Menuju Puncak

Weekend lalu saya dan keluarga liburan ke Puncak dalam rangka arisan keluarga besar. Untuk liburan yang dekat macam gini aja saya udah ketar-ketir dan sempat nggak mau ikut karena masih trauma dengan liburan ke BandungΒ waktu itu di mana Kaleb nggak bisa tidur semalaman dan cranky sepanjang perjalanan. Bukannya liburan yang ada badan encok, emosi break down!

Setelah labil antara mau ikut dan nggak ikut, akhirnya diputuskan ya udah lah ikut aja. Keinginan buat menghirup udara segar lebih besar daripada traumanya. Udah jauh-jauh hari sebelumnya saya mempersiapkan hati kalau si bocah ngamuk dan nggak tidur semalaman. Pokoknya ente ajak begadang, aye jabanin, cah!

Walaupun cuma nginep semalaman, namanya bawa bayi, plus udah makan, maka bawaannya menjadi segudang. Semuanya barang bocah, termasuk 1 koper khusus baju dan perlengkapan bocah, termasuk semua mainan kesukaannya (saya bahkan khusus beli mainan baru supaya Kaleb masih excited maininnya pas di jalanan nanti), selimut dan bantal yang biasa dia pake, baby bather, ban renang, car seat, stroller, dll. Barang saya dan suami nyempil aja karena cuma bawa backpack.

Belum lagi sehari sebelumnya, saya udah masak makanan Kaleb untuk 2 hari, dimasukin ke freezer, sehingga nanti tinggal dipanaskan aja. Tapi nggak lupa bawa sereal, jaga-jaga kalau Kaleb nggak mau makan makanan frozen. Nggak lupa bawa snack bayi untuk di jalan.

Sebanyak ini semua barangnya si bocah

Sebanyak ini semua barangnya si bocah

Dari rumah, Kaleb udah dikasih makan dulu dan langsung dimandikan. Biasanya habis mandi adalah jam tidurnya dia. Sengaja dipaskan dengan waktu berangkat supaya dia anteng di jalan tidur. Jam 07.30 berangkat dan Kaled tidur dengan nyenyaknya sepanjang jalan. Begitu keluar tol mau masuk ke Puncak, sekitar jam 09.00, eh ternyata jalurnya ditutup dan baru buka jam 09.30. Duile, nggak akurat banget ini info buka tutupnya. Untung cuma 30 menit aja nunggunya. Kaleb sempat kebangun dari tidurnya langsung saya susuin dan setelahnya saya pindahkan ke car seat untuk main-main. Kenyataannya, dia tidur lagi. Hihihi.

Tidur terus selama perjalanan

Tidur terus selama perjalanan

Ketika hampir mau masuk Puncak Pas, Kaleb terbangun dengan segarnya. Di saat inilah waktu yang tepat untuk mengeluarkan cemilan biar dia sibuk makan, plus habis itu susuin lagi. Tapi ya karena dia udah tidur selama 2 jam lebih jadi kemungkinan dia tidur lagi sih kecil. Untungnya nggak lama kemudian, kita sampai ke Villa. Total perjalanan memakan waktu 3 jam. Lama sampainya karena ada jalur buka tutup dan ada perbaikan jalan di Puncak.

Beberapa hari sebelumnya, saya udah minta ke panitia supaya kamar saya jangan digabung dengan anak kecil karena Kaleb gampang sekali kebangun, plus anaknya suka excited kalau banyak orang. Yang ada dia nggak bakal tidur.

Hari itu berjalan lancar. Kaleb banyak main dengan sepupu-sepupunya dan keluarga besar lainnya, murah senyum, nggak ngambek. Manis amat sih ini anakku! Menjelang sore, Kaleb makan sereal karena ternyata dia nggak suka frozen puree. Untung udah bawa dari rumah. Setelah makan, Kaleb nggak mandi, tapi dilap pake air hangat, dioles banyak minyak telon di seluruh tubuh, pake jumpsuit kaki tertutup, dan pake jaket. Udara Puncak makin malam makin dingin. Menjelang malam malah Kaleb ditambah pake selimut kalau digendong biar makin hangat.

