Tentang Perbedaan

Di era sosial media kayak gini, parenting bisa jadi sungguh berat. Banyak yang bakal melihat cara kita mendidik anak, kemudian mengkritik. Apalagi soal ASI vs Sufor, MPASI vs makanan instan, stay at home mom vs working mom nggak bakal ada matinya. Selalu ada aja perdebatan yang menyudutkan satu sama lain. Lelah!

Saya termasuk tipe ibu yang berusaha ideal tapi nggak idealis alias fleksibel aja. Target ASI saya aja sederhana: 6 bulan esklusif. Jadi tiap mompa selalu berusaha nyemangatin diri saya sendiri sampai bisa melewati ASI 6 bulan. Setelah berhasil, baru bikin target baru, yuk ASI sampai setahun. Saya orangnya nggak muluk-muluk karena nggak pengen bikin pressure ke diri sendiri dan malah jadi stres. A mother should be happy to make her baby happy too. Jadi jalanin dengan santai aja.

Begitu pula soal MPASI. Saya berusaha banget untuk selalu bikin home made food buat Kaleb dan dimasak sendiri, tapi nggak anti sama makanan instan. Kayak misalnya kemarin ke Puncak. Saya udah siapin frozen puree buatan sendiri buat Kaleb selama 2 hari di Puncak. Begitu pun buahnya udah langsung dibawa dari rumah. Pas sampe Puncak, ternyata makanan Kaleb lama banget cairnya, dia udah keburu ngamuk kelaparan, plus rasanya nggak seenak makanan fresh jadi dia nangis-nangis. Jadi ya saya keluarkan sereal instan yang udah saya persiapkan sebelumnya. Sedih karena anaknya makan makanan instan? Why should I? Nggak sama sekali. Hihihi. Sereal yang dibawa lengkap gizinya jadi cukup baik buat Kaleb, saya nggak kasih dia racun, dia happy makannya, dan ini cuma buat selama di Puncak aja. Saya nggak perlu membesar-besarkan seolah-olah makanan instan itu dosa besar. Kecuali kalau Kaleb dikasih chiki pas usia segini, ya. Hihihi. Lalu karena buah alpukat yang dibawa udah terlalu matang jadi nggak enak, akhirnya mampir ke restoran pesan melon minta dijus tanpa gula dan tanpa es. Ringkes, kan? Pokoknya selama bisa home made ya pasti home made, kecuali ada hal yang nggak bisa dihindari kayak kemarin ya instan aja.

Walau saya berusaha fleksibel, saya berusaha untuk research dulu tiap apa yang saya mau kasih ke Kaleb. Misal kayak makanan MPASI, saya nggak memakai metode sebulan pertama buah-buahan dulu, baru bulan berikut sayur, baru kemudian daging dan ikan. Seperti dijelaskan sebelumnya, dari awal saya ikut metode WHO, jadi bayi akan diperkenalkan dengan gizi lengkap untuk memenuhi kebutuhan gizinya, jadi saya kasih dia karbo, sayur, protein, dan buah. Kalau orang mau pake metode food combining atau baby led weaning ya nggak papa banget. Kaleb kalau udah bosen makan, saya biarin dia pegang-pegang makanannya dan diicip-icip sendiri, kayak metode BLW. Berantakan banget pastinya, tapi bayi makan kan pasti berantakan. Setiap ibu pasti berusaha membuat keputusan yang baik untuk anaknya. Kalau metode yang dikasih beda sama metode kita, ya bukan berarti metode mereka salah, kan?

Saya berusaha jadi ibu yang fleksibel dan santai, tapi tetap berusaha memperhatikan semua kelengkapan gizi bayi. Saya kalau kasih sesuatu ke Kaleb udah melalui proses tanya kanan kiri ke orang yang berpengalaman, baca buanyak banget blog orang, tanya mbah Google, baca artikel dan penelitian. Suami sampe bilang kalau saya obsesian banget. Hahaha. But then again, I want the best for my baby. Tapi semampunya kita berusaha melakukan yang terbaik, ada hal-hal yang terjadi di luar rencana. Kalau semua terlalu ikutin rules, pasti akan stres dan berdampak bayi pun nggak santai. Yah, macam saya ini yang dulu ibunya sangat perfeksionis sehingga saya berusaha semuanya harus saya kontrol dan gampang stres kalau ada yang tidak sesuai rencana. Nah, saya nggak pengen Kaleb kayak gitu. Saya pengen dia fleksibel dan experiencing banyak hal.

Hal lainnya yang banyak menuai kritik adalah soal penggunaan gadget. Saya tahu soal resiko buruknya anak pake gadget atau nonton tv terlalu dini. Saya juga sempat berjanji sama diri sendiri untuk nggak bakalan memperkenalkan gadget dan tv ke anak dari bayi. Sampe kemudian….saya nggak punya pembantu, harus urus sendiri, dan nggak bisa mendelegasikan Kaleb ke siapa pun. Ada harinya saya bahkan nggak bisa siap-siap sama sekali karena Kaleb selalu nangis dan maunya digendong mulu. Kapan mandinya, buk? Akhirnya saya kasih dia nonton lagu nursery di Ipad. Anaknya diam anteng dan saya bisa melakukan hal-hal lainnya (teteep dengan secepat kilat). Apakah akhirnya tiap saat saya kasih dia nonton? Nggak juga. Cuma di hari-hari dia nggak bisa lepas dari saya dan saya harus melakukan hal lainnya. Toh, dia cuma tahan sekitar 15-20 menit nontonin lagu anak-anak sampai kemudian dia rewel lagi. Hihihi. Sejak itu saya pikir, hey… demi kewarasan bersama biarlah dia nonton sekali-kali.😄

Jadi buk-ibuk, kalau ada orang tua yang metodenya beda dengan metode kita dibiarin aja, toh. Nggak perlu dijudge, dihakimi, dikritik. Wong, bayarin hidup mereka aja nggak, kok ya ngritik mulu? Hihihi.

Semangat, ibu-ibu!

8 thoughts on “Tentang Perbedaan

  1. seandainya semua ibu di dunia ini sebijak kau naommi, pastilah gak ada ituh yang namanya genk asi, sufor, working mom endesbrai-endesbrai😀

    Aku ibu baru juga kak, baby ku masih 4 bulan, dan puji Tuhan aku juga punya pemikiran yang sama dengan kakak. Hidup ini udah ribet banget dengan ngurusin bayi, nyiapin kebutuhan diri sendiri dan suami, gak usah deh ditambah ribet dengan yang namanya “aliran keras” :p

    • Aduh ibu2 aliran keras itu kayaknya punya waktu luang cukup banyak ya sampe bisa ngurusin orang lain. Lah, ini mikirin ASI bisa seret aja udah ribet sendiri, mana sempat lagi ngurusin ASI dan MPASI orang lain. Hahaha!

      • hahaha, benar kak, luang banget waktunya buat nyinyir?
        Selain mikirin ASI seret, daku pun sibuk mikirin gimana caranya ngabisin sayur katuk sepanci dan pepaya ini hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s