Review: Pendekar Tongkat Emas

*inioke.com*

Hari Minggu kemarin akhirnya bisa nonton di bioskop lagi. Maklum, akhir-akhir ini kalau duduk kelamaan punggung dan pinggangnya pegel banget jadi nonton di bioskop kurang nyaman. Padahal ada beberapa film yang pengen ditonton seperti Supernova dan Exodus, tapi begitu tahu durasinya lebih dari 2 jam, yuk dadah byebye. Apa kabar nasib pinggang eike? Selain lamanya durasi, yang bikin ragu-ragu nonton 2 film di atas adalah review orang-orang terbagi sama rata antara bagus dan nggak bagus. Jadi daripada gambling nonton film yang belum tentu bagus dan menyebabkan pinggang sakit, mendingan nggak usah dulu, deh.

Jadi film yang dipilih untuk ditonton adalah: Pendekar Tongkat Emas. Dipilih karena rata-rata reviewnya bagus, film buatan Mirles, Riri Riza mah udah pasti dipastikan bagus, durasinya kurang dari 2 jam.

Untuk sinopsisnya sendiri bisa dilihat di sini. Ceritanya sebenarnya sederhana aja tentang dunia persilatan yang memperebutkan tongkat emas dan kemudian muridnya balas dendam atas kematian gurunya. Udah sih sesederhana itu. Tapi justru karena jalan ceritanya nggak ribet jadi mudah dicerna dan dimengerti. Nggak jauh beda kalau kita menikmati cerita silat dari Cina sana. Maklum ya, eike pusing kalau nonton film terlalu berat macam Interstellar. Hihihi.

Sebagai orang yang nggak suka film action, Pendekar Tongkat Emas ini membuat saya tetap bertahan duduk di bioskop tanpa mainan HP. Sepanjang film disuguhi pemandangan Sumba yang luar biasa indahnya, koreografi silat yang pastinya setiap pemerannya mati-matian mempelajarinya karena hasilnya bagus sekali, jalan ceritanya, baju-bajunya yang pake tenun tenun Sumba. Suka sekali sama film yang dibuat dengan detil dan niat yang besar seperti ini. Yang paling saya suka adalah akting pemerannya nggak ada yang kaku atau lebay. Kalau soal Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Reza Rahardian mah udah nggak perlu diragukan lagi lah ya aktingnya. Bagus dan mengalir banget. Sempat skeptis sama aktingnya Eva Celia, tapi ternyata di sini aktingnya juga bagus dan nggak kaku. Oh, yang saya ingat lagi akting Tara Basro di sini ngeselin banget. Lihat mukanya aja udah bikin pengen dicocol pake sambel. Tapi kalau dia ngeselin berarti aktingnya berhasil, kan?

Salah satu akting yang mencuri perhatian saya adalah 2 orang pemeran anak kecil. Pertama, Angin, anak kecil botak adiknya Dara. Si Angin ini sepanjang film nggak ngomong, sekalinya ngomong cuma seiprit. Tapi nggak pake ngomong ekspresi dan bahasa tubuhnya aja bikin kita ngerti apa yang dia katakan. Keren! Selain itu, yang terakhir adalah anaknya Gerhana yang masih kecil. Muncul cuma di ujung film tapi pas ngelakuin adegan silat, lincah dan keren banget *tepuk tangan*. Dapat dari mana anak kecil kece gitu, sik? *masih kagum*

Pokoknya jangan lupa tonton di bioskop sebelum filmnya turun, ya. It worth every penny…….and of course my back pain.๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s