Tipe Supir Taksi di Jakarta

Setiap hari saya sering naik taksi, entah itu dari kantor ke tempat makan terdekat atau karena perjalanan dinas. Karena sering naik taksi, saya baru menyadari kalau sekarang standar servis taksi jadi makin berkurang dan sepertinya rekrutmen supirnya asal-asalan aja. Berikut tipe supir taksi yang saya temui:

1. Pembulatan Sesukanya

Hari ini saya baru aja makan siang di sebuah mall dan seperti biasanya, pulangnya naik taksi untuk balik ke kantor. Jarak yang dekat bikin ongkosnya nggak terlalu mahal, sih. Biasanya berkisar Rp 11.000. Tadi saya bayar dengan uang Rp 20.000. Kemudian Pak Supir diam aja. Saya yang nunggu kembalian juga bengong. Maksudnya ya kalau mau dibulatin ke Rp 15.000-lah, bukan Rp 20.000. Itu sama aja bisa dipakai balik lagi ke PP, dong.

Saya: *nunggu Pak Supir kasih kembalian*
Supir: “Oh, nungguin struk ya, Mbak?” sambil mau ngambil struk.
Saya: “Nggak. Kembaliannya, Pak? Lima ribu aja.”
Supir: “Oh…” sibuk cari kembalian. Nggak ada. Untungnya saya punya Rp 5.000 di dompet, jadi dia bisa kembalikan Rp 10.000.

Permasalahannya adalah sampai sekarang tip itu diberikan atas kerelaan penumpang yang merasa puas dengan servis supir. Tentu saja si penumpang biasanya bilang, “Pak, kembaliannya segini aja.” Jadi penumpangnya ngomong, ya. Kalau penumpangnya nggak ngomong, mungkin dia nggak mau kasih tip. Ya nggak papa, mungkin dia nggak puas dengan servisnya karena banyak hal. Misalnya, supir nyetirnya nggak enak, sok tahu, dan yang paling banyak adalah nggak tahu jalan sama sekali bahkan kalau pun itu jalan protokol. Wajar dong nggak dikasih tip. Intinya tip itu kerelaan, bukan keharusan.

Nah, tadi saya nggak ada ngomong apa-apa. Saya pikir paling dia bakal balikin Rp 5.000 lah karena itu pembulatan paling dekat dari Rp 11.000. Itu juga etikanya dia harus tanya dulu dong kalau kembaliannya nggak ada. Atau saya yang inisiatif bilang kembaliannya segini aja. Dia nggak ngomong apa-apa dan mengasumsikan saya kasih dia Rp 20.000. Udah nggak tahu jalan, minta tip segitu banyak. Yang lebih parah, dia bahkan nggak mengucapkan terima kasih. Yeee, eike makin nggak rela kasih dia tip-lah. Yuk dadah byebye!

2. Nggak tahu jalan sama sekali

Yah, namanya jadi supir, jadi seharusnya kualifikasi dasarnya adalah bisa nyetir dan tahu jalan. Nggak usah deh jalan-jalan tikus atau yang di pinggiran, tapi jalan-jalan besar di Jakarta seharusnya tahu. Misalnya Sudirman, Gatot Subroto, Kuningan, dsb. Selain itu, harusnya tahu lah letak mal-mal besar. Kenyataannya, supir taksi sekarang banyak yang nggak tahu jalan bikin keki.

Misalnya saya mau ke Sudirman dari Senopati. Itu deket banget, lho! Masa bisa nggak tahu! Alasannya, “Saya baru jadi supir”, “Saya baru aja datang dari daerah”. Hey, bukan urusan eike! Seharusnya perusahaan taksi sebelum mempekerjakan supirnya ya harus di-training dulu lah, kasih unjuk mana jalan-jalan utama di Jakarta. Masa jalan sebesar dan seterkenal itu nggak tahu kan agak meragukan ya sistem rekrutmennya gimana.

Lebih parah lagi, beberapa armada taksi sebenarnya udah dilengkapi GPS tapi nggak mempergunakannya kalau dia nggak tahu jalan. Helloooo, itu GPS cuma jadi pajangan aja, ya? Teteep mengandalkan penumpang untuk mikirin jalannya. Capek deh. Kayak gini ngarepin tip?

