Salam Olahraga

Waktu saya kecil, orang tua saya suka sekali membawa saya nonton pertandingan olah raga. Entah itu tenis, sepak bola, tenis, bulu tangkis, dsb. Mereka berdua suka banget olahraga dan rutin berolahraga. Mama dua kali seminggu main tenis dan kalau tidak main tenis senam di gym. Bapa juga main tenis dan golf.

Mereka berharapnya anak-anaknya juga suka olahraga. Makanya waktu saya TK, saya sudah les renang 3 kali seminggu. Kemudian besaran dikit tenis tapi tidak bertahan lama karena saya nggak suka. Saya melenceng malah suka bulu tangkis dan didukung dengan dibelikan raket dan kok, serta ditemani main tiap hari. Yes, tiap hari.

Selain itu, di halaman rumah ada ring basket. Bukan cuma jadi hiasan aja, tapi kami rutin main basket. Kalau kami bisa memasukkan bola basket ke ring sampai 5 kali berturut-turut, kami dapat hadiah uang. Nggak seberapa sih uangnya. Tapi kan anak kecil suka banget dapat tambahan uang jajan. Hehe.

Saya masih ingat kalau weekend diajak jalan-jalan senang banget. Ealah, ternyata berakhir di lapangan tenis nonton tenis. Buat anak kecil rasanya… wakwaaaaw! Pertandingan tenis itu adalah salah satu yang membosankan buat saya karena penontonnya harus tenang, nggak boleh berisik, kalau nggak nanti ditegur wasit. Bosan sekali. Tapi karena mau nggak mau harus menonton, jadi ya akhirnya saya menonton, bertanya bagaimana sistem penilaiannya, siapa pemainnya, dan berakhir dengan…. wow, ini seru banget, ya!

Kalau ada pertandingan besar, seperti Sea Games di Jakarta, sudah pasti kami menonton. Waktu itu saya ingat sekali lagi tergila-gila dengan bulu tangkis jadi Bapa saya mengajak nonton bulu tangkis. Senangnya minta ampun! Sebelum masuk ke ruang pertandingan, saya dibelikan kaos berlogo Sea Games dan spidol supaya nanti bisa minta tanda tangan atletnya.

Saya masih ingat dengan jelas bagaimana mata saya berbinar-binar waktu lihat Mia Audina, Joko Suprianto, Ricky Subagdja, dan pemain-pemain favorit lainnya di depan mata. Sambil nonton mereka main, tiap ada atlit favorit yang sekiranya lagi ikutan nonton atau lewat, saya langsung sigap meminta tanda tangan. Saya ingat banget kaos saya penuh dengan tanda tangan atlit, tidak pernah dicuci, dan cuma jadi hiasan saja. Bangga!

Kalau ada Piala Dunia, Bapa yang tergila-gila dengan sepak bola mengajak kami ikut keseruannya. Misalnya menebak angka gol dari suatu pertandingan, nonton bareng sambil makan mie instan tengah malam. Akhirnya saya yang nggak suka bola pun mulai paham dengan sepak bola. Sampai akhirnya saya punya klub bola kesukaan, atlit bola favorit, dan rela bangun tengah malam kalau ada pertandingan besar kayak World Cup atau Euro Cup.

Jadi sampai sekarang kalau ada pertandingan yang seru, Bapa pasti ngingetin. Kayak kemarin pertandingan final bulutangkis ganda campuran Indonesia di Olimpiade #Rio2016. Duh bahagianya waktu mereka menang itu sama kayak bahagia pas Ricky-Rexy menang Olimpiade Atlanta dulu. Merinding, terharu, senang, lega, bangga! Semua perasaan positif jadi satu.

Saya berharap banget suatu hari nanti Kaleb suka olahraga, nonton olahraga, dan akan sangat menyenangkan kalau bisa ajak dia nonton olahraga langsung seperti saya dulu.

Salam olahraga!

One thought on “Salam Olahraga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s