Jangan Sepelekan Ibu

il_340x270-596488980_aucw

Selama 10 bulan menjadi ibu, saya pernah dua kali mengalami emotional breakdown saking merasa capek fisik dan mental mengurus bayi. Yang pertama adalah 1 minggu setelah melahirkan. Waktu itu saya baru melahirkan, bekas luka c-sec masih sakit banget sehingga mau ngapa-ngapain susah, batuk-batuk yang bikin bekas luka c-sec semakin sakit, dan menyusui per 2 jam non-stop yang membuat saya kurang tidur. Mungkin juga saat ini masih shock karena perubahan dari nggak punya anak dan punya anak, plus mengurusnya yang sungguh berat bikin akhirnya tangisan saya pecah. Tiap menjelang malam, saya ketakutan karena dipastikan nggak akan bisa tidur karena harus menyusui sehingga tiap menyusui saya nangis. Untungnya masa-masa itu nggak lama, cuma berlangsung semingguan sampai akhirnya saya bisa beradaptasi.

Yang kedua terjadi beberapa hari lalu. Semingguan itu saya lagi capek banget di kantor karena mengharuskan beberapa kali ke cabang, badan yang lagi nggak enak karena sepertinya mau haid, dan ketika ngurusin Kaleb seharian, Kaleb rewel dan susah makan. Yang udah jadi ibu-ibu pasti setuju, anak nggak mau makan itu lebih horor daripada ketemu kuntilanak. Serem! :)))

Tadinya mau dengan santai menghabiskan waktu di mall, tapi karena Kaleb maunya digendong mulu (mayan gempor, ya), plus rewel, akhirnya ya udahlah pulang aja. Ku tak sanggup! Phisically tired and emotionally drained. Hayati lelah, bang!

Di rumah, Kaleb dipegang opungnya, saya masuk kamar tapi nggak bisa tidur karena sebentar lagi harus siapin mandi dan makanannya. Suami? Dia tidur aja, dong! *prok prok prok* *kasih piagam suami terbaik tahun ini*

Tibalah waktunya makan. Flashback dulu ke malam sebelumnya. Biasanya tiap weekend saya suka mencoba menu baru karena bisa lebih lama di dapur. Kalau weekdays kan harus buru-buru ya, jadi menunya mirip-mirip biasanya. Karena excited, mau coba menu baru, saya nyari resep MPASI sampai jam 1 tengah malam. Bangun jam 6 pagi biar langsung bisa masak sebelum anaknya bangun (TETOT, anaknya selalu ikut kebangun kalau ibunya bangun). Hari itu saya bikin sup tomat tuna dan telor orak-arik. Yes, dicobain aja enak. Sore itu, pada waktunya makan, Kaleb susah banget makan. Buka mulut susah, makanan diemut, dan dilepeh! Rasanya saya waktu itu udah mau ngamuk (tapi tentu saja nggak bisa ngamuk ke Kaleb) karena kesabaran saya udah tipisssss banget. Saya lalu bilang, “Oke, kalau nggak mau makan!”. Saya tinggalin Kaleb dengan bapaknya, taro makanan di meja, dan saya masuk kamar dan kunci pintu. Nangis!

Capek luar biasa!

Walau nggak sampai sejam habis itu kangen lagi sama si bayi dan merasa bersalah karena nggak sabaran. Jadi ibu itu berarti siap-siap merasa guilty feeling setiap saat. You even question your capability as a good mom because you always feel you’re not good enough. Konflik batin terus, mak!

Jadi ibu tuh ternyata menguras semua kantong kesabaran dan emosi. Sebenarnya saya udah wanti-wanti ke suami bilang lagi capek dan nggak enak badan, tolong besok seharian urusin Kaleb. Kenyataannya ya nggak gitu. Sekali ibu ya tetap ibu. Mau sok nggak ngurus anak, ya tetap ujung-ujungnya ngurus anak juga. Padahal sih sebenarnya butuh me-time supaya otak tetap waras. :))) Bilang tolong kasih makan anaknya, tapi makanan anaknya nggak habis. Kan gemes, ya. Balik lagi ibunya deh yang kasih makan. Zzz! Happens everytime!

Ibu tuh kerjaannya bukan cuma bikin makan, kasih makan, nyusuin, mandiin, yang kayaknya bisa dilakukan semua orang. Ibu itu bahkan mikirin besok menunya apa, udah sesuai standar gizi belum, perkembangannya bagaimana, udah sesuai belum, eh bulan depan ada vaksin apa jangan sampai kelewatan, kira-kira perlu nggak sih dimasukin sekolah sejak bayi, barang apa yang perlu dibeli lagi. Belum lagi ngurusin bapaknya, sepatunya udah pada jelek belum, bajunya gimana. Trus kalau punya anjing, inget-inget, apakah udah waktunya kasih obat cacing, grooming ke petshop, vaksin tahunan. Plus, mastiin keuangan keluarga tetap jalan, tapi bisa bersenang-senang juga. Kalau dibedah otak seorang ibu, mungkin daftar to-do-listnya nggak kelar-kelar kali.

Jadi buat yang menyepelekan tugas seorang Ibu, coba kamu urusin bayi seharian dulu, pastikan semua kebutuhannya berjalan benar dan tepat. Now you know.

Oke, mamak mau liburan dulu seharian di salon, ya. Bye kids! ;P

To all mothers out there, hold on!๐Ÿ™‚

5 thoughts on “Jangan Sepelekan Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s