Sekitar jam 9 Kaleb mulai ngantuk, jadi saya dan suami skip acara keluarga yang masih berlangsung dan nemenin Kaleb tidur. Bisa aja sih kami ikut acara keluarga tapi karena villanya lumayan besar dan kamarnya terletak di lantai 2 ujung jadi takut Kaleb kebangun tapi nggak kedengeran. Sebenarnya udah mulai deg-degan mengingat liburan sebelumnya Kaleb nggak bisa tidur semalaman. Puji Tuhan kali ini Kaleb bisa tidur nyenyak dan hanya kebangun untuk nyusu. Horee! Bahkan saking nyenyaknya tidur, dia bangun telat. Hihihi.

Hari kedua, Kaleb bangun pagi, keliling villa, sarapan, dan main-main lagi. Anaknya anteng banget sampai disukai semua orang. Ih, mami kan jadi GR! Sebelum pulang ke Jakarta, Kaleb dikasih makan sereal lagi.

Tepat jam 13.00 ada gosip kalau jalur ke Jakarta udah satu jalur jadilah kami ngesot pulang. Eh, baru keluar gerbang villa sudah ditelepon kalau jalurnya belum dibuka dan sekarang masih dua jalur. Sebenarnya saya sih keukeuh aja tetap jalan, toh masih bisa jalan karena 2 jalur. Tapi karena diteleponin terus suruh balik takut macet, plus suami ngecek google maps dan diperkirakan perjalanan memakan waktu 3 jam jadi akhirnya kita muter balik.

Daripada balik ke villa lagi, akhirnya kami mengunjungi Kampung Brasco. Di sana ada FO yang barang-barangnya biasa aja dan saya nggak beli apa-apa. Lalu kami makan di Nicole’s Kitchen and Lounge yang lagi beken itu. Kami makan di Nicole’s lounge di lantai atas. Tempatnya luas dan didominasi warna putih. Untuk makan di luar, dikenai minimum charge Rp 300.000-Rp 500.000. Secara bawa bayi dan di luar dingin, ya pastinya mending pilih makan di dalam aja.Β Waktu itu, kami pesan jus melon tanpa gula dan es untuk Kaleb dan pizza untuk kami berdua. Secara harga cukup reasonable. Nggak kemahalan kayak cafe di Jakarta.

Jam 14.30, kami langsung jalan menuju Jakarta karena jalur satu arah akan dibuka pukul 15.00. Harapannya jalanan lancar, ya. Kenyataannya semua orang berpikir sama kayak kami jadi pada pulang jam segitu juga. Yang ada macet! Yaelah, tau gitu mah pulang dari tadi aja nggak usah nunggu buka jalur. Zzz!

Untungnya karena udah tepar main mulu, selama perjalanan yang memakan waktu 3,5 jam itu (dih, malah lebih lama dari perkiraan google maps tadi), Kaleb tidur mulu! Senang banget karena nggak ada drama tangisan bayi meraung-raung! Akibatnya begitu sampe rumah badan nggak terlalu capek dan hati damai.

Liburan kali ini sukses banget, deh! Jadi liburan ke mana lagi kita? *lupa trauma Bandung*πŸ˜„

Ada yang kesenangan main basket lagi

Ada yang kesenangan main basket lagi

Can you spot Kaleb?

Can you spot Kaleb?

Anaknya manyun aja sih?

Anaknya manyun aja sih?

Mampir ke Nicole's Lounge

Mampir ke Nicole’s Lounge

Tepar tidur 4 jam di mobil

Tepar tidur 4 jam di mobil

6 thoughts on “Menuju Puncak

  1. ke puncak ditempuh selama 3 jam dengan hari kejepit di Jumat itu syurgaaaa banget deh kak….kan ke puncak itu macet abesss… *trauma ke puncak pas long weekend or harpitnas, secara pernah kejebak sampe 6 jam lebih dijalan *pant*t datarrrr!

    • Banget! Ke Puncak sekarang jadi lebih lama dibandingkan ke Bandung. Mana hiburannya nggak sebanyak itu pula. FUH! Untung bayi anteng, kalau lagi cranky kan udah pantat tepos, kuping berdengung, emosi jiwa.πŸ˜„

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s