Review: DStudio

Kaleb baru aja selesai photoshoot seminggu lalu untuk koleksi pribadi. Ceritanya suatu hari iseng lihat Groupon dan banyak banget voucher photoshoot untuk baby. Karena Kaleb belum ada fotonya di dinding rumah, sementara foto narsis emak bapaknya tersebar di penjuru rumah, maka kayaknya ide bagus untuk bikin foto Kaleb yang bagus. Apalagi anaknya lagi ramah-ramahnya dan suka senyum (nggak memperkirakan bahwa perkembangan bayi itu cepat banget).

Akhirnya dari sekian banyak vendor, terpilihlah DStudio di daerah Tanjung Duren karena terbilang dekat dari rumah. Waktu untuk harga paketnya murah banget, dapat 2 kali background, 3 foto yang akan dicetak (1 8R dan 2 4R) dan 3 file yang dipilih untuk dicetak tadi.

Akhirnya setelah bikin appointment, kami pun datang tepat waktu, yaitu jam 10 pagi. Studio foto yang terletak di atas restoran itu masih sepi, belum ada persiapan apa-apa. Seorang Cici kemudian datang dan langsung tanya nama dan minta print vouchernya, sementara ada orang yang mempersiapkan propertinya.

Setelah itu ia bertanya, bayinya udah pake baju yang mau difoto? Oh, belum. Jadi di sofa tempat nunggu, sebelah si Cici berdiri. Biasa dong ya, ganti baju anak 7 bulan yang lagi aktif-aktifnya gerak sana gerak sini di sofa yang kecil nggak gampang. Bukain bajunya aja butuh waktu, belum lagi pakein baju, dan pasang sepatu. Alamak, udah kayak ngajak perang. Pas lagi heboh-hebohnya pakein baju, si Cici nanya pula, “Udah selesai belum pakein bajunya?”. Lah, dia liat kan belum selesai. Buru-buru amat deh, namanya juga urusannya sama bayi. At that time, I feel that she was not nice.

Setelah selesai pakein baju, kami pun langsung disuruh gendong Kaleb ke background Teddy Bear. Not once, I heard that their team tried to greet Kaleb. Bukan apa-apa, ya, tapi bayi butuh mood yang bagus dan tentu yang harus membangun moodnya ya orang-orang di sekitarnya. Kalau dibandingkan dengan tempat-tempat yang biasa nanganin bayi (seperti baby spa RH dan Kiddy Cuts), mereka ramah banget sama bayi. Terbiasa menyapa bayi yang datang, memperlakukan dengan gentle, berusaha becanda dengan bayi sehingga si bayi happy. Kalau kemarin untuk vendor yang menyediakan service untuk bayi, mereka terkesan dingin-dingin aja sama bayi.

Ketika Kaleb ditaruh di depan Teddy Bear, tentunya anaknya udah lasak, nggak mau pake topi, dan bingung kenapa ada lampu yang menyorot dia. Si Koko fotografer pun menyuruh saya untuk duduk di dekat dia. Saya jongkok dong, ya. Trus disuruh duduk di lantai aja, tapi dengan nada yang menurut saya memerintah. I was like, what? Belum lagi pas Papa saya mau foto Kaleb dengan HP-nya, tiba-tiba disamperin dan bilang, “Nggak boleh difoto pake HP” entahlah alasannya apa.

Untuk tim hore, mereka nyuruh saya yang harus heboh nyemangatin anaknya. Ya emang pasti defaultnya sebagai ibu tentu heboh bikin anaknya ketawa dong, ya. Tapi Koko dan Cici ini dikit banget bantuinnya. Kadang-kadang berusaha, tapi ya nggak maksimal juga. Lalu mereka bilang, “Ini mamanya kurang heboh ya bikin anaknya ketawa”. Ha! Nyalahin customer aja gitu! What a bad service!

Kemudian Kaleb ganti background. Di sini kayaknya Kaleb udah jengkel dan bingung. Disemangatin apapun oleh saya, anaknya udah cranky. Jadi sempat nangis juga. Saya yang udah keburu jengkel karena disalahin kurang heboh pun merasa nggak terbantu. Lalu sesi foto diakhiri cepat sekali, hanya 30 menit. Seperti mereka kurang peduli banyakan hasil yang kurang bagus. Terakhirnya, Koko bilang, “Anaknya moodnya lagi nggak bagus hari ini”. Errr, mood bayi mah memang begitu bukan? Naik dan turun? Makanya salah satu tugasnya ya membangun mood bayi dengan baik.

Setelah itu, diperlihatkan lah hasilnya. Bener kan, di background kedua di saat Kaleb udah cranky hasilnya ya banyakan dia yang nangis, kurang banyak ketawa. So it wasn’t a difficult decision for me to pick 3 photos. Di foto Teddy Bear pun foto ketawanya kurang banyak.

Kesimpulannya: servisnya kurang bagus untuk menangani bayi yang tentunya nggak semudah mengatur orang dewasa dalam berfoto. Beberapa kali terkesan kurang ramah dan menyalahkan customer karena mood bayi kurang baik.

Berkali-kali saya bilang dalam hati, “Mungkin karena ini belinya pake voucher jadi terkesan buru-buru dan kurang ramah”. But then again, setelah dipikir-pikir, kantor saya juga pernah kerja sama dengan Groupun dan nggak ada excuse untuk memperlakukan customer yang beli Groupun dengan servis yang jelek karena kan pengennya mereka balik lagi.

Seminggu kemudian hasil fotonya jadi. Buat saya ya no surprise aja karena memang 3 foto itu yang saya pilih. Kalau ada editan pun saya nggak tahu bedanya dengan nggak diedit. Hasilnya cukup oke (tapi kalau dibandingkan dengan banyaknya foto yang diambil dan ternyata cuma sedikit yang bagus menurut saya, ya jadi nggak sebanding, sih).

10x15 1

10x15 2

20x25

Tampaknya saya nggak akan balik, sih. Walaupun hasil akhirnya bagus, tapi dari segi servis kurang. πŸ™‚

Advertisements

5 thoughts on “Review: DStudio

  1. Diiihh ini nih yang bikin gw males-malesan beli voucher diskon Mi.
    Mereka yang nawarin diskon tapi mereka kadang memperlakukan konsumen yang pake voucher kayak konsumen kelas 3.
    Tapi Kaleb nya ciamik kok hasil fotonya, jadi gak rugi-rugi amat lah ya.

    • Sering denger kalo beli voucher suka diperlakukan beda. Eh kena sendiri deh. Lain kali kan jadi males huhuhu. Untung hasilnya OK lah.

  2. Wahhh, namanya bayi mana bisa ketebak mood nya…baru aja ketawa, sedetik kemudian bisa nangis kencang ga tau kenapa 😦
    semoga ga ada lagi deh customer yang mengalami hal yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s