3. Nggak menyapa

Ini terjadi hampir di setiap taksi. Setiap masuk ke dalam taksi, mereka diam aja. Nggak ada tuh ucapan, “Selamat pagi/ siang/ malam” atau ucapan terima kasih kalau udah dikasih tip. Heraaan, susah banget nyapa orang. Padahal nggak ngabisin energi, lho. Akhirnya tiap masuk, saya yang nyapa duluan dan pas pulang saya yang ngucapin terima kasih. Kebalik kali! *geleng-geleng kepala*

4. Nggak ada kembalian

Sering banget dapat supir taksi yang nggak ada kembalian, kemudian bilang, “Wah, saya nggak ada kembalian” kemudian nunjukkin uangnya lagi ke saya. Biasanya saya lebih suka pake uang pas. Kalau saya kasih uang besar, ya karena saya nggak ada uang pas. Nah, si supir taksi biasanya nunggu si penumpang yang udek-udek dompetnya untuk cari uang pas atau cari kembaliannya ke mana gitu.

Tentu saja saya nggak mau. Saya kan penumpang, ya situ dong yang cari kembaliannya. Kecilin duit ke warung atau mini market terdekat, kek. Atau belanja air mineral supaya uangnya pecah. Jadi biasanya saya bilang, “Saya juga nggak ada, Pak. Dicari aja kembaliannya.” Ya jangan males untuk sediain kembalian atau turun sebentar untuk mecahin uangnya toh, Pak. Pfft!

5. Sok tahu

Geregetan banget kalau dapat supir taksi yang begini. Yang dari awal saya udah nunjukin lewat jalan ABC, tapi dia keukeuh mau lewat jalan lain. Berakhir jalan yang dia pilih macet dan saya harus bayar lebih mahal, telat pulak! HIH! KZL!

Ya kalau penumpangnya mau lewat jalan yang mana mbok diikutin aja. Suka-suka penumpangnya dong kalau dia request dari Slipi mau ke Sudirman lewat Pluit dulu. Suka-suka dong. Ada banyak yang nggak mau dengerin dan akhirnya macet.

Untuk supir yang sotoy begini, saya biasanya bilang, “Nggak, Pak. Lewat jalan yang saya tunjuk aja. Saya udah sering lewat sini jadi tahu daerah yang macet.” Mingkem deh biasanya mereka.

6. Pendengaran Bermasalah

Pernah saya dapat supir taksi yang pendengarannya kurang. Sepanjang perjalanan saya harus teriak-teriak nunjukin jalan. Itu pun seringkali nggak didengar. Capek! Ya mbok, dievaluasi yang benar supirnya. Kalau yang pendengarannya kurang sebaiknya jangan jadi supir taksi karena akhirnya ya merepotkan komunikasi antara penumpang dan supir, toh!

7. Campuran dari semuanya

Iya, ada juga kombinasi dari semua supir taksi di atas. Kalau udah gitu, mendingan ditegur, ngomel, atau turun aja dari taksi, deh. Daripada sakit hati sama supirnya. Ehm, lagi sial berarti kita dapat yang campuran tipe-tipe di atas.

Semoga perusahaan taksi lebih meningkatkan servis supirnya dan keselamatan penumpangnya. Oh ya plislah jangan mata duitan banget ngarep-ngarepin tip banyak dari penumpang kalau pelayanannya nihil.

Ciaobelaaaah! *kissbye*

2.

10 thoughts on “Tipe Supir Taksi di Jakarta

  1. Miiii, ini jeritan hati penumpang taksi jekarda banget deh.
    Gw hampir selalu kasih uang plus sedikit tip ke supir taksi, pokoknya jumlahnya pas lah.
    Soalnya kalo nungguin kembalian dari dia yang ada alesa gak ada lah, atau yaituu pura-pura gak ngerti kita nungguin kembalian.
    Penghasilan supir taksi di jakarta lumayan banget loh sebenernya Mi, bisa dapet bersih 100-200 ribu sehari setelah jumlah setoran.

    • Sebenernya kalau kembalian yang paling penting dibulatin ke atas yang paling deket aja, deh. Kalau hampir 10rb dibuletinnya mah udah bikin dongkol, apalagi ga bilang-bilang. Emang deh ya, kalau sama supir taksi harus sabar sekarang. Wah, banyak juga ya penghasilan mereka sehari (jangan2 lebih banyak dari orang kantoran). Hehehe.

  2. No. 3, mereka ngerasa kita butuh mereka kali kak, buat nganterin kemana2. Hey, supir taksi itu juga butuh kita kali biar bisa dapet setoran.
    Yg no 1 keterlaluan banget tuh… Aku sih selalu minta kembaliannya dari awal so ga bisa macem2 deh dia.

    • Iya ya, kadang-kadang mereka merasa ga butuh. Ada lagi sebelum masuk ditanya dulu mau ke mana, atau diturunin di tengah jalan. Ngeselin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s