Review: JEC

Karena sebentar lagi udah mau 9 bulan dan saya pengennya melahirkan normal (doakan, ya!), maka obgyn meminta saya ke dokter mata untuk ngecek mata yang minus 5. Sebenarnya bukan soal minusnya yang tinggi (ini yang bikin orang-orang sering salah kaprah), tapi lebih ke apakah retinanya tebal atau tipis. Kalau tipis ditakutkan pas ngeden, nanti retinanya lepas (serius, dokter bilang ini. Walaupun untuk sampe retina lepas kecil sih kemungkinannya dan harus disertai indikasi kesehatan lainnya).

Saya ngecek mata di Jakarta Eye Centre (JEC) Kedoya. Selain karena dokter subpesialis matanya banyak (termasuk spesialis retina yang saya tuju), rumah sakitnya juga dekat rumah. Untuk milih dokter yang mana saya nggak ribet. Tinggal telepon, tanya dokter subspesialis yang praktek hari itu dan pilih aja sesuai jam yang cocok. Mikirnya bakal ketemu satu kali doang jadi pilih yang mana aja. Hehehe. Oh ya, di JEC ini harus bikin appointment dulu karena kita dipanggil sesuai appointment via telepon atau web, dan bukan antrian kedatangan kayak rumah sakit lainnya. Biasanya mereka akan kasih tahu kita harus datang jam berapa karena sebelum ketemu dokternya, akan ada pemeriksaan awal dulu. Jadi diharapkan datang lebih cepat.

Pertama menginjakkan kaki di JEC langsung terkagum-kagum sama bangunannya yang baru, bersih, dan megah *norak*. Berasa kayak mall sih daripada rumah sakit. Begitu masuk lobby, disambut sama petugas yang nanya mau bertemu dokter siapa dan apakah pasien baru atau lama. Karena saya pasien baru, saya diberikan nomor antrian dan isian data diri yang bisa diisi di meja dekat lobby. Setelah itu nggak perlu nunggu lama, semua isian data diri saya, sekaligus kroscek, di admission. Kemudian, mereka akan mengarahkan untuk menunggu dokter di lantai 2.

Di lantai 2, tinggal tunggu di ruang tunggu. Nggak sampe lama (mungkin karena hari itu pasiennya juga nggak banyak, ya), saya dipanggil ke ruang BDR (entah apa singkatannya) atau ruang pemeriksaan awal. Di ruangan ini, saya diperiksa minus matanya. Pertama, dia cek minus dari kacamata saya. Lalu, dia minta saya lihat ke sebuah alat yang di dalamnya ada layar bergambar balon udara. Nggak perlu ngapa-ngapain, cuma perlu lihat aja, nanti balon udaranya dari buram jadi jelas. Ini alat untuk ngukur minus juga. Lalu, ke alat lainnya yang mirip sama alat sebelumnya, cuma kali ini mata kita kayak disembur angin 3 kali. Katanya sih untuk ngecek bola mata. Kemudian, ke alat untuk ngukur mata secara konvensional alias bacain huruf-huruf yang makin kecil. Banyak dan canggih ya alatnya! Kabar baiknya, walaupun udah bertahun-tahun udah nggak cek mata, tapi minus saya nggak berbeda jauh, silinder juga masih sama. Horeee!

Setelah pemeriksaan awal, saya nunggu di ruang tunggu lagi. Nggak beberapa lama, ada petugas yang memastikan kedatangan saya untuk minta rujukan buat melahirkan normal. Jadi sebelum ketemu dokternya, dia meneteskan cairan di mata saya dan meminta saya menutup mata selama 10 menit. Gunanya supaya retina saya membesar dan nanti gampang diperiksa sama dokternya. Agak perih dikit, tapi lama-lama juga hilang. Oh ya, efek dari cairan ini adalah selama 3-4 jam ke depan mata kita jadi buram. Nggak buram banget sampai nggak bisa lihat, sih, tapi kalau baca tulisan yang kecil jadi nggak fokus. Nggak terlalu mengganggu, kecuali pas nulis sms/whatsapp.

Retina udah membesar, kemudian barulah kita dipanggil ke dalam ruangan dokter. Ruangannya besar banget. Ada sofa, ada bangku besar, dan alat-alat yang entah apa. Deg-degan juga masuk ke ruangan ini soalnya kan nggak pernah cek mata khusus sebelumnya, kecuali cek mata minus, itupun di optik.

Pertama-tama dokternya ngecek ada simptom-simptom semacam pandangan bintik-bintik atau ada kilat nggak. Setelah itu lanjut, duduk di bangku besar mau dicek retinanya. Jadi dokternya pake alat di kepalanya yang mengeluarkan sinar silau banget. Kita harus lihat sinar itu dengan kondisi mata melirik ke atas, tengah, dan bawah. Lumayan deh, habis itu mata serasa disorientasi sebentar. Baru deh dokter memutuskan apakah retina saya normal atau tidak. Untungnya normal. Yeay! Walaupun dokternya tahu akibat keseringan pake softlens, mata saya pernah iritasi. Jadi ada semacam sisa iritasinya gitu. Tapi dia nggak melarang saya pake softlens, kok.

Karena sudah memperkirakan biaya konsultasi di JEC mahal, jadi mendingan tanya yang banyak seputar mata ke dokternya. Biar nggak terlalu rugi bayarnya. Saya sih tanya seputar kesehatan mata, kondisi mata seperti apa yang membahayakan kehamilan, bagaimana cara jaga kesehatan mata. Setelah beres, dokter tulis surat rujukan ke obgyn. Selesai, deh! *berasa dapat surat ijin kelulusan aja*

Sejauh ini saya suka dengan pelayanan di JEC yang cepat, tanggap, dan ramah. Semuanya kayaknya sudah diatur flow-nya jadi nggak bikin pasien nunggu lama. Eh, tapi kemarin sih karena pasiennya nggak terlalu banyak. Kalau banyak, saya juga nggak tahu apakah bisa setanggap itu. Selain itu, banyak banget pilihan dokter matanya. Bahkan ada internis, spesialis anak, dan psikolog. Tapi biasanya yang ke dokter selain dokter mata itu karena ada gejala-gejala kesehatan lainnya, yang berindikasi pada mata.

Cuma ada yang saya nggak suka: biayanya mahal! Hahaha! Itu kemarin saya bayar mahal aja belum tanpa obat. Nggak kebayang kalau pake obat berapa. Tapi ya, ada fasilitas, dokter yang mumpuni, dan pelayanan, pasti ada harga lah, ya.πŸ˜€ Kalau dicover kantor mah, gunakan aja fasilitasnya.

3 thoughts on “Review: JEC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s