?

  1. Buset gerejanya gitu amat ;p Pendidikan S2 belum tentu canggih lah menghadapi pernikahan wong buktinya banyak jg tuh org2 pintar yg cerai *nyinyir* Jadinya gak lanjut konseling dmn gt, kak? Pasti byk banget tuh pertanyaan2 ttg rumah tangga yang mengganjal dan harapannya sih, bisa diselaraskan dgn Alkitab ya.

    • Nggak, akhirnya aku nggak konseling ke mana pun. Tapi dari awal sebenernya udah antisipasi sih kelakuan Pak Pendeta kayak gitu. Hehe. Jadi dari awal, kebetulan juga karena aku kuliah Psikologi, aku banyak baca buku soal pernikahan, atau isi kuesioner soal pernikahan bareng calon suami. Jadi bener-bener menyiapkan diri sendiri sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s